Anda di halaman 1dari 5

[Q.

2] PENENTUAN RASIO h/e (FUNGSI KERJA PADA EFEK FOTOLISTRIK)

Musyarofah (K1C016052), Rizky Intan Prasetya (K1C017001) & Rian Dwi Wahyudi
(K1C017039)
Asisten: Tito Yudatama
Tanggal Percobaan: 09/05/2020
PAF15313- Fisika Eksperimen II
Laboratorium Fisika Inti dan Material – Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Unsoed

Abstrak
Pada praktikum Mechanical Milling (Penentuan Perubahan Ukuran Partikel), milling
merupakan metode untuk mencampurkan material dan mengurangi (menghaluskan)
ukuran partikel. Tujuan dari praktkum ini ialah untuk membandingkan pengaruh
waktu milling terhadap perubahan ukuran partikel. Metode yang digunakan ialah
dengan mechanical milling menggunakan alat berupa shaker mill PPF-UG lengkap
dengan vial dan ball mill. Variasi waktu yang ditentukan adalah 10, 15, dan 20
menit, dan sampel yang digunakan adalah Fe 3O4 alam(pasir besi) seberat 15 gram
dibuat dalam 3 sampel, saringan yang digunakan yaitu 80, 120, dan 250 mesh. Hasil
waktu yang paling efektif penggunaannya adalah 20 menit, karena menghasilkan
penggilingan dengan jumlah massa 12,538 gram (120 mesh) dan 7,608 gram (250
mesh). Sementara jika di milling selama 10 menit menghasilkan massa 11,964 gram
(120 mesh) dan 6,913 gram (250 mesh) dan milling 15 menit menghasilkan 12,257
gram (120 mesh) dan 7,461 gram (250 mesh). Hal ini menunjukkan bahwa semakin
lama waktu milling maka ukuran partikel akan semakin lebih kecil.

Kata kunci: Milling, partikel, Shaker Mill.


1. PENDAHULUAN gelombang. Pendapat L de Broglie ini kemudian
dikenal sebagai Hipotesa de Broglie[2].
Dalam fisika, dualisme partikel gelombang Efek fotolistrik adalah pengeluaran elektron
menyatakan bahwa setiap partikel dalam kondisi- dari suatu permukaan (biasanya logam) ketika
kondisi tertentu dapat menunjukkan sifat dikenai, dan menyerap, radiasi elektromagnetik
gelombang, dan sebaliknya setiap gelombang (seperti cahaya tampakdan radiasi ultra ungu) yang
dalam konsisi tertentu dapat menunjukkan sifat berada di atas frekuensi ambang tergantung pada
partikel. Gejala dualisme diawali dari sebuah jenis permukaan.
fenomena efek fotolistrik. Pada peristiwa efek Istilah lama untuk efek fotolistrik adalah efek
fotolistrik, permukaan sebuah logam disinari oleh Hertz (yang saat ini tidak digunakan lagi). Hertz
seberkas cahaya yang menyebabkan elektron mengamati dan kemudian menunjukkan bahwa
terpental keluar dari permukaan logam. Peristiwa elektrode diterangi dengan sinar ultraviolet
efek fotolistrik tidak dapat dijelaskan melalui teori menciptakan bunga api listrik lebih mudah. Efek
gelombang, tetapi dapat dijelaskan melalui teori fotolistrik merupakan proses perubahan sifat-sifat
kuantum [1] konduksi listrik di dalam material karena pengaruh
Penelitian mengenai Teori kuantum dimulai cahaya atau gelombang elektromagnetik lain. Efek
pada abad ke 20 yang dipelopori oleh Albert ini mengakibatkan terciptanya pasangan elektron
Einstein dan Max Planck. Menurut teori kuantum, dan hole di dalam semikonduktor, atau pancaran
cahaya dipandang sebagai berkas–berkas energi elektron bebas dan ion yang tertinggal di dalam
yang lebih dikenal sebagai foton. Teori tersebut metal [3].
memicu para ilmuwan untuk lebih meneliti Efek fotolistrik membutuhkan foton dengan
mengenai foton, salah satunya adalah A.H energi dari beberapa elektronvolts sampai lebih
Compton pada tahun 1923 melalui peristiwa dari 1 MeV unsur yang nomor atomnya tinggi.
hamburan compton. Ia menemukan bahwa cahaya Studi efek fotolistrik menyebabkan langkah-
memiliki sifat kembar sebagai gelombang dan langkah penting dalam memahami sifat kuantum
sebagai partikel. Berdasarkan eksperimen efek cahaya, elektron dan mempengaruhi pembentukan
fotolistrik, pada tahun 1924 Louis de Broglie konsep Dualitas gelombang–partikel. Fenomena
mengajukan postulat bahwa materi yang di mana cahaya mempengaruhi gerakan
mempunyai sifat partikel dapat berperilaku sebagai muatan listrik termasuk efek fotokonduktif (juga
1
Laporan Praktikum – Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika – FMIPA Unsoed
dikenal sebagai foto konduktivitas atau 2. METODOLOGI
photoresistivity ), efekfotovoltaik , dan efek foto [4].
Menurut teori modern, cahaya merupakan 2.1 ALAT DAN BAHAN
bagian dari spektrum gelombang elektromagnetik Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam percobaan
dan juga merupakan sebuah partikel yang memiliki ini antara lain :
paket energi yang disebut dengan foton. Oleh praktikum mechanical millingsebagai
karena itu cahaya menganut dualisme gelombang- berikut:
partikel, yaitu cahaya dapat berupa gelombang dan 1. Sumber cahaya mercury
juga dapat berupa partikel. Efek fotolistrik  2. Multimeter digital
membantu menjelaskan mengenai dualisme ini.
3. Filter warna kuning dan hijau
Albert Einstein adalah orang yang menjelaskan
4. Perangkat h/e
mengenai efek ini dan meraih Nobel Prize In
Physics pada tahun 1921[5].
Cahaya merupakan paket energi, maksudnya
cahaya yang terdapat di alam memiliki energi yang
besarnya terkuantitas dan merupakan kelipatan 2.2 PROSEDUR KERJA : FLOWCHART
dari bilangan bulat. Energi dari sebuah foton
didefinisikan dengan persamaan Planck yaitu: a. Karakteristik Pancaran Energi lampu
E=h . v Mercury (Hg)
Dimana h adalah konstanta Planck yang besarnya
h=6,625 ×10−34 J.s dan v adalah frekuensi dari
foton (cahaya) tersebut[6]. Mulai

Mempersiapk
 
an alat dan
bahan

Menghidupkan sumber
cahaya Mercury (Hg)
Gambar 1.1 Efek fotolistrik
Konsep penting yang dikemukakan Einstein
sebagai latar belakang terjadinya efek fotolistrik
Mengecek potensial
adalah bahwa satu elektron menyerap satu
baterai pada perangkat
kuantum energi. Satu kuantum energi yang diserap
elektron menyerap satu kuantum energi. Satu h/e
kuantum energi yang diserap elektron digunakan
untuk lepas dari logam dan untuk bergerak ke pelat Me-reset potensial pada
logam yang lain. Hal ini dapat dituliskan sebagai: perangkat h/e untuk
Energi cahaya = Energi ambang+Energi kinetik menghilangkan materi
maksimum elektron
Memasang filter
E=Φ+ E K mak transmisi cahaya pada
layar perangkat h/e
E=h . v
h . v=h . v 0+ E K mak
Mencatat nilai potensial
E K mak =h . v −h . v 0 yang ditunjukkan pada
Dimana h adalah konstanta planck, v dan v 0 adalah alat multimeter digital
untuk setiap prosentasi
frekuensi dari foton dan E K mak adalah energi
transmisi (20%, 40%,
kinetik maksimum elektron [6].
60%, 80%, dan 100%)
V

Mematikan sumber
cahaya merkuri
Laporan Praktikum – Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika – FMIPA Unsoed
2

Pengulanga
Selesai n untuk
filter cahaya
tersedia

3. HASIL DAN ANALISIS

3.1 HASIL
Filter ∆ V ( volt )
N Kuning Hjau
b. Penentuan Nilai Perbandingan h/e Transmisi
O
Mulai (%)
1 20 0,130 0,193
2 40 0,217 0,427
Mempersiapk 3 60 0,273 0,320
an alat dan 4 80 0,323 0,357
bahan 5 100 0,376 0,390

Menghidupkan sumber FILTER KUNING:


cahaya Mercury (Hg) Spektrum Frekuensi Beda
Cahaya (Hz) Potensial
(mV)
Merah 4,11 x 1014 228,3
Mengecek potensial Jingga 4,81 x 1014 266,4
baterai pada perangkat Kuning 5,19 x 1014 312,1
h/e Hijau 5,50 x 1014 321,8
Biru 6,88 x 1014 255,5
Me-reset potensial pada Nila 7,14 x 1014 48,6
perangkat h/e untuk Ungu 8,20 x 1014 5,5
menghilangkan materi
FILTER HIJAU:
Memasang filter kuning Spektrum Frekuensi Beda
pada perangkat h/e Cahaya (Hz) Potensial
(mV)
Merah 4,11 x 1014 29,05
Jingga 4,81 x 1014 27,5
Mencatat nilai potensial
Kuning 5,19 x 1014 84
yang ditunjukkan pada Hijau 5,50 x 1014 137,2
layar multimeter digital Biru 6,88 x 1014 324,7
untuk setiap warna Nila 7,14 x 1014 63,8
cahaya yang keluar Ungu 8,20 x 1014 42,5
(merah, kuning, hijau,
Mencatat perubahan
biru, nila, dan ungu).
Mencatat
ukuran perubahan
setelah di-
ukuran setelah di- 3.2
milling PEMBAHASAN
V milling Percobaan yang dilakukan pada
Pengulangan
eksperimen efek fotolistrik (h/e)
Pengulanga
Selesai untuk waktu 15 bahwa cahaya
Pengulangan
menunjukkan
n untuk
Selesai dan 20
untuk menit
waktu 15
polikromatik yaitu cahaya yang terdiri
filter cahaya dan 20 menit
Selesai dari beberapa spektrum warna cahaya
yang
yang memiliki frekuensi dan panjang
gelombang yang berfariasi, mengalami
3
Laporan Praktikum – Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika – FMIPA Unsoed
perubahan menjadi cahaya kecil. Potensial penghenti pada
monokromatik yang terdiri dari satu spektrum warna cahaya yang terdapat
spektrum warna cahaya saja. Cahaya pada orde 1 lebih besar dari pada
monokromatik yang terpancang memiliki spektrum warna cahaya yang terdapat
panjang gelombang dan frekuensi yang pada orde dua. Semakin besar intensitas
berfariasi tergantung jenis warna dari cahaya yang mempengaruhi maka
spektrum cahayanya. Spektrum cahaya semakin besar pula energi potensial
yang tampak ditinjau pengaruhnya yang akan ditimbulkan begtitupun
terhadap energi foton yang mengenai sebaliknya.
suatu elektron pada material logam yang Perbandingan nilai ketetapan
mempengaruhi terjadinya muatan baru planck (h) pada referensi dan percobaan
yaitu beda potensial yang dipengaruhi menunjukkan bahwa hasil yang
oleh pelepasan beberapa elektron pada diperoleh melalui percobaan
logam. dibandingkan dengan hasil yang
Pengaruh filter transmisi
diperoleh
(jumlah foton)
dari referensi relatif
terhadap potensial penghenti pada berbanding sama. Hasil percobaan
percobaan pertama menggunakan menunjukkan bahwa pada spektrum
beberapa warna dari spektrum cahaya cahaya masing-masing memiliki besar
diantaranya yaitu warna kuning, hijau, frekuensi dan panjang gelombang yang
biru, dan ungu.besar harga filter berbeda. Semakin besar nilai frekuensi
transmisi yang digunakan berfariasi, dari spektrum warna cahaya maka
mulai dari 20%,40%,60%,80% dan panjang gelombangnya berbanding
100%. Hasil yang diperoleh terbalik yaitu semakin kecil. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin besar menjadi faktor besaran energi,
fariasi transmisi yang digunakan pootensial penghenti yang nantinya akan
mempengaruhi besar dari potensial ditimbulkan.
penghenti pada masing- masing warna
cahaya. Perbandingan nialai potensial
penghenti pada penggunaan filter
transmisi bergantung juga pada warna
Pengaruh Filter Transmisi (Jumlah
dari spektrum cahayanya, yaitu warna Foton) terhadap Potensial Penghenti
kuning memiliki nilai potensial (ΔV)
penghenti lebih kecil dari warna hijau, 0.6
ΔV (volt)

hijau, ungu dan biru dengan kakta lain Kuning


0.4
semakin menuju warna biru pengaruh Hijau
filter transmisi terhadap potensial 0.2
penghenti seemakin besar. 0
0 20 40 60 80 100 120
Pengaruh frekuensi terhadap potensial Filter Transmisi (%)
penghenti, ditinjau dari spektrum
cahaya yang mempengaruhi. Dari
percobaan yang dilakukan menujukkan
masing-masing spektrum warna pada 4. KESIMPULAN
cahaya memiliki panjang gelombang dan Kesimpulan dari eksperimen efek
frekuensinya masing-masing. Semakain fotolistrik (h/e) ini diantaranya:
besar frekuensi dari spektrum cahaya
maka nilai potensial penghentinya 1. Pengaruh filter transmisi (jumlah
semakin besar, namun pada spektrum foton) terhadap potensial
warna biru frekuensinya masih penghenti menunjukkan bahwa
berbanding tipis yakni lebih kecil dari semakin besar fariasi transmisi
pada frekuensi pada spektrum warna yang digunakan mempengaruhi
ungu. Untuk besar nilai beda potensial besar dari potensial penghenti
pada warna biru memiliki nilai yang pada masing- masing warna
lebih besar dibandingkan dari warna cahaya. Perbandingan nialai
ungu, hijau dan kuning yang memiliki potensial penghenti pada
nilai potensial penghenti yang relatif penggunaan filter transmisi
4
Laporan Praktikum – Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika – FMIPA Unsoed
bergantung juga pada warna dari
spektrum cahayanya.
2. Pengaruh frekuensi terhadap
potensial penghenti ditinjau dari
spektrum cahaya yang
mempengaruhi, semakain besar
frekuensi dari spektrum cahaya
maka nilai potensial penghentinya
semakin besar.
3. Perbandingan nilai ketetapan
planck (h) pada referensi dan
percobaan menunjukkan bahwa
hasil yang diperoleh melalui
percobaan dibandingkan dengan
hasil yang diperoleh dari referensi
relatif berbanding sama.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Krane, Kenneth, Fisika Modern,
(Jakarta: Universitas Indonesia (UI
– Press), 1992)
[2] S. P. Thornton dan A. Rex, , Modern
Physics 3rd ed., Thomson
Brooks/Cole, 2006.
[3] Sarojo, Ganijanti Aby.2011.
Gelombang Dan Optika. Jakarta :
Salemba Teknika.
[4]  Giancoli, Douglas C. 1991.Physics
Third Edition. New Jersey: Prentice
Hall.
[5] Priyambodo, Tri Kuntoro. 2010.
Fisika Dasar. Yogyakarta : ANDI
[6] Beiser, Arthur.1991.Konsep
Fisika Modern Edisi Ketiga. Jakarta
: Erlangga
LAMPIRAN

5
Laporan Praktikum – Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika – FMIPA Unsoed