Anda di halaman 1dari 27

CRITICAL BOOK REPORT

“EVALUASI HASIL BELAJAR”


DOSEN PENGAMPU : Yeni Marito, M.Pd,.M.Si

NAMA : KRISTIKA MONDANG MATONDANG


NIM : 1193151035
KELAS : BK REGULER D 2019

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
yang memberikan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik
dan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih kepada ibu Yeni
Marito, M.Pd,.M.Si salaku dosen pengampu mata kuliah Evaluasi Hasil Belajar yang
telah memberikan bimbingan dan saran – saran kepada kami sehingga,saya dapat
menyelesaikan tugas ini dengan kemampuan yang saya miliki dengan sebaik mungkin.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan – rekan mahasiswa yang telah
memberikan masukan serta saran – saran sehingga makalah ini bias terselesaikan.

            Saya telah berusaha dengan semaksimal mungkin dapat menyelesaikan tugas ini.
Namun saya menyadari masih banyak kesalahan dalam penyusunan pelaporan makalah
ini, untuk itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat yang membangun
dari pembaca demi penyempurnaan tugas ini.

Medan, 05 Maret 2020

KRISTIKA MATONDANG
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................................iii
BAB I............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. RASIONALISASI PENTINGNYA CBR..........................................................1
B. TUJUAN............................................................................................................1
D. INDENTITAS BUKU.......................................................................................2
BAB II...........................................................................................................................3
RINGKASAN ISI BUKU.............................................................................................3
BAB III PEMBAHASAN.............................................................................................3
A. PEMBAHASAN ISI BUKU................................................................................17
BAB IV............................................................................................................................23
A. KESIMPULAN...................................................................................................23
B. SARAN................................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................24
BAB I

PENDAHULUAN

A. RASIONALISASI PENTINGNYA CBR

Dalam Critical Book Review ini mahasiwa dituntut untuk mengkritisi sebuah
buku, dan meringkas menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga dapat dipahami
oleh mahasiswa yang melakukan Critical Book Report, adapun didalamnya
mengerti kelemahan dan keunggulan isi buku yang akan dikritik. Dalam hal ini
saya mengkritik buku utama “Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Prof. Dr. Suharsimi
Arikunto). Dan Buku pembanding oleh Prof. Drs. Anas Sudijono dan buku lainya.
penugasan Critical Book Review ini juga merupakan bentuk pembiasaan agar
mahasiswa terampil dalam menciptakan ide-ide kreatif dan berpikir secara analitis
sehingga pada saat pembuatan tugas-tugas yang sama mahasiswa pun menjadi
terbiasa serta semakin mahir dalam penyempurnaan tugas tersebut. Pembuatan tugas
Critical Book Review ini juga melatih,menamba pemahaman mahasiswa cara
mengkritik suatu karya berdasarkan data yang factual sehingga dengan begitu
tercipta lah mahasiswa-mahasiswa yang berkarakter logis.

B. TUJUAN

Critikal Book Report ini bertujuan :


1. Mengulas isi sebuah buku
2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada didalam buku
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang
diberikan oleh setiap bab dari sebuah buku
4. Memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah manajemen sekolah

C. MANFAAT CBR
1. Mengerti isi sebuah buku
2. Menemukan dan mengetahui informasi yang ada didalam buku
3. Dapat berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh setiap bab
dari sebuah buku.
D. INDENTITAS BUKU

BUKU UTAMA
Judul Buku : PENGANTAR EVALUASI PENDIDIKAN
Penulis : Prof. Drs. Anas Sudijono
Penerbit : Rajawali Pers Raja Grafindo Persada
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : 504 halaman
Banyak Bab :9

BUKU PEMBANDING I
Judul buku : DASAR-DASAR EVALUASI PENDIDIKAN
Penulis : Prof. Dr. Suharsimi Arikunto
Penerbit : Bumi Aksara
ISBN : 9786022172475
Tahun Terbit : 2012
Jumlah Halaman : 320 halaman

BUKU PEMBANDINGAN II
Judul : Evaluasi Pembelajaran
Edisi :1
Pengarang : Asrul, Rusyudi Ananda dan Rosnita
Penerbit : Citapustaka Media
Kota terbit : Bandung
Tahun terbit : 2014
ISBN : 978-602-1317-49-5
BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

BAB I : PENDAHULUAN

1. Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi

Menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dalam bukunya dasar-dasar evaluasi pendidikan,
yang menyatakan : kita tidak dapat mengadakan penilain sebelum kita mengadakan
pengukuran.

 Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran


bersifat kuantitatif.
 Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik
dan buruk. Penilaian bersifat kuantitatif.
 Mengadakan Evaluasi meliputi kedua langkah diatas, yakni mengukur dan
menilai

Jadi, dalam istilah asing pengukuran adalah Measurement, sedang penilaian adalah
Evaluation. Dari kata evaluation inilah diperoleh kata evaluasi yang berarti menilai (tetapi
dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu). Jadi evaluasi adalah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi
tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan,
yang dimaksudkan untuk membantu para guru dalam pengambil keputusan dalam usaha
menjawab pertanyaan atau permasalahan yang ada. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini
adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk
menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.

