Anda di halaman 1dari 55

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Modul Praktikum – Lab. Fisika Dasar

MODUL PRAKTIKUM
FISIKA DASAR I

Disusun oleh:
Tim Laboratorium Fisika Dasar UII

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

LABORATORIUM FISIKA DASAR


UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2020

i
Versi: 1 Revisi: 1
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Modul Praktikum – Lab. Fisika Dasar

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan


rahmat-Nya sehingga Modul Praktikum Fisika Dasar Terpadu ini dapat
terselesaikan.
Buku Petunjuk praktikum ini disusun sebagai pedoman bagi mahasiswa
yang mengikuti Praktikum Fisika Dasar di Laboratorium Fisika Dasar Universitas
Islam Indonesia Yogyakarta. Materi praktikum dalam buku ini mengacu pada
materi kuliah Fisika Dasar yang diajarkan di kelas.
Penyusun masih merasa banyak kekurangan dalam penulisan buku
panduan ini. Penyusun sangat mengharap kepada semua pihak untuk dapat
memberikan masukan yang konstruktif demi kesempurnaan buku ini. Akhir kata
semoga buku petunjuk praktikum ini bermanfaat bagi kita semua

Yogyakarta, Februari 2020

Penulis

ii
Versi: 1 Revisi: 1
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Modul Praktikum – Lab. Fisika Dasar

DAFTAR ISI

JUDUL ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .............................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................. iii
TATA TERTIB PRAKTIKUM .............................................................. iv
LAPORAN DAN PETUNJUK PRAKTIKUM ..................................... v
TEORI RALAT .......................................................................................... 1
TARA KALOR LISTRIK (K3) .................................................................. 7
LENSA DAN INDEKS BIAS (L0) ............................................................ 13
HANTARAN LISTRIK DALAM KAWAT (L1) ...................................... 19
MEDAN MAGNET SOLENOIDA (L6) ................................................... 25
BANDUL MATEMATIS (M1) ................................................................. 30
MODULUS ELASTISITAS YOUNG (M2) ............................................. 35
RESONANSI (M4) .................................................................................... 39
TEGANGAN MUKA (TM) ....................................................................... 44

iii
Versi: 1 Revisi: 1
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Modul Praktikum – Lab. Fisika Dasar

TATA TERTIB PRAKTIKUM


DI LABORATORIUM FISIKA DASAR TERPADU

1. Praktikan dilarang masuk laboratorium, sebelum praktikum dimulai.


2. Sebelum praktikum, praktikan harus menyiapkan perencanaan dan
mempelajari materi yang berhubungan dengan unit praktikum dan
mengumpulkan Laporan Resmi , jika tidak maka dianggap INHAL.
3. Praktikan harus hadir tepat pada waktunya, jika terlambat lebih dari 10
menit dinyatakan sebagai praktikum INHAL.
4. Selama praktikum harus memakai JAS PRAKTIKUM.
5. Sebelum/ selama praktikum, praktikan dilarang berbuat hal-hal yang dapat
mengganggu suasana praktikum.
6. Kebutuhan alat-alat praktikum, diambil dan dikembalikan dari/ kepada
laboran.
7. Setiap peserta dilarang memutus/ menghubungkan suatu peralatan listrik
dengan sumber tegangan tanpa ijin dari pengawas praktikum.
8. Lima belas menit sebelum praktikum selesai, semua pekerjaan harus
dihentikan.
9. Demi lancarnya praktikum, maka bila suatu percobaan selesai praktikan
diharap lapor kepada pembimbing praktikum / pengawas praktikum.
10. Saat mengembalikan alat ( peralatan praktikum ) harus tersusun sesuai dengan
keadaan saat menerima alat.
11. Setiap praktikan harus membuat laporan sementara dari unit yang dikerjakan
dan minta pengesahan kepada dosen/ assisten pembimbing pada saat
praktikum itu juga.
12. Praktikan yang berhalangan hadir karena sakit atau hal lain, harus memberi
surat keterangan yang sah, dan diberikan kesempatan mengulang ( inhal )
setelah semua unit praktikum selesai. Biaya biaya inhal per unit acara Rp.
30.000 dengan surat keterangan sakit atau izin yang sah dan Rp. 50.000
apabila praktikan berhalangan hadir tanpa keterangan.
13. Praktikan hanya diberi kesempatan mengulang ( INHAL ) paling banyak dua
unit percobaan, dan dilaksanakan sesudah semua unit praktikum
diselesaikan. Bila inhal lebih dari 2 unit praktikan dinyatakan GUGUR.
14. Untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama
praktikum berlangsung, diharapkan semua praktikan mentaati semua
peraturan.

iv
Versi: 1 Revisi: 1
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Modul Praktikum – Lab. Fisika Dasar

LAPORAN PRAKTIKUM

1. Setiap praktikan harus membuat laporan sementara dan laporan resmi.


2. Laporan sementara diserahkan kepada assisten/ pembimbing yang
bersangkutan setiap kali selesai melakukan percobaan.

3. Laporan resmi diserahkan kepada assisten/ pembimbing paling lambat pada


hari praktikum pada unit berikutnya.

4. Laporan praktikum terdiri dari:


a. Halaman Judul
b. Kata Pengantar
c. Daftar isi
d. Tujuan
e. Dasar Teori
f. Alat dan Bahan
g. Prosedur Kerja
h. Hasil Percobaan
i. Analisis Data
j. Pembahasan
k. Kesimpulan
l. Daftar Pustaka
m. Lampiran : Laporan Sementara
5. Bila ada laporan yang tidak memenuhi syarat, akan dikembalikan dan harus
diperbaiki, kemudian diserahkan kembali kepada assisten/ pembimbing
secepatnya.

PETUNJUK PRAKTIKUM

1. Untuk setiap unit praktikum, disediakan buku petunjuk.

2. Diharuskan kepada setiap praktikan, sebelum melakukan praktikum telah


mempelajari buku petunjuk pada percobaan yang bersangkutan.

3. Setiap akan melakukan percobaan, praktikan diharuskan menempuh test lebih


dahulu. Praktikan tidak diperkenankan melakukan percobaan bila belum
dinyatakan lulus test oleh assisten/ pembimbing praktikum yang bersangkutan.

v
Versi: 1 Revisi: 1
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :1


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :0
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman : 6
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

TEORI RALAT

I. RALAT ATAU KESALAHAN


Fisika mempelajari gejala alam secara kuantitatif, oleh karenanya
pengukuran besaran fisis merupakan hal yang sangat penting. Mengukur
adalah membandingkan suatu besaran fisis dengan besaran fisis sejenis
sebagai standar yang telah diperjanjikan terlebih dahulu. Tujuan mengukur
adalah untuk mengetahui nilai ukur besaran fisis dengan hasil yang akurat.
Suatu benda yang diukur berulang, maka setiap pengukuran boleh jadi
memberikan angka ukur yang berbeda, demikian juga jika besaran fisis
yang sama diukur oleh orang lain. Jadi usaha untuk memperoleh hasil ukur
yang tepat betul tidak pernah tercapai, dan yang bisa dicapai hanyalah
memperoleh hasil terbolehjadi betul, dan nilai kisaran hasil ukur.
Jika besaran fisis yang diukur (x) maka hasil ukur terboleh jadi
betul adalah nilai rerata pengukuran (𝑥̅ ), dan kisaran hasil ukur dinamakan
ralat pengukuran dinyatakan (∆𝑥). Nilai kisaran hasil ukurnya (𝑥 ± ∆𝑥),
mempunyai arti nilai itu berada dalam rentang antara x minimum yakni
(𝑥 − ∆𝑥) sampai dengan x maksimum yakni (𝑥 + ∆𝑥). Suatu alat ukur
dikatakan presisi apabila memberikan nilai ∆𝑥 yang kecil. Setiap alat ukur
mempunyai tingkat kepresisian sendiri-sendiri, misalnya alat ukur
panjang: mikrometer sekrup 0,0001 cm, jangka sorong 0,01 cm dan mistar
0,1 cm. Hasil ukur dikatakan baik apabila diperoleh ralat relatif ( ∆𝑥⁄𝑥̅ )
yang bernilai kecil.

II. KLASIFIKASI RALAT ATAU KESALAHAN


Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya ralat,
maka ralat atau kesalahan dibagi menjadi 3 macam, yaitu :
a. Ralat sistematik (systematic error)
Ralat kelompok ini memberikan efek yang tetap nilainya terhadap hasil
ukur, dan dapat dihilangkan apabila diketahui sumber-sumbernya,
antara lain faktor-faktor berikut.
1) Alat
Misalnya, kesalahan kalibrasi, meter arus tidak menunjukkan nol
sebelum digunakan (zero error), ketidak elastisan benda / fatigue.

1
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

2) Pengamat
Misalnya karena ketidakcermatan pengamat dalam membaca skala.
Hal ini bisa disebabkan selama pembacaan, mata pengamat terlalu
ke bawah atau ke atas terhadap objek yang diamati sehingga nilai
yang terbaca tergeser dari nilai sebenarnya (paralaks).
3) Kondisi fisis pengamatan
Misalnya kondisi fisis saat pengamatan tidak sama dengan kondisi
fisis saat peneraan alat, sehingga mempengaruhi penunjukkan alat.
4) Metode pengamatan
Ketidaktepatan dalam pemilihan metode akan mempengaruhi hasil
pengamatan, misalnya sering terjadi kebocoran besaran fisis seperti
panas, cahaya, dsb.
b. Ralat rambang (random error)
Setiap pengukuran yang dilakukan berulang atau pengamatan berulang
untuk besaran fisis yang tetap, ternyata nilai setiap pengukuran itu
berbeda. Ralat yang terjadi pada pengukuran berulang ini disebut ralat
rambang, atau ralat kebetulan atau ralat random.
Faktor-faktor penyebab ralat rambang antara lain sebagai berikut.
1) Ketepatan penaksiran
Misalnya penaksiran terhadap penunjukkan skala oleh pengamat
yang berbeda dari waktu ke waktu.
2) Kondisi fisis yang berubah (berfluktuasi)
Misalnya karena suhu atau tegangan listrik yang digunakan tidak
stabil (berfluktuasi).
3) Gangguan
Misalnya adanya medan magnet yang kuat disekitar alat-alat ukur
listrik sehingga dapat mempengaruhi penunjukkan meter-meter
listrik.
4) Definisi
Misalnya karena penampang pipa tidak berbentuk lingkaran
sempurna maka penentuan diameternya pun akan menimbulkan
ralat.
c. Ralat kekeliruan tindakan
Kekeliruan tindakan oleh pengamat atau pengukur dapat terjadi dalam
bentuk sebagai berikut.
1) Salah berbuat
Misalnya salah membaca, salah pengaturan situasi/ kondisi, salah
membilang (misalnya jumlah ayunan 11 kali terbilang 10 kali).
2) Salah hitung

2
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Terutama terjadi pada hitungan dengan pembulatan.

