Anda di halaman 1dari 23

1.

Senam Hamil
a. Pengertian
Pada ibu hamil sangat dibutuhkan tubuh yang sehat dan bugar, di upayakan
dengan makan dan tidur, cukup, istirahat dan olah tubuh sesuai takaran. Dengan tubuh
bugar dan sehat, ibu hamil dapat menjalankan tugas rutin sehari–hari, menurunkan
stress akibat rasa cemas yang dihadapi menjelang persalinan.
Jenis olah tubuh yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil. Gerakan
senam hamil disesuaikan dengan banyaknya perubahan fisik seperti pada organ genital,
perut tambah membesar, dan lain lain. Dengan mengikuti senam hamil secara teratur
dan intensif, ibu hamil dapat mengikuti dapat menjaga kesehatan tubuh dan janin
yang dikandung secara optimal. Aktif berolahraga senam kehamilan, jalan pagi atau
sore selama kehamilan akan membantu seorang wanita hamil merasa lebih mudah
melalui masa–masa 9 bulan kehamilannya dan membantu melancarkan saat proses
persalinan (Maryunani dan Sukarti, 2011, p. 47; Ayu, Sekar. S. 2012, p.13-14).
Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukkan bagi ibu hamil.
Senam hamil merupakan suatu usaha untuk mencapai kondisi yang optimal dalam
mempersiapkan proses persalinan dengan cara dirancang latihan–latihan bagi ibu hamil
(Mufdlilah, 2009, p. 55; Maryunani dan Sukarti, 2011, p. 47).
b. Alasan Senam Hamil
Senam hamil sebaiknya dilakukan oleh ibu hamil dengan alasan antara lain:
1) Senam hamil merupakan salah satu cara untuk membuat ibu hamil nyaman dan
mudah dalam persalinan.
2) Senam hamil mengakibatkan peningkatan norepinefrin di dalam otak, sehingga
meningkatkan daya kerja dan mengurangi rasa tegang (Maryunani dan Sukarti,
2011, p. 49).
c. Tujuan
1) Persalinan yang fisiologis (alami) dengan ibu dan bayi sehat.
2) Persiapan mental dan fisik untuk ibu hamil.
3) Kontraksi dengan baik, ritmis dan kuat pada segmen bawah rahim, serviks, otot–otot
dasar panggul.
4) Relaksasi.
5) Informasi kesehatan (termasuk) tentang kehamilan kepada ibu, suami, keluarga atau
masyarakat (Mufdlilah, 2009, p. 55).
d. Manfaat Senam Hamil
Berikut ini adalah beberapa manfaat Senam Hamil antara lain:
1) Menyesuaikan tubuh agar lebih baik dalam menyangga beban kehamilan.
2) Memperkuat otot untuk menopang tekanan tambahan.
3) Membangun daya tahan tubuh.
4) Memperbaiki sirkulasi dan respirasi.
5) Menyesuaikan dengan adanya pertambahan berat badan dan perubahan
keseimbangan.
6) Meredakan ketegangan dan membantu relaks.
7) Membentuk kebiasaan bernafas yang baik.
8) Memperoleh kepercayaan dan sikap mental yang baik (Maryunani dan Sukarti,
2011, p. 50).
e. Indikasi
1) Semua kasus kehamilan yang sehat.
2) Usia kehamilan 4–6 bulan dan keluhan–keluhan sudah berkurang atau hilang. Tidak
dimulai saat hamil lebih dari 8 bulan (kurang bermanfaat).
3) Senam hamil yang aman yang sekarang di ajarkan adalah senam pilates dengan
teknik pernapasan (Mufdlilah, 2009, p. 56; Subakti dan Anggrani, 2010, p. 242).
f. Kontraindikasi
1) Anemia gravidarum.
2) Hyperemesis gravidarum.
3) Kehamilan ganda.
4) Sesak nafas.
5) Tekanan darah tinggi.
6) Nyeri pinggang, pubis, dada.
7) Tidak tahan dengan tempat panas atau lembab.
8) Mola hydatidosa.
9) Perdarahan pada kehamilan.
10) Kelainan jantung.
11) PEB (Pre eklamsia berat) (Mufdlilah, 2009, p. 56)
g. Peralatan
1) Kaset.
2) Tape recorder.
3) Alas/matras.
4) Baju senam.
5) Ruangan aman nyaman.
h. Persyaratan
1) Setiap kelas di ikuti 6–12 orang dengan umur kehamilan yang sama.
2) Jauh dari keramaian.
3) Tenang, bersih, dan warna cat yang terang.
4) Ventilasi cukup.
5) Dekat kamar mandi.
6) Ruang dilengkapi cermin.
7) Ada tiang besi yang kuat tertanam di tembok setinggi panggul ibu.
8) Terdapat gambar yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, menyusui,
perkembangan janin, dsb.
9) Besar ruangan sesuai keadaan, jarak antara kasur 0,5 m.
10) Ukuran kasur 80 x 200 m.
11) Bantal tipis dan selimut (kalau perlu).
12) Pakaian senam: longgar dan tertutup.
i. Lama Senam
Pelaksanaan senam hamil sedikitnya seminggu sekali dalam waktu sekitar 30–60 menit.
(Jannah, 2012, p. 160; Mufdlilah, 2009, p.55-57).
j. Metode Senam Hamil
Berikut ini adalah tahapan–tahapan Latihan Senam Hamil yakni:
1) Latihan I
a) Duduk rileks dan badan ditopang tangan dibelakang.
b) Kaki diluruskan dengan sedikit terbuka.
c) Gerakan latihan:
(1) Gerakan kaki kanan dan kaki kiri kedepan dan kebelakang.
(2) Putar persendian kaki melingkar kedalam dan keluar.
(3) Bila mungkin angkat bokong dengan bantuan kedua tangan dan
ujung kedua telapak kaki.
(4) Kembangkan dan kempiskan otot dinding perut.
(5) Kerutkan dan kendorkan otot dubur.

