Anda di halaman 1dari 11

MANAJEMEN KEPERAWATAN

“Adab Menghadapi Pasien Lawan Jenis”

Dosen Pengampu: Fathul Khoir, M.Pd

Di susun oleh:

Kelompok: 7

1. Lili Nur Aliya (S18127001)


2. Winda (S18127006)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEMESTER IV

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN

MUHAMMDIYAH PONTIANAK

2020/202
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, sholawat beserta salam kami sungguhkan
kepangkuan Nabi besar Muhammad saw karena berkat rahmat hidayah serta petunjuknya lah
kami dapat menyelesaikamakalah ini yang berjudul ”Adab Menghadapi Pasien Lawan Jenis".

Dalam penyusunan tugas atau materi makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi. Namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak sehingga kendala dapat teratasi
dan makalah ini dapat terselesaikan. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada:

Bapak Fathul Khoir, M.Pd telah banyak membimbing yang telah banyak masukan kepada
kami untuk menyelasaikan makalah ini. Teman-teman anggota kelompok yang telah
berpatisipasi dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Dan tak lupa kepada kedua orang tua yang
telah memberikan dukungan moral kepada kami.

Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa akan
datang dan sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun.

Pontianak, 07 April 2020

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap manusia membutuhkan pertolongan orang lain. Bagaimanapun kuat dan
gagahnya ia, tetaplah ia merupakan makhluk yang lemah. Sakit akan selalu menimpa
siapa saja, tidak peduli ia berkelamin laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin,
semua sama saja dan pasti akan pernah merasakan sakit.Dalam Islam kesehatan sangat
di junjung tinggi, baik kesehatan fisik dan mental, maupun kesehatan lingkungan. Hal
ini dapat kita ketemukan dalam Al-qur’an Dan Sunnah Nabi yang merupakan sumber
hukum islam dan menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Ajaran islam
yang berkenaan dengan kesehatan dapat dibagi menjadi tiga macam,yaitu:

1. Islam melarang perbuatan-perbuatan yang dapat membahayakan kesehatan


diri nya dan atau orang lain.

2. Islam menyuruh (Wajib) atau menyarankan (Sunnah) yang mempunyai


dampak positif, yakni mencegah penyakit dan menyegarkan atau menyehatkan jasmani
dan rohani.

3. Islam menyuruh (Wajib) orang yang sakit berobat untuk mengobati


penyakitnya.

Islam sangat menghargai tugas kesehatan, karena ini adalah tugas yang sangat
mulia, sebab petugas kesehatan sangat menolong sesama manusia yang sangat
menderita. Dalam hukum islam, hubungan dokter dengan pasien adalah hubungan
penjual jasa dan pemakai jasa sehingga terjadi akad ijarah antara kedua belah pihak.
Tempat pelayanan kesehatan merupakan salah satu tempat umum dimana seluruh
kalangan masyarakat akan berinteraksi disana. Diantaranya seperti rumah sakit,
Puskesmas, dan lain-lain. Rumah sakit (hospital) adalah sebuah institusi perawatan
kesehatan propesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter,perawat dan
tenagavahli kesehatan lainnya. Di tempat pelayanan kesehatan seperti itulah batasan
antara laki-laki dan perempuan menurut islam akan dikesampingkan. Maksudnya
dikesampingkan pada kalimat barusan adalah kaburnya hijab antara laki-laki dan
perempuan yang bukan muhrim ini. Dapat kita lihat di tempat pelayanan kesehatan
bahwa baik dokter, perawat ataupun petugas kesehatan lainnya akan melakukan
berbagai interaksi dengan pasien. Tindakan-tindakan tersebut merupakan serangkaian
prosedur yang mesti dijalankani menurut profesi masing-masing. Diantaranya seperti
dokter atau perawat yang harus melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasiennya yang
pastinya harus menyentuh tubuh pasien, melakukan injeksi (suntikan) dibagian
tertentu yang kadang harus membuat pasiennya membuka pakaiannya. Tidak hanya
itu,bahkan kadang dokter atau berawat harus memegang alat vital dari kliennya
untukvberbagai keperluan seperti pada pemasangan kateter atau operasi pada bagian
tersebut yang tidak jarang bahwa petugas medis yang berlainan jenis kelaminlah yang
melakukan tindakan tersebut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah bagaimana
Konsep tentang Adab Menghadapi Pasien Lawan Jenis.

C. Tujuan

1. Tujuan umum

Tujuan umum penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu


memahami tentang Adab Menghadapi Pasien Lawan Jenis.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui pengertian adab lawan jenis

b. Untuk mengetahui aturan melihat aurat lawan jenis


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas
aturan agama, terutama Agama Islam. Norma tentang adab ini digunakan dalam
pergaulan antarmanusia, antartetangga, dan antar kaum. Sebutan orang beradab
sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan
santun yang ditentukan dalam agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, kata
beradab dan tidak beradab dikaitkan dari segi kesopanan secara umum dan tidak
khusus digabungkan dalam agama Islam. Sedangkan arti lawan jenis kelamin adalah
perbedaan jenis kelamin, misalnya lawan jenis kelamin pria adalah wanita, dan lawan
jenis kelamin wanita adalah pria. Jadi adab menghadapi pasien lawan jenis adalah
aturan yang digunakan tenaga kesehatan seperti Perawat, Dokter dan tenaga kesehatan
lainnya dalam melakukan tindakan pengobatan atau tindakan keperawatan untuk
kesembuhan pasien.

B. Aurat Perempuan dan Laki-Laki

Islam memberikan aturan tentang aurat perempuan yang boleh dilihat dalam
hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Aurat perempuan
adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan, dan aurat laki-laki dari pusar
sampai lutut, Hal ini dapat dilihat dalam Firman Allah yang artinya.Allah SWT
memerintahkan bahwa kaum laki-laki maupun perempuan untuk menutupi anggota
tubuhnya dan menahan pandangan agar mereka tidak di ganggu. Dengan menutup
aurat, manusia akan terjaga kehormatannya. Disini dapat pengecualian dari pandangan
ini yaitu pada waktu-waktu yang terpaksa untuk urusan-urusan yang mendesak seperti
melihat dengan tujuan pengobatan, Seorang Dokter atau Perawat boleh melihat aurat
wanita pada tempat tempat yang memerlukan pengobatan, begitu pula sebaliknya.
C. Adap tim medis menghadapi pasien lawan jenis
1. Mengobati dalam Keadaan mendesak

Jika orang yang sakit sengaja menemui dan menaruh kepercayaan terhadap
dokter, para terapis atau ahli medis harus memberikan pelayanan dan perlindungan
yang terbaik bagi pesiennya. Namun harus tetap menjaga syariat. Misalnya tidak
boleh memberikan obat yang haram. Juga harus menjaga hubungan lawan jenis.
Jika pasiennya bukan muhrimnya, hendaklah ada pihak ketiga yang menemani.
Jangan hanya berdua didalam kamar pengobatan. Dalam kondisi-kondisi tertentu
yang diluar batas kemampuan manusia atau pada tingkat kesulitan yang tinggi,
Allah memberikan keringanan atau biasa disebutdengan rukhsah, dan di antara
kondisi yang dapat melahirkan rukhshah tersebut adalah kondisi dharurat yang
dapat mengancam keselamatan jiwa. Para ulama sepakat bahwa sakit dalam banyak
keadaan menjadi salah kondisi dharurat yang membolehkan seseorang untuk
menyingkap auratnya kepada dokter atau perawat yang bersebrangan jenis kelamin
dengan si pasien, Kondisi dharurat membolehkan seseorang untuk melakukan hal-
hal yang dilarang, Adanya pengecualian untuk melakukan sesuatu yang dilarang
pada kondisi yang dapat membinasakan diri seseorang sehingga sampai
memudaratkannya,

Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'am/6 ayat 119:

‫ص َل لَ ُك ْم َما َح َّر َم َعلَ ْي ُك ْم إِال َما اضْ طُ ِررْ تُ ْم إِلَ ْي ِه‬


َّ َ‫َوقَ ْد ف‬

Artinya: "Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang
diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya". Bila
memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan untuk
menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan
maslahat, seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya.

Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus


mengikuti rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak.
Keberadaan mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala
seorang muslim/muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada perawat atau
dokter yang berbeda jenis, ia harus didampingi mahramnya saat pemeriksaan. Tidak
berduaan dengan sang perawat atau dokter di kamar praktek atau ruang periksa.

D. Aturan melihat Aurat Lawan jenis


Berikut beberapa aturan dalam melihat aurat lawan jenis saat melakukan
Tindakan perawatan , pengobatan

1. Tetap didahulukan yang melakukan ngobatan pada pria adalah dari kalangan pria,
begitu pula wanita dengan sesama wanita. Ketika aurat wanita dibuka, maka yang
pertama didahulukan adalah perawat wanita muslimah, lalu perawat wanita kafir,
lalu perawat pria muslim, kemudian perawt pria kafir.

2. Tidak boleh melebihi dari bagian aurat yang ingin diperiksa. Jadi cukup memeriksa
pada aurat yang ingin diperiksa, tidak lebih dari itu. Si dokter juga berusaha
menundukkan pandangannya semampu dia. Jika sampai ia melampaui batas dari
yang dibolehkan ketika memeriksa, hendaklah ia perbanyak istighfar pada Allah
Ta’ala.

3. Jika dapat mendeteksi penyakit tanpa membuka aurat, maka itu sudah mencukupi.
Namun jika ingin mendeteksi lebih detail, kalau cukup dengan melihat, maka
jangan dilakukan dengan menyentuh. Jika harus menyentuh dan bisa dengan
pembatas (penghalang seperti kain), maka jangan menyentuh langsung. Demikian
seterusnya.

4. Disyaratkan ketika seorang Perawat pria mengobati pasien wanita janganlah


sampai terjadi kholwat (bersendirian antara pria dan wanita). Hendaklah wanita
tadi bersama suami, mahram atau wanita lain yang terpercaya.

5. Perawat pria yang memeriksa benar-benar amanah, bukan yang berakhlak dan
beragama yang jelek. Dan itu dihukumi secara lahiriyah.

6. Jika auratnya adalah aurat mughollazoh (yang lebih berat dalam perintah ditutupi),
maka semakin dipersulit dalam melihatnya. Hukum asal melihat wanita adalah
pada wajah dan kedua tangan. Melihat aurat lainnya semakin diperketat sesuai
kebutuhan. Sedangkan melihat kemaluan dan dubur lebih diperketat lagi. Oleh
karena itu, melihat aurat wanita saat melahirkan dan saat khitan lebih diperketat.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Idealnya dan seharusnya, seorang muslim yang sakit hendaknya berobat pada
dokter atau perawat yang sesama jenis. Dalam keadaan tidak adanya dokter yang
sesama jenis dengan pasien maka boleh pasien berobat pada dokter lawan jenis bukan
mahram dengan sejumlah syarat karena ini termasuk dalam kondisi darurat.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini, semoga dapat digunakan sebagai pedoman bagi
pembaca baik tenaga kesehatan khususnya perawat dalam pemberian asuhan
keperawatan secara profesional. Makalah ini masih banyak kekurangan dalam hal
penulisan maupun isi. Oleh sebab itu penulis mengharapkan saran dan kritik demi
kesempurnaan penyusunan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

https://rumaysho.com/2763-aturan-melihat-aurat-lawan-jenis-saat-berobat.html

https://islam.nu.or.id/post/read/89022/hukum-periksa-ke-dokter-yang-berbeda-jenis-kelamin