Anda di halaman 1dari 13

I.

SUBJEK PAJAK PENGHASILAN WP OP


Subjek pajak pribadi yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia,
orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu
12 bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia
dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia
 Wajib Pajak Orang Pribadi Sebagai Subjek Pajak Dalam Negeri

Wajib pajak orang pribadi yang menjadi subjek pajak dalam negeri menurut
Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Nomor 36 Tahun 2008 adalah:

 Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, atau


 Orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan, atau
 Orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. 

 Wajib Pajak Orang Pribadi Sebagai Subjek Pajak Luar Negeri

Wajib pajak orang pribadi yang menjadi subjek pajak luar negeri menurut
Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Nomor 36 Tahun 2008 adalah:

 Orang pribadi yang tidak tinggal di Indonesia, atau orang pribadi yang
tidak tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk
usaha tetap di Indonesia. 
 Orang pribadi yang tidak tinggal di Indonesia, atau orang pribadi yang
tidak tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia,
tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk
usaha tetap di Indonesia. 

1
II. BENTUK USAHA TETAP (BUT)

Bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat
tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183
(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan
badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

Batasan 183 hari dalam 12 bulan adalah apabila antara Indonesia dan negara
asal perusahaan tersebut tidak memiliki Tax Treaty atau P3B (Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda). Akan tetapi apabila antara Indonesia dengan
negara asal perusahaan tersebut terdapat Tax Treaty atau P3B, maka batasan
sebagai BUT sesuai perjanjian tersebut.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) dapat berupa : 

 tempat kedudukan manajemen.


 cabang perusahaan.
 kantor perwakilan
 gedung kantor
 pabrik.
 Bengkel.
 Gudang.
 ruang untuk promosi dan penjualan.
 pertambangan dan penggalian sumber alam.
 wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi.
 perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan.
 proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan.
 pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain,
sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu
12 (dua belas) bulan.
 orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas.
 agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi
atau menanggung risiko di Indonesia.
 komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa,
atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk
menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

2
Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal
atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.
Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar Indonesia
dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia apabila perusahaan
asuransi tersebut menerima pembayaran premi asuransi atau menanggung risiko
di Indonesia melalui pegawai, perwakilan atau agennya di Indonesia.
Menanggung risiko di Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang
mengakibatkan risiko tersebut terjadi di Indonesia. Yang perlu diperhatikan
adalah bahwa pihak tertanggung bertempat tinggal, berada, atau bertempat
kedudukan di Indonesia.

 Contoh BUT (Bentuk Usaha Tetap) antara lain :

 China Corporation adalah sebuah Perusahaan dari China yang


memenangkan tender pembangunan PLTU di Cilacap. Untuk
membangun PLTU tersebut China Corporation mendirikan BUT yang
akan beroperasi selama pembangunan PLTU tersebut, sehingga setelah
selesai maka BUT tersebut bubar dan dapat mengajukan penghapusan
NPWP. 

Kewajiban perpajakan BUT adalah seperti wajib pajak badan dalam negeri.
Perbedaaanya terjadi apabila laba setelah pajak dari suatu BUT dikirim keluar
negeri maka akan dikenakan PPh Pasal 26 berdasarkan Pasal 26 Undang-
Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan atau apabila antara
Indonesia dengan China ada Tax Treaty atau P3B, maka pengenaannya
berdasarkan tarif pajak penghasilan dalam Tax Treaty tersebut.

Sehingga apabila laba setelah pajak tersebut sebagian atau seluruhnya


ditanamkan kembali di Indonesia dalam bentuk pendirian Perusahaan berbentuk
PT (Perseroan Terbatas) dengan syarat tertentu, maka atas bagian laba yang
ditanamkan kembali di Indonesia tidak dikenakan PPh Pasal 26.

3
III. BUKAN SUBJEK PAJAK PENGHASILAN

1. Kantor perwakilan negara asing;


2. Pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara
asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan
bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat:
a. bukan warga Negara Indonesia; dan
b. di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan
atau pekerjaannya tersebut; serta
c. negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
3. Organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan dengan syarat :
a. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut;
b. tidak menjalankan usaha; atau
c. kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian
pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat :
a. bukan warga negara Indonesia; dan
b. tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia.

4
IV. OBJEK PAJAK PENGHASILAN
Objek PPh Orang Pribadi adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh oleh Orang Pribadi, baik yang berasal dari
Indonesia atau dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk
apapun. Dalam pasal 4 ayat (1) UU PPh ditegaskan contoh tambahan kemampuan
ekonomis, yang dapat dikelompokkan menjadi 4 macam yaitu :

A.                 Penghasilan dari pekerjaan


1.    Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam undang-
undang;
2.      Hadiah dari pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan.

B.                 Penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebas


1.      Laba usaha;
2.    Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari
Wajib Pajak yang menjalankan atau pekerjaan bebas.

C.                 Penghasilan dari modal (investasi)


1.      Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :
a.  Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya
sebagai pengganti saham atau penyertaan modal ;
b.  Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya karena
pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota ;
c. Keuntungan pengalihan harta dalam likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambilalihan usaha ; atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk
apa pun ;
d.    Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali
yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan
badan keaagamaan, badan pendidikan, badan sosial, termasuk yayasan, koperasi, atau
orang pribadi yang menjalankan usaha mikro kecil, koperasi, atau orang pribadi yang
menjalankan usaha mikro kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan ; dan
e.     Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak
penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan
pertambangan ;
2.      Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang
;

5
3.      Deviden, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari perusahaan
asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian laba dari sisa hasil usaha koperasi ;
4.      Royalti atau imbalan atas penggunaan hak
5.      Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.

D.    Penghasilan Lain-lain

1.      Hadiah dari undian.


2.      Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya ;
3.      Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala ;
4.      Keuntungan karena pembebasan utang kecuali sampai jumlah tertentu yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah ;
5.      Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
6.      Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.
7.      Penghasilan dari usaha berbasis syariah
8.      Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam UU yang mengatur mengenai KUP
9.      Surplus Bank Indonesia

Dari penegasan bahwa tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang
belum dikenakan pajak merupakan objek pajak kecuali ditetapkan sebaliknya.

Dalam pasal 4 ayat (2) ditentukan bahwa jenis-jenis penghasilan tertentu pajaknya ditetapkan
secara final sehingga semua jenis penghasilan di Indonesia dapat digolongkan menjadi 3
macam yaitu :

1.      Penghasilan yang merupakan Objek Pajak yang dipotong PPh Final (Pasal 4 ayat (2));
2.      Penghasilan yang merupakan Objek Pajak PPh tidak bersifat final (Pasal 4 ayat (1));
3.      Penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak (Pasal 4 ayat (3))

6
V. BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN

1. Bantuan atau sumbangan dan harta hibah.

2. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau
sebagai pengganti penyetaraan modal.

3. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan pajak dari wajib
pajak atau pemerintah, kecuali yang berikan oleh yang bukan wajib pajak, wajib pajak
yang dikenakan pajak secara final atau wajib pajak yang menggunakan norma
penghitungan khusus (deemed profit).

4. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan


asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, asuransi
beasiswa.

5. Dividen atau bagian laba yang diperoleh/diterima oleh perseroan terbatas sebagai
wajib pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik
daerah, dari penyertaan modal dari usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di
Indonesia dengan syarat sebagai berikut:

o Dividen bagian dari cadangan laba yang ditahan.

o Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah yang mendapat dividen, kepemilikan saham pada badan yang
memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor.

6. Iuran yang diterima atau diperoleh dari dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang bayar oleh pemberi kerja atau pegawai.

7. Penghasilan yang ditanamkan oleh dana pensiun, pada bidang-bidang tertentu yang
telah ditetapkan oleh menteri keuangan.

8. Bagian laba yang diterima dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi
atas saham-saham, perkumpulan, persekutuan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang
unit penyetaraan kontrak investasi kolektif.

9. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian
laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan
di lndonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut merupakan perusahaan

7
mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan sektor-sektor usaha yang diatur
berdasarkan Permenkeu dan sahamnya tidak diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

10. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu dan ketentuannya berdasar pada
Peraturan Menteri Keuangan.

11. Sisa lebih yang diterima oleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang
pendidikan dan/atau bidang penelitian, atau pengembangan yang telah terdaftar pada
instansi yang membidanginya, yang ditanamkan lagi dalam bentuk sarana dan
prasarana kegiatan pendidikan, pengembangan dan penelitian, dalam jangka waktu
paling lama 4 tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan.

12. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

VI. MENGHITUNG PPH OP DENGAN MENGGUNAKAN


PEMBUKUAN

Pada prinsipnya setiap orang pribadi yang memenuhi kewajiban subjektif dan
objektifnya, wajib mendaftarkan diri sebagai wajib pajak (WP) berdasarkan sistem Self
Assessment Ketika orang pribadi mendaftarkan diri mendapatkan NPWP, selanjutnya oleh
KPP akan dicatat sebagai Wajib Pajak dan diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak.

 Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi

Secara umum kewajiban perpajakan bagi WP OP adalah menghitung Pajak Penghasilan


(PPh) selama setahun dan menyetorkan PPh kurang bayar (bila ada) dengan sarana Surat
Setoran Pajak (SSP) serta melaporkan pajaknya tersebut dengan sarana Surat Pemberitahuan
(SPT) Tahunan PPh Orang Pribadi.

Lalu bagaimana cara menghitung Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi tersebut?
Untuk menghitung besarnya PPh Terutang, WPOP harus terlebih dahulu mengetahui
besarnya penghasilan neto.
Untuk menghitung penghasilan neto dan pajak terutang WPOP yang menggunakan
pembukuan sebagai berikut:

    WPOP yang menyelenggarakan pembukuan harus menbuat catatan mengenai harta,


kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat
dihitung besarnya pajak terutang (proses akuntansi).
Penghasilan neto dari pembukuan ini diperoleh setelah dilakukan koreksi fiskal atas laba
akuntansi yang dihasilkan  dari pembukuan dengan memperhitungkan biaya-biaya yang dapat
dikurangkan (deductable) sesuai pasal 6 UU PPh maupun biaya-biaya yang tidak dapat
dikurangkan (non deductable) dari penghasilan bruto sesuai pasal 9 UU PPh.

8
Contoh kasus:

Nama WP  : Tn. David


Status              : K/2
NPWP             : 21.123.456.789-4.987.000
Alamat           : Solo, Jawa Tengah.

Data Laporan Rugi Laba Tahun 2018:

PENJUALAN
   1. Penjualan Bruto                                          Rp. 5.000.000.000,-
   2. Retur Penjualan                                          Rp.    400.000.000,-
   3. Potongan Penjual                                        Rp.    200.000.000,-
             Penjualan Neto                                      Rp. 4.400.000.000,-

HARGA POKOK PENJUALAN


    Persediaan Awal                                             Rp.    500.000.000,-
    Pembelian Neto                                              Rp. 2.750.000.000,-
    Persediaan Akhir                                            Rp.    350.000.000,-
           Harga Pokok Penjualan                           Rp. 2.900.000.000,-

           Laba Usaha                                              Rp. 1.500.000.000,-

BIAYA OPERASIONAL
     1. Gaji & Upah                                              Rp.    350.000.000,-
     2. ATK                                                          Rp.      15.000.000,-
     3. Transportasi:
          a. Wisata Karyawan                                 Rp.        7.500.000,-
          b. Perjalanan Dinas (bukti lengkap)        Rp.      30.000.000,-
     4. Pemeliharaan Kantor                                Rp.      45.000.000,-
     5. Listrik & Telepon                                     Rp.      25.000.000,-
     6. Penyusutan Aktiva                                   Rp.    300.000.000,-
     7. Sewa Kantor                                             Rp.      25.000.000,-
     8. Kerugian Penjualan Mobil (Pribadi)        Rp.      30.000.000,-
     9. Sumbangan untuk  karyawan menikah    Rp.        5.000.000,-
   10. Biaya Iklan:
         a. Promosi Usaha                                     Rp.      30.000.000,-
         b. Ucapan Selamat Lebaran                     Rp.        3.000.000,-
   11. Biaya Asuransi:
         a. Premi asuransi kebakaran toko/kantor Rp.      17.500.000,-
         b. Premi asuransi jiwa Tn. Bagas             Rp.      15.000.000,-
   12. Pendidikan  & pelatihan pegawai             Rp.      12.000.000,-
   13. Sumbangan:
         a. Korban longsor Pameungpeuk             Rp.       7.000.000,-

9
         b. GN OTA                                              Rp.      13.000.000,-
         c. Bobotoh Persib                                    Rp.        2.000.000,-
   14. Lain-lain:
         a. Hadiah kpd pegawai (pakaian)             Rp.        6.000.000,-
         b. Makan siang seluruh karyawan           Rp.       25.000.000,-
         c. Honor Cleaning Service                      Rp.       24.000.000,-
                    Jumlah Biaya Operasional           Rp.     987.000.000,-

            Penghasilan Sebelum Pajak (Komersil)         Rp.      513.000.000,-

Keterangan Tambahan:
Setelah dihitung kembali, penyusutan aktiva menurut fiskal seharusnya Rp. 275.000.000,-

Diminta:
Hitung Pajak kurang bayar Tn. Pratama untuk tahun 2018

Penyelesaian:

Untuk menghitung pajak kurang bayar, harus dilakukan koreksi fiskal terhadap laporan
keuangan Tn. Bagas, Sebagai berikut:

Penghasilan Neto Sblm Pajak (Ph Neto Komersil)     Rp. 513.000.000,-

Koreksi Fiskal Positif :


1. Wisata Karyawan                                                           Rp.    7.500.000,-
2. Kerugian Penjualan Mobil (Mobil Pribadi)                   Rp.  30.000.000,-
3. Sumbangan untuk  karyawan menikah                         Rp.     5.000.000,-
4. Ucapan Selamat Lebaran                                               Rp.     3.000.000,-
5. Premi asuransi jiwa Tn. Bagas                                       Rp.   15.000.000,-
6. Korban longsor Pameungpeuk                                       Rp.     7.000.000,-
7. Bobotoh Persib                                                               Rp.     2.000.000,-
8. Hadiah akhir tahun kepada pegawai berupa pakaian Rp.     6.000.000,-
                Jumlah Koreksi Fiskal Positif                             Rp.  75.500.000,-  

Koreksi Fiskal Negatif:


Penyesuain penyusutan Aktiva (300jt - 275jt)                    Rp.  25.000.000,-

Penghasilan Neto Sebelum Pajak (Ph Neto Fiskal)       Rp. 462.500.000,-

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP):


WP Sendiri                                            Rp. 24.300.000,-
Tambahan Kawin                                  Rp.   2.025.000,-
Tambahan Tunjangan 2 orang               Rp.   4.050.000,-
          Jumlah PTKP                                                             Rp.  30.375.000,-

10
          Penghasilan Kena Pajak                                         Rp.432.125.000,-

Tarif PPh Pasal 17:


5%   x  Rp.   50.000.000,-    = Rp.   2.500.000,-
15% x  Rp. 200.000.000,-    = Rp. 30.000.000,-
25% x  Rp. 182.125.000,-    = Rp. 45.531.250,-

   Pajak Kurang Bayar (Terutang) = Rp. 78.031.250,-

VII. MENGHITUNG PPH OP DENGAN MENGGUNAKAN NORMA

Untuk memberikan kemudahan bagi WPOP yang belum dapat menyelenggarakan


pembukuan dalam menghitung penghasilan neto nya, maka WPOP dapat
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (selanjutnya disebut dengan
norma) sepanjang memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pasal 14 ayat (3) UU
PPh yaitu:

 Pertama, WPOP yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas


 Kedua, Memiliki peredaran bruto dalam 1 tahun kurang dari Rp.
4.800.000.000,00 (Empat Miliar Delapan Ratus Juta Rupiah), dan
 Ketiga, Menyampaikan pemberitahuan ke DJP dalam jangka waktu 3
bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.

WPOP yang menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan norma


wajib menyelenggarakan pencatatan yaitu jumlah peredaran atau penerimaan bruto
dan atau jumlah penghasilan bruto, serta penghasilan yang bukan objek pajak PPh
atau penghasilan yang dikenakan PPh Final.

Rumus menghitung penghasilan neto dengan norma sebagai berikut:

PENGHASILAN NETO = PENGHASILAN BRUTO X NORMA

Untuk mengetahui besarnya prosentase norma dan pengelompokan menurut wilayah


untuk WPOP yang mengajukan norma, teman-teman bisa lihat Keputusan Direktur

11
Jenderal Pajak Nomor: KEP-536/PJ/2000 tentang Norma Penghitungan Neto bagi
WPOP.

Contoh Kasus:

Tn. David Jordan seorang akuntan publik yang membuka kantornya di Solo, Status
menikah dan memiliki anak sebanyak 2 orang, Tn David memilih menggunakan
Norma dalam menghitung penghasilan netonya. Data penghasilan Tn. David untuk
tahun 2014 adalah sebesar Rp. 1.250.000.000,-
Diminta hitung PPh Terutang Tn. David?

Jawab.
Penghasilan bruto                                                  Rp. 1.250.000.000,-
Norma (82920)                                                                            36% 
Penghasilan Neto                                                  Rp.    450.000.000,-

PTKP:
WP Sendiri                               Rp. 24.300.000,-
Istri                                           Rp.   2.025.000,-
Tanggungan Anak (2 orang)    Rp.   4.050.000,-
     Jumlah PTKP                                                  Rp.      30.375.000,-

Penghasilan Kena Pajak                                      Rp.    419.625.000,-


 

Pajak Terutang sesuai tarif pasal 17


5%    x Rp.   50.000.000,-  = Rp.   2.500.000,-
15%  x Rp. 200.000.000,-  = Rp. 30.000.000,-
25%  x Rp. 169.625.000,-  = Rp. 42.406.250,-

PPh Terutang / Kurang Bayar Rp. 74.906.250,-

Jadi WPOP yang menggunakan norma untuk menghitung penghasilan neto nya, tidak
perlu dilakukan koreksi fiskal.

12
13