Anda di halaman 1dari 42

KASUS FISIOTERAPI

MUSKULOSKELETAL II
“SHOULDER IMPINGEMENT
SYNDROME”

OLEH:

1. FATMAWATI (PO714241171013)
2. ANGGI ANGGRAINI FIRMAN (PO714241171006)

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


JURUSAN FISIOTERAPI
PRODI D IV
2020

KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang MahaEsa, karena telah

melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini

bisa selesai pada waktunya.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan

memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisadisusun dengan baik dan rapi.

Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun

terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,

sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi

terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Makassar, 20 April 2020

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................i

DAFTAR ISI.......................................................................................................................ii

BAB I. PENDAHULUAN..................................................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fisiologi..............................................................................................

B. Patologi Shoulder Impingement Syndrome.......................................................

C. Intevensi Fisioterapi..........................................................................................
...........................................................................................................................

BAB III. PROSES FISIOTERAPI

A. Proses Asesmen Fisioterapi..............................................................................


..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................

B. Prosedur Intervensi Fisioterapi.........................................................................

C. Evaluasi Fisioterapi..........................................................................................

BAB IV.PENUTUP

D. Kesimpulan..............................................................................................................

E. Saran........................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

Shoulder impingement menyebabkan gangguan aktivitas pada gerak sendi bahu dan

mengakibatkan gangguan aktivitas fungsional. Cedera ini biasanya banyak

disebabkan oleh kesalahan gerak atau kesalahan posisi, penggunaan yang berlebihan

(overuse), postur yang buruk, faktor pekerjaan dan trauma. Hal tersebut akan

menyebabkan pembebanan pada salah satu bagian tubuh dan menimbulkan

ketidakseimbangan secara anatomi, yang pada akhirnya akan menimbulkan

gangguan dari bagian tubuhyang mengalami kerja berlebih.

Patologi gerak dan fungsi pada bahu seringkali mengalami gangguan anggota

gerak. Hal ini disebabkan mobilitas yang luas sehingga membutuhkan tingkat

stabilitas yang baik.Stabilisasi yang kurang baik akan menimbulkan keluhan yang

berupa rasa nyeri pada bahuseperti “Painful ShoulderSyndrome” (rotator cuff

disease, impingement syndrome, shoulderinstabilities) yang dapat menyebabkan

keterbatasan gerak hingga gangguanfungsi (Kisner and Colby, 2012).

Aktivitas yang berlebihan (overuse) pada bahu dapat memicu terjadinya kelelahan

dan kelemahan pada otot-otot rotator cuff.Hal ini menyebabkan tendon rotator cuff

terjepit sehingga mengakibatkan peradangan. Oleh karena adanya peradangan pada

tendon maka akan menimbulkan nyeri impingement shoulder. Shoulder

impingement didefinisikan sebagai kompresi dan abrasi mekanik dari rotator cuff,

bursa subacromial dan tendon biceps saat melewati bawah lengkung acromial dan
ligamen korakoakromialis terutama pada saat gerak elevasi lengan(Ludewigand

Braman, 2011).

Gangguan yang paling sering dijumpai pada SIS adalah gangguan mobilitas

sendibahu, kelemahan pada otot-otot rotator cuffdan Lingkup GerakSendi (LGS)

bahu. Menurut data nyeri bahu adalah keluhan umum dengan prevalensi dari 20%

sampai 33% pada populasi dewasa. Nyeri bahu juga menduduki peringkat ke tiga

dari keluhan muskuloskeletal setelah nyeri punggung dan lutut dengan tidak

melihat faktor usia. Prevalensi terbesar pada nyeri bahu adalah SIS sekitar 44-60%

keluhan yang menyebabkan nyeri bahu. Penderita shoulder impingement dari tahun

ke tahun terus meningkat,di Inggris 14%, di Belanda 12%, dan di Indonesia hampir

20% dari penduduknya pernah mengalami shoulder impigement(Sugiyono, 2007).

Penyebab impingement bahu meliputi kelemahan otot-otot rotator cuff, muscle

imbalance, disfungsi glenohumeral, degenerasi dan inflamasi dari tendon atau

bursa. Ciri khas nyeri dari SISadalah nyeri dariperubahan pergerakan bahu yang

dirasakan antara60°-120° atau painful arc. Biasanya kondisi ini juga ditandai

dengan nyeri dimalam hari ketika tidur pada posisi tertekannyapadabahu yang

bermasalah (Behrens,et al,2010).

Akibat shoulder impingemnt ini fisioterapis berperan dalam mengurangi

nyeri ,meningkatkan luas gerak sendi (LGS) mencegah kekakuan lebih lanjut

dan mengembalikan kekuatan otot serta meningkatkan aktifitas fungsional

pasien. Untuk mengatasinya banyak modalitas fisioterapi yang dapat digunakan

disini mengambil modalitas fisioterapi berupa penggunaan Ultrasound,

Interferensi, ROM exercise, Latihan stabilisasi scapula, dan strethening.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fisiologi

1. Anatomi Shoulder

Shoulder girdle merupakan sendi yang paling kompleks

pada tubuh manusia karena memiliki 5 sendi yang terpisah. Shoulder

kompleks tersusun oleh 3 tulang utama yaitu clavicula, scapula, dan

humerus.

