Anda di halaman 1dari 27

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP

MATEMATIS SISWA MELALUI MODEL LEARNING CYCLE 7E


BERBANTUAN MIND MAPPING

MARIYANA
H0217312

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Melalui
Model Learning Cycle 7E Berbantuan Mind Mapping ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
Problem Pendidikan Matematika. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang Model Learning Cycle 7E berbantuan Mind
Mapping yang dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep
matematis siswa bagi para pembaca dan juga penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Amran Yahya, S.Pd., M.Pd


selaku Dosen Problem Pendidikan Matematika yang telah memberikan tugas
ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang
studi yang saya tekuni. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini.

Saya menyadari bahwa makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun akan saya
nantikan demi penyempyurnaan makalah ini.

Mamuju Tengah, 02 Mei


2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1

A. Latar Belakang.................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................. 4
C. Tujuan Penulisan............................................................................... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA.......................................................................... 5

A. Kajian Teori....................................................................................... 5
B. Faktor Penyebab Rendahnya Pemahaman Konsep Matematis......... 9
C. Solusi / Jalan Keluar.......................................................................... 9

BAB III PENUTUP......................................................................................... 20

A. Kesimpulan........................................................................................ 20
B. Saran.................................................................................................. 20

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan di sekolah tidak terlepas dari proses pembelajaran dan
interaksi antara siswa dan guru. Guru dituntut mampu menciptakan situasi
pembelajaran yang kondusif, yaitu pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif,
efektif, dan menyenangkan dalam proses kegiatan pembelajaran. Untuk
menciptakan suasana tersebut tentunya tidak mudah. Ada banyak faktor yang
akan menghambat penciptaan suasana pembelajaran tersebut. Faktor
penghambat bisa datang dari siswa yang cenderung pasif dan bahkan bisa
datang dari guru sendiri yang kurang inovatif, sehingga dalam kegiatan
pembelajaran cenderung monoton dan menjenuhkan. Kondisi belajar mengajar
yang tidak inovatif dapat mengakibatkan kemampuan pemahaman konsep
siswa yang tidak optimal terutama pada pelajaran matematika. Hal ini akan
membuat siswa merasa bosan dalam kegiatan pembelajaran (Ningroem,
2013:2).
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang digemari oleh sebagian
siswa juga memilki tujuan tertentu dalam pembelajarannya. Menurut
Wardhani dalam Triwibowo,dkk (2018:347) pembelajaran matematika di
sekolah memilki tujuan agar siswa mampu: (1) memahami konsep
matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam
pemecahan masalah, (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat,
melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun
bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model
matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh, (4)
mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah, (5) memiliki sikap menghargai
kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu,

1
perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah.
Menurut Susanto dalam Mawaddah dan Maryanti (2016:77) pemahaman
adalah suatu proses yang terdiri dari kemampuan untuk menerangkan dan
menginterpretasikan sesuatu, mampu memberikan gambaran, contoh, dan
penjelasan yang lebih luas dan memadai serta mampu memberikan uraian dan
penjelasan yang lebih kreatif, sedangkan konsep merupakan sesuatu yang
tergambar dalam pikiran, suatu pemikiran, gagasan, atau suatu pengertian.
Sehingga siswa dikatakan memiliki kemampuan pemahaman konsep
matematika jika dia dapat merumuskan strategi penyelesaian, menerapkan
perhitungan sederhana, menggunakan simbol untuk memperesentasikan
konsep, dan mengubah suatu bentuk ke bentuk lain seperti pecahan dalam
pembelajaran matematika.
Menurut Kilpatrick,dkk dalam Ali Mutohar (2016:8) pemahaman konsep
dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam: (1) menyatakan ulang secara
verbal konsep yang telah dipelajari, (2) mengklasifikasikan objek-objek
berdasarkan dipenuhi tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut,
(3) menerapkan konsep secara algoritma, (4) menyajikan konsep dalam
berbagai macam bentuk representasi matematika, (5) mengaitkan berbagai
konsep (internal dan eksternal matematika).
Akan tetapi pada kenyataannya, siswa cenderung malas dan tidak memiliki
keinginan untuk belajar matematika. Hal ini menjadi salah satu faktor
rendahnya pemahaman konsep di Indonesia. Berdasarkan hasil wawancara
dengan guru mata pelajaran matematika di SMP Negeri 5 Budong-Budong
terkait permasalahan pada pembelajaran matematika, diketahui bahwa ketika
diberikan contoh, siswa menyatakan bahwa ia mengerti. Tetapi setelah
diberikan latihan soal dalam bentuk lain (tidak sama dengan contoh yang
dijelaskan), mereka mengeluh dan tidak mampu menyelesaikannya. Hal ini
menunjukkan bahwa pemahaman konsepnya masih kurang.
Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, salah satunya adalah
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Selama ini guru di kelas VII SMP
Negeri 5 Budong-Budong mengajar dengan metode ceramah namun belum

