Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkah, rahmat dan ridho-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Falsafah Keperawatan.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam menambah wawasan serta
pengetahuan saya mengenai “Humunistik dan Holistik”, “Proses Perubahan yang Benar”, “
Analisa Proses Humunistik”. Semoga makalah ini dapat dipahami bagi pembaca. Sebelumnya
saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan. Oleh karena itu
saya sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun dalam perbaikan serta
koreksi bagi kami.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Aliran humanisme  muncul pada tahun 90-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap
pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini
boleh dikatakan relative masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus
mengeluarkan konsep yag relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan
pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan ha-hal yang bersifat positif tentang manusia.
Pengertian humanisik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia
pendidikan yang beragam pula. Teori humanisme menyatakan bahwa bagian terpenting dalam
proses pembelajaran adalah unsure manusianya. Humanisme lebih melihat sisi perkembangan
kepribadian manusia dibandingkan berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit”. Manusia akan
mempunyai kemampuan positif untuk menyembuhkan diri dari “sakit” tersebut, sehingga sisi
positif inilah yang ingin dikembangka oleh teori humanisme
Secara holistic dalam keperawatan diperlukan ada suatu perubahan dengan merubah cara
pikir masyarakat tentang jenis;jenis pelayanan kesehatan yang muncul di dalamnya. Karena
perubahan itu merupakan suatu preoses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari satu
tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis. Artinya dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang ada atau beranjak untuk mencapai kesehatan yang optimal.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah
diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Humanisme dan holistik ?
2.      Proses perubahan yang benar?
3. Analisa proses humulistik?

1.3 Tujuan 
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Menjelaskan humunistik dan holistik
2.      Menjelaskan proses perubahan yang benar
3.      Menjelaskan analisa proses humulistik
BAB II
PEMBAHASAN

A. Humunistik dan Holistik


1  .Humanisme
Humanisme adalah upaya mengimplementasikan sikap dan tindakan yang sesuai prinsip-
prinsip penghargaan dan penghormatan nilai -nilai kemanusiaan yang meliputi segala aspek
kehidupan. Menurut teori humanisme tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia.
Pemahaman terhadap belajar yang diidealkan menjadi teori humanisme dapat memanfaatkan
teori belajar apapun asal tujuannya memanusiakan manusia. Hal ini menjadikan teori
humanisntik bersifat sangan eklektik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendiriian atau
pendekatan belajar tertentu akan ada kebaikan dan ada pula kelemahannya. Teori humanisme
akan memanfaatkan teori-teori apapun asal tujuanya tercapai yaitu memanusiakan manusia.
Manusia adalah makhluk yang kompleks. Banyak ahli didalam menyusun teorinya hanya
terpukau pada aspek tertentu yang sedang menjadi pusat perhatiannya. Dengan pertimbangan-
pertimbangan tertentu setiap ahli melakukan penelitiannya dari sudut pandangnya masing-
masing dan menganggap bahwa keterangannya tentang bagaimana manusia itu belajar adalah
sebagai keterangan yang paling memadai. Maka akan terdapat berbagai teori tentang belajar
sesuai pandangan masing-masing.

 Tokoh-Tokoh Teori Humanisme


Tokoh penting dalam teori humanistik secara teoritik antara lain adalah:
1.      Arthur Combs (1912-1999)
Arthur Combs bersama dengan Donald menyatakan bahwa belajar terjadi apabila mempunyai
arti bagi individu tersebut.Sebenarnya hal tersebut terjadi tak lain hanyalah dari ketidakmampuan
seseorang untuk melakukan sesautu yang tidak akan memberikan kepuasan bagi dirinya.
2.      Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal yaitu:
1)      suatu usaha yang positif untuk berkembang
2)      kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan
yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut
seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga
memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya
semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia
dapat menerima diri sendiri. Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi
tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan
fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan
mendapatkan rasaaman dan seterusnya.
3.      Carl Roger
Seorang psikolog humanism yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa
prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Menurut
Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan
prinsip pendidikan dan pembelajaran. Ada beberapa Asumsi dasar teori Rogers adalah:
Kecenderungan formatif; Segala hal di dunia baik organik maupun non-organik tersusun dari
hal-hal yang lebih kecil; Kecenderungan aktualisasi; Kecenderungan setiap makhluk hidup untuk
bergerak menuju ke kesempurnaan atau pemenuhan potensial dirinya. Tiap individual
mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan masalahnya.

