Anda di halaman 1dari 32

NAMA : ADE FEBRIANSYAH

NIM : 11820712165
JURUSAN : ILMU HUKUM
SEMESTER :4
LOKAL : IH-E

FIQH MAWARIS I
BAB I ILMU WARIS DAN PERKEMBANGANNYA
A. Pendahuluan
Fiqh secara bahasa berarti memahami. Kemudian pada perkembangan berikutnya
kata fiqh dijadikan sebagai istilah teknis yang ruang lingkupnya terbatas pada hukum-
hukum yang bersifat praktis („amaliyah) yang di-istinbath-kan dari AlQur‟an dan al-
Sunnah. Sedangkan kata mawaris adalah bentuk jamak dari kata mirats yang berarti
warisan atau bisa juga berarti harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia.
Berdasarkan gambaran diatas dapat dipahami bahwa ilmu mawaris adalah ilmu yang
mempelajari tentang ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan orang-orang yang berhak
menerima harta warisan, orang-orang yang tidak berhak menerima harta warisan, bagian-
bagian yang diterima oleh ahli waris, serta tata cara pembagian harta warisan tersebut.
B. Hukum Mempelajari dan Mengajarkan Ilmu Waris
Tujuan disyari‟atkannya ketentuan pembagian harta warisan adalah agar dikemudian
hari sepeninggal si mayyit (muwarris) tidak muncul perselisihan dan pertikaian yang
disebabkan oleh harta warisan. Oleh karena pentingnya ilmu waris, para ulama sepakat
bahwa mempelajari ilmu waris hukumnya fardhu kifayah dalam arti bahwa apabila sudah
ada orang yang cukup untuk melaksanakannya, maka sunnah hukumnya bagi yang
lainnya.
C. Perkembangan Ilmu Waris Islam
1. Sistem Pembagian Warisan Sebelum Islam
Bangsa Arab Jahiliyah telah mengenal sistem waris sebagai sebab berpindahnya
kepemilikan yang dapat dilakukan berdasarkan sebab:
a. Pertalian kerabat (al-qarabah)
Pertalian kerabat yang menyebabkan seseorang mendapatkan warisan adalah
mereka lakilaki dewasa yang kuat fisiknya yang ditandai dengan kemampuan
menunggang kuda, kemampuan memanggul senjata, dan kemampuan bertempur
dalam rangka menjaga kehormatan suku dan marga mereka. Sehingga berimplikasi
kepada ketidak berhakkan anak-anak (laki-laki dan perempuan) dan kaum

1
perempuan dewasa untuk mendapatkan warisan, dengan alasan mereka tidak mampu
melakukan tugas-tugas pertempuran dan dianggap tidak cakap melakukan perbuatan
hukum. Oleh karena itu, secara umum pada masa tersebut mereka yang dapat
memperoleh bagian warisan adalah: anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, dan
anak laki-laki paman yang kesemuanya sudah dewasa.
b. Janji Prasetia (al-hilf wa al-mu‟aqadah)
Janji prasetia atau perjanjian merupakan salah satu sebab seseorang
memperoleh hak warisan. Perjanjian ini dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Dimana seseorang menyatakan ikrar kepada orang lain dengan mengatakan:
”Darahku darahmu, pertumpahan daraku pertumpahan darahmu, perjuanganku
perjuanganmu, perangku perangmu, damaiku damaimu, kamu mewarisi hartaku aku
mewarisi hartamu, kamu dituntut darahmu karena aku dan aku dituntut darahku
karena kamu, dan diwajibkan membayar denda sebagai pengganti nyawaku, aku pun
diwajibkan membayar denda sebagai pengganti nyawamu.” 9 Sebagai akibat dari
perjanjian tersebut, apabila salah satu dari mereka meninggal dunia maka pihak
lainnya berhak menerima harta peninggalannya. Besarnya bagian yang diterima
dalam perjanjian ini adalah 1/6 bagian dari harta peninggalan si mayyit.
c. Adopsi (al-tabanni)
Adopsi atau pengangkatan anak merupakan salah satu adat bangsa Arab yang
sudah lama dikenal oleh masyarakat Jahiliyah. Status anak angkat sama
kedudukannya dengan anak kandung yang dapat mewarisi harta orang tua
angkatnya.
2. Sistem Pembagian Warisan Pada Masa Awal Islam
Pada masa awal Islam, sistem pembagian warisan belum mengalami perubahan
yang signifikan, artinya sistemnya masih memberlakukan adat bangsa Arab Jahiliyah.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya terdapat penambahan kategori penerima
harta waris dengan alasan strategi dan kepentingan dakwah Islam, sehingga siapapun
yang ikut hijrah ke madinah berhak untuk saling mewarisi, juga ikatan persaudaraan
(almuakhakh) dengan kaum Anshar menjadi sebab saling mewarisi seakan-akan mereka
adalah saudara kandung.
Sistem ini tidak berlangsung lama, karena pada perkembangan selanjutnya Islam
membatalkan satu persatu secara bertahap hukum waris melalui jalur-jalur tersebut.
D. Sumber Hukum Kewarisan Islam
1. Al-Qur‟an

2
Al-qur‟an telah menghapus ketentuanketentuan hukum yang berlaku pada masa
Jahiliyah dan ketentuan yang berlaku pada masa awal Islam, sebagaimana telah
disebutkan diatas dan setelah adanya penghapusan-penghapusan tersebut, kemudian
Allah swt membuat ketentuan-ketentuan yang berlaku dan dijadikan sebagai sumber
hukum bagi umat Islam dalam masalah pembagian harta warisan, diantaranya;
ۖ ََ‫سا ًء فَ ُْقَ اثْىَرٍَ ِْه فَلَ ٍُ هه ثُلُثَا َما ذ ََز‬ َ ِ‫ظ ْاْل ُ ْوثٍٍََ ِْه ۚ فَإ ِ ْن ُك هه و‬ ّ ِ ‫َّللاُ فًِ أ َ َْ ََل ِد ُك ْم ۖ ِللذه َك ِز ِمثْ ُل َح‬ ‫ُُصٍ ُك ُم ه‬
ِ ٌ(
‫ُس ِم هما ذ ََزََ إِ ْن َكانَ لًَُ ََلَدٌ ۚ فَإ ِ ْن لَ ْم‬ ُ ‫سد‬ ُّ ‫اح ٍد ِم ْى ٍُ َما ال‬ ِ ََ ‫ف ۚ ََ ِْل َ َت َُ ٌْ ًِ ِل ُك ِّل‬ ُ ‫ص‬ ْ ّ‫احدَج ً فَلَ ٍَا ال ِى‬ ِ ََ ‫َد‬ ْ ‫ََ ِإ ْن َكاو‬
‫ُُصً تِ ٍَا‬ ِ ٌ ‫صٍه ٍح‬ ِ ََ ‫ُس ۚ ِم ْه تَ ْع ِد‬
ُ ‫سد‬ ُّ ‫ث ۚ فَإ ِ ْن َكانَ لًَُ إِ ْخ َُج ٌ فَ ِِل ُ ِ ّم ًِ ال‬ ُ ُ‫ٌَ ُك ْه لًَُ ََلَدٌ ََ ََ ِرثًَُ أَتَ َُايُ فَ ِِل ُ ِ ّم ًِ الثُّل‬
‫ً ِلٍ ًما َح ِكٍ ًما‬ ‫ضحً ِمهَ ه‬
‫َّللاِ ۗ ِإ هن ه‬
َ َ‫َّللاَ َكان‬ َ ٌ‫ب لَ ُك ْم وَ ْفعًا ۚ فَ ِز‬ ُ ‫أ َ َْ دٌَ ٍْه ۗ آ َتاؤُ ُك ْم ََأ َ ْتىَاؤُ ُك ْم ََل ذَد ُْرَنَ أٌَُّ ٍُ ْم أ َ ْق َز‬
“Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu,
yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan, dan
jika anak (perempuan) itu semuanya lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga
dari garta yang ditinggalkan. Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia
memperoleh separoh harta. Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masingmasingnya
seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak.
Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu
bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika yang meninggal itu
mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-
pembagian tersebut diatas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan)
sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak
mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.
Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Al-Nisa : 11)

2. Al-Sunnah.
Ketentuan hadis tentang pembagian warisan, diantaranya;
”Nabi SAW bersabda: ”Berikanlah bagian-bagian tertentu kepada orang-orang
yang berhak. Sesudah itu sisanya untuk orang lakilaki yang lebih utama (dekat
kekerabatannya)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

”Orang muslim tidak berhak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak berhak
mewarisi orang muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Al-Ijma‟
Para ulama telah sepakat untuk menerima dan menerapkan ketentuan dan
ketetapan hukum pembagian warisan sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat-Nya
sebagai suatu ketetapan yang harus dilaksanakan dalam upaya mewujudkan keadilan
dalam masyarakat. Ijma‟ dimaknai sebagai kesepakatan seluruh ulama mujtahid

