Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu fiqih dan ushul fiqih tumbuh dan berkembang dengan berpijak
dan merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Masalah-masalah utama
yang menjadi bagian dari ushul fiqih seperti soal ijtihad, qiyas, nasakh dan
takhsis. Sebagaimana kesepakatan seluruh ulama ilmu fiqih yang berbeda
mazhab, bahwa seluruh tindakan manusia (ucapan, perbuatan dalam
ibadah dan muamalah) terdapat hukum-hukumnya. Hukum-hukum
tersebut sebagian telah dijelaskan di dalam nash-nash al-Qur’an dan as-
Sunnah. Meskipun sebagian yang lain belum terdapat penjelasan, namun
syari’at Islam telah memberikan dalil dan isyarat-isyarat tersebut.
Para imam mazhab sepakat dengan dalil yang dikemukakan oleh
Imam Syafi’i dalam kitab al-Risalah yakni al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan
Qiyas. Pendapat tersebut benar adanya bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah
merupakan sumber hukum utama yang saling berkaitan dan tidak bisa
dipisahkan satu sama lain. Hukum seluruhnya sudah termaktub didalam al-
Qur’an dan as-Sunnah sebagai penjelas al-Qur’an dan as-Sunnah . Pada
dasarnya kedua sumber inilah yang selalu diutamakan dalam mencari
ketetapan hukum.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja yang menjadi sumber hukum fiqih ?
2. Apa faedah mempelajari ilmu fiqih ?
3. Apa saja masalah-masalah yang di bahas dalam ilmu fiqih ?
4. Bagaiamana perbandingan imu fiqih dengan ilmu-ilmu yang lain ?
5. Bagaimana pendapat para mazhab mengenai fiqih ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sumber-sumber hukum fiqih.
2. Untuk mengetahui faedah mempelajarai ilmu fiqih.
3. Untuk mengetahui masalah-masalah yang di bahas dalam ilmu fiqih.
4. Untuk mengetahui perbandingan ilmu fiqih dengan ilmu lainnya.
5. Untuk mengetahui pendapat para mazhab mengenai fiqih.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sumber-sumber Ilmu Fiqih


1. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sumber fiqih yang pertama dan paling utama.
Agar tidak terjadi tumpang tindih dengan pengantar Ilmu Tafsir, maka
dalam membahas Al-Qur’an ini tidak di sajikan hal-hal semacam ayat
Makiyah dan Madaniyah serta ciri-cirinya , kemukjizatan Al-quran,
ayat pertama dan terakhir, pengumpulan Al-Qur’an dan lain
sebagainya. Hal-hal yang disajikan disini adalah sejauh yang menyakut
hukum dalam Al-Qur’an.
Yang dimaksud dengan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tertulis dalam mushaf
berbahasa Arab, yang sampai kepada kita dengan jalan Mutawatir, dan
membacanya mengandung nilai ibadah, dimulai dengan surat al-
Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.1
Adapun hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an ada tiga
macam yaitu:
a. Hukum iqtidaiyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan
keimanan kepada Allah. Kepada Malaikat , kepada Kitab-kitab
Allah, kepada para Rasulullah, dan kepada hari akhir.
b. Hukum khuluqiyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan
akhlaq. manusia wajib berakhlaq yang baik dan menjauhi akhlaq
yang buruk.
c. Hukum Amaliah, yaitu hukum yang berkaitan dengan amal
perbuatan manusia. Hukum amaliyah ini ada dua macam, yaitu
mengenai ibadah dan muamalahdalam arti luas.2

1
Djazuli, Ilmu Fiqih, (Jakarta:Prenada Media,2005) hlm.62
2
Mardani, Ushul Fiqih,(Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA,2013) hlm.118

