Anda di halaman 1dari 80

LAPORAN PRAKTIKUM

PETROLOGI

ACARA II

“BATUAN BEKU”

Asisten Praktikum : Ezza Ray Raditya/ H1C018002

Tanggal Praktikum : Rabu, 6 Mei 2020

Tanggal Penyerahan : Rabu, 13 Mei 2020

Oleh :

Vincensius Nugy Christianto

H1C019031

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

PURBALINGGA

2020
BAB I

PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN

I. 1. Pengetian Batuan Beku.

Sumber: ayoksinau.com
Batuan beku merupakan jenis batuan yang terbentuk dari magma yang
mengalami pembekuan. Batuan beku ini juga disebut dengan batuan ignesius.
Magma yang membeku ini merupakan magma yang mendingin dan mengeras,
dengan atau tanpa proses kristalisasi, yang terjadi baik di bawah permukaan
sebagai jenis batuan intrusif atau plutonik, maupun di atas permukaan sebagai
batuan ekstrusif atau vulkanik.

I. 2. Diferensiasi Magma, Asimilasi Magma, dan Magma Mixing.

1.1.DIFERENSIASI MAGMA
Diferensiasi magma adalah suatu tahapan pemisahan atau pengelompokan
magma dimana material-material yang memiliki kesamaan sifat fisika maupun kimia
akan mengelompok dan membentuk suatu kumpulan mineral tersendiri yang
nantinya akan mengubah komposisi magma sesuai penggolongannya berdasarkan
kandungan magma. Proses ini dipengaruhi banyak hal. Tekanan, suhu, kandungan
gas serta komposisi kimia magma itu sendiri dan kehadiran pencampuran magma
lain atau batuan lain juga mempengaruhi proses diferensiasi magma ini. Magma
dapat berubah menjadi magma yang bersifat lain oleh proses-proses sebagai berikut:
a. Hibridisasi = pembentukan magma baru karena pencampuran 2 magma
yang berlainan jenis. b. Sintesis = pembentukan magma baru karena proses
asimilasi dengan batuan gamping. c. Anateksis = proses pembentukan magma dari
peleburan batuan pada kedalaman yang sangat besar. Sehingga dari akibat-akibat
proses tersebut magma selanjutnya mengalami perubahan daya kondisi awal yang
homogen dalam skala besar sehingga menjadi suatu tubuh batuan beku yang
bervariasi.

Sumber: academia.edu
Proses-proses differensiasi magma:

1. Vesiculation, Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O),


Karbon dioksida (CO2), Sulfur dioksida (SO2), Sulfur (S) dan Klorin (Cl). Pada saat
magma naik kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas,
seperti buih pada air soda. Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta
unsur-unsur yang lebih volatile seperti Sodium dan Potasium.
2. Diffusion, Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material
dari batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat
lambat. Proses diffusi tidak seselektif proses-proses mekanisme differensiasi
magma yang lain. Walaupun demikian, proses diffusi dapat menjadi sama
efektifnya, jika magma diaduk oleh suatu pencaran (convection) dan disirkulasi
dekat dinding dimana magma dapat kehilangan beberapa unsurnya dan
mendapatkan unsur yang lain dari dinding reservoar.
3. Flotation, Kristal-kristal ringan yang mengandung Sodium dan Potasium cenderung
untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan
unsur-unsur Sodium dan Potasium.
4. Gravitational Settling, Mineral-mineral berat yang mengandung Kalsium,
Magnesium dan Besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak
disebelah bawah reservoir dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin
menghasilkan kristal badan bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah
diperkaya dengan mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral silikat
dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral Silikat yang lebih ringan.
5. Assimilation of Wall Rock, Proses ini dapat terjadi pada saat terdapat material
asing dalam tubuh magma seperti adanya batuan disekitar magma yang
kemudian bercampur, meleleh dan bereaksi dengan magma induk dan kemudian
akan mengubah komposisi magma. Selama emplacement magma, batu yang jatuh
dari dinding reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan
magma atau secara sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah
komposisi magma. Jika batuan dinding kaya akan Sodium, Potasium dan Silikon,
magma akan berubah menjadu komposisi granitik. Jika batuan dinding kaya akan
Kalsium, Magnesium dan Besi, magma akan berubah menjadi berkomposisi
Gabroik.
6. Thick Horizontal Sill, Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi
magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoir. Jika bagian
sebelah dalam memebeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan,
dimana mineral silikat yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dan mineral
silikat yang lebih ringan.
7. Fragsinasi, Proses ini merupakan suatu proses pemisahan kristal-kristal dari
larutan magma karena proses kristalisasi perjalan tidak seimbang atau kristal-
kristal tersebut pada saat pendinginan tidak dapat mengubah perkembangan.
Komposisi larutan magma yang baru ini terjadi sebagai akibat dari
adanya perubahan temperatur dan tekanan yang mencolok serta tiba-tiba.
8. Liquid Immisbility, Ialah larutan magma yang mempunyai suhu rendah akan pecah
menjadi larutan yang masing-masing akan membelah membentuk bahan yang
heterogen.

1.2. ASIMILASI MAGMA.

Sumber: academia.edu

Asimilasi Magma Proses ini dapat terjadi pada saat terdapat material asing
dalam tubuh magma seperti adanya batuan disekitar magma yang
kemudian bercampur, meleleh dan bereaksi dengan magma induk dan kemudian
akan mengubah komposisi magma.

1.3. MAGMA MIXING.

Kondisi dimana terjadi pencampuran magma induk dengan dua atau lebih
magma yang lainnya sebelum terdiferensiasi.

I. 3. Kelompok Magma ( Alkaline dan Subalkaline )

Kelompok magma adalah suatu kelompok yang menggambarkan evolusi


komposisi magma dari magma ultramafik yang tinggi akan magnesium dan besi
hingga mengalami kristalisasi fraksional menjadi magma felsik yang rendah akan
magnesium dan besi. Terdapat dua seri magma utama, yaitu alkali dan subalkali.
Seri magma alkalin mengandung silika rendah dan alkalin yang tinggi, sebaliknya
seri magma subalkaline mengandung silika tinggi dan alkaline yang rendah.

