Anda di halaman 1dari 12

Tafsir Nyai Dan Ning Terhadap Pendidikan Perempuan

TAFSIR NYAI DAN NING TERHADAP PENDIDIKAN PEREMPUAN SANTRI


(Prespektif Hermeneutika Gadamer dalam Kajian Teks Kitab Kuning)

Faridatus Sholihah
Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya
farida_sos@yahoo.co.id

M. Ali Haidar
Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya
m.alihaidar@ymail.com

Abstrak
Modernisasi dengan segala arus perkembangannya mampu menembus berbagai varian masyarakat.
Termasuk mempengaruhi pemikiran masyarakat santri yang masih berhaluan salaf hingga membelah arah
menuju pada transformasi pendidikan. Transformasi yang lebih terlihat adalah pada diri perempuan.,
dimana para ning banyak yang keluar dari pesantren untuk mengkaji ilmu non-kepesantrenan dan menjadi
tenaga profesional di ranah publik. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh internalisasi tradisi dan
idealisme muslim dari kedua orangtuanya. Salah satu media internalisasinya adalah dengan pengkajian
ilmu agama melalui kitab kuning. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap berbagai pemaknaan
yang dimiliki oleh perempuan pesantren dalam memaknai pendidikan perempuan yang termaktub dalam
teks kitab kuning. Beragam makna yang diproduksi itulah turut menentukan keputusan dan tindakan yang
mengarah pada proses belajar penafsir tersebut. Salah satunya arah baru dalam pendidikan perempuan
santri. Metode hermeneutika digunakan untuk mengkaji teks yang berkaitan dengan pendidikan
perempuan yang tercantum dalam kitab kuning. Analisis data menggunakan prespektif hermeneutika
dialogis dari Hans Georg Gadamer untuk mengkaji penafsiran dari para ning dan nyai mengenai beberapa
teks dalam kitab kuning tersebut. Hasil dari penafsiran para informan tersebut kemudian digolongkan
menjadi penafsiran literalis, rasionalis dan spiritualis untuk mengindikasikan suatu transformasi
pemikiran yang menghasilkan pemaknaan-pemaknaan baru terhadap pendidikan perempuan santri.
Terdapat unsur-unsur yang mempengaruhi pemahaman seseorang terhadap teks, diantaranya tradisi,
bahasa, pendidikan, kepentingan praktis, dan pengalaman hidup. Lapangan penelitian dalam penelitian ini
berada di Pondok Pesantren salaf Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Kata Kunci: Transformasi pendidikan, Nyai dan Ning, Hermeneutika, Kitab Kuning.

Abstract
Modernization with the all of impacts give many effects to the society, include to the salaf religion society
(santri), moreover can change their mind and ideological become to be transformation education system.
The visible transformation happened to santri women. Ning become to brave to study sains and be
professional worker in the public society. Their tradition and their parents internalize their mind to be
religius human to obey Islam rules and ideology. One of internalize media is yellow religion books. This
Research show many meanings about education women in the yellow religion books. These meanings
influence to the action in education. Hermeneutic method with prespective fom Hans Georg Gadamer
used for studied the meanings from nyai and ning about religion texts in the yellow religion books which
explain the right of education for women. The result of meanings from informans will classified in the
three classification. Spiritual meaning, rasional meaning, and literal meaning to indicate that
transformation give effects to make new meaning about santri women education system. Theres elements
can influence of the meaning are tradition, language, self experience, education, and practice importance.
The research field in salaf Islamic boarding school Langitan, Widang-Tuban-East Java.
Keywords: Transformation, Education, Nyai dan Ning, Hermeneutics, Yellow Religion Books.

dianggap oleh masyarakat sebagai kelompok yang paling


PENDAHULUAN dekat dengan Tuhan. Seluruh keluarganya akan
Keluarga pemuka agama memiliki kedudukan tinggi di dimuliakan dan dihormati karena kepercayaan terhadap
dalam masyarakat Jawa. Kalangan keluarga inilah yang berkah Tuhan yang dikaruniakan kepada mereka (Geertz,

1
Paradigma. Volume 03 Nomor 01 Tahun 2015

1989: 245). Panggilan kepada para kiai dan keluarganya dalam kajian tafsir kitab-kitab kuning (Great Tradition)
pun berbeda dengan panggilan pada masyarakat awam seperti para tetua mereka (Bruinessen, 2012: 85). Kitab
lainnya. Dalam budaya Jawa istri kiai lazim dipanggil kuning yang menjadi inti pendidikan dari kurikulum
nyai, anak laki-laki kiai disematkan gelar penghormatan pesantren, mulai dialihkan dengan kajian-kajian
dengan panggilan gus, dan anak-anak perempuan kiai penelitian ilmiah yang lebih menarik bagi para keturunan
mendapat sematan panggilan ning di depan namanya. kiai tersebut. Transformasi semacam inilah yang
Masyarakat berharap bisa mendapatkan percikan kemudian akan sangat memungkinkan terjadinya
keberkahan hidup dari Tuhan ketika mereka berinteraksi, pergeseran sistem pendidikan dalam keluarga pesantren.
memuliakan, menghormati dan menimba ilmu agama Namun, para kiai tetap memberikan standar
dari para pemuka agama tersebut. Pemuka agama inilah kompetensi minimal mengenai pendidikan agama dan
yang lazim dipanggil oleh sebagian besar masyarakat tradisi kepesantrenan untuk bekal pelepasan anak-anak
Jawa dengan sebutan kiai. Kiai merupakan status yang mereka pada khazanah keilmuan yang lebih luas lagi
dihasilkan oleh akulturasi masyarakat Jawa terhadap (Soebahar, 2013: 9) . Tujuannya adalah dimanapun dan
kasta Brahmana dari budaya Hindu-Budha sebelum kemanapun anak-anak kiai ini mengkaji ilmu, tradisi
Islam berdifusi ke tanah Jawa. santri dan agamanya tetap menyertainya. Sehingga, saat
Namun, di balik penghormatan yang diperoleh oleh ini banyak ditemukan anak-anak kiai yang berubah
keluarga kiai, masyarakat jarang melihat bagaimana haluan tradisi dengan menjadi profesor, insinyur, dokter,
sistem aturan, tradisi, nilai, norma dan budaya yang bahkan politisi. Aliran-aliran modernis, reformis, dan
mengikat seseorang ketika dia dikatakan sebagai fundamentalis juga mulai mengkritik dan menuntut
keluarga kiai. Berbagai macam aturan pembatasan mulai adanya perubahan terhadap sistem ortodok pesantren
dari cara bertingkah-laku, berpakaian, bersikap, yang secara tradisional hanya mengkaji kitab-kitab
berbicara, sekaligus hak memilih pendidikan akan kuning saja (Bruinessen 2012: 85) . Hal ini kemudian
disoroti oleh santri atau pengikutnya (Dhofier, 2011: 12). mendukung adanya transformasi sistem pendidikan
Bagaimana seorang kiai mampu menerapkan aturan pesantren yang mengarah pada sebuah gerakan
idealisme Islam dalam miniatur keluarganya sendiri pembaharuan. Pada akhirnya mulai tahun 1975
terlebih dulu sebelum mensyiarkannya pada umat dan pembaharuan sistem pendidikan pesantren mulai menjadi
masyarakat yang lebih luas. Pembatasan tersebut nyata dengan ditambahkannya kurikulum baru mengenai
memang berlaku untuk seluruh keluarga, anak laki-laki pendidikan umum formal di dalam kepesantrenan
maupun anak perempuan. (Soebahar, 2013: 52) .
Namun, tidak dipungkiri apabila anak perempuanlah Pendidikan dan pelajaran agama melalui sosialisasi
yang mendapatkan pengaturan dan pembatasan yang dengan media kitab-kitab kuning yang diajarkan oleh
lebih ketat dibandingkan dengan anak laki-laki. Banyak keluarga kepada anak-anaknya inilah yang menjadi bekal
fenomena perjodohan yang melahirkan tingginya angka atau modal utama sehingga mampu meneruskan ke
pernikahan dini di kalangan perempuan santri. Sekaligus jenjang keilmuan yang lebih tinggi lagi. Kitab-kitab
tidak mengherankan ketika budaya pingitan diterapkan kuning yang diberikan kepada para putrinya merupakan
untuk para anak perempuan kiai. Pendidikan mereka kitab-kitab yang tentu saja mengajarkan bagaimana
dibatasi oleh aturan terhadap tafsir fitrah yang seorang perempuan menjalani kehidupannya dalam ranah
ditimpakan kepada mereka. Mereka hanya perlu taat fitrah seorang perempuan. Logika yang berjalan
kepada laki-laki dan beribadah, maka dia akan kemudian adalah bagaimana bisa kitab-kitab kuning
memperoleh surga. Pendidikan bagi perempuan cukuplah yang diajarkan keluarga kiai kepada para ning-ning ini
mengajarkan cara beribadah dan menjadi pendamping sebagai standard syarat kompetensi minimal yang
atau istri yang taat. Sehingga, jarang ditemukan diberikan oleh para orangtuanya, yang mana masih berisi
perempuan santri kalangan ning yang memperoleh kajian tafsir konteks pada zaman dahulu, kemudian
pendidikan formal hingga ke tingkat pendidikan tinggi. mampu menggiring mereka pada ketertarikan untuk
Dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan menyelami khazanah keilmuan umum yang melenceng
perkembangan zaman, agaknya tradisi semacam itu jauh dari ilmu-ilmu kepesantrenan. Satu hal yang paling
mulai ditinggalkan (Soebahar, 2013: 9). Kecenderungan menarik di sini adalah peran kekuatan teks-teks dalam
saat ini yang terjadi adalah anak-anak kiai baik kitab kuning yang diajarkan kepada para ning tersebut,
perempuan maupun laki-laki sudah tidak dimasukkan dan kemudian dilanjutkan dengan kemampuan
dalam pendidikan pesantren lagi. Mereka dibebaskan penafsiran yang dimiliki terhadap teks kitab kuning
untuk memilih pendidikan formal manapun, hingga ke hingga mencapai suatu pemaknaan baru mengenai
tingkat apapun. Mereka tidak diwajibkan lagi untuk pendidikan perempuan santri.
secara mendalam menguasai khazanah ilmu klasik Islam
Tafsir Nyai Dan Ning Terhadap Pendidikan Perempuan

