Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH FARMAKOTERAPI II

“ PENATALAKSANAAN ANTI NEOPLASTIK “

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4 (Kelas A)

1. Novela Nursyamsiah A 1504003


2. Nyak Indah Putri Marzah 1504015
3. Nidia Marselina 1504017
4. Alamsyah Hanafiah 1504069
5. Putri Amanda 1504101
6. Rika Oktavia 1504113
7. Widiya Retnasari 1504117

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA

YAYASAN PERINTIS

PADANG

2018
BAB I

KONSEP UTAMA

 Karsinogenesis adalah proses multistep yang meliputi inisiasi, promosi,


konversi, dan pengembangan. Pertumbuhan sel normal keduanya dan sel
kanker secara genetik dikendalikan oleh keseimbangan atau
ketidakseimbangan onkogen, protoonkogen, dan tumor penindas produk
protein gen. Banyak mutasi genetik diperlukan untuk mengubah sel normal
menjadi sel kanker. Apoptosis dan penuaan sel adalah mekanisme normal
untuk kematian sel.
 Kanker prostat merupakan neoplasma ganas yang muncul dari kelenjar prostat.
Kanker prostat yang terlokalisasi dapat disembuhkan dengan terapi radiasi atau
operasi. Namun kanker prostat lanjut belum dapat disembuhkan.
 Kanker Uterus yang paling umum bermula pada endometrium. Tipe kanker ini
dinamakan kanker endometrium atau kanker uterus. Suatu tipe kanker yang
berbeda, yaitu sarkoma uterus, berkembang pada otot uterus.
 Kanker paru-paru merupakan tumor padat yang diklasifikasikan kedalam 4 tipe
sel utama. Konfirmasi histologi dari tipe sel merupakan hal yang penting dalam
perencanaan penanganan karena perbedaan dalam riwayat alamiah,
karakteristik klinik, serta respon terhadap terapi.
 Tujuan pengobatan kanker termasuk menyembuhkan, memperpanjang hidup,
dan menghilangkan gejala. Bedah dan terapi radiasi memberikan kesempatan
terbaik untuk menyembuhkan pasien dengan kanker lokal, tetapi metode
pengobatan sistemik diperlukan untuk kanker yang telah tersebar luas.
Terapi adjuvant adalah terapi sistemik yang diberikan untuk mengobati setiap
micrometastases yang ada tersisa setelah eksisi bedah penyakit lokal.
 Agen kemoterapi tradisional menargetkan sel cepat berkembang biak . Agen
dapat berupa "fase siklus sel khusus," penargetan satu fase spesifik dari siklus
sel, atau "fase siklus sel-nonspesifik," menargetkan semua sel yang
berkembang biak terlepas dari tempat mereka di siklus sel. Fase-fase sel khusus
agen umumnya diberikan lebih sering atau sebagai infus berkelanjutan,
sedangkan siklus agen fase-nonspesifik diberikan sebagai dosis tunggal.
 Antibodi monoklonal dalam pengobatan kanker mengenali antigen yang
diekspresikan secara istimewa pada sel-sel kanker atau target pertumbuhan
faktor yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan kanker. Agen-agen ini bisa
berbeda dalam jumlah komponen asing yang dapat digunakan untuk
meramalkan tolerabilitas agen. Target Antibodi monoklonal adalah antigen
seluler yang menginduksi kematian sel oleh berbagai mekanisme yang
melibatkan sistem kekebalan inang. Agen-agen ini bisa juga digunakan untuk
mengirim obat-obatan atau radioisotop ke antigenexpressing sel.
 HER (reseptor faktor pertumbuhan epidermis manusia) mengandung empat
subtipe reseptor yang dikenal yang mengatur proliferasi sel jalur melalui
transduksi sinyal. Keluarga DIA tidak diregulasi di banyak tumor umum.
Beberapa agen telah dikembangkan untuk mencegah transduksi sinyal melalui
jalur ini. Antibodi Monoclonal , yang mengikat secara kompetitif ke reseptor
ekstraseluler, dan inhibitor molekuler kecil, yang menargetkan jalur transduksi
sinyal intraseluler, tersedia secara komersial untuk beberapa keganasan.
 Tumor harus mengembangkan pembuluh darah baru melalui proses
angiogenesis untuk tumbuh. Proses ini, diatur oleh faktor proangiogenik dan
antiangiogenik, menjadi tidak teratur di beberapa keganasan dan dapat
menyebabkan pertumbuhan tumor, sion, dan metastasis. Agen antikanker baru
dapat menargetkan proses ini dan mengurangi pertumbuhan tumor.  Memahami
mekanisme toksisitas obat kemoterapi
dapat memberikan pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif dari
toksisitas.
 Myelosupresi adalah toksisitas pembatas dosis akut untuk sebagian besar obat
kanker nonspesifik. Anemia dapat menyebabkan kelelahan pada pasien kanker,
sedangkan risiko infeksi pada pasien yang terkait dengan kedalaman dan
durasi neutropenia. Demam yang tidak dapat dijelaskan pada pasien
neutropenic membutuhkan terapi inisiasi antibiotik empiris yang cepat.
Faktor-faktor penstimulasi koloni tersedia untuk meningkatkan kelelahan pada
pasien anemia dan mengurangi risiko neutropenia febril. Pedoman klinis
berbasis bukti harus mengarahkan pada penggunaan sumber daya perawatan
suportif yang mahal seperti faktor pertumbuhan hematopoietik.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Kanker

Kanker adalah suatu kondisi di mana sel telah kehilangan kendali terhadap
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang abnormal, cepat
dan tidak terkendali. Sel-sel kanker tersebut akan terus membelah (multiplikasi)
tanpa mengikuti faal (fungsi) tubuh normal. Kanker dapat mengenai seluruh
bagian tubuh manusia, misalnya mata, kulit, mulut, leher (thyroid), jantung, paru,
usus, hati, sistem reproduksi dan sebagainya. Sejalan dengan pertumbuhan dan
perkembangbiakannya, sel-sel kanker membentuk suatu massa dari jaringan ganas
yang menyusup ke jaringan di dekatnya (invasif) dan bisa menyebar ( metastasis )
ke seluruh tubuh. Kanker dikarakterisasi oleh tidak terkontrolnya pertumbuhan sel
, invasi jaringan lokal, dan jarak metastasis.
Tumor menurut bahasa latin berarti pembengkakan. Tetapi tidak semua
pembengkakan adalah tumor. Beberapa tumor dapat disebabkan karena
peradangan, infeksi, kista atau lesi berisi cairan atau karena pertumbuhan jinak.
Tumor kanker memiliki kapasitas untuk tumbuh dengan cepat dan bermetastasis
atau menyebar ke jaringan lain. Beberapa tumor seperti leukemia tumbuh sebagai
suspensi sel tetapi sebagian besar tumbuh sebagai massa jaringan padat.
Antineoplastik adalah bertindak untuk mencegah, menghambat atau
menghentikan perkembangan neoplasma (tumor). Agen dengan sifat
antineoplastik misalnya, oxaliplatin (Eloxatin) adalah antineoplastik yang
digunakan dalam pengobatan kanker usus besar metastatik. Antibiotik
antineoplastik merupakan jenis obat antikanker yang menghalangi pertumbuhan
sel dengan mengganggu DNA, materi genetik dalam sel. Juga disebut antibiotik
antikanker dan antibiotik antitumor.

2. Etiologi Kanker

Tahun 1775 Persival Pott, seorang ahli bedah dari Inggris menemukan
bahwa kanker scrotum banyak dijumpai pada orang yang bekerja di pabrik yang
memakai cerobong asap. Setelah dipelajari, ternyata hidrocarbonng berhasil
diisolasi dari batubara merupakan Carcinogenic agent. Sejak itu zat kimia yang
menyebabkan kanker pada hewan percobaan disebut karsinogen. Berbagai faktor
penyebabnya antara lain :

a. Zat-Zat Karsinogenik
a) . Karsinogenik Kimia
Aromatik amine dikenal sebagai penyebab kanker traktus urinarius.
Benzene dianggap berhubungan dengan terjadinya leukemia akut. Jelaga
batubara, anthracene, creosota dihubungkan dengan kanker kulit, larynx dan
bronkhus. Asbestos sering menyebabkan mesothelioma pada pekerja
tambang dan pekerja kapal.

b) Karsinogenik Fisik
Karsinogenik fisik yang utama adalah radiasi ion. Pada pekerja yang
melakukan pengecatan radium pada lempeng arloji dijumpai adanya
perkembangan ke arah kanker tulang. Kanker tiroid banyak dihubungkan
dengan adanya irradiasi leher pada masa anak-anak. Selain itu, bagi korban
yang berhasil hidup akibat meledaknya bom atom memberi gejala ke arah
leukemia. Sinar ultraviolet dianggap sebagai penyebab meningginya
insidensi kanker kulit pada pelaut atau petani, yang biasanya berhubungan
dengan sinar matahari secara berlebihan. Pekerja di bagian radiologi yang
sering terkena X-ray mempunyai kecenderungan untuk mendapat kanker
kulit. Contoh lain dari karsinogen fisik adalah iritasi mekanik, misalnya iritasi
kronis yang dihubungkan dengan perkembangan kanker seperti degenerasi
ganas dari scar luka bakar yang lama yang disebut Marjolin`s ulcer. Drug-
Induced Cancer. Penggunaan alkilator seperti melphalan dan
cyclophosphamide diketahui menyebabkan leukemia dan kanker kandung
kemih. Estrogen dianggap sebagai penyebab adenokarsinoma vagina, kanker
endometrium. Imunosupresive seperti azathioprine dihubungkan dengan
limfoma, kanker kulit dan kanker ganas jaringan lunak.
Tabel 1. Obat dan Hormon Penyebab Kanker
Obat dan hormon yang dapat menyebabkan kanker
Obat atau hormon Tipe kanker
Agen alkilasi (e.g., chlorambucil, Leukemia
mechlorethamine,
melphalan, nitrosoureas)

Anabolit steroid Liver


Anagesik yang mengandung phenacetin Renal
Anthracyclines (e.g., doxorubicin) Leukemia
Antiestrogens (tamoxifen) Endometrium

Estrogens
Nonsteroidal (diethylstilbestrol) Vagina/cervix, endometrium,
breast

Steroidal (estrogen replacement therapy, Endometrium, breast, liver


oral
contraceptives)

