Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH AKUNTANSI KEPERILAKUAN

“HEURISTIK PENJANGKARAN DAN PENYESUAIAN”

Dosen: J. Tangkau, SE, Ak, MSA, CA

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 1

Alvira Angraini Gaghansa 17 304 152

Andika Mohamad 17 304 046

Arnoldy Maya 17 304 170

Anggi Dwita Joseph 17 304 076

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS EKONOMI

AKUNTANSI 6B

2020

1
KATA PEGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
kelimpahan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga makalah
ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam
proses belajar mengajar.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini

Tondano, April 2020

Penyusun

Kelompok 1

2
DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN .....................................................................................................................1

KATA PENGANTAR ...................................................................................................................2

DAFTAR ISI ..................................................................................................................................3

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar belakang ........................................................................................................4


B. Rumusan Masalah ..................................................................................................4
C. Tujuan Penulisan ....................................................................................................5

BAB II : PEMBAHASAN

A. Heuristik Penjangkaran dan


Penyesuaian..................................................................6

B. Penerapan pada Penelitian Akuntansi......................................................................7

C. Beberapa Bias Lainnya...........................................................................................12

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan.............................................................................................................15
B. Saran.......................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................16

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pengambilan keputusan di mulai dari nilai awal dan menyesuaikannya dengan keputusan akhir.
Nilai awal atau jangkar awal dapat ditemukan secara historis dan bagaimana cara terjadinya
permasalahan bersangkutan (perumusan masalah) atau perhitungan dari berbagai informasi yang
ada. Kekurangcermatan mempertimbangkan dasar-dasar nilai awal, penilai nilai awal cenderung
tidak menghasilkan keputusan yang tidak optimal. Dengan demikian, Heuristik ini akan
menimbulkan masalah ketika informasi baru yang mereka terima berlawanan tanda (mengalami
perubahan drastic) dengan nilai awal mereka, sehingga mereka cenderung konservatif terhadap
perubahan yang berbeda apalagi berlawanan dengan nilai awalnya.

Heuristic adalah proses yang dilakukan oleh individu dalam mengambil keputusan secara cepat,
dengan menggunakan pedoman umum dan sebagian informasi saja. Proses ini mengakibatkan
adanya kemungkinan bias, kesalahan, dan ketidakakuratan keputisan. Kekliruan konjungsi
(conjuction fallacy) adalah pengambilan keputusan tentang kemungkinan terjadinya peristiwa
konjungtif yang berbeda dengan logika teori probabilitas. Sementara itu, bias heuristic selama ini
dikenal sebagai tendensi bias karena orang (evaluator) yang telah mendapatkan informasi tentang
hasil merasa telah mengetahui suatu hasil sebelum suatu keputusan diambil. “Biasanya ini
dipandang tidak adil bagi pengambil keputusan karena mengesampingkan keadaan ketika
keputusan ini diambil.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang penulis ambil untuk penyusunan makalah ini yaitu :

1. Heuristik Penjangkaran dan Penyesuaian

2. Penerapan pada Penelitian Akuntansi

4
3. Beberapa Bias Lainnya

C. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu :

1. Untuk mengetahui heuristic penjangkaran dan penyesuaian

2. Untuk mengetahui penerapan pada penelitian akuntansi

3. Untuk mengetahui beberapa bias lainnya

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. HEURISTIK PENJANGKARAN DAN PENYESUAIAN

Penjangkaran adalah kecenderungan untuk mengawali sebuah nilai tertentu untuk bisa


melakukan penilaian. Dalam istiliah psikologi ( Psychology Glossary) heuristik
penjangkaran juga dikenal sebagai focalism, mengacu pada kecenderungan manusia untuk
menerima dan bergantung pada, bagian pertama dari informasi yang diterima sebelum membuat
keputusan. Itu bagian pertama dari informasi adalah jangkar dan menetapkan nada untuk segala
sesuatu yang berikut. Jika rata – rata indeks prestasi di kampus adalah 3,0, maka penilaian
terhadap mahasiswa yang memiliki IP 3,0 adalah rata – rata saja atau tidak cerdas. Dan yang
memiliki IP 2,95 akan digolongkan tidak cerdas karena kurang dari rata – rata. Sedangkan jika
rata – rata IP di kampus adalah 2,5 maka yang mendapat IP 2,95 akan tergolong cerdas.

