Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA BERMAIN

TERAPI BERMAIN TEBAK WARNA DAN GAMBAR HEWAN


PADA ANAK UMUR 3-5 TAHUN
KEPERAWATAN ANAK

DOSEN PEMBIMBING :

Dr. APRINA, S. Kp., M. Kes

DISUSUN OLEH :

TAHSYA RIA SHAFIRA (1814401112)

TINGKAT 2/ REGULER 3

PRODI DIII KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNG KARANG

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG

TAHUN AJARAN 2019/2020


SATUAN ACARA BERMAIN
TERAPI BERMAIN TEBAK WARNA DAN GAMBAR HEWAN

Pokok Bahasan : Terapi Bermain


Sub Pokok Bahasan : Terapi Bermain pada Anak di Rumah Ny. L, Simpang Serdang, Way
Mengaku dengan permainan Tebak Warna dan Gambar
Sasaran : Anak usia pra sekolah (3-5 tahun)
Hari, Tanggal : Jumat, 12 April 2020
Tempat : Di Rumah Ny. L, Simpang Serdang, Way Mengaku
Waktu : Pukul 09.00-09.20 WIB (20 Menit)
Pelaksana : Tahsya Ria Shafira (Mahasiswa DIII Keperawatan TJK)
Jumlah Anak : 1 orang

A. Latar Belakang

Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya
yang tidak disadari (Wholey and Wong, 1991). Bermain adalah suatu kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan (Foster, 1989). Bermain
adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan
tanpa mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock).
Kesimpulan : Bermain merupakan bahasa dan keinginan dalam mengungkapkan
konflik dari anak yang tidak disadarinya serta dialami dengan kesenangan yang diekspresikan
melalui bio-psiko-sosio yang berhubungan dengan lingkungan tanpa mempertimbangkan
hasil akhir. Klasifikasi dalam permainan ini adalah social affective play dimana anak belajar
memberi respon dan berhubungan dengan orang lain terhadap respon yang diberikan oleh
lingkungan dalam bentuk permainan.
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kepuasan. Aktivitas bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi anak,
meskipun hal tersebut tidak meghasilkan komoditas tertentu.
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak secara
optimal. Oleh karena itu dalam memilih alat bermain hendaknya disesuaikan dengan jenis
kelamin dan usia anak. Sehingga dapat merangsang perkembangan anak secara optimal.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan terapi bermain tebak gambar pada pasien anak di Rumah Ny. L,
Simpang Serdang, Way Mengaku, diharapkan dapat melanjutkan proses tumbuh kembang
anak, mempertahankan dan meningkatkan kreativitas serta imajinasi anak

2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti terapi bermain mengenal warna dan gambar hewan selama 15
menit, diharapkan anak mampu :
a. Menyalurkan energi anak
b. Mengembangkan aktivitas dan respon anak melalui menebak warna dan gambar
c Anak dapat menebak warna
d. Anak dapat menebak gambar hewan

C. Manfaat Terapi Bermain


1. Untuk anak-anak sebagai salah satu terapi untuk menghilangkan kejenuhan dan
meningkatkan potensi pada anak
2. Sebagai sarana orang tua untuk mengetahui suasana hati anak saat bermain.

D. Perencanaan
1. Jenis program bermain :
a. Menebak gambar
2. Karakteristik permainan :
a. Mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak
3. Karakteristik peserta
a. Usia 3-5 tahun
b. Keadaan umum baik dan kooperatif
c. Posisi duduk
4. Sasaran
a. Sasaran terapi kreativitas ini adalah anak-anak usia pra sekolah (3-5 tahun) di Rumah
Ny. L, Simpang Serdang, Way Mengaku

E. METODE
1. Tanya jawab
F. Media

1. Kertas HVS
2. Gambar warna dan hewan

G. Setting tempat (gambar / denah ruangan)

Keterangan :

1. Pemimpin bermain :

2. Anak :

H. Rencana Pelaksanaan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Bermain Kegiatan Peerta


.
1. 3 Menit Pembukaan : 1. Menjawab salam
2. Memperhatikan dan
1. Membuka kegiata dengan mendengarkan
mengucapkan salam 3. Menutujui kontrak waktu
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan dari terapi
bermain
4. menjelaskan tujuan terapi
bermain
5. kontrak waktu

2. 10 Menit Pelaksanaan : 1. Mendengarkan dan


Memperhatikan selama
1. Menanyakan nama anak, Kegiatan berlangsung
umur dan lagu kesukaannya 2. Aktif menjawab dan
2. Anak menyanyikan lagu Menebak gambar pada
kesukaannya Media yang diberikan
3. Memulai permainan tebak warna 3. Mengikuti kegiatan sampai
dan gambar hewan akhir
4. Meminta respon dan tanggapan
Anak
5. Memberikan Reinfocement
Positif jika anak bisa mengikuti
permainan
3. 3 Menit Evaluasi :

1. Menanyakan kepada anak


Bagaimana perasaannya setelah
Bermain tebak warna dan
Gambar hewan
2. Mengevaluasi respon peserta
sebelum dan setelah bermain
tebak warna dan gambar hewan

4. 2 Menit Penutup :

1. Mengakhiri permainan
2. Membacakan kesimpulan
Dari kegiatan terapi bermain
Yang telah dilakukan
3. Mengucapkan terimakasih atas
Partisipasi ibu dan anak
Yang telah mengikuti proses
Terapi bermain sampai selesai
4. Mengucapkan salam Penutup

5. 2 Menit Terminasi :

1. Menyiapkan laporan hasil terapi


bermain

I. Kriteria Evaluasi
1. Kriteria Struktur
a. Kesiapan materi
b. Kesiapan SAK
c. Kesiapan media: Kertas HVS, Gambar warna dan hewan
d. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa
e. Tempat dan alat tersedia sesuai perencanaan
f. Peserta hadir di tempat penyuluhan
g. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Rumah Ny. L, Simpang Serdang, Way
Mengaku
h. Pengorganisasian penyelenggaraan terapi bermain dilakukan minimal 2 hari
sebelumnya
2. Kriteria Proses
a. Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan
b. Peserta antusias dan aktif terhadap terapi bermain yang disampaikan oleh penyaji
c. Peserta terlibat aktif dalam kegiatan terapi bermain
d. Suasana terapi bermain tertib
e. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat kegiatan
3. Kriteria Hasil
a. Peserta yang datang sejumlah 1 orang
b. Anak Di Rumah Ny. L, Simpang Serdang, Way Mengaku mengikuti permainan dari
awal sampai selesai
Lampiran Materi

Terapi Bermain Tebak Gambar

A. Pengertian

Tumbuh kembang anak usia pra-sekolah akhir (3-5 tahun) merupakan pertumbuhan
dimana anak berada pada fase inisiatif kontra masa bersalah (initiative vs guilty). Sedangkan
menurut Sigmund Freud anak berada pada fase phalik, yaitu dimana anak mulai mengenal
perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki.

Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang tidak
disadari. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk
memperoleh kesenangan. Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang
ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir

B. Fungsi Bermain

Menurut Wong (1996), fungsi bermain bagi anak meliputi:


1. Perkembangan sensori motorik
Bermain penting untuk mengembangkan otot dan energi. Komponen yang paling baik
untuk semua umur terutama bayi. Anak mengeksplorasi alam sekitarnya:
a. Bayi melalui stimulasi taktil (sentuhan), audio, dan visual
b. Toddler dan pra-sekolah melalui gerakan tubuh yang lebih terkoordinasi
c. Sekolah dan remaja memodifikasi gerakan tubuh lebih terkoordinasi dan rumit, contohnya
berlari dan bersepeda
2. Perkembangan intelektual / kognitif
a. Anak belajar berhubungan dengan lingkungannya, belajar mengenal objek dan bagaimana
menggunakannya
b. Anak belajar berpikir abstrak dapat meningkatkan kemampuan bahasa, dapat mengatasi
masalah dan menolong anak membandingkan antara fantasi dan realita
3. Sosialisasi
a. Dengan bermain akan mengembangkan dan memperluas sosialiasi anak, sehingga anak
cepat mengatasi persoalan yang akan timbul dalam hubungan sosial.
b. Dengan sosialisasi, akan berkembang nilai-nilai normal dan etik. Anak belajar yang benar
dan salah serta bertanggung jawab atas kehendaknya
1). Bayi
Perhatian dan rasa senangnya akan kehadiran orang lain dimana kontak sosial pertama
anak adalah figur ibu
2). Sampai usia 1 tahun

Bayi memeriksa bayi lain, memeriksa objek di lingkungan

3). Usia Toddler

Permainan pura-pura dengan ibu dan anak, dokter dan pasien, penjual dan pembeli.

Kemudian meluas teman sementara dan teman sepermainannya

4). Usia Pra-Sekolah

Sadar akan keberadaan teman sebaya, mengidentifikasi ciri yang ada pada setiap

Bermainnya

5). Usia Sekolah

Teman 1 atau 2 orang yang disukai, belajar memberi dan menerima, belajar peran

benar atau salah, nilai moral dan etik, mulai memahami tanggung jawab dari

tindakannya

4. Kreativitas

Melalui bermain, anak menjadi kreatif, anak mencoba ide-ide baru dalam bermain. Kalau

anak merasa puas dari kreatifitas baru, maka anak akan mencoba pada situasi yang lain

a. Nilai terapeutik

Untuk melepaskan stres dan ketegangan

b. Kesadaran diri

Anak akan sadar tentang kemampuan dan kelemahannya serta tingkah lakunya
c. Nilai moral

Belajar salah / benar dari kultur, rumah, sekolah, dan interaksi. Contoh bila ingin

diterima sebagai anggota kelompok, anak harus mematuhi kode perilaku yang diterima secara

kultur, adil, jujur, kendali diri dan mempertimbangkan kepentingan orang lain

C. Tujuan Bermain

Melalui fungsi yang terurai di atas, pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan
sebagai berikut:
1. Melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal, pada saat sakit anak
mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Walaupun demikian,
selama anak dirawat di rumah sakit kegiatan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan
masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya
3. Mengembangkan kreatifitas dan kemampuannya memecahkan masalah
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stres karena sakit dan dirawat di rumah sakit

D. Ciri Bermain

1. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik, maksud muncul atas keinginan pribadi serta
untuk kepentingan sendiri
2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi yang
positif
3. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktifitas ke aktifitas yang
lain
4. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir
5. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain
anak pada anak-anak kecil

E. Macam-macam Bermain

1. Bermain Aktif

Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat
oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)

Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut,
memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadang-
kadang berusaha membongkar.

b. Bermain konstruksi (Construction Play)

Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumahrumahan.

c. Bermain drama (Dramatic Play)

Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan temantemannya.

d. Bermain fisik

Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.

2. Bermain Pasif

Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan mendengar. Permainan
ini cocok apabila anak sudah lelah bermain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi
kebosanan dan keletihannya.

Contoh : Melihat gambar di buku/majalah, mendengar cerita atau musik, menonton televisi,
dsb.

F. Alat Permainan Edukatif (APE)

Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan
perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta
berguna untuk :

1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau


merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus. Contoh alat
bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik
halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.

2 .Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang


benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna, dll.
Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio,
dll.

4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan
anak, keluarga dan masyarakat. Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai
bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.

G. Hal-Hal Yang Harus di Perhatikan Dalam Bermain

1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.

2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.

3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada keterampilan
yang lebih majemuk.

4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.

5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

H. Bentuk-Bentuk Permainan

1. Usia Pra sekolah


Alat permainan yang dianjurkan :
1. Alat olah raga.
2. Alat masak.
3. Alat menghitung.
4. Sepeda roda tiga.
5. Benda berbagai macam ukuran.
6. Boneka tangan.
7. Mobil.
8. Kapal terbang.

