Anda di halaman 1dari 38

METODOLOGI PENELITIAN

“TEKNIK PENGGUNAAN PENCAHAYAAN ARTIFISIAL DALAM FOTOGRAFI


STILL LIFE DI KAMPUS ISI YOGYAKARTA”

Dosen Pengampu :

Kurniawan Adi Saputro S.IP., MA., Ph.D

Kusrini S.Sos., M.Sn.

Oleh :

FIROOS AGUNG WINAHYU W - 161

WILDAN MARDIANSYAH - 1610784031

Program Studi S-1 Fotografi

Fakultas Seni Media Rekam

Institut Seni Indonesia Yogyakarta

2018
TEKNIK PENCAHAYAAN ARTIFISIAL DALAM FOTOGRAFI
KOMERSIAL STILL LIFE DI ISI YOGYAKARTA

PENDAHULUAN

Terdapat banyak jenis aliran fotografi yang dapat dipelajari di ISI


Yogyakarta, salah satunya adalah fotografi komersial. Di Fakultas Seni Media
Rekam Institut Seni Yogyakarta sendiri, fotografi komersial menjadi salah satu
dari tiga penjurusan yang harus dipilih oleh mahasiswa. Selain itu, fotografi
komersial juga beberapa kali dijadikan sebagai mata kuliah yang wajib diambil
mahasiswanya. Salah satu aliran dari fotografi komersial adalah fotografi Still
Life. Dalam fotografi komersial Still Life, kita dituntut untuk memotret benda mati
dan menjadikan benda tersebut tampak lebih hidup dan segar. Tidak seperti foto
model dimana objek yang dipotret memang hidup, dalam fotografi Still Life
dibutuhkan teknik-teknik memanipulasi cahaya sehingga benda yang dipotret
terlihat lebih hidup dan dapat menangkap esensi dari benda yang dipotret.

Dalam satu semester ini, kami telah meniliti macam teknik pencahayaan
yang dipelajari di ISI Yogyakarta baik melalui wawancara maupun observasi.
Narasumber yang kami datangi terbatas pada dosen dan mahasiswa namun
masing-masing narasumber memiliki peranan berbeda dalam masyarakat. Sebagai
contoh Kami memilih Ganang Banu sebagai narasumber karena ia adalah
mahasiswa yang juga seorang fotografer komersial, lalu kami memilih SY Donny
karena ia adalah mahasiswa yang mendapat nilai baik di kelas fotografi komersial.
Ternyata setelah dilakukan penelitian terdapat variasi penggunaan teknik
pencahayaan artifisial di masing masing Individunya. Terdapat pengembangan-
pengembangan dari teknik-teknik yang dipelajari sehingga terjadi proses kreatif
didalamnya. Proses kreatif ini berjalan berbeda-beda antara satu mahasiswa
dengan mahasiswa yang lain menjadikan sebuah teknik baru diluar apa yang
dipelajari di ISI, khas mahasiswa tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali teknik apa saja yang
digunakan, penerapannya, dan pengembangannya oleh dosen maupun mahasiswa
di lingkungan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Media Rekam
jurusan Fotografi.

Pertanyaan penelitiannya : Bagaimana teknik penggunaan pencahayaan


artifisial dalam fotografi Still Life di kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta ?
Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.
Lewat penelitian dengan teknik wawancara, kami akan mewawancarai dosen dan
juga mahasiswa yang berkecimpung di wilayah fotografi Still Life di kampus
Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

KAJIAN PUSTAKA

Dari pertanyaan penelitian yang telah kami buat, kami telah menetapkan
topic penelitian kami yaitu : teknik penggunaan pencahayaan artifisial.
Berdasarkan topik ini, kami membuat kajian pustaka dengan maksud untuk
mengkaji teknik apa saja yang telah peneliti teliti.

Banyak penelitian sebelumnya telah membahas teknik penggunaan


pencahayaan artifisial dalam berbagai macam genre fotografi. Penelitian ini
memfokuskan pada teknik penggunaan pencahayaan artifial dalam fotografi Still
Life di kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Penggunaan pencahayaan artifisial sudah banyak digunakan dalam sebuah


pemotretan sebuah benda maupun objek. Menurut Enche Tjin dalam bukunya
yang berjudul Lighting Itu Mudah ! pada dasarnya, fotografi adalah proses
membuat gambar dengan merekam cahaya, tapi banyak fotografer pemula belum
peka dan belum mengetahui bagaimana menggunakan dan memanfaatkan cahaya.
Fenomena ini ibaratnya seperti pelukis yang belum bisa mencampur cat dan
menuangkannya ke dalam kanvas saat dia melukis.
Dalam teknik fotografi, cahaya merupakan elemen dasar dalam
pembentukan image. Dalam penelitiannya, Bambang M. Soewito dan Kartika K.
Wardani Pemanfaatan Single Flash External Dengan Guide Number Rendah
Untuk Pemotretan Ruang, Pemahaman tata pencahayaan saat pemotretan mutlak
diperlukan karena akan memengaruhi mutu gambar yang didapat. Optimalisasi
pencahayaan pada objek dapat diperoleh dengan cara memahami karakternya. Hal
itu bisa dilakukan dengan menggolongkan cahaya berdasarkan sumbernya atau
mengenal sifat-sifatnya, juga memahami pola terapan cahaya tersebut. Pemotretan
interior merupakan salah satu terapan fotografi yang mengeksplorasi detail objek
dan suasana ruangan sehingga suatu saat bias saja dibutuhkan lampu tambahan
yang berupa flash. Dalam memenuhi tujuan itu, beberapa di antaranya masih
banyak yang membutuhkan penggunaan lebih dari satu titik lampu flash beserta
aksesorisnya sehingga akan memengaruhi biaya operasionalnya juga. Pada
penulisan ini akan disampaikan hasil percobaan tentang pemotretan ruang yang
hanya menggunakan sebuah lampu flash eksternal berintensitas kecil, yang bisa
dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas foto sehingga dirasa
dapat menekan biaya operasional pemotretan.

Edison Paulus dan Laely Endah dalam bukunya yang berjudul Buku Saku
Fotografi : Still Life juga menerangkan bahwa, membuat foto Still Life bukan
sekedar memindahkan objek dalam bentuk asli ke dalam sebuah frame foto,
namun diperlukan pengetahuan dalam memahami cahaya. Hal ono penting karena
mempersiapkan arah cahaya merupakan awal yang menentukan bagus atau tidak
nya hasil akhir sebuah foto Still Life. Memotret Still Life tidak bisa asal menjepret
saja, namun dibutuhkan teknik khusus agar foto tampil lebih baik. Kunci utama
dalam pemotretan Still Life adalah menguasai berbagai teknik pemotretan dan
segala permasalahannya.

Still Life identik dengan dunia fotografi komersial dan advertising.


Pemotretan Still Life adalah menciptakan sebuah gambar dari benda atau objek
mati agar tampak jauh lebih hidup dan berbicara, seperti makanan terlihat hangat,
dingin, atau lembut. Dalam penelitian ini kami akan mencari tahu tentang
bagaimana teknik penggunaan pencahayaan artifisial dalam fotografi Still Life di
kampus Institut Seni Indonesia.