Penjangkaran/anchoring yaitu kecenderungan individu ketika memprediksi suatu nilai


didasarkan pada nilai awal (berdasarkan data masa lalu atau informasi lain yang tersedia) dan
umumnya tidak melakukan penyesuaian yang cukup pada nilai dasar tersebut ketika membuat
keputusan akhir.

Penjangkaran diawali dengan menetapkan suatu standar yang didapatkan dari


adanya generalisasi terhadap kejadian sosial. Terdapat standar – standar perilaku yang dapat
digunakan untuk mempermudah melakukan penilaian terhadap orang lain. Sebagai contoh
standar untuk orang kaya adalah orang yang memiliki mobil Ferrari, Jaguar, BMW, Nissan,
Mercedes atau memiliki rumah bertingkat. Pada saat itu jika menemukan orang yang memiliki
hal itu maka Anda akan langsung menyimpulkannya sebagai orang kaya.

Beberapa heuristik bias jenis ini adalah sebagai berikut:

1. Bias 9. Penyesuaian acuan yang tidak layak

6
Walaupun subjek sadar bahwa acuannya acak dan saling tidak berhubungan terhadap
pertimbangan, acuan memiliki efek yang dramatis terhadap pertimbangan mereka. Menariknya
membayar subjek secara berbeda – beda berdasarkan keakuratan tidak mengurangi peningkatan
dari pengaruh pengacuan.

Nisbett dan Ross (1980) dalam Plous (1933) menunjukkan suatu argumen yang memperkirakan
bahwa bias pengacuan dan penyesuaian itu sendiri menyatakan bahwa sangat sulit sekali untuk
mengubah strategi pengambilan keputusan Anda sebagai akibat dari membaca buku ini. Mereka
berpendapat bahwa masing – masing heuristik yang kami identifikasi saat ini bertindak sebagai
acuan kognitif Anda dan merupakan pusat dari proses dari pertimbangan Anda saat ini. Oleh
karena itu, setiap strategi kognitif yang saya sarankan harus disajikan dengan cara yang akan
memaksa Anda untuk mendobrak acuan kognitif saat ini.

2. Bias 10. Konjungtif dan disjungtif kejadian bias

Perkiraan berlebih dari kejadian konjungtif merupakan suatu penjelasan kuat dari masalah ini
dalam proyek yang memerlukan perencanaan bertahap. Perorangan, pebisnis, dan pemerintah
sering kali menjadi korban dari bias kejadian konjungtif melalui waktu dan dana. Proyek
pekerjaan umum gagal terselesaikan tepat waktu atau kekurangan dana. Pengapalan produk baru
sering lebih lama dari yang diharapkan, bias disjungtif telah mengarahkan Anda untuk berharap
hal yang terburuk.

3. Bias 11. Overconfidence

Overconfidence adalah percaya diri atau keyakinan yang berlebihan. Temuan yang paling baik
ditetapkan dalam tulisan – tulisan keyakinan berlebihan adalah kencenderungan orang untuk
menjadi terlalu yakin untuk membenarkan jawaban mereka ketika diminta untuk menjawab
kesulitan menengah sampai sangat sulit.

B. PENERAPAN PADA PENELITIAN AKUNTANSI

Model penyesuaian keyakinan (Hogarth dan Einhorn, 1992), dengan menggunakan


pendekatan anchoring dan adjustment (general anchoring and adjustment approach) ,
7
menggambarkan penyesuaian individu karena adanya bukti baru ketika melakukan evaluasi bukti
secara berurutan. Pendekatan anchoring dan adjustment seperti yang telah disampaikan
sebelumnya, adalah bila seseorang melakukan penilaian dengan memulai dari suatu nilai awal
dan menyesuaikannya untuk menghasilkan keputusan akhir.Nilai awal ini diperoleh dari kejadian
atau pengalaman sebelumnya.

Model penyesuaian keyakinan memprediksi bahwa cara orang memprbaiki keyakinannya


yang sekarang (anchor) dipengaruhi oleh beberapa faktor bukti. Faktor bukti yang dimaksud
adalah kompleksitas bukti yang dievaluasi, konsistensi bukti, dan kedekatan evaluator dengan
bukti tersebut. Model ini menempatkan karakteristik tugas sebagai moderator dalam hubungan
antara urutan bukti dengan pertimbangan yang akan dibuat.

Fenomena pengaruh urutan bukti muncul karena adanya interaksi antara strategi
pemrosesan informasi dan karakteristik tugas sebagai moderator dalam hubungan antara urutan
bukti dengan pertimbangan yang akan dibuat.