Hermeneutika Dialogis Hans Georg Gadamer dialektika dalam pandangan Gadamer lebih mengarah
Hermeneutika atau hermeneutics (Inggris) berasal dari pada Socrates yang lebih tepat diatakan sebagai sebuah
bahasa Yunani yaitu hermenia yang berarti penafsiran. dialog. Merealisasikan kebenaran berarti mengungkap
Diambil dari filosofi Dewa Yunani bernama Dewa ketersingkapan sehingga menjadi tidak tersembunyi.
Hermeios yang memiliki tugas untuk menafsirkan Menyingkap kebenaran hanya bisa dilakukan ketika ada
perintah Tuhan dan disampaikan kepada manusia di dialog yang secara terus menerus antara pembaca dan
bumi, menuntut agar Hermeios mampu memahami, teks. Dialog bisa diwujudkan dalam bentuk pertanyaan-
mengkaji, dan menafsirkan secara tepat agar komunikasi pertanyaan yang terus diajukan untuk mencari kebenaran
antara Tuhan dan Manusia tidak terjadi kesalahpahaman dari suatu teks. Penyingkapan kebenaran itu tidak
(Raharjo, 2008: 28). Istilah hermeneutika sendiri mengacu pada teori dan metode, melainkan pada tradisi.
dijadikan sebagai ilmu tafsir sejak abad ke-17 dengan Bagi Gadamer manusia mampu memahami karena ia
dua pengertian yaitu: seperangkat prinsip metodologis memiliki tradisi yang merupakan bagian dari
penafsiran, dan penggalian filosofis dari kegiatan pengalamannya. Bagi Gadamer, hubungan antara teks
memahami. Secara definitif hermeneutika merupakan dengan pembaca seperti hubungan antara dua orang yang
sebuah metode penafsiran yang tidak hanya memandang saling berbicara (Halim, 2014: 13) .
teks, namun juga kandungan makna literalnya. Lebih dari Gadamer meyakini bahwa ilmu interpretasi tidak bisa
itu, hermeneutika juga berusaha menggali makna dengan dilepaskan dari entitas penafsir atau pembaca yang tentu
mempertimbangkan horizon-horizon yang melingkupi memiliki entitas historisnya sendiri-sendiri dan mungkin
p engarang, p emb aca, maup un teks itu send ir i. berbeda dengan entitas historis sang pengarang
Salah satu teoritikus yang mengembangkan metode (Mulyono, 2012: 145). Jadi, upaya untuk sama persis
hermeneutika adalah Hans Georg Gadamer. Gadamer atau obyektif terhadap teks dan menyerupai pemaknaan
memperdalam ilmu filsafat hingga menjadi professor sang pengarang akan menjadi upaya yang sia-sia. Sebab,
filsafat pada usianya yang ke-37 tahun. Gadamer tertarik antara pengarang dan pembaca terdapat jurang pemisah
pada hermeneutika karena dia yakin bahwa teks berupa tradisi yang akan sangat sulit jika harus
mengundang pemaknaan yang multitafsir. Teks juga dipaksakan untuk sama. Setiap manusia pada dasarnya
memiliki dampak terhadap penafsir. Untuk itu, sebuah memiliki asumsi penafsiran yang berbeda-beda
teks harus dipahami, diterjemahkan, dan diterangkan tergantung kultur dan wataknya masing-masing. Itu
dalam medium bahasa (Mulyono, 2012: 142) . sebabnya bahwa hermeneutika adalah ilmu bebas dengan
Dalam karya terbesarnya, Truth and Method Gadamer model penafsiran yang beragam. Hasil yang diperoleh
menganggap bahwa hubungan antara pembaca dan teks akan semakin memperkaya khazanah suatu teks,
yang dibaca adalah seperti dua orang yang saling sehingga pengetahuan tidak hanya terkungkung dalam
berdialog untuk memperoleh suatu peleburan satu pandangan penafsir saja. Untuk itu, subjektivisme
pemahaman di antara keduanya (2010: 7). Aktivitas terhadap penafsiran teks sangat diperlukan untuk
dialog inilah yang disebut sebagai proses penafsiran. membangun historitasnya di masa kini.
Tentu saja banyak elemen yang mempengaruhi suatu Gadamer menjadikan bahasa sebagai isu sentral
penafsiran. Gadamer merumuskan elemen-elemen hermeneutika filosofisnya. Menurut Gadamer, bahasa
tersebut terdiri dari praanggapan, tradisi, dialektika, harus dipahami sebagai yang menunjuk pada
bahasa, dan realitas. perkembangan secara historis, dengan kesejarahan
Gadamer banyak memperoleh pengaruh dari salah makna-maknanya, tata bahasa dan sintaksisnya.
seorang gurunya, yakni Martin Heidegger. Gadamer Sehingga, bahasa muncul sebagai bentuk variatif dari
lebih fenomenologis karena sangat meyakini adanya logika, pengalaman, hakikat, tradisi, dan historis. Bahasa
pengalaman hidup dan mengamini sebuah hakikat merupakan bentuk wujud/ada dalam pemahaman yang
mengenai ada. Dalam istilah Gadamer, ada inilah yang penuh makna. Dua variabel praksis yang dinyatakan
disebut sebagai dasein (manusia/penafsir). Manusia Gadamer meliputi Praandaian dan Dialog/Dialektika.
selalu melakukan aktivitas penafsiran sebagai wujud 1. Praandaian
eksistensinya terhadap keberadaannya. Gadamer Merupakan cara pandang khas milik pembaca atau
menjelaskan bahwa eksistensi manusia ditentukan oleh penafsir yang meliputi worldview milik pembaca ketika
kualitas atas proses pemahaman yang dilakukannya. menafsirkan suatu teks. Hermeneutika tidak
Hermeneutika merupakan penyelidikan proses universal menghiraukan keaslian makna dari teks tersebut,
dari tindak pemahaman yang juga diklaim sebagai sebaliknya hermeneutika Gadamer bersifat produktif
hakikat kapasitas manusia sebagai sebuah ada. yang tidak hanya terbatas pada maksud sang pengarang.
Dialektika bagi Gadamer tidak mengacu pada 2. Dialektika/dialog
dialektika Hegel yang cenderung idealis. Namun,