Gambar 2.1 Gerakan latihan 1

d) Lakukan gerakan ini sedikitnya 8–10 kali setiap gerakan.

2) Latihan II
a) Sikap duduk tegak dengan badan disangga oleh tangan dibelakang badan.
b) Kedua tungkai bawah lurus dalam posisi rapat.
c) Tujuan latihan:
(1) Melatih otot dasar panggul agar dapat berfungsi optimal saat persalinan.
(2) Meningkatkan peredaran darah alat kelamin bagian dalam sehingga
sirkulasi menuju plasenta makin sempurna.
d) Bentuk latihan:
(1) Tempatkan tungkai kanan di atas tungkai bawah kiri, silih bergantian.
(2) Kembangkan dan kempeskan otot dinding perut bagian bawah.
(3) Kerutkan dan kendorkan otot liang dubur.
(4) Lakukan gerakan ini sedikitnya 8–10 kali
Gambar 2.2 Gerakan Latihan 2 Untuk Otot Dasar Panggul

3) Latihan III
a) Sikap duduk bersila dengan tegak.
b) Tangan di atas bahu sedangkan siku disamping badan.
c) Tujuan latihan:
(1) Melatih otot perut bagian atas.
(2) Meningkatkan kemampuan sekat rongga badan untuk membantu
persalinan.
d) Bentuk latihan:
(1) Lengan diletakkan didepan (dada).
(2) Putar keatas dan kesamping, kebelakang dan selanjutnya kembali
kedepan badan (dada).
(3) Lakukan latihan ini sedikitnya 8–10 kali.

Gambar 2.3 Latihan 3 untuk melatih otot perut

4) Latihan IV
a) Sikap duduk bersila dengan tumit bersekatan satu sama lain
b) Badan tegak rileks dan paha lemas.
c) Kedua tangan di persendian lutut.
d) Tujuan latihan:
(1) Melatih otot punggung agar berfungsi dengan baik.
(2) Meningkatkan peredaran darah kealat kelamin bagian dalam.
(3) Melatih agar persendian tulang punggung jangan kaku.
e) Bentuk latihan:
(1) Tekanlah persendian lutut dengan berat badan sekitar 20 kali.
(2) Badan diturunkan kedepan semaksimal mungkin.
5) Latihan V
a) Sikap latihan tidur di atas tempat tidur datar.
b) Tangan di samping badan.
c) Tungkai bawah di tekuk pada persendian lutut dengan sudut tungkai bawah
bagian bawah sekitar 80–90 derajat.
d) Tujuan latihan:
(1) Melatih persendian tulang punggung bagian atas.
(2) Melatih otot perut dan otot tulang belakang.
e) Bentuk latihan:
(1) Angkat badan dengan topangan pada ujung telapak kedua kaki dan bahu.
(2) Pertahankan selama mungkin di atas dan selanjutnya turunkan perlahan–
lahan.

