Anda di halaman 1dari 16

Nama : Ika Aminatus Zahriyah

NIM : 12208173031
Kelas : TBIO-6C Lingkungan
Mata Kuliah : AMDAL

1. Bagaimanakah prosedur kerja AMDAL, manfaat AMDAL bagi pemerintah,


pemrakarsa dan masyarakat? Serta bagaimanakah tujuan AMDAL?
2. Bagaimanakah hubungan AMDAL, Audit Lingkungan dan ISO 9001/14001?

Jawab
1. a) Prosedur kerja AMDAL
 Proses Penapisan:
Proses penapisan wajib AMDAL adalah proses untuk menentukan
apakah suatu rencana kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak. Di
Indonesia, proses penapisan dilakukan dengan sistem penapisan satu
langkah. Ketentuan apakah suatu rencana kegiatan perlu menyusun
dokumen AMDAL atau tidak dapat dilihat pada Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Rencana
Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL.
 Proses Pengumuman
Setiap rencana kegiatan yang diwajibkan untuk membuat AMDAL wajib
mengumumkan rencana kegiatannya kepada masyarakat sebelum
pemrakarsa melakukan penyusunan AMDAL. Pengumuman dilakukan
oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa kegiatan. Tata cara
dan bentuk pengumuman serta tata cara penyampaian saran, pendapat
dan tanggapan diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor 08 Tahun
2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam
Proses AMDAL.
 Proses Pelingkupan
Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan
lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotetis)
yang terkait dengan rencana kegiatan. Tujuan pelingkupan adalah untuk
menetapkan batas wilayah studi, mengidentifikasi dampak penting
terhadap lingkungan, menetapkan tingkat kedalaman studi, menetapkan
lingkup studi, menelaah kegiatan lain yang terkait dengan rencana
kegiatan yang dikaji. Hasil akhir dari proses pelingkupan adalah
dokumen KA-ANDAL. Saran dan masukan masyarakat harus menjadi
bahan pertimbangan dalam proses pelingkupan.
 Proses penyusunan dan penilaian KA-ANDAL
Setelah KA-ANDAL selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan
dokumen kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan
peraturan, lama waktu maksimal penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di
luar waktu yang dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki atau
menyempurnakan kembali dokumennya.
 Proses penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL
Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada
KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL).
Setelah selesai disusun, pemrakarsa dapat mengajukan dokumen kepada
Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama
waktu maksimal penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar
waktu yang dibutuhkan penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan
kembali dokumennya.
 Persetujuan kelayakan lingkungan
Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan diterbitkan oleh:
1) Menteri, untuk dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat
2) gubernur, untuk dokumen yang dinilai oleh komisi penilai provinsi
3) bupati atau walikota, untuk dokumen yang dinilai oleh komisi
penilai kabupaten/kota.
Penerbitan keputusan wajib mencantumkan:
1)dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan
2)pertimbangan terhadap saran, pendapat dan tanggapan yang diajukan
oleh warga masyarakat.
b) Manfaat AMDAL bagi pemerintah
 Mencegah dari pencemaran dan kerusakan lingkungan.
 Menghindarkan konflik dengan masyarakat.
 Menjaga agar pembangunan sesuai terhadap prinsip pembangunan
berkelanjutan.
 Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan
hidup. 

c) Manfaat AMDAL bagi pemrakarsa


 Menjamin adanya keberlangsungan usaha.
 Menjadi referensi untuk peminjaman kredit.
 Interaksi saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar untuk bukti
ketaatan hukum. 

d) Manfaat AMDAL bagi masyarakat


 Mengetahui sejak dari awal dampak dari suatu kegiatan.
 Melaksanakan dan menjalankan kontrol.
 Terlibat pada proses pengambilan keputusan.

e) Tujuan AMDAL
Tujuan AMDAL adalah suatu penjagaan dalam rencana usaha atau juga
kegiatan agar tidak memberikan suatu dampak buruk bagi lingkungan
sekitar. Berikut ini adalah tujuan amdal adalah:
1) Sebagai bahan perencanaan pembangunan suatu wilayah
2) Membantu suatu proses didalam pengambilan keputusan terhadap suatu
kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha atau juga kegiatan
3) Memberikan suatu masukan didalam penyusunan rancangan rinci teknis
dari rencana usaha atau juga kegiatan
4) Memberi masukan didalam melakukan penyusunan rencana pengelolaan
serta juga pemantauan lingkungan hidup
5) Memberikan suatu informasi terhadap masyarakat dari  dampak yang
ditimbulkan dari adanya suatu rencana usaha  atau juga kegiatan
6) Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan serta menekan
pencemaran sehingga dampak negatifnya menjadi serendah mungkin

