Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KELOMPOK

ABORSI

Mata Kuliah :
Etika Profesi

Disusun oleh :
Tita Setya (16.0553)
Bunga Arya (16.0565)
Metty Sarah (16.0571)
Agastia Cicilia (16.0575)
Ayu Fidiyatno (16.0586)
Tiffany Pryllisya (16.0599)

POLITEKNIK KATOLIK MANGUNWIJAYA


PROGRAM STUDI D3 FARMASI
SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aborsi atau bahasa ilmiah adalah Abortus Provocatus, merupakan cara yang
paling sering digunakan dalam mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan,
meskipun merupakan cara yang paling berbahaya. Abortus Provocatus dibagi dalam
dua jenis, yaitu Abortus Provocatus Therapeuticus dan Abortus Provocatus
Criminalis. Abortus Provocatus Therapeuticus merupakan Abortus Provocatus yang
dilakukan atas dasar pertimbangan kedokteran dan dilakukan oleh tenaga yang
mendapat pendidikan khusus serta dapat bertindak secara profesional. Sementara
Abortus Provocatus Criminalis adalah Abortus Provocatus yang secara sembunyi-
sembunyi dan biasanya dilakukan oleh tenaga yang tidak terdidik secara khusus,
termasuk ibu hamil yang menginginkan perbuatan Abortus Provocatus tersebut
(Hawari, Dadang, 2006).
Masalah aborsi saat ini sudah tidak menjadi rahasia umum lagi untuk
dibicarakan, karena aborsi sudah menjadi hal yang aktual dan peristiwanya sudah
terjadi dimana-mana dan dilakukan oleh siapa saja. Misalnya remaja putra dan putri
yang berpacaran, kemudian melakukan hubungan layaknya suami isteri, hingga
akhirnya remaja putri tersebut hamil. Akibat dari perbuatannya tersebut, maka
timbullah perasaan malu apabila kehamilannya diketahui semua orang, terlebih
remaja tersebut belum menikah. Aborsi menjadi jalan keluar yang dipilih oleh
remaja tersebut. Aborsi dapat juga dilakukan oleh seorang isteri yang sudah menikah
yang tidak mau dibebani tanggung jawab dengan lahirnya seorang anak, maka
digugurkanlah anak dalam kandungannya tersebut (Ekotama, Suryono, 2001).
Masalah aborsi akibat kehamilan yang tidak diinginkan tersebut memiliki
korelasi dengan kasus aborsi, artinya aborsi itu dilakukan karena kondisi kehamilan
yang diproduk melalui kegiatan pergaulan bebas. Dengan terjadinya kehamilan yang
tidak diinginkan tersebut, maka para pelaku mencari jalan agar janin tersebut tidak
terlahir, jalan yang ditempuh tentunya adalah aborsi (Ekotama, Suryono, 2001).
Aborsi akan memberikan dampak yang sangat serius pada masyarakat yaitu
menimbulkan kesakitan dan kematian pada ibu. Sebagaimana diketahui penyebab
utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah pendarahan, dan infeksi. Aborsi
biasanya dilakukan oleh seorang wanita hamil, baik yang telah menikah maupun
yang belum menikah dengan berbagai alasan. Alasan yang paling utama aborsi
adalah alasan yang non-medis di antaranya tidak ingin memiliki anak karena
khawatir mengganggu karir, sekolah atau tanggung jawab lain, tidak memiliki cukup
uang untuk merawat anak, dan tidak ingin melahirkan anak tanpa ayah (Wijayati,
2015).
Perdebatan mengenai aborsi di Indonesia akhir-akhir ini semakin ramai
karena dipicu oleh berbagai peristiwa yang mengguncang sendi-sendi kehidupan
manusia. Kehidupan yang diberikan kepada setiap manusia merupakan Hak Asasi
Manusia yang hanya boleh dicabut oleh pemberi kehidupan tersebut. Berbicara
mengenai aborsi tentunya kita berbicara tentang kehidupan manusia karena aborsi
erat kaitannya dengan wanita dan janin yang ada dalam kandungan wanita
(Charisdiono.M. Achadiat, 2007)
Tindakan aborsi pada sejumlah kasus tertentu dapat dibenarkan apabila
merupakan aborsi yang disarankan secara medis oleh dokter yang menangani,
misalnya karena wanita yang hamil menderita suatu penyakit dan untuk
menyelamatkan nyawa wanita tersebut maka kandungannya harus digugurkan
berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 75
ayat (2) point a. Aborsi yang digeneralisasi menjadi suatu tindak pidana apabila
aborsi itu dilakukan secara sengaja dengan alasan yang tidak dibenarkan oleh
hukum. Aborsi itu sendiri dapat terjadi baik akibat perbuatan manusia (abortus
provokatus) maupun karena sebab-sebab alamiah, yakni terjadi dengan sendirinya,
dalam arti bukan karena perbuatan manusia (abortus spontanus) (Dep Kes RI, 2009).
Anak di sisi lain sebenarnya mempunyai hak untuk hidup dan hal tersebut
diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Pasal 1 ayat 2 yang menyatakan “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 1
ayat 12 yang menyatakan: “Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang
wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat,
pemerintah, dan negara” (Pemerintah Republik Indonesia, 2002).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian aborsi ?
2. Apakah penyebab terjadinya aborsi ?
3. Ada berapakah jenis aborsi ?
4. Bagaimanakah solusi dalam mengurangi terjadinya kejadian aborsi ?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari aborsi.
2. Mengetahui penyebab terjadinya aborsi.
3. Mengetahui jenis-jenis aborsi.
4. Mengetahui solusi dalam mengurangi terjadinya kejadian aborsi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Aborsi

