Anda di halaman 1dari 36

PROPOSAL

PENGARUH EDUKASI LATIHAN ROM PADA PASIEN STROKE TERHADAP


KEKUATAN OTOT PASIEN DI RSU W.Z.YOHANES KUPANG

OLEH

NAMA : DHEA CHRIST

NIM : PO 530320916011

POLITEKNIK KESEHATAN KEMEKES KUPANG

PROGRAM PROFESI NERS

TAHUN 2019/2020

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang terjadi
akibat terganggunya aliran darah otak secara tiba-tiba yang mengakibatkan kematian sel
saraf otak sehingga terjadi disfungsi motorik dan sensorik yang berdampak pada
timbulnya kecacatan ataupun kematian (Sikawin, Mulyadi, & Palandeng, 2013). Stroke
memiliki dua tipe berdasarkan penyebabnya, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik.
Sekitar 87% orang terserang stroke iskemik, yaitu stroke yang disebabkan adanya
sumbatan dalam aliran darah ke otak, sedangkan sisanya menderita stroke hemoragik
(Mozaffarian, Benjamin, & Arnett, 2015).
setiap tahun terdapat 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke, 5 juta di
antaranya meninggal, dan 5 juta orang tersisa cacat permanen. Stroke menjadi penyebab
kedua kematian di dunia pada kelompok umur 60 tahun ke atas dan menjadi penyebab
kematian kelima pada orang yang berusia 15 sampai 59 tahun. Saat ini stroke masih
menempati urutan ketiga penyebab kematian di Negara berkembang setelah penyakit
jantung coroner dan kanker menurut siapa? (rujukan). Di Indonesia prevalensi kelompok
umur yang didiagnosis atau gejala stroke tertinggi adalah pada umur ≥ 75 tahun (50,2%).
Penderita stroke yang 2 terjadi pada laki-laki (11,0%) dan pada perempuan (10,9%).
Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi stroke paling banyak terjadi
di daerah perkotaan (12,6%) dibandingkan di daerah pedesaan (8,8%) (Riskesdas, 2018).
Stroke dapat menyebabkan kerusakan neurologis yang disebabkan adanya
sumbatan total atau parsial pada satu atau lebih pembuluh darah serebral sehingga
menyumbat aliran darah ke otak. Hambatan tersebut umumnya disebabkan oleh
pecahnya pembuluh darah atau penyumbatan pembuluh oleh gumpalan (clot), yang
menyebabkan kerusakan jaringan otak karena otak kekurangan pasokan oksigen dan
nutrisi (Ikawati, 2011).
Pasien stroke mengalami kelemahan pada anggota tubuh disebabkan karena
penurunan tonus otot, sehingga tidak mampu bergerak. Immobilisation atau tidak mampu

2
menggerakkan tubuh apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, akan
menimbulkan komplikasi berupa abnormalitas tonus, orthostatic hypertension, deep vein
thrombosis dan kontraktur (Muttaqin, 2013).

Intervensi keperawatan yang pertama atau umum dilakukan pada klien stroke
adalah memperbaiki mobilitas dan mencegah deformitas. Imobilisasi merupakan suatu
kondisi yang relatif. Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara
bebas, terarah, leluasa, dan terarah yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehat. Kehilangan kemampuan motorik saat bergerak menyebabkan ketergantungan dan
ini membutuhkan tindakan keperawatan (Wahit 2009).
Pasien pasca stroke akan mengalami perbaikan struktur otak sehingga
pengetahuan dan analisa tentang gerak meningkat dan dengan latihan yang teratur dapat
mengajarkan kembali gerakan yang disadari kepada pasien lebih cepat. Berdasarkan
hukum ingatan (Low of Memory) dari Ritchi Russel, setiap pemula gerakan atau aktifitas
akan disempurnakan oleh sel saraf otak menjadi alur atau jejas, apabila gerakan atau
aktifitas itu dilakukan berulang- ulang akan menjadi suatu rangkian dan bila diajarkan
terus akan menjadi suatu rekaman di otak (Theodore, 2010). Oleh karena itu, perlu
dilakukan suatu upaya rehabilitasi untuk memulihkan kondisi pasien pasca stroke.
Rehabilitasi pada pasien stroke terdiri dari terapi fisik, terapi aktivitas sehari-hari, terapi
bicara, konseling dan bimbingan rohani. Salah satu rehabilitasi yang digunakan adalah
terapi fisik (fisioterapi). Fisioterapi pada prinsipnya dilakukan segera mungkin dan
disesuaikan dengan kondisi pasien (Pinzon, R., & Asanti. 2010). Salah satu bentuk
fisioterapi untuk memulihkan kekuatan otot adalah Range Of Motion (ROM). ROM
adalah latian yang diberikan untuk mempertahakan atau memperbaiki tingkat persendian
dapat kembali fungsinya secara normal dan untuk meningkatkan massa otot dan tonus
otot pada anggota gerak tubuh. ROM aktif adalah latian gerak yang dilakukan pasien
secara mandiri untuk meningkatkan kemampuan motorik (Irfan, M. 2012). Menurut
Berman (2009) menyatakan bahwa latihan pergerakan sendi atau ROM (Range Of
Motion) merupakan pergerakan maksimum yang mungkin dilakukan oleh sendi. Latihan
ROM dapat dilakukan dengan cara menggunakan ROM pasif, ROM aktif-asistif, dan
ROM aktif. ROM aktif merupakan latihan isotonik dengan pasien secara mandiri

3
menggerakan sendi tubuhnya melalui rentan pergerakan sendi yang lengkap, peregangan
seluruh otot yang maksimal pada bidang diatas sendi (Satosa, B. 2013).
Menurut (Sikawin, Mulyadi, & Palandeng, 2013) Pasien di ukur tingkat kekuatan
ototnya, setelah itu responden di beri latihan range of motion 5 kali sehari dalam waktu
10 menit dan dilakukan sebanyak 8 hari latihan. Selanjutnya akan di ukur kembali
tingkat kekuatan ototnya. Menunjukkan score kekuatan otot sebelum dan setelah
dilakukan latihan range of motion mengalami peningkatan score rata-rata 3,87.
Sebesar 80% pasien stroke mengalami kelemahan pada salah satu sisi
tubuhnya /hemiparese. Kelemahan pada system gerak tubuh pada pasien stroke akan
mempengaruhi kontraksi otot. Berkurangnya kontraksi otot disebabkan karena
berkurangnya suplai darah ke otak yang menyebabkan suplai oksigen ke otak berkurang.
Kelainan neurologis dapat bertambah karena pada stroke terjadi pembengkakan otak
(oedema serebri) sehingga tekanan didalam rongga otak meningkat hal ini menyebabkan
kerusakan jaringan otak bertambah banyak. Oedema serebri berbahaya sehingga harus
diatasi dalam 6 jam pertama = Golden Period (Potte & Perry, 2009 dalam Andarwati,
2013). Pemulihan setelah terkena stroke adalah proses yang alamiah. Pemulihan
membutuhkan waktu, kebanyakan pemulihan terjadi selama 3 bulan sampai 6 bulan
pertama, tetapi akan berlanjut terus sampai 2 tahun atau bahkan lebih. Secara umum pada
pasien stroke dapat terjadi : pulih hampir sempurna, pulih dengan sedikit kecacatan,
mempunyai kecacatan yang sedang sampai berat dan biasanya memerlukan perawatan
khusus, atau bahkan meninggal tidak lama setelah serangan stroke (Levine, dalam
Andarwati, 2013).