Gambar 2.4 Latihan 5 untuk melatih otot tulang belakang

6) Latihan VI
a) Sikap tidur terlentang di tempat tidur mendatar.
b) Badan seluruhnya rileks.
c) Tangan dan tungkai bawah lurus dengan rileks.
d) Tujuan latihan:
(1) Melatih persendian tulang punggung dan pinggul.
(2) Meningkatkan peredaran darah menuju alat kelamin bagian dalam.
(3) Meningkatkan peredaran darah menuju janin melalui plasenta.
e) Bentuk latihan:
(1) Badan dilemaskan pada tempat tidur
(2) Tangan dan tungkai bawah membujur lurus.
(3) Pinggul di angkat kekanan dan kekiri sambil melatih otot liang dubur.
(4) Kembang dan kempeskan otot bagian bawah.
(5) Lakukan latihan ini sedikitnya 10–15 kali.

Gambar 2.5 Latihan 6 untuk melatih persendian panggul

k. Latihan Pernapasan
1) Sikap tubuh tidur terlentang di tempat tidur yang datar.
2) Kedua tangan di samping badan dan tungkai bawah ditekuk pada lutut dan santai.
3) Satu tangan di letakkan di atas perut.
4) Tujuan latihan pernapasan:
a) Meningkatkan penerimaan konsumsi oksigen ibu dan janin.
b) Menghilangkan rasa takut dan tertekan.
c) Mengurangi nyeri saat kontraksi.
5) Bentuk latihan:
a) Tarik nafas perlahan dari hidung serta pertahankan dalam paru beberapa saat.
b) Bersamaan dengan tarikan nafas tersebut, tangan yang berada di atas perut ikut
serta di angkat mencapai kepala.
c) Keluarkan napas melalui mulut perlahan.
d) Tangan yang diangkat ikut serta diturunkan.
e) Lakukan gerakan latihan ini sekitar 8–10 kali dengan tangan silih berganti.
6) Bentuk gerakan lain:
a) Tangan yang berada di atas perut di biarkan mengikuti gerak saat di lakukan
tarikan dan saat mengeluarkannya.
b) Tangan tersebut seolah–olah memberikan pemberat pada perut untuk
memperkuat diafragma (sekat rongga badan).

Gambar 2.6 Latihan pernapasan

l. Latihan relaksasi
Latihan relaksasi dapat dilakukan bersamaan dengan latihan otot tulang
belakang, otot dinding perut dan otot liang dubur atau sama sekali relaksasi
total.

Gambar 2.7 Latihan relaksasi

1) Latihan Relaksasi Kombinasi


a) Sikap tubuh seperti merangkak.
b) Bersikap tenang dan rileks.
c) Badan disangga pada persendian bahu dan tulang belakang.
d) Tujuan latihan kombinasi:
(1) Melatih melemaskan persendian pinggul dan persendian tulang paha.
(2) Melatih otot tulang belakang, otot dinding perut, dan otot liang dubur.
e) Bentuk latihan:
(1) Badan disangga persendian bahu dan tulang paha.
(2) Lengkukan dan kendorkan tulang belakang.
(3) Kembangkan dan kempiskan otot dinding perut.
(4) Kerutkan dan kendorkan otot liang dubur.
(5) Lakukan latihan ini 8–10 kali.
f) Bentuk latihan yang lain:
(1) Tidur miring dengan kaki membujur.
(2) Telentang dengan disangga bantal pada bagian bawah lutut.
(3) Tidur terlentang dengan kaki ditekuk.
(4) Tidur miring dengan kaki ditekuk.

