Anda di halaman 1dari 44

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DHF

( DENGUE HAEMORAGIC FEVER ) PADA ANAK

Keperawatan Kritis Kelompok 1


1. Abdul Muis
2. Annisa Yuliah
3. Fraga Batara K
4. Fatimah
5. Eggie Julianti
6. Evie Jumiati
7. Lidya Sianturi
8. Radhatul Adawiyah
9. Sri Wulandari
10. Wina Mardiyah P
11. Reska Arfiana

Univeristas Muhammadiyah Kalimantan Timur


2020

1
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah,
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah berjudul
“Askep DHF pada anak” mata kuliah Keperawatan Kritis.

Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak


kekurangan oleh karena itu kami mengaharapkan saran dan kritik yang membangun
dari semua pihak. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini
bermanfaat untuk kami dan semua yang membaca.

Samarinda, 20 April 2020

Kelompok 1

2
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................4

B. TUJUAN UMUM.......................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................6

A. KONSEP DASAR......................................................................................................................6

B.  Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.......................................................................................20

BAB  III.........................................................................................................................................30

TINJAUAN KASUS......................................................................................................................30

I.  Pengkajian.................................................................................................................................30

II. Analisa Data..............................................................................................................................37

III Diagnosa Keperawatan..........................................................................................................38

IV Rencana Keperawatan...........................................................................................................39

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................44

3
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG


DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut sebagai
demam berdarah. Menurut para ahli, demam berdarah dengue disebut sebagai penyakit
(terutama sering dijumpai pada anak) yang disebabkan oleh virus Dengue dengan gejala
utama demam, nyeri otot, dan sendi diikuti dengan gejala pendarahan spontan seperti; bintik
merah pada kulit,mimisan, bahkan pada keadaan yang parah disertai muntah atau buang air
besar berdarah.

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae, dengan genusnya adalah
flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-
3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda,
tergantung dari serotipe virus Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara
Tropis dan Subtropis.

Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di Indonesia
Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar
ke seluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi
antara strain dan genetik, tetapi akhir - akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap
daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari
hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana
DBD secara konvensional sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah
kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis.

4
Berdasarkan data WHO tahun 2014 untuk kasus Dengue Haemoragic Fever
( DHF ) adalah sebanyak 334.567 ribu kasus DHF, dan sampai pertengahan bulan Desember
tercatat penderita DBD di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 71.668 orang, dan 641
diantaranya meninggal dunia. Untuk data kasus DHF pada tahun 2014 di Provinsi Sumatera
Barat tercatat sebanyak 2300 kasus, sedangkan untuk kasus DHF pada 3 bulan terakhir
( September - November 2015 ) di Dinas Kesehatan Kota Padang adalah sebanyak 298 kasus
dan untuk kasus DHF di RSUD Dr. Rasidin Padang di Ruangan Interne pada 3 bulan
terakhir ( September - November 2015 ) adalah sebanyak 96 kasus.

B. TUJUAN UMUM
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti seminar ini, di harapkan mahasiswa dapat memberikan asuhan
keperawatan pada pasien dengan penyakit DHF (Dengue Hemorrhagic Fever)

2. Tujuan Khusus
 Mahasiswa dapat menjelaskan definisi penyakit DHF
 Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi DHF
 Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi DHF
 Mahasiswa dapat menjelaskan manifestasi klinis DHF
 Mahasiswa dapat menjelaskan komplikasi penyakit DHF
 Mahasiswa dapat menjelaskan klasifikasi penyakit DHF
 Mahasiswa dapat menjelaskan pencegahan penyakit DHF
 Mahasiswa dapat menyebutkan pemeriksaan penunjang penyakit DHF
 Mahasiswa dapat menerapkan penatalaksanaan penyakit DHF
 Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit
DHF

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR
1.1 Anatomi Fisologi Sistem Hematologi

Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang darah serta jaringan yang
membentuk darah. Darah merupakan bagian penting dari sistem transport. Darah
merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang terdiri dari 2 bagian besar yaitu plasma
darah dan bagian korpuskuli.

Dalam arti lain hematologi juga dikenal sebagai cabang ilmu kedokteran mengenai sel
darah, organ pembentuk darah, dan kelainan yang berhubungan dengan sel serta organ
pembentuk darah. Setiap orang mengetahui bahwa pendarahan pada akhirnya akan
berhenti ketika terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali.
Saat pendarahan berlangsung, gumpalan darah beku akan segera terbentuk dan mengeras,
dan luka pun pulih seketika. Sebuah kejadian yang mungkin tampak sederhana dan biasa
saja di mata Anda, tapi tidak bagi para ahli biokimia. Penelitian mereka menunjukkan,
peristiwa ini terjadi akibat bekerjanya sebuah sistem yang sangat rumit. Hilangnya satu
bagian saja yang membentuk sistem ini, atau kerusakan sekecil apa pun padanya, akan
menjadikan keseluruhan proses tidak berfungsi.
     Darah harus membeku pada waktu dan tempat yang tepat, dan ketika keadaannya telah
pulih seperti sediakala, darah beku tersebut harus lenyap. Sistem ini bekerja tanpa
kesalahan sedikit pun hingga bagian-bagiannya yang terkecil. Jika terjadi pendarahan,
pembekuan darah harus segera terjadi demi mencegah kematian. Di samping itu, darah
beku tersebut harus menutupi keseluruhan luka, dan yang lebih penting lagi, harus
terbentuk tepat hanya pada lapisan paling atas yang menutupi luka. Jika pembekuan darah

6
tidak terjadi pada saat dan tempat yang tepat, maka keseluruhan darah pada makhluk
tersebut akan membeku dan berakibat pada kematian ( A. Price, 2010 ).

1. 2 Komposisi dan Struktur Darah Manusia

a.  Karakteristik
1.    Darah adalah sejenis jaringan ikat yang sel-selnya (elemen pembentuk)
tertahan dan di bawa dalam matriks cairan (plasma).
2.    Darah lebih berat dibandingkan dengan air  dan lebih ketal. Cairan ini
memiliki rasa dan bau yang khas, serta Ph 7.4 (7.35 - 7.45).
3.    Warna darah bervariasi dan merah terang sampai merah tua kebiruan,
bergantung pada kadar oksigen yang dibawa ke sel darah merah.
4.    Volume darah tetap sekitar 5 liter pada laki-laki dewasa berukuran rata-
rata, dan kurang sedikit pada perempuan dewasa. Volume ini bervariasi
sesuai dengan ukuran tubuh dan berbanding terbalik dengan jumlah
jaringan edukosa dalam tubuh. Volume ini juga bervariasi dengan
perubahan cairan darah dan konsentrasi elektrolitnya.
b. Komposisi
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45%
bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume
sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian
55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan
darah yang disebut plasma darah.
Korpuskula darah terdiri dari:

1) Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).


Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak
dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin
dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam

7
penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita
penyakit anemia.
2) Keping - keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%)
Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
3) Sel darah putih atau leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan
bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan
berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid
atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit
menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit
menderita penyakit leukopenia.
4) Susunan Darah. serum darah atau plasma terdiri atas:
a.   Air: 91,0%
b.   Protein: 8,0% (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen)
c. Mineral : 0,9% ( natrium klorida, natrium bicarbonat, garam dari
kalsium, fosfor, magnesium dan zat besi, dll)
Plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung :

a) Albumin
b) Bahan pembeku darah
c) Immunoglobin (antibodi)
d) Hormon
e) Berbagai jenis protein
f) Berbagai jenis garam
5) Struktur sel darah :
a. Air                    : 91%
b. Protein              : 3% (albumin, globulin, protombin dan
fibronogen )
c. Mineral             : 0,9% ( Natrium klorida,natrium bikarbonat,
garam posfat,magnesium, kalsium dan zat
besi )
d. Bahan organik   : 0,1% ( Glukosa, lemak, asam urat, kreatinin

8
kolesterol dan asam amino) (Brunner & Suddarth,
2010).

1.3 Fungsi Sel Darah dan Plasma Darah Pada Tubuh Manusia.
           Plasma darah adalah cairan bening kekuningan yang unsur pokoknya sama
dengan sitoplasma. Plasma terdiri dari 92% air dan mengandung campuran kompleks
zat organik dan zat anorganik.
            Di dalam plasma darah terlarut berbagai macam zat. Di antara zat-zat tersebut
ada yang masih berguna dan adapula yang tidak berguna. Beberapa zat tersebut antara
lain seperti berikut.
a. Zat makanan dan mineral, antara lain glukosa, gliserin, asam amino, asam lemak,
kolesterol, dan garam mineral.
b. Zat hasil produksi dari sel-sel, antara lain enzim, hormon, dan antibodi.
c. Protein,
Protein dalam plasma darah terdiri atas:
1) Antiheofilik berguna mencegah anemia.
2) Tromboplastin berguna dalam proses pembekuan darah.
3) Protrombin mempunyai peranan penting dalam pembekuan darah.
4) Fibrinogen mempunyai peranan penting dalam pembekuan darah.
5) Albumin mempunyai peranan penting untuk memelihara tekanan osmotik
darah.
6) Gammaglobulin berguna dalam senyawa antibodi.
d. Karbon dioksida, oksigen, dan nitrogen.
Protein plasma mencapai 7% plasma dan merupakan satu-satunya unsure pokok
plasma yang tidak dapat menembus membrane kapilar untuk mencapai sel. Ada 3
jenis protein plasma:
1. Albumin adalah protein plasma yang terbanyak, sekitar 55-60%. Albumin
disintesiskan dalam hati dan bertanggung  jawab untuk tekanan osmotic koloid
darah. Koloid, adalah zat yang berdiameter 1Nm – 100Nm, sedangkan kristaloid

9
adalah zat yang berdiameter kurang dari 1 Nm. Plasma mengandung koloid dan
kristaloid.Tekanan osmotic koloid atau tekanan onkotik, ditentukan berdasarkan
jumlah partikel koloid dalam larutan. Tekanan ini  merupakan ukuran ‘daya tarik’
plasma terhadap difusi air dan cairan ekstraseluler yang melewati membrane
kapilar.
2. Globulin membentuk sekitar 30% protein plasma.
α dan β globulin disintesiskan dihati, dengan fungsi utama sebagai molekul
pembawa lipid, beberapa hormone berguna sebagai substrat, dan zat penting tubuh
lainnya. Gamma globulin adalah antibody. Ada 5 jenis immunoglobulin yang
diproduksi jaringan limpoid dan berfungsi dalam imunitas.
3. Fibrinogen membentuk 4% protein plasma, disintesis di hati dan erupakan
komponen esensial dalam mekanisme pembekuan darah. Plasma juga
mengandung nutrient, gas darah, elektrolit, mineral, hormone, vitamin dan zat-zat
sisa.
a. Nutrien meliputi asam amino, gula dan lipid yang diabsorbsi dari saluran
pencernaan.
b. Gas Darah meliputi oksigen, karbondioksida dan nitrogen
c. Elektrolit plasma meliputi ion natrium, kalium,magnesium, klorida, kalsium,
bikarbonat, fosfat dan ion sulfat. Elemen pembentuk darah meliputi sel darah
merah (eritrosit),sel darah putih (leukosit) dan trombosit.

1.4 Eritrosit atau Sel Darah Merah


a. Karakteristik
Eritrosit merupakan diskus bikonkaf, bentuknya bulat dengan lekukan
pada sentralnya dan berdiameter 7,65 µm.Terbungkus dalam membran sel
dengan permeabilitas tinggi. Membran ini elastis dan fleksibel, sehingga
memungkinkan eritrosit menembus kapilar (pembuluh darah terkecil).
        Setiap eritrosit mengandung sekitar 300 juta molekul hemoglobin,
sejenis pigmen pernafasan yang mengikat oksigen. Fungsi hemoglobin itu
sendiri yaitu jika hemoglobin terpajan oksigen, maka molekul oksigen akan
bergabung dengan rantai alfa dan beta, untuk membentuk oksihemoglobin. Dan

10
hemoglobin berikatan dengan CO2 dibagian asam amino pada globin.
Karbaminohemoglobin yang terbentuk hanya memakai 20% CO2 yang
terkandung dalam darah, 80% sisanya dibawa dalam bentuk ion bikarbonat.
b. Fungsi Eritrosit
1.      Mentransfer oksigen ke seluruh jaringan melalui pengikatan hemoglobin
terhadap oksigen.
2.      Mengikat oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan
tubuh.
3.    Mengikat karbondioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui
paru - paru.
c. Leukosit atau Sel Darah Putih
Leukosit dibagi dalam 2 kategori, granulosit dan sel mononuclear
(agranulosit). Dalam darah normal, jumlah total leukosit adalah 5.000 sampai
10.000 sel per mm3. Sekitar 60% diantaranya adalah granulosit dan 40% sel
mononuclear.
Granulosit. Diameter granulosit biasanya sampai tiga kali eritrosit.
Granulosit dibagi dalam tiga sub pengikat warna. Eosinofil, memiliki
memiliki granula berwarna merah terang dalam sitoplasmanya, Basofil,
berwarna biru, dan Netrofil, memiliki granula berwarna ungu pucat.
         Leukosit Mononuklear (Agranulosit), adalah sel darah putih dengan inti
satu lobus dan sitoplasmanya bebas granula. Dalam darah orang dewasa
normal, limfosit berjumlah sekitar 30% dan monosit sekitar 5% dalam total
leukosit. Limfosit matang adalah sel kecil dengan sitoplasma sedikit.
Diproduksi terutama oleh nodus limfe dan jaringan limfoid usus, limfa, dan
kelenjar timus dari sel prekursor yang berasal sebagai sel stem sumsum.
Monosit adalah leukosit terbesar. Diproduksi oleh sumsum tulang dan dapat
berubah menjadi histiosit jaringan, termasuk sel kupfer di hati, makrofag
peritoneal, makrovag alveolar, dan komponen lain sistem retikuloendotileal.
d. Fungsi Leukosit
        Melindungi tubuh terhadap invasi bakteri atau benda asing lainnya.
Fungsi utama netrofilik PMN adalah memakan benda asing (fagositosis).

11
Fungsi limfosit terutama menghasilkan subtansi yang membantu penyerangan
benda asing. Sekelompok limfosit (limfosit T) membunuh sel secara langsung
atau menghsilkan berbagai limfokin, suatu subtansi yang memperkuat
aktifitas sel fagositik. Sekelompok limfosit lainnya (limfosit B) menghasilkan
antibody, suatu molekul protein yang akan menghancurkan benda asing
dengan berbagai mekanisme.
         Eosinofil dan basofil berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai
material biologis kuat seperti histamine, serotim, dan heparin. Pelepasan
senyawa tersebut mempengaruhi suplai darah ke jaringan, seperti yang terjadi
selama peradangan, dan membantu memobilisasi mekanisme pertahanan
tubuh. Peningkatan jumlah eosinofil pada keadaan alergi menunjukan bahwa
sel ini terlibat dalam reaksi hipersensitifitas

1.5 Nilai dan Ukuran Normal Komponen Darah Manusia.


a. Nilai dan ukuran normal komponen darah manusia
Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa terdapat darah sebanyak kira-kira
1/13 dari berat badan atau kira-kira 4-5 liter. Keadaan jumlah tersebut pada
tiap-tiap orang tidak sama, tergantung kepada umur, pekerjaan, keadaan
jantung atau pembuluh darah. (Brunner & Suddarth, 2010).

b. Nilai - nilai sel darah dewasa normal :


1. Sel darah merah         : 4,2 - 6,2 juta per ml darah
2. Sel darah putih           : 5000 - 10.000 juta per ml darah
3. Trombosit                    : 140.000 - 340.00 per ml darah
4. Hematokrit (% sel darah merah) : 45-52% untuk pria; 36-48% untuk
wanita
5. Hemoglobin : 14,0-17,4 gram per 100ml untuk pria; 12,0
16,0 gram per  100ml untuk wanita.
(Elizabeth J Corwin, 2010).
1.6 Sel - Sel Darah Merah

Sel darah merah

12
Sel darah merah atau yang disebut eritrosit berasal dari bahasa yunani,
yaitu erythros berarti merah dan krytos yang berarti selubung/sel.  Sel ini tidak
memiliki intisel, mitokondria, atau ribosom. Sel ini tidak dapat melakukan
mitosis, fosforilasi oksidatif sel, atau pembentukan protein. Sel darah merah
mengandung protein hemoglobin yang mengangkut sebagian besar oksigen yang
diambil di paru ke sel-sel diseluruh tubuh. Hemoglobin menempati sebagian
besar ruang intrasel eritrosit. Sel darah matang dikeluarkan dari sum-sum tulang
dan hidup sekitar 120 hari untuk kemudian mengalami disintegrasi dan mati.
Sel-sel darah merah yang mati diganti oleh sel-sel baru yang dihasilkan oleh
sumsul tulang. (Elizabeth J Corwin, 2010)

2.     Definisi

DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan
ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus, ditandai dengan demam 2 - 7
hari disertai dengan manifestasi perdarahan, penurunan jumlah trombosit < 100.000 /
mm3, adanya kebocoran plasma ditandai peningkatan hematokrit ≥ 20 % dari nilai
normal.Pemeriksaan serologis (ELISA, Rapid Diagnostic Test/RDT Dengue)
menunjukkan hasil positif ( Kemenkes RI, Dirjen Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, Buku Saku, 2013 )

3. Etiologi
a. Virus dengue
Demam dengue fever atau demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue,
yang termasuk dalam genus flavivirus, keluarga flaviviridae. Flavivirus merupakan
virus dengan diameter 30 mm terdiri dari asam aribonukleat rantai tunggal dengan berat
molekul 4 x 106. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4
yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue dan demam berdarah dengue.
Keempat serotipe ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotip terbanyak.
Virus Dengue merupakan keluarga flaviviridae dengan empat serotip (DEN 1, 2, 3,
4). Terdiri dari genom RNA stranded yang dikelilingi oleh nukleokapsid. Virus Dengue
memerlukan asam nukleat untuk bereplikasi, sehingga mengganggu sintesis protein sel

13
pejamu. Kapasitas virus untuk mengakibatkan penyakit pada pejamu disebut virulensi.
Virulensi virus berperan melalui kemampuan virus untuk :
1) Menginfeksi lebih banyak sel
2) Membentuk virus progenik
3) Menyebabkan reaksi inflamasi hebat
4) Menghindari respon imun mekanisme efektor
5)
b. Vektor
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk
aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain
merupakan vektor yang kurang berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe
akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak
ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Nyamuk Aedes Aegypti maupun
Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada
orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di
daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut
berperan dalam penularan.
Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat
tempat - tempat air minum yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang
terdapat di luar rumah di lubang - lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan
daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih
menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari
dan senja hari.
c. Host
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan
mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin
untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya.
Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan
infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau
lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama
kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta.

14
4.  Patofisiologi

Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan
kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus -antibody.
Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan
dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan
merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh
darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.

Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor


koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan
hebat, terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.

Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding


pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan
diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel


dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik.
Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

5. Manifestasi Klinis

a. Demam : demam tinggi timbul mendadak, terus menerus, berlangsung dua sampai
tujuh hari turun secara cepat menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan
dengan berlangsung demam, gejala – gejala klinik yang tidak spesifik misalnya
anoreksia. Nyeri punggung , nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa
lemah dapat menyetainya.
b. Perdarahan : perdarahan disini terjadi akibat berkurangnya trombosit
(trombositopeni) serta gangguan fungsi dari trombosit sendiri akibat metamorfosis
trombosit. Perdarahan dapat terjadi di semua organ yang berupa:
1) Uji torniquet positif
2) Ptekie, purpura, echymosis dan perdarahan konjungtiva
3) Epistaksis dan perdarahan gusi
4) Hematemesis, melena

15
5) Hematuri
c. Hepatomegali :
1) Biasanya dijumpai pada awal penyakit
2) Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
3) Nyeri tekan pada daerah ulu hati
4) Tanpa diikuti dengan icterus
5) Pembesaran ini diduga berkaitan dengan strain serotipe virus dengue
d. Syok yang dikenal dengan Sindrom Renjatan Dengue (SRD/DSS) , disebabkan oleh
karena : Perdarahan dan kebocoran plasma didaerah intravaskuler melalui kapiler
yang rusak. Sedangkan tanda-tanda syok adalah:
1) Kulit dingin, lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki
2) Gelisah dan Sianosis disekitar mulut
3) Nadi cepat, lemah , kecil sampai tidak teraba
4) Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau
kurang dari 80 mmHg)
5) Tekanan nadi menurun (sampai 20mmHg atau kurang)
e. Trombositopeni: Jumlah trombosit dibawah 150.000 /mm3 yang biasanya terjadi
pada hari ke tiga sampai ke tujuh.
f. Hemokonsentrasi : Meningkatnya nilai hematokrit merupakan indikator
kemungkinan terjadinya syok.
g. Gejala - gejala lain :

      Anoreksi , mual muntah, sakit perut, diare atau konstipasi serta kejang. Penurunan
kesadaran

6. Komplikasi

Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :

a.    Perdarahan luas.

b.    Shock atau renjatan.

c.     Effuse pleura

16
d.     Penurunan kesadaran.

7. Klasifikasi

a.  Derajat I :

Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi,
trombositopeni dan hemokonsentrasi.

b.  Derajat II :

Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah


kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.

c.   Derajat III :

Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi


kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit
yang lembab, dingin dan penderita gelisah.

d.   Derajat IV :

Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan


manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.

8. Pencegahan

Ada 3 cara pemberantasan vector :


a. Fogging focus

Dalam keadaan krisis ekonomi sekarang ini, dana terbatas maka kegiatan fogging

hanya dilakukan bila hasil penyelidikan epidemologis betul - betul memenuhi kriteria

b. Abatisasi

Dilaksanakan di desa atau kelurahan endemis terutama di sekolah dan tempat -tempat

umum.

c. Tanpa Inteksida

17
Membasmi jentik nyamuk penular demam berdarah dengan cara 3 M :
1) Menguras secara teratur seminggu sekali atau menaburkan abate/altosit ketempat
penampungan air bersih.
2) Menutupnya rapat-rapat tempat penampungan air.
3) Mengubur atau menyingkirkan kaleng - kaleng bekas, plastik dan barang bekas,
lainnya yang dapat menampung air hujan, sehingga tidak menjadi sarang nyamuk
Aedes Aegypti.

9.      Pemeriksaan penunjang

a.     Darah

1)     Trombosit menurun.

2)      HB meningkat lebih 20 %.

3)       HT meningkat lebih 20 %.

4)       Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3.

5)       Protein darah rendah.

6)       Ureum PH bisa meningkat.

7)       NA dan CL rendah.

b.      Serology : HI (hemaglutination inhibition test).

1)         Rontgen thorax : Efusi pleura.

2)         Uji test tourniket (+)

10.    Penatalaksanaan

a.   Tirah baring

b.   Pemberian makanan lunak .

c.   Pemberian cairan melalui infus.

18
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan
cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+
4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.

d.   Pemberian obat - obatan: antibiotik, antipiretik,

e.   Anti konvulsi jika terjadi kejang

f.   Monitor tanda - tanda vital ( T,S,N,RR).

g.  Monitor adanya tanda - tanda renjatan

h.  Monitor tanda - tanda perdarahan lebih lanjut

i.   Periksa HB, HT, dan Trombosit setiap hari.

B.  Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.

Asuhan keperawawatan adalah tindakan mandiri perawat profesional melalui kerjasama

dengan klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan Asuhan keperawatan sesuai lingkup

wewenang dan tanggung jawabnya. (Damayanti D, 2013).

Tahap - tahap proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa, perencanaan,

implementasi, dan evaluasi keperawatan. Kelima langkah tersebut dapat dijadikan pedoman

dalam mencapai tujuan keperawatan yaitu : meningkatkan, mempertahankan kesehatan, atau

membuat pasien mencapai kematian dengan tenang pada pasien terminal, serta memungkinkan

pasien pasien atau keluarga dapat dapat mengatur kesehatan sendiri menjadi lebih baik. (Hasyim

M, 2014).

1.    Pengkajian Keperawatan

Tahap pengkajian dari proses keperawatan merupakan proses dinamis yang terorganisasi

yang meliputi tiga aktivitas dasar yaitu : pertama, mengumpulkan data secara sistematis;

kedua, memilah dan mengatur data yang dikumpulkan, ketiga mendokumentasikan dalam

format yang dapat dibuka kembali. (Hasyim M, 2014)

19
Pengkajian pada klien dengan penyakit infeksi demam berdarah dengue adalah :

a.    Identitas Klien

1. Nama, umur, jenis kelamin, alamat, tanggal lahir, tanggal masuk, tanggal

pengkajian, agama, status perkawinan, nomor medical record, alamat dan diagnosa

medis

2. Identitas Penanggung Jawab

Nama, umur, pekerjaan, agama, hubungan dengan klien dan alamat

b.    Riwayat Kesehatan Klien

1. Keluhan utama

Biasanya pasien datang dengan keluhan demam tinggi mendadak dan terus menerus

selama 2 - 7 hari, terdapat petechie pada seluruh kulit, perdarahan gusi, neyri

epigastrium, epistaksis, nyeri pada sendi-sendi, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati,

mual dan nafsu makan menurun

2. Riwayat Kesehatan Sekarang

Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh

tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.

3. Riwayat Kesehatan Dahulu

Ada kemungkinan klien yang telah terinfeksi penyakit DHF bisa terulang terjangkit

DHF lagi, tetapi penyakit ini tak ada hubungan dengan penyakit yang pernah

diderita dahulu

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

20
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat

menentukan, Penyakit DHF dibawah oleh nyamuk jadi bila terdapat anggota

keluarga yang menderita penyakit ini dalam satu rumah.

c. Pemeriksaan Fisik :

1. Status Present :

a. Penampilan atau kesan umum

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

b. Pemeriksaan tanda - tanda vital ( TD, S, N, Rr )

2. Pengkajian persistem

a. Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis,
pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi,
krakles.
b.   Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada
grade IV dapat trjadi DSS
c.    Sistem Kardiovaskuler
Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif,
trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat,
lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV
nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
d.    Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik,
pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu
makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.
e.    Sistem perkemihan

21
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan
mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.
f.    Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif
pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan
spontan pada kulit.
3.

22
5. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas mengenai status kesehatan atau
masalah aktual atau resiko dalam rangka mengindentifikasi dan menentukan intervensi
keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah, masalah kesehatan
klien yang ada ada tanggung jawabnya. (Nanda, 2015)
Menurut Nanda 2015 diagnosa keperawatan yang muncul antara lain:
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d proses
penyakitnya
c. Resiko syok berhubungan dengan hipovolemik.
d. Intolenransi aktivitas sehari - hari berhubungan dengan kelemahan tubuh
e. Kurang pengetahuan b.d kurang familier dengan sumber informasi
6. Intervensi keperawatan
a. Hipertermia b.d proses penyakitnya

Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


keperawatan kriteria hasil ( Nic )
( Nanda ) ( Noc )

1. Hipertermia Setelah dilakukan Fever Treatment : - Tanda - tanda vital


berhubungan tindakan      Observasi tanda merupakan acuan
dengan proses keperawatan selama -tanda vital untuk mengetahui
penyakit. ... x 24 jam, pasien tiap 3 jam. keadaan umum
akan : pasien.
       Menunjukkan      Beri kompres - Kompres hangat
suhu tubuh dalam hangat pada bagian dapat
rentang normal. lipatan tubuh mengembalikan suhu
       TTV normal. ( Paha dan aksila ). normal
memperlancar
sirkulasi.
     Monitor intake dan - Untuk mengetahui
output adanya

23
ketidakseimbangan
cairan tubuh.
    Berikan obat anti - Dapat menurunkan
piretik. demam

  Temperature -  Peningkatan suhu


Regulation tubuh akan
     Beri banyak menyebabkan
minum ( ± 1-1,5 penguapan tubuh
liter/hari) sedikit meningkat sehingga
tapi sering perlu diimbangi
dengan asupan
cairan yang banyak.
     Ganti pakaian - Pakaian yang tipis
klien dengan bahan menyerap keringat
tipis menyerap dan membantu
keringat. mengurangi
penguapan tubuh
akibat dari
peningkatan suhu
dan dapat terjadi
kondusi

2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d proses
penyakitnya

24
Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
keperawatan kriteria hasil ( Nic )
( Nanda ) ( Noc )

1. Gangguan
Setelah dilakukan  Nutrition -     - Memudahkan
pemenuhan
tindakan managemen untuk intervensi
kebutuhan
keperawatan  -   Kaji selanjutnya
nutrisi kurang
selama ... x 24 jam, keadaan umum -     - Merangsang nafsu
dari kebutuhan
pasien akan : klien makan klien
tubuh b.d
       Menunjukkan -   Beri makanan sehingga klien mau
proses
kebutuhan nutrisi sesuai makan.
penyakitnya
terpenuhi. kebutuhan -     - Makanan dalam
       Memperlihatkan tubuh klien. porsi kecil tapi sering
adanya selera makan -   Anjurkan klien memudahkan organ
untuk makan pencernaan dalam
makanan sedikit metabolisme.
tapi sering. -    - Makanan dengan
-   Anjurkan klien komposisi TKTP
untuk makan berfungsi membantu
makanan TKTP mempercepat proses
dalam bentuk penyembuhan.
lunak

Nutrition
Monitoring
-    - Berat badan
-   Timbang berat merupakan salah satu
badan klien tiap indikator pemenuhan
hari. nutrisi berhasil.
-      
- Untuk mengetahui
-   Monitor mual status nutrisi klien.

25
dan muntah
klien

3. Resiko syok berhubungan dengan hipovolemik.

Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


keperawatan kriteria hasil ( Nic )
( Nanda ) ( Noc )
 
1.  Resiko syok Setelah dilakukan Syok       
berhubungan tindakan prevention - Memantau kondisi
dengan keperawatan -  Monitor klien selama masa
hipovolemik. selama ... x 24 jam, keadaan umum perawatan terutama
pasien akan : klien. saat terjadi perdarahan
       TTV dalam batas sehingga tanda pra
normal     syok, syok dapat
       Natrium serum, ditangani.
kalium serum,        - Tanda vital dalam
kalsium serum,  - Observasi batas normal
magnesium serum tanda-tanda vital menandakan keadaan
dalam batas normal. umum klien baik
       Hematokrit dalam      -  Mengetahui balance
batas normal     - Monitor input cairan dan elektrolit
dan output klien dalam
       - Keterlibatan
    - Anjurkan pada keluarga untuk segera
klien/ keluarga melaporkan jika
untuk segera terjadi perdarahan
melapor jika ada terhadap klien sangat
tanda-tanda membantu tim
perdarahan. perawatan untuk
segera melakukan
tindakan yang tepat

26
     
 Syok
managemen
- Untuk acuan
-  Cek melakukan tindak
hemoglobin, lanjut terhadap
hematokrit, perdarahan.
trombosit     - Untuk mengetahui
      -  Monitor gas adanya asodosis
darah dan metabolik.
oksigenasi

4. Intolenransi aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan tubuh.

Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


keperawatan kriteria hasil ( Nic )
( Nanda ) ( Noc )
      Activity Therapy
4. Intolenrans       
i aktivitas Setelah dilakukan -    Kaji hal-hal yang - Mengetahui tingkat
sehari-hari tindakan mampu dilakukan ketergantungan klien
berhubunga keperawatan klien. dalam memenuhi
n dengan selama ... x 24 jam, kebutuhannya.
kelemahan pasien akan : -    Bantu klien       - Bantuan sangat
tubuh.        Dapat memenuhi diperlukan klien pada
berpartisipasi kebutuhan saat kondisinya lemah
dalam aktivitas aktivitasnya sesuai dalam pemenuhan
fisik dengan tingkat kebutuhan sehari-hari
       Dapat melakukan keterbatasan klien tanpa mengalami
aktivitas sehari-hari ketergantungan pada
       TTV normal orang lain.
-    Beri penjelasan       - Dengan penjelasan,

27
tentang hal-hal yang klien termotivasi untuk
dapat membantu dan kooperatif selama
meningkatkan perawatan terutama
kekuatan fisik klien. terhadap tindakan yang
dapat meningkatkan
kekuatan fisiknya.

-     Libatkan keluarga      - Keluarga merupakan


dalam pemenuhan orang terdekat dengan
ADL klien klien
-    Jelaskan pada      - Untuk mencegah
keluarga dan klien terjadinya keadaan yang
tentang pentingnya lebih parah
bedrest ditempat
tidur.

5. Kurang pengetahuan b.d kurang familier dengan sumber informasi

Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


keperawatan kriteria hasil ( Nic )
( Nanda ) ( Noc )
5. Kurang Setelah dilakukan   Teaching: Disease
pengetahuan tindakan Proses
b.d kurang keperawatan -    Kaji tingkat -    Sebagai data fdasar
familier selama ... x 24 pengetahuan pemberian informasi
dengan jam, pasien akan : klien/keluarga selanjutnya.
sumber        Pasien dan tentang penyakit
informasi keluarga DHF
menyatakan -    Kaji latar belakang -    Untuk memberikan
pemahaman pendidikan klien/ penjelasan sesuai
tentang penyakit , keluarga. dengan tingkat
kondisi , pendidikan klien/

28
prognosisdan keluarga sehingga
program dapat dipahami.
pengobatan -    Jelaskan tentang -  Agar informasi dapat
     Mampu proses penyakit, diterima dengan
melaksanakan diet, perawatan dan mudah dan tepat
yang dijelaskan obat-obatan pada sehingga tidak terjadi
secara benar klien dengan bahasa kesalahpahaman.
dan kata-kata yang
mudah dimengerti.

-    Jelaskan semua -    Dengan mengetahui


prosedur yang akan prosedur/tindakan
dilakukan dan yang akan dilakukan
manfaatnya pada dan manfaatnya, klien
klien. akan kooperatif dan
kecemasannya
menurun.
-    Berikan -     Mengurangi
kesempatan pada kecemasan dan
klien/ keluarga memotivasi klien
untuk menanyakan untuk kooperatif.
hal-hal yang ingin
diketahui
sehubungan dengan
penyakit yang
diderita klien.

BAB  III
TINJAUAN KASUS

29
Asuhan Keperawatan
I.  Pengkajian
   1. Pengumpulan Data
         a.   Identitas
               1.) Identitas Klien
                        Nama                                       : Nn. Y F
                        Umur                                       : 18 tahun
                        Jenis Kelamin                          : perempuan
                        Tanggal Lahir                          : 19 juni 2005
                        Tanggal Masuk                        : 3 Desember 2015
                        Tanggal Pengkajian                : 4 Desember 2015
                        Agama                                     kristen protestan
                        Statu Perkawinan                   : belum Menikah
                        Nomor Medrec                        : 154739
                       Alamat                                     : perumahan bungo mas thp III
                        Dx. Medis                               : DHF

               2.) Identitas Penanggung Jawab


                        Nama                                       : Tn. R S
                        Umur                                       : 43 Tahun
                        Pekerjaan                                 : Swasta
                        Agama                                     : kristen protestan
                        Hubungan dengan Klien       : ayah
            Alamat                                    : perumahan bungo mas thp III

         b. Keperawatan/Kesehatan Riwayat:


1.) Keluhan Utama
Klien mengeluh panas badan, mual

30
2.) Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Klien mengeluh panas badan 4 hari ini secara terus-menerus disertai dengan mual,
pusing, nyeri pada bagian ulu hati.

3.) Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)


Menurut penuturan klien, klien belum pernah menderita penyakit seperti saat ini, klien
juga belum pernah dirawat di rumah sakit.

4.) Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)


        Menurut penuturan klien dalam anggota keluarganya tidak ada yang menderita seperti
klien saat ini, menurut penuturan klien dalam anggota keluarganya tidak ada yang
mempunyai penyakit keturunan seperti: DM, asma, dan lain lain. Dan menurut
penuturan klien juga didalam anggota keluarjganya tidak mempunyai penyakit
menular seperti: TBC, Hepatitis, AIDS dan lain lain.

c.   Pemeriksaan Head to toe


       1.) Penampilan atau Kesan Umum
Kesadaran compos mentis, badan lemah, dan warna kulit muka kemerah-merahan.

      2.) Tanda Tanda Vital (TTV)


Tekanan Darah : 100/80 mmhg,  Nadi : 101x /menit,Respirasi : 20x /menit dan Suhu :
40,1oC

     3.) Kepala dan Wajah


a.    Bagian kepala tidak ada lesi, tidak ada benjolan, warna kulit kepala kecoklatan,
penyebaran rambut merata, rambut mudah dicabut,tidak ada ketombe
b.   Wajah
Tidak ada acne, pergerakan wajah normal, warna kulit wajah kemerah-merahan, kedua
pipi simetris
a)    Mata

31
Ketajaman normal, konjung tiva berwarna merah muda, pergerakan pupil simetris,
kedua bola mata simetris, lapang pandang normal, sclera berwarna putih, tidak
ada udim pada kelopak mata, dan tidak ada pendarahan pada konjung tiva
b)   Telinga
Pendengaran jelas, daun telinga simetris, dan tidak ada cerumen
c)    Hidung
Dapat membedakan bau, tidak epitaksis, pilek, dan lubang hidung simetris.
d)   Mulut
Berbicara normal, dapat menelan dan menggigit secara normal, bibir kering, tidak
ada lesi pada bibir, dan tidak ada pendarahan pada gusi.

4.) Leher
Pergerakannya bebas, tidak ada lesi, dan tidak ada pembesaran getah bening.
5.) Dada
Mamae simetris, tidak ada lesi, tidak ada pembesaran pada organ hepar
 6.) Paru Paru
Pola pernafasan normal, bunyi pernafasan normal dan sebanyak 20x/menit, dan tidak
ada efusi pleura.
7.) Jantung
Bunyi teratur, S1 = lup, S2=dup
8.) Abdomen
Bentuk datar, suara bising usus 12x/menit, tidak ada lesi, bila ditekan pada bagian
perut sakit (epigastrium sakit tekan)
9.) Ginjal
Pengeluaran urine normal, tidak ada lesi, dan tidak terdapat haematuri
10.) Genetalia
Tidak dilakukan karena tidak ada keluhan
11.) Rektum
Tidak dilakukan karena tidak ada keluhan

12.) Ekskremitas

32
a.      Ekskremitas Atas
Kedua tangan simetris, tidak ada pembengkakan, terpasang infus disebelah kiri,
b. Ekstermitas bawah
Kedua kaki simetris, tidak ada pembengkakan
13.) Punggung

Tidak ada lesi, tidak ada bengkak, tidak ada kelainan bentuk

33
d. Pola Aktivitas

34
No. Jenis Aktifitas Di Rumah Di RSUD
1. Nutrisi
1. Makan
a. Jenis Makanan Nasi, lauk pauk, kue Bubur nasi, lauk pauk,
kering, buah-buahan sayur, buah-buahan
b. Frekuensi 2-3 x/hari 3 x/hari
c. Porsi - 1 porsi habis 1 porsi tidak habis
d. Kesulitan Klien mengeluh mual dan
tidak nafsu makan
2. Minum
a. Jenis Minuman Air putih, susu, Air putih, susu
minuman biasa
b. Frekuensi 8gelas /hari 4-5 gelas/hari
c. Kesulitan - Klien mengeluh mual
2. Eliminasi
1. BAB 1-2 x/hari Belum BAB
a. Frekuensi Padat -
b. Konsistensi - -
c. Kesulitan

2. BAK
a. Frekuensi Sering 5-7 x/hari
b. Warna Kuning Kuning
c. Kesulitan - -

3. Istirahat Tidur
1. Siang 15.00 WIB - 17.00 WIB Selama dirumah sakit sering
a. Waktu tidur
b. Kesulitan -

2. Malam 22.00 WIB-06.00 WIB


a. Waktu -

b. Kesulitan -
4. Personal Hygine
1. Mandi
a. Frekuensi 2x/hari 35 1x/hari diseka

2. Cuci Rambut
e. Data Psikologis/Konsep Diri                       

1)        Gambaran Diri

Klien nampak lemas

2)        Identitas Diri

         Klien berjenis kelamin laki-laki, klien merupakan suami dari Ny. P

3)        Peran

         Dalam keluarganya klien berperan sebagai anak, dan klien mampu melaksanakan
perannya didalam keluarganya.

4)         Ideal Diri

Keinginan klien untuk sembuh dan segera pulang dari rumah sakit sangat tinggi

5)       Harga Diri

         Klien sangat berharga karena sering diperhatikan oleh semua anggota keluarganya
dan tim medis

   f. Data Spiritual

Klien besragama keriten protestan,

   g. Data Sosial

                  Klien mudah diajak komunikasi dengan tim medis dan lingkungan sekitarnya.

   h. Data Penunjang

1.) Hasil Laboratorium

No. Jenis Hasil Normal


Pemeriksaan
        
1. Hemoglobin 14,8 gr L/dl 12-18 gr L/dl

2. Leukosit 3.400/mm3 4.000-10.000/mm3

3. Hematokrit/PCV 45% 36 37%-48%

4. Trombosit 77.000/mm3 150.000-400.000/mm3


2.) Therapy
a.   Infus RL 500ml/4 jam
b.   parasetamol 3 x 500 mg
c.   ranitidin 2 x 1 amp iv
d.   ondansentro 3 x 1 amp iv

II. Analisa Data

No. Data Kemungkinan Penyebab Masalah


1. Ds : Klien mengeluh Masuknya virus dengue kedalam Hypertemi
panas badan tubuh melalui gigitan nyamuk
Do : aedes aegypti
1.  Suhu 37,8oC
Virus berkembang didalam
2.  Nadi 84x /menit
tubuh
3.  Respirasi 24x /mnt
4.  Klien terlihat gelisah
Suhu tubuh meningkat
5. Klien terlihat lemah
6. Bibir kering

2. Ds : Klien mengeluh Respon peningkatan Suhu tubuh Ggn.


tidak nafsu makan Pemenuhan
Do : Merangsang medullan kebutuhan
1. Klien terlihat lesu vomatting center nutrisi
dan lemah
Mual dan muntah
2. Porsi makan tidak
habis
Nafu makan berkurangRespon

37
3. Mual peningkatan Suhu tubuh

Merangsang medullan
vomatting center

Mual dan muntah

Nafu makan berkurang


3. Ds : Klien mengatakan Resiko syok
mual hipovolemik

Virus dengue
Do :

1.      Klien terlihat
enggan utk banyak Mual

minum Permeabilitas
dinding pembuluh
2. air yg tersedia
darah
masih terlihat
banyak     

Gangguan keseimbangan cairan


& elektrolit

III Diagnosa Keperawatan

No Daftar diagnosa keperawatan Tanda tangan

1. Hypertermi b.d proses penyakit

38
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b.d proses
penyakit

3. Resiko syok hipovolemik

IV Rencana Keperawatan

No Tgl/Bln/Th Diagnosa
NOC NIC Aktivitas
n Perawatan

1 4 des ‘15 Hipertermia Setelah  Fever - Tanda-tanda


berhubungan dilakukan Treatment : vital merupakan
dengan proses tindakan        Observasi acuan untuk
penyakit. keperawatan tanda-tanda mengetahui
ditandai selama ... x 24 vital keadaan umum
dengan jam, pasien tiap 3 jam. pasien.
DS   : akan :
·    Pasien        Menunjukkan     Beri kompres -   Kompres
mengatakan suhu tubuh hangatpada hangat dapat
badannya dalam rentang bagian mengembalikan
panas normal. lipatan tubuh suhu normal
       TTV normal. ( Paha dan memperlancar
aksila ). sirkulasi.
DO   : -   Untuk
·   Suhu tubuh      Monitor mengetahui

39
pasien intake dan adanya
meningkat output ketidakseimban
37,80C gan cairan
     Berikan obat tubuh.
anti piretik. -   Dapat
menurunkan
  Temperature demam
Regulation
       Beri banyak -   Peningkatan
minum ( ± 1- suhu tubuh akan
1,5 liter/hari) menyebabkan
sedikit tapi penguapan
sering tubuh
meningkat
sehingga perlu
diimbangi
    Ganti pakaian dengan asupan
klien dengan cairan yang
bahan tipis banyak.
menyerap -   Pakaian yang
keringat. tipis menyerap
keringat dan
membantu
mengurangi
penguapan
tubuh akibat
dari
peningkatan
suhu dan dapat
terjadi kondusi
      Nutrition

40
2. 4 des’ 15 Gangguan Setelah managemen -       Memudahkan
pemenuhan dilakukan -   Kaji untuk intervensi
kebutuhan tindakan keadaan selanjutnya
nutrisi keperawatan umum klien-       Merangsang
kurang dari selama ... x 24 -   Beri nafsu makan
kebutuhan jam, pasien makanan klien sehingga
tubuh akan : sesuai klien mau
berhubungan       Menunjukkan kebutuhan makan.
dengan kebutuhan nutrisi tubuh klien.-       Makanan dalam
mual, terpenuhi. -   Anjurkan porsi kecil tapi
muntah, - Memperlihatkan orang tua sering
tidak ada adanya selera klien untuk memudahkan
napsu makan memberi organ
makan. makanan pencernaan
sedikit tapi dalam
sering. metabolisme.
-       Makanan
-   Anjurkan dengan
klien komposisi TKTP
memberi berfungsi
makanan membantu
TKTP mempercepat
dalam proses
bentuk penyembuhan.
lunak

Nutrition -     
Monitoring

-   Timbang
berat badan

41
klien tiap
hari.

-   Monitor
mual dan   Berat badan
muntah merupakan salah
pasien satu indicator
pemenuhan
nutrisi berhasil.
-       Untuk
mengetahui
status nutrisi
pasien.
      Syok
3. 4 des ‘15  resiko syok Setelah prevention        Memantau
berhubungan dilakukan        Monitor kondisi klien
dengan tindakan keadaan selama masa
hipovolemic. keperawatan umum klien. perawatan
selama ... x 24 terutama saat
jam, pasien terjadi perdarahan
akan : sehingga tanda
       TTV dalam pra syok, syok
batas normal        Observasi dapat ditangani.
       Natrium serum, tanda-tanda        Tanda vital
kalium serum, vital dalam batas
kalsium serum, normal
magnesium menandakan
serum dalam       Monitor keadaan umum
batas normal. input dan klien baik
       Hematokrit output pasien       Mengetahui

42
dalam batas balance cairan
normal         Anjurkan dan elektrolit
pada pasien/ dalam
keluarga        Keterlibatan
untuk segera keluarga untuk
melapor jika segera
ada tanda- melaporkan jika
tanda terjadi perdarahan
perdarahan. terhadap pasien
sangat membantu
      Syok tim perawatan
managemen untuk segera
       Cek melakukan
hemoglobin, tindakan yang
hematokrit, tepat
trombosit
       untuk acuan
       Monitor gas melakukan tindak
darah dan lanjut terhadap
oksigenasi perdarahan.
       Untuk
mengetahui
adanya asodosis
metabolik.

43
DAFTAR PUSTAKA

A. Price, Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC, 2010


Damayanti D, Buku Pintar Perawat Profesional Teori dan Praktek Asuhan Keperawatan,
Jakarta, 2013
Deden dkk, Keterampilan Dasar Keperawatan Proses dan Prosedur, Jilid 2, Jakarta, 2012
Hasyim M, Buku Pedoman Keperawatan, Jakarta, 2014
Kemenkes RI, Buku Pedoman Pengendalian Demam Berdarah Dengue, Jakarta, 2015
Potter, Fundamentals of Nursing : Fundamental Keperawatan Buku 3 Edisi 7, Jakarta, 2010
Aplikasi Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Nanda & Nic Noc, Jakarta, 2015

44