1.1 Rumusan Masalah


Dari pembahasan masalah diatas dapat drumuskan permasalahan dan penelitian ini.
Perumusan masalah: Apakah ada pengaruh edukasi latihan rom pada pasien stroke terhadap
kekuatan otot pasien di RSU ?
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi pengaruh edukasi latihan ROM terhadap .... mengetahui
apakah ada pengaruh edukasi latihan rom pada pasien stroke terhadap kekuatan otot
pasien di RSU ?
4
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pemahaman informan tentang stroke
2. Untuk mengetahui pengaruh terapi latihan ROM terhadap kekuatan otot pasien

1.3 Manfaat
1.3.1 Manfaat teoritis
Meningkatkan pengetahuan bagi para pembaca dan orang disekitarnya agar dapat
melakukan koping yang bersifat positif pada informan dan pendidikan kesehatan
tentang stroke, latihan ROM dan kekuatan otot sebenarnya penting dalam peningkatan
pengetahuan
Penulisan karya tulis ini juga berfungsi untuk mengetahui antara teori dan kasus
nyata yang terjadi dilapangan sinkron atau tidak, karena dalam teori yang sudah ada
tidak selalu sama dengan kasus yang terjadi. Sehingga disusunlah karya tulis ilmiah
ini.
1.3.2 Manfaat praktis
a. Bagi Peneliti
Peneliti ini dilaksanakan unuk menyelesaikan stdui guna mendapat gelar sarjana
pada program Studi program studi D-IV Keperawatan, Politeknik Kesehatan
Kemenkes Kupang
Dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam penelitian-penelitian
selanjutnya
b. Bagi Responden
Agar dapat mengetahui latihan ROM pada pasien terhadap kekuatan otot pasien
c. Bagi tempat peneliti
Untuk memberikan masukan bagi pihak untuk mengantisipasi penyebab stroke
dan latihan ROM

5
BAB 2
STUDI KEPUSTAKAAN

2.1 Konsep Stroke


2.1.1 Pengertian Stroke

Pengertian Stroke adalah suatu sindroma yang mempunyai karakteristik suatu


serangan yang mendadak, nonkonvulsifyang disebabkan karena gangguan peredaran
darah otak non traumatik. Stroke merupakan sindrom klinis dengan gejala gangguan
fungsi otak secara fokal dan atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih dan dapat
mengakibatkan kematian atau kecacatan yang menetap lebih dari 24 jam tanpa
penyebab lain kecuali gangguan pernbuluh darah otak (WHO, 1983). Stroke terjadi
ketika aliran darah pada lokasi tertentu di otak terganggu sehingga suplay oksigen
juga terganggu. Lokasi pada daerah yang kekurangan oksigen menjadi rusak dan
menimbulkan gejala. Tipe dan beratnya defisit neurologik mempunyai gejala-gejala
yang bewariasi tergantung dari bagian-bagian otak yang terkena.

2.1.2 PATOFISIOLOGI

Otak merupakan bagian tubuh yang sangat sensitif oksigen dan glukosa karena
jaringan Otak tidak dapat menyimpan kelebihan oksigen dan glukosa seperti halnya
pada otot. Meskipun berat Otak sekitar 2 % dad seluruh berat badan, namun
menggunakan sekitar 25 % suplay oksigen dan 70 % glukosa. Jika aliran darah ke
otak terhambat maka akan terjadi iskemia dan terjadi gangguan metabolisme otak

6
yang kemudian terjadi gangguan perfusi sercbral. Area otak disekitar yang mengalami
hipoperfusi disebut penumbra. Jika aliran darah ke otak terganggu lebih dari 30 detik
pasien dapat menjadi tidak sadar dan dapat terjadi kerusakan jaringan otak yang
permanen jika aliran darah otak terganggu lebih dari 4 menit. Untuk mempertahankan
aliran darah ke otak maka tubuh akan melakukan dua mekanisme tubuh yaitu
mekanisme anastomosi dan mekanisme autoregulasi. Mekanisme anastomosis
berhubungan dcngan suplay darah ke otak untuk pemenuhan kcbutuhan oksigen dan
glukosa. Sedangkan mekanisme autoregulasi adalah bagaimana Otak melakukan
mekanisme/usaha sendiri dalam menjaga keseimbangan. Misalnya jika terjadi
hipoksemia otak maka pembuluh darah otak akan mcngalami vasodilatasi.

1. Mekanisme anastomosis

Otak diperdarahi melalui 2 arteri karotis dan 2 arteri vertebralis. Arteri karotis
terbagi menjadi karotis interna dan karotis ekstema. Karotis interna mcnperdarahi
langsung otak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum menjai arteri serebri
anterior dan media. Karotis eksterna memperdarahi wajah, lidah dan faring, meningens.

Arteri vertebralis berasal dari arteri subclavia. Arteri vertebralis mencapai dasar
tengkorak melalui jalan tembus dari tulang yang dibentuk oleh prosesus transverse dari
vertebra servikal mulai dari C6 sampai dengan Cl . Masuk ke ruang kranial melalui
foramen magnum, dimana arteri vertebra bergabung menjadi arteri basilar. Arteri basilar
bercabang menjadi dua arteri serebral posterior yang memenuhi kebutuhan darah
permukaan medial dan inferior arteri baik bagian lateral lobus temporal dan occipital.

Meskipun arteri karotis interna dan vertebrabasilaris merupakan 2 sistem arteri


yang terpisah yang mengalirkah darah ke otak, tetapi keduanya disatukan oleh pembuluh
dan anastomosis yang membentuk sirkulasi wilisi. Arteri serebri posterior dihubungkan
dengan arteri serebri media dan arteri serebri anterior dihubungkan oleh arteri
komunikan anterior sehingga terbentuk lingkaran yang lengkap. Normalnya aliran darah
dalam arteri konumikan hanyalah sedikit Arteri ini merupakan penyelamat bilamana
terjadi pcrubahan tekanan darah arteri yang dramatis.

2. Mekanisme Automgulasi

7
Otak dan glukosa dua elemen yang penting untuk metabolisme serebral yang
dlpenuhi oleh aliran darah secara terus menerus. Aliran darah serbral dipertahankan oleh
suatu mekanisme hemostatis sistematik dan lokal dalam rangka mempertahankan
kebutuhan nutrisi dan darah secara adekuat.

Terjadi stroke sanagat erat hubungan dengan perubahan aliran darah otak, baik
karena sumbatan/oklusi pembuluh darah otak ataupun karena perdarahan pada otak
menimbulkan tidak adekuatnya suplay oksigen dan glukosa. Berkurangnya oksigen atau
meningkatnya karbondioksida merangsang pembuluh darah untuk berdilatasi sebagai
kompensasi tubuh untuk meningkatkan aliran darah lebih banyak. Sebaliknya keadaan
vasodilatasi memberi efek pada peningkatan tekanan intrakranial.

Kekuranga oksigen dalam Otak (hipoksia) akan menimbulkan iskemia. Keadaan


iskemia yang relatif pendek/cepat dan dapat pulih kembali disebut transient ischemic
attacks (TIAs). Selama periode anoxia ( tidak ada oksigen) metabolisme otak cepat
terganggu. Sel otak akan mati dan terjadi perubahan antara 3-10 menit anoksia.

2.1.3 FAKTOR RESIKO STROKE

Ada beberapa faktor resiko tcrjadinya Stroke yaitu :

a. Tekanan darah tinggi atau hipertensi

Hipertensi merupakan faktor resiko yang sering terjadinya stroke. Sekitar 50-70
% kasus stroke disebabkan karena hipertensi. Penurunan diastole 5 6 mmHg dan
sysrole 10 12 mmHg selama 2 sampai 3 tahun akan menurunkan resiko stroke antara
4.5-7 % (Anthony Rudd, 2002). Pasien dengan hipertensi yang lama akan
berpengatuh tcrhadap kerusakan arteri, penebalan ,arterosklcrosis atau arteti dapat
pecah atau ruftur.

b. Penyakit jantung

Penyakit jantung merupakan faktor penyebab yang paling kuat terjadinya stroke
iskemik. Jenis penyakit jantung yang menjadi faktor resiko stroke diantaranya
penyakit jantung koroner, penyakit katup jantung, gagal jantung, gangguan irama

8
jantung seperti pada fibrilasi atrium yang dapat menyebabkan pcnurunan kardiak
output, sehingga terjadi gangguan perfusi serebral.