 Humanisme dalam Keperawatan
Dalam keperawatan, humanisme merupakan suatu sikap dan pendekatan yang
memperlakukan pasien sebagai manusia yang mempunyai kebutuhan lebih dari sekedar nomor
tempat tidur atau sebagai seorang berpenyakit tertentu. Perawat yang menggunakan pendekatan
humanistik dalam prakteknya memperhitungkan semua yang diketahuinya tentang pasien yang
meliputi pikiran, perasaan, nilai-nilai, pengalaman, kesukaan, dan bahasa tubuh. Pendekatan
humanistik ini adalah aspek keperawatan tradisional dari caring yang diwujud nyatakan dalam
pengertian dan tindakan. Pengertian membutuhkan kemampuan mendengarkan orang lain secara
aktif dan arif serta menerima perasaan-perasaan orang lain. Prasyarat bertindak adalah mampu
bereaksi terhadap kebutuhan orang lain dengan keikhlasan, kehangatan untuk meningkatkan
kesejahteraan yang optimal.

 Humanisme dalam Peran dan Fungsi Perawat


Manusia yang manusiawi adalah bukan manusia yang egois, melainkan yang mau
berkorban demi sesama. Kita akan menyoroti hal ini yaitu sisi humanisme dari seorang perawat
dalam kaitannya dengan peran perawat vokasional dan advokat berkenaan dengan implikasi
adanya UU Rumah Sakit. Berdasarkan penjelasan Pasal 2 pada UU Rumah sakit, yang dimaksud
dengan ”nilai kemanusiaan” adalah bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit dilakukan dengan
memberikan perlakuan yang baik dan manusiawi dengan tidak membedakan suku, bangsa,
agama, status sosial dan ras. Tentunya di dalam hal tersebut mencakup tenaga kesehatan dan
salah satunya adalah perawat yang merupakan tenaga terbanyak di rumah sakit. Melihat
fenomena keperawatan era ini, hubungannya dengan peran perawat dalam melakukan tindakan
keperawatan yang tepat dan sesuai, sisi humanisme yang sebenarnya ada dalam diri seorang
perawat tampaknya sebagian besar belum terlihat. Padahal dalam keperawatan, humanisme
memiliki wadah cakupan yang sangat spesial.
Perawat yang menggunakan pendekatan humanistik dalam prakteknya memperhitungkan
semua yang diketahuinya tentang pasien meliputi pikiran, perasaan, nilai-nilai, pengalaman,
kesukaan, perilaku, dan bahasa tubuh. Pada kenyataanya yang menjadi masalah apakah semua
perawat memahami sepenuhnya hakekat humanisme tersebut ataukah hanya menafsirkan secara
parsial tentang humanisme dan hanya melihat sisi dasar serta melupakan fakta bahwa manusia
memiliki nilai yang lebih tinggi seperti cinta, pengorbanan, perlindungan serta hal lain. Perawat
yang memahami humanisme pada prakteknya akan lebih baik dalam memainkan peran dan
fungsinya. Sebaliknya, yang tidak memahami maupun hanya sebagian belum lengkap dalam
menafsirkan humanisme membuat perawat tersebut tidak jelas dalam menjalankan peran dan
fungsinya.
Dalam RUU Keperawatan disebutkan Perawat vokasional adalah seseorang yang
mempunyai kewenangan untuk melakukan praktik dengan batasan tertentu dibawah supervisi
langsung maupun tidak langsung oleh Perawat Profesioal dengan sebutan Lisenced Vocasional