Aborsi berasal dari bahasa latin yaitu abortus. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) aborsi adalah pengguguran kandungan. Dalam istilah kesehatan
aborsi adalah penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur (ovum) yang telah
dibuahi dalam rahim (uterus) sebelum usia janin (fetus) mencapai 20 minggu. Secara
umun, aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan yaitu dikeluarkannya janin
sebelum waktunya, baik itu sengaja ataupun tidak sengaja yang biasa dilakukan saat
janin berusia muda (sebelum bulan ke 4 masa kehamilan).

2. Macam-Macam Aborsi
Secara umum, aborsi ada dua macam, yaitu aborsi spontan (Abortus Spontaneus) dan
aborsi yang disengaja (Abortus Provacetus)
1. Aborsi spontan
Aborsi spontan atau alamiah (Abortus Spontaneous) berlangsung tanpa tindakan
apapun. Penyebabnya yaitu karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel
sperma.
Aborsi spontan dapat dikelompokkan lagi menjadi 5 kelompok, yaitu:
a. Abortus imminens 
Adanya gejala-gejala yang mengancam akan terjadinya aborsi. Dalam hal
ini kadang-kadang kehamilan masih dapat diselamatkan.
b. Abortus incipiens 
Adanya gejala akan terjadinya aborsi, namun buah kehamilan masih berada
di dalam rahim. Dalam hal ini kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.
c. Abortus incompletes 
Sebagian dari buah kehamilan sudah keluar dan sisanya masih berada
dalam rahim. Pendarahan yang terjadi biasanya cukup banyak namun tidak
berakibat fatal, untuk pengobatan perlu dilakukannya pengosongan rahim
secepatnya.
d. Abortus completes 
Pengeluaran keseluruhan buah kehamilan dari rahim. Keadaan ini biasanya
tidak memerlukan pengobatan.
e. Missed abortion 
Keadaan dimana hasil pembuahan yang telah mati tertahan dalam rahim
selama 8 minggu atau lebih.
2. Aborsi yang sengaja
Aborsi buatan atau disengaja (Abortus Provocatus Criminalis) adalah
pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari
oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau
dukun beranak)
Aborsi buatan dibagi menjadi 2:
a. Aborsi Teraupetik/Medis (Abortus Provocatus Therapeuticum)
Pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medis.
pengguguran kandungan yang dilakukan dengan tujuan menyelamatkan
nyawa ibu.
b. Abosrsi ilegal (Abortus Provacetus Crminalis)
Pengguguran kandungan yang tujuannya tidak untuk menyelamatkan atau
menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta
tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.
3. Metode Aborsi
a. Non medis : Mengunakan jasa dukun bayi dengan menggunakan obat-obatan
tradisional seperti jamu. Pemanfaatan obat-obatan tersebut dengan cara
ditelan atau diletakan ke dalam vagina.
b. Medis
1. Curttage dan Dilatage (C and D), dilakukan dalam pengguguran
kandungan triwulan pertama.
2. Alat, dengan alat khusus mulut rahim dilebarkan, kemudian janin di
kiret dengan alat seperti sendok kecil.
3. Aspirasi, yaitu penyedotan isi rahim dengan pompa kecil.
4. Hysterotomi (melalui operasi) untuk kehamilan tua
4. Dampak Aborsi
1. Timbul luka-luka dan infeksi-infeksi pada dinding alat kelamin dan merusak
organ-organ di dekatnya seperti kandung kencing atau usus.
2. Robek mulut rahim sebelah dalam (satu otot lingkar).
Hal ini dapat terjadi karena mulut rahim sebelah dalam bukan saja sempit dan
perasa sifatnya, tetapi juga jika tersentuh, maka ia menguncup kuat-kuat. Jika
dicoba untuk memasukinya dengan kekerasan maka otot tersebut akan
menjadi robek.
3. Dinding rahim bisa tembus, karena alat-alat yang dimasukkan ke dalam
rahim.
4. Terjadi pendarahan. Biasanya pendarahan itu berhenti sebentar, tetapi
beberapa hari kemudian/ beberapa minggu timbul kembali. Menstruasi tidak
normal lagi selama sisa produk kehamilan belum dikeluarkan dan bahkan sisa
itu dapat berubah
5. Hukum Aborsi
Berdasarkan Pasal 75 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Setiap
orang dilarang untuk melakukan aborsi. dikecualikan berdasarkan ayat (2):
a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik
yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik
berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga
menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi
korban perkosaan.

