Anda di halaman 1dari 11

BAB VII PERANAN BANK DALAM PASAR UANG

A. PASAR UANG SEKALI LAGI


Asal dari kata bank adalah dari bahasa Italia yaitu banca yang berarti tempat
penukaran uang. Secara umum pengertian bank adalah sebuah lembaga intermediasi
keuangan yang umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang,
meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai banknote.
Sedangkan pengertian bank menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank
adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya
dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dengan kata lain Bank adalah sebuah
lembaga intermediasi keuangan umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima
simpanan uang, meminjamkan uang, dan menerbitkan promes atau yang dikenal sebagai
banknote. Kata bank berasal dari bahasa Italia banca berarti tempat penukaran
uang  Sedangkan menurut Undang-undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
1998 Tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah
badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya
dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
B. PROSES TRANSAKSI PASAR UANG
Pasar yang memperjualbelikan surat berharga jangka pendek yang jangka waktunya
tidak lebih dari satu tahun.
a. Macam-macam transaksi yang terdapat di Pasar Uang
a. Pasar Uang antar Bank, adalah transaksi untuk menyerahkan sejumlah kelebihan dana
dari suatu Bank kepada Bank yang lain, di mana Bank yang menerima dana sedang
kalah kliring. Kalah kliring artinya sebuah Bank yang kekurangan dana untuk
membayar kepada nasabahnya.
b. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah sejenis surat berharga yang dikeluarkan oleh
Bank Indonesia selaku Bank Sentral dan ditujukan untuk dibeli oleh Bank Umum
dengan nilai nominal yang sangat besar. Tujuan bank Indonesia mengeluarkan SBI
untuk mengurangi peredaran uang di dalam masyarakat.
c. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank
Umum dan dibeli oleh Bank Indonesia dengan nilai nominal yang cukup besar.
Tujuannya untuk meningkatkan likuiditas Bank Umum dan menekan laju inflasi.
Likuiditas adalah kemampuan Bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.
d. Sertifikat Deposito, adalah semacam surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank dalam
nilai nominal tertentu sebagai surat atas unjuk.
e. Pasar Valuta Asing, yaitu tempat seseorang dapat membeli atau menjual sejenis mata
uang asing atau menukar dengan mata uang rupiah. Pasar Valuta Asing sering disebut
Bursa Valuta Asing. Lembaga yang mengkhususkan kegiatannya dalam pertukaran
uang asing disebut Money Changer
C. BANK SEBAGAI PERANTARA KEUANGAN
Begitu Besar peranan bank kaitannya sebagai perantara uang ini menujukkan betapa
pentingnya keberadaan bank dalam perekonomian modern, antara lain :
a. Penciptaan uang
b. Mendukung Kelancaran Mekanisme Pembayaran
c. Penghimpunan Dana Simpanan Masyarakat
d. Mendukung Kelancaran Transaksi Internasional
e. Penyimpanan Barang-Barang Berharga
f. Pemberian Jasa-Jasa Lainnya

D. BANK SEBAGAI PENCIPTA UANG


Penciptaan uang adalah proses memproduksi atau menghasilkan uang baru. Terdapat
tiga cara untuk menciptakan uang:
a. Dengan cara mencetak mata uang kertas atau uang logam,
b. Melalui pengadaan utang dan pinjaman,
c. Melalui beragam kebijakan pemerintah, misalnya seperti pelonggaran kuantitatif.
PERUM PERURI atau Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia
adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ditugasi untuk mencetak uang rupiah (baik
uang kertas maupun uang logam) bagi Republik Indonesia, sesuai dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 32 tahun 2006.Selain mencetak uang rupiah Republik Indonesia, juga
mencetak produk sekuriti lainnya, termasuk cetakan kertas berharga non uang dan logam non
uang.

