Anda di halaman 1dari 15

Makalah Ekologi Hewan

(EKOENERGETIKA)

Oleh :

KELOMPOK 14

Nama : Fitry Yabes Tak

Nim/semester : 1701040068/ VI (enam)

Kelas : Biologi B
PROGRAM STUDI PENDIDKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2020
Kata Pengantar

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan perkenaan-Nya
sehingga penulis dapat menulis dan menyusun makalah ini dengan judul“
EKOENERGETIKA” untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekologi Hewan. Makalah ini
disusun secara sederhana dan praktis agar lebih mudah untuk di pahami oleh para pembaca.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada Dosen pengampuh mata kulia Ekologi
Hewan, yang telah berkontribusi dengan memberikan materi-materi tambahan sehingga
makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi.
Dalam penyusunan makalah ini,penulis menyadari bahwa masih terdapat kesalahan
dan jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini selanjutnya.

Kupang, Mei 2020

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekoenergetika merupakan salah satu bahasan dalam autekologi. Autekologi adalah


ilmu yang mempelajari suatu organisme atau spesies yang berinteraksi dengan lingkungannya
atau dapat juga dikatakan hubungan populasi dengan lingkungannya. Contoh autekologi
misalnya mempelajari sejarah hidup suatu organisme atau spesies, perilaku, dan adaptasinya
terhadap lingkungan. Ekoenergetika membahas kebutuhan atau anggaran energi yang
menyusun suatu individu. Bagi suatu individu, jumlah energi yang dimiliki akan dialokasikan
untuk tumbuh, merawat tubuh dan reproduksi.

Persediaan energi yang tersimpan dalam komunitas dianggap sebagai peroduktivitas


suatu ekosistem. Produktivitas energi dibagi menjadi dua yaitu produktivitas primer dan
produktivitas sekunder. Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan
lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan lingkungannya sangat
kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Hubungan timbal balik antara
unsur-unsur hayati dengan nonhayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Di
dalam ekosistem terjadi rantai makanan, jarring-jaring makanan dan aliran energy.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan Ekoenergetika ?
2. Apakah hukum dasar Ekoenergetika?
3. Apa yang dimaksud dengan anggaran energi?
4. Bagaimanakah aliran energy dalam ekosistem?
5. Bagaimanakah produktifitas energy dalam ekosistem?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Ekoenergetika.
2. Untuk mengetahui hukum dasar Ekoenergetika.
3. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan anggaran energy.
4. Untuk mengetahui aliran energy dalam ekosistem.
5. Untuk mengetahui produktifitas energy dalam ekosistem.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah agar dapat menjelaskan mengenai apa yang
dimaksud dengan Ekoenergetika dan bagaimana aliran energy yang ada dalam ekosistem
sehingga kelangsungan kehidupan di alam dapat seimbang.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Ekoenergitika

Energetika diterjemahkan dari ergenetics yang dalam kamus Webster’s Seventh New
Collegiate Dictionary berarti cabang ilmu mekanika yang berkaitan dengan energi dan
trasformasinya. Eko-energetika ialah bidang ekologi yang memperbincangkan terutama
tentang peran energi dan transformasinya dalam ekologi. Ekoenergenetik adalah kajian
tentang energy dan proses perubahannya dari satu bentuk ke bentuk yang lain yang terjadi di
alam ekosistem. Kajian tentang energy meliputi konsep energy, sumber energy bentuk-bentuk
energy, dan manfaat energy. Sedangkan kajian tentang transformasi energy meliputi
perubahan bentuk energy yang berlangsung di dalam system hidup, system tak hidup, dan
pada dua system yaitu biosistem dan fisika system secara berantai. Ekoenergetika merupakan
kajian transformasi (perubahan) energi dalam organisme yang terdapat dalam suatu ekosistem
arus pengaliran atau perpindahan energi dari organisme yang satu keorganisme lain seolah-
olah merupakan rangkaian mata rantai yang disebut juga rantai pangan (food chain).
Chapham dan Odum menyatakan bahwa energy adalah kemampuan untuk melakukan
kerja. Semakin besar energy, maka semakin besar kemampuan untuk melakukan kerja, begitu
juga sebaliknya. Energy dinyatakan dengan satuan kalori/kilo kalori. Sumber energy utama
yang bertanggung jawab atas berlangsungnya semua proses kerja di dalam ekosistem yaitu
cahaya matahari, gaya gravitasi bumi, dan kekuatan internal bumi. Cahaya matahari
merupakan sumber energy yang bertanggung jawab atau proses fotosintesis, daur hidrologis,
sirkulasi udara atmosfer, dan secara tidak langsung mempengaruhi laju metabolisme hewan
ektothermal.

Fotosintesis merupakan proses terpenting di dalam ekosistem yang mengubah cahaya


matahari menjadi zat-zat organic yang dapat dimanfaatkan oleh organism konsumen. Daur
hydrogen merupakan fenomena yang melibatkan proses penguapan air yang dilakukan oleh
panas matahari, yang dilanjutkan oleh proses kondensasi. Sirkulasi udara atmosfer
merupakan akibat dari pemanasan udara yang dilakukan oleh panas matahari yang
mengakibatkan udara menjadi panas dan tekanan meningkat. Gaya gravitasi bumi merupakan
ekuivalen energy yang dapat mengakibatkan benda-benda berpindah tempat dari posisinya
menuju arah pusat bumi. Gaya gravitasi bumi mempengaruhi gerakan air dari akar menuju ke
pucuk tumbuhan, mempengaruhi kecepatan aliran darah dari jantung ke bagian tubuh yang
lain dan mempengaruhi gerakan dan sikap tubuh makhluk.

Kekuatan internal bumi yaitu gaya endogen bumi mengakibatkan gerak epirogenetik,
gerak erogenetik, gempa bumi, vulkanisme dan geothermal. Gerak epirogenetik adalah gerak
bumi yang sangat lambat yang arahnya naik turun di berbagai kulit bumi yang dapat
mengakibatkan bagian kulit bumi melengkung sampai melekuk pada daerah yang sangat luas.
Gerak erogenetik adalah gerak beralihnya letak lapisan kulit bumi yang diakibatkan oleh
tekanan horizontal maupun vertical yang dapat mengakibatkan terbentuknya pegunungan.

2.2. Hukum Dasar Ekoenergetika


Hukum dasar ekoenergetika didasarkan oleh hukum Thermodinamika I dan Hukum
Thermodinamika II (aspek aspek energy dan perubahannya mengikuti hokum ini).
Thermodinamika I menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan, tetapi energy dapat diubah bentuknya dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
Maka Thermodinamika I sering disebut sebagai hokum kekekalan energy. Berdasarkan
prinsip kekekalan, maka jumlah energy antara sebelum dan setelah transformasi harus tetap
sama, walaupun mungkin dalam bentuk yang berlainan.
Hukum Termodinamika II, hukum ini menyatakan bahwa setiap terjadi transformasi
energy, selalu terjadi pelepasan energy menjadi bentuk energy yang tidak bermanfaat.
Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa setiap terjadi transformasi energy selalu terjadi
penyusutan jumlah energy yang bermanfaat. Meskipun total energy secara keseluruhan tetap
tidak berkurang.

2.3. Anggaran Energi


Anggaran Energi adalah istilah yang berkaitan dengan arah pemanfaatan energy yang
berhasil ditambat oleh makhluk di dalam suatu ekosistem. Energy secara umum diarahkan
untuk dua tujuan yaitu untuk kelangsungan hidup dan untuk menjaga kelestarian jenisnya
dalam jangka waktu yang tidak terbatas (bereproduksi: membentuk sel kelamin, aktifitas
seksual, produksi air susu). Untuk kelangsungan hidupnya, makhluk harus menyisihkan
sejumlah energy untuk keperluan memelihara kualitas hidup agar mampu bersaing dan
mengantisipasi factor-faktor mortalitas seperti penyakit, parasit, dan predator. Dalam hal ini
energy dipakai untuk melangsungkan proses fisiologis tubuh, membentuk dan mengganti sel-
sel yang telah rusak, memproduksi hormone dan enzim, dan memproduksi sel-sel yang rusak.
Untuk menjaga kelestarian jenisnya, makhluk hidup harus menyisipkan sebagian energinya
untuk keperluan reproduksi. Dalam hal ini, energy dipakai untuk membentuk sel-sel kelamin
dan hormone-hormon kelamin perkembangan embrio, member nutrisi pada embrio dan
hewan muda yang baru dilahirkan.

Begon dkk (1990) menuliskan bahwa semua mkhluk yang hidup memerlukan bahan
untuk membentuk tubuhnya dan memerlukan energi untuk semua aktivitasnya. Tubuh
makhluk hidup di dalam suatu satuan luas merupakan suatu biomassa yang merupakan
‘standing crop”. Adapun yang dimaksudkan dengan biomassa ialah massa makhluk per
satuan luasan tanah atau perairan dan biasanya dinyatakan dalam satuan energi (misalnya
joule m-2) atau bahan organik kering (mislnya ton ha -1). Sebagian besar bimassa dalam
komunitas hampir selalu terbentuk oleh tumbuhan, dan tumbuhan merupakan produsen
primer biomassa.

2.4. Aliran Energi Yang Terjadi Dalam Ekosistem

Aliran energi yang terjadi pada sebuah ekosistem adalah adanya sebuah proses
berpindahnya energi yang ada pada tingkat trofik tertentu menuju trofik lainnya. Aliran ini
juga bisa digambarkan dalam sebuah rantai makanan, jarring-jaring makanan dan juga
piramida energi. Dalam sebuah rantai makanan akan selalu terjadi sebuah siklus yang akan
selalu berputar. Dan dari siklus inilah akan terjadi sebuah perpindahan energi satu sama
lainnya. Dalam hal ini energi yang didapat dari tingkat rantai makanan pertama akan
perpindahan pada tingkat berikutnya dan menjadi sebuah energi baru. Tingkatan trofik pada
sebuah rantai makanan pada dasarnya terdiri atas tiga jenis. Tingkatan trofik pertama adalah
tingkatan terendah dimana yang duduk disini adalah makhluk yang tidak bisa memangsa
seperti tumbuhan. Dilanjutkan dengan tingkat trofik kedua yang berupa hewan herbivora.
Gambar 2.1. Aliran Energi Suatu Ekosistem

Aliran energi dalam ekosistem mengalami tahapan proses sebagai berikut :

a. Energi masuk ke dalam ekosistem berupa energi matahari, tetapi tidak semuanya dapat
digunakan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Hanya sekitar setengahnya dari rata-
rata sinar matahari yang sampai pada tumbuhan diabsorpsi oleh mekanisme fotosintesis,
dan juga hanya sebagian kecil, sekitar 1-5 %, yang diubah menjadi makanan (energi
kimia). Sisanya keluar dari sistem berupa panas, dan energi yang diubah menjadi
makanan oleh tumbuhan dipakai lagi untuk proses respirasi yang juga sebagai keluaran
dari sistem.

b. Energi yang disimpan berupa materi tumbuhan masuk ke dalam rantai makanan dan
jaring-jaring makanan. Seperti telah diungkapkan sebelumnya, terjadinya kehilangan
sejumlah energi diantara tingkatan trofik, maka aliran energi berkurang atau menurun ke
arah tahapan berikutnya dari rantai makanan. Biasanya herbivora menyimpan sekitar 10
% energi yang dikandung tumbuhan, demikian pula karnivora menyimpan sekitar 10 %
energi yang dikandung mangsanya. Apabila materi tumbuhan tidak dikonsumsi, maka
akan disimpan dalam sistem, diteruskan ke pengurai, atau diekspor dari sistem sebagai
materi organik. Organisme-organisme pada setiap tingkat konsumen dan juga pada setiap
tingkat pengurai memanfaatkan sebagian energi untuk pernafasannya, sehingga
terlepaskan sejumlah panas keluar dari system.

Siklus aliran energi yang terjadi pada ekosistem adalah :


1. Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan
dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf
trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah
tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau sebagai produsen.
Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan
yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen primer merupakan
tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu
tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang. Adapun contoh proses
aliran energi yang terjadi di air adalah jika dalam aliran energi yang terjadi pada
ekosistem laut nutrisi dan juga cahaya merupakan sebuah faktor yang paling berpengaruh.
Cahaya matahari tidak bisa menembus hingga dasar laut. Oleh sebab itu, proses
fotosintesis hanya terjadi pada permukaan dan laut dangkal yang banyak tumbuhan laut.
Pada ekosistem laut perpindahan energi paling efektif terjadi di pantai. Dengan cahaya
matahari yang cukup akan menjadi sebuah tempat favorit untuk berkembangnya plankton
dan alga. Oleh sebab itu, aktifitas rantai makanan di laut biasanya dimulai dari pantai
menuju laut dalam.

Pada sebuah ekosistem air tawar aliran energi terbaik berasal dari sari tanah yang
berada pada dasar sungai dan juga muara. Dengan nutrisi yang baik ini sangat disenangi
oleh para konsumen tingkat pertama untuk tinggal. Karena keadaan muara yang biasanya
banyak terdapat alga maka disana banyak ikan kecil. Baru berikutnya ikan tersebut akan
dimangsa oleh ikan yang lebih besar. Siklus tersebut terus berlanjut hingga menuju hewan
laut yang lebih besar. Aliran dari energi yang ada di sebuah ekosistem adalah sebuah hal
yang akan terus berlanjut dan tidak akan berhenti hingga kiamat. Karena siklus dari
ekosistem tidak akan berhenti sampai semua penghuni ekosistem punah. Aliran energi
dapat menyebabkan ketergantungan antar komponen satu dengan komponen lainnya.
Gambar 2.2. Rantai Makanan

2. Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu sama
lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Apabila antara rantai
makanan yang satu dengan yang lainnya terdapat hubungan (ada komponen yang sama),
maka beberapa rantai makanan akan membentuk jaring-jaring makanan.

Gambar 2.3. Rantai Makanan

3. Piramida energi adalah representasi grafis tentang bagaimana energi mengalir dalam
suatu ekosistem. Piramida energi terdiri dari tingkat trofik, atau nutrisi. Dasar penentuan
piramida energi adalah dengan cara menghitung jumlah energi tiap satuan luas yang
masuk ke tingkat trofik dalam waktu tertentu, (misalnya per jam, per hari, per tahun).
Piramida energi dapat memberikan gambaran lebih akurat tentang kecepatan aliran energi
dalam ekosistem atau produktivitas pada tingkat trofik. Kandungan energi tiap trofik
sangat ditentukan oleh tingkat trofiknya sehingga bentuk grafiknya sesuai dengan
piramida ekologi yang sesungguhnya di lingkungan. Energi yang mampu disimpan oleh
individu tiap trofik dinyatakan satuan kalori per m² per satuan waktu (kal/m2/th). Sebuah
piramida energi adalah representasi grafis dari tingkat trofik (gizi) dimana energi
matahari yang masuk ditransfer ke dalam ekosistem.
Gambar 2.4. Piramida Energi

Pada piramida energi tampak jelas adanya penurunan jumlah energi secara bertahap dari
trofik terendah ke trofik di atasnya. Penurunan ini disebabkan oleh hal-hal berikut.

1. Hanya sejumlah makanan tertentu yang dapat dimakan oleh organisme trofik di
atasnya.
2. Beberapa bahan makanan yang sulit dicerna dibuang dalam keadaan masih
mengandung energi kimia.
3. Hanya sebagian energi kimia dalam bahan makanan yang dapat disimpan dalam sel
dan sebagian lainnya untuk melakukan aktivitas hidup.

2.5. Produktifitas Energi Dalam Ekosistem

Sumber energi utama bagi kehidupan adalah cahaya Matahari. Energi cahaya
Matahari masuk ke dalam komponen biotik melalui produsen (organisme fotoautotropik)
yang diubah menjadi energi kimia tersimpan di dalam senyawa organik. Energi kimia
mengalir dari produsen ke konsumen dari berbagai tingkat tropik melalui jalur rantai
makanan. Energi kimia tersebut digunakan organisme untuk pertumbuhan dan
perkembangan. Energi matahari memasuki seluruh tingkat trofi dalam suatu ekosistem
melalui produsen, tersimpan dalam bentuk senyawa-senyawa organik (hasil fotosintesis).
Seluruh senyawa organik yang dikandung dalam produsen dari suatu ekosistem, disebut
produktivitas primer kasar (PPK). PPK digunakan oleh produsen untuk respirasi (sekitar
35%), sisanya sebagai produktivitas primer bersih (PPB). PPB dari produsen inilah yang
digunakan oleh konsumen I dan konsumen berikutnya dengan nilai PPB yang semakin
mengecil. Kemampuan organisme-organisme dalam ekosistem untuk menerima dan
menyimpan energi dinamakan produktivitas ekosistem. Produktivitas ekosistem terdiri dari
produktivitas primer dan produktivitas sekunder. Produktivitas ekosistem yaitu keseluruhan
sistem yang dinyatakan dengan biomassa atau bioenergi dalam kurun waktu tertentu.
Produktivitas ekosistem merupakan parameter pengukuran yang penting dalam penentuan
aliran energi total melalui semua tingkat trofi dari suatu ekosistem.

a. Produktivitas primer adalah kecepatan organisme autotrof sebagai produsen


mengubah energi cahaya Matahari menjadi energi kimia dalam bentuk bahan organik.
Hanya sebagian kecil energi cahaya yang dapat diserap oleh produsen. Produktivitas
primer berbeda pada setiap ekosistem, yang terbesar ada pada ekosistem hutan hujan
tropis dan ekosistem hutan bakau. Produktifitas primer dibagi menjadi dua yaitu
produktivitas primer kotor (PPk) dan produktivitas primer bersih (PPB).

 Produktivitas primer kotor (PPK) adalah seluruh bahan organik yang


dihasilkan dari proses fotosintesis pada organisme fotoautotrof (Pengertian
fotoautotrof adalah organisme yang dapat menggunakan sumber cahay untuk
mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik, contohnya tumbuhan
hijau, bakteri ungu, dan bakteri hijau). Lebih kurang 20% dari PPK digunakan
oleh organisme fotoautotrof untuk respirasi, tumbuh dan berkembang.

 Produktivitas primer bersih (PPB) adalah sisa energi produktifitas primer


kotor yang baru disimpan. Biomassa organisme autotrof diperkirakan
mencapai 50%-90% dari seluruh bahan organik hasil fotosintesis (Autotrof
adalah organisme yang memiliki kapasitas untuk menghasilkan makanan
mereka sendiri, jadi autrotrof sebagai produsen, contohnya tumbuhan). Hal ini
menunjukkan simpanan energi kimia yang dapat ditransfer ke trofik
selanjutnya melalui hubungan makan dimakan dalam ekosistem.

b. Produktifitas Sekunder (PS) adalah kecepatan organisme heterotrof mengubah


energi kimia dari bahan organik yang dimakan menjadi simpanan energi kimia baru di
dalam tubuhnya. Energi kimia dalam bahan organik yang berpindah dari produsen ke
organisme heterotrof (konsumen primer) dipergunakan untuk aktivitas hidup dan
hanya sebagian yang dapat diubah menjadi energi kimia yang tersimpan di dalam
tubuhnya sebagai produktivitas bersih. Demikian juga perpindahan energi ke
konsumen sekunder dan tersier akan selalu menjadi berkurang. Perbandingan
produktivitas bersih antara trofik dengan trofik-trofik di atasnya dinamakan efisiensi
ekologi. Diperkirakan hanya sekitar 10% energi yang dapat ditransfer sebagai
biomassa dari trofik sebelumnya ke trofik berikutnya.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Tanpa energi di bumi, maka sudah pasti tidak ada kehidupan, tidak ada matahari maka
tidak ada tumbuh-tumbuhan yang bisa hidup dan berkembang, dan secara berantai, tidak akan
ada hewan herbivora, tidak ada hewan karnivora dan seterusnya tidak ada yang hidup di
permukaan bumi. Energy secara umum diarahkan untuk dua tujuan yaitu untuk kelangsungan
hidup dan untuk menjaga kelestarian jenisnya dalam jangka waktu yang tidak terbatas
(bereproduksi: membentuk sel kelamin, aktifitas seksual, produksi air susu). Untuk
kelangsungan hidupnya, makhluk harus menyisihkan sejumlah energy untuk keperluan
memelihara kualitas hidup agar mampu bersaing dan mengantisipasi factor-faktor mortalitas
seperti penyakit, parasit, dan predator. Dalam hal ini energy dipakai untuk melangsungkan
proses fisiologis tubuh, membentuk dan mengganti sel-sel yang telah rusak, memproduksi
hormone dan enzim., dan memproduksi sel-sel yang rusak.

3.2. Saran
Harapan kami makalah ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memahami
“Ekoenergetika” lebih dalam lagi dan dapat menambah informasi bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G.  2002.  Biologi. Alih bahasa lestari, R. et al.
safitri, A., Simarmata, L., Hardani, H.W. (eds).  Erlangga, Jakarta.

Rasidi, Suwanto. 2004. Ekologi Tumbuhan. Jakarta : Pusat penerbit Universitas Terbuka.

Winatasasmita, Djambur dan Sukarno. 2000. Biologi 1. Jakarta: PT Garuda Maju Cipta.

Agus, A. 2012. Konsep Aliran Energi Dalam Ekosistem [On Line] dari:
http://www.slideshare.net/AGOESTWOONG/4-konsep-aliran-energi-dalam-
ekosistem (Diakses 13 Mei 2020)

https://agnazgeograph.wordpress.com/2013/03/19/aliran-energi/ (Diakses 13 Mei 2020)

https://biologiklaten.wordpress.com/bab-10-ekosistem-x/ (Diakses 13 Mei 2020)