Anda di halaman 1dari 14

TUGAS BIOKIMIA FARMASI

NAMA : NIDIA MARSELINA

NO BP : 1504017

KELAS : A

1. Bilirubinia Pada Pasien Hepatitis

Bilirubin adalah pigmen kuning yang dihasilkan oleh pemecahan hemoglobin (Hb) di
dalam hati (liver). Bilirubin dikeluarkan melalui empedu dan dibuang melalui feses.
Bilirubin dalam darah terdiri dari dua bentuk, yaitu bilirubin direk dan bilirubin indirek.
Bilirubin direk larut dalam air dan dapat dikeluarkan melalui urin. Sedangkan bilirubin
indirek tidak larut dalam air dan terikat pada albumin. Bilirubin total merupakan
penjumlan bilirubin direk dan indirek. Adanya peningkatan kadar bilirubin direk
menunjukkan adanya penyakit pada hati (liver) atau saluran empedu. Sedangkan
peningkatan bilirubin indirek jarang terjadi pada penyakit hati (liver).

Penyakit kuning terjadi akibat adanya penumpukan zat berwarna kuning yang disebut
bilirubin di dalam darah dan jaringan tubuh. Bilirubin merupakan zat sisa yang dihasilkan
ketika sel darah merah terurai. Sebelum dibuang oleh tubuh, bilirubin dibawa terlebih
dahulu menuju hati melalui aliran darah. Di dalam hati, bilirubin dicampur dengan cairan
empedu. Kedua zat ini kemudian melewati sistem pencernaan untuk dibuang. Sebagian
besar bilirubin dibuang dari tubuh dalam bentuk kotoran dan sebagian kecil dibuang dalam
bentuk urin. Ini yang membuat urin kita berwarna kuning dan tinja berwarna cokelat.
Ketika hati tidak bisa menangani bilirubin yang diproduksi oleh tubuh, bilirubin pun
menumpuk dan menyebabkan gejala-gejala penyakit kuning. Penyakit kuning membuat
kulit, mata, serta lapisan lendir yang terdapat pada hidung dan mulut penderita menjadi
berwarna kuning. Selain itu, jika bilirubin tidak terbuang dengan baik melalui sistem
pencernaan, kotoran berubah warna menjadi kuning terang. Urin berubah menjadi lebih
gelap karena terdapat gangguan pada sistem pembuangan bilirubin melalui tinja.
Etiologi

Hepatitis adalah peradangan pada hepar, penyebab nya antara lain:

a.       Infeksi virus A, dan B, C, D, E

b.      Alcohol

c.       Zat toksik apa

Jenis-jenis hepatitis
1). Hepatitis virus

Hepatitis virus terbagi atas 2 jenis yaitu : hepatitis A, B, C, D, dan E

a. Hepatitis A (HAV)

Hepatitis A merupakan penyakit endemic pada daerah terutama dgn sanitasi yang
kurang tetapi endemic terjadi pada daerah sanitasi yang baik, masa inkubasi berkisar
15-45 hari dan cara penularannya melalui fecal oral.

b. Hepatitis B (HBV)

Hepatitis B massa inkubasinya 28-160 hari, cara penularan utama melalui semen
dan secret. Virus hepatitis B adalah virus DNA yang mendiami inti sel dan
permukaan tubuhnya membentuk antibody terhadap hepatitis B yang disebut
hepatitis B corcore antigen (Hbc Ag) dan surpae antigen (Hbs Ag).

c. Hepatitis C (HCV)

Merupakan virus RNA kecil terbungkus lemak, diameternya sekitar 30-60 nm.
Cara penularannya melalui parental dan kontak seksual. Masa inkubasi nya +/- 15-
160 hari.

d.  Hepatitis D (HDV)

Merupakan virus RNA berukuran 35nm. Virus ini dapat dideteksi dalam darah,
cara penularan dalam serum darah. Masa inkubasi +/- 2 bulan.

e.  Hepatitis E (HEV)
Merupakan suatu virus RNA kecil diameternya +/- 32-34 nm. Virus ini ditularkan
melalui jalan fecal-oral.