c. Diabetes Melitus
Pada pcnyakit DM terjadi gangguan atau kerusakan vaskuler baik pada pembuluh
darah besar maupun pembuluh darah kecil karena hiperglikemia sehingga aliran
darah menjadi lambat, termasuk juga hambatan dalam aliran darah ke otak.
d. Hiperkolcsterol dan lemak
Kolesterol dalam tubuh menyebabkan aterosklerosis pada pembuluh darah otak
dan terbentuknya lemak sehingga aliran darah lambat. Disamping itu
hiperkolesterole dapat menimbulkan penyakit jantung koroner. Penelitian
menunjukkan angka stroke meningkat pada pasien dcngan kadar kholcstcrol diatas
240 mg 0/0. Setiap kenalkan 38,7 mg % akan menaikkan angka stroke 25 0/o.
Scdangkan kenaikan HDL 1 mmol (38,7 mg %) mcnurunkan terjadinya stroke
setinggi 47 %. Demikian juga kenaikan trigliserid menaikkan jumlah tcrjadinya
stroke. Pcmberian obat-obat anti kholcsterol jenis statin sangat menurunkan
terjadinya stroke.
e. Obesitas dan kurang aktivitas
Obesitas dan kurang aktivitas merupakan faktor pcnyebab terjadinya hiperkolestcrol,
hipertcnsi dan penyakit jantung.
f. Usia
Makin bertambah usia resiko stroke makin tinggi, hal ini berkaitan dengan elastisitas
pembuluh darah.
g. Ras dan keturunan : Stroke lebih sering ditemukan pada kulit putih.
h. Jenis kelamin : laki-laki mempunyai kecenderungan lcbih tinggi.
i. Polisitemia : kadar Hb yang tinggi (Hb lebih dari 16 mg/dl) menimbulkan darah
menjadi lebih kental dengan demikian aliran darah ke otak lebih lembat.
j. Perokok : rokok menimbulkan plaque pada pembuluh darah oleh nikorin sehingga
terjadi aterosklcrosis.
k. Alkohol : pada alkoholik dapat mengalami hipertensi, penurunan aliran darah ke
otak dan kardiak aritmia.
l. Kontrasepsi oral dan terapi estrogen

9
Estrogen diyakini menyebabkan peningkatan pembekuan darah sehingga beresiko
tcrjadinya stroke.
j. Riwayat transient ischemic attacks (TIA).
TIA atau disebut juga ministroke, merupakan gangguan aliran darah otak sesaat yang
bersifat reversible. Pasien TIA merupakan tanda-tanda awal terjadinya stroke dan
dapat berkembang menjadi Stroke komplit sckitar 10 -50 %.
k. Penyempitan pembuluh darah karotis.
Pembuluh darah karotis berasal dari pembuluh darah jantung yang menuju ke otak
dan dapat diraba pada leher. Penyempitan pembuluh darah kadang tidak ada gejala
dan hanya diketahui dengan pemeriksaan. Penyempitan > 50 % ditcmukan pada 7 %
pasien laki-laki dan 5 % pada percmpuan pada umur diatas 65 tahun. Pemberian
obat-obat aspirin dapat mengurangi insiden tcrjadinya Stroke, namun pada beberapa
pasien dianjurkan dikerjakan carotid endarterectomi.

2.1.4 KLASIFIKASI STROKE

Klasifikasi stroke berdasarkan keadaan patologis

a) Stroke Iskemik
Iskemik terjadi akibat suplay darah kc jaringan otak berkurang, hal ini disebabkan
karena obstruksi total atau sebagian pembuluh darah Otak. Hampir 85 % pasien
stroke merupakan stroke iskemik. Ada banyak faktor yang mempengaruhi
terjadinya hambatan aliran darah otak. Mekanisme terjadinya iskemik secara umum
dibagi mcnjadi 5 kategori yaitu thrombosis, emboli, perfusi sistemik, penyempitan
lumen ateri dan venous congestion.
1. Trombosis
Trombosis merupakan pembentukan bekuan atau gumpalan di arteri yang
menyebabkan penyumbatan sehingga mengakibatkan terganggunya aliran
darah ke Otak. Hambatan aliran darah ke otak menyebabkan jaringan otak
kekurangan oksigen atau hipoksia kemudian menjadi iskemik dan berakhir
pada infark. Trombosis merupakan penyebab Stroke yang paling sering,
biasanya berkaitan dengan kerusakan lokal dinding pembuluh darah akibat
aterosklerosis. Faktor lain terjadinya thrombosis adalah adanya lipohialinosis,
10
invasi vaskuler oleh tumor, penyakit gangguan pembekuan darah seperti
Diseminated Intravasculer Coagulasi (DIC) dan Trombotic Trombositopenia
Purpura (TTP). Pemberian heparin sangat efektif untuk mcnghancurkan
thrombosis.
2. Emboli
Emboli merupakan benda asing yang berada pada pembuluh darah
sehingga dapat mcnimbulkan konklusi atau penyumbatan pada pcmbuluh
darah otak. Sumber emboli diantamya adalah udara, tumor, lemak, dan
bakteri. Paling sering terjadi thrombosis berasal dari dalam jantung, juga
berasal dari plak aterosklcrosis sinus karorikus atau arteri karatis interna.
3. Hipoperfusi sistemik
Hipoperfilsi sistemik disebabkan menurunnya tekanan arteri misalnya
karena cardiac arrest, embolis pulmonal, miokardiak infark, aritmia, syok
hipovolemik.
4. Penyempitan lumen arteri, dapat terjadi karena infeksi atau proses
peradangan, spasme atau karena kompresi massa dari luar.

Manifestasi klinik pasien dengan stroke iskemik diantaranya:

 Cenderung terjadi pada saat istirahat atau tidur


 Proses terjadinya stroke iskemik lebih lambat dari pada hemoragik
 Tekanan darah tinggi atau dapat normal
 Kesadaran menurun atau normal.

b) Stroke Haemoragik

Angka kejadian stroke hawmorogik sekitar l 5 % dari stroke sacara keseluruhan.


Stroke ini terjadi karena perdarahan atau pecahnya pcmbuluh darah otak baik di
subarachnoid, intraserebral maupun karena aneurisma. Angka kematian pasien dcngan
stroke hcmoragik sckitar 25-60 % (Black, 2009).

1. Perdarahan intraserebral

11
Perdarahan in traserebral terjadi karena pecahnya arteri-arteri kecil pada
serebral. Kira-kira 2/3 pasien dengan perdarahan serebral terjadi akibat tidak
terkontrolnya tekanan darah yang tinggi atau adanya riwayat hipertensi, penyakit
diabetes melitus dan arterisklerosis. Penyebab lain karena perdarahan akibat
tumor otak, trauma, malformasi arteriovena dan obat- obatan seperti amphitamin
dan cokain. Pasien dengan stroke haemorogik karena perdarahan intraserebral
kejadiannya akut, dengan nyeri kepala berat dan penurunan kesadaran. Tanda dan
gejala lain tergantung pada lokasi dan banyaknya perdarahan. Namun umumnya
perdarahan terjadi pada lokasi cerebellum, jarang tcrjadi pada cercbrum yang
merupakan pusat keseimbangan dan pergerakan. Sehingga pada jenis stroke ini
sering dijumpai adanya gangguan pergerakan, keseimbangan, nyeri kepala, mual
dan muntah.

2. Perdarahan subarachnonid

Perdarahan subarachnoid biasanya akibat aneurisma atau malformasi


vaskuler. Kerusakan otak terjadi karena adanya darah yang keluar dan
mengumpal sehingga mendorong ke area otak dan pembuluh darah. Gejala
klinik yang sering terjadi adalah perubahan kesadaran, mual, muntah kerusakan
intelektual dan kejang. Gejala lain tergantung dari ukuran dan lokasi perdarahan.

3. Aneurima

Merupakan dilatasi pada pembuluh darah arteri otak yang kemudian


berkembang menjadi kelemahan pada dinding pembuluh darahnya. Pcnyebab
aneurisma belum diketahui namun diduga karena arterioskelosis, keturunan,
hipertensi,trauma kepala maupun karena bcrtambahnya umur. Aneurima
dapat pecah mcnimbulkan perdarahan atau vasospasme menimbulkan
gangguan aliran darah ke otak dan sclanjutnya menjadi stroke iskemik.

