Anda di halaman 1dari 15

UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH HADIS

DISUSUN OLEH

Putra Isra Mahendra


18329127
Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampu :
Nasrul HS, Drs. M. Ag

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020
JURUSAN ILMU AGAMA ISLAM FIS UNP

Ujian Tengah Semester

Januari-Juni 2020

Mata kuliah : Hadis

Jurusan. : Ilmu Agama Islam

Prodi. : Pendidikan Keagamaan Islam

Dosen. : Nasrul HS, Drs. M. Ag

Sifat Ujian. : Buka Buku \

Soal:

1. a. Tulis hadis dan terjemahannya berkenaan dengan pengaruh niat dan peranan
orang tua terhadap anak didik (2 buah hadis).

b. Jelaskan kandungan hadis yang berkenaan dengan syarat-syarat dan sifat-sifat


pendidik (Dipahami dari 4 buah hadis)

2. a. Tulislah hadis dan terjemahannya berkenaan dengan perintah menuntut ilmu dan

keutamaan belajar (2 buah hadis)

b. Jelaskan pengertian yang terkandung dalam hadis tentang Rasulullah sebagai guru,
kedudukan dan keutamaan pendidik (Dipahami dari 3 buah hadis)

3. Tulislah hadis dan terjemahannya yang berkenaan dengan pendidikan prakonsepsi


(satu buah hadis)

4. Jelaskan kandungan hadis tentang pendidikan masa remaja dan pendidikan orang
dewasa (dipahami dari satu hadis)

Selamat Ujian
1. A. Hadits tentang Setiap Amalan Tergantung pada Niat

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِ ‫ج َرتُ ُه إلى‬
‫الله‬ ْ ‫ت ِه‬ ِ َ ّ‫األعمال بال ِن ّي‬
ْ َ ‫اتو ِإن ّ َما ِلك ّ ُِل امري ٍء ما ن َ َوى ف ََم ْن ك َان‬ َ ‫إن ّ ََما‬

ُ ‫ج َرتُ ُه لِ ُدنْيَا يُ ِصيْبُها أو امرأ ٍة يَن ْ ِك‬


‫ح َها‬ ْ ‫ت ِه‬ َ ‫ور ُس ْولِ ِه‬
ْ َ ‫وم ْن ك َان‬ ِ ‫ج َرتُ ُه إلى‬
َ ‫الله‬ ِ ‫ور ُسولِ ِه‬
ْ ‫فه‬ َ
ِ ‫اج َر‬
‫إليه‬ َ ‫ج َرتُ ُه إلى ما َه‬
ْ ‫فه‬
ِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan


endapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-
Nya,maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul Nya. Siapa yang hijrahnya karena
mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia
tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Penjelasan:

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat.
Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya
sangat mulia ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah, berbeda dengan seseorang
yang berniat beramal hanya karena mengejar dunia seperti karena mengejar wanita.
Dalam hadits disebutkan contoh amalannya yaitu hijrah, ada yang berhijrah karena
Allah dan ada yang berhijrah karena mengejar dunia. Setiap orang akan mendapatkan
apa yang ia niatkan”, maksud hadits ini adalah setiap orang akan memperoleh pahala
yang ia niatkan.

Hadits Nabi tentang peranan orang tua terhadap pendidikan anak :

‫ُع َلال ْ ِف ْطر ِة فَأ َ بَىَا ُه يُ َه ِِّىّـ َدا ِن ِو ا َ ْويُن َ ِّّـِص َرا ِن ِو ا َ ْويُ َمجِ َسا ِنو‬
َ ‫ما َ ِم ْن َمىْل ُىْ ٍد يُىْلَذ‬

(‫)روا ه ا ل ُْم ْسلِم‬

Artinya: “Tidaklah anak yang dilahirkan itu kecuali telah membawa fithrah
(kecenderungan untuk percaya kepada Allah). Maka kedua orang tua- nyalah yang
menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Muslim).
Dari hadits tersebut, jelaslah bahwa pada dasarnya anak itu membawa fithrah
beragama dan kemudian tergantung kepada pendidikan selanjutnya, kalau benih
agama yang telah dibawa itu dipupuk dan dibina dengan baik,mereka akan menjadi
orang yang taat beragama pula. Tetapi sebaliknya, bilamana benih agama yang telah
dibawa itu tidak dipupuk dan dibina dengan baik, maka anak akan menjadi orang
yang tidak beragama ataupun jauh dari agama (Zuhairini, 1981:31-32).