Immunosuppressive drugs (cyclosporine, Lymphoma, kanker kulit


azathioprine)

b. Virus-Virus Onkogenik
Dikenal dua jenis virus yang dapat menyebabkan keganasan yaitu:
a) RNA virus menyebabkan leukemia, sarkoma dan urinari papiloma serta
kanker payudara.
b) DNA virus dianggap sebagai penyebab kanker: Eipstein Barr virus,
papilloma virus, Hepatitis B virus. Eipstein Barr virus (EBV) dianggap
sebagai penyebab dari kanker nasofaring. Hepatitis B virus berhubungan
dengan hepatocelluler carcinoma primer.

c. Faktor Herediter
Misalnya, perkembangan kanker pada manusia ditunjukkan ketika
tipe kanker yang sama terdapat pada kembar identik, juga ketika kanker
colon berkembang pada anggota keluarga dengan riwayat poliposis pada
keluarga tersebut. Beberapa kanker diturunkan secara autosomal dominant
seperti neuroblastoma rectum, multiple polyposis colon, kanker tiroid dan
adayang diturunkan secara autosomal recessive seperti xeroderma
pigmentosa.
d. Lingkungan dan Karsinogen Industri
Beberapa jenis hasil industri serta sisa pembakaran dapat
bersifat karsinogenik. Selain itu kebiasaan tertentu dapat mengakibatkan
suatu keganasan, misalnya, pemakai tembakau cenderung mendapat
kanker paru sedangkan pemakai alkohol cenderung mendapat kanker
traktus digestivus. Pekerja industri perminyakan yang banyak
berhubungan dengan polisiklik hidrokarbon dijumpai banyak menderita
kanker kulit. Dengan meningkatnya perhatian terhadap faktor
lingkungan seperti polusi udara, kontaminasi air, proses makanan
termasuk pemakaian nitrat, nitrosamine untuk pengawetan daging serta
sacharine, diduga mempunyai sifat karsinogen yang potensial. Selain hal
tersebut diatas, faktor migrasi penduduk sering menyebabkan pergeseran
atau perubahan pola kanker di suatu daerah.

e. Faktor Sosio Ekonomi


Walaupun belum diketahui dengan pasti, faktor sosial ekonomi
ternyata tampak mempengaruhi insidensi kanker. Kanker gaster dan
cervix dijumpai lebih tinggi pada golongan sosio ekonomi rendah,
sekitar tiga sampai empat kali lebih banyak daripada golongan sosio
ekonomi menengah dan tinggi. Beberapa keadaan klinis seperti
leukoplakia, keratosisactin, polyp colon, polyp rectum, neurofibroma,
dysplasia cervix, dysplasia mucosa bronchus dan colitis ulcerativa kronis
dianggap sebagai keadaan pre kanker, karena pada keadaan tersebut
biasanya diikuti dengan timbulnya kanker sehingga menjadi perhatian
bagi para dokter untuk mengawasi keadaan ini dengan melakukan
pemantauan terhadap penderita tersebut.
3. Patofisiologi Kanker
1) Karsinogenesis
Mekanisme pembentukan neoplasma atau tumor ganas disebut dengan
Karsinogenesis. Karsinogenesis merupakan suatu proses multi-tahap.
Sebagian besar karsinogen sebenarnya tidak reaktif (prokarsinogen atau
karsinogen proximate), namun di dalam tubuh diubah menjadi karsinogen
awal (primary) atau menjadi karsinogen akhir (ultimate). Sitokrom p450
suatu mono-oksidase dependen retikulum endoplasmik sering mengubah
karsinogen  proximate menjadi intermediate defisien elektron yang reaktif
(electrophils). intermediate (zat  perantara) yang reaktif ini dapat berinteraksi
dengan pusat-pusat di DNA yang kaya elektron (nucleophilis) untuk
menimbulkan mutasi. Interaksi antara karsinogen akhir dengan DNA
semacam ini dalam suatu sel diduga merupakan tahap awal terjadinya
karsinogenesis kimiawi. Ko-karsinogen (promoter) sendiri bukan karsinogen.
Promoter berperan mempermudah pertumbuhan dan perkembangan sel tumor
dormant atau latent. Waktu yang diperlukan untuk terjadinya tumor dari fase
awal tergantung pada adanya promoter tersebut dan untuk kebanyakan tumor
pada manusia periode laten berkisar dari 15 sampai 45 tahun. Kanker, atau
neoplasma, diduga berkembang dari sel yang mekanisme normal untuk
mengendalikan pertumbuhan dan proliferasi telah diubah. Proses transformasi
sel normal menjadi sel ganas melalui displasi terjadi melalui mekanisme yang
sangat rumit, tetapi secara umum mekanisme karninogenesis ini terjadi
melalui tiga tahap yaitu: .
a) Inisiasi,
Merupakan tahap pertama karsinogenesis yang bersifat irreversible,
dimana gen pada sel normal bertransformasi menjadi malignan. DNA
dirusak oleh zat-zat inisiator seperti radiasi dan radikal bebas dapat
mengganggu proses reparasi normal, sehingga terjadi mutasi DNA dengan
kelainan pada kromosomnya. Kerusakan DNA ini diturunkan pada anak-
anak sel dan seterusnya. Tahap inisiasi berlangsung dalam satu sampai
beberapa hari. Karsinogen ini menghasilkan kerusakan genetik yang jika
tidak diperbaiki, menghasilkan mutasi seluler yang tidak dapat diubah. Sel
yang bermutasi ini memiliki respons yang berubah terhadap
lingkungannya dan pertumbuhan selektif yang menguntungkan ,
memberikan potensi untuk berkembang menjadi populasi klonal sel-sel
neoplastik.
b) Promosi
Promosi merupakan proses yang bersifat reversibel. Pada proses
floriferasi, fase sel mengalami pengulangan siklus sel tanpa hambatan dan
secara continue terus mengulang. Diteruskan dengan proses metastasis
dimana penyebab utama dari kenaikan morbiditas dan mortalitas pada
pasien dengan keganasan. Dalam berlangsungnya proses ini melibatkan
interaksi kompleks, tidak hanya ditentukan oleh jenis sel kanker itu
sendiri, namun matriks ekstraseluler, membran basal, reseptor endotel
serta respon kekebalan host yang berpartisipasi. Mekanisme metastasis
merupakan indikasi bahwa mekanisme pertahanan host pasien kanker
gagal untuk mengatasi dan memblokir penyebaran sel kanker..
Angiogenesis adalah proses pembentukan pembuluh darah baru yang
terjadi secara normal dan sangat penting dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan. Angiogenesis juga terlibat dalam proses penyembuhan,
seperti pembentukan jaringan baru setelah cidera. Angiogenesis juga
berkembang menjadi sesuatu yang bersifat patologis dan berhubungan
dengan kanker, inflamasi, penyakit kulit dan penyakit mata. Kondisi
patologi angiogenesis ini dikarakterisasi oleh pembentukkan pembuluh
darah baru dan penghancuran sel normal yang ada di sekitarnya. Berbeda
dangan angiogenesis fisiologis, angiogenesis patologi ini dapat
berlangsung lama sampai beberapa tahun karsinogen atau faktor lain
mengubah lingkungan menjadi mendukung pertumbuhan populasi sel yang
bermutasi di atas sel normal. Namun pada titik tertentu,s el yang
bermutasi menjadi kanker (konversi atau transformasi). Bergantung
kepada jenis kanker, 5 hingga 20 tahun dapat berlalu antara fase
karsinogenik dan perkembangan kanker yang dapat dideteksi secara klinis.
c) Pertumbuhan neoplastik (perkembangan)
Melibatkan perubahan genetik lebih lanjut yang menyebabkan
peningkatan proliferasi sel. Unsur-unsur penting dari fase ini termasuk
invasi tumor ke jaringan lokal dan perkembangan metastasis.