Tindakan tersebut hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau


penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang
dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.

Menurut UU No. 36 Tahun 2009 Pasal 76 Aborsi hanya dapat dilakukan:

a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama


haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang
memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh
Menteri.

Sanksi pidana bagi pelaku aborsi ilegal diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (“KUHP”). Ketentuannya antara lain sebagai berikut:

Pasal 299

1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh


supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena
pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima
ribu rupiah.
2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau
menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia
seorang tabib, bidan atau juru-obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan
pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau
menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.
Pasal 347
Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua
belas tahun.
Pasal 348
Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun enam bulan.
Pasal 349
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu
kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang
ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut
hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan
BAB III
PEMBAHASAN

1. Pengertian Aborsi dalam sudut etika


Dalam pemahaman sudut etika, aborsi mungkin dilakukan apabila :
a.     Demi keselamatan jiwa ibu.
b.      Kalau probabilitas (kemungkinan) bayi yang akan dilahirkan akan cacat.
c.      Keluarga-keluarga yang memang beban ekonominya sangat berat sekali dan
usia janin tersebut masih sangat muda sekali.
Dalam sudut pandang etis dan moral, kematian dipandang sebagai cara pandang
melawan kehidupan yang sudah merasuki pikiran dimana lebih baik mati sebelum
waktunya.
2. Sanksi dari tindak aborsi
a. Aborsi illegal: tanpa indikasi medis adalah illegal dan pelakunya akan di
penjara 10 tahun dan juga di denda 1 M
b.     Unsave abortion: walaupun tindak aborsi dilarang tapi tetap dilakukan,
sebagian dibantu tenaga medis tapi banyak dilakukan orang tanpa
pengetahuan
c.      Save abortion: aborsi tidak aman dilakukan dan disediakan rumah aman bagi
perempuan untuk konseling agar tidak moral
3. Faktor yang mempengaruhui timbulnya aborsi menurut Sarwono (2000)
adalah
a. Faktor ekonomi
Telah cukup anak dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi
karena kesulitan biaya hidup, namun tidak memasang kontrasepsi, atau dapat
juga karena kontrasepsi yang gagal. Atau ingin konsentrasi pada pekerjaan
untuk menunjang kehidupan dengan anaknya.
b. PHK (Putus Hubungan Kerja) misal : buruh
c. Belum bekerja (masih sekolah/kuliah)
d. Faktor sosial (khusus untuk kehamilan pra nikah) malu pada keluarga
e. Faktor penyakit ibu dimana dalam perjalanan kehamilan ternyata
berkembang menjadi pencetus, seperti penyakit pre-eklampsia atau eklampsia
yang mengancam nyawa ibu. Atau sang ibu terinfeksi HIV.

