Anda di halaman 1dari 1

Bu, hari ini langit tak bermega. Tak juga surya berlagak dengan terik dan silaunya.

Padahal
bukan panas ini hari. Namun peluh membandel menerobos pori, menguntai dan berakhir
pada ujung dagu yang tak runcing ini. Tidak pula sejuk terasa pada indera. Namun bagaikan
lama tak berpenghuni hati ini.

Pagi-pagi sekali, Ibu, dengan langkahmu yang nyaris tak berbunyi datang dan hampiri aku.
Samar tremor susah payah dan sedemikian rupa kau akali. Pikirmu tak mungkin terlihat
olehku.

“Ndak usah lagi lah mak ke tempat Pak Mantri, dek,” tuturmu setengah berbisik yang berhasil
mencuri perhatianku dari baris kabar kebakaran di pasar pagi. Kernyit di dahiku begitu mudah
kau baca, hingga cepat kau susulkan kata setelahnya.

“Udah sembuh pon rase-rasenye.”


Jelas senyum itu melengkung, bertarung saing dengan garis-garis usia ‘tuk hiasi parasmu.
Tapi lenganmu tak bisa berbohong, bu. Sebab sejak tadi gemetar kecil itu terlalu ketara untuk
lolos dari pengawasanku. Ya, mungkin kau juga tahu. Lantas akal pintarmu segera mencari
sebuah alasan hentikan sanggahan yang hapir terceloteh dari anakmu ini.

“Udah lah, kau berangkat kerje dulu. Nanti becarek bos kalok kau telat.”

Bu, dalihmu sengaja usir aku. Mungkin kau sangat tahu, bahwa terlalu lama bertukar kata
denganku hanya akan membongkar kebohonganmu.

Bu, bukan gerahnya hari maupun dinginnya angin yang meninggalkan jejak ketidak
nyamanan. Peluh berjatuhan sementara dingin menusuk sanubari. Sebab hari ini lagi-lagi
pengobatan tak terbeli. Jangankan itu, makanpun harus kita dapatkan dengan menjual mimpi.