3
tentang suatu ketentuan hukum syara‟ mengenai suatu hal pada suatu masa setelah
wafatnya Rasulallah saw.
4. Al-Ijtihad
Ijtihad adalah pemikiran para sahabat atau para ulama yang memiliki kriteria dan
syarat yang cukup sebagai seorang mujtahid tentang permasalahanpermasalahan yang
berkaitan dengan ketentuan hukum (termasuk ketetapan tentang pembagian warisan)
dalam rangka menjawab persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat dengan
tujuan menciptakan keadilan.
E. Syarat dan Rukun Mawaris
Syarat adalah sesuatu yang karena ketiadaannya menyebabkan tidak adanya hukum,
sedangkan rukun adalah keberadaan sesuatu yang menjadi bagian atas keberadaan sesuatu
yang lain.11 Syarat mawaris mengikat dan mengikuti rukun mawaris. Adapun rukun
mawaris ada 3 (tiga), yaitu; al-muwarris, al-waris, dan al-maurus.
1. Al-Muwarris, yaitu orang yang hartanya dipindahkan kepada orang lain atau orang
yang mewariskan hartanya. Syaratnya adalah al-muwarris harus telah meninggal dunia,
baik meninggal dunianya secara hakiki yaitu kematian seseorang yang dapat diketahui
secara riil tanpa harus melalui pembuktian atau lainnya, atau kematian secara hukmi
yaitu suatu kematian yang dinyatakan oleh keputusan hakim atas dasar beberapa sebab.
2. Al-Waris, yaitu ahli waris yang dinyatakan mempunyai hubungan kekerabatan baik
karena nasab (darah), mushaharah (perkawinan) maupun karena memerdekakan budak.
Syaratnya bahwa al-waris (ahli waris) masih hidup pada saat terjadinya kematian
almuwarris, dan antara al-muwarris dan al-waris tidak ada halangan untuk saling
mewarisi.
3. Al-Maurus, yaitu harta peninggalan al-muwarris setelah dikuarngi untuk biaya
penyelenggaraan jenazah, membayarkan hutang al-muwarris, dan pelaksanaan wasiat
al-muwarris (jika ada).
F. Sebab-sebab dan Penghalang Menerima Warisan
1. Sebab-sebab Menerima Harta Warisan
a. Hubungan Perkawinan (Al-Mushaharah)
b. Hubungan Nasab (Nasabiyah) atau Kekerabatan (AlQarabah)
c. Al-Wala‟ (Memerdekakan Budak)
2. Sebab-sebab Terhalang Menerima Harta Warisan (Mawani‟ al-Irtsi)
a. Pembunuhan
b. Berlainan Agama

4
c. Perbudakan
G. Hak-hak yang Harus Ditunaikan Sebelum Pembagian Warisan
Hak-hak yang wajib ditunaikan sebelum harta warisan dibagikan kepada ahli waris
ada tiga, yaitu: Biaya penyelenggaraan jenazah (tajhiz al-janazah), pelunasan hutang (wafa
al-duyun), dan pelaksanaan wasiat (tanfiz alwasaya).
1. Biaya Penyelenggaraan Jenazah (tajhiz al-janazah)
Penyelenggaraan jenazah yang dimaksud disini adalah meliputi seluruh biaya
yang dikeluarkan sejak orang tersebut meninggal dunia, seperti biaya memandikan,
mengkafani, mengantarkan jenazah hingga menguburkan, dan termasuk di dalam biaya
penyelenggaraan jenazah adalah biaya perawatan selama muwarris sakit menjelang
kematiannya.
2. Pelunasan Utang
Utang adalah tanggungan yang harus dibayarkan sesuai dengan waktu perjanjian
awal sebagai akibat ari imbalan yang telah diterima oleh orang yang berhutang. Oleh
karena itu sebelum harta warisan dibagikan terlebih dahulu dibayarkan utang-utang
muwarris-nya
3. Pelaksanaan Wasiat
Jumhur ulama sepakat bahwa secara umum pemberian wasiat kepada ahli waris
hukumnya adalah haram, baik wasiat itu sedikit atau banyak, karena Allah swt telah
membagikan faraid kepada ahli waris. Akan tetapi, jika ahli waris lain menyetujui
adanya pemberian wasiat kepada salah seorang atau beberapa orang diantara ahli waris
yang ada maka hukumnya boleh, karena pada dasarnya hak harta muwarris berada di
tangan mereka para ahli waris.
Wasiat dilaksanakan setelah biaya penyelenggaraan jenazah dan utang-utang
muwarris dilunasi. Mengenai besarnya jumlah wasiat, jumhur ulama sepakat maksimal
1/3 dari seluruh harta warisan yang ditinggalkan oleh muwarris

5
BAB II MACAM-MACAM AHLI WARIS
A. Ahli Waris Nasabiyah
Ahli waris nasabiyah adalah ahli waris yang hubungan kekerabatannya dengan al-
muwarris dipertalikan dengan hubungan darah. Mereka terdiri dari 13 orang lakilaki dan 8
orang perempuan. Ahli waris laki-laki adalah sebagai berikut :
1. Anak laki-laki (al-ibn)
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki (ibn al-ibn) dan seterusnya ke bawah
3. Ayah (al-ab)
4. Kakek dari garis ayah (al-jadd kin jihat al-ab)
5. Saudara laki-laki sekandung (al-akh al-syaqiq)
6. Saudara laki-laki seayah (al-akh li al-ab)
7. Saudara laki-laki seibu (al-akh li al-umm)
8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (ibn alakh al-syaqiq)
9. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah (ibn al-akh li al-ab)
10. Paman (saudara ayah) sekandung (al-‟am al-syaqiq)
11. Paman (saudara ayah) seayah (al-‟amm li al-ab)
12. Anak laki-laki dari paman sekandung (ibn al-„amm alsyaqiq)
13. Anak laki-laki dari paman seayah (ibn al-„amm li al-ab)
Sementara Ahli waris perempuan adalah sebagai berikut:
1. Anak perempuan (al-bint)
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki (bint al-ibn)
3. Ibu (al-umm)
4. Nenek dari garis ayah (al-jaddah min jihat al-ab)
5. Nenek dari garis ibu (al-jaddah min jihat al-umm)
6. Saudara perempuan sekandung (al-ukht al-syaqiqah)
7. Saudara perempuan seayah (al-ukht li al-ab)
8. Saudara perempuan seibu (al-ukht li al-umm)
B. Ahli Waris Sababiyah
Ahli waris sababiyah adalah ahli waris yang hubungan kekerabatannya berdasarkan
sebab-sebab: Perkawinan (al-mushaharah), yaitu suami dan isteri; memerdekakan budak,
yaitu mu‟tiq dan mu‟tiqah; serta karena tolong menolong (menurut sebagian ulama
Hanafiyah)
C. Ahli Waris Ashab al-Furudh al-Muqaddarah dan Bagiannya

6
Ahli waris ashab al-furudh al-muqaddarah adalah ahli waris yang memperoleh
bagian tertentu sebagaimana ketentuan al-qur‟an. Mereka adalah :
1. Anak perempuan, bagiannya adalah:
a. 1/2 jika seorang diri dan tidak ada anak laki-laki
b. 2/3 jika dua orang atau lebih dan tidak ada anak laki-laki
c. ‟Ashabah bi al-ghairi (Abg), jika bersama anak laki-laki.
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki, jika tidak terhalang bagiannya adalah:
a. 1/2 jika seorang diri dan tidak ada cucu laki-laki dari anak laki-laki.
b. 2/3 jika dua orang atau lebih dan tidak ada cucu lakilaki dari anak laki-laki.
c. ‟Ashabah bi al-ghairi (Abg), jika bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki.
d. 1/6 sebagai pelengkap bagian 2/3 (takmilah al-tsulutsain) jika bersama seorang anak
perempuan dan tidak ada cucu laki-laki dari anak laki-laki.
3. Ibu, bagiannya adalah:
a. 1/3 jika tidak ada far‟u waris (anak/cucu) atau dua orang saudara atau lebih.
b. 1/6 jika bersama far‟u waris atau bersama dua orang saudara atau lebih.
c. 1/3 sisa, dalam masalah gharawain
4. Ayah, bagiannya adalah:
a. ‟Ashabah jika tidak ada anak laki-lakai atau cucu laki-laki dari anak laki-laki.
b. 1/6 jika ada anak laki-laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki.
c. 1/6+sisa jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.
5. Nenek (baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah), jika tidak terhalang bagiannya
adalah 1/6, jika nenek tersebut lebih dari seorang maka dibagi rata.
6. Kakek, jika tidak terhalang bagiannya adalah:
a. 1/6
b. 1/3 atau 1/6 atau muqasamah dalam masalah al-jadd ma‟a al-ikhwah (kakek bersama
saudara).
7. Saudara perempuan sekandung, jika tidak terhalang bagiannya adalah:
a. 1/2 jika seorang diri dan tidak ada saudara laki-laki sekandung.
b. 2/3 jika dua orang atau lebih dan tanpa saudara laki-laki sekandung.
c. ‟Ashabah bi al-ghairi (Abg), jika bersama saudara laki-laki sekandung.
d. ‟ashabah ma‟a al-ghair (Amg), jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan
dari anak laki-laki dan tanpa saudara laki-laki sekandung.
8. Saudara perempuan seayah, jika tidak terhijab bagiannya adalah:
a. 1/2 jika seorang diri dan tanpa saudara laki-laki seayah.

7
b. 2/3 jika dua orang atau lebih dan tanpa saudara laki-laki seayah
c. ‟Ashabah bi al-ghairi (Abg), jika bersama saudara laki-laki seayah.
d. 1/6 jika bersama seorang saudara perempuan sekandung, sebagai pelengkap 2/3
bagian (takmilah altsulutsain) dan tanpa saudara laki-laki seayah.
e. ‟Ashabah ma‟a al-ghairi (Amg), jika bersama anak perempuan atau cucu perempuan
dari anak laki-laki dan tanpa saudara laki-laki seayah.
9. Saudara laki-laki seibu/saudara perempuan seibu, jika tidak terhalang bagiannya adalah:
a. 1/6 jika seorang diri,
b. 1/3 jika dua orang atau lebih,
c. Bergabung menerima bagian 1/3 bersama saudara sekandung (dalam masalah
musyarakah), ketika bersama ahli waris suami dan ibu.
10. Suami, bagiannya adalah:
a. 1/2 jika tidak ada anak atau cucu (baik laki-laki maupun perempuan),
b. 1/4 jika bersama anak atau cucu (baik laki-laki maupun perempuan),
11. Isteri, bagiannya adalah:
a. 1/4 jika tidak ada anak atau cucu (baik laki-laki maupun perempuan),
b. 1/8 jika bersama anak atau cucu (baik laki-laki maupun perempuan),
D. Ahli Waris „Ashabah dan Macam-macamnya
Dalam konsep ilmu waris, terdapat 3 (tiga) macam ahli waris „ashabah, yaitu:
1. „Ashabah bi nafsih, yaitu ahli waris laki-laki (dari garis laki-laki) yang karena
kedudukan dirinya sendiri dan tanpa adanya pengaruh dari ahli waris manapun berhak
menerima bagian „ashabah. Prinsip yang berlaku pada ahli waris „ashabah adalah
“yang dekat menghalangi yang jauh”.
Mereka secara berurutan adalah:
a. Anak laki-laki,
b. Cucu laki-laki dari anak laki-laki,
c. Ayah,
d. Saudara laki-laki sekandung,
e. Saudara laki-laki seayah,
f. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung,
g. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah,
h. Paman sekandung,
i. Paman seayah,
j. Anak laki-laki dari paman sekandung,