2) Dasar Genetika dan Molekuler dari Kanker


a) Dua kelas utama gen terlibat dalam karsinogenesis: Onkogen dan gen
Supresor tumor. Onkogen berkembang dari gen normal, yang disebut
protooncogenes, dan memiliki peran penting dalam semua fase
karsinogenesis. Protooncogenes hadir di semua sel dan merupakan
pengatur penting fungsi sel normal, termasuk siklus sel. Perubahan
genetik dari protooncogene melalui titik mutasi , penataan ulang
kromosom, atau amplifikasi gen mengaktifkan onkogen. Perubahan
genetik ini disebabkan oleh agen karsinogenik seperti radiasi,bahan
kimia, atau virus (mutasi somatik), atau pewarisan (mutasi germ-line).
Setelah diaktifkan, onkogen menghasilkan jumlah keduanya yang
berlebih dari produk gen normal atau produk gen abnormal. Hasilnya
adalah disregulasi pertumbuhan sel normal dan proliferasi, yang
memberikan keuntungan pertumbuhan yang berbeda ke sel dan
meningkatkan kemungkinan transformasi neoplastik. Contohnya adalah
human epidermal growth factor receptor (HER) keluarga onkogen.
Keluarga reseptor tirosin kinase ini mengandung empat anggota: ErbB-
1, juga dikenal sebagai faktor reseptor pertumbuhan epidermal
(EGFR), HER-2, HER-3, dan HER-4. Ketika diaktifkan, reseptor ini
memediasi proliferasi sel dan diferensiasi sel melalui aktivasi reseptor
tirosin kinase intraseluler dan pensinyalan jalur hilir. Sebagai onkogen,
produk gen diekspresikan atau diperkuat, mengakibatkan proliferasi sel
yang berlebihan, metastasis, angiogenesis, dan kelangsungan hidup sel
di beberapa kanker.
Gen penekan tumor mengatur dan menghambat ketidaktepatan
pertumbuhan sel dan proliferasi. Hilangnya gen atau mutasi
mengakibatkan hilangnya kontrol atas pertumbuhan sel normal. Contoh
gen supresor tumor adalah retinoblastoma dan gen p53.Mutasi p53
adalah salah satu perubahan genetik yang paling umum terkait dengan
kanker, dan diperkirakan terjadi pada setengah dari semua keganasan.
Mutasi dari p53 terkait dengan berbagai keganasan, termasuk
tumor otak (astrocytoma); karsinoma payudara, usus besar, paru-paru,
serviks, dan anus; dan osteosarcoma. Fungsi penting lainnya dari p53
mungkin merupakan modulasi efek obat sitotoksik. Kehilangan p53
adalah terkait dengan resistensi obat antineoplastik. Kelompok gen lain
yang penting dalam karsinogenesis adalah gen yang memperbaiki
DNA. Fungsi normal dari gen-gen ini adalah memperbaiki DNA yang
rusak oleh faktor lingkungan, atau kesalahan dalam DNA selama terjadi
replikasi.  Jika tidak diperbaiki, kesalahan ini dapat berakibat mutasi
yang mengaktifkan onkogen atau menginaktifkan penekan gen tumor.
Gen yang memperbaiki DNA bertindak sebagai gen supresor tumor
karena kehilangan fungsi dalam peningkatan risiko karsinogenesis.
Kekurangan dalam gen yang memperbaiki DNA telah ditemukan pada
kanker kolon familial (keturunan) kanker kolon nonpolyposis) dan
sindrom kanker payudara.
b) Onkogen dan gen supresor tumor memberikan stimulasi dan
penghambat sinyal yang pada akhirnya mengatur siklus sel. Sinyal ini
berkumpul pada sistem molekuler dalam inti yang dikenal sebagai
jam sel-siklus. Fungsi clock dalam jaringan normal adalah untuk
mengintegrasikan input sinyal dan untuk menentukan apakah siklus sel
seharusnya diproses. The clock terdiri dari serangkaian protein yang
berinteraksi, yang paling penting adalah siklometer dan kinase
tergantung siklin.Cyclins (terutama cyclin D) dan kinase yang
bergantung pada cyclin-dependent masuk ke siklus sel dan
diekspresikan dalam beberapa kanker,termasuk kanker payudara.
Cyclin-dependent kinase inhibitor telah diidentifikasi sebagai regulator
negatif penting dari siklus sel.
c) Ketika mekanisme pengaturan normal untuk pertumbuhan sel
gagal, sistem pertahanan cadangan dapat diaktifkan. Pertahanan
apoptosis sekunder (kematian sel terprogram atau bunuh diri) dan
penuaan seluler (penuaan). Apoptosis adalah mekanisme kematian sel
normal yang diperlukan untuk homeostasis jaringan.
 Proses ini diatur oleh onkogen dan gen supresor tumor dan juga
merupakan mekanisme kematian seluler setelah terpapar agen sitotoksik.
Overexpression onkogen yang bertanggung jawab untuk apoptosis dapat
menghasilkan " sel abadi", yang telah meningkatkan potensi keganasan.
Contohnya adalah Onkogen bcl-2. Kelainan kromosom yang paling
umum ditemukan pada keganasan limfoid adalah translokasi bcl-2
protooncogene biasanya terletak di kromosom 18. Translokasi dari
protooncogene ini ke kromosom 14, rantai berat gen immunoglobulin
menyebabkan overekspresi bcl2, yang menurunkan apoptosis dan
memberi manfaat kelangsungan hidup bagi sel. Studi menunjukkan
bahwa p53 juga merupakan pengatur dari apoptosis. Telomere adalah
segmen DNA atau topi di ujung kromosom. Mereka bertanggung jawab
untuk melindungi ujung DNA dari kerusakan. Dengan setiap replikasi,
panjang telomere menjadi singkat. Dalam sel kanker, fungsi telomere
dapat diatasi overexpression enzim yang dikenal sebagai telomerase.
Telomerase menggantikan bagian dari telomere yang hilang dengan
masing-masing sel divisi, dengan demikian menghindari penuaan dan
memungkinkan yang jumlah doubling sel yang tak terbatas. Telomerase
adalah target untuk pegembangan obat antineoplastik.

Teori mutasi genetik berurutan ini mengakibatkan pada kanker usus besar.
Di usus besar kanker, mutasi genetik awal diyakini kehilangan gen coli
poliposis adenomatous, yang menghasilkan pembentukan polip jinak kecil.
Mutasi onkogenik dari ras gen sering terjadi langkah selanjutnya, mengarah
ke pembesaran polip. Hilangnya fungsi enzim mismatch yang memperbaiki
DNA dapat terjadi pada banyak titik di perkembangan transformasi maligna.
Hilangnya gen p53 dan gen lain, diyakini sebagai gen " kanker kolorektal",
transformasi menjadi lesi ganas. Jika kehadiran gen-gen ini (yaitu, profil
ekspresi gen) dipercaya dapat memprediksi perjalanan klinis kanker atau
respon untuk terapi kanker tertentu, maka analisis genetik juga bisa menjadi
alat penting untuk keputusan prognostik dan pengobatan. Contoh nya adalah
overekspresi HER-2 memprediksi respons terhadap trastuzumab.
4. Manifestasi Klinik
Tanda Peringatan Tujuh kanker:
 Kebiasaan buang air besar atau kandung kemih yang berubah
 Sakit yang tidak sembuh
 Perdarahan atau keluar yang tidak biasa
 Penebalan atau benjolan di payudara atau di tempat lain
 Gangguan pencernaan atau kesulitan menelan
 Perubahan yang jelas pada kutil atau tahi lalat
 Batuk yang menegur atau suara serak

5. Penatalaksanaan Kanker Prostat

Kanker prostat merupakan neoplasma ganas yang muncul dari kelenjar


prostat. Kanker prostat yang terlokalisasi dapat disembuhkan dengan terapi
radiasi atau operasi. Namun kanker prostat lanjut belum dapat disembuhkan.

Patofisiologi Kanker Prostat

 Prostat normal terdiri dari sel sekretori asinar yang berubah ketika diinvasi
oleh kanker. Tipe sel patologi utama adalah adenokarsinoma (lebih dari
95% kasus).
 Kanker prostat dapat dibai berdasarkan tingkatan. Tumor yang
berierensiasi baik tumbuh secara perlahan, sedangkan tumor yang
berdiferensiasi dengan tidak baik tumbuh cepat dan memiliki prognosis
yang tidak baik.
 Penyebaran metastatik dapat muncul melalui perluasan lokal, pengosongan
limatik, atau diseminasi hematogen. Metastase rangka dari penyebaran
hematogen merupakan tempat yang paling umum untuk penyebaran jauh.
Paru-paru, otak, hati dan kelenjar adrenal merupakan tempat paling umum
dari keterlibatan iseral, namun organ-organ ini biasanya tidak terlihat pada
tahap awal.

Manifestasi Klinis Kanker Prostat


 Kanker prostat yang terlokalisasi biasanya simptomatik
 Kanker prostat invasi lokal diasosiasikan dengan disfungsi ureteral atau
berkenaan dengan hal tersebut seperti perubahan pada mikturisi (contohya
frekuensi urinari, keragu-raguan, aliran urin kecil atau menetes)
 Pasien dengan penyakit lanjut umumnya terdapat nyeri punggung dan
kekakuan sehubungan dengan metastasis tulang. Lesi spinal kordata yang
tidak ditangani dapat mengarah pada penekanan korata. Edema tangan dan
kaki bagian bawah dapat muncul sebagai akibat dari obstruksi limatik.
Anemia dan penurunan berat badan merupakan tanda nonspesifik dari
penyakit lanjut.

Terapi Kanker Prostat

Pencegahan dengan Kemoterapi

 Resiko kanker prostat berkurang 25 % pada pasien yang memakan


finasterid untuk penanganan HPJ.
 Kanker prostat yang didiagnosa pada pasien dengan finasterid lebih
agresif, membuat penggunaannya pada pria tanpa HPJ menjadi
kontroversial.

Pendekatan Umum terhadap Penanganan

 Penanganan awal untuk kanker prostat bergantung pada stadium penyakit ,


skor Gleason, adanya gejala, dan harapan hidup pasien. Terapi paling
sesuai untuk kanker prostat stadium awal tidak diketahui.
 Manajemen yangg mengandung harapan (expectant management), juga
dikenalsebagai observasi atau penantian waspada (watchful waiting),
melibatkan pemantauan rangkaian penyakit dan memulai penanganan
jika penyakit berkembang atau pasien menjadi simptomatik. ASP dan
PDR dilakukan tiap 6 bulan.
 Prostatektomi radikal dan terapi radiasi umumnya dianggap sepadan
untuk kanker prostat terlokalisasi, an keduanya tidak menunjukkan
superior terhadap observasi saja.
 Laki-laki dengan penyakit terbatas terhadap prostat (T1 dan T2bc), tidak ada
gejala, skor gleason 2 hingga 6 atau ASP kurang dari 10 ng/ml berada
pada resiko rendah pada kekambuhan dan memiliki angka keselamtan 10
tahun yang tinggi. Pilihan terapi yang mengandung harapan, radiasi , atau
protatektomi radikal.
 Laki-laki dengan penyakit yang melibatkan lebih dari setengah pada satu
lobus atau kedua lobus (T2bc), skor gleason 7, atau ASP 10-20 ng/ml
berada pada resiko menengah terhadap kekambuhan. Pilihan terapi berupa
manajemen yang mengandung harapan, terapi radiasi, atau prostatektomi
radikal. Jika harapan hidup lebih dari 10 tahun, pilihannya adalah
prostatektomi, atau terapi radiasi.
 Laki-laki dengan penyakit terlokalisasi pada area periprostatik (T3), skor
gleason 8 hingga 10 , atau ASP lebih dari 20 ng/ml berada pada resiko
tinggi terhadap kekambuhan dan sebaliknya ditangani dengan
penghilangan androgen selama 2 hingga 3 tahun dikombinasi dengan
radiasi terapi. Prostatektomi radikal dapat dipertimbangkan pada pasien
dengan volume tumor rendah.
 Laki-laki dengan penyakit terfiksasi atau mengivasi struktur sekitar selain
dari seminal vesikal (T4) berada pada resiko sangat tinggi terhadap
kekambuhan. Penghilangan androgen sebaiknya dimulai pada diagnosis
daripada menunggu onset gejala
 Modalitas penanganan awal utama untuk kanker prostat lanjut adalah
penghilangan androgen (contohnya orkiektomi atau agonis luteinizing
hormone-releasing hormone (LHRH) dengan atau tanpa antiandrogen).
Setelah perkembangan penyakit, manipulasi hormonal sekunder,
kemoterapi sitotoksik, dan pelayanan suportif digunakan.

Operasi Dan Radiasi Terapi


 Prostatektomi dan radiasi terapi berpotensi kuratif namun diasosiasikan
dengan komplikasi yang harus dipertimbangkan terhadap keuntungan yang
diharapkan
 Komplikasi prostatektomi radikal termasuk kehilangan darah,
pembentukan penyempitan, inkotinensi, pembentukan fistula,
risikoanestetik, dan impotensi.
 Komplikasi akut dari radiasi terapi termasuk proktitis, diare, sistisis,
enteritis, impotensi, penyempit anuretral, dan inkotinensi.
 Orkiektomi bilateral secara cepat mengurangi kadar androgen bersirkulasi.