Manifestasi klinik pasin dcngan stroke hcmoragik diantaranya:

 Cenderung terjadi pada saat aktivitas

 proses terjadinya stroke hemoragik lebih cepat terjadi

12
 Tekanan darah tinggi

 Kesadaran biasanya menurun atau tidak sadar

3. Klasifikasi stroke berdasarkan perjalanan penyakit


a. Transient Iskcemik Attack (TIA)
Merupakan gangguan neurologi fokal yang timbul secara tiba - tiba dan
menghilang dalam beberapa menit sampai beberapa jam gejala yang
muncul akan hilang secara spontan dalam waktu kurang dari 24 jam. TIA
merupakan tanda-tanda awal terjadinya Stroke komplit, hampir 50 %
pasien TlA berkembang menjadi TIA adalah terbatas aliran darah ke otak
karena stenosis arteri karotis dan embolus.

Tanda dan gejala TIA diantaranya :

 Kelemahan yang mendadak pada wajah, lengan, tangan di satu sisi.

 Kehilangan kemampuan bicara, atau bicara yang sulit dimengerti

 Gangguan penglihatan pada salah satu mata

 Pandangan ganda

 Pusing dan nyeri kepala

 Kesulitan berjalan, tidak ada kordinasi gerak (sempoyongan), kcsulitan


berjalan atau pasien dapat jatuh.

 Perubahan kepribadiaan termasuk kehilangan memori.

b. Progresif (Stroke in Evolution)


Perkembangan stroke terjadi berlahan-lahan sampai akut, munculnya gejala makin
memburuk. Proses progresif beberapa jam sampai beberapa hari.
c. Stroke Lengkap (Stroke Complete)
Gangguan neurologik yang timbul sudah menetap atau permanen, maksimal sejak
awal serangan dan sedikit memperlihatkan perbaikan.

13
2.1.5 MANIFESTASI KLINIK

Manifestasi klinis stroke tergantung dari sisi atau bagian mana yang terkena, rata-rata
serangan, ukuran lesi dan adanya sirkulasi kolateral. Pada stroke akut gejala klinis
meliputi :

a. Kelumpuhan wajah atau anggota badan sebelah (hemiparesis) atau hemiplegia


(paralisis) yang timbul secara. mendadak. Kelumpuhan terjadi akibat adanya
kerusakan pada area motorik di korteks bagian frontal, kerusakan ini bersifat
kontralatetal artinya jika terjadi kerusakan pada hemisfer kanan makan
kelumpuhan otot pada sebelah kiri. Pasien juga akan kehilangan kontrol otot
vulenter dam sesorik sehingga pasien tidak dapat melakukan ekstensi maupun
fleksi

b. Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan Gangguan sensibilitas
terjadi karena kerusakan system sataf otonom dan gangguan saraf sensorik.

c. Penurunan kcsadaran (konfusi, delirium, letargi, stupor atau koma), terjadi akibat
perdarahan, kerusakan Otak kemudian menekan batang orak atau terjadinya
gangguan metabolik otak akibat hipoksia.

d. Afasia ( kcsulitan dalam bicara)

Afasia adalah defisit kcmampuan komunikasi bicara, termasuk dalam


membaca. menulis memahami bahasa. Afasia tcrjadi jika terdapat kerusakan pada
area pusat bicara primer yang berada pada hemisfer kiri dan biasanya tcrjadi pada
stroke dengan gangguan pada arteri middle serebral kiri. Afasia dibagi menjadi 3
yaitu afasia motorik,sensorik dan afasia global. Afasia motorik atau ckspresif
terjadi jika area pada area Broca, yang terletak pada lobus frontal Otak. Pada afasia
jenis ini pasien dapat memahami lawan bicara tetapi pasien tidak dapat
mengungkapkan dan kesulitan dalam mengungkapkan bicara. Afasia sensorik
terjadi karena kerusakan pada area Wemicke, yang terletak pada lobus temporal.
Pada afasia sensorik pasien tidak mampu menerima stimulasi pendengaran tetapi
pasien mampu mengungkapkan pcmbicaraan. Sehingga respon pcmbicaraan pasien

14
tidak nyambung atau koheren. Pada afasia global pasien dapat dapat merespon
pembicaraan baik menerima maupun mengungkapkan pembicaraan.

e. Disartria ( bicara cadel atau pelo)

Merupakan kesulitan bicara terutama dalam artikulasi sehingga ucapannya


menjadi tidak jelas. Namun demikian pasien dapat memahami pembicaraan,
mcnulis, mendengarkan maupun membaca. Disatria terjadi karena kerusakan
nervus kranial sehingga terjadi kelemahan dari otot bibir, lidah dan laring. Pasien
juga terdapat kesulitan dalam mengunyah dan menelan.

f. Gangguan penglihatan, diplopia

Pasien dapat kehilangan penglihatan atau juga pandangan menjadi ganda,


gangguan lapang pandang pada salah satu sisi. Hal ini terjadi karena kerusakan
pada lobus temporal atau parietal yang dapat menghambat serat saraf optic pada
korteks oksipital. Gangguan penglihatan juga dapat disebabkan karena kerusakan
pada saraf kranial III, IV dan VI.

g. Disfagia
Disfagia atau kesulitan menelan terjadi karena kerusakan nervus kranial IX. Selama
menelan bolus didorong oleh lidah dan glotis menutup kemudian makanan masuk
kc esofagus.
h. Inkontinensia
Inkontinensia baik bowel maupun badder sering terjadi hal ini terjadi karena
terganggunya saraf yang mensarafi bladder dan bowel.
i. Verigo, mual, muntah dan nyeri kepala, terjadi karena peningkatan tekanan
intrakranial, edema serebri.

2.1.6 KOMPLIKASI

1. Fase akut

 Hipoksia serebral dan menurunnya aliran darah otak

15
Pada area otak yang infark atau terjadi kerusakan karena pcrdarahan maka terjadi
gangguan perfusi jaringan akibat terhambatnya aliran darah otak tidak adekuatnya
aliran darah dan oksigen mengakibatkan hipoksia jaringan otak. Fungsi dari otak akan
sangat tergantung pada derajat kerusakan dan lokasinya. Aliran darah ke otak sangat
tergantung pada tekanan darah, fungsi jantung atau kardiak output, keutuhan pembuluh
darah. Sehingga pada pasien dengan stroke keadekuatan aliran darah sangat dibutuhkan
untuk menjamin perfusi jaringan yang baik untuk menghindari terjadinya hipoksia
serebral.
 Edema serebri
Merupakan respon fisiologis terhadap adanya trauma jaringan. Edema terjadi jika pada
area yang mengalami hipoksia atau iskemik maka tubuh akan meningkatkan aliran
darah pada Iokasi tersebut dengan cara vasodilatasi pembuluh darah dan meningkatkan
tekanan sehingga cairan interstesial akan berpindah ke ekstraseluler terjadi edema
jaringan otak.
 Peningkatan Tekanan Intrakarnial (TIK)
Bertambahnya massa pada otak seperti adanya perdarahan atau edema otak akan
meningkatkan tekanan intracranial yang ditandai adanya defisit neurologi seperti
adanya gangguan motorik, sensorik, nyeri kepala, gangguan kesadaran. Peningkatan
tekanan intrakranial yang tinggi dapat mengakibatkan herniasi serebral yang dapat
mengancam kchidupan.
 Aspirasi
Pasien stroke dengan gangguan kesadaran atau koma sangat rentang tcrhadap
adanya aspirasi karena tidak adanya refleks batuk dan menelan.
2. Komplikasi pada masa pcmulihan atau Ianjut

 Komplikasi yang sering terjadi pada masa lanjut atau pemulihan biasanya terjadi
akibat immobilisasi seperti peunomonia, dekubitus, kontraktur, thrombosis vena
dalam, atropi, inkontinensia urin dan bowel.

 Kejang , terjadi akibat kerusakan atau gangguan pada aktivitas listrik otak

 Nyeri kepala kronis seperti migraine, nyeri kepala tension, nyeri kepala cluster

16
 Malnutrisi, karena intake yang adekuat.

2.1.7 PENCEGAHAN STROKE

Untuk mencegah terjadinya stroke maka beberapa hal yang harus di perhatikan adalah
mengidentifikasi faktor penyebab stroke diantaranya:

1. Pengendalian hipertensi, karena faktor resiko utama pasien stroke adalah


hipertensi, menurunkan sistole antara 10-12 mmHg dan menurunkan 5-6 mmHg
diastole selama 2 sampai 3 tahun akan menurunkan resiko stroke 4.8 sampai 7 %
(Anthony Rudd, 2002).

2. Kurangi atau hentikan merokok, rokok merupakan sumber nikotin yang dapat
menimbulkan plak pada pcmbuluh darah sehingga dapat menghambat aliran darah.

3. Mengurangi kadar kolesterol, seperti halnya rokok, kolestrol juga dapat


menghambat aliran darah, menimbulkan tekanan darah tinggi serta penyakit
jantung koroner.

4. Hindari penggunaan obat tertentu seperti aspirin dan obat antiplatelct. Seseorang
yang sudah mcngalami stroke dapat mengalami serangan berulang. Berdasarkan
penelitian Yuliaji Siswanto (2004), bahwa 62 % pasien stroke mengalami serangan
berulang. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap berulangnya pasien dengan
stroke adalah berulangnya serangan stroke itu sendiri, tekanan systole: _>, 140
mmHg, gula darah sewaktu > 200 mg/dll, kelainan jantung dan ketidakteraturan
minum obat (Yuliaji Siswanto, 2002).

2.1.8 TEST DIAGNOSIS

1. Radiologi

 Camputerized Tomografi Scaning (CT Scan) : Mengetahui area infark, edema.


hematoma, struktur dan sistcm ventrikel otak.

 Magnetic Resonance Imaging (MRI) : Menunjukkan daerah yang mengalami


infark, hemoragik, malformasi arteriovcna. \

17
 Elektro Encephalografi (EEG) : Mengidentifikasi masalah didasarkan pada
gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

 Angiografi Serebral : Membantu menentukan penyebab Stroke secara spesifik


seperti perdarahan, obstruksi arteri, adanya titik oklusi atau ruptur.

 Sinar X tengkorak : Mengetahui adanya kalsifikasi karotis interna pada trombosis


cerebral.

 Pungsi Lumbal : Menunjukkan adanya tekanan normal, Jika tekanan meningkat


dan cairan mengandung darah menunjukkan hemoragik subrachnoid atau
perdarahan intrakranial. Kontraindikasi pada peningkatan tckanan intrakranial.

 Elektro Kardiogmm, mengetahui adanya kelainan jantung yang juga menjadi faktor
penyebab stroke.

2. Laboratorium

 Pemcriksaan darah lengkap scperti Hb, Lcukosit, Trombosit, Eritrosit, LED

 Pemeriksaan gula darah sewaktu

 Kolestrol, Lipid

 Asam urat

 Elektrolit

 Masa pembekuan dan masa perdarahan

2.1.9 PENATALAKSANAAN

1. Penatalaksanaan Umum

a. Pada fase akut

 Terapi cairan pada fase akut stroke beresiko terjadi dehidrasi karena penurunan
kesadaran atau mengalami disfagia. Terapi cairan ini penting untuk
mempertahankan sirkulasi darah dan tekanan darah Setelah fase akut Stroke,
18
larutan rumatan bisa diberikan untuk memelihara homeosrasis elektrolit,
khususnya kalium dan natrium.

 Terapi oksigen, pasien stroke iskemik dan hemoragik

mengalami gangguan aliran darah ke otak. Sehingga kebutuhan oksigen sangat


panting untuk mengurangi hipoksia dan juga untuk mempertahankan
metabolisme otak. Pertahankan jalan napas , pemberian oksigen, penggunaan
ventilator merupakan tindakan yang dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan
analisa gas darah atau oksimetri.

 Penatalaksanaan peningkatan tekanan intrakranial

Peningkatan tekanan intrakranial biasanya disebabkan karena edema sercbri,


oleh karena itu pengurangan edema penting dilakukan misalnya dengan
pemberian manitol, kontrol atau pengendalian tckanan darah.

 Monitor fungsi pernapasan :Analisa Gas Darah

 Monitor jantung dan tanda-tanda vital, pemeriksaan EKG.

 Evaluasi status cairan dan elektrolit

 Kontrol kejang jika ada dengan pemberian antikonvulsan, dan cegah resiko
injuri.

 Lakukan pemasangan NGT untuk mengurangi kompresi lambung dan pemberian


makanan.

 Cegah emboli paru dan tromboplebitis dengan antikoagulan.

 Monitor tanda-tanda neurologi seperti tingkat kesadaran. keadaan pupil, Fungsi


sensorik dan motorik.

b. Fase rehabilitasi

 Pertahankan nutrisi yang adekuat

19
 Program managemen bladder dan bowel

 Mempertahankan keseimbangan tubuh dan rentang gerak sendi (ROM).

 Pertahankan integritas kulit

 Pertahankan komunikasi yang efektif

 Pemenuhan kebutuhan sehari-hari

 Persiapan pasien pulang,

2. Pembedahan dilakukan jika perdarahan serrbrum diameter lebih dari 3 cm atau volume lebih
dari 50 ml untuk dcekompresi atau pemasangan pintasan ventrikulo- peritoneal bila ada
hidrosefalus obstuktif akut.

3. Terapi obat-obatan

Terapi pengobatan tergantung dari jenis stroke.

a. Stroke iskcmia

 Pemberian trombolisis dengan rt-PA (recombinant tissue plasminogen)

 Pemberian obat-obatan jantung seperti digoksin pada aritmia jantung atau alfa
beta, kaptropil, antagonis kalsium pada pasien dengan hipertensi.

b. Stroke haemoragik

 Antihipcrtensi : Katropil, antagonis kalsium

 Diuretik : Manitol 20 % , furosemide .

 Antikonvulsan : Fenitoin.

2.1.10 REHABILITAS PASCA STROKE

20
Setelah stroke terjadi maka untuk memulihkan semaksimal mungkin pada kondisi
semula perlu dilakukan rehabilitas baik fisik maupun kognitif. Karena kerusakan susunan
saraf pusat bersifat irreversible maka rehabilitasi sangatlah penting dilakukan untuk
dapat mengembalikan fungsi semula.

1. Terapi fisik dilakukan untuk mengembalikan fungsi fisik dan mencegah terjadinya
komplikasi, seperti kelumpuhan, kontraktur, atropi dan kehilangan tonus otot.
Pasien dapat dilakukan latihan atau aktivitas di tempat tidur, mobilisasi dengan
kursi atau dengan melakukan Range of Motion. Terapi fisik dilakukan dengan
melihat kondisi dan tingkat stabilitas pasien.

a. Aktivitas pembebanan berat badan


Pasien yang mengalami paralysis dapat memulai pembebanan berat badan
secara dini. Makin cepat otot menjadi kuat, makin sedikit kemungkinan
terjadi atrofi. Makin dini pasien diposisikan berdiri, makin kecil
kesempatan adanya perubahan osteoporotik yang terjadi pada tulang
panjang. Aktivitas dengan pembebanan berat badan juga menurunkan
kemungkinan batu ginjal dan mcningkatkan proses metaboli.
b. Program latihan
Program latihan dilakukan untuk mengoptimalkan kekuatan Otot yang
tidak mengalami kelumpuhan karena otot-otot terscbut merupakan
tumpuan dalam melakukan ambulasi. Untuk menguatkan otot-otot, pasien
dapat melakukan latihan push up dengan posisi telungkup dan sit up bila
posisi duduk. Memanjangkan tangan dengan rehabilitasi, pasien
diarahkan untuk latihan gaya berjalan dan aktivitas gerak.

2. Okupasional terapi

Pasien dengan stroke dapat mengalami gejala sisa seperti kelumpuhan yang
menetap. Dengan gangguan fungsi tubuh maka akan terganggu aktivitasnya dan
dapat kehilangan pekerjaan. Oleh karena itu terapi kerja atau okupasional terapi

21
sangat dibutuhkan untuk menggali potensi pasien dan melatih kerja sesuai dengan
kondisi pasien.

3. Speech terapi

Terapi ini sangat dibutuhkan mengingat bicara dan komunikasi merupakan modal
interaksi sosial. Kesulitan dalam bcrkomunikasi akan menimbulkan isolasi dari dan
perasaan prustasi. Pasien sengan dapat mengalami gangguan bicara baik, distrasi
maupun apasia sehingga latihan bicara sangat perlu dilakukan.