Apabila pendidikan agama itu tidak diberikan kepada si anak sejak kecil, maka
akan sukarlah baginya untuk menerimanya nanti kalau ia sudah dewasa, karena dalam
kepribadiannya yang terbentuk sejak kecil itu, tidak terdapat unsurunsur agama
(Zakiah Daradjar,1994:128).

b.) Kandungan hadis yang berkenaan dengan syarat-syarat dan sifat-sifat


pendidik

Pendidik merupakan orang yang akan menjadi panutan bagi peserta didiknya,
maka dalam hal ini mereka harus memiliki sifat-sifat terpuji seperti yang terdapat
dalam pembahasan makalah ini yaitu bersifat lemah lembut dan kasih sayang, pemaaf,
adil serta tabah dan sabar. Dan seorang guru seharusnya memiliki sifat jujur dan
terbuka sehingga tidak akan memberikan ilmu yang salah kepada yang lainnya.
Rasulullah merupakan suri tauladan dengan segala kesantunan akhlaknya yang wajib
ditiru oleh seorang guru. Guru hendaknya memperhatikan minat, perhatian,
kemampuan dan kondisi jasmani peserta didik, agar dapat memyesuaikan cara belajar
dan beban tugas yang tidak memberatkan peserta didik.

 Kandungan hadis tentang ikhlas dalam beramal

a. Semua amal shaleh termasuk dalam menuntut dan mengajarkan ilmu, itu disertai
dengan niat yang ikhlas karena Allah. Apabila dikerjakan dengan riya’, maka
niatnya hampa disisi Allah.

b. Apabila ikhlas karena Allah dalam beramal, maka akan mendapat balasannya dari
Allah.

c. Apabila niat hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia saja, maka hanya itulah
yang diperoleh, tanpa mendapat ganjaran pahala dari Allah
 Kandungan hadis tentang tabah dan sabar: Menurut Ibnu Hajar, bahwa orang
yang memberi nasihat boleh menampakkan sikap marah, karena dia sebagai
orang yang memberi peringatan. Begitu juga seorang guru, jika dia mencela
kesalahan murid yang belajar kepadanya. Karena terkadang hal itu terpaksa dia
lakukan agar si murid dapat mencrima kebenaran darinya, akan tetapi hal itu
harus disesuaikan dengan keadaan psikologi masing-masing murid.

 Hadis tentang adil : Dalam konteks pendidikan, peserta didik adalah anak oleh
pendidiknya. Dengan demikian, pendidik wajib berlaku adil dalam berbagai hal
terhadap peserta didiknya. Keadilan pendidik terhadap peserta didik meliputi
berbagai hal seperti; memberikan perhatian, kasih sayang, pemenuhan kebutuhan,
bimbingan, pengajaran dan lain sebagainya.Seorang guru dalam menjalankan
tugasnya sebagai pendidik mestilah benar-benar orang menilai segala sesuatunya
dengan objektif. Tidak akan ada indikasi cemburu social yang akan timbul dalam
percakapan anak didiknya. Oleh karena itu, guru memang harus menempatkan
sikap adil didalam bertindak di dalam kelas.

 Hadis tentang lemah lembut dan penyayang: Seorang pendidik harus memiliki
rasa santun kepada setiap peserta didiknya dalam proses pendidikan. Bila tidak,
maka kekasaran itu akan menjadi penghalang baginya untuk mencapai tujuan
pendidikan. Pendidik harus memiliki sifat kasih sayang kepada peserta didiknya
agar mereka dapat menerima pendidikan dan pengajaran dengan hati yang senang
dan nyaman. Segala proses edukatif yang dilakukan oleh pendidik harus diwarnai
oleh sifat kasih sayang ini. “Guruku Idolaku”.

