Anda di halaman 1dari 26

PASIEN STROKE DENGAN TERAPI AKUPRESURE

DAN ANALISA SINTESA

Oleh Kelompok II :

Asri 2118044

Iman Rusdiman Mae 2118024

lia sumarti imran 21180

siti nur laila 21180

rahmat sapii 2118032

alan yusuf 2118020

P R O GR A M S T U D I S 1 K E PE R A W A T A N
SEKOLAH TINGI ILMU KESEHATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2019
Jurnal 1

Peningkatan Fungsi Motorik Melalui Akupresur Pada


Klien Pasca Stroke
Mustopa¹,Yanti Hermayanti², Desy Indra Yani³
¹Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cirebon, mustofa_shoaybaincool30@ymail.com
2Universitas Padjadjaran ,yhermayanti@yahoo.co.id
3Universitas Padjadjaran, desyindrayani@gmail.com

ABSTRAK
Tahun 2007 kejadian stroke di Indonesia sekitar 8,3 per 1000 penduduk. Pada tahun 2013 bertambah
menjadi 12,3. Kondisi ini perlu diwaspadai karena 70% penderita mengalami kecacatan akibat
penurunan fungsi motorik. Untuk meningkatkan fungsi tersebut diperlukan cara agar sirkulasi dan
metabolisme jaringan terperbaiki. Sejak 3000 tahun yang lalu akupresure diyakini mampu
meningkatkan fungsi motorik, namun penerapannya oleh petugas kesehatan belum banyak dilakukan.
Penelitian ini akan membuktikan apakah akupresur mampu memperbaiki fungsi motorik klien pasca
Stroke di tiga puskesmas kabupaten Kuningan. Metode penelitian menggunakan kuasi eksperimen
pretest dan posttest design. Jumlah sampel 27 yang memenuhi kriteria penelitian. Alat ukur
menggunakan Motor Assessment Scale. Hasil menunjukkan pada aktivitas terlentang lalu berbaring,
terlentang lalu duduk, dan duduk seimbang berada pada nilai tertinggi (6) dengan (p=1,000), namun
ketika bergerak menggunakan fungsi ekstremitas atas, terjadi perbedaan. Saat duduk kemudian berdiri
nilai berubah dari 5,25 menjadi 5,40. Ketika lengan atas difungsikan sebelum intervensi 4,22 setelah
menjadi 4,66. Perubahan yang dicapai pada keduanya belum bermakna (p=0,157). Untuk fungsi
berjalan nilai sebelum dari 3,66 menjadi 4,55 (p=0,000), pergerakan tangan dari 4,14 menjadi 4,59
(p=0,026), dan Aktifitas tangan lanjutan dari 4,00 menjadi 4,44 (p=0,038). Ketiga perubahan tersebut
menunjukan perbedaan bermakna, sekaligus menjadi bukti bahwa intervensi yang dilakukan mampu
membantu memperbaiki sirkulasi. Bila kegiatan tersebut masuk dalam perencanaan pulang sejak
perawatan di rumah sakit akan tercapai hasil yang lebih baik, dan fungsi motorik terperbaiki optimal.

Kata Kunci: Akupresur, fungsi motorik, pascastroke,

ABSTRACT
The incidence of stroke in Indonesia in 2007 about 8.3 per 1000. It increased to 12.3 in 2013. This
needs special attention because 70% of them become disability due to motorik mallfunction. To
improve the function required a strategy which can make the metabolism and the blood circulation
within the cell work properly. Since 3000 years ago acupressure is believed can improve the motorik
function, but nurses rarely used this method. This study will prove whether acupressure is able to
improve client,s post-stroke motor function in three district health centers at Kuningan. This research
used quasi experiment with pretest and posttest design. The samples was 27 who met the criteria of
the study. Motorik Assessment Scale used to measure the functions before and after intervention. The
results show that the average score before and after intervention on activity lie down, sit from lie
down, and sit in balance position at the highest poin (6) with (p = 1,000), but when used the function
of hand to make standing position, before was 5.25 and after interventin was 5.40. The score before
intervention on moving the upper arm was 4.22, and after was 4.66. The changes were not significant
(p = 0.157). The avarege of running function before interventin was 3.66 and after intervention was
4.55 (p = 0.000), hand movement from 4.14 to 4.59 (p = 0.026), and advanced hand activity from
4.00 to 4.44 (p = 0.038). These changes showed that the acupressure helprespondent to improve
motorik activity. If the activity carried out since the patient houspitalized, the motoric functions will
improved optimally. Discharge planning should be made to support client’s motoric functions for
better outcome.
Keywords: Accupressure, motoric function, pascastroke