2.2 Konsep Health Promotion Model


2.2.1Pengertian
Pendidikan kesehatan adalah istilah yang diterapkan pada penggunaan proses
pendidikan secara terencana untuk mencapai tujuan kesehatan yang meliputi beberapa
kombinasi dan kesepakatan belajar atau aplikasi pendidikan didalam bidang kesehatan
(Notoatmodjo, 2014). Sedangkan menurut Suliha (2006) Pendidikan kesehatan adalah
proses perubahan perilaku secara terencana pada diri individu, kelompok atau masyarakat
untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat.
2.2.2 Tujuan dan Manfaat Pendidikan Kesehatan
Tujuan utama pendidikan kesehatan (Mubarak dan Chayati, 2009) yaitu :
a. Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri.
b. Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber
daya yang ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar.
c. Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat
dan kesejahteraan masyarakat.
2.2.3 Sasaran Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoadmojo (2012) sasaran pendidikan kesehatan dibagi dalam 3 (tiga)
kelompok, yaitu :
a. Sasaran Primer (Primary Target)
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung segala upaya pendidikan atau
promosi kesehatan. Sesuai dengan permasalahan kesehatan, maka sasaran ini dapat
dikelompokkan menjadi, kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu hamil

22
dan menyusui untuk masalah KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), anak sekolah untuk
kesehatan remaja, dan juga sebagainya.
b. Sasaran Sekunder (Secondary Target)
Yang termasuk dalam sasaran ini adalah para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh
adat, dan sebagainya. Disebut sasaran sekunder, karena dengan memberikan pendidikan
kesehatan kepada kelompok ini diharapkan untuk nantinya kelompok ini akan
memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat di sekitarnya.
c. Sasaran Tersier (Tertiary Target)
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingkat pusat, maupun daerah.
Dengan kebijakan-kebijakan atau keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok ini akan
mempunyai dampak langsung terhadap perilaku tokoh masyarakat dan kepada
masyarakat umum.
2.2.4 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
Ruang lingkup pendidikan kesehatan yaitu:
a. Dimensi Sasaran
1. Pendididkan kesehatan individual dengan sasaran individu.
2. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok.
3. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat.
b. Dimensi Tempat Pelaksanaannya
1. Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid yang
pelaksanaannya diintegrasikan dengan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS).
2. Pendidikan kesehatan di pelayanan kesehatan, dilakukan di Pusat Kesehatan
Masyarakat, Balai Kesehatan, Rumah Sakit Umum maupun khusus dengan sasaran
pasien dan keluarga pasien.
3. Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan.
c. Tingkat Pelayanan Pendidikan Kesehatan
1. Promosi kesehatan (Health Promotion).
2. Perlindungan khusus (Specific Protection).
3. Diagnosa dini dan pengobatan segera (Early Diagnosis and Prompt Treatment).
4. Pembatasan cacat (Disability Limitation).
5. Rehabilitasi (Rehabilitation). (Mubarak, 2006).

23
2.2.5 Metode Pembelajaran Dalam Pendidikan Kesehatan
a. Metode ceramah
Ceramah ialah cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau
penjelasan langsung pada sekelompok peserta didik.
b. Metode diskusi kelompok
Diskusi kelompok ialah percakapan yang direncanakan atau dipersiapkan diantara tiga
orang atau lebih tentang topik tertentu dengan seorang pemimpin, untuk memecahkan
suatu permasalahan serta membuat suatu keputusan.
c. Metode panel
Panel adalah pembicara yang sudah direncanakan di depan pengunjung tentang
sebuah topik dan diperlukan tiga panelis atau lebih serta diperlukan seorang
pemimpin. Dalam diskusi panel audiens tidak terlibat secara langsung, tetapi berperan
sebagai peninjau para panelis yang sedang berdiskusi.
d. Metode forum panel
Forum panel adalah panel yang didalamnya pengunjung berpartisipasi dalam diskusi,
misalnya audiens disuruh untuk merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi.
e. Metode permainan peran
Bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang
diarahkan untuk mengkreasikan peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa
aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.
f. Metode simposium
Simposium adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang
dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Setelah para penyaji memberikan
pandangannya tentang masalah yang dibahas, maka simposium diakhiri dengan
pembacaan kesimpulan.
g. Metode demonstrasi
Metode Demonstrasi adalah metode penyajian pembelajaran dengan memperagakan
dan mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda
tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan (Sanjaya, 2008).

2.2.6 Media atau Alat Bantu Pembelajaran Dalam Pendidikan Kesehatan


Media Pendidikan Kesehatan
24
Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat
merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien sehingga dapat mendorong
terjadinya proses belajar pada dirinya. Tujuan penggunaan media adalah untuk
mempermudah sasaran memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Kehadiran media
mempunyai arti yang sangat penting, sebab ketidakjelasan bahan yang akan disampaikan
dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara (Mubarak dkk, 2009).
Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media ini
dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu Media Cetak, Media Elektronik, dan Media Papan (Bill
board).
1) Media Cetak
a. Booklet : digunakan untuk menyampaikan pesan dalam bentuk buku, baik tulisan
maupun gambar.
b. Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa gambar/tulisan ataupun
keduanya.
c. Flyer (selebaran) ; seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan.
d. Flip chart (lembar Balik) ; pesan/informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik.
Biasanya dalam bentuk buku, dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar
peragaan dan di baliknya berisi kalimat sebagai pesan/informasi berkaitan dengan
gambar tersebut.
e. Rubrik/tulisan-tulisan : pada surat kabar atau majalah, mengenai bahasan suatu
masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
f. Poster : merupakan suatu bentuk media cetak berisi pesan-pesan/informasi
kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-tembok, di tempat-tempat umum,
atau di kendaraan umum.
g. Foto : digunakan untuk mengungkapkan informasi-informasi kesehatan.
2) Media Elektronik
a. Televisi : dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara, forum diskusi/tanya jawab,
pidato/ceramah, TV, quiz, atau cerdas cermat.
b. Radio : bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, ceramah.
c. Video Compact Disc (VCD)
d. Slide : digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi kesehatan.
e. Film strip : digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.
25
3) Media Papan (Bill Board)
Papan/bill board yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai diisi dengan
pesan-pesan atau informasi – informasi kesehatan. Media papan di sini juga
mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada
kendaraan umum (bus/taksi).
2.2.7 Langkah-langkah dalam Penyuluhan Kesehatan
Menurut Effendy (1998) ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam
melaksanakan penyuluhan kesehatan masyarakat, yaitu :
1. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
2. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
3. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu untuk ditangani melalui
penyuluhan kesehatan masyarakat
4. Menyusun perencanaan penyuluhan, seperti :
5. Menetapkan tujuan
6. Penentuan sasaran
7. Menyusun materi atau isi penyuluhan
8. Memilih metoda yang tepat
9. Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
10. Pelaksanaan penyuluhan
11. Penilaian hasil penyuluhan
12. Tindak lanjut dari penyuluhan
2.2.8 Faktor-faktor Keberhasilan dalam Penyuluhan
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan terhadap sasaran dalam keberhasilan penyuluhan
kesehatan menurut Notoatmojo (2012) yaitu :
1) Faktor penyuluh yang meliputi kurangnya persiapan, kurangnya penguasaan materi
yang akan dijelaskan oleh pemberi materi, penampilam yang kurang meyakinkan
sasaran, bahasa yang digunakan kurang dapat dimengerti oleh sasaran, suara pemberi
materi yang terlalu kecil, dan penampilan materi yang monoton sehingga
membosankan.
2) Faktor sasaran yang meliputi tingkat pendidikan sasaran yg terlalu rendah, tingkat
sosial ekonomi sasaran yg terlalu rendah, kepercayaan dan adat istiadat yang telah

26
lama tertanam sehingga sulit untuk mengubahnya, dan kondisi tempat tinggal
sasaran yang tidak memungkinkan terjadinya perubahan perilaku.
3) Faktor proses penyuluhan yang meliputi waktu penyuluhan tidak sesuai dengan
waktu yang diinginkan sasaran, tempat penyuluhan yang dilakukan di tempat yang
dekat keramaian sehingga menggangu proses penyuluhan, jumlah sasaran yang
terlalu banyak, alat peraga dalam penyuluhan kesehatan kurang, metode yang
digunakan kurang tepat, dan bahasa yang digunakan sulit dimengerti oleh sasaran.