2). Hepatitis toksik

Hepatitis toksik terjadi setelah terkena oleh substansi kemudian toksin tsb
menyebabkan gangguan liver berupa respon sentivitas atau respon toksik biasanya
disebabkan oleh obat-obatan

3). Hepatitis aktif kronis

Hepatitis jenis ini menyebabkan inflamasi hepatitis nekrosis dan hepatitis


fibrosif yang progresif. Penyebabnya berupa agen virus maupun kimiawi.

4). Hepatitis alkoholik

Dapat berupa inflamasi yang bersifat akut ataupun kronik yang disebabkan
oleh nekrasis parenkim akibat dari penyalahgunaan alcohol.

Gambaran klinis

Pada peradangan hepar biasanya klien tidak merasa sakit pada masa setelah
terinfeksi pada hepatitis anikterik.

Maka setelah terinfeksi terbagi menjadi beberapa stadium, antara lain:

a.  Stadium pra ikterik

Berlangsung selama 4-7 hari, pasien mengeluh:

         Lemah
         Anorexsia
         Mual
         Muntah
         Demam
         Nyeri pada otot
         Nyeri pada abdomen kuadran kanan atas
         Urine lebih menjadi cokelat
b.      Stadium ikterik
Berlangsung selama 4-6 hari. Mula-mula terlihat pada sclera kemudian pada
kulit seluruh tubuh, keluhan berkurang tetapi pasien masih lemah, anorexsia dan
muntah, hati membesar dan nyeri tekan. Tinja warna kelabu atau kuning muda.

c.       Stadium pasca ikterik

Berlangsung 2-6 minggu ikterik mereda warna urine dan tinja normal, mual,
muntah berkurang.

Komplikasi

Komplikasi hepatitis B virus yang paling sering di jumpai adalah perjalanan


penyakitnya yang memanjang hingga 4-8 bulan. Keadaan ini dikenal dgn hepatitis kronis
akan tetapi keadaan ini akan sembuh kembali sekitar 5% dari pasien hepatitis kronis akan
mengalami kekambuhan setelah serangan awal, kekambuhan biasanya dihubungkan dgn
minum alcohol atau aktifitas fisik yang berlebihan.

Penyebab penyakit kuning

Berdasarkan penyebabnya, penyakit kuning terbagi menjadi tiga jenis yaitu penyakit
kuning pre-hepatic, intra-hepatic, dan post-hepatic. ‘Hepatic’ berarti organ hati. Dengan
kata lain, penyebab penyakit kuning bisa terjadi akibat gangguan sebelum bilirubin dibawa
oleh darah memasuki hati, di dalam hati atau setelah melewati hati.

Penyakit kuning pre-hepatic terjadi ketika kadar bilirubin meningkat akibat penguraian sel
darah merah yang terjadi secara lebih cepat daripada normal. Kondisi ini di antaranya bisa
disebabkan oleh beberapa kondisi, misalnya anemia hemolitik dan anemia sel sabit.
Penyakit kuning pre-hepatic dapat diderita oleh berbagai umur termasuk anak-anak.

Penyakit kuning intra-hepatic disebabkan oleh gangguan yang terjadi di dalam hati yang
mengakibatkan organ tersebut kurang mampu untuk memproses bilirubin, Kerusakan hati
ini di antaranya bisa disebabkan oleh hepatitis dan sirosis.

Penyakit kuning post-hepatic terjadi ketika terganggunya pembuangan cairan empedu


yang mengandung bilirubin ke dalam sistem pencernaan, misalnya akibat saluran empedu
yang terhambat, mengalami radang, atau bahkan rusak. Beberapa kondisi medis yang
menyebabkan hal ini adalah tumor dan batu empedu.

Penyakit kuning intra-hepatic maupun post-hepatic lebih sering diderita oleh mereka yang
memasuki usia setengah baya hingga lebih tua.

Diagnosis penyakit kuning

Diagnosis penyakit kuning dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik yang sederhana
misalnya melihat kulit, putih mata dan telapak tangan apakah menguning. Tapi diagnosis
tidak berhenti di situ. Penyebab penyakit kuning perlu dicari tahu. Pada awal pemeriksaan,
dokter akan mencoba mencari petunjuk melalui keterangan langsung dari pasien perihal
gejala dan riwayat kesehatannya. Anamnesis adalah wawancara yang dilakukan dokter
kepada pasien untuk memperoleh informasi tentang keluhan dan gejala penyakit yang
dirasakan pasien. Selain itu dokter juga dapat mengetahui informasi tentang semua hal
yang diperkirakan sebagai penyebab penyakit hepatitis serta proses pengobatan yang
pernah dilakukan oleh pasien.

Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, misalnya memeriksa adanya
pembengkakan pada hati sebagai tanda-tanda hepatitis, atau memeriksa adanya
pembengkakan pada kaki sebagai tanda-tanda sirosis.

Setelah petunjuk didapat, maka untuk benar-benar memastikan penyebab penyakit


kuning, biasanya dokter dapat melakukan pemeriksaan atau tes lanjutan, seperti
pemeriksaan darah, tes urin, biopsi hati, dan pemeriksaan melalui gambar.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat adanya tanda-tanda kelainan atau


gangguan pada tubuh pasien. Pemeriksaan laboratorium berguna untuk memastikan
diagnosis jenis penyakit hepatitis. Sedangkan pemeriksaan penunjang berguna untuk
menentukan letak kelainan ataupun menilai parah tidaknya penyakit tersebut.

Terdapat dua pemeriksaan penting untuk mendiagnosis hepatitis yaitu tes awal untuk
mengkonfirmasi adanya peradangan akut pada hati dan tes yang bertujuan untuk
mengetahui etiologi dari peradangan akut tersebut.
Diagnosis hepatitis biasanya ditegakan dengan pemeriksaan yaitu sebagai berikut :

a. Tes fungsi hati khususnya alanin amino transferase ( ALT = SGPT) aspartat amino
transferase (AST = SGOT).
b. Pemeriksaan bilirubin. Alkali fosfatase kurang bermakna karena kadarnya meningkat
pada anak yang sedang mengalami pertumbuhan.

Kadar transaminase (SGOT-SGPT) mulai meningkat pada masa prodromal dan


mencapai puncak pada saat timbulnya ikterus. Peninggian kadar SGOT dan SGPT yang
menunjukan adanya kerusakan sel-sel hati adalah 50 – 20.000 IU/ml. Terjadi peningkatan
bilirubin total serum (berkisar 5-20 mg/dl). Tinja akolis mungkin dijumpai sebelum timbul
ikterus. Penurunan aktivitas transaminase diikuti penurunan kadar bilirubin. Bilirubinuria
dapat negatif sebelum bilirubin darah normal. Kadar alkali fosfatase mungkin hanya
sedikit meningkat. Gamma GT dapat meningkat pada hepatitis dengan kolestasis.
Jenis virus penyebab hepatitis akut didiagnosis dengan petanda virus yaitu IgM anti-
HAV, IgM anti-HBc dan dapat dilengkapi dengan HBsAg. Bila terdapat riwayat transfusi
darah, pemakaian obat-obatan narkoba, atau ada resiko infeksi vertikal dapat dilakukan
pemeriksaan anti-HCV. IgM anti-HDV diperiksa pada kasus hepatitis B kronik. Hepatitis
E pada anak jarang terjadi. Bila dicurigai pasien menderita hepatitis E, dilakukan
pemeriksaan IgM anti-HEV.

HBsAg yang menetap selama 6 bulan didefinisikan sebagai keadaan karier karena
pasien ini kemungkinan sembuhnya berkurang. Umumnya menjadi infeksi kronis.
Biasanya pada pasien yang sembuh dari hepatitis B akut, serokonversi menjadi anti HBs
timbul tidak lama setelah hilangnya HBsAg. Pada beberapa kasus, periode antara
hilangnya antigenemia dan munculnya anti-HBs memanjang disebut sebagai core-window
yang dapat berlangsung beberapa hari hingga beberapa bulan.