Gambar 1.1

Tulang dan sendi penyusun shoulder complex

Shoulder kompleks dibentuk oleh 3 sendi sinovial (glenohumeral

joint, sternoclacicular joint, acromioclavicular joint) dan 2 artikulasi

fungsional (scapulothoracic joint dan suprahumeral joint) (Kisner and

Colby, 2012).
a. Anatomi shoulder kompleks

1. Sendi glenohumeral

Secara anatomi sendi glenohumeral merupakan sendi peluru (ball

and socket joit) yangdibentuk oleh fossa glenoidalis scapula dan caput

humeri. Pada sendi glenohumeralsudut bulatan caput humeri 180°,

sedangkan sudut cekungan fossa glenoidalis scapula 160°, sehingga 2/3

permukaan caput humeri tidak dilingkupi oleh fossa glenoidalis scapula,

hal ini mengakibatkan sendi glenohumeral tidak stabil. Oleh karena itu,

stabilitasnya dipertahankan oleh stabilisator yang berupa ligamen, otot,

dan kapsul (Porterfield and De rosa, 2004).

Caput humeri yang berbentuk hampir setengah bola memiliki area

permukaan 3 – 4 kali lebih besar daripada fossa glenoidalis scapula yang

dangkal sehingga memungkinkan terjadinya mobilitas yang tinggi pada

shoulder.

Fossa glenoidalis scapula diperlebar oleh sebuah bibi/labrum

fibrokartilago yang mengelilingi tepi fossa, disebut dengan labrum

glenoidalis. Labrum memainkan beberapa peran penting dalam

mekanika bahu, tetapi peran utamanya adalah kontribusinya terhadap

stabilitas sendi glenohumeral. Sebagai bukti kontribusinya terhadap

stabilitas, diperkirakan bahwa labrum yang robek atau kurang

menghasilkan sekitar 20% pergerakan translator yang lebih besar dari

kepala humerus pada glenoid daripada ketika labrum masih utuh. Ini

jelas menghasilkan ketidakstabilan antara kepala humerus dan glenoid

(Porterfield and De rosa, 2004).


Gambar 1.2

Struktur sendi glenohumeral (Shoulder joint)

Ligamen yang memperkuat sendi glenohumeral antara lain ligament

coracohumeral dan ligament glenohumeral. Ligament . Ligament

corahumeral terbagi menjadi 2, berjalan dari processus coracoideus

sampai tuberculum mayor humeri dan tuberculum minor humeri.

sedangkan ligament glenohumeral terbagi menjadi 3 yaitu : (1) superior

band yang berjalan dari tepi atas fossa glenoidalis scapula sampai caput

humeri, (2) middle band yang berjalan dari tepi atas fossa glenoidalis

scapula sampai ke depan humeri, (3) inferior bandyang berjalan

mneyilang dari tepi depan fossa glenoidalis scapulasampai bawah caput

humeri (Porterfield and De rosa, 2004).


Gambar 1.3

Ligamen pada Glenohumeral joint dan Acromioclavicular joint

Kapsul sendi merupakan pembungkus sendi yang berasal dari

fosssa glenoidalis scapula sampai collum anatomicum humeri. Kapsul

sendi dibagi menjadi dua lapisan utama yaitu : kapsul synovial dan kapsul

fibrosa (Neumann, 2002.

a) Kapsul synovial (lapisan dalam)

Kapsul synovial mempunyai fibrocolagen agak lunak dan tidak

memiliki saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya menghasilkan

cairan synovial dan sebagai transformator makanan ke tulang rawan

sendi. Cairan synovial normalnya bening, tidak berwarna, dan

jumlahnya ada pada tiap-tiap sendi antara 1 sampai 3 ml.

b) Kapsul fibrosa (lapisan luar)

Kapsul fibrosa berupa jaringan fibrous keras yang memiliki

saraf reseptor dan pembuluh darah. Fungsinya memelihara posisi dan

stabilitas sendi regenerasi kapsul sendi (Neumann, 2002).

Ada 30 otot yang memberikan dukungan untuk gerakan dan

bahu kompleks. 15 otot penggerak dan yang menstabilkan scapula, 9

otot untuk menggerakan sendi glenohumeral, dan 6 otot mendukung

skapula pada toraks.


Gambar 1.4

Bahu dan oto-oto bahu tampak depan

Gambar

Bahu dan otot-oto bahu tampak belakang


Kapsul sendi glenohmeral diperkuat oleh otot rotator cuff yang

berperan sebagai stabilitas aktif shoulder joint. Rotator cuffmuscles terdiri

atas subscapularis yang tepat berada di depan kapsul, kemudian

supraspinatus, infraspinatus, dan teres minor (Neumann, 2002).

a) M. Subscapularis

M. subscapularisberorigo di fossa subscapularis pada permukaan

anterior scapula dan berinsersio di tuberculum minor humeri yang

disarafi oleh n. subscapularis superior dan inferior serta cabang

fasciculus posterior plexus brachialis. Fungsi otot ini adalah

melakukan endorotasi bahu dan membantu menstabilkan sendi.

b) M. Supraspinatus

M. supraspinatus berorigo di fossa supraspinatus scapulae,

berinsertio di bagian atas tuberculum mayor humeri dan capsula

articulation humeri dan dipersarafi oleh n. suprascapularis. Fungsi

otot ini adalah membantu m.deltoideus melakukan abduksi bahu

dengan memfiksasi caput humeri pada fossa glenoidalis scapulae.

c) M. Infraspinatus

M. infraspinatus berorigo di fossa infraspinata scapulae,

berinsertio di bagian tengah tuberculum mayor humeri dan capsula

articulation humeri dan disarafi oleh n. suprascapularis. Fungsi otot

ini adalah melakukan eksorotasi bahu dan menstabilkan articulation.


d) M. Tteres minor

M. teres minor berorigo di 2/3 bawah pinggir lateral scapulae

berinsertio di bagian bawah tuberculum mayor humeri dan capsula

articulation humeri dan disarafi oleh cabang n. axillais. Otot ini

berfungsi melakukan eksorotasi bahu dan menstabilakan articulation

humeri.