2. Hubungan AMDAL, Audit Lingkungan dan ISO 9001/14001


a. Hubungan AMDAL dan audit lingkungan
Pada dasarnya AMDAL dan audit lingkungan saling berkaitan.
Keduanya merupakan instrument untuk menciptakan pembangunan
berwawasan lingkungan dalam kerangka menciptakan pembangunan
berkelanjutan. Amdal terdiri atas empat dokumen yaitu KA (kerangka
acuaan), ANDAL (analisis dampak lingkungan), RKL (rencana
pengelolaan lingkungan) dan RPL (rencana pemantauan lingkungan).
Pelaksanan dua dokumen terakhir sangat erat kaitannya dengan audit
lingkungan.
Pada dasarnya AMDAL dan audit lingkungan saling berkaitan.
Keduanya merupakan instrument untuk audit menciptakan pembangunan
berwawasan lingkungan dalam kerangk menciptakan pembangunan
berkelanjutan. Amdal terdiri atas empat dokumen yaitu KA (kerangka
acuaan), ANDAL (analisis dampak lingkungan), RKL (rencana
pengelolaan lingkungan) dan RPL (rencana pemantauan lingkungan).
Pelaksanan dua dokumen terakhir sangat erat kaitannya dengan
lingkungan. Keberhasilan pelaksanaan RKL dan RPL dapat
dilihat dari hasil audit lingkungan. Audit lingkungan dibuat untuk
mengetahui keberhasilankinerja pengelolaan lingkungan. Apabila kinerja
pengelolaan lingkungan itu baik, berarti perencanaan yang tertera dalam
RKL dan RPL serta pelaksanaannya juga baik. Demikian sebaliknya bila
kinerja pengelolaan lingkungan tidak baik berarti ada persoalan, apakah
RKL atau RPL-nya yang tidak baik untuk pelaksaannya yang tidak baik.
Bisa terjadi ketiganya tidak baik atau salah satu dari ketiga aspek yang
tidak baik.
b. Hubungan AMDAL dengan ISO 9001/14001
Semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan sistem
manajemen mutu, secara langsung mempengaruhi perusahaan lain untuk
menerapkan hal yang serupa. Penerapan sistem manajemen mutu ini tidak
ada bedanya dengan melakukan perubahan yang berorientasi kedepan,
karena dengan menerapkan sistem manajemen mutu, merupakan langkah
awal ke arah perbaikan mutu.
Sebuah perusahan yang menerapkan sistem manajemen mutu
hendaknya memperhatikan lingkup perusahaannya karena menyangkut hal-
hal yang bersifat umum dan aplikasinya sangat tergantung pada besar
kecilnya suatu perusahaan, kerumitan dan hubungan masing-masing proses
dan memetakannya. Setiap perusahan memiliki proses yang berbeda. Dalam
perusahaan, walaupun memproduksi produk yang sama. Terlebih lagi bila
produknya berbeda, seperti perusahaan manufaktur dana jasa. Kecanggihan
proses yang ada di perusahan dengan teknologi yang digunakan dapat
menjadi perbedaan dalam bentuk perencanaan dan penerapan sistem
manejemen mutu.
Dengan berlakunya ISO 9000, daya saing antar perusahaan semakin
besar, apalagi bagi perusahaan yang penjualan produksinya melewati batas
negara. Sementara berdasarkan sistem birokrasi dalam negeri pada
masingmasing negara dapat dibentuk agen-agen sertifikasi yang beroperasi
sesuai dengan standar yang telah disepakati. Pada saat ini terdapat
suatu kenyataan, suatu perusahan sebagai produsen barang – barang yang
telah sesuai dengan ISO 9000 (standar Eropa) telah dapat dianggap sesuai
dengan syarat hukum seperti dalam petunjuk yang dikeluarka oleh
masyarakat Eropa sehingga perusahan-perusahan tersebut mendapatkan
kepastian hukum yang sesuai dengan peradilan di Eropa.
Pada umumnya standar acuan internasional dapat dijadikan patokan
pada suatu perusahan. Suatu peusahan dapat mengikuti sistem manajemen
mutu yang ada atau dengan menggunakan bantuan konsultan untuk
membuatnya. Umumnya penerapan sistem manajemen mutu sama halnya
dengannya dengan mengetahui persyaratan minimal yang harus dimiliki
oleh suatu perusahaan. Perusahaan ini harus mengerti kemampuan
perusahaan dan prosesnya, memiliki komitmen dari semua sumber daya
diberlakukan. Perusahaan yang bersangkutan mempelajari secara seksama
guna melakukan peningkatan mutu secara terus menerus.Adanya standar
yang berbeda diantara negara, mengakibatkan tejadinya hambatan alam
menjalin hubungan dengan masing-masing pihak. Jika tidak ada ukuran
kartu kredit dan katu telpon standar untuk semu negara, tentu pihak-
pihak yang sering berpergian ke luar negeri akan kerepotan. Oleh karena
itu demikian standar internasional adalah cara terbaik, termudah dan
teraman pada era globalisasi saat ini.

