Anda di halaman 1dari 16

NAMA : AIDA FITRIATIN NAFISAH

NPM : 19220072
FAKULTAS : FKIP
PRODI : BIMBINGAN KONSEELING

1. Sebutkan dan jelaskan


a. Definisi alquran
1. Menurut Bahasa
Untuk pengertian Al-Quran menurut bahasa, berasal dari bahasa arab yang mana
merupakan bentuk jamak dari kata benda atau masdar. Kata ini memiliki arti yaitu
bacaan atau sesuatu yang di baca secara berulang-ulang. dalam surat Al-Qiyamah
ayat 17-18. Menurut bahasa sendiri, Al-Quran sendiri diartikan sebagai sebuah
bacaan.
2. Menurut Istilah
Berbeda dengan menurut bahasa, pengertian Al-Quran menurut bahasa dan istilah
akan memiliki arti yang berbeda seperti hal nya pengertian menurut istilah. Secara
istilah sendiri, Al-Quran dapat diartikan sebagai kalam Allah SWT, yang mana
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai salah satu
mukjizat. Dalam Al-Quran, pengertian Al-Quran menurut bahasa dan istilah
dalam hal ini menunjukkan rahmat yang besar dan juga memberitahukan pelajaran
untuk orang-orang yang beriman. Al-Quran sendiri merupakan sebuah petunjuk,
yang mana dapat membantu mengeluarkan manusia dari kegelapan untuk dapat
menuju jalan yang lebih terang.
3. Menurut Para Ahli
 Pengertian alquran Menurut Dr. Subhi As-Salih
Alquran yaitu firman Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan oleh
mutawatir, serta dibagikan adalah termasuk ibadah.
 Pengertian alquran Menurut Muhammad Ali Ash-Shabumi
Al-Qur’an merupakan firman Allah SWT yang tidak ada saingannya, diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW pilih oara nabi dan rasul dengan menggunakan
malaikat Jibril sebagai, tuliskan ke mushaf-mushaf yang dikirim kepada kita
dengan cara mutawatir. Membaca dan Membaca Al Qur’an adalah ibadah dan Al
Qur’an dimulai dari surat Al Fatihah dan ditutup dengan surat An Nas.
 Pengertian alquran Menurut Syekh Muhammad Khudari Beik
Al Qur’an adalah firman Allah SWT yang bernahasa Arab, diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW untuk dipahami isinya, disampaikan kepada kita dengan
cara mutawatir, diterbitkan untuk mushaf yang di awali dari surat Al Fatihah dan
diakhiri dengan surat An Nas.
b. Fungsi dan peranan alquran
Fungsi dan Peran Alquran Dalam Agama Islam
 Al Huda (Petunjuk)
Al Quran memiliki tiga jenis yang berfungsi sebagai petunjuk yaitu: Al Quran
sebagai petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk untuk orang yang
bertakwa, dan petunjuk untuk orang yang beriman. Jadi Al Quran diturunkan oleh
Allah Subhanahu wa ta’ala tidak hanya petunjuk bagi orang yang bertaqwa dan
beriman saja tetapi juga untuk seluruh manusia.
 Al Furqon (Pemisah)
Al Furqon atau pemisah adalah sebutan nama lain dari Alquran. Fungsi Alquran
ini terkait dengan pemisah antara hak dan batil, antara yang benar dan yang salah.
Haq dan batil dibahas dalam Al-Quran.
 Asy Syifa (Obat)
Nama lain dari Al Quran adalah asy syifa yang artinya obat atau penyembuh bagi
penyakit yang ada di dada dan hati manusia. Penyakit-penyakit yang ada pada
tubuh manusia bukan hanya dari penyakit fisik saja melainkan penyakit dari
penyakit mental atau fisiologi juga. Sebagai contoh kadang-kadang perasaan
manusia berbeda-beda kadang-kadang dia sedih, marah, ngeri, dengki dan
penyakit hati yang lain.
 Al Mau’izah (Nasehat)
Alquran juga memiliki fungsi sebagai nasehat bagi orang-orang yang bertaqwa
karena al-qur’an merupakan sumber agama Islam. Dalam al-quran yang berisi
banyak ayat yang menjelaskan tentang membahas, nasehat-nasehat, surat
persetujuan untuk orang-orang yang bertaqwa di jalan Allah. Di dalam al-quran
biasanya terkait nasehat yang membahas tentang peristiwa atau peristiwa, yang
bisa kita ambil sebagai pelajaran bagi umat manusia sekarang dan diikutinya.
 Fungsi dan Peran Alquran Untuk Kehidupan Manusia
 Sebagai Petunjuk Jalan Yang Lurus
 Merupakan Mukjizat Bagi Nabi Muhammad SAW
 Menjelaskan Kepribadian Manusia
 Menyempurnakan Kitab-kitab Terdahulu
 Alquran Dapat Mengkokohkan Keimanan
 Tuntunan Dan Hukum Untuk Menjalani Kehidupan
 Menjelaskan Masalah Umat Terdahulu

 Fungsi dan Peran Alquran Sebagai Sumber Ilmu


 Ilmu Tauhid
 Ilmu Hukum
 Ilmu Tentang Bagaimana Berakhlak Mulia
 Ilmu Sejarah Islam
 Ilmu Tentang Pendidikan Islam
c. Memahami isi alquran secaratekstual dan kontekstualdan contohnya
 TAFSIR TEKSTUAL
Tafsir tektual yang menempati posisi pertama dalam masa penafsiran al-quran
dibagi menjadi dua priode[8]
a. Priode Riwayah
Pada priode ini para sahabat menukil sabda nabi dan para sahabat sendiri dan
tabiin untuk menjelaskan tafsir al-quran, dan pengambilan tersebut dilakukan
dengan teliti dan waspada demi menjaga keshalehan dan keshohehan Isnad
penukilan sehinggadapat menjaga apa yang di ambil.
b. Priode Tadwin (pembukuan)
Pada Priode ini para sahabat atau tabiin mencatat dan menghimpun penukilannya
yang sudah dianggap shaheh setelah diadakan penelitian, sehingga himpunan
tersebut membentuk ilmu sendiri. Sekalipun aliran ini mempunyai banyak
kelebihan seperti penafsiran yang mendekati obyektivitas yang didasarkan atas
ayat-ayat al-quran dan hadis nabi Muhammad SAW.
Tafsir Tektual adalah tafsir Al Qur’an dengan Al Qur’an, Al Qur’an dengan As-
Sunah atau penafsiran Al Qur’an menurut atsar yang timbul dari kalangan
sahabat[9].
d. Dengan demikian metode penafsiran Al-Qur’an secara tekstual adalah pendekatan
pemahaman ayat-ayat Al-Qura’an terfokus pada shohihul manqul (riwayat yang
shohih) dengan menggunakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, penafsiran
al-Qur’an dengan sunnah, penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para sahabat dan
penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in. Yang mana sangat teliti dalam
menafsirkan ayat sesuai dengan riwayat yang ada.
 TAFSIR KONTEKSTUAL
e. Kerangka penafsiran kontektual dan memahami al Quran dalam konteknya-
kontek kesejarahan dan harfiyah dan memproyeksikan dalam komtek kekinian.
Dan kerangka membawa fenomena-fenomena social kedalam tujuan tujuan al
Quran.
f. Memahami al Quran dalam Konteknya dan memproyrksikan dalam situasi
kekinian, meliputi[10]: Pemilihan objek penafsiran dalam suatu tema atau istilah
tertentu dan mengumpulkan dan mengumpulkan ayat-ayat yang bertalian dengan
tema. Selanjutnya mengkasi tema atau istilah dalam kontek kesjarahan pra-quran
dan masa alquran. Mengkaji respon al Quran sehunbungan dengn tema dalam
urutan kronologisnya, dengan cara memberikan perhatian khusus kepada kontek
serta ayat-ayat al Quran. Kajian ini perlu melihat azbabunuzul ayat.
g. Langkah yang diperlukan untuk membawa fenomena social kedalam nauanga
tujuan al quran. Dengan cara mengkaji dengan cermat fenomena social,
Selanjutnya menilai menangani fenomena ini berdasarkan tujuan-tujuan moral al
quran.
h. Tidak semua ayat mempunyai kasus demikian, untuk melakukan pendekatan
kontekstual diperlukan pemahaman terhadap semua kondisi bangsa Arab yang
melingkupi turunnya al-Qur’an. Pemahaman terhadap kondisi obyektif seperti ini
akan dapat membantu penafsir memahami maksud dan kandungan ayat yang
sedang di teliti. Misalnya untuk memahami hukum riba yang terdapat dalam QS.
Al-Bagarah 2 :278 – 280 maka penafsir harus memahami prilaku ekonomi bangsa
Arab ketika itu. Sejarah budaya bangsa Arab dengan demikian akan sangat
membantu penafsir memahami maksud ayat yang sedang di telitinya. Arun30
ayat 39 anisa
2. Asbabunnuzul alquran dan caranya turun kepada nabi dan ayat pertama dan terakhir
diturunkan
 Pengertian Asbabun Nuzul
Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat al-Qur’an dari
kata “asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya turun.
Yang dimaksud disini adalah ayat al-Qur’an. Asbabun nuzul adalah suatu peristiwa
atau saja yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an baik secara langsung atau
tidak langsung. Menurut istilah atau secara terminologi asbabun nuzul terdapat
banyak pengertian, diantaranya :
1. Menurut Az-Zarqani
“Asbab an-Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan
turunnya ayat al-Qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa
itu terjadi”.
2. Ash-Shabuni
“Asbab an-Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya
satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian
tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang
berkaitan dengan urusan agama”.
3. Subhi Shalih
‫ما نزلت اآلية اواآيات بسببه متضمنة له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه‬
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat
al-Qur’an yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau
sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi”.
4. Mana’ al-Qathan
‫مانزل قرآن بشأنه وقت وقوعه كحادثة او سؤال‬
“Asbab an-Nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya al-Qur’an berkenaan
dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa
pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”.
5. Nurcholis Madjid
Menyatakan bahwa asbab al-nuzul adalah konsep, teori atau berita tentang adanya
sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari al-Qur’an kepada Nabi saw baik berupa
satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat.
Kendatipun redaksi pendefinisian di atas sedikit berbeda semua menyimpulkan bahwa
asbab an-nuzul adalah kejadian/peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat al-
Qur’an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah
yang timbul dari kejadian tersebut.
Mengutip pengertian dari Subhi al-Shaleh kita dapat mengetahui bahwa asbabun
nuzul ada kalanya berbentuk peristiwa atau juga berupa pertanyaan, kemudian
asbabun nuzul yang berupa peristiwa itu sendiri terbagi menjadi 3 macam :
1. Peristiwa berupa pertengkaran
Seperti kisah turunnya surat Ali Imran : 100
Yang bermula dari adanya perselisihan oleh kaum Aus dan Khazraj hingga turun ayat
100 dari surat Ali Imran yang menyerukan untuk menjauhi perselisihan.
2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius
Seperti kisah turunnya surat an-Nisa’ : 43
Saat itu ada seorang Imam shalat yang sedang dalam keadaan mabuk, sehingga salah
mengucapkan surat al-Kafirun, surat An-Nisa’ turun dengan perintah untuk menjauhi
shalat dalam keadaan mabuk.
3. Peristiwa berupa cita-cita/keinginan
Ini dicontohkan dengan cita-cita Umar ibn Khattab yang menginginkan maqam
Ibrahim sebagai tempat shalat, lalu turun ayat
 Cara turun kepada nabi
Tahapan Turunnya Al-Qur’an
Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an berdasarkan dalil ayat
Al-Qur’an dan riwayat hadits shahih ada tiga tahap yaitu :
 Tahap Pertama, Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh, sebagaimana firman
Allah:
“padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang didustakan
mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (Q.S.
Al-Buruuj: 20-22).
Ketika Al-Qur’an berada di Lauh Mahfuzh tidak diketahui bagaimana keadaannya,
kecuali Allah yang mengetahuinya, karena waktu itu Al-Qur’an berada di alam ghaib,
kemudian Allah menampakkan atau menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit bumi.
Secara umum, demikian itu menunjukkan adanya Lauh Mahfuzh, yaitu yang merekam
segala qadha dan takdir Allah SWT, segala sesuatu yang sudah, sedang, atau yang
akan terjadi di alam semesta ini. Demikian ini merupakan bukti nyata akan
mengagungkan kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT yang Maha Kuasa.
Jika keberadaan Al-Qur’an di Lauh Mahfuzh itu merupakan Qadha (ketentuan) dari
Allah SWT, maka ketika itu Al-Qur’an adanya persis sama dengan keadaannya
sekarang. Namun demikian hakekatnya tidak dapat diketahui, kecuali oleh seorang
Nabi yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya. Dan segala sesuatu yang terjadi di
bumi ini telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebagaimana firman Allah : “Tiada suatu
bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”[1]
 Tahap Kedua, Al-Qur’an dari Lauh Mahfuzh diturunkan ke langit bumi
(Baitul ‘Izzah)
Berdasarkan kepada beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits berkah yang
dinamakan malam Al-Qadar (Lailatul Qadar) dalam bulan suci Ramadhan.
Sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan.”.
(Q.S Al-Qadr:1). Dan firman Allah :“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang bathil).(Q.S. Al Baqarah: 185) serta firman Allah :
“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan
sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-Dukhaan: 3)
Tiga ayat tersebut di atas menegaskan bahwa Al-Qur’an, diturunkan pada suatu
malam bulan Ramadhan yang dinamakna malam Lailatul Qadar yang penuh berkah.
Demikian juga berdasarkan beberapa riwayat sebagai berikut :
“Riwayat dari Ibn Abbas ra. berkata : Al-Qur'an dipisahkan dari Adz Dzikir lalu Al-
Qur'an itu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, lalu Jibril mulai
menurunkannya kepada Nabi.”. Dan hadis riwayat Ibnu Abbas : “Riwayat dari Ibnu
Abbas berkata : Al-Qur'an diturunkan sekaligus langit bumi (Bait Al-Izzah) berada di
Mawaqi’a Al-Nujum (tempat bintang-bintang) dan kemudian Allah menurukan
kepada Rasul-Nya dengan berangsur-angsur.”
Dan hadits riwayat Imam Thabrani : “Riwayat dari Ibnu Abbas ra. berkata : Al-Qur'an
diturunkan pada malam Al-Qadar pada bulan Ramadhan di langit bumi sekaligus
kemudian diturunkan secara berangsur-angsur.”
Ketiga riwayat tersebut dijelaskan di dalam Al-Iqam bahwa ketiganya adalah sahih
sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Suyuthy riwayat dari Ibn Abbas, dimana
dia ditanya oleh Athiyah bin Aswad dia berkata : “Dalam hatiku terdapat keraguan
tentang firman Allah dalam surah Al - baqarah ayat 185 :“ (Beberapa hari yang
ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran…….”
dan firman Allah dalam surah Al – Qadr ayat 1: “Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”
Sedangkan Al-Qur’an ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Zulkaidah, Zulhijjah,
Muharram, Safar dan bulan Rabi’ul Awwal dan Rabi’ul Akhir. Ibnu Abbas menjawab
bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pada bulan Ramadhan malam Lailatul Qadar secara
sekaligus yang kemudian diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur di
sepanjang bulan dan hari.
Yang dimaksud dengan nujum (bertahap) adalah diturunkan sedikit demi sedikit dan
terpisah-pisah, sebagiannya menjelaskan bagian yang lain sesuai dengan fungsi dan
kedudukannya.
Al-Suyuthy mengemukakan bahwa Al-Qurthuby telah menukilkan hikayat Ijma’
bahwa turunnya Al-Qur’an secara sekaligus adalah dari Lauh Al-Mahfuzh ke Baitul
‘Izzah di langit pertama.
Barangkali hikmah dari penurunan ini adalah untuk menyatakan keagungan Al-
Qur’an dan kebesaran bagi orang yang diturunkannya dengan cara memberitahukan
kepada penghuni langit yang tujuh bahwa kitab yang paling terakhir yang
disampaikan kepada Rasul penutup dari umat pilihan sungguh telah diambang pintu
dan niscaya akan segera diturunkan kepadanya.
As-Suyuthy berpendapat andaikata tidak ada hikmah Ilahiyah yang menyatakan
turunnya kepada umat secara bertahap sesuai dengan keadaan niscaya akan sampai ke
muka bumi secara sekaligus sebagaimana halnya kitab-kitab yang diturunkan
sebelumnya. Tetapi karena Allah SWT membedakan antara Al-Qur’an dan kitab-kitab
sebelumnya, maka Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap, turun secara sekaligus
kemudian diturunkan secara berangsur sebagai penghormatan terhadap orang yang
akan menerimanya.
 Tahap Ketiga : Al-Qur’an diturunkan dari Baitul-‘Izzah kepada Nabi
Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22
hari dengan cara sebagai berikut :
a. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi
SAW tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu (wahyu)
sudah ada dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul Qudus
mewahyukan ke dalam qalbuku.”
Firman Allah SWT : “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-
kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan
mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya
apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”(Q.S.
Asy Syuuraa : 51).
b. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang
mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan
kata-kata itu.
c. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat
berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat,
meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta
beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun
ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : “Aku
adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika
turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya
bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau
kembali seperti biasa.”
d. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki
seperti keadaan point b, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut
dalam Al-Qur’an :
Artinya : “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya
yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (Q.S. An-Najm: 13-14)
 Yang pertama dan terakhir turun
Surah yang pertama diturunkan adalah surah al-alaq ayat 1-5 dan surah yang
terakhir diturunkan adalah surah al-maidah 1-3

3. Pengertian surah makiah dan madaniah, ciri khas dan surah sebelumdan sesudah nabi
berhijrah
 Pengertian
Makkiyah adalah ayat yang turun di Makkah, baik waktu turunnya sebelum
Rasulullah SAW hijrah maupun sesudahnya. Sedangkan pengertian
Madaniyah adalah ayat yang turun di Madinah baik waktu turunnya sebelum
Rasulullah SAW hijrah maupun sesudahnya.

 Ciri khas
 Pertama, ciri-ciri yang pasti dari surah Makkiyah, yakni jika di dalamnya
terdapat ini:
Ayat yang jika dibaca, maka disunnahkan kepada pembaca dan
pendengarnya untuk melakukan sujud (ayat Sajdah)
Kata kallaa (disebut 33 kali)
Frasa yaa ayyuha an-naas dan sebaliknya, tidak ada yaa ayyuha alladziina
aamanu (kecuali surah al-Haj)
Kisah nabi-nabi dan umat-umat terdahulu (kecuali surah al-Baqarah)
Kisah Nabi Adam AS dan Iblis (kecuali surah al-Baqarah)
Pembukaan surah berupa huruf-huruf lepas, seperti qaf, shad, alif-lam-
mim-ra, alif-lam-mim (kecuali surah al-Baqarah dan surah Ali Imran)
 Kedua, ciri-ciri yang dominan--masih dari surah atau ayat Makkiyah,
yakni jika di dalamnya terdapat hal berikut.
Ayat dan surahnya pendek-pendek
Ungkapannya keras, cenderung puitis, menyentuh hati
Banyak terdapat kesamaan bunyi
Banyak menggunakan huruf qasam (sumpah)
Banyak kecaman kepada kaum musyrik
Penekanan pada dasar-dasar keimanan kepada Allah dan Hari Akhir, serta
penggambaran surga dan neraka
Banyak tuntunan mengenai akhlaq al-karimah (akhlak yang baik)
 Adapun karakteristik yang pasti dari surah Madaniyah, yakni jika di
dalamnya terdapat hal berikut.
Izin untuk perang dan hukum-hukumnya
Rincian hukum tentang hudud, ibadah, undang-undang sipil, sosial, dan
hubungan antar-negara
Penyebutan tentang kaum munafik (kecuali surah al-Ankabut)
Penyebutan tentang ahli kitab
 Sementara itu, ciri-ciri yang tampak dominan dari surah atau ayat
Madaniyah adalah berikut.

Ayat dan surahnya panjang-panjang.


Ungkapannya tenang, cenderung prosais, yang ditujunya adalah akal
pikiran
Banyak mengemukakan bukti dan argumentasi mengenai kebenaran-
kebenaran agama.
 Surah yang diturunkan sebelum dan sesudah nabi berhijrah
Semua berkata bahwa jumlah surah-surah Madaniyyah adalah 20 surah
dan yang menjadi perbedaan adalah 12 surah dan selainnya adalah
termasuk surah-surah Makkiyah.
 Surah-surah Madaniyyah yang disepakati oleh semua ulama adalah: surah
Al-Baqarah, surah Al-Maidah, surah An-Nur, surah Al-Fath, surah Al-
Mujadalah, surah Al-Jumu'ah, surah At-Tahrim, Surah Ali Imran, Surah
Al-Anfal, surah Al-Ahzab, surah Al-Hujurat, surah Al-Hasyr, surah Al-
Munafiqun, Surah An-Nashr, surah An-Nisa, surah At-Taubah, surah
Muhammad, surah Al-Hadid, surah Al-Mumtahanah dan surah Ath-
Thalaq.
 Surah-surah yang menjadi perselisihan diantara para ulama adalah: Surah
Al-Fatihah, surah Ash-Shaff, surah Ar-Ra'd, surah At-Taghabun, surah Ar-
Rahman, surah Al-Muthaffifin, surah Al-Qadr, surah Al-Bayyinah, surah
Az-Zalzalah, surah Al-Ikhlash, surah Al-Falaq dan surah An-Nas.

Berdasarkan hal ini, sisa dari surah-surah Alquran lainnya terhitung


surah-surah Makkiyah dan jumlahnya adalah 82 surah.
 Surah yang diturunkan sebelum nabi hijrah ke madinah Disebut
dengan SURAH MAKKIYAH
contoh al-fill dan annas
 Surah yang diturunkan setelah nabi hijrah ke madinah Disebut
dengan Surah MADANIAH
contoh albaqarah dan al a'raf

4. A. sejarah penulisan alquran pada masa nabi muhammad saw


1. Penulisan Alquran pada masa Nabi.
Para penulis wahyu Alquran dari sahabat-sahabat terkemuka yang diangkat
sebagai sekretaris, seperti Ali bin Abi thalib ra, Muawiyah ra, ‘Ubai bin K’ab ra. dan
Zaid bin Tsabit ra. Setiap ada ayat turun, Nabi memerintahkan mereka untuk
menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, bukan hanya pada
lempengan tempat menulis harus tersusun sesuai dengan surah yang ditunjukkan pada
Nabi, tetapi juga disampaikan pada sahabat ayat yang turun itu dalam hapalan sahabat
dimasukkan pada surah yang ditunjuk, jadi ada kecocokan antara hapalan dengan
bukti
fisik dari ayat yang tertulis. sehingga penulisan pada lembar itu membantu
penghafalan
didalam hati.9
Disamping itu sebagian sahabat juga menuliskan Alquran yang turun itu atas
kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh Rasulullah saw. Mereka
menuliskannya
pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana,
potongan tulang belulang binatang.
Zaid bin Sabit ra. berkata,”Kami menyusun Alquran dihadapan Rasulullah pada
kulit binatang.” Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat
dalam menulis Qur’an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-
sarana tersebut. Dan dengan demikian, penulisan Qur’an ini semakin menambah
hafalan
mereka.
Selain itu malaikat Jibril as membacakan kembali ayat demi ayat Alquran
kepada Rasulullah saw.pada malam-malam bulan Ramadan pada setiap tahunnya.
Abdullah bin Abbas ra. berkata,”Rasulullah adalah orang paling pemurah dan puncak
kemurahan pada bulan Ramadan, ketika ia ditemui oleh malaikat Jibril as. Nabi
saw.ditemui oleh malaikat Jibril as setiap malam, dimana Jibril membacakan Alquran
kepada beliau, dan ketika itu Nabi saw.sangat pemurah sekali.”
Para sahabat senantiasa menyodorkan Alquran kepada Rasulullah saw.baik
dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Tulisan-tulisan Alquran pada masa Nabi tidak
terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang
lain.
Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, diantaranya Ali
bin Abi Thalib ra, Muaz bin Jabal ra, Ubai bin Ka’ab ra, Zaid bin Sabit ra. dan
Abdullah
8Istilah “hadis qudsi” terdiri dari dua kata: “hadis” dan “qudsi”. “ Hadis” artinya
‘perkataan,
perbuatan, atau persetujuan seseorang’, Sedangkan “qudsi”, secara bahasa, artinya
‘suci’, yang
selanjutnya digunakan untuk menyebut istilah yang dinisbahkan kepada Allah ta’ala.
Secara istilah, hadis
qudsi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad saw.dari Rabbnya
(Allah). Hadis qudsi juga
sering diistilahkan dengan “hadis rabbani” atau “hadis ilahi”. Sedangkan hadis yang
disabdakan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang bukan dalam bentuk riwayat dari Allah,
disebut “hadis
nabawi”.Lihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari. Al-Jami Ash-Shahih Al-
Mukhtashar.-qudsi. bin Mas’ud ra. telah menghafalkan seluruh isi Alquran dimasa
Rasulullah. Dan mereka
menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit ra. adalah orang yang terakhir kali
membacakan Alquran dihadapan Nabi.
Kemudian Rasulullah saw.berpulang ke rahmatullah disaat Alquran telah dihafal
oleh ribuan para shahabat dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti
disebutkan
diatas. Tiap ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya
saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf.
Tetapi
memang benar bahwa Alquran belum lagi dijilid dalam satu mushaf yang
menyeluruh.
Sebab Rasulullah saw.masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu.
Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang menasahh (menghapuskan) sesuatu
yang turun sebelumnya.
Susunan atau tertib penulisan Alquran itu tidak menurut tertib turunnya, tetapi
setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk
Rasulullah
saw. Beliau sendiri yang menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah
anu.
Andaikata (pada masa Nabi) Qur’an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua cover
sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila
wahyu turun lagi.
Az-Zarkasyi berkata, “Alquran tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman
Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan
kemudian sesudah Alquran turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.” Dengan
pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit ra. yang
mengatakan,”Rasulullah telah wafat sedang Alquran belum dikumpulkan sama
sekali.”
Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam
satu mushaf.10
Al-Katabi berkata,”Rasulullah tidak mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf
itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau
bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah
mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin
sesuai
dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan
hal
ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar ra. atas pertimbangan usulan Umar
ra.”

B. sejarah penulisan alquran pada masa khulafaur rasyidin

 Periode Abu Bakar Ash-Shiddiq

Pada periode Abu Bakar Ash-Shiddiq, terjadi banyak kekacauan, terutama kekecauan
yang dipimpin oleh Musailamah al-Khadzdzab bersama para pengikutnya. Salah
satunya adalah Perang Yamamah yang terjadi pada 12 H, tercacat sekitar 70
penghafal Al-Qur’an dari para sahabat gugur. Bahkan ada riwayat lain yang
menyebutkan sekitar 500 orang, dan mengakibatkan al-Qur’an musnah.
Berangkat dari peristiwa tersebut, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar
untuk mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an dalam sebuah mushaf. Umar khawatir
bahwa Al-Qur’an akan hilang jika hanya mengandalkan para penghafal Al-Qur’an,
terlebih ketika semakin banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam
peperangan.
Pada mulanya, Abu Bakar menolak usulan Umar dengan alasan bahwa Nabi tidak
pernah melakukan sebelumnya. Selanjutnya, Abu Bakar menceritakan kekhawatiran
Umar kepada Zaid bin Tsabit. Respon Zaid pun tak jauh berbeda dengan Abu Bakar,
bahkan Zaid mengungkapkan “seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan
sebuah bukit, maka hal itu tidak lebih berat bagiku daripada mengumpulkan al-Qur’an
yang engkau perintahkan.”
Namun, setelah mempertimbangkan perihal kebaikan dan manfaatnya, Abu Bakar dan
Zaid pun menyetujuinya. Kemudian Abu bakar memerintahkan Zaid untuk
menuliskan Al-Qur’an, mengingat kedudukannya dalam qira’at, penulisan,
pemahaman, kecerdasan, serta kehadirannya dalam pembacaan terakhir kali.
Setelah Abu Bakar wafat pada 13 H, mushaf tersebut berpindah ke tangan Umar
hingga beliau wafat. Setelahnya, berpindah lagi ke tangan Hafsah, putri Umar yang
pernah menjadi istri Nabi yang juga hafidzah dan pandai baca tulis, atas wasiat Umar.

