Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup,
meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang
terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat,
pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan
perawatan, untuk mendeteksi dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial,
yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang
kuat untuk menjaga kesehatannya (Leavel and Clark, 2007)
Ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu yang multi disipliner, karena
memang pada dasarnya Masalah Kesehatan Masyarakat bersifat multikausal, maka pemecaha
nya harus secara multi disiplin.Oleh karena itu, kesehatan masyarakat sebagai seni atau
prakteknya mempunyai bentangan yang luas. Semua kegiatan baik langsung maupun tidak
untuk mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan(promotif), terapi (terapi fisik,
mental, dan sosial)atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik, mental,
sosial) adalah upaya kesehatan masyarakat. (Notoatmodjo, 2003).
Populasi beresiko (Population at Risk) merupakan kumpulan orang – orang yang dengan
masalah kesehatan memiliki kemapuan untuk berkembang lebih buruk karena adanya faktor
resiko yang mempengaruhi (Allender dan Rector 2011). ). Karaktersitik populasi beresiko
meliputi biologi dan terkait usia(biologi and age- related risk) resiko lingkungan
(environmental risk) dan resiko perilaku atau gaya hidup (behavioral/lif style risk).
Seiring bertambahnya usia seseorang, tubuh akan mengalami berbagai penurunan
akibat proses penuaan. Mulai dari menurunnya produksi hormon, kekenyalan kulit,
massa otot, kepadatan tulang, hingga kekuatan dan fungsi organ-organ
tubuh.Kemudian, sistem imun sebagai pelindung tubuh pun tidak dapat bekerja
dengan maksimal layaknya saat masih muda. Akibatnya, sulit bagi orang lanjut usia
atau lansia untuk melawan berbagai macam bakteri atau virus penyebab penyakit
(world Healt Organization).
Masalah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari sering kita anggap sepele.Padahal,
kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang essensial di
samping masalah perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan faktor
keturunan.Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah
kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan penduduk dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti
budaya, gaya hidup, tingkat pendidikan, tingkat kesejahteraan, dan lain-lain. Faktor budaya
berkaitan dengan kebiasaan penduduk pada umumnya misal; kebiasaan mencampurkan
tempat tinggal dengan tempat binatang ternak, sampah yang dibuang sembarangan,
penggunaan air sungai sebagai sumber air bersih.(World Healt Organitazion)

Penyakit menular menjadi salah satu penyebab utama kematian di Dunia.Penyebabnya


munculnya penyakit baru (new emerging disease) dan munculnya kembali penyakit menular
yang lama (re-emerging disease) membuat Indonesia menanggung beban berlebih dalam
penanggulangan penyakit (triple burden disease) (Kemenkes, 2013).Kondisi ini semakin
buruk dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat menyebabkan beberapa penyakit infeksi
akut yang berbahaya menyerang manusia seperti penyakit yang bersumber pada binatang
(Widarso dan Wilfried, 2008).
Pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang
tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Pada tanggal 7 Januari
2020, Cina mengidentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai
jenis baru coronavirus (coronavirusdisease, COVID-19). Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO
telah menetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia/
Public Health Emergency of International Concern(KKMMD/PHEIC). Penambahan jumlah
kasus COVID-19berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara.

Coronavirus Disease (Covid 19) adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem
pernapasan.Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan,
seperti flu.Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi
paru-paru (pneumonia).

Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh coronavirus, yaitu kelompok virus
yang menginfeksi sistem pernapasan.Pada sebagian besar kasus, coronavirus hanya
menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu.Akan tetapi, virus ini juga
bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory
Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).Ada dugaan bahwa
virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, kemudian diketahui bahwa
virus Corona juga menular dari manusia ke manusia.Seseorang dapat tertular COVID-19
melalui berbagai cara, yaitu:Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar
saat penderita COVID-19 batuk atau bersinMemegang mulut atau hidung tanpa mencuci
tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-
19Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19Virus Corona dapat menginfeksi siapa
saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut
usia, ibu hamil, orang yang memiliki tertentu, perokok, atau orang yang daya tahan tubuhnya
lemah, misalnya pada penderita kanker

Secara umum, sebagian besar negara di dunia telah melaporkan adanya kasus virus
corona di wilayahnya.  Berdasarkan data hingga Senin (20/04/2020) pagi, jumlah kasus
Covid-19 di dunia adalah sebanyak 2.394.291 orang terinfeksi (2,39 juta).  Dari jumlah
tersebut, 164.938 orang dilaporkan meninggal dunia, dan 611.880 pasien telah dinyatakan
sembuh.Adapun kasus terbanyak masih dicatatkan oleh Amerika Serikat dengan jumlah
kasus lebih dari 700.000, disusul Spanyol, Italia, dan Perancis yang mengalami penurunan
jumlah kasus baru dalam beberapa hari terakhir (World Healt Organitazion)

Pada Minggu (20/4/2020), Pemerintah Indonesia mengumumkan tambahan 327 kasus


baru dan 47 kasus kematian di Indonesia. Jadi, total kasus Covid-19 yang telah dikonfirmasi
di Indonesia menjadi sebanyak 6.575 kasus.Sementara, angka kematian yang terjadi adalah
sebanyak 582 kasus. Jumlah pasien sembuh juga mengalami penambahan sebanyak 55 kasus
baru pada Minggu (19/4/2020) sehingga angka total pasien sembuh menjadi 686 orang.
Adapun kasus-kasus ini telah dikonfirmasi terjadi di seluruh provinsi yang berjumlah 34 di
Indonesia.(Riskesdas).

