Anda di halaman 1dari 2

KASUS 2

ADENIUM – RSHS

Seorang wanita 41 tahun di rawat di RSHS adenium tanggal 9 maret 2020. Ny. U sudah
menikah dan memiliki suami dan 2 orang anak serta tinggal bersama. Ny. U datang ke rs di
bawa oleh suaminya TN. S dan keluarga. Menurut keluarga Ny. U sejak 2 minggu SMRS
pasien selalu menanyakan mengenai hasil jual tanah warisan dari ayahnya untuk merenovasi
rumahnya tetapi pasien tidak mendapat jawaban yang pasti mengenai warisan tersebut. setelah
pulang dari rumah orang tuannya, pasien mulai tampak perubahan perilaku, pasien tampak
susah tidur, tidak mau makan obat karena merasa dirinya tidak sakit kejiwaan, tidak mau
makan, malas beraktifitas, merasa putus asa, curiga suami selingkuh dengan saudaranya. 5
hari SMRS pasien mulai melempar barang. Tidak mau minum dan obat, menonjok keluarga,
tidak mau mandi, makan sedikit, tidur sangat kurang, sering keluyuran. Sekitar 2 hari SMRS
pasien dibawa control ke psikiater di sumedang dan obatnya diganti menjadi obat sirup tapi
tetap saja tidak mau minum obat, makan sedikit dan minum masih mau. Sekitar 1 hari SMRS
pasien menolak makan dan minum, tidak mau minum obat, sehingga keluarga membawa
pasien ke RSHS sesuai saran psikiater di sumedang. Klien mengalami ganguan jiwa di masa
lau tahun 2016.
Ketika dilakukan pengkajian oleh perawat klien mengatakan ke sini dipaksa oleh
suaminya, klien merasa tidak berharga, dan merasa dibuang oleh keluarga karena di bawa ke
RS ini, klien mengakui dirinya sakit jiwa dan sedang mendaatkan perawatan di rs. “saya malu,
tidak berharga lagi, saya sudah di buang di sini suster”. Klien juga mengatakan jadi malas
untuk makan dan minum obat, malas mandi. Klien mengatakan saat pernikahan dengan
suaminya yang pertama selalu medapatkan perlakuan kasar. Hasil pemeriksaan fisik Td
103.72 mmhg, N 78x/menit, S: 36,7 C, RR 18 x/menit, TB: 160, BB: 55. Klien tidak ada
keluhan fisik.
Selama di RS klien berpakaian baik dan sesuai. Klien mampu menghabiskan makanan,
namum berantakan dan tidak mengembalikan ke tempat cuci piring. BAB dan BAK mandiri
namun tidak di bersihkan. Istirahat klien mulai sesuai waktu tidurnya. Klien mandi 1 kali
sehari pagi hari hanya membasahi badan, tidak keramas, tidak sikat gigi tidak menggunakan
sabun. Setelah mandi rambut klien masih acak-acakan.
Klien selalu mengatakan menurut klien orang yang paling berarti baginya adalah ketiga
anaknya. Klien juga aktif mengikuti pengajian rutin dan arisan di lingkungan rumah. klien
mengatakan tidak ada tetangga yang mengolok olok klien sebagai orang gila. Klien merasa
sedih karena di rs tidak bisa sholat, tidak tau waktu dan tidak ada alat sholatnya.
Klien tampak terlihat gelisah. Aktivitas motorik lesu tidak bersemangat. Klien terkadang
sering menangis dan tiba tiba tertawa sendiri. Klien mengatakan tidak pernah mendengar atau
melihat sesuatu seama di RS. Konsentasi mudah beralih, kemampuan berhitung klin lemah.
Klien tidak harus berbuat apa jika ada kompor meledak di hadapannya.
Klien selalu mensyukuri atas kondisi fisiknya. Klien adalah seorang istri dan ibu yang
tugasnya harus menyiapakan makanan untuk keluarga. Harapan klien ingin segera sembuh
dan bisa berkumpul dengan keluarga. Klien merasa kangen dengan keluarganya. Klien
mengatakan tinggal di rumah bersama suami dan tiga orang anaknya, orang tua klien
rumahnya bersebelahan dengan klien. Ketika di tanya dengan keluarga sesuai pernyatannya.
Saat ini klien terdiagnosa skizofrenia afektif tipe defresif, dan klien mendapatkanteapi
resperidon 2x2 mg.