METODE

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana teknik


penggunaan pencahayaan artifisial dalam fotografi Still Life di kampus Institut
Seni Indonesia Yogyakarta. Dengan metode penelitian kualitatif untuk
mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian, penelitian ini menggunakan
teknik wawancara dalam mengumpulkan data. Saya memilih menggunakan teknik
wawancara dalam penelitian ini karena yang akan kami eksplorasi adalah teknik
dan pengembangan teknik pemotretan individu dengan penggunaan pencahayaan
buatan, yang mana kita tidak bisa gali hanya dengan observasi. Data yang hendak
kami gali adalah bagaimana teknik penggunaan, kreativitas, dan pengembangan
yang ada di dalam orang.

Dalam observasi ini teknik observasi juga digunakan secara langsung yaitu
dengan melihat langsung proses penggunaan teknik tersebut dilakukan. Namun
dalam rangka mengumpulkan data untuk menggali penggunaan teknik
penggunaan pencahayaan yang menjai objek formal penelitian ini, kami lebih
menggunakan teknik wawancara langsung.

Wawancara yang saya buat melibatkan dua komponen yaitu kami sebagai
peneliti/pewawancara, dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta
sebagai subjek yang diteliti/diwawancarai. Dan dalam wawancara ini, kami tidak
menyertakan lembar kesediaan untuk diwawancarai karena semua narasumber
sudah bersedia diwawancarai tanpa harus membawa lembar tersebut, dan tiga
diantaranya (Donny, Qadry, dan Ganang) merupakan teman kami sendiri. Sebagai
penelitian ilmiah, terlebih dahulu kami membuat pertanyaan penelitian. Setelah itu
sebelum kami berangkat ke tempat subjek yang akan diwawancarai, kami
mempersiapkan diri lahir dan batin. Kami beberapa kali tidak mendapatkan
kesempatan untuk melakukan wawancara akibat banyaknya peneliti lain yang juga
melakukan wawancara dengan sumber yang sama dengan yang kami. Selain itu,
kesibukan para narasumber juga menjadi halangan kami untuk melakukan
wawancara. Rintangan-rintangan tersebut menjadikan kami untuk lebih mendekat
dan menjadi prioritas nomer sekian bagi sang narasumber untuk mendapatkan
kesempatan waktu dan juga data yang baik dari narasumber. Ketika kami telah
diterima baik oleh narasumber,

Kami akhirnya mempunyai waktu untuk melakukan wawancara dengan


narasumber. Yang pertama, yaitu Pada tanggal 20 Maret 2018 dengan
mewawancarai mahasiswa fotografi angkatan 2016 Institut Seni Indonesia
Yogyakarta dan juga pelaku fotografi/fotografer komersial yaitu Syfa Ashr Qadry
di studio CPC di Jl. Harjowinatan 8, Pakualaman, Yogyakarta. Kami melakukan
wawancara cukup lama akibat adanya gangguan dari mahasiswa yang telah selesai
mengikuti perkuliahan, namun tidak langsung pulang. Setelah selesai wawancara
kami akhirnya pulang dan keesokan harinya kami langsung membuat transkripsi
hasil wawancara kami dengan mas Qadry.

Pada hari Selasa, 03 April 2018. Kami akan melakukan wawancara dengan
narasumber kedua yaitu Bapak Jhonny Hendarta, beliau merupakan fotografer
komersial kenamaan Indonesia sekaligus dosen pengajar di jurusan fotografi
Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sebelumnya kami mengikuti dahulu kelas
fotografi Still Life yang diajar langsung oleh pak Jhonny, disana juga terdapat
banyak mahasiswa fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang mengikuti
perkuliahan. Disana kami mengamati terlebih dahulu apa saja yang narasumber
lakukan dalam proses pemotretan dengan teknik penggunaan pencahayaan yang
dilakukannya.

Setelah berjalan dua jam, pada jam 14.00 perkuliahan tersebut akhirnya
selesai. Kami langsung menemui Pak Jhonny Hendarta selaku narasumber
pertama. Namun sebelumnya ada peneliti lain yang ingin melakukan wawancara,
namun karena sebelumnya kami telah melakukan janjian, tentunya akhirnya kami
dulu yang dipersilahkan untuk melakukan wawancara pertama. Wawancara
berlangsung cukup singkat dikarenakan pak Jhonny ada kesibukan lainnya, namun
untungnya kami telah berhasil menggali seluruh data yang akan menjadi jawaban
atas pertanyaan penelitian kami meskipun ada beberapa pertanyaan yang jawaban
nya beliau katakana untuk mencari di internet.

Setelah melakukan wawancara dengan Pak Jhonny, pada saat itu juga kami
bertemu dengan narasumber kami yang ketiga yaitu Ganang Banu, Ganang juga
merupakan mahasiswa jurusan fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta
angkatan 2016 dan juga pelaku fotografi/fotografer di bidang fotografi
produk/Still Life, kami berniat untuk melakukan wawancara langsung pada saat
itu juga tanpa sebelumnya memberi kabar untuk melakukan wawancara, namun
seperti dugaan kami mas Ganang belum bersedia untuk diwawancarai dengan
alasan belum siap.

Dua hari setelah wawancara dengan pak Jhonny, kami melakukan


transkripsi hasil rekaman wawancara.

Akhirnya pada tanggal 24 April 2018, mas Ganang dan mas Donny selaku
narasumber ketiga dan keempat menyatakan kemauan nya untuk dapat kami
wawancarai.. Mas Donny merupakan mahasiswa jurusan fotografi di Institut Seni
Indonesia Yogyakarta angkatan 2016 dan juga merupakan salah satu mahasiswa
yang aktif dan memiliki hasil foto yang sangat baik dalam fotografi Still Life ini.
Wawancara tersebut juga dilakukan di studio CPC setelah perkuliahan selesai.
Setelah wawancara selesai, keesokan harinya kami langsung mentranskripsi hasil
wawancara tersebut.

Setelah kami mempunyai seluruh hasil transkripsi wawancara, kami


melakukan pengkodean pada hasil transkripsi. Setelah selesai, kami berupaya
untuk berkonsultasi tentang apa yang kami rasa kurang kepada dosen pengampu,
ternyata ada beberapa kekurangan dalam menggali informasi dan membuat kode.
Dalam topic teknik, ternyata kode yang telah kami buat sebelumya nya salah,
menurut saran dosen pengampu, inti di dalam judul kami itu teknik, maka kode
yang harus dicari yaitu percabangan, yaitu ada cara, susunan, dan alat. Untuk
susunan dan alat kami sudah mempunyai data nya, namun untuk cara kami
akhirnya harus wawancara ulang dengan para narasumber.

Pada tanggal 23 Mei 2018 kami wawancara lagi dengan mas Donny, lalu
pada tanggal 28 Mei 2018 kami juga mewawancarai mas Ganang dan mas Qadry
sekaligus, dan langsung kami transkripsi. Wawancara untuk yang kedua kalinya
ini dilakukan untuk mendapatkan data yang kurang akibat kesalahan yang
sebelumnya kami buat.

Setelah semua data telah lengkap dan terkumpul selanjutnya saya


menyatukan kode-kode yang sama.

HASIL

Dalam dunia fotografi Still Life, teknik pencahayaan memiliki peran yang
sangat penting. Pencahayaan yang tepat dapat merubah citra sebuah benda dalam
foto. Pencahayaan yang baik dapat membuat sebuah benda terlihat lebih hidup.
Bahkan hal tersebut dapat membuatnya terlihat lebih glamour. Sebaliknya, cahaya
yang datar dapat menurunkan citra sebuah benda meskipun benda tersebut
merupakan benda yang mahal sekalipun.

Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu tentang bagaimana


penggunaan teknik pencahayaan artifisial di lingkungan kampus Institut Seni
Indonesia, Yogyakarta.

