Anda di halaman 1dari 5

Nama : Yohanna Simajuntak

NIM : 2193342002
Prodi/kelas : Pendidikan Musik/ 2019C
Tugas Bab III

1. Dewasa ini sering diberitakan di Koran terjadinya tawuran antarpelajar di kota-kota. Menurut
anda factor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya tawuran tersebut? Kemudian jelaskan
apa usaha yang dapat dilakukan oleh organisasi profesi guru untuk menanggulangi
permasalahan itu?
Jawab: Factor yang menyebabkan terjadinya tawuran:
1. Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan
adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks Tapi pada remaja yang terlibat
perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu
untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri
dari masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih
menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering
berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki
emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah
diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau
pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa
kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan
kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja
akan tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan
identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan
dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang
dibangunnya.

3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus


mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari
kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya
untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan
dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih
senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu
masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya
guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh
otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk
berbeda) dalam “mendidik” siswanya.

4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja


alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan
rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk
(misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-
sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya
Nama : Yohanna Simajuntak
NIM : 2193342002
Prodi/kelas : Pendidikan Musik/ 2019C
itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian
reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.

Usaha yag dapat dilakukan oleh organisasi profesi guru untuk menanggulangi permasalahan itu:
1. Para Siswa wajib diajarkan dan memahami bahwa semua permasalahan tidak akan
selesai jika penyelesaiannya dengan menggunakan kekerasan.
2. Lakukan komunikasi dan pendekatan secara khusus kepada para pelajar untuk
mengajarkan cinta kasih.
3. Pengajaran ilmu beladiri yang mempunyai prinsip penggunaan untuk menyelamatkan
orang dan bukan untuk menyakiti orang lain.
4. Ajarkan ilmu sosial Budaya, ilmu sosial budaya sangat bermanfaat untuk pelajar
khususnya, yaitu agar tidak salah menempatkan diri di lingkungan masyarakat.
5. Bagi para orang tua, mulailah belajar jadi sahabat anak-anaknya. Jangan jadi polisi,
hakim atau orang asing dimata anak. Hal ini sangat penting untuk memasuki dunia
mereka dan mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan atau rasakan. Jadi kalau
ada masalah dalam kehidupan mereka orang tua bisa segera ikut menyelesaikan
dengan bijak dan dewasa.
6. Bagi para Polisi dan aparat keamanan, jangan segan dan aneh untuk dekat dengan
para pelajar secara profesional, khususnya yang bermasalah-bermasalah itu. Lebih
baik tidak menggunakan acara-acara formal dalam pendekatan ini, melainkan masuk
dengan cara santai dan rileks. Upama ketika para pelajar ini cangkrukkan atau
kumpul-kumpul, ikutlah kumpul dengan mereka secara kekeluargaan dan gaul,
sehingga mereka akan merasa ada kepedulian dari negara atas masalah mereka.
Aparat Polisi dan keamanan yang gaul dan bisa mereka terima akan menjadi kode
bahwa negara memperhatikan generasi ‘lupa diri’ ini untuk kembali menjadi ingat
bahwa tak ada alasan yang cukup kuat bagi mereka menggelar tawuran.
7. Pada awal masuk sekolah, sebagian pelajar yang tawuran ini sebenarnya jarang yang
saling kenal. Jika kemudian mereka menjadi beringas dengan orang yang sama sekali
sebelumnya tak dikenal, karena ada kata-kata, dendam, slogan, pemikiran, hasutan
