Anda di halaman 1dari 2

Selimut Tebal Kaum Radikal

Kata radikalisme ditinjau dari segi terminologis berasal dari kata radix yang berarti
akar, sedangkan radikalisme sendiri adalah suatu paham atau gagasan pemikiran yang
menginginkan suatu perubahan secara total. Pada tahap ini radikalisme masih dapat diterima,
akan tetapi arti paham radikalisme tidak hanya sampai disitu saja, dalam mewujudkan
tujuannya kelompok radikal akan menggunakan cara-cara yang extrem sampai pada tindak
kekerasan (violence). Penyuntikan paham radikalisme di Indonesia dilakukan melalui banyak
aspek diantaranya yaitu, aspek ekonomi (financial), agama, ideologi dan yang terpenting
adalah adanya indoktrinisasi yang kuat yang dilakukan kelompok radikalisme. Masalah
ekonomi, agama dan ideologi tidak akan menjadi alasan seseorang untuk terjerumus kedalam
paham radikalisme jika tidak diberikan indoktrinisasi yang matang.

Kemiskinan memang menjadi salahsatu dalang permasalahan meluasnya paham


radikalisme, seseorang yang kesulitan makan dan mempertahankan keberlangsungan
hidupnya berada pada posisi rawan terkena suntikan paham radikalisme, hal ini dikarnakan
awal masukya seseorang kedalam jaringan radikalimse tentu dibarengi dengan imbalan
kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan para anggota baru kelompok radikal. Aspek agama
juga tak kalah menarik membawa seseorang masuk dalam lingkaran pemikiran yang
menyimpang. Orang yang memiliki pengetahuan agama yang sepotong-sepotong akan
menjadi sasaran epik kaum intoleran ini. Dengan mengatasnakaman agama dan atas dasar
kecintaan kepada sang pencipta paham radikal dibungkus dengan kemasan yang menarik
sehingga menggiurkan bagi mereka yang telah tertutup pemikiran jernihnya untuk segera
menikmati sajian yang diberikan kelompok radikal tersebut.

Ideologi menjadi permasalahan yang sangat krusial sebagaimana yang dihadapi


indonesia saat ini. Paham radikalisme berusaha keras menggantikan posisi ideologi Pancasila
dengan ideologi lain yang dikehendakinya. Pancasila sebagai ideologi negara tidak henti-
hentinya diterpa ujian, hal ini dikarenakan keberadaan Pancasila tidak dimaknai sebagai
konsensus yang harus dipatuhi setiap warga negara, bahkan dianggap sebagai penyimpangan
ajaran agama oleh mereka yang justru sebagai dalang dari penyimpangan tersebut.

Penyerangan terhadap ideologi Pancasila bukan merupakan hal baru, sejak awal
kemerdekaan mulai masa orde lama, orde baru, reformasi hingga saat ini selalu ada upaya
mengganti ideologi Pancasila yang merupakakan pondasi dan landasan filosofi berdirinya
bangsa Indonesia yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI. Pancasila
merupakan sumber dari segala sumber hukum negara yang mana hal ini tertuang didalam
Pasal 2 Undang-Undang No 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
Undangan. Apabila diidentifikasi dari teori Hans Nawiasky, maka Pancasila merupakan
staatsfundamentalnorm. Begitu strategisnya posisi Pancasila dalam tataran kehidupan
bernegara, akan tetapi kurangnya pemahaman secara tuntas terhadap nilai yang terkandung
didalam Pancasila dapat disalah artikan bagi kelompok yang berkepentingan.
Paham radikalisme adalah embrio lahirnya terorisme, jadi radikalisme adalah akar
dari permasalahan keamanana negara. Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No 5 Tahun 2018
Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang memberikan pengertian
bahwa “terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan
yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan
korban secara massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek
vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan
motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan”. Dapat disimpulkan bahwa ancaman
radikalisme kini datang dari berbagai arah, kaum radikal nampaknya sangat lihai mengetahui
kelemahan suatu bangsa untuk dijadikan jalan masuk penanaman paham radikalnya, karna
begitu paham radikalisme sudah masuk dan tertanam dengan subur, maka semua aspek
pemicu terjadinya radikalisme akan menyerang seperti halnya bom yang kapan saja siap
meledak.

Pemberantasan terhadap paham radikalisme tidak dapat dilakukan sendiri oleh


pemerintah,masyarakat harus turut membantu dalam menyukseskan ancaman global yang
menyerang keamanan bernegara. Penanganan tersebut harus dilakukan dalam setiap lapisan
masyarakat. Kita ketahui bahwa penyebaran paham radikalisme yang paling berbahaya
adalah dengan cara indoktrinisasi, maka pencegahannya juga harus dengan cara indoktrinisasi
yang kuat dan secara countious. Pemberian indoktrinisasi ini dimulai dari tempat
pembelajaran pertama yaitu rumah, tingkat pendidikan dasar, sampai pada perguruan tinggi.