Data terbaru kasus virus corona atau COVID-19 di Sulawesi Selatan Minggu (20/4/20)
pukul 17.00 WITA, berjumlah total 370 orang. Tercatat terjadi penambahan 27 kasus baru di
selama satu hari terakhir. Sulsel sendiri bergeming di peringkat keempat provinsi dengan
kasus COVID-19 terbanyak se-Indonesia di bawah DKI Jakarta yang telah menembus 3.032
kasus, Jawa Barat (696), dan Jawa Timur (590).Tak ada penambahan untuk data pasien
COVID-19 di Sulsel yang dinyatakan telah sembuh atau meninggal dunia.Masing-masing
masih berada pada angka 43 orang dan 25 korban. Dengan ini, pasien positif yang saat ini

Berdasarkan data kabupaten bulukumba pada tanggal 21 april 2020 pukul 21.50 WITA
jumlah ODP 178 orang , PDP 21 orang, positif 1 orang yang tersebar di beberapa kecamatan
yaitu Kecamatan kindang ODP 14, PDP 0 ( tidak ada) positif 0 (tidak ada) Kecamatan
Gantarang, 21 ODP (20 Orang telah selesai dipantau), PDP 7 orang (5 telah sembuh dan 1
meninggal), dan positif Covid-19 1 orang (telah sembuh). Kecamatan Ujung Bulu, 12 ODP
(selesai dipantau), 1 orang PDP,1 orang positif. Kecamatan Ujung Loe, 11 ODP (selesai
dipantau), 5 orang PDP (3 sembuh dan 1 meninggal), dan positif tidak ada. Kecamatan
Bontobahari, 6 ODP (4 selesai dipantau), 1 orang PDP (telah sembuh), dan positif tidak ada.
Kecamatan Bontotiro, 29 ODP (25 selesai dipantau), 2 orang PDP (masih dirawat), dan
positif tidak ada. Kecamatan Kajang, 36 ODP (21 selesai dipantau), 3 orang PDP (1 telah
sembuh), dan positif tidak ada. Kecamatan Rilau Ale, 5 ODP (4 selesai dipantau), 2 orang
PDP (telah sembuh), dan positif tidak ada. Kecamatan Bulukumpa, 11 ODP (10 selesai
dipantau), tidak ada PDP dan positif. kecamatan herlang jumlah pendatang sebanyak 513
orang,ODP 28, PDP 0, positif 0.

Berdasarkan fenomena tersebut maka sekolah tinggi ilmu kesehatan panrita husada
bulukumba membentuk relawan covid 19 di setiap kecamatan yang ada di bulukumba
sekaligus melaksanakan praktik lapangan keperawatan komunitas profei ners

Keperawatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang


ditujukan kepada masyarakat dengan pendekatan pada kelompok resiko tinggi,
dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan
penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin keterjangkauan pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan. Pelayanan Keperawatan
Komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga dan kelompok
yang beresiko tinggi seperti keluarga penduduk didaerah kumuh, daerah terisolasi
dan daerah yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi, balita, lansia dan ibu
hamil (Veronica, Nuraeni, & Supriyono, 2017).
Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan
yang bersifat alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu dan berkesinambungan dalam
rangka memecahkan masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta
masyarakat melalui langkah-langkah seperti pengkajian, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi keperawatan (Wahyudi, 2010). Menurut American
Nurses Association (ANA, 1973), Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah suatu
sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk meningkatkan dan
memelihara kesehsatan masyarakat.Praktik keperawatan kesehatan komunitas ini
bersifat menyeluruh dengan tidak membatasi pelayanan yang diberikan kepada
kelompok umur tertentu, berkelanjutan dan melibatkan masyarakat.

Peran perawat komunitas yaitu denganmeningkatkan derajat kesehatan masyarakat seoptimal mungkin
melalui praktikkeperawatan komunitas, dilakukan melalui peningkatan kesehatan (promotif)
danpencegahan penyakit (preventif) di semua tingkat pencegahan (levels of prevention). Peran yang dapat
dilaksanakan di antaranya adalah sebagai
pelaksana pelayanan keperawatan, pendidik, koordinator pelayananan kesehatan,
pembaharu (innovator), pengorganisasian pelayanan kesehatan (organizer), panutan (role
model),sebagai fasilitator (tempat bertanya), dan sebagai pengelola(manager)(Veronica,
Nuraeni, & Supriyono, 2017).

Tenaga medis, yang dianggap sebagai garda terdepan dalam penanganan pandemi
virus corona, sudah disiagakan dan terus menjalankan tugasnya di berbagai rumah sakit,
khususnya rumah saskit rujukan.Namun, jumlah tenaga medis yang ada dianggap masih
kurang.masih banyak membutuhkan banyak tenaga medis. Koordinator Relawan Gugus Tugas
COVID-19, Andre Rahardian, mengungkap ada sekitar 1.500 dan 2.500 perawat yang
dibutuhkan untuk menghadapi mewabahnya virus Corona yang telah menyebar ke berbagai
provinsi di Indonesia. Tenaga medis yang dibutuhkan, seperti dokter spesialis paru, dokter
spesialis anesti, dokter umum pranata laboratorium, bagian administrasi rumah sakit, hingga
sopir ambulans. Dalam kesempatan ini, Andre Rahardian mengungkapkan, Pemerintah Indonesia
melalui Gugus Tugas COVID-19 memanggil warga yang terketuk, untuk menjadi relawan dan
membantu penanganan pasien yang terjangkit virus Corona hingga pasien yang masuk kategori
pasien dalam pengawasan (PDP).  Meski begitu, tetap ada beberapa kriteria yang ditetapkan
sebelum seseorang bisa menjadi relawan. Termasuk, apa pula peran yang akan dijalani para
relawan nantinya.

