Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KELOMPOK

( INFORMED CONSENT )

Mata Kuliah :
Etika Profesi

Disusun oleh :

Jessica Margareta Jaya 16.0552


Cicilia Dian Kuriasari 16.0564
Wahyuni Choirul Nisa 16.0569
Elisabeth Elviana Saputri 16.0574
Maryana 16.0577
Veronica Aprilia Ariani 16.0590
Vavi Oktaviani Dinastyantika 16.0598

POLITEKNIK KATOLIK MANGUNWIJAYA

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

SEMARANG

2019
TUGAS KELOMPOK

( INFORMED CONSENT )

Mata Kuliah :
Etika Profesi

Disusun oleh :

Jessica Margareta Jaya 16.0552


Cicilia Dian Kuriasari 16.0564
Wahyuni Choirul Nisa 16.0569
Elisabeth Elviana Saputri 16.0574
Maryana 16.0577
Veronica Aprilia Ariani 16.0590
Vavi Oktaviani Dinastyantika 16.0598

POLITEKNIK KATOLIK MANGUNWIJAYA

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

SEMARANG

2019

DAFTAR ISI

i
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah.....................................................................................1

B. Rumusan Masalah...............................................................................................2

C. Manfaat Penulisan..............................................................................................2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................3

A. PengertianInformed Consent.............................................................................3

B. Komponen-komponenInformed Consent.........................................................3

C. Tujuan PelaksanaanInformed Consent.............................................................4

D. Fungsi PemberianInformed Consent.................................................................5

E. Ruang LingkupInformed Consent.....................................................................6

F. Hal – hal yang dapat di informasikan...............................................................7

G. Aspek HukumInformed Consent.......................................................................8

H. Landasan HukumInformed Consent.................................................................9

BAB III. PEMBAHASAN.....................................................................................11

BAB IV. PENUTUP..............................................................................................14

A. Kesimpulan........................................................................................................14

B. Saran...................................................................................................................14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pelaksanaan pelayanan kesehatan dalam rangka mempertahankan
kesehatan yang optimal harus dilakukan bersama-sama, oleh semua tenaga
kesehatan sebagai konsekuensi dari kebijakan. Pelayanan kesehatan di rumah
sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang diselenggarakan baik oleh
pemerintah maupun masyarakat menempatkan tenaga kefarmasian sebagai tenaga
kesehatan mayoritas yang sering berhubungan dengan pasien sebagai pengguna
jasa pelayanan rumah sakit. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk
pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional. Tenaga kefarmasian dibagi menjadi apoteker dan tenaga teknis
kefarmasian. Masing–masing tenaga kefarmasian maupun tenaga teknis
kefarmasian memiliki peranan dan fungsi yang berbeda satu sama lain (Peraturan
Pemerintah No. 51 tahun 2009).
Informed consent berasal dari hak legal dan etis individu untuk
memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya dan kewajiban etik
dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk meyakinkan individu yang
bersangkutan untuk membuat keputusan tentang pelayanan kesehatan terhadap
diri mereka sendiri. Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 32
tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 22 ayat 1 disebutkan bagi tenaga
kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk
diantaranya adalah kewajiban untuk menghormati hak pasien, memberikan
informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan, dan
kewajiban untuk meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan.
Tenaga kesehatan yang tidak menunaikan hak pasien untuk memberikan
informed consent yang jelas, bisa dikategorikan melanggar case law (merupakan
sifat hukum medik) dan dapat menimbulkan gugatan dugaan malpraktek.

1
2

Belakangan ini masalah malpraktek medik (medical malpractice) yang cenderung


merugikan pasien semakin mendapatkan perhatian dari masyarakat dan sorotan
media massa. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan Pusat di Jakarta
mencatat sekitar 150 kasus malpraktek telah terjadi di Indonesia. Meskipun data
tentang malpraktek yang diakibatkan oleh informed consent yang kurang jelas
belum bisa dikalkulasikan, tetapi kasus-kasus malpraktek baru mulai
bermunculan.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah tujuan pelaksanaan Informed Consent ?
2. Bagaimana ruang lingkup Informed Consent ?
3. Apa hal – hal yang harus diinformasikan pada pasien ?
4. Bagaimana aspek hukum Informed Consent ?
5. Apa hal-hal yang mempengaruhi proses Informed Consent ?

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi mahasiswa agar mampu memahami tentang bagaimana pemberian
informed consent pada pasien agar dapat meningkatkan kesehatan di
masyarakat.
2. Bagi Institusi agar dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang
pemberian informed consent pada pasien dan dapat lebih banyak menyediakan
referensi-referensi buku tentang etika dan hukum kesehatan.
3. Bagi masyarakat agar lebih mengerti dan memahami tentang pemberian
informed consent pada pasien untuk meningkatkan mutu kesehatan
masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Informed Consent


Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu “informed” yang berarti telah
mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan “consent” yang berarti
persetujuan atau memberi izin. Jadi “informed consent” mengandung pengertian
suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian
“informed consent” dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh
pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang
akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
Menurut D. Veronika Komalawati, S.H., “informed consent” dirumuskan
sebagai suatu kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan
dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi dari dokter
mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai
informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi (Guwandi, 2004).

B. Komponen-komponen Informed Consent


1. Threshold elements
Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena
sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang
kompeten (cakap). Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat
keputusan medis. Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya
merupakan suatu kontinum, dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga
memiliki kompetensi yang penuh diantaranya terdapat berbagai tingkat
kompetensi membuat keputusan tertentu.
Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa,
sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan.
Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah
menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah
apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan
membuat keputusan menjadi terganggu.

3
4

2. Information elements
Terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan
understanding (pemahaman). Elemen ini berdasarkan pemahaman yang adekuat
membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi
(disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang
adekuat. Dalam hal ini, seberapa “baik” informasi harus diberikan kepada pasien,
dapat dilihat dari 3 standar, yaitu:
a. Standar Praktik Profesi bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria
keadekuatan informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam
komunitas tenga medis. Dalam standar ini ada kemungkinan kebiasaan
tersebut diatas tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya resiko
yang ”tidak bermakna” (menurut medis) tidak diinformasikan, padahal
mungkin bermakna dari sisi sosial pasien.
b. Standar Subyektif bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang
dianut oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus
memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan. Kesulitannya
adalah mustahil (dalam hal waktu/kesempatan) bagi profesional medis
memahami nilai-nilai yang secara individual dianut oleh pasien.
c. Standar pada reasonable person, standar ini merupakan hasil kompromi dari
kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang
diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam.
3. Consent elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan,
kebebasan) dan authorization (persetujuan). Kesukarelaan mengharuskan tidak
ada tipuan, misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari
”tekanan” yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan
”dibiarkan” apabila tidak menyetujui tawarannya (Guwandi, 2004).

C. Tujuan Pelaksanaan Informed Consent


Dalam hubungan antara pelaksana (dokter) dengan pengguna jasa tindakan
medis (pasien), maka pelaksanaan informed consent, bertujuan untuk:
5

1. Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum dari segala
tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya, maupun tindakan
pelaksana jasa tindakan medis yang sewenang-wenang, tindakan malpraktek
yang bertentangan dengan hak asasi pasien dan standar profesi medis, serta
penyalahgunaan alat canggih yang memerlukan biaya tinggi atau “over
utilization” yang sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan medisnya.
2. Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan medis dari
tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta akibat tindakan medis
yang tak terduga dan bersifat negatif, misalnya terhadap “risk of treatment”
yang tak mungkin dihindarkan walaupun dokter telah bertindak hati-hati dan
teliti serta sesuai dengan standar profesi medik. Sepanjang hal itu terjadi
dalam batas-batas tertentu, maka tidak dapat dipersalahkan, kecuali jika
melakukan kesalahan besar karena kelalaian (negligence) atau karena
ketidaktahuan (ignorancy) yang sebenarnya tidak akan dilakukan demikian
oleh teman sejawat lainnya.

D. Fungsi Pemberian Informed Consent


1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku manusia
2. Penghormatan terhadap hak otonomi perorangan yaitu hak untuk menentukan
nasibnya sendiri
3. Proteksi terhadap pasien sebagai subjek penerima pelayanan kesehatan
(Health Care Receiver = HCR)
4. Untuk mendorong dokter melakukan kehati-hatian dalam mengobati pasien
5. Menghindari penipuan dan misleading oleh dokter
6. Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional
7. Mendorong keterlibatan publik dalam masalah kedokteran dan kesehatan
8. Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang kedokteran dan
kesehatan
9. Menimbulkan rangsangan kepada profesi medis untuk melakukan introspeksi
terhadap diri sendiri.
6

E. Ruang Lingkup Informed Consent


Ruang lingkup dan materi informasi yang diberikan tergantung pada
pengetahuan medis pasien saat itu. Jika memungkinkan, pasien juga diberitahu
mengenai tanggung jawab orang lain yang berperan serta dalam pengobatan
pasien. Dalam mempertimbangkan perlu tidaknya mengungkapkan diagnosis
penyakit yang berat, faktor emosional pasien harus dipertimbangkan terutama
kemungkinan bahwa pengungkapan tersebut dapat mengancam kemungkinan
pulihnya pasien.
Pasien memiliki hak atas informasi tentang kecurigaan dokter akan adanya
penyakit tertentu walaupun hasil pemeriksaan yang telah dilakukan inkonklusif.
Hak-hak pasien dalam pemberian inform consent adalah:
1. Hak atas informasi
Informasi yang diberikan meliputi diagnosis penyakit yang diderita, tindakan
medik apa yang hendak dilakukan, kemungkinan penyulit sebagai akibat
tindakan tersebut dan tindakan untuk mengatasinya, alternatif terapi lainnya,
prognosanya, perkiraan biaya pengobatan.
2. Hak atas persetujuan (Consent)
Consent merupakan suatu tindakan atau aksi beralasan yang diberikan tanpa
paksaan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan cukup tentang keputusan
yang ia berikan, dimana orang tersebut secara hukum mampu memberikan
consent. Kriteria consent yang sah yaitu tertulis, ditandatangani oleh klien atau
orang yang betanggung jawab, hanya ada salah satu prosedur yang tepat
dilakukan, memenuhi beberapa elemen penting, penjelasan tentang kondisi,
prosedur dan konsekuensinya. Hak persetujuan atas dasar informasi (Informed
Consent).
3. Hak atas rahasia medis
4. Hak atas pendapat kedua (Second opinion)
5. Hak untuk melihat rekam medik (Guwandi, 2004).
7

F. Hal – hal yang dapat diinformasikan


1. Hasil Pemeriksaan
Pasien memiliki hak untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan. Misalnya perubahan keganasan pada hasil Pap smear. Apabila
infomasi sudah diberikan, maka keputusan selanjutnya berada ditangan pasien.
2. Resiko
Resiko yang mungkin terjadi dalam terapi harus diungkapkan disertai upaya
antisipasi yang dilakukan dokter untuk terjadinya hal tersebut. Reaksi alergi
idiosinkratik dan kematian yang tak terduga akibat pengobatan selama ini
jarang diungkapkan dokter. Sebagian kalangan berpendapat bahwa
kemungkinan tersebut juga harus diberitahu pada pasien. Jika seorang dokter
mengetahui bahwa tindakan pengobatannya berisiko dan terdapat alternatif
pengobatan lain yang lebih aman, ia harus memberitahukannya pada pasien.
Jika seorang dokter tidak yakin pada kemampuannya untuk melakukan suatu
prosedur terapi dan terdapat dokter lain yang dapat melakukannya, ia wajib
memberitahukan pada pasien.
3. Alternatif
Dokter harus mengungkapkan beberapa alternatif dalam proses diagnosis dan
terapi. Ia harus dapat menjelaskan prosedur, manfaat, kerugian dan bahaya
yang ditimbulkan dari beberapa pilihan tersebut. Sebagai contoh adalah terapi
hipertiroidisme. Terdapat tiga pilihan terapi yaitu obat, iodium radioaktif, dan
subtotal tiroidektomi. Dokter harus menjelaskan prosedur, keberhasilan dan
kerugian serta komplikasi yang mungkin timbul.
4. Rujukan atau konsultasi
Dokter berkewajiban melakukan rujukan apabila ia menyadari bahwa
kemampuan dan pengetahuan yang ia miliki kurang untuk melaksanakan
terapi pada pasien-pasien tertentu. Pengadilan menyatakan bahwa dokter harus
merujuk saat ia merasa tidak mampu melaksanakan terapi karena keterbatasan
kemampuannya dan ia mengetahui adanya dokter lain yang dapat menangani
pasien tersebut lebih baik darinya.
8

5. Prognosis
Pasien berhak mengetahui semua prognosis, komplikasi, sequelae,
ketidaknyamanan, biaya, kesulitan dan risiko dari setiap pilihan termasuk
tidak mendapat pengobatan atau tidak mendapat tindakan apapun. Pasien juga
berhak mengetahui apa yang diharapkan dari dan apa yang terjadi dengan
mereka. Semua ini berdasarkan atas kejadian-kejadian beralasan yang dapat
diduga oleh dokter. Kejadian yang jarang atau tidak biasa bukan merupakan
bagian dari informed consent (Guwandi, 2004).

G. Aspek Hukum Informed Consent


Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis
(dokter, dan pasien) bertindak sebagai “subyek hukum” yakni orang yang
mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan “jasa tindakan medis” sebagai “obyek
hukum” yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang sebagai subyek
hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnya diatur
oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun oleh dua pihak.
Dalam masalah “informed consent” dokter sebagai pelaksana jasa tindakan
medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi
dokter, juga tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukum
perdata, hukum pidana maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat
diterapkan.
Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok
ukur yang digunakan adalah “kesalahan kecil” (culpa levis), sehingga jika terjadi
kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien, maka sudah dapat
dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada
hukum perdata secara umum berlaku adagium “barang siapa merugikan orang lain
harus memberikan ganti rugi”.
Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolak ukur yang dipergunakan
adalah “kesalahan berat” (culpa lata). Oleh karena itu adanya kesalahan kecil
(ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur
untuk menjatuhkan sanksi pidana.
9

Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh


pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak
pengguna jasa tindakan medis (pasien), sedangkan pasien dalam keadaan sadar
penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka dokter sebagai pelaksana
tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah melakukan suatu perbuatan
melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 Kitab Undang-
undang Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas
tubuhnya, sehingga dokter harus menghormatinya.
Aspek Hukum Pidana, “informed consent” mutlak harus dipenuhi dengan
adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang
penganiayaan. Suatu tindakan invasive (misalnya pembedahan, tindakan
radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya
izin dari pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah
melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran
terhadap Pasal 351 KUHP.
Salah satu pelaksana jasa tindakan medis dokter harus menyadari bahwa
“informed consent” benar-benar dapat menjamin terlaksananya hubungan hukum
antara pihak pasien dengan dokter, atas dasar saling memenuhi hak dan kewajiban
masing-masing pihak yang seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Masih banyak seluk beluk dari informed consent ini sifatnya relatif,
misalnya tidak mudah untuk menentukan apakah suatu inforamasi sudah atau
belum cukup diberikan oleh dokter. Hal tersebut sulit untuk ditetapkan secara
pasti dan dasar teoritis-yuridisnya juga belum mantap, sehingga diperlukan
pengkajian yang lebih mendalam lagi terhadap masalah hukum yang berkenaan
dengan informed consent ini.

H. Landasan Hukum Informed Consent


Dasar hukum informed consent adalah :
1. Pasal 53 pada UU No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan menetapkan sebagai
berikut:
10

a. Ayat 2, Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk


memenuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.
b. Ayat 4, Ketentuan mengenai standar profesi dan hak pasien sebagaimana
dimaksudkan dalam Ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah
Penjelasan Pasal 53 UU No. 23/92 Tentang Kesehatan.
c. Ayat 2, Standar profesi adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai
petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik. Tenaga kesehatan yang
berhadapan dengan pasien dalam melaksanakan tugasnya harus
menghormati hak pasien. Yang dimaksud dengan hak pasien adalah hak
atas informasi, hak untuk memberikan persetujuan, hak atas rahasia
kedokteran dan hak atas pendapat kedua.
2. Secara hukum informed consent berlaku sejak tahun 1981, PP No. 8 Tahun
1981.
3. Informed consent dikukuhkan menjadi lembaga hukum, yaitu dengan
diundangkannya Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 Tahun 1989 Tentang
Persetujuan Tindakan Medik. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 585
Tahun 1989 ini dalam Bab I, Ketentuan Umum, Pasal 1 (a) menetapkan apa
yang dimaksud Informed Consent; Persetujuan tindakan medis adalah
persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan
mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN

Informed consent dalam tindakan kegawatdaruratan merupakan hal yang


cukup krusial dalam hukum kesehatan. Informed consent akan mendapatkan
pengecualian apabila dalam keadaan gawat darurat. Beberapa kasus gugatan
dalam hukum kesehatan dilatarbelakangi oleh masalah informed consent dalam
tindakan kegawatdaruratan. Hal ini tentu saja dikarenakan pasien tidak dapat
memberikan persetujuan secara tertulis maupun lisan terhadap tindakan medik
yang dilakukan.
Pada sebuah contoh gugatan yang terjadi akibat informed consent dalam
tindakan kegawatdaruratan dinyatakan bahwa “didalam suatu operasi hernia
ternyata oleh tenaga medis ditemukan bahwa testikel kiri dari pasien sudah
terinfeksi berat. Untuk berhasilnya operasi hernia, maka testikel yang terinfeksi
berat (mau atau tidak mau) harus diangkat. Tenaga medis digugat dipengadilan
karena tidak ada persetujuan yang nyata tersirat untuk dilakukan perluasan
operasi. Pembela tenaga medis mengatakan bahwa perluasan operasi tersebut
sangat diperlukan untuk kesehatan pasien dan secara wajar dilakukan demi
kelangsungan hidupnya. Pembuangan testis itu, hanya dilakukan untuk
kepentingan pasien itu sendiri dan termasuk dalam tindakan logis untuk menunda-
nunda operasi. Didalam kasus tersebut, hakim membenarkan tindakan tenaga
medis tersebut, karena keputusan untuk mengangkat testikel adalah demi
kepentingan pasien, adalah tidak benar jika tenaga medis tersebut tidak melakukan
apa-apa dalam situasi dan kondisi tersebut.
Permasalahan mengenai persetujuan tindakan kedokteran atau informed
consent yang terjadi di Indonesia diantaranya yaitu kasus Nina Dwi Jayanti yang
merupakan pasien Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta yang telah
dioperasi tanpa persetujuan dari keluarga. Awalnya, gadis berusia 22 tahun ini
mengeluh tidak bisa buang air besar, lalu datang ke rumah sakit pada 15 februari
2009. Kemudian, dokter memberikan obat untuk melancarkan buang air besar.
Namun, obat tidak berfungsi. Dokter kemudian memperkirakan keluhan Nina

11
12

tersebut merupakan usus buntu. Operasi pun dilakukan oleh dokter tanpa meminta
persetujuan keluarga sesuai dengan prosedur dalam melakukan tindakan operasi.
Setelah dioperasi, ternyata dugaan dokter tersebut salah. Nina tidak menderita
usus buntu. Dokter lalu membuat keputusan berdasarkan diagnosia, bahwa Nina
menderita kebocoran kandung kemih. Kemudian dokter melakukan tindakan
operasi kembali, tanpa meminta persetujuan keluarga seperti sebelumnya. Terlihat
bekas operasi Nina terdapat sekitar 10 jahitan di perut Nina. Keluarga hanya bisa
pasrah dan meminta 8 pertanggungjawaban dari pihak rumah sakit. Ayah Nina
yang bekerja di rumah sakit tersebut akan mengadukan kasus ini ke Menteri
Kesehatan dan siap kehilangan pekerjaannya. Akhirnya, pengadilan memutuskan
pihak rumah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo membayar ganti rugi sebesar
satu milyar rupiah.
Pada Permenkes No 585/Men.Kes/Per/IX/1989 pasal 11 disebutkan bahwa
yang mendapat pengecualian hanya pada pasien pingsan atau tidak sadar. Tetapi
beberapa pakar mengkritisi bagaimana jika pasien tersebut sadar namun dalam
keadaan gawat darurat. Pada Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 4
ayat (1) dijelaskan dengan lugas dan tegas bahwa “Dalam keadaan darurat, untuk
menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan
persetujuan tindakan kedokteran”. Selain ketentuan yang telah diatur pada UU
No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan
No.209/Menkes/Per/III/2008, apabila pasien dalam keadaan gawat darurat
sehingga dokter tidak mungkin mengajukan informed consent, maka berdasarkan
KUH Perdata pasal 1354 tindakan medis tanpa izin pasien diperbolehkan.
Tindakan ini dinamakan zaakwaarnerming atau perwalian sukarela yaitu
“Apabila seseorang secara sukarela tanpa disuruh setelah mengurusi urusan orang
lain, baik dengan atau tanpa sepengetahuan orang itu, maka secara diam-diam
telah mengikatkan dirinya untuk meneruskan mengurusi urusan itu sehingga
orang tersebut sudah mampu mengurusinya sendiri”. Dalam keadaan yang
demikian perikatan yang timbul tidak berdasarkan suatu persetujuan pasien, tetapi
berdasarkan suatu perbuatan menurut hukum yaitu dokter berkewajiban untuk
mengurus kepentingan pasien dengan sebaik-baiknya. Maka dokter berkewajiban
13

memberikan informasi mengenai tindakan medis yang telah dilakukannya dan


mengenai segala kemungkinan yang timbul dari tindakan itu.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dalam UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 53 dengan jelas
dikatakan bahwa hak pasien adalah hak atas informasi dan hak memberikan
persetujuan tindakan medik atas dasar informasi (informed consent).
2. Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang
efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa
yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Informed
consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua
pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang
ditawarkan pihak lain.
3. Definisi operasionalnya adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang
berhak (yaitu pasien, keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau
persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang
yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya.

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mampu memahami tentang bagaimana pemberian informed
consent pada pasien agar dapat meningkatkan kesehatan di masyarakat.
2. Bagi Institusi
Diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang pemberian
informed consent pada pasien dan dapat lebih banyak menyediakan referensi-
referensi buku tentang etika dan hukum kesehatan.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan lebih mengerti dan memahami tentang pemberian informed
consent pada pasien untuk meningkatkan mutu kesehatan masyarakat.

14
15

DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Dokter Indonesia, 2004. Kode Etik Kedokteran dan Pedoman Pelaksanaan
Kode Etik Kedokteran Indonesia. MKEK : Jakarta.
J. Guwandi., 2004. Informed Consent. FKUI. Jakarta.

Menkes RI, 1989, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/MEN.KES/PER/IX/1989


tentang Persetujuan Tindakan Medik, Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.
Menkes RI, 2008, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 290/MEN.KES/PER/III/2008
tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran, Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.

M.jusuf H, Amri Amir, 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. EGC.
Jakarta.
Presiden RI, 2004, UU RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Jakarta:
Presiden Republik Indonesia.
Peraturan Pemerintah RI, 2009, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun
2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Jakarta: Presiden Republik Indonesia.