Soal Penapisan
1. Sebutkan tujuan dari metode penapisan?
2. Jelaskan metode penapisan bertahap dan metode penapisan satu langkah?
3. Sebutkan jenis proyek apa saja yang harus dilengkapi dengan dokumen amdal
dan apa saja persyaratan proyek yang harus dilengkapi dokumen amdal,
sebutkan?

Jawab
1. Tujuan dari metode penapisan
Penapisan bertujuan untuk memilih rencana pembangunan mana yang
harus dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan. Langkah ini
sangat penting bagi pemrakarsa untuk dapat mengetahui sedini mungkin
apakah proyeknya akan terkena AMDAL. Hal ini berkenaan dengan
perencanaan biaya dan waktu. Seperti yang terdapat pada pasal 16 Undang-
Undang No. 4 tahun 1982, hanya rencana proyek yang diprakirakan akan
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan saja yang diwajibkan untuk
dilengkapi dengan AMDAL. Dengan penapisan ini diharapkan kepedulian kita
terhadap lingkungan tidak akan mengakibatkan bertambahnya waktu, tenaga
dan biaya yang berlebihan yang diperlukan untuk pembangunan.

2. metode penapisan bertahap dan metode penapisan satu langkah


a. Metode penapisan bertahap
Metode penapisan bertahap dilakukan dengan beberapa langkah secara
berurutan. Soemarwoto, mengemukakan penapisan di negara-negara Eropa
dilakukan dengan melalui 8-12 langkah. Kriteria yang dipakai untuk
penapisan di antaranya ialah karakteristik proyek, besarnya biaya proyek,
nilai ambang teknik, lokasi proyek, nilai ambang keacuhan (buku mutu
lingkungan). Masing-masing kriteria mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Pada umumnya metode penaapisan hanya dilakukan melalui 2 atau 3
langkah. Penapisan dilakukan dengan menggunakan kriteria yang eksplisit
dan implisit memasukkan proyek ke dalam, satu diantara kelompok. Proyek
berdampak penting dan tidak ditentukan berdasarkan pengalaman dan
pustaka. Proyek yang masuk dalam kelompo 3 (ada keraguan menimbulkan
dampak penting atau tidak) harus dilakukan penilaian lebih lanjut
(penapisan tingkat II).
1) Magnitude
Didefinisikan sebagai kementakan intensitas terhadap setiap dampak
potensial. Apakah dampak tak terbalikkan? Jika terbalikkan, berapa
besarkah laju proses pemulihan atau adaptasi daerah dampak? Apakah
kegiatan akan menutup kesempatan penggunaan daerah dampak untuk
peruntukan lain?
2) Prevalence
Didefinisikan sebagai luasnya dampak yang akhirnya akan terjadi,
misalnya karena kumulatif. Dampak individual mungkin mempunyai
tingkat dan nilai yang rendah, tetapi beberapa dampak bersama-sama
mungkin mempunyai efek yang luas. Berkaitan dengan penentuan
dampak kumulatif ialah jarak terjadinya efek dari sumber aktivitas,
kerusakan habitat ikan karena suatu kegiatan dapat mempengaruhi
produksi perikanan di tempat lain yang jauh dan beberapa tahun setelah
kegiatan proyek selesai.
3) Duration and frequency
Apakah dampak akan bersifat jangka panjang atau pendek? Apabila
kegiatan pembangunan tidak terus menerus, dapatkah terjadi pemulihan
pada waktu kegiatan berhenti?
4) Risk
Didefinisikan sebagai kementakan terjadinya efek yang serius
5) Importance
Didefinisikan sebagai nilai yang diberikan pada daerah tertentu. Pada
keadaannya sekarang. Daerah dampak dapat juga mempunyai nilai
regional atau nasional.
6) Mitigatioon
Dapatkah masalah ditanggulangi? EPLatau PIL merupakan suatu bentuk
penapisan bertahap. Kasus di beberapa negara juga di Indonesia ternyata
menimbulkan banjir PIL sehingga menyulitkan penyelesaiannya dan
dianggap sebagai ANDAL sederhana bukan alat penapisan.