3
Berdasarkan penelitian para hukum, dalam Al-Qur’an yang
berkaitan dengan bidang ibadah dan bidang al-Ahwal al-
syakhshiyah disebut lebih terperinci dibanding dengan bidang-
bidang hukum yang lainnya. Hal ini menunjukan bahwa manusia
memerlukan tuntunan yang lebih ban yak dari Allah SWT. Dalam
hal beribadah dan pembinaan keluarga.
Kebijakan al-qur’an dalam menetapkan hukum menggunakan
prinsip-prinsip :
1. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan. Di jelaskan
pada QS. At-Thalq:7

ً ‫ۚ اَل يُ َكلِّفُ هَّللا ُ نَ ْف‬


‫سا إِاَّل َما آتَا َها‬
Artinya “ Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai)
dengan apa yang diberikan Allah kepadanya”

2. Menyedikitkan tuntunan.
3. Bertahap dalam menerapkan hukum.
4. Sejalan dengan kemaslahtan manusia.3

2. As-Sunnah
Kata sunnah secara bahasa berarti “perilaku seseorang tertentu,
baik perilaku yang baik atau perilaku yang buruk”
Sedangkan menurut istilah syar’i adalah perkataan, perbuatan dan
taqrir (persetujuan) yang berasal dari Rasulullah SAW.
As-Sunnah merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah
al-Quran, sebagai pejelas dan memperinci ayat al-Quran yang mujmal.4

3
Djazuli, Ilmu Fiqih, (Jakarta:Prenada Media,2005) hlm.64
4
Hasbiyallah, Fiqih & Ushul Fiqih, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2013) hlm.20-21

4
Dari definsi tersebut, sunnah dapat dibedakan kepada tiga macam
yakni:
a. Sunnah qauliyah (ucapan), yaitu ucapan Nabi yang didengar oleh
sahabat beliau dan disampaikan kepada orang lain.
b. Sunnah fi’liyah (perbuatan), yaitu perbuatan yang dilakukan oleh
Nabi Muhammad SAW. Yang dilihat atau diketahui oleh sahabat,
kemudian disampaikan kepada orang lain dengan ucapannya.
c. Sunnah taqririyah (persetujuan), yaitu perbuatan seorang sahabat
atau ucapannya yang dilakukan dihadapan atau sepengetahuan
Nabi, tetapi tidak ditanggapi atau dicegah Nabi.5
Adapun fungsi Al-Sunnah terhadap Al-Qur’an dalam hukum
adalah:
1. Al-Sunnah berfungsi sebagai penjelas, memerinci yang mujmal
mengkhususkan yang umum. Seperti cara-cara shalat disebutkan
dalam sunah, beberapa barang yang wajib di zakat, dan
membatasi wasiat minimal sepertiga harta.
2. Hukumnya sudah disebut dalam Al-Qur’an kemudian Al-Sunnh
menguatkannya dan menambahnkannya seperti dalam kalus liyan
yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an kemudian Sunnah
menyebutkan wajibnya bercerai antara suami istri yang
melakukan lian.
3. As-sunnah memberi hukum tersendiri yang tidak terdapat dalam
al-Qur’an seperti kekharaman memadu seorang wanita dengan
bibinya, haramnya memakan binatang yang bertaring. 6

3. Ijma’
Ijma’ menurut istilah ahli ushul fiqih ialah persepakatan para
mujtahid kaum muslimin dalam suatu masa sepeninggal Rasullah SAW,
terhadap suatu hukum syar’i mengenai suatu peristiwa.

5
Mardani, Ushul Fiqih,(Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA,2013) hlm.141
6
Djazuli, Ilmu Fiqih, (Jakarta:Prenada Media,2005) hlm.69-70

5
Sebagai relasi dari ta’rif tersebut ialah apabila terjadi suatu
peristiwa yang memerlukan adanya ketentuan hukum, kemudian
setelah peristiwa iti dikemukakan kepada para mujtahid dari kaum
muslimin, mereka lalu mengambil persepakatan terhadap hukum
peristiwa tersebut, maka persepakatan itulah disebut ijma’. Putusan
ijma’ ini merupakan suatu dalil sya’ri terhadap masalah itu. 7
Kedudukan Ijma sebagai sumber hukum islam didasari oleh hadis
Nabi yang menegaskan bahwa pada hakikatnya ijma’ adalah milik
umat islam secara keseluruhan.8