1) Sendi sternoclavicular

Sendi sternoclavicularadalah satu-satunya artikulasi yang mengikat

korset bahu ke kerangka aksial. Ini adalah sambungan sellar, dengan

permukaan artikulasi sternum lebih besar dari permukaan clavicula,

sehingga memberikan stabilitas pada sambungan tersebut. Sambungan

juga distabilkan oleh cakram artikular, kapsul sendi, ligamen, dan otot

penguat (Donatelli, 2012)

sternoclavicular joint dibentuk oleh ujung proksimal clavicula yang

bersendi dengan insicura clavicularis dari manubrium sternum dan

cartilago costa I. Sternoclavicular joint terdiri dari dua permukaan yang

berbentuuk saddle, salah satu permukaan terdapat pada ujung proksimal

clavicula dan satu permukaan lagi terdapat pada insicura clavicularis dari

manubrium sterni, sehingga sternoclavicular joint tergolong kedalam

saddle join (Kisner and Colby 2012).

sternoclavicular joint memiliki diskus artikular fibrokartilago yang

dapat memperbaiki kesesuaian kedua permukaan tulang yang bersendi dan

berperan sebagai shock absorber. Sternoclavicular joint dibungkus oleh

kapsul artikularis yang tebal dan kendor, Sendi ini didukung oleh
ligamentsternoclavicularanterior dan posterior yang membentang dari

bagian tepi caudal incisura clavicularis sterni kebagian cranial extremitas

sternalis clavicular, ligament interklavikularisdan ligament

costoclavicular (Kisner and Colby 2012).

Gambar 1.6

Ligamen pada sternoclavicular joint

2) Sendi acromioclavicular

Acromioclaviculat joint dibentuk oleh processus acromionscapula

yang bersendi dengan ujung distal clavicula. Acromioclavicular joint

termasuk kedalam irregular joint atau plane joint dengan permukaan sendi
yang hampir rata, dimana permukaan acromion berbentuk konkaf dan

ujung distal clavicula berbentuk konveks. Acromioclavicular joint

memiliki diskus artikular diantara kedua permukaan tulang pembentuk

sendi (Kisner and Colby 2012).

Acromioclavicular joint dibungkus oleh kapsul artikularis yang

lemah tetapi diperkuat oleh ligamen acromioclavicularissuperior dan

anterior. Pada bagian posterior dan superior sendi juga diperkuat oleh

apneurosis otot upper trapezius dan deltoideus. Ligamen

coracoclavicularis dan ligamen coracoacromialis tidak berhubungan

langsung dengan acromioclavicular joint tetapi ikut membantu

menstabilisasi acromioclavicular joint (Kisner and Colby 2012).

3) Sendi suprahumeral

Suprahumeral joint terdiri atas coracoclavicular joint dan

coracoacromialis joint. Kedua sendi tersebut tidak memiliki karakteristik

sinovial, kedua tulang hanya dihubungkan oleh ligamen sehingga

tergolong syndesmosis(Porterfield and De rosa, 2004).

Coracoaclavicularis joint dibentuk oleh processus coracoideus

scapula dan permukaan inferior clavicula yang diikat oleh ligamen

coracoclavicularis.Coracoacromialis joint dibentuk oleh processus

coracoideus scapula dan processus scapula yang diikat oleh ligamen

coracoacromialis (Porterfield and De rosa, 2004).

Didalam suprahumeral joint terdapat struktur jaringan yaitu bursa

subacromialis/subdeltoidea, tendon supraspinatus, dan tendon caput

longum bicep. Bursa subacromialis berperan sebagai bantal dari rotator


cuffmuscle terutama otot supraspinatus dari tulang acromion diatasnya

(Porterfield and De rosa, 2004).

4) Sendi scapulothoracic

Scapulothoracic joint merupakan pertemuan antara scapula dengan

dinding thoraks, yang dibatasi oleh otot subscapularis dan serratus

anterior. Scapulothoracic joint dipertahankan oleh 3 otot yaitu trapezius,

rhomboid major et minor, serratus anteror dan levator scapula. Otot-otot

yang melekat pada scapula melakukan 2 fungsi utama yaitu : otot-otot

tersebut berkontraksi untuk menstabilisasi regio shoulder dan

memfasilitasi gerakan-gerakan upper extremitas melalui posisi yang tepat

dari glenohumeral joint (Kisner and Colby, 2012).

B. Patologi Shoulder Impingement

1. Pengertian

Shoulder impingement adalah menyempitnya celah diantara acromion dan

tuberositas mayor caput humerus sehingga menyebabkan insertio dari tendon

supraspinatus, biceps caput longum serta bursa subacromialis pada shoulder

(Shoulder impingement) terjepit. Sedangkan syndrome adalah kumpulan dari

gejala-gejala. Maka jika dihubungkan, shoulder impingement syndrome adalah

kumpulan dari gejala-gejala akibat dari menyempitnya celah diantara acromion

dan tuberositas mayor caput humerus sehingga menyebabkan insertio dari

tendon supraspinatus, biceps caput longum serta bursa subacromialis pada

shoulder terjepit (Aimie, Beth, dkk, 2007).

2. Etiologi

Penyebab terjadinya Shoulder Impingement Syndrome dibagi menjadi dua


faktor. Faktor intrinsik berteori bahwa penebalan tendon atau bursa karena

sobekan parsial maupun komplit yang terjadi karena proses degeneratif dalam

waktu yang lama dan berulang dalam melakukan aktivitas yang berlebihan

(over use), ketegangan otot yang juga berlebih atau trauma yang terjadi pada

tendon. Seperti kelemahan otot rotator cuff, cronic inflammation pada tendon

rotator cuff dan bursa subacromialis, nyeri tendon rotator cuff akibat proses

degeneratif, dan pemendekan posterior capsular sehingga mengakibatkan gerak

translasi antero – superior dari caput humeri.