World Health Organization (WHO) memperkirakan ada 20 juta kejadian


aborsi tidak aman (unsafe abortion) di dunia, 9,5 % (19 dari 20 juta tindakan aborsi
tidak aman) diantaranya terjadi di negara berkembang. Sekitar 13 % dari total
perempuan yang melakukan aborsi tidak aman berakhir dengan kematian. Resiko
kematian akibat aborsi yang tidak aman di wilayah Asia diperkirakan 1 berbanding
3700 dibanding dengan aborsi. Diwilayah Asia Tenggara, WHO memperkirakan 4,2
juta aborsi dilakukan setiap tahun, dan sekitar 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di
Indonesia, dimana 2.500 di antaranya berakhir dengan kematian. Angka aborsi di
Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta pertahun. Sekitar 750.000 diantaranya
dilakukan oleh remaja.
4. Dampak Aborsi
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa
dampak buruk atau resiko yang akan dihadapi seorang wanita, yaitu dampak pada
kesehatan wanita dan dampak psikologis bagi wanita.
Dampak pada kesehatan :
1. Kerusakan leher rahim
Hal ini terjadi karena leher rahim robek akibat penggunaan alat aborsi.
2. Infeksi
Penggunaan peralatan medis yang tidak steril kemudian dimasukkan ke
dalam rahim bisa menyebabkan infeksi, selain itu infeksi juga disebabkan
jika masih ada bagian janin yang tersisa di dalam rahim.
3. Pendarahan hebat,
Ini adalah resiko yang sering dialami oleh wanita yang melakukan aborsi,
pendarahan terjadi karena leher rahim robek dan terbuka lebar. Tentunya hal
ini sangat membahayakan jika tidak ditangani dengan cepat.
4. Kematian
Kehabisan banyak darah akibat pendarahan dan infeksi bisa membuat sang
ibu meninggal.
5. Resiko Kanker
Karena leher rahim yang robek dan rusak bisa mengakibatkan resiko kanker
serviks, kanker payudara, indung telur dan hati.
Dampak Psikologis Bagi Wanita:
1. Perasaan bersalah dan berdosa.
2. Kehilangan harga diri.
3. Depresi.
4. Trauma.
5. Ingin bunuh diri
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengertian aborsi secara umum yaitu pengguguran kandungan yaitu
dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu sengaja ataupun tidak
sengaja yang biasa dilakukan saat janin berusia muda (sebelum bulan ke
4 masa kehamilan).
2. Aborsi secara umum dibagi menjadi dua, yaitu aborsi spontan (Abortus
Spontaneus) dan aborsi yang disengaja (Abortus Provacetus). Aborsi
spontan atau alamiah (Abortus Spontaneous) berlangsung tanpa tindakan
apapun. Penyebabnya yaitu karena kurang baiknya kualitas sel telur dan
sel sperma. Sedangkan aborsi buatan atau disengaja (Abortus Provocatus
Criminalis) adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram sebagai suatu akibat
tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana
aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).
3. Faktor yang mempengaruhui timbulnya aborsi adalah : faktor ekonomi,
PHK (Putus Hubungan Kerja), masih sekolah/kuliah, faktor sosial
(khusus untuk kehamilan pra nikah) malu pada keluarga, faktor penyakit
ibu (sang ibu terinfeksi HIV).

B. Saran
Aborsi merupakan tindakan pengguguran janin, tidak semua penyebab aborsi
dikarenakan hamil di luar nikah. Bagi perempuan yg belum menikah yang
kemudian hamil, disarankan untuk tidak melakukan aborsi karena dapat
menyebabkan kematian dari calon ibu, selain itu beban moral yang dirasakan
berhubungan dengan “dosa” karena telah membunuh janin atau nyawa
makhluk hidup secara sengaja. Sedangkan aborsi yang dilakukan secara
sengaja harus sesuai dengan kriteria pada UU No. 36 Tahun 2009 Pasal 76.
Dibutuhkan hukum yang tegas bagi tenaga kesehatan (dokter, bidan) dan
pelaku yang melakukan aborsi secara sengaja yang tidak sesuai dengan UU
yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA

Charisdiono.M. Achadiat, 2007, Dinamika Etika Dan Hukum Kedokteran, Buku


Kedokteran, Jakarta, hlm. 12.

Dadang Hawari. 2006. Aborsi Dimensi Psikoreligi. Balai Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. Halaman 60.

Departemen Kesehatan RI. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun


2009 Tentang Kesehatan. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI: 2009.

Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, Jakarta: Toko Gunung Agung, 1997, 78


Masruchah, M. Imam Asi, 1999, Agama dan Kesehatan Refroduksi, Jakarta, Pustaka
Sinar Harapan

Pemerintah Republik Indonesia. 2002. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang


Perlindungan Anak. Pasal 1. Jakarta.

Sarwono, Sarlito W. 2000, dan Meinarno, Eko A., Psikolog Sosial, Salemba
Humanika, Jakarta

Suryono Ekotama dkk, 2001, Abortus provocatus bagi korban perkosaan, Andi
Offset Yogyakarta, hlm 34-35.

Wijayati, Mufliha, 2015. Aborsi akibat Kehamilan yang Tidak Diinginkan. Jurnal
Studi Volume 15. UIN Sunan Gunung Djati Bandung