Anda di halaman 1dari 7

NAMA : CARLOS NOPELIUM SATIRE

NPK : 19042000023
PRODI : S1 TEKNIK MESIN

UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP


TAHUN AKADEMIK 2019/2020

MATA UJIAN : Pendidikan Agama Katolik II DOSEN : Drs. Ludovikus Seda


HARI/TANGGAL : Jumat, 01 Mei 2020 WAKTU : 100 Menit
SEMESTER/PRODI : II / EP, AK, MJ SIFAT : Open Book
Catatan : Jawaban lengkap atas soal UTS Agama Katolik II ini harap dikirim ke email :
my7kelimado@gmail.com

SOAL :

A.
1. Jelaskan maksud dan tujuan Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya! Minimum 2
tujuan!
2. Uraikan hubungan antara Tuhan Yesus dengan Gereja-Nya!
3. Salah satu sifat Gereja Kristus adalah “Kudus”, namun dalam kenyataan sehari-hari
kita menyadari bahwa para anggota Gereja adalah “seorang pendosa”. Jika
demikian, bagaimana seharusnya kita memahami sifat Gereja yang “Kudus” itu?

B.
1. Dalam Peristiwa Hidup Yesus di Palestina, selama kurun waktu 3 tahun tampil di
depan umum, Ia melaksanakan tiga tugas utama-Nya di dunia, yaitu tugas-Nya
sebagai Nabi, Imam dan Raja. Jelaskan maksud dan tujuan pada masing-masing
tugas Yesus tersebut!
2. Sebagai anggota Gereja Kristus, kita masing-masing berkat Sakramen Baptis dan
Sakramen Krisma dipanggil dan diutus untuk terlibat secara aktif dalam melanjutkan
tiga tugas Kristus tersebut di atas, dengan cara melaksanakan Panca Tugas Gereja,
yaitu :
a. Kerygmatis
b. Liturgia
c. Koinonia
d. Diakonia
e. Martiria
Jelaskan maksud dan tujuan pada masing-masing tugas Gereja tersebut!

C.
1. Uraikan maksud dan tujuan “Perkawinan Katolik yang Sakramental” itu!
2. Jelaskan sifat-sifat utama pada perkawinan yang Sakramental itu!
3. Menurut Anda, apakah perkawinan yang terjadi antara seorang (pria atau wanita) yang
dibaptis dalam Gereja Katolik dengan seorang (wanita atau pria) yang dibaptis dalam
Gereja Non-Katolik, itu suatu Sakramen Suci atau bukan Sakramen? Mengapa?

D.
1. Gereja Katolik menegaskan bahwa Perkawinan antara seorang yang dibaptis dalam
Gereja Katolik dengan seorang yang dibaptis dalam Gereja Non-Katolik itu
“Dilarang”! Mengapa? Apa solusinya?
2. Perkawinan antara seorang yang dibaptis dalam Gereja Katolik dengan seorang yang
tidak dibaptis adalah “Halangan” dan karena itu “Dilarang” oleh Gereja Katolik.
Mengapa? Apa solusinya?

****** ALLELUYA ******


 JAWABAN :

A.
1. Maksud dan tujuan Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya ialah :
 MENJADI SARANA UNTUK MENDEWASAKAN UMAT-NYA (Efesus 4:11-16)
Kekritenan kita harus mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang
Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan
Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa
angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang
menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita
bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
 MEMBERITAKAN KABAR KESELAMATAN SAMPAI KE-UJUNG BUMI
(MATIUS 24:14)
Injil Keselamatan harus diberitakan ke-seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua
bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.
Setiap kita yang telah diselamatkan harus melaksanakani misi untuk memberitakan
kebenaran injil, jadikanlah murid Kristus dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan
Anak dan Roh Kudus serta ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Tuhan
perintahkan kepada kita. (Matius 28:18-20)
Hubungan antara Tuhan Yesus dengan Gereja-Nya ialah :
2. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui hubungan antara Yesus Kristus dan Gereja
(GerejaNYA), karena Gereja yang didirikan Tuhan Yesus pasti hanya SATU, seperti Yesus
berdoa kepada Bapa bagi para murid dan orang-orang yang percaya kepadaNYA: "supaya
mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan
Aku di dalam Engkau" (Yohanes 17 : 21).
Gereja merupakan jemaat Allah yang dikuduskan dalam Kristus Yesus (I Kor 1:2). Dalam
Perjanjian Baru, Gereja disebut juga sebagai Tubuh Kristus. Tubuh Kristus ini erat sekali dengan
Kristus, dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Pada mulanya, dalam I Kor 12:12-13, St. Paulus menegaskan kesatuan umat, mereka memang
punya pelayanan Dan panggilan berbeda-beda dalam kehidupannya, tetapi mereka tetap di dalam
satu Tubuh Kristus. Selanjutnya dalam surat kepada umat Kolose Dan Efesus, perihal ini
dikembangkan.
Efesus1:23: Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan
segala sesuatu.
Efesus 4:15-16….. Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang
rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar
pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.
Kolose 1:17-18: Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.
Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang
mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.
3. Cara kita memahami sifat Gereja yang “Kudus” ialah :
Roh kudus adalah Allah sama halnya dengan Allah Bapa, dan Allah Putra, maka Roh Kudus
ialah salah Satu dari pribadi Allah. Alkitab sendiri menyebut Roh Kudus adalah Allah.
“kudus” bukan dimaksud dalam arti moral tetapi “teologi”, bukan soal baik atau buruknya
tingkah laku melainkan “hubungannya dengan Allah” dengan arti kita lebih ditutut dekat dengan
yang Ilahi itu lebih penting.
Gereja itu “kudus” karena berkat Roh Kudus yang menjiwai-Nya, Gereja bersatu dengan Tuhan,
satu-satunya yang dari diriNya sendiri kudus. Gereja yang kudus berarti Gereja menjadi
perwujudan kehendak Allah yang Mahakudus untuk sekarang juga mau bersatu dengan manusia
dan mempersatukan manusia dalam kekudusanNya.Gereja yang kudus itu dipandang sebagai
tanda Gereja yang benar. Secara obyektif sifat “kudus” berarti bahwa dalam Gereja adalah sarana
keselamatan dan rahmat Tuhan di dunia serta merupakan tanda rahmat yang kudus, yang akan
menang secara definitif pada akhir jaman. Secara subyektif sifat “kudus” berarti bahwa Gereja
tak akan kehabisan tanda dan orang kudus, jadi menyangkut kekudusan subyeknya.
Gereja itu kudus karena sumber dari mana ia berasal, karena tujuan ke mana ia diarahkan, dan
karena unsur-unsur Ilahi yang otentik di dalamnya adalah kudus.
B.
1. Maksud dan tujuan pada masing-masing tugas Yesus tersebut ialah :
 SEBAGAI IMAM
Mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Allah dengan menghayati seluruh hidupnya
itu “di dalam Roh”
 SEBAGAI NABI
Menerima injil bagi dirinya dan mewartakan bagi orang lain.
 SEBAGAI RAJA
Mengalahkan Kerajaan setan dan ikut menegakkan Kerajaan Allah.
2 Maksud dan tujuan pada :

a).Kerygmatis.
kerygmatis, yang membuat orang merasakan kehadiran Allah yang menyelamatkan di
dalam dan melalui Kristus. Karena alasan yang sama, juga harus bersifat pneumatis dan memberi
inspirasi serta membuka orang untuk daya kekuatan Roh Kudus.
Tujuannya adalah untuk mengetahui siapakah Yesus dibalik semua formula-formula
doktrinal yang mengitariNya. Dalam bahasa yang lebih teknis tujuan penelitian ini adalah
mencari hubungan Yesus Sejarah dan Kristus Iman (Kristus Kerygmatis).
Ini didasari oleh asumsi bahwa keempat Injil adalah pengakuan iman kepada Kristus. Kristus
yang dikisahkan adalah "Kristus Iman" yang diberitakan di dalam dan oleh gereja. Dengan
demikian kehidupan, kata-kata, perbuatan, dan penderitaan-Nya tentu tidak disajikan secara
detail dan apa adanya sebab telah dipengaruhi oleh refleksi teologis (konfeksi iman) gereja pada
kemudian hari. Termasuk dalam kerygma ini adalah pendalaman iman lebih lanjut bagi orang
yang sudah Katolik lewat kegiatan-kegiatan katekese.

b).Liturgia.