8
k. Anak laki-laki dari paman seayah,
l. Mu‟tiq (laki-laki yang memerdekakan budak), dan
m. Mu‟tiqah (perempuan yang memerdekakan budak).
2. „Ashabah bi al-ghair, yaitu ahli waris perempuan (ashab alfurudh) yang menerima
bagian sisa karena adanya ahli waris laki-laki (yang setingkat dengan dirinya) yang
lebih dahulu menerima bagian sisa. Mereka adalah:
a. Anak perempuan jika bersama anak laki-laki,
b. Cucu perempuan dari anak laki-laki jika bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki,
c. Saudara perempuan sekandung jika bersama saudara laki-laki sekandung,
d. Saudara perempuan seayah jika bersama saudara lakilaki seayah.
„Ashabah bi al-ghair hanya terjadi pada 4 (empat) ahli waris perempuan
sebagaimana telah disebutkan diatas, karena hanya empat ahli waris tersebut yang
memiliki ahli waris laki-laki penerima „ashabah yang setingkat.
3. „Ashabah ma‟a al-ghair, yaitu ahli waris perempuan (ashab al-furudh) yang menerima
bagian sisa karena adanya ahli waris perempuan lain (yang tidak setingkat dengan
dirinya) yang menerima bagian tertentu. Mereka adalah:
a. Saudara perempuan sekandung (seorang atau lebih) jika bersama anak perempuan
atau cucu perempuan dari anak laki-laki (seorang atau lebih).
b. Saudara perempuan seayah (seorang atau lebih) jika bersama anak perempuan atau
cucu perempuan dari anak laki-laki (seorang atau lebih).
E. Ahli Waris Zawi al-Arham
Secara bahasa dzawi al-arham berarti orang yang terikat dengan orang lain dengan
ikatan kekerabatan. Sementara menurut istilah adalah seluruh kerabat yang bukan
termasuk ashab al-furudh dan „ashabah,28 atau dengan kata lain dzawi al-arham adalah
semua kerabat yang tidak mendapatkan bagian furudh al-muqaddarah dan „ashabah. Oleh
karena itu kelompok ini tidak berhak menerima bagian warisan selama ada ahli waris
ashab al-furudh dan „ashabah.29 Bahkan ada yang menyatakan bahwa kelompok ini
termasuk ghairu waris (bukan ahli waris). Kajian ini akan penulis paparkan lebih luas lagi
dalam bab tersendiri tentang dzawi al-arham.
F. Ahli Waris yang Terhijab
Ahli waris yang menghalangi disebut hajib sedangkan ahli waris yang terhalang
disebut mahjub. Hijab terbagi menjadi dua macam, yaitu:

9
1. Hijab Nuqshan, yaitu keadaan terkuranginya bagian ahli waris dalam penerimaan harta
warisan (yang semula menerima jumlah besar menjadi kecil) dikarenakan adanya ahli
waris lain yang hubungan kekerabatannya lebih dekat dengan al-muwarris.
2. Hijab Hirman, yaitu keadaan terhalangnya bagian ahli waris dalam penerimaan harta
warisan (yang semula menerima bagian warisan menjadi tidak menerima sama sekali)
dikarenakan adanya ahli waris lain yang hubungan kekerabatannya lebih dekat dengan
al-muwarris.

10
BAB III METODE PENGHITUNGAN BAGIAN WARISAN
A. Metode Penggunaan Asal Masalah
Asal masalah adalah bilangan atau angka bulat yang digunakan untuk membagi
angka penyebut pada bagian yang diterima oleh ahli waris sebelum dikalikan dengan
jumlah harta peninggalan al-muwarris atau dalam konsep perhitungan matematika dikenal
dengan istilah Kelipatan Persekutuan terKecil (KPK). Adapun langkahlangkah
penyelesaiannya adalah sebagai berikut :
1. Jika ahli warisnya hanya terdiri dari kelompok ashabah bi nafsihi (ahli waris laki-laki
yang menerima bagian sisa), maka asal masalahnya diambil dari jumlah ahli waris
tersebut.
2. Jika ahli warisnya terdiri dari ashab al-furudh (ahli waris penerima bagian tertentu)
perempuan dan ‟ashabah (ahli waris penerima bagian sisa) laki-laki yang setingkat,
maka bagian laki-laki adalah dua kali bagian perempuan, sehingga asal masalahnya
diambil dari jumlah bagian yang diterima oleh ahli waris tersebut.
3. Jika ahli warisnya hanya terdiri dari seorang kelompok ashab al-furudh (ahli waris
penerima bagian tertentu), maka asal masalahnya diambil dari angka penyebut dari
bagian ahli waris tersebut.
4. Jika ahli warisnya banyak, baik hanya terdiri dari kelompok ashab al-furudh atau terdiri
dari kelompok ashab al-furudh dan ashab al-‟ashabah, maka asal masalahnya dengan
cara mencari KPK (Kelipatan Persekutuan terKecil) dengan merujuk pada angka
penyebut bagian masing-masing ahli waris yang ada.
Selain bentuk penyelesaian pembagian warisan tersebut, ada beberapa istilah yang
dapat membantu untuk memudahkan dalam merumuskan angka asal masalah, yaitu
dengan cara memperhatikan angka-angka penyebut dari bagian yang diterima masing-
masing ahli waris. Istilah-istilah tersebut adalah:
1. Mumatsalah atau Tamatsul, yaitu jika angka penyebut masing-masing bagian ahli
waris sama besarnya. Maka asal masalahnya diambilkan dari angka penyebut tersebut.
2. Mudakhalah atau Tadakhul, yaitu jika angka penyebut bagian ahli waris berbeda tetapi
angka penyebut yang besar dapat dibagi oleh angka penyebut yang kecil, maka angka
asal masalahnya diambilkan dari angka penyebut yang besar.
3. Muwafaqah atau Tawafuq, yaitu jika angka penyebut pada bagian masing-masing ahli
waris berbeda, dimana angka penyebut yang besar tidak dapat dibagi oleh angka
penyebut dibawahnya.

11
4. Mubayanah atau Tabayun, yaitu jika angka penyebut pada bagian masing-masing ahli
waris tidak sama, dimana angka penyebut yang besar tidak dapat dibagi oleh angka
penyebut yang lebih kecil dan masing-masing angka penyebut tersebut tidak dapat
dibagi oleh angka yang sama. Maka penetapan angka asal masalahnya adalah dengan
cara mengalikan antara angka penyebut tersebut.
B. Metode Penggunaan Tashih al-Masail
Tashih al-masail adalah mencari angka asal masalah yang terkecil agar dapat
dihasilkan bagian yang diterima oleh ahli waris tidak berupa angka pecahan.31 Metode ini
hanya digunakan jika bagian yang diterima ahli waris berupa angka pecahan, jadi langkah
ini semata-mata hanya untuk mempermudah penghitungan dalam pembagian warisan.
Masalah ini biasanya terjadi apabila didalam pembagian warisan terdapat kelompok
ahli waris yang menghendaki adanya pembagian 2 : 1, seperti; anak laki bersama anak
perempuan dan disertai ahli waris lainnya; saudara perempuan sekandung bersama saudara
laki-laki sekandung dan disertai ahli waris lainnya; dan seterusnya, atau bisa juga jika ahli
warisnya dalam satu kelompok jumlahnya lebih dari satu orang, seperti; 3 orang anak
perempuan; 5 orang saudara perempuan sekandung; 4 orang anak laki-laki; dan
seterusnya.
C. Cara Pembagian Warisan Jika Ahli Warisnya Terdiri dari Ashab al-Furudh dan
Ashabah al-‘Ashabah
Jika dalam permasalahan pembagian warisan, ahli warisnya terdiri dari kelompok
ashab al-furudh dan ashab al„ashabah, maka langkah-langkah yang perlu diperhatikan:
1. Melakukan penyeleksian ahli waris yang terhijab;
2. Menetapkan bagian masing-masing ashab al-furudh;
3. Menetapkan ahli waris „ashab al-ashabah yang lebih dahulu berhak menerima bagian
sisa dengan ketentuan;
a. Jika masing-masing ahli waris sebagai „ashabah bi nafsihi, maka yang terdekatlah
yang menerima bagian „ashabah.
b. Jika ada ahli waris yang menerima „ashabah bi al-ghairi, maka mereka bergabung
menerima „ashabah. Seperti anak perempuan bergabung bersama anak laki-laki,
kemudian berlaku prinsip 2 : 1.
c. Jika ada ahli waris yang menerima „ashabah ma‟a alghairi, berarti terjadi perubahan
yang semula menerima ashab al-furud menjadi penerima „ashabah, tetapi ahli waris
penyebabnya tetap menerima furudh al-muqaddarah.
D. Cara Pembagian Warisan Jika Ahli Warisnya Ashab Al-Furudh saja