Dari hasil pengamatan dan wawancara terhadap beberapa subjek yang kami
pilih, terlihat bahwa teknik pencahayaan artifisial pada fotografi komersial Still
Life di lingkungan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta berkutat pada hasil
pembelajaran dari mata kuliah fotografi produk. Ke-empat narasumber yang kami
tanyai kurang lebih menjawab hal yang sama ketika kami wawancara. Rata-rata
dari mereka menjawab gradasi warna, gradasi hitam putih, croccodille mouth, dan
black glass. Seperti wawancara kami kami dengan Mas Donny, ia mengatakan

“ee.. karena saya juga baru dapet materintya semester ini kan mas ya,
saya jadi baru belajar aja, baru kemarin dapet beberapa teknik seperti
gradasi. Gradasi itu ada gradasi hitam putih, gradasi warna, terus ada
lita main pakek blackglass, ada croccodille mouth. Lebih ke arah sana
sih mas.”

Hanya Pak Jhonny Hendarta yang menambahkan jawaban lain yaitu mixed light.

Meskipun dalam memotret, narasumber menggunakan teknik yang sama.


Namun foto yang dihasilkan berbeda satu sama lain. Mereka menambahkan
sentuhan kreativitasnya sendiri kedalam foto yang mereka hasilkan. Seperti yang
dilakukan oleh Syifa Asher Qadry dengan cara memodifikasi teknik foto splash.
Ia menyiramkan air ke objek alih-alih menjatuhkan objek ke dalam aquarium yang
berisikan air. Hal tersebut ia lakukan karena menurutnya ia sangat kesusahan
mendapatkan fokus ketika melakukan tugas tersebut dengan cara yang
konvensional. Syifa berkata bahwa

“saya coba cari teknik lain yang lebih mudah tapi beda tapi masih
dalam patokan tugasnya itu.. jadi apa ya.. jadi bikin sesuatu yang beda
tapi ga sulit gitu. Kan kadang-kadang orang kalo dikasih tugas ya
contohnya gini kita ngerjainnya gini. Coba mikir yang lebih.. keluar dari
itu supaya bisa bikin yang lebih beda nah. Awalnya ya saya nyari
refrensi sih, biasa itu nyari refrensi di internet. Sekiranya sama-sama
splash tapi.. aa.. cara pembuatannya dan hasilnya itu beda.”

Sejalan dengan Syifa, Donny juga melakukan hal yang hampir sama. Ia
menggunakan cat akrilik untuk memperlihatkan splash dalam fotonya. Donny
mengatakan
“Pertama ini sih mas, aaa kita siapin aquarium dulu, diisi penuh air aaa
terus habis itu produknya ditaruh, diganjal sesuatu biar dia ga nempel di
dasar aquariumnya. Habis itu kita perlu cat akrilik, aa kalau kemarin
saya pakainnya warna biru sama kuning karena disesuaikan dengan
produknya habis itu dicairin sedikit cat akriliknya, tapi ga terlalu cair.
Jadi yang penting dia enggak menggumpal tapi jadi cukup kental jadi
waktu dituangkan nanti ke dalam aquarium masih membentuk tekstur-
tekstur catnya yang ga langsung nyatu sama air.”

Sementara itu, Ganang lebih memilih penggunaan software sebagai alat


bantunya dalam menciptakan karya. Menurutnya iya lebih nyaman
menggunakan photoshop karena memang sudah sering berkutat di software
tersebut.

Rata-rata dari mereka pun mendapat inpirasi dari sumber yang sama
yaitu melalui internet. Seperti yang dikatakan oleh Mas Qadry “Awalnya ya
saya nyari refrensi sih, biasa itu nyari refrensi di internet. Sekiranya sama-
sama splash tapi.. aa.. cara pembuatannya dan hasilnya itu beda.”.

Jadi yang kami temukan dari penelitian ini adalah teknik pencahayaan
artifisial di lingkungan Institut Seni Indonesia Yogyakarta terutama di
Fakultas Seni Media Rekam sebagian besar tekniknya merupakan teknik yang
diajarkan oleh Bapak Jhonny Hendarta namun dalam eksekusinya terdapat
pengembangan melalui kreativitas-kreativitas individu pembuatnya sehingga
terdapat kebebasan bagi para mahasiswa untuk membuat karya sesuai dengan
imajinasi maupun idenya. Itu tidak menutup kemungkinan dapat terciptanya
teknik-teknik baru atau penemuan teknik-teknik baru oleh mahasiswanya

Dibandingkan dengan fotografi produk yang beredar luas di


masyarakat luas yang hanya mengandalkan mini box studio dan satu buah
lampu, hasil yang didapatkan dari penelitian ini dapat lebih menonjolkan
estetika dan juga meningkatkan nilai suatu produk didalam sebuah frame.
KESIMPULAN

Temuan dalam penelitian ini adalah teknik penggunaan pencahayaan


artifisial dalam fotografi Still Life di kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta
ini bersumbu pada teknik penggunaan pencahayaan yang diajarkan oleh Pak
Jhonny Hendarta, selaku fotografer komersial dan dosen pengajar foto produk di
Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Namun ditemukan juga bahwa dalam
menghasilkan foto Still Life yang baik tidak semua cara yang dilakukan oleh para
narasumber selain pak Jhonny tersebut sama. Artinya bahwa proses kreatif yang
dilakukan termasuk teknik, penempatan susunan lampu, penggunaan aksesoris
tersebut berkembang. Guna mempelajari teknik pencahayaan maupun teknik foto
fotografi Still Life juga untuk menciptakan sebuah gambar dari benda atau objek
mati agar tampak jauh lebih hidup dan berbicara.
LAMPIRAN

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA

Pertanyaan Penelitian :

Bagaimana teknik penggunaan pencahayaan artifisial dalam fotografi Still Life di


kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta ?

Topik Penelitian :

Teknik penggunaan pencahayaan artifisial

Pertanyaan Wawancara :

1. Apa saja macam-macam pencahayaan artifisial yang digunakan untuk


memotret sebuah benda Still Life ?
2. Ada berapa teknik penggunaan pencahayaan artifisial yang digunakan
dalam memotret sebuah benda Still Life ?
3. Bagaimana teknik pencahayaan artifisial yang dilakukan dalam memotret
sebuah benda Still Life ?
4. Bagaimana langkah-langkah / proses kreatif dalam memotret sebuah benda
Still Life ?
DAFTAR KODE

Bagaimana cara subjek menyusun


1 Penyusunan Lampu
setup lampu studio maupun flashnya

Milik siapa lampu studio atau flash


2 Ketersediaan Lampu
yang subjek gunakan

Bagaimana subjek mencapai foto yang


3 Proses Kreatif
diinginkan

4 Sumber Inspirasi Dari mana asalnya inspsirasi datang


TRANSKRIPSI

Suasana : Lumayan Sepi

Tempat : Studio CPC

Banyak orang dalam forum : 3 orang (Pewawancara,


narasumber, & satu orang teman)

Media yang digunakan : Buku tulis, pulpen dan hp untuk alat


rekam suara

Nama narasumber : Syfa Ashr Qadry, Fotografer Komersil &


Mahasiswa

Peneliti : Jadi mas, eeh menurut mas a apa aja alat pencahayaan buatan yang
digunakan eeh waktu memotret Still Life ?

