Anda di halaman 1dari 4

Fahrida Amalia Husna (ILMU KOMUNIKASI 2018)

NIM : 14040118120005

Review Buku

“ILMU PENGETAHUAN SEBUAH TINJAUAN FILOSOFIS”

BAB 3

SUMBER PENGETAHUAN: RASIONALISME DAN EMPIRISISME

1. RASIONALISME
Menurut kaum rasionalis, satu-satunya sumber pengetahuan ialah akal budi manusia dan
mereka menolak anggapan bahwa manusia bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindra.
a.       Plato
Pengetahuan sejati adalah episteme, yaitu pengetahuan tunggal dan tak berubah, sesuai
dengan ide-ide abadi. Maka, hanya ide-ide tertentu saja yang bersifat nyata dan sempurna.

b.       Rene Descartes


Descartes menganggap serius anjuran kaum skeptis agar manusia perlu meragukan
semua keyakinan dan pengetahuan, bahkan apa saja yang ada. Menurutnya, kita perlu
meragukan segala sesuatu sampai kita mempunyai ide yang jelas dan tepat.

c.        Beberapa hal penting


Kita dapat merumuskan beberapa hal penting mengenai rasionalisme, yaitu, kaum
rasionalis lebih mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan matematika. Hanya akal budi
yang bisa kita andalkan untuk bisa sampai pada pengetahuan. Bagi mereka pancaindra bisa
menipu kita. Jadi, bagi kaum rasionalis, bahwa p melalui penalaran, p pasti benar secara
apriori tanpa perlu dibuktikan secara fakta dari pengalaman.

2. EMPIRISISME
Empirisisme adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber satu-satunya bagi
pengetahuan manusia adalah pengalaman. Yang paling pokok untuk bisa sampai pada
pengetahuan yang benar adalah data dan fakta yang ditagkap oleh pancaindra kita.
a. John Locke
Semua konsep atau ide yang mengungkapkan pengetahuan manusia sesungguhnya
berasal dari pengalaman manusia. Konsep atau ide-ide ini diperoleh dari pancaindra atau dari
refleksi atas apa yang diberikan oleh pancaindra. Sebelum kita menangkap sesuatu dengan
pancaindra kita, akal budi kita berada dalam keadaan kosong, tanpa isi apapun. Akal budi
hanya bisa mengetahui sesuatu karena mendapat informasi yang diperoleh melalui
pancaindra.
b.      David Hume
Semua materi pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi. Melalui naluri alamiah,
manusia bisa mencapai kepastian-kepastian yang memungkinkan pengetahuan manusia.
c. Beberapa hal penting
Walaupun sama-sama menganggap serius metode keraguan yang dilontarkan kaum
skeptic, kaum rasonalis berakhir dengan menegaskan kebenaran mutlak pengetahuan manusia
yang diperoleh akal budi manusia. Sedangkan kaum empiris menegaskan sikap skeptic itu
dengan menganggap kebenaran penegatahuan manusia, khususnya pengetahuan empiris
sebagai bersifat sementara.

3. SEBUAH SINTESIS
a.      Beberapa unsure sintesis
Kedua pemikiran di atas sama-sama memiliki kebeanaran dan kesalahan. Rasonalis
benar ketika mengatakan bahwa pengetahuan manusia bersumber dari akal budi manusia.
Dan kaum empirisis juga benar bahwa pengetahuan manusia bersumber dari pengalaman
manusia. Keduanya keliru, karena terlalu ekstrem menganggap pengetahuan hanya
bersumber dari salah satu saja, antara akal budi atau pengalaman indrawi manusia.
Manusia tidak hanya “tahu akna” atau “tahu bahwa” sesutau terjadi sebagaimana
dilaporkan oleh panaindranya, melainkan juga “tahu mengapa” sesuatu terjadi sebagaimana
adanya. Maka, pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindra dan akal budi, adalah
pengetahuan yang lebih umum dan sekaligus lebih pasti.
b.       Immanuel Kant
Kant mendamaikan antara empirisisme dan rasionalisme. Baik pancaindra dan proses
pengindraan maupun akal budi dan proses penalaran sama-sam ikut berpera bagi lahirnya
pengetahuan manusia. Keduanya sama-sama berperan bagi konsepsi kita mengenai dunia di
sekitar kita. Kekeliruan rasionalisme dan empirisisme dalah bahwa keduanya terlalu ekstrem
beranggapan, khususnya kaum rasionalis.

4. PENGETAHUAN APRIORI DAN APOSTERIORI

Pengetahuan Apriori
Secara harfiah artinya “dari yang lebih dulu atau sebelumnya”. Mengetahui realitas
secara apriori berarti mengetahuinya dengan mengenakan sebab pada realitas itu. “Kebenaran
apriori berasal dari kebenaran akal budi”. Proporsi kebenarannya bisa diketahui lepas dari
pengalaman.

Pengetahuan Aposteriori

Secara harfiah artinya “dari apa yang sesudahnya”. Mengetahui realitas secara
aposteriori berarti mengetahui berdasarkan apa yang ditemukan secara aktual di dunia ini,
melalui pancaindra, dari pengaruh yang ditimbulkan realitas itu dalam pengalaman kita.
“Kebenaran aposterori berasal dari fakta”. Proporsi kebenarannya hanya bisa diketahui
dengan merujuk pada pengalaman tertentu.

Terdapat perbedaan antara apriori dan aposteriori sebagai pembedaan antara apa yang
berasal dari pengalaman, dan apa yang tidak berasal dari pengalaman, atau apakah suatu
konsep dapat dibuktikan kebenarannya dengan memberikan alasan atau sebabnya atau tidak.
Pembedaan ini lalu berkembang menjadi pengetahuan empiris dan pengetahuan yang bukan
empiris ; pengetahuan sintesis dan pengetahuan analitis.

TAMBAHAN :
Jadi menurut saya, pada intinya makna dari Rasionalisme adalah sumber pengetahuan
ialah akal budi manusia dan mereka menolak anggapan bahwa manusia bisa menemukan
pengetahuan melalui pancaindra. Dan Empirisisme adalah paham filosofis yang mengatakan
bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman.
Keduanya sama-sama memiliki kebeanaran dan kesalahan. Rasonalis benar ketika
mengatakan bahwa pengetahuan manusia bersumber dari akal budi manusia. Sedangkan
kaum empirisis juga benar bahwa pengetahuan manusia bersumber dari pengalaman manusia.
Keduanya keliru, karena terlalu ekstrem menganggap pengetahuan hanya bersumber dari
salah satu saja, antara akal budi atau pengalaman indrawi manusia.
Baik pancaindra dan proses pengindraan maupun akal budi dan proses penalaran sama-
sam ikut berpera bagi lahirnya pengetahuan manusia. Keduanya sama-sama berperan bagi
konsepsi kita mengenai dunia di sekitar kita.