3.1 Alkali

Terbagi atas dua bagian besar yaitu leucistik dan shoshonitik. Seri magma
alkalin akan menghasilkan batuan beku jenis basa dan ultrabasa. dengan seri
leucistic menghasilkan batuan basa dan shonsonitic menghasilkan batuan ultrabasa,
Hal ini dikarenakan komposisi silika dan alkalin yang mengontrol persentase
jumlahnya dalam magma
3.2 Subalkali

Terbagi atas dua bagian besar yaitu Tholeitik dan kalk-alkaline. Seri magma
subalkali ini akan menghasilkan batuan intermediet sampai felsik. dengan tipe
tholeitik menghasilkan batuan lebih basa daripada kalk-alkali yang menghasilkan
batuan yang lebih asam.

I. 4. Tubuh Batuan Beku.


4.1 Bentuk konkordan
Yaitu tubuh batuan yang mempunyai hubungan struktur batuan intrusi
ini dengan batuan sekelilingnya sedemikian rupa sehingga batas atau
bidang kontak nya sejajar dengan bidang perlapisan batuan sekelilingnya
Macam – macamnya :
a. SILL

Geology.com
Sill atau disebut juga sheet biasanya bidang kontaknya sejajar
dengan bidang perlapisan batuan samping, atau secara sederhana
sill adalah tubuh batuan beku yang melembar dan kedudukannya
pararel atau sejajar dengan batuan sekitarnya.
b. LACCOLITH

Geology.com

Bentuk ini dihasilkan ketika magma yang menerobos sepanjang


bidang yang lemah dan menyebabkan bentuk kubah (dome) dengan
sudut kemiringan yang merata ke berbagai arah. Tetapi kadang-
kadang bentuknya asimetri. Diameter laccolith dapat berkisar 2
sampai 4 mil dan kedalamannya dapat mencapai ribuan meter,
dimana secara ideal bagian dasarnya tetap rata.
c. PHACOLITH
Adalah bentuk intrusi yang menempati antiklin atau sinklin yang
berbentuk lensa dan hal ini tergantung dari bentuk intrusinya
terhadap perlapisan yang terlipat sebelumnya. Ketebalan phacolith
dapat mencapai ratusan meter kadang ribuan meter.

d. LOPOLITH

Geology.com

Intrusi jenis ini merupakan kebalikan dari bentuk pacolith.


Bentuknya cembung ke bawah yaitu bagian tengah intrusi
melengkung ke bawah. Diameter dari lopolith ini biasanya
puluhan sampai ratusan kilometer dan kedalamannya sampai
ribuan meter
4.2 Bentuk Diskordan
Tubuh batuan beku diskordan adalah tubuh batuan yang mempunyai
hubungan struktur yang memotong (tidak sejajar) dengan batuan induk
yang diterobosnya.

e. DIKE

Geology.com
Adalah tubuh batuan beku yang tabular atau memanjang yang
memotong batuan yang berumur lebih tua. Dike dibentuk oleh
injeksi magma yang masuk kedalam rekah-rekah batuan.
Ketebalannya dari beberapa centimeter sampai beberapa puluh
meter dan panjangnya dari beberapa meter sampai ratusan meter.

f. BATOLITH
Masa plutonik dengan ukuran yang besar yang membeku pada
kedalaman yang lebih besar dari pada batuan intrusi yang lainnya.
Dapat mencapai > 100 km2.

g. STOCK

Geology.com
Tubuh intrusi yang mirip dengan batolith dengan ukuran yang
tersingkap dipermukaan < 100 km2.
I. 5. Hal yang perlu Dideskripsikan pada Batuan Beku.

1. Warna, sebagai petunjuk awal, untuk memperkirakan komposisi


kimia dan mineral dari batuan

2. Tesktur, besar butir dan kemas, yang mana hubungan dengan


sejarah dan cara kejadian batuan, serta kecepatan dan urutan
pertumbuhan kristal.

3. Mineralogi, sebagai petunjuk untuk identifikasi batuan, biasanya di


dalam batuan beku terdapat antara 2 – 4 mineral utama.

4. Inklusi material asing (sebagai tambahan dalam membantu


identifikasi batuan). Inklusi ini kadang ditemukan dalam batuan
beku dan harus dideskripsi terpisah, inklusi penting ketika kita
ingin menilai cara kejadian dan asal tubuh batuan beku.
5.
I. 6. Batuan Beku berdasarkan kandungan SiO2.
Berdasarkan kandungan senyawa kimia (kandungan
silikanya) maka batuan beku dapat dibagi menjadi :

1. Batuan beku Asam : Silika > 65 %


2. Batuan beku Menengah : Silika 65 - 52 %

3. Batuan beku Basa : Silika 52 - 45 %

4. Batuan beku Ultrabasa : Silika < 45 %

I. 7. Batuan Beku berdasarkan tempat terbentuknya.

Dalam proses vulkanisme merupakan proses yang menyangkut


naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma merupakan material yang berbentuk
cair kental dengan suhu yang sangat tinggi yang ada di dalam perut bumi. Magma
dalam perut bumi ini melakukan aktivitas pergerakan yang sangat dinamis dimana
disebabkan karena adanya tekanan udara dan banyaknya gas yang terdapat di
dalamnya. dalam pergerakan aktivitas ini magma akan membuat beberapa retakan
di dalam lempeng bumi sehingga magma tersebut bisa sampai naik ke permukaan
lapisan atmosfer bumi.

Proses keluarnya magma dari dalam perut bumi dilakukan dengan melalui
penyusupan di dalam kulit bumi, pada proses tersebut dibagi menjadi dua proses
yaitu instrusi magma dan ekstrusi magma. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskkan
berikut ini perbedaan intrusi dan ekstrusi magma :

Sumber: jagad.id

7.1. Instrusi Magma

Intrusi magma merupakan sebuah proses penerobosan magma melalui kulit bumi
namun tidak sampai pada permukaan bumi. Proses intrusi magma ini juga kerap
disebut dengan istilah lainnya yaitu plutonisme. Proses intrusi magma ini tidak
sampai pada permukaan bumi namun menghasilkan batuan beku yang termasuk ke
dalam golongan batuan beku intrusive.

Bentuk-bentuk dari adanya intrusi magma ini antara lain adalah seperti gang,
apofisa, batolit, lakolit dan kepiting intrusi.
 Batolit – Batolit merupakan bentuk dari adanya intrusi magma yang
mengalami pembekuan di dalam dapur magma. Mengapa hal ini bisa terjadi?
karena di dalam dapur magma pun sebenarnya ada beberapa rongga yang
memiliki suhu lebih rendah dari pada ruangan lainnya sehingga terjadi
pembekuan di dalamnya. semakin jauh batuan dari inti dapur magma maka
proses pembekuannya akan semakin cepat dan sebaliknya.
 Lakolit – Lakolit merupakan jenis dari batuan beku yang terjadi karena
adanya magma yang menyusup ke dalam dua jenis batuan yang berbeda. Jika
digambarkan lakolit ini bentuknya seperti lensa cembung.
 Kepiting Instrusi – Kepiting intrusi atau yang juga dikenal sebagai sill
merupakan magma yang masuk ke dalam dua jenis batuan yang berbeda
namun bentuknya pipih dan melebar. Banyak yang tidak bisa membedakan
antara sill dan lakolit karena memang keduanya hampir mirip. Untuk bisa
membedakannya perlu dilakukan analisis yang sangat jeli.
 Gang – Gang atau yang juga disebut sebagai korok merupakan salah satu
jenis batuan beku yang terjadi karena adanya intrusi magma namun arahnya
memotong batuan secara tegak lurus sehingga terbentuk tekstur yang sangat
unik karena adanya gerakan ini.
 Apofisa – Apofisa merupakan cabang dari gang atau korok dimana di dalam
satu gang biasanya terdapat beberapa apofisa. Bentuknya pun lebih kecil
dibandingkan dengan gang. Jadi, apofisa itu adalah gang versi kecilnya.

7.2. Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma merupakan sebuah penerobosan magma dari dalam perut bumi
melalui kerak bumi dan mencapai permukaan bumi. Ekstrusi magma merupakan
proses lanjutan dari adanya intrusi magma yang tidak sempat mencapai permukaan
bumi. Dalam proses ekstrusi magma ini terjadi pengeluaran berbagai material dari
dalam perut bumi seperti batu, gas, lahar, lava, belerang, nitrogen, gas asam arang
dan gas uap air.

Kemudian bentuk-bentuk dari ekstrusi magma ini juga terdiri dari berbagai macam
diantaranya adalah sebagai berikut:

7.2.1. Esktrusi Magma Menurut Sifatnya

Ekstrusi magma menurut sifatnya dibedakan menjadi dua yaitu:

 Erupsi Epusif – Erupsi epusif merupakan jenis erupsi kecil yang tidak
menyebabkan ledakan karena tekanan gas dari dalam perut bumi terlalu
kecil. Bahan material yang dikeluarkan dalam erupsi ini yaitu hanyalah lava
cari saja dan sedikit material padat lainnya. lava merupakan magma yang
bentuknya cair kental serta pijar dengan suhu yang sangat tinggi yang
mengalir di permukaan bumi.
 Erupsi Eksplosif – Erupsi eksplosif merupakan erupsi yang sampai
menyebabkan letusan dan mengeluarkan banyak bahan material dari dalam
perut bumi. Hal ini dikarenakan karena tekanan gas yang sangat kuat
sehingga menyebabkan bahan material dari dalam perut bumi baik cair
maupun padat sampai keluar dalam jumlah yang cukup besar.

7.2.2. Ekstrusi Magma Menurut Bentuknya

Ekstrusi magma menurut bentuknya dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu


sebagai berikut ini:

 Ekstrusi Sentral – Ekstrusi ini merupakan sebuah kejadian dimana


keluarnya magma melalui saluran tunggal dan langsung dari pusat perut
bumi sehingga membentuk gunung-gunung yang letaknya menyendiri
namun ukurannya cukup besar dan biasa disebut sebagai gunung api.
Contohnya adalah gunung Krakatau, dan gunung Vesuvius

 Ekstrusi Linier – Ekstrusi linier merupakan keluarnya magma dari dalam


perut bumi yang keluar melalui celah di sepanjang retakan sehingga
menyebabkan terbentuknya beberapa gunung api yang biasanya berukuran
kecil disepanjang pegunungan retakan tersebut, contoh dari ekstrusi linier
adalah pegunungan api di sepanjang jawa barat dan pegunungan api di jawa
timur. Di Indonesia sendiri cukup banyak terdapat tipe pegunungan yang
demikian yang sangat mungkin terjadi letusan karena Indonesia terletak di
kawasan cincin api dimana merupakan daerah persimpangan dari lempeng
dunia.

 Ekstrusi Areal – Ekstrusi areal merupakan sebuah lubang besar yang


mengeluarkan magma ke permukaan bumi. Lubang yang sangat besar
tersebut diakibatkan karena dekatnya permukaan bumi dengan dapur magma
sehingga tekanannya pun sangat kuat. Karena hal ini magma tersebut
menghancurkan dapur magma dan meleleh keluar bumi. Contoh dari ekstrusi
areal adalah di kawasan Yellow Stone National Park di amerika serikat yang
memiliki luas hampir 10.000 m2.

I. 8. Proses dan Tempat Pembentukan Batuan Beku.


Smber: gurugeografi.id

8.1. Batuan Plutonik

Batuan beku ini membeku didalam bumi jauh sekitar (15-


50Km). Karena pembekuannya dekat dengan astenosfer, maka
pembekuan batuan ini sangatlah lambat sehingga banyak kristal-kristal
besar yang sempat membeku dengan sempurna.2. Batuan Vulkanik

Batuan beku ini berasal dari proses pembekuan magma yang telah
keluar dari permukaan bumi(lava), proses pendinginannya cukup cepat
sehingga tidak cukup banyak waktu untuk kristl-kristal membeku dengan
sempurna.