dan sejenisnya yang masuk kepada mereka dari senior atau orang luar tentang
kejelekan sesama pelajar yang akhirnya jadi musuh. Inilah bahaya mulut, otak dan
hati yang harus dibersihkan kemudian diluruskan. Tak mungkin clurit berbicara jika
ketiga unsur tadi tidak rusak sebelumnya. Razia terhadap benda-benda tajam itu
mungkin efektif dalam masa pendek, namun untuk jangka panjang perlu dirumuskan
bagaimana melakukan brainwash kepada para pelajar ini agar kembali ke jalan yang
benar.
8. Buat sekolah khusus dalam lingkungan penuh disiplin dan ketertiban bagi mereka
yang terlibat tawuran. Ini adalah cara memutus tali dendam dan masalah dalam dunia
pelajar kita. Jadi siapapun dan dari sekolah manapun yang terlibat tawuran, segera
tangkap dan masukkan dalam sekolah khusus yang memiliki kurikulum khusus bagi
mereka. Dengan jalan tersebut, setidaknya teman atau adik kelas mereka tak akan lagi
Nama : Yohanna Simajuntak
NIM : 2193342002
Prodi/kelas : Pendidikan Musik/ 2019C
terpengaruh oleh ide-ide gila anak-anak yang suka tawuran ini. Tentu semua hal
tersebut harus didukung penuh oleh pemerintah dan semua pihak karena biaya dan
tenaga yang dibutuhkan awalnya akan sangat besar. Tapi apalah artinya semua itu
jika akhirnya kita akan menemukan kedamaian dalam dunia pendidikan kita.
9. Perbanyaklah Kegiatan Ekstrakulikuler di Sekolah. Kegiatan yang biasa dilakukan
sehabis selesai KBM dapat mencegah sang pelajar dari kegiatan-kegiatan yang
negatif. Misalkan ekskul futsal, setelah selesai futsal pelajar pasti kelelahan sehingga
tidak ada waktu untuk keluyuran malam atau hang out dengan teman lainnya.
10. Pengembangan bakat dan minat pelajar. Setiap sekolah perlu mengkaji salah satu
metode ini, sebagai acuan sekolah dalam mengarahkan mereka sesuai dengan
keinginan mereka sendiri dan tentunya orangtua pun menyetujuinya. Penelusuran
bakat dan minat bisa mengarahkan potensi dan bakat mereka yang terpendam.
11. Pendidikan Agama dari sejak dini. Sangat penting sekali karena apabila seorang
pelajar memiliki basic agama yang baik tentunya bisa mencegah pelajar tersebut
untuk berbuat yang tidak terpuji karena mereka mengetahui akibatnya dari perbuatan
tersebut. Agama harus ditanamkan sejak dini, banyak sekolah-sekolah atau madrasah
yang bisa menjadi referensi pendidikan seorang anak dan biasanya mulai KBMnya
siang setelah selesai sekolah dasar. Dasar agama yang kuat membuat seorang pelajar
memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
12. Boarding School (Sekolah berasrama). Bisa menjadi salah satu alternatif mencegah
pelajar dari tawuran. Biasanya di sekolah ini, waktu belajar lebih lama dari sekolah
umum. Ada yang sampai jam 4 sore, setelah maghrib ngaji atau pelajaran agama.
Selesai isya pelajar biasanya pergi ke perpustakaan untuk belajar atau mengerjakan
tugas. Jam 8 malam, pelajar baru bisa istirahat atau lainnya. Sekolah ini sangat efektif
menurut saya, pelajar tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan dunia luar karena
kesibukan mereka. Interaksi ada namun hanya satu kali dalam seminggu.
2. Dalam rangka peningkatan mutu profesi keguruan dewasa ini, lebih banyak program
yang direncanakan dan diselenggarakan oleh Pemerintah disbanding dengan yang
direncanakan oleh organisasi profesi sendiri. Menurut pendapat anda manakah yang lebih
efisien, diselenggalaran oleh Pemerintah atau oleh organisasi profesi sendiri? Berikan
alasan anda yang lengkap
Jawab : Saya rasa lebih bermutu jika yang menyelenggarakannya ialah organisasi profesi
sendiri.Mengingat pemerintah bukan hanya mengurusi satu masalah saja,tetapi banyak
topik dan permasalahan yang lebih penting yang harus diatasi pemerintah.Walaupun
memang jika diselengggarakan oleh pemerintah maka biaya yang diperlukan akan cepat
ditangani,tetapi jika dilakukan organisasi profesi pun,dapat mengajukan proposal atas
kegiatan yang diselenggarakan untuk meningkatkan kulitas guru dewasa.
3. Kembangkan dalam kelompok anda 1 gagasan atau ide tentang sikap guru terhadap
implementasi kurikulum dengan issu “Sikap guru professional terhadap kelanjutan
implementasi Kuriklum 2013 di NKRI”. Rekayasa ide disusun dalam makalah mini
Nama : Yohanna Simajuntak
NIM : 2193342002
Prodi/kelas : Pendidikan Musik/ 2019C
(max. 4 halaman kuarto) yang didukunh oleh data factual dan dipresentasikan secara
berkelompok.
Jawab : Salah satu pembeda kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya ialah