2. Penilaian Pendidikan

Dalam pendidikan, ada awalnya pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan
prestasi belajar siswa. Definisi yang pertama dikembangkan oleh Ralph Tyler (1950).
Ahli ini mengatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk
menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan tercapai. Jika belum,
bagaimana yang belum dan apa sebabnya. Definisi ini diperluaskan oleh dua ahli lain,
yakni Cronbach dan Stufflebeam. Tambahan definisi tersebut adalah bahwa proses
evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, digunakan untuk
membuat keputusan.

3. Tujuan atau Fungsi Penilaian


Dengan diketahuinya makna dari penilaian, maka dapat dikatakan bahwa fungsi penilaian
adalah sebagai berikut:

a. Penilaian berfungsi selektif.

Dengan cara penilaian guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksiatau penilaian
terhadap siswanya.

b.Penilaian berfungsi diagnostik.

Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi syarat, maka dengan
melihat hasilnya guru dapat mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu akan diketahui
pula sebab-sebab kelemahan itu. Jadi dengan mengadakan penilaian guru sebanarnya
melakukan diagnosis kepada siswanya.

c.Penilaian berfungsi sebagai penempatan

Setiap siswa sejak lahir telah membawa bakat sendiri-sendiri sehingga belajar akan lebih
efektif jika di sesuaikan dengan pembawaan yang ada. Untuk dapat menentukan dengan
pasti kelompok mana yang sesuai dengan kemampuan siswa, maka digunakan suatu
penilaian.

d.Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan.

Fungsi ini dimaksudkan untuk mengetahui suatu mana suatu program berhasil diterapkan
kepada siswa.Jadi dapat disimpulkan bahwa penilaian berfungsi sebagai alat ukur
keberhasilan dalam proses belajar.

BAB II : Subjek dan sasaran Evaluasi

1. Subjek Evaluasi

Dalam keterangan ini yang di maksud dengan subjek evaluasi adalah orang yang
melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat di sebut sebagai subjek evaluasi untuk
setiap tes, di tentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku.

Ada pandangan lain yang mengatakan subjek evaluasi adalah siswa, yakni orang yang di
evaluasi, dalam hal ini yang di pandang sebagai objek evaluasi adalah mata pelajarannya.
Pandangan lain mengatakan siswa sebagai objek evaluasi dan guru sebagai subjek
evaluasi.

2.Sasaran Evaluasi

Adapun sasaran evaluasi di sini mencakup beberapa sasaran penilaian untuk unsure-
unsurnya, meliputi : Input, Transformasi dan Out put.
a.In Put

Berkenaan dengan hal ini ada beberapa aspek yang harus di perhatikan untuk mencapai
hasil yang di inginkan, yaitu :

 Kemampuan

Jika sebuah institusi menginginkan out put yang berguna bagi nusa dan bangsa maka
haruslah memperhatikan atau memilah-milah kemampuan dari beberapa calon murid.
Adapun tes yang di gunakan adalah tes kemampuan.

 Kepribadian

Kepribadian adalah sesuatau yang terdapat pada diri manusia serta tampak bentuknya
dalam tingkah laku, sehingga seorang pendidik akan mengetahui satu-persatu calon
peserta didiknya. Adapun alat yang di pakai adalah tes kepribadian.

 Sikap

Sikap adalah bagian dari tingkah laku manusia yang menggambarkan kepribadian
seseorang, akan tetapi karena sikap ini sangat menonjol dalam pergaulan maka banyak
orang yang ingin tahu lebih dalam informasi khusus terkait dengannya. Adapun alat yang
di pakai adalah tes sikap.

 Intelegensi

Dalam hal ini para ahli seperti binet dan simon menciptakan tes buatan yang di kenal
dengan tes binet-simon yang dapat mengetahui IQ seseorang, karena IQ bukanlah
intelegensi.

b.Transformasi

Di sini ada beberapa unsur yang dapat menjadi sasaran atau objek pendidikan demi di
perolehnya hasil pendidikan yang di harapkan, yaitu :

 Kurikulum/materi
 Metode dan cara penilaian
 Media
 Sistem administrasi
 Pendidik dan anggotahnya.

c.Out Put

Penilaian atas lulusan suatu sekolah di lakukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkah
pencapaian atau prestasi belajar mereka selama mengikuti program tersebut dengan
menggunakan tes pencapaian.
BAB III : PRINSIP DAN ALAT EVALUASI

1. Prinsip Evaluasi

Ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi
atau hubungan erat tiga komponen, yaitu:

a.Hubungan antara tujuan dengan KBM

Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh
guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, anak panah
yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna
bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM,
menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.

b.Hubungan antara tujuan dengan evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah
tercapai. Dengan makna demikian maka anak panah berasal dari evaluasi menuju ke
tujuan. Di lain sisi, jika dilihat dari langkah, dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu
pada tujuan yang sudah dirumuskan.

c.Hubungan antara KBM dengan evaluasi

Seperti yang sudah disebutkan dalam poin (a), KBM dirancang dan disusun dengan
mengacu pada tujuan yang telah dirumuskan. Telah disebutkan pula dalam poin (b)
bahwa alat evaluasi juga disusun dengan mengacu pada tujuan. Selain mengacu pada
tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan.
Sebagai misal, jika kegiatan belajar-mengajar dilakukan oleh guru dengan
menitikberatkan pada keterampilan, evaluasinya juga harus mengukur tingkat
keterampilan siswa, bukannya aspek pengetahuan.

2.Alat Evaluasi

Secara garis besar, maka alat-alat evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi
dua macam, yaitu tes dan non tes. Dibawah ini akan dijelaskan secara rinci macam-
macam tes dan non tes.

a.Teknik Non Tes

Ada beberapa teknik non-tes yaitu:

 Skala Bertingkat
Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil
pertimbangan. Sebagai contoh adalah skor yang diberikan oleh guru di sekolah untuk
menggambarkan tingkat prestasi belajar siswa.

 Kuesioner

Kuesioner (questionaire) juga sering dikenal sebagai angket. Pada dasarnya, kuesioner
adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur.

 Teknik Tes

Dibawah ini ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian tes.

1.Dalam bukunya “Evaluasi Pendidikan”, Drs. Amin Daien Indrakusuma mengatakan


bahwa tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh
data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara
yang boleh dikatakan tepat dan cepat.

2.Dalam bukunya “ Teknik-teknik Evaluasi”, Mucthar Bukhori mengatakan tes ialah


suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran
tertentu pada seorang murid atau kelompok murid.

3. Dalam buku “Encyclopedia of Educational Evaluation”, diterangkan “Test is


comprehensive assessment of an individual or to an entire program evaluation effort” (tes
adalah penilaian yang kompherensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha
evaluasi program.

Dari beberapa kutipan dan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tes merupakan suatu
alat pengumpul informasi tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes ini
bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan

Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya tiga
macam tes, yaitu:

1.Tes diagnostic. Tes Diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui
kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat
dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.

1.Tes Formatif. Dari kata “form” yang merupakan dasar dari istilah “formatif”maka
evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk
setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya seperti ini tes formatif
dapat juga dipandang sebagai tes diagnostik pada akhir pelajaran. Evaluasi formatif
mempunyai manfaat baik bagi siswa, guru, maupun bagi program itu sendiri.

2. Tes Sumatif merupakan tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya sekelompok


program atau sebuah program yang lebih besar.
BAB IV : MASALAH TES

1. Pengertian

Istilah tes berasal dari bahasa Prancis Kuno yaitu “testum” yang berarti piring untuk
menyisihkan logam mulia. Dalam bahasa Indonesia tes diterjemahkan sebagai ujian atau
percobaan.

Menurut Arikunto (2010: 53), tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk
mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang
sudah ditentukan.

2.Ciri-Ciri Tes yang Baik

Suharsismi Arikunto (2008: 57-62) menyatakan bahwa suatu tes dapat dikatakan baik
apabila memenuhi lima syarat yaitu:

a. Validitas merupakan ketepatan, tes yang sebagai alat ukur dikatakan valid jika tes itu
tepat pada hasil belajar dan akan menghasilkan yang valid pula.

b. Reliabilitas, jika memberikan hasil yang tetap dari suatu tes, tidak terpengaruh oleh
apapun.

c. Objektifitas berarti tidak ada unsur pribadi yang mempengaruhinya, tidak ada unsur
subjektifitas yang mempengaruhi tes tersebut.

d. Praktikabilitas, tes ini merupakan tes yang praktis, mudah dan tidak mengecoh. Mudah
pelaksanaannya, mudah diperiksa, dan dilengkapi dengan petunjuk sehingga dapat
diberikan kepada orang lain.

e. Ekonomis, bahwa pelaksanaan tes tidak membutuh biaya yang mahal dan tidak
membuang waktu.

BAB V : VALIDITAS

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau


kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas
tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.

(Suharsimi Arikunto 2006).

Macam -Macam Validitas

Menurut Suharsimi ada dua jenis validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris.
Sementara validitas itu terbagi menjadi beberapa4 yaitu validitas isi, validitas konstrak,
validitas “ada sekarang” dan validitas predictive.

a. Validitas isi (content validity)


Yaitu pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Sebuah tes
dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar
dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan.Validitas isi merupakan validitas yang
diperhitungkan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional.
Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauh mana item-item
dalam suatu alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur oleh
alat ukur yang bersangkutan?” atau berhubungan dengan representasi dari keseluruhan
kawasan.

Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara merinci
materi kurikulum atau meteri buku pelajaran. Yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai
alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif
terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang harus diuji.

b. Validitas Konstruksi (Contruct validity)

Secara etimologis, kata kontruksi mengandung arti susunan, kerangka atau rekaan.
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas kontruksi apabila butir- butir soal yang
membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti yang disebutkan dalam
Tujuan Instruksional Khusus.

Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan
perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil estimasi validitas konstrak tidak
dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien validitas.

Dengan kata lain jika butir- butir soal mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai
dengan aspek berfikir yang menjadi tujuan instruksional.

Sebagai contoh jika rumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK), “Siswa dapat mengenal
tata cara memandikan mayat”, maka butir soal pada tes merupakan perintah bagaimana
cara memandikan mayat dengan baik.

c. Pengujian Validitas Tes secara Empiris

Istilah “Validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman” sebuah
instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari
pengalaman. Yang dimaksud dengan validitas empiris adalah ketepatan mengukur yang
didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Sedangkan menurut Ebel bahwa
Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan
suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang
ingin diramalkan oleh pengukuran.

Jadi empirical validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor
dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan
apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran. Bertitik tolak dari itu maka tes hasil belajar
dapat dikatakan telah memiliki validitas empirik apabila berdasarkan hasil analisis yang
dilakukan terhadap data hasil pengamatan dilapangan, terbukti bahwa tes hasil belajar itu
dengan secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya diungkap atau
diukur lewat tes hasil belajar tersebut.

d. Validitas Ramalan (Predictive Validity)

Setiap kali kita menyebutkan istilah “ramalan” maka didalamnya akan terkandung
pengertian mengenai “sesuatu yang bakal terjadi masa yang akan datang “ atau sesuatu
yang pada saat sekarang belum terjadi dan baru akan terjadi pada waktu-waktu yang akan
datang. Apabila istilah ramalan dikaitkan dengan validitas tes maka yang dimaksut
dengan validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa
jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk
meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datang.

Jadi pada dasarnya tes yang dilakukan adalah dengan memberikan bentuk soal, item dan
sarat yang diberikan harus memiliki tujuan akhir yang akan ditempuh sehingga proses
atau hasil yang dicapai dapat diprediksi sebelumnya.

e. Validitas Bandingan (concurrent validity)

Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes
tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukkan
adanya hubungan yang searah antara tes pertama dengan tes berikutnya. Menurut
Suharsimi dalam hal ini tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu
mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada.

Validitas bandingan juga sering dikenal dengan istilah : validitas sama saat, validitas
pengalaman atau validitas ada sekarang. Dikatakan sama saat sebab validitas tes itu
ditentukan atas dasar data hasil tes yang pelaksanaannya dilakukan pada kurun waktu
yang sama. Dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut ditentukan atas
dasar pengalaman yang telah diperoleh. Adapun dikatakan sebagai validitas ada sekarang
sebab setiap kali kita menyebut istilah pengalaman maka istilah itu akan selalu kita
kaitkan dengan hal-hal yang telah ada atau hal-hal yang telah terjadi pada waktu yang
lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa yang lalu itu pada saat ini sudah ada di
tanggan.

Jadi dalam rangka menguji validitas bandingan, data yang mencerminkan pengalaman
yang diperoleh masa yang lalu itu, kita bandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh
sekarang ini. Jika hasil tes yang ada sekarang ini mempunyai hubungan searah dengan
hasil tes berdasarkan pengalaman yang lalu, maka tes yang memiliki karakteristik seperti
itu dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan.

BAB VI : REALIBILITAS

1. Cara-Cara Mencari Besarnya Realibilitas.

Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subyek yang sama. Untuk
mengetahui ketetapan ini pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil.
Kriterium yang digunakan untuk mengetahui ketetapan ada yang berada diluar tes
(consistency external) dan pada tes itu sendiri (consistency internal).

 Metode bentuk Paralel (equivalen)

Tes parallel atau tes ekuivalen adalah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan,
tingkat kesukaran, dan susunan, tetapi butir-butir soalnya berbeda. Dalam istilah bahasa
inggris disebut alternate-forms method (parallel forms).

 Metode tes ulang (test-retest method)

Metode tes ulang dilakukan orang untuk menghindari penyusunan dua seri tes. Dalam
menggunakan teknik atau metode ini pengetes hanya memiliki satu seri tes tetapi
dicobakan dua kali. Oleh karena tesnya hanya satu dan dicobakan dua kali, maka metode
ini dapat disebut dengan single-test-double-trial method. Kemudian hasil dari kedua tes
tersebut dihitung korelasinya.

 Metode belah dua atau split-half method

Kelemahan penggunaan metode dua tes dua kali percobaan dan satu tes dua kali
percobaandiatasi dengan metode ketiga ini yaitu metode belah dua. Dalam menggunakan
metode ini pengetes hanya menggunakan sebuah tes yang dicobakan satu kali. Oleh
karena itu, disebut juga single-test-single-trial method.

BAB VII : TAKSONOMI

Taksonomi Bloom

Menurut taksonomi Bloom ini tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah,
kawasan), dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih
rinci berdasarkan hirarkhinya. Domain-domain tersebut antara lain:

a. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan


aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Dalam
ranah ini hirarkinya adalah pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension),
aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation).

b. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek


perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Dalam
ranah ini hirarkinya adalah pandangan atau pendapat (opinion) dan sikap atau nilai
(attitude, value)

c. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan


aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan
mengoperasikan mesin. Ranah ini tersusun atas keterampilan (skill) dan kemampuan
( abilities)

BAB VIII : TES STANDAR DAN TES BUATAN GURU


1. Pengertian Tes Standar

Tes adalah salah satu bentuk instrumen evaluasi untuk mengukur seberapa besar
kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai pokok-pokok materi yang sudah
diajarkan. Tes ada yang dibuat oleh seorang guru yang kemudian disebut tes buatan guru
dan ada tes yang sudah memenuhi standar suatu satuan pendidikan maupun lembaga
pendidikan yang kemudian disebut tes terstandar.

Tes kemampuan pada dasarnya terbagi menjadi dua macam, yaitu :

a. Aptitude test

b. Achievement tes

Perbedaan antara dua tes ini sebenearnya tidak tegas, soal – soal mengenai kedua tes
tersebut sering kali saling melingkupi ( overlap ). Untuk kedua macam tes ini biasanya
menggunakan hitung – hitungan dan perbendaharaan kata – kata dan sekelompok tes dari
kedua macam tes ini biasanya juga menguji tentang keterampilan membaca. Kesamaan
yang lain adalah bahwa keduanya telah digunakan untuk meramalkan hasil untuk yang
masa akan dating, walaupun pada umumnya jika kita menggunakan tes prestasi penilai
melihat apa yang telah diperoleh setelah siswa ( tercoba ) itu diberi suatu pelajaran.

2. Tes Prestasi Standar

Di antara tes prestasi yang digunakan di sekolah ada yang dinamakan tes prestasi standar.
Dalam salah satu kamus, arti kata ”standar” adalah: “A degree of level of requirement,
excellence, or attainment”.

Standar untuk siswa dapat dimaksudkan sebagai suatu tingkat kemampuan yang harus
dimiliki bagi suatu program tertentu. Mungkin standar bagi suatu kursus A berbeda
dengan B. Jadi standar ini dapat dibuat “keras” maupun “lunak” tergantung dari yang
mempunyai kebijaksanaan.

Prosedur yang digunakan untuk menyusun tes standar untuk tes prestasi melalui cara
langsung yang ditumbuhkan dari tes yang digunakan di kelas. Sedangkan spesifikasi yang
digunakan untuk menentukan isi dalam tes bakat biasanya didasarkan atas analisis job
(jabatan) atau analisis tugas yang merupakan tuntutan calon pekerjaannya. Disamping itu
juga mempertimbangkan sifat-sifat yang ada pada manusia. Analisis jabatan analisis
tugas yang dilakukan biasanya tidak tidak didasarkan atas satu kurikulum, tetapi diambil
dari masyarakat.

3. Perbandingan Antara Tes Standar dengan Tes Buatan Guru

Tes standar disusun dalam tipe-tipe soal yang sama yang meliputi bahan atau
pengetahuan yang sama banyak dengan bahan atau pengetahuan yang dicakup oleh tes
buatan guru. Lalu apakah perbedaan antara tes standar dengan tes buatan guru, atau
apakah keburukan dan keuntungan tes standar?
BAB IX : TES TERTULIS UNTUK PRESTASI BELAJAR

1. Bentuk-Bentuk Tes

a. Tes subyektif. Secara umum soal subyektif adalah pertanyaan yang menuntut peserta
didik menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan,
membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan
tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Jumlah soal-soal
bentuk subyektif biasanya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 buah soal dalam waktu
kurang lebih 90-120 menit. Soal-soal bentuk ini menuntut kemampuan peserta didik
untuk dapat mengorganisir, menginterpretasi, dan menghubungkan pengertian-pengertian
yang telah dimiliki.

b. Tes objektif. Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan
secara objektif (Arikunto, 1995 : 165). Karena sifatnya yang objektif maka penskorannya
dapat dilakukan dengan bantuan mesin. Soal ini tidak memberi peluang untuk
memberikan penilaian yang bergradasi karena dia hanya mengenal benar dan salah.
Apabila respons siswa sesuai dengan jawaban yang dikehendaki maka respons tersebut
benar dan biasa diberi skor 1. Apabila kondisi yang terjadi sebaliknya, maka respons
siswa salah dan biasa diberi skor 0. Jawaban siswa bersifat mengarah kepada satu
jawaban yang benar (convergence).

2. Macam-Macam Tes Objektif

a. Bentuk Tes Benar Salah (True-False Test). Tes benar salah adalah bentuk tes yang
mengajukan beberapa pernyataan yang bernilai benar atau salah. Biasanya ada dua
pilihan jawaban yaitu huruf B yang berarti pernyataan tersebut benar dan S yang berarti
pernyataan tersebut salah. Tugas peserta tes adalah menentukan apakah pernyataan
tersebut benar atau salah.

Cara Melakukan Penskoran Tes Benar Salah

 Dengan Denda. Skor = Jumlah jawaban benar – Jumlah jawaban Salah


 Tanpa Denda. Skor = Jumlah jawaban yang benar

b. Bentuk Pilihan Ganda (Multiple Choice Test). Tes pilihan ganda merupakan tes yang
menggunakan pengertian/ pernyataan yang belum lengkap dan untuk melengkapinya
maka kita harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban benar yang telah
disiapkan.

c. Menjodohkan (Matching Test). Menjodohkan terdiri atas satu sisi pertanyaan dan satu
sisi jawaban, setiap pertanyaan mempunyai jawaban pada sisi sebelahnya. Siswa
ditugaskan untuk memasangkan atau mencocokkan, sehingga setiap pertanyaan
mempunyai jawaban yang benar.

Cara Memberikan Skor: Penskoran pada tes menjodohkan tidak diberikan denda
terhadap jawaban yang salah. Skor = Jumlah jawaban benar
d. Tes Isian (Complementary Test). Tes isian terdiri dari kalimat yang dihilangkan (diberi
titik-titik). Bagian yang dihilangkan ini yang diisi oleh peserta tes merupakan pengertian
yang diminta agar pernyataan yang dibuat menjadi pernyataan yang benar.

Contoh:

(1) Yang merupakan nama asli dari Sultan Hamengkubuwono X adalah …..

(2) Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab
suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri.
Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran ………………..
beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio
(akal). Aliran ……………, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu,
baik yang batin, maupun yang inderawi.

3. Pengukuran Ranah Afektif

Pengukuran ranah afktif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam
ranah afektif kemampuan yang diukur adalah, Menerima (memperhatikan), merespon,
menghargai, mengorganisasi, dan karakteristik suatu nilai.Sedangkan tujuan penilaian
afektif adalah :

a. Untuk mendapatkan umpan balik (feedback) baik bagi guru maupun siswa sebagai
dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program perbaikan
(remedial program) bagi anak didiknya.

b. Untuk mengetahui tingkat perubahan tingkah laku anak didik yang dicapai antara lain
diperlukan sebagai bahan bagi : perbaikan tingkah laku anak didik, pemberian laporan
kepada orang tua, dan penentuan lulus tidaknya anak didik.

c. Untuk menempatkan anak didik dalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai
dengan tingkat pencapaian dan kemampuan serta karakteristik anak didik.

d. Untuk mengenal latar belakang kegiatan belajar dan kelainan tingkah laku anak didik.

BAB X : MENGANALISISS HASIL TES

1. Menilai Tes yang Dibuat Sendiri

Guru yang sudah banyak berpengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal tes, juga
masih sukar menyadari bahwa tesnya masih belum sempurna. Oleh karena itu cara yang
paling baik adalah secara jujur melihat hasil yang diperoleh oleh siswa.

Cara untuk menilai tes, yaitu:

 Meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang dapat


diperoleh jawaban tentang ketidak jelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran,
dan lain-lain keadaan soal tersebut.
 Mengadakan analisis soal (item analysis). Analisis soal adalah suatu prosedur
Yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus
terhadap butir tes yang kita susun. Faedah mengadakan analisis soal:

2. Analisis Butir Soal(Item Analysis)

Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap
empirik.Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan
dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh.

Untuk mengetahui kapan soal dikatakan baik, kurang baik, dan soal yang jelek sangat
berhubungan dengan analisis soal, yaitu taraf kesukaran, daya pembeda, dan pola
jawaban soal.

a. Taraf Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang
terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya.
Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak
mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya.

Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran.
Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Soal yang indeks kesukaran
0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa
soalnya terlalu mudah.

Didalam istilah evaluasi, indeks kesukaran diberi simbol P (proporsi). Rumus mencari P
adalah : P = B JS

Dimana :

P = indeks kesukaran

B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul

JS = jumlah seluruh siswa peserta tes

Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai
berikut :

Soal dengan P 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar

Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang

Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah

b. Daya Pembeda.
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa
yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
BAB III

PEMBAHASAN

A. PEMBAHASAN ISI BUKU

Pada bab satu

buku Utama Secara harviah Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi: kita tidak
dapat mengadakan penilain sebelum kita mengadakan pengukuran . Sedangkan dalam
buku pembanding pada bab ini membas tentang pengertian evaluasi dan evaluasi
pendidikan Dengan demikian secara harfiah dapat diartikan evaluasi pendidikan
adalah :penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal yang
berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Pada buku pembanding yang pertama Bab
1 membahas Jadi evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi
tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk
menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan, yang dimaksudkan
untuk membantu para guru dalam pengambil keputusan dalam usaha menjawab
pertanyaan atau permasalahan yang ada. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini
adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker
untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah
dilakukan. Sedangkan pembanding yang kedua pada bab satu membahas Istilah
evaluasi pembelajaran sering disamaartikan dengan ujian.

Pada bab dua

buku pertama membahas Subjek dan sasaran Evaluasi

Dalam keterangan ini yang di maksud dengan subjek evaluasi adalah orang yang
melakukan pekerjaan evaluasi. Siapa yang dapat di sebut sebagai subjek evaluasi untuk
setiap tes, di tentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang berlaku.
Adapun sasaran evaluasi di sini mencakup beberapa sasaran penilaian untuk unsure-
unsurnya, meliputi : Input, Transformasi dan Out put.

Untuk menerapkan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran menuntut


adanya perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri yang berbeda
dengan pembelajaran konvensional. Salah satu tuntutan kurikulum 2013 adalah
meminta peserta didik untuk mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Sedangkan pada buku pembanding
pada bab ii membahas tentang teknik evaluasi dasar, jei tidak dapat dibandingkan.
Pada bab ketiga

buku pertama membahas tentang prinsip dan alat evaluasi Ada satu prinsip umum
dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga
komponen. Pada buku pembanding 1 ada beberapa prinsip dasar yang perlu
dicermati dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut dapat mengukur
tujuan instruksional khusus untuk mata pelajaran yang telah diajarkan, atau
mengukur kemampuan dan keterampilan peserta didik yang diharapkan, setelah
Mereka menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu. Lalu buku pembanding
pertama stilah tes berasal dari bahasa Prancis Kuno yaitu “testum” yang berarti
piring untuk menyisihkan logam mulia. Dan buku pembanding kedua membahas
Tes bentuk uraian adalah tes yang pertanyaannya membutuhkan jawaban uraian,
baik uraian secara bebas maupun uraian secara terbatas. Tes objektif disebut
objektif karena cara pemeriksaannya yang seragam terhadap semua murid yang
mengikuti sebuah tes. Tes tindakan adalah tes yang menuntut jawaban peserta
didik dalam bentuk perilaku, tindakan, atau perbuatan di bawah pengawasan
penguji yang akan mengobservasi penampilannya dan membuat keputusan
tentang kualitas hasil belajar yang dihasilkannya atau ditampikannya.

Pada bab keempat

buku pertama membahas mengenai masalah tes Istilah tes berasal dari bahasa Prancis
Kuno yaitu “testum” yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia. Dalam bahasa
Indonesia tes diterjemahkan sebagai ujian atau percobaan.

Menurut Arikunto (2010: 53), tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk
mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang
sudah ditentukanTes hasil belajar yang setelah dilakukan penganalisisan secara
rasional ternyata memiliki daya keteatan mengukur, disebut tes hasil belajar siswa
yang telah memiliki validitas logika. Validitas logika : validitas rasional, validitas
ideal, atau validitas das sollen. Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh
dari hasil pemikiran , validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Untuk
menemukan apakah sudah memiliki validitas rasional ataukah belum, dapat
dilakukan penelusuran dari dua segi isinya (=conten) dan dari segi susunan atau
konstruksinya (construct).

Pada bab kelima

buku pertama membahas validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid
atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti
memiliki validitas rendah. yang setelah dilakukan penganalisisan secara rasional
ternyata memiliki daya keteatan mengukur, disebut tes hasil belajar siswa yang
telah memiliki validitas logika. Validitas logika : validitas rasional, validitas ideal,
atau validitas das sollen. Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh dari
hasil pemikiran , validitas yang diperoleh dengan berpikir secara logis. Dan buku
pembanding ke dua menjelaskan Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan
suatu proses pengumpulan pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil
belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik,
akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di
kelas.

Pada bab keenam

buku utama membahas reabilitas Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila
diteskan kepada subyek yang sama. Untuk mengetahui ketetapan ini pada dasarnya dilihat
kesejajaran hasil. Kriterium yang digunakan untuk mengetahui ketetapan ada yang berada
diluar tes (consistency external) dan pada tes itu sendiri (consistency internal). Pada
buku pembanding 2 menentukan apakah tes hasil belajar bentuk uraian yang
disusun seorang staf pengajar telah memiliki daya keajegan mgnukur atau
reabilitas yang tinggi ataukah belum, pada umumnya orang menggunakan sebuah
rumus yang dikenal dengan nama alpha. Lalu buku pembanding keduamembahas
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Ranah afektif
adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah psikomosotorik
menurut Dave’s adalah: (a) imitasi, (b) manipulasi, (c) ketepatan, (d) artikulasi,
dan (e) naturalisasi. Imitasi: mengamati dan menjadikan perilaku orang lain
sebagai pola.
Pada bab ketujuh

buku pertama membahas taksonomi Menurut taksonomi Bloom ini tujuan pendidikan
dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan), dan setiap domain tersebut dibagi
kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkhinya. Sedangkan pada
buku pembanding pada buku pembanding 2 membahas tentang skor, Skor adalah hasil
pekerjaan menyekor (=memberikan angka) yang diperoleh dengan menjumlahkan
angka angka begi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab dengan betul,
dengan memperhitungkan bobot jawaban betulnya.Nilai pada dasarnya adalah
angka atau huruf yang melambangkan : seberapa jauh atau seberapa besar
kemampuan yang telah ditunjukan oleh testee terhadap materi atau bahan yang
diteskan, sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan.
Kemudian buku pembanding kedua Analisis logis/rasional meliputi analisis
materi, konstruksi dan bahasa. Analisis empirik terhadap instrumen/soal
dilakukan dengan melakukan menguji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan
daya pembeda. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak
terlalu sukar.

Pada Bab Kedelapan

buku utama membahas mengenai tes standart dan tes buatan guru Tes adalah
salah satu bentuk instrumen evaluasi untuk mengukur seberapa besar kemampuan
siswa dalam memahami dan menguasai pokok-pokok materi yang sudah
diajarkan. Tes ada yang dibuat oleh seorang guru yang kemudian disebut tes
buatan guru dan ada tes yang sudah memenuhi standar suatu satuan pendidikan
maupun lembaga pendidikan yang kemudian disebut tes terstandar pada buku
pembanding membhas tentang Salah satu tugas penting yang sering kali dan
bahkan pada umumnya dilupakan oleh staf pengajar (guru, dosen dan lain lain)
adalah tugas melakukan evaluasi terhadap alat pengukur yang telah digunakan
untuk mengukur keberhasilan belajar dari para pesertadidiknya (murid, siswa,
mahasiswa dan lain lain). Alat pengukur dimaksud adalah tes hasil belajar, yang
sebagaimana telah kita maklumi, batang tubuhnya terdiri dari kumpulan butir-
butir soal (= item).
Pada Bab Kesembilan

buku utama membahas mengenai TES TERTULIS UNTUK PRESTASI


BELAJAR Mencari dan mengetahui kedudukan peserta didik dalam suatu kelas
atau kelompok pada umumnya dilakukan terlebih dahulu mengurutkan nilai nilai
yang telah dicapai peserta didik, nilai dari nilai yang paling tinggi sampai
terendah. Pada buku pembanding kedua membahas Tes subyektif. Secara umum
soal subyektif adalah pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab dalam
bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan
alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan
menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan cara demikian akan dapat
diurutkan nomor yang menunjukan urutan kedudukan seorang peserta didik
ditengah tengah kelompoknya, prosedur penentuan urutan kedudukan seperti telah
dikemukakan diatas adalah merupakan prosedur yang paling sederhana.. Tes
objektif. Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan
secara objektif (Arikunto, 1995 : 165). Karena sifatnya yang objektif maka
penskorannya dapat dilakukan dengan bantuan mesin.

Pada bab kesepulu.

Membahas tentang menganalisis hasil tes Mengadakan analisis soal (item


analysis). Analisis soal adalah suatu prosedur Yang sistematis, yang akan memberikan
informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun. Analisis butir
soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap
empirik.Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah
dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh . sedangkan
pada buku pembanding analisis merupakan tahap- tahap penting dalam hal mengevaluasi
sutu pendidikan maupun pengajaran di sekolah- sekolah. Dengan cara menganalisis kita
dapat mengetahui letak kelemahan dan keunggulan di setiap bidangnya.
B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
a. Kelebihan

1. Pada buku utama isi dari supbab – supbab materi sudah bagus disbanding
dengan buku lainnya`
2. Dilihat dari tampilan buku (face value), sampul dengan gambar cover
nyambung dengan materiyang disampaikan di dalam buku .
3. Penggunaan bahasa Indonesia dalam buku ini memudahkan para pembaca
dalam memahami isi buku, siapapun yang membaca buku ini akan mudah
memahami isi buku
4. Dari segi tata bahasa dan kalimatnya buku ini tidk terlalu bertele- tele.

b. Kelemahan
Di dalam buku dasar- dasar evaluasi pendidikan hampir tidak memiliki
kekurangan dibagian cover, dimana cover kurang menarik minat para pembaca .
kelemahan yang kedua terletak pada bagian penyajian supbabnya dimana pada
bagian ini terlalu banyak bab yang hampir membahas hal yang sama.
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Evaluasi merupakan suatu tahap pengoreksian suatu karya atau hasil kerja.
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan oleh
guru selama proses pembelajaran. Evaluasi sangat berman faat demi
meningkatkan mutu pendidikan di suatu daerah. Evaluasi dilakukan untuk
mengetahui kemampuan siswa, selain untuk mengadakan perbaikan. Didalam
hal mengevalusis kita harus memiliki konsep dan dasar sebagai tolak ukur
mengevaluasi. Untuk itu, pemahaman tentang konsep dasar evaluasi dan
pembalajaran sangat diperlukan oleg guru demi tercapainya tujuan
pembelajaran yang baik, efektif, dan efisisien. Dari pembahasan diatan dapat
kita artikan bahwa mengevaluasi bukan hanya seorang guru, namun semua
manusia bias mengevaluasi. Dalam hal ini sibedakan dengan apa yang akan di
evaluasi.

B. SARAN

Sangat disarankan bagi pelajar atau guru membaca dan memahami buku
ini sebagai patokan dalam menilai hasil belajar siswa. Begitu juga dengan
mahasiswa yang akan berminat jadi seorang guru agar memiliki buku ini
sebagai pedoman pendidikan, dimana sangat bermanfaat dalam proses
pendidikan di sekitar kita.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. : Bumi Aksara

Sudijono, Anas.2018. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers Raja


Grafindo Persada