 Hadis tentang pemaaf : Seorang guru sudah sepatutnyalah memiliki sifat


pemaaf. Karena ia adalah seseorang yang bekerja sebagai pengajar dan pendidik.
Jika saja guru tidak memiliki sifat sabar sudah bisa dipastikan suasana belajar
yang tercipta tidaklah kondusif.

2 a). hadits tentang menuntut ilmu yang diriwayatkan Ibnu Majah, dan dishahihkan
oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan Ibnu Majah no. 224.

‫عل َى ك ّـ ُِِّل ُم ْسلِم‬ ِ ْ ‫َطل َُبا‬


َ ‫لعل ْْم ف َِرثْ َض ٌة‬
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim."
Dalam hadits tentang menuntut ilmu lainnya, Rasulullah SAW bersabda,

)‫الَطبْ َرا ِن ْي‬ ُ ‫ َر‬ ( ‫ لِ ُم َعِلِّ ّـ ِميْك ُْم‬ ‫ َول َيَل َْوا‬ ‫اض ُع ْوالِ ُم َعِلِّ ّـ ِميْك ُْم‬
َّ ‫واه ّـ‬ َ ‫تَ َعَل ّـَّ ُم ْو َاو‬
َ ‫عِلِّ ّـ ُم ْو َاوتَ َو‬

Artinya, "Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah
guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu." (HR
Tabrani)

Hadits “Keutamaan Mencari Ilmu”

ِ ‫َم ْن َخ َر َج ِفى َطل َُبال ِْعل ْ ِم ف َُه َو ِفى َسبِيْ ِل‬


‫الله َحَتّـَّى يَ ْرجِ ع‬

Artinya : ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan
Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi)

ْ َّ‫ْطل ُِبال ِْعل َْم ِم َن ال َْم ْه ِد ِإل َى اَل ّـ‬


‫لحد‬ ُ‫أ‬

Artinya : ”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat”. (Al Hadits)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫يه ِعل ًْما َس ّ َه َلالل َّ ُه ل َُه ِب ِه َط ِريقًا ِإل َى ال َْجن ّ َة‬


ِ ‫َم ْن َسل ََك َط ِريقًا يَلْتَ ِم ُس ِف‬

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah
akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 7028) 

b.) hadis tentang Rasulullah sebagai guru, kedudukan dan keutamaan pendidik

Guru atau dalah bahasa arab dikenal dengan sebutan ustad bagi guru laki-laki dan
Ustadzah bagi guru wanita. Islam sendiri memberikan tempat dan derajat yang tinggi
bagi para guru sebagaimana hukum menuntut ilmu . Sebab mereka termasuk kedalam
golongan orang-orang berilmu yang selalu mengamalkan ilmunya sebagai fungsi
iman kepada allah swt .  Sebagaimana Firman Allah Swt:

‫ِير‬
ٌ ‫ُون َخب‬ ٍ ‫ين أُوتُوا ال ِْعل َْم َد َر َج‬
َ ‫ات ۚ َوالل َّ ُه ِب َما تَ ْع َمل‬ َ ‫آمنُوا ِمنك ُْم َوال َّ ِذ‬ َ ‫يَ ْرف َِع الل َّ ُه ال َّ ِذ‬
َ ‫ين‬

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang


yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Mujadalah 11).

Guru atau pengajar bukan hanya sekedar sebuah profesi. Nilai esensi yanh terkandung
didalamnya adalah bahwa seorang guru memiliki tugas dalam menyebarluaskan ilmu
yang bermanfaat sebagaimana hukum menerima hadiah dalam islam . Tentunya hal
ini dapat menjadi ladang pahala yang akan selalu mengalir meskipun sang guru
nantinya sudah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Sebagaimana dalam hadits:

:‫َال‬ َ ‫ع ْن أ َ ِبي ُه َريْ َر َة – رضي الله عنه – أ َ ّـ ََّن َر ُس‬


َ ‫ول اَلَلـَّّ ِه – صلى الله عليه وسلم – ق‬ َ
،‫ أ َ ْو ِعل ٍْم يُنْتَ َف ُع ِب ِه‬، ‫ َص َدقَةٍ َج ِاريَ ٍة‬:‫َاث‬
ٍ ‫ع َمل ُُه ِإَلاّـَّ ِم ْن ثَل‬ َ ‫ان اِن ْ َق َط َع‬
َ ‫عن ْ ُه‬ ُ ‫ات اَل ْ ِإن ْ َس‬
َ ‫ِإ َذا َم‬
‫اه ُم ْسل‬ُ ‫عو ل َُه – َر َو‬ ُ ‫أ َ ْو َول َ ٍد َصال ٍَحيَ ْد‬

“Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Apabila seorang
manusia telah  meninggal maka terputuslah amalannya kecuali 3 hal yaitu:
Shodaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau  anak sholeh yang mendo’akan
orang tuanya”.

Guru juga memiliki peran dalam menyebarluaskan ajaran agama islam seperti
dalam hukum mendengar kajian online , sehingga menjadi penerang dan jalan bagi
umat untuk mendapatkan kebenaran. Tentunya hal ini menunjukkan betapa besar dan
mulianya Kedudukan Guru di Dalam Islam sebagaimana terangkum dalam 5 poin
berikut ini.

1. Mendapat Derajat yang Tinggi

2. Memiliki Ilmu yang Bermanfaat

3. Menjaga diri

4. Memperoleh Kebaikan yang Berlimpah

5. Sama Dengan Pahala Amalan Sedekah

Keutamaan seorang pendidik adalah ia termasuk seorang yang memiliki ilmu


yang bermanfaat,mendapatkan derajat yang tinggi di sisi ALLAH SWT ,dalam
golongan orang yang menjaga diri,mendapatkan kebaikan yang banyak,serta
disamakan dengan pahala sedekah.Adapun seorang pendidik harus memiliki perangai
yang baik atau attitud yang sopan dan santun.

Seorang guru adalah orang yang menempati status yanf mulia/memiliki


keutamaan di daratan bumi ini,ia mendidik jiwa,hati akal dan roh manusia. Sedangkan
jiwa manusia adalah unsur yang paling mulia pada bagian tubuh manusia dan manusia
adalah makhluk yang mulia di dunia dibanding dengan makhluk lain. Islam
memuliakan pengetahuan sedangkan ilmu itu di dapat dari belajar kemudian
mengajar, sudah menjadi kewajiban khususnya untuk seorang murid,jika ilmunya
ingin bermanfaat di dunia maupun akhirat haruslah memuliakan dan menghormati
seorang pendidik, karena selain ridho orang tua,ridho seorang pendidik juga sangat
penting. Orang yang ingin mencapai sesuatu tidak akan bderhasil kecuali dengan
meninggalkan rasa hormat dan mengagungkan. Pada hakikatnya pendidik mempunyai
kedudukan tinggi dalam agama islam.

3.Pendidikan Islam Masa Pra Konsepsi

1. Hadits

‫َال تُنْك َُح ال َْم ْرأ َ ُة‬


َ ‫عل َيْ ِه َو َسل َّ َم ق‬ َ ‫ع ْن النَّب ِ ِّي َصلَّى الل َّ ُه‬
َ ‫عن ْ ُه‬ َ ‫ع ْن أ َ ِبي ُه َريْ َر َة َر ِض َي الل َّ ُه‬ َ
‫تيَ َدا َك‬
ْ َ‫ين تَ ِرب‬ ِ ‫الد‬ّ ِ ‫ات‬ ِ ‫َاظفَ ْر ِب َذ‬ َ ِ‫ِلأ َ ْربَ ٍع ِل َمالِ َها َول‬
ْ ‫ح َسب َِها َو َج َمالِ َها َولِ ِدي ِن َها ف‬

“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Perempuan itu dinikahi
karena empat faktor, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan
agamanya. Pilihlah yang beragama engkau akan selamat.”

‫جبَتْك ُْم ۗ َول َا‬َ ‫ع‬ ْ َ ‫خيْ ٌر ِم ْن ُم ْش ِرك َ ٍة َول َْو أ‬ َ ‫َات َحتّ َٰىيُ ْؤ ِم َّن ۚ َول َأ َ َم ٌة ُم ْؤ ِمن َ ٌة‬
ِ ‫حوا ال ُْم ْش ِرك‬ ُ ‫َول َا تَن ْ ِك‬
‫جبَك ُْم ۗ أُول َٰ ِئ َك‬ َ ‫ع‬ ْ َ ‫خيْ ٌر ِم ْن ُم ْش ِر ٍك َول َْو أ‬
َ ‫ين َحتّ َٰىيُ ْؤ ِمنُوا ۚ َول ََعبْ ٌد ُم ْؤ ِم ٌن‬ َ ‫حوا ال ُْم ْش ِر ِك‬ ُ ‫تُن ْ ِك‬
‫َاس ََعل َّ ُه ْم‬
‫عو ِإل َى ال َْجن ّ َ ِة َوال َْم ْغ ِف َر ِة ِب ِإ ْذ ِن ِه ۖ َويُبَيّ ُِن آيَا ِت ِه لِلن ّ ِ ل‬
ُ ‫ون ِإل َى الن ّ َِار ۖ َوالل َّ ُه يَ ْد‬
َ ‫ع‬ ُ ‫يَ ْد‬
‫ون‬َ ‫يَتَ َذك َّ ُر‬

221.” dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka


beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik,
walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang
musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya
budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu.
mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan
izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada
manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah melarang lelaki menikahi wanita
musyrik, karena itu akan berpengaruh kepada keturunannya kelak, yang mana anak
akan memilih agama dari kedua agama yang di anut oleh orang tuanya berlainan, dan
bahkan bisa membuat anak juga tidak memilih dari agama keduanya. Selanjutnya
apabila orang tuanya berbeda agama, akan timbul berbagai benturan dan kesulitan di
lingkungan keluarga dalam pelaksaan ibadah, pendidikan anak, pengaturan menu
makanan, tradisi keagamaan, dll, maka dari semua itulah di larang disebabkan
banyaknya terjadi kemudharatan.[2] Dalam arti lain bahwasanya melindungi
pendidikan anak dimulai dengan memerhatikan pencarian pasangan hidup itu sendiri.
Walaupun fisiknya cantik akan tetapi agamanya kurang, hal demikian belumlah
sempurna. Maka yang demikian itulah yang harus diperhatikan dalam mencari
pasangan hidup, dengan tujuan bisa atau berhasil mendidik anaknya kelak sehingga
tercapailah keluarga yang bahagia.