Gambar 2.8 Latihan relaksasi kombinasi

2) Latihan Relaksasi dengan Posisi Duduk Telungkup


a) Sikap tubuh duduk menghadap sandaran kursi.
b) Kedua tangan disandaran kursi.
c) Kepala diletakkan di atas tangan.
d) Tujuan relaksasi:
(1) Meningkatkan ketenangan.
(2) Mengurangi pengaruh yang berasal dari luar.
(3) Mengendalikan dan mengurangi rasa nyeri.
(4) Latihan ini dapat dilakukan pada kala pertama (masa pembukaan
pada proses persalinan) sehingga mengurangi nyeri.
e) Bentuk latihan:
(1) Tarik napas dalam dan perlahan.
(2) Dilakukan pada kala pertama.
Gambar 2.9 Latihan Relaksasi dengan Posisi Duduk Telungkup

j. Latihan Menurunkan dan Memasukkan Kepala Janin ke Pintu Atas Panggul.


Untuk mengusahakan agar kepala janin masuk pintu atas panggul dapat
dilakukan latihan sebagai berikut:
a) Sikap badan berdiri tegak dan jongkok.
b) Berdiri dengan berpegangan pada sandaran tempat tidur atau kursi dan jongkok.
c) Tujuan latihan:
(1) Dengan jongkok selama beberapa waku diharapkan tulang panggul
melengkung, sehingga rahim tertekan.
(2) Sekat rongga badan menekan rahim sehingga kepala janin dapat masuk pintu
atas panggul.
d) Bentuk latihan:
(1) Lakukan berdiri dan jongkok, tahan beberapa saat sehingga tekanan pada rahim
mencapai maksimal untuk memasukkan kepala janin ke pintu atas panggul.
Gambar 2.10 Latihan memasukkan kepala janin ke
pintu atas panggul.

e) Bentuk latihan lain:


(1) Membersihkan lantai dengan tangan sambil bergerak sehingga tekanan
sekat rongga badan dan tulang belakang menyebabkan masukknya
kepala janin kedalam pintu atas panggul.
m. Latihan Koordinasi Persalinan Urutan latihan adalah:
a) Sikap badan dengan dagu diletakkan kearah dada sampai menyentuhnya.
b) Tulang punggung di lengkungkan.
c) Pinggul ditarik keatas.
d) Paha ditarik kearah badan dengan jalan menarik persendian lutut dengan tangan
mencapai siku.
e) Badan melengkung demikian rupa sehingga terjadi hasil akhir kekuatan his untuk
mengejan.

Gambar 2.11 Latihan koordinasi persalinan

Sumber: Manuaba, 2010, p. 117–123

n. Latihan Anti Sungsang


a) Tujuan: Agar letak bayi normal, yaitu letak bayi dengan kepala di bawah dan kaki
di atas.
b) Posisi: ibu hamil merangkak
c) Kegiatan:
1. Kepala diletakkan di antara kedua telapak tangan melihat ke samping.
2. Siku diturunkan dibawah dan bergeser sejauh mungkin kesamping sehingga
dada menyentuh kasur selama setengah menit.
d) Anjuran: buatlah 6 kali gerak dalam satu kali latihan dalam sehari.

Gambar 2.12 Latihan anti sungsang


o. Senam yang harus dihindari
1) Menaikkan kedua kaki bersamaan

Gambar 2.13 Menaikkan kedua kaki secara bersamaan.

2) Sit – up dengan kaki lurus

Gambar 2.14 Sit – up dengan kaki lurus

Sumber: Ester, 2008, p. 119–120

p. Metode senam pilates


Senam kehamilan sangat bermanfaat untuk menjaga dan meningkatkan
kebugaran anda. Kebugaran ini dapat diperoleh karena latihan senam pilates
melatih napas, merilekskan pikiran, dan melancarkan peredaran darah. Prinsip
senam kehamilan ini pertama kali dirumuskan oleh Joseph Pilates pada tahun
1920 dengan metode pengontrolan kosentrasi dan kebugaran tubuh. Pilates
memadukan gerakan yoga dan senam. Banyak ibu hamil yang memilih olahraga.
Dengan latihan pilates tubuh akan menjadi lebih kuat dan segar, karena
olahraga ini memang melatih otot–otot tubuh serta elastisitas (Subakti dan
Anggrani, 2010, p. 242; Naviri, 2012, p.173–174)

q. Hal – hal yang perlu diperhatikan


1) Gerakan senam jangan dipaksakan tetapi sesuai dengan kemampuan klien.
2) Setelah senam klien di anjurkan untuk minum air putih.
(Maryunani dan Sukaryati, 2011, p. 63).
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Poppy. 2010. Serba-serbi Senam Hamil. Yogyakarta: Intan Media

