Anda di halaman 1dari 24

Rencana : 1.Kurangnya pengetahuan ibu ttg hipertermi pada neonates.

2.

MAKALAH HIPOTERMI DAN HIPERTERMIA PADA NEONATUS

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap bayi baru lahir akan mengalami bahaya jiwa saat proses kelahirannya. Ancaman
jiwa berupa kamatian tidak dapat diduga secara pasti walaupun denagn bantuan alat-alat
medis modern sekalipun, sering kali memberikan gambaran berbeda tergadap kondisi bayi
saat lahir. Oleh karena itu kemauan dan keterampilan tenaga medis yang menangani
kelahiran bayi mutlak sangat dibutuhkan. Hipotermi pada neonatus  merupakan kejadian
umum di seluruh dunia.
Hiportemi dan Hipertermi pada neonatus  merupakan kejadian umum di seluruh dunia.
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh bayi lebih dari 37,5 ºC. Terjadinya hipertermi
pada bayi dan anak, biasanya disebabkan : Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral
yang berhubungan dengan trauma lahir dan obat-obatan, Infeksi oleh bacteria, virus atau
protozoa, Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan
produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris, Latihan / gerakan yang
berlebihan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Definisi Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal ?
2.      Apa Prinsip Dasar Penanganan Kegawatdaruratan ?
3.      Bagaimana Kunci Keberhasilan Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal ?
4.      Apa yang dimaksud Hipotermi pada Neonatus ?
5.      Apa yang dimaksud Hipertermi pada Neonatus ?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui Definisi Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.
2.      Untuk mengetahui Prinsip Dasar Penanganan Kegawatdaruratan.
3.      Untuk mengetahui Kunci Keberhasilan Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan
Neonatal.
4.      Untuk mengetahui Hipotermi pada Neonatus.
5.      Untuk mengetahui Hipertermi pada Neonatus.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal


Kegawatdaruratan adalah kejadian yang tidak diduga atau terjadi secara tiba-tiba,
seringkali merupakan kejadian yang berrbahaya. Kegawatdaruratan dapat didefinisikan
sebagai situasi serius dan kadang kala berbahaya yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak
terduga dan membutuhkan tindakan segera guna menyelamtkan jiwa/
nyawa .Kegawatdaruratan obstetri adalah kondisi kesehatan yang mengancam jiwa yang
terjadi dalam kehamilan atau selama dan sesudah persalinan dan kelahiran. Terdapat sekian
banyak penyakit dan gangguan dalam kehamilan yang mengancam keselamatan ibu dan
bayinya.
Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi dan  manajemen
yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( ≤ usia 28 hari) membutuhkan pengetahuan
yang dalam mengenali perubahan psikologis dan kondisi patologis yang mengancam jiwa
yang bisa saja timbul sewaktu-waktu. Penanganan kegawatdaruratan obstetrik ada tidak
hanya membutuhkan sebuat tim medis yang menangani kegawatdaruratan tetapi lebih pada
membutuhkan petugas kesehatan yang terlatih untuk setiap kasus-kasus kegawatdaruratan.
B.     Prinsip Dasar Penanganan Kegawatdaruratan
Dalam menangani kasus kegawatdaruratan, penentuan permasalahan utama (diagnosa)
dan tindakan pertolongannya harus dilakukan dengan cepat, tepat, dan tenang tidak panik,
walaupun suasana keluarga pasien ataupun pengantarnya mungkin dalam kepanikan.
Semuanya dilakukan dengan cepat, cermat, dan terarah. Walaupun prosedur pemeriksaan dan
pertolongan dilakukan dengan cepat, prinsip komunikasi dan hubungan antara dokter-pasien
dalam menerima dan menangani pasien harus tetap diperhatikan.
C.    Kunci Keberhasilan Penanganan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal
Penanganan kegawatdaruratan maternal dan neonatal meliputi intervensi yang spesifik
untuk menangani kasus “kegawatan” atau komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan
nifas, serta kegawatan pada bayi baru lahir di bawah 30 hari. Intervensi yang dilakukan antara
lain pmeberian antibiotik intravena, penanganan komplikasi aborsi, penanganan perdarahan
postpartum, pengananan asfiksia neonatorum, penanganan ikterus neonatorum, dan lain
sebagainya. Kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal bukanlah merupakan tanggung
jawab petugas kesehatan untuk mengananinya. Namun, dibutuhkan peran serta berbagai
pihak dalam mewujudkan kondisi yang mendukung demi tercapainya keselamatan ibu dan
bayi yang mengalami kegawatan melalui sistem pertolongan yang sinergi, bekerja efektif,
efisien, dan kontinu.
Pemberi bantuan dana, pembuat kebijakan, dan petugas kesehatan harus menyadari
bahwa tujuan utama pengananan kegawatdaruratan maternal dan neonatal adalah untuk
menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya, juga untuk menyelamatkan jiwa bayi yang baru lahir
atau dengan kata lain untuk mengurangi angka kematian ibu dan angka kematian
neonatal. Penyediaan pelanyanan penanganan kegawatdaruratan yang berkualitas bukanlah
penyelesaian masalah
D.     Hipotermi pada Neonatus
1.      Definisi Hipotermi
Hipotermia adalah turunmya suhu tubuh bayi dibawah 30. Hipotermia adalah pengeluaran
panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk
memproduksi panas. (Patricia A. 2005). Hipotermia adalah suhu rektal bayi dibawah 350C.
(Hellen, 1999). Hipotermi pada BBL adalah suhu di bawah 36,5 ºC, yang terbagi atas :
hipotermi ringan (cold stres) yaitu suhu antara 36-36,5 ºC, hipotermi sedang yaitu antara 32-
36ºC, dan hipotermi berat yaitu suhu tubuh <32 ºC.
2.       Etiologi Hipotermi
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya
mempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa
stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama, setelah lahir. Misalnya bayi baru lahir dibiarkan basah dan
telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun lingkungan sekitar bayi cukup
hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau segera dimandikan.
Terjadi perubahan termoregulasi dan metabolik sehingga :
a.       Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat setelah kelahiran karena lingkungan
eksternal lebih dingin daripada lingkungan di dalam uterus.
b.      Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar dibandingkan
dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada lingkungan.
c.       Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi.
konveksi, radiasi, dan evaporasi.
d.      Trauma dingin cold stress (hipotermia) pada bayi baru lahir, dalam huhungannya dengan
asidosis metabolik dapat bersifat mematikan bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat
3.      Mekanisme kehilangan panas
a.       Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas
terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi setelah lahir karena
bayi tidak cepat.
b.      Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan
permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan diatas meja, tempat tidur atau timbangan yang
dingin akan cepat mengalami kehilangan panas tubuh melalui konduksi
c.       Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat benda yang
mempunyai temperatur tubuh rendah dari temperature tubuh bayi. Bayi akan mengalami
kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak
bersentuhan langsung dengan tubuh bayi.
d.      Konveksi Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi. Missal: bayi
diletakkan dekat, pintu / jendela terbuka.
4.      Patofisiologi Hipotermi
Sewaktu kulit bayi menjadi dingin, saraf afferen menyampaikan pada sentral pengatur
panas di  hipothalamus. Saraf yang dari hipothalamus sewaktu mencapaib ro wn fat
memacu pelepasannoradrenalin lokal sehingga trigliserida dioksidasi menjadi gliserol dan
asam lemak. Blood gliserol  level meningkat, tetapi asam lemak secara lokal dikonsumsi
untuk menghasilkan panas. Daerah brown fatmenjadi panas, kemudian didistribusikan ke
beberapa bagian tubuh melalui aliran darah.
Ini menunjukkan bahwa bayi akan memerlukan oksigen tambahan dan glukosa untuk
metabolisme yang digunakan untuk menjaga tubuh tetap hangat. Methabolicther
mogenesis yang efektif memerlukanintegritas dari sistem syaraf sentral,kecukupan darib r
own fat, dan tersedianya glukosa serta oksigen. Perubahan fisiologis akibat hipotermia yang
terjadi pada sistem syaraf pusat antara lain: depresi linier dari metabolisme otak, amnesia,
apatis, disartria, pertimbangan yang terganggu adaptasi yang salah, EEG yang abnormal,
depressi kesadaran yang progresif, dilatasi pupil, dan halusinasi. Dalam keadaan berat dapat
terjadi kehilangan autoregulasi otak, aliran darah otak menurun, koma, refleks okuli yang
hilang, dan penurunanyangprogressif dari aktivitas EEG.
Pada jantung dapat terjadi takikardi, kemudian bradikardi yang progressif, kontriksi
pembuluh darah, peningkatan cardiacout put, dan tekanan darah. Selanjutnya, peningkatan
aritmia atrium dan ventrikel, perubahan EKG dan sistole yang memanjang, penurunan
tekanan darah yang progressif, denyut jantung, dan cardiacout put disritmia serta asistole.
Pada pernapasan dapat terjadi takipnea, bronkhorea, bronkhospasma, hipoventilasi konsumsi
oksigen yang menurun sampai 50%, kongesti paru dan edema, konsumsi oksigen yang
menurun sampai 75%, dan apnoe. Pada ginjal dan sistem endokrin, dapat terjadicold
diuresis, peningkatan katekolamin, steroid adrenal, T3 dan T4 dan menggigil; peningkatan
aliran darah ginjal sampai 50%, autoregulasi ginjal yang intak, dan hilangnya aktivitas
insulin. Pada keadaan berat, dapat terjadi oliguri yang berat dan poikilotermia.
5.      Gejala Hipotermi
a.       Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif, tidak kuat menghisap
asi, dan menangis lemah.
b.      Timbulnya sklerema atau kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian punggung,
tungkai dan tangan.
c.       Muka bayi berwarna merah terang.
d.      Tampak mengantuk.
e.       Kulitnya pucat dan dingin.
f.       Lemah, lesu, menggigil.
g.      Kaki dan tangan bayi teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada.
h.      Ujung jari tangan dan kaki kebiruan.
i.        Bayi tidak mau minum/menyusui.
j.        Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun
6.      Indikasi Penyakit Hipotermia:
a.       Gejala awal hipotermia apabila suhu < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.Bila
seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 320C
- <360C).
b.      Gigi gemeretakan, merasa sangat letih dan mengantuk yang sangat luar biasa.
c.       Selanjutnya pandangan mulai menjadi kabur, kesigapan mental dan fisik menjadi lamban.
d.      Bila tubuh bayi basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.
7.       Tanda-tanda klinis hipotermia:
a.       Hipotermia sedang:
1.      Kaki teraba dingin.
2.      Kemampuan menghisap lemah.
3.      Tangisan lemah.
4.      Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata.
b.      Hipotermia berat
1.      Sama dengan hipotermia sedang.
2.      Pernafasan lambat tidak teratur.
3.      Bunyi jantung lambat.
4.      Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik.
5.      Stadium lanjut hipotermia.
6.      Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang.
7.      Bagian tubuh lainnya pucat.
8.      Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan
(sklerema).
8.      Penanganan Hipotermi
a.       Mengatasi bayi hipotermi dilakukan dengan cara :
1.      Prinsip penanganan hipotermia adalah penstabilan suhu tubuh dengan menggunakan selimut
hangat (tapi hanya pada bagian dada, untuk mencegah turunnya tekanan darah secara
mendadak) atau menempatkan pasien di ruangan yang hangat. Berikan juga minuman
hangat(kalau pasien dalam kondisi sadar).
2.      Penanganan Hipotermi dengan pemberian panas yang mendadak, berbahaya karena dapat
terjadi apnea sehingga direkomendasikan penghangatan 0,5-1°C tiap jam (pada bayi < 1000
gram penghangatan maksimal 0,6 °C). (Indarso, F, 2001). Alat-alat Inkubator Untuk bayi <
1000 gram, sebaiknya diletakkan dalam inkubator. Bayi-bayi tersebut dapat dikeluarkan dari
inkubator apabila tubuhnya dapat tahan terhadap suhu lingkungan 30°C. Radiant Warner
Adalah alat yang digunakan untuk bayi yang belum stabil atau untuk tindakan-tindakan.
Dapat menggunakan servo controle (dengan menggunakan probe untuk kulit) atau non servo
controle (dengan mengatur suhu yang dibutuhkan secara manual).
b.      Pencegahan Hipotermia Pada Bayi:
1.      Bayi dibungkus dengan selimut dan kepalanya ditutup dengan topi. Jika bayi
harus  dibiarkan telanjang untuk keperluan observasi maupun pengobatan, maka bayi
ditempatkan dibawah cahaya penghangat.Untuk mencegah hipotermia, semua bayi yang baru
lahir harus tetap berada dalamkeadaan hangat.
2.      Di kamar bersalin, bayi segera dibersihkan untuk menghindari hilangnya panas tubuh  akibat
penguapan lalu dibungkus dengan selimut dan diberi penutup kepala.
3.      Melaksanakan metode kanguru, yaitu bayi baru lahir dipakaikan popok dan tutup kepala
diletakkan di dada ibu agar tubuh bayi menjadi hangat karena terjadi kontak kulit
langsung.Bila tubuh bayi masih teraba dingin bisa ditambahkan selimut.
4.      Bayi baru lahir mengenakan pakaian dan selimut yang disetrika atau dihangatkan diatas
tungku.
5.      Menghangatkan bayi dengan lampu pijar 40 sampai 60 watt yang diletakkan pada jarak
setengah meter diatas bayi.
6.      Terapi yang bisa diberikan untuk bayi dengan kondisi hipotermia, yaitu jalan nafas harus
tetap terjaga juga ketersediaan oksigen yang cukup.
9.      Komplikasi berkelanjutan dari Hipotermi
a.      HipoglikemiAsidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan metabolisme anaerob.
b.      Kebutuhan oksigen yang meningkat.
c.       Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.
d.      Gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal yang menyertai
hipotermi berat.
e.       Shock.
f.       Apnea.
g.      Perdarahan Intra Ventricular.
h.      Kedinginan yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh beku, pembuluh darah dapat
mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari dan kaki. Dalam kondisi yang
parah mungkin korban menderita ganggren (kemuyuh) dan perlu diamputasi. Hipotermia bisa
menyebabkan terjadinya pembengkakan di seluruubuh (Edema Generalisata), menghilangnya
reflex tubuh (areflexia), koma, hingga menghilangnya reaksi pupil mata. Disebut hipotermia
berat bila suhu tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan
termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 250C. Di samping sebagai suatu
gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
E.     Hipertermi pada Neonatus
1.      Definisi
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila
mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengarhui oleh
panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik) Sengatan panas (heat stroke) per
definisi adalah penyakit berat dengan ciri temperatur inti > 40 derajat celcius disertai kulit
panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau koma
yang disebabkan oleh pajanan panas lingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan fisik
yang berat. Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila
bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya panas, terlalu
banyak pakaian dan selimut.
2.      Etiologi Hipertermi
Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan karena:
a.       Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir dan
obat-obatan
b.      Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan produksi
panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris.
c.       Latihan / gerakan yang berlebihan.
3.      Patofisiologi Hipertermi
Sengatan panas didefinisikan sebagai kegagalan akut pemeliharaan suhu tubuh normal
dalam mengatasi lingkungan yang panas. Orang tua biasanya mengalami sengatan panas yang
tidak terkait aktifitas karena gangguan kehilangan panas dan kegagalan mekanisme
homeostatik. Seperti pada hipotermia, kerentanan usia lanjut terhadap serangan panas
berhubungan dengan penyakit dan perubahan fisiologis.
4.      Gejala Hipertermi
a.       Suhu tubuh bayi > 37,5 °C
b.      Frekuensi nafas bayi > 60 x / menit
c.       Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang, jumlah urine
berkurang
5.      Penanganan Hipertermi
a.       Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar seputar 26°C- 28°C
b.      Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu bayi normal (jangan menggunakan es atau
alcohol)
c.       Berikan cairan dektrose NaCl = 1 : 4 secara intravena dehidrasi teratasi
d.      Antibiotic diberikan apabila ada infeksi
Terapi untuk mengatasi hipertermia adalah pendinginan. Hal ini dimulai segera di
lapangan dan suhu tubuh inti harus diturunkan mencapai 39 derajat Celsius dalam jam
pertama. Lamanya hipertermia adalah yang paling menentukan hasil akhir. Berendam dalam
es lebih baik dari pada menggunakan alkohol maupun kipas angin. Komplikasi membutuhkan
perawtan di ruang intensif.
Suhu tubuh kita dalam keadaan normal dipertahankan di kisaran 37'C oleh pusat pengatur
suhu di dalam otak yaitu hipotalamus. Pusat pengatur suhu tersebut selalu menjaga
keseimbangan antara jumlah panas yang diproduksi tubuh dari metabolisme dengan panas
yang dilepas melalui kulit dan paru sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran
normal. Walaupun demikian, suhu tubuh kita memiliki fluktuasi harian yaitu sedikit lebih
tinggi pada sore hari jika dibandingkan pagi harinya.
Demam merupakan suatu keadaan dimana terdapat peningkatan suhu tubuh yang
disebabkan kenaikan set point di pusat pengatur suhu di otak. Hal ini serupa dengan
pengaturan set point (derajad celsius) pada remote AC yang bilamana set point nya dinaikkan
maka temperatur ruangan akan menjadi lebih hangat. Suatu nilai suhu tubuh dikatakan
demam jika melebihi 37,2 ‘C pada pengukuran di pagi hari dan atau melebihi 37,7'C pada
pengukuran di sore hari dengan menggunakan termometer mulut. Termometer ketiak akan
memberikan hasil nilai pengukuran suhu yang lebih rendah sekitar 0.5'C jika dibandingkan
dengan termometer mulut sehingga jenis termometer yang digunakan berpengaruh dalam
pengukuran suhu secara tepat.
Sebagian besar kasus demam memang disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi dan
peradangan sehingga gejala demam seringkali diidentikkan dengan adanya infeksi dalam
tubuh. Namun sebenarnya ada banyak proses lainnya selain infeksi yang dapat menimbulkan
gejala demam antara lain alergi, penyakit autoimun, kelainan darah dan keganasan. Berbagai
proses tersebut akan memicu pelepasan pirogen, yaitu mediator penyebab demam, ke dalam
peredaran darah yang lebih lanjut akan memicu pelepasan zat tertentu yang bernama
prostaglandin sehingga akan menaikkan set point di pusat pengaturan suhu di otak.
6.      Komplikasi berkelanjutan dari Hipertermi
Terapi hipertermia pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan jaringan normal/sehat
jika suhunya tidak melebihi 43,8oC. Tetapi perbedaan karakter jaringan dapat menimbulkan
perbedaan suhu atau efek samping pada jaringan tubuh yang berbeda-beda. Hal yang sering
terjadi adalah rasa panas (seperti terbakar), bengkak berisi cairan, tidak nyaman, bahkan
sakit.
Teknik perfusi dapat menyebabkan pembengkakan jaringan, penggumpalan darah,
perdarahan, atau gangguan lain di area yang diterapi. Tetapi efek samping ini bersifat
sementara. Sedang whole body hyperthermia dapat menimbulkan efek samping yang lebih
serius –tetapi jarang terjadi– seperti kelainan jantung dan pembuluh darah. Kadang efek
samping yang muncul malah diare, mual, atau muntah.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Hiportemi dan Hipertermi pada neonatus  merupakan kejadian umum di seluruh dunia.
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh bayi lebih dari 37,5 ºC. Hipotermia dapat terjadi
setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tetap
hangat tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama,
setelah lahir. Misalnya bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu
plasenta lahir atau meskipun lingkungan sekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan
telanjang atau segera dimandikan.
Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan : Perubahan mekanisme
pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir dan obat-obatan, Infeksi
oleh bacteria, virus atau protozoa, Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada
pireksia, terdapat peningkatan produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu
febris, Latihan / gerakan yang berlebihan.
B.     Saran
Hipotermi pada bayi baru lahir dapat lebih mudah ditangani dan bahkan dicegah apabila
ada kerja sama yang baik antara petugas kesehatan dan anggota keluarga. Bidan seharusnya
terus memberikan pendidikan kesehatan kepada calon ibu, calon ayah, dan anggota keluarga
lainnya bahwa bayi yang lahir tidak terlepas dari resiko hipotermi sehingga keluarga paham
akan hal tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Potter, Patricia. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC


Prawirohardjo. 2006. Buku Acuan Nasional : Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Jakarta : YBP-SP.
Rukiyah,Yulianti. 2010. Asuhan Neonatus, bayi dan anak Balita. Jakarta: TIM.
Saifudin,  Abdul, dkk. .2009. Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : EGC
Waspodo, dkk. 2005. Pelatihan Pelayanan Kegawatdaruratan Obstetri neonatal Esensial
Dasar.  Jakarta : Depkes RI.
MAKALAH HIPERTERMI PADA BAYI
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Seperti banyak fungsi biologis lainnya, suhu tubuh manusia memperlihatkan irama sirkadian.
Mengenai batasan “normal”, terdapat beberapa pendapat. Umumnya berkisar antara 36,10C atau
lebih rendah pada dini hari sampai 37,40 C pada sore hari. (Benneth, et al, 1996; Gelfand, et al,
1998).
Suhu normal maksimum (oral) pada jam 06.00 adalah 37,20 C dan suhu normal maksimum pada
jam 16.00 adalah 37,70 C. Dengan demikian, suhu tubuh > 37,20 C pada pagi hari dan > 37,70 C
pada sore hari disebut demam (Gelfand, et al, 1998; Andreoli, et al, 1993; Lardo, 1999). Sebaliknya
Bennet & Plum (1996) mengatakan, demam (hipertemi) bila suhu > 37,2 0 C.
Suhu tubuh dapat diukur melalui rektal, oral atau aksila, dengan perbedaan kurang lebih 0,5- 0,60
C, serta suhu rektal biasanya lebih tinggi (Andreoli, et al, 1993; Gelfand, et al, 1998).
Nukleus pre-optik pada hipotalamus anterior berfungsi sebagai pusat pengatur suhu dan bekerja
mempertahankan suhu tubuh pada suatu nilai yang sudah ditentukan, yang disebut hypothalamus
thermal set point (Busto, et al, 1987; Lukmanto, 1990; Lardo, 1999).Peningkatan suhu tubuh secara
abnormal dapat terjadi dalam bentuk hipertermi dan demam. Pada hipertermi, mekanisme
pengaturan suhu gagal, sehingga produksi panas melebihi pengeluaran panas.

