Anda di halaman 1dari 154

ANALISIS PENGARUH RASIO KEUANGAN,

PERTUMBUHAN PERUSAHAAN, DAN KEBIJAKAN


DIVIDEN TERHADAP HARGA SAHAM
(Studi Kasus Pada Bank Dengan Kapitalisasi Pasar Menengah
dan Besar di ASEAN Tahun 2008-2017)

Disusun oleh:
Fachry Mahrinal
NIM: 11150810000031

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1440 H / 2019
ANALISIS PENGARUH RASIO KEUANGAN, PERTUMBUHAN
PERUSAHAAN, DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP
HARGA SAHAM
(Studi Kasus Pada Bank Dengan Kapitalisasi Pasar Menengah dan
Besar di ASEAN Tahun 2008-2017)

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh :
Fachry Mahrinal
NIM: 11150810000031

Di Bawah Bimbingan:

Dr. Pudji Astuty, SE., MM


NIDN: 0311065804

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1440 H / 2019

ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF

Hari ini Rabu, 10 April 2019 telah dilakukan ujian komprehensif atas
mahasiswa:
1. Nama : Fachry Mahrinal
2. NIM : 11150810000031
3. Jurusan : Manajemen (Keuangan)
4. Judul Skripsi : Analisis Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan
Perusahaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham
(Studi Kasus Pada Bank Dengan Kapitalisasi Pasar
Menengah dan Besar di ASEAN Tahun 2008-2017)

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang


bersangkutan selama ujian komprehensif, maka diputuskan bahwa mahasiswa
tersebut di atas dinyatakan LULUS dan diberi kesempatan untuk melanjutkan
ketahap ujian skipsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 10 April 2019

1. Deni Pandu Nugraha, M.Sc


NIP. 2012108503

2. Dr. M. Jassin
NIP. 195806141985031013

iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI

Hari ini Rabu, 29 Mei 2019 telah dilakukan Ujian Skripsi atas mahasiswa :
1. Nama : Fachry Mahrinal
2. NIM : 11150810000031
3. Jurusan : Manajemen (Keuangan)
5. Judul Skripsi : Analisis Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan
Perusahaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham
(Studi Kasus Pada Bank Dengan Kapitalisasi Pasar
Menengah dan Besar di ASEAN Tahun 2008-2017)

Setelah mencermati dan memperhatikan penampilan dan kemampuan yang


bersangkutan selama proses ujian skripsi, maka diputuskan bahwa mahasiswa
tersebut di atas dinyatakan LULUS dan skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 26 Juni 2019

1. Murdiyah Hayati, S.Kom., MM ( )


NIP. 197410032003122001 Ketua

2. Dr. Pudji Astuty, SE., MM ( )


NIDN. 0311065804 Sekretaris

3. Dr. Titi Dewi Warninda, SE., M.Si ( )


NIP. 197312212005012002 Penguji Ahli

4. Dr. Pudji Astuty, SE., MM ( )


NIDN. 0311065804 Pembimbing

iv
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini :


1. Nama : Fachry Mahrinal
2. NIM : 11150810000031
3. Jurusan : Manajemen (Keuangan)
4. Judul Skripsi : Analisis Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan
Perusahaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham
(Studi Kasus Pada Bank Dengan Kapitalisasi Pasar
Menengah dan Besar di ASEAN Tahun 2008-2017)
Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini, saya :
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan
mempertanggung jawabkan.
2. Tidak melakukan plagiat terhadap naskah karya orang lain.
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber asli
atau tanpa izin pemilik karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas karya
ini.
Jika di kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah melalui
pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, ternyata memang ditemukan
bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap dikenai sanksi
berdasarkan aturan yang berlaku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Jakarta, 26 Juni 2019
Yang menyatakan,

(Fachry Mahrinal)

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Fachry Mahrinal
2. Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 22 Oktober 1997
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Alamat : Jl. Kampung Baru 1 No.41
RT.02/05, Pondok Pinang, Jakarta
Selatan
5. Agama : Islam
6. Telepon : 082213826697
7. Email : fachrymahrinal22@gmail.com

II. PENDIDIKAN
1. 2003 – 2009 : SDN 01 Kebayoran Lama Utara
2. 2009 – 2012 : SMPN 48 Jakarta
3. 2012 – 2015 : SMAN 6 Jakarta
4. 2015 – 2019 : S1 Manajemen Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

III. PENGALAMAN ORGANISASI


1. Anggota Ekstrakulikuler Futsal SMPN 48 Jakarta.
2. Anggota Ekstrakulikuler Futsal dan Sepakbola SMAN 6 Jakarta.
3. Anggota Forum Olahraga Mahasiswa (FORSA) UIN Jakarta.

vi
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio keuangan,


pertumbuhan perusahaan, dan kebijakan dividen terhadap harga saham pada bank
dengan kapitalisasi pasar menengah dan besar di ASEAN berdasarkan tahun 2008-
2017. Indikator yang digunakan masing-masing variabel yaitu untuk rasio
keuangan menggunakan CR, ROE dan TATO, untuk pertumbuhan perusahaan
menggunakan Growth Asset (GA) dan untuk kebijakan dividen menggunakan DPR.
Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Analisis yang
digunakan yaitu analisis regresi data panel untuk melihat pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen baik secara simultan maupun secara
parsial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan variabel rasio
keuangan, pertumbuhan perusahaan dan kebijakan dividen berpengaruh terhadap
harga saham. Secara parsial variabel rasio keuangan, pertumbuhan perusahaan dan
kebijakan dividen berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Nilai adjusted R-
squared dalam penelitian ini sebesar 0,951044 yang artinya kemampuan variabel
independen dalam menjelaskan variabel dependen sebesar 95,10% sedangkan
sisanya sebesar 4,90% dijelaskan oleh variabel independen lain diluar model.

Kata kunci : Rasio keuangan, pertumbuhan perusahaan, kebijakan dividen, harga


saham.

vii
ABSTRACT

The purpose of this research is to find the influence of financial ratio,


company growth and dividend policy on stock prices in banks with medium and
large market capitalization in ASEAN based on 2008-2017. The indicators used by
each variable are for financial ratios using CR, ROE and TATO, for company
growth using Growth Asset (GA) and for dividend policy using DPR. The samples
taken using a purposive sampling method. The analysis used is panel data
regression analysis to see the effect of independent variables on the dependent
variable simultaneously or partially.
The results of the study showed that simultaneously the variables of
financial ratio, company growth and dividend policy have effects on the stock
prices. Partially, the variables of financial ratio, company growth and dividend
policy have a significant effect on stock prices. The adjusted Rsquared in this study
was 0,951044 which imply that the ability of independent variables in explaining
the variation of the dependent variable was 95,10 %, while the remaining 4,90 %
was explained by other independent variables outside the model.
Keywords : Financial Ratio, Company Growth, Dividend Policy, Stock Price.

viii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-
Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa kita dari jaman jahiliyah ke jaman yang terang benderang seperti saat
ini. Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memnuhi salah satu syarat guna
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa telah mendapat


banyak dukungan, bantuan, bimbingan serta semangat dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu, membimbing, dan mendukung dalam penyusunan skripsi ini,
yaitu:

1. Allah SWT, yang selalu memberi rahmat dan karunia-Nya kepada penulis serta
memberi kemudahan dan kelancaran terhadap segala urusan penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
2. Kedua orang tua tercinta dan tersayang, yang telah merawat, membesarkan dan
memberikan kasih sayang kepada penulis dan juga selalu mendoakan serta
memberikan dukungan baik moril maupun materiil sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
3. Kak Rizky, ka Eis dan Arkan yang selalu memberikan semangat kepada
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanudin Umar Lubis, Lc., MA selaku Rektor
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Dr. Amilin, SE., M.Si., Ak., CA., BKP., QIA selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Ibu Murdiyah Hayati, S.Kom., MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen dan Ibu
Amalia, SE., MSM, selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi
dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas kesempatan yang telah
diberikan kepada penulis untuk berkarya.

ix
7. Ibu Dr. Hj. Pudji Astuty, SE., MM selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan semangat, saran, dan meluangkan waktunya untuk membimbing
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberi banyak ilmu dan
wawasan yang bermanfaat kepada penulis.
9. Seluruh staf pengajar dan karyawan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam proses
penyelesaian skripsi ini.
10. Irma Puspitasari, seorang terkasih dan spesial yang selalu menemani baik suka
maupun duka dan juga membantu serta menyemangati penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
11. Syifa Dwi Ulayya dan Sylvia Wulandari, teman penulis yang saling membantu
dan saling memberi semangat agar dapat menyelesaikan skripsi ini.
12. Fajri, Andro, Syafiq, Syaikhon, Eca, Ibnu, Bella, Tiara, Komala, Amel, Hanni,
Meli, Lail, Nana, Oci, Ana, dan Diana teman-teman penulis yang telah
memberi semangat dan dukungan semoga pertemanan ini tetap terjaga.
13. Seluruh teman Manajemen 2015 yang selalu bekerjasama pada masa
perkuliahan.
14. Tim Sepak Bola UIN Jakarta yang selalu menghadirkan canda dan tawa.
15. Seluruh teman KKN Binar 157 yang telah bersama-sama meluangkan waktu
menyelesaikan KKN dan menjalin pertemanan yang menyenangkan.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tentu banyak kekurangan karena
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Penulis
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, 26 Juni 2019

Penulis

x
DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN KOMPREHENSIF ................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI....................................... iv

HALAMAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ............................................ v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ................................................................... vi

ABSTRAK .................................................................................................. vii

ABSTRACT ................................................................................................ viii

KATA PENGANTAR ................................................................................. ix

DAFTAR ISI ................................................................................................ xi

DAFTAR TABEL ..................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xv

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xv

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

A. Latar Belakang ................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ............................................................................ 21
C. Batasan Masalah............................................................................... 22
D. Tujuan Penelitian ............................................................................. 22
E. Manfaat Penelitian ........................................................................... 23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 24

A. Landasan Teori ................................................................................. 24


1. Pasar Modal ................................................................................ 24
2. Saham ......................................................................................... 28
3. Harga Saham .............................................................................. 33

xi
4. Analisis Rasio Keuangan ........................................................... 38
5. Pertumbuhan Perusahaan ........................................................... 46
6. Kebijakan Dividen ..................................................................... 48
7. Kapitalisasi Pasar ....................................................................... 55
B. Keterkaitan Antara Variabel ............................................................ 56
C. Penelitian Terdahulu ........................................................................ 59
D. Kerangka Pemikiran ......................................................................... 62
E. Hipotesis Penelitian.......................................................................... 64

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................ 67

A. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ 67


B. Metode Penentuan Sampel ............................................................... 67
C. Metode Pengumpulan Data .............................................................. 70
D. Metode Analisis Data ....................................................................... 71
1. Analisis Statistik Deskriptif ....................................................... 71
2. Analisis Regresi Data Panel ....................................................... 72
3. Uji Asumsi Klasik ...................................................................... 78
a. Uji Normalitas ...................................................................... 78
b. Uji Multkolinearitas ............................................................. 79
c. Uji Autokorelasi ................................................................... 79
d. Uji Heteroskedastisitas ......................................................... 80
4. Uji Hipotesis .............................................................................. 81
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ......................................... 81
b. Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ............................................. 82
c. Uji Koefisien Determinasi ................................................... 82
E. Operasional Variabel Penelitian ....................................................... 83

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.......................... 87

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ................................................. 87


B. Hasil Penelitian ................................................................................ 88
1. Analisis Statistik Deskriptif ....................................................... 88

xii
2. Uji Tahap Regresi Data Panel .................................................... 99
a. Uji Chow .............................................................................. 99
b. Uji Hausman ...................................................................... 100
3. Uji Asumsi Klasik .................................................................... 101
a. Uji Normalitas .................................................................... 101
b. Uji Multikolinearitas .......................................................... 102
c. Uji Autokorelasi ................................................................. 103
d. Uji Heteroskedastisitas ....................................................... 106
4. Hasil Analisis Regresi Panel .................................................... 107
5. Uji Hipotesis ............................................................................ 110
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ....................................... 110
b. Uji Signifikansi Parsial (Uji t) ........................................... 110
c. Uji Koefisien Determinasi ................................................. 112
C. Interpretasi...................................................................................... 113

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 119

A. Kesimpulan .................................................................................... 119


B. Implikasi ......................................................................................... 120
C. Saran ............................................................................................... 120

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 122

LAMPIRAN .............................................................................................. 131

xiii
DAFTAR TABEL

1.1 Closing Price Indeks Saham Utama Negara-negara ASEAN ................ 13

2.1 Penelitian Terdahulu .............................................................................. 60

3.1 Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria ......................................... 69

3.2 Daftar Bank Yang Menjadi Sampel Penelitian ...................................... 70

3.3 Operasional Variabel .............................................................................. 86

4.1 Uji Statistik Deskriptif ........................................................................... 89

4.2 Data Harga Saham Perusahaan Periode 2008-2017 (dalam rupiah) ...... 90

4.3 Data CR Masing-Masing Perusahaan Periode 2008-2017 ..................... 92

4.4 Data ROE Masing-Masing Perusahaan Periode 2008-2017 .................. 93

4.5 Data TATO Masing-Masing Perusahaan Periode 2008-2017 ............... 94

4.6 Data GA Masing-Masing Perusahaan Periode 2008-2017 .................... 96

4.7 Data DPR Masing-Masing Perusahaan Periode 2008-2017 .................. 97

4.8 Data Kapitalisasi Pasar Perusahaan Periode 2008-2017 ........................ 98

4.9 Uji Chow ................................................................................................ 99

4.10 Uji Hausman ...................................................................................... 100

4.11 Uji Multikolinearitas .......................................................................... 103

4.12 Uji Durbin-Watson ............................................................................. 104

4.13 Uji Durbin-Watson Perbaikan ............................................................ 105

4.14 Uji White ............................................................................................ 107

4.15 Analisis Regresi Panel........................................................................ 108

xiv
DAFTAR GAMBAR

1.1 Pertumbuhan Ekonomi ASEAN 2014-2018 ............................................ 1

1.2 Jumlah Kapitalisasi Pasar Bank di ASEAN (Per Oktober 2018) ............. 5

2.1 Kerangka Pemikiran ............................................................................... 64

4.1 Uji Normalitas ...................................................................................... 102

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Sampel Perusahaan..................................................................... 131

2. Daftar Harga Saham Perusahaan Periode 2008-2017 ........................... 132

3. Tabel Rasio Keuangan........................................................................... 132

4. Tabel Pertumbuhan Perusahaan ............................................................ 134

5. Tabel Dividend Payout Ratio ................................................................ 134

6. Hasil Output Uji Asumsi Klasik ............................................................ 135

7. Uji Statistik Deskriptif........................................................................... 138

8. Uji Chow................................................................................................ 138

9. Uji Hausman .......................................................................................... 138

10. Analisis Regresi Panel ........................................................................... 139

xv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Era globalisasi memiliki dampak yang sangat besar terhadap

berbagai sektor perekonomian. Di era globalisasi ekonomi saat ini,

persaingan pada dunia usaha menjadi semakin ketat sehingga menuntut

perusahaan untuk mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan

kinerjanya agar terhindar dari kebangkrutan dan dapat unggul dalam

persaingan yang semakin ketat ini. Untuk mengantisipasi persaingan

tersebut, perusahaan harus mampu mempertahankan dan meningkatkan

kinerja sebagai upaya menjaga kelangsungan usahanya tersebut. Berbagai

upaya dapat dilakukan seperti dengan menerapkan kebijakan-kebijakan

yang strategis, efektif dan efisien bagi perusahaan. Era globalisasi ekonomi

juga ditandai dengan semakin terbukanya kesempatan untuk melakukan

perdagangan bebas baik secara regional maupun internasional.

PERTUMBUHAN EKONOMI ASEAN


5,3%
5,4% 5,2%
5,2%
5,0% 4,8% 4,8%
4,8% 4,6%
4,6%
4,4%
4,2%
2014 2015 2016 2017 2018

Sumber : International Monetary Fund

Gambar 1.1

Pertumbuhan Ekonomi ASEAN 2014-2018

1
Dari gambar 1.1 diatas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2014

pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN sebesar 4,6%, kemudian pada

tahun 2015 mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya menjadi sebesar

4,8%. Pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi ASEAN tetap sebesar 4,8%.

Kemudian pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi ASEAN mengalami

kenaikan menjadi sebesar 5,3%. Namun, pada tahun 2018 pertumbuhan

ekonomi ASEAN mengalami penurunan meskipun tidak signifikan menjadi

sebesar 5,2%. Dari keterangan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa

selama empat tahun terakhir (2014-2017) kawasan Association of Southeast

Asian Nations (ASEAN) mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil

meskipun pada tahun 2018 mengalami penurunan namun tidak signifikan.

ASEAN sendiri dibentuk pada tanggal 8 Agustus 1967, dengan

tujuan utamanya membentuk kawasan Asia Tenggara menjadi kawasan

yang aman. Pada awal berdirinya, anggota ASEAN terdiri dari 10 negara

yakni Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapore, Brunei

Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Kemudian pada

1997, para pemimpin negara-negara ASEAN mencetuskan ide

pembentukan identitas kolektif dan sepakat menjadikan ASEAN sebagai

wilayah yang stabil, makmur, dan memiliki daya saing tinggi dengan

pembangunan ekonomi yang layak, pengurangan kemiskinan, serta

disparitas sosial-ekonomi. Beberapa perdagangan regional di kawasan

ASEAN antara lain kerja sama yang melibatkan negara-negara ASEAN

dalam Asean Free Trade Area (AFTA), kerjasama dalam bidang ekonomi

2
dengan Negara-negara Asia-Pasifik dalam Asia Pasific Economic

Cooperation (APEC), kerjasama dalam bidang perbankan melalui

pembentukan The ASEAN Bankers Association, dan yang terbaru, yaitu

keterlibatan Negara ASEAN dalam bidang ekonomi dengan Negara China

dalam ASEAN-China Free Trade Agreement.

Berdasarkan ASEAN Vision 2020, terdapat tiga sasaran masyarakat

yang dituju yaitu ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Security

Community (ASC), dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC).

Ketiga sasaran masyarakat ASEAN tersebut dipercepat pelaksanaannya dari

2020 menjadi 2015 setelah ditandatanganinya ”Cebu Declaration on the

Estabilishment of an ASEAN Community by 2015” oleh para pemimpin

ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu Filiphina, 13 Januari 2007. Pada

tahun 2015 resmi dibuka salah satu dari tiga sasaran masyarakat yang dituju

yaitu perdagangan bebas ekonomi di ASEAN yang biasa disebut dengan

ASEAN Economic Community (AEC). AEC memiliki lima pilar utama,

yakni: (1) aliran bebas barang (free flow of goods); (2) aliran bebas jasa (free

flow of sevice); (3) aliran bebas investasi (free flow of investment); (4) aliran

bebas tenaga kerja terampil (free flow of skilled labour); dan (5) aliran bebas

modal ( free flow of capital). Selain itu, AEC atau diartikan sebagai

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) memiliki beberapa karakteristik

kunci, yaitu: (1) pasar tunggal dan pusat produksi; (2) wilayah dengan

tingkat kompetisi ekonomi yang tinggi; (3) pembangunan ekonomi yang

3
adil; dan (4) wilayah dengan ekonomi global yang terintegrasi penuh

(www.asean.org).

Dengan semakin terbukanya perdagangan global dan perkembangan

teknologi informasi yang semakin pesat tentu akan mempengaruhi

pertumbuhan ekonomi dan juga perbankan nasional di suatu negara.

Peningkatan pada transaksi perdagangan antar negara anggota ASEAN

belum diikuti dengan integrasi keuangan di ASEAN. Dikarenakan hal

tersebut negara-negara anggota ASEAN sepakat membentuk panduan

integrasi perbankan berupa inisiatif ASEAN Banking Integration

Framework (ABIF), yang berada dibawah kerangka Masyarakat Ekonomi

ASEAN. Pada bulan Desember 2014, para Gubernur Bank Sentral ASEAN

mengesahkan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) dan

Pedomannya. Ketentuan yang memungkinkan implementasi ABIF ada

dalam Protokol untuk Melaksanakan Paket Komitmen Jasa Keuangan ke-6

berdasarkan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) yang

ditandatangani oleh Menteri Keuangan ASEAN pada bulan Maret 2015.

(ASEAN Secretariat, 2015). Dalam perdagangan global, peran bank sebagai

lembaga perantara keuangan membuat industri perbankan menjadi kian

dibutuhkan.

4
Jumlah Kapitalisasi Pasar Bank di ASEAN
(per Oktober 2018)
$70,0

$60,0 $56,6

$50,0
$41,2 $40,2
$36,9
MILIAR

$40,0
$29,6
$30,0 $27,1
$24,1 $22,3
$20,0 $16,4 $14,7

$10,0

$0,0

Sumber : ekonomi.kompas.com

Gambar 1.2

Jumlah Kapitalisasi Pasar Bank di ASEAN (Per Oktober 2018)

Berdasarkan gambar 1.2 diatas, dapat dilihat bahwa bank asal

Singapura yaitu DBS dan OCBC Bank menempati dua urutan teratas pada

bank terbesar di ASEAN berdasarkan jumlah kapitalisasi pasar dengan

jumlah kapitalisasi pasar masing-masing sebesar 56,6 Miliar Dollar AS dan

41,2 Miliar Dollar AS. Sedangkan UOB menempati posisi keempat dengan

jumlah kapitalisasi pasar sebesar 36,9 Miliar Dollar AS. Terdapat 3 bank

asal Indonesia dalam 10 bank terbesar di ASEAN berdasarkan jumlah

kapitalisasi pasar. PT Bank Central Asia ( BCA) menempati posisi ketiga

dalam daftar bank terbesar di ASEAN. Bank milik Grup Djarum ini

5
memiliki kapitalisasi pasar sebesar 40,2 Miliar Dollar AS. Sementara, Bank

Rakyat Indonesia (BRI) menempati posisi keenam dengan jumlah

kapitalisasi pasar sebesar 27,1 Miliar Dollar AS. Bank Mandiri dengan

jumlah kapitalisasi pasar sebesar 24,1 Miliar Dollar AS menempati posisi

ketujuh tepat di bawah BRI. Selain itu juga terdapat 3 bank asal Malaysia

yaitu Maybank di posisi kelima, Public Bank di posisi kedelapan dan CIMB

di posisi kesembilan. Sedangkan pada posisi kesepuluh ditempati bank asal

Thailand yaitu KasikornBank dengan jumlah kapitalisasi pasar sebesar 14,7

Miliar Dollar AS.

Kapitalisasi pasar merupakan harga suatu perusahaan berdasarkan

harga sahamnya di pasar atau bursa saham. Kapitalisasi yang besar

umumnya menjadi salah satu daya tarik para investor dalam memilih saham

(Hasanah Musbitul, 2012). Penurunan pada harga saham akan

mengakibatkan menurunnya kapitalisasi pasar. Begitupun sebaliknya,

penambahan jumlah saham dan kenaikan harga saham, akan memicu

kenaikan kapitalisasi pasar (Kumaidi dan Asandimitra, 2017). Di dalam

penelitian Banz (1981:17) dinyatakan bahwa saham dengan kapitalisasi

pasar yang rendah (firmsize yang kecil), menghasilkan tingkat

pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan firmsize

yang besar. Hal ini dapat menjelaskan bahwa saham dari perusahaan dengan

kapitalisasi kecil lebih beresiko dibandingkan saham perusahaan

kapitalisasi besar.

6
Menurut Kumaidi dan Asandimitra (2017), hal ini dikarenakan

saham yang memiliki kapitalisasi besar tidak akan mudah terpengaruh

pergerakan harganya oleh para investor yang bertujuan untuk memperoleh

keuntungan jangka pendek. Pertimbangan lain dalam memilih perusahaan

berkapitalisasi besar adalah karena investor dalam perusahaan kapitalisasi

besar diasumsikan memiliki tujuan jangka panjang dan menerapkan analisis

fundamental, yang menggunakan laporan keuangan sebagai dasar

analisisnya, bukan perubahan harga.

Pada umumnya saham yang kapitalisasinya besar menjadi incaran

investor untuk berinvestasi dalam jangka panjang karena potensi

pertumbuhan perusahaan yang mengagumkan disamping pembagian

deviden serta eksposur resiko yang relatif rendah. Karena banyak

peminatnya pula maka harga saham umumnya relatif tinggi sehingga akan

memberikan return yang tinggi pula (Mufreni dan Dhea Amanah, 2015).

Nilai kapitalisasi pasar dapat lebih besar maupun lebih kecil dari nilai aset

perusahaan. Nilai kapitalisasi pasar sangat penting bagi perusahaan publik

karena nilai kapitalisasi pasar mencerminkan nilai total perusahaan. Besar

dan pertumbuhan dari suatu kapitalisasi pasar perusahaan seringkali

menjadi pengukuran penting dari keberhasilan atau kegagalan suatu

perusahaan publik. Semakin besar kapitalisasi pasar perusahaan, maka

semakin mahal perusahaan tersebut dihargai oleh pasar.

Perdagangan bebas antar negara menuntut negara-negara tersebut

untuk meningkatkan kinerja ekonomi dari segala sektor termasuk sektor

7
perbankan dan dituntut untuk siap bersaing secara ketat dengan perusahaan-

perusahaan domestik maupun internasional. Untuk mengatasi hal tersebut

diperlukan tambahan dana yang besar dalam bentuk investasi di pasar

modal. Pasar modal memiliki peran penting dalam hal pembangunan dan

sebagai sarana berinvestasi bagi masyarakat. Pasar modal merupakan

sumber pembiayaan eksternal bagi dunia usaha yang juga menggambarkan

kondisi perekonomian suatu negara (Arista dan Astohar, 2012).