Nurse (LVN). Perawat professional adalah tenaga professional yang mandiri, bekerja secara
otonom dan berkolaborasi dengan yang lain dan telah menyelesaikan program pendidikan profesi
keperawatan, telah lulus uji kompetensi perawat profesional yang dilakukan oleh konsil dengan
sebutan Registered Nurse (RN). Selama ini, perawat vokasional masih mendominasi di rumah
sakit maupun tempat pelayanan kesehatan lainnya. Perawat vokasional antara lain perawat dari
D3 Keperawatan maupun SPK yang setara dengan SLTA. Karena masih mendominasi di banyak
tempat pelayanan umum kesehatan, setidaknya perawat vokasional mampu memahami bahwa
dalam jiwa seorang perawat harus melekat erat sisi humanisme.
Perawat vokasional memiliki kemampuan aplikasi yang baik dalam melakukan tindakan
keperawatan memang tidak dapat dipungkiri. Namun, perawat vokasional memiliki kemampuan
teoritis yang lebih terbatas dari perawat profesional. Perawat profesional yang menjadi role
model bagi perawat vokasional, mampu memberi model sebagai perawat yang memiliki
humanisme tinggi pada pemberian asuhan keperawatan klien, dan mampu menjelaskan maksud
dan tujuan dari dilakukannya tindakan keperawatan yang rasional. Agar dapat membangun citra
keperawatan yang ideal di masyarakat, yaitu perawat cerdas, terampil, dan profesional. Peran
perawat sebagai advokat klien dengan melindungi hak klien untuk mendapat informasi dan untuk
berpartisipasi dalam keputusan mengenai perawatan yang akan mereka terima. Sebagai advokat,
perawat juga berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya
pemenuhan kebutuhan pasien.
Pada saat ini, masih banyak keputusan pasien dipulangkan sangat tergantung kepada
putusan dokter. Dengan peran dan fungsi perawat sebagai advokat, perawat dapat ikut
berpartisipasi dalam status kepulangan pasien mengingat perawat lebih sering berinteraksi
dengan klien. Sisi humanisme dalam peran perawat sebagai advokat, perawat melindungi hak
klien sebagai manusia dan secara hukum, serta membantu klien dalam menyatakan hak-haknya
bila dibutuhkan. Hal tersebut tercantum pula dalam Bab VII tentang Kewajiban dan Hak Pasal
29 UU Rumah Sakit. Ini berarti peran perawat sebagai advokat memang perlu menanamkan
humanisme demi terciptanya rumah sakit yang bermutu. Peran dan fungsi perawat menuntut
perawat untuk bekerja seoptimal mungkin dan tidak mengesampingkan segi kemanusiaan dalam
melakukan tindakan asuhan keperawatan pada klien. Bagi perawat di rumah sakit, humanisme
sangat berpengaruh dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan rumah sakit yang bermutu. Agar
tidak terjadi banyak komplain dari para klien yang dapat merusak citra rumah sakit maupun pada
perawat sendiri. Hal diatas merupakan salah satu langkah perawat untuk membangun citra
perawat ideal di mata masyarakat. Untuk mewujudkan citra perawat yang cerdas, terampil, dan
profesional serta mampu menjalankan peran dan fungsinya dibutuhkan kompetensi yang
memadai, kemauan, semangat, dan keseriusan dari dalam diri perawat sendiri.