Pada hepatitis C, peningkatan kadar SGPT serum umumnya lebih rendah daripada
hepatitis akut A atau B dan mungkin berfluktuasi pada fase awal. Terdapat peningkatan
ringan leukosit dengan limfosit atipikal yang besar. Masa protrombin mungkin memanjang
dan berhubungan dengan keparahan dan perluasan nekrosis sel hati. Untuk mendiagnosis
hepatitis C dilakukan pemeriksaan terhadap anti-HCV. Hal ini tidak mudah karena anti
HCV baru dapat dideteksi pada minggu ke 12. Bila anti HCV negatif pada saat sakit
kurang dari 12 minggu, pemeriksaan ini mungkin perlu diulang.
Biopsi hati bukan pemeriksaan rutin yang dilakukan pada hepatitis virus akut kecuali
diagnosis masih meragukan. Gambaran histologis hepatitis C akut menyerupai gambaran
histologis hepatitis A atau B kecuali aktivasi sel sinusoid yang lebih nyata.1

Pemeriksaan darah perifer umumnya dalam batas normal. Kadang dapat ditemukan
leukopeni yang kemudian diikuti oleh limfositosis relative.

Agar tujuan kesembuhan tercapai, pengobatan hepatitis harus dilakukan sesuai dengan
diagnosis yang tepat. Dokter menentukan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti USG, sinar X,
CT scan, atau MRI.

Pengobatan penyakit kuning

Pengobatan penyakit kuning tergantung kepada jenis penyakit kuning itu sendiri,
penyebab, dan tingkat keparahannya. Diagnosis yang tepat akan membantu dokter dalam
memberikan penanganan yang tepat pula. Dapat pula dilakukan dengan :
 -   Bedrest terutama pada fase akut
-    Diet disesuaikan dgn keadaan pasien
-    Terapi obat, disesuaikan dgn jenis hepatitisnya (Sylvia A. price corraine M. Wilson :
1995:444)

Pencegahan Penyakit Kuning


Banyak kondisi atau faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit kuning,
salah satunya adalah hepatitis. Upaya pencegahan yang bisa kita lakukan adalah dengan
meminimalisasi risiko terkena kondisi tersebut.

Selain itu, berolahraga secara teratur, mengontrol konsumsi alkohol, dan menjaga
berat badan juga penting untuk diterapkan sebagai upaya mencegah penyakit kuning.

       Diet untuk Pasien Hepatitis

Beberapa pantangan yang harus dihindari antara lain :

 Semua makanan yang mengandung lemak tinggi seperti daging kambing dan babi,
jerohan, otak, es krim, susu full cream, keju, mentega/ margarine, minyak serta
makanan bersantan seperti gulai, kare, atau gudeg.
 Makanan kaleng seperti sarden dan korned.

 Kue atau camilan berlemak, seperti kue tart, gorengan, fast food.

 Bahan makanan yang menimbulkan gas, seperti ubi, kacang merah, kool, sawi, lobak,
mentimun, durian, nangka.

 Bumbu yang merangsang, seperti cabe, bawang, merica, cuka, jahe.

 Minuman yang mengandung alkohol dan soda.

Sedangkan bahan makanan yang baik dikonsumsi penderita hepatitis :


 Sumber hidrat arang seperti nasi, havermout, roti putih, umbi-umbian.
 Sumber protein antara lain telur, ikan, daging, ayam, tempe, tahu, kacang hijau,
sayuran dan buah-buahan yang tidak menimbulkan gas.

 Makanan yang mengandung hidrat arang tinggi dan mudah dicerna seperti gula-gula,
sari buah, selai, sirup, manisan, dan madu.