Ayu, Sekar. 2012. Efektivitas Senam Hamil Sebagai Pelayanan Prenatal dalam Menurunkan
Kecemasan Menghadapi Persalinan Pertama. Universitas Airlangga Surabaya

Ester, M. 2008. Senam Hamil dan Nifas Pedoman Praktis Bidan. Jakarta: EGC

Jannah, N. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan: Kehamilan. Yogyakarta: Andi Yogyakarta

Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Ed. 2. Jakarta: EGC

Maryunani, Sukarti. 2011. Senam Hamil, Senam Nifas, Terapi Musik. Jakarta: Trans Info Media

Mufdlilah. (2009). Panduan Asuhan Kebidanan Ibu Hamil. Yogyakarta: EGC

Naviri, Tim. 2012. 100 Fakta Seputar Tidur yang Perlu Anda Tahu. Jakarta: PT Elex media
Komputindo
2. Persiapan Menjadi Orang Tua
Menjadi orangtua bukan pekerjaan yang mudah, tetapi tidak juga sulit yang
dibayangkan. Salah satu kunci sukses menjadi orangtua sukses adalah mempersiapkan
diri dari kedua belah pihak.
Menjadi orangtua merupakan mimpi bagi mereka yang sudah membina rumah
tangga. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika sudah mempersiapkan hal ini sejak awal.
Dimulai dari persiapan kehamilan sampai kelahiran. Namun ini bukan saja menjadi tugas
seorang istri, tetapi juga suami. Beberapa hal yang harus dipersiapkan antara lain:
a. Persiapan Fisik
1) Hentikan kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol. Himbauan ini
berlaku bagi calon ayah dan ibu. Perokok aktif dan pasif dapat membuat janin
mengalami gangguan pertumbuhan. Asap rokok yang terhirup oleh calon ibu
dapat mengahmbat suplai oksigen, sehingga resiko janin lahir prematur menjadi
lebih tinggi. Minuman berakohol membuat calon ibu menghadapi resiko
keguguran karena kandungan menjadi melemah. Sedangkan para pria, kadar
alkohol yang tinggi membuat jumlah sel sperma sedikit jumlahnya sehingga tidak
cukup untuk pembuahan.
2) Calon orangtua harus mulai mengonsumsi makanan dengan gizi tinggi.
Membatasi asupan makanan bergula dan berlemak tinggi sangat dianjurkan.
Usahakanlah dalam kondisi berat badan yang ideal agar pembuahan berlangsung
sempurna.
3) Lakukanlah tes kesehatan untuk memastikan kondisi kesehatan calon ibu. Jika
dalam pemeriksaan calon ibu dinyatakan mengalami gangguan kesehatan tertentu,
biasanya dokter akan menyarankan agar pasangan menunda dulu kehamilan
sampai calon ibu dinyatakan sehat.
4) Melakukan vaksinasi yang perlu dilakukan oleh ibu untuk melindungi janinnya
selama kehamilan dan menjalani proses persalinan.
b. Persiapan Psikologis
Bagi calon ayah dan ibu, proses kehamilan hingga melahirkan akan menjadi
pengalaman istimewa. Namun, pengalaman yang luar biasa akan dirasakan ketika
pasangan suami-istri menjadi orangtua. Jadi sebelum memiliki anak sebaiknya
diskusikan perubahan dan tantangan hidup yang akan dialami sehingga calon orangtua
telah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
c. Persiapan Finansial
Persiapan finansial bisa dikatakan sama pentingnya dengan persiapan fisik
maupun psikologi. Persiapan yang dimaksud adalah perencanaan keuangan untuk
mencukupi keperluan anak sejak masih berada dalam kandungan hingga lahir.
Kehadiran seorang bayi berarti pertambahan biaya tetap bagi sebuah keluarga, yang
secara tetap akan meningkat seiring kebutuhan pertumbuhan anak. Orangtua adalah
penentu kehidupan anak selanjutnya dan orang tualah yang memiliki tanggung jawab
untuk mendidik anak agar baik dalam hal kepribadian, sosialisasi, penyesuaian dan
pengendalian diri, kemampuan berpikir dan lain hal yang kelak akan menentukan
keberhasilan dan kemandirian anak yang juga menentukan keberhasilan anak saat
menjadi orangtua.
Dalam kaitannya dengan kehadiran bayi sebagai anggota keluarga baru, maka
diperlukan adaptasi yang baik oleh suami sebagai seorang ayah dan adaptasi anggota