8.2. Batuan Beku Vulkanik

Batuan beku ekstrusif adalah salah satu jenis batuan beku


yang dihasilkan dari proses pembekuan magma di permukaan bumi.
Magma yang mengalir atau terlontar ke permukaan bumi akibat adanya
letusan disebut dengan lava. Lava yang keluar ke permukaan bumi
tersebut bisa saja berada di daratan maupun terbawa ke bawah
permukaan laut. Pendinginan lava terjadi dengan cepat kemudian
membentuk padatan, debu atau pun cairan kental yang panas.

8.3. Batuan Gang/Korok.

Batuan gang antara batuan dalam dan batuan leleran terdapat


gejala antara batuan yang terbentuk dalam celah–celahdalam kerak bumi.
Batuan yang terbentuk adalah batuan gang atau batuan korok disebut juga
batuan hypo-abisik.
I. 9. Tekstur Batuan Beku.

Tekstur adalah kenampakan dari batuan yang dapat merefleksikan


sejarah kejadiannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukkan
tekstur batuan beku adalah derajat kristalinitas, granulitas/besar butir dan
kemas/fabric.

9.1. Derajat Kristalisasi

a. Holokristalin : terdiri dari kristal seluruhnya


b. Hipokristalin : terdiri dari sebagian kristal dan sebagian gelas
c. Holohyalin : terdiri dari gelas seluruhnya

9.2. Granularitas / Besar Kristal


a. Faneritik : kristal-kristalnya dapat dilihat dengan mata biasa
Khusus untuk batuan bertekstur faneritik, ukuran butirnya dapat ditentukan
sebagai berikut :
- Halus : besar butir < 1mm
- Sedang : besar butir 1mm – 5mm
- Kasar : besar butir 5mm – 3cm
- Sangat kasar : besar butir > 3cm
b. Afanitik : kristal-kristalnya sangat halus atau amorf, hanya dapat dilihat dengan
mikroskop
c. Jika batuan bertekstur porfiritik, maka ukuran fenokris dan masadasar dipisah.
9.3. Keseragaman Kristal
a. Equigranular : ukuran besar butir relatif sama
b. Inequigranular : ukuran besar butir tidak sama
- Porfiritik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris) tertanam dalam
masadasar kristal yang lebih halus
- Vitrofirik : kristal-kristal yang lebih besar (fenokris) tertanam dalam
masadasar gelas/amorf.

I. 10. Tekstur Khusus Batuan Beku dan Genesanya.

Sumber: remodonline.blogspot.com

10.1. Porfiritik

Porfiritik merupakan tekstur khusus pada batuan beku yang


terbentuk akibat adanya perbedaan ukuran kristal mineral yang
menyusun suatu batuan beku.

10.2.Trakhitik

Tekstur ini memiliki kenampakan yang cukup menarik berupa


adanya mikrolit atau cryptocrystalline plagioklas yang menunjukkan
kesejajaran di antara mineral lain. Tekstur trakhitik sering ditemukan
pada batuan beku vulkanik. Tekstur ini terbentuk akibat adanya aliran
magma atau lava yang membuat orientasi penyusunan mineral menjadi
sejajar.
10.3. Diabasic

Tekstur dimana plagioklas berbentuk prismatik panjang tumbuh


bersama dengan piroksen, di sini piroksen terlihat jelas dan plagioklas
radier terhadap piroksen.

10.4. Interstisial

Pada tekstur ini, untuk pengamatan megaskopis sangat susah jadi


harus dalam pengamatan mikroskop. Dalam pengamatan mikroskop
biasanya ruang antar plagioklas diisi oleh mineral olivin, piroksen, atau
bijih besi

10.5. Intersertal

Pada tekstur ini, untuk pengamatan megaskopis sangat susah,


sehingga harus dalam pengamatan mikroskopis. Dalam pengamaan
mikroskopis biasanya ruang antar plagioklas diisi oleh gelas.

10.6. Ofitik dan Subofitik

Subofitik adalah dimana mineral plagioklas tertanam pada mineral


olivin atau piroksen secara acak. dan ofitik adalah kebalikannya.

I. 11. Struktur Batuan Beku.

Struktur yang berhubungan dengan pendinginan magma :

Sumber: adenpanji.blogspot.com

• Vesikuler : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava)


Sumber: catatansidogol.wordpress.com

• Amigdaloidal : lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava), yang telah
diisi oleh mineral sekunder seperti zeolit, kalsit, kuarsa.

Sumber: blogs.agu.org

• Kekar kolom : kekar berbentuk tiang dimana sumbunya tegak lurus arah
aliran.

Sumber: catatansidogol.wordpress.com
• Kekar berlembar : kekar berbentuk lembaran, biasanya pada tepi/atap intrusi
besar akibat hilangnya beban.

I. 12. Klasifikasi IUGS.


1. Golongan Faneritik

• Batuan bertekstur faneritik, dapat teramati secara megaskopis (mata biasa),


berbutir sedang – kasar (lebih besar dari 1mm)
• Golongan faneritik dapat dibagi atas beberapa jenis batuan
• Dasar pembagiannya adalah kandungan mineral kuarsa (Q), atau mineral
feldspartoid (F), feldspar alkali (A), serta kandungan mineral plagioklas (P)
• Cara menentukan nama batuan dihitung dengan menganggap jumlah ketiga
mineral utama (Q + A + P atau F + A + P) adalah 100%

2. Golongan Afanitik

• Batuan beku bertekstur afanitik, mineral-mineralnya tidak dapat dibedakan


dengan mata biasa atau menggunakan lup, umumnya berbutir halus (<
1mm), sehingga batuan beku jenis ini tidak dapat ditentukan prosentase
mineraloginya secara megaskopis.

Plutonik Vulkanik
Sumber: wingmanarrows.wordpress.com sumber: wingmanarrows.wordpress.com
I. 13. Diagram Daun
I. 14. Deskripsi Batuan Beku.

14.1. Intrusive
a. Diorit

Sumber: gurupendidikan.co.id

1. Warna : abu-abu
2. Kristalinitas : hipokristalin
3. Granularitas : Fanerik
4. Relasi : inequigranular
5. Komposisi Mineral :

Sanidine 10% – Adularia 5% – Quartz 25%

Plagioklas 30% – Hornblende 15% – Biotit 10%

b. Granit

Sumber: geologypage.com

1. Warna : cokelat
2. Kristalinitas : hipokristalin
3. Granularitas : Fanerik
4. Relasi : equigranular
5. Fabrik : subhedral
6. Struktur : massive
7. Komposisi Mineral:

– Hornblende 15% Plagioklas 10% Quartz 10%

– Sanidine 20% Biotit 15% Orthoclas 20%


c. Gabro

Sumber: ilmugeografi.com

1.Warna : hitam
2.Kristalinitas : hipokristalin
3.Granularitas : afanitik
4.Relasi : inequigranular
5.Struktur : masive
6.Fabric : subhedral
7.komposisi mineral:

– biotit : 35% – piroksin : 35%

– kuarsa : 20% – olivin : 10%

14.2. Extrusive
a. Dacite

Sumber: academia.edu

1. Warna : abu-abu
2. Kristalinitas : Hipokristalin
3. Granularitas : afanitik
4. Relasi : equigranular
5. Komposisi mineral:

– Plagioklas 45% Hornblende 20% Quartz 15 %

– Anorthoclas 5 % Microcline 5% Orthoclas 5% Sanidine 5%


b. Monozonite

Sumber: gurupendidikan.co.id

1. Warna : abu-abu
2. Kristalinitas : hipokristalin
3. Granularitas : fanerik
4. Relasi : inequigranular
5. Komposisi mineral

Hornblende 30% – Quartz 25% – Plagioklas 15%

Sanidine 15% – Adularia 10% – Glass 5%

c. Riolit

Sumber: gurupendidikan.co.id

1. Warna : pink
2. Kristalinitas : hipokristalin
3. Granularitas : Afanitik
4. Relasi : equigranular
5. Fabrik : subhedral
6. Struktur : massive
7. Komposisi mineral:

– Orthoclas 20% Hornblende 15% Biotit 15%


– Plagioklas 10% Sanidine 20% Glass 10%

– Quartz 10%
BAB II

TUJUAN PRAKTIKUM
BAB II

TUJUAN PRAKTIKUM

Adapun tujuan dari praktikum petrologi acara 2 “Batuan Beku” adalah sebagai
berikut:

II. 1. Praktikan dapat memploting batuan dengan diagram IUGS.


2. Praktikan dapat mendeskripsikan Batuan dengan No. Peraga 1.
3. Praktikan dapat mengetahui 3 mineral utama penyusun batuan yang
ada dalam diagram IUGS.
BAB III

HASIL PRAKTIKUM
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN :1

2. WARNA : Putih bintik Hitam

3. JENIS BATUAN : Intrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Hipokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Equigranular

c. GRANULARITAS : Faneritik

d. TEKSTUR KHUSUS : Diabasic

5. STRUKTUR : Massif
SKALA

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 30% Biotit = 10%


Plagioklas = 20%
K-Feldspar = 20%
Q : 30% Q+P+A = 70%
P : 20%
A : 20%

Q = 30/70 x 100% = 42,9%

P = 20/70 x 100% = 28,6%

A = 20/70 x 100% = 28,6%


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN :2

2. WARNA : Hitam Kemerahmudaan

3. JENIS BATUAN : Ekstrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Hipokristakin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Equigranular

c. GRANULARITAS : Afanitik

d. TEKSTUR KHUSUS : Trakhitik

5. STRUKTUR : Massif
SKALA

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 10% Biotit = 15%


Plagioklas = 10%
K-Feldspar = 20%
Q : 10% Q+P+A = 40%
P : 10%
A : 20%

Q = 10/40 x 100% = 25%

P = 10/40 x 100% = 25%

A = 20/40 x 100% = 50%


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN :3

2. WARNA : Hitam Keputihan

3. JENIS BATUAN : Ekstrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Hipokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Inequigranular

c. GRANULARITAS : Afanitik

d. TEKSTUR KHUSUS : Porfiritik

5. STRUKTUR :SKALA
Massif

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 5%

Plagioklas = 30%

Feldspar = 5%
Q = 5% Q+P+A = 40%
P = 30%
A = 5%

Q = 5/40 x 100% = 12,5%


P = 30/40 x 100% = 75%
A = 5/40 x 100% = 12,5%
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN : 12

2. WARNA : Cokelat keputihan

3. JENIS BATUAN : Ekstrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Holokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Inequigranular

c. GRANULARITAS : Afanitik

d. TEKSTUR KHUSUS : Porfiritk

5. STRUKTUR :SKALA
Amigdaloidal

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 25%


Plagioklas = 20%
K-Feldspar = 5%
Q = 25 % Q+P+A = 50%

P = 20%

A = 5%

Q = 23/50 x 100% = 46%

P = 20/50 x 100% = 40%

A = 7/50 x 100% = 14%


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN :4

2. WARNA : Hitam Keabu-abuan

3. JENIS BATUAN : Ekstrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Hipokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Equigranular

c. GRANULARITAS : Afanitik

d. TEKSTUR KHUSUS : Trakhitik

5. STRUKTUR :SKALA
Xenolit

6. KOMPOSISI MINERAL : Kuarsa = 7%

Plagioklas = 30%

K-Feldspar = 3%
Q= 7% Q+P+A = 40%
P= 30%
A= 3%

Q = 7/40 x 100% = 17,5%


P = 30/40 x 100% = 75%
A = 3/40 x 100% = 7,5%
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN : 14

2. WARNA : Perak keabu-abuan

3. JENIS BATUAN : Intrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Holokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Equigranular

c. GRANULARITAS : Fanerik

d. TEKSTUR KHUSUS : Diabasic

5. STRUKTUR :SKALA
Masif

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 16%

Plagioklas = 16%

K-Feldspar = 34%
Q = 8% Q+P+A = 50%
P = 8%
A = 34%

Q = 8/50 x 100% = 16%


P = 8/50 x 100% = 16%
A = 34/50 x 100% = 68%
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN :7