Terapi hormonal

 Rasional dari terapi radiasi didasarkan pada terapi androgen pada


pertumbuhan dan diferensiasi dari prostat normal.
 Testis dan kelenjaran adrenal merupakan sumber utama androgen, secara
spesifik dihidrotestosteron (DHT)
 LHRH dari hipotalamus menstimulasi pelepasan luteinizing hormone (LH)
dan hormone menstimulasi folikel(FSH) dari kelenjar pituitary anterior
 FSH bekerja pada sel testicular sertoli untuk meningkatkan pematangan
reseptor LH dan mengasilkan protein yang mengikat androgen

Agonisluteinizing hormon releasing hormone

 Agonis LHRH menyediakan nilai respon kira-kira 80%, hal ini mirip
dengan orkiektomi, dan memiliki keuntungan bersifat reversible
 Tidak terdapat uji komperatif dari agonis LHRH, sehingga pilihan agonis
LHRH biasanya bergantung harga dan pada preferensi pasien dan dokter
 Efek samping utama dari agonis LHRH adalah penyakit memburuk selama
minggu pertama terapi.

Anti androgen

 Monoterapi dengan flutamid, bikalutamid, dan nilutamid sudah tidak


direkomendasikan lagi berhubung dengan penurunan keselamatan
dibandingkan dengan pasien yang ditangani dengan terapi agonis LHRH.
 Efek samping dari androgen adalah ginekomastia, hot flushes, gangguan
GI, abnormalitas fungsi hati, dan kelembutan payudara.

Kombinasi blokade hormonal

 Peranan kombinasi terapi hormonal, juga dikenal sebagai penghilang


maksimal androgen atau blokade total androgen, terus dievaluasi.
 Hasil uji acak bercampur ketika kandidat untuk terapi lini kedua ditangani
dengan kombinasi androgen ditambahagonis LHRH atau orkiektomi. Meta
analisis terbaru menunjukkan hanya sedikit keuntungan pada 5 lobus
untuk blockade maksimal androgen dengan flutamid atau nilutamid,
dibandingkan dengan konvensional medis atau operasi penghilang saja.
 Beberapa peneliti menganggap kombinasi blockade androgen menjadi
awal terapi hormonal pilihan untuk pasien yang baru di diagnosis karena
keuntungan utama terlihat pada pasien dengan penyakit minimal.
 Hingga uji definitive dipublikasikan, merupakan hal yang sesuai untuk
menggunkana baik monoterapi agonis LHRH atau kombinasi blockade
androgen sebagai terapi awal untuk kanker prostat metastatic

Terapi Penyelamatan

 Pemilihan terapi penyelamatan bergantung pada apa yang digunakan


sebagai terapi awal. Radioterapi dapat digunakan setelah prostatektomi
radikal. Penghilangan androgen dapat digunkan setelah terapi radiasi atau
prostatektomi radikal
 Jika kadar testosterone tidak menurun (contohnya lebih besar dari 20
ng/ml) setelah terapi awal agonis LHRH, suatu anti androgen atau
orkiektomi dapat diindikasikan.
 Jika terapi awal terdiri dari agonis LHRH dan anti androgen lalu
penghentian anti androgen sebaiknya dicoba.
 Inhibitor sintesis androgen menyediakan penghilangan simtomatik namun
singkat pada kira-kira 50% pasien.
 Bisfofonat dapa tmencegah morbiditas rangka, seperti patologi patahan
dan kompresi spinal kordata, ketika digunakan untuk kanker prostat yang
tidak berespon terhadap hormone pada pasien dengan kehilangan tulang
yang signifikan.
 Setelah pilihan hormonal habis, paliasi dapat dicapai dengan strontium-89
atau samarium-153 leksidronam untuk nyeri yang berhubungan deangan
tulang. Analgesic, glukokortikoid, radioterapi local, ataukemotrapi.

Kemoterapi
 Dosetaksel, 75mg/m2 tiap 3 minggu, dikombinasikan dengan prednisone, 5
mg dua kali sehari, telah menunjukkan untuk memperlama keselamatan
pada kanker prostat metastatic yang tidak berespon
 Kombinasi ekstramustin 280 mg secara oral tiga kali seharipadahari 1
hingga 5 dan dosetaksel 60mg/m2 pada hari kedua dari siklus 21 hari juga
memperbaiki keselamatan pada kanker prostat metastatic yang tidak
berespon.

6. Penatalaksanaan Kanker Paru-Paru

Kanker paru-paru merupakan tumor padat yang diklasifikasikan


kedalam 4 tipe sel utama. Konfirmasi histologi dari tipe sel merupakan hal
yang penting dalam perencanaan penanganan karena perbedaan dalam riwayat
alamiah, karakteristik klinik, serta respon terhadap terapi.

Patofisiologi
 Karsinoma paru-paru muncul dari sel epitel pluripoten setelah paparan
tehadap karsinogen (terutama asap rokok), yang dapat menyebabkan
inlamasi kronik dan akhirnya mengarah pada perubahan genetik dan
sitologik yang berkembang pada karsinoma.
 Aktivasi protoonkogen, inhibisi atau mutasi gen penekn tumor dan
produksi faktor pertumbuhan otokrin uga berkontribusi pada polierasi sel
dan transormasi malignan
 Merokok diperkirakan bertanggung jawab pada sekitar 83 % kasus kanker
paru-paru. Paparan di tempat kerja dari lingkungan pada asbes, klorometil
eter, logam berat, hidrokarbon aromatik polisiklik , dan radon.
 Tipe sel utama adalah karsinoma sel skuamosa (<30% dari semua kanker
paru-paru), adenokarsinoma (40%), karsinoma sel besar (15 %), dan
karsinoma paru-paru sel kecil (Small Cell Lung Carcinoma, SCLC atau oat
cell carcinoma; 20 %).
 Untuk menentukan strategi penatalaksanaan dan diagnosis keseluruhan,
adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma sel besar sering
dikelompokkan bersama dan dirujuk sebagai non-small cell lung cancer
(NSCLS).
Manifestasi Klinis

 Batuk, dispnea, nyeri dada, produksi sputum, dan hemoptisis. Gejala


sistemik seperti anoreksia, penurunan bobot badan dan kelelahan.
 Penyakit yang meluas juga dapat menyebabkan defisit neuroloik dari
metastasis SSP,nyeri tulang atau patah tulang sekunder sampai metastasis
tulang, atau disungsi hati dari keterlibatan hepatik.
 Sindrom paraneoplastik yang umumnya terjadi berkaitan dengan kanker
paru-paru termasuk kakheksia, hiperkalsemia, sindrom ketidakcukupan
sekresi hormon antidiuretik, dan Cushing’s syndrom.

Terapi Kanker Paru-Paru

Kemoterapi untuk sel kanker paru yang agak besar

 Sisplatin termasuk dalam regimen yang digunakan dan direkomendasikan


 Kombinasi vinorelbin dan sisplatin bisa meningkatkan ketahanan hidup
dibandingkan jika digunakan tunggal. Vinorelbin memiliki toksisitas yang
rendah dan lebih mudah diberikan pada pasien rawat jalan selama 6-10
menit diikuti dengan 75 sampai 100 ml flush IV
 Infus paklitaksel mudah diberikan dalam 1 jam pada pasien rawat jalan
dan menyebabkan mielosupresi minimal, tapi meningkatkan laju neropati
sensorik perifer.
 Dosetaksel, suatu taksan yang tidak memiliki efikasi dan toksisitas
tergantung regimen seperti paklitaksel. Diberikan IV dengan dosis 75-100
mg/m2 selama 1 jam setiap 3 minggu. Doketaksel disetujui untuk terapi
lini kedua berdasarkan studi yang menunjukkan perbaikan survival
signifikan dibandingkan dengan perawatan suportif terbaik dan parameter
respon lainnya dibandingkan dengan lini kedua ifosfamide
 Gemsitabin disetujui sebagai terapi lini pertama jika dikombinasikan
dengan sisplatin karna berdasarkan studi menunjukkan perbaikan
parameter daya tahan hidup yang signifikan dibandingkan dengan sisplatin
tunggal dan dengan sisplatin yang dikombinasi dengan etoposid.
 Irinotekan menghasilkan laju respon sampai 35% sebagai agen tunggal
dan 40% sampai 54% dalam regimen kombinasi akan tetapi laju respon
tunggal jauh lebih rendah pada pasien yang sebelumnya sudah ditangani

Kemoterapi kombinasi untuk non-small cell lung cancer

Kombinasi Dosis Jadwal Laju Respon


Keseluruhan
(%)
CE
Setiap 3-4
Sisplatin 60-100 mg/m2 IV hari 1 19-30
minggu
Etoposida 80-120 mg/m2 IV hari 2
DDP/VIN 30
Sisplatin 120 mg/m2 IV hari 1 dan Setiap 6
Vindestin 29 minggu
3 mg/m2 IV q minggu x 6 Setiap 6
minggu,
kemudian tiap
2 minggu
MVP
Mitomisin 8 mg/m2 IV hari 1 dan 29
Vindestin 3 mg/m2 IV hari 1, 8, 29,
Sisplatin dan 36 Setiap 6
43
80 mg/m2 IV hari 1 dan minggu
29

ICE
Ifosfamid 1,5 g/m2 IV hari 1-3
Setiap 3
Karbopaltin 300-500 mg/m2 hari 1 43
minggu
Etoposid 60-100 mg/m2 IV hari 1-
3

Kemoterapi untuk sel kanker paru kecil

 Kombinasi kemoterapi tidak lebih unggul dibandingkan terapi agen


tunggal
 Regimen yang mengandung sisplatin menghasilkan ketahanan hidup lebih
baik dan lebih sedikit mielosupresi yang mengancam jiwa daripada
regimen tanpa sisplatin. Karboplatin sering digunakan sebagai pengganti
sisplatin karena efikasinya sama dengan toksisitas lebih kecil
 Hipotesis yang menarik secara teoritis, menyelang dengan regimen yang
tidak menyebabkan resistensi silang, dapat menguntungkan pada pasien
dengan penyakit yang tahapnya terbatas