12
Jika dalam pembagian warisan, ahli warisnya hanya terdiri dari ashab al-furudh saja,
maka ada tiga kemungkinan penyelesaian pembagian harta warisan tersebut, yaitu:
- Terjadi kekurangan harta warisan, yaitu jika jumlah bagian yang diterima oleh semua
ashab al-furudh melebihi dari total jumlah harta warisan yang tersedia. Oleh karena itu
perlu adanya pengurangan bagian masing-masing ahli waris secara proporsional.
Masalah ini disebut dengan „Aul.
- Terjadi kelebihan harta warisan, yaitu jika total bagian yang diterima semua ashab al-
furudh lebih kecil dari jumlah harta warisan yang tersedia, sementara tidak ada ahli
waris yang menerima bagian „ashabah (sisa). Oleh karena itu sisa harta tersebut
dikembalikan kepada ashab al-furudh sesuai dengan proporsi bagiannya masing-
masing. Masalah ini disebut dengan Radd.
- Jumlah bagian yang diterima ahli waris sesuai dengan harta warisan yang tersedia.
Masalah ini dikenal dengan istilah „adilah.
1. Pembagian Warisan Secara „Aul
„Aul secara bahasa berarti bertambah. Dalam istilah mawaris „aul diartikan
sebagai bagian-bagian yang harus diterima oleh ahli waris lebih banyak daripada asal
masalahnya atau dengan kata lain angka pembilang lebih besar daripada angka
penyebutnya, sehingga asal masalahnya harus dinaikkan sebesar jumlah semua bagian
ahli waris. Hal ini dilakukan, karena jika pembagian warisan tersebut dilaksanakan
sebagaimana ketentuan baku, maka akan terjadi kekurangan harta warisan.
2. Pembagian Warisan Secara Radd
Radd menurut bahasa berarti kembali, pulang, dan berpaling. Radd menurut
istilah berarti mengembalikan sisa dari harta warisan setelah ahli waris ashab al-furudh
memperoleh bagiannya masing-masing sesuai dengan nisbah-nya. Hal ini dilakukan
karena jika harta warisan tersebut tidak dikembalikan maka akan terjadi kelebihan harta
warisan sementara tidak ada ahli waris „ashabah yang akan menghabiskan sisa harta
warisan tersebut.

13
BAB IV METODE PENYELESAIAN PEMBAGIAN HARTA WARISAN YANG
BERMASALAH
A. Metode Pembagian Warisan yang Menyim- pang
1. Masalah Gharawain
Gharawain berasal dari kata gharra yang berarti menipu, karena telah terjadi
penipuan terhadap bagian ibu, dimana jika tidak ada anak atau cucu seorang ibu berhak
menerima bagian 1/3, namun pada kenyataannya ibu hanya memperoleh bagian 1/4
atau bahkan 1/6 bagian saja. Penyebutan Penerimaan bagian 1/3 sisa hanyalah
merupakan bentuk penghormatan terhadap ketentuan Al-Qur‟an. Ulama lain
berpendapat bahwa gharawain berasal dari bentuk ganda kata gharr yang berarti terang
atau cemerlang, dikatakan demikian karena dua masalah yang terang cara
penyelesaiannya. Dua masalah tersebut adalah: a) pembagian warisan jika ahli warisnya
terdiri dari suami, ibu dan ayah; b) pembagian warisan jika ahli warisnya terdiri dari
isteri, ibu dan ayah.
Masalah gharawain ini untuk pertama kalinya digagas oleh Sahabat Umar bin
Khattab yang mendapat dukungan dari Sahabat Zaid bin Tsabit dan Ali bin Abi Thalib,
kemudian pada perkembangan selanjutnya masalah gharawain ini diikuti oleh Jumhur
Ulama. Mereka beralasan bahwa jika ahli waris ibu bersama ayah tanpa anak atau cucu,
maka bagian ibu adalah 1/3 dan ayah mendapat „ashabah dengan tetap berpegang pada
prinsip dasar pembagian warisan yaitu “li al-dzakar mitsl hadhdh al-untsayain”. Oleh
karena itu, jika ahli warisnya terdiri dari suami/isteri, ibu dan ayah, maka ibu diberikan
bagian 1/3 setelah terlebih dahulu diambil untuk bagian suami/isteri.
2. Masalah Musyarakah atau Musytarikah
Musyarakah atau Musytarikah berarti berserikat, yaitu berserikatnya antara dua
orang atau lebih dalam menerima bagian warisan. Maksudnya jika dalam pembagian
harta warisan terdapat kasus dimana saudarasaudara sekandung sebagai ahli waris
„ashabah tidak memperoleh bagian harta warisan dikarenakan harta almuwarris telah
habis dibagikan kepada ahli waris ashab alfurudh, yang diantaranya terdapat saudara-
saudara seibu yang secara kekerabatan dengan al-muwarris justru lebih jauh daripada
saudara-saudara sekandung. Masalah ini terjadi apabila ahli warisnya terdiri dari:
Suami, ibu, dua orang saudara (laki-laki/perempuan) seibu, dan saudara laki-laki
sekandung (seorang atau lebih).
3. Masalah Akdariyah

14
Akdariyah adalah masalah pembagian harta warisan dimana ahli warisnya hanya
terdiri dari; suami, ibu, saudara perempuan sekandung, dan kakek. Jika ahli warisnya
berubah meskipun hanya seorang ahli waris, maka tidak dapat disebut masalah
akdariyah.
Akdariyah berarti keruh, susah atau pusing. Masalah ini disebut akdariyah karena
kakek dianggap telah mengeruhkan, menyusahkan atau memusingkan sahabat Zaid bin
Tsabit terhadap penyelesaian bagian yang dimiliki oleh saudara perempuan sekandung
dalam penerimaan bagian harta warisan, sehingga masalah ini dalam penyelesaiannya
dianggap pengecualian dari kaidah yang berlaku umum. Dalam riwayat lain disebutkan
bahwa istilah akdariyah ini berawal dari peristiwa yang menimpa seorang wanita dari
suku Akdar, sehingga penyelesaian terhadap masalah ini disebut dengan akdariyah.
4. Masalah Kakek Bersama Saudara
Kakek dalam konsep ini adalah kakek yang kekerabatannya dihubungkan melalui
garis ayah (jadd alshahih) dan bukan kakek yang dihubungkan melalui garis ibu (jadd
al-fasid/jadd ghairu al-shahih). Jumhur ulama sepakat bahwa kakek menempati posisi
ayah dalam memperoleh bagian warisan pada saat ayah tidak ada, oleh karena itu kakek
dapat menghalangi saudara-saudara (laki laki dan perempuan) seibu dalam penerimaan
bagian warisan. Namun dalam hal kewenangan kakek menghalangi bagian saudara-
saudara sekandung dan seayah (laki-laki maupun perempuan) para ulama berbeda
pendapat.
a. Pendapat yang dikemukakan oleh Abu Bakar al-Shiddiq, Ibnu Umar, Ibnu Abbas,
Ibnu Sirin, Imam Abu Hanifah, Abu Saur, Al-Muzany, Ibnu Suraij dari mazhab
Syafi‟iyah, dan Dawud al-Zahiry.39 Mereka beralasan bahwa kata “ab” (artinya
ayah) baik dalam Al-Qur‟an maupun al-Sunnah juga dapat berarti kakek,
b. Pendapat yang dikemukakan oleh Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas‟ud, Zaid bin Sabit,
Imam Malik, ulama Syafi‟iyah, Ahmad ibn Hanbal, Muhammad ibn al-Hasan al-
Syaibany dan Qadhi Abu Yusuf, kedua terakhir merupakan ulama mazhab
Hanafi.40 Mereka berpendapat bahwa kakek hanya dapat menghalangi bagian
saudara-saudara seibu saja, sedangkan terhadap saudara-saudara sekandung atau
seayah, kakek tidak berwenang menghalanginya karena status kakek dengan
saudara-saudara adalah setaraf yakni kakek dan saudara-saudara hubungan
kekerabatannya dengan almuwarris sama-sama melalui garis ayah, serta tidak
adanya ketentuan nas yang secara tegas menunjukkan bahwa kakek dapat

15
menghalangi bagian saudarasaudara. Oleh karena itu, saudara-saudara sekandung
atau seayah berhak memperoleh bagian warisan bersama-sama dengan kakek.
5. Masalah Al-Kharqa‟
Al-Kharqa‟ berarti berlawanan, maksudnya adalah terjadinya perbedaan pendapat
diantara para sahabat dalam masalah pembagian harta warisan sehingga seakanakan
mereka saling berlawanan. Masalah ini terjadi apabila ahli warisnya hanya terdiri dari;
ibu, saudara perempuan sekandung atau seayah, dan kakek dari ayah.
Selain al-kharqa‟ juga terdapat nama atau istilah lainnya untuk penyebutannya
dalam masalah pembagian harta warisan yang ahli warisnya hanya terdiri dari
orangorang sebagaimana tersebut diatas. Penamaan istilah atau penyebutan tersebut
dikaitkan dengan cara menyelesaikan masalah tersebut atau dikaitkan dengan nama
sahabat penggagas atau yang terlibat dalam lahirnya metode pembagian warisan
tersebut.
Beberapa nama lain yang digunakan disamping nama al-kharqa‟, adalah;
a. Mutsallatsah, maksudnya adalah membagi 1/3 sama besar diantara para ahli waris.
b. Murabba‟ah, maksudnya adalah asal masalahnya harus ditashih dengan angka 4
c. Mukhammasah, maksudnya adalah masalah ini diperselisihkan oleh 5orang sahabat
nabi, yaitu; Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas, dan
Ibnu Mas‟ud.
d. Musaddasah, Musabba‟ah, dan Mutsammanah maksudnya adalah penyelesaian
masalah ini dengan merujuk pada pendapat 6, 7, dan 8 orang sahabat nabi.
e. Utsmaniyah, Hajjajiyah, dan Sya‟biyah maksudnya masalah ini dikaitkan dengan
nama penggagas (Utsman bin Affan) atau yang terlibat dalam timbulnya perbedaan
pendapat diantara para sahabat (Hajjaj dan al-Sya‟by).
B. Metode Penyelesaian Pembagian Harta Waris an dalam Kasus Tertentu
1. Pembagian Warisan bagi Janin dalam Kan dungan
Janin yang masih berada dalam kandungan belum dapat dipastikan
keberadaannya, apakah ia akan lahir dalam keadaan hidup atau sebaliknya, jika lahir
dalam keadaan hidup apakah ia berjenis kelamin laki-laki atau perempuan atau
mungkin ia lahir kembar. Paling tidak ada 2 (dua) hal penting yang perlu diperhatikan
terkait dengan pembagian harta warisan bagi janin yang masih berada dalam kandungan
ibunya, yaitu:
a. Mengetahui batas minimal dan maksimal usia janin dalam kandungan.

16
b. Memberikan bagian yang paling menguntungkan (bagian terbesar) bagi Janin dari
beberapa perkiraan yang dibuat
2. Pembagian Warisan bagi Orang Banci (Khantsa Musykil)
Al-khuntsa diambil dari kata takhannuts yang berarti at-tatsanni (mendua) dan at-
takassur (terpecah), sedangkan menurut istilah ulama al-khuntsa diartikan sebagai
orang yang memiliki kelamin ganda yaitu kelamin laki-laki dan kelamin perempuan
atau orang yang tidak memiliki kelamin sama sekali atau orang yang serupa dengan
salah satunya (laki-lakai atau perempuan) dengan tanda-tanda yang berbeda.
Seseorang yang terlahir dengan memiliki kelamin ganda tetapi ciri-ciri umumnya
dapat diketahui melalui tanda lahiriah yang lebih dominan pada tubuhnya seperti
jenggot, kumis, payudara, haid atau tempat keluarnya air seni, maka ia dapat
dihukumkan berdasarkan dominasi tanda-tanda lahiriah yang ada pada tubuhnya atau
fisiknya. Jika ia memiliki jenggot atau kumis dan tempat keluarnya air seni melalui
kelamin laki-lakinya maka ia dihukumkan sebagai orang yag berjenis kelamin laki-laki,
tetapi jika ia memiliki payudara dan tempat keluarnya air seni melalui kelamin
perempuannya maka ia dihukumkan sebagai orang yang berjenis kelamin perempuan.
Terhadap jenis ini para ulama menyebutnya dengan istilah khuntsa ghairu musykil.
Sebaliknya, jika seseorang terlahir dengan memiliki kelamin ganda (kelamin laki-
laki dan kelamin perempuan) atau terlahir dengan tidak memiliki sama sekali alat
kelamin apakah ia seorang laki-laki atau ia seorang perempuan sehingga tidak jelas
identitas kelaminnya, oleh karena tidak diketahui secara jelas jenis kelaminnya itu, para
ulama menyebutnya dengan istilah khuntsa musykil.
Para ulama klasik berijtihad dalam menentukan hukum warisan bagi khuntsa
musykil berdasarkan pada tanda-tanda lahiriah saja, yakni dengan melihat pada alat
kelamin manakah air seni tersebut keluar. Jika keluarnya air seni melalui lubang
kelamin laki-laki maka ia dihukumkan sebagai laki-laki dan sebaliknya jika keluarnya
air seni itu melalui lubang kelamin perempuan maka ia dihukumkan sebagai
perempuan. Jika kedua alat kelamin tersebut samasama mengeluarkan air seni, maka
yang diambil hukumnya adalah alat kelamin manakah yang pertama kali mengeluarkan
air seni, dan jika air seni tersebut keluar dari kedua alat kelamin secara bersamaan,
maka yang diambil adalah alat kelamin manakah yang lebih banyak mengeluarkan air
seni, namun terhadap pernyataan yang terakhir ini Imam Abu Hanifah tidak sepakat
jika banyak sedikitnya air seni yang keluar dijadikan sebagai penentu dalam
menetapkan hukum keaslian jenis kelamin bagi khuntsa musykil, beliau beralasan

17
bahwa boleh jadi luasnya lubang alat kelamin yang dimiliki menjadi sebab lebih
banyaknya air seni yang keluar dan bukan menunjukkan keaslian jenis kelamin.
Ulama ahli faraidh menyimpulkan bahwa ahli waris khuntsa musykil seluruhnya
hanya berjumlah 7 (tujuh) orang yang terkumpul dari empat arah (jihat), yaitu;
ng terdiri dari; anak dan cucu.

perbudakan) yaitu hanya maula al-mu‟tiq (orang yang


memerdekakan budak).
Terhadap jenis khuntsa ghairu musykil tentang penentuan bagian warisnya
apakah ia dihukumi sebagai laki-laki atau dihukumi sebagai perempuan tidaklah terlalu
sulit karena dapat ditentukan melalui tanda-tanda lahiriah yang lebih dominan pada
fisiknya. Namun terhadap khuntsa musykil yang tidak memiliki dominasi tanda-tanda
lahiriah pada fisiknya sehingga sangat sulit dalam menentukan status hukumnya dalam
penerimaan bagian warisan. Terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama mazhab
dalam penetapan pemberian bagian warisan terhadap khuntsa musykil.
3. Pembagian Warisan Bagi Anak Zina
Anak zina adalah anak yang lahir diluar dari hasil pernikahan yang sah menurut
ketentuan hukum Islam. Hukum Islam telah dengan tegas menyatakan tentang hukum
status anak yang lahir akibat dari hasil perzinaan, sehingga nasabnya hanya dapat
dihubungkan kepada ibunya dan keluarga ibunya.
Terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama fikih tentang boleh atau
tidaknya menikahi wanita pezina dan atau wanita yang sedang hamil. Mayortas ulama
membolehkan pernikahan antara wanita pezina dengan dengan laki-laki yang buka
pelaku zinanya, namun sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa akad nikah wanita
yang sedang hamil dianggap tidak sah, kecuali wanita wanita hamil tersebut dinikahkan
dengan laki-laki yang menghamilinya, akan tetapi status anaknya setelah lahir tetap
tidak dapat dinasabkan kepada laki-laki yang menghamilinya, dan anak tersebut hanya
dapat dinasabkan kepada ibunya dan keluarga ibunya.
Mayoritas ulama menolak secara tegas tentang hak waris anak yang dilahirkan
dari hasil zina terhadap harta warisan “ayah”nya (laki-laki yang menghamili ibunya),
dengan alasan tidak adanya hubungan nasab diantara mereka, dan anak yang dilahirkan
akibat perzinaan hanya dapat dinasabkan kepada ibunya dan keluarga ibunya, demikian

18
halnya jika anak hasil zina tersebut meninggal dunia, maka harta peninggalannya dapat
diwariskan kepada ibunya dan saudara-saudara seibu saja.
Hal ini juga sejalan dengan ketentuan yang telah digariskan dalam Kompilasi
Hukum Islam (KHI) yaitu pada Pasal 186;
“Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling
mewarisi dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.”
4. Pembagian Warisan bagi Orang yang Hilang (Al-Mafqud)
Orang hilang yang dimaksud disini adalah orang yang pergi dari rumah atau
tempat tinggal atau kampung halamannya dalam waktu yang lama, tidak diketahui
kabar berita dan keberadaanya apakah dia masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Dalam konsep ilmu waris, orang yang hilang (almafqud) tersebut dapat berperan
ganda, yaitu dapat berperan sebagai al-muwarris (orang yang meninggalkan harta
warisan) dan dapat pula berperan sebagai al-waris (orang yang berhak menerima harta
warisan). Jika ia bertindak sebagai al-muwarris maka hartanya tidak boleh dibagikan
(diwariskan) kepada ahli warisnya sampai adanya kepastian tentang kematiannya baik
secara hakiki (jelas kematiannya dan disaksikan oleh orang lain) maupun secara hukmy
(adanya keputusan dari hakim tentang kematiannya). Dan jika ia bertindak sebagai al-
waris, maka ia memiliki hak untuk memperoleh harta warisan dari keluarga atau
kerabatnya yang meninggal dunia, kecuali adanya kabar yang pasti tentang
kematiannya baik secara hakiki maupun secara hukmy.
Paling tidak terdapat dua hal pokok yang patut diperhatikan dalam menetapkan
status hukum al-mafqud, apakah ia masih hidup atau sudah meningal dunia, yaitu;
a. Didasarkan pada bukti-bukti autentik yang dapat diterima secara syar‟i,
b. Didasarkan pada lamanya waktu kepergian al-mafqud.
5. Pembagian Warisan Orang yang Mening gal Secara Bersama
Kematian adalah sebuah rahasia dan tidak ada seorang pun dari hamba-Nya yang
mampu menyingkap tabir kematian tersebut. Namun demikian, Allah swt sebagai
pencipta kematian telah memberikan tanda-tanda akan datangnya kematian melalui
berbagai wasilah yang dapat dilihat dan dirasakan oleh para hamba-Nya
Tidak jarang kita mendengar kabar tentang peristiwa yang memilukan, membuat
hati miris, dan bahkan menjadi viral dalam media sosial, seperti; kebakaran, banjir
bandang, dan kecelakaan baik di darat, laut maupun udara yang dapat merenggut jiwa
manusia secara bersama dalam satu waktu.

19
Dalam konteks kewarisan, orang yang mati secara bersama-sama (serentak)
akibat sebab-sebab yang tidak dapat terhindarkan, seperti; tenggelam, kebakaran,
pembunuhan, maupun kecelakaan lainnya, dan jika yang meninggal tersebut memiliki
hubungan kekerabatan yang dapat saling mewarisi, maka untuk menentukan siapa
sebagai al-muwarris dan siapa sebagai al-waris para ulama bersepakat dengan cara
meneliti siapa diantara mereka yang lebih dahulu meninggal dunia, sehingga siapa yang
meninggal terlebih dahulu dianggap sebagai al-muwarris sedangkan yang meninggal
kemudian dianggap sebagai alwaris.
Namun apabila diantara mereka tidak dapat diketahui kapan meninggalnya,
sehingga sulit untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu meninggal, para ulama
telah berbeda pendapat. Paling tidak terdapat dua pendapat yang berbeda, yaitu;
a. Zaid bin Tsabit, Jumhur fuqaha dan Imam mazhab (Abu Hanifah, Malik dan Syafi‟i)
berpendapat bahwa diantara mereka tidak dapat saling mewarisi, dan yang berhak
mewarisi hanya keluarganya yang masih hidup saja, dengan alasan;
1) Tidak terdapat sebab-sebab yang meyakinkan bahwa diantara mereka dapat saling
mewarisi, sehingga sesuatu yang belum meyakinkan tidak dapat digunakan untuk
menentukan adanya hak saling mewarisi.
2) Tidak diperoleh kepastian tentang siapa diantara mereka yang lebih dahulu
meninggal dunia.
b. Ali bin Abi thalib ra, Syuraih, dan asy-Sya‟by yang kemudian diikuti oleh Ahmad
ibnu Hanbal, Atha‟, alHasan, dan Ibnu Abi Laila menyatakan bahwa diantara
mereka masih tetap dapat saling mewarisi atas harta yang dimilikinya, dengan syarat
dikemudian hari tidak terjadi saling meng-klaim diantara para ahli waris tentang
siapa yang meninggal terakhir kali.

20
BAB V WASIAT WAJIBAH DAN PENGGANTIAN KEDUDUKAN
A. Wasiat Wajibah
1. Pengertian wasiat wajibah
Wasiat wajibah berasal dari dua suku kata yaitu “wasiat” dan “wajibah”. Kata
“wasiat” yang disebutkan dalam Al-Quran, secara bahasa jika diterjemahkan ke dalam
bahasa kita memiliki beberapa makna, antara lain;
a. Bermakna “Pesan (wasiat)”
QS. As-Syuura ayat 13,
‫س ٰى‬
َ ُ‫ٍِم ََ ُم‬ ‫ص ٰى ِت ًِ وُُ ًحا ََالهذِي أ َ َْ َح ٍْىَا ِإ َلٍْكَ ََ َما ََ ه‬
َ ٌ‫ص ٍْىَا ِت ًِ ِإت َْزا‬ ‫ٌِّه َما ََ ه‬ ِ ‫ع لَ ُك ْم ِمهَ الد‬ َ ‫(ش ََز‬
‫َّللاُ ٌَْْ ر َ ِثً ِإلَ ٍْ ًِ َم ْه‬ ُ ‫ًلَى ْال ُم ْش ِزكٍِهَ َما ذ َ ْد‬
‫ًُ ٌُ ْم ِإلَ ٍْ ًِ ۚ ه‬ َ ‫س ٰى ۖ أ َ ْن أَقٍِ ُمُا الدٌِّهَ ََ ََل ذَرَفَ هزقُُا فٍِ ًِ ۚ َكث َُز‬َ ًٍِ ََ
ُ ِ‫ٌَشَا ُء ٌَََ ٍْدِي ِإلَ ٍْ ًِ َم ْه ٌُى‬
‫ٍة‬
" Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-
Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah
kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah belah tentangnya…..”
b. Bermakna “Perintah”;
QS. An-Nisa ayat 131,
َ ‫ص ٍْىَا الهذٌِهَ أَُذُُا ْال ِكر‬
‫َاب ِم ْه قَ ْث ِل ُك ْم ََ ِإٌها ُك ْم أ َ ِن‬ ِ ‫خ ََ َما فًِ ْاْل َ ْر‬
‫ض ۗ ََلَقَ ْد ََ ه‬ ِ ‫س َم َاَا‬ ‫(َ ِ هّلِلِ َما فًِ ال ه‬
َ
‫غىًٍِّا َح ِمٍدًا‬ َ ُ‫َّللا‬ ‫ض ۚ ََ َكانَ ه‬ ِ ‫خ ََ َما فًِ ْاْل َ ْر‬ ‫َّللاَ ۚ ََإِ ْن ذ َ ْكفُ ُزَا فَإ ِ هن ِ هّلِلِ َما فًِ ال ه‬
ِ ‫س َم َاَا‬ ‫اذهقُُا ه‬
" ……..dan sungguh kami Telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi
Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah…..”
c. Bermakna “Syari‟at;
An-Nisa ayat 11,
...... ۚ ‫ظ ْاْل ُ ْوثٍٍََ ِْه‬
ّ ِ ‫َّللاُ فًِ أ َ َْ ََل ِد ُك ْم ۖ ِللذه َك ِز ِمثْ ُل َح‬
‫ُُصٍ ُك ُم ه‬
ِ ٌ(
" Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.
yaitu : bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak
perempuan………………..”
2. Dasar Hukum Wasiat Wajibah
Dasar hukum wajib wajibah diambil dari hasil kompromi pendapat para ulama
salaf dan ulama khalaf, yaitu;
a. Kewajiban berwasiat kepada kerabat yang tidak dapat menerima pusaka ialah
diambil dari pendapat para fuqaha dan tabi‟in besar ahli fikih dan ahli hadis. Antara

21
lain; Said ibn al-Musayyab, Hasan al-Bishri, Thawus, Imam Ahmad, Ishaq bin
Rahawaih, dan Ibnu Hazm.
b. Pemberian sebagian harta peninggalan si mati kepada kerabat-kerabat yang tidak
dapat menerima pusaka yang berfungsi wasiat wajibah, bila si mati tidak berwasiat,
adalah diambil dari pendapat mazhab Ibnu Hazm yang dinukil dari fuqaha tabi‟in
dan dari pendapat mazhab Imam Ahmad.
c. Pengkhususan kerabat-kerabat yang tidak dapat menerima pusaka kepada cucu-cucu
dan pembatasan penerimaan sebesar 1/3 peninggalan adalah didasarkan pada
pendapat Ibnu Hazm
3. Orang yang menerima dan kadar bagian wasiat wajibah
Wasiat wajibah diberlakukan untuk orang-orang yang secara kekerabatan
memiliki hubungan nasab dengan al-muwarris tetapi karena sebab-sebab tertentu
mereka dianggap bukan sebagai ahli waris (ghairu waris), yang dalam konsep waris
Islam diklasifikasikan dalam kelompok dzawi al-arham, dan untuk ahli waris cucu baik
laki-laki maupun perempuan (orangtuanya meninggal terlebih dahulu sebelum
meninggalnya al-muwarris) yang terhijab oleh anak laki-laki.
Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai produk fikih ulama Indonesia
memandang berbeda tentang subjek penerima wasiat wajibah, sebagaimana tertera
dalam ketentuan Kompilasi Hukum Islam Pasal 209 ayat (1) dan (2);
(1) Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan Pasal 176 sampai dengan Pasal
193 tersebut diatas, sedangkan terhadap orangtua angkat yang tidak menerima
wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan anak
angkatnya.
(2) Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-
banyaknya 1/3 dari harta warisan orangtua angkatnya.
Perbedaan tersebut disebabkan oleh karena dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)
bagian para cucu yang terhalang atau sebagai dzawi al-arham telah diakomodir dalam
Pasal 185 pada ayat (1) dan (2) tentang ahli waris pengganti, namun dalam hal kadar
besarnya bagian yang diterima tidak ditemukan adanya perbedaan yaitu tidak melebihi
1/3 dari harta warisan al-muwarris.
B. Penggantian Kedudukan
Pada kajian salah satu rukun dan syarat mawaris dinyatakan bahwa seseorang
dinyatakan dapat saling mewarisi apabila ia termasuk al-waris (ahli waris) baik secara
nasabiyah maupun mushaharah, dan saat terjadinya kematian al-muwarris, status al-waris

22
dalam keadaan hidup meskipun hanya sebentar. Oleh karena itu jika al-muwarris
meninggal dunia maka yang berhak menerima harta warisannya adalah anak-anaknya yang
masih hidup, sedangkan terhadap anaknya yang telah meninggal dunia terlebih dahulu
maka ia tidak memperoleh bagian warisan, bahkan terhadap para cucu dari anaknya yang
meninggal dunia terlebih dahulu pun tidak berhak memperoleh bagian warisan
dikarenakan terhalang oleh anak-anak lainnya yang masih hidup atau mereka berstatus
sebagai dzawi al-arham yag menurut konsep Syafi‟iyah bahwa kelompok dzawi al-arham
dianggap bukan sebagai ahli waris.
Dalam kajian Hukum Perdata memungkinkan bagi para cucu yang orangtuanya
meninggal dunia terlebih dahulu untuk menerima bagian warisan dari al-muwarris melalui
konsep Penggantian kedudukan (Plaatsvervulling). Istilah Penggantian Kedudukan juga
dikenal dalam konsep hukum Islam melalui hasil ijtihad para ulama Islam terhadap
ketentuan warisan yang telah digariskan dalam Al-Quran dan Al-Sunnah, sebagaimana
dinyatakan oleh Prof. Dr. Hazairin, SH bahwa Al-Quran sebenarnya telah mengenal
Penggantian Kedudukan dengan istilah “mawali”.
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), Penggantian Kedudukan disebutkan dalam
Pasal 185;
(1) Ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada pewaris maka kedudukannya dapat
digantikan oelh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173;
(2) Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang
sederajat dengan yang diganti.
Berdasarkan pasal ini maka ketentuan penggantian kedudukan dalam masalah pembagian
harta warisan diakui eksistensinya dalam tatanan hukum Islam di Indonesia, sehingga para
hakim di Pengadilan Agama pun saat dihadapkan dengan perselisihan pembagian warisan
yang orang tuanya meninggal dunia terlebih dahulu, dalam amar putusannya akan merujuk
pada pasal 185 KHI tentang penggantian kedudukan.

23
BAB VI AT-TAKHAARUJ DAN AL-MUNASAKHAH
A. At-Takhaaruj
1. Pengertian Al-Takhaaruj
Dalam buku Ahkam al-Mawaris yang disusun oleh Komite Fakultas Syariah
Universitas Al-Azhar Mesir dinyatakan bahwa al-takharuj adalah mengeluarkan
sebagian harta waris, karena salah seorang dari ahli waris memintanya, kemudian
bersedia menggantinya dengan syarat adanya kesepakatan dari seluruh ahli waris.66
Ulama lain berpendapat bahwa al-takhaaruj adalah pengajuan perdamaian salah seorang
ahli waris untuk mengundurkan diri dari menerima harta waris.
Fatchur Rahman dalam bukunya Ilmu Waris mendefinisikan al-takhaaruj dengan
suatu perjanjian yang diadakan oleh para ahli waris untuk mengundurkan
(mengeluarkan) salah seorang ahli waris dalam menerima bagian pusaka dengan
memberikan suatu prestasi, baik prestasi tersebut berasal dari harta milik orang yang
pada mengundurkannya maupun berasal dari harta peninggalan yang bakal
dibagibagikannya. Terdapat 3 (tiga) macam bentuk perjanjian dalam al-takhaaruj, yaitu;
Perjanjian Jual Beli, yaitu perjanjian seorang ahli waris (al-khaarij) untuk melepaskan
hak warisnya kepada ahli waris lainnya dengan cara ahli waris lain tersebut
memberikan sejumlah harta yang diambil dari hartanya sendiri; perjanjian tukar
menukar, yaitu perjanjian seorang ahli waris (al-khaarij) untuk bersedia melepaskan hak
warisnya kepada ahli waris lainnya jika diganti dengan sejumlah harta dari ahli waris
lain tersebut; dan perjanjian hukum pembagian. yaitu suatu perjanjian pengunduran diri
dari salah seorang ahli waris agar tidak diberikan hak warisnya dengan imbalan berupa
uang atau benda yang diambil dari harta al-muwarris.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, maka dapat difahami bahwa al-takhaaruj
adalah suatu perjanjian akan pengunduran diri dari salah seorang ahli waris atau
seorang ahli waris diminta oleh seorang ahli waris atau semua ahli waris lainnya untuk
mengundurkan diri (keluar) dari menerima harta warisan dengan perjanjian-perjanjian
yang disepakatinya dan jika hartanya diambil dari harta ahli waris yang
mengeluarkannya, maka hak ahli waris yang dikeluarkan tersebut diambil oleh ahli
waris yang mengeluarkannya, namun jika hartanya diambil dari harta peninggalan al-
muwarris, maka bagian yang dimiliki oleh ahli waris yang dikeluarkan harus
dihilangkan terlebih dahulu sebelum perhitungan pembagian warisan dilaksanakan.
2. Dasar Hukum Al-Takhaaruj

24
Para ulama yang membenarkan adanya perjanjian takhaaruj dalam pembagian
harta warisan, mendasarkannya pada atsar yang bersumber dari Ibnu Abbas ra;
“Abrurrahman bin „Auf pada waktu menjelang ajalnya, mentalak isterinya yang
bernama Tumadhir binti al-Ishbagh al-Kalbiyah. Ketika dia meninggal dunia dan
isterinya sedang dalam masa iddah, Khalifah Utsman bin „Affan ra membagikan
harta warisan kepadanya beserta ketiga orang isteri lainnya. Kemudian mereka
(tiga orang isteri) itu mengadakan perdamaian dengannya (Tumadhir binti
alIshbagh al-Kalbiyah) tentang bagian empat seperdelapan (4/8)nya dengan
pembayaran 83 ribu dinar dalam satu riwayat, dan dalam riwayat lainnya 83 ribu
dirham.”
3. Bentuk-bentuk Al-Takhaaruj
terdapat 3 (tiga) bentuk al-takhaaruj, yaitu;
a. Seorang ahli waris (al-khaarij) mengadakan kesepakatan dengan salah seorang ahli
waris lainnya untuk melepaskan hak warisnya dengan pemberian sejumlah harta
yang diambil dari harta ahli waris yang menerima hak waris al-khaarij. Proses
pelepasan hak waris ini ditetapkan berdasarkan akad jual beli. Dengan demikian ahli
waris yang memberikan sejumlah harta kepada alkhaarij akan menggantikan
kedudukan al-khaarij (ahli waris yang dikeluarkan) dalam penerimaan harta warisan
al-muwarris, sehingga ia akan memperoleh 2 (dua) hak waris, yaitu hak waris
dirinya dan hak waris al-khaarij (ahli waris yang dikeluarkannya).
b. Seorang ahli waris (al-khaarij) bersedia keluar atau melepaskan haknya atas
penerimaan harta warisan almuwarris jika diganti dengan sejumlah harta yang
diambil bukan dari harta al-muwarris. Proses pelepasan hak atas harta warisan ini
ditetapkan berdasarkan akad tukar menukar. Dengan demikian, para ahli waris
berhak atas hak warisan al-khaarij berdasarkan perjanjian dalam akad yang sudah
disepekati, jika para ahli waris tersebut telah memberikan harta kepada al-khaarij
senilai dengan bagian masing-masing ahli waris, maka mereka memperoleh hak
waris al-khaarij sesuai dengan nilai bagiannya masing-masing, dan jika para ahli
waris tersebut telah memberikan harta kepada al-khaarij secara bersama-sama, maka
para ahli waris tersebut berhak memperoleh hak waris al-khaarij secara merata.
c. Seorang ahli waris (al-khaarij) mengajukan usulan kepada para ahli waris lainnya
agar dirinya dikeluarkan dari penerimaan hak waris dari harta al-muwarris dengan
imbalan tertentu, baik berupa uang maupun benda lainnya yang diambilkan dari
harta peninggalan al-muwarris. Proses pelepasan atas hak warisan ini didasarkan

25
pada hukum pembagian, sehingga dalam pelaksanaan pembagian harta warisan al-
muwarris, alkhaarij tetap diperhitungkan dalam pembagiannya untuk menentukan
angka asal masalah awal, setelah itu bagian al-khaarij dikeluarkan dari
perhitungannya dan jumlah penerimaan bagian para ahli waris dijadikan sebagai
angka asal masalah baru bagi para ahli waris tersebut.
4. Contoh dan Penyelesaian Al-Takhaaruj
Berikut ini beberapa contoh dan penyelesaian altakhaaruj;
a. Seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan berupa uang
sebesar Rp. 360,000,000,- dan ahli warisnya terdiri dari; ibu, seorang anak
perempuan, ayah, dan seorang saudara laki-laki sekandung. Kemudian ibu
mengundurkan diri dari menerima harta warisan karena telah menerima sejumlah
harta yang diberikan oleh anak perempuan sebelum al-muwarris meninggal dunia.
Maka penyelesaian pembagiannya adalah sebagai berikut;
1) Pembagian warisan sebelum takhaaruj;
Ahli waris Bagian AM 6 Penerimaan
Ibu 1/6 1 1/6xRp.360.000.000=Rp.60.000.000
Anak Pr ½ 3 3/6xRp.360.000.000=Rp.180.000
Ayah 1/6 + A 1+1 2/6xRp.360.000.000=Rp.120.000
Sdr lk skdg M - Terhalang oleh ayah
Jumlah 6 6/6xRp.360.000.000=Rp.360.000.000
2) Pembagia warisan setelah takhaaruj
Ahli waris Bagian AM 6 Penerimaan
Ibu Hak warisnya dialihkan pada anak perempuan (al-khaarij)
Anak Pr ½ + 1/6 3+1 4/6xRp.360.000.000=Rp.240.000
Ayah 1/6 + A 1+1 2/6xRp.360.000.000=Rp.120.000
Sdr lk skdg M - Terhalang oleh ayah
Jumlah 6 6/6xRp.360.000.000=Rp.360.000.000

B. Al-Munasakhah
Munasakhah secara etimologi berarti; mencatat, memindahkan, menghapus,
mengganti, dan mengubah. Dalam konsep terminologi, terdapat beberapa pendapat para
ahli bidang mawaris dalam mendefiniskan munasakhah, antara lain;

26
a. Munasakhah adalah situasi atau kondisi di mana salah seorang dari ahli waris
meninggal dunia sebelum pembagian warisan, sehingga hak warisnya (ahli waris yang
meninggal dunia) berpindah kepada ahli warisnya (ahli waris dari ahli waris yang
meninggal dunia).
b. Munasakhah ialah meninggalnya sebagian anggota ahli waris sebelum dilakukan
pembagian harta waris, kemudian sebagian warisnya berpindah kepada ahli waris yang
lain.
c. Munasakhah adalah memindahkan bagian sebagian ahli waris kepada orang yang
mewarisinya, lantaran kematiannya sebelum pembagian harta peninggalan
dilaksanakan.
d. Munasakhah ialah kematian seseorang yang sebelum harta peninggalannya dibagi
terjadi kematian seseorang atau beberapa orang ahli waris yang berhak mewarisinya
sedemikian rupa sehingga terjadi pemindahan bagian sebagian ahli waris tersebut
kepada ahli warisnya lantaran dia meninggal dunia sebelum pembagian harta pusaka
yang meninggal terdahulu dilaksanakan.
e. Munasakhah ialah seorang lelaki meninggal dengan meninggalkan beberapa waris,
kemudian salah seorang dari waris meninggal pula sebelum sebelum pembagisan harta
f. Munasakhaat adalah seorang atau lebih dari ahli waris yang meninggal dunia sebelum
harta warisan dibagikan.
Dari beberapa definisi munasakhah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang fikih
mawaris diatas, maka dapatlah difahami bahwa munasakhah dapat diartikan sebagai
proses pemindahan harta warisan dari ahli waris yang memperoleh bagian warisan dari
almuwarris kepada ahli warisnya ahli waris yang meninggal dunia sebelum
dilaksanakannya pembagian harta warisan dari al-muwarris.
Terdapat 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam pembagian harta warisan
secara munasakhah, yaitu;
a. Harta peninggalan al-muwarris belum dibagikan kepada para ahli waris yang berhak
menerimanya;
b. Meninggalnya salah seorang atau beberapa orang ahli waris yang berhak menerima
harta warisan almuwarris;
c. Adanya pemindahan bagian harta warisan dari ahli waris yang meninggal dunia
(sebelum dibagikan harta al-muwarris) kepada ahli warisnya, baik ahli waris tersebut
yang semula bukan sebagai ahli waris dari al-muwarris maupun yang semula
merupakan ahli waris dari al-muwarris;

