Anda di halaman 1dari 28

Makalah

Batasan Teknologi Informasi Umum Dengan Layanan Keperawatan dan Peranan


Teknologi Bagi Layanan Pemberian Askep

DISUSUN OLEH :

Sarni
Prodi/Semester : Keperawatan/ III

Kelas : Siang

Mata Kuliah : Iptek

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)


MALUKU HUSADA
AMBON
2019
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Dengan mengucapkan rasa syukur Kehadirat Tuhan YME,yang telah


memberikan rahmat,taufik dan hidayah-Nya,sehingga makalah Trend & Issu
Keperawatan Maternitas ini dapat terselesaikan pada waktunya,makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Maternitas I
Penulis meyadari bahwa malalah ini jauh dari sempurna,oleh karena itu saran
dan kritik yang membangun sangat di harapkan untuk perbaikan dan
penyepurnaan makalah ini.
Akhir kata semoga apa yang penulis ini dapat, bermanfaat bagi siapa saja
yang membaca.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Ambon,8 Januari 2019

PenulisS
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat


menyebabkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga semakin
berkembang. Perkembangan pengetahuan masyarakat , membuat masyarakat
lebih menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat
dipertanggungjawabkan. Kebutuhan layanan kesehatan termasuk
keperawatan yang cepat, efisien dan efektif menjadi tuntutan masyarakat saat
ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi
tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang
berbasis teknologi informasi (Rini, 2009)

Perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi
pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan. Dalam upaya peningkatan mutu, seorang perawat harus
mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari
pengkajian sampai dengan evaluasi berikut dengan dokumentasi

Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada


kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan
keperawatan. Dalam hal ini perawat berada dalam posisi kunci untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui strategi dan intervensi
yang mendukung keselamatan pasien.

Manfaat teknologi memang cukup besar dalam meningkatkan keselamatan


pasien dan kualitas pelayanan keperawatan. Namun dampak negatif yang
timbul dari penggunaan teknologi tersebut, tidak boleh diabaikan.

Meskipun diakui bahwa teknologi dapat mempromosikan perasaan


keselamatan pada pasien, teknologi tidak pernah bisa menggantikan kedekatan
dan empati sentuhan manusia (Almerud ,et al , 2008 dalam Harley & Timmos
2010)
Tenaga keperawatan merupakan ujung tombak dalam pelayanan
kesehatan, karena memiliki proporsi yang paling besar dan melakukan asuhan
secara komperhensif kepada pasien selama 24 jam, karenanya seorang
perawat harus dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai
dengan standar asuhan keperawatan, mulai dari pengkajian sampai dengan
evaluasi. Salah satu yang penting dilaksanakan adalah pendokumentasian
asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan pada pasien. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat akhir – akhir ini, sangat
mempengaruhi tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini
karena dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut maka
masyarakat mudah mendapatkan informasi tentang kesehatan, sehingga
pengetahuan masyarakat tentang kesehatan akan meningkat. Dengan semakin
pesatnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi bagi penyedia
layanan kesehatan maupun organisasi kesehatan, efektifitasnya justru mulai
dipertanyakan. Data dan informasi kesehatan tersebar membentuk pulau-pulau
informasi yang saling tertutup di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan dan
organisasi kesehatan. Pertukaran dan komunikasi data lintas organisasi
terbentur kendala standarisasi dan interoperabilitas system.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini, sebagai berikut.

1. sistem informasi kesehatan tersebut ?

2. Bagaimanakah sistem informasi keperawatan tersebut ?

3. Bagaimanakah sejarah sistem informasi keperawatan tersebut ?

4. Bagaimanakah teknologi informasi tersebut ?

5. Bagaimanakah fungsi sistem informasi keperawatan tersebut ?

6. Apasajakah fasilitas di ruang keperawatan tersebut ?

7. Bagaimanakah pengaruh teknologi terhadap ruangan ?


8. mahasiswa mampu menganalisis perkembangan teknologi keperawatan
atau teknologi kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh keperawatan.

9. Serta mempermudah bagi tenaga medis dalam memberikan pelayanan


kesehatan yang efisien dan efektif dan dapat memepermudah bagi perawat
dalam memonitor klien.

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :

1. Mengetahui sistem informasi kesehatan

2. Mengetahui sistem informasi keperawatan

3. Mengetahui sejarah sistem informasi keperawatan

4. Mengetahui teknologi informasi

5. Mengetahui fungsi sistem informasi keperawatan

6. Mengetahui fasilitas di ruang keperawata

7. Mengetahui pengaruh teknologi terhadap ruangan

8. menganalisis perkembangan teknologi keperawatan atau teknologi


kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh keperawatan

9. Serta mempermudah bagi tenaga medis dalam memberikan pelayanan


kesehatan yang efisien dan efektif dan dapat memepermudah bagi perawat
dalam memonitor klien.
BAB II

PEMBAHASAN

a. Batasan Teknologi Informasi Umum Dengan Layanan


Keperawatan

A. SISTEM INFORMASI KESEHATAN

Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi di seluruh


tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan
pelayanan kepada masyarakat. Peraturan perundang-undangan yang
menyebutkan sistem informasi kesehatan adalah Kepmenkes Nomor
004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang
kesehatan dan Kepmenkes Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang
petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem laporan informasi kesehatan
kabupaten/kota. Hanya saja dari isi kedua Kepmenkes mengandung
kelemahan dimana keduanya hanya memandang sistem informasi kesehatan
dari sudut padang manejemen kesehatan, tidak memanfaatkan state of the art
teknologi informasi serta tidak berkaitan dengan sistem informasi nasional.
(Sanjoyo). Perkembangan Sistem Informasi Rumah Sakit yang berbasis
computer (Computer Based Hospital Information System) di Indonesia telah
dimulai pada akhir dekade 80’an. Rumah sakit di Indonesia sudah ada yang
memanfaatkan komputer untuk mendukung operasionalnya. Namun,
tampaknya komputerisasi dalam di instansi rumah sakit, kurang mendapatkan
hasil yang cukup memuaskan semua pihak.

B. SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN

Sistem informasi keperawatan merupakan kombinasi dari ilmu komputer,


informasi dan keperawatan yang disusun untuk mempermudah manajemen,
proses pengambilan keputusan, dan pelaksanaan asuhan keperawatan. Salah
satu penggunaan sistem informasi keperawatan di kembangkan pada tahun
1960-1970 -an adalah dengan pendokumentasian keperawatan
terkomputerisasi. Pendokumentasian terkomputerisasi memfasilitasi
pembakuan klasifikasi asuhan keperawatan sehingga menghilangkan
ambiguitas dalam pendokumentasian keperawatan. Sedangkan menurut ANA
(Vestal, Khaterine, 1995) sistem informasi keperawatan berkaitan dengan
legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan
pengetahuan tentang standar dokumentasi, komunikasi, mendukung proses
pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan
pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan
keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan
yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi
terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan
dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail,
cepat, relevan untuk suatu organisasi.

C. SEJARAH SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN

Komputer telah dikenal berpuluh – puluh tahun lalu, tetapi rumah sakit
terlambat dalam menangkap revolusi komputer. Perawat terlambat
mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam menggunakan
komputer oleh perawat terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-
an, penggunaannya mencakup automatisasi catatan perawat untuk
menjelaskan status dan perawatan pasien dan penyimpanan hasil sensus dan
gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa depan staf.

Pada pertengahan tahun 1970-an ide dari sistem informasi rumah sakit
diterapkan dan perawat mulai menerapkan sistem informasi manajemen
keperawatan. Pada akhir tahun 1980-an munculah sistem mikro komputer
yang semakin mendukung pengembangan sistem informasi keperawatan. Di
Indonesia sistem informasi manajemen keperawatan masih minim
penerapannya, pendokumentasian keperawatan umumnya masih
menggunakan pendokumentasian tertulis. Pemerintah Indonesia sudah
memiliki visi tentang sistem informasi kesehatan nasional, yaitu Reliable
Health Information 2010 (Depkes,2001). Pada perencanaannya sistem
informasi kesehatan akan di bangun di Rumah Sakit kemudian di masyarakat,
tetapi pelaksanaanya belum optimal.

.
D. INFORMASI

Pengertian teknologi informasi adalah perolehan, pemprosesan,


penyimpanan dan penyebaran informasi baik yang berbentuk angka, huruf,
gambar maupun suara dengan alat electronic berdasarkan kombinasi antara
perhitungan (computing) dan komunikasi jarak jauh (telecommunications).
Perlu di ketahui bahwa jika pada masa lalu penanganan informasi
mengandalkan pada kertas, artinya semakin banyak informasi semakin banyak
kertas yang di butuhkan atau di simpan sedangkan sekarang hal itu telah
beralih ke”impulse”electric yang berukuran mini dengan kemampuan simpan
lebih besar di bandingkan dengan kertas. Contoh, satu disket /flopdy/compact
disk dapat memuat atau di isi sejumlah informasi setara dengan satu buku
berukuran sedang.

Ada tiga komponen utama dari teknologi informasi antara lain :

1. Komputer adalah mesin electronic yang mampu untuk membuat kalkulasi


dengan kapasitas yang besar dan sangat cepat.

2. Mikro electronik adalah rancang bangun (disain) penerapan dan produksi


dari peralatan elektronik yang berukuran sangat kecil yang terdiri dari
komponen-komponen yang rumit.

3. elkomunikasi adalah trasmisi informasi melalui kabel atau gelombang


radio, komponen-komponen utama akan di bahas secara rinci kemudian.

1. Komputer

Upaya pertama untuk memproses data dengan peralatan electronic di


lakukan di Amerika Serikat oleh Herman Hollerith pada decade 1890-
an dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan akan cara lebih baik
untuk mencatat dan menganalisis hasil sensus di Amerika Serikat.
Hollerith berpikir akan perlunya otomatisasi proses, dia bertolak dari
gagasan penemuan sebelumnya. Alat ini di namakan “punched card”
oleh Charles Babbage yang berkebangsaan Inggris. Holerith merakit
berbagai komponen mekanis electris dan mendisain suatu tabulator
yang mampu ”membaca“ informasi yang di muat dalam suatu
card/kartu. Tabulator penemuan Hollerith tersebut bekerja sangat
sukses, karena berhasil mengurangi jam kerja sekitar 1/3 waktu yang
di butuhkan orang untuk menangani kegiatan bersangkutan.

Alat temuan Holerith ini untuk beberapa decade telah membentuk


dasar-dasar pemrosesan data di bidang komersial. Berbagai upaya
perintis untuk menciptakan mesin yang dapat membantu pemecahan
masalah atau computer dilakukan semasa perang dunia ke 2, sejalan
dengan usaha-usaha para ilmuwan negara-negara sekutu mencari cara
untuk memecahkan kode-kode pihak musuh.