PENDAHULUAN dukungan dari orang lain, motivasi dari


Jumlah penderita stroke diprediksi akan tenaga kesehatan, kunjungan tenaga
terus bertambah seiring dengan kesehatan, dan motivasi terhadap tanggung
bertambahnya jumlah insidensi penyakit- jawab pekerjaan.
penyakit degeneratif. WHO melaporkan Sejak serangan pertama stroke pemulihan
bahwa setiap tahun sekitar 12 juta orang di fisik dan kognitif menjadi bagian yang
seluruh dunia meninggal karena serangan sangat penting untuk ditingkatkan dalam
jantung atau stroke (WHO, 2005). penatalaksanaan keperawatan. Salah satu
Sementara itu, di Indonesia jumlah aktivitasnya adalah memberikan terapi
prevalensi stroke pada tahun 2013 yaitu 12,3 aktivitas untuk mengembalikan fungsi
orang setiap 1000 penduduk. Angka ini motorik (Krug & McCormack,2009)..
menunjukkan pertambahan 67% dari Pendekatan terapi pada pasca stroke untuk
prevalensi stroke pada tahun 2007 yaitu 8,3 mengembalikan fungsi motorik adalah:
orang per 1000 penduduk. Di Jawa Barat, Neurophysiological, terapi
angka kecenderungan prevalensi stroke pada Neurodevelopment (NDT), dan EMG
tahun 2013 mencapai 12 orang per 1000 Biofeed back.EMG Biofeed back, stimulasi
penduduk. Angka ini hampir sebanding fungsi elektrik motor learning, robotic,
dengan jumlah rata-rata prevalensi stroke latihan ulangan kognitif, adaptasi pasca
seluruh provinsi di Indonesia (Kemenkes RI, stroke, terapi komplementer pijat,
2013). komplementer reiki dan komplementer
Stroke merupakan penyebab utama akupresur (Umbreit.A.W. , 2006) .
kecacatan dari seluruh penyakit di dunia Akupresur adalah penekanan dengan kontrol
sehingga setengah dari orang-orang yang baik waktu maupun tekanannya yang di
bertahan hidup dengan penyakit stroke lakukan oleh ibu jari, jari, atau siku. (The
menjadi tergantung pada orang lain dalam Online School of Chi Energy , 2012). Pada
melakukan aktivitas sehari-hari (Logan, klien Pasca stroke penyempitan aliran darah
Legg., Drummond., Leonardi-Bee, et al dan oksigen menjadi penyebab nyeri dan
(2007). Pada tahun 2009, 70 persen dari tiga kekejangan otot, sehingga akupresur
juta orang yang terkena stroke di negara membuka penyempitan knot sehingga
bagian Missouri Amerika Serikat mengalami mencair dan membebaskan aliran darah dan
kecacatan fungsional dan mereka tinggal di oksigen. Nyeri sesaat pada tindakan
rumah bersama keluarga (Krug & akupresur adalah tergantung pada variasi
McCormack, 2009). tekanan individu dan tingkat toleransi nyeri
Kebutuhan perawatan pada klien pasca klien.
stroke selama di rumah berbeda-beda pada Berbagai penelitian dengan intervensi
setiap klien, sebagian berdasarkan akupresur pada klien pasca stroke yang telah
permintaan keluarga dan klien disesuaikan di lakukan di luar negeri maupun di dalam
dengan kebutuhan dan keluhan. Penelitian negeri di atas sebagian besar telah
yang sudah dilakukan di Rumah Sakit menunjukan hubungan intervensi akupresur
Cianjur, Jawa Barat, berdasarkan persepsi pada klien pasca stroke terhadap fungsi
dari klien dan keluarga tentang kajian fungsi penting dalam tubuh klien namun,
kebutuhan perawatan di rumah bagi klien khusus di indonesia belum ada yang pernah
dengan stroke oleh Agustina, Priambodo, & melakukan di komunitas dengan tujuan
Somantri (2009) disimpulkan bahwa aspek- untuk meningkatan fungsi motorik pada
aspek yang sangat dibutuhkan selama klien pasca stroke yang di rawat di rumah
perawatan di rumah adalah bantuan oleh keluarga.
pergerakan anggota tubuh, bantuan Berdasarkan uraian di atas dan melihat
perawatan diri, bantuan komunikasi, penelitian sebelumnya akupresur telah
mampu meningkatkan fungsi gerak pada agar klien mampu bergerak, diperlukan
klien pasca stroke baru sebatas ektremitas tindakan tambahan lainnya seperti
atas, sehingga menjadi penting bagi peneliti Akupresur. Akupresur dilakukan dengan
penekanan terkontrol dengan ibu jari, atau
untuk melakukan penelitian pengaruh
siku, pada titik tertentu dari otot untuk
akupresur terhadap fungsi motorik pada membebaskan aliran darah sehingga
ektremitas atas dan bawah klien pasca stroke kebutuhan oksigen dan nutrisi pada sell di
yang dirawat di rumah oleh keluarga. jaringan terpenuhi (The Online School of
Chi Energy, 2012). Tindakan ini merupakan
KAJIAN LITERATUR alternatif terapi yang dikembangkan di Cina,
Setelah dinyatakan bebas dari masa kritis, menggunakan tehnik menggosok, menekan,
setiap klien yang mengalami stroke perlu memijat dengan tujuan reorganisasi organ
latihan gerak secara khusus atau intervensi yang mengalami kerusakan yang dapat
lainnya yang mampu membantu dilakukan pada fase subakut antara 2 minggu
meningkatkan aktivitas motoriknya, karena s.d. 6 bulan pasca stroke (Weiss, 2006).
selama serangan terjadi, aliran darah ke otak Tindakan ini bertujuan merangsang
mengalami penyempitan mengakibatkan keseimbangan energi dari tubuh dengan
berkurangnya atau tidak berfungsinya menyingkirkan sumbatan energy,
neuron di arteri, maka intervensi akupresur memulihkan fungsi otot dari gangguan
bisa di gunakan untuk membantu spasm, menambah kekuatan otot, dengan
permasalahan fungsi gerak motorik pada membuka semua jalur energi agar aliran
klien pasca stroke. energi tidak lagi terhalang oleh ketegangan
Petugas kesehatan termasuk perawat dapat otot. Energi tubuh menjadi seimbang,
membantu mereka dengan memulai melatih kekuatan otot bertambah, dan fungsi otot
mereka dengan aktivitas yang di sukai klien menjadi pulih (Handoko, 2008).
agar motorik klien terus berfungsi, serta Pemijatan dan penekanan dilakukan pada 12
mengajak mereka untuk berpikir positif titik meridian (accupoint) di lengan dan kaki
tentang pemulihan. Seluruh aktivitas yang yang banyak terdapat serabut saraf sensorik
dilakukan harus terjamin keamanan dan dengan menstimulasi sel saraf Aβ di kulit
kenyamanannya. Perawat dapat membantu atau sel saraf tipe 1(Yee Chan, 2007).
mengenalkannya melalui aktivitas harian Disekitar titik-titik akupresur banyak
seperti kegiatan mengenakan baju, mandi, terdapat ujung saraf sensorik dan pembuluh
memasak, atau naik tangga sampai mereka darah yang ikut terstimulasi melepaskan
dapat melakukannya sendiri. Ketika histamin yang akan membantu pelepasan
membantu mereka perawat harus sabar, dan nitric oxide (NO) dari endotel vaskuler agar
mampu memberikan motivasi dan dukungan berdilatasi yang akan secara langsung dapat
terlebih bila klien mengalami disorientasi membantu meningkatkan aliran darah
waktu, tempat dan orang selain disfungsi menuju ke sel. Pada tahap ini terjadi juga
motorik, dan bila diperlukan harus terjadi pelepaskan platelet activating factor
didatangkan tenaga fisiotherapis untuk (PAF), pelepasan serotonin dan bradikinin
mempercepat pemulihan yang disesuaikan yang berfungsi sebagai vasodilator sekaligus
dengan kebutuhan klien dan memodifikasi neurotransmiter yang membawa signal ke
ruangan apabila diperlukan kursi roda untuk batang otak untuk mengaktifkan kelenjar
alat bantu bergerak seperti: melebarkan pineal memproduksi hormon melatonin yang
pintu-pintu rumah agar klien dapat bergerak dapat membantu mencegah kerusakan sel
bebas di dalam rumah, memasang pelindung baik di otak maupun di pembuluh darah
kabel listrik agar aman, memasang pegangan lainnya. (Saputra & Sudirman, 2009). Bukti
tangan di kamar mandi, dan yang menunjukkan keberhasilan intervensi
mengadaptasikan seluruh anggota telah dilakukan Kang & Kang (2009)yang
keluarganya (Valery, 2006). melakukan setiap intervensi selama 10 menit
Untuk membantu memperbaiki aliran darah selama 2 minggu di Korea, Yue et al. (2013)
dan mengembalikan fungsi sistem persarafan
di Cina, dan Yeung & Chan (2014) pada 73 motorik pada ketiga pengukuran dijadikan
klien pasca stroke. patokan dalam menganalisa hasil penelitian.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian
untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi
menggunakan Motorik Assessment Scale
(MAS) dengan melihat delapan kategori
fungsi motorik dengan melakukan aktivitas
terlentang ke miring, terlentang ke duduk,
duduk seimbang, duduk ke berdiri, berjalan,
fungsi lengan atas, gerakan tangan, dan
kegiatan tangan lanjutan. Setiap kategori
mencapai skor pada skala 7 poin (0-6),
berdasarkan kemampuan seseorang untuk
PEMBAHASAN
melakukan tugas-tugas tertentu (Sabari,
Tabel berikut ini memperlihatkan perbedaan
Woodbury, & Velozo, 2014).
rata-rata kemampuan yang dicapai oleh
Penelitian ini membuktikan bahwa manusia
responden pada dua minggu pertama
akan mampu memperbaiki fungsi sel melalui
penelitian sebelum dilakukan intervensi
perbaikan energy dari dalam diri yang
sebagai patokan untuk melihat kemampuan
didukung lingkungannnya, mendukung
motorik yang dicapai dengan menggunakan
model yang dikembangkan Rogers manusia
obat serta kegiatan yang telah
dan lingkungan saling berhubungan dan
dilkukan berdasarkan rutinitas bekerja dan
berkesinambungan dan simultan, sehingga
dapat dilihat pada tabel 1.
intervensi keperawatan dapat diarahkan
Tabel 1 menggambarkan bahwa seluruh
untuk mengembalikan pola kebiasaan
kemampuan fungsi motorik pada 8
melalui perbaikan kondisi lingkungan atau
komponen aktivitas yang diukur tidak
menggerakan berbagai sumber energi yang
memperlihatkan adanya kemajuan. Seluruh
berasal dari dalam diri seseorang (Taylor,
skor yang dicapai baik pre maupun post
Lilis, LeMone & Liynn, 2011).
intervensi sama dan tergambarkan tidak
memperlihatkan peningkatan yang
METODE PENELITIAN
menunjukkan bahwa intervensi yang
Dalam penelitian ini metode yang digunakan
diberikan secara rutin tidak mampu
adalah kuasi eksperimen dengan rancangan membantu meningkatkan fungsi motorik.
pre and post test one group design pada 27 Seluruh nilai p yang didapatkan=1,00 >
responden yang setuju mengikuti penelitian 0,05.
yang didapatkan dari rumah sakit di Tabel 2 memperlihatkan rata-rata nilai skore
Kuningan, selanjutnya diikuti ke rumahnya yang didapatkan setelah dilakukan intervensi
untuk melakukan pengukuran serta selama dua minggu yang diukur pada
melaksanakan intervensi untuk membantu responden yang sama. Tergambarkan tiga
klien meningkatkan fungsi motoriknya. kemampuan motorik yaitu terlentang lalu
Setelah didapatkan persetujuan dilakukan berbaring, terlentang lalu duduk dan duduk
pengukuran kekuatan otot pertama, dua dengan seimbang memperlihatkan seluruh
minggu kemudian dilakukan pengukuran ke responden mampu melaksanakan fungsinya
2 untuk melihat keberhasilan intervensi yang dengan capaian skor maksimal baik sebelum
dilakukan oleh program yang telah maupun setelah intervensi dengan rerata skor
diterapkan oleh rumah sakit. Selanjutnya 6 p = 1,00 >0,05. Untuk melihat perbedaan
peneliti melakukan intervensi selama 2 yang dicapai dapat dilihat pada tabel berikut:
minggu, yang kemudian dilakukan
pengukuran ke tiga. Perbedaan skore fungsi
Tabel 1.
Analisis fungsi Motorik pada klien yang mendapat perawatan rutin pasca stroke

Kemampuan Motorik Pretest Posttest


Mean SD Mean SD P
Terlentang lalu berbaring ke samping lalu ke 6,00 0,00 6,00 0,00 1,00
arah sisi yang sehat
Terlentang lalu duduk di samping tempat 6,00 0,00 6,00 0,00 1,00
tidur
Duduk dengan seimbang 6,00 0,00 6,00 0,00 1,00
Duduk ke berdiri 5,25 1,85 5,25 1,85 1,00
Berjalan 3,66 1,56 3,66 1,56 1,00
Fungsi lengan atas 4,22 2,79 4,22 2,79 1,00
Pergerakan tangan 4,14 2,42 4,14 2,42 1,00
Aktifitas tangan lanjutan 4,00 2,52 4,00 2,52 1,00

Tabel 2.
Analisis Pengaruh Akupresur terhadap fungsi Motorik pada klien
perlakuan pasca stroke

Kemampuan Motorik Pretest Posttest


Mean SD Mean SD P
Terlentang lalu berbaring ke samping 6,00 0,00 6,00 0,00 1,00
lalu ke arah sisi yang sehat
Terlentang lalu duduk di samping 6,00 0,00 6,00 0,00 1,00
tempat tidur
Duduk dengan seimbang 6,00 0,00 6,00 0,00 1,00
Duduk ke berdiri 5,25 1,85 5,40 1,44 0,15
Berjalan 3,66 1,56 4,55 1,71 0,00
Fungsi lengan atas 4,22 2,79 4,66 2,54 0,15
Pergerakan tangan 4,14 2,42 4,59 2,51 0,02
Aktifitas tangan lanjutan 4,00 2,52 4,44 2,50 0,03