2. Urobilin dalam Urin Normal & Patologi

Urobilin adalah pigmen alami dalam urin yang menghasilkan warna kuning. Ketika
urin kental, urobilin dapat membuat tampilan warna oranye-kemerahan yang
intensitasnya bervariasi dengan derajat oksidasi, dan kadang-kadang menyebabkan
kencing terlihat merah atau berdarah. Banyak tes urin (urinalisis) yang memantau
jumlah urobilin dalam urin karena merupakan zat penting dalam metabolisme/
produksi urin. Tingkat urobilin dapat memberikan wawasan tentang efektivitas fungsi
saluran kemih.
Urobilinogen adalah larut dalam air dan transparan produk yang merupakan produk
dengan pengurangan bilirubin dilakukan oleh interstinal bakteri . Hal ini dibentuk
oleh pemecahan hemoglobin. Sementara setengah dari Urobilinogen beredar kembali
ke hati, setengah lainnya diekskresikan melalui feses sebagai urobilin. Ketika pernah
ada kerusakan hati, kelebihan itu akan dibuang keluar melalui ginjal. Ini siklus ini
dikenal sebagai Urobilinogen enterohepatik siklus . Ada dapat berbagai faktor yang
dapat menghambat ini siklus . Salah satu alasan menjadi gangguan lebih dari
hemoglobin (hemolisis) karena malfungsi hati berbagai seperti hepatitis, sirosis.
Ketika ini terjadi, Urobilinogen lebih diproduksi dan diekskresikan dalam urin. Pada
saat seseorang menderita penyakit kuning, itu didiagnosa oleh warna kulit yang
sedikit kuning dan warna kuning dari urin.Namun bila ada obstruksi pada saluran
empedu, hal itu akan menyebabkan penurunan jumlah Urobilinogen dan ada lebih
sedikit urobilin dalam urin. Lebih rendah jumlah urobilin Sof dapat disebabkan oleh
hilangnya flora bakteri usus yang berperan dalam sintesa produk HTI.
Untuk mendeteksi jenis kerusakan di hati, tes Urobilinogen dilakukan dengan
mengukur kadar uribilinogendalam urin. Reaksi Aldehid Ehrlich adalah tes umum
yang digunakan untuk menguji tingkat Urobilinogen.Sebuah benzaldehida dengan
keberadaan asam berubah warna jika Urobilinogen hadir untuk warna merah merah
muda. Diubah atau tidak adanya lengkap tingkat Urobilinogen biasanya menunjukkan
disfungsi hati. Dan peningkatan tingkat petunjuk Urobilinogen urin ke warna merah
darah Hemolisis sel. Tujuan utama dari tes ini adalah untuk membantu mengetahui
penghalang hati tambahan seperti penyumbatan saluran empedu umum dan juga untuk
memungkinkan hati serta gangguan hematologi.

Tingkat Urobilinogen dalam urin


• Dalam urin: kisaran Urobilinogen normal adalah kurang dari 17 umol / L
(<1mg/dl). Kisaran Urobilinogenukur adalah 0 – 8 mg / dl. Nilai Urobilinogen
abnormal dapat menampilkan meningkat serta nilai-nilai rendah.
• Peningkatan nilai adalah indikasi dari kerusakan RBC secara berlebihan,
membebani hati, produksi Urobilinogen berlebih, hati yang berfungsi dalam batasan,
hematoma, keracunan, sirosis hati, fungsi hati.
• Nilai-nilai rendah adalah indikasi penyumbatan di bileducts dan kegagalan empedu
produksi.

Pembentukan urobilin :
Bilirubin terkonjugasi yang mencapai ileum terminal dan kolon dihidrolisa oleh
enzym bakteri β glukoronidase dan pigmen yang bebas dari glukoronida direduksi
oleh bakteri usus menjadi urobilinogen, suatu senyawa tetrapirol tak berwarna.
Sejumlah urobilinogen diabsorbsi kembali dari usus ke perdarahan portal dan dibawa
ke ginjal kemudian dioksidasi menjadi urobilin yang memberi warna kuning pada
urine. Sebagian besar urobilinogen berada pada feces akan dioksidasi oleh bakteri
usus membentuk sterkobilin yang berwarna kuning kecoklatan.
Keadaan normal urobilin terdapat di dalam urine dalam jumlah yang terbatas ,
yaitu : 4 mg / hari. Setelah urine dikeluarkan dari tubuh kita, beberapa jam kemudian
urobilinogen akan berubah menjadi urobilin oleh adanya cahaya .
Kadarnya di dalam urine akan meningkat pada :