scientific approach. Namun, masih banyak guru yang merasa kesulitan menerapkan
pendekatan tersebut dalam mengajar. Kurikulum 2013 memang merupakan instrumen
peningkatan mutu pendidikan. Namun, kurikulum bukan satu-satunya alat untuk
meningkatkan mutu dari pendidikan tersebut. Peran kepala sekolah dan guru menjadi
pendukung utama, agar kurikulum 2013 dapat secara signifikan meningkatkan mutu
pendidikan indonesia hingga kini belum memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap
berdasarkan outputnya. Karena selalu berubah-ubah, tidak tetap.
Kurikulum 2013 sesuai dengan kurikulum KTSP mata pelajaran harus ditentukan
terlebih dahulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, tetapi pada kurikulum
2013 pola pikir tersebut dibalik. Kedua, kurikulum 2013 memiliki pendekatan yanh lebih
utuh dengan berbasis pada kreatifitas peserta didik. Dalam kurikulum 2013 ditekankan
pada penguatan karakter. Ketiga, pada kurikulum baru didesain berkesinambungan antara
kompetensi yang ada di SD, SMP, SMA.
Guru sebagai ujung tombak penerapan kurikulum, diharapkan bisa menyiapkan
dan membuka diri terhadap beberapa kemungkinan terjadinya perubahan.Kesiapan guru
lebih penting dari pada pengembangan kurikulum 2013. Kenapa guru menjadi penting?
Karena dalam kurikulum 2013, bertujuan mendorong peserta didik, mampu lebih baik
dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan
(mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima
materi pembelajaran.Melalui empat tujuan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi
sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif,
dan lebih produktif.Disinilah guru berperan besar didalam mengimplementasikan tiap
proses pembelajaran pada kurikulum 2013. Guru ke depan dituntut tidak hanya cerdas
tapi juga adaptip terhadap perubahan. Kurikulum 2013 yang secara nasional mulai
diberlakukan tahun ajaran lalu terus menjadi sorotan dan menuai beragam kritik.
Utamanya menyangkut implementasi yang dinilai masih banyak kekurangan. sulitnya
mengubah mindset guru, perubahan proses pembelajaran dari teacher centered ke student
centered, rendahnya moral spiritual, budaya membaca dan enelitimasihrendah.Kemudian,
kurangnya penguasaan teknologi informasi, lemahnya penguasaan bidang administrasi,
dan kecenderungan guru yang lebih banyak menekankan aspek kognitif. Padahal,
semestinya guru juga harus memberikan porsi yang sama pada aspek afektif dan
psikomotorik. banyak guru yang belum mau menjadi manusia pembelajar. Padahal,
seorang guru dituntut untuk terus menambah pengetahuan dan memperluas
wawasannya,terlebih setelah diberlakukannya kurikulum 2013."Kurikulum 2013 ini
menuntut guru untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Artinya, guru harus menjadi
manusia pembelajar," tegas Furqon. (Ferdinand).
Nama : Yohanna Simajuntak
NIM : 2193342002
Prodi/kelas : Pendidikan Musik/ 2019C
Perubahan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 ini memang merupakan
suatu langkah maju dari pemerintah Indonesia untuk menciptakan generasi yang lebih
baik dan berkualitas. Baik dan berkualitas ini ditinjau dari segi penguasaan pengetahuan,
penguasaan keterampilan, dan juga dimilikinya karakter yang mampu memperbaiki citra
bangsa Indonesia yang bermartabat. Kurikulum 2013 diciptakan sebagai penyempurna
dari kurikulum sebelumnya. Dalam implementasi kurikulum 2013 ini tentunya guru
dituntut untuk lebih meningkatkan kinerjanya. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari
pendidik ini sangat diperlukan agar dapat melaksanakan kurikulum 2013 sesuai dengan
amanat kurikulum. Bukankah untuk menciptakan generasi berpengetahuan tinggi,
berketerampilan, dan berkarakter bagus diperlukan guru yang pengetahuan, keterampilan,
dan karakternya dapat diandalkan. Rasanya akan menjadi mustahil jika guru yang
berpengetahuan terbatas, tidak memiliki keterampilan mengajar yang baik, dan
berkarakter negatif akan dapat menciptakan generasi yang baik. Untuk ini, implementasi
kurikulum 2013 ini menuntut guru untuk mengubah paradigma negatif tentang kurikulum
sehingga dengan terbuka melaksanakan kurikulum 2013 ini sesuai dengan yang
seharusnya. Di samping itu, guru juga perlu meningkatkan kualitas dirinya agar
pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dibutuhkan dapat berkembang sesuai
dengan perkembangan profesionalismenya.