3
Paradigma. Volume 03 Nomor 01 Tahun 2015

Dialog atau dialektika merupakan proses dialog deskripsi teoritik. Sedangkan secara lebih spesifik,
terbuka antara pembaca dan teks sehingga keduanya penelitian ini menggunakan konsep hermeneutika
saling memberi dan menerima untuk kemudian dialogis/dialektika dari Hans George Gadamer.
melahirkan pemahaman yang baru. Meskipun Gadamer menolak bahwa hermeneutika
Dalam alur yang lebih simple, maka hermeneutika sebagai sebuah metode, namun Gadamer memberikan
Gadamer berangkat dari teks yang didekati dengan alasan yang logis terhadap anggapannya tersebut.
perandaian yang dipengaruhi oleh histori dan tradisi, Gadamer yakin bahwa keberadaan metode hanya akan
kemudian menghasilkan produksi-produksi makna yang membatasi pemikiran setiap manusia (Raharjo, 2008:
bersifat subjektif (Mulyono, 2012: 154) . 28). Padahal, kebenaran yang dicari dalam setiap
Empat kunci dalam praksis hermeneutika Gadamer pemikiran dan penelitian adalah hasil dari proses
(dalam Halim, 2014: 13) adalah: dialektik dan linguistik yang justru melampaui batas-
1.Kesadaran akan situasi penafsiran, hal ini bertujuan batas metodologis yang diaplikasikan oleh para penafsir
untuk menyadarkan pembaca akan keterbatasan (Mulyono, 2012: 155). Namun, perlu dicatat bahwa
kemampuan membaca teks. Gadamer tidak pernah menafikan kedudukan metode
2.Membentuk pra-pemahaman dari hasil dialog antara dalam sebuah penelitian. Gadamer hanya meyakini
teks dengan konteks. bahwa kebenaran tidak bisa didapatkan melalui sebuah
3.Penggabungan dua horizon antara pembaca dan teks. metode, karena kebenaran justru akan dapat diperoleh
4.Menerapkan makna yang subjektif terhadap teks. jika batas-batas metodologis dilampaui.
Apabila cara berpikir hermeneutika ini ditarik ke Penelitian ini mengambil lokasi di dalam keluarga
dalam analisis Islamic studies, maka kalangan ilmuwan santri pondok pesantren Langitan, Dusun Mandungan,
muslim merumuskan 3 kategorisasi pemahaman terhadap Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban – Jawa Timur.
teks-teks agama (Halim, 2014: 21-25) . Kategorisasi Pondok pesantren yang berada di pinggiran anak sungai
tersebut adalah : bengawan Solo ini dipilih karena beberapa alasan
1.Pandangan Literalis metodologis, yaitu : Salah satu pondok pesantren yang
Pandangan ini meyakini bahwa teks-teks suci agama telah berusia tua, dengan jumlah santri yang sangat
terutama Al-Qur’an harus ditafsirkan secara tekstual dan banyak ± 5000 orang dengan para alumni yang telah
literalis, dan diaplikasikan sebagaimana dipahami, encapai puluhan ribu orang dan masih bersifat tradisional
ditafsirkan dan diaplikasikan pada zaman Nabi (salaf). Langitan juga menolak modernisasi pesantren
Muhammad. dan masih mempertahankan pengajian kitab kuning
2.Pandangan Rasionalis. dengan memasukkan kurikulum nasional yang tidak
Pandangan ini meyakini bahwa penafsiran selain lebih dari 2% dari total seluruh kurikulum yang
harus menggali pemaknaan pada masa lalu, tetapi juga diterapkan. Namun, Langitan tetap tidak kehilangan
harus menggunakan seperangkat metodologi tafsir minat santri dari seluruh penjuru nusantara, bahkan dari
seperti konteks sejarah, asbabun-nuzul, ilmu bahasa Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei
sastra, dan hermeneutika. Darussalaam. Keluarga pesantren Langitan ditemukan
3.Pandangan Spiritualis. banyak yang melanjutkan pendidikan umum ke beberapa
Pandangan ini menitikberatkan pada nilai-nilai perguruan tinggi nasional bahkan studi hingga ke
spiritualitas antara makhluk manusia dengan Tuhan. mancanegara. Khususnya para anak-anak perempuan
Dasar konsep dalam pandangan spiritualis ini lebih pada dari keluarga ndalem.
aspek kerohanian, sehingga makna teks didasarkan pada Penelitian ini menggunakan subjek perempuan.
pemaknaan mendalam dan memasukkan unsur tasawwuf Mereka adalah:
di dalamnya. 1.Nyai Qurrotul Ishaqiyah (Penulis/Sastrawan)
2.Nyai ‘Aisyah (Pengasuh utama pesantren putri)
METODE 3.Nyai Faizah (Pengasuh pesantren penghafal Qur’an)
Kajian ini merupakan penelitian kualitatif karena mampu 4.Ning Laily Dzatinnuha (Penulis/Sastrawan)
menghadapi kenyataan jamak di lapangan (Nazir, 2009: 5.Ning Hamidah (Kepala sekolah)
54). Penelitian ini berangkat dari fenomena yang terjadi 6.Ning Shofiyah (Insinyur teknik)
di dalam masyarakat, yang dikaitkan dengan teks. Untuk 7.Ning Tsurayya (Kedokteran)
itu, dicari data-data yang signifikan dari berbagai Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara
sumber, terutama sumber teks (kitab kuning) yang sesuai melakukan observasi awal terkait lokasi penelitian dan
dengan kriteria pencarian data yang telah ditentukan, pemilihan subjek penelitian. Berdasarkan kriteria
kemudian dikaji dan dianalisis, hingga akhirnya data di keunikan lokasi dan alasan metodologis seperti yang
dalam teks dan realitas disajikan dalam bentuk deskripsi- telah dijelaskan pada sub bab di atas. Subjek penelitian
Tafsir Nyai Dan Ning Terhadap Pendidikan Perempuan