Dengan pengembangan computer terus berlangsung sampai decade


1960-an, kita mengenal adanya computer dengan ukuran besar,
biasanya di sebut ‘MAINFRAME’ alat ini perlu di tempatkan dalam
ruang khusus dan harus mempunyai ”AC”. MAINFRAME sebagai
mesin computer induk dilengkapi atau di hubungkan dengan beberapa
mini computer, masing-masing memerlukan tempat seukuran meja
kantor dan juga perlu di tempatkan dalam ruangan yang ber-AC. Jenis
computer lain adalah microcomputer ukuranya lebih kecil dan lebih
ringan daripada mini computer serta tidak memerlukan lingkungan dan
ruangan yang khusus

2. Mikro Komputer

Micro-Computer pada dasarnya adalah suatu system pengelolaan


microelectronic berdasarkan pada suatu microprocessor.

a. ROM atau read only memory adalah suatu alat chip penyimpanan
memory tetap (a permanent-memory chip) yang memuat code-
code untuk mengoperasikan mesin microcomputer. Dalam keadaan
(switched off) operator tidak dapat menambah, mengganti atau
menghapus code-code tersebut. Pada waktu mesin hidup (switched
on) jika operator memanggil code tertentu maka ROM akan
mengeluarkan data atau informasi yang di simpan dengan code
yang bersangkutan.

b. RAM atau Random only memory adalah suatu alat chip


penyimpanan memory sementara guna menyimpan informasi yang
di masukan pemakai. Tidak seperti ROM ,chip ram, tidak memuat
informasi pada memuat pada waktu mesin mati. Perbedaan antara
ROM dan RAM seperti antara buku cetakan yang hanya dapat di
baca dari suatu catatan pribadi yang dapat di hapus dan dapat di
gunakan berkali-kali .

c. CPU (Central Processor Unit) adalah suatu CPU chip yang


berfungsi sebagai pengendali semua kegiatan pengolahan data dan
mengkordinasi fungsi-fungsi seluruh peralatan computer .

d. Input/Output Interface adalah terdiri atas beberapa chip yang


berfungsi untuk menangani code-code computer dengan peralatan
lainya seperti mengendali disket driver printer dan layar monitor.

e. Ukuran microcomputer relatif kecil tetapi kapasitasnya sangat


tinggi dan fleksibel di bandingkan dengan sebuah “mainframe”
atau minicomputer dapat secara mandiri menangani pengolahan
data yang berskala besar .

3. Micro Electronic dan Micro Processor

Micro processor merupakan suatu cerkuit yang terintegrasi yang di


desain untuk melakukan fungsi-fungsi koordinasi dan pengolahan
data. Fungsinya dapat di sejajarkan dengan ”microelectronic” seperti
sebuah “mainframe” central processing unit (CPU). Microprocessor
memberikan dampak kepada penciptaan computer electronic
berukuran kecil (mini).

Berdasarkan sejarah perkembangan teknologi proses penemun ini


bermula dari pengembangan transitor pada decade 1950-an transitor
sendiri yang berupa komponen kristal relatif berukuran kecil yang
berfungsi memindahkan atau mengelolah kekuatan electric berkeuatan
kecil di antara circuit dalam peralatan bersangkutan. Ukuran transitor
walaupun jauh lebih kecil daripada penemuan pertama alat electronic
yang kita kenal dengan nama tabung hampa udara, tetapi kapasitasnya
lebih besar.

Kebanyakan dari circuit-cirkuit yang terintegrasi di namakan “General


Purposes Chips” dengan tujuan umum di buat untuk menangani satu
atau lebih fungsi-fungsi pokok alat rumah tangga seperti micro
computer mesin cuci dan lain-lainya.
o Ada tiga tujuan umum dari chips antara lain :

a. Memory chips = untuk menyimpan informasi

b. CPU chips atau seperti microprocessor = untuk menangani


pengolahan dan koordinasi fungsi dari suatu computer

c. Interface chips = untuk menangani luaran atau masukan yang di


kehendaki dari suatu system

4. Telekomunikasi

5. Istilah telkomunikasi dikenal sebagai cara penyampaian informasi


melalui kabel/kawat listrik (telepon dan telegrap) atau dengan
gelombang radio. Perubahan yang cepat di bidang telekomunikasi juga
dipengaruhi oleh berbagai perkembangan dan penemuan –penemuan
di bidang teknologi seperti :

a. Fibre glass yaitu suatu kawat dari bahan fibre glass mampu
memindahkan vulza dalam bentuk binary dengan kecepatan yang
tinggi.kawat telepon dengan bahan ini kapasitas muatannya beribu
kali di banding dengan kabel konvensional

b. Transmisi microwave system ini di gunakan dengan system


penanaman kabel di bawah tanah sekarang di kembangkan untuk
pengantar komunikasi yang berasal dari satelit bum

c. System infra merah yang memungkinkan peralatan seperti televisi


di control tanpa kawat. Pada masa mendatang sistem ini dan dapat
di gunakan sebagai penghubung tanpa kawat (wireless/coreless) di
antara alat-alat mesin seperti word-processor, telepon dan
computer
E. FUNGSI SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN

Konseptual model dalam sistem informasi keperawatan berdasarkan 4 fungsi


utama dalam praktik keperawatan klinik dan administratif:

1. Proses perawatan pasien

Proses perawatan pasien adalah apa yang telah dilakukan oleh perawat
kepada pasien yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan, jadwal perawatan
dan pengobatan, catatan keperawatan, pola makan, prospektif, beban kerja
, administrasi pasien.

2. Proses managemen bangsal

Aktivitas yang berhubungan dengan fungsi bangsal untuk secara efektif


menggunakan sumber dalam merencanakan objek secara spesifik.
Mentransformasikan informasi pada manajemen yang berorientasi
informasi dalam pengambilan keputusan: jaminan kualitas, sudut pandang
aktivitas di bangsal keperawatan, jadwal dinas karyawan, manajemen
perseorangan, perencanaan keperawatan, manajemen inventarisasi dan
penyediaan sarana dan prasarana, manajemen finansial, kontroling
terhadap infeksi.

3. Proses Komunikasi

Seluruh aktivitas dikonsentrasikan pada komunikasi pada pasien dan


subjek lain yang memiliki hubungan dengan subjek pengobatan, perjanjian
dan penjadwalan, review data, transformasi data, dan segala bentuk pesan.

4. Proses Pendidikan dan Penelitian

Pendokumentasian fungsi dan prosedural.


F. FASILITAS DI RUANG KEPERAWATAN

1. Komputer

Komputer merupakan sebuah alat elektronik yang mampu memiliki


banyak fungsi dan mampu melakukan banyak tugas. Selain itu komputer
dapat didefinisikan sebagai sekumpulan alat elektronik yang saling
terkoordinasi satu sama lain sehingga dapat menerima data, kemudian
mengolah data, dan pada akhirnya akan menghasilkan suatu keluaran yang
berupa informasi (Input > Proses > Output).

2. Telenursing

Telenursing adalah upaya penggunaan teknologi informasi dalam


memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian pelayanan kesehatan
dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau
antara beberapa perawat. Sebagai bagian dari telehealth dan beberapa
bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non medis seperti
telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring.

Telenursing menunjukkan penggunaan teknologi komunikasi oleh perawat


untuk meningkatkan perawatan pasien. Telenursing menggunakan channel
elektromagnetik (wire, radio, optical) untuk mengirim suara, data dan
sinyal video komunikasi. Dapat juga didefinisikan sebagai komunikasi
jarak jauh menggunakan transmisi elektrik atau optic antara manusia dan
atau computer

Telenursing diartikan sebagai pemakaian telekomunikasi untuk


memberikan informasi dan pelayanan keperawatan jarak-jauh.
Aplikasinya saat ini, menggunakan teknologi satelit untuk menyiarkan
konsultasi antara fasilitas-fasilitas kesehatan di dua negara dan memakai
peralatan video conference. Telenursing bagian integral dari telemedicine
atau telehealth.

Menurut Britton et all (1999), ada beberapa keuntungan telenursing yaitu :


a. Efektif dan efisien dari sisi biaya kesehatan, pasien dan keluarga dapat
mengurangi kunjungan ke pelayanan kesehatan ( dokter praktek, ruang
gawat darurat, rumah sakit dan nursing home)

b. Dengan sumber daya yang minimal dapat meningkatkan cakupan dan


jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas geografis

c. Telenursing dapat menurunkan kebutuhan atau menurunkan waktu


tinggal di rumah sakit

d. Pasien dewasa dengan kondisi penyakit kronis memerlukan pengkajian


dan monitoring yang sering sehingga membutuhkan biaya yang
banyak. Telenursing dapat meningkatkan pelayanan untuk pasien
kronis tanpa memerlukan biaya dan meningkatkan pemanfaatan
teknologi

e. Berhasil dalam menurunkan total biaya perawatan kesehatan dan


meningkatkan akses untuk perawatan kesehatan tanpa banyak
memerlukan sumber.

Selain manfaat di atas telenursing dapat dimanfaatkan dalam bidang


pendidikan keperawatan ( model distance learning) dan perkembangan
riset keperawatan berbasis informatika kesehatan. Telenursing dapat
juga digunakan dikampus dengan video conference, pembelajaran on
line dan Multimedia Distance Learning.

3. Internet

Internet adalah suatu fasilitas yang paling di rasakan secara nyata di


bidang teknologi impormasi adalah dengan adanya “cyber space” atau
ruang maya di mana kita dapat berkomunikasi langsung melalui perangkat
computer dalam situasi dan kondisi yang berbeda dan ini sudah menjadi
kebutuhan setiap orang mulai dari pelajar, mahasiswa, pebisnis, maupun
dunia kerja pegawai (PNS).
G. PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP RUANGAN

Pengaruh negatif teknologi terhadap ruangan sebagai berikut.

1. Dikhawatirkan akan adanya penurunan proses berpikir kritis dari perawat


tersebut, karena informasi yang didapat mudah untuk diakses.

2. Dimungkinkan pula terjadi penurunan kepekaan antara perawat yang satu


dengan yang lain ataupun antara perawat dengan klien. Karena segala
sesuatu dapat dilakukan secara online (misaltele-health), tanpa harus tatap
muka

3. Keterbatasan kapasitas penyimpanan data

4. Kemungkinan bisa terjadi gangguan teknis (disebabkan virus dan factor


lainnya)

5. Tentunya dokumentasi keperawatan berbasis komputer juga mempunyai


kelemahan, diantaranya adalah kemampuan perawat dalam melaksanakan
proses keperawatan dan keterampilan perawat menggunakan computer.

o Adapun pengaruh positif teknologi terhadap ruangan sebagai berikut.

1. Penghematan biaya dari penggunaan kertas untuk pencatatan

2. Penghematan ruangan karena tidak dibutuhkan tempat yang besar


dalam penyimpanan arsip.

3. Penyimpanan data pasien menjadi lebih lama.

4. Pendokumentasian keperawatan berbasis komputer yang dirancang


dengan baik akan mendukung otonomi yang dapat dipertanggung
jawabkan.

5. Membantu dalam mencari informasi yang cepat sehingga dapat


membantu pengambilan keputusan secara cepat

6. Meningkatkan produktivitas kerja.

7. Mengurangi kesalahan dalam menginterppretasikan pencatatan


(Gurley L, Advantages and Disadvantages of Electronic Medical
Record, diakses dari http://www.aameda.org/member)
Sedangkan menurut Holmes (2003,dalam Sitorus 2006), terdapat
keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:

1. Standarisisasi: terdapat pelaporan data klinik yang standar,


mudah dan cepat diketahui.

2. Kualitas: meningkatkan kualitas informasi klinik dan


sekaligus meningkatkan waktu perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan.

3. Accessebility, legibility, mudah membaca dan mendapat


informasi klinik dari pasien dalam satu lokasi.

Dokumentasi perawatan merupakan bagian penting dari


dokumentasi klinis. Namun, dokumentasi proses keperawatan
sering kurang berkualitas. Untuk meningkatkan dokumentasi
asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat maka perlu
diterapkan sistem infomasi keperawatan dalam
pendokumentasian asuhan keperawatan. Ada harapan tinggi
bahwa komputer dapat mendukung dalam dokumentasi
keperawatan akan membantu meningkatkan kualitas
dokumentasi. Namun dengan diterapkannya komputerisasi di
rumah sakit juga perlu diimbangi oleh kemampuan perawat
dalam mengoperasionalkan komputer.

Untuk meningkatkan kemampuan perawat dalam penggunaan


komputer maka perawat telah menyoroti kebutuhan untuk
pelatihan dalam penggunaan teknologi informasi, dan
penilaian kritis penting untuk profesional perawat (Docker, et
all.,2003).

Dokumentasi keperawatan yang ada sekarang ini adalah


dokumentasi keperawatan yang berbasis kertas. Namun pada
kenyataannya sering ditemukan bahwa proses tersebut tidak
terintegrasi ke dalam dokumentasi keperawatan. Sering kita
menemukan dokumentasi yang kurang lengkap, alasannya
antara lain perlu waktu yang banyak, kualitas catatan berbasis
kertas masih rendah dan pemanfaatan dokumentasi masih
terbatas dari proses keperawatan. Masalah-masalah ini
menyebabkan upaya untuk mendukung proses keperawatan
dengan sistem berbasis komputer untuk mengurangi beban
perawat dalam dokumentasi. Penerapan sistem informasi
keperawatan dalam dokumentasi asuhan keperawatan
bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas
dokumentasi asuhan keperawatan. Dokumentasi yang berbasis
komputer selain meningkatkan kualitas juga memungkinkan
penggunaan kembali data keperawatan untuk manajemen
keperawatan dan penelitian keperawatan. Hal ini seperti yang
terdapat dalam hasil penelitian dari Mueller, et all.2006 yang
menyatakan bahwa kualitas dokumentasi keperawatan
semakin meningkat dengan diterapkannya Quality of Nursing
Diagnoses, Interventions, and Outcomes (Q-DIO). Penelitian
ini mendukung penggunaan Q-DIO dalam mengevaluasi
dokumentasi keperawatan diagnosis, intervensi, dan hasil
asuhan keperawatan. Berdasarkan hal tersebut maka untuk
meningkatkan kualitas dokumentasi, perawat membutuhkan
dukungan melalui pendidikan agar mengetahui langkah-
langkah untuk menghubungkan diagnosa dengan intervensi,
spesifik ke etiologi diidentifikasi, dan untuk mengidentifikasi
hasil asuhan keperawatan. Adanya peningkatan dokumentasi
tersebut membuktikan bahwa dengan diterapkannya Q-DIO
dapat berguna sebagai alat audit dokumentasi keperawatan dan
harus dikembangkan sebagai fitur terintegrasi secara
elektronik (Mueller, et all.2006).

Selain itu adapun pengaruh dari teknologi telenursing yaitu


aplikasi telenursing dapat diterapkan di rumah, rumah sakit
melalui pusat telenursing dan melalui unit mobil. Telepon
triase dan home care berkembang sangat pesat dalam aplikasi
telenursing. Di dalam home care perawat menggunakan
system memonitor parameter fisiologi seperti tekanan darah,
glukosa darah, respirasi dan berat badan melalui internet.
Melalui system interaktif video, pasien contact on-call perawat
setiap waktu untuk menyusun video konsultasi ke alamat
sesuai dengan masalah, sebagai contoh bagaimana mengganti
baju, memberikan injeksi insulin atau diskusi tentang sesak
nafas. Secara khusus sangat membantu untuk anak kecil dan
dewasa dengan penyakit kronik dan kelemahan khususnya
dengan penyakit kardiopulmoner. Telenursing membantu
pasien dan keluarga untuk berpartisipasi aktif di dalam
perawatan, khususnya dalam management penyakit kronis.
Hal ini juga mendorong perawat menyiapkan informasi yang
akurat dan memberikan dukungan secara online. Kontinuitas
perawatan dapat ditingkatkan dengan menganjurkan sering
kontak antara pemberi pelayanan kesehatan maupun
keperawatan dengan individu pasien dan keluarganya.