b. Metode penapisan satu langkah


Metoda penapisan satu langkah didasarkan pada kriteria eksplisit
berupa daftar yang memuat jenis proyek yang tanpa keraguan menimbulkan
dampak penting terhadap lingkungan sehingga harus dibuat AMDAL.
Dampak lingkungan tidak hanya ditentukan oleh jenis usaha atau kegiatan
tetapi juga oleh lokasi yaitu lokasi-lokasi sensitif lingkungan. Metode
penapisan satu langkah ini merupakan dafatar positif sangat sederhana.
Pemerintah membuat daftar proyek yang harus dikenakan AMDAL. Daftar
ini dibuat sebagai kriteria penapisan, sehingga yang ada dalam daftar ini
harus membuat AMDAL. Karena metode ini sederhana dan mudah maka
hasilnya dapat dicapai dengan cepat dan konsisten. Metode penapisan satu
langkah ini memerlukan birokrasi yang pendek. Jumlah tenaga yang
diperlukan dapat di batasi, peryaratan tingkah pendidikan dan pengalaman
juga tidak tinggi dan tidak menambah ekonomi biaya tinggi.

3. jenis proyek yang harus dilengkapi dengan dokumen amdal dan persyaratan
proyek yang harus dilengkapi dokumen amdal
a. jenis proyek yang harus dilengkapi dengan dokumen amdal
1) Bidang Pertambangan Dan Energi
 Luas wilayah pertambangan umum tahap exploitasi Produksi
 Batubara
 Bijih Primer
 Bijih Sekunder
 Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C Bahan
galian
 radioakif, termasuk pengolahan, penam- bangan dan pemurnian
 Transmisi
 PLTD/PLTG/PLTU/PLTGU
 PLTA semua jenis dan ukuran kecuali PLTM den jenis aliran
langsung
 PLTP
 Pusat Listrik dari jenis lain
 Eksploitasi Minyak/Gas Bumi
 Pengolahan (Kilang)
 Transmisi Minyak/Gas Bumi >= 200 ha dan atau
>= 200.000 ton/tahun
>= 60.000 ton/tahun
>= 100.000 ton/tahun
>= 300.000 m3/tahun
> 150 KV
>= 100 MW
>= 55 MW
>= 5 MW
>= 25 km
2)Bidang Kesehatan
 Rumah sakit kelas A
 Rumah sakit yang setara dengan kelas A atau kelas 1 Rumah sakit
 Rumah sakit dengan peiayanan spesialisasi lengkap/menyeluruh
 lndustri Farmasi yang membuat bahan baku obat dengan proses
penuh
 >= 400 kamar
3) Bidang Pekerjaan Umum
 Pembangunan Bendung atau Waduk
 Pengembangan Daerah lrigasi
 Pengembangan Daerah Rawa Pasang Surut/Lebak Pengamanan
pantai, dikota besar
 Perbaikan sungai. dikota besar
 Kanalisasi/Kanal Banjir dikota besar
 Kanalisasi selain no.6 (pantai, rawa, atau lainnya) Pernbangunaan
jalan tol dan jalan layang
 Pembangunan jalan raya
 Pembangunan dan peningkatan jalan dengan pelebaran di luar
daerah milik jalan kota besar dan metropolitan yang berfungsi arteri
atau kolektor
 Pengolahan sampah dengan incinerator
 Pembuangan sampah dengan sistem control landfill dan sanitary
landfill