2
mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa. Olehnya itu guru perlu
menerapkan pembelajaran yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Salah
satu pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep matematis
siswa yaitu dengan menerapkan pembelajaan learning cycle 7e berbantuan
mind mapping.
Menurut Huda dalam Sumiyati,dkk (2016:43) model learning cycle 7e
merupakan model pembelajaran berbasis kontruktivisme, yang kegiatan
pembelajarannya diorientasikan pada kegiatan siswa. Pendekatan
kontruktivisme merupakan pandangan pembelajaran yang membelajarkan
siswa untuk mengkontruksi atau membangun pengetahuannya sendiri melalui
skemata yang telah siswa miliki sebelumnya. Siswa belajar mengkontruksi
pengetahuan berdasarkan pengalaman eksplorasinya, yakni melalui kegiatan
percobaan, pengamatan, diskusi, dan tugas-tugas atau pemecahan masalah.
Adapun tahapan learning cycle 7e menurut Eisenkraf dan Yenilmez dalam Ina
Rosliana (2019:13), ketujuh tahapan tersebut adalah mendatangkan
pengetahuan awal peserta didik (tahap elicit), melibatkan (tahap engage),
menyelidiki (tahap explore), menjelaskan (tahap explain), menerapkan (tahap
elaborate), memperluas (tahap extend), dan evaluasi (tahap evaluate).
Sejalan dengan hal tersebut, menurut Rahmadani,dkk dalam Ina Rosliana
(2019:14) mind mapping merupakan metode pembelajaran yang dapat
memberikan kemudahan dalam berpikir, mengaitkan perkataan dan bacaan,
meningkatkan pemahaman terhadap materi, membantu mengorganisasi materi,
dan memberikan wawasan baru. Menurut Michael dalam Ina Rosliana
(2019:13) mind mapping dapat mengaktifkan seluruh otak, memungkinkan
kita berfokus pada pokok bahasan, membantu menunjukkan hubungan antara
bagian-bagian informasi yang terpisah, memberi gambaran yang jelas pada
keseluruhan, memungkinkan kita mengelompokkan konsep, membantu kita
membandingkannya, dan mensyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada
pokok bahasan. Oleh karena itu, metode mind mapping ini dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan belajar yang pada dasarnya adalah bersumber dari
tidak adanya penggunaan kedua belah otak secara sinergis.

3
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalahnya adalah:
“Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Melalui
Model Learning Cycle 7E Berbantuan Mind Mapping Siswa Kelas VII SMP
Negeri 5 Budong-Budong?”

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisannya adalah:
Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa
Melalui Model Learning Cycle 7E Berbantuan Mind Mapping Siswa Kelas
VII SMP Negeri 5 Budong-Budong

4
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Kemampuan Pemahaman Konsep
a. Pengertian Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep terdiri dua kata yaitu pemahaman dan
konsep. Menurut Carin dan Sund dalam Eka Fitri Puspa Sari
(2017:27) pemahaman merupakan kemampuan untuk menerangkan
dan menginterpretasikan sesuatu, yang berarti bahwa seseorang
telah memahami sesuatu atau telah memperoleh pemahaman akan
mampu menerangkan atau menjelaskan kembali apa yang telah ia
terima. Bloom dalam Budi Febriyanto,dkk (2018:33) mengartikan
pemahaman sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi
atau bahan yang dipelajari.
Skeel dalam Budi Febriyanto,dkk (2018:34)
mengemukakan bahwa konsep merupakan suatu abstraksi mental
yang mewakili satu kelas stimulus. maksudnya, konsep itu
merupakan suatu pengabstarakan dari sejumlah benda yang
memiliki karakteristik yang sama, untuk kemudian diklasifikasikan
atau dikelompokkan. Menurut Sagala dalam Eka Fitri Puspa Sari
(2017:27) konsep merupakan buah pemikiran seseorang atau
sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga
melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum, dan teori.
Menurut Gusniwati dalam Fitri Indrayati Ningsih (2018:1-
2) pemahaman konsep adalah suatu kemampuan menemukan ide
abstrak dalam matematika untuk mengklasifikasikan objek-objek
yang biasanya dinyatakan dalam suatu istilah kemudian dituangkan
kedalam contoh dan bukan contoh, sehingga seseorang dapat
memahami suatu konsep dengan jelas. Sedangkan menurut Hadi &
Kasum dalam Fitri Indrayati Ningsih (2018:2) pemahaman konsep
merupakan landasan penting untuk berpikir dalam menyelesaikan
masalah matematika maupun masalah sehari-hari. Dengan

5
pemahaman konsep matematika yang baik, siswa akan mudah
mengingat, menggunakan, dan menyusun kembali suatu konsep
yang telah dipelajari serta dapat menyelesaikan berbagai macam
masalah matematika.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat
disimpulkan bahwa pemahaman konsep ialah kemampuan
menguasai sesuatu dengan pikiran, mampu mengungkapkan suatu
materi yang disajikan ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami
serta mampu memberikan interpretasi dan mengaplikasikannya.
b. Indikator pemahaman konsep
Salah satu kecakapan dalam matematika yang penting
dimiliki oleh siswanya adalah pemahaman konsep (conceptual
understanding). Untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep
matematis diperlukan alat ukur (indikator), hal tersebut sangat
penting dan dapat dijadikan pedoman pengukuran yang tepat.
Indikator yang tepat dan sesuai adalah indikator dari berbagai
sumber yang jelas, diantaranya:
a. Indikator pemahaman konsep menurut Salimi dalam
Faharuddin,dkk (2018:15) meliputi:
1. Mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan
2. Membuat contoh dan non contoh penyangkal
3. Mempresentasikan suatu konsep dengan model, diagram,
dan simbol
4. Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lain
5. Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep
6. Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal
syarat-syarat yang menentukan suatu konsep
7. Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.
b. Menurut Hamzah B. Uno dalam Finanda Rizki Sahati (2015)
indikator yang menunjukkan pemahaman konsep antara lain:
1. Menyatakan ulang sebuah konsep

6
2. Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu
(sesuai dengan konsepnya)
3. Memberi contoh dan non-contoh dari konsep
4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi
matematis
5. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu
konsep
6. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau
operasi tertentu
7. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan
masalah.
c. Indikator pemahaman konsep menurut Permendikbud Nomor
58 dalam Ali Mutohar (2016:7) yaitu:
1. Menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari
2. Mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi
tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut
3. Mengidentifikasi sifat-sifat operasi atau konsep
4. Menerapkan konsep secara logis
5. Memberikan contoh atau contoh kontra
6. Menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk
representasi matematis (tabel, grafik, diagram, gambar,
sketsa, model matematika, atau cara lainnya)
7. Mengaitkan berbagai konsep dalam matematika maupun
diluar matematika
8. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu
konsep.
Berdasarkan pemaparan di atas, indikator yang peneliti
gunakan dalam penelitian ini adalah indikator pemahaman konsep
menurut Hamzah B. Uno dalam Finanda Rizki Sahati (2015).
Berikut dijabarkan mengenai setiap indikator pemahaman konsep
matematis yang digunakan dalam penelitian ini.
a. Menyatakan ulang sebuah konsep

7
Indikator pertama yang digunakan dalam penelitian ini
adalah siswa menyatakan ulang sebuah konsep dengan
bahasanya sendiri.
b. Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu
(sesuai dengan konsepnya)
Indikator kedua dalam penelitian ini adalah
mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu
(sesuai dengan konsepnya), dimana salah satu yang diukur
dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam
mengelompokkan suatu masalah berdasarkan sifat-sifat yang
dimiliki.
c. Memberi contoh dan non-contoh dari konsep
Memberi contoh dan non-contoh dari konsep adalah
indikator ketiga pemahaman konsep matematis, yang mana
kemampuan siswa diukur dalam membedakan mana yang
termasuk contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.
d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi
matematis
Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi
matematis adalah indikator keempat dalam penelitian ini, yang
mengukur kemampuan siswa dalam menyajikan suatu konsep
kedalam bentuk gambar atau simbol secara berurutan yang
bersifat matematis.
e. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep
Indikator kelima yang digunakan dalam penelitian ini
adalah mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu
konsep, yaitu indikator yang mengukur kemampuan siswa
dalam menyelesaikan soal sesuai dengan prosedur berdasarkan
syarat cukup yang telah diketahui.
f. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau
operasi tertentu

8
Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau
operasi tertentu adalah indikator keenam pemahaman konsep
matematis yang mengukur kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal dengan memilih dan memanfaatkan
prosedur yang ditetapkan.
g. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah
Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan
masalah adalah kemampuan siswa dalam mengaplikasikan
suatu konsep dalam pemecahan masalah berdasarkan langkah-
langkah yang benar, indikator pemahaman konsep ini adalah
indikator ketujuh dalam penelitian ini.

B. Faktor Penyebab Rendahnya Pemahaman Konsep Matematis


Penyebab rendahnya pemahaman konsep secara umum menurut
Lynch dan Waters dalam Riftakhul Ardi Bakhtiyar (2017) adalah:
1. Siswa sering belajar dengan cara mengahafal tanpa membentuk
pengertian terhadap materi yang dipelajari. Hal ini akan menyebabkan
rendahnya aktivitas siswa dalam belajar untuk menemukan sendiri
konsep materi sehingga akan lebih cepat lupa.
2. Materi pelajaran yang diajarkan memiliki konsep mengambang,
sehingga siswa tidak dapat menemukan kunci untuk mengerti materi
yang dipelajari.
3. Tenaga pengajar (guru) mungkin kurang berhasil dalam
menyampaikan kunci terhadap penguasaan konsep materi pelajaran
yang sedang diajarkan, sehingga siswa tidak tertarik dalam belajar dan
akan menimbulkan rendahnya penguasaan konsep materi.

C. Solusi / Jalan Keluar


1. Model Learning Cycle 7E
a. Pengertian Model Learning Cycle 7E
Menurut Rawa,dkk dalam Ina Rosliana (2019:13) model
learning cycle merupakan suatu model pembelajaran yang terdiri

9
dari beberapa siklus pembelajaran yang memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dan
pemahaman mereka. Menurut Fajaroh & Dasna dalam Partini,dkk
(2017) model learning cycle 7e adalah pembelajaran siklus yang
merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivis. Implementasi learning cycle dalam pembelajaran
menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengelola
kelangsungan fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama
perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian
pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan), dan
evaluasi.
Model learning cycle 7e menurut Huda dalam Sumiyati,dkk
(2016:43) merupakan model pembelajaran berbasis
kontruktivisme, yang kegiatan pembelajarannya diorientasikan
pada kegiatan siswa. Menurut Aris Shoimin dalam Revina
Oktavianda (2019:25-26) model Learning Cycle (pembelajaran
bersiklus) yaitu suatu model pembelajaran yang berpusat pada
siswa (student centered). Implementasi Learning Cycle dalam
pembelajaran sesuai dengan pandangan konstruktivisme, yaitu:
1) Siswa belajar secara aktif, mempelajari materi secara bermakna
dengan bekerja dan berfikir. Pengetahuan dikonstruksi dari
pengalaman siswa
2) Interpretasi individu menghasilkan informasi yang baru
sehingga dapat dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki
siswa
3) Investigasi dan penemuan dari pemecahan masalah dijadikan
sebagai orientasi pembelajaran.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa
model Learning Cycle adalah pembelajaran dimana guru hanya
sebagai fasilitator sedangkan pembelajaran berpusat pada siswa
sehingga siswa secara aktif menemukan konsep sendiri. Apabila
terjadi proses konstruksi pengetahuan dengan baik maka siswa

10
akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang
dipelajari.
b. Fase-fase Model Learning Cycle 7E
Fase-fase model Learning Cycle 7E menurut Eisenkraft
dalam Refina Oktavianda (2019:30-33) adalah sebagai berikut:
1) Elicit
Pada fase ini, guru melakukan pengungkapan terhadap
pengetahuam awal (prior knowledge) siswa dengan jalan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan
materi yang akan dipelajari. Sedangkan siswa menyampaikan
jawaban atas pertanyaan yang merupakan gagasan atau ide awal
siswa. Pada fase ini guru dapat mengetahui profil pengetahuan
awal serta miskonsepsi siswa yang tujuannya agar guru dapat
menentukan strategi yang dipandang paling efektif untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
2) Engagement
Pada fase ini, siswa dimotivasi guna membangkitkan minat
dan keingintahuan siswa tetang topik yang akan dibahas. Siswa
diajak untuk merumuskan prediksi-prediksi tentang fenomena
yang akan dibahas dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi.
3) Exploration
Pada fase ini, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama
dalam kelompok kecil (4-5 orang) untuk menguji prediksi-
prediksi yang telah dirumuskan pada fase engagement, dengan
jalan melakukan kegiatan pratikum atau studi lapangan maupun
melalui studi pustaka. Para siswa diberi kesempatan berinkuiri
dengan melibatkan seluruh panca indranya untuk berinteraksi
dengan lingkungan dan objek ketidakseimbangan
(disekuilibrasi) dalam struktur mental siswa yang ditandai
dengan munculnya berbagai pertanyaan yang mengarahkan
pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level
reasoning). Dari proses inkuiri pada fase ini, masing-masing

11
kelompok siswa diharapkan dapat merumuskan konsepsinya
sebagai hasil eksplorasi yang telah dilakukan.
4) Explanation
Pada fase ini, siswa mempresentasikan hasil eksplorasinya
dalam diskusi kelas. Para siswa diberi kesempatan untuk
menjelaskan hasil eksplorasinya kepada siswa lainnya. Guru
memberi motivasi dan mendorong siswa untuk menjelaskan
konsep dan prinsip-prinsip ilmiah dengan bahasa mereka
sendiri, serta meminta bukti dan klasifikasi dari penjelasan
mereka. Tugas utama guru pada fase ini adalah sebagai
fasilitator dan mediator pembelajaran. Para siswa diharapkan
telah menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
Pada fase ini diharapkan telah terjadi keseimbangan
(ekuilibrasi) antara konsep baru yang dipelajari dengan struktur
kognitif siswa.
5) Elaboration
Pada fase ini, siswa terlibat dalam diskusi dan akan timbul
hal-hal yang baru terkait dengan materi pelajaran yang menjadi
target pembelajaran. Pemahaman yang telah dibangun
selanjutnya dikembangkan dalam diskusi kelas. Jika masih ada
siswa yang mengalami miskonsepsi, guru memperbaiki
miskonsepsi yang dialami siswa menuju konsepsi ilmiah. Para
siswa diajak untuk menerapkan pemahaman konsepnya yang
baru melalui kegiatan pemecahan masalah terhadap masalah-
masalah yang nyata dalam kehidupan siswa. Penerapan konsep
pada fase ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
konsep matematika siswa terhadap konsep yang mereka
pelajari.
6) Evaluation
Pada fase ini, dilakukan evaluasi terhadap pengetahuan,
pemahaman konsep, atau penguasaan kompetensi melalui
kegiatan pemecahan masalah (problem solving) dalam konteks

12
yang baru atau situasi yang baru (new situation). Melalui fase
ini dapat diketahui seberapa dalam dan seberapa luas tingkat
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang telah
dipelajarinya.
7) Extended
Pada fase ini, siswa diberi kesempatan untuk
mengembangkan dan memperluas konsep-konsep ilmiah yang
telah dikuasainya dalam situasi yang lebih kompleks dalam
kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan telah mampu
menjelaskan berbagai fenomena yang lebih kompleks, sehingga
status pengetahuan yang telah dipahaminya berada pada status
fruitfull.
Menurut Eisenkraft yang diterjemahkan oleh Sutrisno,dkk
dalam Dina Nur Adilah & Rini Budiharti (2015:214-215) fase-fase
model learning cycle 7E sebagai berikut:
a. Elicit (Mendatangkan Pengetahuan Awal Siswa)
Pada fase ini, guru berusaha menimbulkan atau
mendatangkan pengetahuan awal siswa. Pada fase ini guru
dapat mengetahui sampai dimana pengetahuan awal siswa
terhadap pelajaran yang akan dipelajari dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pengetahuan awal
siswa agar timbul respon dari pemikiran siswa serta
menimbulkan kepenasaran tentang jawaban dari pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan oleh guru. Fase ini dimulai dengan
pertanyaan mendasar yang berhubungan dengan pelajaran yang
akan dipelajari dengan mengambil contoh yang mudah yang
diketahui siswa seperti kejadian dalam kehidupan sehari-hari.
b. Engage (Mengajak dan Menarik Perhatian Siswa)
Fase digunakan untuk memfokuskan perhatian siswa,
merangsang kemampuan berpikir serta membangkitkan minat
dan motivasi siswa terhadap konsep yang akan diajarkan. Fase
ini dapat dilakukan dengan demonstrasi, diskusi, membaca,

13
atau aktivitas lain yang digunakan untuk membuka
pengetahuan siswa dan mengembangkan rasa keigintahuan
siswa.
c. Explore (Mengeksplorasi)
Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan dengan
pengalaman langsung yang berhubungan dengan konsep yang
akan dipelajari. Siswa diberi kesempatan untuk bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru.
Pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk mengamati data,
merekam data, mengisolasi variabel, merancang dan
merencanakan eksperimen, membuat grafik, menafsirkan hasil,
mengembangkan hipotesis serta mengatur temuan mereka.
Guru merangkai pertanyaan, memberi masukan, dan menilai
pemahaman.
d. Explain (Menjelaskan)
Pada fase ini siswa diperkenalkan pada konsep, hukum dan
teori baru. Siswa menyimpulkan dan mengemukakan hasil dari
temuannya pada fase explore. Guru mengenalkan siswa pada
beberapa kosa kata ilmiah, dan memberikan pertanyaan untuk
merangsang siswa agar menggunakan istilah ilmiah untuk
menjelaskan hasil eksplorasi.
e. Elaborate (Menerapkan)
Fase yang bertujuan untuk membawa siswa menerapkan
simbol, definisi, konsep, dan keterampilan pada permasalahan
yang berkaitan dengan contoh dari pelajaran yang dipelajari.
f. Evaluate (Menilai)
Fase evaluate (evaluasi) model pembelajaran learning
cycle 7E terdiri dari evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Evaluasi formatif tidak boleh dibatasi pada siklus-siklus
tertentu saja, sebaiknya guru selalu menilai semua kegiatan
siswa. Pada fase elicit dapat dilakukan evaluasi formatif, begitu
pula pada fase engage, explore, explain, elaborate, dan extend.

14
Pada fase explore dan explain dapat disertai evaluasi dengan
cara guru mengecek pemahaman siswa.
g. Extend (Memperluas)
Pada tahap ini bertujuan untuk berfikir, mencari
menemukan dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang
telah dipelajari bahkan kegiatan ini dapat merangsang siswa
untuk mencari hubungan konsep yang mereka pelajari dengan
konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari.
c. Kelebihan Model Learning Cycle 7E
Menurut Ngalimun dalam Dina Nur Adilah & Rini Budiharti
(2015) kelebihan dari model learning cycle 7E antara lain:
a. Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan
secara aktif dalam proses pembelajaran
b. Membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar
c. Pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Kelebihan dari model learning cycle 7E menurut Hardiansyah,


dalam Andi Musdalifa & Taqwa (2017) antara lain:

a) Merangsang siswa untuk mengingat materi pelajaran yang


telah mereka dapatkan sebelumnya
b) Memberikan motivasi kepada siswa untuk menjadi lebih
aktif dan menambah rasa keingintahuan siswa
c) Melatih siswa belajar melakukan konsep melalui kegiatan
eksperimen
d) Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep
yang telah mereka pelajari
e) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir,
mencari, menemukan, dan menjelaskan contoh penerapan
konsep yang telah dipelajari
f) Guru dan siswa menjalankan tahapan-tahapan pembelajaran
yang saling mengisi satu sama lainnya

15
g) Guru dapat menerapkan model ini dengan metode yang
berbeda-beda.
2. Mind Mapping
a. Pengertian Mind Mapping
Menurut Iwan Sugiarto dalam Zahria Ulfa (2012:5) mind
mapping merupakan suatu metode pembelajaran yang sangat baik
digunakan oleh guru untuk meningkatkan daya hafal siswa dan
pemahaman konsep siswa yang kuat, siswa juga dapat meningkat
daya kreatifitas melalui kebebasan berimajinasi. Mind mapping
juga merupakan teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan
memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau
teknik skema sehingga lebih mudah memahaminya.
Menurut Hudojo dalam Dian Sastri Utami (2016:15-16)
mind mapping adalah keterkaitan antara konsep suatu materi
pelajaran yang direpresentasikan dalam jaringan konsep yang
dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung
yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat
membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu
topik pelajaran.
Shoimin dalam Natriani Syam & Ramlah (2015:184-185)
mengemukakan pengertian peta pikiran atau mind mapping adalah
teknik pemanfaatan seluruh otak dengan menggunakan citra visual
dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan. Otak sering
kali mengingat informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara,
bentuk-bentuk, dan perasaan. Peta ini dapat membangkitkan ide-
ide orisinil dan memicu ingatan yang mudah. Ini jauh lebih mudah
daripada metode pencatatan tradisional karena ia mengaktifkan kedua
belahan otak. Cara ini menyenangkan, menenangkan, kreatif.
Menurut Buzan dalam Sistari,dkk (2018:2) peta pikir
memiliki ciri khas yaitu berwarna, bercabang, dan memunculkan
gambar. Gambar merupakan bagian dari kerangka peta pikir karena
gambar bernilai seribu kata artinya menggunakan banyak

16
keterampilan kulit otak besar (warna, bentuk, garis, dimensi,
tekstur, irama visual, dan terutama imajinasi). Oleh karena itu,
gambar sering lebih membangkitkan daya ingat daripada kata,
lebih cepat dan berpotensi dalam memicu berbagai asosiasi
sehingga meningkatkan berpikir kreatif dan memori.
Berdasarkan pemaparan teori di atas, dapat disimpulkan
bahwa mind mapping adalah model yang dirancang untuk
membantu siswa dalam proses belajar, menyimpan informasi
berupa materi pelajaran yang diterima oleh siswa pada saat
pembelajaran, serta membantu siswa menyusun inti-inti yang
penting dari materi pelajaran ke dalam bentuk penggambaran
simbol, kata-kata, warna, dan garis pada selembar kertas sehingga
siswa lebih mudah mengingat pelajaran tersebut.
b. Langkah-langkah Mind Mapping
Menurut Pandley dalam Rijal Darusman (2014:168-169)
langkah-langkah dalam pembelajaran matematika menggunakan
mind mapping sebagai berikut:
a. Guru menyampaikan materi dan tujuan pembelajaran tentang
materi pelajaran yang akan dipelajari
b. Siswa mempelajari konsep tentang materi pelajaran yang
dipelajari dengan bimbingan guru
c. Setelah siswa memahami materi yang telah diterangkan oleh
guru, guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa
kelompok sesuai dengan tempat duduk yang berdekatan.
Kemudian siswa dihimbau untuk membuat peta pikiran dari
materi yang dipelajari
d. Untuk mengevaluasi siswa tentang pemahaman guru menunjuk
beberapa siswa untuk mempresentasikan hasil peta pikiran
dengan mencatat atau menuliskan di papan tulis
e. Dari hasil presentasi yang ditulis oleh siswa di papan tulis, guru
membimbing siswa untuk membuat kesimpulan

17
f. Guru memberikan soal latihan tentang materi yang telah
dipelajari kepada siswa untuk dikerjakan secara individu untuk
mengetahui pemahaman konsep dan kemampuan akademis
siswa.
Langkah-langkah mind mapping yang dijelaskan oleh
Shoimin dalam Natriani Syam & Ramlah (2015:185) adalah
sebagai berikut:
1) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2) Guru menyajikan materi
3) Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok yang anggotanya 2
orang
4) Siswa merancang peta pikiran
5) Siswa mempresentasekan hasil diskusi secara berkelompok
6) Kesimpulan.
Buzan dalam Muzdalifa (2018:22-23) mengemukakan
langkah-langkah dalam menerapkan mind mapping, yaitu:
1. Menyampaikan kompetensi dan memberikan penjelasan singkat
menegenai mata pelajaran
2. Membagi siswa dalam beberapa kelompok untuk membuat
mind mapping
3. Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya
diletakkan mendatar, memulai dari tengah memberi kebebasan
kepada otak untuk menyebar ke segala arah dan untuk
mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami
4. Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral, sebuah gambar
bermakna seribu kata dan membantu kita menggunakan
imajinasi. Sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membuat
kita tetap terfokus, membantu kita berkonsentrasi, dan
mengaktifkan otak kita gunakan warna, bagi otak warna sama
menariknya dengan gambar

18
5. Warna membuat mind mapping lebih hidup, menambah energi
kepada pemikiran kreatif, dan menyenangkan
6. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan
hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu
dan dua, dan seterusnya. Otak bekerja menurut asosiasi, otak
senang mengaitkan dua atau lebih hal sekaligus. Bila kita
menghubungkan cabangcabang, kita akan lebih mudah
mengerti dan mengingatkan
7. Buatlah garis melengkung, bukan garis lurus. Cabang-cabang
yang melengkung dan organis jauh lebih menarik bagi mata
8. Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Kata kunci tunggal
memberi banyak daya dan fleksibilitas kepada mind mapping
9. Gunakan gambar pada setiap cabang mind mapping, seperti
gambar sentral, setiap gambar dapat bermakna seribu kata
10. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas
11. Peserta didik membuat kesimpulan dalam pembelajaran mind
mapping.
Menurut Johan dalam Muzdalifa (2018:23) langkah-langkah
pembelajaran dengan model pembelajaran mind mapping adalah
sebagai berikut:
a. Menyampaikan kompetensi dan memberikan penjelasan singkat
mengenai materi pembelajaran
b. Pendidik mengemukakakn permasalahan yang akan ditanggapi
oleh peserta didik
c. Membagi peserta didik dalam beberapa kelompok untuk
membuat mind mapping
d. Peserta didik bekerja dalam kelompok membuat mind mapping
e. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
f. Membuat kesimpulan dari pembelajaran yang telah
berlangsung.
c. Kelebihan Mind Mapping

19
Menurut Olivia dalam Ajeng Agustina (2015) kelebihan mind
mapping sebagai berikut:
a. Cara mudah menggali informasi dari dalam dan luar otak
b. Dapat digunakan sebagai jembatan diskusi, artinya kita dapat
mengembangkan mind mapping yang telah kita buat dengan
mind mapping anggota kelompok lain untuk didiskusikan
c. Cara baru untuk belajar dan berlatih dengan cepat dan efisien
d. Cara membuat catatan agar tidak membosankan
e. Cara terbaik untuk mendapatkan ide baru dan melatih
kemampuan merencana
f. Alat berfikir yang mengasyikkan karena membantu berfikir dua
kali lebih baik, dua kali lebih cepat, dua kali lebih jernih dan
lebih menyenangkan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari hasil dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan
bahwa penerapan model Learning Cycle 7E berbantuan mind mapping dapat
digunakan dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis
siswa.

B. Saran
Dari pembahasan menunjukkan bahwa penerapan model Learning Cycle
7E berbantuan mind mapping dapat meningkatkan pemahaman konsep
matematis siswa, karena itu diharapkan agar model pembelajaran ini dapat
dilanjutkan dengan penelitian yang lebih lengkap, serta diterapkan dalam

20
pembelajaran untuk mengetahui pengaruh pembelajaran terhadap hasil belajar
dan pemahaman konsep matematis siswa.

21
DAFTAR PUSTAKA

Ningroem, P., A. (2013). Penerapan Strategi Pembelajaran Mind Mapping


Berbasis Analitik untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Kubus dan
Balok. (Skripsi S-1 Prodi Pendidikan Matematika) Universitas
Muhammadiyah Surakarta, Surakarta
Triwibowo., Pujiastuti, E., & Suparsih, H. (2018). Meningkatkan Kemampuan
Pemahaman Konsep Matematis dan Daya Juang Siswa Melalui Strategi
Trajectory Learning. Prisma, Prosiding Seminar Nasional Matematika
Mawaddah, S., & Maryanti, R. (2016). Kemampuan Pemahaman Konsep
Matematis Siswa SMP dalam Pembelajaran Menggunaan Model
Penemuan Terbimbing (Discovery Learning). Jurnal Pendidikan
Matematika, Volume 4, Nomor 1.
Mutohar, A. (2016). Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa
Kelas XI SMP Negeri 1 Pandanarum pada Materi Kesebangunan dan
Kekongruenan. (Skripsi S-1 Prodi Pendidikan Matematika) Universitas
Muhammadiyah Purwokerto, Purwokerto
Sumiyati, Y., Sujana, A., & Djuanda, D. (2016). Penerapan Model Learning
Cycle 7E untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Materi Proses
Daur Air. Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1, No. 1
Rosliana, I. (2019). Pengembangan LKPD Matematika dengan Model Learning
Cycle 7E Berbantuan Mind Mapping. Jurnal Pengembangan
Pembelajaran Matematika (JPPM)/Vol I No 1
Sari, E., F., P. (2017). Pengaruh Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika
Mahasiswa Melalui Metode Pembelajaran Learning Stars With A
Question. Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 6 Nomor 1
Febriyanto, B., Haryanti, Y., D., & Komalasari, O. (2018). Peningkatan
Pemahaman Konsep Matematis Melalui Penggunaan Media Kantong
Bergambar pada Materi Perkalian Bilangan di Kelas II Sekolah Dasar.
Jurnal Cakrawala Pendas Vol.4 No.2
Ningsih, F., I. (2018). Analisis Pemahaman Konsep Siswa SMP dalam
Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau dari Kecerdasan

iii
Emosional. (Skripsi S-1 Prodi Pendidikan Matematika) Universitas Islam
Majapahit
Faharuddin, A., G., Zuliana, E., & Bintoro, H., S. (2018). Peningkatan
Pemahaman Konsep Matematika Melalui Realistic Mathematic
Education Berbantuan Alat Peraga Bongpas. Jurnal Ilmiah Pendidikan
Matematika Vol.1 No.1
Sahati, F., R. (2015). Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika
Melalui Model Pembelajaran Advance Organizer Siswa Kelas VIIC SMP
Negeri 11 Yogyakarta. (Skripsi S-1 Prodi Pendidikan Matematika)
Universitas PGRI Yogyakarta, Yogyakarta
Bakhtiyar, R., A. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Guide Discovery
Learning Terhadap Penguasaan Konsep Matematika Siswa Kelas X
Semester Genap MAN 2 Boyolali Tahun Ajaran 2016/2017. (Skripsi S-1
Prodi Pendidikan Matematika) Universitas Muhammadiyah Surakarta
Partini., Budjianto., & Bachri, S. (2017). Penerapan Model Learning Cycle 7E
untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal
Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 2 Nomor: 2
Oktavianda, R. (2019). Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa
Melalui Model Learning Cycle 7E pada Mata Pelajaran Matematika di
Kelas XI IPS SMA N 1 Sungai Pua Tahun Pelajaran 2018/2019. (Skripsi
S-1 Prodi Pendidikan Matematika) Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Bukittinggi, Bukittinggi
Musdalifa, A., & Taqwa. (2017). Efektivitas Model Learning Cycle 7E (LC 7E)
Berbasis Pendekatan Kontruktivisme. Journal of Islamic Education
Management Vol.2, No.2, Hal 176-186
Adilah, D., N., & Budiharti, R. (2015). Model Learning Cycle 7E Dalam
Pembelajaran IPA Terpadu. Prosiding Seminar Nasional Fisika dan
Pendidikan Fisika (SNFPF) Ke-6 Volume 6 Nomor 1
Ulfa, Z. (2012). Penerapan Metode Mind Mapping untuk Meningkatkan Motivasi
Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas X MA
Muhammadiyah 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/1012. (Skripsi S-1

iv
Prodi Pendidikan Matematika) Universitas Muhammadiyah Ponorogo,
Ponorogo
Utami, D., S. (2016). Penerapan Metode Mind Mapping untuk Meningkatkan
Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa. (Skripsi S-1 Prodi
Pendidikan Matematika) Universitas Lampung, Bandar Lampung
Syam, N., & Ramlah. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping
dalam Meningkatkan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial Kelas IV SDN 54 Kota Pare-Pare. Jurnal Publikasi
Pendidikan Volume V Nomor 3
Sistari., Sumadi., & Widodo., S. (2018). Metode Mind Mapping dalam
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Terpadu Siswa SMP
Xaverius
Darusman, R. (2014). Penerapan Metode Mind Mapping (Peta Pikiran) untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa SMP.
Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung, Vol
3, No.2
Muzdalifa. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Mind Mapping Terhadap
Hasil Belajar Tema 2 Subtema 1 Peserta Didik Kelas IV SDN 2 Tanjung
Senang. (Skripsi S-1 Prodi Pendidikan Matematika) Universitas
Lampung, Bandar Lampung
Agustina, A. (2015). Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Mind Mapping
Terhadap Pemahaman Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama
Islam Kelas VIII D Semester Genap di SMP Negeri Purwokerto Tahun
Pelajaran 2014/2015. (Skripsi S-1 Prodi Pendidikan Agama Islam)
Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Prwokerto