4. Qiyas
Menurut bahasa qiyas berasal dari bahasa arab yang merupakan
bentuk masdar dari kata qaasa-taqiisu-qiyaasa, artinya mengukur dan
membandingkan sesuatu dengan semisalnya. Adapun menurut istilah
menurut Abu Zahra yaitu menghubungkan suatu perkara yang tidak
ada hukumnya dalam nash dan dengan perkara lain yang ada nas
hukumnya karena ada permasalan ilat.9
Menurut al-Midi dan al-Syaukani yang mengemukakan qiyas
terbagi menjadi beberapa bagian:
a. Qiyas Aula, yaitu qiyas yag ilat-nya mewajibkan adanya hukum. Dan
hukum yang disamakan (cabang) mempunyai kekuatan hukum
yang lebih utama dari tempat menyamakan (ashal).
b. Qiyas Musawi, yaitu qiyas yang ilat-nya mewajibkan adanya hukun
yang sama antara hukum yang ada pada ashal dan hukum yang ada
pada furu’ (cabang).
c. Qiyas Adna, yaitu ilat yang ada pada faru’ lebih rendah bobotnya
dari pada ilat yang ada pada ashal.

7
Teuku Muhammad Hasbi Ash Shiddeqy, Pengantar Ilmu Fiqih, (Semarang:PT Pustaka Rizki
Putra,1999) hlm.185
8
Satria Effendi, M. Zein. Ushul Fiqih,(Jakarta:fajar interpratama Offset,2009) hlm. 125
9
Muhammad Abu Zahra, Ushul Fiqih, (Damaskus: Daara al-fikr, tt) hlm.218

6
B. Faedah mepelajari ilmu fiqih
1. Mengetahui dalil-dalil yang digunakan dalam menetapkan hukum.
2. Menghindari sifat taqlid (mengikuti pendapat suatu mazhab tanpa
mengetahui dalil yang digunakan ).
3. Memperluas wawasan berpikir para ulama dalam menetapkan suatu
hukum.
4. Mampu menginstibah hukum terhadap perkara yang baru muncul.
5. Mampu berpikir logis dan analisis terhadap suatu perkara.

C. Masalah-masalah fiqih
1. Bidang fiqih ibadah
Al-Qur’an surat Al-Dzariyat (51) ayat 56 menyatakan :

) ۵۶( ‫َو ما خلقت ا لجن و ا ال نس ا اال ليعبد ن‬


Artinya : “ Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali semata-mata
untuk beribadah kepada-Ku”
Berangkat dari ayat diatas Al-qur’an, jelas sekali bahwa manusia
di dalam hidupnya mengemban amanah ibadah, baik dalam
hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun alam, dan
lingkungannya.
Pengaturan hubungan manusia dengan Allah telah diatur
dengan secukupnya, terutama sekali dalam sunanh Nabi sehingga
tidak berubah sepanjang masa. Hubungan manusia dengan Allah
merupakan ibadah yang langsung dan sering disebut dengan “ibadah
maghdah”. Penggunaan istilah bidang ibadah maghdoh dan bidang
ibadah ghair mahdhoh atau bidang ibadah dari muammala, tidaklah
dimaksudkan untuk memisahkan kedua bidang tersebut, tetapi
membedakan apa yang diperlukan dalam sistematika pembahasan
ilmu.

