Anda di halaman 1dari 2

Pada tanggal 8 Desember 2019, China melaporkan adanya temuan penyakit baru.

Kemudian
kantor World Health Organization (WHO) di China mendapat pemberitahuan tentang adanya
kasus penyakit sejenis pneumonia yang penyebabnya tidak diketahui. Infeksi pernapasan akut
itu pertama kali terjadi di kota Wuhan, provinsi Hubei, China. Virus tersebut adalah virus
corona atau severe acute respiratory syndrome corona virus 2 (SARS-CoV-2). Penyakit
karena infeksi virus corona disebut COVID-19. Virus ini menular sangat cepat ke berbagai
negara hanya dengan waktu beberapa bulan saja.

Terhitung dari awal penemuan sampai hari Kamis, 14 Mei 2020 pukul 18.11 WIB
tercatat 4.452.806 juta kasus covid di dunia dengan angka kematian sebanyak 298.737 jiwa
dan kesembuhan sebanyak 1.675.928 jiwa. Sedangkan 2.478.141 pasien covid-19 masih
menjalani perawatan dan isolasi. Pravelensi kasus covid-19 di Indonesia telah mencapai
16.006 pasien dengan waktu akumulasi terakhir 14 Mei 2020 pukul 12.00 WIB dengan angka
kematian menembus 1000 jiwa dan kesembuhan sebanyak 3.518 orang. Dengan demikian,
11.445 kasus aktif masih menjalani perawatan dan isolasi.

Kebijakan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus semakin meluas yaitu


dengan dilakukannya PSBB dan Work From Home (WFH). Pembatasan kegiatan tersebut
dilakukan dengan cara meliburkan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan
keagamaan yang melibatkan banyak orang serta pembatasan kegiatan lain di tempat umum.
Tetapi kebijakan ini tidak berjalan mulus. Banyak masyarakat yang melanggar kebijakan
tersebut dikarenakan ia harus mencari uang untuk kehidupannya sehari- hari. Efek lain
dirasakan oleh pengusaha dan karyawannya, industri yang tersendat mengakibatkan
kurangnya penghasilan yang menyebabkan banyak karyawan yang terpaksa harus di PHK.
Kebijakan ini memang tidak mudah untuk dilakukan, terlebih kepada masyarakat yang mata
pencahariannya di sektor informal. Adapun juga dampak pada sektor pendidikan, salah
satunya adalah ketidaksiapan stakeholder sekolah melaksanakan proses belajar mengajar
secara daring karena diingat bahwa tidak semua guru melek teknologi. Keterbatasan sarana
prasarana juga menghambat dalam proses pembelajaran. Tidak semua siswa ataupun guru
mempunyai fasilitas yang memadai dan jika ada siswa ataupun guru yang memiliki rumah
dengan jaringan internet yang kurang memadai pun ikut menjadi faktor penghambat.

Kewajiban untuk melakukan semua aktivitas di rumah saja selama beberapa bulan ini
membuat kita merasa jenuh dan bosan jika tidak diselingi oleh kegiatan yang menyenangkan.
Kebijakan WFH menimbulkan perasaan kesepian dan isolasi sosial yang berpengaruh pada
kondisi mental seperti depresi dan kecemasan karena manusia sebagai makhluk sosial
diharuskan untuk mengisolasi diri dan menjaga jarak dengan orang lain. Sentuhan manusia
melepaskan hormon yang disebut oksitosin, beberapa penelitian menunjukkan bahwa
rendahnya kadar oksitosin dapat memicu tingkat stress dan kecemasan lebih tinggi. Jika hal
tersebut terjadi pada diri anda ataupun keluarga anda sebaiknya segera mencari pertolongan
kepada pihak profesional.