dilakukan dengan teknik purpossive yang tertuju pada dan dideskripsikan, yaitu meliputi latar belakang sejarah
para ning yang telah dan sedang menempuh pendidikan hidup, pengalaman, tradisi, budaya, bahasa, dan
tinggi di luar pesantren Langitan. Selain itu sebagai kepentingan praktis dari masing-masing informan.
pembanding dipilih perwakilan dari generasi orangtua Selanjutnya mendeskripsikan praandaian dan dialektika
yang memiliki latar belakang non pendidikan formal. yang terjadi dari para informan dalam menafsirkan teks-
Setelah lokasi dan subjek penelitian ditentukan, data teks dalam kitab kuning terkait pendidikan perempuan.
yang dicari adalah riwayat pendidikan para subjek Dua horizon yang akan didialogkan adalah antara histori
penelitian, yang tentu diawali dengan proses pengajaran dan pemahaman terdahulu dalam teks dengan tradisi,
kitab kuning sebelum mereka melanjutkan pendidikan ke kepentingan praktis, pandangan tradisional dan modernis
jenjang perguruan tinggi di luar pesantren. serta bahasa dan budaya penafsir saat ini.
Fase kedua, data yang dicari adalah materi-materi Hasil kesimpulan akhir akan menjelaskan mengenai
dalam kitab kuning yang menjadi standar minimal tipe-tipe pandangan atau cara berpikir dalam
seorang ning harus menguasainya untuk diperbolehkan menafsirkan setiap teks-teks suci agama. Kategorisasi
memilih sendiri pendidikan formal yang ingin tipe-tipe pemikiran tersebut meliputi pemahaman
diperdalam di perguruan tinggi meninggalkan keluarga rasionalis, pemahaman spiritualis, atau pandangan
pesantrennya. Kitab kuning di sini adalah terutama pada literalis. Data dari para informan akan diringkas dan
kitab-kitab yang menerangkan mengenai kehidupan disajikan dalam bentuk tabulasi untuk semakin
perempuan, fitrah, hak dan kewajiban, pendidikannya, mempermudah dalam pembacaan data, kemudian diikuti
serta relasinya dengan laki-laki. Kitab-kitab tersebut dengan analisis dari data-data tersebut.
masuk dalam kurikulum pesantren Langitan, dimana para
informan telah mengkaji kitab-kitab tersebut sebelum HASIL DAN PEMBAHASAN
mereka keluar dari Langitan untuk mengkaji keilmuan Kajian Mengenai Hak Perempuan Untuk Mencari
baru di luar ilmu-ilmu kepesantrenan. Kitab-kitab Ilmu
tersebut adalah :
Dalam kitab I’anatun Nisaa’ karangan seorang ulama’
1. ‘Uqud Lujain : Menerangkan masalah hak dan
kewajiban seoarang perempuan dalam kehidupan bernama Muhammad ibnu Abdul Qodir Fadhil yang
rumah tangganya. kemudian dikaji kembali oleh Ahmad Idris Marzuqi,
2. I’anatun Nisaa’ : Menerangkan masalah kehidupan seorang pengasuh pondok pesantren Kediri menjelaskan
dan fitrah perempuan. tentang hak perempuan dalam usahanya mencari dan
Selanjutnya, dicari keterangan yang menyiratkan memperdalam keilmuannya, sebagai berikut:
masalah pendidikan perempuan, pemikiran perempuan, “Ketika seorang laki-laki (suami) tidak mampu mengajari
kewajiban belajar perempuan, dan seluruh aktivitas yang istrinya mengenai ilmu agama, maka seorang perempuan
terkait dengan aktivitas berfikir dalam teks-teks pada (istri) diperbolehkan untuk keluar rumah bahkan tanpa
seijin suami demi mendapatkan ilmu ‘Ainy (syari’at Islam
kitab-kitab tersebut di atas. dasar seperti tata cara beribadah). Namun, apabila
Setelah didapatkan teks-teks tersebut selanjutnya seorang perempuan (istri) ingin mencari ilmu selain ilmu
menggali histori di balik literasi teks tersebut dan ‘Ainy (ilmu umum), maka tetap harus dengan seijin laki-
laki (suami).” (Fadhil, 1983: 3)
pemahaman dari pemikir terdahulu terhadap teks-teks
Teks dalam kitab tersebut menyatakan bahwa perempuan
tersebut. Selanjutnya, setelah teks siap untuk disajikan
juga berhak mencari ilmu untuk menjadi pandai.
dan ditafsirkan maka berikutnya menggali informasi Perempuan diberikan peluang untuk mencari ilmu agama
mengenai pemaknaan dan penafsiran yang dimiliki oleh maupun ilmu umum demi kemaslahatan umat. Meskipun
para informan terhadap teks-teks yang disajikan, beserta apabila ilmu umum yang dicari, maka harus dengan
pengaruh teks tersebut terhadap tindakan yaitu pilihan seperijinan suami. Namun, perempuan tetap memiliki
pendidikan yang dipilih oleh para informan. Tentunya peluang untuk mempelajari semua keilmuan sama seperti
laki-laki.
elemen-elemen dalam hermeneutika Gadamer yang
Bagi Musdah Mulia, sistem pendidikan pesantren
meliputi tradisi, pengalaman, bahasa, budaya, dan
yang masih konservatif itu disebabkan oleh minimnya
kepentingan praktis dalam kehidupan informan yang
peluang dalam mengakses pendidikan umum yang lebih
memepengaruhi penafsiran dan pemahaman tehadap teks
luas bagi para santri-santrinya. Akhirnya pemikiran
juga digali dalam wawancara mendalam atara peneliti
mereka cenderung masih sempit. Hal tersebut cukup
dan informan.
disayangkan, namun Musdah tetap menghargai sistem
Data yang telah terkumpul seluruhnya akan dianalisis
pendidikan semacam itu karena beliau memahami benar
secara teoritik dengan menggunakan analisa
seluk beluk dunia pesantren dan Nahdlatul Ulama’
hermeneutika Gadamer. Masing-masing hasil data dari
(dalam Journalistic Biography: 2008). Hal ini
elemen-elemen hermeneutika Gadamer akan dianalisis
menunjukkan bahwa sebenarnya peluang untuk

5
Paradigma. Volume 03 Nomor 01 Tahun 2015

perempuan dan laki-laki pesantren penting untuk dibuka Teks dalam kitab tersebut menjelaskan mengenai
seluas-luasnya demi keluasan cara berpikir mengenai kewajiban laki-laki untuk memenuhi hak seorang istri
kehidupan dunia dan agama. berupa pengajaran dan pendidikan. Untuk itu, seorang
Namun, terkadang dijumpai beberapa masalah suami harus menjadikan istrinya berilmu dan tidak
perijinan terhadap akes tersebut sehingga terkungkung pada kebodohan sebagai hak atas
perekembangan keilmuan di pesantren menjadi tidak keberadaan diri seorang perempuan. Laki-laki dan
sepesat di luar pesantren. Di sini Musdah Mulia (2004: perempuan sama-sama memiliki hak yang harus
28) kembali mengkritik konsep para laki-laki yang dipenuhi oleh masing-masing, termasuk hak untuk
seringkali menggunakan dalil agama sebagai media memperoleh pendidikan dan pengajaran.
untuk melanggengkan pemisahan ruang publik bagi laki- Musdah Mulia (2004: 25) menyatakan bahwa
laki dan dan ruang privat bagi perempuan. Akibatnya, tuntutan hidup pada akhir zaman seperti ini semakin
banyak potensi-potensi perempuan yang terbunuh karena tinggi. Apabila institusi keluarga tidak menerapkan
doktrin-doktrin yang mengekang kehidupan mereka. sistem kerjasama antara suami dan istri, maka Negara
Atas nama ketaatan terhadap suami, perempuan sering akan sulit untuk mencapai kemajuan. Ketika doktrin
dihadapkan dengan masalah-masalah pembatasan bahwa perempuan harus senantiasa diintruksikan oleh
semacam itu. Padahal, pemikiran sempit semacam itu laki-laki, maka selamanya perempuan akan bergantung
hanya milik para laki-laki yang sempit juga pada laki-laki. Padahal, apabila kehidupan dikerjakan
pemikirannya. Bagi Musdah, perempuan wajib belajar secara seimbang bersama-sama maka beban hidup akan
untuk memahami hak dan kewajibannya sebagai manusia berkurang dan terasa ringan. Perempuan tidak akan
secara utuh. Musdah banyak melihat kasus dimana menjadi tanggungan berat para laki-laki. Selama ini
banyak perempuan yang sebelum menikah menjadi banyak kasus ditemukan bahwa laki-laki melakukan
aktivis perempuan, namun setelah menikah dia hanya tindak kekerasan terhadap perempuan karena rasa
menjadi ibu rumah tangga domestik yang tidak frustasi dan stress berat terhadap beban hidup yang
menelurkan karya-karya perjuangan lagi. Alasan disandangnya.
terbanyak adalah karena suami-suami mereka menuntut Sebelum Musdah memang ada juga feminis muslim
mereka untuk tinggal di dalam rumah saja. Hal inilah dari Mesir secara radikal menuntut kesetaraan laki-laki
yang sangat disayangkan oleh Musdah. Kesepemahaman terhadap perempuan. Bahkan kecenderungan bahwa
memang sangat diperlukan untuk mencapai cita-cita perempuan pun boleh menguasai laki-laki. Pada saat itu
kesejahteraan, baik untuk laki-laki maupun untuk kontruksi masyarakat islam Arab meyakini bahwa laki-
perempuan. laki adalah imam yang tidak boleh didahului oleh
Sebelum Musdah Mulia, seorang sosiolog pendidikan makmumnya dalam semua hal (Saadawi, 1979: 85).
revolusioner, Paulo secara jelas menyatakan bahwa Hampir semua agama meletakkan laki-laki ke dalam
segala bentuk pembatasan terhadap pendidikan manusia posisi pemimpin yang berhak memimpin dan pelindung
adalah bentuk dehumanisasi. Freire meletakkan bagi perempuan. Hal-hal tersebut menurut Mansour
kekuasaan patriarki yang selama ini menjerat dan Fakih (1994) bukan terletak pada kesalahan agama,
membatasi pendidikan perempuan sebagai fokus utama namun karena penafsiran. Penafsiran yang kurang tepat
kaum revolusioner untuk mampu mengikisnya. karena kembali pada akar sejarah bahwa banyak posisi
“Dehumanisasi adalah pelanggaran atas fitrah manusia. laki-laki yang mendominasi dalam ritual-ritual
Butuh perjuangan untuk meraih fitrah humanisasi keagamaan (1994: 128). Sekali lagi beberapa ilmuwan
kembali. Dan pendidikan adalah sarana pembebasan
tersebut.”(Freire, 2008: 11-12)
terdahulu meyakini bahwa pemikiran yang terlalu sempit
melahirkan penafsiran yang terlalu sempit sehingga
Kajian Mengenai Kewajiban Suami Untuk Mendidik merugikan pihak-pihak yang lain.
Istrinya
Dalam kitab ‘Uqud Allujain fii Huquq Al-Zaujain Kajian Mengenai Kewajiban Orangtua Untuk
karangan Imam Nawawy Banten Muhammad ibnu Umar Mendidik Anak Perempuannya
Nawawy Al Bantani menjelaskan mengenai kewajiban Kajian mengenai kewajiban orangtua untuk mendidik
suami untuk mendidik istrinya sebagai berikut: anak perempuannya juga terdapat dalam kitab ‘Uqud
“Ingatlah wahai para suami, istri-istri kalian Allujain (Bantani, 1890: 22) yang menceritakan kembali
memiliki hak atas kalian, begitupun kalian juga Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa :
memiliki hak atas istri kalian. Untuk itu, “Tidak ada kerugian besar bagi para orangtua di hari
pergauilah dengan baik, dan ajarkan pertanggungjawaban kelak, selain membiarkan anak-
kepadanya segala sesuatu yang baik.” anak perempuannya dalam keadaan buta agama
(1890: 22) (kebodohan), karena anak-anak perempuanlah induk
dari penerus seluruh keturunan.”
Tafsir Nyai Dan Ning Terhadap Pendidikan Perempuan