7
Bidang Fiqih Ibadah meliputi:
1. Pembahasan Thaharah dari najis maupun thaharah dari hadas
yaitu wudhu, mandi dan tayamum.
2. Pembahsan sekitar zakat. Tentang wajib zakat, harta-harta yang
wajib di zakati, nisak, haul, dan mustahiq zakat serta zakat fitrah.
3. Pembahsan sekitar Shiyam, puasa wajib dan sunnah, rukunnya
dan hal-hal lain sekitar shiyam.
4. Pembahasan tentang ikhtikaf, adab bersusila berikhtikaf.
5. Pembahasan tentang ibadah haji, menjelaskan tentang hukum dan
syarat-syarat haji, perbuatan-perbuatan yang dilakukan dan yang
ditinggalaka pada waktu melakukan ibadah haji dan hal-hal yang
berhubungan dengan ibadah haji.
6. Pembahasan sekitar jihad, sumpah, Nazar, qurban, sesembelihan,
berburu, aqiqah, makan dan minum.

2. Bidang fiqih Ahwalusy Syakhshiyyah


Dalam bab ini membahas masalah persoalan pribadi
(perorangan),kekeluagaan, harta warisan, yang meliputi persoalan:
Nikah, Khittbah (melamar), mu’asyarah (bergaul), Talak, Khulu’,
Fasakh, Li’an, Zhihar, Ila’, Iddah, Ruju’, Radla’ah, Hadlanah, Wasiat,
Warisan, Hajru, dan Perwalian.
3. Bidang Fiqih Muamalah Madaniyah Meliputi :
Dalam bab ini membahas masalah mengenai persoalan harta
kekayaan, harta milik, harta kebutuhan, cata mendapatkan dan
menggunakan, meliputi :Buyu’ (jual beli), Khiyar, Riba (renten),
Sewa-menyewa, Hutang-piutang, Gadai, Syuf’ah, Tasharruf, Salam
(pesanan), Jaminan (brog), Mudlarabah dan Muzara’ah, Pinjam-
meminjam, Hiwalah, Syarikah, Wadi’ah, Luqathah, Ghasab, Qismah,
Hibah dan Hadiyah, Kafalah, Waqaf, Perwalian, Kitabah dan Tadbir.

8
4. Bidang fiqih Muamalah maliyah
Dalam bab ini membahas masalah-maslah harta kekayaan milik
bersama, baik masyarakat kecil atau besar seperti negara, meliputi :
Status milik bersama baitul mal, Sumber baitul mal, Cara pengelolah
baitul mal, Macam-macam kekayaan atau materi baitul mal, Obyek
dan cara penggunaan kekayaan baitul mal, Kepengurusan baitul mal
dan lain-lain.
5. Bidang fiqih Jinayah dan Uqubah
Membahas masalah mengenai Pelanggaran, Kejahatan, qishash
(pembalasan), Diyat (denda), Hukum pelangaran dan kejahatan,
Hukum melukai, Hukum pembunuhan, Hukum murtad, Hukum zina,
Hukuman Qazaf, Hukuman pencuri, Hukuman perampok, Hukuman
peminum arak, ta’zir, Membela diri, Peperangan, Pemberontakan,
Harta rampasan perang, Jizyah, Berlomba dan melontar.
6. Bidang fiqih murafa’ah atau Mukhashamah
Membahas masalah pengadilan meliputi: Peradilan dan
pendidikan, Hakim dan Qadi, Gugatan, Pembuktian dakwaan, Saksi,
Sumpah dan lain-lain.
7. Bidang fiqih Ahkamud Dusturiyyah
Membahas masalah persolan ketatanegaraan meliputi : Kepala
negara dan Waliyul amri, Syarat menjadi kepala negara dan waliyul
amri, Hak dan kewajiban Waliyul amri, hak dan kewajiban rakyat,
Musyawarah dan demokasi, Batas-batas toleransi dan persamaan
dan lain-lain.
8. Bidang fiqih Ahkamud Dualiyah (hukum internasional)
Dalam bab membahas masalah hubunagn internasional yang
meliputi : Hubungan antar negara, sama-sama islam, atau islam dan
non islam, baik ketika damai atau dalam situai perang, ketentuan
untuk orang dan damai, Masalah tawanan, Upeti, Pajak, rampasan,