b. Peranan teknologi informasi bagi layanan Pemberian askep

A. Sistem Informasi Kesehatan


Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi di
seluruh seluruh tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka
penyelengggaraan pelayanan kepada masyarakat. Peraturan
perundang-undangan yang menyebutkan sistem informasi kesehatan
adalah Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan
dan strategi desentralisasi bidang kesehatan dan Kepmenkes Nomor
932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang petunjuk pelaksanaan
pengembangan sistem laporan informasi kesehatan kabupaten/kota.
Hanya saja dari isi kedua Kepmenkes mengandung kelemahan dimana
keduanya hanya memandang sistem informasi kesehatan dari sudut
padang manejemen kesehatan, tidak memanfaatkan state of the art
teknologi informasi serta tidak berkaitan dengan sistem informasi
nasional. (Sanjoyo). Perkembangan Sistem Informasi Rumah Sakit
yang berbasis computer (Computer Based Hospital Information
System) di Indonesia telah dimulai pada akhir dekade 80’an. Rumah
sakit di Indonesia sudah ada yang memanfaatkan komputer untuk
mendukung operasionalnya. Namun, tampaknya komputerisasi dalam
di instansi rumah sakit, kurang mendapatkan hasil yang cukup
memuaskansemua pihak.
B. Sistem informasi keperawatan

Sistem informasi keperawatan merupakan kombinasi dari ilmu


komputer, informasi dan keperawatan yang disusun untuk
mempermudah manajemen ,proses pengambilan keputusan, dan
pelaksanaan asuhan keperawatan. Salah satu penggunaan sistem
informasi keperawatan di kembangkan pada tahun 1960-1970 -an
adalah dengan pendokumentasian keperawatan terkomputerisasi.
Pendokumentasian terkomputerisasi memfasilitasi pembakuan
klasifikasi asuhan keperawatan sehingga menghilangkan ambiguitas
dalam pendokumentasian keperawatan. Sedangkan menurut ANA
(Vestal, Khaterine, 1995) sistem informasi keperawatan berkaitan
dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi
dan pengetahuan tentang standar dokumentasi, komunikasi,
mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan
mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas,
efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan
pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan
suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan
antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan
menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail,
cepat, relevan untuk suatu organisasi.

C. Sejarah Sistem Informasi Keperawatan

Komputer telah dikenal berpuluh – puluh tahun lalu, tetapi rumah sakit
lambat dalam menangkap revolusi komputer. Perawat terlambat
mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam
menggunakan komputer oleh perawat terjadi pada akhir tahun 1960-an
dan awal tahun 1970-an, penggunaannya mencakup automatisasi
catatan perawat untuk menjelaskan status dan perawatan pasien dan
penyimpanan hasil sensus dan gambaran staf keperawatan untuk
analisa kecenderungan masa depan staf.

Pada pertengahan tahun 1970-an ide dari sistem informasi rumah sakit
diterapkan dan perawat mulai menerapkan sistem informasi
manajemen keperawatan. Pada akhir tahun 1980-an munculah sistem
mikro komputer yang semakin mendukung pengembangan sistem
informasi keperawatan. Di Indonesia sistem informasi manajemen
keperawatan masih minim penerapannya, pendokumentasian
keperawatan umumnya masih menggunakan pendokumentasian
tertulis. Pemerintah Indonesia sudah memiliki visi tentang sistem
informasi kesehatan nasional, yaitu Reliable Health Information 2010
(Depkes,2001). Pada perencanaannya sistem informasi kesehatan akan
di bangun di Rumah Sakit kemudian di masyarakat, tetapi
pelaksanaanya belum optimal.

D. Fungsi Sistem Informasi Keperawatan

Konseptual model dalam sistem informasi keperawatan berdasarkan 4


fungsi utama dalam praktik keperawatan klinik dan administratif:

1. Proses perawatan pasien

roses perawatan pasien adalah apa yang telah dilakukan oleh


perawat kepada pasien yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan,
jadwal perawatan dan pengobatan, catatan keperawatan, pola
makan, prospektif, beban kerja , administrasi pasien.

2. Proses managemen bangsal

Aktivitas yang berhubungan dengan fungsi bangsal untuk secara


efektif menggunakan menggunakan sumber dalam merencanakan
objek secara spesifik. Mentransformasikan informasi pada
manajemen yang berorientasi informasi dalam pengambilan
keputusan: jaminan kualitas, sudut pandang aktivitas di bangsal
keperawatan, jadwal dinas karyawan, manajemen perseorangan,
perencanaan keperawatan, manajemen inventarisasi dan
penyediaan sarana dan prasarana, manajemen finansial, kontroling
terhadap infeksi.

3. Proses Komunikasi

Seluruh aktivitas dikonsentrasikan pada komunikasi pada pasien


dan subjek lain yang memiliki hubungan dengan subjek
pengobatan, perjanjian dan penjadwalan, review data, transformasi
data, dan segala bentuk pesan.

.
E. Keuntungan Menggunakan Sistem Informasi Keperawatan

1) Penghematan biaya dari penggunaan kertas untuk


pencatatan

2) Penghematan ruangan karena tidak dibutuhkan tempat yang


besar dalam penyimpanan arsip.

3) Penyimpanan data pasien menjadi lebih lama.

4) Pendokumentasian keperawatan berbasis komputer yang


dirancang dengan baik akan mendukung otonomi yang
dapat dipertanggung jawabkan.

5) Membantu dalam mencari informasi yang cepat sehingga


dapat membantu pengambilan keputusan secara cepat

6) Meningkatkan produktivitas kerja.

7) Mengurangi kesalahan dalam menginterppretasikan


pencatatan (Gurley L, Advantages and Disadvantages of
Electronic Medical Record, diakses dari
http://www.aameda.org/member )

Sedangkan menurut Holmes (2003,dalam Sitorus 2006), terdapat keuntungan


utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:

1. Standarisisasi: terdapat pelaporan data klinik yang standar, mudah dan


cepat diketahui.