Fenomena pengaruh urutan bukti muncul karena adanya interaksi antara strategi
pemrosesan informasi dan karakteristik tugas. Sifat-sifat bukti yang dipertimbangkan dalam
model adalah: (1) arah (sesuai atau tidak sesuai dengan keyakina awal), (2) kekuatan bukti
(lemah atau kuat), dan (3) jenis bukti (negatif, positif, atau campuran).

Disamping arah kekuatan dan jenis bukti, Hogarth dan Einhorn (1992) juga
menambahkan urutan bukti (positif setelah itu negatif, negative-positif, atau konsisten positif-
positif dan negatif-negatif) dan cara/format/mode (penyampaian informasi secara berurutan atau
secara simultan) dalam penyajian bukti. Dalam bentuk berurutan (step by step, SbS), individu-
individu memperbaharui keyakinannya setelah diberikan tiap-tiap potongan bukti dalam
serangkaian penyampian informasi yang terpisah-pisah, sedangkan dalam bentuk simultan (end-
of-sequence, EoS) individu-individu memperbaharui keyakinannya begitu semua informasi
tersaji dalam bentuk yang telah terkumpul.

Ketika informasi disajikan dalam bentuk SbS, individu menggunakan strategi pengolahan
SbS. Di sini idividu menyesuaikan keyakinannya secara bertahap begitu diberikan tiap-tiap
potongan bukti.Sebaliknya, pengolahan SbS berati bahwa anchor awal disesuaikan dengan
8
penyajian bukti-bukti secara agresif. Penyajian dalam bentuk EoS serng kali menghasilkan
strategi pengolahan EoS, khususnya bila jumlah item informasi sedikit dan tidak terlalu
kompleks. Namun, rangkaian-rangkaian item informasi yang relative kompleks dan/atau panjang
yang disampiakan dalam bentuk EoS mungkin tidak tertampung oleh kapasitas kognitif
banyak individu.Oleh karena itu, orang sering secara khusus menggunakan stratei pengolahan
SbS saat dihadapkan dengan kondisi kognitif seperti itu.

Hogarth dan Einhorn (1992) membuat perbedaan antara tugas evaluasi dan estimasi. Pada
tugas evaluasi, bukti dilihat sebagai bipolar (-1 ≤ (Xk) ≤ +1) relatif terhadap suatu hipotesis
(confirming vs disconfirming), dan pengaruhnya independen terhadap titik referensi R(R=0).
Pada tugas estimasi, bukti dilihat sebagai unipolar (0≤s(Xk) ≤1), dan pengaruhnya tergantung
pada R(R-Sk-1). Perbedaan prediksi tergantung pada (a) bagaimana bukti dikodekan (tugas
evaluasi vs tugas estimasi), (b) bagaimana bukti diproses (berurutan atau simultan), dan (c) sifat
dari proses penyesuaian yang tergantung pada nilai α dan β. Notasi α menunjukkan sensitivitas
orang terhadap bukti negative, sedangkan β menunjukkan sensitivitas orang terhadap bukti
positif.

Bukti-bukti empiris menunjukan bahwa individu-individu membuat perbaikan keyakinan


yang lebih besar bila informasi diberikan dalam format SbS, dibandingkan dengan format EoS
(Ashton dan Ashton, 1988). Penyebabnya adalah karena penyajian potongan-potongan bukti yang
lebih sering (SbS) memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk
malkukan anchoring (penetapan) dan penyesuaian, dan individu-individu sering melakukan
penyesuaian berlebihan (over-adjust) kearah item-item informasi tersebut. Penyesuaian yang
berlebihan inilah yang bisa menyebabkan munculnya bias yang disebabkanefek kekinian.

Potensi efek kekinian yang lebih besar hadir pada strategi pengolahan SbS, karena
dalam EoS bukti positif dan negative disaring sebelum diintegrasikan dengan keyakinan
sebelumnya (Kennedy,1993) penyaringan bukti campuran mengurangi dampak dari masing-
masing potongan bukti positif dan negatif secara individual. Untuk menjelaskan kapan
penjaringan (netting) terjadi, seseorang harus membedakan antara bentuk respons ( response
mode ) dengan strategi pengolahan (processing strategy).