4.Pendidikan Islam Masa Remaja

Hadits

‫ب‬ ُ ْ‫َال َح ّ َدثَ ِني ُخبَي‬ َ ‫عبَيْ ِد الل َّ ِه ق‬


ُ ‫ع ْن‬ َ ‫حيَى‬ ْ َ‫َال َح ّ َدثَنَا ي‬
َ ‫ار ق‬ ٌ ‫ح ّ َم ُد بْ ُن بَ ّ َش ٍار بُن ْ َد‬
َ ‫َح ّ َدثَنَا ُم‬
‫عل َيْ ِه‬َ ‫ع ْن النَّب ِ ِّي َصلَّى الل َّ ُه‬ َ ‫ع ْن أ َ ِبي ُه َريْ َر َة‬َ ‫اص ٍم‬ ِ ‫ع‬ َ ‫ع ْن َحفْ ِصبْ ِن‬ َ ‫الر ْح َم ِن‬ َ ّ ‫عبْ ِد‬َ ‫بْ ُن‬
َ ‫ابن َ َشأ‬
ٌ ّ ‫َال َسبْ َع ٌة يُ ِظل ُّ ُه ْم الل َّ ُه ِفي ِظ ِل ّ ِه يَ ْو َم ل َا ِظ ّ َل ِإلَّا ِظل ُّ ُه ال ْ ِإ َما ُم ال َْعا ِد ُل َو َش‬
َ ‫َو َسل َّ َم ق‬
‫عل َيْ ِه‬ ْ ‫حابَّا ِفي الل َّ ِه‬
َ ‫اجتَ َم َعا‬ َ َ‫َانت‬ ِ ‫اد ِة َر ِبّ ِه َو َر ُج ٌل َقل ْبُ ُه ُم َعل َّ ٌق ِفي ال َْم َساجِ ِد َو َر ُجل‬ َ َ‫ِفي ِعب‬
ُ ‫ال ِإ ِن ّي أ َ َخ‬
‫افالل َّ َه َو َر ُج ٌل‬ ٍ ‫َمن ْ ِص ٍب َو َج َم‬
َ ‫ال َف َق‬ ‫ات‬ُ ‫ام َرأَةٌ َذ‬ْ ‫عل َيْ ِه َو َر ُج ٌل َطل َبَتْ ُه‬
َ ‫َوتَ َف ّ َرقَا‬
‫ت‬
ْ ‫اض‬َ ‫تُن ْ ِف ُق يَ ِمين ُ ُه َو َر ُج ٌل َذك ََر الل َّ َه َخا ِليًا َف َف‬ ‫تَ َص ّ َد َقأ َ ْخ َفى َحتّ َى ل َا تَ ْعل ََم ِش َمال ُُه َما‬
‫اه‬
ُ َ ‫عيْن‬
َ
“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada tujuh
golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada
naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang
menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang
hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena
Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah,
seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik
lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', dan seorang yang bersedekah dengan
menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan
oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan
mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis."

Dalam hadits di atas meenjelaskan tentang ada tujuh golongan orang yang akan
mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan pengecualian,
diantaranya naungan itu adalah :

a. Pemimpin yang adil

b. Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabbnya

c. Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan mesjid

d. Dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, Mereka yang tidak mau
bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah

e. Seorang laki laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang kaya lagi
cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’

f. Dan seorang yang bersedekah dan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya,

g. Serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri
hingga kedua matanya basah karena menangis.

Masa remaja adalah suatu masa peralihan dari kanak-kanak menjadi remaja.Yang
mana pada masa ini akan timbul berbagai masalah individu seperti perubahan pada
fisik individu, pengalaman individu, dll. Pertumbuhan fisik yang terjadi akan
mengibatkan kegoncangan pada remaja, bahkan lebih jauhnya kondisi ini dapat
mempengaruhi kesadaran beragamanya, apalagi remaja kurang mendapatkan
pengalaman atau pendidikan agama sebelumnya. Penghayatan rohaniahnya cenderung
was-was sehingga muncul keengganan atau kemalasan untuk melakukan berbagai
ibadah ritual, seperti ibadah sholat.

Kegoncangandalam keagamaan ini muncul, karena disebabkan faktor internal


maupun eksternal. Apabila remaja kurang mendapatkan bimbingan keagamaan dalam
keluarga, karena kondisinya kurang harmonis, kurang memberikan kasih sayang, serta
bergaul dengan teman-teman yang kurang menghargai nilai-nilai agama. Maka
kondisi tersebut menjadi pemicu berkembangnya sikap dan perilaku remaja yang
kurang baik, asusila, atau dekadensi moral.

Dalam pendidikan pada remaja ini sebagaimana firman Allah Q.S surat Lukman:13,
berbicara mengenai akhlak kepada Allah SWT

.” dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi


pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Dari ayat tersebut mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua


mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid
dengan tidak menyekutukan tuhan. Kemudian remaja hendaknya diajarkan nilai-nilai
agama serta mengerjakan sholat sebagai ucapan syukur kepada sang khaliq.

Adapun cara-cara yang perlu diperhatikan dalam pembinaan akhlak pada remaja
adalah sbb:

a) Membina sikap remaja terhadap agama

b) Mengatasi sikap kedurhakaan remaja pada orang tua

c) Mengatasi problematika kesehatan jasmani remaja

d) Mengarahkan remaja untuk ramah dan penyayang

e) Mengarahkan amanah dan ketakutan pada remaja

f) dll

Adapun problema yang ada pada remaja diantaranya sebagai berikut:

a) masalah hari depan


b) masalah hubungan dengan orang tua

c) masalah moral dan agama

d) dll

Analisa Pendidikan

Pendidikan pada masa remaja berbeda dengan masa anak-anak, yang mana pada
masa remaja ini anak di didik dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan yang
belum diketahuinya, khususnya pengetahuan tentang agama.

