Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka mencapai cita-cita bangsa sesuai dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945, diselenggarakan pembangunan disegala bidang
kehidupan yang berkesinambungan. Dengan diberlakukanya Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan sejak 17 September 1992, ini berarti
bahwa semua tenaga kesehatan, yaitu setiap orang yang mengabdikan dirinya
di bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan
melakukan upaya kesehatan dikenai peraturan tersebut.
Hukum adalah keseluruhan kumpulan peraturan-peraturan atau kaidah-
kaidah dalam suatu kehidupan bersama atau keseluruhan peraturan tingkah
laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan
pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Berkembang di dalam masyarakat dalam
kehendak, merupakan sistem peraturan, sistem asas-asas, mengandung pesan
kultural karena tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan hukum kesehatan ?
2. Apa yang dimaksud dengan hukum keperawatan ?
3. Apa tujuan pengaturan hukum keperawatan dan kesehatan ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari hukum kesehatan
2. Mengetahui pengertian dari hukum keperawatan
3. Mengetahui tujuan hukum keperawatan dan kesehatan

BAB 2

1
TINJAUAN TEORI
2.1 Hukum Kesehatan
1. Pengertian Hukum Kesehatan
Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu
kekuasaan dalam mengatur pergaulan hidup bermasyarakat.
Hukum kesehatan adalah semua peraturan hukum yang berhubungan
langsung pada pelayanan kesehatan dan penerapannya pada hukum perdata,
hukum administrasi dan hukum pidana (UU Kesehatan No.23 tahun 1992).
Hukum kesehatan adalah kumpulan peraturan yang berkaitan langsung
dengan pemberian perawatan dan juga penerapannya kepada hukum perdata,
hukum pidana dan hukum administrasi (Prot. Van Der Miju). Hukum kesehatan
didefinisikan sebagai segala ketentuan atau peraturan hukum yang berhubungan
langsung dengan pemeliharaan dan pelayanan kesehatan. Hukum kesehatan ini
lebih luas dari pada hukum keperawatan.

2. Penyebab perlunya Undang-Undang Kesehatan:


 Kesehatan, kesejahteraan merupakan cita-cita bangsa berdasarkan Pancasila
dan UUD 1945.
 Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan
dan sumber daya manusia yang merupakan modal utama pembangunan
nasional
 Perlunya penyelenggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh dan terpadu.

3. Fungsi Hukum Kesehatan


Hukum kesehatan dapat dikelompokkan menjadi perangkat hukum sektoral
(lex specialis) , terdapat juga perangkat hukum pokok (lex generalis) yang
meliputi hukum perdata,pidana,acara pidana dan lain-lain.
Hukum kesehatan mengatur khusus tentang sektor kesehatan,namun hukum
tersebut tidak boleh menyimpang dari asas atau prinsip dasar yang
terkandungdalam perangkat hukum pokok
Fungsi hukum kesehatan antara lain :

3
(1)Menjaga ketertiban didalam masyarakat. Meskipun hanya mengatur tata
kehidupan dalam didalam sub sektor kecil tetapi keberadaannya dapat memberi
sumbangan yang besar bagi ketertiban masyarakat secara keseluruhan.
(2)Menyelesaikan sengketa yang timbul didalam masyarakat (khususnya
dibidang kesehatan). Benturan antara kepentingan individu dengan kepentingan
masyarakat
(3)Merekayasa masyarakat (social engineering). Jika masyarakat menghalang-
halangi dokter untuk melakukan pertolongan terhadap penjahat yang luka-luka
karena tembakan, maka tindakan tersebut sebenarnya keliru dan perlu diluruskan.

Contoh : mengenai pandangan masyarakat yang menganggap dokter sebagai dewa


yang tidak dapat berbuat salah. Pandangan ini juga salah, mengingat dokter adalah
manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan di dalam menjalankan profesinya,
sehingga ia perlu dihukum jika perbuatannya memang pantas untuk dihukum.

Keberadaan Hukum Kesehatan di sini tidak saja perlu untuk meluruskan sikap dan
pandangan masyarakat, tetapi juga sikap dan pandangan kelompok dokter yang
sering merasa tidak senang jika berhadapan dengan proses peradilan.

4.Ruang Lingkup Hukum Kesehatan


Ruang lingkup hukum kesehatan meliputi penyusunan peraturan perudang-
undangan, pelayanan advokasi hukum dan peningkatan kesadaran hukum di
kalangan masyarakat.
Pasal 1 butir (1) Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan
menyatakan yang disebut sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan
sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.
Hukum kesehatan di Indonesia belum seluruhnya memenuhi ruang lingkup yang
di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama.

5.Sumber Hukum Kesehatan


Hukum Kesehatan tidak hanya bersumber pada hukum tertulis saja tetapi juga
yurisprudensi, traktat, konvensi, doktrin, konsensus dan pendapat para ahli hukum

3
maupun kedokteran.Hukum tertulis, traktat, Konvensi atau yurisprudensi,
mempunyai kekuatan mengikat (the binding authority), tetapi doktrin, konsensus
atau pendapat para ahli tidak mempunyai kekuatan mengikat, tetapi dapat
dijadikan pertimbangan oleh hakim dalam melaksanakan kewenangannya, yaitu
menemukan hukum baru.
Jika dilihat, hukum kesehatan meliputi:
1. Hukum medis (Medical law)
2. Hukum keperawatan (Nurse law)
3. Hukum rumah sakit (Hospital law)
4. Hukum pencemaran lingkungan (Environmental law)
5. Hukum limbah .(dari industri, rumah tangga, dsb)
6. Hukum polusi (bising, asap, debu, bau, gas yang mengandung racun)
7. Hukum peralatan yang memakai X-ray (Cobalt, nuclear)
8. Hukum keselamatan kerja
9. Hukum dan peraturan peraturan lainnya yang ada kaitan langsung yang dapat
mempengaruhi kesehatan manusia.

6. Azas Hukum Kesehatan:


1.    Asas perikemanusiaan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa berarti
bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dilandasi atas perikemanusiaan yang
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan tidak membeda-bedakan
golongan, agama, dan bangsa.
2.    Asas manfaat berarti memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
kemanusiaan dan perikehidupan yang sehat bagi setiap warga negara;
3. Asas usaha bersama dan kekeluargaan
berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan dilaksanakan melalui kegiatan yang
dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dijiwai oleh semangat
kekeluargaan.
4. Asas adil dan merata
berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dapat memberikan pelayanan
yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat dengan biaya yang
terjangkau oleh masyarakat.
5.    Asas perikehidupan dalam keseimbangan

3
berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus dilaksanakan seimbang antara
kepentingan individu dan masyarakat, antara fisik dan mental, antara materiel dan
spiritual;
6.    Asas kepercayaan pada kemampuan dan kekuatan sendiri
berarti bahwa penyelenggaraan kesehatan harus berlandaskan pada kepercayaan
akan kemampuan dan kekuatan sendiri dengan memanfaatkan potensi nasional
seluas-luasnya.

2.2 Hukum keperawatan 


1. Pengertian Hukum Keperawatan
Segala peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang asuhan
keperawatan terhadap kelien dalam aspek hukum perdata, hukum pidana dan
hukum administarasi sebagai bagian dari hukum kesehatan.

2. Fungsi Hukum Keperawatan


Secara umum fungsi hukum adalah:
 Memberi kepastian hukum
 Memberi perlindungan hukum
Fungsi hukum bagi keperawatan adalah:
   Hukum memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan
mana  yang sesuai dengan hukum.
  Membedakan tanggung jawab perawat  dengan tanggung jawab profesi lain.
   Membantu menentukan batas-batas  kewenangan tindakan keperawatan
mandiri.
   Membantu dalam mempertahankan standar pratik keperawatan dengan
menyatakan posisi perawat memiliki akuntabilitas di bawah hukum. (Kozier &
Erb, 1990

3.  Pentingnya Hukum mengatur Praktek Keperawatan


   Memberikan kepastian bahwa keputusan dan tindakan keperawatan yang
dilakukan  konsisten dengan prinsip hukum  yaitu keadilan, perubahan, standar
universal, tiap individu mempunyai hak dan tanggung jawab.

3
     Melindungi perawat dari liabilitas  yaitu tanggungan yang dimiliki oleh
seseorang terhadap  tindakan/kegagalan melakukan tindakan.
Tanggung  jawab perawat dalam hal ini yaitu tanggung jawab professional (kode
etik dan standar praktek keperawatan), dan tanggung jawab hukum (perdata,
pidana yang berlangsung secara terpisah maupun bersamaan).

