Anda di halaman 1dari 16

KASUS KELOLAAN KELOMPOK III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


OPEN FRAKTUR HUMERUS DI BANGSAL CENDANA 5
RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA

Disusun oleh:
Dwi Novitasari (1910206009)
Toto Wahyono (1910206142)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2019
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
OPEN FRAKTUR HUMERUS DI BANGSAL CENDANA 5
RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA

Disusun oleh:
Dwi Novitasari (1910206009)
Toto Wahyono (1910206142)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2019
HALAMAN PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


OPEN FRAKTUR HUMERUS DI BANGSAL CENDANA 5
RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA

Disusun oleh:
Dwi Novitasari (1910206009)
Toto Wahyono (1910206142)

Telah Memenuhi Persyaratan dan disetujui

Pada tanggal:

Clinical Instruction Pembimbing Akademik

Sunyar, S.Kep,. Ns. Hamudi Prasestiyo, S.Kep,. Ns.


Nip : 196808161989031003

iii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas
segala berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Open Fraktur Humerus di
Bangsal Cendana 5 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta”, sholawat serta salam senantiasa
tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan umat yang istiqomah di jalan-Nya.
Penulis menyadari penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan untuk lebih
menyempurnakan penyusunan laporan ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Yogyakarta,Oktober 2019

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................ iii
KATA PENGANTAR............................................................................................ iv
DAFTAR ISI........................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi.............................................................................................................. 2
B. Etiologi.............................................................................................................. 2
C. Klasifikasi.......................................................................................................... 2
D. Patofisiologi...................................................................................................... 3
E. Manifestasi Klinis............................................................................................. 3
F. Komplikasi........................................................................................................ 3
G. Pemeriksaan Penunjang..................................................................................... 4
H. Penatalaksanaan................................................................................................ 4
BAB III LAPORAN PENDAHULUAN
A. Mind Map.......................................................................................................... 6
B. Pathway............................................................................................................. 7
C. Perencanaan ...................................................................................................... 8
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................ 9
(Terlampir)
DAFTAR PUSTAKA

v
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dalam taraf
halusinasi menuju industrialisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan
mobilisasi masyarakat /mobilitas masyarakat yang meningkat otomatisasi terjadi
peningkatan penggunaan alat-alat transportasi /kendaraan bermotor khususnya bagi
masyarakat yang tinggal diperkotaan. Sehingga menambah “kesemrawutan” arus lalu
lintas. Arus lalu lintas yang tidak teratur dapat meningkatkan kecenderungan
terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor. Kecelakaan tersebut sering kali
menyebabkan cidera tulang atau disebut fraktur.
Menurut Smeltzer (2001 : 2357) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
Berdasarkan data dari rekam medik RS Fatmawati di ruang Orthopedi periode Januari
2005 s/d Juli 2005 berjumlah 323 yang mengalami gangguan muskuloskletel,
termasuk yang mengalami fraktur Tibia Fibula berjumlah 31 orang (5,59%).
Penanganan segera pada klien yang dicurigai terjadinya fraktur adalah dengan
mengimobilisasi bagian fraktur adalah salah satu metode mobilisasi fraktur adalah
fiksasi Interna melalui operasi Orif (Smeltzer, 2001 : 2361). Penanganan tersebut
dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi umumnya oleh akibat
tiga fraktur utama yaitu penekanan lokal, traksi yang berlebihan dan infeksi (Rasjad,
1998 : 363).
Peran perawat pada kasus fraktur meliputi sebagai pemberi asuhan keperawatan
langsung kepada klien yang mengalami fraktur, sebagai pendidik memberikan
pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi, serta sebagai peneliti yaitu dimana
perawat berupaya meneliti asuhan keperawatan kepada klien fraktur melalui metode
ilmiah.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa. Sedangkan menurut Linda Juall C. dalam buku
Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah
rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang
lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang
B. Etiologi
1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur
demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat
terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam
jalur hantaran vektor kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat
berupa pemuntiran,penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya,
dan penarikan
C. Klasifikasi
Berdasarkan hubungan dengan dunia luar.
1. Closed frakture (fraktur tertutup).
Fraktur yang tidak menyebabkan luka terbuka pada kulit.
2. Compound fracture (fraktur terbuka).
Adanya hubungan antara fragmen tulang yang patah dengan dunia luar.
Berdasarkan jenisnya
1. Fraktur komplit
Garis fraktur mengenai seluruh korteks tulang.
2. Fraktur tidak komplit
Garis fraktur tidak mengenai seluruh korteks.
Berdasarkan garis fraktur
1. Fraktur transversa

2
Garis fraktur memotong secara transversal. Sumbu longitudinal.
2. Fraktur obliq
Garis fraktur memotong secara miring sumbu longitudinal.
3. Fraktur spiral
Garis fraktur berbentuk spiral.
4. Fraktur butterfly
Bagian tengah dari fragmen tulang tajam dan melebar ke samping.
5. Fraktur impacted (kompresi)
Kerusakan tulang disebabkan oleh gaya tekanan searah sumbu tulang.
6. Fraktur avulsi
Lepasnya fragmen tulang akibat tarikan yang kuat dari ligamen.
Berdasarkan jumlah garis patah.
1. Fraktur kominutif
Fragmen fraktur lebih dari dua.
2. Fraktur segmental
Pada satu korpus tulang terdapat beberapa fragmen fraktur yang besar.
3. Fraktur multiple
Terdapat 2 atau lebih fraktur pada tulang yang berbeda
D. Patofisiologi
Trauma yang terjadi pada tulang humerus dapat menyebabkan fraktur. Fraktur
dapat berupa fraktur tertutup ataupun terbuka. Fraktur tertutup tidak disertai
kerusakan jaringan lunak di sekitarnya sedangkan fraktur terbuka biasanya disertai
kerusakan jaringan lunak seperti otot tendon, ligamen, dan pembuluh darah.
Tekanan yang kuat dan berlebihan dapat mengakibatkan fraktur terbuka karena dapat
menyebabkan fragmen tulang keluar menembus kulit sehingga akan menjadikan luka
terbuka dan akan menyebabkan peradangan dan kemungkinan terjadinya infeksi.
Keluarnya darah dari luka terbuka dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.
Tertariknya segmen tulang disebabkan karena adanya kejang otot pada daerah fraktur
menyebabkan disposisi pada tulang sebab tulang berada pada posisi yang kaku.
E. Manifestasi Klinis
1. Deformitas.
2. Bengkak atau penumpukan cairan/daerah karena kerusakan pembuluh darah.
3. Echimiosis.
4. Spasme otot karena kontraksi involunter di sekitar fraktur.