Adapun hadits tersebut juga menjelaskan orang-orang yang mendapat naungan dari
Allah, dari hal tersebut pendidikan agama yang di ajarkan kepada anak pada remaja
ini untuk menjadikan supaya nantinya remaja bisa menjadi anak yang memiliki
akhlak yang baik serta dapat diberi naungan oleh Allah.

Pendidikan Islam Masa Dewasa

Hadits

‫ت‬ ُ ْ ‫َال كُن‬


َ ‫علْقَ َم َة ق‬
َ ‫ع ْن‬
َ ‫يم‬ ِ ‫َال َح َّدثَ ِني ِإبْ َر‬
ُ ‫اه‬ ْ َ ‫َح َّدثَنَا ُع َم ُر بْ ُن َحفْ ٍص َح َّدثَنَا أَبِي َح َّدثَنَا ال ْأ‬
َ ‫ع َم ُش ق‬
‫ال‬
َ ‫َخل ََوا َف َق‬ َ ‫الر ْح َم ِن ِإ َّن ِلي ِإل َيْ َك َح‬
َ ‫اج ًة ف‬ َ ‫اليَا أَبَا‬
َّ ‫عبْ ِد‬ َ ‫ان ب ِِمنًى َف َق‬ ُ ‫عبْ ِد الل َّ ِه َفل َ ِقيَ ُه ُعث َْم‬
َ ‫َم َع‬
َ ‫ت تَ ْع َه ُد َفل ََّما َرأَى‬
‫عبْ ُد‬ َ ْ ‫الر ْح َم ِن ِفي أ َ ْن ن ُ َز ِّو َج َك ِبك ًْرا تُ َذ ِك ّ ُر َك َما كُن‬
َّ ‫ان َه ْل ل ََكيَا أَبَا َعبْ ِد‬ ُ ‫عث َْم‬ ُ
َ ‫ولأ َ َما ل َ ِئ ْن ُقل‬
‫ْت‬ ُ ُ‫ت ِإل َيْ ِه َو ُه َو يَق‬
‫علْقَ َم ُة فَانْتَ َهيْ ُـ‬
َ ‫اليَا‬ َ َ‫ار ِإل ََّي َفق‬ َ َ ‫الل َّ ِه أ َ ْن ل َيْ َسل َُه َح‬
َ ‫اج ٌة ِإل َى َه َذا أ َش‬
َ َ‫اع ِمنْك ُْم ال ْب‬
‫اء َة‬ َ ‫استَ َط‬
ْ ‫اب َم ْن‬ ِ َ‫الشب‬َّ ‫َال لَنَا النَّب ُِّي َصلَّى الل َّ ُه َعل َيْ ِه َو َسل َّ َم يَا َم ْع َش َر‬
َ ‫َذلِ َك ل َ َق ْد ق‬
َّ ‫يَ ْستَ ِط ْع ف ََعل َيْ ِه ب‬
ٌ‫ِالص ْو ِم َف ِإن ّ َُه ل َُه ِو َجاء‬ ‫َفل ْيَتَ َز َّو ْج َو َم ْن ل َْم‬

“Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh Telah menceritakan kepada kami
bapakku Telah menceritakan kepada kami Al A'masy ia berkata; Telah menceritakan
kepadaku Ibrahim dari 'Alqamah ia berkata; Aku berada bersama Abdullah, lalu ia
pun ditemui oleh Utsman di Mina. Utsman berkata, "Wahai Abu Abdurrahman,
sesungguhnya aku memiliki hajat padamu." Maka keduanya berbicara empat mata.
Utsman bertanya, "Apakah kamu wahai Abu Abdurrahman kami nikahkan dengan
seorang gadis yang akan mengingatkanmu apa yang kamu lakukan?" Maka ketika
Abdullah melihat bahwa ia tidak berhasrat akan hal ini, ia pun memberi isyarat
padaku seraya berkata, "Wahai 'Alqamah." Maka aku pun segera menuju ke arahnya.
Ia berkata, "Kalau Anda berkata seperti itu, maka sesungguhnya Nabi shallallahu
'alaihi wasallam telah bersabda kepada kita: 'Wahai sekalian pemuda, siapa di
antara kalian yang telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, dan
barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena hal itu akan lebih
bisa meredakan gejolaknya.”