Liturgi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani, leitourgia, yang berarti kerja
bersama. Kerja bersama ini mengandung makna peribadatan kepada Allah dan pelaksanaan
kasih, dan pada umumnya istilah liturgi lebih banyak digunakan dalam tradisi Kristen, antara lain
umat Katolik.

Liturgi (Liturgia) berarti ikut serta dalam perayaan ibadat resmi yang dilakukan Yesus
Kristus dalam Gereja-Nya kepada Allah Bapa. Ini berarti mengamalkan tiga tugas pokok Kristus
sebagai Imam, Guru dan Raja. Dalam kehidupan menggereja, peribadatan menjadi sumber dan
pusat hidup beriman. Melalui bidang karya ini, setiap anggota menemukan, mengakui dan
menyatakan identitas Kristiani mereka dalam Gereja Katolik. Hal ini dinyatakan dengan doa,
simbol, lambang-lambang dan dalam kebersamaan umat. Partisipasi aktif dalam bidang ini
diwujudkan dalam memimpin perayaan liturgis tertentu seperti: memimpin Ibadat Sabda/Doa
Bersama; membagi komuni; menjadi: lector, pemazmur, organis, mesdinar, paduan suara,
penghias Altar dan Sakristi; dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap perayaan dengan
berdoa bersama, menjawab aklamasi, bernyanyi dan sikap badan.

c).Koinonia.

Koinonia adalah anglikisasi dari kata Yunani (κοινωνία) yang berarti persekutuan dengan
partisipasi intim. Kata ini sering digunakan dalam Perjanjian Baru dari Alkitab untuk
menggambarkan hubungan dalam gereja Kristen perdana serta tindakan memecahkan roti dalam
cara yang ditentukan Kristus selama perjamuan Paskah. Akibatnya kata tersebut digunakan
dalam Gereja Kristen untuk berpartisipasi, seperti kata Paulus, dalam Persekutuan - dengan cara
ini mengidentifikasi keadaan ideal persekutuan dan masyarakat yang harus ada
-Komuni(persekutuan).

Persekutuan (Koinonia) berarti ikut serta dalam persekutuan atau persaudaraan sebagai
anak-anak Bapa dengan pengantaraan Kristus dalam kuasa Roh KudusNya. Sebagai orang
beriman, kita dipanggil dalam persatuan erat dengan Allah Bapa dan sesama manusia melalui
Yesus Kristus, PuteraNya, dalam kuasa Roh Kudus. Melalui bidang karya ini, dapat menjadi
sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat dan menampakkan kehadiran Kristus. Hal ini
berhubungan dengan ‘cura anima’ (pemeliharaan jiwa-jiwa) dan menyatukan jemaat sebagai
Tubuh Mistik Kristus. Oleh karena itu diharapkan dapat menciptakan kesatuan: antar umat, umat
dengan paroki/keuskupan dan umat dengan masyarakat. Paguyuban ini diwujudkan dalam
menghayati hidup menggereja baik secara territorial (Keuskupan, Paroki, Stasi / Lingkungan,
keluarga) maupun dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada dalam Gereja.

d).Diakonia.
Makna kata diakonia sebagai pelayanan gereja ini bisa dijumpai dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI). Pengertian dari KBBI ini tentu saja terlalu umum sebab diakonia ini
menunjuk pada pelayanan spesifik yang dilakukan oleh gereja.
Pelayanan (Diakonia) berarti ikut serta dalam melaksanakan karya karitatif / cinta kasih
melalui aneka kegiatan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin, telantar dan
tersingkir. Melalui bidang karya ini, umat beriman menyadari akan tanggungjawab pribadi
mereka akan kesejahteraan sesamanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kerjasama dalam
kasih, keterbukaan yang penuh empati, partisipasi dan keiklasan hati untuk berbagi satu sama
lain demi kepentingan seluruh jemaat.

e).Martiria.
Marturia (dari bahasa Yunani: martyria) adalah salah satu istilah yang dipakai gereja
dalam melakukan aktivitas imannya, sebagai tugas panggilan gereja, yaitu dalam hal kesaksian
iman. Kesaksian iman yang dimaksud adalah pemberitaan Injil sebagai berita keselamatan bagi
manusia. Marturia biasanya disandingkan dengan tugas gereja yang lain, yaitu koinonia yang
berarti persekutuan dan diakonia atau pelayanan.
Kesaksian (Martyria) berarti ikut serta dalam menjadi saksi Kristus bagi dunia. Hal ini
dapat diwujudkan dalam menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman di tempat kerja
maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat beriman lain, dan dalam relasi
hidup bermasyarakat. Melalui bidang karya ini, umat beriman diharapkan dapat menjadi ragi,
garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka disukai semua orang dan
tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.
C.
1.Maksud dan tujuan “Perkawinan Katolik yang Sakramental” ialah:
Perkawinan adalah hal yang diimpikan oleh setiap manusia. Bagi dua sejoli yang saling
mencintai, perkawinan dilihat sebagai jalan untuk saling membahagiakan, melengkapi, dan
mewujudkan citacita bersama. Impian perkawinan yang bahagia dan setia selamanya menjadi
harapan banyak orang muda, sebelum mereka memasuki perkawinan itu sendiri. Cita-cita ini
adalah hal yang sangat baik karena memang demikianlah seharusnya, perkawinan menjadi
lembaga dan tempat di mana pasangan bisa merayakan cinta dengan penuh, berbagi hidup dan
kebahagiaan, suka dan duka, saling mengisi dan mendukung.
 Tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Untuk
mencapainya, manusia menempuh beberapa cara: pertama, dengan hidup selibat-mem-
biara (sebagai biarawan-biarawati); kedua, memenuhi panggilan hidup sebagai awam
yang menikah atau awam yang hidup selibat secara sukarela. Sebagai pilihan hidup,
perkawinan dilindungi oleh hukum.
 Saling membahagiakan dan mencapai kesejahteraan suami-istri (segi unitij). Kedua pihak
memiliki tanggung jawab dan memberi kontribusi untuk mewujudkan kesejahteraan dan
kebahagiaan suami-istri.
 Terarah pada keturunan (segi prokreatij). Kesatuan sebagai pasutri dianugerahi rahmat
kesuburan untuk memperoleh buah cinta berupa keturunan manusia-manusia baru yang
akan menjadi mahkota perkawinan. Anak yang dipercayakan Tuhan harus dicintai,
dirawat, dipelihara, dilindungi, dididik secara Katolik. Ini semua merupakan tugas dan
kewajiban pasutri yang secara kodrati keluar dari hakikat perkawinan.
 Menghindari perzinaan dan penyimpangan seksual. Perkawinan dimaksudkan juga
sebagai sarana mengekspresikan cinta kasih dan hasrat seksual kodrati manusia. Dengan
perkawinan, dapat dicegah kedosaan karena perzinaan atau penyimpangan hidup seksual.
Dengan perkawinan, setiap manusia diarahkan pada pasangan sah yang dipilih dan
dicintai dengan bebas sebagai teman hidup. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan
oleh Paulus, “Tetapi, kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin.
Sebab lebih baik kawin daripada hangus karena nafsu”
Dalam arti umum, perkawinan pada hakikatnya adalah persekutuan hidup antara pria dan
wanita, atau dasar saling mencintai untuk membentuk hidup bersama secara tetap dan memiliki
tujuan yang sama, yaitu saling membahagiakan. Tujuan mereka membentuk persekutuan hidup
ini adalah untuk mencapai kebahagiaan dan melanjutkan keturunan. Oleh karena itu, dalam
agama atau kultur tertentu, apabila perkawinan tidak dapat mendatangkan keturunan, seorang
suami dapat mengambil wanita lain dan menjadikan dia sebagai istri agar dapat memberi
keturunan.