Peran relawan covid 19 Membantu menyebarkan informasi akurat kepada


masyarakatMembantu mengedukasi dan memberikan dukungan psikologi untuk mengurangi
kepanikan masyarakat selama wabah COVID-19, Membantu dalam mengorganisasi dan
mengarahkan masyarakat yang memerlukan informasi terkait alur tes maupun alur tindakan
di masyarakat maupun di rumah sakit, Membantu dalam memantau dan memberikan
informasi yang dibutuhkan oleh OTG maupun ODP yang melaksanakan karantina rumah,
Membantu dalam menyalurkan kebutuhan pokok masyarakat, khususnya untuk OTG dan
ODP dalam karantina rumah maupun kelompok rentan, Untuk relawan medis, dapat
memberikan dukungan kepada para dokter, perawat, pekerja rumah sakit, petugas ambulans,
dll. Relawan medis yang terlatih jika dibutuhkan dapat melakukan edukasi pencegahan dan
rapid test kepada kelompok OTG di fasilitas umum dengan menggunakan APD (masker dan
sarung tangan non steril sekali pakai) dan hasil tes dilaporkan melalui mekanisme pelaporan.
Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian infeksi.(Gugus Tugas
Percepatan Penanganan COVID-19).

1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum

Menyusun rancangan pengkajian keperawatan komunitas pada masyarakat untuk

mengetahui pengetahuan,sikap dan perilaku beresiko terkait penyebaran wabah corona

virus disease (covid 19) di kecamatan herlang kabupaten Bulukumba berdasarkan

model community as partner

1.2.2. Tujuan Khusus

a. mengidentifikasi tingkat pengetahuan terkait covid 19 di masyarakat

kecamatan herlang.

b. mengidentifikasi sikap terkait covid 19 di masyarakat kecamatan herlang.


c. mengidentifikasi perilaku yang beresiko terkait covid di masyarakat herlang.

1.1.3. Ruang Lingkup Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada masyarakat di kecamatan herlang dengan masalah

penyebaran wabah covid 19. Pada model community as partner terdapat dua faktor utama

yaitu fokus pada komunitas sebagai mitra dan proses keperawatan (Anderson & Mc

Farlan, 2004). Pada pengkajian komunitas terdapat beberapa item pertanyaan di dalam

kuesioner yang meliputi pengetahuan,sikap,perlaku,dan resiko yang kemudian akan di

sebar ke wilayah kerja puskesmas herlang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Corona Virus Disease (Covid 19)


2.1.1 Definisi covid 19

Corona Virus Disease (COVID-19) adalah jenis virus baru yang menular pada
manusia dan menyerang gangguan system pernapasan sampai berujung pada
kematian.Corona virus yaitu kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem
pernapasan.Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan
ringan, seperti flu.Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat,
seperti infeksi paru-paru (pneumonia).

Coronavirus memiliki kapsul, partikel berbentuk bulat atau elips, sering


pleimorfik dengan diameter sekitar 50-200m.5 Semua virus ordo Nidovirales
memiliki kapsul, tidak bersegmen, dan virus positif RNA serta memiliki genom RNA
sangat panjang.12 Struktur coronavirus membentuk struktur seperti kubus dengan
protein S berlokasi di permukaan virus. Protein S atau spike protein merupakan salah
satu protein antigen utama virus dan merupakan struktur utama untuk penulisan gen.
Protein S ini berperan dalam penempelan dan masuknya virus kedalam sel host
(interaksi protein S dengan reseptornya di sel inang). Coronavirus bersifat sensitif
terhadap panas dan secara efektif dapat diinaktifkan oleh desinfektan mengandung
klorin, pelarut lipid dengan suhu 56℃ selama 30 menit, eter, alkohol, asam
perioksiasetat, detergen non-ionik, formalin, oxidizing agent dan kloroform.
Klorheksidin tidak efektif dalam menonaktifkan virus.

Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga termasuk dalam
kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan
virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh
virus dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki
beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS antara lain dalam hal kecepatan
penyebaran dan keparahan gejala (Thalia, 2020).

2.1.2. Etiologi covid 19

Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh coronavirus, yaitu


kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan.Pada sebagian besar kasus,
coronavirus hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti
flu.Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti
pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute
Respiratory Syndrome (SARS).Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan
dari hewan ke manusia.Namun, kemudian diketahui bahwa virus Corona juga
menular dari manusia ke manusia.Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui
berbagai cara, yaitu:

 Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita
COVID-19 batuk atau bersin
 Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah
menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19
 Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19

2.1.3. Manifestasi klinis covid 19


Gejala awal  infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala
flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Setelah
itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Penderita dengan
gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah,
sesak napas, dan nyeri dada.Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi
melawan virus corona.Secara umum, ada 3 gejala umum yang bisa menandakan
seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:

 Demam  (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)


 Batuk
 Sesak nafas

Gejala-gejala COVID-19 ini umumnya muncul dalam waktu hari ke 7 sampai 14


setelah penderita terpapar virus Corona.