9
Bentuk respon adalah cara untuk memperoleh penilaian, yaitu suatu penilaian ditentukan
setiap kali diberikan potongan-potongan bukti atau satu respon final ditentukan setelah diperoleh
suatu potongan bukti , sedangkan bentuk pengolahan adalah proses internal (mental) dari
perbaikan keyakinan. Jika tugas tersebut bersifat kompleks, individu-individu cendeung strategi
pengolahan berurutan yang memerlukan tuntutan minimal pada memori dan muatan pengolahan
informasi, sehingga meningkatkan kemampuannya untuk kemampuannya untuk menangani
tuntutan-tuntutan kognitif dari tugas-tugas tersebut.

Bentuk aljabar Model Penyesuaian Keyakinan untuk tugas evaluasi adalah sebagai
berikut.

Sk = Sk-1 + αSk-1[s(Xk)- R] dengan s(Xk) ≤ R …………………………………..(1)


Sk = Sk-1 + β(1-Sk-1)[s(Xk)- R] dengan s(Xk) > R………………………………..(2)
Keterangan :

Sk         : level dari keyakinan setelah potongan bukti k, 0 ≤ Sk ≤ 1,


Sk-1         : level sebelumnya dari keyakinan (S0 merupakan level keyakinan awal )
α          : sensitivitas bukti negatif

β          : sensitivitas bukti positif

s(Xk)    : evaluasi subjektif terhadap potongan bukti


R          : point refrensi

Berikut disajikan contoh perhitungan matematis Model Penyesuaian Keyakian


(Patel,2003) Misalnya anchor awal diasumsikan adalah 0,5 dan α,β diasumsikan = 1. Kekuatan
dari bukti audit positif yang berasal dari suatu sumber dengan keandalan rendah 
s(Xk) = 0,4.kekuatan dari bukti audit positif yang berasal dari suatu sumber dengan keandalan
tinggi adalah 0,6.
1. a. Substitusikan nilai-nilai diatas ke dalam model keyakinan s(Xk)setelah mengevaluasi
bukti audit positif yang positif yang berasaldari anchor awal . Sk = Sk-1 + Sk-1β(1-Sk-
1)  [s(Xk)- R] untuk s(Xk) >R.  Sk = 0,5 + 1(1-0,5)(0,4) = 0,7

10
b.   Keyakianan setelah mengevaluasi bukti audit positif diikuti oleh bukti negative,
Sk = Sk-1 + αSk-1[s(Xk)- R] = 0,7 + 1 (0.7)(-0,6)= 0,28
1. a. Keyakianan (Sk) setelah mengevaluasi bbukti audit negative yang berasal dari anchor
awal Sk = Sk-1 + αSk-1[s(Xk)- R] untuk s(Xk) ≤ R = 0,5 +1(0,5)(0,6) = 0,2
b. Keyakianan setelah mengevaluasi bukti audit negative diikuti oleh bukti positif Sk = Sk-
+ β(1-Sk-1)[s(Xk)- R] untuk  s(Xk) > R = 0,2 + 1( 1-0,2)(-0,4)= 0,52.

Suatu karakteristik tugas dapat mempengaruhi


apakah primacy (kepertamaan), recency (kekinian), atau tidak ada pengaruh urutan bukti yang
muncul dalam revisi keyakinan adalah tergantung tipe dari tipe  bukti yang dievaluasi. Bukti bisa
menjadi konsisten ( seluruhnya positif atau seluruhnya negatif) atau tidak konsisten (positif dan
negatif). Table berikut menyajikan prediksi Model Penyesuaian Keyakinan untuk tugas evaluasi.

Tabel 2.1 Model Penyesuaian Keyakinan (R=0)

Sederhana Kompleks
Simultan (EoS) Berurutan (SbS) Simultan (EoS) Berurutan (SbS)
Informasi tidak konsisten :
Pendek Kepertamaan Kekinian Kekinian Kekinian
Panjang Kepertamaan Kekinian Kepertamaan Kepertamaan
Informasi Konsisten :
Pendek Kepertamaa
Panjang Kepertamaan Kepertamaan Kepertamaan Kepertamaan

Tabel 2.1 dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Untuk tugas yang sederhana dengan cara penyajian simultan, informasinya tidak
konsisten dengan serial yang pendek maupun panjang, maka model memprediksi ada
kepertamaan.
2. Untuk tugas yang sederhana dengan cara penyajian berurutan, informasinya tidak
konsisten dengan serial pendek, model prediksi ada efek kekinian, sedangkan jika serial
panjang, maka yang terjadi adalah kepertamaan.