keluarga lainnya yaitu saudara dari bayi tersebut karena terjadi perubahan pola
interaksi sehingga tercipta keserasian dalam kehidupan keluarga.
Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola
interaksi dalam keluarga harus dikembangkan (May, 1994).
d. Adaptasi Paternal
Jordan (1990) mendeskripsikan 3 proses perkembangan yang dialami oleh calon
ayah dan ibu,yaitu mengaitkan dengan realitas akan kehamilan dan anak, mengenal
peran orang tua dari keluarga dan lingkungan masyarakat, serta berusaha melihat
relevansi akan childbearing.
1) Realitas akan Kehamilan dan Anak
Pria akan menunjukkan reaksi bangga dan gembira ketika diberitahu
tentang berita kehamilan istrinya, walaupun dia akan menunjukkan gejala
ambivalen seperti istrinya, terutama dalam hal komitmen dan penambahan
tanggung jawab. Kehadiran janin akan menjadi nyata bagi calon ayah saat ia
mendengarkan denyut jantung janin, merasakan pergerakan janin, serta melihat
janin melalui sonogram.
2) Mengenal Peran Orang Tua
Selama masa kehamilan dan melahirkan, tanggung jawab utama pria yaitu
memberikan dukungan penuh kepada istrinya. Mereka terkadang kecewa karena
hanya dianggap sebagai pendukung dan penolong, bukan sebagai bagian dari
calon ornag tua. Maka dari itu, diadakan grup pendukung atau kelas bagi calon
ayah mengenal perannya lebih jauh. Dalam forum ini pria lain yang sudah
berpengalaman berbagi pengalamannya dalam menghadapi kehamilan,
melahirkan, dan bahkan mengasuh anak.
3) Ketika seorang ibu melahirkan anak, suatu hal yang ingin diketahui ialah: seperti
apakah atau seperti siapakah anak saya? Ini suatu keingintahuan yang biasa dan
wajar. Namun sebenarnya ada satu hal yang lebih penting lagi yaitu akan seperti
apakah kelak anak saya ini? Suatu pertanyaan dengan rentangan panjang,
memakan waktu lama untuk bisa menjawabnya, dan sulit untuk bisa diramalkan
antara apa yang ada dan apa yang akan terjadi, serta antara yang terlihat dan apa
yang akan diperlihatkan.
4) Anak yang baru lahir berada dalam keadaan lemah, tidak berdaya, tidak bisa apa-
apa, tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak bisa memenuhi kebutuhan-
kebutuhannya sendiri. Jadi ia tergantung sepenuhnya pada lingkungannya,
lingkungan hidupnya, terutama orang tua dan lebih khusus lagi ialah ibunya.
Mengenai lingkungan hidup yang menjadi tokoh pusat ialah orang tua. Merekalah
yang berperan besar, langsung atau kadang-kadang tidak langsung, berhubungan
terus-menerus dengan anak, memberikan perangsang (stimulasi) melalui berbagai
corak komunikasi antara orang tua (terutama ibu) dengan anak.
5) Berdasarkan pada hal-hal tersebut diatas, orang tua jelas berperan besar dalam
perkembangan dan memperkembangkan kepribadian anak. Orang tua menjadi
faktor penting dalam menanamkan dasar kepribadian yang ikut menentukan corak
dan gambaran kepribadian seorang setelah dewasa. Jadi, gambaran kepribadian
yang terlihat dan diperlihatkan seseorang setelah dewasa banyak ditentukan oleh
keadaan dan proses-proses yang ada dan terjadi sebelumnya.
6) Dalam usaha atau tindakan aktif orang tua untuk mengembangakan kepribadian
anak, perlu memperhatikan aspek-aspek perkembangan sebagai berikut :
a) Dalam kaitan dengan pertumbuhan fisik anak
Perlakuan dan pengasuhan yang baik disertai dengan lingkungan sehat
memungkinkan anak hidup sehat, jauh dari keadaan yang mempermudah
timbulnya sakit dan penyakit perlu sekali di perhatikan. Pengetahuan praktis
mengenai kadar gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan anak
perlu diketahui orang tua. Juga diperlukan pengetahuan- pengetahuan praktis
mengenai kebutuhan- kebutuhan anak, kebutuhan dasar dan mineral, untuk
memungkinkan anak berkembang sebaik-baiknya.