9. Kapal laut dsb.

I. Klasifikasi Bermain
1. Menurut Isi Permainan
a). Social Affectif Play
- Permainan yang membuat anak belajar berhubungan dengan orang lain.
- Contoh: orang tua berbicara, memluk, bersenandung. anak memberi respon dengan
tersenyum, mendengkur, tertawa, beraktifitas, dll
b). Sense Pleasure Play
- Bermain untuk bersenang-senang
- Contoh: obyek, cahaya, bau, rasa, benda alam, dan gerakan tubuh
c). Skill Play
- Bermain yang sifatnya membina keterampilan
- Contoh : berulang kali melakukan dan melatih kemampuan yang baru didapat, seperti naik
Sepeda
d). Dramatic Role Play
- Dimulai pada akhir masa bayi 11-13 bulan
- Contoh: berpura-pura melakukan kegiatan keluarga seperti makan, minum, dan tidur
- Pada usia Toddler, kegiatan berupa hal-hal yang lebih dikenalnya
- Pada usia Pra-Sekolah, kegiatan sehari-hari tetapi lebih rumit
e). Game
- Contoh: Puzzle, komputer games, dan video
2. Menurut Karakteristik Sosial
a). On Looker Play
- Mengamati, anak melihat apa yang dilakukan anak lain tetapi tidak ada usaha untuk ikut
bermain
- Contoh: menonton televisi
b). Solitary
- Mandiri, anak bermain sendiri
- Menyukai kehadiran orang lain tapi tidak ada usaha untuk mendekat atau berbicara, hanya
terpusat pada aktifitas / permainannya sendiri
c). Parallel Play
- Bernain sendiri di tengah anak lainnya, tidak ada asosiasi kelompok (ciri bermain anak
Toddler)
d). Association Play
- Bermain dan beraktifitas serupa bersama, tetapi tidak ada pembagian kerja, pemimpin /
tujuan bersama
- Anak berinteraksi dengan saling meminjam alat permainan (ciri bermain anak Pra-Sekolah)
e). Cooperative Play
- Bermain dalam kelompok, ada perasaan kebersamaan / sebaliknya, terbentuk hubungan
pemimpin dan pengikut
- Ada tujuan yang ditetapkan dan ingin dicapai
3. Menurut Usia Anak Pra-Sekolah
a). Usia 4 tahun
- Motorik kasar: berjalan berjinjit, melompat dengan satu kaki, menangkap bola dan
melemparkannya dari atas kepala
- Motorik halus: Sudah bisa menggunakan gunting dengan lancar, sudah bisa menggambar
kotak, menggambar garis vertikal maupun horizontal, belajar membuka dan memasang
kancing baju
b). Usia 5 tahun
- Motorik kasar: berjalan mundur sambil berjinjit, sudah dapat menangkap dan melempar
bola dengan baik, sudah dapat melompat dengan kaki secara bergantian
- Motorik halus: menulis dengan angka-angka, belajar menulis nama, belajar mengikat tali
sepatu
- Status emosional: bermain sendiri mulai berkurang, sering berkumpul dengan teman sebaya,
interaksi sosial selama bermain meningkat, sudah siap untuk menggunakan alat-alat bermain
- Pertumbuhan fisik: berat badan meningkat 2,5 kg / tahun, tinggi badan meningkat 6,75 - 7,5
cm / tahun 

J. Perkembangan Psikososial Anak

 Teori mengenai perkembangan psikososial dikemukakan oleh Erick Ericson (1963)


 Tahapan perkembangan pada anak pra-sekolah menurut Ericson adalah Inisiatif
versus Rasa Bersalah (umur 3-6 tahun)
 Tahap ini anak mulai belajar untuk mengendalikan diri dan memanipulasi lingkungan.
Rasa inisiatif mulai menguasai anak, anak sudah mulai diikutsertakan sebagai
individu atau membantu orang tua dan lingkungan
 Contoh: anak ikut serta merapikan tempat tidur, bagi anak wanita bisa membantu ibu
di dapur. Dalam hal ini anak sudah mulai memperluas lingkup pergaulannya, ia
menjadi aktif di luar rumah, kemampuan berbahasa semakin meningkat. Hubungan
dengan teman sebaya dan saudara kandung cenderung untuk selalu menang sendiri
 Peran seorang ayah sudah mulai berjalan, harus ada hubungan yang harmonis antara
ayah, ibu, dan anak yang tujuan akhirnya adalah untuk memantapkan identitas diri
anak
 Orang tua dapat melatih diri anak untuk mengintegrasikan peran-peran sosial dan
tanggung jawab sosial
 Terkadang anak tidak dapat mencapai tujuan atau kegiatan yang lebih disebabkan
karena keterbatasan kemampuannya

K. Tahap Psikoseksual Anak

 Fase Phalic (3-6 tahun)


o Anak akan senang memegang genetalia, kecenderungan anak akan dekat
dengan orang tua yang berlawanan jenis kelamin, misalnya anak laki-laki
lebih dekat dengan ibunya, sedangkan anak perempuan akan lebih dekat
dengan ayahnya
o Anak mempunyai rasa persaingan yang ketat dengan orang tua yang sesama
jenis kelamin, misalnya anak laki-laki merasa tersaingi oleh ayahnya untuk
memperebutkan kasih sayang dari ibunya. Demikian pula dengan anak
perempuan, dia akan merasa tersaingi oleh ibunya untuk mendapatkan kasih
sayang dari ayahnya
o Sifat egosentris yang tinggi pada anak dan interaksi sosial sudah mulai tumbuh