2.1.4. pathogenesis/patofisiologi covid 19

Kebanyakan Coronavirus menginfeksi hewan dan bersirkulasi di


hewan.Coronavirus menyebabkan sejumlah besar penyakit pada hewan dan
kemampuannya menyebabkan penyakit berat pada hewan seperti babi, sapi, kuda,
kucing dan ayam.Coronavirus disebut dengan virus zoonotik yaitu virus yang
ditransmisikan dari hewan ke manusia.Banyak hewan liar yang dapat membawa
patogen dan bertindak sebagai vektor untuk penyakit menular tertentu.

Kelelawar, tikus bambu, unta dan musang merupakan host yang biasa
ditemukan untuk Coronavirus.Coronavirus pada kelelawar merupakan sumber
utama untuk kejadian severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East
respiratory syndrome (MERS). Namun pada kasus SARS, saat itu host
intermediet (masked palm civet atau luwak) justru ditemukan terlebih dahulu dan
awalnya disangka sebagai host alamiah. Barulah pada penelitian lebih lanjut
ditemukan bahwa luwak hanyalah sebagai host intermediet dan kelelawar tapal
kuda (horseshoe bars) sebagai host alamiahnya.8,14,15,17 Secara umum, alur
Coronavirus dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia melalui
transmisi kontak, transmisi droplet, rute feses dan oral.
Berdasarkan penemuan, terdapat tujuh tipe Coronavirus yang dapat
menginfeksi manusia saat ini yaitu dua alphacoronavirus (229E dan NL63) dan
empat betacoronavirus, yakni OC43, HKU1, Middle East respiratory syndrome-
associated coronavirus (MERS-CoV), dan severe acute respiratory syndrome-
associated coronavirus (SARSCoV). Yang ketujuh adalah Coronavirus tipe baru
yang menjadi penyebab kejadian luar biasa di Wuhan, yakni Novel Coronavirus
2019 (2019-nCoV).Isolat 229E dan OC43 ditemukan sekitar 50 tahun yang
lalu.NL63 dan HKU1 diidentifikasi mengikuti kejadian luar biasa SARS.NL63
dikaitkan dengan penyakit akut laringotrakeitis (croup).

Coronavirus terutama menginfeksi dewasa atau anak usia lebih tua,


dengan gejala klinis ringan seperti common cold dan faringitis sampai berat
seperti SARS atau MERS serta beberapa strain menyebabkan diare pada dewasa.
Infeksi Coronavirus biasanya sering terjadi pada musim dingin dan semi.Hal
tersebut terkait dengan faktor iklim dan pergerakan atau perpindahan populasi
yang cenderung banyak perjalanan atau perpindahan.Selain itu, terkait dengan
karakteristik Coronavirus yang lebih menyukai suhu dingin dan kelembaban tidak
terlalu tinggi.

Semua orang secara umum rentan terinfeksi.Pneumonia Coronavirus jenis


baru dapat terjadi pada pasien immunocompromis dan populasi normal,
bergantung paparan jumlah virus.Jika kita terpapar virus dalam jumlah besar
dalam satu waktu, dapat menimbulkan penyakit walaupun sistem imun tubuh
berfungsi normal.Orang-orang dengan sistem imun lemah seperti orang tua,
wanita hamil, dan kondisi lainnya, penyakit dapat secara progresif lebih cepat dan
lebih parah.Infeksi Coronavirus menimbulkan sistem kekebalan tubuh yang lemah
terhadap virus ini lagi sehingga dapat terjadi re-infeksi.

Coronavirus hanya bisa memperbanyak diri melalui sel host-nya.Virus


tidak bisa hidup tanpa sel host. Berikut siklus dari Coronavirus setelah
menemukan sel host sesuai tropismenya. Pertama, penempelan dan masuk virus
ke sel host diperantarai oleh Protein S yang ada dipermukaan virus.5 Protein S
penentu utama dalam menginfeksi spesies host-nya serta penentu tropisnya.5 Pada
studi SARS-CoV protein S berikatan dengan reseptor di sel host yaitu enzim
ACE-2 (angiotensinconverting enzyme 2). ACE-2 dapat ditemukan pada mukosa
oral dan nasal, nasofaring, paru, lambung, usus halus, usus besar, kulit, timus,
sumsum tulang, limpa, hati, ginjal, otak, sel epitel alveolar paru, sel enterosit usus
halus, sel endotel arteri vena, dan sel otot polos.20 Setelah berhasil masuk
selanjutnya translasi replikasi gen dari RNA genom virus. Selanjutnya replikasi
dan transkripsi dimana sintesis virus RNA melalui translasi dan perakitan dari
kompleks replikasi virus.Tahap selanjutnya adalah perakitan dan rilis virus.12
Berikut gambar siklus hidup virus.

Setelah terjadi transmisi, virus masuk ke saluran napas atas kemudian


bereplikasi di sel epitel saluran napas atas (melakukan siklus hidupnya).Setelah
itu menyebar ke saluran napas bawah.Pada infeksi akut terjadi peluruhan virus
dari saluran napas dan virus dapat berlanjut meluruh beberapa waktu di sel
gastrointestinal setelah penyembuhan.Masa inkubasi virus sampai muncul
penyakit sekitar 3-14 hari.