BAB VIII TEORI PENAWARAN UANG


A. TEORI PENAWARAN UANG TANPA BANK
Teori ini merupakan teori yang paling sederhana. Teori ini merupakan gambaran dari
sistem standar emas, ketika emas menjadi satu-satunya alat pembayaran. Jumlah uang
beredar atau uang yang ditawarkan di masyarakat naik atau turun sesuai dengan tersedianya
emas di masyarakat. Dalam sistem moneter seperti itu, uang beredar ditentukan oleh proses
pasar. Adapun pemerintah, Bank Sentral, ataupun perbankan tidak memiliki pengaruh
terhadap besarnya uang yang beredar. Semuanya serba otomatis dan sebenarnya tidak ada
alasan bagi pemerintah atau Otorita Moneter untuk melakukan campur tangan di pasar uang
( yaitu melaksanakan kebijakan moneter ). Dalam hal ini, penawaran uang hanya bertambah
jika orang memproduksi emas (baru). Jadi, jumlah uang beredar bergantung pada perilaku
produsen emas. Produsen emas hanya akan memproduksi apabila menguntungkan. Sekarang,
karena emas adalah alat pembayaran yang umum, maka harga emas naik berarti pula bahwa
barang-barang turun dan begitu sebaliknya.
B. TEORI PENAWARAN UANG MODERN
Dalam perekonomian modern, para produsen emas tidak lagi memiliki peranan
moneter yang penting seperti dalam sistem standar emas. Dalam sistem standar kertas,
sumber dari terciptanya uang beredar, yaitu otoritas moneter (Bank Sentral). Otoritas moneter
merupakan produsen uang inti atau uang primer. Adapun lembaga keuangan (perbankan)
merupakan produsen uang sekunder bagi masyarakat. Keduanya berhubungan sangat erat
karena uang sekunder (uang giral) hanya bisa tumbuh karena ada uang primer. Uang
sekunder diciptakan oleh bank berdasarkan atas uang primer yang dipegang bank (cadangan
bank). Jadi, sebenarnya pasar uang itu terdiri dari 2 “sub-pasar”, yaitu sub-pasar uang primer
dan sub-pasar uang sekunder. Masing-masing mempunyai permintaan” dan “penawaran”nya,
namun kedua sub tersebut sangat erat berhubungan satu sama lain. Sub-pasar uang primer
bersifat lebih fundamental karena uang sekunder (giral) hanya bisa tumbuh karena ada uáng
primer. Proses terciptanya uang beredar adalah merupakan “proses pasar” artinya hasil
interaksi antara permintaan dan penawaran, dan bukan sekedar pencetakan uang atau suatu
keputusan Pemerintah belaka. Apabila misalnya pada suatu waktu permintaan akan uang inti
maupun sekunder tidak “klop” dengan penawaran uang inti dan sekunder, maka para pelaku
dalam pasar uang masing-masing akan melakukan “penyesuaian” berupa tindakan-tindakan
di kedua sub-pasar uang sehingga akhirnya terjadi keseimbangan antara permintaan dan
penawaran. Karena ke dua sub-pasar tersebut sangat erat terkait satu sama lain, maka para
pelaku tersebut baru berhenti melakukan tindakan-tindakan penyesuaian hanya apabila
permintàan dan penawaran di masing-masing sub-pasar mencapai keseimbangan secara
bersarna-sama (simultan).
Keseimbangan sesungguhnya atauequilibrium akan terjadi apabila keseimbangan di
kedua sub pasar tersebut. Apabila sub pasar inti sudah mengalami keseimbangan, akan tetapi
sub pasar sekunder belum mencapai keseimbangan maka akan terjadi proses penyesuaian
oleh para pelaku pasar sekunder dan otomatis membuat sub pasar inti juga tidak terdapat pada
titik yang seimbang. Penyesuaian menuju equilibrium harus dilakukan bersama antara sub
pasar inti maupun sekunder. Hal ini mengingat karena kedua sub pasar tersebut erat
kaitannya. Tindakan-tindakan penyesuaian tersebut tidak lain berupa usaha dari para pelaku
tersebut untuk mengubah struktur atau komposisi dari kekayaan yang ia pegang menuju ke
arah struktur dan komposisi yang ia inginkan. Dalam teori moneter kita mempunyai istilah
khusus bagi proses penyesuaian komposisi neraca ; kita menamakannya proses penyesuaian
portofolio atau portfolio adjustment. Teori moneter menyatakan bahwa posisi equilibrium ini
akhirnya akan tercapai juga setelah terjadi banyak kali “putaran” penyesuaian poflofolio.
Melalui proses penyesuaian portofolio tesebut sebenarnya telah terjadi semacam “pelipatan”
uang beredar, atau terjadi proses multiplier. Proses inilah yang merupakan inti dari teori
mengenai penawaran uang.
C. PELIPAT UANG ATAU MONEY MULITIPLIER
Proses penciptaan uang beredar dari uang inti tersebutdiringkas dalam konsep money
multiplier yang menghubungkan antara jumlah uang inti dengan jumlah uang beredar. Nilai
dari money multiplier tergantung kepada :
a. Kecenderungan masyarakat memegang uangnya dalam bentuk uang kartal
b. Berapa besar cadangan yang dipegang bank untuk menjamin uang giral.
Money multiplier (angka pengganda uang) diturunkan dari hubungan antara uang inti 
atau uang primer dengan jumlah uang yang beredar
Uang beredar arti sempit (M1)
1
M1 =
c+ r ¿¿
dimana :
c=C/M
C = uang kartal yang dipegang oleh masyarakat umum di luar bank-bank
M = Jumlah Uang Beredar
r=R/D
R = reserve bank
D = uang giral yang diciptakan oleh bank – bank umum
B = uang inti