Teks dalam kitab tersebut menjelaskan mengenai yang tidak mereka sepakati karena ilmu-ilmu tersebut
kewajiban orangtua untuk memenuhi hak pendidikan mempelajari ilmu dunia. Namun, bagi ning Aya, ning
kepada anak-anak perempuannya. Apabila selama ini Hamidah, terlebih
banyak berkembang isu mengenai pendidikan anak laki- Sedangkan bagi ning Laily menganggap bahwa ilmu
laki lebih tinggi daripada anak perempuan, maka kitab tersebut bermakna luas. Semua ilmu yang bermanfaat
ini mencoba untuk mengingatkan kembali bahwa anak- bagi kemanusiaan adalah penting bagi kehidupan.
anak perempuan juga harus diperhatikan hak Menurutnya, setiap pembatasan yang dialami oleh
pendidikannya agar mereka mampu meneruskan perempuan ketika ingin memperoleh haknya sebagai
pengajaran kepada seluruh keturunannya kelak. Apabila seorang manusia yang berkembang untuk mencari ilmu,
seorang perempuan diperhatikan dan dipenuhi hak maka hal itu disebut sebagai dehumanisasi. Namun,
pendidikannya, maka akan tercipta sosok para ibu yang menurut nyai Qur dan ning Hamidah, selama pembatasan
handal dalam mendidik keturunannya. Inilah poin yang dilakukan oleh laki-laki sebagai seorang wali yang
penting mengapa pendidikan seorang perempuan juga memang bertanggungjawab terhadap keamanan dan
harus diperhatikan. kehormatan perempuan adalah suatu hal yang diperlukan
Musdah Mulia berkali-kali menyatakan bahwa dengan alasan yang rasional, maka perempuan wajib
tuntutan hidup di masa depan akan jauh semakin tinggi. mentaati sang wali tersebut.
Untuk itu, pendidikan anak-anak generasi muda harus
Penafsiran terhadap Kewajiban Suami Mendidik
sangat diperhatikan. Baik anak laki-laki maupun anak
Istri
perempuan sama-sama harus menguasai keilmuan.
Terkait pendidikan yang wajib diberikan oleh suami
Karena di masa depan akan membutuhkan relasi yang
kepada istrinya ditafsirkan secara berbeda-beda. Bagi
seimbang antara peran laki-laki dan peran perempuan.
nyai Qur, suami dan istri saling belajar dan berdiskusi.
Musdah menunjukkan dalam Al-Qur’an (9: 71) yang
Keilmuan mereka sebaiknya setara agar mampu
menerangkan bahwa muslim dan muslimah adalah
membawa rumah tangga pada saling pengertian. Namun,
partner yang saling bekerjasama untuk menegakkan
bagi nyai Aisyah ilmu suami harus lebih tinggi daripada
kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dalil ini
istri agar suami lebih disegani dan menjadi sumber
menunjukkan peluang yang sama dalam hal pengambilan
pengetahuan serta rujukan bagi setiap permasalahan yang
peran untuk menghadapi kehidupan. Selain itu, Hadists
dimiliki oleh istri ataupun anak-anaknya. Berbeda lagi
riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud mengatakan bahwa
dengan ning Aya, ning Laily, dan ning Shofi. Mereka
perempuan adalah saudara bagi laki-laki. Kata saudara
sepakat bahwa kewajiban suami dalam mendidik istrinya
inilah bagi Musdah Mulia yang berarti sangat luas.
tidak melulu bermakna secara tekstual.
Saudara berarti mengandung arti kesetaraan,
Pendidikan berdimensi dalam kesalingpengertiannya
kebersamaa,n kerjasama, senasib dan sepenanggungan.
suami untuk memberikan hak dan peluang kepada istri
Itulah sebabnya antara anak laki-laki dan perempuan
untuk mengembangkan keilmuannya. Selain itu, suami
memiliki hak peluang yang sama dalam mengakses
juga berperan sebagai partner diskusi keilmuan dengan
pendidikan. Pemberdayaan untuk anak-anak perempuan
istri yang tentu saja tidak bisa diremehkan. Peluang
harus dimulai dari pemberian pendidikan yang terbuka
mengembangkan keilmuan sama, namun fitrah saling
dan berkualitas (Mulia, 2004: 14). Orangtua sebagai
menghormati antara suami istri sangat diperlukan. Suami
penanggungjawab kepengasuhan harus memahami akan
dituntut untuk lebih terbuka lagi pemikirannya agar
hal ini.
mampu mengijinkan dan mengembangkan serta turut
Penafsiran terhadap Hak Perempuan Mencari Ilmu mendukung istrinya dalam usaha memperluas ilmu
Seluruh informan sepakat bahwa perempuan memiliki pengetahuan. Bentuk dukungan ini yang disepakati oleh
hak untuk menuntut ilmu dan menjadikan dirinya sebagai nyai Faizah. Dimana suami tidak boleh menjadi
manusia berilmu. Hal tersebut merupakan hak penghalang bagi istri dalam beribadah dengan wujud
kemanusiaan yang tidak bisa dilanggar. Namun, setiap mencari ilmu.
informan tidak sama dalam mengartikan ilmu jenis apa
Penafsiran terhadap Kewajiban Orangtua Mendidik
yang berhak dikaji oleh perempuan. Bagi nyai Qur, ilmu
Anak Perempuan
yang berhak dikaji perempuan adalah ilmu agama dan
Seluruh informan sepakat menyatakan bahwa orangtua
ilmu umum yang mendatangkan banyak manfaat untuk
memiliki kewajiban terhadap anak-anak perempuan yang
manusia lain. Sedangkan bagi nyai Aisyah dan ning
belum menikah untuk memberikan pengajaran dan
Hamidah, pendidikan yang berhak dikaji oleh perempuan
pendidikan agama yang kuat dalam proses sosialisasi di
adalah pendidikan agama dan ilmu dalam mensyiarkan
usia dini. Hal ini terkait dengan tradisi sosialisasi
agama tersebut. Selebihnya itu adalah ilmu-ilmu bid’ah
pesantren yang menggunakan syariat agama sebagai