III. PERHITUNGAN RALAT


Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa ralat selalu
muncul pada setiap pengukuran, dan iini disebabkan oleh keterbatasan alat
ukur, usaha yang dapat dilakukan hanyalah bagaimana memperkecil ralat
tersebut. Khusus dalam hal pengamatan pada praktikum Fisika Dasar,
peralatan, situasi dan kondisi yang ada harus diterima apa adanya dalam
arti praktikan tidak dapat meniadakan ralat sistematik secara baik. Yang
dapat dilakukan praktikan adalah berusaha bekerja sebaik-baiknya untuk
menghindari atau mengurangi ralat kekeliruan tindakan, ralat sistematik
dan ralat kebetulan.
Setiap pengukuran akan muncul ralat kebetulan, oleh sebab itu
untuk memperkecil ralat ini harus dilakukan dengan pengukuran berulang,
semakin banyak dilakukan pengukuran berulang semakin baik. Namun
demikian tidak semua pengamatan dapat diulangi sehingga praktikan
hanya dapat melakukan pengamatan sekali saja, untuk ini ralat terjadi pada
penaksiran skala. Ralat kebetulan dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu ralat pengamatan langsung dan ralat dari hasil perhitungan.
Pengukuran besaran secara langsung berarti benda tersebut diukur
dan langsung dapat diperoleh hasil ukurnya. Misalnya mengukur diameter
pensil menggunakan jangka sorong. Pengukuran tak langsung berarti hasil
ukur yang dikehendaki diperoleh melalui perhitungan. Sebagai contoh
ingin mengetahui volume sebatang pensil berbentuk silinder, maka yang
dilakukan adalah mengukur diameter pensil deengan jangka sorong
misalnya dan mengukur panjang pensil dengan mistar.
Ralat pengukuran langsung terjadi karena pengamatan dan ini
termasuk ralat rambang. Ralat pengukuran tak langsung disumbang oleh
ralat rambang dari setiap pengukuran besaran secara langsung, dan ini
menyebabkan ralat yang merambat. Semakin banyak parameter yang
diukur langsung maka ralat hasil ukur semakin besar. Ini disebabkan
adanya perambatan masing-masing ralat oleh setiap pengukuran langsung
yang menyumbang ralat hasil pada pengukuran tak langsung. Berikut ini
diperkenalkan penyebab ralat pada setiap pengukuran.

a. Ralat Pengamatan
Telah diuraikan diatas, bila pengukuran atau pengamatan dilakukan
beberapa kali pada besaran yang diukur secara langsung, hasilnya
berbeda-beda. Misalnya dilakukan pengukuran sebanyak n kali dengan
hasil pengukuran yang ke i adalah (i = 1,2,3,...n). nilai terbaik terboleh

3
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

jasi betul adalah nilai rerata dari hasil ukur itu, dilambangkan 𝑥̅ , dapat
ditentukan dengan persamaan:
n

 xi
x1  x 2  x 3   xn
x  
i
(1.1)
n n
Selisih atau penyimpangan antara nilai ukur ke i dengan nilai ukur
rerata dinamakan deviasi (misal berlambang δ), maka:
 xi  xi  x (1.2)
Deviasi pada persamaan 1.2 merupakan penyimpangan terhadap nilai
terbaik dari nilai terukur yang bersangkutan (𝑥𝑖 ).
Dikenal istilah deviasi standar, yang didefinisikan sebagai akar rerata
kuadrat deviasinya (∆𝑥) atau:
n n

  xi  x i
 x 
x   (1.3)
i i

n ( n  1) n  n  1

sedangkan standar deviasi relatifnya ditulis:


x x
xr  a ta u  x r   100% (1.4)
x x
Selanjutnya harga atau nilai dari pengukuran (x)dapat ditulis:
x  x  x (1.5)
Nilai pengukuran, seringkali dinyatakan dengan kesaksamaan atau
ketelitian, atau disebut pula kecermatan, yaitu: 1−∆𝑥 ̅̅̅̅̅𝑟 atau
100%−∆𝑥 ̅̅̅̅̅𝑟 %. Kesaksamaan dapat dianggap sebagai jaminan akan
kebenaran hasil pengukuran. Perhatikan contoh berikut ini.
Misalnya kita melakukan 10 kali pengukuran panjang sebuah batang,
dimana nilai terukur pada setiap kali pengukuran seperti terdapat pada
tabel 1 di bawah ini.Tabel 1. Data pengukuran panjang sebuah batang
Pengukuran Nilai terukur Deviasi Kuadrat deviasi
ke (xi) cm  x i  x i  x (cm)   x i  (cm )
2 2

1 35,62 +0,03 0,0009


2 35,59 0,00 0,0000
3 35,60 +0,01 0,0001
4 35,61 +0,02 0,0004
5 35,56 -0,03 0,0009
6 35,58 -0,01 0,0001
7 35,57 -0,02 0,0004
8 35,58 -0,01 0,0001
9 35,59 0,00 0,0001
10 35,60 +0,01 0,0001

Dari tabel diperoleh informasi bahwa:

4
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

n n

  
2
n  10  x i  3 5 5, 9 0 xi  0, 0030
i i

Jadi nilai terbaiknya:


n

 xi
x   3 5, 5 9 0
i

n
sedangkan deviasi standarnya
n

  
2
xi
0, 0030
x    0, 0057
i

n  n  1 90

dengan ketepatan:
 0, 00577 
100%    100%   99, 98%
 3 5, 5 9 0 
b. Ralat Perambatan
Seringkali besaran fisis tidak diukur secara langsung, tetapi dihitung
dari pengukuran unsur-unsurnya. Misal volume sebuah balok dihitung
dari perkalian antara panjang, lebar dan tebal balok yang diukur,
kelajuan dihitung dari jarak tempuh dengan waktu tempuhnya, dsb.
Pada pengukuran panjang, panjang, lebar dan tebal balok masing-
masing pengukurannya memberikan ralat, maka dalam perhitungan
volume balokpun akan menimbulkan ralat sebagai hasil perpaduan
ralat dari tiap sisi yang diukur langsung. Ralat yang ditimbulkan
sebagai hasil perhitungan ini dinamakan ralat perhitungan atau ralat
rambatan. Nilai terbaik sangat bergantung pada nilai terbaik variabel
unsurnya.
Secara matematis bilangan V variabelnya adalah (x,y,z), sehingga
V=V(x,y,z), maka nilai terbaiknya adalah 𝑉̅ = 𝑉(𝑥̅ , 𝑦̅, 𝑧̅), sedangkan
deviasi reratanya dirumuskan:
2 2 2
 V   V   V 
x  y z
2 2 2
V          (1.6)
 x   y   z 

Penyajian hasil pengukuran langsung terhadap peubah x,y,z


dinyatakan:
x  x  x

y  y  y

z  z  z
dimana:

5
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

 V 
  merupakan turunan parsial peubah V terhadap peubah x ,
 x 

 V 
  merupakan turunan parsial peubah V terhadap peubah y ,
 y 

 V 
  merupakan turunan parsial peubah V terhadap peubah z .
 z 

IV. HAL – HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN


a. Untuk pengamatan tunggal yaitu pengukuran yang dilakukan hanya
satu kali ( keadaan ini hanya boleh dilakukan jika keadaan memaksa ),
maka untuk ralat mutlaknya diambil setengah dari skala terkecil.
b. Dalam menuliskan ralat nisbi ( relatif ) sebaiknya ditulis cukup dua
angka ( digit ). Kalau dalam perhitungan doperoleh lebih dari dua
angka, maka sebaiknya dibulatkan. Contoh 1,53 % ditulis 1,5 %.
c. Apabila pengukuran langsungnya mempunyai ketelitian sampai n
angka, maka sebaiknya hasil akhir disajikan maksimum sampai ( n+1 )
angka.
d. Apabila harga terbaiknya ( harga rata rata ) mempunyai n angka
desimal, maka jumlah angka desimal untuk ralat sama dengan n.
e. Dalam menggambar grafik harus diperhatikan hal hal sebagai berikut :
1) Gambar / grafik digambar kira kira pada posisi sudut 450 dengan
cara menyesuaikan skala untuk vertikal maupun horisontalnya.
2) Perpotongan garis vertikal dengan garis horisontal tidak perlu tepat
sebagai titik pusat ( titik nol ).
3) Titik titik pada grafik dibuat sejelas mungkin, bila perlu diperbesar
panandaanya.
4) Grafik tidak boleh digambar dengan cara menghubungkan garis per
garis antar titik.
5) Grafik digambar sesuai teorinya, maksudnya apabila teori
mengatakan bahwa hubungannya adalah hubungan linear, maka
grafiknya juga harus garis lurus, meskipun titik titik yang didapat
tidak terletak pada satu garis. Demikian juga untuk persamaan
kuadrat.

6
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :2


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :1
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman :6
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN K3
TARA KALOR LISTRIK

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum penentuan tara kalor listrik
sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR CAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum penentuan tara kalor listrik sesuai
prosedur dan standar keselamatan kerja.

III. TUJUAN
1. Memperagakan adanya hubungan energi listrik dan energi panas.
2. Menentukan angka kesetaraan antara Joule dan Kalori.