2.3 Konsep Latihan Range of Motion (ROM)

2.3.1 Definisi latihan ROM

Range of motion ( ROM ) adalah gerakan dalam keadaan normal dapat


dilakukan oleh sendi yang bersangkutan (Suratun, dkk, 2008). Latihan range of
motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau
memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara
normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus
otot. Pemberian terapi latihan ROM berupa gerakan pasif sangat bermanfaat dalam
menjaga sifat fisiologis dari jaringan otot dan sendi (Potter & Perry, 2006). Banyak
efek samping yang menyertai strok misalnya depresi, pasien cenderung berubah jadi
murung, putus asa, sedih dan juga kecewa seolah –olah merasa tidak punya harapan
hidup lagi karena sejumlah keterbatasan yang dimiliki. Jika kesedihan it uterus

27
menerus berlanjut dan tidak diisi dengan menjlani rehbilitasi untuk melakukan
fisioterapi maka kondisi pasien akan semakin buruk.

2.3.2 Manfaat Range of Motion (ROM)


Menurut Potter & Perry (2006) manfaat dari ROM adalah
1) Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam melakukan
pergerakan.
2) Mengkaji tulang, sendi, dan otot.
3) Mencegah terjadinya kekakuan sendi.
4) Memperlancar sirkulasi darah.
5) Memperbaiki tonus otot.
6) Meningkatkan mobilisasi sendi.
7) Memperbaiki toleransi otot untuk latihan.

2.3.3 Klasifikasi Range of Motion (ROM)


Menurut Carpenito (2009) latihan ROM dibedakan menjadi 4 jenis yaitu :
1. ROM Aktif
ROM Aktif adalah kontraksi otot secara aktif melawan gaya gravitasi seperti
mengangkat tungkai dalam posisi lurus.
2. ROM Pasif
ROM Pasif yaitu gerakan otot klien yang dilakukan oleh orang lain dengan bantuan oleh
klien.
3. ROM Aktif-Asitif
ROM Aktif-Asitif yaitu kontraksi otot secara aktif dengan bantuan gaya dari luar seperti
terapis, alat mekanis atau ekstremitas yang sedang tidak dilatih.

28
4. ROM Aktif Resestif

ROM Aktif Resestif adalah kontraksi otot secara aktif melawan tahanan yang diberikan,
misalnya beban.
2.3.4 Indikasi latihan Range of Motion ROM
Menurut Potter & Perry (2006) indikasi ROM adalah
1. Indikasi ROM Aktif
a) Pada saat pasien dapat melakukan kontraksi otot secara aktif dan
menggerakkan ruas sendinya baik dengan bantuan atau tidak.
b) Pada saat pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat menggerakkan
persendian sepenuhnya, digunakan A- AROM (Active-Assistive ROM, adalah
jenis ROM Aktif yang mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah
secara manual atau mekanik, karena otot penggerak primer memerlukan
bantuan untuk menyelesaikan gerakan).
c) ROM Aktif dapat digunakan untuk program latihan aerobik.
d) ROM Aktif digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas diatas dan dibawah
daerah yang tidak dapat bergerak.
2. Indikasi ROM Pasif
a. ada daerah dimana terdapat inflamasi jaringan akut yang apabila dilakukan
pergerakan aktif akan menghambat proses penyembuhan.
b. Ketika pasien tidak dapat atau tidak diperbolehkan untuk bergerak aktif pada ruas
atau seluruh tubuh, misalnya keadaan koma, kelumpuhan atau bed rest total.

29
2.3 5 Kontra indikasi latihan ROM
Kontraindikasi dan hal-hal yang harus diwaspadai pada latihan ROM menurut
Carpenito (2009) yaitu:
1. Latihan ROM tidak boleh diberikan apabila gerakan dapat mengganggu proses
penyembuhan cedera.
a. Gerakan yang terkontrol dengan seksama dalam batas-batas gerakan yang
bebas nyeri selama fase awal penyembuhanakan memperlihatkan manfaat
terhadap penyembuhan dan pemulihan.
b. Terdapatnya tanda-tanda terlalu banyak atau terdapat gerakan yang salah,
termasuk meningkatnya rasa nyeri dan peradangan.
2. ROM tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau kondisinya membahayakan
(life threatening).
a. ROM dilakukan secara hati-hati pada sendi-sendi besar, sedangkan AROM
pada sendi ankle dan kaki untuk meminimalisasi venous stasis dan
pembentukan trombus.
b. Pada keadaan setelah infark miokard, operasi arteri koronaria, dan lain-
lain, ROM pada ekstremitas atas masih dapat diberikan dalam pengawasan
yang ketat.

2.4 Konsep Kekuatan Otot


2.4.1 Pengertian

Kekuatan adalah kemampuan dari otot atau sekelompok otot untuk


mengatasi tahanan atau beban dalam menjalankan aktivitasnya (Suharno, 2006).
Kekuatan genggaman tangan merupakan suatu indikator status nutrisi yang sangat
berguna, khususnya saat pengukuran antropometri gagal membedakan seseorang
undernourished dari underweight (Vaz, 2006). Kekuatan otot penting untuk
meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan. Kekuatan otot dipengaruhi oleh:
usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, suhu otot.

30
2.4.2 Mekanisme Umum Kontraksi Kekuatan Otot
Impuls saraf berasal dari otak, merambat ke neuron motorik dan merangsang
serabut otot pada neuromuscular junction (tempat hubungan sel saraf dengan otot).
Ketika serabut otot dirangsang untuk berkontraksi, miofilamen bergeser (overlap)
satu dengan yang lain menyebabkan sarkomer memendek. (Saryono, 2011:46).
Menurut Guyton dan Hall (2007:76) bila sebuah otot berkontaksi, timbul suatu
kerja dan energi yang diperlukan. Sejumlah besar adenosine trifosfat (ATP) dipecah
membentuk adenosine difosfat (ADP) selama proses kontraksi. Semakin besar
jumlah kerja yang dilakukan oleh otot, semakin besar jumlah ATP yang dipecahkan,
yang disebut efek fenn. Sumber energi sebenarnya yang digunakan untuk kontraksi
otot adalah ATP yang merupakan suatu rantai penghubung yang esensial antara
fungsi penggunaan energi dan fungsi penghasil energi di tubuh.
Proses gerak diawali dengan adanya rangsangan proses gerak ini, dapat terjadi
apabila potensial aksi mencapai nilai ambang, tahapan-tahapan timbul dan
berakhirnya kontraksi otot yaitu:
1) Suatu potensial aksi berjalan disepanjang saraf motorik sampi ke ujungnya pada
serabut otot.
2) Disetiap ujung, saraf menyekresi substansi neurotransmitter, yaitu asetilkolin
dalam jumlah yang sedikit.
3) Asetilkolin bekerja pada membran serabut otot untuk membuka
banyak kanal bergerbang astilkolin melalui molekul-molekul protein yang
terapung pada membran.
4) Terbukanya kanal bergerbang asetilkolin, memungkinkan sejumlah besar ion
natrium berdifusi ke bagian dalam membrane serabut otot. Peristiwa ini akan
menimbulkan suatu potensial aksi membran.
5) Potensial aksi akan berjalan disepanjang membrane serabut otot dengan cara
yang sama seperti potensial aksi berjalan disepanjang membran serabut saraf
6) Potensial aksi akan menimbulkan depolarisasi membran otot, dan banyak aliran
listrik potensial aksi menyebabkan retikulum sarkoplasma melepaskan sejumlah
besar ion kalsium, yang telah tersimpan didalam retikulum.

