Anda di halaman 1dari 13

1.

    USAHA MANUSIA DALAM MENANGGULAGI BAHAYA


BAKTERI
A.STERILISASI
Sterilisasi adalah cara membebaskan suatu medium, alat, atau ruangan dari bakteri atau
mikroorganisme lainnya. Sterilisasi biasanya digunakan untuk mensterilisasikan pakaian,
peralatan, dan ruangan operasi agar pasien tidak terkena infeksi. Sterilisasi ruangan dapat
dilakukan dengan menggunakan disinfektan, misalnya karbol sedangkan sterilisasi alat melalui
pemanasan dengan autoklaf.

B.MELINDUNGI TUBUH DARI BAHAYA BAKTERI


          1. menjaga agar tubuh memiliki sistem kekebalan yang kuat, dengan cara mengkonsumsi
makanan yang bergizi dengan jumlah yang mencukupi.
          2. meningkatkan sistem ekebalan tubuh dengan imunisasi atau vaksinasi terutama terhadap
bakteri penyebab penyakit tertentu, misalkan vaksin DPT untuk penyakit difteri dan vaksin
tetanus.
          3. selalu menjaga kebersihan badan, mengosok gigi secara teratur serta istirahat yang
cukup dan berkualitas. Gunakan sabun untuk membersihkan diri.

C.PENGOLAHAN DAN TEKNOLOGI PENGAWETAN MAKANAN


Pengolahan untuk mengawetkan makanan dapat dilakukan dengan beberapa cara, berikut cara
nya :
Berdasarkan prosesnya pengawetan makanan dilakukan dengan 3 cara yaitu:
1. Cara pengawetan alami
2. Cara pengawetan biologis
3. Cara pengawetan kimiawi

1. Pengawetan alami
Proses pengawetan secara alami meliputi dua cara yaitu dengan cara pengeringan dan
pendinginan. Kedua nya dapat dilakukan dengan cara modern atau tradisional.
a. Pengeringan
Prinsip dasar dari pengeringan adalah dehidrasi (pengeluaran air) dari bahan makanan.
Pengeringan secara tradisional dengan cara menjemur dibawah sinar matahari misalkan dalam
pembuatan ikan asin, kerupuk dan garam. Selain itu pengeringan dapat dilakukan dengan
bantuan api misalkan pengasapan sistem oven dan pemanggangan.
b. Pendinginan
Pendingina adalah penyimpanan bahan makanan pada suhu rendah atau mencapai titik beku
menggunakan lemari es atau cold storage. Pendingina menyebabkan bakteri tidak aktif sehingga
bahan makanan dapat bertahan lama.
2. Pengawetan dengan cara biologis
Pengawetan dengan cara bilogis adalah fermentasi atau peragian. Cara peragian atau fermentasi
adalah proses perubahan dari karbohidrat menjadi alkohol. Zat zat yang berperan dalam
fermentasiini adalah enzim yang dihasilkan oleh sel-sel ragi itu sendiri.
Enzim yang diperoleh terdapat dalam makanan bisa berasal dan di peroleh dari bahan mentah
atau mikroorganismeyang terdapat pada makanan tersebut.
Beberapa enzim yang digunakan sebagai pengawet makanan :
         Enzim Bromalin dari buah nanas
         Enzim Papain dari getah pepaya
3. Pengawetan dengan cara kimiawi
Pengawtan dengan cara ini menggunakan bahan bahan kimia seperti gula pasir, garam dapur,
nitrat, nitrit, natrium benzoat, asam propionat, asam sitrat, garam sulfat, dll.
Selain itu pengawetan dapat dilakukan dengan cara :
4. Sistem kemasan
Kemasan makanan dpat berupa botol, plastik, kaleng, dan kertas berlapis aluminium. Tujuan nya
adalah agar makanan terbebas dari kontaminasi mikroba dan udara luar.
5. Iradiasi
Iradiasi adalah penyinaran dengan foton (partikel cahaya) yang berasal dari zat radioaktif,
misalnya sinar magma, dapat mematikan mikroba dan pembusukan serta patogen. Iriadiasi
dilakuakn terhadap makanan mentah maupun makanan/minuman instan dalam kemasan. Iriadiasi
dapat pula menimbulkan resiko seperti mutasi pada mikroba, menyebabkan terjadinya ionisasi
dan timbulnya radikal bebas pada bahan makanan.
6. Pemanasan
Pemanasan suatu makanan dengan sederhana biasa dilakukan dengan tujuan membunuh kuman
penyakit, mencegah pembusukan yang disebabkan oleh mikroba, dan menambah selera makan.
Sistem pemanasan di bedakan dengan 2 macam, yaitu:
a. Pasteurisasi
Pemanasan dengan suhu lebih urang 70oC secara berulang ulang sehingga tidak merusak bahan
makanan tetapi dapat mematikan mikroba patogen, contohnya pasteurisasi susu.
b. Sterilisasi
pemanasan hingga mendidih atauhingga suhu mencapai lebih kurn 100oC, dengan tujuan
mematikan semua mikroba dengan sporanya.