B.  Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan hipertermi ?


2. Apa saja tanda dan gejala hipertermi ?
3. Apa saja  yang termasuk dalam  klasifikasi hipertermi ?
5. Bagaimana penatalaksanaan hipertermi ?
4. Apa saja penyebab hipertermi ?
6. Apa saja Yng termasuk dalam faktor resiko ?
7. Bagaimana pencegahan terhadap hipetermi ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian hipertermi


2. Untuk mengetahui tanda dan gejala hipertermi
3. Untuk mengetahui  Apa saja  yang termasuk dalam  klasifikasi hipertermi
4. untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan hipertermi
5. Untuk mengetahui apa saja penyebab hipertermi
6. Untuk mengetahui yang termasuk dalam factor resiko
7. Untuk mengetahui pencegahan hipertermi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.  Pengertian

1.   Hipertermi adalah keadaan suhu tubuh meningkat melebihi suhu normal  yaitu suhu tubuhmencapai
sekitar  37,8°C  per oral atau 38,8°C per rectal secara terus menerus disertai kulit panas dan
kering  serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan
oleh atau dipengaruhi oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik).   (blog Asuhan
Keperawatan.com).
2.   Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi.Hipertermia terjadi
ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas dari pada mengeluarkan panas.
Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan membutuhkan
perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
3.   Hypertermia pada bayi adalah peningkatan suhu tubuh bayi lebih dari
      37,5 ºC.

B.  Tanda dan gejala


  1.   suhu tubuh bayi >37,5 ºC (panas)
2.   Tanda dehidrasi, yaitu berat badan bayi turun, turgor  kulit kurang, mata dan ubun ubun besar
cekung, lidah dan membran mukosa kering, banyaknya air kemih berkurang.
3.   Kulit memerah
4.   Malas minum
5.   Frekuensi nafas lebih dari 60x/menit
   6.   Denyut jantung lebih dari 160 x/menit
7.   Letargi
8.   Kedinginan,lemas
9.   Bisa disertai kejang
C.  Klasifikasi Hipertermia
1. Hipertermia yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas
a.       Hipertermia maligna
              Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-obatan anesthesia. Hipertermia ini
merupakan miopati akibat mutasi gen yang diturunkan secara autosomal dominan. Pada episode
akut terjadi peningkatan kalsium intraselular dalam otot rangka sehingga terjadi kekakuan otot dan
hipertermia. Pusat pengatur suhu di hipotalamus normal sehingga pemberian antipiretik tidak
bemanfaat.    
b.      Exercise-Induced hyperthermia (EIH)
           Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak besar/remaja yang melakukan aktivitas fisik
intensif dan lama pada suhu cuaca yang panas. Pencegahan dilakukan dengan pembatasan lama
latihan fisik terutama bila dilakukan pada suhu 30 0C atau lebih dengan kelembaban lebih dari 90%,
pemberian minuman lebih sering (150 ml air dingin tiap 30 menit), dan pemakaian pakaian yang
berwarna terang, satu lapis, dan berbahan menyerap keringat.
c.     Endocrine Hyperthermia (EH)
Kondisi metabolic/endokrin yang menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai pada anak
dibandingkan dengan pada dewasa. Kelainan endokrin yang sering dihubungkan dengan hipertermia
antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus, phaeochromocytoma, insufisiensi adrenal dan
Ethiocolanolone suatu steroid yang diketahui sering berhubungan dengan demam (merangsang
pembentukan pirogen leukosit).
2. Hipertermia yang disebabkan oleh penurunan pelepasan panas.
a.  Hipertermia neonatal
Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan ketiga kehidupan bisa disebabkan oleh:
1)    Dehidrasi
Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan oleh kehilangan cairan atau paparan oleh suhu
kamar yang tinggi. Hipertermia jenis ini merupakan penyebab kenaikan suhu ketiga setelah infeksi
dan trauma lahir. Sebaiknya dibedakan antara kenaikan suhu karena hipertermia dengan infeksi.
Pada demam karena infeksi biasanya didapatkan tanda lain dari infeksi seperti
leukositosis/leucopenia, CRP yang tinggi, tidak berespon baik dengan pemberian cairan, dan
riwayat persalinan prematur/resiko infeksi.
2)    Overheating
           Pemakaian alat-alat penghangat yang terlalu panas, atau bayi terpapar sinar matahari
langsung dalam waktu yang lama.
3)   Trauma lahir
              Hipertermia yang berhubungan dengan trauma lahir timbul pada 24%dari bayi yang lahir
dengan trauma. Suhu akan menurun pada1-3 hari tapi bisa juga menetap dan menimbulkan
komplikasi berupa kejang. Tatalaksana dasar hipertermia pada neonatus termasuk menurunkan
suhu bayi secara cepat dengan melepas semua baju bayi dan memindahkan bayi ke tempat dengan
suhu ruangan. Jika suhu tubuh bayi lebih dari 39 0C dilakukan tepid sponged 350C sampai dengan
suhu tubuh mencapai 370C.
4)   Heat stroke
Tanda umum heat stroke adalah suhu tubuh > 40.5 0C atau sedikit lebih rendah, kulit teraba
kering dan panas, kelainan susunan saraf pusat, takikardia, aritmia, kadang terjadi perdarahan
miokard, dan pada saluran cerna terjadi mual, muntah, dan kram. Komplikasi yang  bisa terjadi
antara lain DIC, lisis eritrosit, trombositopenia, hiperkalemia, gagal ginjal, dan perubahan
gambaran EKG. Anak dengan serangan heat stroke harus mendapatkan perawatan intensif di ICU,
suhu tubuh segera diturunkan (melepas baju dan sponging dengan air es sampai dengan suhu tubuh
38,50 C kemudian anak segera dipindahkan ke atas tempat tidur lalu dibungkus dengan selimut),
membuka akses sirkulasi, dan memperbaiki gangguan metabolic yang ada.