7
Paradigma. Volume 03 Nomor 01 Tahun 2015

poros utama dalam prinsip kehidupan mereka. Perbedaan perempuan adalah menjadi perempuan sholihah yang
yang muncul kemudian adalah pada nyai Qur, ning taat kepada suami dan pada tujuan akhirnya adalah surga.
Laily, ning Shofi dan ning Aya yang menganggap bahwa Sedangkan bagi perempuan santri yang rasionalis,
kebutuhan zaman menuntut mereka untuk semakin mereka lebih menganggap bahwa semua ilmu adalah
mengembangkan kemampuan dan keilmuan juga di milik Tuhan. Untuk itu, semua ilmu Tuhan harus
bidang keilmuan umum. Jadi, pendidikan agama sebagai dimanfaatkan untuk memberdayakan. Tujuan utama
pondasi, pendidikan umum sebagai pengembangannya. mereka adalah mengikuti jati diri untuk mempertahankan
Orangtua wajib mencari tahu bakat dan minat yang eksistensi kehidupan. Cita-cita mereka selalu tinggi
dimiliki oleh setiap anak, kemudian mendukung, untuk bebas berkarya dan bermanfaat untuk seluruh umat
mengasah, dan turut mengembangkan bakat minat manusia.
keilmuan tersebut. Bagi nyai Qur, kemanapun anak Berbeda lagi dengan pandangan spiritualis.
melangkah dalam keilmuan yang diminatinya, tradisi Pandangan spiritualis lebih cenderung pada ketenangan
pesantren tetap harus dibawa agar keilmuan tetap terarah dan kepuasan batin ketika mampu terhubung dengan
pada agama. Begitupun juga ning Hamidah. Beliau tidak Tuhan. Mereka melakukan setiap tindakan selalu
setuju adanya sekularisasi ilmu pengetahuan dengan kembali pada prinsip awal yaitu sebagai perwujudan
agama. Baginya agama merupakan kemudi yang akan ketaatan terhadap Tuhan. Penafsiran mereka lebih
tetap menyelamatkan moral para imuwan. Untuk itu, terbuka daripada literalis, namun menekan rasionalitas
kedua ilmu tersebut harus dikuasai secara seimbang. dengan spiritualitas. Penghambaan kepada Tuhan selalu
Namun, berbeda bagi nyai Aisyah. Bagi beliau hanya dijadikan sebagai spirit dan kepentingan utama dalam
ilmu agama saja yang mampu menyelamatkan manusia setiap penafsiran dan tindakan yang dilakukan.
dari dekadensi moral yang dilahirkan oleh modernisasi.
Kategorisasi Pemahaman Perempuan Santri dalam
Untuk itu, semua anak-anak beliau selama belum
Menafsirkan Pendidikan Perempuan
menikah akan diarahkan pada ilmu pendidikan agama
Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan
saja. Ilmu duniawi bagi nyai Aisyah merupakan ilmu
pemahaman perempuan santri dalam memaknai
semu yang tidak mendatangkan manfaat di alam akhirat
pendidikan perempuan telah menunjukkan bagaimana
kelak.
ideologi atau cara pandang mereka dapat
Perbedaan Penafsiran Perempuan Santri terhadap dikategorisasikan. Namun, ada beberapa perempuan
Konsep Pendidikan Perempuan santri yang tidak menganut satu kategori secara murni,
Sesuai dengan pengklasifikasian model penafsiran ada beberapa irisan yang menempatkan mereka pada
terhadap teks agama yang dibedakan menjadi sepemahaman yang sama, namun juga tidak jarang yang
pemahaman literalis, rasionalis dan spiritualis, tentu memiliki perbadaan pemaknaan secara kontras pada
tidak langsung bisa digolongkan pada masing-masing indikator-indikator tertentu.
model. Terdapat faktor-faktor penyebabnya meliputi Tabel 1 : Kategorisasi pemahaman oleh informan
latar belakang kehidupan dari para penafsir itu sendiri. KATEGORISASI PEMAHAMAN PENDIDIKAN
Histori perbedaan setiap penafsir inilah yang kemudian PEREMPUAN
Literalis- Rasionalis Rasionalis – Literalis
menentukan dengan cara seperti apa mereka akan Rasionalis murni Spiritualis murrni
menafsirkan setiap teks agama yang mereka baca dan
pelajari. Histori latar belakang hidup seperti tradisi, Pendidika Pendidikan Pendidikan Pendidikan
budaya, bahasa, pendidikan, sosialisasi keluarga, serta n tinggi tinggi tinggi tinggi boleh
kepentingan praktis dari setiap pembaca dan penafsir adalah adalah merupakan hak bagi
yang berbeda-beda satu sama lain tentu akan kebutuhan kebutuhan bagi perempuan,
bagi primer bagi perempuan, asal
menghasilkan model penafsir yang berbeda-beda juga
perempua perempuan asal semua pendidikan
sesuai dengan pengalaman-pengalaman yang
n untuk harus diniati ilmu agama.
dimilikinya. perempua menjadi untuk mencari Selain itu
Pemahaman literalis yang diterapkan oleh para n, namun berdaya keridloan merupakan
perempuan santri memandang bahwa segala macam tetap dan Tuhan. Semua bid’ah dan
modernisasi, liberal, pembahrauan adalah bid’ah sesat harus memberday keilmuan harus modernisasi
yang akan mengancam fitrah syariat Islam. Untuk itu, dibatasi akan dikembalikan hanya akan
bagi perempuan santri yang literalis dalam memaknai aturan- seluruh pada wujud membahaya
kitab kuning, maka akan tetap konservatif dan menolak aturan umat penghambaan kan syariat
syariat manusia. atas perintah agama.
modernisasi pendidikan. Bagi mereka cita-cita utama
agama Siapapun menuntut ilmu. Perempuan
sebagai tidak sesuai fitrah
Tafsir Nyai Dan Ning Terhadap Pendidikan Perempuan

fitrah berhak hanya harus jumlah yang mampu mengalahkan jumlah pesantren
perempua membatasi taat dan yang tetap mempertahankan tradisi murni salaf pada saat
n. Selama pendidikan menjadi ini.
diijinkan perempuan sholihah. Sosialisasi awal para ning tersebut tetap diberikan
oleh wali, karena
pengajaran kitab kuning sebagai standard pondasi oleh
maka merupakan
perempua fitrah
para kiai dan nyai selaku orangtuanya. Namun, karena
n berhak kehidupan arus terjangan modernisasi kemudian menciptakan arah
menuntut untuk baru dalam memaknai setiap kajian teks dalam kitab
ilmu menjadi kuning. Para ning pesantren memiliki tambahan
setinggi- manusia pemaknaan sendiri selain dari pemaknaan kedua
tingginya. sejati. orangtuanya. Sehingga, apa yang dimaksudkan oleh
Pemaknaan Baru Ning terhadap Pendidikan Gadamer (2010) mengenai peleburan horizon yang
Perempuan dalam Teks Kitab Kuning terjadi dalam sebuah pemaknaan benar terjadi. Horizon
pengarang asli kitab kuning dikolaborasikan dengan
Suatu zaman baru sedang menyingsing yang ditandai
horizon para pemikir terdahulu termasuk pemahaman
dengan lahirnya gerakan pembaharuan Islam (Ricklefs,
keduaorangtuanya, serta yang paling penting adalah
2005: 353). Modernisme yang tengah terjadi di Timur
horizon para ning sendiri ketika memaknai satu kajian
Tengah kemudian berdifusi hingga ke Indonesia melalui
teks kitab kuning. Horizon para ning sebagai seorang
perjalanan ibadah haji, pelajar Indonesia di Timur
pembaca terbentuk atas latar belakang pendidikan,
Tengah, buku dan jurnal, serta media informatika
pengalaman hidup, sumber bacaan, lingkungan, tradisi,
diyakini merupakan sumber-sumber utama tersebarnya
bahasa, dan media. Kesemua horizon tersebut melebur
gagasan modernisasi Islam ke Indonesia (Subhan, 2012:
menjadi satu melahirkan satu pemahaman tersendiri oleh
88). Hal ini tentu turut mempengaruhi sistem pendidikan
para ning sebagai para pembaca. Hal inilah yang
pesantren salaf yang sudah lama berdiri di Indonesia.
berimplikasi pada praksis yang dilakukan oleh masing-
Konsep modernisasi yang mengarah pada paham
masing ning.
reorientasi dan reformasi ajaran pemahaman terdahulu
Langkah baru semacam ini menunjukkan bahwa
mengajak para agamawan di Indonesia untuk
pesantren tengah membuka pemikirannya untuk lebih
memikirkan kembali perkembangan dan pembaharuan
terbuka menerima pembaharuan yang terjadi. Pesantren
Islam untuk menjadi semakin lebih baik lagi dengan
tengah ingin menunjukkan taringnya bahwa sumber daya
tetap mempertahankan tradisi pesantren salaf. Salah
manusia pesantren tidak hanya hidup berkutik di
satunya tetap mempertahnakan pengkajian kitab kuning,
belakang dampar dan kitab kuning, namun mampu
namun dengan pemaknaan yang lebih luas, terbuka, dan
bersaing secara kompetitif dengan sumber daya manusia
fleksibel.
yang lain. Terlebih, pesantren memiliki modal utama lain
Pemaknaan terhadap kitab-kitab kuning telah
yaitu pendidikan moral dan etika yang tidak banyak
membuka kesadaran para generasi penerus pesantren
dimiliki oleh lembaga pendidikan pada umumnya.
terutama para perempuan pesantren yang lebih dikenal
Sehingga harapan baru kemudian adalah kader-kader
dengan panggilan ning. Para ning ternyata juga tidak
pesantren mampu bersaing secara duniawi dan ukhrowi.
luput dari pembebasan cara berpikir yang dahulu
Latar belakang pesantren kemudian bukan menjadi latar
terkesan patriarkal, namun pada perkembangannya telah
belakang puritan yang dinilai tradisional dan terbelakang,
muncul kesadaran atas kesetaraan dan kesesuaian hak
namun suatu keuntungan tersendiri karena banyak
dan kewajiban antara laki-laki dengan perempuan.
kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pesantren untuk
Banyak dijumpai para ning pesantren yang masuk dalam
mendukung modernisasi yang tetap syar’i.
jalur pendidikan tinggi umum yang mengkaji ilmu-ilmu
Para perempuan pesantren yang mampu meniti karir
umum non-tradisi ilmu pesantren. Hal ini mungkin
di ruang publik tingkat nasional bahkan tingkat
menjadi hal yang tabu sebelum abad ke-20, namun saat
internasional menunjukkan pencapaian yang luar biasa.
ini pembaharuan pandangan terhadap pendidikan
Selain melampaui tradisi patriarkal, perempuan santri
perempuan telah menunjukkan hasil yang cukup
juga mampu membuktikan kesadaran kritisnya terhadap
signifikan. Banyak dijumpai ning yang menjadi insinyur,
pemerolehan hak-hak pendidikan yang seharusnya
dokter, dosen, ataupun manajer sebuah perusahaan.
memang diperoleh para perempuan santri tersebut.
Pesantren tengah mengubah arah visinya untuk turut
Berawal dari tafsir kitab kuning mereka mencerna arti
mampu mengimbangi pergolakan kemajuan zaman
kesadaran sebuah pembaharuan pendidikan. Para
dengan tetap mempertahankan identitas pesantrennya.
perempuan pesantren menyadari bahwa sebenarnya
Hingga kemudian pesantren modern menunjukkan
perempuan menjadi berdaya ketika pendidikan mereka

9
Paradigma. Volume 03 Nomor 01 Tahun 2015

peroleh secara hakiki. Pendidikan hakiki adalah akan lebih maju dan menjadi rujukan pendidikan ideal
pendidikan yang mampu memanusiakan manusia (Freire, bagi masyarakat.
2008: 18). Itulah sebabnya Gadamer menyatakan bahwa
penafsiran selalu bersifat bebas tergantung konteks yang
Dilema dalam Sebuah Tradisi
berlaku pada saat itu. Maka transformasi yang tengah
Sebuah perubahan tidak lantas dapat berjalan mulus
dilakukan merupakan satu bentuk strategi kebertahanan
tanpa adanya suatu resistensi. Apalagi suatu gerakan
pendidikan khas pesantren yang dikolaborasikan dengan
pembaharuan yang berusaha mengoyak tradisi lama yang
menyaring pengaruh-pengaruh positif dari sebuah
telah mapan dan memiliki umat yang banyak fanatic
modernisasi. Meski mengawali langkah transformasi
terhadapnya. Hal ini merupakan suatu tantangan
dengan mengganti tradisi-tradisi yang terlanjur mengakar
tersendiri. Apalagi jika harus berhadapan dengan tokoh-
kuat dalam sebuah pesantren, namun apabila tujuan
tokoh senior dalam tradisi yang telah membesarkan para
kebermanfaatannya lebih banyak, maka transformasi
agen perubahan. Resistensi terkecil mulai dari desas
memang dianggap perlu dilakukan. Namun, ketika
desus sampai pengucilan dari lingkungan karena
banyak para penerus pesantren yang telah keluar dari
dianggap membawa bid’ah yang belum tentu membawa
tembok pesantren untuk mengkaji ilmu-ilmu sekular,
kebermanfaatan secara ukhrowi. Menghadapi kenyataan
maka juga akan dikhawatirkan kelanjutan eksistensi
semacam itu sudah merupakan suatu konsekuensi dari
pesantren akan luntur karena keilmuan agamanya tidak
adanya perubahan, pembaharuan, reformasi ataupun
sekuat para pendahulu. Memang saat ini masih menjadi
transformasi.
sebuah perdebatan yang dilematik mengenai arah
Alasan pendidikan perempuan pesantren segera
pendidikan pesantren dalam era modernisasi seperti saat
bertransformasi adalah pertama, kebutuhan zaman yang
ini.
menuntut pendidikan untuk semakin berkembang dalam
melayani masyarakat dan memenuhi kebutuhan Upaya Pembebasan Eksistensi Diri
masyarakat. Apabila agen-agen pesantren tidak bersedia Transformasi pendidikan yang saat ini tengah dilakukan
mengikutinya atau bahkan menutup diri dari modernisasi oleh para perempuan santri kalangan ning bisa juga
maka bisa jadi respon masyarakat terhadap pesantren disebut sebagai arena pembebasan eksistensi di ranah
menjadi menurun. Kedua, sudah saatnya perempuan publik. Mereka menemukan secercah kenikmatan ketika
pesantren berubah untuk memperlihatkan potensi diri di mereka mampu mengaktualisasikan bakat dan minat
ruang publik. Revolusi terjadi pada setiap perempuan mereka di tempat yang tepat serta mendapat dukungan
yang telah mengambil aksi untuk merubah gaya hidup, dari lingkungan dan keluarga. Mereka berkeyakinan
pengalaman, dan hubungan mereka sendiri terhadap laki- bahwa selama pendidikan yang mereka salami lebih
laki (Fakih, 1994: 12). Hal ini bertujuan agar beban tugas mendalam adalah bagian dari ilmu Tuhan yang juga
kemanusiaan bisa dibagi secara proporsional dan adil bermanfaat untuk kemanusiaan, maka mereka merasa
antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dan laki-laki tidak ada yang mampu menghalangi aktualitas eksistensi
bisa menjadi partner yang baik. Bagi Mulia, ketika mereka. Tradisi pesantren dan sosialisasi dasar agama
perempuan dan laki-laki telah mampu menjadi partner yang menjadi batasan terhadap aktualisasi mereka dalam
yang sama-sama berpendidikan, berpengalaman, dan modernisasi tidak lantas menjadikan mereka terhenti atau
sama-sama professional, maka susunan masyarakat akan merasa terbatasi. Sistem pemaknaan yang terbuka
semakin harmonis karena kerjasama di antara keduanya menjadikan mereka mampu menerima keberagaman
ini (2004: 37). segala budaya dan nilai-nilai pluralitas di dalam
Apabila hal ini ditarik dalam dunia pesantren, maka masyarakat. H.A.R Tilaar (2009: 147) menjelaskan
tugas syiar agama yang pada hakikatnya dalah mengenai penjinakan di dalam pendidikan merupakan
menunjukkan jalan kebenaran bagi manusia agar tidak sebuah “Stupidifikasi”. Perempuan kemudian dibatasi
hanya selamat saja di akhirat, namun juga di dunia juga dan tetap dibiarkan dalam kebodohan yang dianggap
bisa mendapat kebahagiaan. Tugas syiar agama ini akan sebagai kebaikan perempuan dalam kodratnya. Hal inilah
bisa dibagi secara proporsional antara laki-laki dan yang diupayakan untuk dibongkar agar kemanusiaan
perempuan. Laki-laki tidak lagi meragukan kemampuan yang merupakan cita-cita hakiki dari sebuah pendidikan
dan profesionalitas seorang perempuan, begitu juga dapat terwujud.
sebaliknya. Ketiga, selama perubahan membawa Para perempuan santri generasi muda mulai
kebermanfaatan yang lebih banyak daripada menyadari bahwa pendidikan harus menjadi sebuah
kemudharatannya, maka sedikit kemudlaratan yang kegiatan yang memberdayakan, bukan menundukkan
diambil akan lebih baik demi kebaikan yang lebih besar atau melumpuhkan. Setiap manusia bebas untuk memilih
bagi dunia pesantren. Akhirnya pendidikan pesantren dan berpartisipasi dalam bidang pendidikan apapun, dan
Tafsir Nyai Dan Ning Terhadap Pendidikan Perempuan