PENANGGULANGAN TERHADAP BAKTERI YANG MERUGIKAN

Bakteri yang merugikan manusia adalah bakteri yang dapat merusak makanan dan menimbulkan
penyakit,untuk menanggulangi bakteri yang merugikan adalah sebagai berikut :
1. Pengawetan Makanan
Pengawetan makanan merupakan salah satu usaha membuat kondisi makanan tidak mudah rusak
oleh bakteri karena bakteri yang masuk ke dalam makanan tidak dapat tumbuh. Tahukah Anda
mikroorganisme tidak dapat timbul pada lingkungan yang berkadar garam tinggi, di daerah kadar
gula tinggi, kadar asam, kadar air rendah, dan suhu yang rendah.
Contoh pengawetan makanan adalah dengan cara pemanisan, pengeringan, pengasapan,
pengasinan, pendinginan, pengasaman, dan diberi bahan pengawet makanan, yaitu asam benzoat.
Pengawetan makanan dengan diberi formalin asam boraks harus dihindari. Seperti yang telah
kita ketahui di Indonesia belum lama ini terjadi kasus keracunan makanan dengan pemberian
formalin.
2. Pengolahan Makanan
Pengolahan makanan dapat dilakukan dengan cara pemanasan. Bentuk pemanasan dapat berupa
pasteurisasi. Pasteurisasi adalah bentuk pemanasan susu sampai 70°C agar susu tidak terurai dan
mudah dicerna. Susu ini dapat bertahan 12 jam dari bakteri patogen, misalnya Salmonella dan
Mycobacterium. Selain itu, dapat juga untuk mepertahankan rasa dan aroma.
Sterilisasi berasal dari kata steril yang berarti bebas mikroorganisme.
Sterilisasi merupakan pengolahan makanan dengan cara pemanasan menggunakan udara panas
atau uap air panas yang bertekanan tinggi. Alat yang digunakan adalah oven atau autoklaf.
Sterilisasi ini ada dua macam, yaitu sterilisasi alat dan bahan makanan. Sterilisasi biasa
dilakukan pada industri makanan dan minuman.
Contohnya, makanan dan minuman kaleng.
3. Manjaga Kebersihan dan Kesehatan Diri serta Lingkungan
Cara hidup yang sehat adalah selalu tetap menjaga kebersihan dan kesehatan diri dengan
lingkungan. Upaya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
a. Selalu menjaga badan yaitu dengan cara mandi teratur, dan mencuci tangan sebelum makan.
b. Olahraga dengan teratur.
c. Makan makanan bergizi.
d. Istirahat yang cukup.
e. Menjaga kebersihan lingkungan.
f. Imunisasi.

Tindakan pencegahan terhadap bakteri

bakteri sangat membahayakan kesehatan manusia. Untuk itu, diperlukan cara menanggulangi bahaya
akibat bakteri. Untuk mengatasi berbagai aktifitas bakteri yang dapat merugikan, perlu di lakukan
tindakan yang tepat. Tindakah tersebut dapat berupa tindakan pencegahan (preventif) maupun tindakan
pengobatan. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi, sterilisasi, dan pasteurisasi, dan
pengawetan bahan makanan.