Dari hadits tersebut menjelaskan bahwasanya ada panggilan terhadap sekalian


pemuda yang telah mempunyai kemampuan untuk menikah, maka hendaknya pemuda
tersebut menikah, baik itu kemampuan dari lahirnya maupun dari bathinnya. Serta
bagi pemuda yang belum sanggup atau belum mampu untuk bekeluarga, maka dalam
hadits nabi tersebut menganjurkan untuk berpuasa, yang mana dengan berpuasa akan
lebih bisa meredakan gejolak yang ada pada individu tersebut, baik itu nafsu maupun
yang lainnya.

Masa dewasa merupakan salah satu fase dalam rentang kehidupan individu
setelah masa remaja. Dari sisi biologis masa dewasa dapat diartikan sebagai suatu
periode dalam kehidupan individu yang ditandai dengan pencapaian kematangan
tubuh secara optimal dan kesiapan untuk bereproduksi (berketurunan).

Dari sisi psikologis, masa ini dapat diartikan sebagai periode dalam kehidupan
individu yang ditandai dengan ciri-ciri kedewasaan atau kematangan, yaitu:

a) Kestabilan emosi yang mampu mengendalikan perasaan

b) Memiliki kesadaran cukup tinggi

c) Bersikap toleran terhadap pendapat orang lain

d) Bersikap optimis dalam menghadapi kehidupan

Sementara dari sisi pedagogisnya, masa ini ditandai dengan:

a) Rasa tanggung jawab terhadap semua perbuatannya, dan juga terhadap


kepeduliannya memelihara kesejahteraan hidup dirinya sendiri dan orang lain

b) Berperilaku sesuai dengan norma dan nilai agama

c) Memiliki pekerjaan yang dapat menghidupi diri dan keluarganya

d) Berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat


Dilihat dari aspek tugas-tugas perkembangannya, masa dewasa dituntut untuk
menuntaskan tugas-tugas perkembangan sbb:

a) Mengembangkan sikap dan wawasan yang ia miliki

b) Memulai atau memasuki dunia kerja

c) Memilih pasangan hidup

d) Mulai memasuki pernikahan

e) Belajar hidup bekeluarga

f) Mengelola rumah tangga

g) dll

Analisa pendidikan

Pada pendidikan masa dewasa, banyak hal yang muncul dari diri individu
tersebut. Dengan masalah tersebut pada masa dewasa individu akan mencari solusi
sendiri dari permasalahan yang ia temui, dan juga ia akan bisa berpikir sendiri sesuai
dengan kemampuan akalnya.

Adapun yang dijelaskan oleh hadits tentang seorang pemuda yang telah mampu
menikah, maka Rasul menganjurkan untuk menikah, dan bagi yang belum sanggup,
maka berpuasa untuk menahan gejolak yang ada. Yang demikian tersebut termasuk
masalah yang dihadapi pada masa dewasa.

Apabila dewasa tersebut memiliki ilmu agama yang kuat ia akan dapat mengatasi
masalah yang muncul, seperti seorang pemuda yang dewasa ia mempunyai keinginan
untuk menikah, akan tetapi ia belum cukup mampu dalam hal materi dalam
keluarganya kelak, maka dengan sendirinya ia akan berpikir dan akan menanahan
keinginannya tersebut, serta lebih berusaha lagi dalam mencukupi hal materi yang
kurang.

Pada pendidikan islam masa dewasa, orang dewasa tersebut seharusnya sudah
mampu untuk memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai agama karena orang
dewasa sudah bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk.