Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN STUDI KASUS

TRAUMATIK ULSER

Oleh:

Veggy Rahadian Nuryadi (4251181030)

Pembimbing

Indah Puti, drg., M.Kes

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI


FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER GIGI
CIMAHI
2020
BAB I
PENDAHULUAN

Ulser merupakan suatu keluhan yang umum dikeluhkan pasien yang jarang
dikonsultasikan kepada ahli medis. Ulser dapat dikaitkan dengan kondisi sistemik
pasien, kesehatan emosi, atau efek samping dari pengobatan yang dilakukan
pasien. Pengobatan terhadap ulser akan lebih tepat sasaran apabila telah
ditemukan penyebabnya1.
Keluhan pada bagian Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unjani
paling sering adalah ulser. Pasien biasa mengeluhkan adanya sariawan pada mulut
yang disebabkan oleh luka trauma, tergigit, atau sariawan yang rutin terjadi setiap
bulan. Jumlah dan lokasi ulser dapat beraneka ragam bergantung pada faktor
penyebab terjadinya ulser. Anamnesa secara teliti dan mendalam diperlukan untuk
dapat menegakkan diagnosa dan memberikan perawatan yang terbaik.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai traumatik ulser, yaitu lesi ulseratif
yang paling umum terjadi dan disebabkan oleh trauma cedera fisik pada mukosa
oral.1 Hal ini seringkali terjadi karena kecelakaan atau trauma yang tidak
disengaja seperti luka karena sikat gigi atau bibir yang tidak sengaja tergigit2.
Penyembuhan ulser traumatik bisa terjadi dalam sepuluh sampai empat belas
hari1.Ulser traumatik yang terasa sakit dapat disembuhkan secara efektif dengan
penggunaan kortikosteroid topikal, penggunaan anestesi topikal dan
antimikrobial.1 Kontrol penyembuhan lesi dilakukan minimal 7 hari setelah
perawatan untuk melihat resopsi jaringan.
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Nn. NS
Usia : 24 tahun
Tempat, Tanggal Lahir : Cimahi, 31 Maret 1995
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Cimahi
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan Terakhir : S1
Agama : Islam
Status : Belum menikah
Tanggal Pemeriksaan : 13 Mei 2018

2.2 Keluhan Utama


Sariawan di bibir bawah terasa sakit .

2.3 Anamnesa
Pasien datang dengan keluhan sariawan di bibir kanan dan kiri bawah sejak 2
hari yang lalu, terasa perih dan menggangu. Pasien sebelumnya memiliki
kebiasaan menggigit bibir. Pasien belum pernah mengkonsumsi obat untuk
mengurangi rasa sakitnya.
Gambar 2.1 Tampak lesi pada kunjungan ke 1

2.4 Riwayat Penyakit


2.4.1 Riwayat Penyakit Gigi dan Mulut
Disangkal
2.4.2 Riwayat Penyakit Sistemik
Disangkal
2.4.3 Riwayat Penyakit Terdahulu
Disangkal
2.4.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Disangkal
2.5 Kondisi Umum dan Tanda Vital
Kesadaran : Compos mentis
Kesan Sakit : Sakit/Perih
Tekanan Darah : 110/90 mmHg
Suhu : Afebris
Pernapasan : 16 x/menit
Nadi : 60 x /menit
Tinggi Badan : 154 cm
Berat Badan : 48 kg
2.6 Pemeriksaan
2.6.1 Pemeriksaan Ekstra Oral
Leher : KGB depan telinga kanan dan kiri : TAK
KGB belakang daun telinga kana dan kiri : TAK
KGB oksipital : TAK
KGB submandibula kanan dan kiri : TAK
KGB submental kanan dan kiri : TAK
KGB subtonsiler kanan dan kiri : TAK
KGB supraklavikular : TAK
Tiroid : Tidak ada kelainan
TMJ : Kliking (+), deviasi (+) kiri saat membuka mulut
Dahi dan Wajah : Oval, Simetris, Profil Cembung
Mata : Konjungtiva non anemis, sklera non ikterik.
Hidung : Pernapasan cuping hidung (-), epistaksis (-)
Mulut dan Bibir : Tidak ada kelainan
Sirkum Oral : Tidak ada kelainan
Kulit : Tidak ada kelainan
Lain-lain : Tidak ada kelainan

2.6.2 Pemeriksaan Intra Oral


Kebersihan Mulut : Sedang
Plak :-
Kalkulus :-
Stain :-
Gingiva : Interdental membulat, warna merah tua,
konsistensi lunak, permukaan mengkilap a/r
posterior rahang atas dan bawah
Mukosa Labial Atas :-
Mukosa Labial Bawah : Terdapat 3 ulkus putih, kekuningan, tepi
irregular dikelilingi daerah eritema dengan
ukuran 2,5 x 2 mm.
Mukosa Bukal Kanan dan Kiri : Cheek biting sinistra dan dextra
Frenulum :Labialis atas dan bawah : Perlekatan Sedang
Bukalis kanan dan kiri : Perlekatan Sedang
Lingualis : Perlekatan Sedang
Palatum Durum : Tidak ada kelainan
Palatum Mole : Tidak ada kelainan
Lidah : Dorsum : Coated tongue
Lateral : teraan gigi
Ventral : TAK
Dasar Mulut : Tidak ada kelainan
Odontogram :

2.6.3 Pemeriksaan Penunjang


Radiologi :-

2.7 Diagnosis Kerja


Traumatik Ulcer at regio labial inferior sinistra
DD/ Sar tipe minor

2.8 Prognosis
Ad bonam

2.9 Perawatan
 Kunjungan I (13 Mei 2018):
1. Observasi
2. OHI dan KIE
3. Pemberian obat kumur CHX 0,2%

 Kunjungan II (20 Mei 2018)


Pasien datang dengan sudah tidak adanya keluhan sariawan di bibir bawah kiri
dan kanan. Sudah tidak terasa sakit lagi di bagian bibir bawah kiri bawah dan
kanan. Serta sudah terdapat proses penyembuhan.

Gambar 2.2 Kontrol 1 minggu

OHI dan KIE (cara menyikat gigi dengan benar)


1. Instruksikan pasien untuk memeriksakan giginya rutin 6 bulan sekali
2. Observasi
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Lesi Ulseratif


Ulser atau ulkuse merupakan kondisi diskontinuitas jaringan yang meluas
hingga ke dermis dan subkutis dan selalu terjadi pada kondisi patologis 2.
Gambaran klinisnya menunjukkan defek pada lapisan epithelium dengan batas
jelas, yang menunjukkan adanya area inflamasi dan jaringan ikat yang terpapar 3.
Menurut Regezi dan Sciubba (2003), berdasarkan penyebabnya, ulser
dikelompokkan menjadi 5, yaitu lesi reaktif, infeksi bakteri, infeksi jamur, kondisi
yang berhubungan dengan disfungsi immunologi dan neoplasma menurut
Birnbaum dan Dunne (2010), ulser dapat dikelompokkan menjadi 5 berdasarkan
penyebabnya, yaitu traumatik, infeksi, neoplasma, sistemik, dan lain-lain.
Pada pembahasan makalah kali ini akan dijelaskan mengenai lesi ulseratif
yang disebabkan oleh trauma.

3.2 Ulser Traumatik


Ulser traumatik adalah lesi ulseratif yang disebabkan karena trauma 5. Traumatik
ulser dapat terjadi pada semua usia dan pada kedua jenis kelamin. Penyebab dari
ulser traumatik adalah trauma berupa bahan-bahan kimia, panas, listrik, gaya
mekanik 2. Selain itu, ulser ini dapat bervariasi diantaranya trauma akibat gigi
tiruan, tergigit, benda tajam, ataupun luka yang diakibatkan karena alat dokter gigi.
Ulser traumatik merupakan ulser fokal yang paling sering terjadi 4. Lokasi ulser
traumatik biasanya pada mukosa pipi, mukosa bibir, palatum, dan tepi perifer lidah
5

Ulser traumatik dapat dibagi menjadi dua, yaitu akut dan kronik. Ulser traumatik
akut lebih mudah untuk didiagnosa karena pasien dapat memberikan anamnesa
yang jelas mengenai penyebab terjadinya ulser. Ulser yang menimbulkan rasa sakit
biasanya memiliki tepi yang ireguler 5
Lesi yang diakibatkan oleh iritasi ringan yang terus menerus dan berkelanjutan
disebut ulser traumatik kronis. Ulser tersebut bisa diakibatkan oleh ujung gigi yang
tajam atau gigi tiruan yang rusak. Pasien biasanya tidak memperhatikan lesi hingga
menjadi besar. Gambaran klinis lesi ini menyerupai karsinoma dan ulser yang
infeksius.5

Gambar 3.1 Traumatik Ulser pada Bibir Bawah 9

Gambar 3.2 Traumatik Ulser Akut 11

Gambar 3.3 Traumatik Ulser Kronis pada Palatum 11


3.2.1. Etiologi
Traumatik ulser dapat terjadi karena iritasi dari benda tajam dan bisa juga
terjadi karena kecelakaan kerja dokter gigi saat melakukan prosedur dental6.
Traumatik Ulser dapat terjadi karena beberapa faktor:
a. Trauma Mekanis atau Fisik
Lesi sering ditemukan pada mukosa labial, bukal, dan batas lateral lidah.
Biasanya disebabkan karena tergigit, luka dari penggunaan sikat gigi, tambalan
yang tajam, penggunaan alat orthodonti, gigi yang patah atau tajam, alat
kedokteran gigi, dan luka akibat penggunaan gigi tiruan 6. Menurut Greenberg et
al., pada tahun 2008 penyebab trauma ulser jenis ini juga dapat diakibatkan
karena maloklusi, kesalahan pada pembuatan protesa, menyikat gigi yang terlalu
keras, kebiasaan pasien yang suka menggigit-gigit pipi atau bibir, dan oral
piercing. Menurut Brmbaum dan Dunne (2010), trauma mekanik dapat
disebabkan karena tergigit baik disengaja maupun tidak disengaja. Lokasinya bisa
bersebelahan dengan gigi yang karies atau patah, tepi plat gigi tiruan dan alat
orthodontik.

b. Trauma Kimia
Trauma kimiawi dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan yang bersifat,
seperti obat kumur dengan kandungan tinggi alkohol, kecelakaan kerja pada
prosedur dental oleh dokter gigi seperti terkena hidrogen peroksid, fenol, etsa, dan
obat aspirin yang digerus dan ditempelkan pada mukosa yang sakit 11. Penggunaan
aspirin baik dalam tablet maupun yang digunakan secara topikal pada mukosa
dapat menyebabkan ulkus pada mukosa6. Luasnya lesi bergantung pada durasi dan
jumlah pengaplikasian bahan kimia tersebut 7.
Gambar 3.4 Traumatik Ulser Akibat Penggunaan Gigi Tiruan 11

c. Suhu Panas
Lesi yang terjadi karena makanan dan minuman yang sangat panas dan anak-
anak yang menggigit kabel peralatan listrik. Kontak instrumen dokter gigi yang
panas pada mukosa yang teranestesi, secara tidak sadar pasien mengalami luka
akibat instrumen panas 7.
Gambar 3.5 Traumatik Ulser Akibat Suhu Panas Material Hidrokoloid 11

d. Terapi Radiasi dan Kemoterapi


Lesi biasa terdapat pada pasien yang sedang menjalani perawatan radiasi
kanker pada kepala dan leher. Pada lesi keganasan tersebut, terutama squamous
cell carcinoma, yang membutuhkan dosis radiasi yang besar (60-70Gy), ulser
biasa terlihat pada lokasi penyinaran 6. Pada kemoterapi, mukosa yang terkena
adalah mukosa non keratinisasi, seperti mukosa bukal, ventrolateral lidah, palatum
mole, dan dasar mulut. Manifestasi oral akibat terai radiasi adalah oral mucositis
yang timbul pada minggu kedua setelah terapi, dan akan sembuh perlahan setelah
2-3 minggu setelah terapi dihentikan 7.
3.2.2. Gambaran Klinis
Gambaran klinis dari ulser traumatik dapat bervariasi, namun biasanya
tampak sebagai ulser tunggal dengan membran fibrin purulen berwarna
kekuningan, dasar putih kekuningam dan pinggiran eritem, yang disertai dengan
timbulnya rasa nyeri12. Menurut Neville et al (2009), tepi ulkus traumatik ditandai
dengan area berwarna kekuningan yang dikelilingi oleh halo eritemathous, namun
pada beberapa kasus,tepi ulkus dapat berwarna putih karena adanya
hiperkeratosis. Lesi tersebut apabila dipalpasi dan akan sembuh tanpa bekas dalam
waktu 6-10 hari secara spontan atau dengan menghilangkan penyebab. Ulser
traumatik kronis dapat dijadikan sebagai indikasi indikasi karsinoma. Tempat
predileksinya adalah lidah, bibir, dan mukosa bukal. Penegakan diagnosis dapat
dilakukan melalui sejarah dan gambaran klinis. Apabila ulser tetap ada dalam
waktu 10-12 hari sebaiknya dilakukan biopsi 8
Ulser akibat panas elektrik sering terjadi pada bibir anak dan ukuran lesinya
cukup lebar. Lesi awalnya akan tampak kering, namun dalam beberapa hari akan
tampak krusta disertai dengan perdarahan 8

Gambar 3.6 Traumatik Ulser pada Lidah 9

Luka karena trauma mekanis akan tampak adanya area pada mukosa dimana
hilangnya lapisan epitel. Lesi ini dapat disertai atau tidak disertai dengan rasa
sakit. Traumatik ulser biasanya berbentuk ovoid dan memiliki bagian tengah
nekrotik berwarna puih kekuningan yang dikelilingi tepi eritem. Lokasi ulser
nekrotik berdekatan dengan kausanya.8

3.2.3. Patofisiologi
Gaya eksternal yang mengenai jaringan dapat menyebabkan trauma pada
ulser17. Mukosa oral terdiri dari lapisan epitel gepeng berlapis yang tipis dan
rapuh. Epitel mukosa mempertahankan integritas struktural oleh proses
pembaharuan sel terus-menerus. Pembaharuan sel yang cepat dapat mempercepat
pula proses penyembuhan luka. Namun demikian kemungkinan mutasi dan
kerusakan pada sel juga tinggi.6
Gejala ulser traumatik adalah sakit, berupa panas dan nyeri setempat.
Ketidaknyamanan dalam 24-48 jam sesudah trauma terjadi. Gambaran lesi
bergantung pada iritan. Pada awalnya daerah eritematous dijumpai di daerah
perifer kemudian menjadi makula merah, dalam waktu singkat bagian tengah akan
berubah menjadi jaringan nekrotik dan ulser akan ditutupi oleh eksudat fibrin
kekuningan. Ulser akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 10-14 hari
apabila iritan peenyebab dihilangkan. Hal tersebut biasanya ditandai dengan
perubahan warna dasar ulkus menjadi merah muda tanpa eksudat fibrin 7
3.2.4. Diagnosis Banding
a. Stomatitits Aphtous Rekuren

SAR merupakan suatu kelainan pada rongga mulut yang ditandai dengan lesi
ulserasi yang bersifat rekurensi pada rongga mulut dan saluran orofaring dan SAR
tidak disertai tanda-tanda penyakit lainnya. SAR terdiri atas daerah ulser yang
berwarna putih kekuningan dengan dasar cekung dan disertai dengan margin
eritema 7
Penyebab dari SAR sampai saat ini belum diketahui, namun SAR dapat timbul
karena beberapa faktor, dengan keterlibatan sistemik, lokal, mikrobial, dan faktor
genetik.7,8
Gambaran klinis dari SAR adalah lesi ulseratif yang rekuren ukurannya bisa
satu atau jamak, dangkal, ovoid, ulser yang disertai rasa sakit, terjadi pada interval
beberapa hari atau sampai 2-3 bulan. Onset SAR mayoritas terjadi pada usia
dekade kedua, biasanya disebabkan oleh trauma minor, menstruasi, infeksi saluran
8.
pernapasan atas, atau adanya kontak dengan jenis makanan tertentu Greenberg
and Glick, 2003 membagi tahap perkembangan ulser menjadi 5 fase, yaitu:
 Fase Prodormal
Fase ini berlangsung 2-48 jam, ditandai dengan rasa ketidaknyamanan di dalam
mulut dan terkadang disertai dengan malaise. Namun, fase ini jarang terjadi pada
mayoritas pasien.
Fase Pre-ulseratif
Fase ini ditandai dengan adanya mukosa yang mengalami eritema dan bengkak.
 Fase Ulseratif
Fase ini merupakan fase yang dominan, pasien merasakan adanya nyeri lokal pada
mukosa mulut. Terlihat lesi cekung dengan margin yang tajam dan jelas yang
dikelilingi dengan daerah eritema dan edema. Pada SAR lesi berbentuk oval atau
bulat reguler, sedangkan pada ulkus traumatikus lesi berbentuk irregular.
 Fase Penyembuhan
Fase ini ditandai dengan menghilangnya rasa nyeri dan terlihat gambaran
granulasi serta pseudomembran.
 Fase Remisi
Fase ini dapat berlangsung lama atau sebentar, regular atau irregular, tergantung
dari faktor etiologi.

a. SAR Tipe Minor

Gambar 3.7 Stomatitis Aftosa Rekuren Tipe Minor

Insidensinya mencapai 80% dari seluruh kasus SAR. Sekitar 56% terjadi pada
wanita. SAR tipe minor biasanya mengenai mukosa bukal, labial, dasar mulut,
dan lidah. Ulser lebih sering mengenai daerah anterior rongga mulut dan jarang
mengenai faring maupun tonsil. Fase prodormal pada SAR tipe minor biasanya
diikuti dengan sensasi terbakar pada lokasi ulser sebelum ulser tampak. Ukuran
ulser mencapai maksimum 10 milimeter dengan ukuran rata-rata 4-5 milimeter.
b. SAR Tipe Mayor

Gambar 3.8 Stomatitis Aftosa Rekuren Tipe Mayor 9

Ukuran ulser tipe mayor lebih besar dengan durasi yang lebih lama dibanding
tipe minor. Apabila terlihat lesi tunggal, lesi tersebut dapat bersifat ganas. Setelah
sembuh, lesi meninggalkan bekas disertai dengan destruksi jaringan. SAR tipe
mayor bisa terjadi diseluruh rongga mulut, termasuk bagian palatum lunak dan
tonsil, bahkan ulser dapat meluas ke orofaring. Keterlibatan dari jaringan oral
bagian posterior bisa menjadi karakteristik SAR, meskipun awalnya ulser masih
kecil. Pada SAR tipe mayor makan akan menjadi sangat sulit dan akan
mempengaruhi kesehatan umum dari pasien 8

c. SAR Tipe Herpetiform

Gambar 3.9 Stomatitis Aftosa Rekuren Tipe Herpetiform

Secara morfologi, SAR tipe herpetiform memiliki gambaran klinis mirip


dengan infeksi HSV. SAR tipe ini jarang terjadi, hanya sekitar 5-10% dari kasus
SAR. Ulser pada SAR tipe herpetiform berukuran kecil sekitar 1-3 milimeter dan
multipel bervariasi 5-100 ulser. Mukosa oral nonkeratinisasi bisa terlibat, secara
khusus bisasanya terdapat pada lateral margin dan permulaan sentral dari lidah
dan dasar mulut 8

3.2.5. Terapi dan Penatalaksanaan


Ulser traumatik dapat dihilangkan dengan menghilangkan penyebab ataud
engan steroid topikal untuk jangka waktu yang pendek 9. Lesi kecil dan tidak
ekstensif akan hilangn dengan sendirinya setelah penyebab trauma dihilangkan
dan kebersihan mulut tetap terjaga. Untuk menjaga kebersihan rongga mulut,
dianjurkan untuk menggunakan antiseptik seperti obat kumur.
Lesi yang luas harus diperhatikan proses penyembuhannya karena lebih rentan
meninggalkan bekas luka. Lesi yang tidak mengalami perubahan ke arah sembuh
dianjurkan untuk dilakukan biopsi dan pemeriksaan lebih lanjut 9.
Untuk mempercepat proses penyembuhan, dapat diberikan covering agent pad
a permukaan ulkus, seperti aliclair pada permukaan ulkus. Aloclair mengandung
air, maltodextrin, proylene glycol, polyvinylpyrrolidone (PVP), ekstrak aloevera,
kalium sorbate, natrium benzoate, hydroxythylcellulose, PEG 40, hydrogenated
glycyrretic acid 26. Kandungan PVP akan membentuk lapisan protektif tipis di atas
ulkus yang akan menutupi dan melindungi akhiran saraf yang terbuka segingga
mengurangi rasa nyeri dan mencegah iritasi pada ulkus. Ekstrak aloe vera
mengandung kompleks polisakarida dan gliberillin. Polisakarida berkaitan dengan
reseptor permukaan sel fibroblast untuk memperbaiki jaringan yang rusak,
menstimulasi dan mengaktivasi pertumbuhan fibroblast, sedangkan gliberillin
mempercepat penyembuhan ulkus dengan cara menstimulasi replikasi sel 10.
Gambar 3.10 Clorhexidine Gluconate 0,2%
BAB IV
PEMBAHASAN

Traumatik ulser merupakan kasus yang umum dikeluhkan pasien yang datang
ke bagian Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut, Unjani. Pada kasus ini,
pasien wanita berusia 22 tahun datang dengan keluhan terdapat sariawan pada
bibir bawah kanan bagian dalam akibat tergigit secara tidak sengaja. Awal mula
luka tampak kecil dan kemerahan, namun berubah menjadi merah keputihan yang
menimbulkan rasa sakit dan perih terutama saat pasien makan. Pasien mengaku
sering mengkonsumsi buah dan sayur setiap harinya.
Pemeriksaan klinis pada pasien ditemukan ulser pada daerah labial kanan
bawah berdiameter +5 mm, menonjol, berwarna merah keputihan, dengan tepi
ireguler kemerahan.
Anamnesis dan pemeriksaan klinis merupakan tahap yang paling penting
dalam menegakkan diagnosis. Hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis
menunjukkan diagnosis penyakit pasien adalah traumatik ulser. Traumatik ulser
merupakan ulser fokal yang paling sering terjadi dan basa disebabkan diantaranya
oleh trauma akibat gigi tiruan, tergigit, benda tajam, ataupun luka yang
diakibatkan karena alat dokte gigi 8. Pada kasus ini, ulser pada pasien disebabkan
karena mukosa labial kanan bawah pasien tergigit. Gambaran klinis meninjukkan
ulser tunggal yang memilki dasar cekung kedalaman dangkal yang berwarna putih
keabuan dan tepi ireguler kemerahan, tidak ada indurasi, serta lunak jika dipalpasi
9
.
Menurut Cunningham (2002) gejala traumatik ulser adalah sakit, berupa panas
dan nyeri 24-48 jam sesudah trauma terjadi. Daerah lesi akan tampak eritematous
dan berubah menjadi makula merah. Bagian tengah akan berubah menjadi
jaringan nekrotik dan ulser akan ditutupi oleh eksudat fibrikn kekuningan.
Penjabaran tersebut sesuai dengan kasus yang dialami oleh pasien.
Diagnosis banding dari traumatik ulser adalah stomatitis apthous rekuren
(SAR), Squamous cell carcinoma, dan herpes simplex virus. Hal yang
membedakan keempat kesi tersebut adalah faktor penyebab, angka kejadian
rekurensi, serta bentuk lesi. SAR disebabkan oleh berbagai faktor seperti stress,
trauma, hormon, atau faktor lain. Pada SAR bentuk cenderung lebih simetris
dibandingkan dengan ulser traumatik, angka kejadian juga berulang umumnya
seiap bulan. Ulser biasa terdapat di dasar mulut, mukosa bukal, mukosa labial,
atau lidah9,11. Pada pasien HSV, terjadi demam sebelum lesi muncul. Lesi yang
timbul multipel dan ireguler. Tempat munculnya lesi diantaranya pada bibir,
lidah, palatum, dan gingiva. Herpes tipe sekunder dapat terjadi akubat rekurensi
HSV-1 yang laten pada ganglion trigeminal yang dipicu oleh stress, paparan sinar
matahari, temperatur dingin, dan trauma 13.
Terapi kasus ini adalah dengan pemberian OHI (Oral Hygine Instructions)
kepada pasien tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pasien juga
diresepkan obat kumur berupa clorhexidine gluconate 0,2% yang digunakan 4
kali sehari. Buah, sayur, dan vitamin B kompleks dianjutkan untuk dikonsumsi
pasien agar mempercepat proses penyembuhan.
Pada saat kontrol seminggu, traumatik ulser pada pasien tampak mengalami
perbaikan yang cukup signifikan. Pasien baru dinyatakan sembuh total setelah
kontrol kedua, yaitu 21 hari sejak kunjungan pertama.
BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan intraoral dapat disimpulkan diagnosis


untuk pasien ini adalah traumatik ulser pada bagian labial bawah kanan dalam.
Etiologi traumatik ulser pada psaien ini adalah karena tergigit secara tidak
sengaja.

Perawatan yang diberikan pada psien adalah pemberikan OHI (Oral Hygiene
Insruction) mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, pemberian
Clorhexidine gluconate 0,2 % pada kunjungan pertama dan kedua, dan vitamin B
kompleks sebagai resep. Pasien juga diinstruksikan untuk mengkonsumsi banyak
sayur dan buah serta memperbanyak minum air mineral dalam satu hari.

Pada kunjungan kedua yaitu seminggu setelah kedatangan pertama, traumatik


ulser mengalami perbaikan yang cukup signifikan. Pada kunjungan kedua, yaitu
dua puluh satu hari setelah kunjungan pertama, pasien dinyatakan sembuh total.
Bekas luka juga sudah terlihat normal tanpa bekas.
DAFTAR PUSTAKA

1 Langlais R, Miller C, Gehrig NS. Lesi Mulut yang Sering ditemukani. Edisi 4.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2009. p.172-173.
2 DeLong L, Burkhart NW. General and Oral Pathology for The Dental
Hygienist. 2nd ed. Philadelphia: Woltrs Kluwer Health; 2013. p.68-77.
3 Dental Nursing. Ulcers: cause, identification, and management. 2012; 8:
p.784-786. Available online at www.ebscohost.com
4 Greenberg M.S, Glick M. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment.
10th ed. Hamilton: BC Decker Inc:2003. p.38-44.
5 Laskaris G. Pocket Atlas of Oral Disease. 2nd ed. NewYork: Thieme. 2006. p.
23-28.
6 Lynch MA, Brightman VJ, Greenberg MS. Burket Ilmu Penyakit Mulut,
Diagnosis dan Terapi. Jakarta: Binarupa Aksara. 1994
7 Marx ER, Diane S. Oral and Maxillofacial Pathology. 2nd ed. United States:
Quinsteence Publishing Company; 2012. p.126-135.
8 MIMS. 2009. Aloclair. Available online at http://mims.com/
9 Nevill BW, Damm DD, Allen CM, Bouquot JE. 2009. Oral and Maxillofacial
Pathology. 3rd ed. Elsavier. India.
10 Paisal. 2014. Kenalog in Orabase. Available online at
http://www.kerjanya.net/faq/8037-kenalog-in-orabase.html/