Syfa : Mm yaa, dalam pemotretan Still Life sebenernya banyak sumber


cahaya yang bisa dipake, misalnya lampu flash, truss.. lampu flash
itu yang cuma sekali "ffffhhupppp" yaa (tertawa ringan), trus kayak
lampu-lampu kontinyu, misal yang misalnya nyala terus, nahh itu
biasanya beda alat beda kesulitannya .. kalo misalnya pake flash,
flash-flash yang biasa.. yang ngga ada modelling lamp-nya.. jadi
ngga ada lampu kontinyu nya itu biasanya susahnya eee
cara..kita..ngepasin arah cahaya nya itu biasanya lebih sulit, cuman
kalo biasanya pake.. apa ya, oh iya yang pake flash itu juga harganya
biasanya lebih mahal flashnya.
(Menarik nafas)
Tapi kalo mau pengen lebih murah bisa pake… lampu-lampu..
lampu-lampu apalah gitu, pake lampu belajar, apa lampu-lampu
yang..kontinyu kayak lampu di rumah-rumah gitu bisa… itu lebih
enak ngarahin sumber cahayanya, mau darimana, trus efeknya mau
dibikin gimana, nanti tinggal pake aksesoris apa yang mau dipake,
nah itu lebih gampang.
Jadi mas bisa jelaskan eeh teknik pencahayaan yang mas ketahui itu
Peneliti :
mas ?

Syfa : Sebenernya tekniknya itu banyak, cuman yang..apa ya, basic itu
biasanya ada tiga, itu biasanya pakenya..teknik yang..background-
nya gradasi, trus ada yang..namanya tuh tekniknya crocodille mouth,
trus yang biasanya sering dipake tuh malah yang
namanya..blackglass, jadi blackglass itu, malah yang sering saya
pake motret tuh malah blackglass, jadi blackglass itu lebih apa ya,
dia..caranya motret itu, bagian bawah, alasnya..alas dari tempat
pemotretannya itu pake kaca warna item, nahh...biasanya hasilnya
malah lebih bagus.

Trus mas eeh buat settingan lampu sama penataannya gimana


Peneliti :
mas ?

Syfa : Mmmm untuk penataannya..sebenernya lebih gampang kita


langsung praktek aja sih, tapi kalo secara teorinya..saya cahaya itu
eeh cahaya, cahaya utamanya itu ditaruh di atas objek, trus ada
kayak cahaya efeknya itu dari belakang, bisa pake standart reflector,
mending main light nya mendingan softbox atau kalo ngga punya
softbox bisa pake kalkir atau kain..(tertawa ringan) kain putih
bening, gitu. Bisa-bisa, gitu.

Peneliti : Oh iya mas

Syfa : (Tertawa)

Peneliti : Kalau buat settingan kamera mas, sama aksesoris pendukung gitu
biasanya gimana mas ?

Aksesoris pendukungnya..aksesoris di lampu apa di..disamping


Syfa :
objeknya ?
Peneliti : Disamping objek..di lampu ya kalo mau dijelasin ngga papa

Syfa : (Tertawa)

Syfa : Kalo ehh (tertawa) kalo dilampu tuh ya mm sama yang tak bilang
tadi. Sebenernya ada kayak yang lain, misalnya ya snoot, trus
honeycomb, itu juga sebenernya bisa dipakai untuk pemotretan
prodak, soalnya kan kalo foto prodak kan..apa ya..arah cahaya tuh
perlu dilihat bener gitu tuh, soalnya kan objeknya kecil tuh. Kalo
objek pendukungnya kan biasanya kan itu tergantung objek
utamanya, mau eeh apa..tergantung prodaknya itu seperti apa, nah
itu nanti tinggal dicari yang sekiranya itu..apa ya kalo misalnya kalo
ditaruh disampingnya tuh bisa harmoni gitu loh.

Peneliti : Ohh

Syfa : Ya untuk..apa..settingan kamera ya ? settingan kameranya..itu kalo

foto..fotografi di studio tuh sebenarnya ngga begitu..nganu


ya..penting gitu loh (tertawa ringan) yang penting itu sebenernya
arah cahayanya.

Peneliti : Okeh

Syfa : Kalo yang berpengaruh itu biasanya cuman di..apa namanya ?


Di..aperture sama di ISO, tapi kalo speed nya saya rasa ngga begitu
pengaruh sih.

Peneliti : (Batuk)

Syfa : Jadi yang perlu di pentingin di aperture nya itu sama di ISO

Terus mas..anu..cara membuat objek itu terlihat lebih mewah lebih


Peneliti :
indah itu gimana mas ?
Syfa : Eee biasanya itu nyesuaiin ke prodaknya juga ya, kalo misalnya
prodaknya udah keliatan mewah gitu tinggal diberi efek-efek cahaya,
ya biasanya sih cahaya-cahaya rim light gitu, trus pokoknya dibikin
supaya ada efek blink-blink nya gitu, nah itu bisa bikin foto itu lebih
mewah, tapi kalo misalnya emang prodaknya itu ngga/bukan prodak
yang punya kesan mewah itu..itu lebih sulit biasanya, jadi objek
pendukungnya lebih harus mendominasi, tapi jangan terlalu
mendominasi, yang penting objek-objek utama nya itu masih keluar
tapi sekitarnya bisa mendukung supaya foto itu lebih menarik, lebih
mewah. (tertawa ringan)

Peneliti : Oh ya mas terima kasih mas, terima kasih atas waktunya.

TRANSKRIP WAWANCARA 2

Suasana : Lumayan Sepi

Tempat : Studio CPC

Banyak orang dalam forum : 3 orang (Pewawancara,


narasumber, & satu orang teman)

Media yang digunakan : Buku tulis, pulpen dan hp untuk alat


rekam suara

Nama narasumber : Jhonny Hendarta, Fotografer Komersil &


Dosen ISI Yogyakarta

Firoos : “ee.. perkenalkan pak, nama saya Firoos pak... ee... saya mau
bertanya, jadi.. aa dalam memotret.. aa Still Life...”

Pak Jhonny : “yap”

Firoos : “aa.. biasanya pencahayaan yang digunakan tu, aa.. apa aja ya
pak? Maksutnya aa.. selain flash, flash studio gitu”
Pak Jhonny : “Anda bisa pakai apa saja, juga jawabannya. Apa, misalnya
sekarang kan sudah ada yang namanya pakai LED”

Firoos :”LED”

Pak Jhonny :”Ya. Terus, pakai senter bisa”

Firoos :”oo senter e”

Pak Jhonny :”Bisa, apa aja bisa yang penting gini, anda mau menghasilkan
cahaya yang eee.. yang sifatnya apa dulu? Soft? Berarti anda
seperti pakai soft box”

Firoos :”hmm oh iya”

Pak Jhonny :”Kalau anda bukan flash ya berarti dikasih kalkir, apa.. biar
lembut. Kalo pake hard langsung. Kalau mau pake spot ya
diusahakan supaya dia tidak mencar cahayanya. Jadi sebenarnya
cahaya itu apa saja yang penting cahaya”

Firoos :”Selain flash semuanya yang penting mengeluarkan cahaya”

Pak Jhonny :”Betul”

Firoos :”Oke. Terus pertanyaan kedua pak, eee.. biasanya kalo motret Still
Life yang... terutama yang apa namanya... produk itu tekniknya ada
apa aja ya pak biasanya?

Pak Jhonny :”Whoaa tekniknya banyak ya, ada yang istilahnya ee.. e.. e..
maksunya cahaya yang cahaya dari sisi cahaya?