1. Vaksinasi

Vaksinasi adalah pencegahan penyakit dengan pemberian vaksin, bakteri yang sudah dilemahkan,
sehingga tubuh menerima dapat terhadap bakteri penyebab penyakit tertentu. Beberapa contoh vaksin
untuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah vaksin kolera untuk mencegah
penyakit kolera, vaksin tifus untuk mencegah penyakit tifus, vaksin BCG (Bacile Calmette-Guerin) untuk
mencegah penyakit TBC, vaksin DTP (Dipteria-Tetanus-Pertusis vaccines) untuk mencegah penyakit
difterie, pertusis (batuk rejan), dan tetanus), dan vaksin TCD (Typus Chorela Disentry) untuk mencegah
penyakit typus, kholera, dan desentri.

2. Sterilisasi
Sterilisasi adalah pemusnahan bakteri misalnya dalam pengawetan makanan. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan kondisi steril (suci hama), metodenya disebut aseptis. Sterilisasi dapat dilakukan melalui
pemanasan dengan menggunakan udara panas atau uap air panas bertekanan tinggi. Sterilisasi dengan
udara panas menggunakan oven dengan temperatur 170 – 180 Derajat celcius. Cara ini digunakan untuk
mensterilisasikan peralatan di laboratorium . Sterilisasi dengan uap air panas bertekanan tinggi
dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut autoklaf, pada temperatur 115 – 134 Derajat celcius.
Autoklaf digunakan untuk sterilisasi bahan dan peralatan. Sterilisasi pada umumnya digunakan pada
industri makanan atau minuman kaleng, penelitian bidang mikrobiologi, dan untuk memperoleh biakan
murni suatu jenis bakteri.

3. Pasteurisasi

Pasteurisasi adalah pemanasan dengan suhu 63 – 72 derajat celsius selama 15 - 30 menit. Pasteurisasi
dilakukan pada bahan makanan yang tidak tahan pemanasan dalam suhu tinggi, misalnya susu. Sehingga
untuk mematikan bakteri patogen (Salmonella dan Mycobacterium) dari susu dilakukan pasteurisasi.
Dengan pasteurisasi, rasa dan aroma khas susu dapat dipertahankan. Teknik sterilisasi dengan suhu
rendah ini ditemukan oleh Louis Pasteur (1822-1895), seorang ilmuwan Perancis. Selain dengan
sterilisasi dan pasteurisasi, pengawetan makanan juga bisa dilakukan secara tradisional. Kalian mungkin
pernah melihat proses pengasinan ikan, pemanisan buah-buahan, pengasapan daging, atau pengeringan
makanan.

Apakah tujuannya? Semua kegiatan tersebut bertujuan agar makanan yang diasinkan, dimaniskan,
diasap, dan diasamkan menjadi lebih awet dan tidak mudah busuk. Prinsipnya adalah membuat
makanan dalam kondisi yang tidak ideal untuk ditumbuhi bakteri pembusuk, misalnya pada lingkungan
yang terlalu panas, terlalu asam, atau terlalu asin. Jadi, pemanisan, pengasapan, pengasinan, dan
pengasaman dilakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri

Ciri-Ciri Cyanophyta/Cyanobacteria/Ganggang Hijau-Biru

Ciri-Ciri Umum Cyanophyta

1). Bersifat prokariotik

2). Tubuh bersel satu atau bersel banyak

3). Mempunyai klorofil, bersifat fotoautotrof

4). Habitat kosmopolitan (terdapat dimana-mana)


5). Beberapa hidup dengan bersimbiosis dengan makluk hidup lainnya

6). Berkembang biak secara aseksual

Ukuran Dan Bentuk Sel Cyanophyta

Cyanophyta mempunyai ukuran sekitar 1-60 µm. Cyanophyta yang berukuran paling besar

adalah Oscillatoria princeps. Ukuran tubuh Cyanophyta yang bervariasi berkaitan dengan

bentuknya yang juga bervariasi. Bentuk tubuh Cyanophyta ada yang bulat dan ada yang

berbentuk benang (filamen). Cyanophyta bentuk bulat merupakan Cyanophyta uniseluler yang

hidup soliter atau berkolobi.

Cyanophyta bentuk benang disebut juga trikoma. Cyanophyta bentuk benang merupakan

Cyanophyta multiseluler. Pada Cyanophyta bentuk benang, misalnya Anabaena, terdapat tiga

macam sel utama, yaitu heterokista, akinet, dan baeosit. Heterokista merupakan sel berdinding

tebal yang berguna untuk mengikat nitrogen. Akiner adalah sel berdinding tebal yang berfungsi

untuk pertahanan diri. Sedangkan baeosit adalah sel-sel bulat kecil hasil reproduksi. Baeosit juga

berfungsi untuk melakukan fotosintesis.

Struktur Dan Fungsi Sel Cyanophyta

Strurktur dan fungsi sel Cyanophyta mirip dengan struktur dan fungsi sel bakteri. Dinding selnya

memiliki susunan serupa dengan bakteri Gram negatif, yaitu mengandung lapisan peptidoglikan

yang tipis. Bagian luar dinding selnya mengandung lapisan lendir. Lapisan lendir ini pada

beberapa jenis Cyanophyta dapat membantu gerakan dengan cara meluncur.

Sitoplasma Cyanophyta tidak memiliki banyak organel serta tidak memiliki membran inti

(prokariotik). Membran fotosintetiknya (membran tilakoid) mengandung pigmen klorofil,


karoten, dan pigmen tambahan. Pigmen tambahan berupa fikosianin yang berwarna biru dan

fikoeritrin berwarna merah.

Pigmen-pigmen tersebut yang menyebabkan warna Cyanophyta beraneka ragam dari hijau,

merah, ungu, sampai kehitaman. Sehingga Cyanophyta sering juga disebut ganggang hijau-biru.

Tubuh Cyanophyta juga memiliki vakuola gas yang memungkinkannya mengambang dekat

permukaan air, yang memiliki intesitas cahaya matahari yang tinggi. Cyanophyta membutuhkan

cahaya matahari untuk proses fotosintesis.

Habitat Cyanophyta

Cyanophyta dapat ditemukan pada berbagai lingkungan misalnya danau, laut, sungai,

tanah, batu, dan rawa. Cyanophyta dapat terlihat dengan mata telanjang berupa lapisan tipis

berwarna hijau biru, merah, atau ungu kehitaman. Pada saat tertentu, Cyanophyta yang hidup di

air muncul berlimpah sehingga menyebabkan air tampak berwarna seperti warna Cyanophyta

tersebut.

Contohnya Cyanophyta berwarna hijau biru (Anabaena) membuat air sawah tampak

kehijauan dan Cyanophyta merah (Ascillatoria rubescens) membuat laut di daerah Timur Tengah

berwarna merah sehingga disebut Laut Merah. Beberapa jenis Cyanophyta yang dapat mengikat

nitrogen berperan sebagai tumbuhan perintis pada habitat miskin nutrisi (makanan), misalnya

pantai berpasir atau gurun.

Cyanophyta, Syneckococcus lividus dapat hidup di habitat yang ekstrim, misalnya habitat

dengan tingkat keasaman tinggi (pH 4,0) dan temperatur tinggi (700C). Sedangkan jenis lainnya

ada yang hidup bersimbiosis dengan organisme lain, misalnya Nostoc dan Anabaena azollae.
Nostoc hidup bersama dengan jamur membentuk lumut kerak (Lichen) Peltigera, serta hidup di

akar tumbuhan paku Cycas. Anabaena azollae hidup di daun tumbuhan paku air Azolla pinata.

Simbiosis antara Cyanophyta dengan organisme lain saling memberi keuntungan.

Cyanophyta terutama berperan dalam memberika nutrisi organik pada organisme simbiotiknya.

Sedangkan organisme simbiotiknya memberikan kelembaban dan nutrisi anorganik pada

Cyanophyta.

Cara Hidup Dan Reproduksi Cyanophyta

Cyanophyta hidup secara fotoautotrof dengan mengasimilasi senyawa sederhana

misalnya CO2, ion nitrat atau amonium, dan beberapa ion anorganik lainnya. Perbedaan

Cyanophyta dengan bakteri fotoautotrof adalah Cyanophyta menghasilkan O2 dalam proses

fotosintesisnya sedangkan bakteri fotoautotrof tidak menghasilkan O2.

Reproduksi Cyanophyta adalah secara aseksual dengan cara membelah diri (pembelahan

biner), fragmentasi bagian dari filamen (hormogonia), dan pembentukan aknet (spora).

Pembelahan biner dilakukan oleh Cyanophyta bersel satu, sedangkan fragmentasi pada bagian

hormogonia dilakukan oleh Cyanophyta yang berbentuk benang. Pada kondisi lingkungan yang

buruk, akinet terbentuk agar Sianobakteria dapat bertahan hidup. Jika lingkungan telah membaik,

akinet dapat membentuk filamen baru. Reproduksi secara seksual belum diketahui.
Ganggang Hijau-Biru (Cyanophyta)

Ganggang Hijau-Biru (Cyanophyta) adalah satu satunya ganggang yang tergolong dalam
kingdom monera Divisio Cyanophyceae. Dimasukkan dalam kingdom monera karena struktur
selnya mirip dengan struktur sel bakteri yaitu bersifat prokariotik (inti selnya tidak diselubungi
membran).

Ciri-ciri Ganggang Hijau Biru


 Bersifat prokariotik (inti selnya tidak diselubungi membran)

 Bentuk ganggang ini bisa  uniseluler (bersel tunggal), koloni (gabungan beberapa sel)
atau filamen (benang), Contoh:

o Bentuk unisel (satu sel): Chroococcus, Gloeocapsa, Anacystis

o Bentuk koloni: Polycystis, Merismopedia, Nostoc, Microcystis

o Bentuk filamen: Oscilatoria, Microcoleus, Anabaena, Rivularia.

 Memiliki pigmen klorofil (berwarna hijau), karotenoid (berwarna oranye) serta pigmen
fikobilin yang terdiri dari fikosianin (berwarna biru) dan fikoeritin (berwarna merah).
Gabungan pigmen-pigmen ini membuat warnanya hijau kebiruan.

 Bersifat autotrof (dapat membuat makanan sendiri dari zat anorganik) karena memiliki
klorofil.

 Dinding sel mengandung peptida, hemiselulosa dan selulosa,dan mempunyai selaput


berlendir.
 Ganggang ini disebut makhluk hidup perintis karena dapat hidup di tempat-tempat
makhluk hidup lain tidak dapat hidup.
 Ganggang hijau biru yang berbentuk filamen dapat juga membentuk spora berdinding
tebal yang resisten terhadap panas dan pengeringan dan dapak memfiksasi/mengikat N
(nitrogen) yaitu heterokist. Selain heterokist ada juga bagian spora yang membesar berisi
cadangan makanan yang disebut akinet.

Cara perkembangbiakan ganggang hijau biru


Cara perkembangbiakan yang dikehui ada 3 cara yang ketiga-tiganya termasuk
perkembangbiakan vegetatif/aseksual sedangkan perkembangbiakan generatif/seksualnya belum
diketahui. ketiga cara tersebut adalah :

a. Pembelahan Sel
sel membelah menjadi dua bagian yang membentuk sel baru. sel-sel yang terpisah bisa tetap
bergabung membentuk koloni. Misal : Gleocapsa
b. Fragmentasi
adalah pemutusan sebagian anggota tubuh yang dapat membentuk individu baru. Terjadi pada
ganggang yang berbentuk filamen/benang. Misal : Oscillatoria.

c. Spora vegetatif
spora vegetatif yang dimaksud disini adalah heterokist. Pada keadaan yang tidak
menguntungkan heterokist tetap mampu bertahan karena dinding selnya tebal dan banyak
mengandung bahan makanan. Setelah lingkungan kembali menguntungkan heterokist dapat
membentuk filamen baru. Misal : Chamaesiphon comfervicolus

Klasifikasi Ganggang Hijau-Biru


Divisio Cyanophyceae dibedakan dalam 3 ordo berdasarkan bisa tidaknya membentuk spora
yaitu : ordo Chroococcales, Chamaesiphonales, dan Hormogonales.

A. Ordo Chroococcales 
Berbentuk tunggal atau kelompok tanpa spora, warna biru kehijau – hijauan. Umumnya
alga ini membentuk selaput lendir pada cadas atau tembok yang basah. Setelah pembelahan sel –
sel tetap bergandengan dengan perantaraan lendir tadi dan dengan demikian terbentuk kelompok
– kelompok atau koloni contoh spesies dari ordo chroococcales :

Chrococcus 
Organisme uniseluler atau berkelompok dalam bentuk agregat dari 2 atau 4 sel. Hasil
pembelahan sel dari Chrococcus berbentuk setangah bola.
Gleocapsa
Berbentuk bulat memanjang dan dikelilingi oleh membran dengan beberapa generasi sel yang
terdapat di dalamnya. Membran kadang – kadang ada yang berpigmen. Gleocapsa terdapat pada
batuan yang lembab atau pada air.

B. Ordo Chamaesiphonales
Alga bersel tunggal atau merupakan koloni berbentuk benang yang mempunyai spora. Benang
– benang itu dapat putus – putus merupakan hormogonium yang dapat merayap dan merupakan
koloni baru prosesnya disebut fragmentasi.

C. Ordo Hormogonales 
Sel – selnya merupakan koloni berbentuk benang atau diselubungi suatu membran. Benang –
benang itu melekat pada substratnya, tidak bercabang, jarang mempunyai percabangan sejati,
lebih sering mempunyai percabangan semu. Benang – benang itu selalu dapat membentuk
hormogonium.contohnya : Oscillatoria, Nostoc comune, Anabaena, Spirulina dan Rivularia.

Manfaat Ganggang Hijau (Cyanophyta)


1. Nostoc
Perendaman sawah selama musim hujan mengakibatkan Nostoc tumbuh subur dan
memfiksasi N2 dari udara sehingga dapat membantu penyediaan nitrogen yang digunakan untuk
pertumbuhan padi.

2. Anabaena azollae 
Hidup bersimbiosis dengan Azolla pinata ( paku air ). Paku ini dapat memfiksasi nitrogen
(N2) di udara dan mengubah menjadi amoniak(NH3) yang tersedia bagi tanaman.

3. Spirullina 
ganggang ini mengandung protein yang tinggi yang lebih dikenal dengan sebutan protein
sel tunggal ( PST ) sehingga dijadikan sebagai sumber makanan.

Ganggan Biru Hijau atau Cyanophyta

Alg0logy : Ganngan Biru Hijau atau Cyanophyta


Ganngan Biru hijau atau Cyanophyta yang biasa juga dikenal dengan nama lain
seperti Cyanobacteria, bakteri biru hijau dan ganggan biru yang akan kita bahas
bersama kali ini.

Alga ada beberapa jenis yang kesemuanya masuk dalam divisi. Salahsatunya
adalah divisi Cyanophyta. Cynaophyta atau yang dikenal dengan ganggang biru
tergolong sel yang prokarion dan strukturnya mirip dengan sel bakteri. Pada
klasifsikasi tumbuhan digolongkan pada golongan yang sama yaitu
Schyzomycetes. Struktur morfologi ganggang biru bermacam-macam ada yang
bersel tunggal, berbentuk benang ada juga yang berkelompok membentuk
kelompok sel yang prokarion.

Struktur ganggang biru terdiri atas lapisan penutup yang berupa selubung gelatin,
dinding sel dan membran sitoplasma. Bahan kimia pembangun dinding sel yaitu
molekul lipoprotein, lipopolisakharida dan mukoprotein. Sitoplasma ganggang
biru tidak mengandung endoplasmik retikulum, badan golgi, mitokondria dan
lisosom tetapi mengandung ribosom.

Proses fotosintesis pada ganggang biru yaitu pada bagian lamela yang
mengandung pigmen karotenoid dan klorofil dan pigmen-pigmen lainya yang
terdapat pada ganggang biru yaitu phycosianin dan phycoerytrin (fikosianin dan
fikoeritin).
Alga biru uniseluler contohnya adalah Chroococcus hidup di air/kolam yang
tenang dan Gloeocapsa hidup pada batu atau epifit pada tumbuhan lain.
Sedangkan alga biru uniseluler berkoloni contohnya adalah Spirulina dapat diolah
menjadi makanan kesehatan (food suplement). kemudian alga biru berbentuk
benang contohnya adalah Oscillatoria dan Nostoc commune.

Anabaena azollae dan Anabaena cycadae bersimbiosis dengan Azolla pinnata dan
Cycas rumphii. Simbiosis Anabaena azollae dengan Azolla pinnata sebagai
alternatif pupuk Urea, karena simbiosis ini dapat meningkatkan kadar Nitrogen di
lahan persawahan.