L. Faktor yang Mempengaruhi Bermain

1. Tahap Perkembangan Anak


o Aktifitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan tahapan
pertumbuhan dan perkembangan anak, tentunya permainan anak usia bayi
tidak lagi efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah,
demikian juga sebaliknya
o Orang tua dan perawat harus mengetahui dan memberikan jenis permainan
yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak
2. Status Kesehatan Anak
o Untuk melakukan aktifitas bermain diperlukan energi, walaupun demikian
bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat sakit
o Kebutuhan bermain anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang
dewasa, yang penting pada saat kondisi anak sedang menurun atau sakit
bahkan dirawat di rumah sakit, orang tua dan perawat harus jeli memilihkan
permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain pada
anak yang sedang dirawat di rumah sakit
3. Jenis Kelamin
o Dalam melaksanakan aktifitas bermain, tidak membedakan jenis kelamin laki-
laki atau perempuan
o Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau perempuan
untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreatifitas dan kemampuan
sosial anak
o Ada pendapat lain bahwa permainan adalah salah satu alat untuk membantu
anak mengenal identitas diri, sehingga sebagian alat permainan anak
perempuan tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki
o Ada tuntutan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, dan hal
ini dipelajari melalui media permainan
4. Lingkungan yang Mendukung
o Terselenggaranya aktifitas bermain yang baik untuk perkembangan anak salah
satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya, dan lingkungan fisik rumah
o Fasilitas bermain tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi, tetapi
lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreatifitas anak,
bahkan sering kali mainan tradisional yang dibuat sendiri dari / atau berasal
dari benda-benda di sekitar kehidupan anak akan lebih merangsang anak untuk
kreatif, keyakinan keluarga tentang moral dan budaya juga mempengaruhi
bagaimana anak di didik melalui permainan
o Lingkungan fisik sekitar lebih banyak mempengaruhi ruang gerak anak untuk
melakukan aktifitas fisik dan motorik
o Lingkungan rumah yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak
mempunyai cukup ruang gerak untuk bermain, berjalan, mondar-mandir,
berlari melompat, dan bermain dengan teman sekelompoknya
5. Alat dan Jenis Permainan
o Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk anak, pilih
yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak
o Label yang tertera pada mainan harus dibaca terlebih dahulu sebelum
membelinya, apakah mainan tersebut sesuai dengan usia anak
o Alat permainan tidak harus yang dibeli di toko atau mainan jadi
o Alat permainan yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi akan
mengajarkan anak untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi alat
gerak
o Permainan membantu anak untuk meningkatkan kemampuan dalam norma
dan aturan serta interaksi sosial dengan orang lain

M. Karakteristik Bermain yang Sesuai

1. Tradisi
o Setiap generasi meniru permainan generasi sebelumnya
o Bentuk permainan yang memuaskan akan dilanjutkan
o Tergantung dari perubahan musim
2. Mengikuti Pola Perkembangan
o Usia bertambah, penggunaan material lebih bermakna, misalnya balok
3. Waktu dan Usia
o Ragam kegiatan bermain berkurang dengan bertambahnya usia
o Waktu berkurang sesuai usia
o Aktfitas fisik berkurang
o Waktu untuk aktifitas spesifik meningkat
o Perhatian menyempit tetapi lebih lama
o Jumlah dan usia teman (lebih sedikit dan spesifik)
DAFTAR PUSTAKA

Berhman, et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Volume 3. Jakarta: EGC.
Hurlock. 1991. Perkembangan Anak, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, Edisi ke-2. Jakarta: EGC.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi ke-4. Jakarta: EGC.
Yulianti, Rani. 2008. Permainan yang Meningkatkan Kecerdasan Anak. Jakarta: Laskar
Askara.
Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk perawat dan
bidan). Jakarta :Salemba Medika
Depkes RI. Pedoman Hidup Sehat Seri Anak Balita. Jakarta. 2000
Wong. Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC. 2002
Soetningsih. 1999. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC