Anda di halaman 1dari 5

Negara Tanpa Pajak dan Utang

a. Gambaran Umum Pajak di Negara Indonesia

Menurut Prof.Dr. Rachmat Soemitro, S.H. pajak adalah iuran rakyat kepada Negara yang berdasarkan
Undang-Undang, tidak mendapat timbal balik yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan
untuk membayar pengeluaran umum. Sedangkan apabila dilihat dari sisi propektif ekonomi maka pajak
adalah beralihnya sumber daya dari sektor privat kepada sektor publik yang mengakibatkan
berkurangnya kemampuan individu dalam kepentingan menguasai sumber daya dan bertambahnya
kemampuan keuangan Negara dalam penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan kebutuhan
masyarakat.

Seperti negara-negara lainnya, Indonesia juga mengenakan pajak terhadap warga negaranya. Tax rasio
Indonesia masih tergolong cukup kecil, yaitu hanya berada dikisaran 12%. Meskipun demikian, jumlah
penerimaan pajak selalu mengalami peningkatan setiap tahun, bahkan tahun 2012, penerimaan pajak
dan bea cukai ditargetkan mencapai lebih dari 1000 trilliun. Jika melihat komposisi penerimaan negara
dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), sejak tahun 2006 s.d 2011, sektor pajak dan bea
cukai memberi sumbangsih rata-rata sebesar 70% dari total pendapatan negara. Dengan kondisi
tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa sektor pajak merupakan sumber utama pembiayaan negara.
Indonesia belum siap untuk mengandalkan sektor lain selain sektor pajak. Dalam APBN tahun 2011,
penerimaan dari sektor pajak mencapai Rp.873.9 triliun, sedangkan penerimaan negara dari sektor
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar Rp.352 triliun. Meskipun terbilang cukup besar,
penerimaan sektor ESDM ini belum mampu menutupi pengeluaran negara dan hanya memberi
sumbangsih sebesar 29,7 % dari total penerimaan negara.

Indonesia adalah negeri kaya yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tetapi ada beberapa
alasan mengapa pajak tetap menjadi prioritas utama bagi penerimaan negara, yaitu:

Faktor geografis dan demografi Indonesia, dimana indonesia memiliki wilayah luas yang terdiri dari
17.000 pulau dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 dunia yang populasinya mencapai 240 juta jiwa.
Dengan kondisi tersebut, pembangunan secara merata diseluruh wilayah dan upaya meningkatkan
kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan dukungan finansial yang
kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Hasil kekayaan alam yang kita miliki ternyata belum cukup mampu
membiayai program tersebut, sehingga peranan pajak masih sangat diperlukan.

Meskipun Indonesia memiliki kekayaan sumber alam yang melimpah, semua akan menjadi sia-sia jika
tidak mampu dikelola dengan baik. Pembangunan infrastruktur tentunya menjadi faktor penunjang
utama untuk memaksimalkan pengolahan kekayaan alam. Namun, pembangungan infrastruktur
merupakan investasi yang sangat besar dan penerimaan pajak tetap menjadi sumber utama untuk
membiayai investasi tersebut.
Pertimbangan bahwa suatu saat kekayaan alam yang kita miliki akan habis, menjadikan pajak sebagai
prioritas dan solusi utama sumber pembiayaan negara.

Penjelasan di atas adalah gambaran umum mengenai negara Indonesia. Negara yang diakui tidak
menganut sistem Kapitalisme ini, jelas-jelas terperosok dalam jurang yang dalam. Kekayaan yang
melimpah tidak memberikan manfaat untuk rakyatnya. Negara dan rakyatnya terus-menerus terbelit
utang yang semakin membesar. Selain beban utang, rakyat pun harus menanggung beban pajak yang
semakin lama semakin ragam itemnya, karena subsidi yang harusnya menjadi hak rakyat malah semakin
dikurangi dan beban pajak pun semakin tinggi. Adapun akibat dari peningkatan pajak salah satunya bisa
berdampak pada turunnya daya beli masyarakat, dengan begitu Agregat Demand pun akan mengalami
penurunan pula. Sebab, pada dasarnya konsumsi masyarakat adalah salah satu komponen utama yang
menunjang pendapatan nasional. Sehingga akhirnya akan mengurangi jumlah pendapatan negara.
Seperti layaknya lingkaran setan, ketika akan memperbaiki suatu hal dengan meningkatkan salah satu
faktor, tetapi malah berdampak faktor lain yang mengalami penurunan. Hal yang merugikan masyarakat
adalah adalah kebocoran pengelolaan pajak yang masuk pada kantong-kantong tertentu. Di samping itu,
pemerintah tidak bisa memberikan transparansi pengelolaan pajak secara benar kepada masyarakat
luas. Pembiyaan negara bisa dilakukan dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam
mengelola negara pada zaman pemerintahannya.

b. Ketentuan Islam Mengenai Pajak

Istilah pajak dalam khasanah fikih Islam adalah sebagai ad-Dharibah yang artinya secara terminologis
merupakan harta yang diambil dari rakyat untuk mengurus negara. Pajak dalam Islam diwajibkan oleh
Allah SWT kepada kaum Muslim untuk membiayai beberapa kebutuhan dan pos-pos lainnya diwajibkan
kepada mereka,ketika di Baitul Maal tidak ada lagi harta. Pengelolaan keuangan negara ketika Rasulullah
tidak terfokus pada sektor pajak. Namun, dijelaskan dalam Islam bahwa suatu negara dapat
memperoleh sumber-sumber penerimaan negara yang bersifat tetap yaitu dari: harta fa’i, ghanîmah,
kharaj dan jizyah; harta milik umum; harta milik negara; ‘usyr; khumus rikâz; barang tambang; dan zakat.
Pemasukan tersebut diupayakan harus cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran yang wajib
ditunaikan oleh Baitul Mal. Dengan seluruh sumber di atas, negara pada dasarnya akan mampu
membiayai dirinya dalam rangka mensejahterakan rakyatnya. Dalam keadaan normal, pajak (dharîbah)
sesungguhnya tidak diperlukan. Negara hanya memungut pajak sewaktu-waktu, yaitu saat kas negara
benar-benar defisit. Itu pun hanya dipungut dari kaum Muslim yang kaya saja, tidak berlaku secara
umum atas seluruh warga negara. Dalam hal ini, Khilafah tidak akan pernah memungut pajak secara
rutin, apalagi menjadikannya sumber utama penerimaan negara (An-Nabhani, 2004: 238).

Selain adanya pemasukan rutin, syariat Islam juga telah mengatur pos-pos pengeluaran tertentu yang
harus dipenuhi oleh Baitul Mal, baik dalam kondisi ada harta maupun tidak. Jika pos-pos pengeluaran
penting tersebut tidak ditutupi oleh Baitul Mal, maka negara tidak akan memungut pajak dari rakyatnya.
Namun, pada kondisi tertentu beban yang dipikul negara Khilafah sangatlah besar, sehingga pendapat
Baitul Mal tidak cukup untuk menutupi pembiayaan wajib. Jika pendapatan negara tidak cukup, maka
negara akan meminta sumbangan sukarela dari kaum Muslim. Tetapi jika sumbangan tersebut juga tidak
bisa menutupi pos-pos kebutuhan dan pengeluaran wajib, maka saat itulah kewajiban pembiyaan
berbagai kebutuhan dan pos-pos pengeluaran tersebut beralih pada seluruh kaum Muslim. Ini
didasarkan pada kenyataan bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka untuk membiayai berbagai
kebutuhan maupun pos-pos pengeluaran tersebut, ketika Baitul Mal tidak sanggup lagi. Alasan lain jika
kebutuhan dan pos-pos pengelurana itu tidak dibiayai, maka akan timbul kemudharatan terhadap kaum
Muslim. Padahal Allah SWT juga telah mewajibkan negara dan umat untuk menghilangkan
kemudharatan yang menimpa kaum Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak boleh ada bahaya (dlarar) dan (saling) membahayakan.”.(HR. Bukhari dan Muslim).

c. Kriteria Pajak dalam Islam

Penetapan pajak kepada rakyat dalam Islam pada dasarnya karena kondisi emergency (darurat), bukan
kondisi normal. Hukum asalnya bahkan haram, tetapi menjadi boleh setelah kaadaan menjadi darurat.
Oleh karena itu, tidak semua negara dalam pandangan Islam menjadi wajib pajak, dalam pengertian
Dharibah sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Islam pun telah menetapkan kriteria pajak tersebut
dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Muslim,

