Anda di halaman 1dari 10

PENGOLAHAN LIMBAH LAUNDRY DENGAN PENAMBAHAN

KOAGULAN POLYALUMUNIUM CHLORIDE(PAC) DAN FILTER


KARBON AKTIF
Adysti Maretha N*) Wiharyanto Oktiawan**) Arya Rezagama**)

Abstract
There is an increasing presence of the amount of laundry services, especially in
areas Tembalang. Waste from laundry services containing COD, TSS and Phosphate high
and this is not good for health and water. Coagulation Flocculation and Adsorption
technology is one solution that can be applied. Coagulant used and adsorption media
(activated carbon) many available in the market. This study used coagulant PAC 1% and
the media (activated carbon) from coconut shell. Media is activated by HCl 0.3 M, while
the research variables used variations of the mesh size, ie, 4, 8, 10, 16 and 20 were fed
50 m3/minute laundry waste. Percentage of allowance by coagulation flocculation of the
parameters COD, TSS and Phosphate respectively 65.93% and 95.24% at 55 ml, while the
phosphate in 60 ml of which amounted to 90.24%. The percentage removal of COD, TSS
and Phosphate best on mesh 4 in 90 minutes. Incorporation Do reactor and obtained
COD concentration of 75 mg /L, TSS 52 mg /L and Phosphate 0.175 mg /L.

Keyword :COD, TSS, Phosphate, Coagulation, Floculation


Pendahuluan Menurut Sugiharto (1987) unsur
Bertambahnya jumlah penduduk inti dari deterjen adalah senyawa
berbanding lurus dengan adanya surfaktan dan fosfat yang berfungsi
peningkatan kebutuhan akan barang mengikat daya cuci. Untuk
dan jasa. Salah satu usaha yang sedang menghilangan efek toksik dari limbah
berkembang saat ini adalah jasa cair laundry diperlukan pengolahan
laundry. Laundry adalah salah satu secara sederhana dan mudah diterapkan
kegiatan rumah tangga yang salah satu cara yakni dengan cara
menggunakan deterjen sebagai bahan koagulasi-flokulasi dan dilanjutkan
penunjang untuk membersihkan dengan adsorbsi. Hal ini diharapkan
pakaian, karpet, dan alat-alat rumah effluent dapat sesuai dengan baku mutu
tangga lainnya. Namun tanpa disadari, lingkungan.
limbah laundry dapat menyebabkan Teknik yang memungkinkan untuk
masalah lingkungan, yakni pencemaran menyisihkan bahan organik dalam air
air yang disebabkan bahan penyusun yakni dengan cara koagulasi flokulasi
dalam deterjen. dan adsorbsi. Metode koagulasi
merupakan proses adsorbsi oleh
koagulan terhadap partikel koloid yang
*)
Mahasiswa Teknik Lingkungan menyebabkan destabilisasi partikel.
**)
Dosen Teknik Lingkungan Ada beberapa jenis koagulan salah satu
yang sering digunakan adalah Poly 1. Tahap Persiapan
Alumunium Cloride(PAC). Mencari dan mempelajari literatur,
Koagulasi adalahKoagulasi jurnal, buku terkait pengolahan limbah
merupakan proses pengadukan cepat untuk dijadikan pedoman. Kemudian
yang bertujuan untuk destabilisasi melakukan persiapan alat dan bahan
koloid dan partikel dalam air dengan yang akan digunakan.
menggunakan bahan kimia (koagulan) Aktivasi media adsorbs (karbon
yang menyebabkan pembentukan inti aktif)merupakan hal yang penting