11
3. Untuk tugas yang kompleks dengan cara penyajian simutan dan berurutan, informasinya
tidak konsisten dengan serial pendek, model memprediksi ada efek kekinian, sedangkan
jika serialnya panjang, maka yang terjadi adalah kepertamaan.
4. Untuk informasi yang tidak konsisten model memprediksi terjadi kepertamaan atau tidak
adalah kepertamaan.

Dalam akuntansi keuangan, terjadi juga fenomena anchoring dan adjustment. Menurut


Hamid (2007), dalam pasar saham , investor cenderung memprediksi harga saham berdasarkan
harga saham sebelumnya, memprediksi ROE (Return on Equity) dengan ROE sebelumnya.
Dengan ketiadaan informasi yang lebih baik, harga sebelumya cenderung menjadi penentu
penting harga sekarang. Kecenderungan investor untuk menggunakan jangkar dibenak mereka
ini, membuat terjadi kesamaan harga saham dari hari ke hari.

Yang menjadi masalah adalah ketika informasi baru yang mereka terima adalah
berlawanan tanda (perubahan drastis) dengan nilai awal mereka. Mereka cenderung konservatif
terhadap perubahan yang berbeda apalagi berlawanan dengan nilai awal mereka respons mereka
adalah underreact terhadap informasi baru tersebut. Meskipun pada akhirnya mereka berusaha
menyesuaian nilai awal dengan informasi baru, tetapi cenderung tidak lengkap.Penyesuaian tidak
lengkap dan lamban ini bertentangan dengan hipotesis pasar efisien. Informasi laba sebelumnya
dapat menjadi jangkar pada kognisi investor ketika ingin menilai dan memprediksi probabilitas
laba dimasa yang akan datang. Dengan jangkar ini, investor berperilaku underreact terhadap
informasi baru yang mereka terima ketika informasi tersebut berbeda ekstrim dengan nilai awal.
Perilaku underreaction tersebut memicu terjadinya kesalahan prediksi nilai dimasa yang akan
datang yang berakibat pada biasnya harga pasar saham.

C. BEBERAPA BIAS LAINNYA

1. Counterfactual Reasoning

12
Ini adalah kecenderungan untuk mengevaluasi suatu kejadian dengan mempertimbangkan
alternative kejadiannya. Penilaian terhadap orang tidak hanya dipengaruhi oleh kejadian yang
dialami orang itu, tetapi juga apa yang mungkin dialami orang akibat kejadian itu.

2. Efek Kesalahan Consensus (False Consensus Effect)

Inilah kecenderungan untuk secara berlebihan mengira bahwa orang lain bertindak atau berpikir
seperti yang kita lakukan. Kalau anda tidak memakai helm dalam berkendaraan, anda lantas
berpikir orang lain juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih parah. Pada saat melakukan
pelanggaran , banyak orang berpikir bahwa mereka tidak sendirian dalam melakukannya.
Terdapat banyak orang lain yang melakukan peanggaran dalam taraf yang lebih parah. Efek
kesalahan consensus biasanya digunakan untuk membenarkan diri sendiri atau melakukan
justifikasi.Secara garis besar ada dua sebab mengapa hal itu dilakukan. Pertama, banyak orang
ingin percaya bahwa orang lain sepakat dengan mereka karena itu meningkatkan kepercayaan
diri.

3. Manajemen Kesan ( Impression Management )


Dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang dibiaskan oleh manajemen kesan. Cara anda
membentuk kesan terhadap orang lain terkadang dipengaruhi oleh motivasi,tujuan,dan kebutuhan
anda. Misalnya anda ingin mengenal lebih jauh rekan bicara anda karena ia melamar pekerjaan
pad anda. Anda akan berupaya untuk memperoleh kesan atau penilaian seakurat mungkin tentang
rekan bicara anda itu. Anda tidak akan berburu-buru memberikan penilaian. Anda
mengumpulkan sebanyak mungkin informasi baru kemudian anda menyimpulkan kesan anda
terhadapnya. Meskipun berusaha akurat kadang terdapat bias dalam pembentukan kesan terhadap
orang lain. Pertama bias karena adanya keinginan orang membuat terkesan orang lain.