 Pembuangan sampah dengan sistem open dumping Pembuangan


sistem drainasedengan saluran di saluran primer kota metropolitan
den besar
 Air Limbah:
 Pembangunan IPAL untuk pemukimanPembangunan sistem
sewerage
 Pengambilan air dari danau, sungai, mata air, atau sumber air
lainnya
 Pembangunan perumahan den pemukiman umum Peremajaan kota
 Gedung bertingkat/apartemen tinggi >= 15 m atau luas genangan >=
100 ha
 luas yang di airi
a. >= 2.000 ha

b. luas >= 5.000 ha


c. >= 500.000 penduduk
d. >= 500.000 penduduk
e. panjang >= 5 km atau lebar >= 20 M
f. panjang >= 25 km atau lebar >= 50 M
g. panjang > 25 km
h. panjang > 5 km atau luas >= 5 ha
i. >= 800 ton/ha
j. >= 800 ton/ha
k. >= 80 ton/ha
l. panjang >= 5 km
m. luas >= 50 ha
n. pelayanan >= 2.500 ha
o. debit >= 60 m
p. luas >= 200 ha
q. luas >= 5 ha
r. tinggi >= 60 m
4) Bidang Pertanian
 Usaha tambak udang/ikan
 Pencetakan sawah, pada kawasan hutan
 Usaha perkebunan tanaman tahunan
 Usaha pertanian tanaman
semusim luas >= 50 ha
luas >= 1.000 ha
luas >= 1 0.000 ha
luas >= 5.000 ha
5) Bidang Parpostel
 Hotel
 Padang Golf
 Taman Rekreasi
 Kawasan Pariwisata >= 200 kamar atau luas >= 5 ha
>= 100 ha
6) Bidang Transmigrasi & Pemukiman Perambah Hutan
 Rencana kegiatan pembangunan pemukiman transmigrasi
 Keterangan :
 Jenis Transmigrasi Umum
 Usaha pokok Tanarnan pangan den atau perkebunan
 Lingkup studi : SKP
7) Bidang Perindustrian
 Industri Semen (yang dibuat melalui produksi klinker)
 Industri Pulp den Kertas
 Industri Pupuk Kimia (Sintetis)
 Industri Petrokimia
 Industri peleburan baja
 Industri peleburan timah hitam (Pb)
 Industri peleburan tembaga (Cu)
 Industri pembuatan alumina
 Industri peleburan baja paduan
 Industri alumunium ingot
 Industri peleburan pellet & sponge 12.industd pig iron 13.industd
fero alloy Kawasan lndustri
 Industri galangan kapal produksi
 Industri Pesawat Terbang
 Industri kayu lapis terintegrasi lengkap dgn fasilitas penunjangnya,
antara lain industri perekat industri senjata, munisi dan bahan
peledak
 Industri penghasil pestisida primer
 Industri baterei
>= 3.000 DWT
luas >= 3.000 ha
8) Bidang Perhubungan
 Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api dan fasilitasnya
 Pembangunan Sub Way
 Pelabuhan Kelas 1, 11, 111 beserta fasilitasnya
 Pelabuhan khusus
 Reklamasi Pantai luas
 Pengerukan Laut
 Daerah Kerja (Kawasan) Pelabuhan
 Bandar Udara beserta fasilitasnya panjang >= 25 km
>= 25 ha
volume >= 1 00.000 m3
9) Bidang Perdagangan
 Pusat Perdagangan/Perbelaniaan relatif
terkonsentrasi luas >= 5 ha atau luas bangunan >=
10.000 m2
10) Bidang Pertahanan Dan Keamanan
 Pembangunan Gudang Munisi
 Gudang Pusat Munisi dan Gudang Munisi Daerah Pembangunan
Pangkalan
 Angkatan Laut
 Pembangunan Pangkalan Angkatan Udara
 Pusat Latihan Tempur/Lapangan tembak senjata
a. kelas A. B, C
b. kelas A, B, C atau yang setara
c. luas >= 10.000 ha
11) Bidang Pengembangan Tenaga Nuklir
 Pembangunan dan pengoperasian Reaktor Nuklir Reaktor Daya
 Reaktor Penelitian Pembangunan dan Pengoperasian instalasi Nuklir
Non
 Reaktor :
 Fabrikasi bahan bakar Nuklir
 Pengelolaan Limbah Radioaktif
 Radiator aktivitas sumber
 Produksi Radioisotop untuk semua instalasi >= 1 00 KWt
a. produksi >= 50 elemen bakar/tahun
b. semua instansi
c. >= 1.850 TBq (5.000 Ci)
12)Bidang Kehutanan
 Pembangunan taman safari
 Pembangunan kebun binatang
 Hak pengusaha hutan (HPH)
 Hak pengusahaan hutan sagu