Firoos :”aa.. yang kayak apa namanya..”

Pak Jhonny :”Blackglass?”

Firoos :”Blackglass gitu”


Pak Jhonny :”Oo banyak, jadi blackglass terus ee... apa namanya ck.. aa...
gradasi”

Firoos :”oo gradasi”

Pak Jhonny :”Teruus diatas permukaan kasar ya kan? Diatas permukaan licin
yang mantul”

Firoos :”Oo.. ya ya”

Pak Jhonny :”Semua.. semua bisa dikaitkan semua bisa”

Firoos :”Aa.. terus aa... Bapak kan dah banyak ya pak motret apa produk
produk gitu ya pak ya? Hah terus bapak punya tips apa trik gitu
biar sebuah benda itu bisa terlihat lebih aa.. apa namanya lebih
mewah?”

Pak Jhonny :”Untuk lebih mewah sebetulnya satu hal, anda pelajari dulu
bendanya apa, oke. Setelah ketemu, dicari sisi mewahnya dimana
sih? Ini handphone oke, kalo ini saya hidupkan seperti ini, lebih
mewah ga sama dimatiin? Kalo ini lebih mewah ya ini dong yang
direkam”

Firoos :”hmm”

Pak Jhonny :”Berarti anda pake tekniknya tek.. teknik mixed tadi”

Firoos :”Mixed light”

Pak Jhonny :”Flash ada supaya ininya keluar, tapi ininya juga direkam pake
slow speed biar ini ikut terekam. Jadi dilihat, benda mengkilap
seperti kemarin yang pisau segala”

Firoos :”Iya”
Pak Jhonny :”Usahakan anda pake cahaya yang sumber cahayanya luas. Karena
barang mengkilat yang sekecil ini aja segini, ya, ini lah jam, ini kan
coba kena cahaya seperti ini terangkan Cuma segini yang terang..”

Firoos :”Iya”

Pak Jhonny :”ini tetep item”

Firoos :”He’eh”

Pak Jhonny :”Berarti anda butuh.. tuh lihat kalo tak kasih reflektor gini kan
terang semua”

Firoos :”Berarti yang apa ck.. menyeluruh..”

Pak Jhonny :”Luas.. luas istilahnya cahaya itu ada satu ya satu lembut keras,
fokus nyebar.. oke, ada lagi lunak ee sorry, ini lunak ha.. keras
lunak, fokus nyebar, terus ada lagi yang luas sempit..”

Firoos :”Hmm...”

Pak Jhonny :”Nah.. itu semua anda bisa gunakan, yang mana yang paling
cocok.”

Firoos :”Berarti intinya apa.. riset dulu..”

Pak Jhonny :”Iyaa”

Firoos :”Gimana bagusnya benda itu..”

Pak Jhonny :”Ho’o”

Firoos :” Terus ditonjolkan disitu”

Pak Jhonny :”Betuul.. kamu anu kamu liat, jadi kita potret sesuatu itu ga bisa
semena-mena jreet gitu ndak bisa. Ini aja ini, ini kan ndak tampak”

Firoos :”Ya”
Pak Jhonny :”Ini dari, ini kam dari apa dari..”

Firoos :”Plastik..”

Pak Jhonny :”Kaca”

Firoos :”..Oo kaca”

Pak Jhonny :”Kaca”

Firoos :”Kaca”

Pak Jhonny :”Ini supaya kelihatan mewah... ini cuci pasti lah haha”

Firoos :”Hehehe”

Pak Jhonny :”Begitu mengkilat, ininya juga harus kelihatan ininya, nah berarti
anda cari permukaan yang tembus pandang dari bawah dikasih
lighting lagi supaya ininya keluar”

Firoos :”Ooo..”
Pak Jhonny :”Nah bisa dari gitu-gitu, anda ga bisa, ini tak dokokke nang nggon
item ya, mati”

Firoos :”Iya nggak.. nggak.. nggak.. ya..”

Pak Jhonny :”Nggak ada lekukannya, hilang. Padahal itu nilai jualnya
lekukannya juga ada gitu lho, ya kan?

Firoos :”Iya he’eh”

Pak Jhonny :”Terus sekarang kita bicara baju gitu aja kan. Nah baju ditarok
bret ya we meng ketok ini ini, kaos gitu, tapi kalo saya mau bicara
kaos ini lembut seperti itu, cari detailnya. Sehingga orang bisa
mbedakan, iki kaos murah opo kaos larang. Kalo kaos murah tu
biasanya kan renggang-renggang..”

Firoos :”Itunya apa, serat-seratnya”


Pak Jhonny :”Lubang-lubangnya, serat-seratnya. Nah itu diperlihatkan. Nah
untuk memperlihatkan itu, saya tadikan bilang. Mengeluarkan
dimensi maupun detail anda tidak butuh front light tapi side light.
Contoh ini, ini cahaya dari sini. Kalo tangan saya gini ini kan jelas
terang semua kan? Tapi detailnya apa? Kurang ta? Tapi kalo saya
ginikan, beda nggak?”

Firoos :”Oh iya ho’o iya ho’o paham”

Pak Jhonny :”Iya kan?”

Firoos :”Iya”

Pak Jhonny :”Nah sama”

Firoos :”Hmmm”

Pak Jhonny :”Still Life tu enaknya apa, anda taruh lighting mu tok uleg-uleg
bisa. Tapi kalo motret orang, orangnya yang menyesuaikan. Gini
oh gini. Dipaksa anda motret disini, gini. Ya misalnya suruh gini,
diketokkannya, ya kan? Kan kenanya lebih enak”

Firoos :”Iya”

Pak Jhonny :”Nah gitu. Yah.”

Firoos :”Terus aa.. “

Pak Jhonny :”Uhuk”

Firoos :”...apa namanya.. motret-motret gini kan aksesorisnya banyak ya


pak..”

Pak Jhonny :”Yak”

Firoos :”Kayak softbox”

Pak Jhonny :”Yaa”


Firoos :”Ha itu biasanya perbedaannya dimananya pak?”

Pak Jhonny :”Macem-macem, anda anda gini anda ee e kapan itu saya sudah
bicara tentang itu belum flash ? sudah km masuk ngga ? hehe”

Firoos :”Hehe”

Pak Jhonny :”Flash itu aksesorisnya banyak”

Firoos :”Oiyaa”

Pak Jhonny :”Ada payung, payung itu akan memantulkan, meratakan, sofbox
melunakkan, tapi lebih sempit dari payung, iya ngga ? tapi tetep
lunak. Sedangkan yang langsung itu berarti keras, yaa, sedangkan
yang tadi pake honeycomb itu lebih untuk me-fokuskan, jadi
masing-masing karakter itu punya gitu,.. mbok kamu gini, e kamu
search ya .. trus ada aksesoris apa apa apa kamu catet namanya,
takut saya takbisa jawab”

Firoos :”Okeh”

Pak Jhonny :”Kamu lebih sistematis, kalau kamu tanya gini kamu ngambang
semua, ya. Kamu cari di internet perlengkapan ini tu ada apa aja,
softbox, honeycomb,snoot, eeh spotlight, terus sunny e apalagi e
terus macem-macem softbox yang panjang, kamu catet semua ini
ini ini ini, nanti fungsinya apa ? oke ? sifatnya apa .. ”

Firoos :”Kalau gitu eeh petanyaan selanjutnya aja ya pak hh.. ehh kalo..
pak jhonny”

Pak Jhonny :”Uhuk”

Firoos :”Motret Still Life gitu”