Regimen kombinasi yang sering digunakan untuk small cell lung

Kombinasi Dosis Jadwal


PE
Sisplatin 60 atau 80 mg/m2 IV hari 1
Setiap 3 minggu x 4
Etoposida 100 mg/m2 IV hari 1-3, atau hari 1, 3,
5
CAV
Siklofospamid 1000 mg/m2 IV hari 1 Setiap 3 minggu x 4
Doksorubisin 40 mg/m2 IV hari 1
Vinkristin 1 mg/m2 IV hari 1
CAE
Siklofospamid 1000 mg/m2 IV hari 1
Setiap 3 minggu
Doksorubisin 45 mg/m2 IV hari 1
Etoposida 50 mg/m2 IV hari1-5 atau 80 mg/m2
CE IV hari 1-3
Karboplatin 300 mg/m2 IV hari 1
Etoposida 100 mg/m2 IV hari 1-3 Setiap 3-4 minggu
ICE
Ifosfamid 1,5 g/m2 IV x 3 hari
Setiap 3 atau 4
Karboplatin 300-350 mg/m2 hari 1
minggu
Etoposida 60-100 mg/m2 x 3 hari

Radiasi terapi dan metastasis otak

 Radioterapi telah dikombinasikan dengan kemoterapi untuk menangani


tumor yang terbatas pada rongga dada. Terapi kombinasi ini dapat
menurunkan insidensi dan memperlambat kekambuhan tumor lokal tetapi
hanya sedikit memperbaiki ketahanan hidup dibandingkan kemoterapi
tunggal
 Karena metastasis SPP sering terjadi, penyinaran kranial profilaksis telah
disertakan pada pasien yang mencapai respon lengkap dengan kemoterapi.
Akan tetapi, kerusakan neurologik dan kognitif mendorong para ahli
merekomendasikan bahwa radiasi kranial baru diberikan bila sudah ada
manifestasi metastasis otak
 Sejalan dengan lebih luasnya penggunaan topotekan, suatu agen yang
dapat melewati sawar darah otak, akan lebih penting untuk mengevaluasi
pengaruhnya pada frekuensi metastasis otak

7. Penatalaksanaan Kanker Rahim


Deskripsi Penyakit
Kanker Uterus yang paling umum bermula pada endometrium. Tipe
kanker ini dinamakan kanker endometrium atau kanker uterus. Suatu tipe
kanker yang berbeda, yaitu sarkoma uterus, berkembang pada otot uterus.

Patoisiologi
 Belum diketahui dengan tepat
 Faktor resiko dari penyakit ini yang sudah diketahui adaah :
 Sering menyerang wanita usia di atas 50 tahun
 Hiperplasia endometrium
 Pemakaian terapi pengganti estrogen.
 Kelebihan bobot badan sehingga estrogennya lebih banyak
 Diabetes dan tekanan darah tinggi.
 Kanker lain. Wanita dengan riwayat kanker kolon, rektum atau
kanker payudara memiliki resiko sedikit lebih tinggi untuk terkena
kanker uterus.

Manifestasi Klinis
 Pendarahan vagina abnormal, terutama setelah monopouse. Pendarahan
dapat berupa keluarnya air berbecak darah yang secara bertahap
mengandung lebih banyak darah.
 Harus dilakukan pemeriksaan klinik pada wanita yang memiliki gejala
sebagai berikut : pendarahan atau keluaran vagina yang abnormal, sukar
atau sakit saat urinasi, nyeri saat bersenggama, nyeti pada daerah pelvis.

Terapi Kanker Rahim


a. Kemoterapi
 Kemoterapi tidak umum digunakan untuk kanker endometrium.
Penanganan ini dapat diberikan untuk penyakit yang sudah mencapai
tahap IV, ketika kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya, atau
jika terjadi kekambuhan. Obat sering diberikan dalam kombinasi dan
dalam siklus. Semua obat diberikan secara intravena.
 Obat kemoterapi yang digunakan untuk kanker uterus: sisplatin,
siklofosfamid, doksorubisin, karboplatin, paklitaksel, dan ifosfamid.
 Regimen kemoterapi kombinasi yang digunakan pada kanker uterus
meliputi: CAP (siklofosfamid, adriamisin, sisplatin); sisplatin dan
doksorubisin; siklofosfamid dan doksorubisin; serta kombinasi
karboplatin dan paklitaksel.
 Laju respon terhadap kemoterapi bervariasi dari 36 % sampai 67 %.
Akan tetapi, pada pasien yang memberikan respon sekalipun, respon
hanya sampai rata-rata delapan bulan.
 Kemoterapi kadang-kadang dikombinasi dengan terapi hormon untuk
menangani kanker uterus yang berada pada tahap lanjut atau
mengalami kekambuhan. Progestin (megestrol asetat, megace)
merupakan penanganan hormon utama yang digunakan. Hormon ini
paoling efektif pada pasien yang memiliki tumor yang terdiferensiasi
dengan baik (tingkat rendah), dan di mana sel tumor memiliki
reseptor untuk hormon estrogen da progesteron (ditentukan melalui
suatu uji yang rutin dilakukan pada tumor). Megace diberikan dengan
rute oral. Dosis tipikal adalah 160 sampai 320 mg per hari.
Dibutuhkan beberapa minggu untuk terjadinya respon.
 Kombinasi tamoksifen dengan megestrol asetat telah diteliti. Selain
itu, inhibitor aromatase juga telah diteliti untuk penanganan rutin
kanker uterus.
 Antara 10%-30% pasien dengna kanker uterus tahap lanjut atau
kekambuhan berespon terhadap terapi hormon. Perbedaan dalam laju
respon dapat disebabkan oleh sensitivitas tumor terhadap hormon,
tingkatan tumor, dan faktor lainnya. Megestrol dapat menyebabkan
efek samping berikut: bertambahnya berat badan, tromboflebitis,
gagal jantung, mual dan muntah, edema, dan nafas pendek.

b. Terapi Farmakologi
Sisplatin
Indikasi:
Kanker testis dan kandung kemih, tumor pyelic dan uretra,
karsinoma prostat, karsinoma ovarium. Tumor ganas kepala dan leher,
kanker paru-paru sel non-kecil. Karsinoma esofagus, kanker uterus, leher
rahim, neuroblastoma.

Dosis:
Tumor testis metastatik: dalam kombinasi dengan bleomisin
sulphate dan vinblastin sulfate: 20 mg/m2/hari IV selama 5 hari berurutaan
dengan doksorubisin HCL: 50 mg/m2 IV sekali setiap 3 minggu. Sebagai
agen tunggal: 100 mg/m2 IV sekali setiap 4 minggu. Kanker kandung
kemih lanjut: sebagai agen tunggal: 50-70 mg/m 2 IV sekali setiap 3-4
minggu. Pasien yang mengalami banyak pretreatment: awal 50 mg/m2
setiap 4 minggu.

Kontaindikasi : Gangguan ginjal parah


Peringatan : kehamilan dan menyusui. Lakukan uji fungsi ginjal,
hematologi dan fungsi liver.
Efek Samping : Gangguan saluran cerna, stomatitis, gagal ginjal,
leukopenia.

8. Pengobatan Kanker Lainnya


a. Modalitas Pengobatan Kanker
Empat modalitas utama digunakan dalam pendekatan terhadap
pengobatan kanker : operasi, radiasi, kemoterapi, dan terapi biologis.
 Operasi, yang memainkan peran utama dalam diagnosis dan pengobatan
kanker. Pilihan perawatan operasi tetap untuk sebagian besar tumor padat
yang didiagnosis pada tahap awal.
 Radiasi terapi pertama kali digunakan untuk pengobatan kanker pada
akhir 1800-an dan tetap menjadi andalan dalam manajemen kanker.
Sangat efektif untuk mengobati berbagai jenis kanker, yaitu perawatan
operasi dan perawatan radiasi lokal. Modalitas ini cenderung
menghasilkan penyembuhan pasien dengan penyakit yang benar-benar
terlokalisasi. Tetapi karena kebanyakan pasien dengan kanker memiliki
penyakit metastasis saat diagnosis, terapi lokal sering gagal untuk
sepenuhnya menghilangkan kanker. Selain itu, penyakit sistemik seperti
leukemia tidak dapat diobati dengan modalitas lokal.
 Kemoterapi (termasuk terapi hormonal) mengakses sirkulasi sistemik dan
secara teoritis dapat mengobati tumor primer dan penyakit metastasis.
 Terapi biologis dipertimbangkan secara lebih luas seperti imunoterapi
atau "terapi bertarget." Imunoterapi, bentuk awal terapi biologis yang
paling penting, biasanya melibatkan merangsang sistem kekebalan inang
untuk melawan kanker. Agen yang digunakan dalam imunoterapi
biasanya sitokin alami, yang telah diproduksi dengan teknologi DNA
rekombinan. Contoh agen yang digunakan dalam imunoterapi termasuk
interferon dan interleukin (IL). Terapi yang ditargetkan termasuk
antibodi monoklonal, inhibitor tirosin kinase, inhibitor proteosom, dan
lain-lain. Terapi adjuvan didefinisikan sebagai penggunaan agen sistemik
untuk membasmi micrometastatic penyakit mengikuti modalitas lokal
seperti operasi atau radiasi atau keduanya. Tujuan terapi sistemik yang
diberikan dalam pengaturan ini adalah untuk mengurangi tingkat
kekambuhan berikutnya dan memperpanjang kelangsungan hidup jangka
panjang. Demikian, terapi adjuvan diberikan kepada pasien dengan
keganasan yang berpotensi dapat disembuhkandan tidak memiliki
penyakit yang dapat dideteksi secara klinis setelah operasi atau radiasi.
Karena terapi ajuvan diberikan pada saat kanker tidak terdeteksi (yaitu,
tidak ada penyakit terukur), keefektifannya tidak bisa diukur dengan
tingkat respons; sebaliknya dievaluasi oleh tari ffekurensi dan
kelangsungan hidup. Nilai terapi adjuvan paling baik di kanker kolorektal
dan payudara. Terapi obat juga dapat diberikan dalam pengaturan
neoadjuvant atau pra operasi. Tujuan dalam hal ini adalah untuk
membuat modalitas pengobatan lainnya lebih efektif dengan mengurangi
tumor dan menghancurkan mikrometastasis. Misalnya, di kepala dan
kanker leher, kemoterapi neoadjuvant digunakan dalam mencoba
mengecilkan tumor besar kemudian reseksi bedah, dan menyimpan
organ penting, seperti pangkal tenggorokan. Penanganan sebagian besar
jenis kanker melibatkan penggunaan modalitas gabungan. Kanker
payudara tahap awal adalah contoh yang baik dalam penggunaan
pendekatan gabungan modalitas. Tumor primer dihapus melalui
pembedahan, dan terapi radiasi dikirim ke sisa payudara (setelah
lumpektomi) atau ke aksila (jika ada keterlibatan kelenjar getah bening
yang ditandai). Terapi adjuvan (kemoterapi, terapi yang ditargetkan,
dan / atau terapi hormonal) kemudian diberikan untuk memberantas
penyakit mikrometastasis.

