Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

KONSEP DASAR GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA


(POST-TRAU MATI C STRESS DI SORDER / PTSD) (INFEKSI
OTAK)

KELOMPOK II :

Sri Untari I1B110004 Citra Irawan I1B110040


Nur Annisa Fitri I1B110005 Fitri Ayatul Azlina I1B110201
Reza Surya P I1B110013 M. Reza Pahlevi I1B110204
M.Darkuni I1B110018 Karina Danisha I. K I1B110205
Istia Arisandy I1B110024 Syaiful Rakhman I1B110211
Devi Indah Permata Tity Riezka Rianthi I1B110214
I1B110029 Chairunnisa Astari Annisa Febriana I1B110216
I1B110030 Havita Nirmala .S.
I1B110032

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2012
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan stress pasca trauma adalah suatu gangguan kecemasan yang timbul
setelah mengalami atau menyaksikan suatu ancaman kehidupan atau peristiwa-
 peristiwa trauma, seperti perang militer, serangan dengan kekerasan atau suatu
kecelakaan yang serius. Peristiwa trauma ini menyebabkan seseorang memberikan
reaksi dalam keadaan ketakutan, tak berdaya dan mengerikan. Gejala-gejala umum
tersebut antara lain kenangan yang muncul kembali dalam ingatan dan berulang-
ulang, sangat mendalam dan mengganggu akibat peristiwa tersebut, berusaha
menghindari keadaan-keadaan yang mengingatkan seseorang pada peristiwa tersebut,
menjadi mati rasa secara emosional dan suka menyendiri, sulit tidur dan konsentrasi,
ketakutan atas keselamatan pribadi.
Resiko akan mengalami gangguan stres pasca trauma meningkat oleh karena
 banyak faktor, termasuk intensitas beratnya peristiwa yang dialami, sejauh mana
seseorang terlibat didalamnya, dan seberapa hebatnya seseorang bereaksi. Sementara
itu penyebab sebenarnya dari gangguan stres pasca trauma tidak diketahui. Seseorang
 beresiko tinggi menderita gangguan stres pasca trauma jika mempunyai riwayat
keluarga yang mengalami depresi. Kemungkinan lain adalah dilepaskannya hormon-
hormon tertentu oleh otak ( misalnya kortisol ) dan zat-zat kimia lainnya sebagai
respons terhadap rasa takut. Hormon-hormon dan zat-zat kimia ini juga akan
membangkitkan kenangan-kenangan tersebut. Orang-orang dengan
ketidakseimbangan zat kimia tertentu dalam otaknya mungkin resiko terjadinya
gangguan stres pasca trauma akan meningkat.
Semua manusia akan menghadapi stress dalam kehidupan, termasuk anak dan
remaja. Sumber stress yang ada disekitar kita setiap saat terjadi, dari menghadapi
lingkunganyang baru, kehilangan uang, kekerasan dalam rumah tangga, termasuk
 pada anak dan remaja. Ada juga anak yang melihat seseorang menembak, ini
membuat trauma tersendiri dan lain-lain. Terkadang stressor dalam kehidupan kita
sangat kuat dan syok secara emosional, termasuk kehilangan rumah, banjir dan
 bencana alam yang lain.
Kita menggunakan kata trauma dalam kehidupan kita yang berarti bahwa
orang yang mempunyai stress yang sangat tinggi. Seorang remaja yang tidak mampu
 bicara dengan orang tuanya karena trauma di bentak orang tuanya. Seorang anak
yang takut melihat air mengalir, setelah bencana banjir, seorang remaja yang takut
menikah karena trauma dengan laki-laki. Seorang ibu yang sangat stress karena ada
truma dalam hidupnya dan sangat berpengaruhi dalam kehidupan rumah tangganya.
Kemampuan menghadapi stress adalah kemampuan seseorang untuk beradapatasi
dengan kondisi yang sangat stress. Kondisi ini dapat menghancurkan hidup seseorang
atau membuat seseorang bertambah kuat, dalam menghadapi segala bentuk stress.
PTSD sangat penting untuk diketahui, selain karena banyaknya kejadian
“bencana” yang telah menimpa kita, PTSD juga dapat menyerang siapapun yang
telah mengalami kejadian traumatik dengan tidak memandang usia dan jenis kelamin.

B. Tujuan
Tujuan dari makalah ini :
1. Untuk mengetahui hubungan infeksi otak dengan PTSD dalam
 pembelajaran Keperawatan Jiwa II
2. Memberikan pengetahuan tentang PTSD dan Etiologinya.

C. Rumusan masalah
Rumusan masalah pada makalah kami ialah sebagai berikut :
1. Apa yang di maksud dengan Gangguan Stres Pasca Trauma (
Post- Traumatic Str ess Di sorder / PTSD)

2. Etiologgi Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress Disorder / PTSD)


3. Epidemiologi Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress Disorder /
PTSD)
4. Manifestasi Klinik Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress
Disorder / PTSD)
5. Faktor Resiko Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress Di sorder /
PTSD)
6. Teori Penyebab Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress Di sorder /
PTSD)
7. Hubungan Infeksi Otak dengan Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic
Stress Disorder / PTSD)

8. Tanda dan Gejala Stres Pasca trauma ( Post-Traumati c Stress Di


sorder

/ PTSD)
9. Diagnosis Stres Pasca trauma ( Post-T raumatic Stress Disorder / PTSD)
10. Diagnosis Banding Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress
Disorder / PTSD)

11. Prognosis Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress Disorder / PTSD)


12. Penatalaksanaan Stres Pasca trauma ( Post-T raumatic Stress Di sorder /
PTSD)
13. ASKEP Stres Pasca trauma ( Post-T raumatic Stress Disorder /
PTSD)
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi

Gangguan Stres Pasca trauma ( Post-Traumatic Stress Disorder / PTSD)


dimasukkan sebagai diagnostic dalam DSM-III, mencakup respons ekstrem terhadap
suatu stressor yang berat, termasuk meningkatnya kecemasan, penghindaran stimuli
yang diasosiasikan dengan trauma, dan tumpulnya respon emosional. Walaupun
selama bertahun-tahun telah diketahui bahwa stress perang dapat menimbulkan efek
negative yang sangat kuat pada para tentara, namun berakhirnya perang Vietnamlah
yang mendorong diterimanya diagnostic baru tersebut. Seperti halnya gangguan lain
dalam DSM, PTSD ditentukan oleh sekelompok gejala. Namun, tidak seperti definisi
gangguan psikologi lain, definisi PTSD mencakup bagian dari asumsi etiologinya
yaitu, suatu kejadian atau beberapa kejadian traumatis yang dialami atau disaksikan
secara langsung oleh seseorang berupa kematian atau ancaman kematian, atau cedera
serius, atau ancaman terhadap integritas fisik atau diri seseorang. Kejadian tersebut
harus menciptakan ketakutan ekstrem, horror, atau rasa tidak berdaya.
Trauma merupakan cidera, kerusakan jaringan, luka atau  shock.  Sementara
trauma psikis dalam psikologi diartikan sebagai kecemasan hebat dan mendadak
akibat peristiwa dilingkungan seseorang yang melampaui batas kemampuannya
untuk
 bertahan, mengatasi atau menghindar.  Post-Traumatic Stres Disorder / PTSD
merupakan sindrom kecemasan, Namun menjadi tidak wajar jika reaksi tersebut
 berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama dan cenderung mempunyai efek
yang negatif pada seseorang yang mengalaminya. Kecemasan normal merupakan hal
yang sehat, karena merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia
supaya dapat mempertahankan diri dan kecemasan juga dapat bersifat konstruktif.
Menurut teori psikoanalitik, Freud, menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal,
kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensive terhadap tekanan
dari dalam diri.
Prevalensi PTSD juga meningkat sejalan dengan parahnya kejadian traumatic.
Simtom-simtom disosiatif pada saat trauma juga meningkatkan kemungkinan
terjadinya PTSD, seperti juga upaya menghapus ingatan tentang trauma tersebut dari
 pikiran seseorang. Disosiasi dapat memiliki peran dalam menetapnya gangguan
karena mencegah pasien menghadapi ingatan tentang trauma tersebut.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kecenderungan untuk menganggap
kegagalan sebagai kesalahan diri sendiri dan menyesuaikan diri terhadap stress
dengan mengfokuskanpada emosi, bukan pada masala hanya.
 b. Teori-teori Psikologis
Para teoris belajar berasumsi bahwa PTSD terjadi karena pengkondisian
klasik terhadap rasa takut. Seorang wanita yang pernah diperkosa contohnya, dapat
merasa takut untuk berjalan di lingkungan tertentu (CS) karena diperkosa disana
(UCS). Berdasarkan rasa takut yang dikondisikan secara klasik tersebut, terjadi
 pengindraan, yang secara negative dikuatkan oleh berkurangnya rasa takut yang
dihasilkan oleh ketidakberadaan dalam CS. PTSD merupakan contoh utama dalam
teori dua factor mengenai avoidance learning yang diajukan bertahun-tahun lalu oleh
Mowrer. Suatu teori yang diajukan oleh Horowitz menyatakan bahwa ingatan tentang
kejadian traumatic muncul secara konstan dalam pikiran seseorang dan sangat
menyakitkan sehinga secara sadar mereka mensupresinya atau merepresinya. Orang
yang bersangkutan diyakini mengalami semacam perjuangan internal untuk
mengintegrasikan trauma ke dalam keyakinannya tentang dirinya dan dunia agar
dapat menerimanya secara masuk akal.
c. Teori-teori Biologis
Penelitian pada orang kembar dan keluarga menunjukkan kemungkinan
diathesis genetik dalam PTSD. Terlebih lagi, trauma dapat mengaktifkan system
noradrenergic, meningkatkan level norepinefrin sehingga membuat orang yang
 bersangkutan lebih mudah terkejut dan lebih cepat mengekspresikan emosi
disbanding kondisi normal. Konsisten dengan pandangan ini adalah penemuan bahwa
level norepinefrin lebih tinggi pada pasien penderita PTSD dibanding pada kelompok
kontrol. Selain itu, menstimulasi system noradrenergic me nyebabkan serangan panic
 pada 70% dan kilas balik pada 40 % penderita PTSD; tidak ada satu pun dari peserta
kelompok control mengalami hal itu. Terakhir, terdapat bukti mengenai
meningkatnya sensivitas reseptor-reseptor noradrenergic pada penderita PTSD.

PTSD dan kesatuan respons yang bersifat body and mind

Ketertarikan antara individu, tubuh, dan pikiran dalam merespon bahaya yang
datang dari lingkungan sangat erat. Rothchild, menyatakan ketika menghadapi
 bahaya, simtem limbic akan mengaktifkan system sarat simpatetik (SNS) dan
melepaskan hormon-hormon yang berfungsi menggerakkan tubuh untuk melawan
atau melarikan diri ( fight or flight)  . Proses ini ditandai dengan
meningkatkannya detak jantung, pernapasan untuk mendapatkan oksigen lebih
banyak, memindahkan darah dari kulit kearah otot agar dapat bergerak lebih cepat.
Apabila kejadian traumatis sudah terlalu atau usaha melarikan diri atau melawan
telah berhasil, maka cortisol yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal, akan menghambat
kerja respons alarm dan produksi epinephrine. Hal tersebut akan membantu
tercapainya kembali keseimbangan tubuh. Aktivitas system saraf otonom oleh system
limbic merupakan respon pertahanan diri yang normal. Namun pada individu yang
mengalami PTSD, system syaraf otomon tetap dalam kondisi siaga meskipun
peristiwa traumatis tetap
 berlalu dan individu telah terselamatkan. Aktivitas hippocampus dan amigalda
sebagai area yang berkaitan dengan penyimpanan memori memiliki peranan penting
dalam prosestersebut. Aktivitas hippocampus telambat selama individu mengalami
ancaman sehingga tidak dapat melakukan fungsinya dalam memproses dan
menyimpan memori tentang kejadian. Akibatnya individu memiliki persepsi bahwa
kejadian traumatis tetap berlangsung dan individu merasa upaya pertahanan dirinya
tidak berhasil. Mekanisne ini melatarbelakangi munculnya gejala kilas balik
( flashback).
Kondisi individu yang mengalami PTSD digambarkan oleh Robinson bahwa
 pengalaman hidup, terluka, dan distress somatic, akan berakibat pada penurunan
kesadaran pada tubuh, yang menjauhkan hubungan dengan selfnya, dengan orang
lain, dan dengan dunia tempat dia berada, karena perasaan dirinya bukan sebagai
 bagian dari dunia tersebut atau karena perasaan hilangnya sebagian pengalaman.
Perhatian menjadi menyempit, dan sering kali hal yang bersifat negative memenuhi
 pikiran dan tidak dapat dikendalikan. Pada umumnya kesadaran sensoris terhadap
diri sendiri seperti menghilang, sedangkan sensori terhadap dunia luar berfungsi jika
stimulus sangat kuat. Informasi yang baik dan bermaanfaat terhambat oleh adanya
 berbagai pikiran negative yang menganggu.

7. Teori –  Teori Penyebab PTSD


Psikodinamika
 Ego klien telah mengalami trauma berat >>>> sebagai ancaman terhadap
integritas fisik atau konsep diri >>>> ansietas berat yang tidak dapat
dikendalikan oleh ego >>>> dimanifestasikan dalam bentuk perilaku
simtomatik.
 ego menjadi rentan >> superego dapat menghukum >>>>menyebabkan
individu merasa bersalah terhadap kejadian traumatik tersebut >>>> Id dapat
menjadi domianan, menyebabkan perilaku impulsif tidak terkendali.
Biologi
 abnormalitas dalam penyimpanan, pelepasan, dan eliminasi katekolamin yang
mempengaruhi fungsi otak di daerah lokus seruleus, amigdala dan
hipokampus.
 Hipersensitivitas pada lokus seruleus dapat menyebabkan seseorang tidak
dapat belajar.
 Amigdala sebagai penyimpan memori. Hiperaktivitas dalam amigdala dapat
menghambat otak membuat hubungan perasaan dalam memorinya sehingga
menyebabkan memori disimpan dalam bentuk mimpi buruk, kilas balik, dan
gejala-gejala fisik lain.
 Hipokampus menimbulkan koheren naratif serta lokasi waktu dan ruang.
Dinamika keluarga
BAB III
KESIMPULAN

Simpulan
Gangguan stress pasca trauma adalah suatu gangguan kecemasan yang timbul
setelah mengalami atau menyaksikan suatu ancaman kehidupan atau peristiwa-
 peristiwa trauma, seperti perang militer, serangan dengan kekerasan atau suatu
kecelakaan yang serius. Peristiwa trauma ini menyebabkan seseorang memberikan
reaksi dalam keadaan ketakutan, tak berdaya dan mengerikan. Bila gejala-gejala
gangguan stres pasca trauma menjadi parah, gangguan tersebut menimbulkan
ketidakmampuan.
Stressor adalah penyebab utama terjadinya Gangguan Stress Pasca Trauma.
Stressor berupa kejadian yang traumatis misalnya akibat perkosaan, kecelakaan yang
 parah, kekerasan pada anak atau pasangan, bencana alam, perang, atau dipenjara.
Penatalaksaan gangguan stress pasca trauma dapat dilakukan dengan psikoterapi
dengan dilakukannya terapi individu maupun terapi kolompok. Dapat juga ditambah
dengan menggunakan farmakoterapi
DAFTAR PUSTAKA

1. Carole Wade dan Carol Tavris. Psikologi Edisi 9 Jilid 1. Jakarta : Erlangga
2. Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
3. Hibbert A,Godwin A & Dear F.2009. Rujukan Cepat Psikiatri Alih
Bahasa:Rini Cendika. Jakarta : EGC
4. Kaplan H,Sadock B & Grebb J. 2007. Sinopsis Psikiatri,Jilid 2.Tangerang:
Binarupa Aksara
5. Mansjoer, Arif, dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius
6. Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri edisi 6. Jakarta : EGC PPDGJ III