27
d. Pemindahan bagian ahli waris yang meninggal dunia kepada ahli warisnya melalui
jalan warisan dan bukan lainnya
2. Bentuk-bentuk Munasakhah
Berdasarkan definisi dan unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam pembagian harta
secara munasakhah, maka terdapat 3 (tiga) bentuk munasakhah, yaitu;
a. Ahli waris dari ahli waris yang meninggal dunia sebelum dibagikannya harta al-
muwarris, juga merupakan ahli waris dari al-muwarris, atau dengan kata lain ahli waris
dari al-muwarris II juga merupakan ahli waris dari al-muwarris I. Sehingga dalam
sistem pembagiannya tidak perlu merubah istilah sebutan ahli waris dan asal
masalahnya diambil dari jumlah ahli waris pada kondisi yang kedua.
Misalnya;
Jika seseorang meninggal dunia (al-muwarris) dan ahli warisnya terdiri dari 7 orang
anak laki-laki, kemudian sebelum dibagikannya harta warisan al-muwarris, salah
seorang dari ahli warisnya tersebut meninggal dunia, tanpa meninggalkan ahli waris
selain dari 6 orang saudara laki-lakinya tersebut. Maka harta peninggalan al-muwarris
dibagi rata kepada 6 ahli waris tersebut tanpa memperhitungkan bagian ahli waris yang
meninggal dunia.
b. Ahli waris dari ahli waris yang meninggal dunia sebelum dibagikannya harta al-
muwarris, juga merupakan ahli waris dari al-muwarris, atau dengan kata lain ahli waris
dari al-muwarris II juga merupakan ahli waris dari al-muwarris I, namun terdapat
perubahan istilah atau sebutan ahli waris antara ahli waris dari al-muwarris I dengan
ahli waris dari al-muwarris II, sehingga dalam sistem perhitungannya harus dilakukan
tahap demi tahap.
Misalnya;
Seseorang meninggal dunia (al-muwarris) dan ahli warisnya terdiri dari; 2 orang isteri,
seorang anak lakilaki dari isteri pertama, dan 2 orang anak perempuan dari isteri kedua.
Kemudian sebelum dibagikannya harta al-muwarris, seorang anak perempuan tersebut
meninggal dunia. Terhadap keadaan seperti ini, maka ahli waris dari al-muwarris I juga
merupakan ahli waris pada al-muwarris II, namun terjadi perubahan sebutan ahli waris,
antara ahli waris pada al-muwarris I dengan ahli waris pada al-muwarris II.
c. Ahli waris dari ahli waris yang meninggal dunia sebelum dibagikannya harta al-
muwarris, bukan merupakan ahli waris dari al-muwarris atau dengan kata lain ahli
waris dari al-muwarris II bukan merupakan ahli waris dari al-muwarris I; atau beberapa
ahli waris dari al-muwarris II juga merupakan bagian dari ahli waris pada al-muwarris

28
I, sehingga dalam perhitungannya juga harus dilakukan secara bertahap berdasarkan
urutan kematian almuwarris.
Misalnya;
Seseorang meninggal dunia (al-muwarris) dan ahli warisnya terdiri dari; suami, seorang
saudara perempuan sekandung, dan seorang saudara lakilaki seibu, kemudian sebelum
dibagikannya harta al-muwarris seorang saudara laki-laki seibu meninggal dunia
dengan meninggalkan ahli waris; seorang isteri, seorang anak perempuan, dan seorang
saudara laki-laki sekandung.
3. Contoh dan Penyelesaian masalah Munasakhah
berikut ini beberapa contoh penyelesaian pembagian warisan dalam masalah
munasakhah;
Jika seseorang meninggal dunia (al-muwarris I) dengan meninggalkan harta
warisan sebesar Rp. 120,000,000,- dan ahli warisnya terdiri dari 4 orang anak laki-laki,
kemudian sebelum dibagikannya harta warisan almuwarris I, salah seorang dari ahli
warisnya tersebut meninggal dunia (al-muwarris II), tanpa meninggalkan ahli waris
selain dari 3 orang saudara laki-lakinya tersebut. Maka perolehan bagian masing-
masing ahli waris menurut perhitungan munasakhah adalah sebagai berikut;
Ahli Waris Bagian AM 3 Penerimaan
Anak lk 1 1/3xRp.120.000.000=Rp.40.000.000
Anak lk A 1 1/3xRp.120.000.000=Rp.40.000.000
Anak lk 1 1/3xRp.120.000.000=Rp.40.000.000
Jumlah 3 3/3xRp.120.000.000=Rp.120.000.000

29
BAB VII DZAWI AL-ARHAM
A. Pengertian
Al-Arham adalah bentuk jamak dari lafaz “rahim” yang secara bahasa berarti tempat
janin di dalam perut, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 6. Kemudian
kata “rahim” terkandung pengertian suatu hubungan kekerabatan secara umum, baik
melalui jalur ayah maupun jalur ibu atau orang-orang yang mempunyai hubungan
kekerabatan karena hubungan darah dengan orang yang meninggal dunia (al-muwarris).
Secara umum baik dalam istilah bahasa arab maupun dalam hukum Islam, kata “arham”
juga dapat diartikan dengan hubungan kerabat atau silaturrahmi.
Adapun secara istilah ulama fiqih, dzawi al-arham berarti seluruh kerabat yang tidak
termasuk kelompok ashab al-furudh yang berjumlah 14 orang dan ashab al„ashabah yang
berjumlah 11 orang. Mereka yang masuk dalam kelompok ashab al-furudh dan ashab al-
„ashabah adalah;
1) Anak perempuan,
2) Anak laki-laki,
3) Cucu perempuan dari anak laki-laki,
4) Cucu laki-laki dari anak laki-laki,
5) Ayah,
6) Ibu,
7) Suami,
8) Isteri,
9) Kakek dari pihak ayah,
10) Nenek dari pihak ibu,
11) Nenek dari pihak ayah,
12) Saudara perempuan sekandung,
13) Saudara laki-laki sekandung,
14) Saudara perempuan seayah,
15) Saudara laki-laki seayah,
16) Saudara perempuan seibu,
17) Saudara laki-laki seibu,
18) Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung,
19) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah,
20) Paman sekandung,
21) Paman seayah,

30
22) Anak laki-laki dari paman sekandung,
23) Anak laki-laki dari paman seayah,
24) Orang laki-laki yang memerdekakan budak (mu‟tiq), dan
25) Orang perempuan yang memerdekakan budak (mu‟tiqah)
Dalam istilah lain, dzawi al-arham dapat diartikan sebagai orang-orang yang
memiliki hubungan kekerabatan dengan al-muwarris tetapi oleh karena beberapa sebab
mereka dianggap bukan sebagai ahli waris. Para fuqaha berbeda pendapat tentang jumlah
ahli waris yang termasuk dalam dzawi al-arham. Ada yang berpendapat bahwa mereka
berjumlah 4 (empat) orang, dan ada yang menyebutnya 10 (sepuluh) orang. Sementara
Ibnu Rusyd menyatakan bahwa ahli waris yang termasuk dalam kelompok dzawi al-arham
adalah: Cucu laki-laki atau perempuan dari anak perempuan, anak dan cucu perempuan
dari saudara laki-laki, anak dan cucu perempuan dari saudara perempuan, anak dan cucu
perempuan dari paman, paman seibu, anak dan cucu dari saudara laki-laki seibu, saudara
perempuan bapak, saudara-saudara ibu, kakek dari garis ibu, dan nenek dari pihak kakek.
B. Pendapat Ulama tentang Warisan Dzawi al-Arham dan Cara Penyelesaian
Pembagian nya
1. Pendapat yang menyatakan dzawi al-arham tidak berhak atas bagian warisan al-
muwarris.
Imam Malik, Imam Syafi‟ie, Zaid ibn Tsabit, dan mayoritas ulama Amshar
berpendapat bahwa ahli waris dzawi al-arham tidak berhak menerima bagian warisan
meskipun tidak ada ahli waris ashab al-furudh dan ashab al-„ashabah.79 Pendapat yang
sama dikemukakan oleh Ibn Abbas, Sa‟id ibn al-Musayyab, Sa‟ad ibn Jubair, Sufyan
al-Tsauri, al-Auza‟iy, dan Ibn Hazm al-Andalusy dari kalangan sahabat dan tabi‟in.
Mereka menyatakan bahwa harta peninggalan al-muwarris diserahkan semuanya
kepada bait al-mal, dengan alasan bahwa hakhak ahli waris dzawi al-arham tidak dirinci
dalam alqur‟an dan dalam al-qur‟an sendiri hanya menetapkan bagian warisan kepada
ashab al-furudh dan ashab al„ashabah. Selain itu, Rasulallah saw sendiri tidak
memberikan hak waris kepada bibi dari bapak (al„ammah) dan bibi dari ibu (al-khalah),
2. Pendapat yang menyatakan dzawi al-arham berhak menerima bagian warisan al-
muwarris.
Khulafa al-rasyidin, Ibnu Mas‟ud, dan Mu‟az bin Jabal dari kalangan sahabat,
Abu Hanifah, Ahmad ibn Hanbal, Abu Yusuf, Muhammad, Ibn Abi Laila dari kalangan
ulama mazhab, dan mayoritas ulama fuqaha dari Irak, Kufah dan Bashrah, kemudian
juga diikuti oleh Malikiyah dan Syafi‟iyah (pada periode akhir setelah melihat adanya

31
kekacauan pada administrasi baitul mal), mereka berpendapat bahwa ahli waris dzawi
al-arham berhak menerima harta warisan jika tidak ada ahli waris ashab al-furudh dan
ashab al-„ashabah.

32