2. Mampun dan mempunyai kelebihan harta,

3. Dipungut sesuai dengan kadar yang dibutuhkan.

Mengenai alasan syara’ menetapkan wajib pajak tersebut kepada Muslim, karena kebutuhan yang
didanai melalui pajak tersebut adalah kebutuhan jihad, dan yang terkait seperti pembentukan pasukan,
latihan militer, pengadaan alustista dan sebagainya, sementara aktivitas ini merupakan kewajiban kaum
Muslim. Selain jihad, kebutuhan yang didanai melalui pajak yaitu kebutuhan fakir miskin dan Ibnu Sabil,
dimana pembiyaan terhadap mereka telah diwajibkan oleh Allah SWT kepada kaum Muslim. Demikian
halnya kebutuhan untuk membayar gaji tentara, pegawai, hakim, guru, dan lain-lain yang melaksanakan
pekerjaan untuk kemaslahatan kaum Muslim, bukan yang lain. Begitu juga pemerintah menghilangkan
bahaya (dharar) itu juga diperintahkan kepada kaum Muslim, seperti pembukaan jalan-jalan umum,
sekolah-sekolah, universitas, rumah sakit, masjid-masjid, pengadaan saluran air minum, dan yang
lainnya. Karena jika tidak ada, maka akan menjadi dharar dalam kehidupan mereka. Termasuk di
dalamnya, pembiayaan untuk keadaan darurat maupun bencana alam, seperti longsor, gempa bumi,
angin topan, dan pembiayaan untuk mengusir musum. Semua itu diperintahkan oleh syara’ kepada
kaum Muslim. Karena itu, jika pajak dipungut dari orang non-Muslim, statusnya sama dengan
mengambil harta yang tidak diwajibkan oleh Allah kepada mereka, dan ini jelas zalim. Dengan kata lain,
mewajibkan apa yang tidak diiwajibkan oleh Allah SWT. Keduanya sama-sama tidak boleh. Untuk orang
non-Muslim, syariat tidak pernah mewajibkan kepada mereka, selain jizyah, sehingga tidak boleh
mengambil harta lain dari mereka.
Adapun wajib pajak tersebut ditetapkan hanya untuk orang yang mampu dan mempunyai kelebihan
harta, karena Rasulullah SAW bersabda:

‘Sebaik-baiknya sedekah adalah harta yang diberikan oleh orang kaya.’ (HR. Khuzaimah).

d. Alokasi Penggunaan Pajak jika Dibutuhkan

Adapun kebutuhan dan pos-pos pengeluaran yang pembiayaannya bisa diambil dari pajak, jika Baitul
Mal dan sumbangan sukarela kaum Muslim tidak mencukupi untuk menutupi pembiyaan adalah sebagai
berikut ini:

· Pembiayaan jihad dan semua hal yang berkaitan dengan aktivitas jihad seperti pembentukan
pasukan yang kuat dsb.

· Pembiayaan industri militer maupun pabrik-pabrik penunjangnya yang memungkinakan negara


mempunyai industri persenjataan.

· Pembiayaan bagi fakir miskin dan Ibnu Sabil.

· Pembiayaan untuk gaji tentara, pegawai, hakim, guru, dan lain-lain.

· Pembiayaan untuk kemasalhatan umat yang keberadaannya sangat dibutuhkan dan jika tidak
dibiayai menyebabkan bahaya.

· Pembiyaan untuk keadaaan darurat seperti bencana alam.

e. Pandangan Islam tentang Utang

Utang disebut oleh para fukaha’ dengan istilah al-qardh, secara harfiah berarti al-qath’ (potongan).
Karena harta tersebut merupakan potongan dari harta benda pemberi utang (al-mudharib). Sedangkan
mazhab Hanafi memberikan rincian sebagai berikut:

· Barang yang diberikan sebagai utang harus mempunyai nilai finasial.

· Kekhususan manfaat.

· Tidak memungkinkan terjadinya ‘ariyah (pinjaman).

· Ada barang pengganti yang diambil.

· Barang pengganti tidak berbeda dengan yang diganti.


Inilah batasan dan ketentuan umum tentang utang, termasuk barang yang diutang. Ketentuan ini
mendeskripsikan bahwa utang adalah bentuk akad yang melibatkan dua pihak. Adapun kriteria
pengutang (al-mustaqridh):

· Baligh

· Berakal

· Bebas (tidak dipaksa)

· Orang yang layak melakukan tabarru (memberikan harta).

Dari penjelasan di atas dapat dimimpulkan bahwa sistem Ekonomi Syariah merupakan jalan yang terbaik
untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih maju. Tidak ada yang merasa dirugikan terutama untuk
masyarakat menengah ke bawah. Tidak akan ada pula kekayaan yang dikuasai oleh sebagian kelompok
kecil saja. Dalam Syariat Islam, SDA merupakan kepimilikan umum yang jumlahnya tidak terbatas.
Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadist yang artinya “Manusia bersekutu (memiliki hak yang sama)
dalam tiga hal: hutan, air, dan energi.” (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah). Kesimpulan yang dapat dipetik
dari ayat di atas, pengelolaan SDA tidak hanya dikelola oleh orang yang banyak modalnya saja, namun
dapat dikelola oleh seluruh masyarakat dengan bijak.