9
Perjanjian dan Pernyataan bersama, Perlindungan, Ahlul ahdi, ahlul
zimmi, ahlul harb dan darul Islam, darul hard, darul mustakman. 10

D. Perbandingan fiqih dengan ilmu lain


1. Fiqih dengan Ilmu Tauhid
Ilmu Fiqih sangat erat hubungannya dengan ilmu tauhid karena
sumber ilmu fiqih yang pokok adalah Al-qur’an dan Sunah Nabi.
Mengakui Al-Qur’an sebagai sumber hukum yang pertama dan
paling utama, berangkat dari keimanan bahwa Al-Qur’an diturunkan
Allah swt. Dengan perantara malaikat kepada nabi Muhammad SAW
sebagai utusannya. Disini ilmu fiqih sudah memerlukan keimanan
kepada Allah, keimanan kepada para Malaikat, kiemanan kepada
rasull dan keimanan kepada kitab-kitab Allah sebagai wahyu Allah.
Selanjutnya oleh karena tujuan akhir ilmu fiqih untuk mencapai
keridhaan Allah di dunia dan akhirat, maka sudah pasti harus yakin
pula akan adanya hari akhir. Hari pembalasan segala amal perbuatan
manusia. Seperti kita ketahui aspek hukum dari perbuatan manusia
ini menjadi objek pembahasan ilmu fiqih. Masalah-masalah yang
berkaitan dengan keimanan ini di bahas di dalam ilmu tauhid.
2. Fiqih dengan Ilmu Akhlaq
Ilmu fiqih tidak bisa di pisahkan dengan ilmu akhlaq atau
Tassawuf, meskipun kduanya bisa di bedakan. Pemisahan ilmu fiqih
dari lmu akhlaq secara tajam akan mengakibatkan ilmu fiqih
kehilangan keindahannya. Tanpa ilmu akhlaq, ilmu fiqih hanya
merupakan bangunan yang kosong sunyi yang tidak membawa
kepada ketentraman dan ketenangan hati. Juga sebaliknya ilmu
akhlaq tanpa ilmu fiqih dalam artinya yang luas akan menyimpang
dari ketentuan-ketentuan syariah.
Untuk menggambarkan bagaimana eratnya antara ilmu fiqih
dengan ilmu aklaq dapat di jelaskan dengan contoh sebagai berikut.

10
http://pustaka.abatasa.co.id//ruang lingkup fiqih, di akses pada hari senin, 12 maret
2018, pukul 15.45

10
Kita mendapat perintah dari Allah untuk melakukan sholat. Cara-
cara sholat ditentukan didalam hadis kemudian dibahas dan
disistimatisasi oleh para fuqoha tentang rukun sholat, syarat-syarat
sahnya sholat dan hukum-hukumnya sholat yang diambil dan
dipahami dari Al-quran dan Hadis-hadis yang banyak sekali tentang
sholat dan yang berhubungan tentang sholat. Oleh karena itu ilmu
akhlak memberi isi kepada ilmu fiqih dan sebaliknya ilmu fiqih
memberikan kerangka pengaturan lahir agar ilmu tasawuf berjalan
diatas relnya yang telah ditentukan.
3. Ilmu Fikih dengan Sejarah
Untuk mengetahui bagaimana ilmu fikih dimasa lalu, bagaimana
kemungkinan pada masa yang akan datang bisa ditelusuri dari ilmu
sejarah islam dan sejarah hukum Islam. Masa lalu dan masa
sekarang memberikan data dan fakta. Data dan fakta ini dicari latar
belakangnya serta ditelusuri kandungan maknanya sehingga
ditemukan benang merahnya yang merupakan semangat ajaran
islam pada umumnya dan semangat ilmu fikih pada khususnya
berlaku sepanjang masa. Penerapan semangat ajaran ini akan
berubah sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang
dihadapinya dengan memperhatikan metodelogi ilmu fikih dan
kaidah-kaidah fikliyah.
4. Ilmu fikih dengan ilmu hukum
Maksud dari ilmu hukum disini adalah ilmu hukum sistem romawi
dan sistem hukum adat seperti yang sering terjadi, sistem hukum
islam dalam masyarakat bertemu dengan sistem hukum romawi dan
sistem hukum adat, misalnya diIndonesia hukum islam menghargai
sistem hukum lain yang telah menjadi kebiasaan masyarakat. Selama
tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang telah
digariskan didalam hukum islam. Dalam kaitan ini dalam hukum
islam ada kaidah:
Oleh karena itu, dalam batas-batas tententu ada hubungan antara
ilmu fiqih dengan ilmu lainnya, terutama dalam mengamati