 Evaluasi Keperawatan pada Teori Humanisme
Dalam dunia keperawatan ada sebagian perawat yang menerapkan teori
humanisme. Dalam beberapa instansi kesehatan masih banyak perawat yang belum menerapkan
teori humanisme. Contohnya: Pada suatu rumah sakit “X” ada pasien dari keluarga yang tidak
mampu bernama Joko menggunakan fasilitas kelas 3. Joko sakit liver dan diharuskan dirawat
dirumah sakit agar mendapatkan perawatan yg maksimal terhadap kondisi kesehatanx. Disisi lain
ada pasien bernama James juga dirawat di rumah sakit “X” karena sakit typus.
James menggunakan fasilitas kelas v-vip karena berasal dari keluarga yang status
sosialnya tinggi (orang kaya). Pada kenyataannya dilapangan kami menjumpai bahwa masih ada
perawat dalam menjalankan tugasnya cenderung membeda-bedakan dalam memberikan
pelayanan. Pada pasien kelas 3 ada perawat yang bersikap kasar dan acuh tak acuh dalam
melakukan asuhan keperawatan. Melakukan tindakan asuhan keperawatan seadanya saja, kurang
menggunakan prinsip-prinsip dasar humanisme. Sedangkan pada pasien kelas v-vip, perawat
memberikan pelayanan dengan penuh perhatian.
Pasien sangat dihargai dan dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan sangat
ramah, baik dan penuh empati. Sebagai seorang perawat harusnya kita bersikap professional
dalam menjalankan tugasnya tanpa membeda-bedakan status pasien seperti membedakan
perawatan pasien di kelas bangsal maupun v-vip dalam memberikan asuhan keperawatan harus
sama, karena pada dasarnya manusia itu sama, yang membedakan kelas atau fasilitas dirumah
sakit hanya status sosialnya saja. Seharusnya sebagai perawat harus benar-benar melakukan
semua tindakan keperawatan sesuai dengan kode etik keperawatan tanpa membeda-bedakan
pasien karena humanisme memiliki wadah cakupan yang sangat spesial dalam dunia
keperawatan.
Perawat yang menggunakan pendekatan humanistik dalam prakteknya memperhitungkan
semua yang diketahuinya tentang pasien meliputi pikiran, perasaan, nilai-nilai, pengalaman,
kesukaan, perilaku dan bahasa tubuh. Perawat yang memahami humanisme pada prakteknya
akan lebih baik dalam memainkan peran dan fungsinya. Sebaliknya, yang tidak memahami
maupun hanya sebagian belum lengkap dalam menafsirkan humanisme membuat perawat
tersebut tidak jelas dalam menjalankan peran dan fungsinya.

2. Pengertian Holistik

Holistik adalah sebuah cara pandang terhadap sesuatu yang dilakukan dengan konsep
pengakuan bahwa hal keseluruhan adalah sebuah kesatuan yang lebih penting dari pada
bagian-bagian yang membentuknya. Kata holistic berasal dari bahasa inggris yang memiliki arti
penekanan terhadap betapa pentingnya keseluruhan dan keterkaitan antara setiap bagian-
bagian yang membentuknya.

 Sejarah Holistok
Sejarah holistic dimulai sebelum istilah holism diperkenalkan oleh jan christiaan smust
dalam bukunya “Holism and Evolution”. Holisme saat ini berkembang dalam istilah holistic yang
mengkombinasikan penyembuhan, seni, dan ilmu hidup. Holistic popular dengan cepat pada
tahun 70-an. Walaupun istila holisme diperkenalakn di tahun 1926, penyembuhan holism
sebenarnya sudah ada jauh di jaman kuno kira-kira 5000 tahun yang lalu.
Sejarawan belum bisa memastikan dari bangsa manakah pertamakali ia dipraktekkan.
Kebanyakkan sejarawan percaya bahwa penyembuhan holistic dimulai di india atau cina. Para
praktisi holistic mempraktekkan prinsip hidup sehat lewat menyeimbangkan tubuh, pikiran dan
roh untuk menyatu atau harmonis dengan alam.
 Perawat Holistik
Asuhan kepeawatan yang didasarkan kepada perawatan pasien secara total yang
mempertimbangkan kebutuhan fisik, emosi , social, ekonomi dan spiritual seseorang. Perawat
perlu mempertimbangkan respon pasien terhadap penyakitnya dan mengkaji tingkat
kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Perawat harus menjadi teman
yang mendukung dan memotivasi pasien, mendorong pasien agar memahami arti hidup.

B . Proses Perubahan yang Benar

konsep Berubah.
Banyak definisi pakar tentang berubah , dua diantaranya yaitu :

1) Berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan
keadaan sebelumnya (Atkinson,1987)

2) Berubah merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi
(Brooten,1978)

Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan
perilaku kelompok. Setelah suatu masalah dianalisa, tentang kekuatannya. Maka pemahaman tentang
tingkat-tingkat perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna. Hersey dan Blanchard (1977)
menyebutkan dan mendiskusikan empat tingkatan perubahan.

1) Perubahan pertama dalam pengetahuan cenderung merupakan perubahan yang paling mudah
dibuat karena bisa merupakan akibat dari membaca buku, atau mendengarkan dosen. Sedangkan
perubahan sikap biasanya digerakkan oleh emosi dengan cara yang positif dan atau negatif. Karenanya
perubahan sikap akan lebih sulit dibandingkan dengan perubahan pengetahuan.

2) perilaku individu. Misalnya seorang manajer mungkin saja mengetahui dan mengerti bahwa
keperawatan primer jauh lebih baik dibandingkan beberapa model asuhan keperawatan lainnya, tetapi
tetap tidak menerapkannya dalam perilakunya karena berbagai alasan, misalnya merasa tidak nyaman
dengan perilaku tersebut.

3) Perilaku kelompok merupakan tahap yang paling sulit untuk diubah karena melibatkan banyak orang
. Disamping kita harus merubah banyak orang, kita juga harus mencoba mengubah kebiasaan adat
istiadat, dan tradisi juga sangat sulit.

4) Dari sikap yang mungkin muncul maka perubahan bisa kita tinjau dari dua sudut pandang yaitu
perubahan partisipatif dan perubahan yang diarahkan. Perubahan Partisipatif akan terjadi bila
perubahan berlanjut dari masalah pengetahuan ke perilaku kelompok. Pertama-tama anak buah
diberikan pengetahuan, dengan maksud mereka akan mengembangkan sikap positif pada subjek.
Karena penelitian menduga bahwa orang berperilaku berdasarkan sikap-sikap mereka maka seorang
pemimpin akan menginginkan bahwa hal ini memang benar. Sesudah berprilaku dalam cara tertentu
maka orang-orang ini menjadi guru dan karenanya mempengaruhi orang lain untuk berperilaku sesuai
dengan yang diharapkan.

- Respon Terhadap Suatu Perubahan

Faktor-faktor yang akan merangsang penolakan terhadap perubahan misalnya, kebiasaan, kepuasan
akan diri sendiri dan ketakutan yang melibatkan ego. Orang-orang biasanya takut berubah karena
kurangnya pengetahuan, prasangka yang dihubungkan dengan pengalaman dan paparan dengan orang
lain serta ketakutan pada perlunya usaha yang lebih besar untuk menghadapi kesulitan yang lebih tinggi.
Beberapa contoh ketakutan yang mungkin dialami seseorang dalam suatu perubahan antara lain :

1) Takut karena tidak tahu

2) Takut karena kehilangan kemampuan, keterampilan atau keahlian yang terkait dengan
pekerjaannya

3) Takut karena kehilangan kepercayaan / kedudukan

4) Takut karena kehilangan imbalan

5) Takut karena kehilangan penghargaan,dukungan dan perhatian orang lain.

- Perawat Sebagai Pembaharu

Menurut Oslan dalam Kozier (1991) mengatakan perawat sebagai pembaharu harus menyadari
kebutuhan sosial, berorientasi pada masyarakat dan kompeten dalam hubungan interpersonal.
Pembaharu juga perlu memahami sikap dan perilakunya, bagaimana ia menjalin kerjasama dengan
orang lain dan bagaimana perasaannya terhadap perubahan tersebut. Maukseh dan Miller dalam Kozier
menyebutkan karakteristik seorang pembaharu adalah :

1) Dapat mengatasi/ menaggung resiko. Hal ini berhubungan dengan dampak yang mungkin muncul
akibat perubahan.

2) Komitmen akan keberhasilan perubahan. Pembaharu harus menyadari dan menilai kefektifannya

3) Mempunyai pengetahuan yang luas tentang keperawatan termasuk hasil-hasil riset dan data-data
ilmu dasar, menguasai praktik keperawatan dan mempunyai keterampilan teknik dan interpersonal.

C. Analisa Proses Humunistik

 .  Teori    Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal yaitu:
1)      suatu usaha yang positif untuk berkembang
2)      kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan
yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut
seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga
memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya
semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia
dapat menerima diri sendiri. Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi
tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan
fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan
mendapatkan rasaaman dan seterusnya.