3
5. Nyeri, karena kerusakan jaringan dan perubahan fraktur yang meningkat karena
penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur
F. Komplikasi
1. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT
menurun, cyanosisbagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada
ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakanemergensi splinting, perubahan posisi
pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
2. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot,tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
Ini disebabkan oleh oedema atauperdarahan yang menekan otot, saraf, dan
pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luarseperti gips dan embebatan
yang terlalu kuat.
3. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksidimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus frakturterbuka, tapi bisa juga karena penggunaan
bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
4. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bisamenyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada
fraktur
G. Pemeriksaan penunjang
1. X.Ray dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang yang cedera.
2. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
3. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
4. CCT kalau banyak kerusakan otot.
5. Pemeriksaan Darah Lengkap
H. Penatalaksanaan
Yang harus diperhatikan pada waktu mengenal fraktur adalah :
1. Recognisi/pengenalan
Di mana riwayat kecelakaannya atau riwayat terjadi fraktur harus jelas.
2. Reduksi/manipulasi

4
Usaha untuk manipulasi fragmen yang patah sedapat mungkin dapat
kembali seperti letakasalnya.
3. Retensi/memperhatikan reduksi
Merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen
4. Traksi
Suatu proses yang menggunakan kekuatan tarikan pada bagian tubuh dengan
memakai katrol dantahanan beban untuk menyokong tulang
5. Gip

5
BAB III

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR HUMERUS

A. Mind Map
Definisi
Klasifikasi:
Fraktur adalah rusaknya kontinuitas
1. Closed frakture
tulang yang disebabkan tekanan
(fraktur Etiologi:
eksternal yang datang lebih besar
tertutup).  Kekerasan
dari yang dapat diserap oleh tulang
langsung
2. Compound  Kekerasan tidak
fracture (fraktur langsung
terbuka).  Kekerasan akibat
Fraktur
tarikan otot

Manifestasi klinis:
 Deformitas
Penatalaksanaan
 Bengkak
1.Recognisi/pen
 Spasme otot
Komplikasi genalan
 Kerusakan Arteri  Echimiosis
2.Reduksi/mani
 Kompartement  nyeri
Syndrom pulasi
 Infeksi 3.Retensi/mem
 Shock
perhatikan
reduksi
4. traksi
5. gip

6
B. Pathway

7
C. Perencanaan

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Resiko infeksi area pembedahan


Nyeri Akut berhubungan dengan
berhubungan dengan luka (open
fraktur humerus)(00266) agen cidera fisik (00132)

N0C: Kontrol resiko proses infeksi NOC : Kontrol Nyeri (1605)


(1924)  Mengenali kapan nyeri terjadi
 Mengidentifikasi faktor resiko  Menggambarkan faktor
infeksi Defisit perawatan diri berhubungan penyebab
 Mengetahui perilaku yang dengan gangguan muskuluskeletal  Menggambarkan nyeri
berhubungan dengan resiko  Menggunakan tindakan
infeksi NOC : Self care (ADL) pengurangan nyeri
 Mengetahui tanda dan gejala • Klien dapat meningkatkan aktivitas  Menggunakan analgesik yang
infeksi fisik direkomendasikan
 Mempertahankan lingkungan • Memverbalisasikan perasaan dalam  Melaporkan nyeri yang
yang bersih meningkatkan kekuatan dan terkontrol
 Memonitor perubahan status kemampuan berpindah
kesehatan • ADL terpenuhi NIC : Manajemen Nyeri Akut (1410)
 Lakukan pengkajian nyeri
NIC: Kontrol Infeksi (6540) NIC: Bantuan Perawatan diri komperenshif
 Cuci tangan sebelum dan  Mengkaji kemampuan dan  Berikan analgesik sesuai
sesudah kegiatan perawatan kebutuhan perawatan diri pasien prosedur yang tepat
 Pastikan teknik perawatan luka  Berikan bantuan perawatan diri  Lakukan intervensi
yang tepat nonfarmakologi untuk
 Berikan terapi antibiotik yang penyebab nyeri dan apa yang
sesuai diinginkan pasien
 Ajarkan pasien dan keluarga  Modifikasi pengukuran kontrol
bagaimana menghindari resiko nyeri
infeksi

8
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (2001) Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol.3, Jakarta : EGC

Budi Santosa, (2006) Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006, Jakarta : Prima Medika

Doengoes, dkk. (2007) Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. (2000) Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius

Price, Sylvia A, dkk. (2005) Patofisiologi Edisi 6 Volume 2, Jakarta : EGC

Robbins, dkk. (1999) Dasar Patologi Penyakit Edisi 5, Jakarta : EGC

Wikipedia. (2009) Meningitis. Avaliable from : (http://id.wikipedia.org/wiki/Meningitis)

9
10
BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN

(Terlampir)

11

Anda mungkin juga menyukai