gumpalan (presipitat).Flokulasi adalah diperhatikan disamping bahan baku
Flokulasi merupakan lanjutan proses yang digunakan. Yang dimaksud
dari koagulasi, dimana dilakukan dengan aktivasi adalah suatu perlakuan
pengadukan lambat. Sehingga proses terhadap arang yang bertujuan untuk
aglomerasi (penggumpalan) partikel- memperbesar pori, yaitu dengan cara
partikel terdestabilisasi menjadi memecahkan ikatan hidrokarbon atau
flok.Ukuran yang dihasilkan mengoksidasi molekul-molekul
memungkinkan flok untuk dipisahkan permukaan sehingga arang mengalami
oleh sedimentasi dan filtrasi perubahan fisis, baik fisika maupun
Adsorbsi adalah peristiwa kimia, yaitu luas permukaannya
menempelnya suatu zat pada bertambah besar dan berpengaruh
permukaan zat lain karena terhadap daya adsorpsi.
ketidaksamaan gaya-gaya pada
permukaan. Adsorbsi merupakan suatu 2. Tahap Pelaksanaan
proses pemisahan dimana komponen Running dilakukan Analisis data
dari fase berpindah ke permukaan fase dilakukan dengan menggunakan
padat (Metcalf & Eddy, 1991). program microsoft excel dan SPSS.
Karbon aktif merupakan karbon Analisis data dilakukan dengan
yang sudah diaktifkan sehingga menganalisis data yang telah diperoleh
mempunyai daya serap yang tinggi dari kegiatan sampling, yaitu data
terhadap warna, bau, zat-zat beracun konsentrasi COD, TSS dan Fosfat.
dan sebagainya. Bersifat amorf, Sedangkan untuk menganalisa
berwarna hitam, tidak berbau, tidak hubungan antara dosis dan ukuran
berasa, tidak larut dalam air, asam, mesh serta waktu pengaliran dengan
basa dan pelarut organik (Jankowska at penurunan COD, TSS dan Fosfat
all 1991). didapatkan dengan menggunakan
analisa bivariat dengan analisis korelasi
Metodologi pearson (Pearson Bivariate
Secara keseluruhan pelaksanaan Correlation) menggunakan bantuan
penelitian dibagi dalam tiga tahapan, software SPSS untuk mengetahui ada
meliputi : tidaknya hubungan antara dosis dengan
penurunan COD, TSS, Fosfat pada
koagulasi flokulasi dan hubungan
antara ukuran mesh dan waktu terhadap koagulan, waktu dan ukuran mesh
penurunan COD, TSS dan Fosfat pada terhadap efisiensi penyisihan COD,
adsorbsi. TSS dan Fosfat.Penyajian data juga
dilakukan dalam grafik excel untuk
3. Tahap Analisis Data menunjukkan hubungan tersebut.
Analisis data dilakukan dengan Hubungan data diperkuat dengan
menggunakan program microsoft excel. analisa bivariat dengan analisis korelasi
Analisis data dilakukan dengan pearson (Pearson Bivariate
menganalisis data yang telah diperoleh Correlation) menggunakan bantuan
dari kegiatan sampling, yaitu data software SPSS untuk mengetahui ada
konsentrasi COD TSS dan Fosfat. tidaknya hubungan antara dosis dengan
Analisa akan meliputi analisis penyisihan pada koagulasi flokulasi,
dengan diagram pencar untuk serta ukuran mesh dan waktu terhadap
hubungan konsentrasi konsentrasi penyisihan COD, TSS dan Fosfat pada
COD, TSS dan Fosfat terhadap dosis Adsorbsi.
Hasil Pembahasan
1. Hasil Pengujian COD, TSS dan Fosfat Koagulasi Flokulasi