Pak Jhonny :”Yak”


Firoos :”Biasanya paling suka dari teknik yang tadi, blackglass, trus
crocodile mouth itu yang paling hh suka yang mana pak ? ”

Pak Jhonny :”Wohh saya suka semua”

Firoos :”Suka semua .. ”

Pak Jhonny :”Tergantung objek”

Firoos :”Oh iya tergantung objek juga”

Pak Jhonny :”He e apasih ? ”

Pak Jhonny :”Eeh sepatu itu pake black glass bisa, tapi pake crocodile mouth
bisa, pake gradasi bisa, jadi semuanya tetep bisa asal kita waktu
motret itu memperhatikan, sepatu .. ee kita bicara mo detail
detainya. Yaa kita harus jangan asal terang, gitu loh, yaah ?.. jadi
teknik apasaja sebetulnya bisa, cuman klo saya bilang teknik
blackglass tuh keliatan mewah..iya”

Firoos :”Ohiya”

Pak Jhonny :”Keliatan lebih mewah gitu loh, yaah.. tapi bukan berarti itu untuk
semua, bukan juga..yaa.. gitu”

Firoos :”Ehh yaudah pak ehh terima kasih atas waktunya pak ehh”

Pak Jhonny :”Yak sama-sama ”

Pak Jhonny :”Kamu sering anu aja kamu search, kamu liat, kamu ngga ngerti
kamu tanya ”

TRANSKRIP WAWANCARA 3

Suasana : Sunyi, tenang tanpa ada gangguan

Tempat : Ruang kuliah 4, kampus ISI YK


Banyak orang dalam forum : 4 orang (Pewawancara,
narasumber, & satu orang teman)

Media yang digunakan : Buku tulis, pulpen dan hp untuk alat


rekam suara

Nama narasumber : Ganang Banu mahasiswa jurusan


Fotografi 2016

Peneliti :Selamat pagi Mas Ganang

Ganang :Selamat pagi

Peneliti :Ini saya dari ISI mas

Ganang :Oh iya

Peneliti :Saya Wildan dan temen saya Firoos mau tanya-tanya tentang ini mas,
pencahayaan artifisial

Ganang :Oh iya, bisa

Peneliti :Nah jadi ee.. saya meneliti tentang teknik penggunaan pencahayaan
artifisial dalam fotografi Still Life di kampus ISI yogyakarta

Ganang :Iya

Peneliti :Nah jadi mas, pertanyaan pertama yah, apa saja macam-macam
pencahayaan artifisial yang digunakan untuk memotret sebuah benda
Still Life?

Ganang :ee.. sebetulnya kalo soal pencahayaan itu semua lampu itu bisa mas,
sebagai contoh misalnya kita pake flash external bisa, pake strobo bisa,
ya mungkin lampu-lampu LED itu bisa dipake. semua itu bisa dipake
mas, tinggal kita menerapkan fungsinya itu sebagaimana mestinya.
Semisal, kita memotret apa.. misal benda lah pengin.. pengin.. pengin..
benda itu soft.. nge soft gitu bisa pake lampu studio bisa pake soft box
biar nge soft seperti itu ya, tergantung fungsinya juga sih mas mau
dibikin seperti apa. Seperti itu

Peneliti :ee.. terus mas ee.. aksesoris apa aja yang dipakai untuk memotret
sebuah benda Still Life. Aksesoris apa aja yang terdapat pada lampu
yang digunakan untuk memotret sebuah benda Still Life?

Ganang :ee.. untuk aksesoris itu.. ada banyak ya mas, misalnya ee.. ada payung,
ada soft box, ada juga yang berfungsi untuk memantulkan tu lho..
reflector. Itu aksesoris itu punya fungsi masing masing mas, ya
misalnya payung, payung itu efek nya tu menyebar jadi ya.. ya..
objeknya kena semua. Kalo misalnya di softbox dia cenderung ke
terpusat tapi memiliki karakter yang halus, bisa digunakan untuk apa ya
istilahnya.. membikin dimensi sebuah foto itu softbox. Kalo emm..
reflector ya itu sebagai pembantu misalnya ketika kita memotret sebuah
benda ada shadow yang berlebih bisanya reflector fungsinya untuk
mempertipis shadow atau me.. mengkuatkan.. apa ya.. me..
menambahkan sedikit cahaya ke objek tersebut

Peneliti :Terus mas ee.. ada berapa teknik penggunaan pencahayaan artifisial
yang digunakan dalam memotret sebuah benda Still Life tolong
dijelaskan ya mas!

Ganang :Ohiya, kalo teknik itu ada banyak mas, saya ambilkan contoh saja,
misal ee.. teknik blackglass. Blackglass itu kaca hitam. Itu fungsinya
untuk merefleksikan produk. Misalnya mis.. mas kan pernah lihat kan..
ho’oh.. foto produk yang ee.. memantulkan cahaya emm.. memantulkan
visualnya dibawah itukan refleksi namanya seperti itu.. nah.. ya..
blackglass itu fungsinya seperti itu. Bikin foto itu lebih ciamik seperti
itu kalo misalnya.. ada lagi, fot.. e.. foto.. teknik foto yang ee.. gradasi
nah gradasi tu kan ee.. perubahan-perubahan gelap ke.. agak terang
agak terang agak terang seperti itu, nah misalnya itu ee.. contohnya ee..
foto yang backgroundnya itu semakin ke atas.. semakin ke bawah
semakin terang dari gelap lebih terang terang terang terang seperti itu
ya.. seperti itu lah. Terus ada teknik menggunakan gel warna seperti itu
yang... ya biasanya af.. foto yang aa.. foto yang backgroundnya
berwarna warni seperti itu. Membikin kesan aa.. kesan lebih enak
seperti itu. Terus.. apa lagi ya.. oke.. menggunakan teknik.. aa.. untuk
memotret biasanya kan ada kesulitan untuk memotret, yang paling sulit
itu memotret ketika memotret benda yang mengkilat itu tekniknya bisa
dipakai aa.. Crocodille mouth. Croccodille mouth itu se.. aa.. teknik
me..guna.. eh, seperti aa.. mulut buaya bisa dikatakan seperti mulut
buaya karena diatasnya tu aa.. kertas kalkir yang berfungsi untuk
melembutkan cahaya bis.. eh bisa dikatakan lah softbox gede lah gitu
lah, softbox tapi berukuran besar seperti yang, melembutkan cahaya.
Seper.. Seperti mas Peneliti sama mas Firoos tau kan nah kalo memotret
ee.. benda yang mengkilat itu kalo menggunakan aksesoris biasa itu
kurang, istilahnya cahaya yang di.. ken yang dikenakan objek itu terlalu
keras. Dengan menggunakan teknik Crocodile Mouth itu.. itu lebih..
cahaya lebih terkesan lebih merata dan karakternya masih softbox juga
kan, tetep lebih dinamis juga, lebih mempunyai dimensi itu seperti itu,
nah kalo misalnya kita bandingkan menggunakan cahaya biasa
misalnya, langsung gitu kan kelihatannya lebih keras. Jadi ca.. benda
yang mengkilap itu.. terlalu mengkilap itu kurang baik. Kalo
menggunakan menggunakan croccodille mounth itu cahayanya pas,
mengkilapnya juga pas, seperti itu.