IV. DASAR TEORI


Energi yang mengalir dari sebuah benda ke benda lain karena
adanya perbedaan temperatur diantara kedua benda tersebut maka disebut
kalor/panas. Jika kalor tersebut mengalir maka disebut tenaga kalor.
Tenaga kalor ditransmisikan oleh perbedaan-perbedaan temperatur untuk
membedakan antara kalor dan kerja dengan mendefinisikan kerja sebagai
tenaga yang ditransmisikan dari sebuah sistem ke sistem yang lain
sehingga perbedaan temperatur tidak terlibat secara langsung. Kerja
tersebut berasal dari sumber listrik, magnetik, gravitasi, atau lainnya.
Bilangan yang menyatakan besarnya tenaga listrik yang setara
dengan satuan tenaga panas dinamakan angka kesetaraan panas
mekanis/listrik. Kesetaraan panas mekanik yang pertama kali diukur oleh
Joule dengan mengambil tenaga mekanik dari beban yang jatuh untuk
mengaduk air dalam kalorimeter sehingga air menjadi panas. Cara yang
lain adalah dengan mengubah tenaga listrik menjadi tenaga panas dalam
suatu kawat tahanan/penghantar logam yang tercelup dalam air yang
berada dalam kalorimeter. Tumbukan oleh pembawa muatan akan
menyebabkan logam yang dialiri arus listrik memperoleh energi yaitu
energi kalor. Panas tersebut merupakan energi yang diberikan atau diubah
dari energi listrik yang diformulasikan melalui persamaan:

7
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

W  V .i .t (1.1)

Keterangan: W = energi listrik (Joule)


V = tegangan/beda potensial listrik (Volt)
i = kuat arus listrik (ampere)
t = waktu (sekon)

Besar perubahan energi listrik menjadi energi kalor yang terjadi


dalam air dan kalorimeter diformulasikan dalam persamaan sebagai
berikut:

H  (N A
 m . c ).  T (1.2)
Keterangan : H = panas (harga kalorimeter dan isinya)
NA = nilai air kalorimeter (kal/g.°C)
m = massa air (gram)
c = kalor jenis air (kal/kg.°C)
ΔT = perubahan temperatur kalorimeter = TA - TB
TA = suhu akhir sistem dalam kalorimeter (oC)
TB = suhu awal sistem dalam calorimeter (oC)

Tara kalor listrik didefinisikan sebagai pembanding antara energi


listrik yang digunakan dengan panas yang ditimbulkan. Maka,
𝑾 𝑽.𝒊.𝒕 𝑱𝒐𝒖𝒍𝒆
𝑱𝒐𝒖𝒍𝒆 = =( )
( ) (1.3)
𝑯 𝑵𝑨+𝒎.𝒄 𝒌𝒂𝒍𝒐𝒓𝒊

Tenaga listrik sebesar W merupakan tenaga mekanik yang hilang


dari elektron-elektron yang bergerak dari ujung kawat yang mempunyai
potensial tinggi menuju ujung kawat yang mempunyai potensial rendah
dan akan menjadi tenaga panas sehingga menaikkan suhu sistem pada
kalorimeter.
Jika tidak ada panas yang masuk maupun yang keluar kalorimeter,
maka panas yang dihasilkan yaitu berdasarkan persamaan:
Q  ( H  W ). T ( k a lo r i ) (1.4)
Keterangan :
H = kapasitas panas air dalam calorimeter (𝒎𝒂 × 𝒄𝒂)
W = kapasitas panas kalorimeter beserta pengaduk (𝒎𝒌 × 𝒄𝒌 )
ΔT = Perubahan suhu kalorimeter (𝑇𝐴 − 𝑇𝐵 )
T2 = suhu akhir (oC)
T1 = suhu mula-mula (oC)
𝒎𝒂 = massa air (gram)
𝒎𝒌 = massa calorimeter (gram)
𝒄𝒂 = panas jenis air (kal/g.oC)

8
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

𝒄𝒌 = panas jenis kalorimeter + pengaduk (kal/g.oC)

Panas yang keluar dari kalorimeter dapat dihindarkan atau dikurangi jika
selisih antara suhu akhir dengan suhu kamar sama dengan selisih antara
suhu mula-mula dengan suhu kamar.
Energi listrik yang diberikan biasanya dinyatakan dalam satuan
joule, sedangkan energi kalor atau panas dinyatakan dalam satuan kalori.
Agar W dan Q dapat menjadi setara (sama nilainya), maka nilai W yang
masih dalam Joule harus diubah kedalam kalori, dimana 1 kalori = 4,186
joule. Bilangan 4,186 yaitu kesetaraan kalor mekanik, sedangkan untuk
besarnya tara kalor listrik dapat ditentukan melalui persamaan sebagai
berikut.
Q  a W
( H  W ) . T  a  ( V .i .t ) (1.5)
( m a .c a  m k .c k ) . T  a  ( V .i .t )

sehingga,
( m a .c a  m k .c k ). T
a  ( k a lo r i ) (1.6)
( V .i .t ) jo u le

Keterangan :
𝒂 adalah nilai keseteraan antara energi listrik yang
diberikan terhadap panas yang dihasilkan.

Hilangnya tenaga listrik selalu disertai timbulnya panas, maka untuk


setiap 1 joule tenaga listrik yang terdesipasi, panas Q yang timbul adalah
0,239 kalori/Joule. Kondisi tersebut dikenal sebagai kesetaraan (ekuivelen)
panas-listrik Joule.
Pengunaan dalam kehidupan sehari-hari dari tara kalor listrik ini
adalah pada perubahan energi panas menjadi listrik, contohnya,
diaplikasikan pada PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas), dan
sebaliknya perubahan energi listrik menjadi panas, contohnya : setrika
listrik, solder listrik, hair drayer, dan lain-lain.

V. ALAT DAN BAHAN


1. Kalorimeter dengan pemanas
2. Amperemeter
3. Stopwatch
4. Kabel jumper
5. Voltmeter
6. Termometer

9
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

VI. PROSEDUR KERJA


Keterangan :
1) Kalorimeter dan pemanas
2) Voltmeter AC
3) Amperemeter AC
4) Termometer
5) Transformator step down
6) Pemutus arus

1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan!


2. Buatlah rangkaian seperti gambar diatas!
3. Timbanglah kalorimeter kosong + pengaduk, catat massanya pada
laporan sementara!
4. Timbanglah air ± 110 gr dan masukkan air tersebut kedalam
kalorimeter!
5. Dinginkan kalorimeter (sudah berisi air) sampai suhu beberapa
derajat dibawah suhu kamar!
6. Hubungkanlah calorimeter dengan rangkaian, catat suhu awalnya dan
sambungkan rangkaian ke sumber!
7. Nyalakan rangkaian dan aduk kalorimeter secara kontinyu!
8. Amati dan catat arus, tegangan dan suhu akhirnya setiap 2 menit!
Lakukan sebanyak dua kali untuk massa air yang sama!
9. Ulangi langkah 4 – 8 dengan massa air 120 gr, 130 gr, 140 gr, dan
150 gr.

VII. ANALISIS DATA


1. Menghitung kalor jenis kalorimeter dengan metode interpolasi.
2. Menghitung ralat perubahan suhu sehingga diperoleh d T   d T untuk
masing-masing variasi massa air.
3. Menghitung energi kalor menggunakan persamaan (1.4) sehingga
diperoleh Q   Q untuk masing-masing variasi massa air.
4. Menghitung ralat I dan V pada masing-masing variasi massa,
sehingga diperoleh I  I dan V  V .
5. Substitusi hasil I  I dan V  V pada persamaan (1.1) sehingga
diperoleh W   W untuk setiap variasi massa.
6. Menentukan nilai tara kalor listrik menggunakan metode matematis
dengan persamaan (1.6).

10
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

VIII. PERTANYAAN
1. Jelaskan yang dimaksud dengan tara kalor listrik!
2. Sebutkan satuan tara kalor listrik!
3. Sebutkan 2 teori dasar pada penentuan tara kalor listrik!
4. Berapakah nilai tara kalor listrik pada literatur? Bandingkan dengan
hasil percobaan ini! Jelaskan!

IX. REFERENSI
1. Abbas, A., dan Nur, N., 2000, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II,
Laboratorium Dasar Universitas Andalas, Padang.
2. Sandra dan Sabhan, 2013, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II, Unit
Pelaksana Teknis Laboratorium Dasar Universitas Tadulako, Palu.

11
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN K3
TARA KALOR LISTRIK

Hari, Tanggal : ...........................................................


Jam/sesi : ...........................................................
Asisten : ...........................................................

NO NAMA NIM TANDA TANGAN


1 1
2 2
3 3
4 4

HASIL PENGAMATAN

Berat Kalorimeter Berat Air Suhu Mula- Suhu Arus Tiap Tegangan Tiap
No + pengaduk (gr) (gr) mula (tm) Akhir (°C) 2 menit (A) 2 menit (V)
1 110 (ta)
2 110
3 120
4 120
5 130
6 130
7 140
8 140
9 150
10 150

Suhu Kamar : ………..

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

12
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :3


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :2
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman :6
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN L0
LENSA DAN INDEKS BIAS

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum lensa dan indeks bias
sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR CAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum lensa dan indeks bias sesuai
prosedur dan standar keselamatan kerja.

III. TUJUAN
1. Memahami sifat dan menentukan kuat serta perbesaran lateral lensa.
2. Memahami hukum Snellius.
3. Menentukan indeks bias bahan padat dan cairan.

IV. DASAR TEORI


A. Lensa
Alat optik yang paling sederhana adalah lensa tipis. Lensa adalah
benda bening yang dibatasi oleh dua bidang bias dengan minimal satu
permukaan bidang lengkung. Beberapa jenis lensa dapat dilihat pada
gambar dibawah ini :

Gambar 1. Berbagai jenis lensa

13
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Menentukan Posisi Bayangan Benda

Gambar 2. Diagram Berkas Menemukan Posisi Bayangan Benda


Keterangan :
1. Berkas sinar (1) dari benda yang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan melalui
titik fokus lensa.
2. Berkas sinar (2) dari benda yang melalui titik fokus lensa dibiaskan sejajar
sumbu utama lensa.
3. Perpotongan kedua berkas sinar itu adalah posisi bayangan benda

Perjanjian Tanda
1. Panjang fokus (f) positif untuk lensa konvergen dan negatif untuk lensa
divergen.
2. Jarak benda (d)positif jika berada disisi lensa yang sama dengan datangnya
cahaya.
3. Jarak bayangan benda (d’)positif jika berada disisi lensa yang berlawanan
dengan datangnya cahaya, jika berada disisi yang sama maka nilainya negatif.
Ekivalen , jarak bayangan positif untuk bayangan nyata dan negatif untuk
bayangan maya.
4. Tinggi bayangan (h’) positif jika bayangan tegak dan negatif jika bayangan
terbalik relatif terhadap benda.

Persamaan Lensa :
1 1 1
  (1.1)
f d d'
f = panjang fokus lensa (m)
d = jarak benda dari pusat lensa (m)
d’ = jarak banyangan benda dari pusat lensa (m)

Perbesaran Lateral Lensa

14
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Perbesaran lateral ( M ) dari sebuah lensa didefinisikan sebagai tinggi bayangan


dibagi tinggi benda, sehingga diperoleh persamaan :
h' d'
M     (1.2)
h d
dimana : h = tinggi benda (m)
h’ = tinggi bayangan (m)
Kuat Lensa
Besarnya kuat lensa dapat diketahui dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut:
1
P  (1.3)
f
dengan P = kuat lensa  dioptri (D)
B. Hukum Snellius
Berkas cahaya yang datang pada bidang batas dua zat antara bening yang berbeda
indeks biasnya, maka berkas cahaya itu sebagian akan dipantulkan (refleksi) dan
dibiaskan (refraksi). Pada kedua fenomena tersebut berlaku hukum Snellius, yaitu:
b. Seberkas cahaya yang datang pada bidang batas dua zat antara bening
sebagian akan dipantulkan, dimana berkas cahaya pantul sebidang dengan
berkas cahaya yang datang dan sudut pantul ϕ’ sama dengan sudut datang ϕ.
c. Seberkas cahaya yang datang pada bidang batas dua zat antara bening
sebagian akan dibiaskan, dimana berkas cahaya yang dibiaskan sebidang
dengan berkas cahaya datang. Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus
sudut bias sama dengan perbandingan indeks bias medium 2 (n’) dengan
indeks bias medium 1 (n) yang bernilai konstan.

s in  ' n'
 (1.4)
s in  n

Apabila sudut bias besarnya 90o, maka seluruh berkas cahaya yang datang akan
dipantulkan. Pada saat inilah sudut datangnya dinamakan sudut kritis.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat beberapa lensa seperti spion
mobil atau motor. Prinsip kerjanya sesuai dengan prinsip dari lensa cekung
ataupun cembung. Pada umumnya, indeks bias digunakan untuk mengukur
kemurnian suatu benda atau senyawa, seperti minyak nabati, minyak atsiri, gula,
dan biodiesel.

15
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

V. ALAT DAN BAHAN


1. Lensa Cembung ganda (konvergen)
2. Sumber cahaya (lampu)
3. Layar
4. Mistar
5. Busur derajat
6. Media (kaca)

VI. PROSEDUR KERJA


A. Lensa
1. Siapkan alat dan bahan!
2. Pasanglah rangkaian seperti gambar berikut ini :

Gambar 3.
Percobaan
Lensa

3. Letakkan benda (tanda panah disinari lampu) di depan lensa pada


jarak (d)!
4. Cari dimana letak bayangan benda pada layar dan catat jarak
bayangan (d’) dan posisi bayangan (tegak / terbalik)! Lakukan
pengamatan tersebut sebanyak tiga kali!
5. Ulangi kegiatan 3 & 4 dengan jarak benda (d) yang berbeda-beda!
6. Ulangi langkah 3 - 5 dengan fokus lensa yang berbeda-beda.
7. Rapikan alat dan bahan seperti kondisi semula.

B. Indeks Bias
1. Letakkan bahan yang akan diamati indeks biasnya kedalam meja
potik yang tersedia
2. Nyalakan sumber cahaya dan arahkan ke bidang sisi benda yang
diamati
3. Atur arah berkas cahaya datang dengan memvariasi besar sudut
datang .
4. Ulangi percobaan no. 1 s/d 3 dengan bahan cairan dalam
konsentrasi bervariasi.

16
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

VII. ANALISIS DATA


A. Lensa
1. Menghitung ralat d’ untuk masing-masing jarak benda terhadap
lensa sehingga diperoleh d '   d ' .
2. Menentukan fokus lensa f menggunakan persamaan (1.1).
3. Menghitung perbesaran bayangan M yang terbentuk melalui
persamaan (1.2).
4. Menghitung kuat lensa P menggunakan persamaan (1.3).
B. Indeks Bias
1. Menghitung ralat sudut bias pada masing-masing variasi sudut
datang.
2. Menentukan nilai indeks bias medium yang digunakan dengan
persamaan hukum Snellius.
3. Bandingkan nilai indeks bias yang diperoleh dengan literaturnya.

VIII. PERTANYAAN
1. Dari percobaan lensa, hasil bayangan yang terbentuk oleh lensa
cembung apa?
2. Mengapa lensa cembung disebut sebagai lensa konvergen?
3. Bagaimana hubungan antara sudut datang dengan sudut bias suatu
benda?
4. Manakah benda yang memiliki indeks bias terbesar?

IX. DAFTAR PUSTAKA


1. Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Edisi kelima Jilid I, Erlangga,
Jakarta.
2. Halliday, D., Resnick, R, Walker, J., 1997, Fundamentals of Physics,
John Wiley & Sons, New York.

17
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN L0
LENSA DAN INDEKS BIAS

Hari, Tanggal : ............................................................


Jam/sesi : ............................................................
Asisten : ............................................................

No Nama NIM Tanda Tangan

Hasil Pengamatan

A. Lensa
No d (cm) d’ (cm)
1
2
3
4
5

B. Indeks Bias
Media (Kaca)
No Sudut
Sudut bias ϕ2
datang ϕ1
1 30
2 40
3 50
4 60
5 70

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

18
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :4


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :3
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman :6
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN L1
HANTARAN LISTRIK DALAM KAWAT

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum penentuan hantaran listrik
dalam kawat sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR CAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum penentuan hantaran listrik dalam
kawat sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

III. TUJUAN
1. Memahami hukum Ohm.
2. Memperagakan untaian bagan listrik dalam pengukuran arus dan
tegangan.
3. Membuat interpretasi grafik antara V vs I dan antara V vs P.

IV. DASAR TEORI


1. Arus listrik
Gejala kelistrikan ditimbulkan oleh aliran muatan listrik antara
dua titik. Semua alat listrik yang setiap hari kita gunakan merupakan
susunan komponen-komponen listrik yang membentuk jalur tertutup
yang disebut rangkaian. Arus listrik hanya mengalir pada suatu
rangkaian tertutup, yaitu rangkaian yang tidak berpangkal dan tidak
berujung. Besaran yang menyatakan arus listrik disebut kuat arus
listrik yang disimbolkan dengan huruf I, yang didefinisikan sebagai
banyak muatan positif ∆Q yang mengalir melalui penampang kawat
penghantar per satuan waktu ∆t.

Q dQ
I  lim  (1.1)
t 0 t dt
Satuan untuk kuat arus listrik adalah Ampere atau Coulomb per detik
(C/s).

19
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

2. Hukum Ohm
Pada tahun 1827, George Simon Ohm (German, 1787-1854)
melakukan percobaan untuk menentukan hubungan antara kuat arus
listrik I dan tegangan (beda potensial) V.
6

Tegangan V (Volt)
5
4
3 α
2
1
0
0.5 1 1.5 2 2.5
Kuat Arus Listrik I (Ampere)

Gambar 1.1. Grafik hubungan V terhadap I

Jika kemiringan grafik disebut hambatan R, maka hubungan V


dan kuat arus I dapat dinyatakan dengan persamaan:

R  ta n  (1.2)
Dimana α adalah sudut antara sumbu kuat arus dan garis kemiringan
grafik.
V  I .R  H u k u m O h m (1.3)
dengan: I = Arus (A)
V = Tegangan (V)
R = Tahanan (Ω)
Persamaan (1.3) dinyatakan oleh Simon Ohm, sehingga
dinamakan hukum ohm, yang berbunyi: tegangan V pada komponen
yang memenuhi hukum ohm adalah sebanding dengan kuat arus I yang
melalui komponen tersebut, jika suhu dijaga konstan. Penghantar yang
mengikuti Hukum Ohm dinamakan penghantar linear. Pada umumnya
tahanan berubah dengan berubahnya suhu. Untuk penghantar dari
logam besarnya tahanan bertambah besar bila suhunya makin tinggi.

3. Dissipasi Tenaga Dalam Suatu Penghantar


Jika dalam suatu penghantar mengalir arus listrik, maka dalam
penghantar ini ada tegangan listrik yang hilang dan berubah menjadi
panas. Hal ini dikatakan ada tenaga liatrik yang terdissipasi. Besarnya
tenaga yang terdissipasi tiap detiknya atau daya yang terdissipasi
adalah:
P  V .I (1.4)
dimana,

20
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

P = tenaga yang terdissipasi atau daya listrik (Watt atau Joule/sekon)


V = tegangan listrik atau beda potensial (volt)
I = arus listrik (ampere)
Daya listrik adalah tenaga listrik persatuan waktu. Jika satuan
tenaga dinyatakan dalam joule dan waktu dalam detik, maka besarnya
daya dinyatakan dalam watt. Daya pada arus bolak-balik merupakan
fungsi waktu, sehingga daya pada arus ini bisa dinyatakan nilai daya
renta selama 1 periode. Secara matematis dirumuskan:

1 T
P 
T
 t0
V .I d t (1.5)

Dimana V dan I merupakan tegangan dan arus sesaat, sedangkan


T periode dari arus bolak-balik. Jika diketahui besarnya V = Vsin ωt
dan I = Im sin (ωt + θ), maka besarnya daya rerata P = V I cos θ.
Dengan V dan I merupakan nilai efektifnya sedangkan θ merupakan
beda fase antara V dan I. pada percobaan ini dianggap tidak ada beda
fase antara V dan I (θ = 0), sehingga P = V I.

4. Watak Lampu Pijar


Karena adanya daya yang terdissipasi menjadi panas maka
jelaslah bahwa tahanan suatu lampu pijar berubah dengan berubahnya
tegangan. Dalam percobaan watak lampu pijar ini kita teliti hubungan
antara I dan V dan antara P dan V. Jadi yang dinamakan watak lampu
pijar adalah hubungan :
a. Tegangan yang dipasang dengan tahanannya.
b. Tegangan yang terpasang dengan arus listrik yang mengalir.
c. Tegangan yang terpasang dengan daya yang diambil.

5. Pemilihan Bagan Pengukuran V Dan I


Untuk memperoleh watak lampu pijar diperlukan pengukuran
tegangan dan arus secara simultan dengan cara pemasangan voltmeter
(V) dan amperemeter (A) yang terhubung dengan lampu (L) seperti
pada gambar berikut ini :

Gambar Bagan I Gambar Bagan II

21
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Bagan I
Pada bagan ini terdapat kesalahan pembacaan amperemeter,
karena yang terukur adalah jumlah arus yang melewati lampu dan
r
voltmeter. Arus terbaca berkelebihan sebesar: x 100 %, dimana r
R
merupakan tahanan lampu dan R tahanan voltmeter. Jika kesalahan
r
yang kita kehendaki maksimal sebesar a % maka: x 100 % < a %.
R

Bagan II
Dengan bagan ini terdapat kesalahan pembacaan voltmeter, sebab
yang terukur adalah jumlah dari tegangan pada lampu dan
ρ
amperemeter. Tegangan terbaca berkelebihan x 100 % dimana 𝜌
r
merupakan tahanan amperemeter. Jika kesalahan yang kita kehendaki
ρ r ρ
maksimum sebesar a % maka: x 100 % < a % . Jika < maka
r R r
r ρ
dipilih bagan I dan sebaliknya bila > dipilih bagan II.
R r
Nilai a
V ' V
a   1 0 0 %  u n tu k b a g a n I (1.6)
V
I' I
a   100%  u n tu k b a g a n I I (1.7)
I

V. ALAT DAN BAHAN


1. Voltmeter
2. Amperemeter
3. Lampu pijar
4. Regulator (variak)
5. Kabel jumper

VI. PROSEDUR KERJA


1. Siapkan alat dan bahan percobaan!
2. Buatlah rangkaian bagan I!
3. Nyalakan saklar!
4. Aturlah hingga tegangan menunjukkan 50 volt (V’) dan catat arus
yang terukur pada amperemeter ( I )! Pengukuran diulang tiga kali!
5. Setelah melakukan kegiatan 4, matikan saklar tanpa mengubah
regulator (variak). Kemudian buatlah rangkaian bagan II!

22
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

6. Nyalakan saklar! Catat tegangannya (V) dan arusnya ( I’ ) yang


terukur pada voltmeter dan amperemeter! Pengukuran dilakukan tiga
kali tanpa mengubah regulator (variak).
7. Hitung nilai a untuk bagan I dan II! (lihat persamaan pada dasar teori).
Bagan yang mempunyai nilai a paling kecil itulah bagan yang
digunakan dalam praktikum selanjutnya.
8. Aturlah variak sehingga tegangan menunjukkan 60 volt dan catatlah
arus (I) yang terukur pada amperemeter! Lakukan pengukuran
sebanyak dua kali untuk tegangan yang sama!
9. Ulangi untuk tegangan 65, 70, 75, ..., 105 volt dan catat arus yang
terukur pada masing-masing variasi tegangan!
10. Rapikan alat dan bahan seperti kondisi semula!

VII. ANALISIS DATA


1. Dari data tabel percobaan pertama, hitung nilai a untuk masing-masing
bagan untaian. Ambil kesimpulan apabila a bagan I lebih kecil
daripada a bagan II maka bagan I dipakai untuk percobaan kedua dan
sebaliknya.
2. Menghitung ralat I untuk tiap variasi tegangan sehingga diperoleh
I  I .
3. Subtitusikan nilai I   I untuk mencari nilai R  R dan pada
masing-masing variasi tegangan.
4. Buatlah grafik hubungan antara V vs I dan V vs P!

VIII. PERTANYAAN
1. Apa perbedaan dari bagan I dan bagan II? Mengapa nilai a kedua
bagan ini berbeda?
2. Bagaimana watak lampu pijar menurut pengamatan yang telah
dilakukan?

IX. REFERENSI
1. Abbas, A., dan Nur, N., 2000, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II,
Laboratorium Dasar Universitas Andalas, Padang.
2. Giancoli, 2001, FISIKA Jilid 2, Erlangga, Jakarta.
3. Sandra dan Sabhan, 2013, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II, Unit
Pelaksana Teknis Laboratorium Dasar Universitas Tadulako, Palu.
4. Sutrisno, 1983, Seri Fisika Dasar, Gelombang dan Optik, ITB,
Bandung.

23
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN L1
HANTARAN LISTRIK DALAM KAWAT

Hari, Tanggal : ............................................................


Jam/sesi : ............................................................
Asisten : ............................................................

No Nama NIM Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4

HASIL PENGAMATAN
Tegangan Arus (I) Tegangan (V) Arus (I’)
No 1 2 3 a 1 2 3 1 2 3 A
(V’)
1 50

No V (Volt) I (mA) V (Volt) I (mA) R (ohm) P (W)


1 60 60
2 65 65
3 70 70
4 75 75
5 80 80
6 85 85
7 90 90
8 95 95
9 100 100
10 105 105

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

24
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :5


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :4
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman :5
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN L6
MEDAN MAGNET SOLENOIDA

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum medan magnet solenoida
sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR CAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum medan magnet solenoida sesuai
prosedur dan standar keselamatan kerja.

III. TUJUAN
a. Mengimplementasikan hubungan antara arus listrik dengan medan
magnet berdasarkan Hukum Biot Savat , Gaya Lorentz dan Hukum
Ampere .
b. Mengukur dan mangamati medan magnet yang timbul dengan variasi
jarak dua solenoida.
c. Mengamati pengaruh arus listrik pada solenoida kedua.

IV. DASAR TEORI


Solenoida

Kumparan Solenoida adalah deretan seri lilitan melingkar kawat


yang sewaktu dialiri arus listrik akan menjadi sumber medan magnet
seperti yang dihasilkan oleh batang magnet yang berbentuk silinder
memanjang seperti tampak pada gambar dibawah ini :

Gambar 1. Solenoida

25
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Kuat Medan Magnet & Momen Dipol

Momen dipol magnet (m) arus melingkar besarnya sebanding


dengan kuat medan magnet (H) sehingga semakin kuat arus yang
melingkar semakin besar medan magnet yang dihasilkan. Kuat medan
magnet di sumbu lingkaran arus sebagai berikut :

Gambar 2. Diagram kuat medan magnet

Besarnya kuat medan magnetnya berdasarkan hukum Biot Savart:


m
H  d e n g a n m   iA d a n A   R
2
(1.1)
2  d
3

dimana :  = 0 = 1,25666 x 10 –6 N / ampere


Sehingga diperoleh :
2
iR
H  3
(1.2)
2d
dengan R = jari jari solenoida dan d = jarak kedua solenoida

Gaya Lorentz
Adalah gaya (F) pada arus listrik di dalam medan magnet (B) atau
gaya pada muatan listrik yang tengah bergerak di dalam medag magnet
yang dirumuskan sebagai berikut :

Gambar 3. Arah dan Gaya Lorentz

26
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

m .i d l
dF m  (1.3)
2 d
3

m
H  (1.4)
2  d
3

dengan B =  H dimana B = Rapat medan magnet.


Sehingga diperoleh hasil akhir gaya Lorentz adalah :
F  B  i.L (1.5)
dan L = panjang solenoida.

Hukum Ampere
Berdasarkan hukum ampere, maka besarnya rapat medan magnet B
sebanding dengan arus yang mengalir ( i ) x 0 x n atau
B   0 .n .i (1.6)
atau
N
B  0. .i (1.7)
L
dimana N = jumlah lilitan .
Hubungan Biot Savart dengan Gaya Lorentz :
B =  H dan F = B i L sehingga F =  H i L
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menjumpai aplikasi dari
prinsip medan magnet solenoida. Di antaranya adalah generator yang di
dalamnya mengandung medan magnet dalam bentuk kumparan yang
terinduksi sehingga menghasilkan arus listrik.

V. ALAT DAN BAHAN


a. Solenoida 5. Trafo 20 A, 30 volt
b. Inti besi 6. Ampere meter
c. Field magnetik 7. Jangka Sorong
d. Kabel

27
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

VI. PROSEDUR KERJA


a. Rangkailah seperti gambar berikut ini dan minta asisten mengecek
kebenaran rangkaiaan sebelum disambung ke sumber tegangan PLN.
Keterangan :
S1 = solenoida 1
S2 = solenoida 2
A1 = arus S1
A2 = arus S2
d = jarak kedua solenoida

Gambar 4. Rangkaian Percobaan


b. Aturlah tegangan dari trafo sebesar 6 volt dan catat besar A1 pada
laporan sementara!
c. Variasikan jarak kedua solenoida d dengan 15 cm, 20 cm dan 25 cm!
d. Ukur dan catat besarnya arus I2 menggunakan multimeter dan kuat
medan magnet H menggunakan fluxmeter! Lakukan pengamatan
minimal tiga kali untuk tiap variasi jarak solenoida!
e. Ulangi kegiatan 2-4 untuk tegangan trafo sebesar 9 volt dan 12 volt!
f. Rapikan alat dan bahan seperti keadaan semula!

VII. ANALISIS DATA


a. Menghitung ralat kuat arus I dan kuat medan magnet H dari data
percobaan tiap variasi jarak solenoida sehingga diperoleh I  I dan
H  H .
b. Hitung nilai rapat medan magnet B dan gaya Lorentz F menggunakan
persamaan matematis yang terdapat pada dasar teori.
c. Buatlah grafik hubungan antara H vs d, antara B vs d.

VIII. PERTANYAAN
a. Sebutkan tiga penerapan prinsip percobaan L6!
b. Bagaimana pengaruh jarak terhadap besar kuat medan dan kerapatan
medan magnet?

IX. DAFTAR PUSTAKA


1. Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Edeisi kelima Jilid I. Jakarta:
Erlangga.
Halliday, D., Resnick, R, Walker, J., 1997, Fundamentals of Physics,
John Wiley & Sons, New York.

28
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN L6
MEDAN MAGNET SOLENOIDA

Hari, Tanggal : ............................................................