2. WARNA : Hitam Keputihan sampai putih kehitaman

3. JENIS BATUAN : Intrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Hipokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Equigranular

c. GRANULARITAS : Fanerik

d. TEKSTUR KHUSUS
SKALA : Diabasic

5. STRUKTUR : Massif

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 25%

Plagioklas = 20%

K-Feldspar = 5%
Q =25% Q+P+A = 50%
P = 20%
A = 5%

Q = 25/50 x 100% = 50%


P = 20/50 x 100% = 40%
A = 5/50 x 100% = 10%
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN :6

2. WARNA : Hitam Keputihan

3. JENIS BATUAN : Intrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Holokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Inequigranular

c. GRANULARITAS : Fanerik

d. TEKSTUR KHUSUS : Interstisial

5. STRUKTUR :SKALA
Massif

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 9%

Plagioklas = 48%

K-Feldspar = 3%
Q = 9% Q+P+A = 60%
P = 48%
A = 3%

Q = 9/60 x 100% = 15%


P = 48/60 x 100% = 80%
A = 3/60 x 100% = 5%
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN : 10

2. WARNA : Abu-abu Kehitaman

3. JENIS BATUAN : Intrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Holokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Inequigranular

c. GRANULARITAS : Fanerik

d. TEKSTUR KHUSUS : Porfiritik

5. STRUKTUR : Massif

6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 20%


SKALA
Plagioklas = 58%

K-Feldspar = 2%
Q = 20% Q+P+A = 80
P = 58%
A = 2%

Q = 20/80 x 100% = 25%


P = 58/80 x 100% = 73%
A = 2/80 x 100% = 3%
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM TEKNIK GEOLOGI
2020

LEMBAR DESKRIPSI BATUAN BEKU

SKETSA

PEMERIAN MEGASKOPIS
1. NO BATUAN :8

2. WARNA : Hijau

3. JENIS BATUAN : Ekstrusif

4. TEKSTUR :

a. DERAJAT KRISTALISASI : Hipokristalin

b. KESERAGAMAN KRISTAL : Equigranular

c. GRANULARITAS : Afanitik

d. TEKSTUR KHUSUS : Porpiritik

5. STRUKTUR : Massif
SKALA
6. KOMPOSISI MINERAL: Kuarsa = 3%

Plagioklas = 7%

Alkali Feldspar = 10%


Q = 3% Q+P+A = 20%

P = 7%

A = 10%

Q = 3/20 x 100% = 15%

P = 7/20 x 100% = 35%

A = 10/20 x 100% = 50%


BAB IV

PEMBAHASAN
BAB IV

PEMBAHASAN

IV.1. No. Peraga 1.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 1 memiliki diameter panjang 2 cm. Batuan ini
memiliki warna putih bintik hitam dan jenis batuan ini adalah Batuan Beku
Intrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat Kristalisasi : Hipokristalin,
Keseragaman Kristal : Equigranular, Granularitas : Faneritik, dan memiliki
Tekstur Khusus : Diabasic. Batuan ini juga memiliki Struktur Massif dan ada
beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa 30%, Plagioklas 20%,
K-Feldspar 20%, Biotit 10%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama Granit.

Sumber: geologypage.com
Batuan Granit memiliki warna cokelat, Kristalinitasnya Hipokristalin,
Granularitasnya Fanerik, Relasinya Equigranular, Fabrik Subhedral.
Strukturnya Masiff dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu :
Kuarsa 10%, Plagioklas 10%, Orthoclas 20%, Biotit 15%, Hornblende 15%,
Sanidine 20%.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Genesa batuan Granit adalah batuan beku plutonik, yang terjadi dari hasil
pembekuan magma berkomposisi asam pada kedalaman tertentu dari permukaan
bumi.
IV.2. No. Peraga 2.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 2 memiliki diameter panjang 2 cm. Batuan ini
memiliki warna Hitam kemerahmudaan dan jenis batuan ini adalah Batuan Beku
Ekstrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat Kristalisasi : Hipokristalin,
Keseragaman Kristal : Equigranular, Granularitas : Afanitik, dan memiliki
Tekstur Khusus : Trakhitik. Batuan ini juga memiliki Struktur Massif dan ada
beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa 10%, Plagioklas 10%,
K-Feldspar 20%, Biotit 50%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama Riolit.

Sumber: gurupendidikan.co.id
Batuan Riolit memiliki warna, Kristalinitasnya Hipokristalin,
Granularitasnya Afanitik, Relasinya Equigranular, Fabrik Subhedral.
Strukturnya Masiff dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu :
Kuarsa 10%, Plagioklas 10%, Orthoclas 20%, Biotit 15%, Hornblende 15%,
Sanidine 20%, Glass 10%.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Riolit terbentuk dari pembekuan magma di dalam kerak bumi yang
lazimnya dari letupan gunung berapi, yang terbentuk daripada pembekuan magma
di permukaan bumi.
IV.3. No. Peraga 3.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 3 ini memiliki warna Hitam keputihan dan jenis
batuan ini adalah Batuan Beku Ekstrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat
Kristalisasi : Hipokristalin, Keseragaman Kristal : Inequigranular, Granularitas :
Afanitik, dan memiliki Tekstur Khusus : Porfiritik. Batuan ini juga memiliki
Struktur Massif dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa
5%, Plagioklas 30%, K-Feldspar 5%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama
Andesit Porfiri.

Sumber: academia.edu
Batuan Andesit Porfiri memiliki warna Abu-abu kecoklatan,
Granularitasnya: Porfori Afanitik, Genesa batuanya Intrusif, dan Komposisi
mineralnya antara lain: Hornblende dan feldspar, Serta Jenis batuannya termasuk
Batuan beku Intermediate.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Andesit ditemukan dalam aliran lava yang dihasilkan oleh stratovulkano.
Lava yang naik ke ke permukaan akan mengalami proses pendinginan dengan
cepat, hal inilah yang menyebabkan tekstur andesit menjadi lebih halus.
IV.4. No. Peraga 12.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 12 ini memiliki warna Cokelat keputihan dan
jenis batuan ini adalah Batuan Beku Ekstrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat
Kristalisasi : Holokristalin, Keseragaman Kristal : Inequigranular, Granularitas :
Afanitik, dan memiliki Tekstur Khusus : Porfiritik. Batuan ini juga memiliki
Struktur Amigdaloidal dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu :
Kuarsa 25%, Plagioklas 20%, K-Feldspar 5%. Dapat disimpulkan Batuan ini
Bernama Dasit.

Sumber: academia.edu
Batuan Dasit memiliki warna Cokelat Kehijauan, dan termasuk Jenis
batuan Beku Basa. Batuan ini memiliki struktur Massif, serta Bertekstur antara
lain: Kristalinitas : Holokristalin, Granularitas: Fanerik, Bentuk Kristal:
Subhedral, dan Relasinya: Inquigranular. Komposisi Mineralnya Amegdaloidal
yang tersusun atas mineral Kuarsa 30% dan Hornblenda 70%.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Batuan Dasit merupakan batuan hasil terobosan batuan beku intrusi yang
terbentuk dari hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic. Batuan ini
terbentuk karena proses pembekuan magma yang bersifat cepat.
IV.5. No. Peraga 4.

Foto Batu Virtual


Batuan dengan No. Peraga 4 ini memiliki warna Hitam Keabu-abuan dan
jenis batuan ini adalah Batuan Beku Ekstrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat
Kristalisasi : Hipokristalin, Keseragaman Kristal : Equigranular, Granularitas :
Afanitik, dan memiliki Tekstur Khusus : Trakhitik. Batuan ini juga memiliki
Struktur Xenolit dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa
7%, Plagioklas 30%, K-Feldspar 3%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama
Andesit.

Sumber: academia.edu
Batuan Andesit memiliki warna Abu-abu Kehitaman, dan termasuk Jenis
batuan Beku Basa. Batuan ini memiliki struktur Massif, serta Bertekstur antara
lain: Kristalinitas : Holokristalin, Granularitas: Fanerik, Bentuk Kristal:
Subhedral, dan Relasinya: Inquigranular. Komposisi Mineralnya Mafik yang
tersusun atas mineral Piroksen 10% dan Plagioklas 90%
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Andesit ditemukan dalam aliran lava yang dihasilkan oleh
stratovulkano. Lava yang naik ke ke permukaan akan mengalami proses
pendinginan dengan cepat, hal inilah yang menyebabkan tekstur andesit menjadi
lebih halus.
IV.6. No. Peraga 14.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 14 ini memiliki warna Perak Keabu-abuan dan
jenis batuan ini adalah Batuan Beku Intrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat
Kristalisasi : Holokristalin, Keseragaman Kristal : Equigranular, Granularitas :
Fanerik, dan memiliki Tekstur Khusus : Diabasic. Batuan ini juga memiliki
Struktur Massif dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa
16%, Plagioklas 16%, K-Feldspar 34%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama
Syenit.

Sumber: id.wikipedia.org

Syenit adalah batuan beku intrusif berbutir kasar dengan komposisi umum
mirip dengangranit, tapi kekurangan kuarsa, yang, jika pun ada, hanya dengan
konsentrasi relatif kecil (<5%). Beberapa syenit mengandung proporsi mafik yang
lebih besar dan jumlah felsik yang lebih sedikit dari granit kebanyakan; mereka
diklasifikasikan sebagai komposisi menengah. Ekuivalen dari syenit di batuan
ekstrusif adalah trasit..
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Genese Batuan Syenit merupakan batuan beku yang membeku lebih lambat dan
mengakibatkan memiliki warna campuran antara hitam dan putih.
IV.7. No. Peraga 7.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 7 ini memiliki warna Hitam keputihan sampai
putih kehitaman dan jenis batuan ini adalah Batuan Beku Intrusif. Tekstur batuan
ini meliputi; Derajat Kristalisasi : Hipokristalin, Keseragaman Kristal :
Equigranular, Granularitas : Fanerik, dan memiliki Tekstur Khusus : Diabasic.
Batuan ini juga memiliki Struktur Massif dan ada beberapa komposisi mineral di
dalamnya yaitu : Kuarsa 25%, Plagioklas 20%, K-Feldspar 5%. Dapat
disimpulkan Batuan ini Bernama Granodiorit.

Sumber: rocks.comparenature.com

Granodiorit adalah batuan beku intrusif dengan tekstur faneritik yang mirip
dengan granit, tetapi mengandung lebih banyak plagioklas felspar daripada ortoklas
felspar. Menurut diagram QAPF, granodiorit memiliki volume kuarsa lebih besar
dari 20%, dan 65%-90% felsparnya merupakan plagioklas. Plagioklas dengan
jumlah yang lebih besar dapat membuat batuan ini menjadi tonalit.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Batuan granodiorit adalah beku intrusif, batuan yang dihasil kan
dari pembekuan magma yang dipengaruhi oleh penurunan suhu dan perbedaan
tekanan dan hasildari pembekuan magma ini ada yang di dalam perut bumi
atau disebutbatuan intrusif atau plutonik, dicirikan dengan tekstur kristal yang
kasar dan bentuk kristal sempurna.
IV.8. No. Peraga 6.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 6 ini memiliki warna Hitam keputihan dan jenis
batuan ini adalah Batuan Beku Intrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat
Kristalisasi : Holokristalin, Keseragaman Kristal : Inequigranular, Granularitas :
Fanerik, dan memiliki Tekstur Khusus : Interstisial. Batuan ini juga memiliki
Struktur Massif dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa
9%, Plagioklas 48%, K-Feldspar 3%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama
Gabro.

Sumber:geology.com

Batuan Gabro termasuk Jenis Batuan Beku Basa Plutonik yang memiliki
warna abu-abu gelap dan strukturnya massif. Teksturnya meliputi Derajat
kristalisasi: holokristalin, Derajat Granularitas: faneroporitik kasar >5mm, Serta
memiliki komposisi mineral Kuarsa 10%, plagioklas 45%, Piroksen 35%, dan K-
Feldspar 10%.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Batuan beku ini terbentuk langsung dari pembekuan magma. Warnanya
yang gelap mengindikasikan bahwa batuan ini terbentuk dari magma yang bersifat
basa.Batuan ini membeku pada kedalaman dangkal atau merupakan intrusi dangkal
sehingga termasuk pada batuan beku hypabisal, biasanya dalam bentuk tubuh
batuan beku dyke atau sill. Batuan ini pejal atau massif karena tidak mengalami
gaya endogen yang mengakibatkan adanya retakan.
IV.9. No. Peraga 10.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 10 ini memiliki warna Abu-abu kehitaman dan
jenis batuan ini adalah Batuan Beku Intrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat
Kristalisasi : Holokristalin, Keseragaman Kristal : Inequigranular, Granularitas :
Fanerik, dan memiliki Tekstur Khusus : Porfiritik. Batuan ini juga memiliki
Struktur Massif dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa
20%, Plagioklas 58%, K-Feldspar 2%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama
Tonalit.

Sumber: infonya-unik.blogspot.com

Tonalit adalah batuan beku, batuan intrusi plutonik, dari komposisi felsik
dengan tekstur faneritik. Felspar hadir sebagai plagioklas (biasanya oligoklas atau
andesin) dengan 10% atau kurang alkali felspar. Komposisi kuarsa pada batu lebih
besar dari 20%. Ampibol dan piroksen merupakan mineral tambahan yang umum.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Genesa tonalit adalah batuan yang terbentuk di dalam permukaan bumi.
Tonalit membeku lebih lama sehingga terbentuklah Kristal yang lebih besar.
IV.10. No. Peraga 8.

Foto Batu Virtual

Batuan dengan No. Peraga 10 ini memiliki warna Hijau dan jenis batuan ini
adalah Batuan Beku Ekstrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat Kristalisasi :
Hipokristalin, Keseragaman Kristal : Equigranular, Granularitas : Afanitik, dan
memiliki Tekstur Khusus : Porfiritik. Batuan ini juga memiliki Struktur Massif
dan ada beberapa komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa 3%, Plagioklas
7%, K-Feldspar 10%. Dapat disimpulkan Batuan ini Bernama Latit.

Sumber: mineralienatlas.de

Latit adalah batuan beku vulkanik, dengan tekstur afirik-afanitik hingga


afirik-porfiritik. Susunan mineral pada umumnya adalah felspar alkali dan
plagioklas yang seimbang jumlahnya. Kuarsa berjumlah kurang dari 5% dan pada
Latit tidak membawa felspatoid, sedang Olivin tidak hadir pada Latit pembawa
Kuarsa ( Quartz-bearing). Ketika kandungan kuarsa lebih besar dari 5% maka
batuan tersebut dikategorikan sebagai Latit kuarsa.
Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral penyusun
utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan hasilnya ke dalam
diagram. Fokus dengan segitiga atas yang merupakan mineral penyusun utamanya.
Lalu Tarik garis menurut hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang
(Q) tarik garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui
angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan lambang (P) tarik garis
dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di sisi
kanan dan bawah segitiga. Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis
dari kanan atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka di
sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan ketiga garis atau
hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk segitiga.
Genesa Latit adalah batuan yang terbentuk di permukaan bumi sehingga
membeku dengan cepat dan berakibat kristalnya tidak terbentuk dengan sempurna.
BAB V

KESIMPULAN
BAB V

KESIMPULAN

Adapun keseimpulan dari praktikum acara 2 “Batuan Beku” adalah sebagai


berikut:

V. 1. Untuk mulai ploting pertama-tama hitung persenan dari mineral


penyusun utama, kemudian jika sudah ditemukan hasilnya masukan
hasilnya ke dalam diagram. Fokus dengan segitiga atas yang
merupakan mineral penyusun utamanya. Lalu Tarik garis menurut
hasil dari perhitungan tadi. Untuk Kuarsa dengan lambang (Q) tarik
garis dari kanan ke kiri atau sebaliknya dan tentukan nilainya
melalui angka di sisi kanan kiri segitiga. Untuk Plagioklas dengan
lambang (P) tarik garis dari atas kiri ke bawah atau sebaliknya dan
tentukan nilainya melalui angka di sisi kanan dan bawah segitiga.
Untuk Alkali Feldspar dengan lambang (A) Tarik garis dari kanan
atas ke bawah atau sebaliknya dan tentukan nilainya melalui angka
di sisi kiri dan bawah segitiga. Hasilnya berada di titik pertemuan
ketiga garis atau hasil dari pertemuan ketiga gari yang membentuk
segitiga.

2. Batuan dengan No. Peraga 1 memiliki diameter panjang 2 cm.


Batuan ini memiliki warna putih bintik hitam dan jenis batuan ini
adalah Batuan Beku Intrusif. Tekstur batuan ini meliputi; Derajat
Kristalisasi : Hipokristalin, Keseragaman Kristal : Equigranular,
Granularitas : Faneritik, dan memiliki Tekstur Khusus : Diabasic.
Batuan ini juga memiliki Struktur Massif dan ada beberapa
komposisi mineral di dalamnya yaitu : Kuarsa 30%, Plagioklas
20%, K-Feldspar 20%, Biotit 10%. Dapat disimpulkan Batuan ini
Bernama Granit.

3. Tiga mineral utam penyusun batuan yang ada dalam diagram IUGS
yaiut:

1. Kuarsa (Q)

2. Plagioklas (P)

3. Alkali Feldspar (A)


DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA

Noor, Djauhari. 2012. Pengantar Geologi. Bogor; Universitas Pakuan

Sumber Lain:

Maul, Mual. 2012. Petrografi – BAB V. Petrografi Batuan Beku.


wingmanarrows.wordpress.com/ Diakses pada hari Minggu 10 Mei 2020
pukul 18:00 WIB.

Purba, Feronika. 2014. MAGMA DAN DIFERENSIASI MAGMA. academia.edu/


Diakses pada hari Minggu 10 Mei 2020 pukul 15:30 WIB.

Rev, Scientific. . . Perbedaan Intrusi dan Ekstrusi Magma. ilmugeografi.com/


Diakses pada hari Minggu 10 Mei 2020 pukul 15:32 WIB.

Rev, Scientific. . . Batuan Beku : Pengertian, Proses, Jenis dan Contohnya.


https://ilmugeografi.com/, Diakses pada hari Rabu, 6 Mei 2020 pukul 01:10
WIB.