11
pengaturan-pengaturan yang sama, sesuai atau tidak bertentangan
dengan hukum islam dan pengaturan-pengaturan yang manakah
bertentangan.11
E. Fiqih berbagai Pendapat Mazhab
a. Mazhab Hanafi
Pendiri Mazhab Hanafi ialah Nu’man bin Tsabit bin Zautha. Beliau
lahir p ada tahun (80-150 H/700-767 M). Beliau wafat paa tahun
150 H bertepatan dengan lahirnya imam Syafi’i R.A. beliau lebih
dikenal dengan Abu Hanifah An Nu’man.
Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam
bidang ilmu fiqih beliau belajar kepada Hammad bin abu Sulaiman
pada awal abad kedua H dan banyak belajar kepada ulama-ulama
Thabi’in, seperti Atha bin Abi Rabah dan Nafi Maula Ibnu Umar.
Dasar-dasar Mazhab Hanafi, Abu Hanafi dalam menetapkan
hukum fiqih terdiri dari dari tujuh pokok, yaitu: Al-Kitab,As-sunnah,
pe rkataan para sahabat, Al-Qiyas, Al-Istihsan, Ijma’ dan uruf.
b. Mazhab Maliki
Mazhab Maliki bersumber pada ijtihad yang dilakukan oleh Imam
Malik bin Anas (97-179 H/718-793M). Beliau adalah seorang ulama
dan guru ilmu fiqih yang cukup dikenal pada masanya. Cukup
banyak kitab hadis yang dihafal oleh beliau. Selain itu, beliau
merupakan salah seorang hafiz al-Qur’an
Hukum-hukum fiqih yang diberikan oleh Imam Maliki adalah
berdasarkan al-Qur’an dan Hadist. Beliau menjadikan hadist sebagai
pembantu dalam memahamai al-qur’an, Imam Maliki sangat cermat
dalam memberi penerangan dan hukum-hukum. Beliau berpikir
panjang sebelum memberi suatu hukum atau fatwa.
c. Mazhab Syafi’i
Mazhab Syafi’i merupkan mazhab yang paling digunakan oleh
umat muslim di Indonesia. Mazhab ini merupakan hasil ijtihad Imam
Syafi’i (150-204 H/ 767-820 M). Imam Syafi’i dianggap seorang yang
11
Djazul, Ilmu Fiqih, (Jakarta:Prenada Media,2005) hlm.33-39

12
dapat memadukan antara hadis dan pikiran serta dapat membentuk
undang-undang fiqih. Nama asli Imam Syafi’i adaalah Muhammad
bin Idris. Beliau dilahirkan di Ghizah, palestina pada tahun 105 H.
Pada masa mudanya, beliau hidup dalam kemiskinan. Hal ini
membuat beliau menulis ilmu fiqihnya pada batu, tulang, dan
pelepah tamar yang dikumpulkannya. Beliau belajar pada beberapa
ulama fiqih terkemuka. Diantara ulama-ulama yang pernah
mengajarkan ilmu fiqih kepada beliau adalah Imam Malik.
Dasar-dasar mazhab Syafi’i yaitu, Al-Kitab, Sunnah Mutawatira, al-
ijma, khabar Ahad, Al-Qiyas dan Al-istishab.
d. Mazhab Hambali
Pendiri Mazhab Hambali ialah Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin
Hilal Azzdahli Assyaibani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H
dan wafat tahun 241 H.
Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung
ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain:
Siria, Kuffah, Hijaz, Yaman dan Basrah. Dan beliau dapat
menghimpun sejumlah 40.000 hadis dalam kitab Musnadnya.
Dasar-dasar Mazhabnya yaitu: Nash Al-Qur’an atau Nash Hadist,
fatwa sebagian sahabat, pendapat sebagian sahabat, hadist Mursa
atau Hadis Doif dan Qiyas.12