5)   Haemorrhargic Shock and Encephalopathy (HSE)


                  Gambaran klinis mirip dengan heat stroke tetapi tidak ada riwayat penyelimutan berlebihan,
kekurangan cairan, dan suhu udara luar yang tinggi. HSE diduga berhubungan dengan cacat genetic
dalam produksi atau pelepasan serum inhibitor alpha-1-trypsin. Kejadian HSE pada anak adalah
antara umur 17 hari sampai dengan 15 tahun (sebagian besar usia < 1 tahun dengan median usia 5
bulan). Pada umumnya HSE didahului oleh penyakit virus atau bakterial dengan febris yang tidak
tinggi dan sudah sembuh (misalnya infeksi saluran nafas akut atau gastroenteritis dengan febris
ringan). Pada 2 – 5 hari kemudian timbul syok berat, ensefalopati sampai dengan kejang/koma,
hipertermia (suhu > 41 0C), perdarahan yang mengarah pada DIC, diare, dan dapat juga terjadi
anemia berat yang membutuhkan transfusi. Pada pemeriksaan fisik dapat timbul hepatomegali dan
asidosis dengan pernafasan dangkal diikuti gagal ginjal..Pada HSE tidak ada tatalaksana khusus,
tetapi pengobatan suportif seperti penanganan heat stroke dan hipertermia maligna dapat
diterapkan. Mortalitas kasus ini tinggi sekitar 80% dengan gejala sisa neurologis yang berat pada
kasus yang selamat. Hasil CT scan dan otopsi menunjukkan perdarahan fokal pada berbagai organ
dan edema serebri.
6)   Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)
Definisi SIDS adalah kematian bayi (usia 1-12 bulan) yang mendadak, tidak diduga, dan tidak
dapat dijelaskan. Kejadian yang mendahului sering berupa infeksi saluran nafas akut dengan febris
ringan yang tidak fatal. Hipertermia diduga kuat berhubungan dengan SIDS.  Angka kejadian tertinggi
adalah pada bayi usia 2- 4 bulan. Hipotesis yang dikemukakan untuk menjelaskan kejadian ini
adalah pada beberapa bayi terjadi mal-development atau maturitas batang otak yang tertunda
sehingga berpengaruh terhadap pusat chemosensitivity, pengaturan pernafasan, suhu, dan respons
tekanan darah. Beberapa faktor resiko dikemukakan untuk menjelaskan kerentanan bayi terhadap
SIDS, tetapi yang terpenting adalah ibu hamil perokok dan posisi tidur bayi tertelungkup.
Hipertermia diduga berhubungan dengan SIDS karenadapat menyebabkan hilangnya sensitivitas
pusat pernafasan sehingga berakhir dengan apnea.
D. Faktor Resiko
1. Kejang/ syok

D. Etiologi
Disebabkan oleh infeksi, suhu lingkungan yang terlalu panas atau campuran dari gangguan
infeksi dan suhu lingkungan yang terlalu panas. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan di dekat api
atau ruangan yang berudara panas.Selain itu, dapat pula disebabkan gangguan otak atau akibat
bahan toksik yang dapat mempengaruhi pusat pengaturan suhu.  Zat yang dapat menyebabkan efek
perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat
pirogen ini dapat berupa protein , pecahan protein  dan zat lain , terutama toksin polisakarida ,
yang dilepas oleh bakteri toksik / pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat
menyebabkan demam selama keadaan sakit.
 1. Fase – fase Terjadinya Hipertermi
a. Fase I : awal
1)      Peningkatan denyut jantung
2)      Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan
3) Kulit pucat dan dingin karena vasokonstriksi
4) Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokonstriksi
5) Rambut kulit berdiri
6) Pengeluaran keringat berlebih
7) Peningkatan suhu tubuh
b. Fase II :
1) proses demam
2) Kulit terasa hangat / panas
3) Peningkatan nadi & laju pernapasan
4) Dehidrasi ringan sampai berat
5) Proses menggigil lenyap
6) Mengantuk , kejang akibat iritasi sel saraf
7) mulut kering
8)  bayi Tidak mau minum
9)  lemas
c. Fase III : pemulihan
1) Kulit tampak merah dan hangat
2) Berkeringat
3) Menggigil ringan
4) Kemungkinan mengalami dehidrasi
E.  Penatalaksanaan
1.  Letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25 ºC-28 ºC)
2.  Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi bila perlu
3.  Perikasa suhu aksila setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal
4. Bila suhu sangat tinggi (lebih dari 39 ºC), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15 menit
dalam suhu air 4 ºC, lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Jangan menggunakan air dingin atau air
yang suhunya lebih rendah dari 4 ºC dibawah suhu bayi
5.  memastikan bayi mendapat cairan adekuat
a. Izinkan bayi mulai menyusu
b. Jika terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata atau fontanel cekung, kehilangan elastisitas kulit, atau
lidah atau membran mukosa kering)
1)  Pasang slang IV dan berikan cairan IV dengan volume rumatan sesuai dengan usia bayi
2)  Tingkatkan volume cairan sebanyak 10% berat badan bayi pada hari pertama dehidrasi terlihat   
3) Ukur glukosa darah, jika glukosa darah kurang dari 45 mg/dl (2,6 mmol/l), atasi glukosa   darah yang
rendah
6.  Cari tanda sepsis
7.  berikan antibiotik jaka terjadi infeksi
8.  Setelah keadaan bayi normal :
a.   Lakukan perawatan lanjutan
b.   Pantau bayi selama 12 jamberikutnya, periksa suhu setiap 3 jam
9.  Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik, serta tidak ada masalah lain
yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan dan Nasehati ibu cara
menghangatkan bayi dirumah dan melindungi dari pemancar panas yang berlebihan

G.  Pencegahan Terhadap  Hipertermia


1.   Kesehatan lingkungan.
2.   penyediaan air minum yang memenuhi syarat.
3.   Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.
4.   Pemberantasan lalat.
5.   Pembuangan sampah pada tempatnya.                                       
6.    Pendidikan kesehatan pada masyarakat.
7.   Pemberian imunisasi lengkap kepada bayi.
8.    Makan makana yang bersih dan sehat
9.   Jangan biasakan anak jajan diluar
BAB III

PENUTUP
A.  Kesimpulan:

Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila
mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengarhui oleh panas
eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik). Hipertermi disebabkan oleh infeksi, suhu
lingkungan yang terlalu panas atau campuran dari gangguan infeksi dan suhu lingkungan yang
terlalu panas.Untuk pencegahan hipertermi bisa dengan cara slalu menjaga kesehatan lingkungan,
penyediaan air minum yan memenuhu syarat,pembuangan kotora manusia pada
tempatnya,pemberantasan lalat , pembuangan sampah pada tempatnya, pendidikan kesehatan
pada masyarakat, pemberian iminisasi lengkap pada bayi,makan-makanam yang bersih dan
sehat,makan- makan yang bersih dan sehat.