2.1.5. Komplikasi covid 19

Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa
komplikasi berikut ini:

 Pneumonia (infeksi paru-paru)


 Infeksi sekunder pada organ lain
 Gagal ginjal
 Acute cardiac injury
 Acute Respiratory Distres Sindrom
 Kematian

2.1.6. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan radiologi: foto toraks, CT-scan toraks, USG toraks Pada


pencitraan dapat menunjukkan: opasitas bilateral, konsolidasi subsegmental, lobar
atau kolaps paru atau nodul, tampilan groundglass. Pada stage awal, terlihat
bayangan multiple plak kecil dengan perubahan intertisial yang jelas
menunjukkan di perifer paru dan kemudian berkembang menjadi bayangan
multiple ground-glass dan infiltrate di kedua paru. Pada kasus berat, dapat
ditemukan konsolidasi paru bahkan “white-lung” dan efusi pleura (jarang).

2. Pemeriksaan spesimen saluran napas atas dan bawah

● Saluran napas atas dengan swab tenggorok(nasofaring dan orofaring)

● Saluran napas bawah (sputum, bilasan bronkus, BAL, bila menggunakan


endotrakeal tube dapat berupa aspirat endotrakeal)

Untuk pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2, (sequencing bila tersedia).Ketika


melakukan pengambilan spesimen gunakan APD yang tepat. Ketika mengambil
sampel dari saluran napas atas, gunakan swab viral (Dacron steril atau rayon
bukan kapas) dan media transport virus. Jangan sampel dari tonsil atau
hidung.Pada pasien dengan curiga infeksi COVID-19 terutama pneumonia atau
sakit berat, sampel tunggal saluran napas atas tidak cukup untuk eksklusi
diagnosis dan tambahan saluran napas atas dan bawah direkomendasikan.Klinisi
dapat hanya mengambil sampel saluran napas bawah jika langsung tersedia
seperti pasien dengan intubasi.Jangan menginduksi sputum karena meningkatkan
risiko transmisi aerosol.Kedua sampel (saluran napas atas dan bawah) dapat
diperiksakan jenis patogen lain.26 Bila tidak terdapat RT-PCR dilakukan
pemeriksaan serologi.Pada kasus terkonfirmasi infeksi COVID-19, ulangi
pengambilan sampel dari saluran napas atas dan bawah untuk petunjuk klirens
dari virus.Frekuensi pemeriksaan 2- 4 hari sampai 2 kali hasil negative dari kedua
sampel serta secara klinis perbaikan, setidaknya 24 jam.Jika sampel diperlukan
untuk keperluan pencegahan infeksi dan transmisi, specimen dapat diambil
sesering mungkin yaitu harian.

3. Bronkoskopi
4. Pungsi pleura sesuai kondisi

5. Pemeriksaan kimia darah

 Darah perifer lengkap Leukosit dapat ditemukan normal atau menurun;


hitung jenis limfosit menurun. Pada kebanyakan pasien LED dan CRP
meningkat.
 Serum (rapid test)
 Analisis gas darah
 Fungsi hepar (Pada beberapa pasien, enzim liver dan otot meningkat)
 Fungsi ginjal
 Gula darah sewaktu
 Elektrolit
 Faal hemostasis ( PT/APTT, d Dimer), pada kasus berat, Ddimer
meningkat
 Prokalsitonin (bila dicurigai bakterialis)
 Laktat (Untuk menunjang kecurigaan sepsis)

6. Biakan mikroorganisme dan uji kepekaan dari bahan saluran napas (sputum,
bilasan bronkus, cairan pleura) dan darah26,27 Kultur darah untuk bakteri
dilakukan, idealnya sebelum terapi antibiotik. Namun, jangan menunda terapi
antibiotik dengan menunggu hasil kultur darah)

7. Pemeriksaan feses dan urin (untuk investasigasi kemungkinan penularan).

2.1.7. pencegahan covid 19

Sampai saat ini, belum ada vaksin  COVID-19. Oleh sebab itu, cara pencegahan yang
terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda
terinfeksi virus ini, yaitu:

 Terapkan physical distancing, yaitu menjaga jarak minimal 1 meter dari orang


lain, dan jangan dulu ke luar rumah kecuali ada keperluan mendesak.
 Gunakan masker  saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian, termasuk saat
pergi berbelanja bahan makanan
 Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung
alkohol minimal 60%, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat
umum.
 Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.
 Tingkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat.
 Hindari kontak dengan penderita COVID-19, orang yang dicurigai positif
terinfeksi virus Corona, atau orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek.
 Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu
ke tempat sampah.
 Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan lingkungan,
termasuk kebersihan rumah

Untuk orang yang diduga terkena covid 19 atau termasuk kategori ODP (orang dalam
pemantauan) maupun PDP (pasien dalam pengawasan), ada beberapa langkah yang
bisa dilakukan agar virus Corona tidak menular ke orang lain, yaitu:

 Lakukan isolasi mandiri dengan cara tinggal terpisah dari orang lain untuk


sementara waktu. Bila tidak memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar
mandi yang berbeda dengan yang digunakan orang lain.
 Jangan keluar rumah, kecuali untuk mendapatkan pengobatan.
 Bila ingin ke rumah sakit saat gejala bertambah berat, sebaiknya hubungi dulu
pihak rumah sakit untuk menjemput.
 Larang dan cegah orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk Anda sampai
Anda benar-benar sembuh.
 Sebisa mungkin jangan melakukan pertemuan dengan orang yang sedang sedang
sakit.
 Hindari berbagi penggunaan alat makan dan minum, alat mandi, serta
perlengkapan tidur dengan orang lain.
 Pakai masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang
bersama orang lain.
 Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung bila batuk atau bersin, lalu segera
buang tisu ke tempat sampah.
2.2 . Model Community As Partner

Model community as partner(Anderson & McFarlane, 2011)didasarkan

pada model yang dikembangkan oleh Neuman dengan menggunakan pendekatan

manusia secara utuh dalam melihat masalah pasien. Model community of client

dikembangkan oleh Anderson dan McFlarlane untuk menggambarkan definisi

keperawatan kesehatan masyarakat sebagai perpaduan antara kesehatan

masyarakat dan keperawatan. Model tersebut dinamakan model “community as

partner” untuk menekankan filosofi dasar dari perawatan kesehatan masyarakat.

Empat konseptual yang merupakan pusat keperawatan dapat memberikan ka

kerja bagi model community as partner yang didefinisikan sebagai berikut:

2.2.1. Individu

Individu dalam model community as partner adalah sebuah populasi atau

sebuah agregat. Setiap orang dalam sebuah komunitas yang didefinisikan

(populasi total) atau agregatdewasa mencerminkan individu.

2.2.2. Lingkungan
Lingkungan dapat diartikan sebagai komunitas seperti jaringan masyarakat

dan sekelilingnya. Hubungan antara masyarakat dalam komunitas dapat terjadi

dimana masyarakat tinggal, pekerjaan, suku bangsa dan ras, carahidup, serta

faktor lain yang umumnya dimiliki masyarakat.

Roda pengkajian komunitas dalam community as partner(Anderson &

McFarlane, 2011)terdiri dari dua bagian utama yaitu inti dan delapan subsistem

yang mengelilingi inti yang merupakan bagian dari pengkajian keperawatan,

sedangkan proses keperawatan terdiri dari beberapa tahap mulai dari

pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Inti roda

pengkajian adalah individu yang membentuk suatu komunitas.Inti meliputi

demografi, nilai, keyakinan, dan sejarah penduduk setempat.Sebagai anggota

masyarakat, penduduk setempat dipengaruhi oleh delapan subsistem

komunitas, dan sebaliknya.Delapan subsistem ini terdiri atas lingkungan,

pendidikan, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, pelayanan

kesehatan dan sosial, komunikasi, ekonomi, dan rekreasi.

Garis tebal yang mengelilingi komunitas menggambarkan garis

pertahanan yang normal atau tingkat kesehatan komunitas yang telah dicapai

selama ini.Garis normal pertahanan dapat berupa karakteristik seperti nilai

imunitas yang tinggi, angka mortalitas infant yang rendah, atau tingkat
penghasilan yang sedang.Garis pertahann normal juga meliputi pola koping yang

digunakan, kemampuan memecahkan masalah yang mencerminkan kesehatan

komunitas.Fleksibilitas garis pertahanan digambarkan sebagai sebuah garis

putus-putus di sekitar komunitas dan garis pertahanan normal, merupakan

daerah (zona) penyangga (buffer) yang menggambarkan sebuah tingkat

kesehatan yang dinamis yang dihasilkan dari respon sementara terhadap

stressor.Respon sementara tersebut mungkin menjadi gerakan lingkungan

melawan sebuah stressor lingkungan atau sebuah stressor sosial. Kedelapan

subsistem tersebut dibagi dalam garis terputus untuk mengingatkan bahwa

subsistem tersebut saling mempengaruhi(Anderson & McFarlane, 2011).

Anderson & McFarlan (2011) model community as partner dapat

digunakan sebagai alat pengkajian terhadap masalah kesehatan di komunitas.

Unsur-unsur yang dapat dikaji berdasakan model community as partner adalah:

1. Core adalah inti dari komunitas teridiri dari

a. Riwayat terbentuknya komunitas. Data yang dapat dikumpulkan seperti riwayat

terbentuknya komunitas dari orang-orang tua, tetangga yang telah lama tinggal di

tempat tersebut, dan subdivisi terbaru yang ada di komunitas. Pertanyaan yang dapat

diajukan kepada anggota masyarakat seprti sudah berapa lama anda tinggal disini?