12
Syahrul Anwar, Ilmu fiqih & Ushul fiqih, (Bogor: Ghalia Indonesia,2010) hlm.142-144

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sumber-sumber hukum fiqih terdiri :
a. Al-qur’an, merupakan sumber hukum yang pertama dan paling
utama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, tertulis
dalam mushaf berbahasa Arab, yang sampai kepada kita dengan
jalan mutawatir dan membacanya mengandung nilai ibadah. Adapun
hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an ada tiga macam
yaitu : Hukum iqtidaiyah, hukum khuluqiyah, dan hukum Amaliah.
b. As-Sunnah, merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah al-
Qur’an, sebagai penjelas dan memperinci ayat Al-Qur’an yang
mujmal. Sunnah dapat di bedakan menjadi tiga macam yaitu :
Sunnah qauliyah, sunah fi’liyah dan sunah taqririyah.
c. Ijma, ialah kesepakatan para mujtahid kaum muslimin dalam suatu
masa sepeninggal Rasullah SAW, terhadap suatu hukum syar’i
mengenai suatu peristiwa.
d. Qiyas, menghubungkan suatu perkara yang tidak ada hukumnya
dalam nash dan perkara lain yang ada nash hukumnya karena ada
permasalahan ilat.
2. faedah mempelajari ilmu fiqih
a. mengetahui dalil-dalil yang digunakan dalam menetapkan hukum.
b. Menghindari sifat taqlid ( mengikuti pendapat suatu mazhab tanpa
mengetahui dalil yang digunakan ).
c. Memperluas wawasan berpikir para ulama dalam menetapkan suatu
hukum.
d. Mampu menginstibah hukum terhadap perkara yang baru muncul.
e. Mampu berpkir logis dan analisis terhadap suatu perkara.
3. Masalah-masalah fiqih yaitu ;
a. Bidang fiqih ibadah.
b. Bidang fiqih Ahwalusy Syakhshiyyah.
c. Bidang fiqih Muamalah Madaniyah.

14
d. Bidang fiqih Muamalah maliyah.
e. Bidang fiqih murafa’ah atau mukhasamah.
f. Bidang fiqih ahkamud Dusturiyyah.
g. Bidang fiqih jinayah dan uqubah.
h. Ahkamud Dusturiyyah.
4. Ilmu fiqih merupakn ilmu pengetahuan yang saling berkaitan dengan
ilmu-ilmu lainnya, seperti Ilmu Akhlaq, Ilmu Tauhid, Ilmu Sejarah dan
Ilmu Hukum. Karena ilmu fiqih tidak berdiri sendiri tetapi ada pengaruh
dan hubungan dari ilmu-ilmu lainnya.
5. Fiqih berbagai pendapat mazhab ada empat yaitu, Mazhab Hanafi,
Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali.

B. Kritik dan Saran


Dengan disusunya makalah ini, kami berharap bisa mengetahui Sumber
Fiqih dan Permasalahannya. Tak lupa juga kami ucapkan terimakasih
kepada dosen pembimbing Ilmu Fiqih serta teman-teman yang selalu
memberikan dukungan dan semangat untuk meneylesaikan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini tentu masih banyak kekurangan, maka
dari itu jika ada kesalahan kata atau kalimat yang kurang tepat serta
sistematika penulisan yang kurang baik, kritik dan saran kami perlukan
agar penulisan dan penyusunan makalah selanjutnya akan lebih baik.

15