Jam/sesi : ............................................................
Asisten : ............................................................

No Nama NIM Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4

HASIL PENGAMATAN

V = 6 Volt V = 9 Volt V = 12 Volt


d I = ……. mA I = ……. mA I = ......... mA
No
(cm)
I2 (mA) H (Tesla) I2 (mA) H (Tesla) I2 (mA) H (Tesla)
1 15
2 15
3 15
4 20
5 20
6 20
7 25
8 25
9 25

Diameter Solenoida : …………….. cm


Panjang Solenoida : …………….. cm

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

29
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :6


Jurusan / Program Studi :Teknik Industri Modul ke :5
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman :5
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN M1
BANDUL MATEMATIS

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum bandul matematis sesuai
prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR CAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum bandul matematis seuai prosedur
dan standar keselamatan kerja dengan benar.

III. TUJUAN
1. Mempelajari prinsip kerja bandul matematis.
2. Menghitung percepatan gravitasi.

IV. DASAR TEORI


Sebuah bandul sederhana merupakan model yang disempurnakan
yang terdiri dari sebuah massa titik yang ditahan oleh benang tak
bermassa. Jika massa titik yang ditarik ke salah satu sisi dari posisi
kesetimbangannya dan dilepaskan, massa tersebut akan berosilasi disekitar
posisi kesetimbangannya. Perhatikan gambar dibawah ini.

Gambar 1. Alur gerak ayunan bandul matematis


Pada posisi setimbang, bandul berada pada titik B sedangkan titik
A adalah kedudukan bandul di simpangkan sebesar sudut (θ). Kalau titik
A adalah kedudukan dari simpangan maksimum, maka bandul akan
bergerak dari A-B-C-B-A. Hal ini berarti bandul melakukan gerakan satu
ayunan, sedangkan osilasi yaitu gerak bolak balik disekitar titik
kesetimbangan dalam selang waktu yang sama.
Perhatikan gaya-gaya yang bekerja pada bandul sederhana
berdasarkan gambar 2.

30
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Gambar 2. Gaya yang bekerja pada bandul matematis


Lintasan gerak dari bandul matematis tidak berupa garis lurus
tetapi berupa busur dari suatu lingkaran dengan jari-jari L yang sama
dengan panjang tali. Gaya pemulih F adalah komponen tangensial dari
gaya total:

F   m g s in  (1.1)
Jika sudut θ kecil, maka sin θ sangat dekat dengan θ dalam radian. Dengan
pendekatan semacam ini, persamaan (1.1) menjadi:
x
F   m g s in   
L
(1.2)
x
 mg
L
Kita mengetahui bahwa persamaan hukum hooke,
F   kx (1.3)
sehingga apabila persamaan (1.2) dan (1.3) dihubungkan, menghasilkan:
mg
k o n s ta n ta p e g a s k  (1.4)
L
Frekuensi sudut dari bandul sederhana dengan amplitudo kecil adalah
k
 
m

mg
L
 (1.5)
m

g

L
Dengan demikian hubungan antara frekuensi dan periode untuk
bantul matematis yaitu:

31
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0


f 
2
(1.6)
1 g

2 L
1
T 
f

1
 (1.7)
1 g
2 L

L
 2
g

Percobaan bandul matematis ini memberikan manfaat dapat kehidupan


sehari-hari. Aplikasi dari percobaan ini dapat dilihat pada prinsip kerja jam
dinding, ayunan anak dan shock absorber.

V. ALAT DAN BAHAN


1. Bandul
2. Statip
3. Tali
4. Mistar
5. Busur derajat
6. Stopwatch

VI. PROSEDUR KERJA


1. Siapkan peralatan yang akan digunakan!
2. Pasang bandul pada salah satu ujung tali yang bebas!
3. Tarik atau simpangkan bandul dari titik kesetimbangan membentuk
sudut simpangan 150 !
4. Lepaskan bandul dan nyalakan stopwatch secara bersamaan,
biarkan berayun sampai 10 ayunan!
5. Catat waktu sepuluh ayunan bandul! Lakukan minimal tiga kali
percobaan untuk panjang tali yang sama.
6. Ulangi kegiatan 3 sampai 5 untuk panjang tali yang berbeda!
7. Catat hasil pengamatan anda sebagai data laporan sementara!
8. Jika sudah selesai, rapikan kembali peralatan seperti semula!

32
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

VII. ANALISIS DATA


1. Menghitung ralat periode T   T .
2. Substitusikan nilai periode kedalam persamaan (1.7) sehingga
diperoleg besarnya g  g dan hitunglah kesalahan relatif dan
2
kesalahan literaturnya (𝒈𝒍𝒊𝒕 = 9,80 m/det )!
3. Hitunglah pula dengan metode kuadrat terkecil untuk kedua macam
sudut simpangan tersebut. Hitung kesalahan literatur dan grafiknya!
4. Bandingkan harga g yang didapat antara metode matematis dan
kuadrat terkecil!

VIII. PERTANYAAN
1. Apakah yang dimaksud dengan simpangan, amplitudo, frekuensi dan
periode dari sistem bandul matematis?
2. Bagaimana harga g terhadap ketinggian dari permukaan bumi?
3. Apa yang harus anda lakukan terhadap panjang tali bandul matematis
untuk
a. menggandakan frekuensinya
b. menggandakan periodenya

IX. DAFTAR PUSTAKA


1. Abbas, A., dan Nur, N. 2000. Penuntun Praktikum Fisika Dasar II.
Padang: Laboratorium Dasar Universitas Andalas.
2. Halliday, D., Resnick, R, Walker, J. 1997. Fundamentals of Physics.
John Wiley & Sons. New York.
3. Sandra dan Sabhan. 2013. Penuntun Praktikum Fisika Dasar II. Palu:
Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Dasar Universitas Tadulako.
4. Sutrisno. 1982. Seri Fisika Dasar; Mekanika. Bandung: ITB.

33
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN M1
BANDUL MATEMATIS

Hari, Tanggal : ............................................................


Jam/sesi : ............................................................
Asisten : ............................................................

No Nama NIM Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4

HASIL PENGAMATAN

Panjang Rata-rata Waktu untuk


Waktu untuk 10
No Tali 10 periode satu periode
periode (detik)
(cm) (detik) (detik)
1 10
2 20
3 30
4 40
5 50
6 60
7 70
8 80
9 90
10 100

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

34
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :7


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :6
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman : 4
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN M2
MODULUS ELASTISITAS YOUNG

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum modulus elastisitas young
sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR CAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum modulus elastisitas young sesuai
prosedur dan standar keselamatan kerja.

III. TUJUAN
1. Memahami hukum Hooke.
2. Menentukan Modulus Young.

IV. DASAR TEORI


Apabila sebuah benda homogen panjang l dan penampang sebesar
A ditarik oleh gaya sebesar F, maka akan bertambah sebesar ∆l selama
tegangan σ=F/A (tegangan = gaya persatuan luas) tidak melebihi suatu
harga (batas kesetimbangan) maka regangan ɛ=∆l / l sebanding dengan
F/A. Secara matematis dapat ditulis :

F l
 E. (1.1)
A l
Batas kesebandingan tersebut adalah berbeda benda untuk suatu
bahan kawat yang berbeda-beda. Persamaan itu disebut Hukum Hooke dan
konstanta perbandingan E disebut dengan modulus elastisitasitas, yang
mana besarnya tergantung pada macam bahannya. Modulus Young adalah
ukuran kekakuan suatu bahan isotropik elastis dan merupakan angka yang
digunakan untuk mengkarakterisasi bahan. Satuan dalam sistem MKS
adalah N/m2 .Dengan suatu percobaan kita gunakan suatu kawat yang
panjangnya telah diketahui kemudian kawat tersebut diberi beban, maka
akan dapat diperoleh harga E.
Persamaannya dapat ditulis:

35
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

A . l A
F  E  k  E (1.2)
l l
Maka

F  k . l  H u k u m H o o k e (1.3)
Dari persamaan (1.3) terlihat
bahwa ada hubungan linear antara gaya
tarik F dengan regangan kawat ∆l,
dengan sendirinya ini hanya berlaku
dalam batas kesebandingan saja.
Bertambahnya panjang oleh gaya
tarik beban itu tidak perlu tiap kali
dimasukkan dalam persamaan, karena
selalu ∆l ≪ 1, diabaikan juga
berubahnya penampang kawat oleh
tarikan tersebut. Pada percobaan ini kita
pakai kawat logam yang akan dicari
modulus elastisitasnya.
Untuk menghitung E kita pakai persamaan:
F .l
E  (1.4)
A . l
m g .l
E  (1.5)
A . l
Pada waktu kecil kita sangat senang dengan mainan ketapel. Kalau
kita perhatikan, prinsip kerja dari ketapel adalah menggunakan prinsip kerja
modulus elastisitas young.

V. ALAT DAN BAHAN


1. Kawat logam
2. Anak timbangan
3. Mikrometer
4. Neraca air

VI. PROSEDUR KERJA


1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan!
2. Putar mikrometer hingga neraca air tepat pada posisi setimbang untuk
tanpa beban, dan catat skala mikrometer yang terukur pada kondisi
tersebut dengan baik!
3. Ukurlah panjang dan diameter kawat yang digunakan! Catat hasil
pengukuran di laporan sementara!

36
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

4. Pasanglah beban 100 gram kemudian putarlah mikrometer hingga


neraca air kembali pada posisi setimbang, catat skala mikrometer yang
terukur! Lakukan tiga kali percobaan untuk beban yang sama!
5. Ulangi kegiatan 4 untuk beban 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900,
dan 1000 gram.
6. Jika sudah selesai, rapikan kembali alat dan bahan seperti kondisi
semula!

VII. ANALISIS DATA


1. Menghitung ralat pertambahan panjang pada masing-masing massa
yang digunakan sehingga diperoleh  l  a (  l ) .
2. Menghitung luas penampang kawat A dan gaya berat w yang bekerja
pada sistem.
3. Menentukan modulus young E dengan mensubstitusikan  l  a ( l ) ;
A; w ke persamaan (1.4) sehingga diperoleh E   E . Bandingkan
nilai E hitung dengan literaturnya.
4. Membuat grafik hubungan antara gaya yang bekerja (F) dengan
pertambahan panjang (∆l).

VIII. PERTANYAAN
1. Apakah yang dimaksud dengan modulus elastisitas?
2. Apakah terdapat perbedaan hasil modulus young dengan metode
grafik dan metode matematis?
3. Apakah perbedaan tegangan dan regangan?

IX. REFERENSI
1. Abbas, A., dan Nur, N., 2000, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II,
Laboratorium Dasar Universitas Andalas, Padang.
2. Sandra dan Sabhan, 2013, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II, Unit
Pelaksana Teknis Laboratorium Dasar Universitas Tadulako, Palu.
3. Halliday, D., Resnick, R, Walker, J., 1997, Fundamentals of Physics,
John Wiley & Sons, New York.

37
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN M2
MODULUS ELASTISITAS YOUNG

Hari, Tanggal : ............................................................


Jam/sesi : ............................................................
Asisten : ............................................................

No Nama NIM Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4

HASIL PENGAMATAN

Massa Rata-rata
No (gram) Mikrometer Mikrometer
1 100
2 200
3 300
4 400
5 500
6 600
7 700
8 800
9 900
10 1000

Panjang kawat : …………


Diameter kawat : ................

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

38
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :8


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :7
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman : 5
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN M4
RESONANSI

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum penentuan kecepatan bunyi di
udara sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR PENCAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum dan memahami cara menentukan
kecepatan bunyi di udara sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

III. TUJUAN
1. Memahami gejala resonansi dan gelombang bunyi.
2. Memahami kerja tabung resonansi.
3. Menentukan kecepatan bunyi di udara.

IV. DASAR TEORI


Resonansi adalah perpaduan frekuensi
gelombang satu dengan frekuensi gelombang
lain. Aplikasi teknologi resonansi ini
dibidang teknologi sangat luas. Suatu sumber
bunyi digetarkan di atas mulut tabung
resonansi. Dengan mengatur panjang kolom
udara dalam tabung resonansi maka dapat
terdengan dengung suara yang sangat keras,
ini berarti terjadi resonansi.
Dalam tabung resonansi terjadi
gelombang longitudinal diam (stasioner),
dengan sasarannya yaitu permukaan air
sebagai simpul gelombang, dan mulut tabung sebagai perut gelombang.
Sesungguhnya letak perut berada sedikit di atas mulut tabung. Jarak dari
mulut tabung kita sebut k dan kira kira 3/10 kali diameter tabung.
Resonansi terjadi bila frekuensi nada dasar atau nada atas dari kolom udara
dalam tabung resonansi sama dengan frekuensi sumber bunyi. Bila yang
beresonansi nada dasar, maka terdapat stu simpul dan satu perut pada saat
kondisi ini berlaku:

39
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

1 1
L1  k    k    L1 (1.1)
4 4

Kolom Udara

dengan L1 = panjang kolom udara untuk resonansi pertama (meter)


 = panjang gelombang (meter)
Bila yang beresonansi nada atas pertama maka terdapat dua simpul dan
dua perut, akan berlaku :
3 3
L2  k    k    L2 (1.2)
4 4

Kolom Udara

dengan L2 = panjang kolom udara untuk resonansi kedua.


Bila yang beresonansi nada atas kedua, akan terdapat tiga simpul dan tiga
perut maka berlaku :
5 5
L3  k    k    L3 (1.3)
4 4
dengan L3 = panjang kolom udara untuk resonansi ketiga.
Selanjutnya untuk nada atas yang ke- n, terdapat n simpul dan n perut,
akan memberikan kolom udara Ln dengan (n = 1,2,3,4,...) akan memenuhi
persamaan :
( 2n  1 )
Ln  k   (1.4)
4
Apabila k pada persamaan (1.1) di subtitusikan ke persamaan k (1.2),
maka diperoleh persamaan berikut.
3 1
  L2    L1 (1.5)
4 4
sehingga diperoleh panjang gelombang (λ),
3 1
    L 2  L1
4 4
1
  L 2  L1 (1.6)
2
  2 ( L 2  L1 )
Apabila k pada persamaan (1.2) disubtitusikan ke persamaan (1.3), maka
diperoleh persamaan panjang gelombang sebagai berikut.
  2( L3  L2 ) (1.7)

40
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

sehingga persamaan pada umumnya menjadi:


  2 ( Ln  L( n  1 ) ) (1.8)
Dengan demikian rata rata dapat dihitung jika setiap resonansi panjangnya
kolom udara kita ukur. Kecepatan suara dalam udara dihitung dari
persamaan:
vt   . f (1.9)

dengan f = frekuensi bunyi (Hz) dan  = panjang gelombang (m).


Pada percobaan ini f adalah frekuensi sumber bunyi yang sudah
diketahui besarnya. Sebaliknya jika v sudah dihitung atau sudah dapat
diketahui, maka untuk garpu penala yang belum diketahui frekuensinya
dapat dicari. Kecepatan suara yang didapat dalam percobaan ini adalah
kecepatan suara dalam udara pada suhu percobaan (vt). Kecepatan suara
dalam udara pada suhu 0 0 dapat dihitung melalui hubungan :
T 1 t
vt  v0 a ta u v t  v 0 (1.10)
273 273
sehingga kecepatan bunyi di udara pada suhu 0o adalah sebagai berikut.
vt
v0 
1 t
273 (1.11)
273
v0  vt .
1 t

V. ALAT DAN BAHAN


1. Tabung resonansi
2. Audio Generator
3. Rangkaian sumber bunyi
4. Mistar
5. Air

VI. PERCOBAAN
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan!
2. Ukur dan catat suhu ruang pada saat percobaan!
3. Posisikan permukaan air pada tabung resonansi pada skala 2 cm
dengan cara menggerakkan naik/turun botol!
4. Nyalakan audio generator/ sumber bunyi dengan frekuensi 1000 Hz!
(minta petunjuk asisten).

41
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

5. Tempatkan sumber suara di atas mulut tabung resonansi, kemudian


turunkan secara perlahan botolnya sampai terdengar dengung keras.
Amatilah tinggi permukaan air pada saat dengung pertama pada
mistar, dan tuliskan tinggi hasil pengamatan anda pada kolom L1!
6. Amati kembali skala tinggi permukaan pada dengung yang kedua!
Dan tuliskan hasil pengamatan skalanya pada kolom L2! Lanjutkan
untuk dengung keras ketiga dan keempat!
7. Ulangi langkah 5-6 sebanyak empat kali untuk frekuensi yang sama!
8. Lakukan kegiatan 3-7 untuk frekuensi 2000 Hz dan 3000 Hz!
9. Setelah data selesai terkumpul, matikan audio generator dan rapikan
kembali alat dan bahan seperti kondisi semula!

VII. ANALISIS DATA PERCOBAAN


1. Menghitung ralat panjang kolom udara pada masing-masing frekuensi
sehingga diperoleh L1   L1 ; L2   L2 ; L3   L3 ;dan L4   L4 .
2. Menghitung panjang gelombang menggunakan persamaan (1.8)
sehingga diperoleh     untuk setiap variasi frekuensi.
3. Menentukan nilai kecepatan bunyi diudara saat percobaan dan saat
suhu 0o C menggunakan persamaan matematis (1.9) dan (1.10).
Bandingkan v0 hitung dengan literaturnya.
4. Membuat grafik hubungan n vs Ln untuk masing-masing frekuensi.

VIII. PERTANYAAN
1. Bagaimana peristiwa resonansi yang terjadi pada tabung resonansi?
2. Berapakah tetapan secara teori kecepatan bunyi di udara pada saat
suhu 0o C? Bandingkan hasil perhitungan anda dengan teorinya! Sama
atau tidak? Berikan alasan jawaban anda!

IX. REFERENSI
1. David Halliday & Robert resnick, 1993, Fisika Jilid 2, Erlangga,
Jakarta.
2. Tipler, 2001, Fisika Untuk sains dan Teknik Edisi Ketiga Jilid 2,
Erlangga, Jakarta.

42
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN M4
RESONANSI

Hari, Tanggal : ............................................................


Jam/sesi : ............................................................
Asisten : ............................................................

No Nama NIM Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4

HASIL PENGAMATAN

Panjang Kolom Udara (cm)


No Frekuensi (Hz)
L1 L2 L3 L4
1
2
1000
3
4
Rata – rata
5
6
2000
7
8
Rata – rata
9
10
3000
11
12
Rata - rata

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

43
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

Fakultas : Teknologi Industri Pertemuan ke :9


Jurusan / Program Studi : Teknik Industri Modul ke :8
Kode Mata Praktikum : 52212209 Jumlah Halaman : 7
Nama Mata Praktikum : Fisika Dasar I Mulai Berlaku : September 2015

PERCOBAAN TM
TEGANGAN MUKA

I. KOMPETENSI DASAR
Mahasiswa dapat terampil dalam praktikum penentuan tegangan muka
sesuai prosedur dan standar keselamatan kerja.

II. INDIKATOR CAPAIAN


Mahasiswa dapat melakukan praktikum penentuan tegangan muka sesuai
prosedur dan standar keselamatan kerja.

III. TUJUAN
1. Memahami pengertian dasar tegangan muka.
2. Menentukan tegangan muka dengan cara: tekanan maksimum &
kenaikan kapiler.

IV. DASAR TEORI


Bila kita mengamati sebatang jarum yang kita buat terapung di
permukaan air sebagai benda yang mengalami tegangan permukaan.
Tegangan permukaan disebabkan oleh interaksi molekul-molekul zat cair
di permukaan zat cair. Permukaan zat cair mempunyai beberapa sifat
khusus: Adhesi & Kohesi, Meniskus & Kapilaritas, Tegangan muka.
Kohesi adalah gaya tarik-menarik antara partikel-partikel dari zat
yang sejenis. Sedang gaya tarik-menarik antara partikel-partikel zat yang
tak sejenis disebut adhesi. Meniskus adalah bentuk permukaan zat cair
didalam pipa kapiler bila pipa kapiler di celupkan kedalam bejana yang
berisi zat cair tersebut. Kapilaritas adalah gejala yang terjadi bila miniskus
cekung maka tinggi permukaan zat cair dalam pipa kapiler akan lebih
tinggi demikian juga sebaliknya.
Tegangan permukaan adalah suatu kemampuan atau
kecenderungan zat cair untuk selalu menuju ke keadaan yang luas
permukaannya lebih kecil yaitu permukaan datar, atau bulat seperti bola
atau usaha untuk membentuk luas permukaan baru. Dalam hal ini terdapat
dua besaran yaitu Tegangan Muka (H) & Tenaga Muka.
Tenaga muka sebagai jumlah komponen sejajar permukaan &
resultan gaya kehesi yang tidak terimbangi pada molekul dalam lapisan

44
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

permukaan tiap satuan panjang. Satuannya adalah dyne/cm atau Newton/m.


Tegangan muka sebagai usaha yang diperlukan untuk menambah luas
permukaan dengan satu satuan luas. Satuannya adalah erg/cm2 atau
Joule/m2. Besar tegangan muka sama dengan besarnya tenaga muka, yang
berbeda hanya satuannya.
Metode yang digunakan dalam mencari harga tegangan muka (H) adalah:
a. Metode tekanan maksimum gelembung
Kita dapat mencari harga tegangan muka dengan cara
menyamakan tekanan tekanan yang bekerja pada gelas beker dan
manometer dalam keadaan setimbang. Dengan menurunkan air dalam
buret ke dalam erlenmeyer, tekanan udara dalam pipa kapiler menjadi
besar. Jika pada ujung pipa kapiler terjadi gelembung udara dengan
jari-jari R maka pada permukaan gelembung ini bekerja tekanan
tekanan :
 Dari Atas dalam keadaan setimbang maka Patas:
Pa ta s  P0   1 . g . h1 (1.1)
dimana, Patas = tekanan dari atas (atm, Pascal atau N/m2)
ρ1 = massa jenis zat (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h1 = selisih tinggi permukaan fluida pada
manometer (meter)
P0 = tekanan barometer (atm, Pascal atau N/m2)
 Dari bawah, pada titik N pada manometer
2H
P b a w a h  P B  (  2 .g .h 2 )  ( ) (1.2)
R
dimana, Pbawah = tekanan dari bawah (atm, Pascal atau
N/m2)
PB = tekanan udara (atm, Pascal atau N/m2)
ρ2 = massa jenis zat (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
h2 = selisih tinggi permukaan fluida dengan
ujung gelembung udara dalam pipa kapiler
H = tegangan permukaan (N/m)
R = jari-jari pipa kapiler (m)

Pada keadaan setimbang tekanan dari atas sama dengan tekanan


dari bawah sehingga dengan menyamakan kedua ruas dalam
persamaan akan didapat harga tegangan permukaan (H):
P a ta s  Pb a w a h (1.3)
2H
P 0  (  1 .g .h1 )  P B  (  2 .g .h 2 )  ( )  P0  P B (1.4)
R

45
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

2H
(  1 .g .h1 )  (  2 .g .h 2 )  ( )  P B  P0 (1.5)
R

2H
(  1 .g .h1 )  (  2 .g .h 2 )  ( )
R
R .g (  1 .h1   2 .h 2 )  2 H (1.6)
R .g
H  (  1 .h1   2 .h 2 )
2
ρ1= massa jenis zat cair dalam gelas beker (kg/m3)
ρ2= massa jenis zat cair dalam manometer (kg/m3)
h1= selisih tinggi permukaan cairan manometer (m)
h2= selisih tinggi permukaan zat cair dengan ujung gelembung
udara dalam pipa kapiler (m)
H = tegangan permukaan (N/m)
R = jari-jari pipa kapiler (m)
b. Metode Kenaikan Kapiler
Jika pipa kapiler dicelupkan dalam cairan maka akan naik
setinggi h. Pada saat setimbang gaya ke atas (FA) akan sama dengan
gaya ke bawah (FB) , gaya kesamping saling meniadakan.
F A  H .2 r . c o s  (1.7)
FB   r  gh
2
(1.8)
Selanjutnya persamaan (1.7) dan (1.8) dimasukkan kedalam
persamaan FA = FB, maka:
FA  FB
(1.9)
H . 2  r . c o s    r . g h  z a t c a ir n y a a ir , s e h in g g a   0
2

 r . g h
2

H 
2  r .co s 0
(1.10)
1
H  r . g h
2
Pada kehidupan sehari-hari, kita pernah melihat penerapan konsep
dari praktikum ini yaitu sebagai berikut : tetes embun yang jatuh pada
sarang laba laba, tetes air yang jatuh dari keran air, serangga dapat hinggap
di permukaan air, tetes air yang jatuh dari rambut yang basah, tetes air
yang jatuh di permukaan daun keladi.

V. ALAT DAN BAHAN


1. Air
2. Buret
3. Erlenmeyer
4. Manometer

46
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

5. Gelas beker
6. Pipa kapiler
7. Hidrometer
8. Jangka sorong

VI. PROSEDUR KERJA


A. Tekanan Maksimum Gelembung:
1) Siapkan alat dan bahan!
2) Rangkailah alat dan bahan seperti gambar dibawah ini!

3) Ukur dan catat diameter pipa kapiler yang akan digunakan


menggunakan jangka sorong yang sudah disediakan!
4) Ukurlah tinggi air mula-mula yang ada di manometer dan catat
sebagai h0 pada laporan sementara!
5) Isilah gelas beker dengan air sampai permukaan air 2 cm dibawah
bibir gelas dan ukur suhu air yang digunakan!
6) Tutup kran buret dan isilah buret dengan air sampai penuh!
7) Celupkan pipa kapiler pada gelas beker sedalam h2 = 1 cm!
8) Buka kran buret perlahan-lahan!
9) Amati dan catat hm (tinggi permukaan air dalam manometer) tepat
pada saat gelembung akan lepas dari ujung pipa kapiler yang
tercelup (bentuk gelembung tepat ½ bola)! Hitung harga 𝒉𝟏 =
2(𝒉𝒎 − 𝒉𝟎 )! Lakukan pengamatan hm dan perhitungan h1
sebanyak tiga kali!
10) Ulangi kegiatan 6-9 untuk variasi kedalaman pipa kapiler 2 cm, 3
cm, 4 cm dan 5 cm!

B. Kenaikkan Pipa Kapiler


1) Masukkan air ke dalam gelas beker sampai 2 cm dibawah bibir
gelas!
2) Ukurlah diameter pipa kapiler I dan II menggunakan jangka
sorong yang sudah disediakan dan catat pada laporan sementara!

47
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

3) Masukkan pipa kapiler kedalam gelas beker yang sudah berisi air
sedalam h1 = 1 cm!
4) Tutup rapat ujung pipa kapiler yang atas dan angkat pipa keluar
dari gelas beker! Ukur ketinggian air yang berada dalam pipa
kapiler dan catat hasilnya sebagai h2 pada laporan sementara!
Lakukan sebanyak tiga kali pengamatan, sehingga memperoleh
tiga data h2 pada laporan sementara!
5) Dengan langkah yang sama lakukan dengan pipa kapiler dengan
diameter yang berbeda!
6) Rapikan alat dan bahan seperti kondisi semula!

VII. ANALISIS DATA


a. Metode tekanan maksimum gelombang
1. Menghitung ralat ketinggian permukaan air pada manometer
sehingga diperoleh hm   hm .
2. Menghitung nilai perubahan tinggi permukaan air di manometer h1.
3. Menghitung nilai tegangan muka air menggunakan persamaan (1.6)
pada setiap variasi ketinggian air di pipa. Selanjutnya dapat dirata-
rata menjadi H   H .
b. Metode kenaikan pipa kapiler
1. Menghitung ralat perubahan ketinggian pada pipa kapiler h  h
untuk masing-masing variasi tinggi air.
2. Menghitung nilai tegangan muka untuk masing-masing tinggi air
yang kemudian dirata-rata sehingga diperoleh H  H .
3. Bandingkan hasil H   H metode tekanan maksimum dan
kenaikan pipa kapiler dengan nilai Hair teori.

VIII. PERTANYAAN
1. Jelaskan prinsip penentuan tegangan permukaan pada percobaan ini?
2. Apakah terdapat perbedaan hasil dari kedua metode yang digunakan?
Jelaskan!
3. Sebutkan metode-metode yang digunakan untuk penentuan tegangan
permukaan?
4. Sebutkan fenomena tegangan permukaan yang dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari?
5. Faktor apa saja yang mempengaruhi tegangan permukaan?

48
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

IX. DAFTAR PUSTAKA


1. Abbas, A., dan Nur, N., 2000, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II,
Laboratorium Dasar Universitas Andalas, Padang.
2. Daniels, F. Et al. 1970. “Experimental Physical Chemistry”. 7th ed. P.
359-365.
3. Glasstone, S. 1946. “Textbook of Physical Chemsitry”. 2nd ed. P. 487-
496.
4. Halliday & Resnick. 1984. FISIKA. Jakarta: Erlangga.
5. Harkins and Brown. 1919. Journal Am. Chem. Soc. 41. P. 499.
6. Sandra dan Sabhan, 2013, Penuntun Praktikum Fisika Dasar II, Unit
Pelaksana Teknis Laboratorium Dasar Universitas Tadulako, Palu.
7. Tipler. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Erlangga, Jakarta.

49
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FM - UII - AA - FKA - 07/R0

LAPORAN SEMENTARA
PERCOBAAN TM
TEGANGAN MUKA

Hari, Tanggal : ............................................................


Jam/sesi : ............................................................
Asisten : ............................................................

No Nama NIM Tanda Tangan


1 1
2 2
3 3
4 4

HASIL PENGAMATAN

I. Percobaan dengan Metode Tekanan Maksimum


Air, dengan suhu = ……….. oC
H1 oC
No Diameter pipa H1 = 2(Hm – Ho)
Hm (cm) H2 (cm)
H0 (cm) (cm)
1 2 3
1
2
3
4
5

II. Percobaan dengan Metode Kenaikan Pipa Kapiler


Air, dengan suhu = ……….. oC
Pipa I, diameter = ... Pipa II, diameter = ...
No H2 (cm) H1 (cm) H2 (cm) H1 (cm)
1 H2 –H1 (cm) H2 –H1 (cm)
2
3
4
5

Pembimbing Praktikum

(………………………..)

50
Modul Praktikum Fisika Dasar – Teknologi Industri – Teknik Industri