Apakah ada perubahan terhadap daerah tersebut? Siapakah orang yang paling lama

tinggal di daerah tersebut dan yang mengetahui sejarah daerah tersebut. Data dapat

diperoleh dari perpustakaan, sejarah masyarakat, dan wawancara dengan sesepuh

masyarakat pimpinan daerah.


b. Demografi. Data yang dapat dikumpulkan seperti komposisi penduduk dewasa, orang

yang tidak memiliki rumah tempat tinggal, orang yang tinggal sendidrian, keluarga,

karakter. Data dapat diperoleh dari sensus penduduk dan perumahan, badan

perencanaan lokal (kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi), arsip, dinas

kesehatan, serta melalui observasi. Data yang terkumpul dapat berupa karakteristik

umur dan jenis kelamin, jenis dan tipe keluarga, status pernikahan, statistik vital

(kelahiran, kematian berdasarkan umur dan penyebab).

c. Suku. Data yang dapat dikumpulkan seperti ras dan suku bangsa yang ada,

homogenitas populasi yang ada, indikator kelompok etnik tertentu (misalnya restoran,

festival), dan tanda-tanda kelompok budaya yang ada. Data dapat diperoleh melalui

sensus penduduk, arsip, dan observasi.

d. Nilai dan Keyakinan. Data yang dapat diperoleh seperti tempat ibadah, homogenitas

masyarakat, penggunaan pekarangan rumah dan lahan kosong serta kebun (misal

ditanami rumput atau bunga), tanda-tanda kesenian, budaya warisan leluluhur yang

ada, dan peninggalan bersejarah yang ada. Data dapatdiperoleh melalui observasi

langsung, wawancara, windshield survei.

2. Subsistem, terdiri dari;

a. Lingkungan fisik

Data lingkungan fisik dapat berupa keadaan masyarakat, kualitas udara, tumbuh-

tumbuhan, perumahan, pembatas wilayah, daerah penghijauan, binatangpeliharaan,

anggota masyarakat, struktur yang dibuat masyarakat, keindahan alam, air, iklim,

peta wilayah, dan luas daerah. Data dapat diperoleh melalui sensus, wind shield

survei, dan arsip, serta dokumen di kelurahan


Sub sistem lingkungan fisik adalah terkait kondisi tempat tinggal orang dewasa,

kondisi sarana yang ada di sekitar lingkungan orang dewasa yang berhubungan

dengan risiko hipertensi termasuk dalam ketersediaan sumber-sumber pendukung

untuk orang dewasa.Demikian juga lingkungan social tempat orang dewasa

melakukan interaksi dan sumber makanan yang menyediakan makanan.

b. Pelayanan Kesehatan dan Sosial

Datanya dapat meliputi kejadian akut atau kronis di masyarakat, adanya

posyandu, Pelayanan makanan tambahan, klinik atau rumah sakit, pelayanan

kesehatan pribadi petugas kesehatan, pelayanan kesehatan masyarakat, fasilitas

pelayanan social, dan ketersediaan sumber intra dan ekstra komunitas yang dapat

dimanfaatkan oleh masyarakat. Data dapat diperoleh dari wawancara, windshield

survei, badan perencanaan daerah, laporan tahunan fasilitas kesehatan dan sosial,

dan dinas kesehatan. Data-data yang diperoleh dapat dikelompokkan berdasarkan

pelayanan kesehatan dan sosial yang ada.

Pelayanan kesehatan seperti fasilitas ekstra dan intra komunitas seperti rumah sakit

dan klinik, perawatan kesehatan di rumah, fasilitas perawatan lanjut, pelayanan

kesehatan masyarakat, pelayanan emergensi.Data untuk setiap fasilitas

dikumpulkan terkait dengan berbagai pelayanan (tarif, waktu, rencana pelayanan

baru, pelayanan yang dihentikan), sumber (tenaga, tempat, biaya, dan sistem

pencatatan), karakteristik pengguna (distribusi geografik, profil demografik, dan

transportasi), statistik (jumlah pengguna yang dilayani tiap hari, minggu, dan
bulan), kesesuaian, keterjangkauan, dan penerimaan fasilitas menurut pengguna

maupun pemberi pelayanan kesehatan.Pelayanan sosial seperti fasilitas ekstra dan

intra komunitas misalnya adanya kelompok konseling dan dukungan, pakaian,

makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan khusus.Data untuk setiap fasilitas

dikumpulkan seperti pada pelayanan kesehatan.

c. Komunikasi

Meliputi adanya tempat khusus untuk berkumpulnya masyarakat, jenis

Koran,ketersedian TV atau radio, pelayanan pos dan alat komunikasi formal dan

informal yang ada di masyarakat. Adakah tempat orang dewasa berkumpul untuk

bertukar informasi, apakah orang dewasa memanfaat Koran, televise dan radio,

bagaimana bentuk komunikasi baik formal maupun informal yang di dapatkan

terkait hipertensi, darimana orang dewasa tersebut memperoleh informasi mengenai

hipertensi, apakah informasi tersebut benar atau tidak, apakah orang dewasa

mendengar apa yang disampaikan oleh tokoh masyarakat. Data dapat di peroleh

dengan menggunakan wawancara, survey, buku, telfon dan sensus.

d. Perekonomian

Perekonomian atau tingkat pendapatan keluarga dengan usia dewasa apakah

termasuk keluarga dengan pendapatan menengah keatas atau miskin. Apakah

tinggal dikawasan industry,pekerjaan orang dewasa, jumlah orang dewasa yang

menganggur, jenis pekerjaan, serta kebiasaan orang dewasa dalam mengubah pola

gaya hidup.