B.  Saran
Saran-sara yang kami sampaikan sehubungan  dengan tulisan makalah ini sebagai berikut :
Hipertermi bukankah suatu penyakit yang ringan tetapi hipertermi merupakan salah satu
penyakit dengan faktor resiko tinggi khususnya pada bayi.Untuk itu di sini bidan harus  tanggap
terhadap gejala dan keluhan apa yang dikeluhkan klien nantinya.Karena apabila hipertermi tidak
segera ditangani akan menjadi kejang dan bisa mengakibatkan kematian khususnya pada bayi.
Selain itu bidan harus turun tangan untuk  memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
hipertermi mulai dari gejala maupun tanda  kemudian cara mengatasinya serta pencegahan
terhadap hipertermi.  

DAFTAR PUSTAKA

Habel, A.1990, Ilmu Penyakit Anak , Bina Rupa Aksara, Jakarta.


Kemala, P., ar., 1998, Kamus Suku Kedokteran Dorlan, Penerbit Buku Keokteran EGC, Jakarta.
Sudarti dan Afroh Fauzan. 2012, Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita. Nuha Medika.
Yogyakarta.
http://www.Ibu dan Balita.net/info/makalah-Hipertermia - lengkap.html
http://alamsyah.web.id/news/makalah-asuhan-kebidanan-pada-bayi-dengan-Hipertermia
Hipertermi pada Neonatus
2.1    Pengertian Hipertermi

Hipertermi adalah suatu kondisi di mana suhu tubuh meningkat melebihi set point yang
biasanya di sebabkan kondisi tubuh eksternal yang menimbulkan panas berlebihan jika
dibandingkan kemampuan tubuh untuk menghilangkan panas seperti pada heat stroke,
toksisitas aspirin, kejang atau hipertiroidsm (Wong, 1996).

Hipertermi adalah keadaan di mana seorang individu mengalami atau beresiko untuk
mengalami kenaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari 37,8°C per oral atau
38,8 °C per rektal karena faktor eksternal (Carpenito 2001).

2.2    Tanda dan Gejala Hipertermi

1. Suhu >37,8°C per oral atau 38,8 °C per rektal


2. Pernafasan >60x/menit
3. Adanya tanda dehidrasi, yaitu BB turun, turgor kulit kurang, dan oliguria.
4. UUB cekung
5. Kulit memerah
6. Malas minum
7. Denyut jantung lebih dari 160 x/menit
8. Kedinginan,lemas
9. Letargi
10. Bisa disertai kejang
2.3    Penyebab Hipertermi

Terjadinya hipertermi pada bayi dan anak, biasanya disebabkan karena:

1. Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan


trauma lahir dan obat-obatan
2. Infeksi oleh bacteria, virus atau protozoa.
3. Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan
produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris.
4. Latihan / gerakan yang berlebihan.
5.
2.4       Penatalaksanaan Hipertermi

1. Letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25 ºC-28 ºC)
2. Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi bila perlu
3. Perikasa suhu aksila setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal
4. Bila suhu sangat tinggi (lebih dari 39 ºC), bayi dikompres atau dimandikan selama
10-15 menit dalam suhu air 4 ºC, lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Jangan
menggunakan air dingin atau air yang suhunya lebih rendah dari 4 ºC dibawah
suhu bayi
5. Memastikan bayi mendapat cairan adekuat
 Izinkan bayi mulai menyusu
 Jika terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata atau fontanel cekung, kehilangan
elastisitas kulit, atau lidah atau membran mukosa kering)
1)  Pasang slang IV dan berikan cairan IV dengan volume rumatan sesuai dengan usia
bayi

2)  Tingkatkan volume cairan sebanyak 10% berat badan bayi pada hari pertama
dehidrasi terlihat
3) Ukur glukosa darah, jika glukosa darah kurang dari 45 mg/dl (2,6 mmol/l), atasi
glukosa  darah yang rendah

6. Cari tanda sepsis


7. Berikan antibiotik jaka terjadi infeksi
8. Setelah keadaan bayi normal :
9. Lakukan perawatan lanjutan
10. Pantau bayi selama 12 jamberikutnya, periksa suhu setiap 3 jam
11. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik, serta
tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat
dipulangkan dan Nasehati ibu cara menghangatkan bayi dirumah dan melindungi
dari pemancar panas yang berlebihan.
2.5       Pencegahan Hipertermi

1. Kesehatan lingkungan.
2. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat.
3.  Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.
4. Pemberantasan lalat.
5. Pembuangan sampah pada tempatnya.
6. Pendidikan kesehatan pada masyarakat.
7.  Pemberian imunisasi lengkap kepada bayi.
8. Makan makanan yang bersih dan sehat
9. Jangan biasakan anak jajan diluar
BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan:

Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila
mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengarhui
oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik). Hipertermi disebabkan oleh
infeksi, suhu lingkungan yang terlalu panas atau campuran dari gangguan infeksi dan
suhu lingkungan yang terlalu panas.Untuk pencegahan hipertermi bisa dengan cara
selalu menjaga kesehatan lingkungan, penyediaan air minum yang memenuhi syarat,
pemberantasan lalat, pembuangan sampah pada tempatnya, pendidikan kesehatan pada
masyarakat, pemberian imunisasi lengkap pada bayi, makan-makanan yang bersih dan
sehat.
3.2       Saran

Saran-saran yang kami sampaikan sehubungan dengan tulisan makalah ini sebagai
berikut :

Hipertermi bukankah suatu penyakit yang ringan tetapi hipertermi merupakan salah satu
penyakit dengan faktor resiko tinggi khususnya pada bayi.Untuk itu di sini bidan harus
tanggap terhadap gejala dan keluhan apa yang dikeluhkan klien nantinya.Karena apabila
hipertermi tidak segera ditangani akan menjadi kejang dan bisa mengakibatkan
kematian khususnya pada bayi. Selain itu bidan harus turun tangan untuk memberikan
informasi kepada masyarakat mengenai hipertermi mulai dari gejala maupun tanda
kemudian cara mengatasinya serta pencegahan terhadap hipertermi.
DAFTAR PUSTAKA

Muslihatun, Wafi.2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita.Yogyakarta:Fitramaya


Norma, Asti.2013.Makalah Hipertermi pada
Bayi. http://astinorma10.blogspot.com/2013/12/makalah-hipotermi-dan-hipertermi-
bbl.html. Diakses tanggal 6 Desember 2014. Pukul 17.15 WIB
Wulandari, Rini.2013.Makalah Hipertermi pada
Bayi. http://riniwulandari93.blogspot.com/2013/05/makalah-hipertermi-pada-bayi.html . Di
akses tanggal 6 Desember 2014. Pukul 17.05 WIB
Iklan

HIPERTERMIA PADA NEONATUS


RESIKO TINGGI DAN
PENATALAKSANAANNYA

HIPERTERMIA PADA NEONATUS RESIKO TINGGI DAN


PENATALAKSANAANNYA
 

A. PENGERTIAN HIPERTERMIA

Hipertermi adalah keadaan suhu tubuh meningkat melebihi suhu normal  yaitu suhu
tubuhmencapai sekitar  37,8°C  per oral atau 38,8°C per rectal secara terus menerus disertai
kulit panas dan kering  serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau
koma yang disebabkan oleh atau dipengaruhi oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal
(metabolik). 
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi.Hipertermia
terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas dari pada mengeluarkan
panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan
membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.Hypertermia pada
bayi adalah peningkatan suhu tubuh bayi lebih dari 37,5 ºC.  

B. TANDA DAN GEJALA


Suhu tubuh bayi >37,5 ºC (panas)
Tanda dehidrasi, yaitu berat badan bayi turun, turgor  kulit kurang, mata dan ubun ubun besar
cekung, lidah dan membran mukosa kering, banyaknya air kemih berkurang.
Kulit memerah 
Malas minum 
Frekuensi nafas lebih dari 60x/menit
Denyut jantung lebih dari 160 x/menit
Letargi 
Kedinginan,lemas
Bisa disertai kejang
 
C. KLASIFIKASI HIPERTERMIA 
       Hipertermia yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas
a.      Hipertermia Maligna 
    Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-obatan anesthesia. Hipertermia ini merupakan
miopati akibat mutasi gen yang diturunkan secara autosomal dominan. Pada episode akut
terjadi peningkatan kalsium intraselular dalam otot rangka sehingga terjadi kekakuan otot dan
hipertermia.Pusat pengatur suhu di hipotalamus normal sehingga pemberian antipiretik tidak
bemanfaat.    
b.      Exercise-Induced Hyperthermia (EIH)
Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak besar/remaja yang melakukan aktivitas fisik
intensif dan lama pada suhu cuaca yang panas. Pencegahan dilakukan dengan pembatasan
lama latihan fisik terutama bila dilakukan pada suhu 300C atau lebih dengan kelembaban
lebih dari 90%, pemberian minuman lebih sering (150 ml air dingin tiap 30 menit), dan
pemakaian pakaian yang berwarna terang, satu lapis, dan berbahan menyerap keringat.
c.       Endocrine Hyperthermia (EH) 
     Kondisi metabolic/endokrin yang menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai pada anak
dibandingkan dengan pada dewasa.Kelainan endokrin yang sering dihubungkan dengan
hipertermia antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus, phaeochromocytoma, insufisiensi
adrenal dan Ethiocolanolone suatu steroid yang diketahui sering berhubungan dengan demam
(merangsang pembentukan pirogen leukosit).

        Hipertermia yang disebabkan oleh penurunan pelepasan panas. 


         a.   Hipertermia Neonatal
             Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan ketiga kehidupan bisa
disebabkan
              oleh:
1)      DehidrasiDehidrasi pada masa ini sering disebabkan oleh kehilangan cairan atau paparan
oleh suhu kamar yang tinggi.Hipertermia jenis ini merupakan penyebab kenaikan suhu ketiga
setelah infeksi dan trauma lahir.Sebaiknya dibedakan antara kenaikan suhu karena
hipertermia dengan infeksi. Pada demam karena infeksi biasanya didapatkan tanda lain dari
infeksi seperti leukositosis/leucopenia, CRP yang tinggi, tidak berespon baik dengan
pemberian cairan, dan riwayat persalinan prematur/resiko infeksi. 

2)      Overheating
Pemakaian alat-alat penghangat yang terlalu panas, atau bayi terpapar sinar matahari
langsung dalam waktu yang lama.

3)      Trauma lahir
Hipertermia yang berhubungan dengan trauma lahir timbul pada 24%dari bayi yang lahir
dengan trauma. Suhu akan menurun pada1-3 hari tapi bisa juga menetap dan menimbulkan
komplikasi berupa kejang. Tatalaksana dasar hipertermia pada neonatus termasuk
menurunkan suhu bayi secara cepat dengan melepas semua baju bayi dan memindahkan bayi
ke tempat dengan suhu ruangan. Jika suhu tubuh bayi lebih dari 390C dilakukan tepid
sponged 350C sampai dengan suhu tubuh mencapai 370C.
4)      Heat stroke
Tanda umum heat stroke adalah suhu tubuh > 40.50C atau sedikit lebih rendah, kulit
teraba kering dan panas, kelainan susunan saraf pusat, takikardia, aritmia, kadang terjadi
perdarahan miokard, dan pada saluran cerna terjadi mual, muntah, dan kram. Komplikasi
yang  bisa terjadi antara lain DIC, lisis eritrosit, trombositopenia, hiperkalemia, gagal ginjal,
dan perubahan gambaran EKG. Anak dengan serangan heat stroke harus mendapatkan
perawatan intensif di ICU, suhu tubuh segera diturunkan (melepas baju dan sponging dengan
air es sampai dengan suhu tubuh 38,50C kemudian anak segera dipindahkan ke atas tempat
tidur lalu dibungkus dengan selimut), membuka akses sirkulasi, dan memperbaiki gangguan
metabolik yang ada.
5)      Haemorrhargic Shock and Encephalopathy (HSE)
Gambaran klinis mirip dengan heat stroke tetapi tidak ada riwayat penyelimutan
berlebihan, kekurangan cairan, dan suhu udara luar yang tinggi.HSE diduga berhubungan
dengan cacat genetik dalam produksi atau pelepasan serum inhibitor alpha-1-trypsin.
Kejadian HSE pada anak adalah antara umur 17 hari sampai dengan 15 tahun (sebagian besar
usia< 1 tahun dengan median usia 5 bulan). Pada umumnya HSE didahului oleh penyakit
virus atau bakterial dengan febris yang tidak tinggi dan sudah sembuh (misalnya infeksi
saluran nafas akut atau gastroenteritis dengan febris ringan).Pada 2 – 5 hari kemudian timbul
syok berat, ensefalopati sampai dengan kejang/koma, hipertermia (suhu > 410C), perdarahan
yang mengarah pada DIC, diare, dan dapat juga terjadi anemia berat yang membutuhkan
transfusi.Pada pemeriksaan fisik dapat timbul hepatomegali dan asidosis dengan pernafasan
dangkal diikuti gagal ginjal.Pada HSE tidak ada tatalaksana khusus, tetapi pengobatan
suportif seperti penanganan heat stroke dan hipertermia maligna dapat diterapkan. Mortalitas
kasus ini tinggi sekitar 80% dengan gejala sisa neurologis yang berat pada kasus yang
selamat. Hasil CT scan dan otopsi menunjukkan perdarahan fokal pada berbagai organ dan
edema serebri.
6)      Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)
Definisi SIDS adalah kematian bayi (usia 1-12 bulan) yang mendadak, tidak diduga, dan
tidak dapat dijelaskan. Kejadian yang mendahului sering berupa infeksi saluran nafas akut
dengan febris ringan yang tidak fatal.Hipertermia diduga kuat berhubungan dengan
SIDS.Angka kejadian tertinggi adalah pada bayi usia 2-4 bulan. Hipotesis yang dikemukakan
untuk menjelaskan kejadian ini adalah pada beberapa bayi terjadi mal-development atau
maturitas batang otak yang tertunda sehingga berpengaruh terhadap pusat chemosensitivity,
pengaturan pernafasan, suhu, dan respons tekanan darah.Beberapa faktor resiko dikemukakan
untuk menjelaskan kerentanan bayi terhadap SIDS, tetapi yang terpenting adalah ibu hamil
perokok dan posisi tidur bayi tertelungkup.Hipertermia diduga berhubungan dengan SIDS
karenadapat menyebabkan hilangnya sensitivitas pusat pernafasan sehingga berakhir dengan
apnea.
 
D. FAKTOR RESIKO 
Kejang/ syok

E. ETIOLOGI
Disebabkan oleh infeksi, suhu lingkungan yang terlalu panas atau campuran dari
gangguan infeksi dan suhu lingkungan yang terlalu panas. Keadaan ini terjadi bila bayi
diletakkan di dekat api atau ruangan yang berudara panas.Selain itu, dapat
puladisebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang dapat mempengaruhi pusat
pengaturan suhu.  Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat
pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat
berupa protein, pecahan protein  dan zat lain , terutama toksin polisakarida, yang dilepas
oleh bakteri toksik / pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat
menyebabkan demam selama keadaan sakit.
      Fase – fase Terjadinya Hipertermi
a.       Fase I : awal
1)      Peningkatan denyut jantung
2)      Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan
3)      Kulit pucat dan dingin karena vasokonstriksi
4)      Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokonstriksi
5)      Rambut kulit berdiri
6)      Pengeluaran keringat berlebih
7)      Peningkatan suhu tubuh
b.      Fase II :
1)      proses demam
2)       Kulit terasa hangat / panas
3)      Peningkatan nadi & laju pernapasan
4)      Dehidrasi ringan sampai berat
5)      Proses menggigil lenyap
6)      Mengantuk , kejang akibat iritasi sel saraf
7)      mulut kering
8)      bayi Tidak mau minum
9)      lemas
c.       Fase III : pemulihan
1)       Kulit tampak merah dan hangat
2)      Berkeringat
3)      Menggigil ringan
4)      Kemungkinan mengalami dehidrasi 
  
F. PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATANANNYA
             1. Intervensi dan Rasional
INTERVENSI RASIONAL
1. Monitoring tanda-tanda vital setiap dua Perubahan tanda-tanda vital yang
jam dan pantau warna kulit signifikan akan mempengaruhi proses
regulasi ataupun metabolisme dalam
tubuh.
2. Observasi adanya kejang dan dehidrasi Hipertermi sangat potensial untuk
menyebabkan kejang yang akan semakin
memperburuk kondisi pasien serta dapat
menyebabkan pasien kehilangan banyak
cairan secara evaporasi yang tidak
diketahui jumlahnya dan dapat
menyebabkan pasien masuk ke dalam
kondisi dehidrasi.
3. Berikan kompres denga air hangat pada Kompres pada aksila, leher dan lipatan
aksila, leher dan lipatan paha, hindari paha terdapat pembuluh-pembuluh dasar
penggunaan alcohol untuk kompres. besar yang akan membantu menurunkan
demam. Penggunaan alcohol tidak
dilakukan karena akan menyebabkan
penurunan dan peningkatan panas secara
drastis.
Kolaborasi Pemberian antipiretik juga diperlukan
4. Berikan antipiretik sesuai kebutuhan jika untuk menurunkan panas dengan segera.
panas tidak turun.

       2. Letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25 ºC-28 ºC)
             3. Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi bila perlu
4           4. Perikasa suhu aksila setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal
            5. Bila suhu sangat tinggi (lebih dari 39 ºC), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-
15 menit dalam suhu air 4 ºC, lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Jangan menggunakan air
dingin atau air yang suhunya lebih rendah dari 4ºC dibawah suhu bayi    
             6. memastikan bayi mendapat cairan adekuat
a.       Izinkan bayi mulai menyusu
b.      Jika terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata atau fontanel cekung, kehilangan elastisitas kulit,
atau lidah atau membran mukosa kering)
1)      Pasang slang IV dan berikan cairan IV dengan volume rumatan sesuai dengan usia bayi
2)      Tingkatkan volume cairan sebanyak 10% berat badan bayi pada hari pertama dehidrasi
terlihat  
3)      Ukur glukosa darah, jika glukosa darah kurang dari 45 mg/dl (2,6 mmol/l), atasi glukosa 
darah yang rendah
           7. Cari tanda sepsis
           8. Berikan antibiotik jika terjadi infeksi
           9. Setelah keadaan bayi normal :
a.       Lakukan perawatan lanjutan
b.      Pantau bayi selama 12 jamberikutnya, periksa suhu setiap 3 jam
        10. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik, serta tidak ada
masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan dan
Nasehati ibu cara menghangatkan bayi dirumah dan melindungi dari pemancar panas yang
berlebihan.
Antipiretik tidak diberikan secara otomatis pada setiap penderita panas karena panas
merupakan usaha pertahanan tubuh, pemberian antipiretik juga dapat menutupi kemungkinan
komplikasi.Pengobatan terutama ditujukan terhadap penyakit penyebab panas.
        Antipiretika :
Parasetamol                       :    10 -15 mg/kg BB/ kali (dapat diberikan secara oral atau rektal).
Metamizole ( novalgin )    :    10 mg/kg BB/kali per oral atau intravenous.
Ibuprofen                           :    5-10 mg/kg BB/ kali, per oral atau rektal.
        Pendinginan Secara fisik :
Merupakan terapi pilihan utama. Kecepatan penurunan suhu > 0,10 C/menit sampai tercapai
suhu 38,50 C. Cara-cara  physical cooling/compres :
        Evaporasi : penderita dikompres dingin seluruh tubuh, disertai kipas angin untuk
mempercepat

G. PENCEGAHAN TERHADAP HIPERTERMIA


1      1. Kesehatan lingkungan.
        2. Penyediaan air minum yang memenuhi syarat.
        3. Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.
             4. Pemberantasan lalat.

        5. Pembuangan sampah pada tempatnya.                                      


        6. Pendidikan kesehatan pada masyarakat.
        7. Pemberian imunisasi lengkap kepada bayi.
        8. Makan makana yang bersih dan sehat.
        9. Jangan biasakan anak jajan diluar.
89meriJF

HIPERTERMIA

Definisi :suhu tubuh meningkat melebihi batas normal

Batasan karakteristik 

-konvulsi

-kulit memerah

-peningkatan suhu tubuh diatas normal

-kejang

-takikardi

-takipnea

-diraba hangat

faktor yang berhubungan :

-anestesi

-penurunan keringat

-dehidrasi

-terpapar lingkungan yang panas

-pakaian yang tidak layak 

-peningkatan metabolisme

-penyakit

-pengobatan

-trauma

-aktivitas yang berlebihan


hasil yang disarankan

-termoregulasi adalah keseimbangan diantara produksi panas, peningkatan panas

dan kehilangan panas.

-termoregulasi :neonatus adalah keseimbangan antara produksi panas, peningkatan

 panas, dan kehilangan panas selama periode neonatus

Tujuan/kriteria hasil

- termoregulasi

 pasien akan menunjukkan termoregulasi, dibuktikan dengan indikator gangguan sebagai

 berikut :

indikatorekstremberatsedangRinganTidak ada gangguan

-Suhu kulit dalam

rentang yang diharapkan

-Suhu tubuh dalam batas

normal

-Sakit kepala tidak 

muncul