Peneliti :Seperti itu ya mas ya, lalu.. untuk pertanyaan selanjutnya mas yah, itu
bagaimana sih teknik pencahayaan artifisial yang dilakukan Mas
Ganang dalam memotret sebuah benda Still Life, itu seperti apa?
Tekniknya

Ganang :Semisal contoh memotret gel warna ya, dengan menggunakan gel
warna. Ya.. itukan yang diwarna itu backgroundnya jadi yang
dikenakan gel itu backgroundnya seperti itu. Misal memotret apa misal
benda.. benda apa misalnya.. nah yang dikenakan itu background-nya.
Jadi objeknya jangan sampai kena. Kalo misalnya kena itu bisa jadi
mengganggu objek. Tapi juga da yang ee.. membantu juga.. Cuma itu
lebih ditekankan di background-nya seperti itu kalo misalnya ada teknik
yang ee.. teknik splash! Teknik splash itu teknik yang mem.. yang
istilahnya kita mem.. menjatuhkan sebuah benda ke air dan itu, terdapat
cipratannya itu namanya teknik splash seperti itu. Nah untuk mem..
untuk cara memotretnya itu ya biasa menggunakan aa.. benda aa..
misalnya aquarium dikasih air kita siap.. siapkan lampu lah lampu..
lampu.. yang pastinya ada lampu di belakang untul menerangi aquarium
terus kita punya yang di depan untuk menerangkan objek tersebut. Kalo
misalnya ga ada lampu yang di depan itu kan pasti gelap lah yo mas.
Yah itu sebelumnya lampu sudah disiapkan, tinggal kita eksekusinya.
Eksekusi biasanya bisanya minimal ada dua orang lah, kan ga mungkin
sat.. satu orang. Dua orang, satu orang itu biasanya emm.. menjatuhkan
benda itu. Ketika itu ya.. Ketika dijatuhkan, saya bertugas untuk
menjepret hingga pas, hingga posisi yang terbaik, seperti itu

TRANSKRIP WAWANCARA 4

Suasana : Sunyi, tenang tanpa ada gangguan

Tempat : Ruang wardrobe Studio CPC

Banyak orang dalam forum : 3 orang (Pewawancara dan


Narasumber)

Media yang digunakan : Buku tulis, pulpen dan hp untuk alat


rekam suara

Nama narasumber : Sy Donny mahasiswa jurusan


Fotografi 2016

Peneliti :ee.. Pertanyaan pertama mas, apa saja sih macam-macam pencahayaan
artifisial yang digunakan untuk memotret sebuah benda Still Life?
Donny :ee.. kalo macam-macamnya itu bisa dari lampu studio, bisa dari flash
external speedlight itu, bisa dari flash internal, bisa continous light. Ee
macem-macem sih mas sebenernya, cuman kalo yang pernah saya alami
sendiri kurang lebih itu.

Peneliti :Terus ee.. aksesoris apa saja sih yang dipakai buat memotret benda
Still Life?... Itu, aksesorisnya...

Donny :Kalo aksesorisnya di kampus sendiri kita biasa pakeknya dari soft box,
standart reflector, umbrella, honneycomb, sampai ke beauty dish sih..
baru itu ajah

Peneliti :Okeh.. terus, saya mau tanya nih tentang ada berapa sih teknik
penggunaan pencahayaan artifisial yang digunakan dalam memotret
sebuah benda Still Life, khususnya di kampus ISI?

Donny :ee.. karena saya juga baru dapet materintya semester ini kan mas ya,
saya jadi baru belajar aja, baru kemarin dapet beberapa teknik seperti
gradasi. Gradasi itu ada gradasi hitam putih, gradasi warna, terus ada
lita main pakek blackglass, ada crocodille mouth. Lebih ke arah sana
sih mas.

Peneliti :Okeh.. menarik sekali ya mas, terus ee.. yang terakhir nih mas,
bagaimana teknik pencahayaan artifisial yang mas lakukan dalam
memotret sebuah benda Still Life. Bisa dijelaskan tekniknya kayak apa
aja?

Donny :Okee, berarti salah satu teknik yang pernah saya terapkan gitu ya mas?

Peneliti :Iya ho’oh gapapa

Donny :Kalo saya baru terakhir kemaren sih belajar... belajar motret blackglass
sih mas. Jadi kemarin saya motret aa.. produk itu.. botol beer kebetulan.
Nah saya itu menggunakannya tiga sumber cahaya, dari lampu studio
semua ee.. sebagai main lightnya saya pake softbox, lalu sebagai fill in
nya saya pake satu strip light dan satu standart reflector jadi
penempatannya dari sudut 45 derajat sedangkan fill in nya dari sudut
225 dan juga dari bawah produk. Jadi kenapa saya menggunakan lampu
tiga? Karena saya juga ingin mendapatkan dimensi tersendiri dari foto
produk itu. Menampilkan kesan yang kuat dari produk tersebut juga

Peneliti :Penjelasan yang sangat menarik dan jelas yah. Mungkin itu aja yah
pertanyaan dari kami eeh.. semoga ini menjawab pertanyaan apa yang
kami tanyakan, apa yang kami teliti bisa terjawab
Transkrip Tambahan Qadry

Suasana : Sunyi, tenang tanpa ada gangguan

Tempat : Ruang kuliah 4, kampus ISI YK

Banyak orang dalam forum : 4 orang (Pewawancara,


narasumber, & satu orang teman)

Media yang digunakan : Buku tulis, pulpen dan hp untuk alat


rekam suara

Nama narasumber : Syfa Ashr Qadry, mahasiswa jurusan


Fotografi 2016

Peneliti: Eee selamat siang Mas Qadry

Qadry: Ya siang

Peneliti: Ini mas saya mau tanya-tanya lagi mengenai foto mas, foto splash yang
kemarin. Gimana sih mas langkah-langkahnya atau proses kreativnya
mas dalam membuat sebuah karya tersebut. Bisa tolong dijelasin ga
mas?

Qadry: Yaah.. jadi prosesnya ya sama sih itu karena ada tugas dan... ada
patokannya kan bikin... splash... foto splash.. tapi memang, memang
contohnya kemarin tu hanya apa ya, splash yang dasar kayak.. jadi
njatuhin objek ke aquarium terus cipratannya nanti difoto. Ya saya kalo
misalnya mau bikin yang kayak gitu... sebenarnya susah kalau mau
bikin yang kayak gitu haha jadi saya coba cari teknik lain yang lebih
mudah tapi beda tapi masih dalam patokan tugasnya itu.. jadi apa ya..
jadi bikin sesuatu yang beda tapi ga sulit gitu. Kan kadang-kadang
orang kalo dikasih tugas ya contohnya gini kita ngerjainnya gini. Coba
mikir yang lebih.. keluar dari itu supaya bisa bikin yang lebih beda nah.
Awalnya ya saya nyari refrensi sih, biasa itu nyari refrensi di internet.
Sekiranya sama-sama splash tapi.. aa.. cara pembuatannya dan hasilnya
itu beda. Sebenarnya kelemahannya pas yang dicontohin njatuhin objek
ke aqarium tu kelemahannya susah dapetin fokus sama pasti ada kayak
shaking gitu. Jadi objek utamanya tu ga bisa fokus, ga bisa tajem gitu.
Saya mikir, itu berarti pengaruhnya karena objeknya tu dijatuhin, coba
kalo misalnya yang ja.. yang jatuh tu bukan objeknya tapi airnya, coba
dibalik. Kan sama-sama splash, nah itu.. itu kayak penemuan baru
hahaha sebenernya hahaha penemuan baru yang sebenernya udah
dicoba oleh orang lain tapi baru.. baru ditemuin oleh saya sendiri gitu.
Kan pas nyari di Internet ternyata juga bagus dan temen-temen yang
lain juga belum ada yang nyoba, wah ini cocok bisa dipraktekin
ternyata hasilnya juga bagus.. alhamdulillah. Jadi seperti itu prosesnya