2.Sifat-sifat utama pada perkawinan yang Sakramental ialah:


Sifat atau ciri hakiki perkawinan katolik adalah: 1. monogami, 2. tidak dapat diceraikan dan 3.
berlangsung seumur hidup. Berikut refleksinya:
 Monogami:
Perkawinan katolik bersifat monogami, artinya bahwa perkawinan itu dilakukan oleh seorang
laki-laki dan seorang perempuan. Perempuan dicipta dari tulang rusuk laki-laki, untuk
menunjukkan kesetaraan dan kesederajatan, seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Kenapa
tulang rusuk? Itu untuk pertanda kesederajatan, dari tengah, biar tidak merendahi dan direndahi:
sejajar biar tidak dikuasai maupun menguasai. Agar mereka berdua saling memiliki, saling
memberi dan menerima secara adil dan seimbang. Karena sehakekat dan semartabat itulah
perkawinan yang satu “lawan” satu itu menjadi sudah lengkap, penuh dan sempurna. Itu sesuai
kehendak Allah sendiri, ‘Laki-lakimeninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya
dankeduanya menjadi satu daging’, dalam tingkat yang sama-sama seimbang; menjadi satu
daging berarti kedua pribadi itu akan menyatu secara mesra dan intim dalam cinta yang sejati
dan benar. ”.
Perkawinan yang bersifat monogami tentunya dikehendaki Allah sendiri. Allah ingin agar pilihan
hidup manusia untuk menikah dan membentuk keluarga membawa mereka kepada kebahagiaan
yang utuh dan lengkap. Oleh karena itu hendaknya pasangan benar-benar mengerti apa artinya
sifat monogami ini dan menghayatinya dengan sungguh. Keinginan-keinginan untuk
membiarkan diri jatuh pada godaan-godaan hadirnya pihak lain dalam keluarga, relasi-relasi
rahasia dengan orang lain menjadi sesuatu yang amat bertentangan dengan sifat monogami ini.
Maka sudah selayaknya dihindari. Karena perkawinan adalah sarana keselamatan (sakramen)
maka penodaan terhadapnya tentulah merupakan dosa.

 Tidak dapat diceraikan


Sebetulnya ini berkaitan erat dengan sifat monogami dari perkawinan katolik tadi. Sebab,
kalau perjanjiannya itu sah, hanya maut yang bisa memisahkan. Jadi tidak ada kuasa apapun
yang boleh dan dapat memisahkan atau memutuskan ikatan perkawinan itu. Di dalam ikatan
Perkawinan ini, kesepakatan suami dan istri yang telah dibaptis untuk saling memberi dan saling
menerima,telah dimetiraikan oleh Allah sendiri. Atas dasar inilah, maka Perkawinan Katolik
yang sudah diresmikan dan dilaksanakan melalui perjanjian yang layak dan legitim tidak dapat
diceraikan. Ikatan perkawinan yang diperoleh dari keputusan bebas suami istri, dan telah
dilaksanakan, tidak dapat ditarik kembali. Gereja tidak berkuasa untuk mengubah penetapan
kebijaksanaan Allah ini.
Perkawinan yang bersifat tak dapat diceraikan ini mengisyaratkan bahwa idealnya tak ada alasan
apapun yang bisa menceraikan perkawinan setelah perkawinan itu disahkan. Sebab perkawinan
yang bersyarat tak akan pernah terjadi atau dilangsungkan. Sesuatu yang bersyarat tidak
memiliki kepastian dan tidak berasal dari keputusan bebas. Idealnya lagi tidak akan ada
perkawinan katolik yang mengandaikan kesetiaan pasangannya, pada sesuatu yang belum terjadi.
Entah itu peristiwa buruk, ataupun ketidakcocokan. Mengatakan begitu berarti membuka peluang
untuk mencari alasan-alasan yang egoistis. Maka juga idealnya ketidakcocokan atau
kecocokannya sudah diketemukan sebelum perkawinan. Kalau pada kenyataannya ada
ketidakcocokan pasti itu soal sedang tumbuhnya benih-benih egoisme. Apalagi kalau sampai
pada keputusan tak sanggup lagi hidup bersama terus mau berpisah. Itu sudah jelas lari jauh dari
hakikat perkawinan itu sendiri, apalagi kalau sebetulnya sudah punya anak. Kalau pasangan
sudah punya anak, lalu mengatakan mau bercerai demi anak, ini sebuah pernyataan yang aneh.
Kalau sudah demi anak, mustinya mereka kembali bersatu, meninggalkan ego mereka
 Seumur hidup
Perkawinan katolik, yang monogami dan tak terceraikan itu mengisyaratkan ikatan
kebersamaan antara suami dan istri selama hidup. Batas akhir dari ikatan itu ada pada batas
hidup salah satu di antara mereka. Maka dikatakan bahwa ikatan itu tetap ada sampai ketika maut
memisahkan mereka. Dan ketika maut memisahkan mereka secara otomatis segala ikatan formal
baik secara hukum maupun tanggungjawab moral, menjadi tidak ada lagi. Tentu saja karena
tidak ada lagi ikatan perkawinan dengan yang sudah meninggal, maka yang masih hidup tidak
terhalang lagi jika ingin mengadakan ikatan perkawinan baru dengan orang lain.
Oleh karena ikatan perkawinan ini bersifat seumur hidup, maka selama masih hidup suami istri
terikat secara eksklusif dan tetap sejak diucapkannya janji perkawinan, sampai maut memisahkan
mereka. Adanya persoalan apapun, yang terjadi setelah perkawinan, sejauh dahulu
perkawinannya adalah layak dan sah, tidak pernah dapat dijadikan alasan bahwa ikatan
perkawinan menjadi longgar, atau rusak atapun batal.

3.Menurut saya merupakan Sakramen Suci karena,


Perkawinan Katolik bersifat permanen dan tak terceraikan, baik secara intrinsik (oleh suami istri
sendiri) maupun ekstrinsik (oleh pihak luar). Dalam hal perkawinan antara orang-orang yang
telah dibaptis, perkawinan itu memperoleh kekukuhan atas dasar sakramen. Meski demikian,
hukum masih mengakui adanya tingkat-tingkat kekukuhan dalam perkawinan sesuai macam
perkawinan itu sendiri.

D.
1.Karena, Perkawinan campur bukan perkawinan antara mereka yang berbeda suku, negara dan
warna kulit melainkan antara dua orang yang berbeda iman, agama, gereja dan ajaran. Paus
Paulus VI memberi arti perkawinan campur: “perkawinan antara seorang dibaptis Katolik
dengan pasangan non-Katolik, baik yang dibaptis dalam gereja lain maupun orang yang tidak
dibaptis”. Secara khusus, arti perkawinan beda agama adalah perkawinan antara seorang dibaptis
Katolik dengan seorang tidak dibaptis. Dalam KHK lama ini sangat jelas bahwa seharusnya
orang dibaptis Katolik tidak bisa dan tidak diperkenankan melangsungkan: (a) perkawinan
dengan orang yang berbeda agama atau penganut kultus tertentu (non-baptis atau bidaah); (b)
perkawinan dengan kaum skisma (agama-agama reformis yang memisahkan diri dari Katolik).
Jika ada umat Katolik yang tetap melangsungkan perkawinan dengan mereka ini, maka
perkawinan tersebut batal (nullum).
2.Karena, Gereja memandang betapa luhurnya nilai iman dan ajaran sehingga perlu dipelihara,
dipertahankan, dan dilindungi dengan perbuatan, kesetiaan, cinta, dan perjuangan. Oleh karena
itu, umat Katolik diminta untuk setia pada iman dan ajaran Katolik seperti ditegaskan dalam
KHK kanon 750 dan kanon 752. Melalui kanon 750 Gereja meminta semua umat Katolik agar
dengan sikap iman ilahi dan katolik harus mengimani semua yang terkandung dalam Sabda
Allah, tradisi suci dan magisterium (ajaran resmi gereja). Gereja menghimbau umat agar menaati
semua ajaran-ajaran yang dinyatakan para pemimpin Gereja Katolik (bdk. kanon 752).
Keberagaman agama merupakan realitas sosial kita. Dalam interaksi sosial, sangat
memungkinkan orang-orang berbeda agama saling jatuh cinta yang akhirnya sepakat
membangun bahtera keluarga.
Atas realitas sosial ini, maka Gereja memberikan solusi, tentu dengan berbagai persyaratan yang
tegas dan ketat.
 Pertama, pihak Katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman
katolik. Dalam konteks Indonesia, tidak sedikit pasutri beda agama yang setia sampai
mati membangun bahtera keluarga: pihak Katolik tetap beriman Katolik dan semua anak-
anak yang lahir dibaptis dan dididik secara Katolik. Akan tetapi, tak sedikit pula umat
Katolik yang memasuki perkawinan beda agama akhirnya meninggalkan imannya. Jika
“pengaruh” pihak non-Katolik (termasuk keluarga besarnya) lebih kuat, lama-lama pihak
Katolik menghadapi bahaya meninggalkan imannya.
 Kedua, pihak Katolik memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu
dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Katolik. Apakah
pihak Katolik mampu setia pada janji ini seumur hidupnya? Tak dapat disangkal bahwa
banyak pasutri beda agama yang berhasil menepati janji ini. Akan tetapi, tidak sedikit
pula yang mengalami kegagalan melakukannya.
 Ketiga, mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak Katolik tersebut, pihak non-
Katolik hendaknya diberitahu dengan baik sehingga nyata baginya bahwa ia sungguh-
sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak Katolik. Dengan berpedoman pada kanon
1126, keuskupan-keuskupan di Indonesia menentukan hal-hal praktis mengenai
pernyataan janji ini. Dalam pemeriksaan kanonik, Pastor meminta kesediaan pihak
Katolik dan pihak non-Katolik untuk menyatakan dengan jujur bahwa mereka
melaksanakan dengan setia janji-janji yang dituntut dalam Kanon 1125 tersebut.
Keduanya pun diminta menanda-tangani pernyataan janji-janji tersebut.
 Keempat, pihak Katolik dan non-Katolik hendaknya diajar mengenai tujuan dan ciri-ciri
hakiki esensial perkawinan yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari
keduanya. Berdasarkan KHK 1983 kanon 1055§, ada 3 (tiga) tujuan perkawinan Katolik,
yaitu:
Kebaikan suami-istri (bonum coniugum). Perlu dijelaskan bahwa “bonum” berarti
“kebaikan”. Dalam kebaikan, tidak selalu yang dialami adalah kenyamanan,
kesejahteraan, dan kebahagiaan; tetapi terutama kesetiaan dan perjuangan
membangun bahtera keluarga. Itu sebabnya dalam perkawinan, pasutri mesti
saling memberi dan menerima janji perkawinan: “Saya memilih engkau menjadi
istri/suamiku. Saya berjanji untuk setia mencintai dan mengabdikan diri
kepadamu, dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau
mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya”. Bisa dikatakan pula
bahwa pasutri mengalami “kebaikan” dalam ikatan perkawinan jika keduanya
berjuang memenuhi kesejahteraan lahir dan batin. Kesejahteraan lahir berkaitan
dengan kebutuhan pangan (makanan), sandang (pakaian), papan (tempat tinggal).
Sedangkan kesejahteraan batin, menyangkut keharmonisan pasutri dan hubungan
seksual normal dan wajar.
Keterbukaan pada kelahiran anak (bonum prolis). Umat Katolik yang menolak
atau mengecualikan kelahiran anak yang merupakan unsur hakiki perkawinan
membuat perkawinan yang dilangsungkan tidak sah (bdk. kanon 1101§2). Dalam
pemeriksaan kanonik, biasanya Pastor akan meminta kesediaan calon pasutri
untuk tidak melakukan dan terlibat dalam tindakan aborsi. Sebab aborsi
merupakan tindakan penolakan terhadap kelahiran anak; dan bahkan termasuk
dalam dosa besar.
Pendidikan anak (bonum educationis) secara Katolik. Gereja menegaskan bahwa
pendidik yang pertama dan utama adalah orangtua (GE, no. 3). Pendidikan
Katolik tidak hanya diterima oleh anak-anak dari Ayah, tetapi juga dari Ibu.
Dalam masa pertumbuhan, anak-anak akan meniru contoh beriman yang mereka
alami dan lihat dalam keluarga, dari Ayah dan Ibu mereka.