Ekonomi, meliputi keadaan komunitas (berkembang atau miskin), adanya pusat

industri, pertokoan, lapangan kerja, pusat perbelanjaan, badan pemeriksa makanan,


dan angka pengangguran. Data dapat diperoleh dari catatan sensus, departemen

perdagangan, departemen tenaga kerja, dan kantor serikat buruh setempat.

e. Keamanan dan transportasi

Data keamanan dapat diperoleh dari kantor perencanaan daerah, berupa

penggunaan air bersih yang dimanfaatkan oleh masyarakat, sanitasi lingkungan

bagaimana orang dewasa bepergian, jenis angkutan yang digunakan, pakah orang

dewasa nyaman terhadap transportasi yang ada, adakah pelayanan perlindungan

yang ada bagi orang dewasa, kekerasan rumah tangga, apakah orang dewasa merasa

aman tinggal di komunitasnya, sedangkan transportasi mencakup sarana dan

prasarana masyarakat melakukan perjalanan, jenis kendaraan pribadi dan umum,

jalur khusus pejalan kaki, bersepeda dan pengendara motor, jalur penyandang cacat,

yang digunakan oleh masyarakat. Data transportasi dapat diperoleh dari sensus,

dinas jalan raya, dan dinas transportasi serta kepolisian daerah

f. Politik dan Pemerintahan

Meliputi kegiatan politik di masyarakat (seperti poster, rapat atau pertemuan

politik), partai apa yang berpengaruh di masyarakat, pembentukan pemerintahan

daerah (melalui pemilihan atau calon tunggal), keterlibatan warga dalam pembuatan

keputusan di pemerintah daerah setempat. Subsistem politik dan pemerintahan

dengan kebijakan-kebijakan yang menyangkut pencegahan risiko hiertensi, seperti

kebijakan pemeriksaan teratur di Posbindu.Kebijakan dalam pemantauan setiap

bulan.Bagaimana keterlibatan orang Dewasa dalam politik local, adakah organisasi

orang dewasa di temat tersebut, apakah orang dewasa berperan dalam pengambilan

kebijakan terkait kesehata, apakah pemerintak mendukung terhadap kesehatan


orang dewasa.Data dapat diperoleh dari sensus, windshield survei, dan data

pemerintah daerah setempat.

g. Pendidikan

Mencakup ketersediaan sekolah, kondisi sekolah, perpustakaan, badan yang

mengurusi pendidikan di daerah tersebut terkait dengan fungsinya.Isu utama terkait

pendidikan didaerah tersebut, angka putus sekolah, ketersediaan kegiatan

ekstrakurikuler, pelayanan kesehatan sekolah dan perawatan kesehatan sekolah,

yang perlu dikaji juga adalah adakah sekolah untuk orang dewasa di temapt

tersebut, bagaimana kondisinya, adakah perpustakaan, apa isu utama pendidikan di

komunitas, berapa angka drop out siswa, bagaimana pelayann kesehatan disekolah

dan perawatannya.

h. Rekreasi, meliputi pusat bermain anak, bentuk rekreasi yang ada di masyarakat,

fasilitas rekreasi yang ada, dimana orang dewasa biasa bermain, tempat rekreasi

utama, siapa yang banyak menggunakan fasilitas tersebut, fasilitas apa yang ada di

tempat rekresi tersebut. Data dapat diperoleh dari sensus, wawancara, dan

windshield survei.

3. Persepsi

a. Warga masyarakat, meliputi bagaimana perasaan warga terhadap masalah

hipertensi, apakah warga dianggap sebagai kekuatan masyarakat, kesadaran warga

terhadap masalah masyarakat. Perlu dikaji persepsi orang dewasa terhadap kondisi

komunitas itu sendiri, apakah orang dewasa ada masalah, merasa ada ancaman,

masalah apa yang dirasakan, tanyakan pada beberapa warga untuk mendapatkan

gambaran umum kondisi orang dewasa dan persepsi orang dewasa adanya ancaman
atau stimulus baik dari dalam maupun dari luar komunitas, termasuk apakah itu

stressor biologis, gangguan psikologis, mental, koping maladaptive, social, banyak

pengangguran, pusat hiburan, spiritual (minat terhadap kegiatan keagamaan kurang,

kepedulian terhadap tokoh agama, dan kulutural terhadap di berlakukannya mabuk

mabukan dan minum alcohol. Data dapat diperoleh dari wawancara dengan warga

pada berbagai kelompok lansia, remaja, buruh, pemuka agama dan masyarakat, dan

pemerintahan.

b. Persepsi perawat, meliputi kesehatan masyarakat setempat, kekuatan yang ada di

masyarakat, masalah aktual dan potensial yang dapat diidentifikasi. Apakah ada

ancaman orang dewasa di komunitas,Data dapat diperoleh dengan observasi dan

wawancara dengan warga masyarakat.

2.2.3. Kesehatan

Kesehatan dalam model ini dilihat sebagai sumber bagi kehidupan sehari-hari,

bukan tujuan hidup. Kesehatan merupakan sebuah konsep positif yang

menekankan pada sumber sosial dan personal sebagai kemampuan fisik.

2.2.4. Keperawatan

Keperawatan,berdasarkan definisi tiga konsep yang lain, merupakan upaya

pencegahan (prevention). Keperawatan terdiri dari pencegahan primer yang

bertujuan pada menurunkan kemungkinan yang berhadapan dengan stressor atau

memperkuat bentuk pertahanan, pencegahan sekunder yang dilakukan setelah

sebuah stressor memasuki garis pertahanan dan menyebabkan sebuah reaksi serta

tujuannya adalah pada deteksi dini dalam mencegah kerusakan lebih lanjut, dan
pencegahan tersier yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembalikan status

kesehatan.