31
7) Ion-ion kalsium menimbulkan kekuatan menarik antara filament aktin dan
miosin, yang menyebabkan kedua filament tersebut bergeser satu sama lain, dan
menghasilkan proses kontraksi.
8) Setelah kurang dari satu detik, ion kalsium dipompa kembali ke dalam retikulum
sarkoplasma oleh pompa membrane Ca++, dan ion-ion ini tetap disimpan dalam
retikulum sampai potensial aksi otot yang baru datang lagi, pengeluaran ion
kalsium dari miofibril akan menyebabkan kontraksi otot terhenti.

Kekuatan Otot Lengan

Metode ini diungkapkan oleh Goolsby & Grubbs (2006), kekuatan otot

ditentukan dengan memfleksikan otot dan meminta kepada pasien untuk melawan

tahanan dari pemeriksa. Alternatif lainnya, pasien diminta melakukan ekstensi

atau fleksi penuh melawan tahanan dari pemeriksa. Kekuatan otot dikategorikan dari

0 (tidak ada bukti kekuatan) hingga 5 (lengkap atau tahanan penuh). Nyeri,

kontraktur dan penyakit dapat mempengaruhi kekuatan otot. Menurut Ginsberg

(2008), kekuatan otot secara klinis dapat dinilai dengan mengklasifikasikan

kemampuan pasien untuk mengkontraksikan otot volunter melawan gravitasi dan

melawanan tahanan pemeriksa. Kekuatan otot adalah tingkat kemampuan otot untuk

berkontraksi baik secara aktif maupun secara volunteer ( Perry&Poter, 2008)

Untuk memeriksa kekuatan otot ada 2 cara :


1. Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya
dan pemeriksaan menahan gerakan ini.
2. Pemeriksaan menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan
ia disuruh menahan.

32
Skala yang sering dipakai adalah Medical Research Council Scale, yaitu :

Nilai Kekuatan
No Otot Skala Keterangan

1 0 (0%) Tidak ada Paralisis, tidak ada kntraksi otot sama sekali

2 1 (10%) Sedikit Terlihat atau teraba getaran kontraksi otot


tetapi tidak ada gerak sama sekali
3 2 (25%) Buruk Dapat menggerakan anggota gerak tanpa
gravitasi
4 3 (50%) Sedang Dapat menggerakkan anggota gerak untuk
menahan berat (gravitasi)
5 4 (75%) Baik Dapat menggerakkan sendi dengan aktif dan
melawan tahanan
6 5 (100%) Normal Kekuatan normal

Mengukur/menilai kekuatan otot pasien dengan memakai skala klasik


0,1,2,3,4,5. antara lain:
1. Skala 0 (Tidak ada)
Artinya otot tak mampu bergerak/lumpuh total, misalnya jika tapak tangan
dan jari mempunyai skala 0 berarti tapak tangan dan jari tetap saja ditempat
walau sudah diperintahkan untuk bergerak.
2. Skala 1 (Sedikit)
Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan
pada persendian yang harus digerakkan oleh otot tersebut.
3. Skala 2 (Buruk)
Dapat mengerakkan otot atau bagian yang lemah sesuai perintah misalnya
tapak tangan disuruh telungkup atau lurus bengkok tapi jika ditahan sedikit
saja sudah tak mampu bergerak
4. Skala 3 (Sedang)
Dapat menggerakkan otot dengan tahanan minimal misalnya dapat
menggerakkan tapak tangan dan jari
5. Skala 4 (Baik)

33
Dapat bergerak dan dapat melawan hambatan yang ringan
6. Skala 5 (Normal)
bebas bergerak dan dapat melawan tahanan yang setimpal (normal).

2.4.3 Karakteristik Fungsional Otot


Saryono (2011 : 6) menyatakan, karakteristik fungsional otot terdiri dari :
a. Eksitabilitas atau iritabilitas; kemampuan otot untuk berespon terhadap
stimulus.
b. Kontraktilitas; kemampuan otot unuk memendek secara paksa.
c. Ekstensibilitas; serabut otot dapat direganggangkan.
d. Elastisitas; kembalinya otot ke panjang normal setelah memendek.

2.4.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan otot


Baik tidaknya kekuatan otot seseorang di pengaruhi oleh beberapa faktor
penentu, faktor penentu tersebut antara lain:

1. Besar kecilnya potongan melintang otot (potong morfologis yang


tergantung dari proses hipertrofi otot ).
2. Jumlah fibril otot yang turut bekerja dalam melwan beban, makin banyak
fibril otot yang bekerja berarti kekuatan bertambah besar.
3. Tergantung besar kecilnya rangka tubuh, makin besar skelet makin besar
kekuatan.
4. Inervasi otot baik pusat maupun perifer.
5. Kekutan zat kimia dalam otot (glikogen, ATP).
6. Keadaan tonus otot saat istirahat. Tonus makin rendah (rileks) berarti
kekuatan otot tersebut pada saat bekerja semakin besar.
7. Umur, Sampai usia pubertas kecepatan perkembangan kekuatan otot pria
sama dengan wanita. Baik pria maupun wanita mencapai puncak pada usia
kurang 25 tahun, kemudian menurut 65% - 70% pada usia 65 tahun.

8. Jenis kelamin juga menentukan baik dan tidaknya kekutan otot. Perbedaan
kekuatan otot pada pria dan wanita (rata – rata kekuatan wnit 2/3 dari pria)
disebabkan karena ada perbedaan otot dalam tubuh.
Faktor penting yang dapat meningkatkan kekuatan otot adalah dengan
pelatihan. Dengan pelatihan secara teratur akan menimbulkan pembesaran

34
(hipertrofi) fibril otot. Semakin banyak pelatihan yang dilakukan maka
semakin baik pula pembesaran fibril otot itulah yang menyebabkan adanya
peningkatan kekuatan otot. Untuk mencapai peningkatan kekuatan otot dengan
baik, diperlukan pelatihan yang disusun dan dilaksanakan dengan program
pelatihan yang tepat. Agar pelatihan yang dilakukan dapat mencapai hasil yang
sesuai dengan yang diharapkan, program pelatihan yang disusun untuk
meningkatkan kekuatan otot harus memperhatikan faktor-faktor tersebut
(Sudarsono, 2011).

2.4.5 Rangsangan Saraf Terhadap Otot


Otot skelet harus dirangsang oleh sel syaraf untuk berkontraksi. Satu unit
motor diinervasi oleh satu neuron. Jika sel otot tidak dirangsang, sel akan
mengecil (atrofi) dan mati, bahkan kadang kadang diganti dengan jaringan
konektif yang irreversible ketika rusak. Gunakanlah otot atau otot akan kehilangan
fungsinya kalau tidak digunakan. Masalah akan timbul bagi pasien yang menetap
tanpa aktifitas (bedrest), dan immobilisasi anggota tubuh (Saryono, 2011: 47).

2.4.6 Kekuatan Otot Genggam Tangan


Komponen kondisi fisik meliputi: kekuatan, daya tahan, daya otot,
kecepatan, daya lentur, kelincahan, koordinasi, keseimbangan, ketepatan, dan
reaksi. Kekuatan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam
menentukan kualitas fisik seseorang. Kekuatan adalah komponen kondisi fisik
yang berkaitan dengan komponen yang menggunakan otot untuk menerima beban
sewaktu bekerja (Sajoto, 2005). Kekuatan genggam tangan (handgrip strength)
adalah metode yang umum digunakan untuk memperkirakan kekuatan otot
ekstermitas atas (Pieterse., et al., 2002). Kekuatan adalah kemampuan dari otot
atau sekelompok otot untuk mengatasi tahanan atau beban dalam menjalankan
aktivitasnya (Suharno, 2006).
Faktor Internal :
1. Aspek psikologis :
- Sikap
- Minat
Faktor Eksternal : Variabel - Motivasi diri
2.5Kerangka Konsep Penelitian
1. Faktor lingkungan Independen : 2. Aspek fisiologis :
social Pengaruh Latihan - Kondisi fisik 35
2. Factor lingkungan non Edukasi ROM 3. Aspek kognitif :
sosial - Tingkat pendidikan
1. Dukungan keluarga
2. Sarana & prasarana
tempat edukasi
3. Pemberi edukasi

2.6 Hipotesis
Ada pengaruh edukasi latihan rom pada pasien stroke terhadap kekuatan otot pasien di
RSU

36