b. Prinsip Terapi Obat


a) Tujuan Kemoterapi
 Kemoterapi kanker dapat diindikasikan sebagai primer, paliatif,
adjuvant, atau neoadjuvant modalitas pengobatan. Perawatan dengan obat
sitotoksik adalah modalitas utama kuratif untuk beberapa penyakit,
termasuk leukemia, limfoma, choriocarcinoma, dan kanker testis. Tumor
paling padat tidak dapat disembuhkan dengan kemoterapi saja, karena
biologi tumor atau karena penyakit lanjut saat presentasi. Kemoterapi
dalam pengaturan ini sering dimulai untuk tujuan paliatif . Seringkali
untuk mengurangi ukuran tumor atau untuk memperlambat pertumbuhan
dan untuk mengurangi gejala yang tidak diinginkan yang disebabkan
oleh tumor.
b) Dasar Molekuler dan Prinsip Seluler Terapi Obat pada
Pertumbuhan Tumor

Studi pertumbuhan tumor membentuk fondasi sebagai prinsip


dasar kemoterapi kanker modern. Di awal tahapan, pertumbuhan tumor
bersifat eksponensial, yang berarti tumor mengambil jumlah waktu yang
konstan untuk menggandakan ukurannya. Selama fase awal ini, sebagian
besar sel tumor secara aktif membagi. Populasi sel ini disebut fraksi
pertumbuhan. Waktu penggandaan, atau waktu yang dibutuhkan tumor
untuk menggandakan ukuran, sangat pendek. Karena sebagian besar obat
antikanker memiliki efek lebih besar pada pembelahan cepat sel, tumor
paling sensitif terhadap efek kemoterapi ketika tumornya kecil dan fraksi
pertumbuhannya tinggi. Namun, sebagai tumor yang tumbuh, waktu
penggandaan diperlambat.  Pertumbuhan fraksi menurun, mungkin
karena suplai darah tumor yang membesar dan nutrisi atau
ketidakmampuan darah dan nutrisi menyebar ke seluruh massa tumor.
Variabilitas luas dua kali lipat untuk kanker yang berbeda. Waktu
penggandaan tumor paling padat adalah sekitar 2 hingga 3 bulan. Namun,
beberapa tumor memiliki waktu penggandaan hanya beberapa hari
(misalnya, limfoma agresif) dan yang lain bahkan memiliki waktu
penggandaan lebih lama (misalnya, beberapa kelenjar tumor ludah ).
Tumor mengalami sekitar 30 doubling dalam setiap jumlah sel.
Hanya butuh 10 tambahan dua kali lipat untuk massa 1g mencapai 1 kg.
Tumor memiliki 10 sel kanker (1 kg massa) dianggap mematikan. Jadi
tumor secara klinis tidak terdeteksi pada sebagian besar rentang
hidupnya. Sel yang membunuh hipoesis menyatakan bahwa persentase
tertentu dari sel kanker (tidak pasti jumlah sel) akan dibunuh dengan
setiap program kemoterapi. Misalnya, jika tumor terdiri dari 1.000 sel
kanker dan regimen kemoterapi membunuh 90% sel, kemudian 10% atau
100 sel kanker tetap. Kursus kemoterapi kedua membunuh 90% sel
lainnya, dan lagi hanya 10% atau 10 sel yang tersisa. Menurut hipotesis
ini, beban tumor tidak akan pernah mencapai nol. Jumlah tumor kurang
dari 10 sel-sel diyakini cukup kecil untuk eliminasi oleh faktor tuan
rumah , termasuk mekanisme imunologi. Keterbatasan dari teori ini
adalah bahwa mengasumsikan semua kanker sama-sama responsif dan
resistensi obat serta metastasis tidak terjadi.

c) Agen Terapi Farmakologi Klinis dan Endocrine


Agen alkylating efeknya pada sintesis DNA dan protein dengan
mengikat DNA dan mencegah pengikisan molekul DNA. Antimetabolit
menyerupai komponen struktural nuklir alami ("metabolisme"), seperti
basa nukleotida, atau menghambat enzim terlibat dalam sintesis DNA
dan protein. Antibium antibiotik mendapatkan nama mereka dari
sumbernya, mereka adalah fermentasi jenis produk Streptomyces.

d) Antimetabolit
Pirimidin fluorin

Fluorouracil (5-FU) adalah analog fluorinated dari pirimidin yang


terjadi secara alami urasil. Ini adalah prodrug dan harus dimetabolisme
menjadi bentuk nukleotida, fluorodeoxyuridine monophosphate, menjadi
aktif. Di hadapan folat, fluorodeoxyuridine monophosphate mengikat erat
dan mengganggu fungsi sintase thymidylate. Enzim ini diperlukan untuk
sintesis timidin, salah satu dari empat blok bangunan penting dari DNA.
Metabolit lain dari 5-FU, nukleotida triphosphate, dimasukkan ke RNA
sebagai basis palsu, dan mengganggu fungsinya. Interferensi dengan kedua
timidin pembentukan dan fungsi RNA penting dalam menghasilkan
sitotoksik efek dari 5-FU. Meskipun nukleotida 5-FU juga dapat
dimasukkan langsung ke DNA dan mempengaruhi stabilitasnya, kontribusi
untuk kerusakan sel masih belum jelas. Yang paling berhasil dari upaya
modulasi biokimia ini adalah kombinasi fluorourasil dan folat yang
kurang leucovorin. Folat meningkatkan stabilitas fluorodeoxyuridine
kompleks monophosphatehymidylate synthase, dengan demikian
meningkat sitotoksisitas dan kegunaan klinis obat.
Gambar 1. Situs-Situs Tindakan Kategori Umum Agen Antineoplastik.
Oral Fluoropyrimidines Capecitabine
Adalah pirimidin yang aktif secara oral analog uracil dan
merupakan prodrug 5-FU. Karena capecitabine secara enzimatik
dikonversi ke 5-FU, dengan mekanisme yang sama. Menghasilkan tingkat
5-FU yang lebih tinggi secara selektif dalam beberapa
tumor dibandingkan dengan jaringan sehat.
Cytidine Analogs
Cytarabine Cytarabine (ara-C) adalah analog arabinose dari sitosin.
Sitarabin pada awalnya diisolasi dari spons, tetapi sekarang diproduksi
secara sintetis. Ara-C terfosforilasi menjadi bentuk trifosfat aktifnya (ara-
CTP) dalam sel tumor. Ara-CTP menghambat polimerase DNA, suatu
enzim yang bertanggung jawab untuk elongasi untai. Itu juga dimasukkan
langsung ke DNA, di mana ia menghambat replikasi DNA dan bertindak
sebagai terminator rantai untuk mencegah elongasi DNA.Yang paling khas
toksisitas ara-C dosis tinggi (> 1 g / m2 per dosis) rejimen adalah sindrom
serebelar dari dysarthria, nystagmus, dan ataksia. Resiko dari toksisitas
SSP sangat berkorelasi dengan usia lanjut dan ginjal penyelewengan
fungsi.

Azacytidine dan Decitabine Azacytidine


Disetujui pada tahun 2004 dan decitabine pada tahun 2006 untuk
pengobatan pasien dengan myelodysplastic sindrom, gangguan
pematangan sel hematopoietik bisa berkembang menjadi leukemia
mieloid akut. Kedua analog agen nukleosida ini , diyakini menggunakan
efek farmakodinamiknya dengan penggabungan langsung ke DNA dan
penghambatan DNA methyltransferase yang menyebabkan hipometilasi
DNA. Diferensiasi sel dan apoptosis diyakini berasal dari efek ini.
Sitotoksisitas agen-agen ini juga dapat dikaitkan dengan pembentukan
adduct kovalen antara DNA methyltransferase dan obat aktif yang
dimasukkan ke dalam DNA, khususnya di sel aktif . Hipometilasi DNA
juga tampak seperti fungsi gen normal yang mengontrol diferensiasi sel
dan proliferasi, mempromosikan pematangan sel normal. Agen-agen ini
telah menunjukkan kemanjuran dalam memperlambat perkembangan
sindrom myelodysplastic untuk leukemia myelogenous akut (AML),
mengurangi kebutuhan transfusi dan memungkinkan untuk perbaikan
hematopoiesis normal dari waktu ke waktu. Toksisitas utama adalah
mielosupresi.

Purin dan Purine Antimetabolites


6-Mercaptopurine dan 6-Thioguanine dan agen antikanker
terbaru adalah analog sintetis yang terjadi secara alami memurnikan
guanin dan adenin. 6-Mercaptopurine (6-MP) adalah analog purin pertama
pertama untuk digunakan dalam kemoterapi kanker. Analog 6-
Thioguanine dua-amino 6-MP, kedua obat tersebut dengan cepat
dikonversi menjadi ribonukleotida yang menghambat biosintesis purin.
Mereka juga menjalani reaksi interkonversi purin yang diperlukan untuk
memasok prekursor purin untuk sintesis asam nukleat. Metabolisme nyata
menurun dengan pemberian bersamaan xantin oksidase inhibitor
allopurinol, dan toksisitas yang serius. Dosis Oral 6-MP harus dikurangi
ketika allopurinol terisi bersama dengan 6-MP.

Fludarabine Monophosphate

Fludarabine monophosphate adalah analog dari purine adenine.


Seperti sitarabin, fludarabine mengganggu DNA polymerase,
menyebabkan penghentian rantai. Tidak seperti ara-C, fludarabine juga
dimasukkan ke RNA, menghasilkan transkrip terhambat tion. Toksisitas
pembatas dosis yang biasa adalah myelosupresi. Fludarabine bersiat
imunosupresif, dengan infeksi oportunistik terkait dari efek fludarabine
pada sel T dan penurunan dalam jumlah CD4; antibiotik profilaksis dan
obat antivirus direkomendasikan dan harus dilanjutkan hingga jumlah CD4
menormalkan.