Pada Tabel 2 terlihat kemampuan yang Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa
menunjukkan adanya kemajuan, namun intervensi dengan akupresur mampu
tidak memperlihatkan perubahan yang membantu responden meningkatkan skor
signifikan diperlihatkan pada fungsi duduk fungsi motorik klien pasca stroke. Perbedaan
ke berdiri dan fungsi lengan atas. Kedua skore yang dicapai menggambarkan
aktivitas tersebut mendapatkan nilai p= 0,15 intervensi berhasil menstimulasi pembuluh
> 0,05. Kemajuan yang signifikan darah, system persarafan terkait untuk
tergambarkan pada kemampuan berjalan kembali melakukan fungsinya lebih baik dari
(p=0,00), pergerakan tangan (p=0,02), dan yang sebelumnya. Keluhan yang dirasakan
aktifitas tangan lanjutan (0,03). Seluruh responden seperti sering pegal pegal, kaku
kemajuan nilai yang didapat memperlihatkan dan nyeri pada tangan dan kaki serta sering
nilai significant. merasa kesemutan juga berkurang setelah
diterapi dengan akupresur berkurang. kemampuan: berjalan (p=0,00), Pergerakan
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tangan (p= 0,02), dan aktivitas tangan
akupresure mampu melancarkan peredaran lanjutan (p= 0,003) sedangkan pada
darah serta memberikan relaksasi pada pasca kemampuan fungsi lainnya fungsi yaitu
stroke, sesuai dengan ungkapan Sukanta duduk ke berdiri dan fungsi lengan atas tidak
(2008) yang meyakini bahwa akupresur signifikan (p= 0,15). Namun penelitian ini
dapat menurunkan tekanan darah, serta dapat memperlihatkan perubahan score bila
mengurangi ketegangan, meningkatkan dibandingkan dengan hasil 2 minggu awal
sirkulasi. Setelah sirkulasi darah meningkat yang tidak mengalami perubahan, yang
akan memperbaiki abnormalitas skeletal menunjukkan perbaikan fungsi sel. Pada
setelah skeletal mengalami perbaikan maka kemampuan terlentang lalu berbaring,
gerak motorik dan fungsinya akan terlentang lalu duduk, duduk seimbang dan
mengalami peningkatan. duduk lalu berdiri tidak signifikan bermakna
Bukti penelitian inipun mendukung (p = 1,00), karena kondisi responden rata-
keyakinan yang telah dibuktikan oleh Kang rata sudah dalam kemampuan fungsi motorik
& Kang (2009) di Korea, Yue et al. (2013) yang optimal.
di Cina, dan Yeung & Chan (2014) pada 73 Berdasarkan dari hasil penelitian ini,
klien pasca stroke. disarankan akupresur ini dapat dipelajari
Akupresur merupakan terapi dengan prinsip oleh perawat komunitas sebagai terapi
healing touch yang lebih menunjukan
komplementer untuk membantu klien pasca
prilaku caring pada responden, sehingga
dapat memberikan perasaan tenang, nyaman, stroke yang mengalami gangguan motorik di
perasaan yang lebih diperhatikan yang dapat rumah. Hasil penelitian ini dapat dijadikan
mendekatkan hubungan terapeutik antara data dasar atau bahan pertimbangan untuk
peneliti dan responden (Umbreit. A.W, penelitian lebih lanjut. serial atau cohort
2006). Sebagian besar responden yang menguji pengaruh akupresur terhadap
mengatakan bahwa dengan terapi akupresur peningkatan fungsi lainya pada klien pasca
mereka merasa lebih diperhatikan, merasa
stroke.
tenang, nyaman dan rileks.
Perasaan nyaman, tenang dan rileks pada REFERENSI
klien stroke tersebut merupakan pengaruh Agustina,H., Priambodo, A., Somantri, I.
dari akupresur. Adanya stimulasi sel saraf (2009). Kajian Kebutuhan perawatan di
sensorik disekitar titik akupresur akan Rumah Bagi klien dengan stroke Di Rumah
diteruskan ke medula spinalis yang akan sakit Daerah Cianjur. Retrieved from
berpengaruh ke gerak motorik, kemudian ke pustaka.unpad.ac.id.
mesensefalon dan komplek pituitari Handoko, P. (2008). Pengobatan Alternatif
hipothalamus yang ketiganya diaktifkan (pp. 37–45). Jakarta: PT Aex Media
untuk melepaskan hormon endorfin yang Computindo.
dapat memberikan rasa tenang (Saputra, & Kang, H., Sok, S., & Kang, J. (2009).
Sudirman, 2009) Effects of Meridian acupressure for stroke
Hasil penelitian ini juga mendukung patients in Korea. Journal of Clinical
berbagai hasil penelitian sebelumnya yang Nursing, 18(15), 2145–52.
digambarkan oleh Weiss, (2006). Kemenkes RI. (2013). Penyajian Pokok-
PENUTUP Pokok Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013.
Berdasarkan hasil penelitian dan Kementrian Kesehatan RI.
pembahasan tentang pengaruh akupresur Kemenkes RI. (2013). Penyajian Pokok-
terhadap fungsi motorik pada klien pasca Pokok Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013.
stroke dapat di tarik simpulan sebagai Kementrian Kesehatan RI.
berikut: Pengaruh akupresur terhadap fungsi Krug, G & McCormack, G. (2009).
motorik pretest dan posttest pada klien Occupational Therapy : Evidence-Based
pasca stroke pada kelompok yang mendapat Interventions for Stroke, (April), 145–149.
perlakuan bermakna pada tiga kemampuan
Legg, L., Drummond, A., Leonardi-Bee, J.,
Gladman, J. R. F., Corr, S., Donkervoort,
M., … Langhorne, P. (2007). Occupational
therapy for patients with problems in
personal activities of daily living after
stroke: systematic review of randomised
trials. BMJ (Clinical Research Ed.),
335(7626), 922.
doi:10.1136/bmj.39343.466863.55
Logan, Catherine Sackley, Marion Walker and
Peter Langhorne, Mireille Donkervoort, Judi
Edmans, Louise Gilbertson, Lyn Jongbloed,
Pip, Lynn Legg, Avril Drummond, Jo
Leonardi-Bee, J R F Gladman, Susan Corr.
(2007). Occupational therapy for patients with
problems in personal activities of daily living
after stroke: systematic review of randomised
trials. BMJ 2007;335;922-; originally
published online 27 Sep 2007.

Sabari, J. S., Woodbury, M., & Velozo, C. a.


(2014). Rasch analysis of a new hierarchical
scoring system for evaluating hand function on
the motor assessment scale for stroke. Stroke
Research and Treatment. 2014, 730298.
doi:10.1155/2014/730298

Saputra, K., Sudirman, S. 2009. Akupunktur


Untuk Nyeri Dengan Pendekatan Neurosain.
Jakarta: Sagung Seto

Sukanta, P. O. (2008). Pijat akupresur untuk


kesehatan (edisi 1.). Jakarta.
Taylor CR., Lilis C, LeMone P & Liynn P.
(2011). Fundamental of Nursing The Art and
Science. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
The Online School of Chi Energy. (2012).
AcuPressure Points. USA.
Umbreit.A.W. (2006). Complementary /
Alternative Therapies in Nursing. (R. Lindquist.
5th ed., p. 255). New york.
Jurnal 2

Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 17, No. 3, November 2014, hal 81-87
pISSN 1410-4490, eISSN 2354-9203

AKUPRESUR UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT DAN RENTANG


GERAK EKSTREMITAS ATAS PADA PASIEN STROKE

Muhamad Adam1*, Elly Nurachmah1, Agung Waluyo1


1. Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
Abstrak
Penurunan fungsi ekstremitas atas merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien
pasca stroke yang mengalami hemiplegia sebagai akibat dari kelemahan dan keterbatasan
rentang gerak sendi pada bahu. Akupresur bermanfaat dalam memperbaiki fungsi ektremitas
atas dengan melancarkan pergerakan aliran qi (energi vital) di dalam tubuh namun belum
banyak penelitian yang mengkaji pengaruh akupresur untuk meningkatkan kekuatan otot dan
rentang gerak ekstremitas atas pada pasien pasca stroke. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi pengaruh akupresur terhadap kekuatan otot dan tentang gerak ekstremitas
atas pada pasien stroke pasca rawat inap. Penelitian ini menggunakan quasi-experimental
design dengan pendekatan pre-post test design pada 34 responden (n kontrol= n intervensi=
17). Kelompok intervensi diberi akupresur setiap hari 10 menit selama tujuh hari. Hasil
penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada kekuatan otot dan rentang
gerak ekstremitas atas antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p= 0,001 dan p=
0,000; α= 0,05). Akupresur merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kekuatan
otot dan rentang gerak pada pasien pasca stroke yang mengalami hemiparesis. Rekomendasi
pada penelitian ini adalah diperlukan adanya perawat yang menguasai akupresur dan
memodifikasi standar asuhan keperawatan dengan memasukkan terapi komplementer
akupresur dalam asuhan keperawatan pasien stroke yang mengalami kelemahan dan
keterbatasan rentang gerak ekstremitas atas.

