Anda di halaman 1dari 37

PENGUJIAN HIPOTESA

VII. PENGUJIAN HIPOTESA

7.1. PENDAHULUAN

Pada bab-bab sebelumnya


telah dipelajari cara menaksir
parameter, berdasarkan penak-
siran yang dilakukan kemudian
kesimpulan dibuat, bagaimana
atau berapa besar harga para-
meter tersebut.
Dalam bab ini cara mengambil
kesimpulan kedua akan diajar-
kan melalui pengujian hipotesa.
Hipotesis adalah asumsi/dugaan
mengenai sesuatu hal yang kita
buat, untuk menjelaskan hal
tersebut kita sering dituntut
untuk melakukan pengujian.
Jika asumsi/dugaan itu dikhu-
suskan mengenai populasi umum-
nya mengenai nilai-nilai parameter
populasi maka hipotesis itu dise-
but hipotesis statistik.

Misal:
a. Peluang lahirnya bayi laki-laki
adalah 0.5
b. Tiga puluh persen masyarakat
mempunyai golongan darah A
Setiap hipotesis dapat benar
atau salah dan perlu diadakan
penelitian sebelum hipotesis itu
diterima atau ditolak.

Langkah atau prosedur untuk


menentukan apakah menerima
hipotesis dinamakan Pengujian
Hipotesis.
7.2. DUA MACAM KESALAHAN

Untuk pengujian hipotesis,


dilakukan penelitian, sampel-
sampel diambil secara acak,
nilai-nilai statistik yang perlu
dihitung, kemudian dibanding-
kan (dengan kriteria tertentu)
dengan hipotesis.
Jika hasil yang didapat dari
penelitian itu dalam pengertian
peluang jauh berbeda dengan
hasil yang diharapkan terjadi
berdasarkan hipotesis maka
hipotesis ditolak, jika terjadi
sebaliknya hipotesis diterima.
Perlu dijelaskan disini meskipun
berdasarkan penelitian kita telah
menerima/menolak hipotesis ti-
dak berarti bahwa kita telah
membuktikan kebenaran hipo-
tesis, yang kita perlihatkan
hanyalah menerima atau me-
nolak hipotesis saja.
Dalam melakukan pengujian
hipotesis ada dua macam kesalah-
an yang dapat terjadi, dikenal
dengan nama:

Kesalahan jenis I:
Yaitu menolak hipotesis
yang seharusnya diterima
Kesalahan jenis II:
Yaitu menerima hipotesis
yang seharusnya ditolak
Untuk mengingat hubungan
antara hipotesis, kesimpulan dan
tipe kesalahan dapat dilihat dalam
tabel dibawah ini:

Keadaan sebenarnya
Kesimpulan
Hip benar Hip salah
Terima Hip BENAR Kes Tipe 1

Tolak Hip Kes Tipe 2 BENAR


Pada saat merencanakan
suatu penelitian pada pengujian
hipotesis jelas kiranya bahwa
kedua tipe kesalahan itu harus
dibuat sekecil mungkin. Agar
penelitian dapat dilakukan maka
kedua tipe kesalahan itu kita
nyatakan dalam peluang.
Peluang membuat kesalahan
jenis 1 biasanya dinyatakan
dengan  (alpha) dan peluang
membuat kesalahan jenis 2
dinyatakan dengan  (beta).
Berdasarkan ini pula maka
kesalahan jenis 1 dinamakan
kesalahan  dan kesalahan jenis
2 dinamakan kesalahan .
Dalam penggunaannya 
disebut taraf nyata. Besar kecilnya
 dan  yang dapat diterima dalam
mengambil kesimpulan tergantung
pada akibat-akibat atas dibuatnya
kesalahan-kesalahan itu. Kedua
kesalahan itu saling berkaitan
artinya jika  diperkecil maka 
menjadi besar demikian pula
sebaliknya.
Pada dasarnya harus dicapai
hasil pengujian hipotesis yang
baik, yaitu pengujian yang bersifat
bahwa diantara semua pengujian
yang dapat dilakukan dengan
harga  yang sama besar dan
mempunyai kesalahan  paling
kecil. Prinsip demikian ini memer-
lukan pemecahan matematika
yang sudah keluar dari tujuan
Statistik Inferensial.
Untuk keperluan praktis 
diambil lebih dahulu dengan
harga yang biasa digunakan yaitu
 = 0.05 atau  = 0.01. Nilai  =
0.05 atau sering disebut taraf
nyata 5 persen, berarti sebesar 5
dari tiap 100 kesimpulan kita
akan menolak hipotesis yang
seharusnya diterima.
Atau dengan kata lain kira-kira
95 persen kita yakin telah
membuat kesimpulan yang benar.
Dalam hal demikian dikatakan
bahwa hipotesis telah ditolak
pada taraf nyata 0.05 yang
berarti kita mungkin berbuat
salah dengan peluang 0.05.
7.3. LANGKAH-LANGKAH
PENGUJIAN HIPOTESIS

1. Mula-mula kita rumuskan


hipotesis yang akan diuji
disertai dengan keterangan
seperlunya, hipotesis ini
disebut Hipotesis Nol (Ho).
a. Hipotesis yang mengandung
pengertian sama.

Misal kita akan menguji suatu


dugaan bahwa masa simpan
makanan ayam sekitar 3 bulan.
Ho :  = 3 bulan, ini berarti rata-
rata masa simpan pakan
ayam tersebut 3 bulan.
Ho : p = 80 %, hanya sekitar 80
persen peserta ujian statistik
yang lulus.
b. Hipotesis yang mengandung
pengertian maksimum.

Misal kita akan menguji suatu


pernyataan perusahaan yang mem-
beri jaminan tentang “angka ke-
matian doc yang dikirim dengan
Kereta Api maksimum 5 persen”.
Ho : p < 5 % , angka kematian doc
yang dikirim dengan K.A
maksimum 5 persen.
c. Hipotesis yang mengandung
pengertian minimum.

Misal kita ingin menguji


makanan dalam kaleng, setelah
tutupnya dibuka maka pada
umumnya isinya akan rusak paling
cepat 4 hari.
Ho :  > 4 hari, paling cepat
bahan tsb akan rusak dalam
waktu minimum 4 hari.
2. Setelah Ho dibuat, selanjutnya
perlu dirumuskan Hipotesis
tandingan (H1) yang sesuai
dengan Ho-nya. Isi dari H1
harus bertentangan dengan
Ho, sehingga berdasarkan
pengamatan sampel dan
pengujian, nantinya kita
dapat menentukan apakah
kita menerima Ho atau H1.
a. H1 :   3 bulan, rata-rata
masa simpan pakan ayam
tersebut tidak sama dengan
3 bulan artinya dapat > 3
atau < 3 bulan.

H1 : p  80 %, peserta yang
lulus ujian statistik dapat
lebih besar atau lebih kecil
dari 80 %.
b. H1 : p > 5 %, angka
kematian doc tidak sesuai
dengan jaminan karena > 5 %

c. H1 :  < 4 hari, setelah


dibuka tutupnya daya tahan
makanan kaleng tersebut
kurang dari 4 hari.
3. Setelah Ho dan H1 dirumus-
kan, langkah selanjutnya
adalah mengambil sampel
untuk pengujian dan
melakukan perhitungan-
perhitungan statistik. Dalam
proses perhitungan tadi kita
tidak dapat lepas dari sifat-
sifat distribusi samplingnya.
4. Tentukan batas-batas pene-
rimaan dan penolakan
hipotesis. Kriteria ini bia-
sanya didasarkan atas :

a. Taraf nyata (significant


level=) yang telah ditentu-
kan sebelum penelitian
dilaksanakan.
b. Daerah-daerah dalam leng-
kung distribusi normal
(apabila sampel besar) dan
daerah-daerah dalam leng-
kung distribusi student
(apabila sampel kecil).

c. Tentukan bentuk pengujian


nya apakah uji dua arah
atau uji satu arah.
5. Setelah kriteria suatu pengu-
jian ditentukan dan hasil dari
penelitian/pengamatan
diperoleh (Z hit; t hit; 2 hit
atau F hit) maka banding-
kanlah antara hasil penelitian
tersebut dengan kriteria tadi.
Jika nilai tadi ada dalam
daerah penerimaan maka hal
ini berarti berdasarkan pene-
litian Ho diterima, bila berada
dalam daerah penolakan maka
H1 diterima (Ho ditolak).
6. Tindakan terakhir berdasarkan
penelitian tersebut dibuat
kesimpulan.
7.4. PENGUJIAN SEARAH DAN
DUA ARAH

Ada dua macam cara


pengujian yaitu pengujian
searah dan pengujian dua arah.
Mana yang akan kita pilih
tergantung pada perumusan
hipotesisnya (Ho dan H1 nya).
1. Ho :  < c atau Ho :  > c
H1 :  > c H1 :  < c

Maka kita gunakan pengujian


searah (One Tail Test), pada
pengujian distribusi normal
diperoleh:
-1.645 1.645
------|------------------------------------ ------------------------------------|------
DP D. Penerimaan D.Penerimaan DP

 = P [Z<-1.645] = 0.05  = P [Z>1.645] = 0.05


2. Ho :  = c
H1 :   c

Maka digunakan pengujian


dua arah (Two Tail Test), pada
pengujian distribusi normal
diperoleh:
-1.96 1.96
-----|-----------------------------------------------------|-------
DP Daerah Penerimaan DP
 = P [|Z| > 1.96 ] = 0.05
Keputusan uji hipotesis:
misal k yang dapat berupa Z hit /
t hit / 2 hit / F hit
Bila :
a. k <  0.05 ns
b.  0.05 < k <  0.01 (*)
c. k >  0.01 (**)

ns) non significant (tidak beda)


*) significant (beda nyata)
**) highly significant (beda sangat nyata)
a b c

0.05 0.01