Ketika pasar modal menunjukkan peningkatan maka dapat menjadi

indikator bahwa perekonomian negara tersebut sedang menunjukkan

perkembangan. Begitu pula sebaliknya ketika pasar modal menunjukkan

penurunan maka dapat menjadi indikator bahwa perekonomian negara

tersebut sedang mengalami penurunan. Selain itu, pasar modal juga dapat

dikatakan sebagai salah satu alat penggerak perekonomian. Hal ini

disebabkan karena pasar modal merupakan sarana dalam pembentukan

modal dan juga akumulasi dana jangka panjang yang diarahkan untuk

meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam penggerakan dana yang

berguna dalam menunjang pembiayaan pembangunan pada suatu negara.

Menurut Pudji Astuty (2017), setiap perusahaan tentunya sangat

bergantung pada modal untuk menjalankan operasional perusahaannya.

Modal usaha dapat diperoleh dari pihak intern (dalam perusahaan) dan

ekstern (luar perusahaan). Modal yang didapat dari dalam perusahaan bisa

berupa dana dari pemilik perusahaan/owner, laba yang ditahan/retained

earning, dll, sedangkan dana yang diperoleh dari luar perusahaan biasanya

8
dapat diperoleh dengan pinjaman pihak ke tiga. Mulyono (2015: 432)

mengemukakan bahwa saat perusahaan mencari dana di pasar modal, maka

mekanisme yang terjadi adalah pemodal yang memiliki kelebihan dana akan

memberikan dana yang dimilikinya untuk diinvestasikan pada perusahaan

yang terdaftar di bursa, dengan mengharapkan imbal hasil dan perusahaan

dapat memanfaatkan dana tersebut untuk membiayai kegiatan operasional.

Pasar modal merupakan media yang menjembatani antara orang

yang memiliki dana lebih atau investor dengan pihak yang membutuhkan

dana (Pudji Astuty, 2017). Pasar modal merupakan tempat untuk melakukan

kegiatan jual beli berbagai instrumen keuangan, baik instrumen

konvensional maupun syariah seperti saham, obligasi, sukuk dan berbagai

produk turunan (derivatif) seperti opsi (put atau call). Pasar modal menjadi

salah satu dasar penting bagi pembangunan perekonomian suatu negara

karena pasar modal memberikan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi

keuangan dan fungsi ekonomi (Suad Husnan, 2008:4).

Pada fungsi yang pertama yaitu fungsi keuangan, pasar modal

menjadi sarana untuk berinvestasi bagi masyarakat maupun investor pada

instrumen keuangan seperti obligasi, saham, derivatif dan lain-lain.

Sedangkan fungsi yang kedua yaitu fungsi ekonomi, pasar modal

memberikan fasilitas untuk memindahkan dana dari pihak yang mempunyai

kelebihan dana kepada pihak yang memerlukan dana.

Saham menjadi salah satu alternatif yang menarik bagi investor

untuk dijadikan objek investasi dan merupakan salah satu instrument pasar

9
keuangan yang paling popular (Zaki, dkk. 2017). Saham menjadi salah satu

instrumen yang paling dikenal dan diminati masyarakat, karena dapat

memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham juga memiliki

kategori per sektor industri, salah satunya adalah sektor industri perbankan.

Sektor industri perbankan merupakan lembaga yang secara langsung

berperan dalam kebijakan pemerintah suatu negara sehingga dapat

dikatakan sektor industri perbankan merupakan pendorong utama

perekonomian suatu negara. Sektor perbankan juga merupakan salah satu

sektor yang memiliki peran aktif dalam transaksi keuangan perekonomian

secara regional, nasional dan internasional.

Menurut Prasanjaya (2013), bahwa dunia perbankan memegang

peranan penting dalam perekonomian suatu negara, karena perbankan

bertindak sebagai urat nadi perdagangan yang bertujuan untuk menyediakan

segala macam kebutuhan pembiayaan dan peminjaman. Perbankan adalah

badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk

simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan

atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat

banyak. Kinerja keuangan perbankan mencerminkan kemampuan suatu

bank secara operasional, baik dalam menghimpun dana, menyalurkan dana,

sumber daya manusia serta teknologi.

Kekuatan dan kelemahan suatu bank dapat dilihat dari kinerja bank

tersebut. Kekuatan suatu bank dapat dimanfaatkan untuk pengembangan

usaha bank dan menjadi keunggulan bersaing dengan bank lainnya,

10
sementara kelemahan suatu bank dapat dijadikan dasar untuk evaluasi agar

kinerja bank tersebut lebih baik lagi di masa yang akan datang. Investor

tertarik untuk menanamkan modalnya pada industri perbankan karena

industri perbankan mampu menunjukkan eksistensinya dalam kinerja dan

pencapaian hasil yang baik. Menurut Indonesian Banks Association atau

Perbanas (2018) industri perbankan menggali dana dari pasar modal untuk

memenuhi kebutuhannya di tahun ini maupun tahun depan. Para bankir

menggunakan berbagai instrumen agar bisa mendanai kebutuhan bisnisnya.

Saham termasuk instrumen pasar modal yang populer bagi perbankan.

Menurut Purnomo, et al. (2013), saham adalah tanda penyertaan

modal dari seseorang atau badan usaha di dalam suatu perusahaan perseroan

terbatas. Perubahan harga saham merupakan salah satu indikator

keberhasilan pengelolaan suatu perusahaan, karena jika harga saham suatu

perusahaan mengalami kenaikan, akan banyak investor yang tertarik untuk

berinvestasi di perusahaan tersebut. Sebaliknya, apabila harga saham suatu

perusahaan mengalami penurunan, maka sedikit investor yang tertarik

untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.

Investor mencari peluang untuk menginvestasikan sumber dayanya

di pasar modal, dan salah satu faktor utama setiap investor berinvestasi di

pasar modal adalah “harga saham” (Nahoji et al, 2014: 34-35). Harga saham

merupakan salah satu indikator keberhasilan pengelolaan perusahaan, jika

harga saham suatu perusahaan selalu mengalami kenaikan, maka investor

atau calon investor menilai bahwa perusahaan berhasil dalam mengelola

11
usahanya. Kepercayaan investor atau calon investor sangat bermanfaat bagi

emiten, karena semakin banyak orang yang percaya terhadap emiten maka

keinginan untuk berinvestasi pada emiten semakin kuat. Semakin banyak

permintaan terhadap saham suatu emiten maka dapat menaikkan harga

saham tersebut. Jika harga saham yang tinggi dapat dipertahankan maka

kepercayaan investor atau calon investor terhadap emiten juga semakin

tinggi dan hal ini dapat menaikkan nilai emiten. Sebaliknya, jika harga

saham mengalami penurunan terus menerus berarti dapat menurunkan nilai

emiten dimata investor atau calon investor (Zuliarni, 2012:37).

Umumnya para investor yang berinvestasi saham menginginkan

tingkat pengembalian yang optimal, tetapi di sisi lain para investor

dihadapkan oleh berbagai ketidakpastian (Gunawan, 2016: 3). Banardi dan

Diyani (2017: 2) mengemukakan bahwa fluktuasi harga saham dapat

dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal, lalu kinerja perusahaan bisa

jadi berpengaruh terhadap harga saham. Tingkat pengembalian modal dapat

tercermin dari harga saham, hal ini yang menyebabkan harga saham menjadi

salah satu faktor yang membuat investor menginvestasikan dananya di pasar

modal.

12
Tabel 1.1
Closing Price Indeks Saham Utama Negara-negara ASEAN

TAHUN
INDEKS SAHAM
2014 2015 2016 2017 2018
IDX Composite
Rp 5.226,95 Rp 4.593,01 Rp 5.296,71 Rp 6.355,65 Rp 6.194,50
(Indonesia)
KLCI (Malaysia) RM 1.761,25 RM 1.692,51 RM 1.641,73 RM 1.796,81 RM 1.690,58
PSEi Composite
PHP 7.230,57 PHP 6.952,08 PHP 6.840,64 PHP 8.558,42 PHP 7.466,02
(Filipina)
STI Index
SGD 3.365,15 SGD 2.882,73 SGD 2.880,76 SGD 3.402,92 SGD 3.068,76
(Singapura)
SET Index
THB 1.497,67 THB 1.288,02 THB 1.542,94 THB 1.753,71 THB 1.563,88
(Thailand)
VN Index
VND 601,66 VND 595,57 VND 628,21 VND 975,52 VND 854,99
(Vietnam)
Sumber : id.investing.com

Dari tabel 1.1 diatas, dapat dilihat dari tahun 2014 sampai tahun

2018 indeks saham utama negara Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura,

Thailand dan Vietnam mengalami fluktuasi. Akan tetapi, dari tahun 2017 ke

tahun 2018 semua indeks utama negara-negara ASEAN tersebut kompak

mengalami penurunan atau pelemahan. Indeks saham utama Indonesia atau

lebih dikenal dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari tahun

2017 ke tahun 2018 melemah sebesar 2,53%. Indeks saham Malaysia

melemah sebesar 5,91%. Kemudian indeks saham Filipina juga melemah

sebesar 12,76%. Begitu pula dengan indeks saham Singapura, Thailand dan

Vietnam yang masing-masing melemah sebesar 9,82%, 10,82% dan

12,35%. Melemahnya indeks saham tersebut tentu dipengaruhi oleh faktor

eksternal dan internal.

13
Laporan keuangan perusahaan sangat berguna bagi investor dalam

membantu pengambilan keputusan investasi, seperti menjual, membeli, atau

menanam sahamnya. Alat untuk mengukur, menilai kondisi keuangan dan

prestasi perusahaan, para analisis keuangan memerlukan beberapa tolak

ukur. Tolak ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks, yang

menghubungkan dua data keuangan yang satu dengan yang lainnya.

Kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan dapat diketahui dengan

menganalisis laporan keuangan perusahaan. Analisis rasio keuangan

merupakan alat yang dapat membantu dalam menganalisis laporan

keuangan tersebut. Setiap rasio keuangan mempunyai arti, kegunaan, dan

tujuan tertentu. Hasil dari rasio yang diukur akan diinterpretasikan dan akan

bermanfaat untuk mengambil sebuah keputusan.

Menurut Harmono (2014:106) analisis rasio keuangan dapat

diklasifikasikan ke dalam lima aspek rasio keuangan perusahaan, yaitu (1)

rasio likuiditas, (2) rasio aktivitas, (3) rasio profitabilitas, (4) rasio

solvabilitas (rasio leverage), dan (5) rasio nilai perusahaan. Dalam

penelitian ini penulis menggunakan rasio likuiditas, rasio profitabilitas dan

rasio aktivitas. Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan

perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya. Dalam penelitian ini

diproksikan dengan Current Ratio. Current Ratio menunjukkan sejauh

mana aktiva lancar dapat menutupi kewajiban lancar. Semakin besar nilai

Current Ratio maka semakin tinggi kemampuan sebuah perusahaan dalam

menutupi kewajiban jangka pendeknya. Nilai Current Ratio yang rendah

14
dianggap terjadi masalah dalam likuiditas, namun nilai Current Ratio yang

terlalu tinggi juga kurang bagus, karena dapat menunjukkan banyaknya

dana yang tidak terpakai akibat kurang efektifnya perusahaan dalam

menggunakannya. Menurut Salma Bela Megawati (2018) tentang Pengaruh

Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Telekomunikasi

yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2016. Hasil penelitian

tersebut menyatakan Total Asset Turn Over berpengaruh positif dan

signifikan terhadap Harga Saham. Hasil penelitian berbeda didapatkan oleh

Rahmadewi dan Abundanti (2018) tentang Pengaruh EPS, PER, CR dan

ROE terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia, yang menyatakan

bahwa Current Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham.

Rasio profitabilitas adalah rasio yang mencerminkan tingkat

keuntungan yang diperoleh perusahaan. Dalam penelitian ini diproksikan

dengan Return On Equity. Return On Equity menunjukkan seberapa besar

kemampuan dari sebuah perusahaan dalam menghasilkan laba bersih untuk

pengembalian ekuitas terhadap para pemegang saham. Semakin tinggi nilai

Return On Equity maka semakin baik kinerja perusahaan dalam mengelola

modal untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Menurut

Oggi Bagus Suyatna dan Mohamad Rafky Nazar (2015) tentang Pengaruh

Return On Equity, Pertumbuhan Penjualan, Dividen, dan Inflasi terhadap

Harga Saham Pada Perusahaan Food and Beverage. Hasil penelitian

tersebut menyatakan bahwa Return On Equity berpengaruh signifikan

terhadap Harga Saham. Hasil penelitian berbeda didapatkan oleh Widayanti

15
dan Colline (2017) tentang Pengaruh Rasio Keuangan terhadap Harga

Saham Perusahaan LQ 45 Periode 2011-2015, yang menyatakan bahwa

Return On Equity tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham.

Sedangkan rasio aktivitas adalah rasio yang mengukur seberapa

efektif dan efisien perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang

dimiliki. Dalam penelitian ini diproksikan dengan Total Asset Turn Over.

Total Asset Turn Over merupakan rasio yang digunakan untuk melihat

seberapa efektif penggunaan asset operasi perusahaan dalam menghasilkan

penjualan. Semakin sedikit selisih antara penjualan dan asset, maka semakin

efektif perusahaan dalam menggunakan assetnya, dengan demikian asset

yang terdapat di perusahaan semakin sedikit dan mengakibatkan biaya atas

penggunaan asset (cost of capital) semakin sedikit sehingga profitabilitas

semakin meningkat (Prihadi 2012:255). Menurut Salma Bela Megawati

(2018) tentang Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham Pada

Perusahaan Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun

2012-2016. Hasil penelitian tersebut menyatakan Total Asset Turn Over

berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham. Hasil penelitian

berbeda didapatkan oleh Widayanti dan Colline (2017) tentang Pengaruh

Rasio Keuangan terhadap Harga Saham Perusahaan LQ 45 Periode 2011-

2015, yang menyatakan bahwa Total Asset Turn Over tidak berpengaruh

signifikan terhadap Harga Saham.

Pertumbuhan perusahaan menjadi salah satu pertimbangan investor

untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan. Peluang tumbuh

16
perusahaan merupakan salah satu informasi yang dibutuhkan oleh investor.

Pihak internal perusahaan (manajemen) dan pihak eksternal perusahaan

(investor dan kreditor) tentu memiliki harapan terhadap pertumbuhan

perusahaan. Dari pertumbuhan tersebut akan memberi efek positif untuk

perusahaan seperti adanya kesempatan berinvestasi di perusahaan tersebut.

Bagi investor, jika suatu perusahaan memiliki prospek bertumbuh atau

meningkat maka akan menjadi suatu prospek yang menguntungkan, karena

investasi yang ditanamkan diharapkan dapat memberikan pengembalian

yang tinggi. Dalam penelitian ini pertumbuhan perusahaan diproksikan

dengan Growth Asset atau pertumbuhan aset yang menunjukkan tingkat

perubahan aset dari tahun ke tahun. Menurut Sulia (2017) tentang Analisis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham Pada Perusahaan LQ45

Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian tersebut

menyatakan pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap

harga saham. Hasil penelitian berbeda didapatkan oleh Firmansyah (2017)

tentang Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan, Total Asset Turn Over, Return

On Investment, Earning Per Share Terhadap Harga Saham, menyatakan

bahwa Pertumbuhan Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap

Harga Saham.

Kebijakan dividen merupakan keputusan dari suatu perusahaan

mengenai seberapa banyak dividen dibagikan, bentuk dividen yang

dibagikan dan kapan dividen tersebut akan dibagikan. Menurut Ananda dan

Mahdy (2015) mendefinisikan kebijakan dividen merupakan satu dari

17
sekian banyak faktor internal yang turut mempengaruhi

perkembangan harga saham. Setiap perusahaan memiliki kebijakan dividen

yang berbeda-beda tergantung pada likuiditas, struktur modal dan arus kas

perusahaan. Kebijakan dividen akan mempengaruhi motivasi investor untuk

berinvestasi ke dalam perusahaan. Kebijakan dividen yang menghasilkan

tingkat dividen yang bertambah atau meningkat dari tahun ke tahun tentu

akan meningkatkan motivasi investor dan dapat memberikan informasi

kepada investor bahwa kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba

semakin meningkat. Dalam penelitian ini kebijakan dividen diproksikan

dengan Dividend Payout Ratio. Menurut Oggi Bagus Suyatna dan

Mohamad Rafky Nazar (2015) tentang Pengaruh Return On Equity,

Pertumbuhan Penjualan, Dividen, dan Inflasi terhadap Harga Saham Pada

Perusahaan Food and Beverage. Hasil penelitian tersebut menyatakan

bahwa Dividend Payout Ratio berpengaruh signifikan terhadap harga

saham. Hasil penelitian berbeda didapatkan oleh Bailia, dkk (2016) tentang

Pengaruh Pertumbuhan Penjualan, Dividend Payout Ratio dan Debt to

Equity Ratio terhadap Harga Saham pada Perusahaan Property di Bursa

Efek Indonesia, yang menyatakan bahwa Dividend Payout Ratio tidak

berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham.

Sebelumnya penelitian tentang harga saham telah banyak dilakukan

oleh para ahli salah satunya oleh Salma Bela Megawati (2018) tentang

Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan

Telekomunikasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2016

18
dengan variabel dependennya adalah harga saham dan variabel

independennya adalah CR, DR, NPM, TATO dan PER. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa secara parsial variabel CR, NPM, dan TATO

berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, sedangkan

variabel DR dan PER berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap

harga saham. Secara simultan variabel CR, DR, NPM, TATO dan PER

berpengaruh terhadap harga saham.

Selanjutnya penelitian menurut Rheza Dewangga Nugraha dan Budi

Sudaryanto (2016) tentang Analisis Pengaruh DPR, DER, ROE, dan TATO

Terhadap Harga Saham (Studi Kasus pada Perusahaan Industri Dasar dan

Kimia yang Terdaftar di BEI Periode 2010-2014). Hasil penelitian

menunjukkan bahwa secara simultan DPR, DER, ROE, dan TATO

berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara parsial DPR dan ROE

memiliki hubungan positif dan berpengaruh secara signifikan terhadap

harga saham, sedangkan DER dan TATO memiliki hubungan negatif dan

berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.

Kemudian ada penelitian dari Yusuf Yoga Adi Surya (2016) tentang

Analisis Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Penjualan dan Dividen

Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Consumer Goods (Studi

Empiris pada Perusahaan Layanan Telekomunikasi di Bursa Efek Indonesia

Tahun 2011-2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada rasio

keuangan, hanya nilai Current Ratio yang memberikan pengaruh signifikan

pada perubahan harga saham sedangkan ROE tidak memberikan pengaruh

19
signifikan pada perubahan harga saham, kemudian pertumbuhan penjualan

dan DPR tidak berpengaruh positif signifikan pada perubahan harga saham.

Lalu penelitian oleh Suyatna dan Nazar (2015) tentang Pengaruh

Return On Equity, Pertumbuhan Penjualan, Dividen, dan Inflasi terhadap

Harga Saham Pada Perusahaan Food and Beverage (Studi Empiris di BEI

2009-2013). Hasil penelitian secara simultan diketahui bahwa Return on

Equity, Pertumbuhan Penjualan, Dividen, dan Inflasi berpengaruh

signifikan terhadap harga saham. Sedangkan secara parsial bahwa Return

on Equity dan Dividen berpengaruh signifikan, Pertumbuhan Penjualan dan

Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan

food and baverage yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia.

Dan penelitian oleh Dany Pranata dan Diyah Pujiati (2015) tentang

The Effect Of Liquidity, Profitability, Sales Growth, And Dividend Policy

On Stock Prices After The Implementation Of IFRS. Berdasarkan hasil

penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa secara simultan CR, ROA,

pertumbuhan penjualan dan DPR berpengaruh pada harga saham.

Sedangkan secara parsial CR, ROA dan DPR memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap harga saham tetapi pertumbuhan penjualan tidak

berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Dari hasil penelitian terdahulu yang variatif mendorong peneliti

untuk melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh rasio keuangan,

pertumbuhan perusahaan dan kebijakan dividen terhadap harga saham.

Perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu terletak pada tahun

20
penelitian, objek penelitian dan penambahan pada proksi rasio keuangan

yang tidak hanya terpaku pada rasio likuiditas dan profitabilitas saja namun

adanya variasi baru yaitu penulis menambahkan rasio aktivitas dengan

proksi Total Asset Turn Over pada penelitian ini. Dan mengambil studi

kasus penelitian yaitu bank dengan kapitalisasi pasar menengah dan besar

di ASEAN karena ASEAN menjadi salah satu kawasan dengan

pertumbuhan ekonomi yang stabil dan nilai kapitalisasi pasar sangat penting

bagi perusahaan publik karena nilai kapitalisasi pasar mencerminkan nilai

total perusahaan. Besar dan pertumbuhan dari suatu kapitalisasi pasar

perusahaan seringkali menjadi pengukuran penting dari keberhasilan atau

kegagalan suatu perusahaan publik. Semakin besar kapitalisasi pasar

perusahaan, maka semakin mahal perusahaan tersebut dihargai oleh pasar.

Dengan latar belakang yang telah diutarakan oleh penulis, maka

penulis memberi judul penelitian ini adalah “Analisis Pengaruh Rasio

Keuangan, Pertumbuhan Perusahaan dan Kebijakan Dividen

terhadap Harga Saham (Studi Kasus Pada Bank Dengan Kapitalisasi

Pasar Menengah dan Besar di ASEAN Tahun 2008-2017)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan maka dapat

diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh Current Ratio, Return On Equity, Total Asset

Turn Over, Growth Asset dan Dividend Payout Ratio secara simultan

21
terhadap Harga Saham pada Bank terbesar di ASEAN berdasarkan

Kapitalisasi Pasar pada Tahun 2008-2017?

2. Apakah terdapat pengaruh Current Ratio, Return On Equity, Total Asset

Turn Over, Growth Asset dan Dividend Payout Ratio secara parsial

terhadap Harga Saham pada Bank terbesar di ASEAN berdasarkan

Kapitalisasi Pasar pada Tahun 2008-2017?

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas dan untuk menghindari

perluasan pembahasan dalam penelitian ini, maka pada penelitian ini

dibatasi pada faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham yaitu Current

Ratio, Return On Equity, Total Asset Turn Over, Growth Asset dan Dividend

Payout Ratio terhadap Harga Saham pada Bank terbesar di ASEAN

berdasarkan Kapitalisasi Pasar pada Tahun 2008-2017.

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini,

maka tujuan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh Current Ratio, Return On Equity, Total

Asset Turn Over, Growth Asset dan Dividend Payout Ratio secara

simultan terhadap Harga Saham pada Bank terbesar di ASEAN

berdasarkan Kapitalisasi Pasar pada Tahun 2008-2017.

2. Untuk mengetahui pengaruh Current Ratio, Return On Equity, Total

Asset Turn Over, Growth Asset dan Dividend Payout Ratio secara

22
parsial terhadap Harga Saham pada Bank terbesar di ASEAN

berdasarkan Kapitalisasi Pasar pada Tahun 2008-2017.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi, sebagai

bahan referensi, dan perbandingan berkaitan bidang dan kajian yang

sama.

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi dan

masukan untuk menentukan langkah berikutnya dalam pencapaian

kedepannya.

3. Bagi Investor

Penelitian ini diharapkan mampu dijadikan bahan pertimbangan yang

bermanfaat dalam mengambil keputusan investasi.

4. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan

khususnya mengenai pengaruh rasio keuangan, pertumbuhan

perusahaan dan kebijakan dividen terhadap harga saham.

23
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pasar Modal

a. Pengertian Pasar Modal

Secara formal pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar

untuk instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa

diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri,

baik yang diterbitkan pemerintah, public authorities, maupun

perusahaan swasta (Suad Husnan, 2015:3).

Pasar modal merupakan tempat bertemu antara pembeli dan

penjual dengan risiko untung dan rugi. Pasar modal juga merupakan

sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka

panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi

(Jogiyanto Hartono, 2017:29). Menurut Abdul Halim (2015:1) pasar

modal (capital market) adalah pasar yang mempertemukan pihak

yang menawarkan dan yang memerlukan dana jangka panjang,

seperti saham dan obligasi. Sedangkan Bursa Efek (stock exchange)

adalah suatu lembaga yang menyediakan fasilitas sistem untuk

mempertemukan penjual dan pembeli efek-efek jangka panjang

antar berbagai perusahaan dengan tujuan memperdagangkan surat-

surat berharga perusahaan yang telah tercatat di Bursa Efek.

24
Sedangkan menurut Undang-undang Pasar Modal no.8 tahun

1995, pasar modal yaitu sebagai suatu kegiatan yang bersangkutan

dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik

yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan

profesi yang berkaitan dengan efek.

Untuk meningkatkan partisipasi dari pembeli dan penjual,

pasar modal harus bersifat likuid dan juga efisien. Suatu pasar modal

dapat dikatakan likuid yaitu jika pembeli dan penjual dapat membeli

dan menjual surat-surat berharga dengan cepat. Sedangkan pasar

modal dapat dikatakan efisien yaitu jika harga dari surat-surat

berharga dapat mencerminkan nilai dari perusahaan secara akurat.

b. Mnafaat dan Fungsi Pasar Modal

Menurut Abdul Halim (2015:1), manfaat pasar modal adalah:

1) Menyediakan sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia

usaha.

2) Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus

memungkinkan upaya diversifikasi.

3) Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat

menengah.

