Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

METODE PENELITIAN KUALITATIF


TEMA FANTASI

DISUSUN OLEH:

1. YOEL JOEY – 44317110016

2. AISHAH RIZKANANDA – 44317110021

3. CANRA TUKKOT P SINAGA – 44317110097

PROGRAM STUDI MARKETING COMMUNICATION & ADVERTISING

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2020
PENELITIAN KUALITATIF TEMA FANTASI

A. Pendahuluan
Analisis tema fantasi (fantasy theme) merupakan instrumen dari konvergensi simbolik
(Borman, 1972; Cragan dan Shield,1985). Tema fantasi merupakan makna, perhatian,
keuntungan yang jelas dapat diperoleh secara terbuka atau ter- sembunyi dari isi
pesan (Bormann 1972). Se- lanjutnya, Cragan dan Shield (1985) bahwa “reality is
created symbolically” atau suatu realitas merupakan simbolisasi yang diciptakan, di
mana orang-orang membangun persepsi mereka dari realitas, dan persepsi ini
menempatkan mereka lebih mengerti dan dapat meramalkan suatu realitas,
termasuk komunikasi dengan individu lainnya (Bormann, 1972) Benoit L. William,
Klyyukovsky A. Andrew, dan Airne David, (2001:380).
B. Pembahasan

1. Pengertian Penelitian Kualitatif Tema Fantasi


Perspektif dan analisis tema fantasi sebagai kritikal metode untuk retorika kritik.
Bormann (1972:21) menggambarkan bahwa analisis tema fantasi sebagai sebuah
instrumen untuk meng- evaluasi sebuah wacana retorik, yang mana di- fokuskan pada
pesan komunikasi, seperti dike- mukakan berikut bahwa; “...fantasy theme analysis
as a tool for evaluating a rhetorical discource, which fo- cuses on the message, as
opposed to the speaker (source), audience, or the situation”.
Lebih lanjut, Bormann (1972) dalam Bor- mann, Cragan, dan Sheild,1994;32-33)
mengiden- tifikasikan dua tingkatan level tema fantasi yaitu; level pertama, tema
fantasi dan visi retorik (rhetorical vision), yang kemudian menambahkan level
lanjutan tentang tipe fantasi (fantasy tipe). Dasar unit analisis adalah tema fantasi,
yang mana isi dramatisasi pesan mencetuskan rangkaian fantasi “is the content of the
dramatizing message that sparks the fantasy chain”. Tema fantasi menjadi
pengalaman dan dipertahankannya persepsi yang dibagi bersama terhadap sejumlah
realitas anggota kelompok. Dalam kelompok anggota mengubah sebuah kesepakatan
panjang dalam bentuk wa- cana aktual. Selanjutnya, tema fantasi diekspre- sikan
dalam sebuah ungkapan (phrase), kalimat (sentence), atau sebuah paragrap, kadang-
kadang anggota kelompok mengembangkan isyarat sim- bolik (symbolic cue) yang
mana merupakan se- buah kode, ungkapan, slogan, atau sebuah tanda verbal atau
gesture seperti dikutip Cragan dan Shields (1995) dalam Benoit L. William, Klyyu-
kovsky A. Andrew, dan Airne David, (2001:380- 381) “a code word, phrase, slogan, or
even a nonverbal sign or gesture. Sebuah isyarat simbol merupakan bentuk dari
tema-tema fantasi. Seperti isyarat-isyarat yang dapat dianggap sebuah teka- teki bagi
orang luar tetapi dimaknai secara tuntas oleh anggota-anggota kelompok.
Pemahaman dari fantasi kelompok dapat ditemukan dalam teks lisan dan pesan-
pesan tertulis dalam bentuk “fantasy themes” atau fan- tasy types”. Dimana hal ini
terjadi oleh Bales dijelaskan bahwa pada saat-saat tegang, ke- lompok-kelompok akan
menjadi dramatik dan berbagi cerita, atau tema-tema fantasi. Secara spesifik salah
satu cara kelompok-kelompok me- lepaskan ketegangannya adalah dengan cara
“narative” atau mendramatisir.
Seperti dikemukakan Bormann (1982:52) berikut; Fantasy theme are often narrative
about living people or historic personage or about an envisioned future. Berdasarkan
hal tersebut tema fantasi dijelaskan sebagai cerita atau narratives dimana membantu
anggota kelompok menerjemahkan (in-terpret) interaksi kelompok dan lingkungan
disekitar mereka. Tema fantasi berkembang ketika anggota kelompok dengan aktif
terlibat dalam dramatisasi, mengelaborasi, dan memodifikasi pesan atau cerita dalam
kelompok.
Dengan cara ini, cerita di depan umum dibagi bersama di dalam kelompok demikian
pula secara pribadi digunakan bersama oleh masing- masing anggota kelompok. Tema
fantasi ber- hubungan dengan kultur kelompok kecil dalam arti bahwa cerita-cerita
mengungkapkan identitas dan nilai dasar kelompok. “Fantasi” dalam kajian tema-
tema fantasi ini bukanlah fantasi yang berbentuk cerita khayalan atau gambaran
“erotis” di kepala anggota-anggota suatu komunitas kelompok. Fantasi dalam artian
dapat berbentuk senda-gurau atau cerita-cerita antar anggota kelompok yang
berfungsi untuk menurunkan ketegangan, ber- bentuk hal-hal atau pandangan-
pandangan formal dan serius untuk bersama-sama mencapai tujuan kelompok.
Secara rinci Bormann (1985:32-33), menyebutkan bahwa fantasi berupa: “...a code
word, phrase, slogan, or nonverbal sign or ges- ture: it may be a geographical or
imaginary placed or the name of a persona: it may arouse tears or evoke anger,
hatred, love and affec- tion as well as laughter and humor....”. Fantasi secara teknis
dijelaskasn Borman (1985:35) dalam teori konvergensi simbolik merupakan hasil
interpretatif dari peristiwa yang memenuhi kebutuhan psikologis atau retoris dalam
bentuk imajiner atau tidak didasarkan pada kenyataan, seperti dijelaskannya:

2. Prinsip-Prinsip Metodologi Penelitian Tema Fantasi


Metode yang digunakan untuk analisis meminjam metode Bormann tentang cara
melakukan analisis tema fantasi. Bormann menunjukkan bahwa peneliti harus mulai
dengan bukti yang terkait dengan pengumpulan manifestasi isi pesan komunikasi
seperti dikemukakan berikut ini: “by collecting evidence related to the manifest
content of the communication...” (Bormann, 1985:401). Manifestasikan isi pesan
merupakan inti dari bukti yang dibutuhkan untuk melakukan analisis tema fantasi.
Memilih manifes isi pesan penting untuk dapat memberikan data-data yang
diperlukan. Isi pesan sebagai “artefak” dari penelitian. Kemudian, menemukan dan
menggam- barkan narasi dari dramatisasi pesan yang telah terangkai dalam visi retoris
kelompok. Materi dramatik ini tindakan dan pengaturan tema fan- tasi. Material
dramatik mencakup “patterns of characterizations..., of dramatic situation and
actions..., and of setting...” (Bormann, 1985: 401).

3. Teknik Sampling
Penentuan informan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik non-
probability sampling atau non-random jenis purposive sampling. Purposive sampling
berfokus pada pemilihan kasus (individu) yang memiliki informasi tertentu yang dapat
menjawab pertanyaan penelitian (Patton, 2002). Dalam purposive sampling, peneliti
telah menentukan terlebih dahulu karakteristik kelompok kecil yang akan diobservasi
langsung. Penentuan informan dalam penelitian yang menggunakan metode penelitian
kualita- tif. Seperti yang dikemukakan Bogdan Taylor yang dikutip Isyanto Bekti (dalam
Jurnal Ilmu Komuni- kasi, 2011:20), metode kualitatif sebagai suatu prosedur penelitian
yang menghasilkan data des- kriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan dari orang-
orang dan perilaku yang diamati, yang dia- rahkan pada latar dan individu secara holistik
dan menyeluruh.

4. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data pada pendekatan studi kasus berupaya mendeterminasikan luasnya
cakupan kehidupan sosial subjek dengan menggunakan berbagai sumber data. Sehingga
beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah;
- Observasi-partisipan (Partisipan observer)
- Wawancara mendalam (In-depth Interview)
- Metode Dokumenter (Documenter method).
Tahapan analisis data kualitatif bersifat induktif berusaha memahami proses sosial yang
berlangsung dan makna dari fakta-fakta nampak, dengan langkah-langkah sebagai
berikut; pertama, reduksi data (data reduction), kedua, penyajian data (data display),
dan ketiga, penarikan kesimpulan (conclusion drawing and verfication).

IDENTIFIKASI JOURNAL
Judul Journal :

Tema-Tema Fantasi dalam Komunikasi Kelompok Muslim-Tionghoa

Dibuat oleh :

Arianto

Masalah Penelitian

Kelompok Muslim-Tionghoa di Kota Makassar tergolong dinamis dan pandai berbahasa


Makassar dalam berkomunikasi. Selain persentase pertambahan keanggotaan kelompoknya
yang terus bertambah, mereka memiliki banyak kegi- atan, misalnya: pengajian dan arisan,
kajian tafsir Al-Quran dan Hadist, peringatan hari besar Islam, dan berbagai kegiatan sosial
adalah sebagaian kegiatan kelompok yang di lakukan kaum Muslim-Tionghoa di Kota Makassar.
Proses ini menciptakan harmonisasi dengan menggunakan cara yang diungkapkan di atas maka
perlu dikaji pandangan anggota dalam kelompok dengan menggunakan pola naratif atau
wacana dialektik dalam berkomunikasi kelompok akan realitas yang dipandu oleh cerita-cerita
yang merefleksikan bagaimana sesuatu itu dipercaya, dimengerti, dipahami, dan diaplikasikan.
Cerita- cerita ataupun yang di sebut tema fantasi dibagi melalui interaksi simbolik dalam
kelompok, dan kemudian dihubungkan dari satu orang ke orang lain ataupun dari suatu
kelompok ke kelompok lainnya, terbagi dalam suatu pemahaman kerangka konsep konvergensi
simbolik.

Wacana dialektik itu membawa suatu kajian analisis tema fantasi dalam kelompok Muslim-
Tionghoa di kota Makassar menjadi menarik di kaji dan ditelusuri berdasarkan pengembangan
penerapan pemikiran Robert Bales dan Bormann ini. Proses ini berlangsung di saat
kecenderungan anggota-anggota kelompok Muslim-Tionghoa menjadi dramatis dan kemudian
berbagi cerita, lelucon, kisah, ritual, perumpamaan atau permainan kata-kata (wordplay)
ternyata memiliki dampak yang penting dalam mengurangi ketegangan kelompok (tension
release) bahkan mampu meningkatkan kesolidan dan kekompakan (kohesifitas) kelompok
mereka.

Teori yang digunakan:

Konvergensi Simbolik Dalam Kelompok

Penekanan tentang teori konvergensi sim- bolik adalah upaya menjelaskan bagaimana orang
secara kolektif berdasarkan kesadaran simbolik yang sama berkomunikasi untuk menyampai-
kan makna, emosi, dan motif untuk berperilaku. Konvergensi simbolik menjelaskan bagaima- na
manusia saling berbagi realitas simbolik yang sama.

Teori konvergensi simbolik diilhami dari hasil riset Rober Bales (1950,1970) kemudian dijelaskan
Bormann (1982:51) mengenai analisis proses interaksi komunikasi yang berlangsung dalam
kelompok-kelompok kecil. Proses dina- misasi dan pola berbagi fantasi pada kelompok
(Dynamic Process Sharing of Group Fanta- sies). Proses dinamisasi dari berbagi fantasi ke-
lompok dalam fenomena komunikasi yang bera- nekaragam. Mulai dari satu atau lebih orang
yang berpartisispasi dalam isi naratif untuk pesan yang dramatik.
Konvergensi mengarah pada cara, dimana selama proses hasil konteks komunikasi, dua atau
lebih dunia pribadi simbolik terhadap yang lain, menjadi kompleks bersama, atau saling
tumpang tindih dalam Benoit L. William, Klyyukovsky A. Andrew, dan Airne David, (2001:381)
terjadi ke- tika masing-masing atau beberapa orang mengem- bangkan dunia simbolik pribadi
mereka untuk saling melengkapi, seperti hasil dari konvergensi simbolik, sehingga mereka
memiliki dasar untuk menyampaikan kepada yang lain untuk men- ciptakan komunitas, untuk
mendiskusikan penga- laman bersama, dan untuk menciptakan pema- haman bersama.

Selain itu, teori ini dapat juga diaplikasi- kan pada berbagai konteks komunikasi, namun
sebagaimana dikemukakan di atas penelitian- penelitian awal yang kemudian memunculkan
teori ini berlangsung dalam konteks komunikasi kelompok. Dengan demikian tidak
mengherankan bila kemudian para pakar komunikasi seperti Grif- fin, Saiwen dan Stack,
Hirogawa dan Poole, dan Miller menempatkan teori ini dalam konteks komunikasi kelompok.

Tahapan Metode yang digunakan


Jenis Penelitian
Metode yang digunakan untuk analisis meminjam metode Bormann tentang cara me- lakukan
analisis tema fantasi. Bormann menun- jukkan bahwa peneliti harus mulai dengan bukti yang
terkait dengan pengumpulan manifestasi isi pesan komunikasi seperti dikemukakan berikut ini:
“by collecting evidence related to the manifest content of the communication...” (Bormann,
1985:401). Manifestasikan isi pesan merupakan inti dari bukti yang dibutuhkan untuk
melakukan analisis tema fantasi. Memilih manifes isi pesan penting untuk dapat memberikan
data-data yang diperlukan. Isi pesan sebagai “artefak” dari penelitian.

Instrumen Pengumpulan Data

a. Observasi partisipan (offline), pengamatan secara offline digunakan peneliti


untuk lebih memahami karakter individu ketika berada di dunia nyata, apakah
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di dunia online atau sebaliknya. Observasi
partisipan offline ini sudah dilakukan peneliti saat ikut bergabung dengan
beberapa informan.
b. Face to face interviews (offline), peneliti dan informan akan bertemu tatap muka
langsung sambil melakukan interview, face to face interview ini dilakukan untuk
memperdalam interview online. Face to face interview ini juga dilakukan untuk
memahami hubungan antara apa yang informan katakan dan lakukan. Pola
interview online dan face to face ini merupakan pola yang harus dilakukan
peneliti etnografi virtual, untuk mencegah bias informasi dan ketidakpastian
validasi data.
c. Dokumentasi (Documenter)

Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari
hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat dipahami dengan
mudah, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Miles and Hubermen
(Sugiyono, 2011:246-252) mengungkapkan komponen dalam analisis data, yaitu :

1. Reduksi Data
Reduksi data (Data reduction) Melakukan pengumpulan terhadap informasi penting
yang terkait dengan masalah penelitian, selanjutnya data dikelompokkan sesuai topik
masalah. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang
lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data
selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Penyajian Data
Penyajian Data (Display) Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan,
hubungan antar kategori. Untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah
dengan teks yang bersifat naratif. Dengan penyajian data, maka akan memudahkan
untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa
yang telah di fahami tersebut.
3. Verifikasi Data
Verifikasi data (Verivication) Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat
sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti - bukti yang kuat yang mendukung
pada tahap berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal,
didukung oleh bukti -bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan
mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang
kredibel.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian analisis berbagi tema-tema fantasi dalam kelompok Muslim- Tionghoa adalah
sebagai berikut; (1) Berbagi tema-tema fantasi kelompok Muslim-Tionghoa, meliputi:
Keutamaan Shalat, tema fantasi IslamAnti Kekerasan, dan tema fantasi Pengetahuan Sifat Allah.
Tema-tema fantasi tersebut dapat membantu anggota kelompok Muslim-Tionghoa menafsirkan
interaksi dan menciptakan realitas sosial dalam kelompoknya; (2) Berbagi tema fantasi
kelompok Muslim-Tionghoa dilakukan untuk menjaga, memelihara, dan menciptakan
komunikasi em- patik. Tujuannya meningkatkan komitmen pada penggunaan simbol sehingga
mereka dapat berempati dan memiliki identitas yang membe- dakannya dari kelompok lain,
misalnya, menggu- nakan isyarat simbolik untuk menyamakan pikiran anggota kelompok
melalui apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukannya. Pola berbagi tema- tema fantasi yang
dikomunikasikan antara anggota dalam mengembangkan penafsiran umum dari pengalaman
mereka dengan interpretasi bersama menggunakan isyarat-isyarat simbolik; (3) Ka- rakteristik
retoris terbentuk dari pola komunikasi kelompok yang sangat terbuka dan akrab, dengan tidak
adanya tidak kesepakatan di antara fantasi anggota-anggota kelompok. Sebuah fantasi
kelompok untuk menciptakan rasa kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama. Unsur tema
fantasi yang mampu mengubah dan mengarahkan sikap yang ada pada tata kehidupannya.
IDENTIFIKASI JOURNAL
Judul Journal :

TEMA-TEMA FANTASI MELALUI HUMOR DALAM AKUN INSTAGRAM @gita_bhebhita

Dibuat oleh :

Yuliana Caesaria, Roro Retno Wulan

Masalah Penelitian

Media sosial Instagram saat ini telah menjadi media yang memiliki banyak manfaat, salah
satunya adalah sebagai bentuk presentasi diri. Melalui berbagai genre, individu menunjukkan
dirinya lewat setiap postingan dalam akun Instagramnya, salah satunya adalah melalui humor.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tema- tema fantasi dalam akun Instagram
@gita_bhebhita sebagai penggambaran identitas diri perempuan Batak. Bhebhita membentuk
tema-tema fantasi melalui humor dan narasi yang disampaikan melalui akun Instagram.
Munculnya kesadaran perempuan akan presentasi dirinya dan didukung juga dengan
perkembangan jaman yang semakin modern, saat ini perempuan tidak lagi hanya menjadi objek
humor tetapi juga bisa menjadi subjek humor itu sendiri. Oleh sebab itu, melalui penelitian ini,
peneliti berupaya menganalisis bagaimana Gita Bhebhita melalui humor dalam akun
Instagramnya perempuan Batak yang digambarkan oleh Gita Bhebhita melalui video- video
dalam Instagramnya.

Gita Bhebhita, yang merupakan perempuan Batak asli, memberikan makna dan pesan kepada
pengikutnya di Instagram melalui humor yang menceritakan bagaimana perempuan Batak
makan, perempuan Batak ketika sedang menonton televisi, perempuan Batak ketika sedang
bersama teman-temannya, perempuan Batak berbicara di telefon dan sebagainya, yang
nantinya bisa memperbaiki stereotip yang ada selama ini dan menggambarkan identitas diri
perempuan Batak. Proses mengirim pesan dalam komunikasi dapat menciptakan sebuah makna
yang terdapat dalam suatu pesan.
Teori yang digunakan:
A. Humor
Humor merupakan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kelucuan serta dapat
menimbulkan efek tertawa yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Humor
adalah sesuatu yang bisa menimbulkan tawa (Schopener dalam Sarwoko, 2011:18).
Humor dilakukan oleh seseorang maupun kelompok orang yang bertujuan untuk
mengurangi berbagai macam beban pikiran dalam kehidupan yang ada di sekitar
manusia. Humor dapat digunakan sebagai pertahanan melawan rasa takut, yang
memungkinkan orang memperoleh kendali

B. Computer Medicated Communication

Computer Meditiated Communication (CMC) mempelajari bagaimana perilaku manusia


dibentuk melalui pertukaran informasi menggunakan media computer khususnya
internet. Dalam era teknologi informasi saat ini, mode komunikasi yang kita jalani telah
diperantarai Internet dan telah bergerak secara cepat menuju apa yang disebut dengan
Computer Mediated Communication (CMC) atau komunikasi yang dimediasi oleh
komputer. Dalam konteks ini, computer-mediated communication (CMC) dipandang
sebagai integrasi teknologi komputer dengan kehidupan kita sehari-hari (Wood, 2005:4).
Hal yang dimaksud disini bukanlah bagaimana dua mesin atau lebih dapat saling
berinteraksi, namun bagaimana dua orang atau lebih dapat berkomunikasi satu dengan
lainnya dengan menggunakan alat bantu komputer melalui program aplikasi yang ada
pada komputer tersebut. Dengan ini dapat diketahui bahwa yang diperlukan partisipan
CMC dalam menjalankan komunikasi dengan komunikannya harus melibatkan dua
komponen, yaitu komputer dan jaringan internet saja, namun dalam komputer tersebut
harus terdapat program atau aplikasi tertentu yang memungkinkan komunikator untuk
berinteraksi dengan komunikannya (Thurlow,Crispin, dkk, 2004:15).

C. Stereotip

Stereotip merupakan penilaian yang sangat pribadi dari seseorang kepada orang lain
berdasarkan kelompok etnik atau ras tertentu menilai negatif maupun positif
berdasarkan sedikit informasi dan membentuk penilaian berdasarkan keanggotaan
mereka dalam suatu kelompok. Stereotip merupakan sikap dan bahkan karakter yang
dimiliki seseorang untuk menilai karakteristik, sifat-sifat negatif atau positif orang lain,
berdasarkan keanggotaan orang itu pada kelompok tertentu (V erdeber dalam Liliweri,
2009:207). Sehingga bisa dikatakan stereotip adalah kategorisasi atas suatu kelompok
secara serampangan dengan mengabaikan perbedaan individual. Kelompok-kelompok
ini mencakup kelompok ras, kelompok etnik, atau orang dengan penampilan fisik
tertentu (Mulyana, 2007:237).

D. Konvergensi Kelompok

Teori konvergensi simbolik diilhami dari riset Robert Bales mengenai komunikasi dalam
kelompok- kelompok kecil. Teori ini menjelaskan tentang proses pertukaran pesan yang
menimbulkan kesadaran kelompok yang menghasilkan hadirnya makna, motif, dan juga
persamaan bersama. Kesadaran kelompok yang terbangun dalam suatu kelompok dapat
membangun semacam makna, motif untuk bertindak bagi orang-orang dalam kelompok
tersebut (Bormann, dalam Suryadi, 2010). Symbolic Convergence Theory (SCT),
menjelaskan bahwa makna, emosi, nilai dan motif untuk tindakan di retorika yang
dibuat bersama oleh orang yang mencoba untuk memahami dari pengalaman yang
umum, seperti keragaman kehidupan. Artinya teori ini berusaha menerangkan
bagaimana orang-orang secara koletif membangun kesadaran simbolik bersama melalui
suatu proses pertukaran pesan.

Tahapan Metode yang digunakan


Jenis Penelitian

Metode penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis tema
fantasi dengan paradigma konstruktivis. Analisis tema fantasi dalam paradigma ini menekankan
pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna.
Instrumen Pengumpulan Data

d. Observasi partisipan (offline), pengamatan secara offline digunakan peneliti


untuk lebih memahami karakter individu ketika berada di dunia nyata, apakah
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di dunia online atau sebaliknya. Observasi
partisipan offline ini sudah dilakukan peneliti saat ikut bergabung dengan
beberapa informan.
e. Face to face interviews (offline), peneliti dan informan akan bertemu tatap muka
langsung sambil melakukan interview, face to face interview ini dilakukan untuk
memperdalam interview online. Face to face interview ini juga dilakukan untuk
memahami hubungan antara apa yang informan katakan dan lakukan. Pola
interview online dan face to face ini merupakan pola yang harus dilakukan
peneliti etnografi virtual, untuk mencegah bias informasi dan ketidakpastian
validasi data.
f. Dokumentasi (Documenter)

Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari
hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat dipahami dengan
mudah, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Miles and Hubermen
(Sugiyono, 2011:246-252) mengungkapkan komponen dalam analisis data, yaitu :

4. Reduksi Data
Reduksi data (Data reduction) Melakukan pengumpulan terhadap informasi penting
yang terkait dengan masalah penelitian, selanjutnya data dikelompokkan sesuai topik
masalah. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang
lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data
selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
5. Penyajian Data
Penyajian Data (Display) Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan,
hubungan antar kategori. Untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah
dengan teks yang bersifat naratif. Dengan penyajian data, maka akan memudahkan
untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa
yang telah di fahami tersebut.

6. Verifikasi Data
Verifikasi data (Verivication) Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat
sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti - bukti yang kuat yang mendukung
pada tahap berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal,
didukung oleh bukti -bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan
mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang
kredibel.

Hasil Penelitian

Gita Bhebhita menggambarkan dirinya sebagai sosok Perempuan Batak melalui tema-tema
fantasi yang disampaikan melalui humor- humornya yaitu: (1) Lemah Soal Urusan Keluarga;
(2)Bukan Perempuan Berhati Baja; (3)Cara Bicara Sama Kawan; (4)Perempuan yang Tidak Malu
Untuk Menjadi Dirinya; (5)Perempuan yang Tegas. Tema-tema fantasi tersebut bertujuan untuk
mencapai tujuan interaksi dan menciptakan realitas sosial antara Gita Bhebhita dengan para
pengikutnya di Instagram sebagai bentuk penggambaran diri sosok perempuan Batak sebagai
salah satu upaya dalam memperbaiki stereotip perempuan Batak.

2. Para pengikut akun Instagram @gita_bhehbita menerima dan mengaktualisasikan tema-


tema fantasi dalam humor @gita_bhebhita sebagai bentuk karakteristik retoris dari pola
komunikasi yang sangat terbuka dan bisa diterima. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang
digunakan Gita Bhebhita dalam proses penyampaian pesan, diterima oleh pengikut akun
Instagramnya yang akhirnya menghasilkan pengembangan penafsiran dan pengalaman mereka
berdasarkan cerita yang dibuat oleh Gita Bhebhita melalui video-video dalam akun
Instagramnya.
DAFTAR PUSTAKA

Bormann, Ernest. 1985. The Force of Fantasy Restoring the American Dream, USA:
Southern Illinois University, Carbondale and Edwardsville.

Gudykunst, B. William & Mody, B. 2002. Handbook of International and Intercultural


Communication second edition. California: Sage Publications, Inc.

https://www.google.com/search?
client=safari&rls=en&q=tahapan+penelitian+kualitatif+metode+tema+fantasi&ie=UTF-
8&oe=UTF-8#
https://media.neliti.com/media/publications/103647-ID-tema-tema-fantasi-dalam-komunikasi-
kelom.pdf