Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK

TEKNIK REPRODUKSI BUATAN

Mata Kuliah:

Etika Profesi

Disusun oleh :

1. Dwi Ery Ardiani 16.0578


2. Sintya Arianti 16.0582
3. Kris Agustin 16.0585
4. Yuli Efitasari 16.0592
5. Lika Aprilia 16.0600
6. Irena Kartika 16.0602
7. Sendy Fitriani 16.0604
8. Nurhafni Audi L 16.0632

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA FARMASI

POLITEKNIK KATOLIK MANGUNWIJAYA

SEMARANG

2019
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1

A. Latar Belakang................................................................................. 1

B. Perumusan Masalah......................................................................... 2

C. Tujuan.............................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 3

A. Biomedis ......................................................................................... 3

B. Teknik Reproduksi Buatan .............................................................. 3

C. Hukum Teknik Reproduksi Buatan.................................................. 5

BAB III PEMBAHASAN............................................................................ 7

A. Surrogate Mother (Ibu Pengganti)................................................... 7

B. Aspek Hukum Surrogate Mother (Ibu Pengganti)........................... 8

C. Aspek Hukum InVitro Fertilization (Bayi Tabung)......................... 10

BAB IV PENUTUP..................................................................................... 12

A. Kesimpulan ..................................................................................... 12

B. Saran ................................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 14

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap manusia berkeinginan untuk memperoleh anak (keturunan) sebagai


suatu naluri yang dibawanya sejak lahir. Tidak sedikit pasangan suami istri yang
telah lama menikah tetapi belum memiliki keturunan. Sedangkan mereka
menginginkan anak dari benihnya sendiri (anak kandung) padahal pasangan
tersebut tidak dapat memperoleh keturunan secara alamiah. Hal ini disebabkan
karena pasangan suami istri tersebut mengalami infertilitas (ketidaksuburan).
Infertilitas adalah suatu kondisi dimana pasangan suami-istri tidak mampu
memiliki anak dikarenakan kondisi sperma ataupun sel telur yang bermasalah.
Statistik menyebutkan, infertilitas disebabkan oleh kelainan pada suami atau pada
istri, atau juga pada keduanya. Pada wanita, 40-50% akibat penyakit saluran telur
dan anovulasi, sedangkan pada pria sebanyak 30-50% karena kelainan faktor
sprema. Selain itu ada banyak lagi masalah kesehatan yang menyebabkan
seseorang tidak bisa memiliki keturunan secara alami (Errol, et all 2007).

Seiring berkembangnya zaman ini, semuanya berkembang dengan pesat,


terutama dalam bidang teknologi yang merambah sampai pada bidang kedokteran.
Berbagai penemuan dari waktu ke waktu semakin menampakkan hasil yang
spektakuler (R.Soetojo Prawirohamidjojo, 1998). Misal adanya inseminasi buatan,
bayi tabung, bank ASI, peminjaman rahim, dan lain sebagainya. Sekarang ini
sudah muncul berbagai penemuan teknologi di bidang rekayasa genetika yang
dapat digunakan untuk mengatasi kendala-kendala dan menolong suami istri yang
tidak bisa menurunkan anak (Said Agil Husin Al Munawa, 2004).

Ibu pengganti (Surrogate mother) adalah seorang wanita yang mengadakan


perjanjian kehamilan (gestational agreement) dengan pasangan suami istri di mana
wanita tersebut bersedia untuk hamil dari benih pasangan tidak subur dengan
imbalan tertentu. Sejauh ini dikenal dua tipe sewa rahim yaitu Sewa rahim semata
(gestational surrogacy) dan Sewa rahim dengan keikutsertaan sel telur (genetic

1
2

surrogacy). Walaupun pada perempuan pemilik rahim itu adalah juga pemilik sel
telur, ia tetap harus menyerahkan anak yang dikandung dan dilahirkannya kepada
suami istri yang menyewanya. Sebab, secara hukum sudah ada perjanjian, bahwa
ia bukanlah ibu dari bayi itu.

B. Perumusan masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini antara lain:

1. Bagaimana latar belakang pelaksanaan teknik reproduksi buatan?


2. Apa pengertian teknik reproduksi buatan ?
3. Apa kelemahan dan keuntungan teknik reproduksi buatan?
4. Bagaimana permasalahan hukum teknik reproduksi buatan?

C. Manfaat

Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini antara lain

1. Memberikan informasi mengenai dampak dari pengaplikasiaan


teknologi reproduksi.
2. Memberikan informasi mengenai faktor apa saja yang dapat
mempengaruhi keberhasilan ataupun kegagalan dari penggunaan
teknologi reproduksi.
3. Memberikan informasi mengenai peraturan perundang-undangan yang
berlaku tentang teknologi reproduksi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Biomedis
Abel merumuskan definisi tentang bioetika yang diterjemahkan Bertens
sebagai berikut: Bioetika adalah studi interdisipliner tentang problem yang
ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik pada
skala mikro maupun pada skala makro, tentang dampaknya atas masyarakat luas
serta sistem masa kini dan masa mendatang. Bioetika bersifat pluralistik/terbuka
karena pada bioetika kebudayaan dikedepankan, agamawan didengar, suara-suara
yang berbeda direspon, dan dialog yang rasional dibuka. Bioetika (Biomedical
ethics) merupakan cabang dari etika normatif dan merupakan etika yang
berhubungan dengan praktek kedokteran dan atau penelitian dibidang biomedik.
(Mutiara, 2013)
Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang berarti
norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama,
ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang medis
seperti abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan
rekayasa genetik, membahas pula masalah kesehatan, faktor budaya yang
berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak pasien, moralitas
penyembuhan tradisional, lingkungan kerja, demografi, dan sebagainya. Bioetika
memberi perhatian yang besar terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan
hewan percobaan (Jatmiko, 2013).

B. Teknologi Reproduksi Buatan

Teknologi reproduksi buatan adalah metode penanganan terhadap sel gamet


(ovum, sperma) serta hasil konsepsi (embrio) sebagai upaya untuk mendapatkan
kehamilan di luar cara-cara alami, tidak termasuk kloning atau duplikasi manusia.
Teknik ini merupakan bagian dari pengobatan infertilitas. Infertilitas dikatakan
sebagai kelainan atau kondisi sakit dalam masalah reproduksi. Manusia pada
dasarnya mempunyai hak untuk bebas dari sakit. Apabila infertilitas merupakan

3
4

manifestasi dari sakit maka semua manusia mempunyai hak untuk bebas dari
kondisi infertil atau dengan kata lain berhak untuk bereproduksi. Teknologi
reproduksi buatan digunakan untuk mengatasi infertilitas ini, dimana apabila
reproduksi secara alami tidak memungkinkan dilakukan maka teknik reproduksi
buatan dapat diterapkan. (Semiawan, 2017).

Teknologi Reproduksi Buatan mencakup setiap fertilisasi yang melibatkan


manipulasi gamet (sperma, ovum) atau embrio diluar tubuh serta pemindahan
gamet atau embrio ke dalam tubuh manusia. Teknik bayi tabung (In Vitro
Fertilization) dan teknik ibu pengganti (Surrogate Mother) termasuk dalam
Teknologi Reproduksi Buatan ini. Kasus Surrogate Mother marak pada dekade
terakhir sejak ditemukannya metode pembuahan di luar cara alamiah yang dikenal
dengan In Vitro Fertilization, yang mana merupakan suatu metode terjadinya
pembuahan sel telur dan sel sperma di dalam tabung petri yang dilakukan oleh
tenaga medis kemudian setelah hasil pembuahan tersebut berubah menjadi embrio
di transplantasikan kedalam rahim.

Pada perkembangannya teknologi reproduksi buatan semakin berkembang


menjadi beberapa teknik sebagai berikut :

1. In Vitro Fertilization & Embryo  Transfer (IVF & ET)


Prosedur pembuahan ovum dan sperma di laboratorium yang kemudian
dilanjutkan dengan pemindahan embrio ke dalam uterus.
2. Gamete Intrafallopian Transfer (GIFT)
Prosedur memindahkan ovum yang telah diaspirasi dari ovarium bersama
dengan sejumlah sperma langsung ke dalam saluran tuba Fallopii.
3. Zygote Intrafallopian Transfer (ZIPT)
Prosedur pemindahan zygote sebagai hasil dari IVF ke dalam saluran tuba
Fallopii.
4. Cryopreservation
Teknik simpan beku ovum, sperma atau embrio, serta pencairannya kembali
untuk digunakan pada waktunya.
5. Intra Cytoplasmic Sperm Injection
5

Penyuntikan 1 sperma yang berasal dari eyakulat ke dalam ooplasma. Apabila


sperma tersebut berasal dari epididimis disebut MESA (microsurgucal
epidymal sperm aspiration) atau disebut TESE (testicular sperm extraction),
apabila sperma tersebut berasal dari testis.
6. Pre-Implantation Genetic Diagnosis
Upaya diagnosis dini penyakit genetik tertentu sebelum dilakukan transfer
embrio ke dalam uterus. Biasanya dilakukan biopsi pada polar body atau
blastomere untuk dianalisis dengan cara fluorescent in situ hybridization
(FISH), atau dengan teknik polymerase chain reaction (PCR). Dengan
demikian tranfer embrio hanya dilakukan pada embrio normal saja.
7. Sex Selection
Upaya dan prosedur pemilihan jenis kelamin tertentu dalam rangkaian
teknologi reproduksi buatan. Ada beberapa prosedur antara lain:
a. Pemisahan spermatozoa X dan Y sebelum prosedur inseminasi buatan atau
IVF
b. Pemilihan jenis kelamin pada saat Pre-implantation Genetic Diagnosis
(PGD)
c. Diagnosis Genetika Prenatal diikuti dengan ‘selective abortion’ pada jenis
kelamin tertentu.

C. Hukum Teknologi Reproduksi Buatan


Di Indonesia masalah teknologi reproduksi buatan diatur dalam Undang-
undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 127 yang berbunyi :
1. Upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan
suami istri yang sah dengan ketentuan :
a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan
ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal.
b. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu.
c. Pada pelayanan kesehatan tertentu.
6

2. Ketentuan mengenai persyaratan kehamilan di luar cara alamiah sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Lebih lanjut dalam Permenkes RI Nomor 73/Menkes/PER/II/1999 tentang
penyelenggaraan Teknologi Reproduksi Buatan disebutkan bahwa :
Pasal 4 :
Pelayanan teknologi reproduksi buatan hanya dapat diberikan kepada kepada
pasangan suami istri yang terikat perkawinan yang sah dan sebagai upaya
akhir untuk memperoleh keturunan serta berdasarkan pada suatu indikasi
medik.
Pasal 10 :
a. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri ini dapat dikenakan tindakan administrative.
b. Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
peringatan sampai dengan pencabutan izin penyelenggaraan pelayanan
teknologi reproduksi buatan.
BAB III

PEMBAHASAN

A. Surrogate Mother (Ibu Pengganti)


Surrogate Mother secara harfiah disamakan dengan istilah “ibu pengganti”
atau “ibu wali”. Maksudnya yaitu seorang wanita yang bersedia mengandung
janin hingga lahir yang benihnya (sperma dan ovum) berasal dari orang lain
(suami-istri). Kamudian setelah anak itu lahir deserahkan kepada pasangan suami
istri pemilik benih.
Dalam praktek yang dilakukan ada dua jenis sewa rahim tersebut yaitu :
1. Sewa rahim semata (Gestational surrogacy) Embrio yang lazimnya berasal
dari sperma suami dan sel telur istri yang dipertemukan melalui teknologi IVF,
ditanamkan dalam rahim perempuan yang disewa.
2. Sewa rahim dengan keikutsertaan sel telur (Genetic surrogacy) Sel telur yang
turut membentuk embrio adalah sel telur milik perempuan yang rahimnya
disewa itu, sedangkan sperma adalah sperma suami. Walaupun pada
perempuan pemilik rahim itu adalah juga pemilik sel telur, ia tetap harus
menyerahkan anak yang dikandung dan dilahirkannya kepada suami istri yang
menyewanya. Sebab, secara hukum, jika sudah ada perjanjian, ia bukanlah ibu
dari bayi itu. Pertemuan sperma dan sel telur pada tipe kedua dapat melalui
inseminasi buatan, dapat juga melalui persetubuhan antara suami dengan
perempuan pemilik sel telur yang rahimnya disewa itu (Selian M.A.H, 2017).
Proses dan pelaksanaan sewa rahim Proses pembuahan yang dilakukan di luar
rahim oleh sepasang suami istri yang sah yang kemudian nanti akan di tanamkan
di rahim wanita lain memerlukan ovum (sel telur) dan juga sperma. Ovum diambil
dari tuba fallopi (kandung telur) seorang ibu dan sperma diambil dari ejakulasi
seorang ayah. Sperma tersebut diperiksa terlebih dahulu apakah memenuhi
persyaratan atau tidak. Begitu juga dengan sel telur seorang ibu, dokter berusaha
menentukan dengan tepat saat ovulasi (bebasnya sel telur dari kandungan) dan
memeriksa apakah terdapat sel telur yang masak atau tidak. Bila pada ovulasi
terdapat selsel yang benar-benar masak, maka sel itu dihisap dengan sejenis jarum

7
8

suntik melalui sayatan pada perut, sel itu kemudian diletakkan didalam tabung
kimia dan di simpan di laboratorium yang diberi suhu menyamai panas badan
seorang wanita agar sel telur tersebut tetap dalam keadaan hidup (Selian M.A.H,
2017).

B. Aspek Hukum Surrogate Mother (Sewa Rahim)


Surrogate Mother jika ditinjau dari segi hukum yaitu Peraturan Hukum Di
Indonesia, Peraturan hukum di Indonesia pasal 16 UU No. 23 Tahun 1992
Tentang Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 72 / Menkes / Per / II /
1999 tentang Penyelenggaraan teknologi Reproduksi Buatan dan mengatur
tentang hukum pelaksanaan bayi tabung. Pada peraturan tersebut jelas tersurat
bahwa praktek surogate mother atau ibu pengganti dilarang di Indonesia . Bagi
yang melanggar peraturan tersebut ada sangsi pidana yang diatur dalam pasal 82
UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, namun apabila terdapat pasangan
suami istri indonesia yang melakukan praktek surogency di luar negri kemudian
anaknya dibawa ke Indonesia ini akan menimbulkan masalah karena bertentangan
dengan hukum Indonesia yaitu UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dimana
dalam undang-undang tersebut tidak mengatur mengenai status anak yang lahir
dari praktek surrogacy dan tidak mengatur juga jika terjadi konflik perebutan
anak. Peraturan perundang-undangan yang lebih baru yaitu dalam pasal 127 UU
No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) diatur bahwa upaya
kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri
yang sah dengan ketentuan hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri
yang bersangkutan ditanamkan dalam Rahim istri dari mana ovum berasal,
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk itu, pada fasilatas pelayanan kesehatan tertentu. Adapun metode atau upaya
kehamilan di luar cara alamiah selain yang diatur dalam Pasal 127 UU Kesehatan,
termasuk ibu pengganti atau sewa menyewa/penitipan rahim, secara hukum tidak
dapat dilakukan di Indonesia. Sebagai informasi tambahan, praktek transfer
embrio ke rahim titipan (bukan rahim istri yang memiliki ovum tersebut) telah
difatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 Mei 2006.
9

Surrogate mother jika ditinjau dari segi agama yang pertama dari agama
Islam dimana rujukan dalam menentukan suatu hukum perbutaan boleh dilakukan
atau dilarang adalah pertama merujuk pada Al-Qur’an, selanjutnya merujuk pada
Hadist. Apabila dalam Al-Qur’an dan hadist tidak diatur maka merujuk kepada
ijma pada Ulama. Praktik bayi tabung tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an namun
para Ulama di dunia melakukan ijma dengan menghasilkan beberapa fatwa
diantaranta seperti fatwa MUI pada tanggal 13 Juni 1979. Fatwa dari Dewan
Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (Febri, 2013) yaitu bayi tabung dengan
sperma dan ovum dari pasangan suami istri yang sah hukumnya boleh karena hal
tersebut termasuk usaha dalam kaidah agama, bayi tabung dari pasangan suami
istri titipan rahim isteri lain hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah,
sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan
masalah warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang
mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan
sebaliknya), bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah
meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah, sebab hal
ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan
penentuan nasab maupun dalam kaitannya dengan hal kewarisan. Bayi tabung
yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami isteri yang sah
hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar
lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd az-
zari’ah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.
Ditinjau dari segi agama Katolik dan Kristen memandang praktik surrogate
mother atau ibu pengganti untuk mendapatkan keturunan yaitu dilarang. Hal ini
seperti yang disabdakan Paus Paus Pius XII pada tahun 1949 dari gereja Katolik
Roma dimana beliau merupakan tokoh agama yang pertama yang menanggapi
secara serius masalah reproduksi buatan yang dilakukan pada manusia. Beliau
berkata, “the natural law and the divine law are such that the procreation of new
life may only be the fruit of marriage”, yang artinya hukum alamiah dari prokreasi
manusia (penghamilan) hanya boleh dilakuakan melalui perkawinan/
persetubuhan yang wajar. Dalam kejadian 38:10 menjelaskan bahwa pembuangan
10

sperma merupakan perbuatan yang dipandang jahat oleh Alah. Pernikahan yang
dikehendaki Allah adalah pernikahan satu partner, sehingga bila dalam
memperoleh keturunan melinatkan perempuan lain maka dianggap mengkhianati
kekudusan pernikahan. Allah menghendaki kekudusan dalam pernikahan karena
Ia dari kesatuan suami isteri yang Ia inginkan ialah keturunan ilahi, sehingga
kesetiaan menjadi faktor penentu yang sangat diperlukan dalam hubungan suami
isteri (Maleakhi 2: 15-16) (Nakita, 2015).

C. Aspek Hukum Bayi Tabung (InVitro Fertilization)


Teknologi bayi tabung dan inseminasi buatan merupakan hasil terapan sains
modern yang pada prinsipnya bersifat netral sebagai bentuk kemajuan ilmu
kedokteran dan biologi. Sehingga meskipun memiliki daya guna tinggi teknologi
ini juga rentan terhadap penyalahgunaan dan kesalahan etika. Teknologi bayi
tabung merupakan upaya kehamilan di luar cara alamiah. Dalam hukum
Indonesia, upaya kehamilan di luar cara alamiah diatur dalam pasal 127 UU No.
36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam pasal ini dinyatakan bahwa upaya
kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri
yang sah dengan ketentuan:
a. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan
ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal
b. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
c. Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
Jadi, yang diperbolehkan oleh hukum Indonesia adalah metode pembuahan
sperma dan ovum dari suami istri yang sah yang ditanamkan dalam rahim istri
dari mana ovum berasal. Metode ini dikenal dengan metode bayi tabung. Adapun
metode atau upaya kehamilan di luar cara alamiah selain yang diatur dalam pasal
127 UU Kesehatan, termasuk ibu pengganti atau sewa menyewa/penitipan rahim,
secara hukum tidak dapat dilakukan di Indonesia.
Berdasarkan asas leg spesialis retrograde leg generale dalam ketentuan hukum
maka berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia teknologi bayi tabung yang
diperbolehkan adalah yang sesuai dengan ketentuan pasal 127 UU Kesehatan No.
11