Pada umumnya keluhan nyeri bahu dipicu karena adanya aktifitas berulang

menggunakan sendi bahu yang dikaitkan dengan pekerjaan rutin maupun

aktifitas olahraga. Gerakan-gerakan berulang dan berlebihan seperti gerakan

overhead dari bahu akan menyebabkan terjadinya cedera ringan dan

peradangan. Peradangan akan menyebabkan kompresi pada tendon

supraspinatus.

Gambar4. Peradangan Bursa dan Kompresi Tendon Supraspinatus


Sumber : www.beantownphysio.com

Risiko ini tinggi pada atlet yang berulang kali melakukan gerakan overhead

(gerakan tangan di atas kepala) dalam aktifitas olahraga mereka. Pemain


baseball, tenis, dayung, angkat besi merupakan olahraga dengan risiko tinggi

demikian pula dengan aktifitas pekerjaan rutin seperti pelukis dan tukang kayu.

Sedangkan faktor ekstrinsik menjelaskan bahwa peradangan dan degeneratif

tendon terjadi akibat dari kompresi mekanik oleh stuktur eksternal terhadap

tendon. Faktor penyebab ekstrinsik seringkali dikaitkan dengan adanya faktor

anatomi, faktor biomekanik atau kombinasi dari keduanya. Sebagai contoh :

posisi curva atau hooked dari ujung tulang belikat (acromion), atau adanya bone

spurs (taji tulang) pada acromion, dan kelainan postur tubuh. Bone spur atau

pembentukan tulang baru terjadi akibat adanya gangguan metabolisme tulang

yang umumnya dikaitkan dengan proses penuaan ataupun karena penyakit

tertentu. Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan RotatorCuff Tendinopathy.

Pada faktor mekanisme biomekanik penyebab SubacromialImpingement

Syndrome ekstrinsik, bahwa adanya penyempitan ruangsubacromion yang

menyebabkan tendon rotator cuff mengalami kompresi sehingga terjadi translasi

dari caput humeri ke arah superior atau terjadinya gerakan menyimpang dari

scapula yang mengakibatkan acromion bergerak kearah inferior, termasuk

terjadi pemendekan dari kapsul sendi glenohumeral kearah posterior-inferior

dan kelemahan atau disfungsi atau penurunan kinerja dari otot rotator cuff

sehingga dapat menyebabkan perubahan kinematika dari glenohumeral dan

scapulathoracic.Kelainan bentuk dan adanya bone spur dapat menyebabkan

penekanan pada tendon otot supraspinatus terlebih pada kondisi ketika lengan

digerakkan ke atas.
Gambar5. Kelainan bentuk dan Bone Spur pada Acromion
Sumber : www.sportsandortho.com &www.seattleclouds.com

3. Proses Patologi

Jepitan atau penekanan pada tendon (ujung otot) dan bursa (bantalan sendi)

akan terjadi apabila lengan atas digerakkan ke atas.

Gambar6. Jepitan Tendon Supraspinatus dan Bursa pada Sendi Bahu


Sumber : www.morphopedics.wikidot.com

Tendon otot supraspinatus yang paling sering mengalami jepitan atau

penekanan khususnya pada aktifitas yang menggerakan lengan melampaui

kepala secara berulang (gerakan overhead). Gerakan-gerakan ini akan


menyebabkan puncak dari tulang lengan atas bergesekan dengan sebagian sendi

bahu dan tendon otot supraspinatus, sehingga timbul reaksi radang lokal dan

pembengkakan (Tendinitis muskulus rotator cuff). Akibat peradangan dan

pembengkakan yang terjadi, tendon otot Supraspinatus dan bantalan sendinya

akan semakin terjepit dan tertekan di antara tulang lengan atas dengan tonjolan

tulang belikat bagian atas (acromion).

Kondisi ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya bila diistirahatkan dari

gerakan-gerakan yang memicu gesekan tersebut, namun proses jepitan dan

penekanan tendon dan bursa dapat berlanjut menjadi sobekan tendon (Rotator

Cuff Tear) apabila bahu tetap dipaksakan melakukan aktifitas mengangkat

lengan terus menerus.

4. Gambaran Klinis

Gejala khas adalah nyeri yang timbul saat lengan diangkat maupun ketika

lengan diturunkan dari posisi tinggi, adanya kesulitan menggerakkan lengan

mencapai belakang punggung, disertai kelemahan otot bahu. 


Nyeri saat lengan diangkat dan adanya kelemahan otot bahu

Sumber gambar: www.sgergo.com

Proses ini berjalan secara kronis. Timbulnya gejala dikaitkan dengan beban

aktivitas yang memicu timbulnya proses impingement tersebut, dan juga usia

penderita. 

Gejala awal mungkin ringan, penderita sering tidak mencari pengobatan pada

tahap awal. Gejala dapat berupa:

•    Nyeri. Pada awalnya nyeri dirasakan ringan di bahu bagian atas dan

timbul hanya saat beraktivitas, terutama pada gerakan-gerakan mengangkat

lengan. Namun secara perlahan, nyeri akan dirasakan setiap waktu bahkan saat

beristirahat.

•    Nyeri dapat menjalar dari bagian depan bahu ke sisi lengan.
•  Otot kehilangan kekuatan dan kemampuan gerak terutama pada gerakan-

gerakan yang menempatkan lengan di belakang punggung.

•     Semakin lama, semua gerakan semakin terbatas dan terasa menyakitkan.

Sumber gambar: www.clinicalexams.co.uk

Jika gerakan-gerakan tersebut terus dilakukan meskipun nyeri sudah timbul,

maka tendon dapat luka dan sobek sehingga terjadi robekan rotator cuff.   

C. Intervensi Fisioterapi

1) Ultrasound

Ultrasound adalah gelombang suara yang berfrekuensi tinggi

yang tidak dapat terdekteksi oleh telinga manusia, frekuensi ultrasound

medis diamerika adalah 500.000 hingga 5.000.000 Hz (0.5 hingga MHz).


energi ultrasound dapat dihantarkan secara kontiyu atau berdenyut.

Untrasound memiliki intensitas lebih dari 5 W/cm ² dan 3 W/cm ². Efek

termal yang di hasilkan ultrasound yaitu peningkatan lokal pada aliran

darah, peningkatan metabolisme jaringan, dan peningkatan kecepatan

konduksi saraf. Memberikan efek fisiologis yaitu : meningkatkan

sirkulasi darah, relaksasi otot, meningkatkan permebalitas membrane,

mempercepat proses penyembuhan jaringan. Dan indikasi pemberian

ultrasound yaitu : penyakit pada jaringan tulang, sendi dan otot, post

trauma, rematoid atritis dan kontraktur. Dan kontraindikasi pemberian

ultrasound yaitu : mata, jantung, uterus pada wanita hamil,dan tumor.

2.) Interfensi (IF)

Interfensi adalah Suatu fenomena yg terjadi jika 2 atau lebih arus

AC yg memiliki frekuensi berbeda yang secara bersamaan bertemu

dalam satu medium. Jadi Interferensi dapat diartikan penggabungan 2

arus bolak-balik yng berfrekuensi menengah yang saling berinterfensi

(berpadu) hingga menimbulkan Freq baru. Menurut Nemec Freq. 3000-

5000 Hz dengan Frequncy efektif yaitu 4000 Hz. Efek terapeutik yang

dihasilkan dari interferensi sendiri yaitu mengurangi nyeri, mengurangi

spasme otot, dan melancarkan siklusi darah dan efek fisiologis interfensi

yaitu : normalisasi ortosympatic, relaksasi otot, dam vasodilatasi. Dan

indikasi penberian interfensi yaitu nyeri otot, kelemahan otot, post

traumatic, bursitis, tendonitis. Dan kontraindikasi pemberian interferensi

yaitu : deman, tubercolosis, kehamilan, tumor dan inflamasi lokal.


3.) ROM exercise

Gerakan aktif dimana pasien yang bisa untuk

melakukan latihan atau menggerakan anggota tubuh dengan

kekuatannya sendiri tanpa dibantu oleh terapis atau orang lain.

Dengan tujuan: Mencegah terjadinya kelemahan atau

kelumpuhan pada otot – otot, memperlancar peredaran darah,

mencegah terjadinya atrofi., untuk mendorong dan membantu

agar pasien dapat menggunakan lagi anggota gerak yang

mengalami kelemahan.

4.) Latihan stabilisasi scapula

Aplikasi teknik isometrik dan stabilisasi ritmis bergantian

dirancang untuk membentuk kekuatan dan stabilitas kelompok otot

proksimal sebagai respon terhadap pergeseran beban. Gelang bahu

berfungsi baik pada aktivitas rantai terbuka maupun rantai tertutup, dan

karena itu otot harus dilatih untuk merespon kedua situasi tersebut.

Latihan stabilisasi scapula yaitu elevasi/depresi scapula, protraksi/depresi

scapula, dan rotasi scapula kearah atas dan bawah.

5.) Latihan strengthening

Latihan penguatan berfungsi untuk mrnghindari gangguan mekanisme

pada bahu. Latihan penguatan dilakukan dengan tingkatan latihan dengan

repetisi dan tahanan didalam batas mekanika jaringan yang terganggu. Pada

awalnya , aplikasikan tahanan ringan dengan repetisi yang banyak untuk kontrol

dinamis dan daya tahan otot. Begitu kontrol terbentuk, tingkatkan ke pola

gerakan kombinasi dan latihan pada kelompok otot untuk berfungsi dalam
urutan yang terkordinasi. Mulai dengan aktivitas fungsional sederhana dan

tingkatkan ke aktivitas yang lebih rumit dan menantang. Daya tahan dan

kekuatan otot sangat penting untuk kontrol postural dan dinamis pada aktivitas.
BAB III

PROSES FISIOTERAPI

A. Proses Assesment Fisioterapi

1. Identitas Umum Pasien

Nama : Tn.brian

Umur : 57 thn

Jenis kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : PNS

Agama : Islam

2. History Taking

Keluhan utama : Nyeri bahu

Lokasi keluhan : Bahu kanan

Riwayat perjalanan penyakit : Pasien datang kerumah sakit pada

tanggal dengan keluhan nyeri bahu bagian kanan yang dirasakan sejak 3 bulan

yang lalu, nyeri yang dirasakan secara tiba-tiba dan nyeri dirasakan bertambah

pada saat malam hari.

Vital Sign

1. Tekanan darah : 110/70 MmHg

2. Denyut nadi : 80 kali permenit

3. Suhu : 36 ° C

4. Pernapasan : 20 kali permenit


3. Inspeksi/Observasi

1. Statis

- Bahu pasien terlihat asimetris antara kiri dan kanan

- Wajah pasien terlihat menahan nyeri saat melakukan beberapa gerakan

pada bahu

- Warna kulit kemerah-merahan pada bagian yang sakit

2. Dinamis

- Terbatas pada gerakan abduksi shoulder 80°-90°

- Kesulitan melakukan kegiatan mandiri menggunakan pakaian,

melepaskan pakaian

3. Palpasi

Palpasi dilakukan hanya mengandalkan telapak tangan, jari, dan ujung jari.

Tujuannya untuk mengecek kelembutan, kekakuan, massa, suhu, posisi,

ukuran, kecepatan, dan kualitas nadi perifer pada tubuh.

a. Tendon Supraspinatus

Hasil : Nyeri

b. Tendon Infraspinatus

Hasil : tidak nyeri

c. Tendon subscapularis

Hasil : tidak nyeri


4. Pemeriksaan Fungsi Dasar

Nama gerakan Aktif Pasif TIMT

shoulder
Fleksi Nyeri sedang. Nyeri sedang. Sedikit nyeri.