orang lain harus menghormatinya. Setiap individu harus mereka pelajari mampu membawa pemikiran mereka
dihargai berdasarkan kemampuan dan bakat-minatnya melaju bebas. Kehidupan, kemanusiaan, keimanan,
masing-masing. Hal ini merupakan kekuasaan yang kesholihatan, keselamatan, keagamaan, peribadatan,
berorientasi terhadap advokasi, dan bukan pada semua kata kunci tersebut mampu dicapai dengan baik
legitimasi (Tilaar, 2009: 158). Konsep Tilaar tersebut selama melalui jalur pendidikan.
ternyata mampu juga dihayati oleh para kalangan ning
pesantren. Meskipun mereka tidak pernah secara PENUTUP
langsung membaca karya-karya Tilaar, namun mereka SIMPULAN
mampu menyerap keluasan pemahaman dari sebuah Perempuan dalam kontruksi masyarakat santri adalah
pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran dan sebagai suatu perhiasan dan kehormatan yang harus
pemaknaan perempuan pesantren terhadap pendidikan dijaga dan tidak boleh sembarangan dilepas ke luar
mulai menampakkan eksistensi dirinya. tembok pesantren. Masalah pendidikan perempuan,
Toto Suharto (2012: 32) menyatakan bahwa kontruksi yang dibangun adalah bagaimana menjadi
pendidikan revolusioner berusaha mengusung fungsi perempuan yang sholihah. Namun, saat ini para ning
transformative yang selalu menegaskan bahwa tidak ada mampu merekontruksi ulang penafsiran dari kitab-kitab
pembatasan pada sebuah kegiatan pembelajaran. Dimana kuning. Bahkan tidak jarang para ning menjadi resistor
kehidupan adalah media pembelajaran yang luas dengan dari kontruksi tradisonal terkait pendidikan perempuan
masyarakat sebagai laboratorium sosialnya. Pendidikan yang cenderung terkungkung dalam penafsiran yang
transformative akan menggeser indoktrinasi yang tidak berkembang. Berangkat dari kajian teks kitab
seringkali dilakukan oleh para kaum konservatif di dalam kuning dengan dipengaruhi oleh sejarah latar belakang
memaknai suatu pendidikan atau pembelajaran dengan hidup masing-masing ning tersebut, kemudian mereka
metode yang monoton dan cenderung mempertahankan mampu memunculkan bibit-bibit transformasi
status quo. Arah baru semacam inilah yang mulai terbaca pendidikan perempuan dalam ranah kesalafan pondok
dalam sistem pendidikan pesantren saat ini. Meskipun pesantren. Berdasarkan analisis data, maka dapat ditarik
masih ada sebagian kecil yang tetap bertahan pada kesimpulan terkait penafsiran para ning terhadap
kesucian tradisi kesalafannya dan tidak ingin digeser pendidikan perempuan sebagai berikut :
sedikitpun eksistensinya. 1. Pemahaman Literalis
Berikut akan disajikan beberapa petikan sebuah Ning dengan horizon penafsir aliran literalis meyakini
antologi puisi karya salah satu informan dalam penelitian bahwa pendidikan perempuan yang paling tepat adalah
ini yaitu nyai Qur yang berjudul Sebilik Mihrab pendidikan pesantren. Perempuan dianggap memiliki
menceritakan pengalaman hidup beliau serta cita-cita fitrah domestik sebagai kehormatan mereka. Perempuan
transformatif beliau terhadap arah baru pendidikan anak- dilarang mendahului laki-laki karena laki-laki adalah
anak pesantren, khususnya para perempuan yang beliau imam dan guru bagi istri dan anak-anaknya. Modernitas
wakili aspirasinya. Seperti pada penggalan berikut : hanya dianggap sebagai “virus” baru yang akan
“Anakku, mendatangkan banyak kemudlaratan bagi perempuan
bila engkau menginjak suatu tanah baru, santri. Demokrasi, liberalisasi, rasionalitas, dan semua
maka capailah ibroh dari pengetahuan dan
pemahamanmu terhadap tanah tersebut. kebebasan adalah bid’ah yang digunakan sebagai kedok
Kemudian bawalah pulang.” (Ishaqiyah, 2013: 60) untuk merusak ajaran suci Islam. Penafsiran terhadap
Puisi berjudul Anakku tersebut menunjukkan cita-cita teks kitab suci selalu merujuk pada konteks dimana
seorang ibu yang menginginkan kemajuan pada pengarang hidup pada masa lampau. Teks agama
keilmuan anak-anaknya. Terlebih puisi ini diperuntukkan diangap suci dan tidak bisa ditafsirkan oleh selain para
untuk putrinya, ning Laily ketika berada di Sudan. Cita- ahli agama.
cita seorang ibu pesantren kepada putri-putri 2. Pemahaman Rasionalis
pesantrennya juga dituangkan dalam goresan berikut : Ning dengan horizon aliran rasionalis selalu
“Jati diri. mendasarkan penafsirannya pada rasionalitas akal
Ritme masa remajamu bergemuruh penuh gelora. dengan tanpa meninggalkan kaidah agama di dalamnya.
Membobol jiwa sucimu.
I want to be Free! Para ning ini tidak ragu untuk mengkaji ulang kembali
Bahasa hati mungil, menjelajahi semua arti kehidupan. setiap tafsiran teks dalam kitab-kitab kuning untuk
” (Ishaqiyah, 2006: 16) mendapatkan sesuatu yang baru dan tidak dogmatis,
Sebuah cita-cita pembebasan pemikiran yang tertuang sesuai dengan konteks yang ada pada saat itu. Asas yang
dalam karya-karya sastra semakin memperjelas bahwa mereka gunakan adalah kebermanfaatan untuk sesama
pendidikan perempuan santri saat ini tengah manusia. Memberdayakan umat manusia jauh lebih
bertransformasi. Berawal dari kajian kitab kuning yang mulia jika dibandingkan dengan beribadah secara pasif di

11
Paradigma. Volume 03 Nomor 01 Tahun 2015

dalam rumah. Pengembangan eksistensi diri dihalalkan Halim, Abdul. 2014. Aswaja Politisi Nahdlatul Ulama’:
sebagai wujud atas pemenuhan hak-hak kemanusiaan. Perspektif Gadamer.Jakarta: LP3ES.
3. Pemahaman Spiritualis Soebahar, Abd Halim. 2013. Modernisasi Pesantren :
Ning dengan horizon aliran spiritualis mendasarkan Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem
penafsirannya pada nilai-nilai ketuhanan dan Pendidikan Pesantren. Yogyakarta: LKiS.
kekhusyukan dalam peribadatan. Setiap mereka Ishaqiyah, Q. 2006. Sebilik Mihrab 1. Langitan.
melakukan penafsiran, tujuan akhirnya adalah pada
___________.2013. Sebilik Mihrab 2. Langitan.
keridhoan Tuhan terhadap hidup mereka. Aliran
spiritualis menganggap bahwa seluruh aktivitas di dunia M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-
akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Untuk 2004. Jakarta: Serambi.
itu, setiap eksistensi yang berusaha mereka upayakan, Mulia, Musdah. 2004. Muslimah Reformis. Jakarta:
rujukan akhirnya adalah sebagai wujud penghambaan Mizan.
kepada Tuhan. Mulyono, Edi. 2012. Belajar Hermeneutika : Menuju
Praksis Islamic Studies. Yogyakarta: IRCiSoD.
DAFTAR PUSTAKA
Nazir, Moh. 2009. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia
Arief, Subhan. 2012. Lembaga Pendidikan Islam Indonesia.
Indonesia Abad 20. Jakarta: Kencana Prenada. Raharjo, Mudjia. 2008. Dasar-Dasar Hermeneutika.
Bantani, Muhammad ibnu Umar Nawawy Al. 1890. Yogyakarta: Arruz Media.
‘Uqud Allujain fii Huquq Al-Zaujain .Banten Saadawi, Nawal El. 1979. Perempuan dalam Budaya
Bruinessen, Martin Van. 2012. Kitab Kuning, Pesantren Patriarki. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
dan Tarekat. Yogyakarta: Gading Publishing. Suharto, Toto. 2012. Pendidikan Berbasis Masyarakat.
Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi Pesantren. Jakarta: Yogyakarta: LKiS.
LP3ES. Tilaar, H.A.R. 2009. Kekuasaan dan Pendidikan.
Fadhil, Muhammad ibnu Abdul Qodir. 1983. I’anatun Jakarta: Rineka Cipta.
Nisaa’. Kediri. Sumber Website :
Fakih, Mansour. 1994. Analisis Gender dalam Berita harian http://kompas.com (Edisi Kamis, 2 Maret
Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2012). Diakses pada : 27 Oktober 2014. 11:50 WIB.
Freire, Paulo. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Situs resmi pondok pesantren Langitan
Jakarta: LP3ES. (http://langitan.net/ ) Diakses pada : 27 Oktober 2014.
Gadamer, Hans George. 2010. Truth and Method. 11:00 WIB.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. The Journalistic Biography Tokoh Indonesia. 22
Geertz , Clifford. 1989. ABANGAN, SANTRI, PRIYAYI Desember 2008.
Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.