36 tahun 2009, dimana sperma dan sel telur berasal dari pasangan suami istri dan
ditanamkan dalam rahim istrinya tersebut. Dengan demikian, walaupun terdapat
ketentuan lain yang mengatur mengenai hubungan perdata dalam proses
inseminasi buatan dan teknologi bayi tabung selain yang diatur UU Kesehatan No.
36 tahun 2009, ketentuan tersebut akan batal dengan sendirinya demi hukum
karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lain yang lebih
spesifik mengatur masalah tersebut, dalam hal ini UU Kesehatan No. 36 tahun
2009.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Teknologi reproduksi buatan adalah metode penanganan terhadap sel
gamet (ovum dan sperma) serta hasil konsepsi (embrio) sebagai upaya
untuk mendapatkan kehamilan diluar cara alami yang tidak termasuk
kloning atau duplikasi manusia, biasanya digunakan untuk mengatasi
infertilitas apabila reproduksi secara alami tidak memungkinkan
dilakukan maka teknik reproduksi buatan ini dapat diterapkan.
2. Suatu usaha manusia untuk mengembangbiakkan makluk hidup dengan
cara rekayasa tahapan-tahapan proses reproduksi yang berlangsung
secara alami.
3. Apa kelemahan dan keuntungan teknik reproduksi buatan?
Kekurangan :
a. Dapat dijadikan bisnis ilegal yang dilakukan pihak yang tidak
bertanggung jawab
b. Bertentangan dengan etika hukum, agama dan profesi

Kelebihan :

a. Dapat membantu mengatasi gangguan genetik pada pasangan suami


istri
b. Bisa menentukan jenis kelamin

4. Praktik Surrogacy dalam Peraturan Hukum indonesia dilarang hal ini


sesuai dengan pasal 16 UU No. 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan dan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 72 / Menkes / Per / II / 1999 tentang
Penyelenggaraan teknologi Reproduksi Buatan dan mengatur tentang
hukum pelaksanaan bayi tabung. Teknologi bayi tabung yang
diperbolehkan adalah yang sesuai dengan ketentuan pasal 127 UU
Kesehatan No. 36 tahun 2009, dimana sperma dan sel telur berasal dari
pasangan suami istri dan ditanamkan dalam rahim istrinya tersebut.

12
13

B. Saran
1. Pada perkembangan teknologi tidak dapat lagi untuk dipungkiri atau
dialihkan tetapi jenis Teknologi Reproduksi Buatan dalam mengatur etika
dan hukum belum dapat diikuti oleh masyarakat karena hanya
mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan kondisi maupun
perasaan dari orang lain.
2. Setidaknya jika suami istri sehat atau tanpa ada penyakit lain alangkah
baiknya melakukan pembuahan di rahimnya sendiri.
3. Agar semua praktisi yang terlibat dalam teknologi reproduksi buatan
memperhatikan aspek moralitas, etika, dan ketentuan hukum yang berlaku
sehingga segala tindakan yang dilakukan tetap berada dalam koridor yang
benar dan terhindar dari permasalahan hukum.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


Tentang Kesehatan. Menteri Kesehatan RI : Jakarta.
Errol R. Norwitz dan John O. Schorge. 2007. At a Glance Obstetri dan
Ginekologi, terj. Diba Artsiyanti. Penerbit Erlangga : Jakarta

Febry. 2013. Surrogate Mother. http://w-afif-mufida fk12. web.unairac.


id/artikel_detail-711401%20Etika%20KedokteranSurrogate%20Mother%20
(Ibu%20Titipan).html

Jatmiko, Wisnu. 2013. Teknik Biomedis Teori dan Aplikasi. Universitas


Indonesia : Depok.
Kuntaridan, Titik, Iip Wijayanto El-Bankuli, Prinsip Kesehatan dan Kedokteran
Islam, Sleman: Pustaka Nisa, 2011.

Mutiara D. B. I. Wakiran, Djemi Ch. Tomuka, Erwin G. Kristanto. 2013.


Pendekatan Bioetik Tentang Eutanasia. Universitas Sam Ratulangi
Manado : Manado
R.Soetojo Prawirohamidjojo. 1998. Pluralisme dalam Perundang - Undangan
Perkawinan di Indonesia. Airlangga University : Surabaya.Said Agil Husin
Al Munawar. 2004. Hukum Islam dan Pluralitas Sosial, (Jakarta:
Permadan).

Selian M.A.H. 2107. Surrogate Mother; Tinjauan Hukum Perdata Dan ISLAM.
Jurnal Yuridis Vol. 4 No. 2, Desember 2017: 131-147

Semiawan C, Setiawan T.I, 2017. Reproduksi dan Bioteknologi. Panorama


FilsafatIlmu : Jakarta.

14