 Hak pengusahaan hutan tanaman industri (HTI Pengusahaan


pariwisata alam di dalam : taman wisata alam, taman buru, taman
laut, taman nasional, dan taman hutan raya >= 250 ha
>= 100 ha
13) BIDANG PENGENDALIAN BAHAN BERBAHAYA &
BERACUN
 Pembangunan Fasilitas Pengolah Limbah B-3
14) BIDANG KEGIATAN TERPADU/MULTISEKTOR
 Usaha atau Kegiatan yang terdiri dari lebih dari satu kegiatan wajib
AMDAL yang saling terkait dan melibatkan kewenangan lebih dari
satu instansi yang bertanggung jawab serta berada dalam satu
kesatuan hamparan ekosistem.
Selain itu, menurut Peraturan Mentri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun
2012, setiap kegiatan atau usaha yang berada di sekitar atau yang
mempengaruhi secara langsung kawasan lindung harus menyusun dokumen
AMDAL. Kawasan lindung yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1)
Kawasan konservasi (taman nasional, cagar alam, suaka marga satwa, taman
hutan raya, dan taman wisata) 2) Kawasan hutan lindung 3) Sempadan
pantai 4) Sempadan mata air 5) Cagar budaya dan ilmu pengetahuan 6)
Taman laut 7) Kawasan bergambut 8) Kawasan mata air 9) Kawasan sekitar
danau atau waduk 10) Kawasan pantai berhutan mangrove atau bakau 11)
Kawasan cagar alam biologi 12) Kawasan imbuhan air tanah 13) Kawasan
perlindungan plasma mutlak 14) Terumbu karang dan 15) Kawasan koridor
bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi
b. persyaratan proyek yang harus dilengkapi dokumen amdal
1) Pertama Jenis Usaha Atau kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah
sebagaimana dimaksud dalam Lampiran 1 Keputusan ini.
2) Kedua Jenis usaha atau kegiatan yang tidak termasuk dalam
Lampiran 1 Keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan
langsung dengan kawasan lindung seperti disebut dalam
Lampiran 11 Keputusan ini, wajib dilengkapi dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
3) Ketiga Jenis usaha atau kegiatan yang tidak termasuk dalam
Lampiran 1 Keputusan ini tetapi dapat merubah fungsi dan
atau peruntukan suatu kawasan lindung seperti disebut
pada Diktum kedua Keputusan ini, wajib dilengkapi
dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
4) Keempat Jenis usaha atau kegiatan yang tidak termasuk dalam
Lampiran 1 Keputusan ini tetapi berada di kawasan
lindung yang disebut dalam Diktum kedua Keputusan ini
setelah berubah peruntukannya menurut perundangan
yang berlaku, wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan.
5) Kelima Apabila dalam peiaksanaan, instansi yang bertanggung
jawab mempunyai keraguan tentang rencana usaha atau
kegiatan yang tidak terdapat dalam Lampiran 1 Keputusan
ini, maka instansi tersebut wajib meminta kepastian
penetapan wajib AMDAL kepada Menteri Negara
Lingkungan Hidup secara tertulis.
6) Keenam Menteri Negara Lingkungan Hidup akan memberikan
keputusan terhadap usulan sebagaimana disebut dalam
Diktum keempat.
7) Ketujuh Jenis Usaha atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Lampiran 1 Keputusan ini akan ditinjau
secara keseluruhan atau sebagian sekurang-kurangnya
sekali dalam 5 (lima) tahun.
8) Kedelapan Keputusan ini mulai beriaku pada tanggai ditetapkan, dan
bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan,maka
keputusan ini akan ditinjau kembali.