Kata kunci: akupresur, ekstremitas atas, hemiparesis, kekuatan otot, rentang gerak, stroke

Abstract
Acupressure to Improve Muscle Strength and Range of Motion of Upper Extremity in
Stroke Patients. Decrease in upper extremity function is a frequent complication in patients
who experience post-stroke hemiparesis as a result of the weaknesses and limitations of
range of motion in the shoulder. Acupressure is useful in improving the function of upper
extremity by launching a movement of the flow of qi (vital energy) in the body but not much
research that examines the effect of acupressure to improve muscle strength and range of
motion of upper extremity in post stroke patients. This study aimed to identify the effect of
acupressure on muscle strength and range of motion of upper extremity in stroke patients
after hospitalization. This study is a quasi-experimental design with pre-post test approach in
34 respondents (n control = n intervention = 17). Acupressure group were given 10 minutes
per time each day for 7 days. There are significant differences in muscle strength and range
of motion of upper extremity between the intervention group and control group (p = 0,001
and p = 0,000; α = 0,05). Acupressure is an effective intervention to improve muscle strength
and range of motion in patients who experience post-stroke hemiparesis. Recommendations
from this finding that nurses need to competent to provide acupressure and modify the
standard of nursing care by include acupressure therapy into nursing care of stroke patients
who experience upper extremity weakness and range of motion limitations.

Keywords: acupressure, upper extremity, hemiparesis, muscle strength, range of motion,


stroke

Pendahuluan kesehatan sebesar 7,0 per mil dan


Stroke atau cerebrovascular accident berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan
disebabkan oleh putusnya aliran darah ke atau gejala sebesar 12,1 per mil. Sebanyak
otak atau oleh karena pecahnya pembuluh 57,9 persen penyakit stroke telah
darah di otak yang dapat mengakibatkan terdiagnosis. Stroke secara jelas dapat
gangguan muskuloskeletal yang berdampak pada penu-runan fungsi
berkontribusi berupa kelemahan otot pada ekstremitas atas berupa kehilangan kontrol
sisi kontralateral dengan lesi di otak (Eng, ektremitas atas yang dapat menurunkan
2004). kekuatan otot dan rentang gerak serta
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar merupakan komplikasi yang yang paling
2013 (Kementrian Kesehatan RI, 2013), sering terjadi, yaitu sebanyak 88% pasien
stroke meru-pakan penyebab kematian pasca stroke (AHA, 2007; Zeferino &
utama di Indonesia. Prevalensi stroke di Aycock, 2010; Borisova & Bohannon,
Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga 2009).

Komplikasi ini dapat berlangsung lama keperawatan dalam Nursing Intervention


dan akan memengaruhi kualitas hidup Classifications (Dochterment &
pasien dan keluarganya karena fungsi Bulecheck, 2004).
ekstremitas atas me-rupakan hal yang Akupresur merupakan metode non-invasif
fundamental dalam melakukan aktivitas berupa penekanan pada titik akupunktur
sehari-hari (Opara, & Jaracz, 2010). Oleh tanpa meng-gunakan jarum, biasanya
karena itu, perlu penanganan yang lebih hanya menggunakan jari atau benda
komprehensif. tertentu yang dapat memberikan efek
Ada beberapa terapi yang dapat penekanan sehingga lebih bisa diterima
dimanfaatkan oleh pasien pasca stroke dan ditoleransi oleh pasien dibandingkan
seperti latihan lengan dan pemberian posisi akupunktur yang menggunakan jarum
(Desroiers et al, 2005; & Yelena & (Alkaissi, Stalnert,& Kalman, 2002; Black
Bohannon, 2009). Terapi akupresur & Hawk, 2009; Lemone & Burke, 2008; &
terutama meridian acupressure terbukti Ming et al., 2002).
merupa-kan intervensi yang efektif untuk Akupresur bermanfaat dalam memperbaiki
memperbaiki pergerakan ektremitas atas, fungsi ektremitas atas melalui efeknya
meningkatkan aktivitas sehari-hari, dan untuk melancar-kan pergerakan aliran qi
mengurangi depresi pada pasien strike (energi vital) di dalam tubuh (Sebastian,
hemiplegia stroke di Korea (Kang, Sok, & 2009). Titik-titik akupunktur terkait fungsi
Kang, 2009). Penelitian tersebut menguji ekstremitas atas (Gambar 1)
terapi akupresur 10 menit setiap hari
dalam waktu dua pecan. Akupresur adalah
intervensi yang dapat dilakukan oleh
perawat dan telah diakui sebagai tindakan
Pengambilan sampel dilakukan dengan
metode consecutive sampling yaitu pasien
yang datang dan telah menjalani perawatan
di RSUP Fatmawati serta memenuhi
kriteria dimasukkan sebagai subyek
penelitian.
Sampel terbagi menjadi 2 kelompok yaitu
ke-lompok intervensi dan kelompok
kontrol yang masing-masing berjumlah 17
orang. Penetapan kelompok intervensi dan
kontrol dilakukan dengan penomoran
Gambar 1. Titik Akupresur Fungsi berdasarkan urutan pasca perawatan. Jika
Ektremitas Atas (Sumber: Shin & Lee, bernomor genap masuk ke kelompok
2007) intervensi dan jika bernomor ganjil masuk
terdapat pada area skapula, yaitu Large ke kelompok kontrol.
Intestine 15, Small Intestine 9, Triple Intervensi dilakukan dengan memberikan
Energizer 14, Gallbladder 21, Small aku-presur 10 menit pada keenam titik
Intestine 11 dan Small Intestine 12. (Sin & akupunktur di regio skapula (lihat Gambar
Lee, 2007). 1), sekali sehari selama tujuh hari di rumah
Meskipun, manfaat akupresur telah diuji responden, sedangkan kelompok kontrol
pada penelitian di Korea, pada populasi di tidak diberi akupresur. Data yang
Indonesia perlu dilakukan penelitian dikumpulkan terdiri atas karakteristik,
kembali dengan metode yang lebih kekuatan otot, dan rentang gerak
singkat, yaitu selama tujuh hari. Penelitian ekstremitas atas.
ini bertujuan untuk mengiden-tifikasi Karaktersitik responden, yang meliputi
pengaruh akupresur terhadap kekuatan otot usia, jenis kelamin, tipe stroke, frekuensi
dan tentang gerak ekstremitas atas pada stroke dan admission time (waktu yang
pasien stroke pasca rawat inap. dibutuhkan ke rumah sakit sejak
mendapatkan serangan stroke).
Metode Kekuatan otot ekstremitas, diukur dengan
Penelitian ini menggunakan metode kuasi me-minta responden mengangkat
eks-perimental dengan pendekatan control ekstremitas atasnya yang mengalami
groups pretest-post test design yang hemiparesis dan dinilai dengan
melibatkan 34 pasien stroke pasca rawat menggunakan Medical Research Council
inap. Kriteria inklusi responden, antara Scale yang terdiri dari 6 tingkat, mulai dari
lain terdiagnosis stroke baik hemoragik 0 (tidak ada kontraksi) sampai 5 (kekuatan
maupun non-hemoragik, mengalami normal).
hemiparesis dengan kekuatan otot 1-3 baik Rentang gerak ekstremitas atas, diukur
kiri maupun kanan, kesadaran kompos dengan menggunakan goniometer pada 5
mentis dan bersedia mengikuti penelitian. gerakan dasar sendi ekstremitas atas yaitu
Sedangkan kriteria eksklusi dari penelitian rotasi eksterna bahu: 90º, fleksi bahu:
ini yaitu tanda-tanda vital tidak stabil, 180º, abduksi bahu: 180°, ekstensi siku:
pasien dalam fase akut (kurang dari 7 hari 180º dan supinasi lengan: 90º. Hasil
onset serangan) dan kontraindikasi pengu-kuran berupa rerata dari kelima
akupresur (kulit terluka, bengkak, fraktur, persentasi gerakan maksimum yang
myalgia). dilakukan pada setiap rentang gerak.
Pengukuran kekuatan otot dan rentang
gerak ekstremitas atas dilakukan dua kali,
sebelum dan sesudah diberikan intervensi.
Analisis data dilakukan dengan bantuan Uji Homogenitas. Hasil analisis yang
program komputer. Uji homogenitas antara terlihat pada Tabel 3 menunjukkan bahwa
kelompok intervensi dan kontrol antara ke-lompok intervensi dan kelompok
menggunakan uji chi-square untuk data kontrol tidak memiliki perbedaan rerata
jenis kelamin, tipe stroke, frekuensi stroke usia yang bermakna atau rerata usia
dan admission time, serta uji t independent setara/homogen antara kelompok
untuk usia. Perbedaan kekuatan otot antara intervensi dan kontrol (p>0,05).
kelompok intervensi dan kontrol dinilai
dengan meng-gunakan uji Wilcoxon dan Tabel 1. Hasil Analisis Usia Responden di RSUP
untuk perbedaan rentang gerak Fatmawati Jakarta Meni-Juni 2011 (n=34)
menggunakan uji t independent. Variabel Kelompok n Mean SD Min -
Penelitian dilaksanakan stelah memperoleh Mak
ijin lolos etik dari Fakultas Ilmu Usia Intervensi 17 62,53 14,4 26-85
Keperawatan Universitas Indonesia dan 5
surat ijin penelitian dari sebuah RSU Kontrol 17 63,88 11,07 39-85
tempat penelitian di Jakarta. Selama Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan
kegiatan penelitian, nama responden tidak bahwa antara kelompok intervensi dan
digunakan namun hanya menggunakan kelompok kontrol tidak memiliki perbedaan
yang bermakna ber-dasarkan jenis kelamin,
nomor
tipe stroke, frekuensi stroke dan admission
responden. Pasien dan keluarga telah
time (p>0,05).
diberikan informasi tentang tujuan
Hasil analisis menunjukkan rerata rentang
penelitian, prosedur penelitian dan hak-hak gerak ekstremitas atas antara kelompok
responden termasuk hak untuk intervensi dan kontrol sebelum dilakukan
mengundurkan diri dari penelitian intervensi hampir sama. Analisis lebih lanjut
kapanpun diinginkan jika merasakan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
ketidaknyamanan. rentang gerak yang ber-makna antara
kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Hasil sebelum dilakukan akupresur (p>0,05).
Karakteristik Responden. Rerata usia Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat
responden antara kelompok intervensi dan per-bedaan yang signifikan kondisi kekuatan
kelompok kontrol hampir sama. Rerata otot ekstremitas atas pada kelompok
usia pada kelompok kontrol sebesar 62,53 intervensi dan kontrol (p>0,05). Dengan kata
tahun sedangkan pada kelompok kontrol lain, kekuatan otot ekstremitas atas sebelum
sebesar 63,88 tahun (Tabel 1). dilakukan aku-
Proporsi perempuan lebih banyak
dibandingkan laki-laki baik pada
kelompok intervensi maupun kontrol.
Proporsi stroke non-hemoragik lebih
banyak dibandingkan dengan stroke
hemoragik baik pada kelompok intervensi
maupun kelom-pok kontrol. Stroke yang
diderita responden hampir seluruhnya
adalah serangan pertama dan mayoritas
responden tiba di rumah sakit lebih dari 6
jam setelah mengalami serangan baik pada
kelompok intervensi maupun kelompok
kontrol (Tabel 2).
Tabel 2. Jenis Kelamin, Tipe Stroke, Frekuensi Stroke dan Admission Time