4) Penyebaran keterbukaan, profesionalisme, dan menciptakan

iklim berusaha yang sehat.

5) Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan

mempunyai prospek.

25
6) Sebagai alternatif investasi yang memberikan potensi profit

dengan risk yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan,

likuiditas, dan diversifikasi.

Selain itu Abdul Halim (2015:2) juga menilai bahwa pasar

modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena

pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu:

1) Fungsi ekonomi, dalam hal ini pasar modal menyediakan

fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan,

yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak

yang memerlukan dana (issuer) jangka panjang.

2) Fungsi keuangan, dalam hal ini pasar modal memberikan

kemungkinan dan kesempatan memperoleh return atau capital

gain atau interest bagi investor sesuai dengan karakteristik

investasi yang dipilih.

Dengan adanya pasar modal diharapkan dapat meningkatkan

aktivitas perekonomian, karena pasar modal menjadi salah satu

alternatif bagi suatu perusahaan sehingga perusahaan tersebut dapat

beroperasi dengan skala yang lebih besar, dan kemudian dapat

meningkatkan keuntungan perusahaan dan kesejahteraan

masyarakat luas.

26
c. Instrumen Pasar Modal

Menurut Ahmad Rodoni dan Herni Ali (2014:10), instrumen

pasar modal merupakan instrumen utang dan ekuitas dengan

maturitas atau jatuh tempo lebih dari satu tahun. Instrumen pasar

modal merupakan semua surat-surat berharga (efek) yang umum

diperjual belikan melalui pasar modal (Martono, 2010:191).

Sebenarnya banyak sekali instrumen yang bisa diperdagangkan di

pasar modal, yang semuanya dapat diwakili oleh salah stau istilah,

yaitu surat berharga. Yang termasuk surat berharga adalah saham,

obligasi, right, waran dan reksa dana.

Menurut Abdul Halim (2015:6), instrumen-instrumen yang

diperdagangkan di pasar modal adalah:

1) Saham biasa (Common Stocks)

Saham biasa adalah yang paling dikenal masyarakat. Di antara

emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga), saham

biasa juga merupakan yang paling banyak digunakan untuk

menarik dana dari masyarakat.

2) Saham Preferen (Preferred Stocks)

Saham preferen merupakan saham yang memiliki karakteristik

gabungan antara obligasi dan saham biasa.

3) Obligasi (Bond)

Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak

antara pemberi dana (dalam hal ini pemodal) dengan yang diberi

27
dana (emiten). Jadi surat obligasi adalah selembar kertas yang

menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut telah membeli utang

perusahaan yang menerbitkan obligasi.

4) Right

Right merupakan surat berharga yang memberikan hak bagi

pemodal untuk membeli saham baru yang dikeluarkan emiten.

Right merupakan produk derivatif atau turunan dari saham.

5) Waran

Waran seperti halnya right adalah hak untuk membeli saham

biasa pada waktu dan harga yang sudah ditentukan. Biasanya

waran dijual bersamaan dengan surat berharga lain, misalnya,

obligasi atau saham.

6) Reksa Dana

Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi

masyarakat pemodal, khusunya pemodal kecil dan pemodal

yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk

menghitung risiko atas investasi mereka.

2. Saham

a. Pengertian Saham

Saham merupakan surat tanda penyertaan kepemilikan

perusahaan yang dapat diperjual belikan atau dipindah tangankan.

Keuntungan diperoleh dari dividen yang dibagikan perusahaan

maupun dari capital gain (Pudji Astuty, 2017). Secara sederhana,

28
saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan

seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah

selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut

adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Bila

membeli saham, maka akan menerima kertas yang menjelaskan

bahwa pembeli memiliki perusahaan penerbit saham tersebut

(Abdul Halim, 2015:6).

Darmadji dan Fakhruddin (2012:5) mengemukakan saham

(stock) merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau

badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham

berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas

tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga

tersebut. Sedangkan menurut Irham Fahmi (2014) saham merupakan

kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan

dan di ikuti dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap

pemegangnya. Saham salah satu efek yang diperdagangkan atau

diperjualbelikan di pasar bursa. Suatu perusahaan dapat menjual hak

kepemilikannya dalam bentuk saham (stock). Menerbikan saham

merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika membutuhkan

pendanaan untuk perusahaan baik dalam melakukan pengembangan

perusahaan maupun untuk membayar hutang perusahaan yang telah

jatuh tempo (Ridwan dan Lucia, 2018).

29
Suatu perusahaan dapat menjual hak kepemilikannya dalam

bentuk saham. Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas

saham saja, saham ini disebut dengan saham biasa (common stock).

Untuk menarik investor potensial lainnya, suatu perusahaan

mungkin juga mengeluarkan kelas lain dari saham, yaitu disebut

dengan saham preferen (preferred stock) (Rizkiyanto, 2015).

Menurut Hermuningsih (2012:80), pada umumnya tujuan dari

investasi saham adalah untuk mendapatkan capital gain dan dividen.

Capital gain adalah selisih lebih antara harga beli dengan harga jual

saham, sedangkan dividen adalah sebagian keuntungan perusahaan

yang dibagikan kepada pemegang saham. Sehingga dapat diambil

kesimpulan bahwa saham merupakan kertas yang berisi keterangan

tentang kepemilikan atas suatu perusahaan yang dapat diperjual

belikan dan juga berisi hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada

setiap pemegangnya.

b. Jenis-jenis Saham

Menurut Irham Fahmi (2012:86) dalam pasar modal ada dua

jenis saham yang paling umum dikenal publik, yaitu saham biasa

(common stock) dan saham istimewa (preferred stock). Dimana

kedua jenis saham itu memiliki arti dan aturannya masing-masing,

yaitu:

30
1) Saham Biasa (Common Stock)

Saham biasa (common stock) adalah surat berharga yang dijual

oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal

(rupiah,dolar, yen dan sebagainya) di mana pemegangnya diberi

hak untuk mengikuti rapat umum pemegang saham (RUPS) dan

rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) serta berhak

untuk menentukan membeli right issue (penjualan saham

terbatas) atau tidak. Pemegang saham ini di akhir tahun akan

memperoleh keuntungan dalam bentuk dividen.

2) Saham Istimewa (Preferred Stock)

Saham istimewa (preferred stock) adalah surat berharga yang

dijual pleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal

(rupiah, dolar, yen dan sebagainya) di mana pemegangnya akan

memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk dividen yang akan

diterima setiap kuartala (tiga bulan).

Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012:6), ada beberapa jenis

saham yaitu:

1) Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka

saham terbagi atas:

a) Saham biasa (common stock), yaitu merupakan saham yang

menempatkan pemiliknya paling junior terhadap pembagian

dividen, dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila

perusahaan tersebut dilikuidasi.

31
b) Saham preferen (preferred stock), merupakan saham yang

memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham

biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti

bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil

seperti ini dikehendaki oleh investor.

2) Dilihat dari cara pemeliharaannya, saham dibedakan menjadi:

a) Saham atas unjuk (bearer stock) artinya pada saham tersebut

tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah

dipindahtangankan dari satu investor ke investor lain.

b) Saham atas nama (registered stock), merupakan saham yang

ditulis dengan jelas siapa pemiliknya, dan dimana cara

peralihannya harus melalui prosedur tertentu.

3) Ditinjau dari kinerja perdagangnannya, maka saham dapat

dikategorikan menjadi:

a) Saham unggulan (blue-chip stock), yaitu saham biasa dari

suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai

leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil

dan konsisten dalam membayar dividen.

b) Saham pendapatan (income stock), yaitu saham biasa dari

suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen

lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada

tahun sebelumnya.

32
c) Saham pertumbuhan (growth stock-well known), yaitu

saham-saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan

pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis

yang mempunyai reputasi tinggi. Selain itu terdapat juga

growth stock lesser known, yaitu saham dari emiten yang

tidak sebagai leader dalam industri namun memiliki ciri

growth stock.

d) Saham spekulatif (spekulative stock), yaitu saham suatu

perusahaan yang tidak bisa secra konsisten memperoleh

penghasilan yang tinggi di masa mendatang, meskipun

belum pasti.

e) Saham sklikal (counter cyclical stock), yaitu saham yang

tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun

situasi bisnis secara umum.

3. Harga Saham

Harga Saham adalah harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa

pada saat tertentu yang ditentukan oleh mekanisme pasar berupa

permintaan dan penawaran saham tersebut (Jogiyanto, 2010:130).

Sunariyah (2011:136) mengemukakan bahwa harga saham merupakan

satuan angka dasar yang telah di sepakati. Harga saham dipengaruhi

oleh permintaan dan penawaran terhadap saham itu sendiri di pasar,

sehingga harga saham memiliki keterkaitan dengan pasar suatu saham.

Semakin banyak investor yang ingin membeli saham suatu perusahaan

33
(permintaan), sedangkan sedikit investor yang ingin menjual saham

tersebut (penawaran) maka harga saham tersebut akan semakin turun.

Menurut Ridwan dan Diyani (2018), harga saham adalah uang yang

dikeluarkan untuk memperoleh bukti penyertaan atau kepemilikan suatu

perusahaan. Harga saham juga dapat diartikan sebagai harga yang

dibentuk dari hubungan para penjual dan pembeli saham dengan

harapan terhadap keuntungan perusahaan, untuk itu investor

memerlukan informasi yang berkaitan dengan pembentukan harga

saham tersebut dalam mengambil keputusan untuk menjual atau

membeli saham.

Investor umumnya melihat harga saham sebagai cerminan nilai

perusahaan dipasar modal serta untuk melihat bagaimana suatu

perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik. Sehingga investor

yang akan melakukan jual beli saham di perusahaan go public memiliki

pendekatan untuk mengetahui apakah saham yang akan dibeli akan

memberikan keuntungan atau kerugian bagi investor (Megawati, 2018).

Pergerakan harga saham dipasar sangat sulit ditebak yang menyebabkan

risiko. Risiko yang utama ditimbulkan dari investasi saham ini adalah

variasi harga saham yang terjadi setiap waktu (Adipalguna dan

Suarjaya, 2016).

Harga saham merupakan salah satu indikator keberhasilan

pengelolaan perusahaan, jika harga saham suatu perusahaan selalu

mengalami kenaikan, maka investor atau calon investor menilai bahwa

34
perusahaan berhasil dalam mengelola usahanya. Kepercayaan investor

atau calon investor sangat bermanfaat bagi emiten, karena semakin

banyak orang yang percaya terhadap emiten maka keinginan untuk

berinvestasi pada emiten semakin kuat. Semakin banyak permintaan

terhadap saham suatu emiten maka dapat menaikkan harga saham

tersebut. Jika harga saham yang tinggi dapat dipertahankan maka

kepercayaan investor atau calon investor terhadap emiten juga semakin

tinggi dan hal ini dapat menaikkan nilai emiten. Sebaliknya, jika harga

saham mengalami penurunan terus menerus berarti dapat menurunkan

nilai emiten dimata investor atau calon investor (Zuliarni, 2012:37).

Dapat diambil kesimpulan yaitu harga saham merupakan harga dari

selembar saham yang ditentukan dari permintaan dan penawaran di

pasar modal dan biasanya merupakan harga penutupan (closing price).

Ketika permintaan suatu saham tinggi maka harga saham akan ikut

tinggi, begitu pula sebaliknya ketika permintaan akan suatu saham

rendah maka harga saham akan ikut rendah.

Menurut Yuliana (2010:60), faktor yang mempengaruhi harga

saham berasal dari dua faktor yaitu faktor internal maupun faktor

eksternal. Faktor internal yang berpengaruh terhadap harga saham yaitu:

laba perusahaan, pertumbuhan aktiva tahunan, likuiditas, nilai kekayaan

total penjualan. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap harga

saham yaitu: kebijakan pemerintah dan dampaknya, pergerakan suku

35
bunga, fluktuasi nilai tukar mata uang, rumor dan sentimen pasar,

penggabungan usaha (business combination ).

Irham Fahmi (2012:89) mengemukakan beberapa kondisi dan

situasi yang menentukan suatu saham itu akan mengalami fluktuasi,

yaitu:

a. Kondisi makro dan mikro ekonomi.

b. Kebijakan perusahaan dalam memutuskan untuk ekspannsi

(perluasan usaha), seperti membuka kantor cabang (brand office)

dan kantor cabang pembantu (sub brand office) baik yang dibuka di

domestik maupun luar negeri.

c. Pergantian direksi secara tiba-tiba.

d. Adanya direksi atau pihak komisaris perusahaan yang terlibat tindak

pidana dan kasusnya sudah masuk ke pengadilan.

e. Kinerja perusahaan yang terus mengalami penurunan dalam setiap

waktunya.

f. Risiko sistematis, yaitu suatu bentuk risiko yang terjadi secara

menyeluruh dan telah ikut menyebabkan perusahaan ikut terlibat.

g. Efek dari psikologi pasar yang ternyata mampu menekan kondisi

teknikal jual beli saham.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harga saham dibedakan

sebagai berikut:

36
a. Harga Nominal

Harga nominal merupakan harga yang tercantum dalam

sertifikat saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap

lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal

memberikan arti penting karena deviden yang dibayarkan atas

saham biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.

b. Harga Perdana

Harga perdana merupakan harga pada waktu saham tersebut

dicatat dibursa efek dalam rangka penawaran umum penjualan

saham perdana yang disebut dengan IPO (Initial Public Offering).

Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin

emisi (underwriter) dan perusahaan publik yang terdaftar di bursa

(emiten).

c. Harga Pasar

Harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan

investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut

dicatatkan dalam bursa efek. Transaksi disini sama sekali tidak lagi

melibatkan eniten dan penjamin emisi. Harga inilah yang disebut

sebagai harga dipasar sekunder dan merupakan harga yang

benarbenar mewakili harga perusahaan penerbitnya, karena pada

transaksi dipasar sekunder, kecil sekali terjadi negosiasi harga

antara investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari

diumumkan di surat kabar atau media lainnya adalah harga pasar

37
yang tercatat pada waktu penutupan (closing price) aktivitas dibursa

efek indonesia yang akan digunakan sebagai harga saham

pembukaan keesokan harinya saat pembukaan bursa.

Terdapat dua teknik untuk menganalisis kewajaran harga saham

yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis fundamental

lebih memberikan informasi yang relevan dalam mengevaluasi prospek

masa depan, pertumbuhan dalam kaitannya dengan perekonomian

secara makro, ekonomi nasional, perkembangan bidang industri

perusahaan dan kondisi perusahaan itu sendiri. Sedangkan analisis

teknikal hanya mempelajari sejarah dari harga saham dan sejarah harga

dari bursa saham secara keseluruhan. Para analis fundamental dapat

mulai memperhitungkan apakah saham suatu perusahaan berada pada

posisi mahal (overvalued), murah (undervalued), ataukah wajar

(corectly valued) (Wijaya, dkk, 2015). Analisis teknikal banyak

digunakan oleh praktisi dalam menentukan harga saham. Sedangkan

analisis fundamental banyak digunakan oleh akademis (Jogiyanto,

2015:161).

4. Analisis Rasio Keuangan

Untuk mengetahui kondisi keuangan suatu bank, maka dapat dilihat

laporan keuangan yang disajikan oleh suatu bank secara periodik.

Laporan ini juga sekaligus menggambarkan kinerja bank selama periode

tersebut. Agar laporan ini dapat dibaca, sehingga menjadi berarti, maka

perlu dilakukan analisis terlebih dahulu. Analisis yang digunakan adalah

38
dengan menggunakan rasio-rasio keuangan sesuai dengan standar yang

berlaku (Kasmir, 2014:311). Analisis rasio keuangan merupakan alat

utama dalam analisis keuangan, karena analisis ini dapat digunakan

untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang keadaan keuangan

korporasi (Tampubolon, 2013:39). Analisis ini sangat diperlukan ketika

akan menanamkan saham atau berinvestasi pada instrumen keuangan

karena analisis ini dapat menghasilkan informasi tentang penilaian dan

keadaan keuangan korporasi, baik yang telah lampau, atau saat sekarang

serta ekspektasinya di masa depan. Rasio keuangan merupakan cara

yang nyaman untuk merangkum sejumlah besar data keuangan dan

membandingkan kinerja perusahaan (Brealey dkk, 2008:72).

Kinerja keuangan perusahaan akan dinilai melalui analisis rasio

keuangan oleh para investor dan lembaga perbankan sebagai kreditor.

Pada umumnya, dasar evaluasi yang digunakan dalam penelitian kinerja

keuangan adalah memanfaatkan alat analisis rasio keuangan sebelum

memberikan kredit (Harmono, 2014:106).

Baik atau buruknya posisi keuangan suatu perusahaan dapat

digambarkan melalui rasio keuangan. Selain itu, rasio keuangan juga

dapat menilai prestasi suatu perusahaan yang dilakukan dengan cara

membandingkan rasio keuangan beberapa perusahaan yang sejenis,

sehingga dapat diketahui kinerja perusahaan apakah baik atau buruk.

Rasio keuangan juga dapat dimanfaatkan untuk para investor untuk

mengetahui apakah suatu perusahaan dapat menghasilkan keuntungan.

39
Dengan membandingkan beberapa rasio keuangan maka para investor

dapat mengetahui bagaimana kinerja suatu perusahaan dalam satu

periode. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan dapat

digunakan untuk melihat posisi dan kinerja perusahaan yang dapat

dijadikan evaluasi untuk suatu perusahaan agar menjadi lebih baik di

masa yang akan datang.

Menurut Harmono (2014:106) analisis rasio keuangan dapat

diklasifikasikan ke dalam lima aspek rasio keuangan perusahaan, yaitu

(1) rasio likuiditas, (2) rasio aktivitas, (3) rasio profitabilitas, (4) rasio

solvabilitas (rasio leverage), dan (5) rasio nilai perusahaan. Dalam

penelitian ini rasio keuangan yang akan dibahas yaitu:

a. Rasio Likuiditas

Konsep likuiditas dapat diartikan sebagai kemampuan

perusahaan dalam melunasi sejumlah utang jangka pendek,

umumnya kurang dari satu tahun. Dimensi konsep likuiditas

mencakup current ratio, quick ratio, cash ratio, dan net working

capital to total asset ratio. Dimensi konsep likuiditas tersebut

mencerminkan ukuran-ukuran kinerja manajemen ditinjau dari

sejauh mana manajemen mampu mengelola modal kerja yang

didanai dari utang lancar dan saldo kas perusahaan (Harmono,

2014:106). Menurut Ahmad Rodoni dan Herni Ali (2014:26) rasio

likuiditas yaitu mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajiban jangka pendek pada saat jatuh tempo.

40
Perusahaan dapat dikatakan bersifat likuid dikarenakan kurang

efektif dalam mengelola kas dan aset jangka pendek lainnya karena

banyak modal perusahaan yang menganggur dan tersimpan dalam

bentuk tunai atau setara kas. Rasio-rasio dalam rasio likuiditas ini

dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu

pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar. Dengan demikian rasio

likuiditas berpengaruh dengan kinerja keuangan perusahaan

sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga saham

perusahaan. Dalam penelitian ini rasio likuiditas diwakili oleh rasio

lancar atau current ratio.

Current ratio (CR) menurut Brigham dan Houston (2013: 134)

adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar tagihan jangka

pendek dari kreditur yang dapat dipenuhi dengan aktiva lancar yang

diharapkan dapat dikonversi menjadi kas dalam waktu dekat.

Current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam membayar kewajiban jangka pendeknya atau utang yang

segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan

kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk

menutupi kewajiban jangka pendek segera jatuh tempo, atau dapat

dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan suatu

perusahaan (Sutapa, 2018).

Pengertian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat

current ratio maka akan berpengaruh baik terhadap kinerja

41
keuangan perusahaan serta harga saham perusahaan (Megawati,

2018). Current ratio dapat diukur menggunakan aktiva lancar dibagi

utang lancar (Harmono, 2014). Current ratio merupakan salah satu

alat analisis tingkat likuidasi perusahaan yang diperhatikan oleh

investor (Megawati, 2018).

Menurut Megawati (2018) semakin tinggi hasil perhitungan

current ratio berarti semakin terjamin hutang-hutang perusahaan

terhadap kreditur. Bagi kreditur semakin tinggi rasio lancar maka

dianggap semakin bagus, akan tetapi untuk perusahaan tertentu

dapat berarti lain. Apabila current ratio menunjukkan nilai yang

terlampau tinggi maka dapat diartikan bahwa perusahaan tersebut

memiliki kelebihan aktiva lancar yang berarti manajemen

perusahaan tidak optimal dalam melakukan investasi aset secara

produktif.

b. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas yaitu mengukur kemampuan perusahaan

untuk menghasilkan laba (Ahmad Rodoni dan Herni Ali, 2014:27).

Menurut Kasmir (2014) rasio profitabilitas merupakan rasio untuk

menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau

laba dalam suatu periode tertentu. Analisis profitabilitas ini

menggambarkan kinerja fundamental perusahaan ditinjau dari

tingkat efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan dalam

memperoleh laba (Harmono, 2014:109).

42
Menurut Sutapa (2018) rasio profitabilitas adalah rasio yang

digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari

keuntungan. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan

perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau

kenaikan dan sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut. Pada

prinsipnya, semakin tinggi profitabilitas perusahaan dalam

pemperoleh laba maka semakin baik dan perusahaan mampu

menggunakan aktivanya secara produktif.

Ada beberapa rasio yang digunakan dalam rasio profitabilitas,

dalam penelitian ini rasio profitabilitas yang digunakan yaitu return

on equity. Return On Equity (ROE) merupakan rasio untuk

mengukur laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini

menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi

rasio ini, semakin baik (Tyas dan Saputra, 2016). Menurut Erwanda

dan Ruziqna (2016) return on equity adalah rasio keuangan

perusahaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan untuk memperoleh laba bersih yang tersedia bagi

pemegang saham perusahaan. Rasio ini dipengaruhi oleh besar

kecilnya hutang perusahaan. Apabila proporsi hutang perusahaan

makin besar maka ratio ini juga akan semakin besar.

Menurut Suyatna dan Nazar (2015) semakin tinggi ROE

menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengembalian terhadap

investasi yang dilakukan dan semakin rendah ROE suatu perusahaan

43
maka tingkat pengembaliannya akan semakin rendah pula. Semakin

baik kinerja perusahaan maka akan semakin tinggi return yang akan

diperoleh oleh pemodal. Umumnya pemodal akan mencari

perusahaan yang mempunyai kinerja terbaik dan menanamkan

modalnya pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang mempunyai

kinerja yang baik akan berdampak pada perubahan harga saham

(Suwarti, 2013).

c. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas adalah rasio keuangan perusahaan yang

mencerminkan perputaran aktiva mulai dari kas dibelikan

persediaan. Perputaran tersebut mencerminkan aktivitas perusahaan.

Dengan demikian, rasio aktivitas dapat diukur menggunakan tingkat

perputaran aktiva perusahaan, baik secara parsial maupun secara

total. Rasio aktivitas ini dapat dijadikan indikator kinerja manajemen

yang menjelaskan tentang sejauh mana efisiensi dan efektivitas

kegiatan operasi perusahaan yang dilakukan oleh manajemen

(Harmono, 2014).

Menurut Ahmad Rodoni dan Herni Ali (2014) rasio aktivitas

yaitu mengukur kemampuan perusahaan dalam menggunakan dana

yang tersedia, tercermin dalam perputaran modalnya. Rasio aktivitas

merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas

perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya (Kasmir,

2012:172). Adapun Wiagustini (2014:86) menyatakan rasio aktivitas

44
adalah kemampuan perusahaan untuk menjaga stabilitas usahanya

sehingga bisa bertahan hidup dan berkembang secara sendiri atau

mengukur tingkat efektivitas pemanfaatan sumberdaya perusahaan.

Dalam penelitian ini rasio aktivitas yang digunakan adalah Total

Asset Turn Over (TATO). Rasio perputaran total aset (total assets

turn over ratio) merupakan perbandingan antara penjualan dengan

total aktiva suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan

kecepatan perputarannya total aktiva dalam satu periode tertentu

(Brigham dan Houston, 2013). Sartono (2014:120) menyatakan

Total Asset Turn Over menunjukkan bagaimana efektivitas

perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan

penjualan dan mendapatkan laba. Menurut Megawati (2018), untuk

menekankan bahwa hasil perhitungan suatu perusahaan tersebut baik

atau tidak maka dapat pula melakukan perbandingan antar industri

sejenis agar lebih mengetahui tinggi rendahnya perputaran aset suatu

perusahaan.

Semakin tinggi rasio total asset turn over berarti semakin efisien

penggunaan seluruh aktiva dalam menghasilkan penjualan. Dengan

perkataan lain, jumlah aset yang sama dapat memperbesar volume

penjualan apabila total assets turn over nya ditingkatkan atau

diperbesar. Total asset turn over ini penting bagi para kreditur dan

pemilik perusahaan, tetapi lebih penting lagi bagi manajemen

45
perusahaan karena menunjukkan efisien tidaknya penggunaan

seluruh aktiva didalam perusahaan (Firmansyah, 2017).

5. Pertumbuhan Perusahaan

Menurut Kasmir (2016) rasio pertumbuhan merupakan rasio yang

menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan

posisi ekonomi ditengah perekonomian dan sektor usahanya.

Pertumbuhan yang meningkat menunjukkan perusahaan memiliki

perkembangan yang baik. Pertumbuhan perusahaan menggambarkan

prospek perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang.

Perusahaan yang mampu mempertahankan posisinya ditengah

pertumbuhan perekonomian dianggap berhasil menjalankan strategi

perusahaannya. Strategi perusahaan yang berjalan baik dan dapat

mencapai target perusahaan mencerminkan kinerja yang baik sehingga

perusahaan dapat lebih berkembang dan dapat melakukan perluasan

usahanya. Semakin besar perluasan usaha perusahaan.

Pertumbuhan perusahaan merupakan indikator untuk melihat

seberapa besar jumlah dana yang digunakan perusahaan dalam

pertumbuhan perusahaan (Anastasia dan Firnanti, 2014). Perusahaan

yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi diharapkan memiliki tingkat

hutang (leverage) yang rendah. Hal ini disebabkan perusahaan yang

tingkat pertumbuhannya tinggi, lebih mudah melakukan investasi

menggunakan dana pemegang saham sehingga tingkat leverage rendah

dan ada harapan bahwa dengan investasi yang berasl dari dana

46
pemegang saham dapat memberikan tingkat pengembalian (return)

yang besar bagi investor ( Ananda dan Mahdy, 2015).

Pertumbuhan perusahaan juga menjadi salah satu pertimbangan

investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan karena kinerja

suatu perusahaan dapat dilihat dari sisi pertumbuhan perusahaan.

Apabila pertumbuhan perusahaan meningkat maka kinerja perusahaan

semakin baik karena aset yang dimiliki perusahaan mengalami

peningkatan.

Dalam penelitian ini pertumbuhan perusahaan di proksikan dengan

pertumbuhan aset. Menurut Heru Prasetyo Aries (2011:110)

pertumbuhan perusahaan selalu identik dengan aset perusahaan (baik

aset fisik seperti tanah, bangunan, gedung serta aset keuangan seperti

kas, piutang dan lain sebagaianya). Peningkatan aset yang diikuti

peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak

luar terhadap perusahaan. Hal ini didasarkan pada keyakinan kreditor

atas dana yang ditanamkan ke dalam perusahaan dijamin oleh besarnya

aset yang dimiliki perusahaan. Pertumbuhan aset menunjukkan

perubahan (peningkatan atau penurunan) total aktiva yang dimiliki

perusahaan. Pertumbuhan aset dihitung sebagai persentase perubahan

total aktiva pada tahun tertentu terhadap tahun sebelumnya.

Pertumbuhan aset sangat diharapkan oleh pihak internal maupun

eksternal perusahaan. Dari sudut pandang investor, pertumbuhan aset

47
suatu perusahaan merupakan tanda perusahaan memiliki aspek yang

menguntungkan (Sulia, 2017).

6. Kebijakan Dividen

Hermuningsih (2012:169) menyatakan bahwa dividen merupakan

sebagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham, atas persetujuan

RUPS. Dividen bisa dalam bentuk dividen saham (stock dividend)

ataupun dividen tunai (cash dividend). Menurut Sutrisno (2013:5)

menyatakan bahwa dividen adalah bagian keuntungan yang dibayarkan

oleh perusahaan kepada para pemegang saham. Dividen dapat

membantu memberikan informasi yang baik mengenai manajemen

perusahaan kepada pasar modal. Sehingga dividen dapat dipandang

sebagai sinyal terhadap prospek perusahaan (Surya, 2016).

Besarnya dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham

tergantung pada kebijakan dividen yang telah diambil oleh masing-

masing perusahaan. Kebijakan dividen merupakan salah satu bagian

yang mempengaruhi keputusan pendanaan perusahaan sehingga

menjadi suatu hal yang penting dan harus dipertimbangkan secara

seksama. Proporsi besaran dividen yang dibayarkan kepada pemegang

saham tergantung dari kemampuan perusahaan menghasilkan

keuntungan serta bentuk kebijakan dividen yang diterapkan oleh

perusahaan (Erri dan Dwi, 2018).

Kebijakan dividen adalah presentase laba yang dibayarkan kepada

para pemegang saham dalam bentuk dividen tunai, penjagaan stabilitas

48
dividen dari waktu ke waktu, pembagian dividen saham, dan pembelian

kembali saham (Harmono, 2015:12). Menurut Sutrisno (2013:275)

kebijakan dividen menyangkut keputusan apakah laba yang diperoleh

oleh perusahaan selama satu periode akan dibagikan semua atau

dibagikan sebagian untuk dividen dan sebagian lagi tidak dibagikan

dalam bentuk laba ditahan. Sedangkan menurut Kamaludin & Indriani

(2012:330) kebijakan dividen adalah mencakup keputusan mengenai

apakah laba akan dibagikan kepada pemegang saham atau akan ditahan

untuk reinvestasi dalam perusahaan.

Fenandar dan Raharja (2012) mengemukakan bahwa kebijakan

dividen adalah keputusan tentang seberapa banyak laba saat ini yang

akan dibayarkan sebagai dividen daripada ditahan untuk diinvestasikan

kembali dalam perusahaan. Kebijakan dividen menentukan besarnya

porsi keuntungan yang akan diberikan kepada pemegang saham.

Menurut Ananda dan Mahdy (2015) mendefinisikan kebijakan dividen

merupakan satu dari sekian banyak faktor internal yang turut

mempengaruhi perkembangan harga saham.

Kebijakan dividen merupakan keputusan yang diambil perusahaan

untuk menentukan berapa besar bagian dari laba bersih yang diperoleh

untuk dibagikan sebagai dividen atau sebagai laba yang ditahan.

Kebijakan dividen merupakan sebagian dari keputusan investasi. Oleh

karena itu, perusahaan dalam hal ini dituntut untuk membagikan dividen

49
sebagai realisasi harapan hasil yang didambakan seorang investor dalam

menginvestasikan dananya untuk membeli saham itu (Deitiana, 2011).

Atmaja (2008:285) menyatakan bahwa ada berbagai pendapat atau

teori tentang kebijakan dividen antara lain:

a. Teori “Dividen Tidak Relevan” Dari Modigliani dan Miller

Menurut Modigliani dan Miller (MM), nilai suatu perusahaan tidak

ditentukan oleh besar kecilnya DPR, tapi ditentukan oleh laba bersih

sebelum pajak (EBIT) dan kelas risiko perusahaan. Jadi menurut

MM, dividen adalah tidak relevan. Pernyataan MM ini didasarkan

pada beberapa asumsi penting yang “lemah” seperti :

1) Pasar modal sempurna dimana semua investor adalah rasional.

2) Tidak ada biaya emisi saham baru jika perusahaan menerbitkan

saham baru.

3) Tidak ada pajak.

4) Kebijakan investasi perusahaan tidak berubah.

Pada praktiknya pasar modal yang sempurna sulit ditemui, biaya

emisi saham baru pasti ada, pajak pasti ada dan kebijakan investasi

perusahaan tidak mungkin tidak berubah.

b. Teori “The Bird in the Hand”

Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri

(Ks) perusahaan akan naik jika DPR rendah karena investor lebih

suka menerima dividen daripada capital gains. Menurut mereka,

investor memandang dividend yield (D1 / Po) lebih pasti dari pada

50
capital gains yield (g). Perlu diingat bahwa dilihat dari sisi investor,

Ks adalah tingkat keuntungan yang disyaratkan investor pada saham.

Ks adalah keuntungan dari dividen (dividend yield) ditambah

keuntungan dari capital gains (capital gains yield).

D1
Ks = +g
P0

= Dividend yield + Capital gains yield

c. Teori Perbedaan Pajak

Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka

menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan

dividen dan capital gains, para investor lebih menyukai capital gains

karena dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor

mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada

saham yang memberikan dividend yield tinggi, capital gains yield

rendah daripada saham dengan dividend yield rendah, capital gains

yield tinggi. Jika pajak atas dividen lebih besar dari pajak atas capital

gains, perbedaan ini akan makin terasa.

d. Teori “Signaling Hypothesis”

Ada bukti empiris bahwa jika ada kenaikan dividen, sering

diikuti dengan kenaikan harga saham. Sebaliknya penurunan dividen

pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini

dapat dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai

dividen daripada capital gains. Tapi MM berpendapat bahwa suatu

kenaikan dividen yang diatas biasanya merupakan suatu “sinyal”

51
kepada para investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan

suatu penghasilan yang baik di masa mendatang. Sebaliknya, suatu

penurunan dividen atau kenaikan dividen yang dibawah kenaikan

normal (biasanya) diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa

perusahaan menghadapi masa sulit di waktu mendatang.

Seperti teori dividen yang lain, teori “Signaling Hypothesis” ini

juga sulit dibuktikan secara empiris. Adalah nyata bahwa perubahan

dividen mengandung beberapa informasi. Tapi sulit dikatakan

apakah kenaikan dan penurunan harga setelah adanya kenaikan dan

penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek “sinyal” atau

disebabkan karena efek “sinyal” dan preferensi terhadap dividen.

e. Teori “Clientele Effect”

Teori ini menyatakan bahwa kelompok (clientele) pemegang

saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda

terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham

yang membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu

Dividend Payout Ratio yang tinggi. Sebaliknya kelompok pemegang

saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang

jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.

Bukti empiris menunjukkan bahwa efek dari “clientele” ini ada. Tapi

menurut MM hal ini tidak menunjukkan bahwa dividen besar lebih

baik dari dividen kecil, demikian sebaliknya efek “clientele” ini

52
hanya mengatakan bahwa bagi sekelompok pemegang saham,

kebijakan dividen tertentu lebih menguntungkan mereka.

Menurut Utari, et al (2014) ada beberapa faktor yang mempengaruhi

kebijakan dividen, seperti:

a. Posisi Likuiditas

Perusahaan mampu memperoleh laba bersih setelah pajak dan

memiliki laba ditahan besar belum tentu memiliki likuiditas yang

baik. Hal itu disebabkan karena laba yang diperoleh tersebut telah

diinvestasikan ke harta tetap, dalam keadaan perusahaan yang tidak

likiud maka perusahaan memutuskan tidak membagikan dividen.

Jika perusahaan dalam keadaan posisi tidak likuid, perusahaan tidak

boleh membagikan dividen.

b. Stabilisasi Keuntungan

Perusahaan yang keuntungannya relatif stabil dapat memprediksi

keuntungannya di masa mendatang. Perusahaan yang seperti itu

kemungkinan besar akan membagikan keuntungannya dalam bentuk

dividen dengan persentase yang lebih besar dibandingkan dengan

perusahaan yang keuntungannya berfluktuasi.

c. Perlunya Membayar Kembali Pinjaman

Perusahaan yang mempunyai hutang jangka panjang, perusahaan

harus menyisihkan laba bersih setelah pajak sebagai cadangan untuk

membayar angsuran utang tersebut. Semakin besar perusahaan

53
menyisihkan cadangan untuk membayar utang perusahaan akan

mempengaruhi dividen yang dibagikan kepada para pemegang

saham atau bahkan perusahaan tidak membagikan dividen.

d. Tingkat perluasan harta

Perusahaan membutuhkan modal yang besar jika perusahaan

tersebut berkeinginan unuk memperluas usahanya (ekspansi). Agar

mendapatkan modal yang besar maka manajer keuangan dapat

menyisihkan laba bersih setelah pajak perusahaan untuk

mendapatkan tambahan modal. Dengan menyisihkan laba bersih

setelah pajak untuk tambahan modal tersebut artinya dividen yang

dibagikan kepada para pemegang saham akan kecil, atau bahkan

perusahaan tidak membagikan dividen.

Dalam penelitian ini kebijakan dividen di proksikan dengan

dividend payout ratio (DPR). Menurut Hermuningsih (2012:196)

dividend payout ratio adalah dividen per lembar saham dibagi dengan

laba per lembar saham. Rasio ini dapat digunakan untuk menghitung

perbandingan antara laba per lembar saham yang diperoleh perusahaan

dengan laba yang dibagikan sebagai dividen. Dan dengan rasio ini akan

dapat mengetahui seberapa besar kemampuan perusahaan dalam

membayar dividen dan mengapa perushaan tidak membagikan dividen.

Dividend payout ratio adalah persentase tertentu dari laba

perusahaan yang dibayarkan sebagai dividend kas kepada pemegang

saham (Darmadji dan Fakhruddin, 2012). DPR merupakan

54
perbandingan antara dividend per share dengan earning per share. DPR

yang tinggi menunjukkan bahwa tingkat pembagian laba yang

dilakukan perusahaan juga tinggi, sehingga akan meningkatkan minat

investor untuk membeli saham perusahaan tersebut untuk dividen,

semakin tinggi permintaan dari pasar maka akan semakin

meningkatkan harga saham (Pranata et al, 2015).

7. Kapitalisasi Pasar

Kapitalisasi pasar adalah perkalian antara harga pasar/harga

penutupan dengan jumlah saham yang diterbitkan. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa kapitalisasi pasar merupakan nilai besaran saham

yang diterbitkan oleh perusahaan (Ardiansyah, 2012).

Menurut Mufreni dan Dhea Amanah (2015) semakin besar

kapitalisasi pasar yang dimiliki perusahaan maka semakin besar pula

ukuran perusahaan tersebut. Investor cenderung menahan sebuah saham

lebih lama apabila mereka memiliki market value yang lebih besar.

Makin besar kapitalisasi pasar suatu saham, makin lama pula investor

menahan kepemilikan sahamnya, karena investor menganggap bahwa

perusahaan besar akan cenderung lebih stabil dari sisi keuangannya,

resiko lebih kecil dan memiliki prospek yang bagus dalam jangka

panjang dengan harapan return yang besar. Sehingga investor merasa

lebih aman dengan investasi yang dimilikinya.

Menurut Garonfolo (2011) harga saham tidak selalu mampu

mencerminkan nilai yang sebenarnya dari suatu perusahaan. Dengan

55
kata lain harga saham yang tinggi tidak selalu menyimpulkan bahwa

perusahaan tumbuh atau memiliki nilai yang tinggi pula. Kapitalisasi

pasar memberikan gambaran seberapa besar harga suatu perusahaan

ketika dijual di pasar. Hal ini dijadikan dasar oleh investor untuk

membantu dalam menganalisis seberapa besar pertumbuhan suatu

perusahaan. Dalam berbagai bursa saham, sebuah perusahaan dianggap

memiliki kapitalisasi pasar kecil bila lebih kecil dari US$ 2 Miliar,

memiliki kapitalisasi pasar menengah atau sedang bila di antara US$ 2

– US$10 miliar dan memiliki kapitalisasi pasar yang besar bila nilainya

berada di atas US$ 10 miliar.

B. Keterkaitan Antara Variabel

1. Hubungan Current Ratio (CR) terhadap Harga Saham

Current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam membayar kewajiban jangka pendeknya atau utang yang segera

jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain,

seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban

jangka pendek segera jatuh tempo, atau dapat dikatakan sebagai bentuk

untuk mengukur tingkat keamanan suatu perusahaan (Sutapa, 2018).

Jika current ratio suatu perusahaan baik maka kemampuan suatu

perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya akan

semakin baik dan akan terhindar dari masalah likuiditas. Hal ini dapat

meningkatkan minat investor untuk berinvestasi dan akan berakibat

pada naiknya harga saham.

56
Penelitian yang dilakukan oleh Sutapa (2018), Megawati (2018),

dan Surya (2016) menyatakan bahwa current ratio berpengaruh

signifikan terhadap harga saham.

2. Hubungan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham

Return on equity adalah rasio keuangan perusahaan yang digunakan

untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba bersih

yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan (Erwanda dan Ruziqna,

2016). Semakin tinggi return on equity maka semakin baik kinerja suatu

perusahaan dalam mengelola modalnya untuk menghasilkan

keuntungan bagi pemegang saham perusahaan. Dengan adanya

peningkatan laba bersih maka akan meningkatkan minat investor untuk

membeli saham yang akhirnya harga saham suatu perusahaan tersebut

akan mengalami kenaikan.

Penelitian yang dilakukan oleh Rahmadewi dan Abundanti (2018),

Nugraha dan Sudaryanto (2016) dan Setyorini (2016), menyatakan

bahwa return on equity berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

3. Hubungan Total Asset Turn Over (TATO) terhadap Harga Saham

Sartono (2014:120) menyatakan total asset turn over menunjukkan

bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva

untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba. Semakin tinggi

nilai TATO maka perputaran aset yang dimiliki perusahaan semakin

baik untuk mendapatkan penjualan dan laba secara efektif dan efisien.

Nilai TATO yang tinggi juga mengindikasikan efektifitas suatu

57
perusahaan semakin baik. Semakin efektif perusahaan dalam

menggunakan aktivanya untuk penjualan maka akan menghasilkan

keuntungan yang semakin tinggi pula. Keuntungan yang semakin tinggi

dapat menarik minat investor untuk berinvestasi yang akhirnya akan

meningkatkan harga saham perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Megawati (2018), Adipalguna dan

Anak Agung (2016) dan Kohansal, dkk (2013) menyatakan bahwa total

asset turn over berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

4. Hubungan Growth Asset terhadap Harga Saham

Pertumbuhan aset merupakan indikator seberapa besar perusahaan

menggunakan dananya tersebut (Anastasia dan Firnanti, 2014).

Kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan akan bertambah seiring

dengan peningkatan aset yang diikuti peningkatan hasil operasi.

Pertumbuhan aset suatu perusahaan merupakan suatu tanda bahwa

perusahaan tersebut memiliki aspek yang menguntungkan. Semakin

besar nilai pertumbuhan aset maka akan meningkatkan minat investor

dalam berinvestasi yang akhirnya akan meningkatkan harga saham

perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Sulia (2017), Anastassia dan Friska

(2014) dan Asghar, dkk (2011), menyatakan bahwa growth asset

berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

58
5. Hubungan Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap Harga Saham

DPR merupakan perbandingan antara dividend per share dengan

earning per share. DPR yang tinggi menunjukkan bahwa tingkat

pembagian laba yang dilakukan perusahaan juga tinggi, sehingga akan

meningkatkan minat investor untuk membeli saham perusahaan tersebut

untuk dividen, semakin tinggi permintaan dari pasar maka akan semakin

meningkatkan harga saham (Pranata et al, 2015).

Penelitian yang dilakukan oleh Suyatna dan Nazar (2015),

Anastassia dan Friska (2014), serta Dewi dan Sudiartha (2014)

menyatakan bahwa dividend payout ratio berpengaruh signifikan

terhadap harga saham.

C. Penelitian Terdahulu

Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham telah

banyak diteliti oleh peneliti sebelumnya. Berikut ini ringkasan penelitian

terdahulu.

59
Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

Variabel
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
Independen Dependen
1 Mulyono, dkk. (2018). Corporate Harga Saham - TATO dan Firm Size
“The Effect of Corporate Governance, berpengaruh signifikan
Governance and Firm ROA, TATO, terhadap harga saham.
Performance on Stock Firm Size. - Corporate Governance dan
Price: An Empirical ROA tidak berpengaruh
Study on Indonesia Stock signifikan terhadap harga
Exchange”. saham.
2 Marsono, dkk. (2018). Current Ratio, Harga Saham - Current Ratio, Leverage
“Effect Of Current Ratio, Leverage Ratio, Ratio dan Currency Rate
Leverage Ratio, Inflation Inflation dan berpengaruh signifikan
And Currency Share Currency Rate terhadap harga saham.
Closing Price Of - Inflation tidak berpengaruh
Consumer Goods signifikan terhadap harga
Industry In Indonesia saham.
Stock Exchange”.
3 Salma Bela Megawati. CR, DR, NPM, Harga Saham - CR, NPM dan TATO
(2018). “Pengaruh Rasio TATO dan PER berpengaruh signifikan
Keuangan Terhadap terhadap harga saham.
Harga Saham Pada - DR dan PER tidak
Perusahaan berpengaruh signifikan
Telekomunikasi Yang terhadap harga saham
Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Tahun 2012-
2016”.

60
Variabel
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
Independen Dependen
4 Muchamad Ridwan dan CR, DAR, ROE Harga Saham - ROE berpengaruh
Lucia Ari Diyani. dan SG. signifikan terhadap harga
(2018). “Pengaruh Rasio saham.
Keuangan dan - CR, DAR dan SG tidak
Pertumbuhan Penjualan berpengaruh signifikan
Terhadap Harga terhadap harga saham.
Saham”.
5 Sulia. (2017). “Analisis PBV, PER dan Harga Saham - PBV dan Pertumbuhan
Faktor-Faktor Yang Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh
Mempengaruhi Harga Perusahaan. signifikan terhadap harga
Saham Pada Perusahaan ROE sebagai saham.
LQ45 Yang Terdaftar Di variabel - PER tidak berpengaruh
Bursa Efek Indonesia”. moderasi. signifikan terhadap harga
saham.
- ROE mampu memoderasi
pengaruh antara variabel
PBV, PER, dan
pertumbuhan aset terhadap
harga saham.
6 Rheza Dewangga DPR, DER, Harga Saham - DPR dan ROE berpengaruh
Nugraha dan Budi ROE dan TATO positif signifikan terhadap
Sudaryanto. (2016). harga saham.
“Analisis Pengaruh - DER dan TATO
DPR, DER, ROE, dan berpengaruh negatif
TATO Terhadap Harga signifikan terhadap harga
Saham (Studi Kasus saham.
pada Perusahaan Industri
Dasar dan Kimia yang

61
Variabel
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
Independen Dependen
Terdaftar di BEI Periode
2010-2014)”.
7 Dany Pranata dan Diyah CR, ROA, Sales Harga Saham - CR, ROA dan DPR
Pujiati. (2015). “The Growth dan berpengaruh signifikan
Effect Of Liquidity, DPR terhadap harga saham.
Profitability, Sales - Sales Growth tidak
Growth and Dividend berpengaruh signifikan
Policy On Stock Prices terhadap harga saham.
After The
Implementation Of
IFRS”.
8 Oggi Bagus Suyatna dan ROE, Harga Saham - ROE dan dividen
Mohamad Rafky Nazar. Pertumbuhan berpengaruh signifikan
(2015). Pengaruh Return Penjualan, terhadap harga saham.
On Equity, Pertumbuhan Dividen dan - Pertumbuhan Penjualan dan
Penjualan, Dividen, dan Inflasi. inflasi tidak berpengaruh
Inflasi terhadap Harga signifikan terhadap harga
Saham pada Perusahaan saham.
Food and Beverage
(Studi Empiris di BEI
2009-2013)”.
9 Adnan Ali, dkk. (2015). Stock Dividend Harga Saham - DPR, EPS dan ROE
“Effect Of Dividend Per Share, berpengaruh terhadap harga
Policy On Stock Prices”. Retention Ratio, saham.
DPR, Profit - Stock Dividend Per Share,
After Tax, EPS, Retention Ratio dan Profit
ROE After Tax tidak berpengaruh
terhadap harga saham.

62
Variabel
No Judul Penelitian Hasil Penelitian
Independen Dependen
10 Muhammad Asghar, Earning Harga Saham - Growth in Assets
dkk. (2011). “Impact of Volatility, berpengaruh signifikan
Dividend Policy on Stock Dividend Yield, terhadap harga saham.
Price Risk: Empirical DPR dan - Earning Volatility,
Evidence from Equity Growth in Assets Dividend Yield dan DPR
Market of Pakistan”. tidak berpengaruh
signifikan terhadap harga
saham.

D. Kerangka Pemikiran

Skema kerangka berpikir dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

63
Laporan Keuangan Publikasi

Variabel Independen:
Rasio Keuangan Variabel Dependen:
Pertumbuhan Perusahaan Harga Saham
Kebijakan Dividen

Model Estimasi Data Panel

Common Effect Fixed Effect Random Effect

Uji Chow Uji Hausman

Model Yang Terpilih

Uji Asumsi Klasik

Normalitas Multikolinieritas Heterokedastisitas Autokorelasi

Uji F Uji T Adjusted R Square

Interpretasi

Kesimpulan dan Saran

Gambar 2.1

Kerangka Pemikiran

64
E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran mengenai pengaruh Rasio Keuangan,

Pertumbuhan Perusahaan dan Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham,

maka hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Hipotesis Uji Signifikansi Secara Simultan:

H0 : Current Ratio, Return On Equity, Total Asset Turn Over, Growth

Asset dan Dividend Payout Ratio tidak berpengaruh signifikan secara

simultan terhadap Harga Saham.

H1 : Current Ratio, Return On Equity, Total Asset Turn Over, Growth

Asset dan Dividend Payout Ratio berpengaruh signifikan secara simultan

terhadap Harga Saham.

2. Hipotesis Uji Signifikansi Secara Parsial :

a. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Current Ratio

terhadap Harga Saham.

Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara Current Ratio terhadap

Harga Saham.

b. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Return On Equity

terhadap Harga Saham.

Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara Return On Equity

terhadap Harga Saham.

c. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Total Asset Turn

Over terhadap Harga Saham.

65
Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara Total Asset Turn Over

terhadap Harga Saham.

d. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Growth Asset

terhadap Harga Saham.

Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara Growth Asset terhadap

Harga Saham.

e. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Dividend Payout

Ratio terhadap Harga Saham.

Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara Dividend Payout Ratio

terhadap Harga Saham.

66
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari

hasil publikasi masing-masing perusahaan yang dimulai dari tahun 2008

sampai dengan 2017. Data-data lain yang dibutuhkan dalam penelitian ini

bersumber dari media cetak, karya ilmiah, dan internet. Jenis penelitian ini

merupakan penelitian kuantitatif dengan data sekunder yang digunakan

ialah data panel.

Objek dalam penelitian ini adalah perbankan terbesar di ASEAN

berdasarkan kapitalisasi pasar. Adapun yang menjadi variabel dependen

dari penelitian ini adalah harga saham dengan variabel independennya

adalah rasio keuangan, pertumbuhan perusahaan dan kebijakan dividen.

B. Metode Penentuan Sampel

Menurut Sugiyono (2017:80) populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan

kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh perbankan di kawasan ASEAN.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin

mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan

dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang

67
diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2017:81). Dalam penelitian ini sampel

yang digunakan sebanyak 10 perusahaan. Pengambilan sampel dalam

penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu adalah teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2017:85).

Adapun kriteria perusahaan yang dijadikan sampel adalah sebagai

berikut:

1. Bank yang berada di kawasan ASEAN.

2. Bank yang telah go public dan terdaftar pada bursa efek masing-masing

negara.

3. Bank yang telah melakukan IPO di bursa efek masing-masing negara

secara konsisten dan tidak pernah delisting dari tahun 2008-2017.

4. Bank yang mempublikasikan laporan keuangan atau laporan tahunan

secara lengkap dari tahun 2008-2017.

5. Bank dengan kapitalisasi pasar menengah dan besar di ASEAN selama

periode pengamatan ( > 2 Miliar Dollar AS).

Proses seleksi sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dan

ditampilkan dalam tabel. Berikut tabel yang ditampilkan:

68
Tabel 3.1

Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria

No Kriteria Jumlah
1 Bank yang berada di kawasan ASEAN. 748
2 Bank yang telah go public dan terdaftar pada bursa 100
efek masing-masing negara.
3 Bank yang telah melakukan IPO di bursa efek 63
masing-masing negara secara konsisten dan tidak
pernah delisting dari tahun 2008-2017.
3 Bank yang mempublikasikan laporan keuangan atau 37
laporan tahunan secara lengkap dari tahun 2008-
2017.
4 Bank dengan kapitalisasi pasar menengah dan besar 10
di ASEAN selama periode pengamatan ( > 2 Miliar
Dollar AS).
5 Total sampel penelitian. 10

Berdasarkan kriteria tersebut, peneliti mendapatkan jumlah sampel

sebanyak 10 bank terbesar di ASEAN berdasarkan kapitalisasi pasar.

Adapun daftar bank yang akan diteliti sebagai berikut:

69
Tabel 3.2

Daftar Bank Yang Menjadi Sampel Penelitian

No. Nama Perusahaan

1. DBS Bank (Singapura)

2. OCBC Bank (Singapura)

3. Bank Central Asia (Indonesia)

4. UOB (Singapura)

5. Maybank (Malaysia)

6. Bank Rakyat Indonesia (Indonesia)

7. Bank Mandiri (Indonesia)

8. Public Bank (Malaysia)

9. CIMB (Malaysia)

10. KasikornBank (Thailand)

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

diperoleh dan didapatkan dengan cara:

1. Metode dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan

mengkaji data sekunder secara tidak langsung melalui media perantara

yang berupa laporan tahunan dan laporan keuangan dari seluruh

perusahaan terkait dalam hal ini yaitu bank yang berada di kawasan

ASEAN yang terdaftar di bursa efek masing-masing negara dan juga

pergerakan harga sahamnya dari tahun 2008-2017.

70
2. Metode studi pustaka, yaitu merupakan cara memperoleh data dari

berbagai literatur pustaka seperti jurnal, karya ilmiah, artikel dan

sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.

3. Pencarian internet, yaitu dengan cara memperoleh data dengan

menggunakan bantuan teknologi pencarian di internet guna mendukung

penelitian ini.

D. Metode Analisis Data

1. Analisis Statistik Deskriptif

Statistika deskriptif adalah analisis paling sederhana dalam statistik.

(Wing Wahyu, 2015:1.28). Statistik deskriptif adalah statistik yang

digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau

menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa

bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau

generalisasi (Sugiyono, 2017:147). Analisis ini digunakan dengan

mendeskripsikan dan menggambarkan mengenai data yang digunakan

dalam penelitian secara ringkas.

Statistik deskriptif dapat menyajikan data dalam bentuk tabel

ataupun grafik. Menurut Ghozali (2016:19) statistik deskriptif

memberikan gambaran atau deskriptif suatu data yang dilihat dari nilai

rata-rata (mean), standard deviasi, varian, maksimum, minimum, sum,

range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi).

71
2. Analisis Regresi Data Panel

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series

(runtut waktu) dan cross section (seksi silang) atau biasa disebut data

panel. Menurut Wing Wahyu (2015:2.5) data panel adalah jenis data

yang merupakan gabungan antara data runtut waktu dengan data seksi

silang. Oleh karenanya, data panel memiliki gabungan karakteristik

kedua jenis data tadi, yaitu: (1) terdiri atas beberapa objek dan (2)

meliputi beberapa periode waktu.

Data bersifat time series karena data dalam penelitian ini adalah data

dalam interval waktu tertentu, dalam penelitian ini yaitu tahun 2008-

2017. Sedangkan data cross section adalah data pada suatu kurun

tertentu pada beberapa perusahaan. Uji regresi data panel dalam

penelitian ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel

independen yaitu Rasio Keuangan, Pertumbuhan Perusahaan dan

Kebijakan Dividen terhadap variabel dependen yaitu Harga Saham.

Model regresi panel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Yit = α + β1X1it + β2X2it + β3X3it + β4X4it + β5X5it + e

Dimana:

Y = Harga Saham

X1 = Current Ratio (CR)

X2 = Return On Equity (ROE)

X3 = Total Asset Turn Over (TATO)

X4 = Growth Asset (GA)

72
X5 = Dividend Payout Ratio (DPR)

α = Konstanta

β1, β2, β3, β4, β5 = Koefisien regresi variabel independen

i = Perusahaan

t = Waktu

e = Error Term

Wing Wahyu Winarno (2015:93) menyatakan regresi data panel

terdapat tiga model estimasi yang dapat digunakan antara lain sebagai

berikut:

a. Model Common Effect

Merupakan pendekatan model data panel yang paling

sederhana karena hanya mengkombinasikan data time series dan

data cross section dan mengestimasikannya dengan menggunakan

pendekatan kuadran terkecil (Ordinary Least Square/OLS). Pada

model ini tidak diperhatikan dimensi waktu maupun individu,

sehingga diasumsikan bahwa perilaku data perusahaan adalah sama

dalam berbagai kurun waktu. Persamaan regresi dengan

menggunakan metode ini adalah sebagai berikut :

Yit = β0 + β1LnX1it + β2LnX2it + eit

Dimana :

Y = Variabel Dependen

X = Variabel Independen

i = Perusahaan

73
t = Waktu

b. Model Fixed Effect

Model ini mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu

dapat diakomodasi dari perbedaan intersepnya, dimana setiap

individu merupakan parameter yang tidak diketahui. Oleh karena

itu, untuk mengestimasi data panel model fixed effect menggunakan

teknik variable dummy untuk menangkap perbedaan intersep antar

perusahaan. Perbedaan intersep tersebut dapat terjadi karena adanya

perbedaan budaya kerja, manajerial, dan insentif. Namun demikian

sama antar perusahaan. Karena menggunakan variable dummy,

model estimasi ini disebut juga dengan teknik Least Square Dummy

Variable (LSDV). Persamaan regresi dengan menggunakan metode

ini adalah sebagai berikut :

Yit = β0 + β1LnX1it + β2LnX2it + β3D1i+ β4D2i+ ... + eit

Dimana :

Y = Variabel Dependen

X = Variabel Independen

i = Perusahaan

t = Waktu

D = Dummy

c. Model Random Effect

Model ini akan mengestimasi data panel dimana variabel

gangguan mungkin saling berhubungan antar waktu dan antar

74
individu. Berbeda dengan fixed effect model, efek spesifik dari

masing-masing individu diperlakukan sebagai bagian dari

komponen error yang bersifat acak (random) dan tidak berkorelasi

dengan variabel penjelas yang teramati. Keuntungan menggunakan

random effect model ini yakni dapat menghilangkan

heteroskedastisitas. Model ini disebut juga dengan Error

Component Model (ECM). Metode yang tepat untuk

mengakomodasi model random effect ini adalah Generalized Least

Square (GLS), dengan asumsi komponen error bersifat

homokedastik dan tidak ada gejala cross-sectional correlation.

Persamaan regresi dengan menggunakan metode ini adalah sebagai

berikut :

Yit = β0 + β1LnX1it + β2LnX2it + vit

Dimana :

Y = Variabel Dependen

X = Variabel Independen

vit = eit + μit

Pengelolaan data dalam penelitian ini menggunakan software

Eviews 9.0. Untuk mendapatkan analisis regresi data panel yang terbaik

antara model common, fixed atau random effect, maka dilakukan teknik

pemilihan model. Menurut Wing Wahyu (2015:110) untuk memilih

75
model yang paling tepat yang digunakan dalam mengelola data panel,

terdapat tiga metode yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut:

a. Uji Chow

Uji ini dilakukan untuk menentukan model common effect atau fixed

effect yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi data panel.

Untuk melakukan uji chow, data diregresikan terlebih dahulu

dengan menggunakan model common effect dan fixed effect,

kemudian dilakukan fixed/random effect testing dengan

menggunakan redundant fixed effect-likelihood ratio.

Hipotesis dalam uji chow adalah:

Ho : model common effect

Ha : model fixed effect

Jika nilai probabilitas cross section F lebih besar dari 0,05 maka

model yang terpilih adalah common efect. Sebaliknya, jika nilai

probabilitas cross section F lebih kecil dari 0,05 maka model yang

terpilih adalah fixed effect.

b. Uji Hausman

Uji ini dilakukan untuk menentukan model fixed effect atau random

effect yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi data panel.

Untuk melakukan uji hausman, data juga diregresikan dengan

model fixed effect dan random effect, kemudian dilakukan

fixed/random effect testing dengan menggunakan correlated random

effect-hausman test.

76
Hipotesis dalam uji hausman adalah:

Ho : model random effect

Ha : model fixed effect

Jika nilai probabilitas cross section random lebih besar dari 0,05

maka model yang terpilih adalah random effect. Sebaliknya, jika

nilai probabilitas cross section random lebih kecil dari 0,05 maka

model yang terpilih adalah fixed effect.

c. Uji Lagrange Multiplier

Uji ini dilakukan untuk menentukan model random effect atau

common effect yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi

data panel. Untuk melakukan uji LM, data juga diregresikan dengan

model random effect atau common effect, kemudian dilakukan

fixed/random effect testing dengan menggunakan ommited random

effect-lagrange multiplier.

Hipotesis dalam uji lagrange multiplier adalah:

Ho : model common effect

Ha : model random effect

Metode menghitung uji LM yang digunakan dalam penelitian ini

ialah metode Breusch-Pagan. Metode Breusch-Pagan merupakan

metode yang paling banyak digunakan oleh para peneliti dalam

menghitung uji LM. Jika nilai cross section Breusch-Pagan lebih

besar dari 0,05 maka model yang terpilih adalah common effect.

77
Sebaliknya, jika nilai cross section Breusch-Pagan lebih kecil dari

0,05 maka model yang terpilih adalah random effect.

3. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan sebelum pengujian hipotesis yang

menggunakan analisis regresi, uji ini digunakan untuk memastikan

bahwa data berdistribusi normal, tidak terdapat multikolinearitas dan

autokorelasi serta tidak terdapat heteroskedastisitas pada model yang

digunakan. Uji asumsi klasik yang digunakan yaitu antara lain uji

normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan uji

heteroskedastisitas.

a. Uji Normalitas

Menurut Wing Wahyu (2015:5.41) uji normalitas ini digunakan

untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu

atau residual atau variabel dependen dan independennya memiliki

distribusi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan

dengan uji Jarque-Bera Test. Untuk menguji normalitas suatu

model, hipotesisnya sebagai berikut:

Ho : data berdistribusi normal

Ha : data tidak berdistribusi normal

Uji Jarque-Bera adalah uji statistik untuk mengetahui apakah data

berdistribusi normal (Wing Wahyu, 2015:5.41). Dapat dilihat dari

koefisien Jarque-Bera dan probabilitasnya. Jika dilihat dari

koefisien Jarque-Bera apabila nilai Jarque-Bera lebih kecil dari 2

78
maka data berdistribusi normal. Jika dilihat dari probabilitasnya, jika

nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima atau

data berdistribusi normal. Akan tetapi, apabila nilai probabilitasnya

lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak atau data tidak berdistribusi

normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan melihat adanya masalah

multikolinearitas antar variabel independen (Megawati, 2018).

Dalam penelitian ini, uji yang digunakan adalah dengan

menggunakan variance inflation factor atau VIF, dimana nilai VIF

harus dibawah nilai 10. Jika nilai variance inflation factor (VIF) dari

hasil regresi lebih kecil dari 10 maka dapat disimpulkan bahwa

dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi linier ada kolerasi antara kesalahan pengganggu pada periode

t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (Megawati, 2018).

Dalam penelitian ini menggunakan uji autokorelasi dengan uji

Durbin-Watson (DW). Kriteria autokorelasi atau dasar pengambilan

keputusan ada tidaknya autokorelasi (Wing Wahyu, 2015:5.31) :

1) Apabila DW antara dU dan (4 - dU) berarti tidak ada

autokorelasi.

2) Apabila DW < dL dan (4 - dL) berarti ada autokorelasi positif.

79
3) Apabila DW > (4 - dL) berarti ada autokorelasi negatif.

4) Apabila DW di atas dU dan dL atau DW terletak antara (4 – dU)

dan (4 – dL) maka hasilnya tidak dapat disimpulkan.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam

model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut

homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau yang

tidak terjadi heteroskedastisitas (Wing Wahyu, 2015:5.8). Ada

beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi ada

tidaknya masalah heteroskedastisitas, yaitu metode grafik, uji park,

uji glejser, uji korelasi spearman, uji goldfeld-quandt, uji bruesch-

pagan-godfrey dan uji white.

Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji white. Uji

white adalah uji untuk melihat nilai signifikansi semua variabel. Uji

white menggunakan residual kuadrat sebagai variabel dependen, dan

variabel independennya terdiri atas variabel independen yang sudah

ada, ditambah dengan kuadrat variabel independen, ditambah lagi

dengan perkalian dua variabel independen (Wing Wahyu,

2015:5.17). Untuk menguji heteroskedastisitas suatu model,

hipotesisnya sebagai berikut:

80
Ho : tidak terjadi heteroskedastisitas

Ha : terjadi heteroskedastisitas

Jika nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima

atau tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Akan tetapi, apabila

nilai probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak atau

terjadi masalah heteroskedastisitas.

4. Uji Hipotesis

a. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

Uji statistik F digunakan untuk mengetahui signifikan

pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara

bersama-sama (simultan). Dengan kata lain, apakah rasio keuangan,

pertumbuhan perusahaan, dan kebijakan dividen secara bersama-

sama atau simultan mempunyai pengaruh terhadap harga saham.

Dalam penelitian ini, tingkat signifikan yang digunakan sebesar 5%

atau 0,05.

Jika nilai probabilitas < sig (α 0,05) atau nilai Ftabel <

Fhitung maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya terdapat

pengaruh signifikan secara simultan. Jika nilai probabilitas > sig (α

0,05) atau nilai Ftabel > Fhitung maka Ho diterima dan Ha ditolak,

yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan

(Ghozali, 2013:98)

81
b. Uji Signifikansi Parsial (Uji Statistik t)

Uji statistik t bertujuan untuk mengukur seberapa jauh

pengaruh satu variabel independen secara individual dalam

menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2013:99). Dalam

penelitian ini, tingkat signifikan yang digunakan sebesar 5% atau

0,05.

Jika probabilitas < sig (α 0,05) atau nilai t tabel < t hitung ,

maka secara parsial variabel independen berpengaruh terhadap

variabel dependen. Jika probabilitas > sig (α 0,05) atau nilai t tabel >

t hitung , maka secara parsial variabel independen tidak berpengaruh

terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013:99).

c. Uji Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi (R2) menunujukkan kemampuan

model untuk menjelaskan hubungan antara variabel independen dan

variabel dependen. Nilai R2 akan selalu berada di antara 0 dan 1.

Semakin mendekati 1, berarti semakin besar kemampuan variabel

independen untuk menjelaskan (pengaruhnya) kepada variabel

dependen (Wing Wahyu, 2015:4.23).

Menurut Wing Wahyu (2015:4.23) kelemahan mendasar

penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah

variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap

tambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak

peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan

82
terhadap variabel dependen. Banyak peneliti yang menganjurkan

untuk menggunakan nilai adjusted R2 pada saat mengevaluasi model

regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai adjusted R2 dapat naik atau

turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam

model.

E. Operasional Variabel Penelitian

Berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi operasional variabel yang

digunakan dalam penelitian ini yang terdiri dari variabel dependen dan

independen, yaitu:

1. Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah harga saham. Harga

saham merupakan salah satu indikator keberhasilan pengelolaan

perusahaan, jika harga saham suatu perusahaan selalu mengalami

kenaikan, maka investor atau calon investor menilai bahwa perusahaan

berhasil dalam mengelola usahanya. Kepercayaan investor atau calon

investor sangat bermanfaat bagi emiten, karena semakin banyak orang

yang percaya terhadap emiten maka keinginan untuk berinvestasi pada

emiten semakin kuat. Semakin banyak permintaan terhadap saham suatu

emiten maka dapat menaikkan harga saham tersebut (Zuliarni, 2012:37).

Harga saham dalam penelitian ini adalah harga saham penutupan

(closing price) akhir tahun.

2. Variabel Independen

a. Rasio Keuangan

83
1) Current Ratio

Current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya atau

utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara

keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar

yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek segera

jatuh tempo, atau dapat dikatakan sebagai bentuk untuk

mengukur tingkat keamanan suatu perusahaan (Sutapa, 2018).

Rumus current ratio adalah sebagai berikut:

𝑪𝑼𝑹𝑹𝑬𝑵𝑻 𝑨𝑺𝑬𝑻
CR = X 100
𝑪𝑼𝑹𝑹𝑬𝑵𝑻 𝑳𝑰𝑨𝑩𝑰𝑳𝑰𝑻𝑰𝑬𝑺

2) Return On Equity

Return on equity adalah rasio keuangan perusahaan yang

digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk

memperoleh laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham

perusahaan (Erwanda dan Ruziqna, 2016). Semakin tinggi nilai

ROE menunjukkan bahwa semakin tinggi pula tingkat

pengembalian terhadap investasi yang dilakukan.

Rumus return on equity adalah sebagai berikut:

𝑬𝑨𝑹𝑵𝑰𝑵𝑮 𝑨𝑭𝑻𝑬𝑹 𝑻𝑨𝑿


ROE = X 100
𝑻𝑶𝑻𝑨𝑳 𝑬𝑸𝑼𝑰𝑻𝒀

3) Total Asset Turn Over

Rasio perputaran total aset (total assets turn over ratio)

merupakan perbandingan antara penjualan dengan total aktiva

84
suatu perusahaan dimana rasio ini menggambarkan kecepatan

perputarannya total aktiva dalam satu periode tertentu (Brigham

dan Houston, 2013). Semakin tinggi nilai TATO berarti semakin

efisien penggunaan seluruh aktiva dalam menghasilkan

penjualan.

Rumus total assets turn over adalah sebagai berikut:

𝑷𝑬𝑵𝑱𝑼𝑨𝑳𝑨𝑵
TATO = X 100
𝑻𝑶𝑻𝑨𝑳 𝑨𝑲𝑻𝑰𝑽𝑨

b. Pertumbuhan Perusahaan

Pertumbuhan perusahaan juga menjadi salah satu pertimbangan

investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan karena

kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari sisi pertumbuhan

perusahaan. Apabila pertumbuhan perusahaan meningkat maka

kinerja perusahaan semakin baik karena aset yang dimiliki

perusahaan mengalami peningkatan. Dalam penelitian ini

pertumbuhan perusahaan diukur dengan menggunakan

pertumbuhan aset.

Rumus pertumbuhan aset adalah sebagai berikut:

𝑻𝑶𝑻𝑨𝑳 𝑨𝑺𝑬𝑻 𝑻𝑨𝑯𝑼𝑵 𝒕−𝑻𝑶𝑻𝑨𝑳 𝑨𝑺𝑬𝑻 𝑻𝑨𝑯𝑼𝑵 𝑺𝑬𝑩𝑬𝑳𝑼𝑴𝑵𝒀𝑨


GA = X 100
𝑻𝑶𝑻𝑨𝑳 𝑨𝑺𝑺𝑬𝑻 𝑻𝑨𝑯𝑼𝑵 𝒕

c. Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen merupakan salah satu bagian yang

mempengaruhi keputusan pendanaan perusahaan sehingga menjadi

suatu hal yang penting dan harus dipertimbangkan secara seksama.

85
Proporsi besaran dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham

tergantung dari kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan

serta bentuk kebijakan dividen yang diterapkan oleh perusahaan

(Erri dan Dwi, 2018). Dalam penelitian ini kebijakan dividen diukur

dengan menggunakan dividend payout ratio.

Rumus dividend payout ratio adalah sebagai berikut:

𝑫𝑰𝑽𝑰𝑫𝑬𝑵𝑫 𝑷𝑬𝑹 𝑺𝑯𝑨𝑹𝑬


DPR = X 100
𝑬𝑨𝑹𝑵𝑰𝑵𝑮 𝑷𝑬𝑹 𝑺𝑯𝑨𝑹𝑬

Tabel 3.3

Operasional variabel

Variabel Indikator Skala

Harga Saham Closing Price Nominal

𝐶𝑈𝑅𝑅𝐸𝑁𝑇 𝐴𝑆𝐸𝑇
a. CR = X 100
𝐶𝑈𝑅𝑅𝐸𝑁𝑇 𝐿𝐼𝐴𝐵𝐼𝐿𝐼𝑇𝐼𝐸𝑆

𝐸𝐴𝑅𝑁𝐼𝑁𝐺 𝐴𝐹𝑇𝐸𝑅 𝑇𝐴𝑋


Rasio Keuangan b. ROE = X 100 Rasio
𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿 𝐸𝑄𝑈𝐼𝑇𝑌

𝑃𝐸𝑁𝐽𝑈𝐴𝐿𝐴𝑁
c. TATO = X 100
𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿 𝐴𝐾𝑇𝐼𝑉𝐴

Pertumbuhan 𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿 𝐴𝑆𝐸𝑇 𝑇𝐴𝐻𝑈𝑁 𝑡−𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿 𝐴𝑆𝐸𝑇 𝑇𝐴𝐻𝑈𝑁 𝑆𝐸𝐵𝐸𝐿𝑈𝑀𝑁𝑌𝐴 Rasio


GA =
Perusahaan 𝑇𝑂𝑇𝐴𝐿 𝐴𝑆𝑆𝐸𝑇 𝑇𝐴𝐻𝑈𝑁 𝑡

Kebijakan 𝐷𝐼𝑉𝐼𝐷𝐸𝑁𝐷 𝑃𝐸𝑅 𝑆𝐻𝐴𝑅𝐸 Rasio


DPR = X 100
Dividen 𝐸𝐴𝑅𝑁𝐼𝑁𝐺 𝑃𝐸𝑅 𝑆𝐻𝐴𝑅𝐸

86
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

Pasar modal merupakan salah satu pilihan sumber dana jangka bagi

perusahaan. Sesuai perkembangannya, jumlah perusahaan yang menjual

sahamnya di pasar modal semakin bertambah. Pasar modal merupakan

sebuah pasar tempat dana-dana modal, seperti ekuitas dan utang

diperdagangkan (Ridwan dan Diyani, 2018). Mulyono (2015:432)

mengemukakan bahwa saat perusahaan mencari dana di pasar modal, maka

mekanisme yang terjadi adalah pemodal yang memiliki kelebihan dana akan

memberikan dana yang dimilikinya untuk diinvestasikan pada perusahaan

yang terdaftar di bursa, dengan mengharapkan imbal hasil dan perusahaan

dapat memanfaatkan dana tersebut untuk membiayai kegiatan

operasionalnya.

Sektor yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan setelah

pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yaitu sektor pasar

modal. Hal ini menyebabkan pengintegrasian kegiatan pasar modal di

kawasan ASEAN harus menjadi prioritas dalam pengimplementasian MEA.

Tumbuhnya investasi di antara sesama negara ASEAN diharapkan dapat

tercipta dengan mengintegrasikan kegiatan pasar modal, sehingga dapat

mempercepat proses pembangunan kawasan ASEAN yang maju dan kuat

dalam segi ekonomi. Pemberlakuan MEA akan memberikan keuntungan

kepada para investor dengan integrasi pasar modal di ASEAN. Sebab

87
penyatuan bursa menuntut penyesuaian regulasi transparansi dan good

corporate governance dari bursa dan pelaku usaha pasar modal ke level

standar internasional.

B. Hasil Penelitian

1. Analisis Statistik Deskriptif

Untuk mendeskripsikan dan menggambarkan mengenai data yang

digunakan dalam penelitian secara ringkas, maka dilakukan analisis

statistik deskriptif. Penelitian ini melibatkan variabel independen antara

lain Rasio Keuangan, Pertumbuhan Perusahaan dan Kebijakan Dividen.

Sedangkan variabel dependen yang digunakan yaitu Harga Saham. Data

yang digunakan dalam analisis ini merupakan data sekunder dari tahun

2008 sampai tahun 2017. Data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan

diperoleh dari laporan tahunan masing-masing perusahaan.