2. Kualitas: meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus


meningkatkan waktu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

3. Accessebility, legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik


dari pasien dalam satu lokasi.
F. Penerapan Sistem Informasi Dalam Dokumentasi Asuhan
Keperawatan

Dokumentasi perawatan merupakan bagian penting dari dokumentasi


klinis. Namun, dokumentasi proses keperawatan sering kurang
berkualitas. Untuk meningkatkan dokumentasi asuhan keperawatan
yang dilakukan oleh perawat maka perlu diterapkan sistem infomasi
keperawatan dalam pendokumentasian asuhan keperawatan. Ada
harapan tinggi bahwa komputer dapat mendukung dalam dokumentasi
keperawatan akan membantu meningkatkan kualitas dokumentasi.
Namun dengan diterapkannya komputerisasi di rumah sakit juga perlu
diimbangi oleh kemampuan perawat dalam mengoperasionalkan
komputer.

Untuk meningkatkan kemampuan perawat dalam penggunaan


komputer maka perawat telah menyoroti kebutuhan untuk pelatihan
dalam penggunaan teknologi informasi, dan penilaian kritis penting
untuk profesional perawat. (Docker, et all.,2003)

Dokumentasi keperawatan yang ada sekarang ini adalah dokumentasi


keperawtan yang berbasis kertas. Namun pada kenyataannya sering
ditemukan bahwa proses tersebut tidak terintegrasi ke dalam
dokumentasi keperawatan.Sering kita menemukan dokumentasi yang
kurang lengkap, alasannya antara lain perlu waktu yang banyak,
kualitas catatan berbasis kertas masih rendah dan pemanfaatan
dokumentasi masih terbatas dari proses keperawatan. Masalah-
masalah ini menyebabkan upaya untuk mendukung proses
keperawatan dengan sistem berbasis komputer untuk mengurangi
beban perawat dalam dokumentasi.Penerapan sistem informasi
keperawatan dalam dokumentasi asuhan keperawatan bertujuan untuk
meningkatkan kuantitas dan kualitas dokumentasi asuhan
keperawatan. Dokumentasi yang berbasis komputer selain
meningkatkan kualitas juga memungkinkan penggunaan kembali data
keperawatan untuk manajemen keperawatan dan penelitian
keperawatan. Hal ini seperti yang terdapat dalam hasil penelitian dari
Mueller, et all.2006 yang menyatakan bahwa kualitas dokumentasi
keperawatan semakin meningkat dengan diterapkannya Quality of
Nursing Diagnoses, Interventions, and Outcomes (Q-DIO).Penelitian
ini mendukung penggunaan Q-DIO dalam mengevaluasi dokumentasi
keperawatan diagnosis, intervensi, dan hasil asuhan keperawatan.
Berdasarkan hal tersebut maka untuk meningkatkan kualitas
dokumentasi, perawat membutuhkan dukungan melalui pendidikan
agar mengetahui langkah-langkah untuk menghubungkan diagnosa
dengan intervensi, spesifik ke etiologi diidentifikasi,dan untuk
mengidentifikasi hasil asuhan keperawatan. Adanya peningkatan
dokumentasi tersebut membuktikan bahwa dengan diterapkannya Q-
DIO dapat berguna sebagai alat audit dokumentasi keperawatan dan
harus dikembangkan sebagai fitur terintegrasi secara elektronik.
(Mueller, et all.2006).

G. Telenursing

a. Definisi

Telenursing adalah upaya penggunaan teknologi informasi


dalam memberikan pelayanan keperawatan dalam bagian
pelayanan kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh
antara perawat dan pasien, atau antara beberapa perawat.
Sebagai bagian dari telehealth dan beberapa bagian terkait
dengan aplikasi bidang medis dan non medis seperti
telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring
(http://en.wikipedia.org/wiki/telenursing, diperoleh tanggal 15
Maret 2008).

Telenursing menunjukkan penggunaan tehnologi komunikasi


oleh perawat untuk meningkatkan perawatan pasien.
Telenursing menggunakan channel elektromagnetik (wire,
radio, optical) untuk mengirim suara, data dan sinyal video
komunikasi. Dapat juga didefinisikan sebagai komunikasi jarak
jauh menggunakan transmisi elektrik atau optic antara manusia
dan atau computer (http://www.icn.ch/matters_telenursing.htm,
diperoleh tanggal 15 Maret 2008).

Telenursing diartikan sebagai pemakaian telekomunikasi untuk


memberikan informasi dan pelayanan keperawatan jarak-jauh.
Aplikasinya saat ini, menggunakan teknologi satelit untuk
menyiarkan konsultasi antara fasilitas-fasilitas kesehatan di dua
negara dan memakai peralatan video conference. Telenursing
bagian integral dari telemedicine atau telehealth
(http://www.inna-ppni.or.id/ index.php?name =News
&file=article&sid=71, diperoleh tanggal 15 Maret 2008)

b. Menurut Britton et all (1999), ada beberapa keuntungan


telenursing yaitu :

Efektif dan efisien dari sisi biaya kesehatan, pasien dan


keluarga dapat mengurangi kunjungan ke pelayanan kesehatan
( dokter praktek,ruang gawat darurat, rumah sakit dan nursing
home)

Dengan sumber daya yang minimal dapat meningkatkan


cakupan dan jangkauan pelayanan keperawatan tanpa batas
geografis

Telenursing dapat menurunkan kebutuhan atau menurunkan


waktu tinggal di rumah sakit

Pasien dewasa dengan kondisi penyakit kronis memerlukan


pengkajian dan monitoring yang sering sehingga membutuhkan
biaya yang banyak. Telenursing dapat meningkatkan pelayanan
untuk pasien kronis tanpa memerlukan biaya dan
meningkatkan pemanfaatan teknologi

berhasil dalam menurunkan total biaya perawatan kesehatan


dan meningkatkan akses untuk perawatan kesehatan tanpa
banyak memerlukan sumber.