Variabel Intervensi Kontrol


(n=17) (n=17)
n % n %
Jenis Kelamin 8 47,1 7 41,2
a. Laki-laki 9 52,9 10 58,8
b. Perempuan 17 100,0 17 100,0

Total
Tipe Stroke 14 82,6 15 88,2
a. Non Hemoragik 3 17,6 2 11,8
b. Hemoragik 17 100,0 17 100,0

Total
Frekuensi Stroke 15 88,2 16 94,1
a. Serangan I 2 11,8 1 5,9
b. Serangan II & Seterusnya 17 100,0 17 100,0

Total
Admission Time 2 11,8 1 5,9
a. 6 jam 15 88,2 16 94,1
b. >6 jam 17 100,0 17 100,0

Total
Perbandingan Rentang Gerak Ekstremitas Atas Setelah Akupresur pada Kelompok Intervensi dan
Kontrol

Variabel n Mean SD t p value


Rentang Gerak 17 84,80 5,66 5,41 0,000*
Intervensi 17 76,86 2,17
Kontrol

Hasil analisis pada Tabel 8 menunjukkan rerata rentang gerak pada kelompok intervensi lebih
besar jika dibandingkan dengan rerata rentang gerak pada kelompok kontrol setelah dilakukan
akupresur. Rerata rentang gerak pada kelompok intervensi setelah dilakukan akupresur sebesar
84,80 dengan standar deviasi 5,66; sedangkan rerata rentang gerak pada kelompok kontrol setelah
dilakukan intervensi sebesar 76,86 dengan standar deviasi 2,17. Analisis lebih lanjut
menunjukkan adanya perbedaan rerata rentang gerak yang bermakna antara kelompok intervensi
dan kelompok kontrol setelah dilaku-kan akupresur (p < 0,05; α 0,05).
Pembahasan
Kekuatan Otot Ekstremitas Atas. Rerata ke-kuatan otot ektremitas atas setelah akupresur pada
kelompok intervensi lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian ini
telah menunjukkan bahwa akupresur yang dilakukan dapat meningkatkan skor kekuatan otot
ekstremitas atas pada responden yang mengalami kelemahan kekuatan otot akibat stroke
hemiparetik.
Akupresur pada titik akupresur yang berada di atas regio skapula dapat meningkatkan kekuatan
otot ekstremitas atas secara bermakna pada pasien pasca stroke. Sebagaimana dikemukakan Shin
dan Lee (2007) bahwa titik akupresur yang berada pada regio skapula memiliki hubungan yang
sangat erat dengan titik trigger untuk memperbaiki fungsi ekstremitas atas. Titik trigger
merupakan titik sensitif yang bila ditekan akan menimbulkan nyeri pada tempat yang jauh dari
titik tersebut, dimana titik ini merupakan degenerasi lokal di dalam jaringan otot yang
diakibatkan oleh spasme otot, trauma, ketidakseimbangan endokrin dan ketidakseim-bangan otot.
Titik trigger dapat ditemukan pada otot rangka dan tendon, ligamen, kapsul sendi, periosteum
dan kulit. Otot yang normal tidak mempunyai titik trigger.
Rentang Gerak Ekstremitas Atas. Rerata rentang gerak ektremitas atas setelah dilakukan
akupresur pada kelompok intervensi lebih tinggi diban-dingkan dengan kelompok kontrol.
Akupresur yang dilakukan dapat meningkatkan skor rentang pada responden yang mengalami
keterbatasan rentang gerak akibat stroke hemiparetik.
Kang, et al., (2009) mengemukakan bahwa pemberian akupresur pada titik meridian dapat
memperbaiki sirkulasi qi dan darah dalam tubuh, sehingga akan merelaksasikan otot yang
mengeras dan merangsang perbaikan alamiah pada abnormalitas skeletal dan rentang gerak dapat
meningkat.
Selain itu, dikemukakan pula bahwa pemberian terapi akupresur akan mengharmonisasikan aliran
qi dan darah sehingga akan merelaksasikan spasme dan meredakan nyeri pada sendi karena
menstimulasi pelepasan endorphin (East-West Nursing Research Association, 2001; Kang et al.,
2009).
Ditemukan adanya kecenderungan penurunan rentang gerak pada kelompok kontrol dari 77%
turun menjadi 76,9% dalam waktu 1 pekan teru-tama pada gerakan sendi bahu rotasi ekstrena
bahu dan abduksi bahu karena secara fisiologis pada pasien yang mengalami hemiparesis akan
mengalami penurunan rentang gerak, khususnya pada persendian bahu jika tidak diberikan terapi.
Borisova & Bohannon (2009) berpendapat bahwa sendi bahu pasien pada sisi tubuh yang menga-
lami kelumpuhan akan mengalami keterbatasan rentang gerak terutama keterbatasan pada rotasi
eksternal bahu pada sisi tubuh yang lumpuh. Kerusakan rentang gerak akan terjadi segera setelah
serangan stroke dan semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Penjelasan logis untuk
penurunan rentang gerak yang progresif ini telah diobservasi sangat memengaruhi keterbatasan
sendi secara signifikan.
Kesimpulan
Hasil penelitian ini telah dapat menjawab tujuan penelitian, yaitu mengidentifikasi pengaruh
akupresur terhadap kekuatan otot dan tentang gerak ekstremitas atas pada pasien stroke pasca
rawat inap. Penelitian ini memberikan bukti bahwa akupresur dapat meningkatkan kekuatan otot
dan rentang gerak ekstremitas atas. Oleh karena itu, terapi akupresur perlu diterapkan sebagai
salah satu intervensi keperawatan terutama pada pasien stroke.
Diperlukan sumber daya perawat yang memiliki kompetensi dalam memberikan terapi akupresur
sehingga terapi komplementer ini dapat diapli-kasikan kepada pasien stroke yang mengalami
kelemahan otot dan keterbatasan rentang gerak pada ekstremitas atasnya baik di rumah sakit
maupun rawat jalan.
Hasil penelitian ini dapat berkontribusi dalam memberlakukan SOP (Standar Operasional Pro-
sedur) yang komprehensif yang memungkinkan perawat memberikan asuhan keperawatan dengan
tindakan mandiri berupa akupresur ini.
Walaupun terapi akupresur pada penelitian ini terbukti efektif, terapi akupresur tidak dimak-
sudkan sebagai terapi pengganti pengobatan konvensional tetapi sebagai terapi pelengkap atau
komplementer bagi terapi lainnya yang memiliki tujuan yang sama dalam meningkatkan kekuatan
otot dan rentang gerak ekstremitas atas.
Pembuktian efektifitas akupresur dalam pene-litian ini menjadi salah satu evidence based
practice yang akan semakin memperkuat dukungan teoritis bagi perkembangan terapi
komplementer dalam ilmu keperawatan medikal bedah, sehingga dapat dijadikan sebagai materi
dalam pembelajaran keperawatan medikal bedah.
Keterbatasan penelitian ini adalah tidak menguji adanya faktor lain yang mungkin juga me-
mengaruhi kekuatan otot dan rentang gerak ekstremitas atas pada pasien stroke. Penelitian ini
juga hanya mengambil sampel pasien stroke di rumah sakit ketika rawat inap, tidak kepada pasien
pada masa rehabilitasi setelah dipulangkan.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan tentang pengaruh akupresur terhadap
kekuatan otot dan rentang gerak ekstremitas atas pada pasien pasca stroke. Hasil penelitian ini
juga dapat memberikan pengetahuan baru bagi penelitian keperawatan dan dapat menjadi rujukan
untuk penelitian selanjutnya (JH, AW)
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit Umum tempat penelitian ber-
langsung dan para responden atas kerjasama dan dukungannya.