Pengolahan data pada analisis statistik deskriptif dilakukan dengan

menggunakan Eviews 9.0 dan Microsoft Excel 2013. Berikut adalah

hasil uji statistik deskriptif :

88
Tabel 4.1

Uji Statistik Deskriptif

Date: 03/18/19
Time: 09:12
Sample: 2008 2017

HARGA
SAHAM CR ROE TATO GA DPR

Mean 55427,67 111,9641 17,85340 4,422564 11,40125 41,33695


Median 28687,16 111,0149 15,20000 4,460273 11,27368 40,00000
Maximum 268306,2 128,8898 43,83000 9,270000 31,07000 78,50000
Minimum 458,0000 101,1095 3,100000 1,960000 0,750000 20,00000
Std. Dev. 61820,04 5,548624 8,416277 1,719080 5,963938 14,35829
Skewness 1,519930 1,172297 1,066856 0,259888 0,840969 0,915264
Kurtosis 4,774595 4,529316 3,516729 2,128342 4,096027 3,627936

Jarque-Bera 51,62476 32,64970 20,08222 4,291475 16,79247 15,60474


Probability 0,000000 0,000000 0,000044 0,116982 0,000226 0,000409

Sum 5542767. 11196,41 1785,340 442,2564 1140,125 4133,695


Sum Sq. Dev. 3,78E+11 3047,936 7012,538 292,5685 3521,287 20409,88

Observations 100 100 100 100 100 100

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

Berdasarkan tabel 4.1, dapat disajikan statistik deskriptif variabel

seluruh periode pengamatan sebagai berikut :

a. Harga Saham

Harga saham dalam penelitian ini adalah harga saham

penutupan (closing price) akhir tahun masing-masing perusahaan.

Nilai rata-rata dari harga saham pada bank terbesar di ASEAN sejak

tahun 2008 sampai tahun 2017 mengalami naik turun. Nilai rata-rata

harga saham terbesar yaitu pada tahun 2017 dimana nilai rata-rata

89
harga sahamnya sebesar Rp 90.072, nilai rata-rata harga saham

terendah yaitu pada tahun 2008 sebesar Rp 26.655, sedangkan untuk

nilai rata-rata harga saham secara keseluruhan sebesar Rp

55.427,67. Selama periode penelitian, untuk nilai maksimun dari

harga saham yaitu sebesar Rp. 268.306 diperoleh bank asal

Singapura yaitu UOB pada tahun 2017. Sementara untuk nilai

minimum dari harga saham yaitu sebesar Rp. 458 diperoleh bank

asal Indonesia yaitu Bank BRI. Semakin tinggi permintaan terhadap

saham maka akan meningkatkan harga saham tersebut, dan

sebaliknya semakin rendah permintaan terhadap saham maka akan

menurunkan harga saham.

Tabel 4.2

Data Harga Saham Perusahaan Periode 2008-2017 (dalam rupiah)

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 64069 102700 100564 80537 117114 164740 192458 162309 161302 252076
OCBC 36828 59136 67347 53132 74499 95376 97724 85579 82977 125683
BCA 3250 4850 6400 8000 9200 9600 13125 13300 15500 21900
UOB 98310 132100 127811 106754 156337 204624 229174 190705 189767 268306
Maybank 14460 18883 24795 24542 28995 37047 32481 26975 24626 32855
BRI 458 765 1050 1350 1390 1450 2330 2285 2335 3640
Bank Mandiri 996 2311 3196 3375 3900 3925 5388 4625 5788 8000
Public Bank 24784 28380 35152 38272 51308 69787 64821 59472 59224 69665
CIMB 9219 17672 24796 21282 24047 28286 19694 14579 13545 21925
KasikornBank 14176 24047 37454 35046 60923 58248 86739 57475 66705 96673
Mean 26655 39084 42856 37229 52771 67308 74393 61730 62177 90072
Maximum 98310 132100 127811 106754 156337 204624 229174 190705 189767 268306
Minimum 458 765 1050 1350 1390 1450 2330 2285 2335 3640

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Ms.Excel 2013)

90
b. Rasio Keuangan

Indikator yang digunakan dalam menjelaskan variabel ini adalah

Current Ratio (CR), Return On Equity (ROE), dan Total Asset Turn

Over (TATO).

1) Current Ratio (CR)

Current ratio diukur dengan current asset dibagi dengan

current liabilities. Nilai rata-rata current ratio terbesar yaitu

pada tahun 2017 dimana nilai rata-rata current ratio sebesar

115,17%, nilai rata-rata current ratio terendah yaitu pada tahun

2008 sebesar 108,38%, sedangkan untuk nilai rata-rata current

ratio secara keseluruhan sebesar 111,96%. Selama periode

penelitian, untuk nilai maksimun dari current ratio yaitu sebesar

128,89% diperoleh bank asal Indonesia yaitu Bank Mandiri pada

tahun 2015. Sementara untuk nilai minimum dari current ratio

yaitu sebesar 101,11% diperoleh bank asal Thailand yaitu

KasikornBank. Semakin tinggi nilai current ratio maka semakin

baik kemampuan perusahaan dalam memenuhi tagihan jangka

pendek dari kreditur. Namun, apabila nilai current ratio

terlampau tinggi maka dapat diartikan bahwa manajemen

perusahaan kurang efektif dalam menggunakan aktiva lancarnya.

91
Tabel 4.3

Data Current Ratio Masing-Masing Perusahaan Periode 2008-2017

(dalam persen)

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 107,24 109,81 110,88 108,78 109,34 108,62 108,36 108,68 109,27 109,25
OCBC 109,96 109,40 110,30 113,56 115,74 114,84 116,11 117,20 115,28 112,75
BCA 109,12 109,49 110,55 111,29 111,93 113,45 115,05 116,53 117,99 119,53
UOB 104,71 107,01 107,69 107,20 107,79 107,29 108,13 108,04 107,98 109,32
Maybank 109,62 112,45 112,85 112,30 113,55 111,72 113,01 116,13 117,16 118,09
BRI 109,98 109,37 111,19 112,47 113,78 116,24 114,81 116,05 115,32 115,25
Bank Mandiri 107,97 110,42 111,03 124,20 126,07 126,50 127,02 128,89 127,29 128,07
Public Bank 106,79 108,15 104,70 103,65 104,64 104,57 106,28 106,31 107,04 107,74
CIMB 111,53 111,81 111,94 111,00 112,30 113,48 114,33 114,23 115,93 119,28
KasikornBank 106,83 103,92 101,11 107,21 107,59 108,22 110,01 108,03 111,15 112,39
Mean 108,38 109,18 109,22 111,17 112,27 112,49 113,31 114,01 114,44 115,17
Maximum 111,53 112,45 112,85 124,20 126,07 126,50 127,02 128,89 127,29 128,07
Minimum 104,71 103,92 101,11 103,65 104,64 104,57 106,28 106,31 107,04 107,74

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Ms.Excel 2013)

2) Return On Equity (ROE)

Return on equity diukur dengan earning after tax dibagi

dengan total equity. Nilai rata-rata return on equity terbesar yaitu

pada tahun 2010 dimana nilai rata-rata return on equity sebesar

21,10%, nilai rata-rata return on equity terendah yaitu pada tahun

2017 sebesar 12,98%, sedangkan untuk nilai rata-rata return on

equity secara keseluruhan sebesar 17,85%. Selama periode

penelitian, untuk nilai maksimun dari return on equity yaitu

sebesar 43,83% diperoleh bank asal Indonesia yaitu Bank BRI

pada tahun 2010. Sementara untuk nilai minimum dari return on

92
equity yaitu sebesar 3,10% diperoleh bank asal Malaysia yaitu

Maybank pada tahun 2009. Menurut Suyatna dan Nazar (2015)

semakin tinggi ROE menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat

pengembalian terhadap investasi yang dilakukan dan semakin

rendah ROE suatu perusahaan maka tingkat pengembaliannya

akan semakin rendah pula.

Tabel 4.4

Data Return On Equity Masing-Masing Perusahaan Periode 2008-2017

(dalam persen)

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 10,12 8,44 10,20 11,00 11,20 10,80 10,90 11,20 10,10 9,70
OCBC 11,80 12,20 12,10 11,30 17,90 11,60 14,80 12,30 10,00 11,20
BCA 30,20 31,80 33,30 33,50 30,40 28,20 25,50 21,90 20,50 19,20
UOB 12,20 11,90 14,30 11,10 12,40 12,30 12,30 11,00 10,20 10,20
Maybank 15,20 3,10 14,50 15,20 16,00 15,10 13,80 12,20 10,60 10,90
BRI 34,50 35,22 43,83 42,49 38,66 34,11 31,22 29,89 23,08 20,03
Bank Mandiri 18,10 22,10 24,40 22,00 22,60 22,23 20,95 18,33 9,66 12,90
Public Bank 30,40 26,10 27,10 26,80 24,50 22,40 19,90 17,80 16,50 15,80
CIMB 12,30 15,00 16,30 16,40 16,00 15,50 9,20 7,30 8,30 9,60
KasikornBank 14,35 12,58 15,73 16,72 20,76 20,45 19,38 14,54 13,23 10,24
Mean 18,92 17,84 21,18 20,65 21,04 19,27 17,80 15,65 13,22 12,98
Maximum 34,50 35,22 43,83 42,49 38,66 34,11 31,22 29,89 23,08 20,03
Minimum 10,12 3,10 10,20 11,00 11,20 10,80 9,20 7,30 8,30 9,60

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Ms.Excel 2013)

3) Total Asset Turn Over (TATO)

TATO diukur dengan penjualan dibagi dengan total aktiva.

Nilai rata-rata TATO terbesar yaitu pada tahun 2017 dimana

nilai rata-rata TATO sebesar 4,82%, nilai rata-rata TATO

93
terendah yaitu pada tahun 2008 sebesar 4,25%, sedangkan untuk

nilai rata-rata TATO secara keseluruhan sebesar 4,42%. Selama

periode penelitian, untuk nilai maksimun dari TATO yaitu

sebesar 9,27% diperoleh bank asal Indonesia yaitu Bank Mandiri

pada tahun 2017. Sementara untuk nilai minimum dari TATO

yaitu sebesar 1,96% diperoleh bank asal Singapura yaitu Bank

OCBC pada tahun 2013. Semakin tinggi nilai TATO berarti

semakin efisien penggunaan seluruh aktiva dalam menghasilkan

penjualan.

Tabel 4.5

Data Total Asset Turn Over Masing-Masing Perusahaan

Periode 2008-2017 (dalam persen)

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 2,35 2,55 2,49 2,24 2,28 2,22 2,18 2,36 2,39 2,30
OCBC 2,44 2,48 2,32 2,04 2,69 1,96 2,08 2,24 2,07 3,12
BCA 6,60 6,81 6,25 6,30 6,23 6,80 7,43 7,05 7,95 7,59
UOB 2,87 2,91 2,71 2,41 2,57 2,36 2,43 2,55 2,37 2,47
Maybank 6,00 5,66 5,51 5,11 5,56 5,93 5,58 5,73 6,07 5,96
BRI 2,58 3,12 3,69 3,99 4,33 3,46 3,85 3,70 3,39 3,29
Bank Mandiri 5,55 5,69 6,40 6,44 6,60 6,81 6,65 6,61 6,55 9,27
Public Bank 5,35 4,47 4,88 5,11 5,12 4,99 4,88 5,27 5,29 5,28
CIMB 3,74 4,45 4,38 4,04 4,00 3,96 3,42 3,34 3,31 3,48
KasikornBank 4,99 5,20 4,86 5,25 5,02 5,28 5,80 5,77 5,39 5,41
Mean 4,25 4,33 4,35 4,29 4,44 4,38 4,43 4,46 4,48 4,82
Maximum 6,60 6,81 6,40 6,44 6,60 6,81 7,43 7,05 7,95 9,27
Minimum 2,35 2,48 2,32 2,04 2,28 1,96 2,08 2,24 2,07 2,30

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Ms.Excel 2013)

94
c. Pertumbuhan Perusahaan

Indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan

perusahaan yaitu pertumbuhan aset atau Growth Asset (GA).

Growth asset diukur dengan total aset tahun t dikurangi dengan total

aset tahun sebelumnya kemudian dibagi dengan total aset tahun t.

Nilai rata-rata GA terbesar yaitu pada tahun 2011 dimana nilai rata-

rata GA sebesar 15,68%, nilai rata-rata GA terendah yaitu pada

tahun 2017 sebesar 6,96%, sedangkan untuk nilai rata-rata GA

secara keseluruhan sebesar 11,40%.

Selama periode penelitian, untuk nilai maksimun dari GA

yaitu sebesar 31,07% diperoleh bank asal Thailand yaitu

KasikornBank pada tahun 2008. Sementara untuk nilai minimum

dari GA yaitu sebesar 0,75% diperoleh bank asal Singapura yaitu

Bank DBS pada tahun 2009. Apabila pertumbuhan perusahaan

meningkat maka kinerja perusahaan semakin baik karena aset yang

dimiliki perusahaan mengalami peningkatan

95
Tabel 4.6

Data Growth Asset Masing-Masing Perusahaan

Periode 2008-2017 (dalam persen)

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 10,20 0,75 9,69 20,14 3,58 13,87 9,62 3,90 5,18 7,50
OCBC 3,88 7,12 18,00 21,14 6,55 14,36 18,55 7,30 5,05 10,99
BCA 12,64 14,99 14,88 17,72 15,99 12,03 11,31 7,45 13,86 10,87
UOB 7,51 1,44 15,20 10,84 6,73 12,39 7,92 3,02 7,60 5,46
Maybank 7,00 15,47 8,35 15,00 9,58 13,24 14,27 10,63 3,90 3,99
BRI 20,78 28,80 26,58 16,23 17,33 13,57 28,07 9,53 14,25 12,22
Bank Mandiri 12,33 10,09 13,98 22,70 15,17 15,34 16,63 6,43 14,14 8,30
Public Bank 12,64 10,69 4,23 10,20 9,60 11,24 13,08 5,22 4,48 4,01
CIMB 13,09 15,88 12,24 11,43 12,45 10,24 11,66 11,45 5,24 4,27
KasikornBank 31,07 4,18 13,50 11,40 20,58 10,23 4,33 6,96 11,37 2,02
Mean 13,11 10,94 13,67 15,68 11,76 12,65 13,54 7,19 8,51 6,96
Maximum 31,07 28,80 26,58 22,70 20,58 15,34 28,07 11,45 14,25 12,22
Minimum 3,88 0,75 4,23 10,20 3,58 10,23 4,33 3,02 3,90 2,02

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Ms.Excel 2013)

d. Kebijakan Dividen

Indikator yang digunakan untuk mengukur kebijakan

dividen pada penelitian ini yaitu menggunakan Dividend Payout

Ratio (DPR). DPR diukur dengan dividend per share dibagi dengan

earning per share. Nilai rata-rata DPR terbesar yaitu pada tahun

2008 dimana nilai rata-rata DPR sebesar 45,99%, nilai rata-rata DPR

terendah yaitu pada tahun 2014 sebesar 37,58%, sedangkan untuk

nilai rata-rata DPR secara keseluruhan sebesar 41,34%. Selama

periode penelitian, untuk nilai maksimun dari DPR yaitu sebesar

78,50% diperoleh bank asal Malaysia yaitu Maybank pada tahun

96
2017. Sementara untuk nilai minimum dari DPR yaitu sebesar

20,00% diperoleh bank asal Indonesia yaitu Bank BRI pada tahun

2010 dan 2011. DPR yang tinggi menunjukkan bahwa tingkat

pembagian laba yang dilakukan perusahaan juga tinggi, sehingga

akan meningkatkan minat investor untuk membeli saham

perusahaan tersebut untuk dividen, semakin tinggi permintaan dari

pasar maka akan semakin meningkatkan harga saham (Pranata et al,

2015).

Tabel 4.7

Data Dividend Payout Ratio Masing-Masing Perusahaan

Periode 2008-2017 (dalam persen)

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 60,75 62,22 49,20 43,08 35,67 38,67 35,58 33,90 36,14 40,40
OCBC 58,00 46,00 44,00 45,00 40,00 42,00 39,00 38,00 43,00 37,00
BCA 42,40 39,40 32,30 25,60 24,00 20,80 22,10 21,90 23,90 27,00
UOB 47,00 50,42 41,18 41,00 39,00 39,00 37,00 45,00 37,00 49,00
Maybank 60,40 61,40 76,50 74,90 74,70 71,90 78,50 76,30 78,10 78,50
BRI 35,00 30,00 20,00 20,00 30,00 30,00 30,00 40,00 40,00 45,00
Bank Mandiri 35,00 35,00 35,00 20,00 30,00 30,00 25,00 30,00 45,00 45,00
Public Bank 53,20 56,60 52,30 48,30 45,30 44,80 46,10 42,70 43,00 43,10
CIMB 35,80 23,30 54,90 40,60 40,00 40,00 40,00 42,00 49,00 51,00
KasikornBank 32,33 41,88 32,14 27,00 22,12 22,32 22,51 27,83 26,96 32,80
Mean 45,99 44,62 43,75 38,55 38,08 37,95 37,58 39,76 42,21 44,88
Maximum 60,75 62,22 76,50 74,90 74,70 71,90 78,50 76,30 78,10 78,50
Minimum 32,33 23,30 20,00 20,00 22,12 20,80 22,10 21,90 23,90 27,00

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Ms.Excel)

97
e. Kapitalisasi Pasar

Kapitalisasi pasar diukur dengan cara mengalikan jumlah saham

beredar dengan harga sahamnya saat ini. Nilai rata-rata kapitalisasi

pasar terbesar pada perusahaan yang dijadikan sampel yaitu pada

tahun 2017 sebesar 29,13 Miliar Dollar AS, sedangkan untuk nilai

rata-rata kapitalisasi pasar terendah yaitu pada tahun 2008 sebesar

8,62 Miliar Dollar AS. Selama periode penelitian, untuk nilai

maksimun dari kapitalisasi pasar yaitu sebesar 46,64 Miliar Dollar

AS diperoleh bank asal Singapura yaitu Bank DBS pada tahun 2017.

Sedangkan untuk nilai minimum yaitu sebesar 3,09 Miliar Dollar AS

diperoleh bank asal Thailand yaitu KasikornBank pada tahun 2008.

Tabel 4.8
Data Kapitalisasi Pasar Masing-Masing Perusahaan
Periode 2008-2017 (Dalam Miliar Dollar AS)

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 14,75 27,51 24,02 22,29 30,50 33,97 38,99 29,55 30,00 46,64
OCBC 14,35 26,68 31,74 24,88 32,82 33,28 33,50 26,36 26,19 39,35
BCA 6,35 9,57 12,50 15,62 17,77 14,75 25,63 25,97 30,27 37,42
UOB 14,81 23,02 23,29 19,33 26,64 26,50 29,65 22,16 23,00 32,90
Maybank 9,96 12,21 17,35 21,09 25,37 26,87 25,31 19,10 18,63 26,12
BRI 4,47 7,55 10,26 13,19 13,58 14,16 22,76 22,32 22,81 31,11
Bank Mandiri 3,35 7,60 10,81 12,47 14,97 14,51 19,91 17,09 21,39 25,87
Public Bank 9,02 11,64 14,91 14,83 18,81 20,94 20,32 16,74 17,06 19,93
CIMB 6,08 13,14 20,64 17,43 18,54 17,96 13,38 9,01 8,92 14,90
KasikornBank 3,09 6,10 10,00 9,26 15,14 11,42 16,66 10,01 11,85 17,05
Mean 8,62 14,50 17,55 17.04 21,41 21,44 24,61 19,83 21,01 29,13
Maximum 14,81 27,51 31,74 24,88 32,82 33,97 38,99 29,55 30,27 46,64
Minimum 3,09 6,10 10,00 9,26 13,58 11,42 13,38 9,01 8,92 14,90
Sumber : Data diolah oleh peneliti

98
2. Uji Tahap Regresi Data Panel

a. Uji Chow

Uji ini dilakukan untuk menentukan model common effect atau

fixed effect yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi data

panel. Hipotesis dalam uji chow adalah:

Ho : model common effect

Ha : model fixed effect

Jika nilai probabilitas cross section F lebih besar dari 0,05 maka

model yang terpilih adalah common efect. Sebaliknya, jika nilai

probabilitas cross section F lebih kecil dari 0,05 maka model yang

terpilih adalah fixed effect.

Tabel 4.9

Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests


Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 59.345557 (9,85) 0.0000


Cross-section Chi-square 198.563173 9 0.0000

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

Pada tabel 4.9 diatas, dapat diketahui bahwa nilai probabilitas

cross section F sebesar 0,0000 maka dengan demikian metode data

panel yang tepat antara common effect model dengan fixed effect

model adalah fixed effect model karena nilai probabilitas cross

section F lebih kecil dari 0,05 yang berarti menolak Ho dan

99
menerima Ha . Kemudian, jika uji chow menyimpulkan untuk

memilih menggunakan fixed effect model, maka perlu dilakukan uji

selanjutnya yaitu uji hausman untuk memilih antara fixed effect

model dengan random effect model.

b. Uji Hausman

Uji ini dilakukan untuk menentukan model fixed effect atau

random effect yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi data

panel. Hipotesis dalam uji hausman adalah:

Ho : model random effect

Ha : model fixed effect

Jika nilai probabilitas cross section random lebih besar dari 0,05

maka model yang terpilih adalah random effect. Sebaliknya, jika

nilai probabilitas cross section random lebih kecil dari 0,05 maka

model yang terpilih adalah fixed effect.

Tabel 4.10

Uji Hausman

Correlated Random Effects - Hausman Test


Equation: Untitled
Test cross-section random effects

Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 78.389949 5 0.0000

Sumber :Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

100
Pada tabel 4.10 diatas, dapat diketahui bahwa nilai probabilitas

cross section random sebesar 0,0000 maka dengan demikian metode

data panel yang tepat antara fixed effect model dengan random effect

model adalah fixed effect model karena nilai probabilitas cross

section F lebih kecil dari 0,05 yang berarti menolak Ho dan

menerima Ha .

3. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah sebuah data

berdistribusi normal atau tidak. Data yang baik merupakan data yang

berdistribusi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan

dengan uji Jarque-Bera Test. Untuk menguji normalitas suatu

model, hipotesisnya sebagai berikut:

Ho : data berdistribusi normal

Ha : data tidak berdistribusi normal

Dapat dilihat dari koefisien Jarque-Bera dan probabilitasnya. Jika

dilihat dari koefisien Jarque-Bera apabila nilai Jarque-Bera lebih

kecil dari 2 maka data berdistribusi normal. Jika dilihat dari

probabilitasnya, jika nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 maka

Ho diterima atau data berdistribusi normal. Akan tetapi, apabila nilai

probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak atau data tidak

berdistribusi normal.

101
14
Series: Standardized Residuals
12 Sample 2008 2017
Observations 100
10
Mean -2.22e-18
Median -0.020236
8
Maximum 0.309629
Minimum -0.337403
6
Std. Dev. 0.135524
Skewness -0.055500
4
Kurtosis 2.562590

2 Jarque-Bera 0.848533
Probability 0.654249
0
-0.3 -0.2 -0.1 0.0 0.1 0.2 0.3

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

Gambar 4.1

Uji Normalitas

Pada gambar 4.1, jika dilihat dari koefisien Jarque-Bera maka

nilai Jarque-Bera sebesar 0,848533 yaitu lebih kecil dari 2 maka

dapat dikatakan data berdistribusi normal. Kemudian, jika dilihat

dari probabilitasnya maka sebesar 0,654249 yaitu lebih besar dari

0,05 dengan demikian dapat dikatakan data berdistribusi normal

yang berarti menerima Ho dan menolak Ha .

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat apakah terjadi

korelasi antara variabel independen dengan variabel independen

lainnya. Dalam penelitian ini, uji yang digunakan adalah dengan

menggunakan variance inflation factor atau VIF. Jika nilai VIF

lebih kecil dari 10 maka dapat disimpulkan dalam penelitian tidak

terjadi multikolinearitas.

102
Tabel 4.11

Uji Multikolinearitas

Variance Inflation Factors


Date: 03/18/19 Time: 15:57
Sample: 1 100
Included observations: 100

Coefficient Uncentered Centered


Variable Variance VIF VIF

CR 5.69E-05 507.1102 1.229807


ROE 3.38E-05 9.315080 1.679803
TATO 0.000658 10.49551 1.365361
GA 5.48E-05 6.424336 1.369380
DPR 8.62E-06 11.70347 1.248749
C 0.707988 502.4984 NA

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

Pada tabel 4.11 diatas, dapat diketahui bahwa nilai VIF dari lima

variabel independen lebih kecil dari 10, sehingga dapat dikatakan

bahwa tidak terjadi multikolinearitas.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi linier ada kolerasi antara kesalahan pengganggu pada periode

t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (Megawati, 2018).

Dalam penelitian ini menggunakan uji autokorelasi dengan uji

Durbin-Watson (DW).

103
Tabel 4.12

Uji Durbin-Watson

Dependent Variable: Log(Harga Saham)


Method: Panel Least Squares
Date: 03/18/19 Time: 15:27
Sample: 2008 2017
Periods included: 10
Cross-sections included: 10
Total panel (balanced) observations: 100

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

CR 0.022803 0.005115 4.458070 0.0000


ROE -0.008872 0.004099 -2.164561 0.0332
TATO 0.082646 0.036548 2.261323 0.0263
GA -0.006441 0.003162 -2.036911 0.0448
DPR -0.007294 0.002232 -3.267613 0.0016
C 2.004697 0.592614 3.382807 0.0011

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.957967 Mean dependent var 4.390000


Adjusted R-squared 0.951044 S.D. dependent var 0.661032
S.E. of regression 0.146260 Akaike info criterion -0.869380
Sum squared resid 1.818319 Schwarz criterion -0.478605
Log likelihood 58.46902 Hannan-Quinn criter. -0.711227
F-statistic 138.3731 Durbin-Watson stat 1.081642
Prob(F-statistic) 0.000000

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

Pada tabel 4.12 diatas, dapat diketahui bahwa nilai DW regresi

sebesar 1,081642. Berdasarkan tabel DW dengan tingkat

signifikansi 0,05 untuk k = 5 dan n = 100, diperoleh nilai dL =

1,5710 dan nilai dU = 1,7804. Nilai DW tidak berada diantara nilai

104
dU 1,7804 sampai dengan 2,2196 (nilai 4-dU) sehingga dapat

disimpulkan bahwa terjadi autokorelasi positif.

Agar variabel terbebas dari masalah autokorelasi, dalam

penelitian ini digunakan metode Cochrane-orcutt (C-O) dengan

memasukkan persamaan Y c X1 X2 X3 X4 X5 AR(1) (Wing

Wahyu, 2015:5.39). Setelah menggunakan metode Cochrane-orcutt

(C-O) dengan memasukkan variabel baru tersebut, maka hasil uji

autokorelasi menjadi seperti dalam tabel 4.12 berikut:

Tabel 4.13

Uji Durbin-Watson Perbaikan

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

CR -0.002360 0.005655 -0.417391 0.6776


ROE 0.000126 0.003599 0.034908 0.9722
TATO 0.065257 0.024542 2.659021 0.0096
GA 0.001166 0.001747 0.667734 0.5064
DPR 0.002263 0.001842 1.228683 0.2231
C 4.438461 0.702050 6.322148 0.0000
AR(1) 0.672842 0.060449 11.13071 0.0000

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.984376 Mean dependent var 4.431111


Adjusted R-squared 0.981209 S.D. dependent var 0.640783
S.E. of regression 0.087838 Akaike info criterion -1.866832
Sum squared resid 0.570949 Schwarz criterion -1.422422
Log likelihood 100.0075 Hannan-Quinn criter. -1.687620
F-statistic 310.8255 Durbin-Watson stat 2.020146
Prob(F-statistic) 0.000000

Inverted AR Roots .67

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

105
Pada tabel 4.13 uji Durbin-Watson perbaikan, menunjukkan

nilai DW menjadi sebesar 2,020146. Berdasarkan tabel DW dengan

tingkat signifikansi 0,05 untuk k = 5 dan n = 100, diperoleh nilai dL

= 1,5710 dan nilai dU = 1,7804. Nilai DW sebesar 2,020146 berada

diantara nilai dU 1,7804 sampai dengan 2,2196 (nilai 4-dU)

sehingga dapat disimpulkan bahwa data terbebas dari masalah

autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan

ke pengamatan yang lain. Dalam penelitian ini menggunakan uji

white. Untuk menguji heteroskedastisitas suatu model, hipotesisnya

sebagai berikut:

Ho : tidak terjadi heteroskedastisitas

Ha : terjadi heteroskedastisitas

Jika nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima

atau tidak terjadi masalah heteroskedastisitas. Akan tetapi, apabila

nilai probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak atau

terjadi masalah heteroskedastisitas.

106
Tabel 4.14

Uji White

Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 0.991056 Prob. F(20,79) 0.4819


Obs*R-squared 20.05757 Prob. Chi-Square(20) 0.4543
Scaled explained SS 35.75268 Prob. Chi-Square(20) 0.0164

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

Pada tabel 4.14, dapat diketahui bahwa nilai probabilitas

Obs*R-squared sebesar 0,4543 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas yang berarti Ho

diterima dan Ha ditolak.

4. Analisis Regresi Panel

Setelah melakukan tahapan analisis regresi data panel untuk

memilih model yang paling tepat dalam mengestimasi data panel, maka

model yang digunakan dalam penelitian ini adalah fixed effect. Berikut

hasil regresi panel :

107
Tabel 4.15

Analisis Regresi Panel

Dependent Variable: Log(Harga Saham)


Method: Panel Least Squares
Date: 03/18/19 Time: 15:27
Sample: 2008 2017
Periods included: 10
Cross-sections included: 10
Total panel (balanced) observations: 100

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

CR 0.022803 0.005115 4.458070 0.0000


ROE -0.008872 0.004099 -2.164561 0.0332
TATO 0.082646 0.036548 2.261323 0.0263
GA -0.006441 0.003162 -2.036911 0.0448
DPR -0.007294 0.002232 -3.267613 0.0016
C 2.004697 0.592614 3.382807 0.0011

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.957967 Mean dependent var 4.390000


Adjusted R-squared 0.951044 S.D. dependent var 0.661032
S.E. of regression 0.146260 Akaike info criterion -0.869380
Sum squared resid 1.818319 Schwarz criterion -0.478605
Log likelihood 58.46902 Hannan-Quinn criter. -0.711227
F-statistic 138.3731 Durbin-Watson stat 1.081642
Prob(F-statistic) 0.000000

Sumber : Data diolah oleh peneliti (Eviews 9.0)

Y = 2,004697 + 0,022803 (CR) – 0,008872 (ROE) + 0,082646 (TATO)

– 0,006441 (GA) – 0,007294 (DPR) + e

Berdasarkan persamaan regresi diatas, maka dapat diinterpretasikan

sebagai berikut :

108
a. Berdasarkan persamaan diatas diperoleh besarnya konstanta sebesar

2,004697. Hal ini mengindikasikan bahwa jika semua variabel

independen = 0 maka akan menaikkan harga saham sebesar

2,004697.

b. Besarnya koefisien regresi Current Ratio (X1) sebesar 0,022803.

Hal ini mengindikasikan bahwa apabila variabel independen

Current Ratio naik sebesar 1 satuan maka akan menaikkan harga

saham sebesar 0,022803.

c. Besarnya koefisien regresi Return On Equity (X2) sebesar -

0,008872 Hal ini mengindikasikan bahwa apabila variabel

independen Return On Equity naik sebesar 1 satuan maka akan

menurunkan harga saham sebesar 0,008872.

d. Besarnya koefisien regresi Total Asset Turn Over (X3) sebesar

0,082646. Hal ini mengindikasikan bahwa apabila variabel

independen Total Asset Turn Over naik sebesar 1 satuan maka akan

menurunkan harga saham sebesar 0,082646.

e. Besarnya koefisien regresi Growth Asset (X4) sebesar -0,006441

Hal ini mengindikasikan bahwa apabila variabel independen Growth

Asset naik sebesar 1 satuan maka akan menurunkan harga saham

sebesar 0,006441.

f. Besarnya koefisien regresi Dividend Payout Ratio (X5) sebesar -

0,007294. Hal ini mengindikasikan bahwa apabila variabel

109
independen Dividend Payout Ratio naik sebesar 1 satuan maka akan

menurunkan harga saham sebesar 0,007294.

5. Uji Hipotesis

a. Hasil Uji Statistik F

Menurut Ghozali (2013:98) jika nilai probabilitas < sig (α 0,05)

atau nilai Ftabel < Fhitung maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang

artinya terdapat pengaruh signifikan secara simultan. Jika nilai

probabilitas > sig (α 0,05) atau nilai Ftabel > Fhitung maka Ho

diterima dan Ha ditolak, yang artinya tidak terdapat pengaruh yang

signifikan secara simultan.

Dari tabel 4.15 dapat diketahui bahwa nilai probabilitas sebesar

0,000000 lebih kecil dari 0,05 yang berarti menolak Ho dan

menerima Ha . Hal ini menunjukkan bahwa Current Ratio, Return

On Equity, Total Asset Turn Over, Growth Asset dan Dividend

Payout Ratio secara bersama-sama atau simultan berpengaruh

signifikan terhadap harga saham.

b. Hasil Uji Statistik t

Menurut Ghozali (2013:99) uji statistik t bertujuan untuk

mengukur seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara

individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Jika

probabilitas < sig (α 0,05) atau nilai t tabel < t hitung , maka secara

parsial variabel independen berpengaruh terhadap variabel

dependen. Jika probabilitas > sig (α 0,05) atau nilai t tabel > t hitung ,

110
maka secara parsial variabel independen tidak berpengaruh terhadap

variabel dependen.

Dengan derajat kepercayaan sebesar 5% atau 0,05 maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1) Berdasarkan tabel 4.15, nilai probabilitas Current Ratio sebesar

0,0000 yang berarti lebih kecil dari 0,05 maka dapat diambil

kesimpulan menolak Ho dan menerima Ha yang berarti terdapat

pengaruh yang signifikan antara Current Ratio terhadap harga

saham. Dengan demikian, menerima hipotesis alternatif.

2) Berdasarkan tabel 4.15, nilai probabilitas Return On Equity

sebesar 0.0332 yang berarti lebih kecil dari 0,05 maka dapat

diambil kesimpulan menolak Ho dan menerima Ha yang berarti

terdapat pengaruh yang signifikan antara Return On Equity

terhadap harga saham. Dengan demikian, menerima hipotesis

alternatif.

3) Berdasarkan tabel 4.15, nilai probabilitas Total Asset Turn Over

sebesar 0.0263 yang berarti lebih kecil dari 0,05 maka dapat

diambil kesimpulan menolak Ho dan menerima Ha yang berarti

terdapat pengaruh yang signifikan antara Total Asset Turn Over

terhadap harga saham. Dengan demikian, menerima hipotesis

alternatif.

4) Berdasarkan tabel 4.15, nilai probabilitas Growth Asset sebesar

0.0448 yang berarti lebih kecil dari 0,05 maka dapat diambil

111
kesimpulan menolak Ho dan menerima Ha yang berarti terdapat

pengaruh yang signifikan antara Growth Asset terhadap harga

saham. Dengan demikian, menerima hipotesis alternatif.

5) Berdasarkan tabel 4.15, nilai probabilitas Dividend Payout

Ratio sebesar 0.0016 yang berarti lebih kecil dari 0,05 maka

dapat diambil kesimpulan menolak Ho dan menerima Ha yang

berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara Dividend

Payout Ratio terhadap harga saham. Dengan demikian,

menerima hipotesis alternatif.

c. Hasil Uji Koefisien Determinasi

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Adjusted R Squared

dengan tujuan untuk mengurangi bias terhadap hasil dari R2.

Berdasarkan tabel 4.15 nilai Adjusted R Squared sebesar 0.951044

atau 95,10%, menunjukkan seberapa besar kemampuan variabel-

variabel independen (rasio keuangan, pertumbuhan perusahaan dan

kebijakan dividen) dalam menjelaskan variabel dependen (harga

saham).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel

independen tersebut mampu menjelaskan variabel dependen sebesar

95,10%, sedangkan sisanya yaitu sebesar 4,90% dijelaskan oleh

variabel-variabel lainnya yang tidak terdapat pada model.

112
C. Interpretasi

1. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham

Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan dalam menjelaskan

variabel rasio keuangan adalah Current Ratio (CR), Return On Equity

(ROE), dan Total Asset Turn Over (TATO).

a. Pengaruh Current Ratio (CR) Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian parsial (uji t) yang telah dijelaskan

sebelumnya, current ratio berpengaruh dan signifikan secara

statistik terhadap harga saham. Dengan nilai signifikansi yang lebih

kecil dibandingkan nilai alpha memberikan kesimpulan bahwa

current ratio berpengaruh terhadap harga saham. Sementara itu,

nilai koefisien yang diperoleh current ratio bernilai positif, yang

artinya jika current ratio mengalami kenaikan maka akan

meningkatkan harga saham dan sebaliknya.

Sehingga membuktikan bahwa perusahaan dengan nilai current

ratio yang baik mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya

dengan baik dan akan terhindar dari masalah likuiditas. Hal ini dapat

meningkatkan minat investor untuk berinvestasi dan akan berakibat

pada naiknya harga saham.

Penelitian ini didukung oleh penelitian Sutapa (2018),

Megawati (2018), dan Surya (2016) yang menyatakan bahwa

current ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga

saham.

113
b. Pengaruh Return On Equity (ROE) Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian parsial (uji t) yang telah dijelaskan

sebelumnya, return on equity berpengaruh dan signifikan secara

statistik terhadap harga saham. Dengan nilai signifikansi yang lebih

kecil dibandingkan nilai alpha memberikan kesimpulan bahwa

return on equity berpengaruh terhadap harga saham. Sementara itu,

nilai koefisien yang diperoleh return on equity bernilai negatif, yang

artinya jika return on equity mengalami kenaikan maka akan

menurunkan harga saham atau sebaliknya jika return on equity

mengalami penurunan maka harga saham akan meningkat.

ROE memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap harga

saham yang berarti bahwa kurang baiknya kinerja dari perusahaan

tersebut yang disebabkan kurang efisiennya perusahaan dalam

mengelola modal sendiri sehingga laba yang dihasilkan kurang

optimal. Hal tersebut menurunkan minat investor dalam berinvestasi

sehingga menyebabkan harga saham menjadi turun. Selain itu,

investor melihat nilai ROE yang tinggi terkadang dapat

membahayakan kondisi perusahaan. Nilai ROE yang tinggi dapat

disebabkan oleh total ekuitas yang relatif rendah dibandingkan

dengan hutang perusahaan. Hutang yang terlalu besar akan

membahayakan pemilik modal apabila perusahaan tidak mampu

membayarnya. Kondisi demikian tentu tidak disukai oleh investor.

114
Untuk menjelaskan kondisi tersebut dilakukan perbandingan

antara Bank Mandiri dengan Bank BRI pada tahun 2017. Bank

Mandiri menghasilkan ROE sebesar 12,90% memiliki harga saham

sebesar Rp 8.000, sedangkan Bank BRI yang menghasilkan ROE

jauh lebih besar yaitu sebesar 20,03% memiliki harga saham sebesar

Rp 3.640. Kondisi ini ternyata ada hubungannya dengan rasio

hutang terhadap ekuitas (DER) yang dimiliki perusahaan. Bank

Mandiri memiliki rasio hutang terhadap ekuitas sebesar 5,22 kali

sedangkan Bank BRI memiliki rasio hutang terhadap ekuitas yang

lebih besar yaitu sebesar 5,73 kali. Dengan demikian nilai ROE

tinggi yang dimiliki Bank BRI tidak dapat menarik investor lebih

baik dari Bank Mandiri yang memiliki ROE lebih rendah, karena

proporsi hutang terhadap ekuitas yang relatif lebih besar.

Penelitian ini didukung oleh Rahmadewi dan Abundanti (2018)

serta Setyorini (2016), yang menyatakan bahwa return on equity

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham.

c. Pengaruh Total Asset Turn Over (TATO) Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian parsial (uji t) yang telah dijelaskan

sebelumnya, TATO berpengaruh dan signifikan secara statistik

terhadap harga saham. Dengan nilai signifikansi yang lebih kecil

dibandingkan nilai alpha memberikan kesimpulan bahwa TATO

berpengaruh terhadap harga saham. Sementara itu, nilai koefisien

yang diperoleh TATO bernilai positif, yang artinya jika TATO

115
mengalami kenaikan maka akan meningkatkan harga saham dan

sebaliknya.

TATO digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan

dalam menggunakan total aktiva untuk menciptakan penjualan dan

menghasilkan laba. Semakin efektif sebuah perusahaan dalam

menggunakan aktivanya untuk penjualan maka akan menghasilkan

keuntungan yang semakin tinggi pula. Keuntungan yang semakin

tinggi dapat menarik minat investor untuk berinvestasi yang

akhirnya akan meningkatkan harga saham perusahaan.

Penelitian ini didukung oleh penelitian Megawati (2018),

Adipalguna dan Anak Agung (2016) dan Kohansal, dkk (2013)

yang menyatakan bahwa total asset turn over berpengaruh positif

dan signifikan terhadap harga saham.

2. Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian parsial (uji t) yang telah dijelaskan

sebelumnya, pertumbuhan perusahaan dengan indikator pertumbuhan

aset atau growth asset berpengaruh dan signifikan secara statistik

terhadap harga saham. Dengan nilai signifikansi yang lebih kecil

dibandingkan nilai alpha memberikan kesimpulan bahwa growth asset

berpengaruh terhadap harga saham. Sementara itu, nilai koefisien yang

diperoleh growth asset bernilai negatif, yang artinya jika growth asset

mengalami kenaikan maka akan menurunkan harga saham atau

116
sebaliknya jika growth asset mengalami penurunan maka harga saham

akan meningkat.

Menurut Hashemijoo, dkk. (2012), perusahaan yang dalam tingkat

pertumbuhan cenderung menggunakan laba untuk berinvestasi pada

proyek baru dibanding membagikan dividen kepada investor. Hal ini

menyebabkan menurunkan minat investor untuk berinvestasi. Selain itu,

menurut Sulia (2017) Hal ini mungkin terjadi karena pemakaian aset

perusahaan masih belum berjalan secara optimal, dimana aset yang ada

tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga lambat laun akan

menyebabkan penyusutan aset tersebut menjadi tinggi. Aset yang

memiliki penyusutan yang tinggi akan menurunkan masa manfaat aset

tersebut sehingga pada akhirnya aset tersebut akan diganti dengan aset

yang baru, dimana hal tersebut akan menurunkan laba perusahaan.

Dengan menurunnya laba perusahaan, akan menurunkan minat investor

terhadap saham perusahaan yang mengakibatkan terjadinya penurunan

harga saham perusahaan.

Penelitian ini didukung oleh penelitian Sulia (2017), Anastassia dan

Friska (2014) dan Asghar, dkk (2011), yang menyatakan bahwa

pertumbuhan aset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga

saham.

3. Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian parsial (uji t) yang telah dijelaskan

sebelumnya, kebijakan dividen dengan indikator Dividend Payout Ratio

117
(DPR) berpengaruh dan signifikan secara statistik terhadap harga

saham. Dengan nilai signifikansi yang lebih kecil dibandingkan nilai

alpha memberikan kesimpulan bahwa DPR berpengaruh terhadap harga

saham. Sementara itu, nilai koefisien yang diperoleh DPR bernilai

negatif, yang artinya jika DPR mengalami kenaikan maka akan

menurunkan harga saham atau sebaliknya jika DPR mengalami

penurunan maka harga saham akan meningkat.

Sesuai dengan salah satu teori kebijakan dividen yaitu Tax

Differential Theory, hal ini dapat disebabkan karena investor lebih suka

menerima capital gain daripada dividen karena capital gain memiliki

tarif pajak yang lebih rendah daripada tarif pajak dividen. Dengan tarif

pajak dividen yang tinggi membuat investor tidak tertarik karena

dividen yang akan diperoleh para investor akan semakin sedikit.

Investor mengharapkan perusahaan menggunakan labanya untuk

berinvestasi dan mengharapkan peningkatan capital gain yang lebih

besar dimasa yang akan datang.

Penelitian ini didukung oleh penelitian Anastassia dan Friska

(2014), serta Dewi dan Sudiartha (2014), yang menyatakan bahwa

Dividend Payout Ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap

harga saham.

118
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang dilakukan,

kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :

1. Dari hasil uji regresi data panel dapat diketahui bahwa secara simultan

atau bersama-sama current ratio, return on equity, total asset turn over,

growth asset dan dividend payout ratio berpengaruh signifikan terhadap

harga saham.

2. Dari hasil uji regresi data panel secara parsial dapat diketahui bahwa :

a. Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada

bank terbesar di ASEAN berdasarkan kapitalisasi pasar pada tahun

2008-2017.

b. Return On Equity berpengaruh signifikan terhadap harga saham

pada bank terbesar di ASEAN berdasarkan kapitalisasi pasar pada

tahun 2008-2017.

c. Total Asset Turn Over berpengaruh signifikan terhadap harga saham

pada bank terbesar di ASEAN berdasarkan kapitalisasi pasar pada

tahun 2008-2017.

d. Growth Asset berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada

bank terbesar di ASEAN berdasarkan kapitalisasi pasar pada tahun

2008-2017.

119
e. Dividend Payout Ratio berpengaruh signifikan terhadap harga

saham pada bank terbesar di ASEAN berdasarkan kapitalisasi pasar

pada tahun 2008-2017.

B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, terdapat beberapa

implikasi yang mungkin bermanfaat, diantaranya:

1. Bagi Akademisi

Bagi akademisi dan peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat

dijadikan bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. Penelitian

ini juga diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan

mengenai pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Perusahaan dan

Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham.

2. Bagi Pihak Perusahaan

Informasi tentang pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Perusahaan

dan Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham dapat menjadi landasan

bagi pihak perusahaan dalam mengatur kinerja keuangan yang optimal.

3. Bagi Investor

Hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan informasi sebagai bahan

pertimbangan investor untuk berinvestasi.

C. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, berikut beberapa

saran yang dapat peneliti berikan untuk peneliti selanjutnya guna

menyempurnakan penelitian selanjutnya :

120
1. Dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan yaitu rasio

keuangan, pertumbuhan perusahaan dan kebijakan dividen, sedangkan

variabel dependennya yaitu harga saham. Penelitian selanjutnya

disarankan untuk menambah jumlah variabel dan menggunakan

variabel yang lebih beragam.

2. Dalam penelitian ini objek penelitian yang digunakan adalah bank

terbesar di ASEAN berdasarkan kapitalisasi pasar pada tahun 2008-

2017. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan objek yang

lainnya dan memperbarui periode penelitian.

3. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu analisis regresi data

panel dengan menggunakan software Eviews 9.0. Penelitian selanjutnya

disarankan menggunakan metode yang berbeda dan software yang lebih

baru.

121
DAFTAR PUSTAKA

Adipalguna, dkk. 2016. “Pengaruh Likuiditas, Solvabilitas, Aktivitas, Profitabilitas,


dan Penilaian Pasar Terhadap Harga Saham Perusahaan LQ45 di BEI”.
Jurnal Manajemen Unud Vol.5 No.12

Ali, Adnan dkk. 2015. “Effect Of Dividend Policy On Stock Prices”. Business &
Management Studies: An International Journal Vol. 3 Issue. 1

Ananda, Aditya dan Mahdy. 2015. “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Volatilitas


Harga Saham Pada Perusahaan – Perusahaan Konsumsi Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi dan Bisnis Vol 1 No1.

Anastasia dan Firnanti, Friska. 2014. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Volatilitas


Harga Saham Pada Perusahaan Publik Non Keuangan. Jurnal Bisnis dan
Akuntansi Vol 16, No 2

Ardiansyah. 2012. “Analisis Pengaruh Faktor Fundamental Dan Nilai Kapitalisasi


Pasar Terhadap Return Saham”. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas
Brawijaya Vol 1, No 2.

Aries, Heru Prasetyo. 2011. Valuasi Perusahaan. Jakarta: PPM

Arista, Desy dan Astohar. 2012. “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Return Saham (Kasus Pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di BEI
Periode 2005-2009”. Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan Vol.
3, No.1.

Asghar, Muhammad, dkk. 2011. “Impact of Dividend Policy on Stock Price Risk:
Empirical Evidence from Equity Market of Pakistan”. Far East Journal of
Psychology and Business Vol. 4 No. 1.

Astuty, Pudji. 2017. “Pengaruh Faktor Fundamental dan Risiko Sistimatik Terhadap
Harga Saham (Studi Kasus Pada Perusahaan di Indeks LQ45 Periode 2011-
2015)”. Jurnal Ekonomi, Volume 19 Nomor 1, Februari 2017.

122
Bailia, dkk. 2016. “Pengaruh Pertumbuhan Penjualan, Dividend Payout Ratio dan
Debt to Equity Ratio terhadap Harga Saham pada Perusahaan Property di
Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, Vol. 16 No. 03.

Banardi, J. & Diyani, L. A. 2017. “Pengaruh Rasio Keuangan, Per, Dan Pbv
Terhadap Harga Saham Perusahaan Otomotif”. Dalam Prosiding Konferensi
Ilmiah Akuntansi IV.

Banz, R. 1981. "The Relationship Between Return and Market Value Of Common
Stocks." Journal Of Financial Economics IX (1): 3-18

Brealey dkk. 2008. Fundamental of Corporate Finance. The McGraw-Hill


Companies, Inc.

Brigham, Eugena F., dan Joel F. Houston. 2013. Dasar-dasar Manajemen


Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Darmidji, Triptono dan Hendy M. Fakhruddin. 2012. Pasar modal di Indonesia.


Jakarta: Salemba Empat.

Deitiana, Tita. 2011. “Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Penjualan dan


Dividen Terhadap Harga Saham”. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol.13 No.1.

Dewi, Gusti Ayu Ketut Chandni dan Gede Merta Sudiartha. 2014. “Pengaruh Price
Earning Ratio, Dividend Payout Ratio, Return On Asset, Tingkat Suku
Bunga SBI, serta Kurs Dollar AS terhadap Harga Saham”. Jurnal
Manajemen Vol. 3 No.1

Erri, Dirgahayu dan Novita Andrianto Dwi. “Kebijakan Dividen Terhadap Harga
Saham PT Unilever Indonesia Tbk Yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia”. Jurnal Sekretari dan Manajemen Vol.2 No.2.

Erwanda, Gusti dan Ruzikna. 2017. “Pengaruh Rasio Profitabilitas Terhadap Harga
Saham Pada Perusahaan Konstruksi Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2010-
2014”. JOM FISIP Vol. 4 No. 1.

123
Fahmi, Irham. 2014. Manajemen Keuangan Perusahaan dan Pasar Modal. Jakarta:
Mitra Wacana Media.

Fenandar, Gany Ibrahim dan Raharja, Surya. 2012. “Pengaruh Keputusan Investasi,
Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan”.
Journal of Accounting. Vol.1, No.2.

Firmansyah, Masril. 2017. “Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan, Total Asset Turn


Over, Return On Investment, Earning Per Share Terhadap Harga Saham”.
Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship Vol.02 No.02.