Peneliti: Hmm ya ya ya begitu oke mas mungkin begitu aja, terimakasih mas
atas informasinya terimakasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
TRANSKRIP TAMBAHAN DONNY

Suasana : Sunyi, tenang tanpa ada gangguan

Tempat : Ruang kuliah 4, kampus ISI YK

Banyak orang dalam forum : 3 orang (Pewawancara,


narasumber)

Media yang digunakan : Buku tulis, pulpen dan hp untuk alat


rekam suara

Nama narasumber : Sy Donny, mahasiswa jurusan Fotografi


2016

Peneliti: ee... Mas Donny ee.. mau tanya lagi nih mas. Bagaimana sih langkah-
langkah atau proses kreatif mas dalam memotret sebuah karya
komersial Still Life yang kemarin di tunjukan itu? Boleh dijelasin ga
mas

Donny: oo.. jadi yang terakhir kemarin itu kan mas? Yang botol sprite itu ya?
Kalo yang kemarin terakhir sih saya memulainya tu dari aa cari refrensi
dulu sih mas pertama tentunnya. Udah dari lama memang dari lama
ingin motret splash yang model seperti itu, dengan pake cat akrilik
segala macem. Jadi pertama, dulu pernah liat refrensi dari internet juga
habis itu udah nge planing dari lama pengin buat kayak gitu. Terus
setelah dijelasin teknik dasar splash dari pak Jhonny habis itu coba-coba
simulasi sama nyesuain konsep splashnya sama warna dari produknya
itu sendiri. Habis itu baru mulai eksekusi langsung ke eksekusi
langsung gitu aja sih mas. Jadi lebih kalo proses kreatifnya lebih dari
perbanyak refrensi sama ngerti teknik dasarnya dulu. Jadi tetep ngerjain
yang teknik dasarnya dulu baru improve ke konsep yang ingin
dikerjakan

Peneliti: Nah itu langkah-langkahnya sendiri seperti apa mas yang dikerjakan?
Maksutnya produknya diapain dulu, terus cara itunya bagaimana?
Donny: Pertama ini sih mas, aaa kita siapin aquarium dulu, diisi penuh air aaa
terus habis itu produknya ditaruh, diganjal sesuatu biar dia ga nempel di
dasar aquariumnya. Habis itu kita perlu cat akrilik, aa kalau kemarin
saya pakainnya warna biru sama kuning karena disesuaikan dengan
produknya habis itu dicairin sedikit cat akriliknya, tapi ga terlalu cair.
Jadi yang penting dia enggak menggumpal tapi jadi cukup kental jadi
waktu dituangkan nanti ke dalam aquarium masih membentuk tekstur-
tekstur catnya yang ga langsung nyatu sama air. Terus habis itu...
dengan set lampu yang sama dengan splash biasanya jadi kanan, kiri,
sama dari ada backlight sedikit, cat akriliknya dituangin terus kita aaa...
motret di situ jadi waktu cat akriliknya barusan masuk ke dalam air, kita
motret di situ. Buat post productionnya sendiri, lebih ke ini sih mas,
bersihin.. jadi buang alas dari kaleng spritennya, buang suntikannya
pasti inframe. Nah kita buang itu. Sama paling naikin kontras saturasi
kearah sana

Peneliti: Oke mas Donny terimakasih atas penjelasannya yang sangat baik.
Terimaksih mas

Donny: Ya sama-sama
TRANSKRIP TAMBAHAN GANANG

Suasana : Sunyi, tenang tanpa ada gangguan

Tempat : Ruang kuliah 1, kampus ISI YK

Banyak orang dalam forum : 3 orang (Pewawancara,


narasumber)

Media yang digunakan : Buku tulis, pulpen dan hp untuk alat


rekam suara

Nama narasumber : Ganang Banu, mahasiswa jurusan


Fotografi 2016

Peneliti : Selamat siang mas ganang

Ganang : Selamat siang mas

Peneliti : Oh iyah saya balik lagi mo nanya2 lagi mas, mengenai gimana sih
mas ee proses kreatif mas atau langkah2 mas dalam membuat ee
foto gradasi yang kemaren itu

Ganang : Oh iya untuk tugas gradasi yang kemaren ee saya mengambil cara
mudahnya ya..ee kayak temen-temen kan soal gradasi itu
menembakkan gel warna ke background gitu, nah itu kan beberapa
kali saya cukup agak kerepotan lah seperti itu bagi saya. Saya
berfikir ulang lah gimana cara membuat karya yang
mudah……..nah itu. Kebetulan saya lumayan bisa di soal edit nah.
Kenapa ngga.. eeh opo jenenge.. eh warna itu dibikin dari
photoshop, seperti itu nah. Nah itu cara mudahnya ya itu terus coba
lah motret produk dengan background biasa..putih.. saya edit di
photoshop.. untuk langkahnya cukup mudah, nah itu pake gradasi
warna nah itu istilahnya ditempatin diatas lalu direnggangin dikit
supaya warna ngga kena diobjek, seperti itu lah mas.

Peneliti : Oalah oke deh mas, terima kasih atas jawaban nya.
DAFTAR PUSTAKA

Tjin, Enche. 2011. Lighting Itu Mudah !. Jakarta. Bukune

Paulus, Edison. 2012. Buku Saku Fotografi : Still Life. Jakarta. PT Elex Media
Komputindo

M. Soewito, Bambang. 2015. Pemanfaatan Single Flash External Dengan Guide


Number Rendah Untuk Pemotretan Ruang : Jurnal Rekam, Vol 11. Yogyakarta.
ITS Surabaya
MATRIX

Penyusunan Sumber Inspirasi


Nama Cara Ketersediaan Lampu (Alat)
Lampu

Syifa Ashr Qadry Mengamati apa yang diajarkan, Gradasi


Menggunakan lampu studio
(Mahasiswa fotografi mempraktekannya, lalu melakukan Crocodille
kampus meskipun kadang Internet
dan fotografer pengembangan kreatif dari apa Mouth
menggunakan lampu flash pribadi
komersial) yang telah diajarkan Black Glass

Black Glass
Ganang Banu Mengamati apa yang diajarkan,
Gradasi Menggunakan lampu flash pribadi
(Mahasiswa fotografi mempraktekannya, lalu melakukan
Gell Warna meskipun kadang menggunakan Internet
dan fotografer pengembangan kreatif dari apa
Crocodille lampu studio kampus
komersial) yang telah diajarkan
Mouth

Gradasi
Hitam Putih
Mengamati apa yang diajarkan,
Sy. Donny Gradasi
mempraktekannya, lalu melakukan Menggunakan lampu studio
(Mahasiswa Warna Internet
pengembangan kreatif dari apa kampus
fotografi) Black Glass
yang telah diajarkan
Crocodille
Mouth

Black Glass
Melakukan riset dan mencari
Gradasi
refrensi terhadap benda yang akan
Jhonny Hendarta Warna
difoto, bagaimana baiknya benda Menggunakan lampu studio milik
(Fotografer komersial Gradasi Internet dan buku
tersebut dipotret sehingga dapat pribadi
dan dosen fotografi) Hitam Putih
menonjolkan keindahan dan fungsi
Mixed Light
barang tersebut