Referensi
Alkaissi, A., Stalnert, M., & Kalman, S. (2002). Effect and placebo effect of acupressure (P6) on
nausea and vomiting after outpatient gynaecological surgery. Acta Anaestheseologica Scandinavia,
43, 3, 270-274.
American Heart Association. (2007). Let’s talk about complication after stroke. Mei 2, 2011.
http://www. strokeassociation.org/idc/groups/ stroke.
Black, J. M., & Hawk, J. H. (2009). Medical surgical nursing: clinical management for positive
outcomes (Vol 2, 8th Ed.). St. Louis: Saunders Elsevier. Adam, et al., Akupresur untuk Meningkatkan
Kekuatan Otot 87
Jurnal 3

EFEK KOMBINASI ANTARA MASASE FRIRAGE DAN


AKUPRESUR
TERHADAP KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS ATAS PASIEN
PASCA STROKE ISKEMIK
Zaenal Amirudin*, Tri Anonim, Rosmiati Saleh
Prodi : Keperawatan Pekalongan Poltekkes Kemenkes Semarang
Jl. Perintis Kemerdekaan Pekalongan (0285) 421642,
Korespondensi : zaenalamirudin@gmail.com

ABSTRACT
Stroke patients after an attack will leave the main problem of losing voluntary control of motor
movements. This will result in muscle weakness in the upper extremities, thus disrupting
independence in carrying out daily functional tasks. The aim of the study was generally to examine
the effect of a combination of frirage and acupressure massage on the muscle strength of the
extremities in post-ischemic stroke patients. This research is quasi experimental with nonequivalent
control group design. A total of 22 respondents were recruited by consecutive sampling, consisting of
11 treatment group respondents and 11 control group respondents. Based on the Kolmogorov-
Smirnov test, muscle strength data were found to be abnormally distributed, so as to compare muscle
strength before and after intervention using the Wilcoxon test in both the intervention group and the
control group. Whereas to compare the increase in muscle strength between the treatment group and
the control group using the Mann-Whitney test. The results of the study proved that there were
significant differences in effectiveness before and after frirage and acupressure massage in the
treatment group (p <0.05; ɑ = 0.002). There was a significant difference in the effectiveness of the
control group before and after being given acupressure intervention (p <0.05; ɑ = 0.002). Upper limb
muscle strength in the treatment group was greater when compared to the control group with (p <0.05,
ɑ = 0.05).
Keywords: Post ischemic stroke, massage frirage, acupressure, upper limb muscle strength

ABSTRAK
Pasien stroke pasca serangan akan meninggalkan masalah utama berupa hilangnya kontrol volunter
terhadap pergerakan motorik. Hal tersebut akan berkibat terjadinya kelemahan otot pada
ekstremitasatas, sehingga mengganggu kemandirian dalam melaksanakan tugas-tugas fungsional
sehari-hari.
Tujuan penelitian secara umum untuk menguji efek kombinasi masase frirage dan akupresur
terhadap
kekuatan otot ekstremitas atas pasien pasca stroke iskemik. Penelitian ini merupakan quasi
experimental dengan nonequivalent control group design. Sebanyak 22 responden
direkrut dengan
cara consecutive sampling, terdiri atas 11 responden kelompok perlakuan dan 11 responden
kelompok
kontrol. Berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov, didapat data kekuatan otot berdistribusi tidak normal,
sehingga untuk membandingkan kekuatan otot sebelum dan setelah intervensi menggunakan uji
Wilcoxon pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Sedangkan untuk membandingkan
peningkaan kekuatan otot antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menggunakan uji Mann-
Whitney. Hasil penelitian membuktikan terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna sebelum dan
setelah dilakukan masase frirage dan akupresur pada kelompok perlakuan (p<0,05; ɑ=0,002).
Terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna kelompok kontrol sebelum dan setelah diberikan
intervensi akupresur (p<0,05; ɑ=0,002). Kekuatan otot ekstremitas atas pada kelompok perlakuan
lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan (p < 0,05, ɑ=0,05).
Kata Kunci: Pasca stroke iskemik, Masase frirage, Akupresur, Kekuatan otot ekstremitas
atas

1. PENDAHULUAN
Pasien stroke pasca serangan akan meninggalkan masalah utama berupa hilangnyakontrol
volunter terhadap pergerakan motorik. Hemiplegia atau kelumpuhan satu sisitubuh
merupakan kelainan yang paling sering terjadi akibat adanya lesi pada sisi yangberlawanan
dari otak. Hemiparesis atau kelemahan dari satu sisi tubuh, merupakan tandalainnya yang
bisa ditemukan pada pasien stroke.
Lebih dari 50% pasien stroke mengalami defisit motorik (Duncan et al, (1992) dalam Adam
(2011). Rehabilitasi pada stroke difokuskan pada aspek plastisitas otak, sehingga
pemahaman tentang mekanisme pemulihan motorik memiliki implikasi yang penting
terhadap rehabilitasi stroke, sebab dapat menyediakan dasar untuk merancang strategi
rehabilitasi yang ilmiah pada pasien yang mengalami hemiparesis. Akupresur dan masase
frirage merupakan contoh pengobatan komplementer yang sudah diakui secara medis dan
organisasi kesehatan dunia (WHO). Kedua terapi ini apabila dikombinasikan, diharapkan
akan mendapatkan hasil yang lebih baik terhadap pemulihan kekuatan otot ekstremitas atas
pasien pasca stroke iskemik. Manusia sehat pada dasarnya memiliki unsur Yin dan Yang
yang relatif seimbang, jika salah satu dominan maka kesehatan terganggu atau tidak sehat.
Akupresur bertujuan untuk menyeimbangkan Yin dan Yang (Cheung, Li, & Wong, 2001;
Loupatty et al, 1996 dalam Sukanta, 2008). Akupresur adalah teknik pijatan yang
menggunakan jari, tangan atau alat bantu seperti kayu yang dilakukan pada titik-titik
meridian. Loupatty et al (1996) dalam Sukanta (2008) mengemukakan bahwa pemberian
terapi akupresur dengan pemijatan ditujukan untuk mengembalikan keseimbangan yang ada
di dalam tubuh, dengan memberikan rangsangan agar aliran energi kehidupan dapat mengalir
dengan lancar. Titik Akupunktur (akupresur) merupakan tempat terpusatnya energi vital (qi)
sekaligus merupakan tempat untuk melakukan penekanan sehingga tercapai keseimbangan
yin yang dalam tubuh. Terdapat enam titik akupresur di atas regio skapula, yaitu: Large
Intestine (LI) 15, Small Intestine (SI) 9, Tripel Energizer (TE) 14, Gallbladder
(GB) 21, Small Intestine (SI) 11, Small Intestine (SI) 12 (Alamsyah, 2010). Masase
frirage merupakan gabungan teknik masase atau manipulasi dari friction (gerusan) dan
efflurage (gosokan) yang dilakukan secara bersamaan dalam melakukan pijatan. Terapi
masase frirage bertujuan untuk pencegahan dan perawatan tubuh supaya tetap bugar dan
sehat, selain dari berolahraga dan perawatan medis (Ali Satia Graha dan Bambang
Priyonoadi, 2009). Masase bertujuan untuk merilekskan otot-otot yang tegang,
melancarkan peredaran darah, dan limfe. Otot yang tidak rileks akan mengganggu peredaran
darah, pembuluh limfe, dan persarafan. Bisa jadi pembuluh darah tertekan atau saraf-saraf
terjepit. Akibatnya, peredaran darah menjadi kurang lancar dan saraf menjadi kurang sensitif.

2. TUJUAN PENELITIAN
Secara umum tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi antara masase
frirage dan akupesur terhadap kekuatan otot ekstremitas atas pasien pasca stroke iskemik.
Sedangkan tujuan khusus, meliputi: 2.1 Mendeskripsikan pengaruh kekuatan otot ekstremitas
atas pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi akupresur dan
masase frirage, 2.2. Mendekripsikan pengaruh kekuatan otot ekstremitas atas pada
kelompok kontrol sebelum dan sesudah dilakukan akupresur, 2.3 Menganalisis perbedaan
pengaruh kekuatan otot ekstremitas atas pada kelompok perlakuan yang diberikan intervensi
akupresur dan masase frirege dengan kelompok kontrol yang hanya diberikan akupresur.

3. RUMUSAN MASALAH
Kerusakan fungsi motorik menjadi salah satu efek sisa yang paling serius pada pasien stroke.
Lebih dari 50% pasien stroke mengalami defisit motorik (Duncan et al, (1992) dalam Adam
(2011). Rehabilitasi pada stroke difokuskan pada aspek plastisitas otak, sehingga
pemahaman tentang mekanisme pemulihan motorik memiliki implikasi yang penting
terhadap rehabilitasi stroke karena dapat menyediakan dasar untuk merancang strategi
rehabilitasi yang ilmiah pada pasien yang mengalami hemiparesis. Oleh sebab itu perlu
penanganan yang memadahi dengan perencanaan yang tepat untuk dapat mengatasi masalah
kelemahan otot yang dapat mempengaruhi tugas fungsional sehari-hari. Akupresur dan
masase frirage merupakan pengobatan komplementer yang diyakini dapat mencegah dan
memulihkan kesehatan, serta sudah diakui oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Bertolak
dari permasalahn tersebut, maka dapat rumusan masalah yang diajukan adalah
”Bagaimanakah efek akupresur dan masase frirage terhadap kekuatan otot ekstremitas
atas pasien pasca stroke iskemik”.