Uang beredar dalam arti luas


1+t
M2 =  B
c+ r 1 ( 1−c )+ r 2 t

dimana :
t=T/M
T = Time Deposit
M = Jumlah Uang Beredar
r1 = reserve yang dipegang bank untuk menjamin
    = rekening koran
r2 = reserve yang dipegang bank untuk
    = deposito berjangka
c=C/M
C = uang kartal yang dipegang oleh masyarakat umum di luar bank-bank
B = uang inti

D. IMPLIKASI KEBIJAKAN
Pemerintah (otorita moneter) bisa mempengaruhi perkembangan uang beredar M1
atau M2 melalui 2 cara yaitu:
a. Dengan jalan mempengaruhi koefisien pelipat uang dan/atau
b. Dengan jalan mempengaruhi jalan uang inti(B).
Menurunkan c
a. Menawarkan bunga yang menarik bagi rekening giro, depodito berjangka dan tabungan
b. Membuka cabang-cabang baru atau memperluas kegiatan kegiatan perbankan di pedesaan
c. Memperluas penggunaan credit card dan charge accounts
d. Mempercepat urbanisasi
Menurunkan r1 dan r2
a. Menurunkan reserve requirementuntuk rekening giro
b. Mempermudah pinjaman dari Bank Sentral kepada bank-bank apabila bank-bank
memerlukan dana untuk kebutuhan darurat(ini mengurangi perlunya bagi bank untuk
memegang excess reserve yang besar)
c. Mengembangkan pasar uang antar bank sehingga bank yang kekurangan dana bisa
dengan mudah memperoleh dana dari bank yang kelebihan dana
Meningkatkan t
a. Menawarkan bunga yang menarik bagi deposito berjangka dan simpanan tabungan.
b. Memberikan kemudahan-kemudahan perpajakan bagi pemegang deposito berjangka atau
tabungan.
c. Mempromosikan deposito berjangka dan tabungan didaerah pedesaan, sehingga menarik
orang-orang yang biasanya menyimpan kekayaannya dalam bentuk ternak, tanah, emas
dan sebagainya.
d. Mengendalikan inflasi serendah mungkin, sehingga opportunity costbagi pemegang
deposito berjangka dan tabungan adalah minimal.
Faktor yang biasanya lebih menentukan perkembangan M1 dan M2 adalah perubahan
uang inti(B). Tindakan-tindakan pemerintah dan Bank Sentral juga sangat mempengaruhi
perkembangan uang inti. Ada 3 cara bagaimana uang inti itu timbul atau tercipta:
a. Melalui percetakan uang baru
b. Melalui pemberian pinjaman Bank Sentral kepada bank-bank(di Indonesia ini disebut
kredit liquiditas) tau kepada lembaga-lembaga lain di masyarakat(di Indonesia dikenal
dengan nama kredit langsung)
c. Lewat transaksi dengan luar negeri