Cladribine dan Pentostatin


Cladribine dan pentostatin adalah analog purin nukleosida
dengan mekanisme aksi yang sedikit berbeda. Tahap cladribine terhadap
inaktivasi oleh adenosine deaminase dan triphosphorylated ke bentuk aktif
yang dimasukkan ke dalam DNA, mengakibatkan penghambatan sintesis
DNA dan penghentian rantai awal. Pentostatin adalah penghambat kuat
deaminase adenosin. Adenosine deaminase adalah enzim penting dalam
metabolisme dasar purin dan ditemukan dalam konsentrasi tinggi di
jaringan limfatik. Seperti fludarabine, agen-agen ini memiliki efek
imunosupresif yang menempatkan pasien pada risiko untuk infeksi
oportunistik yang serius.

Antifolat

Vitamin folat adalah kofaktor penting dalam sintesis DNA.


Mereka membawa satu-karbon dalam reaksi transfer yang diperlukan
untuk purin dan sintesis asam thymidylic, dan untuk pembentukan DNA
serta untuk pembelahan sel. Folat alami yang bersirkulasi dalam darah
memiliki satu kelompok asam glutamat, tetapi dalam sel diubah menjadi
poliglutamat, yang merupakan kofaktor yang lebih efisien dan yang lebih
istimewa disimpan di dalam sel. Diet folat harus direduksi secara kimia ke
bentuk tetrahidro, dengan empat hidrogen pada cincin pteridine, menjadi
aktif. Enzim yang bertanggung jawab untuk pengurangan tersebut adalah
reduktase dihydrofolate (DHFR), enzim kunci yang tindakannya dihambat
oleh methotrexate dan antifolat lainnya. Hasil dari penghambatan ini
adalah deplesi kolam intraselular dari folat tereduksi (tetrahidrofolat)
penting untuk sintesis thymidylate dan purine. Efek yang dimediasi DHFR
dari obat antifolate pada sel normal dan mungkin juga pada sel kanker
dinetralkan dengan mensuplai folat yang dikurangi secara eksogen. Yang
mengurangi folat yang digunakan secara klinis untuk “pertolongan” adalah
leucovorin (asam folinic), yang melewati blok metabolik diinduksi oleh
inhibitor DHFR.

Methotrexate
Methotrexate analog asam folat (MTX) adalah paling baik
dipahami semua obat dalam kategori luas antimetabolit. Seperti fisiologis
folat, MTX diangkut intraseluler oleh sistem transpor aktif. Dalam dosis
tinggi, difusi pasif dapat mengatasi resistensi sel tumor yang disebabkan
oleh sistem transportasi aktif jenuh. Resistensi terhadap antifolat juga bisa
disebabkan oleh amplifikasi DHFR.Kemungkinan lain penyebab resistensi
adalah tingkat lambat sintesis thymidylate, penurunan afinitas DHFR
untuk MTX, dan kurangnya polyglutamation dalam sel-sel tumor. Bentuk
folat polyglutamated lebih baik disimpan dalam sel. Ambang batas untuk
efek sitotoksik MTX adalah sekitar 5 × 10 M. Untuk dosis MTX yang
membutuhkan penyelamatan leucovorin (umumnya dosis lebih dari 1.000
mg / m leucovorin harus diberikan sampai level jatuh di bawah 5 ×10–
8 M.

Pemetrexed
Adalah antifolat multitarget yang menghambat setidaknya tiga jalur
biosintesis dalam sintesis timidin dan purin. Selain penghambatan DHFR,
juga menghambat timidin sintase dan glikinamid ribonukleotida
formiltransferase, menurunkan risiko pengembangan resistansi obat.
Hematologi toksisitas berat dan kematian yang terkait dengan sepsis
neutropenik telah dilaporkan dalam uji klinis dengan pemetrexed.
Suplementasi rutin asam folat dan vitamin B  menurunkan kadar zat-zat
tersebut dan menurunkan risiko kematian terkait dengan sepsis
neutropenik. FDA mengatur penggunaan pemetrexed membutuhkan
administrasi asam folat dan vitamin B12  sepanjang durasi pengobatan
dengan obat.

e) Obat-Obatan Microtubule-Targeting
Vinca Alkaloids
Vincristine, vinblastine, dan vinorelbine adalah alkaloid alami
berasal dari tanaman periwinkle (vinca). Mereka bertindak sebagai mitosis
inhibitor, atau "racun spindel." Vinorelbine dan vinblastine terkait dengan
penghentian myelosuppression, sedangkan vincristine menyebabkan efek
myelosuppressive ringan tetapi lebih neurotoksik. Alkaloid Vinca
berikatan dengan tubulin, polimerasi protein struktural untuk membentuk
mikrotubulus. Alkaloid Vinca mengganggu keseimbangan normal antara
polimerisasi dan depolimerisasi mikrotubulus, menghambat pemasangan
mikrotubulus dan mengganggu dinamika mikrotubulus. Hal ini
mengganggu pembentukan mitosis spindel dan menyebabkan sel
menumpuk di mitosis. Mereka juga mengganggu berbagai proses terkait
mikrotubulus dalam sel, dan menginduksi apoptosis. Ketahanan terhadap
alkaloid vinca terutama berkembang dari resistensi multi-obat p-
glikoprotein-dimediasi, akumulasi obat dan retensi dalam sel-sel tumor
yang menurun.

InhibitorTopoisomerase
Topoisomerase adalah enzim penting yang terlibat dalam
mempertahankan DNA struktur topologi selama replikasi dan transkripsi.
Topoisomerase I menghasilkan untai tunggal, topoisomerase II
menghasilkan untai ganda.  Beberapa agen antikanker penting dalam
penargetan topoisomerase
enzim: camptothecins, anthracyclines, dan epipodophyllotoxins.

Etoposide dan Teniposide

Etoposide dan teniposide adalah turunan podophyllotoxin


semisintetik. Podophyllin diekstrak dari mayapple atau tanaman mandrake.
Seperti alkaloid vinca, podofilin sendiri berikatan dengan tubulin dan
mengganggu pembentukan mikrotubulus. Tidak seperti senyawa induk,
etoposide dan teniposide merusak sel-sel tumor dengan menyebabkan
kerusakan untai melalui penghambatan topoisomerase II.  Resistensi
mungkin disebabkan oleh perbedaan tingkat topoisomerase II, oleh
peningkatan kemampuan sel untuk memperbaiki untai, atau dengan
peningkatan kadar P-glikoprotein. Etoposide dan teniposide adalah sel-sel
fase-spesifik dan sel-sel penangkapan di S atau tahap awal G. Akibatnya,
aktivitas jauh lebih besar ketika dikelola dalam dosis terbagi selama
beberapa hari, daripada dalam dosis tunggal yang besar.

g) Alkylating Agen
Cyclophosphamide dan Ifosfamide

Cyclophosphamide dan ifosfamide adalah turunan nitrogen mustard,


dan banyak digunakan sebagai agen alkilasi. Mereka terkait erat dalam
struktur, penggunaan klinis, dan toksisitas. Tidak ada agen yang aktif
dalam bentuk induk dan harus diaktifkan oleh oksidase hepar campuran
enzim termasuk sitokrom P450 (CYP) 2B6 dan CYP3A4 / 5 isoenzim.
Metabolit aktif siklofosfamid adalah fosforamida moster. Metabolit lain,
4hydroxycyclophospha- mide bersifat sitotoksik, tetapi bukan agen
alkilasi. Ifosfamide diaktifkan menjadi mustar ifosfamide. Akrolein, suatu
metabolit dari siklofosfamid dan ifosfamide, memiliki sedikit aktivitas
antitumor, tetapi bertanggung jawab untuk sistitis hemoragik dari agen ini.

Nitrosoureas
Nitrosoureas adalah agen alkilasi yang dicirikan oleh lipofilisitas
dan kemampuan untuk melalui penghalang darah-otak. Carmustine atau
bischloroethylnitrosourea (BCNU) dan lomustine (CCNU) tersedia secara
komersial. BCNU tersedia sebagai obat wafer biodegradable (Gliadel)
untuk aplikasi langsung ke sisa jaringan tumor setelah bedah reseksi
tumor otak. Nitrosourea terurai menjadi metabolisme alkilasi reaktif dan
senyawa isosianat yang memiliki beberapa efek mereproduksi sel.

h) Logam Berat Heavy


Cisplatin, Carboplatin, dan Oxaliplatin

Carboplatin adalah sebuah analog struktural cisplatin di mana gugus


klorida dari senyawa induk digantikan oleh bagian carboxycyclobutane.
Oxaliplatin adalah senyawa organoplatinum di mana platinum
dikomplekskan dengan ligan oksalat sebagai kelompok dan
diaminocyclohexane. Spektrum aktivitas berbeda secara substansial dari
senyawa platinum lainnya, dan termasuk aktivitas penting melawan kanker
kolorektal. Sitotoksisitas turunan platinum tergantung pada platinum
mengikat DNA dan pembentukan intrastrand cross-links atau adducts
antara guanines. Tautan intrastrand ini menyebabkan pembengkokan besar
pada DNA. Mereka dapat menyebabkan kerusakan seluler dengan
mendistorsi konformasi DNA normal dan mencegah basa yang biasanya
dipasangkan satu sama lain. Interstrand tautan silang juga terjadi.

i) Terapi Endocrine
Hormon kortikosteroid juga merupakan agen antikanker yang berguna
karena efek limfotoksik. Penggunaan utamanya adalah pengelolaan
keganasan hematologi, terutama limfoma, leukemia limfositik, dan multiple
myeloma. Selain efek sitotoksik,kortikosteroid memiliki banyak aplikasi
lain dalam perawatan pasien suportif kanker. Kortikosteroid memiliki
toksisitas yang beragam dalam keadaan kronis atau penggunaan dosis
tinggi, tetapi umumnya ditoleransi dengan baik dalam terapi jangka pendek
biasanya digunakan dalam perawatan pasien kanker.

j) Agen Miscellaneous
Bleomycin

Bleomycin atau "bleo" adalah antibiotik antitumor. Merupakan


campuran dari peptida dari spesies jamur Streptomyces, dan kekuatannya
diekspresikan dalam unit aktivitas obat. Satu unit kira-kira sama dengan 1
mg protein polipeptida. Peptida yang dominan adalah bleomycin A2, yang
membentuk sekitar 70% dari produk komersial. Sitotoksisitas bleomycin
bersifat sekunder akibat kerusakan untai DNA, atau scission, yang
dihasilkan melalui pembentukan radikal bebas. Sitotoksisitas tergantung
pada pengikatan kompleks bleomycin-iron ke DNA. Kompleks bleomycin-
besi kemudian mengurangi oksigen molekuler menjadi radikal bebas yang
menyebabkan untai tunggal dalam DNA berhenti . Bleomycin memiliki
efek terbesar pada sel-sel di fase G dari Hydroxyurea. Hemoterapi yang
lebih kuat.