4. HIPOTESA
4.1. Terdapat pengaruh kekuatan otot ekstremitas atas pada kelompok perlakuan sebelum dan
sesudah dilakukan intervensi akupresur dan masase frirage
4.2. Terdapat pengaruh kekuatan otot ekstremitas atas pada kelompok kontrol sebelum dan
sesudah dilakukan akupresur
4.3. Terdapat perbedaan pengaruh kekuatan otot ekstremitas atas pada kelompok perlakuan
yang diberikan intervensi akupresur dan masase frirege dengan kelompok kontrol yang
hanya diberikan akupresur

5. TINJAUAN PUSTAKA
5.1. Konsep Stroke
Stroke merupakan gangguan peredaran darah di otak yang mengakibatkan fungsi otak
terganggu dan bila berat dapat menyebabkan kematian sebagian sel-sel otak atau infark
(Lumbantobing, 2007). Gangguan aliran darah tersebut disebabkan oleh penyumbatan
pembuluh darah baik oleh trombus, emboli, stenosis maupun spasme pembuluh darah dan
perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah. Stroke dapat dibagi dua karena adanya
sumbatan pada arteri yang disebut dengan stroke iskemik dan pecahnya pembuluh darah
arteri disebut juga dengan stroke perdarahan. Smith et al, (2001) stroke iskemik terjadi karena
adanya obstruksi atau bekuan di satu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum.
Obstruksi dapat disebabkan oleh bekuan (trombus) yang terbentuk di dalam suatu pembuluh
otak atau pembuluh organ distal. Pada trombus vaskular distal bekuan dapat terlepas, atau
mungkin terbentuk di dalam suatu organ seperti jantung, dan kemudian dibawa melalui
sistem arteri ke otak sebagai suatu embolus. Terdapat beragam penyebab stroke trombotik
dan embolik primer, termasuk aterosklerosis, arteritis, keadaan hiperkoagulasi, dan penyakit
jantung struktural. Namun, trombosis yang menjadi penyulit aterosklerosis merupakan
penyebab pada sebagian besar kasus stroke trombotik, dan embolus dari pembuluh besar atau
jantung merupakan penyebab tersering stroke embolik (Price & Wilson, 2003). Kerusakan
fungsi motorik menjadi salah satu efek sisa yang paling serius pada pasien stroke. Lebih dari
50% pasien stroke mengalami defisit motorik (Duncan et al, 1992). Rehabilitasi pada stroke
difokuskan pada aspek plastisitas otak, sehingga pemahaman tentang mekanisme
pemulihan motorik memiliki implikasi yang penting terhadap rehabilitasi stroke karena dapat
menyediakan dasar untuk
merancang strategi rehabilitasi yang ilmiah pada pasien yang mengalami
hemiparesis.

5.2. Konsep Masase Frirage


Menurut Bambang Priyonoadi dan Ali Satia Graha (2009) menyatakan bahwa masase
frirage berasal dari kata: masase yang artinya pijatan, dan frirage yaitu gabungan teknik
masase atau manipulasi dari friction (gerusan) dan efflurage (gosokan) yang dilakukan
secara bersamaan dalam melakukan pijatan. Terapi Masase Frirage bertujuan untuk
pencegahan dan perawatan tubuh supaya tetap bugar dan sehat, selain dari berolahraga dan
perawatan medis. Selain itu, masase merupakan manipulasi yang bertujuan untuk
merilekskan otot-otot yang tegang, melancarkan peredaran darah, dan limfe. Otot yang tidak
rileks akan mengganggu peredaran darah, pembuluh limfe, dan persarafan. Bisa jadi
pembuluh darah tertekan atau saraf-saraf terjepit. Akibatnya, peredaran darah menjadi kurang
lancar dan saraf menjadi kurang sensitif.

5.3. Konsep Akupresur


Akupresur merupakan salah satu bentuk dari akupuntur dan berusia lebih tua dari akupuntur.
Akupresur adalah teknik pemijatan yang dilakukan secara periodik dan terprogram oleh
personal yang telah terdidik keterampilannya melalui suatu pelatihan yang kompeten
(Santanu, 2008). Jadi akupresur adalah teknik pijatan yang menggunakan jari, tangan atau
alat bantu seperti kayu yang dilakukan pada titik-titik meridian. Menurut Dupler (2005),
akupresur merupakan suatu terapi yang efektif baik untuk pencegahan maupun untuk terapi
berbagai macam gangguan kesehatan seperti sakit kepala, nyeri, flu, artritis, alergi, asma,
gangguan saraf, nyeri haid, masalah sinus, sakit gigi dan lain-lain. Stimulasi titik akupresur
juga dapat meningkatkan energi dan perasaan sehat, menurunkan stres, dan meredakan
disfungsi seksual. Tidak seperti akupunktur, akupresur mudah dipelajari dan dapat diberikan
dengan cepat, biaya murah dan efektif untuk mengatasi berbagai gejala. Titik Akupunktur
(akupresur) merupakan tempat terpusatnya energi vital (qi) sekaligus merupakan tempat
untuk melakukan penekanan sehingga tercapai keseimbangan yin yang dalam tubuh. Jalur
tersebut merupakan jalur energi secara fisiologis dan mungkin bisa dijelaskan dengan
berbagai pendekatan. Saputra (1996), menjelaskan bahwa titik akupunktur (acupoint)
merupakan sel aktif listrik yang mempunyai sifat tahanan listrik rendah dan konduktivitas
listrik yang tinggi sehingga titik akupunktur akan lebih cepat menghantarkan listrik
dibanding sel- sel lain. Panjalaran dari satu titik akupunktur ke titik akupunktur lainnya
melalui jalur meridian (jalur aktif listrik). Titik akupunktur dijelaskan sebagai suatu perforasi
silindris yang berbatas tegas dari fascia superfisialis, diameter 2 – 8 mm ditutup oleh jaringan
ikat dimana lewat bundel neuromuskuler, mempunyai sifat biofisik tahanan listriknya rendah
dengan potensial lebih positif (Saputra & Sudirman, 2009). Adanya ujung saraf dan
pembuluh darah yang banyak terdapat di sekitar titik akupunktur akan memperbesar respons.
Sel mast melepaskan histamin, heparin dan kinin protese yang menyebabkan vasodilatasi.
Histamin menyebabkan pelepasan nitric oxide dari endotel vaskuler yang merupakan
mediator berbagai reaksi-reaksi kardiovaskuler, neurologis, imun, digestif dan reproduksi. Sel
mast juga akan melepaskan platelet activating factor (PAF) yang kemudian diikuti
pelepasan
serotonin dari platelet. Serotonin merangsang nosiseptor sendiri dan meningkatkan respon
nosiseptor terhadap bradikinin. Bradikinin merupakan vasodilator kuat yang menyebabkan
peningkatan permeabilitas vaskuler (Saputra & Sudirman, 2009).

5.4. Konsep Kekuatan Otot


Menurut Ginsberg (2008), kekuatan otot secara klinis dapat dinilai dengan
mengklasifikasikan kemampuan pasien untuk mengkontraksikan otot volunter melawan
gravitasi dan melawanan tahanan pemeriksa. Skala yang sering dipakai adalah Medical
Research Council Scale, menggunakan rentang skor 0–5, dimana 0=tidak ada kontraksi,
1 = tampak kedutan otot dan sedikit kontraksi, 2 = gerakan aktif yang terbatas oleh gravitasi,
3 = gerakan aktif dapat melawan gravitasi, 4 = gerakan aktif dapat melawan gravitasi dan
tahanan pemeriksa dan 5 = kekuatan normal.

6. METODE
Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan nonequivalent
control group design yaitu dua kelompok dengan tes awal dan tes akhir. Sampel diambil
secara non probability sampling jenis consecutive sampling, sebanyak 22
responden, terdiri atas 11 responden kelompok perlakuan dan 11 responden kelompok
kontrol. Instrumen untuk menilai kekuatan otot menggunakan skala Medical Research
Council (MRC) dengan skala 0-5, yaitu : 0=lumpuh total; tidak ada sedikitpun
kontraksi otot; 1=terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada
persendian yang harus digerakkan oleh otot tersebut; 2=didapatkan gerakan, tetapi gerakan
ini tidak mampu melawan gaya berat (gravitasi); 3=dapat mengadakan gerakan melawan
gaya berat (gravitasi); 4=disamping dapat melawan gaya berat (gravitasi), ia dapat pula
mengatasi sedikit tahanan yang diberikan; 5 = tidak ada kelumpuhan (normal) Data
penelitian akan dianalisis dengan bantuan program komputer SPSS versi 12 dengan proses
sebagai berikut: Editing, Coding, Entry, Cleaning, dan Saving. Analysis
Univariat digunakan untuk menganalisis secara deskriptif setiap variabel penelitian dengan
membuat tabel frekuensi dan menguji normalitas data. Analisis Bivariat untuk data
berdistribusi normal menggunakan uji statistik parametik. Untuk data kekuatan otot tidak
berdistribusi normal, sehingga menggunakan uji non parametik atau uji alternarif,
Wilcoxon test (Paired t test) untuk membandingkan kekuatan otot sebelum dan setelah
perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Untuk membandingkan kekuatan
otot masing-masing setelah perlakuan pada kelompok intervensi dan kontrol menggunakan
Mann-Withney U test (uji alternatif untuk Paired t test).