Selain manfaat di atas telenursing dapat dimanfaatkan dalam


bidang pendidikan keperawatan ( model distance learning) dan
perkembangan riset keperawatan berbasis informatika
kesehatan. Telenursing dapat juga digunakan dikampus dengan
video conference, pembelajaran on line dan Multimedia
Distance Learning.
c. Aplikasi elenursing

Aplikasi telenursing dapat diterapkan di rumah, rumah sakit


melalui pusat telenursing dan melalui unit mobil. Telepon
triase dan home care berkembang sangat pesat dalam aplikasi
telenursing. Di dalam home care perawat menggunakan system
memonitor parameter fisiologi seperti tekanan darah, glukosa
darah, respirasi dan berat badan melalui internet. Melalui
system interaktif video, pasien contact on-call perawat setiap
waktu untuk menyusun video konsultasi ke alamat sesuai
dengan masalah, sebagai contoh bagaimana mengganti baju,
memberikan injeksi insulin atau diskusi tentang sesak nafas.
Secara khusus sangat membantu untuk anak kecil dan dewasa
dengan penyakit kronik dan kelemahan khususnya dengan
penyakit kardiopulmoner. Telenursing membantu pasien dan
keluarga untuk berpartisipasi aktif di dalam perawatan,
khususnya dalam management penyakit kronis. Hal ini juga
mendorong perawat menyiapkan informasi yang akurat dan
memberikan dukungan secara online. Kontinuitas perawatan
dapat ditingkatkan dengan menganjurkan sering kontak antara
pemberi pelayanan kesehatan maupun keperawatan dengan
individu pasien dan keluarganya.
BAB III

PENUTUP

A. SIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa sistem


informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi di seluruh
tingkat pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelengggaraan
pelayanan kepada masyarakat. Sistem informasi keperawatan merupakan
kombinasi dari ilmu komputer, informasi dan keperawatan yang disusun
untuk mempermudah manajemen, proses pengambilan keputusan, dan
pelaksanaan asuhan keperawatan. Komputer telah dikenal berpuluh – puluh
tahun lalu, tetapi rumah sakit terlambat dalam menangkap revolusi komputer.
Perawat terlambat mendapatkan manfaat dari komputer, usaha pertama dalam
menggunakan komputer oleh perawat terjadi pada akhir tahun 1960-an dan
awal tahun 1970-an, penggunaannya mencakup automatisasi catatan perawat
untuk menjelaskan status dan perawatan pasien dan penyimpanan hasil
sensus dan gambaran staf keperawatan untuk analisa kecenderungan masa
depan staf. Teknologi informasi adalah perolehan, pemprosesan, penyimpanan
dan penyebaran informasi baik yang berbentuk angka, huruf, gambar maupun
suara dengan alat electronic berdasarkan kombinasi antara perhitungan
(computing) dan komunikasi jarak jauh (telecommunications). Ada tiga
komponen utama dari teknologi informasi antara lain : komputer, mikro
electronik dan telkomunikasi. Fungsi sistem informasi keperawatan yaitu,
proses perawatan pasien, proses managemen bangsal, proses komunikasi,
proses pendidikan dan penelitian. Fasilitas di ruang keperawatan diantaranya
komputer, telenursing, dan internet. Teknologi mempunyai pengaruh negatif
dan positif terhadap ruangan. Pengaruh negatif seperti dikhawatirkan akan
adanya penurunan proses berpikir kritis dari perawat tersebut, karena
informasi yang didapat mudah untuk diakses. Sedangkan pengaruh positif
seperti, pendokumentasian keperawatan berbasis komputer yang dirancang
dengan baik akan mendukung otonomi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Teknologi dalam kesehatan mempunyai peran yang sangat
penting,terutama dalam memberikan kualitas atau mutu pelayanan kesehatan
di Rumah Sakit.Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi seakan
telah membuat standar baru yang harus di penuhi.Hal tersebut membuat
keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan
kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi.

B. SARAN

Pemerintah atau lembaga kesehatan hendaknya segera meningkatkan standar


dan mutu sistem kesehtan di Indonesia, terutama yang berhubungan dengan
teknologi karena bila di bandingkan dengan negara lain ini masih sangat
tertinggal.Untuk membenahi hal tersebut maka harus di butuhkan solusi
cerdas.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012. Kelebihan Dan Kekurangan Komputerisasi Dalam Praktek


Keperawatan.(dalam http://anaaqeelah.blogspot.com/2012/01/kelebihan-dan-
kekurangan-komputerisasi.html). Diakses tanggal 13 September 2013 (10:30)

Anomim.2011. Makalah Sistem Teknologi Informasi Kesehatan dan


Keperawatan.(dalam http://haqee44.wordpress.com/2011/10/21/makalah-
sistem-teknologi-informasi-kesehatan-dan-keperawatan/). Diakses tanggal 13
September 2013 (10:56)

Anonim.2012. Teknologi Informasi Dan Komunikasi (dalam


http://muhyusuf90.wordpress.com/2012/10/24/teknologi-informasi-dan-
komunikasi/). Diakses tanggal 13 September 2013 ( 10:05)

Sulisnadewi. Dampak Teknologi Informasi Dalam Meningkatkan Patient


Safety Dan Kualitas Pelayanan Keperawatan.(dalam http://www.fik.ui.ac.id).
Diakses tanggal 13 September 2013 (11:15)