 Hemolitik sel Darah Merah


 Parenchym Renal Diseases
 Obstruksi saluran empedu

Pemeriksaan Urobilinogen :
Pemeriksaan urobilinogen dengan reagens pita perlu urin segar. Dalam
keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 – 1,0 Ehrlich unit per dl urin.
Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati,
saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh. Dalam keadaan
normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin disebabkan
oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan
pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini
lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan
pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin
C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator
seperti hipochlorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran
kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang terkontaminasi.
Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat ditentukan
dengan tes nitrit. Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam urin. Tes akan
berhasil positif bila terdapat lebih dari 105 mikroorganisme per ml urin. Perlu
diperhatikan bahwa urin yang diperiksa hendaklah urin yang telah berada dalam buli-
buli minimal 4 jam, sehingga telah terjadi perubahan nitrat menjadi nitrit oleh bakteri.
Urin yang terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4 jam akan memberikan basil positif
pada 40% kasus.Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam
buli-buli lebih dari 4 jam. Hasil yang negatif belum dapat menyingkirkan adanya
bakteriurea, karena basil negatif mungkin disebabkan infeksi saluran kemih oleh
kuman yang tidak mengandung reduktase, sehingga kuman tidak dapat merubah nitrat
menjadi nitrit. Bila urin yang akan diperiksa berada dalam buli-buli kurang dari 4 jam
atau tidak terdapat nitrat dalam urin, basil tes akan negatif.
Kepekaan tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif
palsu terjadi bila urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan konsentrasi ion
nitrat dalam urin kurang dari 0,03 mg/dl.

3. Darah Pada Urin

Dalam keadaan normal terdapat 2-3 sel darah merah /lpb ( lapangan pandang besar)
pada urin. Bila terdapat banyak sel darah merah , maka hal ini disebut sebagai :
HAEMATURI. Biasanya hal ini didapat pada :

 Glomerulonephritits

 Trauma pada ginjal

 Carcinoma kandung kencing (Ca Bladder)

 Infeksi kandung kencing

 Penyakit kelainan darah

 Hypertensi

Darah yang ada dalam urine umumnya berasal dari sistem saluran kemih, seperti:

 Kandung kemih : Tempat menyimpan urine.


 Uretra : Saluran yang dilewati urine dari kandung kemih menuju ke luar tubuh

 Ureter : Saluran dari ginjal menuju ke kandung kemih.

 Ginjal : Organ yang berfungsi menyaring darah.


Pemeriksaan Darah Samar dalam Urine
Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya hemoglobin dalam urine dengan
metode tertentu (missal: benzidine tes atau guayac tes). Dinyatakan positif apabila ada
perubahan warna menjadi hilau (+) sampai biru tua(++++).
Dinyatakan negatif apabila tak ada perubahan warna. Tes + berarti ditemukan hemoglobin
dalam urine yang mungkin disebabkan oleh pendarahan atau radang pada ginjal/saluran
kencing.

Gejala pada Hematuria


Tanda-tanda yang jelas terlihat dari hematuria adalah berubahnya warna urine
menjadi merah muda, kemerahan, atau kecokelatan karena mengandung sel darah merah.
Umumnya hematuria tidak terasa sakit. Tapi jika muncul darah yang menggumpal
bersama dengan urine, kondisi ini akan menjadi menyakitkan. Beberapa kasus hematuria
memang tidak disertai gejala lain sama sekali. Namun ada juga yang mengalami lebih
dari hematuria. Gejala-gejala yang menyertai hematuria akan tergantung pada penyebab
dasarnya. Berikut adalah gejala-gejala lain yang mungkin ada:

 Perih saat buang air kecil


 Frekuensi buang air kecil yang meningkat

 Sakit pada perut bagian bawah

 Kesulitan buang air kecil

 Rasa sakit di punggung bagian bawah

Penyebab Terjadinya Hematuria


Selain hematuria, ada hal lain yang bisa menyebabkan urine berubah warna menjadi
merah muda, kemerahan, atau kecokelatan. Makanan dan obat-obatan bisa menjadi salah
satu penyebab perubahan warna urine. Buah bit dan beri bisa mengubah warna urine jadi
berwarna merah. Lalu obat-obatan seperti antibiotik nitrofurantoin dan obat laksatif
sanna bisa membuat warna urine berubah menjadi kemerahan. Perubahan warna yang
disebabkan oleh makanan dan obat seperti di atas akan menghilang dalam beberapa hari.
Jika Anda seorang wanita, pastikan darah yang keluar bukan akibat menstruasi. Untuk
mengetahui dengan pasti apakah terdapat darah pada urine Anda dan memastikan
penyebabnya, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Berikut ini beberapa
penyebab umum munculnya darah dalam urine.

 Infeksi saluran kemih. Kondisi ini terjadi ketika bakteri memasuki tubuh melalui
uretra dan berkembang biak di dalam kandung kemih. Gejala lain selain hematuria
adalah keinginan untuk terus buang air kecil, sakit dan sensasi rasa terbakar saat
buang air kecil, dan urine yang beraroma kuat.
 Infeksi ginjal. Gejala yang lainnya adalah demam dan juga sakit pada sisi punggung
bagian bawah.

 Batu ginjal. Jika batu cukup kecil, kondisi ini tidak menimbulkan rasa sakit. Tapi jika
batu berukuran besar dan menghalangi salah satu saluran dari ginjal, akan
menyebabkan sakit yang parah.

 Pembengkakan kelenjar prostat. Kondisi yang umum ini tidak terkait dengan
kanker prostat dan cenderung terjadi pada pria dewasa. Kondisi ini bisa menyebabkan
kesulitan buang air kecil dan sering buang air kecil.

 Kanker prostat. Kondisi ini bisa disembuhkan jika diketahui dan ditangani sejak
dini. Cenderung terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun. Perkembangan kondisi ini
sangat perlahan.

 Kanker kandung kemih. Kondisi ini lebih sering terjadi pada mereka yang berusia
di atas 50 tahun.

 Kanker ginjal. Kondisi ini biasanya terjadi pada orang-orang di atas usia 50 tahun.
Kanker ini bisa disembuhkan apabila terdeteksi dan diobati sejak dini.

 Peradangan pada uretra. Kondisi yang umumnya disebabkan oleh penyakit menular
seksual seperti chlamydia (klamidia), akibat terinfeksi bakteri Klamidia trachomatis.

 Kelainan genetik. Anemia sel sabit adalah kerusakan hemoglobin sel darah karena
faktor keturunan. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya darah dalam urine. Selain
anemia sel sabit, sindrom Alport juga bisa menyebabkan hematuria. Sindrom ini
memengaruhi jaringan penyaring pada ginjal.

 Olahraga secara berlebihan. Kondisi ini mungkin jarang sekali terjadi dan tidak
diketahui dengan pasti kenapa bisa menyebabkan terjadinya hematuria, tapi salah satu
keterkaitannya adalah karena terjadi trauma pada kandung kemih yang mengalami
dehidrasi akibat aktivitas fisik yang berlebihan.

Diagnosis terhadap Hematuria


Untuk memastikan bahwa perubahan warna pada urine disebabkan oleh adanya darah,
dokter akan melakukan tes urine. Setelah tes urine, Anda mungkin perlu melakukan tes
darah untuk memeriksa fungsi ginjal.

Tes pencitraan CT scan, ultrasound ginjal, dan pyelografi intravena bisa dilakukan
untuk mengenali apakah terdapat batu ginjal atau kelainan lain pada sistem saluran kemih.

Tes pengambilan sampel jaringan seperti sistoskopi dan biopsi ginjal adalah prosedur
lebih intensif yang akan dilakukan jika penyebab hematuria masih belum diketahui.
Sistoskopi dilakukan untuk menentukan apakah terdapat sel abnormal atau sel kanker pada
kandung kemih. Sedangkan biopsi ginjal dilakukan untuk mencari tahu apakah terdapat
kondisi tertentu pada ginjal .

Hematuria adalah gejala yang muncul akibat kondisi medis lain yang jadi penyebab
dasarnya. Pengobatan akan berdasarkan penyebab tersebut. Misalnya, jika hematuria
disebabkan oleh infeksi saluran kemih, makan dokter akan memberikan resep antibiotik.
Namun jika disebabkan oleh batu ginjal, pengobatan bisa mulai dari obat pereda sakit,
tamsulosin untuk memperlancar keluarnya batu, hingga operasi.

Mencegah Hematuria

Untuk mencegah hematuria berarti harus mencegah penyebabnya. Untuk mencegah


infeksi, minum cukup cairan, segera buang air kecil setelah berhubungan badan, dan
terapkan pola dan gaya hidup sehat. Untuk mencegah batu, minum banyak cairan dan
hindari diet tinggi garam dan makanan tertentu seperti bayam dan kelembak (hanya bagi
mereka yang berisiko tinggi). Untuk mencegah kanker kandung kemih, hindari merokok,
dan hindari paparan bahan kimia dan radiasi.