7. HASIL PENELITIAN
Variabel yang di uji pada penelitian ini, meliputi kekuatan otot dan rentang gerak
ekstremitas atas, baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Hasil pengukuran
disajikan sebagai berikut:
7.1. Skore Kekuatan Otot Sebelum dan Setelah Perlakuan
Tabel 1. Skore Kekuatan Otot Sebelum dan Setelah Intervensi

Variabel Kelompok Pengukuran Mean SD Min Mak


Sebelum 1,64 0,50 1 2
Kekuatan Perlakuan
Setelah 3,73 0,47 3 4
Otot
Sebelum 1,64 0,50 1 2
Kontrol
Setelah 2,91 0,53 2 4

Tabel 1 tampak bahwa adanya perubahan rerata kekuatan otot pada kelompok perlakuan
sebelum dan setelah dilakakukan masase frirage dan akupresur. Rerata sebelum
dilakukan masase frirage dan akupresur pada kelompok perlakuan sebesar 1,64 dengan
standar deviasi sebesar 0,50 dan setelah dilakukan masase frirage dan akupresur sebesar
3,73 dengan standar deviasi 0,47. Pada kelompok kontrol perubahan kekuatan otot sebelum
dilakukan perlakuan dengan rerata 1,64 menjadi 2,91 dengan standar deviasi 0,50 menjadi
0,53.

Tabel 2. Perbandingan Kekuatan Otot Ekstremitas Atas Setelah Masase Frirage dan
Akupresur pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol

Variabel Kelompok n Mean Rank Selisih p value


Kekuatan Intervensi 11 15,27 7,74 0,002
otot Kontrol 11 7,3
total 22

Tampak bahwa kekuatan otot ekstremitas atas pada kelompok perlakuan lebih besar jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol setelah dilakukan masase frirage dan akupresur
dengan (p < 0,05, ɑ=0,05).

8. PEMBAHASAN
Hasil penelitian membuktikan bahwa rerata kekuatan otot ekstremitas atas setelah dilakukan
masase frirage dan akupresur berbeda nyata (3,730 dengan kelompok kontrol yang hanya
diberikan akupresur saja (1,64). Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi antara
masase frirage dan akupresur yang dilakukan secara bersama menghasilkan kekuatan
otot yang lebih bermakna dibandingkan pada kelompok kontrol yang hanya dilakukan
akupresur saja. Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Adam (2011), bahwa rerata
kekuatan otot yang dilakukan akupresur saja sebesar 2,47. Begitu pula dengan Wayan (2012),
bahwa akupresur pada scapula secara bermakna meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas
pasien stroke non hemoragik. Masase frirage merupakan pijatan untuk melakukan
perawatan tubuh yang meliputi, friction, effurage, traksi dan reposisi. Sedangkan
akupresur merupakan salah
satu tehnik pengobatan cina menggunakan penekanan pada titik akupunktur. Selain itu,
masase merupakan manipulasi yang bertujuan untuk merilekskan ototototyang tegang,
melancarkan peredaran darah, dan limfe. Otot yang tidak rileks akan mengganggu peredaran
darah, pembuluh limfe, dan persarafan. Dengan tambahan akupresur pada titik tertentu
sekitar ekstremitas akan mempercepat proses pemulihan bagian yang mengalami kelemahan.
Lebih lanjut Shin & Lee (2007), bahwa titik akupresur yang berada pada regio skapula
memiliki hubungan yang sangat erat dengan titik trigger untuk memperbaiki ekstremitas
atas. Titik trigger merupakan titik yang sensitif apabila ditekan akan menimbulkan
rangsang pada titik yang jauh dari tempat tersebut. Saputra (1996), menjelaskan bahwa titik
akupunktur (acupoint) merupakan sel aktif listrik yang mempunyai sifat tahanan listrik
rendah dan konduktivitas listrik yang tinggi sehingga titik akupunktur akan lebih cepat
menghantarkan listrik dibanding sel- sel lain. Panjalaran dari satu titik akupunktur ke titik
akupunktur lainnya melalui jalur meridian (jalur aktif listrik).

9. SIMPULAN
Rerata kekuatan otot pada kelompok perlakuan sebelum dilakukan masase frirage dan
akupresur, sebesar 1,64 dan setelah perlakuan sebesar 3,73. Rerata kekuatan otot pada
kelompok kontrol sebelum dilakukan akupresur sebesar 1,64 dan setelah perlakuan sebesar
2,91. Rerata kekuatan otot ekstremitas atas pada kelompok perlakuan lebih besar jika
dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan (p < 0,05, ɑ=0,05).

DAFTAR PUSTAKA
Adam, M., (2011) Tesis: Pengaruh akrupresur terhadap kekuatan otot dan
rentang gerakekstremitas atas pada pasien stroke pasca rawat inap di
RSUP Fatmawati Jakarta,
Pasca Sarjana FIK UI.
Alamsyah (2010). Cara lebih mudah menemukan titik terapi acupoint, Petunjuk
praktis
akupunktur. Jakarta : AsmaNadia Publishing House
Ali Satya Graha dan Bambang Priyonoadi. (2009). Terapi Massage Frirage
(Penatalaksanaan Cedera Pada Anggota Tubuh Bagian Atas). Yogyakarta:
Fakultas
Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta.
Dupler, Douglas. (2005). Gale Encyclopedia of Alternative Medicine
Acupressure
http://www.encyclopedia.com/topic/Acupressure.aspx February 15, 2016.
Ginsberg, L. (2008). Lecture notes: Neurologi (Indah R Wardhani, Penerjemah).
Jakarta: Penerbit Erlangga
Price, S .A. & Wilson, L. M. (2002). Pathophysiology: Clinical concept of desease
processes. St.Louis: Elsevier Science.
Santanu, Adikara, Tatang. (2008). Pengobatan Akupresur Untuk Kesehatan. Dewan
Pengurus ACK Indonesia Edisi ke-3. Jakarta : Sagung Seto
Saputra, K. & Sudirman, S. (2009). Akupunktur untuk nyeri dengan pendekatan
neurosain. Jakarta: CV. Sagung Seto
Shin, B. C. & Lee, M. S. (2007). Effects of aromatherapy acupressure on
hemiplegic
shoulder pain and motor power in stroke patients: A pilot study. The Journal
Of
Alternative And Complementary Medicine,
Smith, N. (2009). Range of motion, exercise. Published by Cinahl Information
Systems.
http://web.ebscohost.com. Diakses tanggal 18 feb 2016
Sukanta, Putu Oka (2008). Pijat akupresur untuk kesehatan. Depok : Penebar Plus
ANALISA SINTESA

N
Jumlah
O
Judul Artikel Penulis Tahun Sampel sampel Metode kesimpulan

1. Peningkatan 1. Mustopa 2017 Pasien 27 Quasi Pengaruh


fungsi 2.Yanti pasca eksperimen akupresur terhadap
motorik hermayan stroke pretest dan fungsi motorik
melalui ti posttest pretest dan
akupresur 3. Desy design posttest pada klien
pada klien indra yani pasca stroke pada
pasca stroke kelompok yang
mendapat
perlakuan
bermakna pada 3
kemampuan :
1. Berjalan
(p=0,00)
2. Pergerakan
tangan
(p=0,02)
3. Aktivitas
tangan
lanjutan
(p=0,003)
Sedangkan pada
kemampuan fungsi
lainnya yaitu duduk
berdiri dan fungsi
lengan atas tidak
signifikan (p=0,15)
2 Penerapan
Akupresur
akupresur
untuk
merupakan
meningkatk -
intervensi yang
an kekuatan mohammad
Pasien paling efektif untuk
otot dan adam Quasi
stroke meningkatkan
rentang -elly 2014 34 eksperimen
rawat kualitas otot dan
gerak nurachma t
inap rentang gerak pada
ekstrenitas -agung
pasien pasca
atas pada waluyo
strokeyang
pasien
mengalami
stroke
hemiparesis
3 Efek Zaenal 2018 pasien 22 quasi Rerata kekuatan
kombinasi Pasca experim otot pada
antara Amirudin
masase stroke ental kelompok
frirage dan perlakuan
Tri iskemik dengan
akupresur sebelum
Terhadap Anonim, nonequiv
kekuatan
dilakukan
otot alent masase
ekstremitas Rosmiati
frirage
control
atas pasien dan akupresur,
Pasca stroke Saleh group sebesar 1,64 dan
iskemik design. setelah perlakuan
sebesar 3,73.
Rerata kekuatan
otot pada
kelompok kontrol
sebelum
dilakukan
akupresur sebesar
1,64 dan setelah
perlakuan sebesar
2,91.
Rerata kekuatan
otot ekstremitas
atas pada
kelompok
perlakuan lebih
besar jika
dibandingkan
dengan kelompok
kontrol dengan (p
< 0,05, ɑ=0,05).