Garonfolo, Herbert Julius. 2011. “Macroeconomic Drivers of Stock Market


Capitalization”. Thesis of Business Administration & Economics.
Copenhagen Business School.

Ghozali, Imam. 2013. “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS”.


Badan Penerbit Universitas Diponegoro:Semarang.

Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS
23 Edisi 8. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gunawan. 2016. “Pengaruh Pertumbuhan Penjualan, DER, GDP, Suku Bunga SBI
dan Harga Emas Dunia Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar di BEI Pada Tahun 2008-2012”. Jurnal Profita
Edisi 2.

Halim, Abdul. 2015. Analisis Investasi di Aset Keuangan. Jakarta : Mitra Wacana
Media.

Harmono. 2014. Manajemen Keuangan Berbasis Balanced Scorecard. Jakarta :


Bumi Aksara.

Hartono, Jogiyanto. 2017. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kesebelas.
BPFE. Yogyakarta.

124
Hashemijoo, dkk. 2012. “The Impact of Dividend Policy on Share Price Volatility
in the Malaysian Stock Market”. Journal of Business Studies Quarterly. Vol.
4 No. 1.

Hermuningsih, Sri. 2012. Pengantar Pasar Modal Indonesia. Yogyakarta: UPP


STIM YKPN.

Husnan, Suad. 2008. Manajemen Keuangan : Teori Dan Penerapan Buku 1. Edisi
4. BPFE. Yogyakarta.

Husnan, Suad. 2015. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi 5.
Yogyakarta : UPPN STIM YKPN.

Jogiyanto, Hartono. 2010. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta:


BPFE

Jogiyanto, Hartono. 2015. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta:


BPFE.

Kamaludin dan Indiani. 2012. Manajemen Keuangan Konsep Dasar dan


Penerapannya. Bandung: Mandar Maju

Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Kasmir. 2014. Manajemen Perbankan. Edisi Revisi. Jakarta:Rajawali Pers.

Kasmir. 2016. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajawali Pers.

Kohansal, Mohammad Reza, Amir Dadrasmoghaddam, Komeil Mahjori Karmozdi,


and Abolfazl Mohseni. 2013. “Relationship between Financial Ratios and
Stock Prices for the Food Industry Firms in Stock Exchange of Iran”.World
Applied Programming, Vol 3, Issue 10.

Kumaidi, Rizky Kusuma dan Nadia Asandimitra. 2017. “PENGARUH ROA, ROE,
DER, DPR, DAN LDR TERHADAP HARGA SAHAM SEKTOR
PERBANKAN BEI PERIODE 2011 – 2016”. Jurnal Ilmu Manajemen Vol.
5 No. 3 – Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Surabaya

125
Mamduh dan Abdul Halim. 2009. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta:UPP
STIM YKPN.

Megawati, Salma Bela. 2018.“Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham


Pada Perusahaan Telekomunikasi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Tahun 2012-2016”. Jurnal Pendidikan Ekonomi, Vol. 7 No. 5.

Mufreni, Alfin NF dan Dhea Amanah. 2015. “Pengaruh Kapitalisasi Pasar dan
Likuiditas Saham Terhadap Harga Saham Pada PT. Astra International
Tbk.” Jurnal Ekonomi Manajemen Vol.1 No.1.

Mulyono. 2016. “The Effects Of Financial Ratio And Market Based Ratio Toward
The Stock Price Of Manufacturing Industry Sector in Indonesia Stock
Exchange”. Binus Business Review Vol. 6 No. 3 November 2015.

Mulyono, dkk. 2018. “The Effect of Corporate Governance and Firm Performance
on Stock Price: An Empirical Study on Indonesia Stock Exchange”. Binus
Business Review Vol. 9 No. 1.

Musbitul, Hasanah. 2012. Kapitalisasi Pasar Indonesia. Edisi ke 6.


BPFE:Yogyakarta.

Nahoji, S. J. M., Abadi, H. R. D., Rafat, B. 2014. “The relationship between stock
prices and debt ratio and Capital flows with assets”. Interdisciplinary
Journal of Contemporary Research In Business. Vol 6, No 1.

Nugraha, Rheza Dewangga dan Budi Sudaryanto. 2016. “Analisis Pengaruh DPR,
DER, ROE, dan TATO Terhadap Harga Saham (Studi Kasus pada
Perusahaan Industri Dasar dan Kimia yang Terdaftar di BEI Periode 2010-
2014)”. Diponegoro Journal of Management. Volume 5 Nomor 4.

Pranata, Dany dan Diyah Pujiati. 2015. “The Effect Of Liquidity, Profitability, Sales
Growth, And Dividend Policy On Stock Prices After The Implementation Of
IFRS”. The Indonesian Accounting Review Vol. 5, No.2.

126
Pranata, Gede; Purnamawati I Gusti Ayu dan Adiputra I Made Pradana. 2015.
“Pengaruh Tarif Pajak Dan Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham
(Studi Kasus pada PT. Telekoomunikasi Indonesia, Tbk Periode 2001-
2014)” e-journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha, Vol 3, No 1,
Tahun 2015.

Prasanjaya, Yogi. 2012. "Analisis Pengaruh Rasio CAR, BOPO ,LDR Dan Ukuran
Perusahaan Terhadap Profitabilitas Bank Yang Terdaftar di BEI." E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana 4.1

Prihadi, Toto. 2012. Analisis Laporan Keuangan Lanjutan Proyeksi Dan Valuasi.
Jakarta: PPM

Purnomo, dkk. 2013. Pasar Uang dan Pasar Valas. Jakarta. PT Gramedia Pustaka
Utama

Putri, Rahmawati. 2016. “Analisis Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan


Penjualan, Dividen dan Economic Value Added terhadap Harga Saham di
Perusahaan Manufaktur (Studi Empiris Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2011-2014)”. Naskah Publikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Rahmadewi, Pande Widya dan Abundanti, Nyoman. 2018. “Pengaruh EPS, PER,
CR dan ROE Terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia”. E-Jurnal
Manajemen Unud, Vol. 7, No. 4.

Ridwan, Muchamad dan Diyani, Lucia Ari. 2018. “Pengaruh Rasio Keuangan dan
Pertumbuhan Penjualan Terhadap Harga Saham”. Kalbisocio,Volume 5 No.
1.

Rizkiyanto, Bayu Angga. 2015. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga


Saham pada Perusahaan Telekomunikasi di BEI. Jurnal Ilmu dan Riset
Manajemen.Surabaya:Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA).

Rodoni, Ahmad dan Herni Ali. 2014. Manajemen Keuangan Modern. Jakarta:Mitra
Wacana Media.

127
Sartono, Agus. 2014. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi.Yogyakarta:BPFE.

Setyorini. 2016. "Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE),dan


Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Perusahaan Real Estate
di Bursa Efek Indonesia (Studi Kasus Pada 20 Perusahaan 20 Perusahaan
Periode 2011-2015)." Journal Of Management Volume 02 Nomor 2.

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung :


Alfabeta, CV.

Sulia. 2017. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham Pada


Perusahaan LQ45 Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Volume 7,
Nomor 02.

Sunariyah. 2011. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Penerbit UNIT PENERBIT


& PERCETAKAN: Yogyakarta

Surya, Yusuf Yoga Adi. 2016. ”Analisis Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan
Penjualan dan Dividen Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan
Consumer Goods (Studi Empiris pada Perusahaan Layanan Telekomunikasi
di Bursa Efek Indonesia Tahun 2011-2015)”. Jurnal Kajian Bisnis Vol. 24
No. 2.

Sutapa, I Nyoman. 2018. “Pengaruh Rasio dan Kinerja Keuangan Terhadap Harga
Saham Pada Indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2015-
2016”. Jurnal Krisna Vol. 9 No. 2.

Sutrisno. 2013. Manajemen Keuangan Teori Konsep & Aplikasi. Yogyakarta:


Ekonisia.

Suwarti, Sunarto, Widati, dan Octavianus Sianto. 2013. “Pengaruh Kinerja


Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kinerja Lingkungan Sebagai
Variabel Moderas (Studi pada Perusaaah Manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia)”. Fakultas Ekonomi, Universitas STIKUBANK
Semarang.

128
Suyatna, Oggy Bagus dan Mohamad Rafky Nazar. 2015. “Pengaruh Return On
Equity, Pertumbuhan Penjualan, Dividen, dan Inflasi terhadap Harga Saham
pada Perusahaan Food and Beverage (Studi Empiris di BEI 2009-2013)”. e-
Proceeding of Management : Vol.2, No.2 Agustus.

Tampubolon, Manahan P. 2013. Manajemen Keuangan (Finance Management).


Jakarta : Mitra Wacana Media.

Tyas, Rizqi Aning dan Rishi Septa Saputra. 2016. “Analisis Pengaruh Profitabilitas
Terhadap Harga Saham”. Jurnal Online Insan Akuntan Vol.1, No.1.

Undang-undang Pasar Modal no.8 tahun 1995

Utari, Dewi, Purwanti, Ari dan Prawironegoro, Darsono et al. 2014. Manajemen
Keuangan. Jakarta: Mirawacanamedia.

Wiagustini, Luh Putu. 2014. Dasar-dasar Manajemen Keuangan.


Denpasar:Udayana University Press.

Widayanti, Rita dan Fredella Colline. 2017. “Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap
Harga Saham Perusahaan LQ 45 Periode 2011-2015”. Bina Ekonomi
Volume 21 Nomor 1.

Wijaya, A. P., Raden R. H., dan Achmad Husaini. 2015. “Analisis Fundamental
Dengan Pendekatan Dividend Discount Model (DDM) Untuk Menilai
Kewajaran Harga Saham. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol. 26 No. 2.

Winarno, Wing Wahyu. 2015. Analisis Ekonometrika dan statistika dengan Eviews.
Edisi Keempat. UPP STIM YKPN: Yogyakarta.

Yuliana, Indah. 2010. Investasi Produk Keuangan Syariah; UINMALIKIPRESS:


Malang.

Zaki, Muhammad, dkk. 2017. “Pengaruh Profitabilitas, Leverage Keuangan dan


Ukuran Perusahaan Terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2014)”.

129
Jurnal Megister Akuntansi Pascasarjana Universitas of Syiah Kuala Vol.6
No.2

Zuliarni, Sri. 2012. “Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada
Perusahaan Mining and Mining Service di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
Jurnal Aplikasi Bisnis Vol 3. No. 1.

www.asean.org

www.bursamalaysia.com

www.ekonomi.kompas.com

www.hsx.vn

www.idx.co.id

www.ojk.go.id

www.pse.com

www.set.or.th

www.sgx.com

www.yahoo.finance.com

130
LAMPIRAN

Lampiran 1 : Daftar Sampel Perusahaan

No. Nama Perusahaan

1. DBS Bank (Singapura)

2. OCBC Bank (Singapura)

3. Bank Central Asia (Indonesia)

4. UOB (Singapura)

5. Maybank (Malaysia)

6. Bank Rakyat Indonesia (Indonesia)

7. Bank Mandiri (Indonesia)

8. Public Bank (Malaysia)

9. CIMB (Malaysia)

10. KasikornBank (Thailand)

131
Lampiran 2 : Daftar Harga Saham Perusahaan Yang Menjadi Sampel
Periode 2008-2017

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 64069 102700 100564 80537 117114 164740 192458 162309 161302 252076
OCBC 36828 59136 67347 53132 74499 95376 97724 85579 82977 125683
BCA 3250 4850 6400 8000 9200 9600 13125 13300 15500 21900
UOB 98310 132100 127811 106754 156337 204624 229174 190705 189767 268306
Maybank 14460 18883 24795 24542 28995 37047 32481 26975 24626 32855
BRI 458 765 1050 1350 1390 1450 2330 2285 2335 3640
Bank Mandiri 996 2311 3196 3375 3900 3925 5388 4625 5788 8000
Public Bank 24784 28380 35152 38272 51308 69787 64821 59472 59224 69665
CIMB 9219 17672 24796 21282 24047 28286 19694 14579 13545 21925
KasikornBank 14176 24047 37454 35046 60923 58248 86739 57475 66705 96673
Mean 26655 39084 42856 37229 52771 67308 74393 61730 62177 90072
Maximum 98310 132100 127811 106754 156337 204624 229174 190705 189767 268306
Minimum 458 765 1050 1350 1390 1450 2330 2285 2335 3640

Lampiran 3 : Rasio Keuangan

a. Current Ratio

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 107,24 109,81 110,88 108,78 109,34 108,62 108,36 108,68 109,27 109,25
OCBC 109,96 109,40 110,30 113,56 115,74 114,84 116,11 117,20 115,28 112,75
BCA 109,12 109,49 110,55 111,29 111,93 113,45 115,05 116,53 117,99 119,53
UOB 104,71 107,01 107,69 107,20 107,79 107,29 108,13 108,04 107,98 109,32
Maybank 109,62 112,45 112,85 112,30 113,55 111,72 113,01 116,13 117,16 118,09
BRI 109,98 109,37 111,19 112,47 113,78 116,24 114,81 116,05 115,32 115,25
Bank Mandiri 107,97 110,42 111,03 124,20 126,07 126,50 127,02 128,89 127,29 128,07
Public Bank 106,79 108,15 104,70 103,65 104,64 104,57 106,28 106,31 107,04 107,74
CIMB 111,53 111,81 111,94 111,00 112,30 113,48 114,33 114,23 115,93 119,28
KasikornBank 106,83 103,92 101,11 107,21 107,59 108,22 110,01 108,03 111,15 112,39
Mean 108,38 109,18 109,22 111,17 112,27 112,49 113,31 114,01 114,44 115,17
Maximum 111,53 112,45 112,85 124,20 126,07 126,50 127,02 128,89 127,29 128,07
Minimum 104,71 103,92 101,11 103,65 104,64 104,57 106,28 106,31 107,04 107,74

132
b. Return On Equity

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 10,12 8,44 10,20 11,00 11,20 10,80 10,90 11,20 10,10 9,70
OCBC 11,80 12,20 12,10 11,30 17,90 11,60 14,80 12,30 10,00 11,20
BCA 30,20 31,80 33,30 33,50 30,40 28,20 25,50 21,90 20,50 19,20
UOB 12,20 11,90 14,30 11,10 12,40 12,30 12,30 11,00 10,20 10,20
Maybank 15,20 3,10 14,50 15,20 16,00 15,10 13,80 12,20 10,60 10,90
BRI 34,50 35,22 43,83 42,49 38,66 34,11 31,22 29,89 23,08 20,03
Bank Mandiri 18,10 22,10 24,40 22,00 22,60 22,23 20,95 18,33 9,66 12,90
Public Bank 30,40 26,10 27,10 26,80 24,50 22,40 19,90 17,80 16,50 15,80
CIMB 12,30 15,00 16,30 16,40 16,00 15,50 9,20 7,30 8,30 9,60
KasikornBank 14,35 12,58 15,73 16,72 20,76 20,45 19,38 14,54 13,23 10,24
Mean 18,92 17,84 21,18 20,65 21,04 19,27 17,80 15,65 13,22 12,98
Maximum 34,50 35,22 43,83 42,49 38,66 34,11 31,22 29,89 23,08 20,03
Minimum 10,12 3,10 10,20 11,00 11,20 10,80 9,20 7,30 8,30 9,60

c. Total Asset Turn Over

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 2,35 2,55 2,49 2,24 2,28 2,22 2,18 2,36 2,39 2,30
OCBC 2,44 2,48 2,32 2,04 2,69 1,96 2,08 2,24 2,07 3,12
BCA 6,60 6,81 6,25 6,30 6,23 6,80 7,43 7,05 7,95 7,59
UOB 2,87 2,91 2,71 2,41 2,57 2,36 2,43 2,55 2,37 2,47
Maybank 6,00 5,66 5,51 5,11 5,56 5,93 5,58 5,73 6,07 5,96
BRI 2,58 3,12 3,69 3,99 4,33 3,46 3,85 3,70 3,39 3,29
Bank Mandiri 5,55 5,69 6,40 6,44 6,60 6,81 6,65 6,61 6,55 9,27
Public Bank 5,35 4,47 4,88 5,11 5,12 4,99 4,88 5,27 5,29 5,28
CIMB 3,74 4,45 4,38 4,04 4,00 3,96 3,42 3,34 3,31 3,48
KasikornBank 4,99 5,20 4,86 5,25 5,02 5,28 5,80 5,77 5,39 5,41
Mean 4,25 4,33 4,35 4,29 4,44 4,38 4,43 4,46 4,48 4,82
Maximum 6,60 6,81 6,40 6,44 6,60 6,81 7,43 7,05 7,95 9,27
Minimum 2,35 2,48 2,32 2,04 2,28 1,96 2,08 2,24 2,07 2,30

133
Lampiran 4 : Pertumbuhan Perusahaan

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 10,20 0,75 9,69 20,14 3,58 13,87 9,62 3,90 5,18 7,50
OCBC 3,88 7,12 18,00 21,14 6,55 14,36 18,55 7,30 5,05 10,99
BCA 12,64 14,99 14,88 17,72 15,99 12,03 11,31 7,45 13,86 10,87
UOB 7,51 1,44 15,20 10,84 6,73 12,39 7,92 3,02 7,60 5,46
Maybank 7,00 15,47 8,35 15,00 9,58 13,24 14,27 10,63 3,90 3,99
BRI 20,78 28,80 26,58 16,23 17,33 13,57 28,07 9,53 14,25 12,22
Bank Mandiri 12,33 10,09 13,98 22,70 15,17 15,34 16,63 6,43 14,14 8,30
Public Bank 12,64 10,69 4,23 10,20 9,60 11,24 13,08 5,22 4,48 4,01
CIMB 13,09 15,88 12,24 11,43 12,45 10,24 11,66 11,45 5,24 4,27
KasikornBank 31,07 4,18 13,50 11,40 20,58 10,23 4,33 6,96 11,37 2,02
Mean 13,11 10,94 13,67 15,68 11,76 12,65 13,54 7,19 8,51 6,96
Maximum 31,07 28,80 26,58 22,70 20,58 15,34 28,07 11,45 14,25 12,22
Minimum 3,88 0,75 4,23 10,20 3,58 10,23 4,33 3,02 3,90 2,02

Lampiran 5 : Dividend Payout Ratio

Nama Bank 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
DBS 60,75 62,22 49,20 43,08 35,67 38,67 35,58 33,90 36,14 40,40
OCBC 58,00 46,00 44,00 45,00 40,00 42,00 39,00 38,00 43,00 37,00
BCA 42,40 39,40 32,30 25,60 24,00 20,80 22,10 21,90 23,90 27,00
UOB 47,00 50,42 41,18 41,00 39,00 39,00 37,00 45,00 37,00 49,00
Maybank 60,40 61,40 76,50 74,90 74,70 71,90 78,50 76,30 78,10 78,50
BRI 35,00 30,00 20,00 20,00 30,00 30,00 30,00 40,00 40,00 45,00
Bank Mandiri 35,00 35,00 35,00 20,00 30,00 30,00 25,00 30,00 45,00 45,00
Public Bank 53,20 56,60 52,30 48,30 45,30 44,80 46,10 42,70 43,00 43,10
CIMB 35,80 23,30 54,90 40,60 40,00 40,00 40,00 42,00 49,00 51,00
KasikornBank 32,33 41,88 32,14 27,00 22,12 22,32 22,51 27,83 26,96 32,80
Mean 45,99 44,62 43,75 38,55 38,08 37,95 37,58 39,76 42,21 44,88
Maximum 60,75 62,22 76,50 74,90 74,70 71,90 78,50 76,30 78,10 78,50
Minimum 32,33 23,30 20,00 20,00 22,12 20,80 22,10 21,90 23,90 27,00

134
Lampiran 6 : Hasil Output Uji Asumsi Klasik

Uji Normalitas
14
Series: Standardized Residuals
12 Sample 2008 2017
Observations 100
10
Mean -2.22e-18
Median -0.020236
8
Maximum 0.309629
Minimum -0.337403
6
Std. Dev. 0.135524
Skewness -0.055500
4
Kurtosis 2.562590

2 Jarque-Bera 0.848533
Probability 0.654249
0
-0.3 -0.2 -0.1 0.0 0.1 0.2 0.3

Uji Multikolinearitas

Variance Inflation Factors


Date: 03/18/19 Time: 15:57
Sample: 1 100
Included observations: 100

Coefficient Uncentered Centered


Variable Variance VIF VIF

CR 5.69E-05 507.1102 1.229807


ROE 3.38E-05 9.315080 1.679803
TATO 0.000658 10.49551 1.365361
GA 5.48E-05 6.424336 1.369380
DPR 8.62E-06 11.70347 1.248749
C 0.707988 502.4984 NA

135
Uji Autokorelasi (Uji Durbin-Watson)

Dependent Variable: Log(Harga Saham)


Method: Panel Least Squares
Date: 03/18/19 Time: 15:27
Sample: 2008 2017
Periods included: 10
Cross-sections included: 10
Total panel (balanced) observations: 100

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

CR 0.022803 0.005115 4.458070 0.0000


ROE -0.008872 0.004099 -2.164561 0.0332
TATO 0.082646 0.036548 2.261323 0.0263
GA -0.006441 0.003162 -2.036911 0.0448
DPR -0.007294 0.002232 -3.267613 0.0016
C 2.004697 0.592614 3.382807 0.0011

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.957967 Mean dependent var 4.390000


Adjusted R-squared 0.951044 S.D. dependent var 0.661032
S.E. of regression 0.146260 Akaike info criterion -0.869380
Sum squared resid 1.818319 Schwarz criterion -0.478605
Log likelihood 58.46902 Hannan-Quinn criter. -0.711227
F-statistic 138.3731 Durbin-Watson stat 1.081642
Prob(F-statistic) 0.000000

136
Uji Durbin-Watson Perbaikan

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

CR -0.002360 0.005655 -0.417391 0.6776


ROE 0.000126 0.003599 0.034908 0.9722
TATO 0.065257 0.024542 2.659021 0.0096
GA 0.001166 0.001747 0.667734 0.5064
DPR 0.002263 0.001842 1.228683 0.2231
C 4.438461 0.702050 6.322148 0.0000
AR(1) 0.672842 0.060449 11.13071 0.0000

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.984376 Mean dependent var 4.431111


Adjusted R-squared 0.981209 S.D. dependent var 0.640783
S.E. of regression 0.087838 Akaike info criterion -1.866832
Sum squared resid 0.570949 Schwarz criterion -1.422422
Log likelihood 100.0075 Hannan-Quinn criter. -1.687620
F-statistic 310.8255 Durbin-Watson stat 2.020146
Prob(F-statistic) 0.000000

Inverted AR Roots .67

Uji Heteroskedastisitas (Uji White)


Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 0.991056 Prob. F(20,79) 0.4819


Obs*R-squared 20.05757 Prob. Chi-Square(20) 0.4543
Scaled explained SS 35.75268 Prob. Chi-Square(20) 0.0164

137
Lampiran 7 : Uji Statistik Deskriptif
Date: 03/18/19
Time: 09:12
Sample: 2008 2017

HARGA
SAHAM CR ROE TATO GA DPR

Mean 55427.67 111.9641 17.85340 4.422564 11.40125 41.33695


Median 28687.16 111.0149 15.20000 4.460273 11.27368 40.00000
Maximum 268306.2 128.8898 43.83000 9.270000 31.07000 78.50000
Minimum 458.0000 101.1095 3.100000 1.960000 0.750000 20.00000
Std. Dev. 61820.04 5.548624 8.416277 1.719080 5.963938 14.35829
Skewness 1.519930 1.172297 1.066856 0.259888 0.840969 0.915264
Kurtosis 4.774595 4.529316 3.516729 2.128342 4.096027 3.627936

Jarque-Bera 51.62476 32.64970 20.08222 4.291475 16.79247 15.60474


Probability 0.000000 0.000000 0.000044 0.116982 0.000226 0.000409

Sum 5542767. 11196.41 1785.340 442.2564 1140.125 4133.695


Sum Sq. Dev. 3.78E+11 3047.936 7012.538 292.5685 3521.287 20409.88

Observations 100 100 100 100 100 100

Lampiran 8 : Uji Chow

Redundant Fixed Effects Tests


Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects

Effects Test Statistic d.f. Prob.

Cross-section F 59.345557 (9,85) 0.0000


Cross-section Chi-square 198.563173 9 0.0000

Lampiran 9 : Uji Hausman


Correlated Random Effects - Hausman Test
Equation: Untitled
Test cross-section random effects

Chi-Sq.
Test Summary Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.

Cross-section random 78.389949 5 0.0000

138
Lampiran 10 : Analisis Regresi Panel
Dependent Variable: Log(Harga Saham)
Method: Panel Least Squares
Date: 03/18/19 Time: 15:27
Sample: 2008 2017
Periods included: 10
Cross-sections included: 10
Total panel (balanced) observations: 100

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

CR 0.022803 0.005115 4.458070 0.0000


ROE -0.008872 0.004099 -2.164561 0.0332
TATO 0.082646 0.036548 2.261323 0.0263
GA -0.006441 0.003162 -2.036911 0.0448
DPR -0.007294 0.002232 -3.267613 0.0016
C 2.004697 0.592614 3.382807 0.0011

Effects Specification

Cross-section fixed (dummy variables)

R-squared 0.957967 Mean dependent var 4.390000


Adjusted R-squared 0.951044 S.D. dependent var 0.661032
S.E. of regression 0.146260 Akaike info criterion -0.869380
Sum squared resid 1.818319 Schwarz criterion -0.478605
Log likelihood 58.46902 Hannan-Quinn criter. -0.711227
F-statistic 138.3731 Durbin-Watson stat 1.081642
Prob(F-statistic) 0.000000

139