 .      Teori Arthur Combs (1912-1999)


Arthur Combs bersama dengan Donald menyatakan bahwa belajar terjadi apabila mempunyai
arti bagi individu tersebut. Artinya bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru tidak boleh
memaksakan materi yang tidak disukai oleh siswa. Sehingga siswa belajar sesuai dengan apa
yang diinginkan tanpa adanya paksaan sedikit pun. Sebenarnya hal tersebut terjadi tak lain
hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesautu yang tidak akan memberikan
kepuasan bagi dirinya. Sehingga guru harus lebih memahami perilaku siswa dengan mencoba
memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru
harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal
membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat
kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan
disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu.
BAB III

KESIMPULAN

Humanisme adalah upaya mengimplementasikan sikap,tindakan yang sesuai


prinsip - prinsip penghargaan dan penghormatan nilai - nilai kemanusiaan meliputi segala aspek
kehidupan. Karena dalam relung manusia ada nafsu saling memakan sesama (homo homini
lupus), maka dalam konteks ini harus ada upaya mengembangkan cita-cita kemanusiaan sebagai
sebuah hidup bersama.
Dalam keperawatan, humanisme merupakan suatu sikap dan pendekatan yang
memperlakukan pasien sebagai manusia yang mempunyai kebutuhan lebih dari sekedar nomor
tempat tidur atau sebagai seorang berpenyakit tertentu. Perawat yang memahami humanisme
pada prakteknya akan lebih baik dalam memainkan peran dan fungsinya. Sebaliknya, yang tidak
memahami maupun hanya sebagian belum lengkap dalam menafsirkan humanisme membuat
perawat tersebut tidak jelas dalam menjalankan peran dan fungsinya.
Daftar isi

Kata Pengantar……………………………………………………………………….

Daftar Isi………………………………………………………………………………

BAB 1 Pendahuluan…………………………………………………………………

1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………

1.2 Rumusan Makalah………………………………………………………………..

1.3 Tujuan……………………………………………………………………………...

BAB 2 Pembahasan………………………………………………………………….

A. Humunistik dan holistic………………………………………………………

B. Proses Perubahan yang Benar………………………………………………

C. Analisa Proses Humunistik…………………………………………………

BAB 3 Penutup………………………………………………………………………

Kesimpulan…………………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA

Dwidiyanti, Meidiana SKp, Msc. 2008. Keperawatan Dasar. Semarang : Hasani Potter & Perry. 2005.
Fundamental Keperawatan Vol. 1. Jakarta : EGC RUU Keperawatan Undang-Undang RI No. 44 Tahun
2009 tentang Rumah Sakit.
http://www.kompasiana.com/nezfine/humanisme-dalam-peran-dan-fungsi-
perawat_55004ccca3331118705106f6.
https://novitanila2121.wordpress.com/2012/11/14/konsep-humanisme.html
http://ceritaanni.wordpress.com/2011/10/08/teori-humanistik-maslow-roger.html
http://tepmalang.blogspot.com/2011/09/teori-humanistik-carl-rogers.html
http://novinasuprobo.wordpress.com/2008/06/15/teori-belajar-humanistik.html

Swanburg. C. Russell. Alih Bahasa Waluyo. Agung & Asih. Yasmin. (2001).
Pengembangan Staf Keperawatan, Suatu Komponen Pengembangan SDM.
EGC.
Jakarta

Swanburg. C. Russell. Alih Bahasa Samba.Suharyati. (2000). Pengantar


kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Untuk Perawat Klinis. EGC.
Jakarta

La Monica L. Elaine. Alih Bahasa Nurachmah. Elly. (1998). Kepemimpinan


dan
Manajemen Keperawatan, Pendekatan Berdasarkan Pengalaman. EGC.
Jakarta

…………..Manajemen Bidang Keperawatan. (2000) Pusat Pengembangan


Keperawatan
Carolus. Jakarta

Kozier, Fundamental of Nursing. (1991) Concept, Process, and


Practice,Addison
Wesley,Publishing company,Inc
TUGAS

FALSAFAH KEPRRAWATAN

DI SUSUN OLEH:

NAMA: ANIZA ATAHYA HARIYATI

KELAS: A. PAGI

PRODI/SEMESTER: KEPERAWATAN/ 1
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MALUKU HUSADA

AMBON

TAHUN 2019