 Periode Usman bin ‘Affan


Pada periode Usman bin’ Affan, wilayah penyebaran Islam semakin luas, para
pengajar Al-Qur’an pun diperlukan lebih. Huzdzaifah bin Yaman, seorang pemimpin
prajurit Islam di perbatasan Azerbaijan dan Armenia, melihat perbedaan di kalangan
umat Islam dalam membaca Al-Qur’an. Beliau khawatir jika perbedaan tersebut
lambat laun akan mengancam kesatuan Al-Qur’an dan persatuan umat Islam di
kemudian hari.
Berangkat dari kekhawatiran tersebut, Huzdzaifah segera pergi menemui Usman dan
berkata, “aku telah memberikan peringatan secara terbuka, karena itu dimohon kepada
khalifah untuk menemui umat Islam.”
Menurut beberapa riwayat, Usman mengadakan pertemuan dengan para sahabat,
setelah menerima laporan tersebut. Hasil akhirnya adalah dengan menyeragamkan
umat Islam pada satu mushaf sehingga tidak ada lagi perbedaan dan perselisihan.
Lebih lanjut, Usman bin ‘Affan mengambil beberapa langkah sebagaimana
terkandung dalam riwayat Bukhori; Pertama, meminjam mushaf resmi yang telah
dikerjakan oleh Zaid pada masa Abu Bakar kepada hafsah untuk disalin ke dalam
beberapa mushaf.
Kedua, membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair,
Sa’id bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam.
Ketiga, setelah panitia selesai melakukan tugasnya, maka mushaf-mushaf tersebut
dikirim ke berbagai pusat negeri Islam.
Keempat, memerintahkan kepada kaum Muslim di seluruh negara Islam untuk
membakar semua mushaf dan catatan-catatan al-Qur’an yang tidak sesuai dengan
mushaf yang telah mereka terima.
Dari catatan sejarah perihal pengumpulan Al-Qur’an di atas, maka dapat dikatakan
bahwa Al-Qur’an yang beredar dan digunakan sampai hari ini adalah Al-Qur’an yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Walaupun telah melalui proses panjang
dalam hal pengumpulannya. Akan tetapi, segi keotentikan Al-Qur’an tetaplah terjaga.
Selain karena dijamin langsung oleh Allah, dalam hal pengumpulannya pun sangat
hati-hati dan hanya dilakukan oleh orang-orang terpercaya

c. Mushaf Utsmany adalah mushaf dari ayat-ayat Allah yang dikumpulkan kaum
Muslimin pada zaman khilafah (pemerintahan) shahabat Utsman bin 'Affan

5. Menurut saya peranan pendidikan alquran dalam mengantisipasi krisi moral


generasi muda jaman ini sangat lah penting karena alquran mengajarkan berbagai
hal positif dalam hidup beragama sehingga, dapat mengarahkan generasi muda jaman
ini untuk berprilaku positif sesuai syariat islam. Dengan adanya pendidikan alquran
pada generasi muda jaman ini maka kita dapat mencetak generasi penerus yang
bermoral dan taat agama yang tidak gampang terpengaruh budaya luar maupun dalam
negeri yang bertentangan dengan islam.
Contoh
1. Adanya generasi muda yang kini kebanyakannya candu memainkan gadget
hingga lupa sholat.

Hal tersebut tentu dapat diatasi dengan pendidikan alquran guna menumbuhkan
kesadaran dalam melaksanakan kewajiban.