Tabel 1
Hasil Pengujian COD, TSS dan FosfatPada Proses Koagulasi Flokulasi

Berdasar Uji Kolomogrof model regresi yang baik adalah model regreasi
yang berdistribusi normal, dan data yang diperoleh adalah normal.
100.00 95.24

80.00

Persentase (%)
90.244
60.00
65.93
40.00 COD
20.00 TSS
Fosfat
0.00
Inlet 40 45 50 55 60 65
PAC (ml)
Gambar 1
Efisiensi Penyisihan COD, TSS, dan Fosfat pada Koagulasi Flokulasi

Gambar diatas menunjukan Pengukuran kondisi awal


grafik efisiensi penyisihan COD, TSS Padatan Tersuspensi Total (TSS)
dan Fosfat terhadap variasi dosis. Dosis dilakukan dikarenakan TSS dapat
optimum penyisihan COD dan TSS menggakibatkan bertambahnya
pada proses koagulasi flokulasi dengan kekeruhan didalam air. Limbah laundry
koagulan PAC yakni pada 55 ml yang akan diberi perlakuan memiliki
berturut turut sebesar 65,93 % dan kandungan TSS 234 mg/l. Hal tersebut
95,24%. Sedangkan pada fosfat pada berada di atas baku mutu Perda Jateng
60 ml yakni sebesar 90,24%. no 5 Tahun 2012. Penelitian ini
PAC 1% 55 ml mampu meragamkan koagulan PAC dengan
menurunkan konsentrasi COD paling range 40, 45, 50, 55, 60 dan 65 ml/L
tinggi 65,93 % COD, sehingga dari dengan tujuan mendapatkan dosis
986,89 turun menjadi 336,32 mg/l. optimum untuk menghilangkan TSS.
Tingginya COD pada limbah laundry Didapatkan penurunan sampai dengan
disebabkan adanya zat organik aktif 95,24 % yakni pada 55 ml PAC 1 %
permukaan dari detergen pada proses pada 1 liter limbah laundry.Sehingga
pencucian. Didapatkan korelasi antara dapat disimpulkan bahwa hubungan
dosis terhadap COD adalah -0,892*; antara ukuran mesh dan waktu (menit)
dengan signifikan atau probabilitas terhadap konsentrasi TSS tersebut
0,042.Jika muncul bintang satu (*), signifikan. Maksudnya variabel dosis
maka hubungan bisa dikatakan (Teguh memberikan kontribusi besar terhadap
Wahyono, 2012). Angka korelasi konsentrasi TSS.
negative pada parameter COD, Besarnya pengaruh dosis
menunjukkan terjadi hubungan negatif, terhadap variabel terikatnya yaitu
artinya semakin besar dosis maka konsentrasi COD, TSS dan Fosfat hasil
konsentrasi COD semakin menurun. pengujian menggunakan regresi dengan
software SPSS 16.0.
Koagulasi Flokulasi dilakukan itu berarti Ho ditolak atau dengan kata
dengan jartes dan dari variasi koagulan lain hubungan antara dosis dengan
PAC dengan range 40, 45, 50, 55, 60 parameter adalah erat.
dan 65 ml/L ditambahkan untuk
mencari dosis optimum untuk 2. Penyisihan COD, TSS dan Fosfat
menurunkan kandungan fosfat. dengan Adsorbsi
Didapatkan penurunan sampai dengan
Menurut Perrich (1981) proses
90,244 % yakni pada 60 ml PAC 1 %
adsorpsi dilakukan dengan mengalirkan
pada 1 liter limbah laundry.Menurut
air limbah ke dalam kolom, sehingga
Ali Masduqi dan Agus Slamet (2000)
terjadi kontak antara adsorben dengan
bahwa penyisihan fosfat dari air limbah
air limbah. Waktu kontak dan ukuran
meliputi penggabungan fosfat dalam
partikel merupakan faktor yang
padatan tersuspensi dan diikuti dengan
mempengaruhi proses adsorbsi.
penyisihan tersebut.Perhitungan
Penelitian yang dilakukan, didapatkan
koefisien korelasi (r) dari semua
penurunan COD, TSS dan Fosfat pada
variable yang dimasukan dalam analisis
masing-masing reaktor yakni R1.4,
SPSS, bahwa korelasi antara dosis
R2.8, R3.10, R4.16, dan R5.20.
terhadap fosfat 0,988** dengan
signifikan atau probabilitas 0,002. Hal

Tabel 2
Hasil Pengujian COD, TSS dan Fosfat Pada Proses Pengaruh Pengotor Pada
Adsorbsi
1200
Penyisihan COD (mg/l)
1000 986.98
800
Menit 30
600
Menit 60
400
Menit 90
200 Menit 120
0 INLET
mesh 4 mesh 8 mesh10 mesh16 mesh20
Ukuran Media (Mesh)
Gambar 2
Hubungan mesh dengan penyisihan COD pada Adsorbsi

Berdasarkan penyisihan COD Nilai COD dapat mendeteksi zat


dengan metode adsorbsi berdasar organik yang dipecah secara kimia
ukuran mesh mempengaruhi dalam sehingga oksigen terlarut direduksi
menurunkan konsentrasi COD dalam (Sugiharto, 1987).
limbah laundry jika dilihat dari variabel Menurut Benefield (1982)
waktu. adsorpsi merupakan proses masuknya
Kadar COD dalam air limbah molekul ke dalam pori-pori,
akan diserap oleh karbon aktif, karena menyebabkan proses adsorpsi karbon
mempunyai suatu gaya gabung dengan bergantung pada karakteristik fisik
bahan organik, hal tersebut dapat karbon aktif dan ukuran molekul
digunakan untuk meremoval bahan adsorbat.
kontaminan organik dari air limbah. Perhitungan koefisien korelasi
Pada kondisi tertentu ternyata hanya (r) dari semua variable yang dimasukan
sebagian permukaan karbon aktif yang dalam analisis. Bahwa korelasi
dapat menyerap zat yang tertentu pula, berdasarkan mesh -0.144** dengan
hal ini yang dinamakan situs aktif probabilitas atau signifikan COD
permukaan (Cheremisinoff, P.N. 1978). terhadap mesh berturut 0,492. Hal itu
Pada penelitian ini semakin berarti Ho pada COD diterima atau
besar diameter karbon aktif, semakin dengan kata lain hubungan antara mesh
besar efisiensi penurunan COD. Mesh dengan parameter adalah kurang erat.
4 mampu menurunkan konsentrasi Sedangkan korelasi waktu terhadap
COD sebesar 67,06% pada menit ke COD 0,897** dengan probabilitas atau
120.Kadar COD dalam air limbah akan signifikan COD terhadap waktu
diserap oleh karbon aktif, karena berturut 0,000. Hal itu berarti Ho pada
mempunyai suatu gaya gabung dengan COD ditolak atau dengan kata lain
bahan organik, hal tersebut dapat hubungan antara waktu dengan
digunakan untuk meremoval bahan parameter adalah sangat erat.
kontaminan organik dari air limbah.
250
Penyisihan TSS (mg/l) 236
200

150 30 Menit
60 Menit
100
90 Menit
50
120 Menit
0
INLET
Mesh 4 Mesh 8 Mesh 10 Mesh16 Mesh 20
Ukuran Media (Mesh)

Gambar 6
Hubungan mesh dengan penyisihan TSS pada Adsorbsi

Sampel diambil dari salah satu antara waktu terhadap TSS 0,866**
jasa laundry di daerah tembalang, dengan probabilitas atau signifikan
dimana sampel limbah sebelum diberi TSS terhadap waktu 0,227. Besarnya
perlakuan kandungan TSS 234 mg/l. pengaruh waktu (menit) dan ukuran
Berdasarkan grafik diatas terlihat mesh terhadap variabel terikatnya yaitu
bahwa mesh 4 mampu menurunkan konsentrasi TSS, koefisien
konsentrasi TSS paling tinggi yakni determinasinya adalah 0,813 untuk
sebesar 78,81 % pada menit ke 120. TSS yang mengandung arti bahwa
Bahwa korelasi antara mesh terhadap kedua faktor ini yaitu pengaruh mesh
TSS adalah 0,251 dengan probabilitas dan waktu (menit) terhadap konsentrasi
atau signifikan TSS terhadap mesh TSS adalah sebesar 79,7% sedangkan
berturut 0,227. Sedangkan korelasi sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
4.50 3.88
4.00
Penyisihan Fosfat (mg/l)

3.50
3.00
30 Menit
2.50
60 Menit
2.00
1.50 90 Menit
1.00 120 Menit
0.50 INLET
0.00
Mesh 4 Mesh 8 Mesh 10 Mesh 16 Mesh 20
Ukuran Media (Mesh)
Gambar 7
Hubungan mesh dengan penyisihan Fosfat pada Adsorbsi
Gambar 7 penurunan fosfat positif (ion H+). Pada proses adsorpsi
terlihat menurun dari sampel sebelum ini, anion phosphat akan menggantikan
diberi perlakuan sebesar 3,880 mg/l anion-anion lain yang berikatan dengan
turun hingga 1,896 mg/l dimana ion H+ (Masduqi, 2004).
penurunan terjadi 51,13% pada mesh 4. Korelasi antara variabel mesh
Adsorben diaktivasi menggunakan dengan konsentrasi fosfat didapat nilai
asam kuat yakni HCL 0,3 M. koefisien korelasi sebesar 0.478. Angka
Tujuannya adalah karena adanya ikatan korelasi positif, menunjukkan terjadi
hidrogen akan menyebabkan hubungan positif, artinya semakin
permukaan partikeladsorben menjadi besar mesh maka konsentrasi fosfat
bermuatan positif, sehingga dapat semakin menurun. Besarnya pengaruh
mengikat ion phosphat yang bermuatan waktu (menit) dan ukuran mesh
negatif. Sebelum proses adsorpsi, ion terhadap konsentrasi fosfat 0,727 yang
H+ di permukaan ini berikatan dengan mengandung arti bahwa kedua faktor
anion-anion lain. Phosphat yang (mesh dan waktu) adalah sebesar
bermuatan negatif (PO42-) 70,2% sisanya dipengaruhi oleh
memungkinkan terjadinya ikatan variabel lain.
dengan adsorben yang bermuatan

3. Konsentrasi COD, TSS dan Fosfat Pada Reaktor Gabungan

Tabel 3
Hasil Pengujian COD, TSS, dan Fosfat Pada Reaktor Gabungan
Data hasil penurunan konsentrasi dalam percobaan (kontinyu) dapat
digambarkan dengan grafik penurunan konsentrasi dan grafik efisiensi peyisihan
sebagai berikut :

120 COD
95.50
Persentase Penyisihan

TSS
100
Fosfat
80 79.4174.36
(Mg/l)

60
40
20
0
Inlet Jartes 30 60 90 120
Waktu (Menit)
Gambar 8
Efisiensi Penyisihan COD pada Reaktor Gabungan

Berdasarkan gambar diatas dapat dilanjutkan dengan proses adsorbs


dilihat bahwa pada proses koagulasi- dengan karbon aktif dapat menurunkan
flokulasi dengan penambahan PAC 55 hingga kandungan fosfat sebesar 0,175
ml dapat menurunkan 67,92% dan mg/l angka tersebut berada di bawah
dilanjutkan dengan proses adsorbs baku mutu PP 82 untuk sungai kelas 2
dengan karbon aktif dapat menurunkan angka minimal yakni 0,2 mg/l.
hingga kandungan COD sebesar 75,95
mg/l dimana angka tersebut berada di
bawah baku mutu Perda Jateng No 5 Penutup
Kesimpulan
Tahun 2012. Proses koagulasi-flokulasi 1. Dari variasi range dosis, 40, 45,
dengan penambahan PAC 55 ml dapat 50, 55, 60 dan 65 ml. Dosis
menurunkan 52,992 % yakni hingga tersebut belum mampu
TSS 110 mg/l dan dilanjutkan dengan menurunkan kadar COD, TSS
proses adsorbs dengan karbon aktif dan Fosfat hingga sesuai baku
dapat menurunkan hingga kandungan mutu. Pada variasi tersebut
didapatkan dosis optimum untuk
COD sebesar 28 mg/l pada menit 30
COD dan TSS yakni pada 55 ml,
dimana angka tersebut berada di bawah sedangkan pada fosfat pada 60
baku mutu Perda Jateng No 5 Tahun ml.
2012.Berdasarkan hasil yang diperoleh 2. Variasi yang di gunakan yakni
dapat dilihat pada grafik persentase mesh 4, 8, 10, 16 dan 20 dan
bahwa pada proses koagulasi-flokulasi didapati mesh terpilih adalah
dengan penambahan 1% PAC 55ml mesh 4 yakni COD sebesar
67,06% pada menit ke 120, TSS
dapat menurunkan 85,85% dan
78,81 % pada menit ke 120, dan sehingga dapat diketahui kapan
Fosfat 51,13% pada menit 120. karbon aktif tersebut jenuh untuk
Namun pada variasi ukuran hubungan karbon aktif dengan
(mesh) dan waktu (menit)
limbah laundry.
tersebut tersebut belum mampu
menurunkan kadar COD, TSS
dan Fosfat hingga memenuhi Daftar Pustaka
baku mutu yang telah ditetapkan.
3. Reaktor gabungan yakni Alaerts, G dan Sri Sumestri. 1984. Metode
pengolahan menggunakan Penelitian Air. Surabaya: Usaha
koagulan PAC yang dilanjukan Nasional.
dengan adsorpsi menggunakan
karbon aktif dari tempurung Cheremisinoff, P. N., 1978, Carbon
kelapa selama 2 jam didapatkan Adsorption Handbook, Ann Arbor
ketiga parameternya memenuhi Science Publ Inc, Michigan.
baku mutu, COD 75 mg/l, TSS
Sugiharto, 1987. Dasar-dasar Pengolahan
52 mg/l dan Fosfat 0,175 mg/l.
Air Limbah. Jakarta: UI Press.
Sehingga dengan pengabungan
pengolahan ini dapat diterapkan Masduqi, Ali. 2004. Penurunan Senyawa
untuk pengolahan limbah Fosfat Dalam Air Limbah Buatan
laundry. Dengan Proses Adsorpsi Menggunakan
Saran Tanah Haloisit. Majalah IPTEK: Vol. 15,
1. Penelitian selanjutnya dapat No. 1, Februari 2004. Jurusan Teknik
dilakukan pada range dosis 50 ml Lingkungan FTSP ITS Surabaya
hingga 65 ml PAC 1% .
2. Penelitian selanjutnya agar Metcalf & Eddy, 1991. Wastewater
Engineering Treatment, Disposal and
memberi jarak ukuran mesh
Reuse.
sehingga bisa mendapatkan hasil
yang lebih nyata pengaruh mesh Wahyono, Teguh. 2012. Analisis Statistik
terhadap penyisihan parameter Mudah Dengan SPSS 20.0. P Elex Media
COD, TSS dan Fosfat. Komputindo: Jakarta.
3. Variasi waktu yang lebih lama
dapat mendukung hasil peneliti