Keterbatasan Elastis endfeel resisten minimal

ROM
Ekstensi Nyeri ringan. Tidak nyeri. Tidak ada nyeri.

Keterbatasaan Elastis endfeel Mampu melawan

ROM tahanan
Abduksi Nyeri berat. Nyeri berat. Hard Ada Nyeri.

Keterbatasan endfeel Resisten minimal

ROM
Adduksi Nyeri ringan. Tidak nyeri. Soft Tidak ada nyeri.

Keterbatasan endfeel Mampu melawan

ROM tahanan.
Endorotasi Nyeri ringan. Nyeri ringan. Tidak ada nyeri.

Keterbatasan Soft endfeel Mampu melawan

ROM. tahanan
Eksorotasi Nyeri ringan. Nyeri ringan. Tidak ada nyeri.

Keterbatasan Soft endfeel Mampu melawan

ROM. tahanan

5. Pemeriksaan Spesifik dan Pengukuran Fisioterapi


4. VAS

VAS atau Visual Analog Scale adalah sebuah alat pengukuran intensitas

nyeri unidimensional, VAS digunakan untuk mengukur kwantitas atau

kwalitas nyeri yang dirasakan pasien dengan menampilkan suatu kategorisasi

nyeri mulai dari “tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang.

Secara operasional VAS umumnya berupa sebuah garis horizontal atau

vertikal, panjang 10 cm (100 mm), seperti yang diilustrasikan pada gambar.

Pasien menandai garis dengan memberikan sebuah titik yang mewakili

keadaan nyeri yang dirasakan pasien saat ini, dalam 24 jam terakhir.

Dengan menggunakan sebuah penggaris atau mistar, skor VAS ditentukkan

dengan mengukur jarak (mm) diatas garis 10 cm dari titik tidak nyeri ke titik

yang ditandai pasien, dengan range skor 0-100 mm. skor yang lebih tinggi

mengindikasikan intensitas nyeri lebih besar. Sebagai alat ukur, VAS jelas

bersifat subjektif, menghasilkan data interval dengan nilai-nilai rasio yang

subjektif pula.

Hasil : 6 ( nyeri sedang).

Keterangan :

0 : tidak ada nyeri sama sekali

1-3 : nyeri ringan

4-6 : nyeri sedang


7-9 : nyeri berat tapi masih bisa di tahan

10 : nyeri sangat berat/ tak tertahankan.

5. ROM

Tes ini bertujuan untuk mengetahui gerakan sendi dengan menggunakan alat

bantu Goniometer. Dalam literatur telah ditetapkan kriterioa normal RON untuk

masing-masing persendian, meskipun demikian ROM normal pada masing-

masing individu berbeda, disesuaikan dengan usia dan ukuran badan seseorang.

Prosedur pengukuran ROM dengan goniometer:

a. Posisi anatomis (tubuh tegak, lengan lurus disamping tubuh, lengan bawah

dan tanga menghadap ke depan).

b. Sendi yang diukur bebas dari pakaian.

c. Beri penjelasan & contoh gerakan yang akan dilakukan.

d. Berikan gerakan pasif untuk menghilangkan gerakan subtitusi dan

ketegangan.

e. Berikan stabilisasi pada segmen bagian proksimal.

f. Tentukan axis gerak dengan cara melakukan palpasi pada bagian tulang

sebelah lateral sendi

g. Letakkan lengan goniometer yang ststis paralel dengan axis longitudinal

segmen tubuh yang bergerak.

h. Pastikan axis goniometer tepat pada axis gerakan sendi.

i. Baca dan catat hasil pemeriksaan ROM

Hasil Tes :

Nama Gerakan ROM pasien ROM normal


Ekstensi-Fleksi S = 45°-0°-130° S = 50°-0°-170°
Abduksi-Adduksi F = 120°-0°-45° F = 170°-0°-75°
Ekso- Endo rotasi R = 60°-0°-65° R = 90°-0°-80°

6. Manual Muscle Testing (MMT)

Suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui kekuatan otot atau kemmpuan

mengontraksikan otot secara volunteer dengan tujuan membantu

menegakkan diagnosa.

Nilai 0 (zero) : tidak ada kontraksi sama sekali (baik terlihat maupun

raba).

Nilai 1 (trace) : kontraksi otot dapat terlihat/diraba tetapi tidak ada

gerakan sendi.

Nilai 2 (poor) : kontraksi otot dapat menggerakan sendi secara penuh

tanpa mempengaruhi gravitasi.

Nilai 3 (fair) : kontraksi otot dengan gerakan sendi secara penuh

dengan melawan gravitasi

Nilai 4 ( good) : kontraksi otot dengan gerakan sendi penuh, mampu

melawan gravitasi dengan tahanan sedang.

Nilai 5 (normal) : kontraksi otot dengan gerakan sendi penuh, mampu

melawan gravitasi dengan tahanan penuh.

Hasil tes :

Gerakan Nilai otot

Hasil : Fleksi Shoulder 4 (resisten minimal) nilai kekuatan otot 4

Ekstensi Shoulder 4 (resisten minimal) (mampu melawan

resisten Abduksi Shoulder 4 (resisten minimal) minimal)

Adduksi Shoulder 4 (resisten minimal)

Eksorotasi Shoulder 4 (resisten minimal)

Endorotasi Shoulder 4 (resisten minimal)


7. Tes Spesifik

1. Empty Can Test

Empty can test merupakan tes untuk mengidentifikasi patologi tendon

otot supraspinatus (Aras, dkk. 2014).

1) Prosedur tes :

Pasien duduk dengan posisi lengan rileks disamping badan,

kemudian fisioterapis kedua lengan pasien kearah abduksi dan endorotasi

shoulder pada bidang scapula. Fisioterapis meminta pasien menahan

posisi tersebut. Fisioterapis meletakkan kedua tangan masing masing

diatas lengan bawah pasien pada sisi distal sebagai resisten

2) Positif tes :

Nyeri dan pasien tidak mampu menahan lengannya melawan resisten.

2. Painful Acr Test

Painful arc test adalah tes untuk mengidentifikasi subacromial

impingement (Aras, dkk. 2014).

1) Prosedur tes :

Pasien duduk dengan posisi awal lengan rileks disamping badan.

Fisioterapis meletakkan satu tangan untuk menstabilisasi scapula pasien

untuk menyiapkan coubter pressure selama tes dan tangan satunya


menggenggam elbow pasien. Fisioterapis selanjutnya secara pasif

mengelevasikan lengan pasien hingga mencapai full ROM pada bidang

scapular, dan secara perlahan mengembalikan ke posisi semula.

2) Positif tes :

Nyeri antara 60-1200 abduksi.

3. Neer’s Sign Test

Neer’s Sign test adalah tes untuk mengidentifikasi subacromial

impingement. (Aras, dkk. 2014).

1) Prosedur tes :

Pasien duduk dengan kedua lengan rileks disamping badan.

Fisioterapis meletakkan satu tangan untuk menfiksasikan scapula pasien

dan tangan satunya pada elbow pasien. Fisioterapis selanjutnya secara

pasif mengelevasikan dengan lengan pasien hingga mencapai full fleksi

shoulder disertai overpressure pada akhir gerakan dalam posisi netral,

eksorotasi-endorotasi shoulder.

2) Positif tes :

Nyeri disertai bunyi kliking pada akhir gerakan pasif elevasi.

4. Hawkins-Kennedy Test

Hawkins-Kennedy test adalah tes untuk mengidentifikasi subacromial

impingement. (Aras, dkk. 2014).

1) Prosedur tes

Pasien duduk dengan posisi lengan rileks disamping badan.

Fisioterapis meletakkan tangan satu tangan untuk menyanggah elbow

pasien dan tangan satunya menggenggam wrist pasien. Fisioterapis


selanjutnya secara pasif menggerakkan lengan pasien kearah fleksi

shoulder 90° dan fleksi elbow 90°. Setelah itu. Fisioterapis

menggerakkan lengan pasien kearah adduksi horizontal menyilang

didepan dada pasien disertai endorotasi.

2) Positif tes :

Nyeri disertai bunyi kliking selama gerakan dilakukan.

Hasil Tes :

a. Empty can test

Hasil : Nyeri

Interpretasi : positif tes mengidikasikan lesi otot supraspinatus.

b. Painful arc test

Hasil : nyeri

Interpretasi : positif tes mengindikasikan subacromial impingement.

c. Neer’s sign test

Hasil : tidak nyeri

Interpretasi : positif tes mengindikasikan subacromial impingement.

d. Hawkins-kennedy test

Hasil :Nyeri

Interpretasi : positif tes mengidikasikan subacromial impingement.

6. Diagnosis Fisioterapi

“ Gangguan aktivitas fungsionl shoulder akibat shoulder impingement “

7. Problematik Fisioterapi

a. Impairment
 Anatomical Impairment

1. Nyeri pada sendi bahu

 Fungtional impraiment

1. Adanya nyeri pada bahu kanan ketika digerakkan.

2. Adanya limitasi ROM akibat nyeri

3. Adanya kelemahan pada otot-otot bahu

b. Activity limitation

1. Pasien kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang

membutuhkan gerakan mengangkat lengan seperti memakai baju,

mengikat rambut, dan mengambil benda yang berada ditempat yang

tinggi.

c. Participation Rectriction

1. Pasien dapat melakukan aktivitas diluar rumah seperti pekerjaan dikantor

namun pasien merasa kesulitan untuk melakukan gerakan mengangkat

lengan dan mengangkat beban yang berat.

B. Prosedur Intervensi Fisioterapi

1. Tujuan Intervensi Fisioterapi

a. Tujuan Jangka Pendek

Mengurangi nyeri

Menambah ROM

Meningkatkan kekuatan otot bahu

b. Tujuan Jangka Panjang


Mengembalikan dan memaksimalkan kapasitas fisik dan

fungsional pada bahu

2. Program Intervensi Fisioterapi

No
Problematik Fisioterapi Tujuan Intervensi Jenis Intervensi
.
1. Impairment :
A. Anatomical impairment
Nyeri pada sendi bahu Mengurangi nyeri Interfensi dan ultrasound
B. Fungtional impairment
a. Adanya Nyeri Mengurangi Nyeri Interferensi, ultrasound
b. Adanya limitasi Meningkatkan
ROM exercise
ROM ROM

c. Adanya kelemahan Meningkatkan Latihan stabilisasi

otot bahu kekuatan otot bahu scapula, strengthening

2. Activitiy Limitation :
1. Kesulitan mengangkat
Meningkatkan
lengan seperti memakai
kekuatan otot dan Latihan stabilisasi
baju, dan mengambil
ketahanan otot agar scapula, strengthening
benda yang berada
dapat beraktivitas
ditempat yang tinggi.
dengan normal

Participation Rectriction
Meningkatkan

Kesulitan mengangkat kekuatan otot dan Strengthening, latihan


3.
beban yang berat saat ketahanan otot agar stabilisasi scapula

beraktivitas dapat beraktivitas

dengan normal
3. Prosedur Pelaksanaan

1. Ultrasound

a. Tujuan : untuk mengurangi nyeri

b. Posisi pasien : pasien tidur tengkurap

c. Prosedur penggunaan alat :

ii. Colokkan alat pada sumber arus listrik

iii. Tekan tombol ON/OFF pada bagian belakang bawah alat

iv. Identifikasi area yang akan diterapi.

v. Atur intensitas hingga ke pengaturan yang sudah ditentukan.

d. Dosis

Intensitas : 0.5 w/cm²

Frekuensi : 3 MHz

Waktu : 5 menit

2. Interferensi

a. Tujuan : mengurangi rasa nyeri

b. Posisi pasien : tidur terlentang

c. Prosedur pemasangan alat :

 Colokan alat pada sumber arus listrik

 Tekan tombol ON/OFF yang ada dibawah dan atas pada monitor

 Tempelkan electrode pada bagian scapula m, supraspinatus, m,

deltoid dan bagian anterior bahu

 Atur intensitas hingga pengaturan yang nyaman bagi pasien dan

sesuai dengan toleransi pasien.

d. Dosis
Intensitas : toleransi pasien

Frekuensi : 3000-5000 Hz

Waktu : 10 menit

3. Active ROM exercise

a. Tujuan : mengembangkan koordinasi dan motor skill untuk

meningkatkan fungsional serta meningkatkan daya tahan otot.

b. Prosedur pelaksaanaan :

1) Posisi pasien : berdiri

2) Posisi fisioterapis : berdiri berhadapan dengan pasien

c. Teknik pelaksanaan : fisioterapis mencontohkan gerakan kepada

pasien kemudian pasien mengikuti gerakan yang dilakukan oleh

fisioterapis

d. Waktu : 8 x hitungan dengan 5 x repitisi

4. Stabilisasi scapula

a. Tujuan : untuk membentuk kekuatan dan stabilitas kelompok otot

proksimal sebagai respon terhadap pergeseran beban.

b. Prosedur pelaksanaan :

1) Posisi pasien : pasien berdiri atau duduk

2) Posisi fisioterapis : berdiri disamping pasien

c. Teknik pelaksanaan :

i. pasien berdiri didepan tembok dan lengan pasien berada di

tembok lalu fisioterapis meminta pasien untuk menekan

tembok.
ii. Pasien duduk diatas kursi atau bed lalu kedua lengan pasien

berada disamping badan lalu fisioterapis meminta pasien

untuk melakukan gerakan menekan matras atau kursi.

d. Waktu : 8 x hitungan dengan 5 x repitisi

5. Strengthening exercise

a. Tujuan : meningkatkan kekuatan otot.

b. Prosedur pelaksanaan. :

1) Posisi pasien : tidur terlentang atau duduk

2) Posisi Fisioterapis : berdiri disamping pasien

c. Teknik pelaksanaan : minta pasien untuk melakukan gerakan secara

aktif dan fisioterapis memberikan tahanan pada pasien.

d. Waktu : 8 x hitungan dengan 5 x repitisi.

C. Evaluasi fisioterapi

Setelah beberapa kali melakukan terapi terdapat perubahan yaitu:

Nyeri (VAS) Nilai 4


ROM Shoulder joint S = 50°-0°-170°

F = 145°-0°-50°

R = 75°-0°-80°

A. Home Programe.

1. Pasien diminta melakukan kompres air hangat ± 15 menit pada bahu

yang sakit untuk mengurangi rasa nyeri yang timbul.


2. Pasien diminta untuk melakukan latihan dirumah sesuai yang diajarkan

pasien.

B. Edukasi

1. Pasien dianjurkan agar tetap menggunakan lengannya dalam batas

toleransi. Menghindari posisi immobilisasi yang lama yang dapat

memperburuk keadaan shoulder impingement.

2. Pasien dianjurkan untuk tidak membawa bawaan yang berat pada lengan

yang sakit.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Shoulder Impingement adalah sindrom klinis di mana jaringan lunak

terperangkap dengan rasa sakit di area sendi bahu. Pasien datang dengan rasa

sakit saat mengangkat lengan atau ketika berbaring di sisi yang sakit. Nyeri

bahu adalah keluhan muskuloskeletal ketiga yang paling umum dalam

praktek ortopedi, dan shoulder impingement adalah salah satu diagnose yang

mendasari lebih umum. Pada tingkat patofisiologis, ia dapat memiliki

berbagai penyebab fungsional, degenerative dan mekanis.

Fisioterapi sangat berperan penting dalam proses penyembuhan pasien

untuk mengembalikan dan memaksimalkan kapasitas fisik dan kemampuan

fungsional pada bahu kanan.

B. SARAN

Sebaiknya bagi penderita Shoulder impingement Syndrome mengikuti

dengan baik latihan fisik yang direkomendasikan oleh fisioterapis dan

sebaiknya jika kita mengetahui gejala awal sindrom ini agar segera

berkonsultasi dengan fisioterapis agar tidak menjadi semakin parah dan agar

fisioterapis bisa mengambil langkah yang efektif dan tepat. Bagi fisioterapis

sebaiknya membangun komunikasi yang baik dengan pasien atau penderita

agar proses pemulihan bisa cepat.


DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/368233827/makalah-impigement

https://sinta.uhud.ac.id/uploads/dokumen_dir/pdfb935f2d816210603869

606b2bad1a3c.pdf

Aras, Djohan dkk,2016. The News Concept Of Physical Therapist Test

and Measurment, first edition. Physicare Publishing. Makassar

Aras. Djohan dkk,2016. Tes Spesifik Musculosceletal Disorder.

Physicare Publishing Makassar.

Permadi, Agung Wahyu.2018, Fisioterapi Manejemen Komprehensif

Praklinik.EGC.Jakarta

https://www.academia.edu/27482995/Referat_dodev_Impingement_syndro

me