L-Asparaginase

Merupakan enzim yang diproduksi oleh Escherichia coli dan


bakteri lain. L-Asparagine adalah asam amino nonesensial yang dapat
disintesis oleh sebagian besar sel mamalia, kecuali untuk limfoid ganasan
pada manusia tertentu, yang kekurangan atau memiliki tingkat enzim
sintetase yang sangat rendah yang diperlukan untuk formasi L-asparagine.
L-Asparagine terdegradasi oleh enzim L-asparaginase, menghambat
perpaduan protein.. Meningkatnya aktivitas sintetase L-asparagine dalam
tumorsel menyebabkan resistensi terhadap perawatan L-asparaginase.

ArsenikTrioksida
Arsenik adalah unsur organik dan racun yang terkenal dalam
pengobatan yang efektif untuk leukemia promyelocytic akut.  Sebagai
antineoplastik, arsenik trioksida bertindak sebagai agen pembeda,
menginduksi perkembangan pertumbuhan sel kanker menjadi matang.
Serta menginduksi kematian sel terprogram atau apoptosis.

k) Antibiotik Monoklonal

Antibodi monoklonal (Moab) terdiri dari urutan imunoglobulin yang


dikenal untuk mengenali spesifik antigen atau protein pada permukaan sel.
IgG paling banyak umumnya digunakan secara terapeutik. 52 Dua kelas
utama Moab digunakan dalam pengobatan kanker, yang paling umum
adalah Moab yang tidak terkonjugasi. Kelas lain adalah immunoconjugates,
Moab dikonjugasikan ke toksin (immunotoxin), agen kemoterapi, atau
partikel radioaktif (radioimmunoconjugate). MoAB juga dapat dibagi
menjadi agen antigen permukaan sel target dan menginduksi kematian sel
dan orang-orang itu target reseptor faktor pertumbuhan atau ligan. Saat ini,
disetujui MoAB digunakan dalam kanker dengan kode silabus -tu (m) yang
digunakan melawan tumor lain-lain. Jika produk itu terkonjugasi ke zat
kimia lain, seperti racun, atau radiolabel. Selain itu, namanya dari isotop,
simbol elemen, dan nomor isotop harus mendahului nama Moab. Misalnya,
yodium I-131-tositumomab adalah Sebuah murine MoAB yang ditujukan
untuk digunakan pada kanker yang dikonjugasikan itu radioisotop yodium.

Moab pertama yang digunakan pada manusia adalah murine, tetapi


sebagian besar Moab yang digunakan saat ini adalah chimeric, humanized,
atau sepenuhnya manusia. Hipersensitivitas dan reaksi terkait infus, dengan
atau tanpa pengembangan antibodi antimouse manusia (HAMAs),
umumnya terbesar dengan antibodi murine dan paling tidak dengan antibodi
manusiawi. Antibodi manusia tidak diharapkan untuk menyebabkan reaksi
HAMA. Tingkat keparahan reaksi ini bisa beragam dari yang ringan
(misalnya, demam, menggigil, mual, dan ruam) sampai parah, hidup-
mengancam anafilaksis dengan kolaps kardiopulmonal. Reaksi cenderung
menjadi lebih parah dengan infus awal, dan mereda pada perawatan
selanjutnya. Sebagian besar agen membutuhkan premedikasi dengan
antihistamin dan acetaminophen. Tingkat infus yang direkomendasikan
biasanya lebih rendah untuk dosis awal, dengan kenaikan tambahan sebagai
ditoleransi oleh pasien. Paru toksisitas dapat terjadi sebagai bagian dari
reaksi terkait infus atau mungkin terjadi sebagai entitas yang berbeda.

Ada beberapa mekanisme dimana Moab dapat menginduksi


kematian sel kanker. MoAB yang tidak terkonjugasi yang menargetkan
antigen permukaan sel sel kanker dapat secara langsung memediasi
pembunuhan sel melalui aktivasi komplemen (sitotoksisitas tergantung-
komplemen [CDC]), toksisitas seluler yang bergantung pada antibodi
(ADCC), atau signaling kaskade peristiwa yang menyebabkan apoptosis sel
tumor.  Hasil CDC ketika bagian Fc dari sistem MoAB aktif yang
mengarah ke lisis sel tumor. Di ADCC, sel efektor yang mengandung
reseptor Fc berikatan dengan bagian Fc dari MoAB dan baik lisis atau
fagositosis antibodi yang mengandung sel. Sel pembunuh alami, monosit,
dan makrofag semuanya mampu mediasi ADCC. Akhirnya, pengikatan
antibodi dapat terjadi, transmisi signa yang menginduksi apoptosis, atau
diprogram kematian sel yang ditargetkan.   Selain mekanisme kematian sel
di atas, immunoconjugates memberikan obat kemoterapi atau partikel
radioaktif ke lokasi penyakit. Setelah terikat untuk menargetkan antigen,
kemoterapi obat terkonjugasi ke MoAB yang diinternalisasi oleh sel target
dan membunuh sel-sel tumor melalui mekanisme aksi tradisional. MoAB
yang terkonjugasi ke radiasi mengirimkan radiasi yang ditargetkan ke situs
keterlibatan tumor, mengakibatkan kematian sel. Selain membunuh sel
target, radioimmunoconjugates mampu membunuh antigennegative Tumor
melalui serangan balik radiasi .Imunokonjugat sanggup untuk memberikan
terapi ke situs penyakit tertentu sambil membatasi sistemik paparan agen
kemoterapi atau radiasi. Akhirnya, Moab telah dikembangkan dengan
menargetkan mekanisme pertumbuhan sel dan proliferasi.

10. Target Terapi Kanker


Tujuan pengobatan kanker termasuk menyembuhkan, memperpanjang
hidup, dan menghilangkan gejala . Terapi kanker yang ditargetkan adalah obat
atau zat lain yang menghambat pertumbuhan dan penyebaran kanker dengan
mengganggu molekul tertentu ("target molekuler") yang terlibat dalam
pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran kanker. Terapi kanker yang
ditargetkan kadang-kadang disebut "obat-obatan yang ditargetkan secara
molekuler," "terapi-terapi yang ditargetkan secara molekuler," "obat-obatan
presisi," atau nama-nama yang serupa. Terapi yang ditargetkan berbeda dari
kemoterapi standar dalam beberapa cara. Terapi yang ditargetkan bertindak pada
target molekuler spesifik yang dikaitkan dengan kanker, sedangkan kebanyakan
kemoterapi standar bekerja pada semua sel normal dan kanker yang cepat
membelah. Terapi yang ditargetkan sengaja dipilih atau dirancang untuk
berinteraksi dengan target mereka, sedangkan banyak kemoterapi standar
diidentifikasi karena mereka membunuh sel. Terapi yang ditargetkan sering
sitostatik (yaitu, mereka memblokir proliferasi sel tumor), sedangkan agen
kemoterapi standar adalah sitotoksik (yaitu, mereka membunuh sel tumor).

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Kanker adalah suatu kondisi di mana sel telah kehilangan kendali
terhadap mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang
abnormal, cepat dan tidak terkendali. Sel-sel kanker tersebut akan terus
membelah (multiplikasi) tanpa mengikuti faal (fungsi) tubuh normal. Kanker
dapat mengenai seluruh bagian tubuh manusia, misalnya mata, kulit, mulut,
leher (thyroid), jantung, paru, usus, hati, sistem reproduksi dan sebagainya.
Karsinogenesis adalah proses multistep yang meliputi inisiasi, promosi,
konversi, dan pengembangan. Pertumbuhan sel normal keduanya dan sel
kanker secara genetik dikendalikan oleh keseimbangan atau
ketidakseimbangan onkogen, protoonkogen, dan tumor penindas produk
protein gen. Banyak mutasi genetik diperlukan untuk mengubah sel normal
menjadi sel kanker. Apoptosis dan penuaan sel adalah mekanisme normal
untuk kematian sel.
Tujuan pengobatan kanker termasuk menyembuhkan, memperpanjang
hidup, dan menghilangkan gejala. Bedah dan terapi radiasi memberikan
kesempatan terbaik untuk menyembuhkan pasien dengan kanker lokal, tetapi
metode pengobatan sistemik diperlukan untuk kanker yang telah tersebar luas.
Terapi adjuvant adalah terapi sistemik yang diberikan untuk mengobati setiap
micrometastases yang ada tersisa setelah eksisi bedah penyakit lokal.
2. Saran
Kanker merupakan penyakit yang banyak menyerang masyarakat
Indonesia. Dan tidak sedikit diantaranya berujung pada kematian. Kanker dapat
disebankan oleh beberapa faktor. Diantaranya herediter dan pola hidup yang
tidak sehat. Salah satu pola hidup yang tidak sehat adalah dengan tidak
memilter asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh yang
dapat memberikan efek karsinogen. Oleh sebab itu, hendaknya kita dapat
menjaga tubuh kita agar tetap sehat, dengan rutin melakukan kebiasaan sehat
dan mengkonsumsi makanan yang sehat. Kritik dan saran sangat kami
harapkan untuk menunjang makalah ini lebih baik kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA

Dipiro,Joseph T,et al.2008.Pharmacotherapy a Phatophisiologic Approach 7th


edition.New York: Mc Rrawhill

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK20935/

http://oncotherapy.us/pdf/Cancer_SB.pdf
Pasaribu, Emir Taris.2006.Epidemiologi dan Etiologi Kanker.Majalah
Kedokteran Nusantara Vo.39.Sumatera Utara:Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.

Smith RA, Cokkinides V, Brawley OW. Cancer screening in the United States,
2009 a review of current American Cancer Society guidelines and issues
in cancer screening. CA Cancer J Clin 59: 27 2009. Review

Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2013.ISO FARMAKOTERAPI 2.Jakarta Barat:Ikatan


Apoteker Indonesia

www.zeiss.com/.../60-3-0003_e.pdf