BAB IX BEBERAPA MASALAH DALAM KEBIJAKSANAAN MONETER


A. SASARAN TINGKAT BUNGA ATAU UANG BEREDAR?
Sasaran akhir jangka pendek baik dari kebijaksanaan moneter maupun kebijaksanaan
fiskal adalah menjaga keseimbangan makro dari perekonomian, yaitu agar tercapai laju
inflasi yang rendah, tingkat kegiatan ekonomi (produksi) yang tinggi serta neraca
pembayaran yang seimbang.Ini adalah tujuan akhir yang “ideal” dari kebijaksanaan ekonomi
makro. Tentu tidak semua aspek dan sasaran ini akan bisa dicapai secara penuh dan sekaligus
dalam kenyataan. Biasanya perlu “kompromi” antara ketiga aspek tersebut dan juga perlu
kompromi antara sasaran dengan realita yang benar-benar dihadapi.Dalam usaha mencapai
sasaran akhir tersebut, kebijaksanaan moneter, di samping kebijaksanaan fiskal, memegang
peranan yang penting. Sasaran ini diperlukan karena bahwa kebanyakan ekonom berpendapat
bahwa jarak waktu (lag) antara tindakan kebijaksanaan moneter dengan pengaruhnya pada
ketiga aspek sasaran akhir tersebut adalah panjang, sehingga akan sangat terlambat
seandainya terjadi kesalahan kebijaksanaan, dan kebijaksanaan hanya bisa diubah setelah
hasil akhir tersebut telah terjadi atau telah bisa diamati. Oleh sebab itu, perlu sasaran-antara,
yang secara lebih cepat bisa dimonitor perkembangannya sebagai indikator awal dari
pengaruh suatu kebijaksanaan sehingga apabila kebijaksanaan perlu dikoreksi segera bisa
dilakukan.Untuk tujuan tersebut sasaran-sasaran tersebut harus memenuhi dua syarat, sebagai
berikut:
a. Ia harus secara cukup akurat dan cukup andal (realible) sebagai indikator awal dari hasil
akhir kebijaksanaan tersebut. Artinya apa yang diharapkan akan terjadi pada sasaran-
akhir sudah bisa tercermin dengan baik pada sasaran-antara tersebut.
b. Ia harus segera bisa diamati dan dimonitor, sehingga segera bisa ditentukan apakah secara
umum kebijaksanaan yang dijalankan sudah benar atau belum.
Dua sasaran antara yang memenuhi kedua syarat tersebut adalah tingkat bunga dan
jumlah uang beredar.Informasi atau data mengenai kedua sasaran ini biasanya diperoleh
dengan cepat (bahkan tingkat bunga bisa diamati langsung dari pasar uang saat itu juga, tetapi
data mengenai jumlah uang beredar mungkin harus menunggu beberapa hari atau minggu).
B. “UANG” MANA YANG DIKENDALIKAN
Ada 2 hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan besaran atau konsep uang
beredar yang cocok, yaitu sebagai berikut:
a. Seberapa jauhkah Otorita Moneter bisa mempengaruhi besaran tersebut? Semakin mudah
dikendalikan tentu semakin baik.
b. Bagaimana keandalan (reliabilitas) dari besaran tersebut dalam mencerminkan apa yang
terjadi dalam sasaran akhir? Semakin andal dan semakin akurat, atau semakin dekat
dengan korelasi antara besaran yang dipilih dengan sasaran akhir semakin baik.

Atas pertimbangan (a) maka yang paling baik adalah uang inti (B) karena B secara
langsung bisa dikendalikan oleh Otorita Moneter. Kita ingat bahwa “uang inti (B)” tidak lain
adalah “hutang moneter dari Otorita Moneter kepada masyarakat dan Lembaga Keuangan”.
Namun, seperti yang telah kita lihat dalam Bab 2, sebenarnya tidak seluruh B bisa ditentukan
secara langsung oleh Otorita Moneter.Uang inti yang berasal dari pencetakan uang baru atau
kredit dari Bank Sentral kepada masyarakat dan Lembaga Keuangan memang pada asasnya
bisa dikendalikan langsung oleh otorita moneter. Tetapi uang inti yang berasal dari neraca
pembayaran (atau, sama saja, perubahan cadangan devisa) mungkin tidak begitu saja bisa
dikendalikan. Bagi negara-negara yang mempunyai perekonomian terbuka penciptaan uang
inti yang bersumber dari sektor luar negeri ini sangat penting, dan seringkali di luar
kekuasaan Otorita Moneter untuk mengendalikannya (misalanya, pengaruh dari kenaikan
harga ekspor minyak). Namun, dipandang secara relatif, B lebih langsung bisa dipengaruhi
oleh Otorita Moneter dibanding dengan M1,M2,M3 atau L. Di sini L adalah “Total
Likuidity“. Dari segi ini, maka B merupakan sasaran yang lebih baik daripada konsep-konsep
yang lain tersebut. Atas dasar pertimbangan (a) kita sebenarnya sudah bisa pula mengatakan
secara langsung bahwa M1 adalah lebih baik dari M2, dan M2lebih baik dari M3 dan L
adalah yang terburuk.Konsep-konsep yang semakin jauh dari B semakin banyak faktor-faktor
lain yang mempengaruhinya selain tindakan otorita moneter itu sendiri. Ini jelas dari semakin
banyaknya variabel lain yang masuk dalam koefisien pelipatnya, yang merupakan hasil dari
perilaku ekonomi dari pelaku-pelaku lain dalam pasar uang. Pengaruh otorita moneter
semakin tidak langsung, semakin kita menjauh dari konsep B.

C. KETIDAKPASTIAN DAN JARAK WAKTU (LAG)


Unsur ketidakpastian ini selalu ada dalam setiap usaha dalam merumuskan dan
melaksanakan suatu kebijaksanaan moneter, dan kebijaksanaan ekonomi pada
umumnya.Apabila kita membaca kepustakaan mengenai kebijakan ekonomi, maka pesan
yang seringkali kita dapatkan dari banyak penulis adalah bahwa dalam keadaan
ketidaksempurnaan informasi tersebut para perumus kebijaksanaan seyogyanya jangan suka
mengambil kebijaksanaan yang terlalu berani, dalam arti bahwa mereka harus selalu
menghindari diambilnya reaksi yang berkelebihan (over reaction) terhadap permasalahan
stabilisasi yang timbul. Tindakan yang reaktif harus dihindarkan, sebab dalam informasi tidak
sempurna kesalahan langkah sama dengan ketepatan langkah. Sekarang pun banyak ekonom
berpendapat bahwa perekonomian mempunyai kemampuan untuk mengkoreksi sendiri
ketimpangan besar yang memerlukan tindakan pemerintah.
Ada dua macam lag yang dikenal dalam kepustakaan kebijaksanaan ekonomi, yaitu
yang disebut (a) inside lag dan (b) outside lag.Yang dimaksud dengan inside lagadalah jarak
waktu dari timbulnya permasalahan di dalam perekonomian sampai dengan dimulainya
tindakan kebijaksanaan untuk mengatasinya.Inside lag ini sebenarnya terdiri dari 3
macam lagyang berurutan. Pertama adalah jarak waktu mulai dari timbulnya masalah sampai
dengan saat para pembuat kebijaksanaan menyadari bahwa memang ada masalah. Ini
disebut recognition lag. Yang kedua adalah jarak waktu antara saat disadarinya bahwa ada
masalah dan saat diputuskannya suatu tindakan. Ini disebut decision lag. Yang ketiga adalah
jarak waktu antara saat keputusan kebijaksanaan diambil saat keputusan tersebut mulai
dilaksanakan. Ini disebut action lag. Inside lag sangat tergantung pada kecepatan kerja atau
efisien dari lembaga pembuat kebijaksanaan.
Outside lag adalah jarak waktu antara saat mulai dilaksanakannya langkah
kebijaksanaan dan saat timbulnya akibat pada perekonomian.Biasanya suatu tindakan
kebijaksanaan mempunyai akibat yang tersebar dalam jangka waktu yang panjang.Berapa
lamaoutside lag ini dan bagaimana pola akibatnya tersebut dalam jangka waktu tertentu
tergantung pada macam tindakan kebijaksanaan, struktur perekonomian dan reaksi dari para
pelaku di dalamnya.Ini sangat tergantung pada situasi masing-masing negara. Tetapi
kebanyakan ekonom sekarang berpendapat bahwa outside lag dari kebijaksanaan moneter
adalah panjang : pengaruhnya datang lambat dan bisa menyebar sampai beberapa tahun.
Sebaliknya kebijaksanaan fiskal biasanya mempunyai outside lag yang lebih pendek, karena
tindakan ini langsung mempengaruhi pengeluaran masyarakat. Namun di lain pihak, karena
struktur adminstrasinya, kebijaksanaan fiskal biasanya mempunyai inside lag yang lebih
panjang, sedang kebijaksanaan moneter mempunyai inside lag yang lebih pendek. Jadi
apabila dilihat daritotal lag (inside lag plus outside lag), maka kebijaksanaan moneter belum
tentu lebih lambat pengaruhnya daripada kebijaksanaan fiskal.
D. HARAPAN RASIONAL (RATIONAL EXPECTATIONS)
Akhir-akhir ini sejumlah ekonom mencoba menuangkan faktor pembentukan harapan
ini ke dalam suatu pendekatan baru dalam ekonomi makro yang disebut “pendekatan harapan
rasional” atau the rational expectations approach. Inti dari pendekatan ini adalah bahwa
masyarakat tidaklah bodoh, dalam arti mereka akan menggunakan segala informasi yang ada
pada mereka sebaik-baiknya dalam menentukan reaksi mereka terhadap perubahan keadaan
atau terhadap suatu langkah kebijaksanaan. Mereka tidak bodoh, juga dalam arti bahwa
mereka tidak akan membuat kesalahan tindakan yang sama terus-menerus. Jadi seandainya
mereka pernah berbuat suatu kesalahan reaksi terhadap kebijaksanaan Pemerintah, mereka
akan belajar dari pengalaman tersebut sehingga dalam jangka panjangnya mereka akhirnya
selalu bisa bereaksi terhadap langkah kebijaksanaan secara rasional (inilah sebabnya
pendekatan tersebut diberi nama harapan rasional). Implikasi dari pendekatan baru ini bagi
teori ekonomi makro dan kebijaksanaan makro cukup fundamental. Pertama, dengan
diberikannya peranan yang penting pada pembentukan harapan masyarakat dalam proses
bekerjanya kebijaksanaan dan perekonomian mikro secara umum, maka banyak bagian-
bagian dari teori makro konvensional yang sampai saat ini dipelajari, perlu dirombak untuk
memasukkan faktor harapan rasional ini. Seperti kita ingat, hampir semua dalil-dalil perilaku
makro (mulai dari fungsi konsumsi, fungsi investasi, fungsi permintaan akan uang dan
sebagainya) belum memasukkan di dalamnya aspek reaksi yang rasional dari masyarakat.
Fungsi-fungsi tersebut hanya menggambarkanstereotipe perilaku dari masyarakat, seakan-
akan masyarakat adalah kelompok yang hanya bisa bereaksi secara stereotipe tersebut dan
tidak bisa menggunakan informasi yang ada secara efisien untuk menentukan reaksi atau
strategi yang paling baik baginya terhadap suatu kebijaksanaan. Memang sudah banyak yang
telah mencoba dalam studi-studi empiris untuk memasukkan faktor harapan ke dalam
beberapa fungsi tersebut.Tetapi biasanya hipotesa pembentukan harapannya sangat sederhana
dan mekanistis (misalnya, didasarkan atas pengalamannya pada masa lampau) dan belum bisa
menekan pembentukan harapan atas dasar pengelolaan informasi yang efisien. Dengan
demikain, pendekatan harapan rasional, memberikan tantangan untuk merombak teori
ekonomi makro dan moneter yang ada.

BAB XI STANDAR MONETER INTERNASIONAL


A. STANDAR MONETER INTERNASIONAL
Standar moneter Internasional adalah sesuatu barang atau mata uang yang diterima
oleh mayoritas negara-negara di dunia sebagai “mata-uang dunia”. “Mata-uang dunia” ini,
persis seperti halnya mata-uang di dalam suatu negara. Hanya saja, standar moneter
internasional harus diterima, tidak hanya oleh warga negara di dalam satu negara, tetapi oleh
para warganegara dari mayoritas negara-negara di dunia.

B. Perkembangan Sistem Moneter Internasional


a. Sebelum Perang Dunia I
Standar moneter yang diterima oleh mayoritas negara-negara adalah salah suatu
barang yang disebut emas. Pada waktu itu, negara-negara utama di dunia mengguanakan
standar emas untuk trasaksi-transaksi dalam negeri mereka.

b. Setelah Perang Dunia I


Setelah perang Dunia I, emas mulai ditinggalkan sebagai satu-satunya standar
moneter internasional. Sebab utama dari makin ditinggalkannya emas sebagai standar
moneter dunia bukanlah karena orang-orang dan negara-negara tidak lagi percaya pada nilai
emas, tetapi karena jumlah emas yang tersedia semakin tidak cukup untuk menunjang
transaksi-transaksi nasional maupun internasional. Sistem  standar emas justru menjadi
penghambat pertumbuhan perekonomian dan perdagangan dunia. Dimana-mana terdapat
“krisis likuiditas”, tidak cukupnya alat pembayaran untuk menyangga volume transaksi yang
semakin membesar.

c. Setelah Perang Dunia II


Perdagangan luar negeri antar bangsa-bangsa semakin membesar dan emas yang telah
“dibebaskan” dari perannya sebagai standar moneter dalam negeri itu pun ternyata tidak juga
cukup persediaannya untuk menyangga volume transaksi perdagangan dunia.
d. Pecah Perang Dunia II
Mata uang dollar Amerika merupakan standar moneter internasional. Nilainya yang
stabil dan peranan yang dominan dari Amerika Serikat didalam perekonomian dunia telah
membuat dollar sebagai mata uang yang paling “konvertibel” dan dimana-mana diterima
sebagai alat penyelesaian transaksi internasional (disamping emas). Meskipun dollar dan
emas sudah dijadikan standar moneter internasiaonal, ternyata dunia masih juga kekurangan
likuid untuk menyangga transaksi antar negara, terutama sekali setelah berakhirnya perang
Dunia II dalam waktu mana perekonomian dan perdagangan dunia kembali mengalami
kemajuan yang pesat. “Dollar shortage” atau “ kelangkaan dollar” adalah masalah moneter
internasional.
C. BEBERAPA SARAN MENGENAI STANDAR MONETER INTERNASIONAL
a. Menaikan Harga Emas
Menurut ekonom Inggris Sir Roy Harrod dan ekonom Perancis Jacques Rueff. Emas
masih juga merupakan “favorit” dari masyarakat dunia sebagai standar moneter internasional,
efek-efek negatif dari proses kembali ke standar emas bisa dikurangi atau dihilangkan. Efek
negatif yang utama adalah resiko timbulnya resesi atau depresi dunia karena jumlah emas
yang tersedia tidak cukup untuk menyangga volume transaksi perdagangan dunia. Sehingga
harga emas harus ditentukan cukup tinggi agar setiap gram emas yang sebelumnya hanya bisa
menyangga transaksi senilai X dollar (atau Yen, atau DM) dan sekarang bisa menyangga
transaksi sebesar 2X atau 3X.
Permintaan akan uang untuk “menyangga” transaksi tergantung pada (a) volume
transaksi dan (b) tingkat harga nominal per unit volume transaksi. Sejumlah uang yang sama
bisa menyangga volume transaksi yang lebih besarapabila harga nominal per unit volume
transaksi turun. Dan cara yang paling mudah untuk mencapai ini adalah menaikkan harga
emas relatif terhadapsemua mata uang di dunia. Ada beberapa kerugian dari alternatif ini:
1. Kenaikan harga emas memberi keuntungan kepada golongan tertentu saja, yaitu
penimbun-penimbun emas dan beberapa negara penghasil emas seperti Afrika Selatan
dan Rusia.
2. Dunia harus mengalihkan lagi sebagian dari sumber dayanya untuk produksi emas. Emas
itu sendir hanya mempunyai manfaat yang terbatas bagi hajat manusia.
3. Standar emas menghariskan setiapnegara mamatuhi “disiplin”. Disiplin ini merupakan
berupa kesediaan negara yang mengalami defisit dalam neraca pembayaran untuk
menanggung akibat-akibat dari “proses penyesuaian” yang berupa penurunan GDP-nya
yang berarti pengangguran dan stragnasi didalam negeri. Tidak banyak negara didunia
bersedia menaggung akibat dari disiplin seperti ini.

b. Standar Barang (Non-Emas)


Menurut ekonom Amerika Albert Hart, ekonom Inggris Nicholas Kaldor dan ekonom
Belanda Jan Tinbergen. Mengatakan bahwa barang-barang perdagangan dunia(selain emas)
bisa dipergunakan sebagai standar moneter internasional kalau masyarakat dunia memang
menghendakinya. Suatu standar moneter internasional terdiri dari satu kumpulan barang-
barang perdagangan dunia yang utama. Untuk membantu pertumbuhan dari negara-negara
sedang berkembang,mereka menyarankan bahwa barang-barang ini adalah barang-barang
perdagangan dunia utama yang diekspor oleh negara-negara sedang berkembang.
Keuntungan dari “kumpulan barang-barang” sebagai standar moneter adalah: 
1. Adanya mekanisme stabilisasi otomatis antara permintaan dan penawaran standar
moneter. Mekanisme otomatis ini bekerja melalui proses penyesuaian permintaan dan
penawaran. Bila nilai standar moneter terhadap barang-barang lainrendah, maka
permintaan akan standar moneter akan cenderung naik dan penawaran standar moneter
menurun. Kenaikan permintaan akan barang-barang ini (berbeda dengan emas atau uang
kertas) digunakan pula secara luas untuk tujuan-tujuan non- moneter, misalnya sebagai
bahan mentah industri.
2. Barang-barang yang mempunyai kegunaan intrinsik (untuk penggunaan non-moneter),
sehingga kalau sumber daya dunia dialihkan untuk menaikkan produksinya bukan sesuatu
pemborosan tidak seperti halnya denagn emas.
3. Apabila barang-barang standar moneter dipilih dari barang-barang ekspor utama dari
negara-negara sedang berkembang, maka akan menolong negara-negara ini, karena baik
harga maupun permintaan akan barang-barang akan menjadi lebih mantap. Kerugian
utama standar moneter ala Hart-Kaldor-Tinbergen adalah bahwa barang-barang seperti itu
mengalami proses kerusakan kalau disimpan dan penyimpanannya pun memerlukan biaya
pergudangan atau penyimpanan cukup besar

c. Sepecial Drawing Rights (SDR)


Cara menyediakan likuiditas telah dilaksanakan oleh Internasional Monetary
Fund (IMF), yaitu dengan dikeluarkanya alat likuid baru yang disebut Special Darawing
Rights (SDR. SDR adalah semacam ”uang giral internasional” yang didukung penuh dengan
dana reserve dan emas IMF. SDR tidak ada hubungan yang langsung dengan persediaan
maupun harga emas. Kurs SDR adalah indeks yang tertimbang dari beberapa mata uang
utama di dunia. Berhasil tidaknya sistem ini dalam jangka panjang banyak tergantung pada:
1. Disiplin moneter dari anggota-anggota IMF sendiri (terutama yang mata uangnya masuk
dalam perhitungan kurs SDR).
2. Pengelolaan dan perencanaan yang baik oleh IMF sebagai bank internasiaonal mengenai
besa-kecilnya volume SDR.
3. Keadaan di sektor “rill” dari perekonomian dan perdagangan dunia. Sektor “moneter” dan
sektor “rill” selalu saling berkaitan dan saling mempengaruhi untuk suatu negara atau
untuk perekonomian dunia secara keseluruhan.