4. Self-Fulfilling Prophecy
Bias ini adalah kecenderungan orang yang memperoleh informasi, memaknai, dan menyusun
informasi yang konsisten dengan keyakinannya saat itu. Salah satu jenisnya adalah efek
pemenuhan harapan diri (Self-Fulfilling Prophecy ) yakni kecenderungan orang untuk berprilaku
tertentu yang konsisten dengan harapan,keyakinan, atau pikirannya mengenai suatu kejadian atau
perilaku. Karenanya, kejadian atau perilaku itu cenderung terjadi.

13
Penelitian yang dilakukan oleh Tucker dkk.(2003) menguji keterkaitan self-fulfilling prophecy
dan akurasi peramal pada penilaian kelangsungan hidup perusahaan. Seperti diketahui,statement
on auditing standard (SAS) no. 59 mensyaratkan auditor untuk menilai kelangsungan hidup
perusahaan satu tahun yang akan datang. Penelitian ini menggunakan pengujian ekonomik
eksperimental dan game theory.Ketika auditor menginvestigasi kelangsungan bisnis klien dan
bermaksud untuk menekankan pada opini going concern. Klien akan berusaha untuk menghindari
opini tersebut dan ini akan menjadi potensi munculnya self-fulfilling prophecy dengan
melakukan perpindahan auditor ( auditor switching).

5. Bias konfirmasi
Efek ini menyangkut masalah pengkodean atau tanda tertentu,yaitu ketika hasil persepsi tidak
diterjemahkan sebagaimana mestinya. Dalam dunia pengauditan, penelitian yang dilakukan Kida
(1984) menguji apakah strategi pengujian hipotesis yang dilakukan oleh auditor memengaruhi
pencarian data. Kida mencatat bahwa tugas-tugas audit membutuhkan suatu kecermatan, yang
bisa menjadi terkena bukti konfirmasi maupun bukti yang tidak terkonfirmasikan. Dengan kata
lain, auditor akan mempunyai preferensi untuk mengumpulkan bukti yang confirm dibandingkan
yang tidak confirm. Kita menyarankan bahwa jika strategi konfirmatori yang digunakan oleh
auditor, maka auditor harus hati-hati dalam membentuk framing awal dalam dirinya.Dari sini,
kita bisa menafsirkan bahwa auditor harus menggunakan perencanaan audit yang tepat supaya
bebas dari bias konfirmasi.

14
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Heuristik adalah petunjuk praktis untuk mempermudah pengolahan informasi dalam


pengambilan keputusan. Heuristik mempercepat individu dalam pengambilan keputusan. Adanya
heuristik menyebabkan pengambilan keputusan yang kompleks menjadi lebih efisien. Heuristik
merupakan filter yang membantu kita untuk focus pada informasi yang penting dan mengabaikan
informasi-informasi yang tidak penting.

Penjangkaran adalah kecenderungan untuk mengawali sebuah nilai tertentu untuk bisa


melakukan penilaian. Dalam istiliah psikologi ( Psychology Glossary) heuristik
penjangkaran juga dikenal sebagai focalism, mengacu pada kecenderungan manusia untuk
menerima dan bergantung pada, bagian pertama dari informasi yang diterima sebelum membuat
keputusan. Itu bagian pertama dari informasi adalah jangkar dan menetapkan nada untuk segala
sesuatu yang berikut. Jika rata – rata indeks prestasi di kampus adalah 3,0, maka penilaian
terhadap mahasiswa yang memiliki IP 3,0 adalah rata – rata saja atau tidak cerdas. Dan yang
memiliki IP 2,95 akan digolongkan tidak cerdas karena kurang dari rata – rata. Sedangkan jika
rata – rata IP di kampus adalah 2,5 maka yang mendapat IP 2,95 akan tergolong cerdas.

Heuristik penjangkaran dan penyesuaian yaitu kecenderungan individu ketika


memprediksi suatu nilai didasarkan pada nilai awal (berdasarkan data masa lalu atau informasi
lain yang tersedia) dan umumnya tidak melakukan penyesuaian yang cukup pada nilai dasar
tersebut ketika membuat keputusan akhir.

B. SARAN

Demikianlah makalah ini kami susun sedemikian rupa walaupun masih belum sempurna.
Jika ada yang kurang di dalam karya tulis ini, kami mohon masukan dari para pembaca agar
dalam pembuatan karya tulis selanjutnya bisa lebih baik lagi

15
DAFTAR PUSTAKA

https://ikadekariyasa.wordpress.com/2013/05/18/heuristik-penjangkaran/

16