b) Dalam kaitannya dengan perkembangan sosial anak


Pergaulan adalah juga merupakan suatu kebutuhan untuk
memperkembangkan aspek sosial anak. Seorang anak membutuhkan anak
lain atau kelompok yang kira-kira sebaya. Melalui hubungan dengan
lingkungan sosialnya, anak sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak
langsung terpengaruh pribadinya. Peniruan menjadi salah satu faktor yang
sering terjadi dalam proses pembentukan pribadi anak. Maka penting
diperhatikan siapa atau dengan kelompok mana anak boleh berinteraksi,
dianjurkan atau sebaliknya menghindari atau sesedikit mungkin bergaul.
c) Dalam kaitannya dengan perkembangan mental anak
Komunikasi verbal antara orang tua dengan anak, khususnya pada tahun-
tahun pertama kehidupan anak, besar pengaruhnya untuk perkembangan
mentalnya. Anak memahami arti sesuatu mulai dari yang kongkrit sampai
yang abstrak. Kecuali dari usaha anak sendiri yang bereksplorsi didalam
lingkungannya, mendengar, mengamati dan mengolah menjadi pengetahuan-
pengetahuan, juga berasal dari perangsangan- perangsangan yang diberikan
oleh orang-orang yang ada di sekeliling hidup anak. Mengajak anak berbicara
sambil membimbing lebih lanjut mempunyai dampak positif bagi
perkembangan aspek mentalnya.
d) Dalam kaitannya dengan perkembangan rohani anak
Pengetahuan anak mengenai perbuatan baik atau tidak batik, boleh atau
tidak boleh dilakukan, diperoleh dari usaha anak sendiri yang secara aktif
memperhatikan, meniru dan mengolah dalam alam pikirannya dan lebih lanjut
menjadi sikap dan perilakunya. Namun dalam banyak hal peranan dari orang
tua juga cukup besar dalam mempengaruhi perkembangan aspek moral dan
rohani anak.
7) Orang tua sedikit demi sedikit membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku
anak sesuai dengan patokan atau ukuran orang tua, sesuai dengan kitab suci dan
ajaran- ajaran agama.
e. Peran dari Keterlibatan Ayah dalam Childbearing
1) Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama) adalah keluarga yang
menantikan kelahiran yang dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak
pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan

2) Peran calon ayah dapat dimulai selagi kehamilan istri membesar dan semakin
kuat saat bayi dilahirkan. Pada periode awal seorang ayah harus mengenali
hubungannya dengan anak, istri, dan anggota keluarga lainnya. Periode
berikutnya ayah dapat mencerminkan suatu waktu untuk bersama-sama
membangun kesatuan keluarga, periode waktu berkonsolidasi ini meliputi peran
negosiasi (suami istri, ibu-ayah,orang tua-anak,saudara-saudara) untuk
menetapkan komitmen . perode yang berlangsung akan membutuhkan waktu.
3) Terjadi waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu serta ayah dan seluruh anggota
keluarga, dalam hal ini orang tua, saudara atau anggota keluarga lainnya harus
dapat beradaptasi terhadap perubahan stuktur karena adanya anggota keluarga
baru yaitu bayi, dengan kehadiran seorang bayi maka sistem dalam keluarga akan
berubah serta pola pikir keluarga harus dikembangkan.
4) Calon ayah terkadang mengobservasi pria lain yang sudah menjadi ayah dan
mencoba bersikap seperti seorang ayah untuk menentukan kenyamanan dan
kesesuaian dengan konsepnya akan peran seorang ayah. Calon ayah mencari
informasi tentang perawatan dan tumbuh-kembang bayi, sehingga ia dapat
mempersiapkan diri untuk tanggung jawab yang baru. Meskipun ia mendapatkan
pengetahuan yang banyak akan persiapan menjadi ayah, akan tetapi ia tetap saja
belum siap untuk mempelajarinya saat ini, sehingga ia mungkin masih abstrak
akan pengetahuan dan pelatihan tentang perawatan bayi. Maka dari itu, perawat
harus mengulang kembali informasi-informasi tersebut setelah bayi lahir,
sehingga pengetahuannya menjadi relevan dengan praktiknya.
f. Adaptasi Saudara Kandung
Jika saudara kandung tidak dipersiapkan dari awal dalam menghadapi anggota
keluarga baru, maka dikhawatirkan akan terjadi sibling rivalry. Hal yang dapat
dilakukan untuk menghindari terjadinya sibling, antara lain:
1) Anak diberitahu sejak awal tentang kehamilannya
2) Anak diberi kesempatan merasakan bayinya bergerak dalam rahim
3) Anak dilibatkan dalam membantu persiapan kelahiran adiknya
4) Bantu anak untuk menyesuaikan pada perubahan ini
5) Kenalkan anak dengan profil bayi
6) Mengajak anak saat memeriksakan kehamilannya
3. Sibling Rivalry
Kehadiran anggota keluarga baru (bayi) dalam keluarga dapat menimbulkan situasi
krisis terutama pada saudara-saudaranya, sehingga perlu dipersiapkan
a. Pengertian Sibling Rivalry
Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling
bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu
perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling
rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih,
afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan
pengakuan atau suatu yang lebih.
Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara
laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang
mempunyai dua anak atau lebih.
Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal
yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun
sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar
anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship.
b. Penyebab Sibling Rivalry
Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain:
1) Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin
menunjukkan pada saudara mereka.
2) Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari
orang tua mereka.
3) Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan
anggota keluarga baru/ bayi.
4) Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi
proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.
5) Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai
pertengkaran.
6) Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai
permainan dengan saudara mereka.
7) Dinamika keluarga dalam memainkan peran.
8) Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam
keluarga adalah normal.
9) Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota
keluarga.
10) Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
11) Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.
12) Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada
mereka.
c. Segi Positif Sibling Rivalry
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi
positifnya, antara lain:
1) Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa
keterampilan penting.
2) Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
3) Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.
4) Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus
menjadi fasilitator.
d. Mengatasi Sibling Rivalry
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry,
sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
1) Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.
2) Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
3) Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
4) Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama
lain.
5) Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
6) Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari
satu sama lain.
7) Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
8) Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.
9) Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka
sendiri.
10) Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan
kekerasan fisik.
11) Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan
untuk anak-anak.
12) Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu
sama lain.
13) Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
14) Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua
sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry
yang paling bagus.
e. Adaptasi Kakak Sesuai Tahapan Perkembangan
Respon kanak-kanak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan
bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan. Biasanya anak-anak kurang
sadar akan adanya kehadiran anggota baru, sehingga menimbulkan persaingan dan
perasaan takut kehilangan kasih sayang orang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul
dan merupakan petunjuk derajat stres pada anak-anak ini
Tingkah laku ini antara lain berupa:
1) Masalah tidur.
2) Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.
3) Kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti: ngompol dan menghisap
jempol.
f. Batita (Bawah Tiga Tahun)
Pada tahapan perkembangan ini, yang termasuk batita (bawah tiga tahun) ini
adalah usia 1-2 tahun. Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini antara lain:
1) Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum
kelahiran.
2) Mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan anak batitanya dengan menanyakan
perasaannya terhadap kehadiran anggota baru.
3) Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh
anaknya.
4) Memperkuat kasih sayang terhadap anaknnya.
g. Anak yang Lebih Tua
Tahap perkembangan pada anak yang lebih tua, dikategorikan pada umur 3-12
tahun. Pada anak seusia ini jauh lebih sadar akan perubahan-perubahan tubuh ibunya
dan mungkin menyadari akan kelahiran bayi. Anak akan memberikan perhatian
terhadap perkembangan adiknya. Terdapat pula, kelas-kelas yang mempersiapkan
mereka sebagai kakak sehingga dapat mengasuh adiknya.
h. Remaja
Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada
remaja yang merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang
larut dalam perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja
yang menghadapi kehadiran anggota baru dalam keluarganya, misalnya:
1) Berkurangnya ikatan kepada orang tua.
2) Remaja menghadapi perkembangan seks mereka sendiri.
3) Ketidakpedulian terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka
sendiri.
4) Keterlibatan dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi.