Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

ANALISIS KESALAHAN SISWA dalam MENYELESAIKAN SOAL


OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR DITINJAU dari KESULITAN
SOAL

Oleh :
PITRI HANDAYANI
H0217304

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Operasi Hitung Bentuk
Aljabar ditinjau dari Kesulitan Soal dengan tepat waktu.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah memenuhi tugas Problem
Pendidikan Matematika. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah
wawasan tentang Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Operasi
Hitung Bentuk Aljabar ditinjau dari Kesulitan Soal bagi para pembaca dan juga
penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Amran Yahya, S.Pd.,M.Pd selaku


Dosen Problem Pendidikan Matematika yang telah memberikan tugas ini
sehingga dapat memambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi
yang saya tekuni. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini.

Saya menyadari bahwa makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun akan saya
nantikan demi penyempurnaan makalah ini.

Topore Utara, 5 Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang .................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah............................................................................. 3
C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... 4

A. Kajian Teori ...................................................................................... 4


B. Kerangka Berpikir ............................................................................ 13

BAB III PENUTUP ........................................................................................ 16

A. Kesimpulan ....................................................................................... 16
B. Saran ................................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang paling sering
digunakan baik itu dalam lingkungan pendidikan maupun dilingkungan
masyarakat. Tujuan dari pembelajaran matematika disekolah adalah untuk
mempersiapkan peserta didik menggunakan matematika dan pola pikir
matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu
pengetahuan lainnya. Demikian matematika itu sangat penting diajarkan dalam
berbagai jenjang pendidikan, mulai dari jenjang paling dasar sampai jenjang
yang paling tinggi.
Namun seringkali matematika dianggap sebagai salah satu mata pelajaran
yang membosankan dan bahkan ada yang menganggap matematika adalah mata
pelajaran yang menakutkan. Mata pelajaran matematika selalu dikaitkan dengan
sosok guru yang galak,materi yang sulit dimengerti,hitungan yang rumit,dan
penggunaan simbol-simbol yang semakin membingungkan peserta didik. Hal
inilah yang menyebabkan mengapa matematika itu kurang diminati oleh
siswa,sehinggaprestasi belajar matematika siswa rendah.Salah satu cara untuk
menilai tercapai suatu tujuan pembelajaran Matematika adalah dapat dilihat dari
keberhasilan siswa dalam memahami Matematika dan memanfaatkannya untuk
pemecahan persoalan Matematika atau ilmu-ilmu yang lain. ( Jenly. R, dkk :
2017 )
Pokok Bahasan Operasi Hitung Bentuk Aljabar merupakan salah satu materi
dalam Matematika yang diajarkan di SMP kelas VII dan VIII. Materi ini
terbilang masih dasar dari materi aljabar secara keseluruhan,karena
penyampaiannya tepat setelah peserta didik dikenalkan pada pengertian
suku,suku sejenis,konstanta dan variabel (peubah) pada aljabar. materi operasi
hitung bentuk aljabar ini semestinya masih sangatlah mudah bagi siswa. Namun
masih saja ditemui siswa yang kesulitan dalam mempelajari materi ini. Banyak
kesalahan yang dilakukan siswa saat mengerjakan soal operasi-operasi hitung
bentuk aljabar. ( Sri Handayani : 2012)

1
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan salah satu
guru Matematika di SMPN 5 Tinambung, diperoleh informasi bahwa peserta
didik masih kesulitan dalam menentukan tanda negatif dan positif ketika
menyelesaikan soal-soal operasi hitung bentuk aljabar, serta siswa juga kurang
mampu menyelesaikan soal operasi hitung bentuk aljabar dengan tingkat
kesulitan soalyang beragam. Sehingga,menyebabkan siswa banyak melakukan
kesalahan-kesalahan dalam menyelesaikan soal tersebut.
Kesalahan-kesalahan yang biasanya dilakukan siswa yaitu beberapa siswa
melakukan kesalahan pada operasi hitung bentuk aljabar.Misalnya 1) kesalahan
pada variabel yaitu kesalahan saat mengombinasikan variabel yang tidak sesuai
konsep operasi aljabar dan kesalahan dalam mengelompokkan variabel. 2)
kesalahan pada tanda negatif dan positif yaitu kesalahan saat melakukan
pemindahan , menghapus , menambahkan tanda negatif dan positif. 3)
kesalahan pada persamaan yaitu , kesalahan siswa saat melakukan penulisan
simbol, dan memindahkan suku aljabar tanpa dengan mengubah tandanya. 4)
kesalahan pada operasi yaitu, kesalahan siswa saat mengerjakan soal tidak
sesuai konsep operasi bentukpenjumlahan,pengurangan,perkalian,dan
pembagian.(Irana Muzeiniyah Rahman, dkk : 2019)
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Natalia dalam Cahyani,dkk
(2018) yang menghasilkan faktor-faktor penyebab siswa melakukan kesalahan
diantaranya kurang teliti dalam melakukan operasi hitung, belum menguasai
materi, tidak mengerti maksud dari soal yang diberikan, kurang berlatih dalam
menyelesaikan soal -soal tentang operasi bentuk aljabar, dan suasana kelas yang
kurang kondusif.
Kesalahan sebenarnya merupakan hal yang wajar dilakukan,namun apabila
kesalahan yang dilakukan cukup banyak dan berkelanjutan, maka diperlukan
penanganan. Begitu juga dalam mempelajari matematika, merupakan suatu hal
yang wajar apabila dalam menyelesaikan soal matematika siswa melakukan
kesalahan. Namun apabila kesalahan-kesalahan yang muncul tidak segera
mendapat perhatian dan tindak lanjut, akan berdampak bagi siswa. Mengingat
dalam pelajaran matematika, materi yang telah diberikan akan saling terkait dan
saling menunjang bagi materi berikutnya ( A. Rasul : 2018)

2
Berdasarkan uraian dan gambaran umum di atas membuat peneliti tertarik
untuk melakukan proses penelitian tentang “ Analisis Kesalahan Siswa dalam
Menyelesaikan Soal Operasi Hitung Bentuk Aljabar Ditinjau dari tingkat
Kesulitan Soal “.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan, muncul masalah penelitian
sebagai berikut :
1. Banyak siswa yang menganggap bahwa matematika adalah mata pelajaran
yang menakutkan dan membosankan. Hal ini yang menyebabkan peserta
didik kurang termotivasi untuk mengerjakan saol dengan sungguh-sungguh.
2. Banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal operasi
hitung bentuk aljabar, karena kesulitan mengoperasikan tanda negatif dan
positif.
3. Banyak siswa yang melakukan kesalahan karena kurang mampu
menyelesaikan soal operasi hitung bentuk aljabar dengan tingkat kesulitan
soal yang beragam.
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang diutarakan diatas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah :
1. Mengetahui letak kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan
soal operasi hitung bentuk aljabar
2. Mengetahui kesalahan apa saja yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan
soal operasi hitung bentuk aljabar ditinjau dari tingkat kesulitan soal.
3. Mengetahui apa saja penyebab sehingga siswa melakukan kesalahan dalam
menyelesaikan soal operasi hitung bentuk aljabar ditinjau dari tingkat
kesulitan soal.

3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. KAJIAN TEORI
1. Pengertian Belajar
Menurut pengertian secara psikologis belajar merupakan suatu proses
perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dan interaksi dengan
lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan
tersebut akan nyata dalam aspek tingkah laku. Oemar Hamalik (2002:37)
menyatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku pada diri
sendiri berkat pengalaman dan latihan. Pengalaman dan latihan terjadi melalui
interaksi antar individu dan lingkungannya,baik lingkungan alamiah maupun
lingkungan sosial.
Menurut Hakim (2000:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut yang
ditampakkan dalam bentuk kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti
peningkatan kecakapan ,pengetahuan ,sikap, kebiasaan, pemahaman,
keterampilan, daya pikir, dan lain-lain. BellGredler dalam Winataputra
(2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan
manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies,skill,and attitudes.
Winkel dalam Inggridwati (2008:1.3) mendefinisikan belajar sebagai suatu
proses kegiatan mental pada diri seseorang yang berlangsung dalam interaksi
aktif individu dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan yang
relatif menetap/bertahan dalam kemampuan ranah kognitif,afektif,dan
psikomotorik.
Menurut Baharuddin,dkk dalam Shanti (2015) menyimpulkan beberapa ciri-
ciri belajar sebagai berikut:
1. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku ( change
behavior). Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari
tingkah laku,yaitu adanya perubahan tingkah laku,dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati

4
tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan dapat mengatahui ada tidaknya
hasil belajar.
2. Perubahan perilaku relative permanent. Ini berarti, bahwa perubahan
tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap
atau tidak berubah-ubah. Tetapi, perubahan tingkah laku tersebut tidak
akan terpancang seumur hidup.
3. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada proses
belajar sedang berlangsung,perubahan perilaku tersebut bersifat
potensial.
4. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan dan pengalaman
5. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang
memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk
mengubah tingkah laku.
Menurut Slameto (2010:54) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam individu,
sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Kedua
faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut :
Faktor-faktor dari dalam individu (faktor internal) meliputi :
a. Faktor Jasmaniah, yaitu faktor kesehatan dan cacat tubuh.
b. Faktor Psikologis, yaitu intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, dan kesiapan.
c. Faktor Kelelahan, yaitu kelelahan jasmani dan rohani.
Faktor-faktor dari luar individu (faktor eksternal) meliputi :
a. Faktor Keluarga, yaitu cara orang tua mendidik, relasi antaranggota
keluarga,suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang
tua, dan latar belakang kebudayaan.
b. Faktor Sekolah, yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan
siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran
di atas ukuran, keadaan gedung,, metode belajar, dan tugas rumah.
c. Faktor Masyarakat, yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, media
massa, teman bergaul, dan kehidupan masyarakat.

5
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada diri sendiri berkat
pengalaman dan latihan serta bentuk kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti
peningkatan kecakapan ,pengetahuan ,sikap, kebiasaan, pemahaman,
keterampilan, daya pikir, dan lain-lain.
2. Pengertian Matematika
Matematika adalah ilmu yang paling inti diantara ilmu-ilmu yang lainnya,
artinya ilmu matematika itu tidak tergantung kepada bidang ilmu lainnya.
Seperti dikatakan Fehr, bahwa “ Matematika adalah ratunya ilmu sekaligus
pelayan ilmu”. Sebagai ratu, Matematika merupakan bentuk tertinggi dari
logika. Sebagai pelayan, Matematika memberikan tidak hanya sistem
pengorganisasian ilmu yang bersifat logis tetpai juga pernyataan-pernyataan
dalam bentuk model matematik ( Jujun S. Suriasumantri : 1994 ).
Menurut Sujono ( 1988 : 5 ), mengemukakan beberapa pengertian
matematika. Diantaranya, matematika diartikan sebagai cabang ilmu
pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu,
matematika merupakan ilmu pengetahuan tentang penalaran logik dan masalah
yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika
sebagai ilmu bantu dalam menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan.
Menurut Purwoto dalam Bintoro (2015: 75), mengemukakan bahwa,
“Matematika adalah pengetahuan tentang pola keteraturan pengetahuan
struktur Russefendi dalam Bintoro (2015 : 75) , mengemukakan bahwa,
“Matematika adalah ratunya ilmu yang terorganisasikan mulai dari unsur-
unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma dan
postulat dan akhirnya ke dalil”. Sedangkan menurut Russefendi dalam Bintoro
(2015: 75), mengemukakan bahwa : “ Matematika adalah ratunya ilmu
(Mathematics is Queen of the Science) maksudnya antara lain ialah matematika
itu tidak bergantung kepada bidang studi lain; bahasa matematika agar dapat
dipahami orang dengan tepat digunakan simbol dan istilah yang cermat dan
disepakati bersama. Matematika adalah ilmu deduktif yang tidak menerima
generalisasi yang didasarkan kepada observasi (induktif) tetapi generalisasi
yang didasarkan pada pembuktian secara deduktif; Ilmu tentang pola

6
keteraturan; Ilmu tentang struktur yang teorganisasi mulai dari unsur yang
tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat dan
akhirnya ke dalil.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu
pengetahuan eksak,penalaran logis yang berhubungan dengan bilangan.
Matematika adalah ratunya ilmu dan tidak bergantung pada bidang studi lain
serta merupakan ilmu deduktif yang tidak menerima generalisasi yang
didasarkan kepada observasi tetapi generalisasi yang didasarkan pada
pembuktian secara deduktif.
3. Pembelajaran Matematika
Dari uraian sebelumnya telah di uraikan tentang belajar dan matematika.
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan tingkah laku dengan menggunakan pengalaman dan latihan serta
meningkatkan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan
kecakapan ,pengetahuan ,sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya
pikir, dan lain-lain.
Matematika merupakan bidang studi yang wajib dipelajari oleh semua siswa
dari SD sampai SMA dan bahkan sampai ke perguruan tinggi. Ada banyak
alasan tentang penting mempelajari Matematika. Menurut Cornelius dalam
Nisa ( 2019 : 146 ) bahwasanya terdapat lima alasan belajar matematika, karena
matematika merupakan : (1) Sarana berfikir yang jelas dan logis, (2) Sarana
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, (3) Sarana mengenal pola
kehidupan dan generalisasi pengalaman, (4) Sarana untuk mengembangkan
kreatifitas dan, (5) Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap
perkembangan budaya. Sedangkan menurut Cocroft dalam Handayani (2012)
menjelaskan bahwa matematika perlu diajarkan kepada siswa karena :
a. Selalu digunakan dalam segala segi kehidupan
b. Semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai.
c. Merupakan sarana komunikasi yang kuat,singkat, dan jelas.
d. Dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara.
e. Meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran
keruangan.

7
f. Memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang
menantang.
4. Masalah Kesalahan Belajar Matematika
Pada umumnya, masah merupan suatu kondisi tertentu yang ditandai
dengan adanya hambatan-hambatan dalam mencapai suatu tujuan, sehingga
memerlukan usaha yang keras untuk mengatasinya. Masalah belajar dapat
diartikan sebagai suati kondisi dalam belajar megajar yang ditandai dengan
adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Masalah
kesalahan belajar matematika berarti suatu kondisi dalam belajar mengajar
dimana terdapat hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar
matematika dengan baik.
Suryonto dalam Handayani (2012) mengemukakan pendapat bahwa
“Kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika merupakan salah satu
isyarat kegagalan peserta didik dalam belajar matematika”. Selanjutnya
McKillip dan Davis mengungkapkan bahwa kesalahan dalam menyelesaikan
soal-soal matematika dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kesalahan
dalam hal komputasi dan kesahan konseptual.
Banyak faktor yang menjadi penyebab kesalahan dalam menyelesaikan soal
matematika. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari obyek dasar matematika
yang belum sepenuhnya dikuasai oleh peserta didik R. Soedjadi dalam
Handayani (2012) mengungkapkan bahwa obyek dasar matematika tersebut
meliputi:
a. Fakta.
Fakta berupa konvensi-konvensi yang diungkapkan dengan simbol tertentu.
b. Konsep
Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan
atau mengklasifikasikan sekumpulan obyek. Konsep berhubungan erat
dengan definisi. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu konsep.
Berdasarkan definisi, orang dapat membuat ilustrasi, gambar, atau lambang
dari konsep yang didefinisikan.
c. Operasi

8
Operasi adalah pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan
matematika yang lain. Operasi sering disebut dengan “Skill”, bila yang
ditekankan adalah keterampilan pengerjaan matematika tersebut.
d. Prinsip
Prinsip adalah obyek matematika yang kompleks, dapat terdiri atas
beberapa fakta dan konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi maupun operasi.
Prinsip dapat dikatakan sebagai hubungan antara berbagai obyek dasar
matematika.
Mengenai masalah kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal
matematika, Kennedy seperti dikutip oleh Lovitt dalam Zulkarnain (2019:566)
menyarankan empat langkah pemecahan masalah matematika, yaitu:
a. Memahami masalah
b. Merencanakan pemecahan masalah
c. Melaksanakan pemecahan masalah
d. Memeriksa kembali
Mengacu adanya dua jenis kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan
soal, yaitu kesalahan dalm komputasi dan kesalahan konseptual. Pada penelitian
ini, ingin menggali bentuk-bentuk kesalahan peserta didik dalam
menyelesaikan soal. Selain itu, penelitian ini juga ingin menemukan faktor-
faktor penyebab terjadinya kesalahan peserta didik tersebut.
5. Tingkat Kesulitan Soal
Asmawi dan Noehi dalam Handayani (2012) menjelaskan bahwa tingkat
kesulitan butir soal adalah proporsi peserta tes menjawab benar terhadap butir
soal tersebut. Tingkat kesulitan soal berkisar antara 0,0 sampai 1,0. Bila butir
soal memiliki tingkat kesulitan 0,0 berarti tidak seorangpun peserta tes dapat
menjawab butir soal tersebut dengan benar. Tingkat kesulitan soal 1,0 berarti
bahwa semua peserta tes dapat menjawab butir soal tersebut dengan benar.
Pada penelitian ini, tes yang akan digunakan sebagai instrumen tes yang
berbentuk essay (uraian). Ardhi dalam blog karya ilmiahnya (2009),
mengungkapkan bahwa rumus untuk menghitung tingkat kesulitan soal uraian
ialah :

9
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑠 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟 𝑠𝑜𝑎𝑙 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢
𝑚𝑒𝑎𝑛 =
𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑠

𝑀𝑒𝑎𝑛
𝑇𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑠𝑢𝑙𝑖𝑡𝑎𝑛 𝑠𝑜𝑎𝑙 =
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛

Lebih lanjut Ardhi juga menyebutkan bahwa dilihat dari sudut proporsi peserta
didik yang dapat menjawab dengan benar, klasifikasi tingkat kesukaraan soal
adalah :
0,00-0,30 soal tergolong sukar
031-0,70 soal tergolong sedang, dan
0,71-1,00 soal tergolong mudah
Kegunaan tingkat kesukaran butir soal menurut Nitko (1996), yaitu :
a. Sebagai pengenalan konsep terhadap pembelajarn ulang dan memberi
masukan kepada peserta didik tentang hasil belajar mereka.
b. Memperoleh informasi tentang penekanan kurikulum atau mencurigai
terhadap butir soal yang bias.
6. Aljabar
Cholik dan Sugijono (2007:3) menjelaskan bahwa aljabar adalah salah satu
cabang penting dalam matematika. Kata aljabar berasal dari kata al-jabr yang
diambil dari buku karangan Muhammad ibn Musa Al-Khowarizmi (780-850
M) yaitu kitab al-jabr wa al-muqabalah yang membahas tentang cara
menyelesaikan persamaan-persamaan aljabar. Pemakaian nama aljabar ini
sebagai penghormatan kepada Al-Khowarizmi atas jasa-jasanya dalam
mengembangkan aljabar melalui karya-karya tulisnya. Al-Khowarizmi adalah
ahli matematika dan ahli astronomi yang termasyur yang tinggal di Baghdad
(Irak) pada permulaan abad ke-9.
Menurut superpedia dalam Handayani (2012), aljabar merupakan bagian
dari matematika yang berhubungan dengan teknik untuk memecahkan
persamaan dan pertidaksamaan. Beberapa teknik ini memerlukan pemahaman
perangkat angka dan operasi matematika yang digunakan pada bilangan
(menambahkan,mengurang, mengalikan atau membagi, akar kuadrat,
memangkatkan, dan menggunakan logaritma). Aljabar melakukan hal ini

10
dengan menggunakan huruf (a,b,c,....) atau simbol yang mewakili angka, baik
karena bilangannya tidak diketahui atau karena bilangan-bilangannya tersebut
berubah-ubah dalam proses pemecahan masalah. Huruf-huruf tersebut disebut
dengan variabel.
7. Operasi Hitung Bentuk Aljabar
a. Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar
Untuk menentukan hasil penjumlahan maupun hasil pengurangan pada
bentuk aljabar. Perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Sifat Komutatif
𝑎 + 𝑏 = 𝑏 + 𝑎. dengan 𝑎 dan 𝑏 bilangan rill
2. Sifat Asosiatif
(𝑎 − 𝑏) + 𝑐 = 𝑎 + (𝑏 − 𝑐), dengan 𝑎, 𝑏, 𝑐 bilangan rill
3. Sifat Distributif
𝑎(𝑏 + 𝑐) = 𝑎𝑏 + 𝑎𝑐, dengan 𝑎, 𝑏, 𝑐 bilangan rill
Contoh :
1. 9𝑎 + 3𝑎 − 4𝑎 = (9 + 3 − 4)𝑎 = 8𝑎
2. 7 − 5(2𝑥 + 3) = 7 − 10𝑥 + 15 = −10𝑥 − 5
b. Perkalian Bentuk Aljabar
1. 𝑥(𝑥 + 𝑎) = 𝑥 2 + 𝑎𝑥
2. 𝑥(𝑥 + 𝑎 + 𝑏) = 𝑥 2 + 𝑎𝑥 + 𝑏𝑥
3. (𝑥 + 𝑎)(𝑥 + 𝑏) = 𝑥 2 + 𝑏𝑥 + 𝑎𝑥 + 𝑎𝑏
4. (𝑥 + 𝑎)(𝑥 + 𝑦 − 𝑏) = 𝑥 2 + 𝑥𝑦 − 𝑏𝑥 + 𝑎𝑥 + 𝑎𝑦 − 𝑎𝑏
Contoh:
a) 4𝑎(5𝑎2 − 9𝑏) = 4𝑎(5𝑎2 ) − 4𝑎(9𝑏) = 20𝑎3 − 36𝑎𝑏
b) (𝑥 + 10)(𝑥 − 2) = 𝑥 2 − 2𝑥 + 10𝑥 − 20 = 𝑥 2 + 8𝑥 − 20
c. Pembagian Bentuk Akar
Jika dua bentuk aljabar memiliki faktor-faktor yang sama,maka hasil
pembagian kedua bentuk aljabar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk
yang sederhana dengan memperhatikan faktor-faktor yang sama.
Contoh :
10𝑥 5.2.𝑥
a) 10𝑥: 5 = = = 2𝑥
5 5

11
20𝑝𝑞 4.5.𝑝.𝑞
b) 20𝑝𝑞: 4𝑝 = = = 5𝑞
4𝑝 4.𝑝

9𝑥 2 +3𝑥 3(3𝑥 2 +𝑥) 3𝑥 2 +𝑥


c) (9𝑥 2 + 3𝑥): (3𝑦 2 − 3𝑦) = 3𝑦 2−3𝑦 = =
3(𝑦 2 −𝑦) 𝑦 2 −𝑦

d. Perpangkatan Bentuk Aljabar


Pemangkatan suatu bilangan diperoleh dari perkalian berulang untuk yang
sama. Bilangan berpangkat didefinisikan sebagai:
𝑎𝑛 = 𝑎. 𝑎. 𝑎 … . . 𝑎

𝑠𝑒𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑛 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟

Contoh :
a) 𝑎3 = 𝑎. 𝑎. 𝑎
b) 6𝑎3 = 6. 𝑎. 𝑎. 𝑎
c) (9𝑥 3 ) = 9𝑥. 9𝑥. 9𝑥
Sedangkan dalam menentukan pemangkatan suku dua, koefisien dari suku-
sukunya dapat diperoleh dari bilangan-bilangan yang terdapat pada segitiga
Pascal. Berikut ini adalah pola segitiga Pascal.

Hubungan antara segitiga Pascal dengan pemangkatan suku dua, yaitu


(𝑎 + 𝑏)2 dan (𝑎 − 𝑏)2 ditunjukkan seperti berikut.

12
Contoh :
a) (𝑎 + 𝑏)2 = 𝑎 + 𝑏
b) (𝑎 + 𝑏)2 = 𝑎2 + 2𝑎𝑏 + 𝑏 2
c) (𝑎 + 𝑏)3 = 𝑎3 + 3𝑎2 𝑏 + 3𝑎𝑏 2 + 𝑏 3
d) (𝑎 + 𝑏)4 = 𝑎4 + 4𝑎3 𝑏 + 6𝑎2 𝑏 2 + 4𝑎𝑏 3 + 𝑏 4

B. KERANGKA BERPIKIR
Matematika seringkali dianggap sebagai materi yang sangat sulit sehingga
kurang diminati oleh siswa. Salah satu materi yang dipelajari di tingkat SMP
adalah Operasi Hitung Aljabar. Dalam proses pembelajaran, kadang-kadang
peserta didik salah dalam memahami konsep matematika, sehingga salah
dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Hal inilah yang menyebabkan
siswa mendapatkan nilai dibawah batas ketuntasan, sehingga tujuan
pembelajaran tidak tercapai secara maksimal. Hal ini juga bisa berakibat
kesalahan dalam pengertian dasar yang berkesinambungan hingga tingkat
pendidikan yan lebih tinggi. Ini karena matematika adalah materi pembelajaran
yang saling berkaitan dan berkesinambungan. Dengan demikian, untuk
mempelajari salah satu topik di tingkat lanjutan harus memiliki pengetahuan
dasar atau pengetahuan prasyarat terlebih dahulu.
Guru harus tahu apakah konsep ia berikan telah tertanam denagn baik pada
diri siswa. Kesalahan peserta didik dalam menyelesaikan soal menunjukkan
letak kurangnyaa pemahaman suatu konsep siswa. Untuk itu, biasanya guru
mengonstruksi soal dengan beragam tingkat kesulitan. Soal yang memiliki
tingkat kesulitan lebih tinggi, menuntut pengaplikasian konsep yang lebih

13
kompleks. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kesulitan soal,
kemungkinan akan semakin banyak dan beragam pula kesalahan peserta didik
dalam menyelesaikan soal matematika. Hal tersebut juga menarik untuk
diteliti, mengenai kesalahan apa saja yang dilakukan peserta didik ketika
menyelesaikan soal matematika pada setiap tingkat kesulitan soal.
Aljabar merupakan bagian dari matematika yang harus dipelajari siswa
disekolah. Aljabar berhubungan dengan teknik untuk memecahkan persamaan
dan pertidaksamaan. Tekinik ini memerlukan pemahaman perangkat angka dan
operasi matematika yang digunakan., seperti menambahkan,
mengurangi,mengalikan atau membagi, akar kuadrat, dan memangkatkan.
Pada aljabar, digunakan huruf atau simbil untuk mewakili angka, baik karena
bilangan-bilangan tersebut berubah-ubah dalam proses pemecahan masalah.
Penggunaan simbol atau yang biasa disebut dengan variabelini sesungguhnya
dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik dalam mencari pemecahan soal
matematika. Namun, masaih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam
memahami materi aljabar, sehingga menyebabkan siswa melakukan kesalahan
saat memecahkan soal. Oleh karena itu, penting bagi guru maupun siswa untuk
mengetahui letak kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal dan
penyebabnya., untuk kemudian melakukan upaya memperbaikinya.
Peneliti memilih materi operasi hitung bentuk aljabar . materi tersebut
merupakan materi yang masih sangat dasar dari materi aljabar secara
keseluruhan. Namun, masih ada saja peserta didik yang kesulitan dalam
mempelajari materi ini. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang relevan
dengan penelitian ini, menyebutkan bahwa salah satu penyebab kesalahan
belajar siswa dalam menyelesaikan faktorisasi suku aljabar ialah karena
kesalahan siswa dalam melakukan operasi hitung bentuk aljabar. Oleh karena
itu, penulis tertarik untuk menganalisis kesalahan-kesalahan yang dilakukan
oleh siswa dalam menyelesaikan soal operasi hitung bentuk
aljabar,mengidentifikasi apa saja kesalahan yang dilakukan siswa dan mencari
tahu penyebab dari siswa melakukan kesalahan tersebut. Jika ditinjau dari
tingkat kesulitan soal yang dihadapi peserta didik. Upaya tersebut dilakukan
melalui pemberian tes diagnostik kepada siswa,sehingga kelemahan siswa

14
dalam menyelesaikan soal operasi hitung bentuk aljaar ini dapat diketahui.
Berdasarkan proses analisis data juga akan diperoleh penyebab dari kesalahan
siswa, sehingga bisa dicari jalan keluarnya agar siswa tidak lagi mengulangi
kesalahannya dalam menyelesaikan soal operasi hitung bentuk aljabar ini.

PROSES PEMBELAJARAN

GURU SISWA WAWANCARA

Analisis

OBSERVASI TES DIAGNOSTIK FAKTOR


Analisis Analisis PENYEBAB

JENIS KESALAHAN JENIS KESALAHAN

Skema Kerangka Berpikir

15
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari hasil dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan

bahwa penerapan model pembelajaran matematika realistic (RME) satu teknik

pembelajaran yang dapat digunakan dalam upaya menumbuhkan minat siswa

terhadap pelajaran matematika.

2. Saran

Dari pembahasan menunjukkan bahwa pembelajaran matematika realistic

(RME) dapat menumbuhkan minat belajar siswa, karena itu diharapkan agar

pembelajaran ini dapat dilanjutkan dengan penelitian yang lebih lengkap, serta

diterapkan dalam pembelajaran untuk mengetahui pengaruh pembelajaran terhadap

hasil belajar dan minat siswa.

16
DAFTAR PUSTAKA
Hakim,Thursan. 2000. Belajar Secara Efektif. Sindur Pres. Semarang.
Hamalik,Oemar. 2002. Psikologi Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo.
Bandung.
Jenly, R. L. (2017). Analisis Kesalahan dalam Menyelesaikan Soal Matematika
Pokok Bahasan Operasi Hitung Bentuk Aljabar Siswa Kelas VIII SMP Negeri
3 Dumoga.
Moleong, J. Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Rosdakarya
Muhibatun, N. (2019). Pengaruh Pengalaman Belajar Terhadap Sikap Positif Siswa
dalam Pembelajaran Matematika di SMP NU Dukuhjati Krangkeng-
Indramayu.
Henri,S,B. (2015). Pembelajaran Matematika Metode Jarimatika Pada Materi
Perkalian.
A.Rasul. (2018). Analisis Kesalahan dalam Menyelesaikan Masalah Operasi
Hitung Bentuk Aljabar Ditinjau dari Kemampuan Awal pada Siswa Kelas VII
SMP Negeri 1 Kilo.
Bogdan,Robert, dan Taylor. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, Terjemahan
oleh Arief Burchan, (Surabaya : Usaha Nasional,1992).
Bell-Gredler (1986). Pengertian Belajar dalam Winataputra S. Putra. Teori Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.
Kurnia,Inggridwati,dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Dirjen Pendidikan
Tinggi Depdiknas. Jakarta.
Fika Tiara, S (2015). Efektifitas Model Pembelajaran Tipe Teams Games
Tournament terhadap Hasil Belajar Tematik di Sekolah.
Slameto, 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :
Rineka Cipta.
Sujono, 1998. Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ihwan Zulkarnain, (2019). Pengaruh Kecerdasan Logis Matematis terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah.

iii
Adinawan, M Cholik, dan Sugijono, 2007. MATEMATIKA untuk SMP Kelas VII
Semester 1. Jakarta : Erlangga.
Irani, M, R. 2019. Analisis Kesalahan Siswa SMP Kelas VII dalam Menyelesaikan
Soal Operasi Bentuk Aljabar.
Cindy Aditya Cahyani, 2018. Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal
pada Materi Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar Bagi
Siswa Kelas VII SMP Kristen 2 Salatiga.
Sri Handayani, 2012. Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Operasi
Hitung Bentuk Aljabar Ditinjau dari Kemampuan Awal dan Tingkat
Kesulitan Soal yang dihadapi Siswa Kelas VIII Semester 1 SMP Negeri 4
Purworejo Tahun Ajaran 2010/2011. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif
dan R & D. Bandung : CV. Alfabeta

iv