6)   Masalah Hukum dalam Praktek Keperawatan

a) Penandatanganan  pernyataan hukum.
Perawat sering kali diminta sebagai saksi, perawat hendaknya tidak membuat
pernyataan yang mempunyai interpretasi ganda, dalam kesaksian harus mengacu
pada  Rumah Sakit/institusi.
b) Format persetujuan.
Diberikan kepada  pasien pada awal masuk ke Rumah sakit  yang  mengandung
kesanggupan pasien untuk dirawat dan menjalani pengobatan termasuk
persetujuan operasi yang diberikan setelah pasien benar-benar mendapat informasi
yang cukup dari tenaga kesehatan tentang tindakan yang dilakukan termasuk
risiko tindakan tersebut.
c) Laporan kejadian/incident report.
Setiap kali terjadi incident yang mengenai pasien, pengunjung, maupun petugas
kesehatan, maka perawat membuat laporan kejadian yang disebut incident riport
yaitu tulis apa adanya termasuk keadaan korban saat ditemukan, sebutkan saksi
yang ada pada saat  kejadian, tulis tindakan yang dilakukan, tulis nama dan tanda
tangan anda dengan jelas dan tulis waktu kejadian ditemukan.
d) Pencatatan.
Merupakan  suatu komponen yang paling penting yang memberikan sumber
kesaksian hukum. Setiap selesai melakukan tindakan maka perawat harus segera
mencatat secara jelas tindakan yang dilakukan dan  respons pasien terhadap
tindakan serta mencantumkan waktu tindakan diberikan dan tanda tangan  yang
memberi tindakan.  Cara secara pencatanan sesuai yang dapat diterima secara
hukum sesuai dengan prinsip-prinsip dokumentasi dan standar praktek kperawatan
(Kelly, 1987)
-          Catat secara obyektif : tulis dengan tinta permanen apa yang dilihat, didengar
dibau dan dirasakan.
-          Catat secara lengkap pengobatan dan perawatan yang diberikan : untuk apa,
dimana dan bagaimana dan dengan cara apa.
-          Bila ada kesalah tulisan tidak boleh dihapus tetapi dicoret dan tetap dapat
dibaca.
-          Catatan harus dibuat sendiri, catat waktu, tanggal dan ditandatangani.
e) Pengawasan penggunaan obat.
Obat yang dapat diberi dengan resep dan obat yang dijual bebas, sedangkan obat-
obat tertentu misalnya narkotika diatur secara khusus. Di Rumah Sakit obat ini
disimpan ditempat aman dan terkunci. Untuk menghindari masalah hukum
pengeluaran narkotika ini perawat harus memperhatikan prosedur dan pencatatan
yang benar.
f) Abortus dan kehamilan cara alami.
KUHP 346-349 : barang siapa melakukan suatu dengan sengaja menyebabkan
keguguran atau kematian janin dalam kandungan dapat dikenai hukuman penjara.
3
g) Kematian dan masalah yang terkait.
Masalah hukum yang terkait dengan kematian lain meliputi pernyataan kematian,
bedah mayat/otopsi dan donor organ.

7)    Prinsip prinsip Mencegah Masalah Hukum


1.        Ketahui hukum/UU yang mengatur praktek anda.
2.      Jangan melakukan apapun yang anda tidak tahu bagaimana melakukannya.
3.      Pertahankan kompetensi praktek anda.
4.      Lakukan pengkajian diri, evaluasi kelompok dan audit/evaluasi dari supervisor.
5.      Jangan sembrono.
6.      Kerjalah secara interdependensi, komunikasi dengan orang lain.
7.       Selalu mencatat secara akurat, lengkap dan jangan dihapus.
8.      Delegasikan secara aman dan absah, ketahui persiapan dan kemampuan orang-
orang dibawah pengawasan anda.
9.      Bantu pengembangan kebijakan dan prosedur.

2.3 Tujuan Hukum Kesehatan dan Keperawatan

1. Tujuan Hukum Kesehatan

Salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti
memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, papan, pendidikan,
kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup. Tujuan pembangunan
kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap
penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal
berada di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-
sama.
Tujuan hukum Kesehatan pada intinya adalah menciptakan tatanan
masyarakat yang tertib, menciptakan ketertiban dan keseimbangan. Dengan
tercapainya ketertiban didalam masyarakat diharapkan kepentingan manusia akan
terpenuhi dan terlindungi (Mertokusumo, 1986). Dengan demikian jelas terlihat
bahwa tujuan hukum kesehatanpun tidak akan banyak menyimpang dari tujuan
umum hukum. Hal ini dilihat dari bidang kesehatan sendiri yang mencakup
aspek sosial dan kemasyarakatan dimana banyak kepentingan harus dapat
diakomodir dengan baik.

3
2. Tujuan Hukum Keperawatan

Tujuan hukum keperawatan adalah untuk mengendalikan cakupan praktek


keperawatan, ketentuaan, perizinan bagi perawat, dan standar asuhan adalah
melindungi kepentingan masyarakat. perawat yang mengetahui dan menjalankan
undang-undang praktik perawat serta standar asuhan akan memberikan layanan
keperawatan yang aman dan kompeten.

3
BAB 3

KESIMPULAN

1.1 Kesimpulan

Hukum kesehatan dan keperawatan memegang peranan penting dalam


semua proses kesehatan. Tidak adanya hukum akan menyebabkan disfungsional
bahkan dapat menjadi penyebab kerusuhan. Oleh karena itu, hukum kesehatan
merupakan semua peraturan hukum yang berhubungan langsung pada pelayanan
kesehatan dan penerapannya pada hukum perdata, hukum administrasi dan hukum
pidana (UU Kesehatan No.23 tahun 1992).

1.2 Saran

Setelah mengetahui apa itu hukum kesehatan, hukum keperawatan, dan


tujuan pengaturan hukum keperawatan dan kesehatan, kita diharapkan mampu
meningkatkan kinerja kita sebagai bakal calon perawat nantinya.

3
DAFTAR PUSTAKA

 Ta’adi,2013. Hukum Kesehatan (Sanksi & Motivasi bagi Perawat) :


Penerbit Buku Kedokteran EGC
 https://budi399.wordpress.com
 https://nhyrmalaalang.blogspot.com/2015/06/hukum-keperawatan.html?
m=1
 http://irma-siregar.blogspot.com/2010/09/tujuan-hukum-kesehatan.html?
m=1

Anda mungkin juga menyukai